Anda di halaman 1dari 18

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISA FAKTOR-FAKTOR KERUNTUHAN UNI SOVIET PADA TAHUN 1991

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester

Mata Kuliah Sejarah Dunia

Disusun oleh:

Dani Prabowo (0706296995)

PROGRAM STUDI RUSIA

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

DEPOK, 2010
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Imperium Uni Soviet merupakan imperium kuat yang memiliki luas wilayah terbentang
dari bagian timur Eropa dan bagian utara Asia yang meliputi 0,42 dari luas kedua benua itu.
Imperium Uni Soviet menempati 1/22 dari seluruh luas dunia dan sekitar 1/6 dari seluruh
daratannya.1 Luas wilayah tersebut menjadikan Uni Soviet sebagai Negara adidaya yang besar
yang mampu menandingi kekuatan Negara adidaya Amerika Serikat pada masa itu. Melalui
kebijakan komunisme internasionalnya (komintern), Uni Soviet berusaha mempengaruhi setiap
Negara yang ada di dunia ini agar mengikuti jejaknya menerapkan sistem komunisme leninisme
di negaranya. Usaha Uni Soviet dalam mempengaruhi Negara asing memberikan dampak yang
sangat besar. Cina dan beberapa Negara di Afrika menerapkan sistem komunisme gaya Uni
Soviet. Gema komunisme membahana selama 70 tahun sejak tahun 1922 hingga 1991. Selama
kurun waktu itulah kebijakan komunisme juga memberikan dampak negative kepad rakyatnya
sendiri.

Selain sebagai Negara dengan luas wilayah terbesar, Uni Soviet juga merupakan Negara
multietnis. Tidak kurang dari 15 etnis yang bergabung dengan Uni Soviet. Keberagaman etnis
yang dimiliki Uni Soviet tidak terlepas dari peran kekaisaran Rusia pada jaman dahulu. Aneksasi
serta intervensi2 yang dilakukan oleh kekaisaran Rusia terhadap wilayah-wilayah di Asia Tengah
dan wilayah Asia dan Eropa Timur lainnya yang menyebabkan Uni Soviet menjadi Negara yang
sangat luas. Keberagaman etnis menyebabkan Uni Soviet juga menjadi Negara dengan
keberagaman bahasa. Akan tetapi pada umumnya mereka menggunakan satu bahasa resmi yang
sama, yaitu bahasa Rusia.

Sistem komunisme yang dianut Uni Soviet merupakan boomerang bagi negaranya. Di
satu sisi impian komunisme mengenai persamaan hak dan juga pemerataan yang menjadi

1
Fahrurodji. A. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm. 103.
2
Zon, Fadli. Gerakan Etnonasionalis Bubarnya Imperium Uni Soviet. Jakarta: Pustaka Sinar harapan, hlm. 61.
semangat rakyatnya dalam meruntuhkan kekuatan dinasti Romanov. Keberhasilan rakyat Uni
Soviet yang pada masa itu masih menggunakan sistem keakaisaran mampu menggulingkan
pemerintahan Tsar Nikolai II pada tahun 1917. Pergerakkan kaum Bolshevick di bawah
pimpinan Vladimir Iliyich Lenin mampu menggulingkan sistem keakaisaran Tsar Romanov.
Namun disisi lain dalam implementasi kebijakannya, sistem komunis yang digunakan dinilai
terlalu membebani rakyat Uni Soviet. Impian mengenai persamaan hak dan juga pemerataan
pendapatan merupakan momok bagi masyarakata Uni Soviet. Ketidakmampuan masyarakat Uni
Soviet dalam menahan setiap kebijakan yang diterapkan pemerintah pusat menjadi faktor
penentu yang menjadi resistensi terhadap paham komunis di dalam masyarakat Uni Soviet.

Dalam makalah ini, penulis ingin menjelaskan mengenai permasalahan-permasalahan


yang menyebabkan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Hal tersebut menarik untuk
dibicarakan karena sebagai Negara dengan sistem politik yang kuat yang mampu memonitor
masyarakatnya secara kuat, pemerintahannya dapat jatuh bahkan oleh sesuatu yang tidak dapat
diprediksi sebelumnya.

I.2. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis ingin menitikberatkan pada pembahasan mengenai sejarah
runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Adapun yang ingin dibahas yaitu:

“Faktor-faktor apa sajakah yang melatarbelakangi runtuhnya Uni Soviet pada tahun
1991?”

I.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan faktor-faktor apa
saja yang dapat melatarbelakangi runtuhnya Uni Soviet.
I.4. Kerangka Teori
Untuk membahas mengenai masalah ini, penulis menggunakan teori liberalisme. Menurut
Rawl, liberalisme bukanlah sebuah doktrin yang komprehensiv, di dalamnya terdapat
keseluruhan teori tentang nilai, teori etnik, epistemologi, kontroversi metafisik atas seseorang
atau lingkungan. Gaus menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang besar antara liberalisme
dalam politik dan secara komprehensiv. Teori liberal datang dari suatu rangkaian yang besar,
dari ledakan teori filosofi, sampai kepada teori mengenai nilai dan potensi, teori mengenai hak
(tapi bukan kebaikan), keseluruhan hal tersebut dipakai untuk melihat doktrin politik. Di dalam
segi Wall berusaha mendeskripsikan mengenai liberalisme, yaitu liberalisme tidak hanya sekedar
mengenai teori mengenai politik. Terdapat teori mengenai substantiv, perfeksionis dan teori
tentang moral di dalamnya. Dalam pandangannya, hal yang benar untuk dilakukan meningkatkan
pembangunan atau kesempurnaan, dan hanya rezim yang melindungi kebebasan ekstensif bagi
setiap orang yang dapat menyelesaikannya.

I.5 Metode Penulisan


Metode penulisan yang penulis gunakan dalam menganalisis makalah ini ialah metode
analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif merupakan bentuk tulisan yang berusaha
memberikan perincian-perincian dari objek yang sedang penulis bahas.3

3
Saad, MS. 1967. Catatan Kecil Penelitian Kesusasteraan. Jakarta: PT Gunung Agung. Hlm 18
BAB II

SEJARAH PERKEMBANGAN UNI SOVIET

II.1. Terbentuknya Uni Soviet

Tsar Nikolai II menjadi kaisar Rusia menggantikan posisi ayahnya, Aleksandr III, setelah
dia meninggal pada tahun 1894. Di bawah kekuasaanya, Rusia mengalami banyak permasalahan.
Permasalahan tersebut sebenarnya merupakan warisan dari ayahnya ketika masih menjabat.
Nikolai II menjabat sebagai kaisar ketika dia masih berusia 26 tahun. Usia tersebut dianggap
masih terlalu muda untuk memimpin suatu Negara. Akan tetapi dia tidak dapat menolaknya,
karena posisi dia adalah pewaris tahta kerajaan. Banyak yang menganggap bahwa gaya
kepemimpinannya lemah. Di samping itu, adanya pengaruh besar permaisurinya, Aleksandra,
yang berusaha mempengaruhi Nikolai dalam setiap pengambilan kebijakan dianggap sebagai
faktor jatuhnya Nikolai.

Tidak ada yang pernah akan menyangka bahwa Nikolai II akan menjadi tsar dinasti
Romanov yang terakhir. Selama masa kepemimpinannya, Rusia pada sedang menghadapi
pertempuran besar dengan Jepang. Perang tersebut dilakukan untuk mencari pengaruh di
kawasan Asia.4 Perang antara Rusia dengan Jepang tersebut dipicu oleh sikap agrsif Rusia di
Timur Jauh.5 Di samping itu, Rusia juga tengah berperang melawan ottoman Turki. Perang
Krimea ini melibatkan banyak Negara yang dan dianggap sebagai perang yang lahir akibat
kesalahpahaman.6 Perang tersebut membawa dampak besar bagi Rusia. Rusia mengalami banyak
kerugian dalam perang tersebut. Selain ancaman dari luar juga terdapat ancaman dari dalam yaitu
berasal dari kaum Bolshevick.

Munculnya kaum pergerakkan intelektual menjadi ancaman tersendiri bagi kekaisaran


Rusia. Kaum intelektual tersebut merupakan orang-orang yang belajar dari barat. Mereka
menerapkan paham komunisme Karl Marx dalam membangun kekuatan untuk menggulingkan
tsar. Mereka menyebut diri mereka sebagai kaum Bolshevick. Kaum Bolshevick berasal dari

4
Fahrurodji, Ibid.
5
Zon, Ibid. hlm. 74.
6
Ibid. hlm. 71.
kelas buruh yang berada di bawah kepemimpinan Vladimir Iliyich Lenin. Lenin merupakan
seorang yang revolusioner yang mampu membawa masyarakat Rusia pada saat itu untuk
melakukan perlawan terhadap absolutism tsar Rusia. Dia memiliki kekuatan untuk
mempengaruhi pikiran para buruh agar dapat membantunya untuk melakukan pergerakan
revolusioner.

Pergerakan kaum Bolshevick telah memberikan pengaruh yang sangat besar terutama
dalam perubahan sistem kekaisaran Rusia. Secara garis umum terdapat tiga faktor penting yang
menyebabkan runtuhnya dinasti Romanov. Pertama, peristiwa minggu berdarah yang
menewaskan ribuan buruh ketika mereka melakukan demonstrasi damai di St. Peterburg. Ketika
mereka melaksanakan aksi tersebut, tentara tsar menembaki mereka secara brutal. Kedua,
pemogokan umum pada bulan Oktober 1905, ketika sekitar 3 juta pekerja mogok kerja menuntut
diberlakukannya hak-hak demokrasi dan kebebasan serta pemberlakuan 8 jam kerja per hari
kerja. Dampak dari pemogokan tersebut adalah terciptanya Manifesto 17 Oktober. Ketiga,
pemberontakan bersenjata pada bulan Desember 1905. Nikolai II melepaskan tahtanya setelah
adanya pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Bolshevick pada 1917. Pemberontakan yang
dinamakan revolusi Oktober 1917 ini merupakan puncak penggalangan kekuatan, terutama kaum
Bolshevick, melawan kekuata tsarisme Rusia yang pada saat itu sedang dalam kondisi perang
dunia I. Pemicu dari pergerakkan tersebut adalah karena keikutsertaan Rusia dalam perang dunia
I dan adanya perang saudara di dalam wilayah Rusia. Setelah itu, keluarga Nikolai II termasuk
dirinya sendiri dibunuh oleh kaum Bolshevick setelah diculik terlebih dahulu sebelumnya.
Kematian dan kemunduran Nikolai II menjadi awal kemunduran Rusia. Kematian Nikolai II
membawa Lenin menuju jalur kepemimpinan baru.

Paska revolusi, Lenin mulai menjalankan empat program utamanya, yaitu: mengakhiri
perang dengan negosiasi damai, redistribusi wilayah, menguasai seluruh pabrik oleh para buruh
dan pembentukan pemerintah Soviet.7 Lenin juga menghapus keberadaan partai-partai seperti
Demokrat Konstitusional, Sosialis Revolusioner dan Menshevick yang diduga melakukan
kegiatan kontra revolusioner. Pada tahun 1918 terjadi pemberontakan antara kaum Menshevick
dan kaum Bolshevick, yang berakibat pada kekalahan kaum Menshevick. Perang saudara

7
Ibid. hlm. 79.
tersebut akhirnya berakhir dengan pembentukan Uni Republik Soviet Sosialis (URSS) atau Uni
Soviet pada 30 Desember 1922.

II.2. Etnonasionalisme

Uni Soviet merupakan Negara multietnis yang memiliki total 15 negara bagian. Masing-
masing Negara bagian merupakan manifestasi dari masing-masing etnis mayoritas yang
menduduki suatu wilayah, seperti yang terlihat pada tabel berikut:

KOMPOSISI ETNIS DI UNI SOVIET

KELOMPOK ETNONASIONAL TERBESAR

(Dalam Ribuan)

Etnonasional Sensus 1926 % Sensus 1979 % Sensus 1989 %


147.028 262.085 286.717
Rusia 77.791 52.9 137.397 52.4 145.743 50.8
Ukraina 31.195 21.2 42.347 16.2 44.186 15.5
Uzbekistan 3.989 2.7 12.456 4.8 16.698 5.8
Beylorusia 4.739 3.2 9.463 3.6 10.368 3.5
Kazakhstan 3.989 2.7 6.556 2.5 8.136 2.8
Tatar 3.331 2.3 6.317 2.4 6.649 2.3
Azerbaijan 1.713 1.2 5.477 2.1 6.770 2.4
Armenia 1.568 1.1 4.151 1.6 4.623 1.6
Georgia 1.821 1.2 3.571 1.4 3.981 1.4
Moldovia 279 0.2 2.958 1.1 3.352 1.2
Tajikistan 981 0.7 2.898 1.1 4.215 1.5
Lithuania 41 0.0 2.851 1.1 3.067 1.1
Turkmenia 764 0.5 2.008 0.8 2.729 1.0
Jerman 1.239 0.8 1.936 0.7 2.039 0.7
Kirghizia 763 0.5 1.906 0.7 2.529 0.9
Yahudi 2.672 1.8 1.811 0.7 1.449 0.5
Chuvaishi 1.117 0.8 1.751 0.7 1.842 0.6
Latvia 151 0.1 1.439 0.5 1.459 0.5
Bashkir 714 0.5 1.371 0.5 1.449 0.5
Mordvinia 1.340 0.9 1.192 0.5 1.154 0.4
Polandia 782 0.5 1.151 0.4 1.126 0.4
Estonia 155 0.1 1.020 0.4 1.027
Sumber: Paul E. Lyndoph. Geography of the USSR. 5th Ed. Winscosin: Misty Valley Publishing. 1990.8

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa etnis-etnis di Rusia tersebar di seluruh wilayah
yang menjadi wilayah Negara bagian Uni Soviet, sesuai dengan konstitusi baru Uni Soviet yang

8
Opcit, hlm. 89.
dikeluarkan pada 6 Juli 1923. Etnis Rusia merupakan etnis terbesar yang menjadi etnis paling
berpengaruh bagi keberadaan etnis lainnya. Selain sebagai etnis terbesar, Rusia SSR juga
merupakan Negara pusat yang mengatur berjalannya pemerintahan di seluruh wilayah Uni
Soviet. Di bawah kekuasaan Kremlin, setiap Negara bagian memiliki kewajiban untuk
memberikan infrormasi yang diperlukan oleh Kremlin. Hal ini bertujuan agar Kremlin dapat
mengontrol jalannya pemerintahan setiap Negara satelitnya.

Mengutip dari Hammer dari buku Etnicheskie Protessy V Sovremennom Mire9, secara
garis besar Hammer mengatakan bahwa terdapat lima kelompok etnonasional yang menjadi
fondasi bagi Uni Soviet10, yaitu: pertama, kelompok etnonasional slavia timur yang terdiri dari
Rusia, Ukraina dan Byelorusia. Kelompok etnonasional ini merupakan kelompok etnonasional
terbesar di Uni Soviet. Kedua, kelompok etnonasional barat yang terdiri dari Latvia, Estonia
Lithuania dan Moldavia. Ketiga, kelompok etnonasional Kristen kaukasia yang terdiri dari
banyak kelompok etnonasional kecil. Kelompok etnonasional besar yang termasuk dalam
kelompok ini adalah Georgia, Azerbaijan dan Armenia. Keempat, kelompok etnonasional islam
yang hanya terdiri dari satu etnis yaitu Tatar. Yang terakhir adalah kelompok etnonasional
nonteritorial yang terdiri dari etnis Jerman, Polandia dan Yahudi. Kelompok etnonasionalis ini
menduduki wilayah-wilayah kelompok etnonasionalis besar, seperti Rusia.

II.3. Uni Soviet 1922-1985

Setelah kematian Nikolai II, terjadi transisi pemerintahan secara besar-besaran, dari mulai
masa pemerintahan Lenin hingga masa pemerintahan Gorbachev. Lenin memerintah Uni Soviet
sejak kematian Nikolai II. Di bawah kepemimpinannya, Uni Soviet mengukuhkan diri sebagai
Negara komunis, dimana komunis menjadi kekuatan bagi berlangsungnya kehidupan bernegara.
Di masa kepemimpinannya, Uni Soviet pada masa itu sedang menghadapi Perang Dunia I. Akan
tetapi semangatnya untuk membangun Uni Soviet yang lebih baik tidak berhenti. Pada tanggal
21 Februari 1920, dia meluncurkan rencana GOELRO (Gosudarstvennaya Kommisiya po
Elektrifikasi Rossii) atau Komisi Negara untuk Ketenaga Listrikan Rusia, hal ini dilakukan untuk

9
Bromlei, Yurii., Gurvich, I., dan Kozlov, V., (1987). “Etnicheskie Protessy V SSSR”, Etnicheskie Protessy V
Sovremennom Mire. Moskwa: Nauka.
10
Opcit, Hammer, hlm. 55-57.
meningkatkan produksi serta membantu meningkatkan perekonomian Rusia. Lenin juga sangat
terkenal dengan sistem NEP-nya. Selain itu dia juga mendirikan sistem perawatan kesehatan
bebas, sistem pendidikan gratis dan memberikan hak yang sama bagi para wanita di bidang
politik. Untuk menangkal adanya pemberontakan dari kelompok kontra revolusioner, dia
mendirikan Cheka yang merupakan cikal bakal terbentuknya KGB nantinya. Tugas Cheka adalah
untuk melenyapkan setiap orang atau kelompok yang dianggap kontra terhadap revolusi. Di
samping itu, dia juga membredel keberadaan surat kabar dan media yang dianggap mengganggu
jalannya pemerintaha. Dapat dikatakan bahwa, Lenin sangat memonopoli keberadaan media.

Setelah kematian Lenin, posisi kepala pemerintahan dipegang oleh Stalin. Stalin
menggantikan sistem NEP milik Lenin dengan rencana lima tahun dan meluncurkan periode
industrialisasi yang cepat serta menanamkan sisitem perekonomian kolektif. Stalin dikenal
sebagai seorang pemimpin yang kejam. Dia mendirikan kamp konsentrasi GULAG sebagai
tempat bagi para pembangkang kebijakan pemerintah dan juga sebagai tempat bagi orang-orang
yang membahayakan kedudukannya. Dia juga mengeluarkan kebijakan deportasi kepada para
etnis-etnis minoritas untuk menempati wilayah di kawasan Asia Tengah dan Siberia. Kebijakan
ini dilakukan antara tahun 1936 hingga 1952, dengan jumlah kurang lebih 3 juta orang11 yang
terkena kebijakan deportasi ini. Di masa deportasi inilah, banyak korban yang berjatuhan akibat
kekurangan makanan dan kekurangan gizi. Selain itu juga di masa pemerintahannya, dia
melakukan pembunuhan masal kepada warga Soviet dari kalangan buruh, petani, ibu rumah
tangga, pensiunan, tntara, ballerina, musisi dan pendeta. Setidaknya 700.000 orang meninggal
akibat insiden tersebut.12

Pemimpin Uni Soviet berikutnya adalah Kruschev. Sistem kepemimpinan yang dilakukan
oleh Stalin, menginspirasi Kruschev untuk melakukan koreksi terhadap pemerintahan gaya Stalin
(Destalinisasi). Kruschev juga menghentikan sistem komando administrasi-birokrasi yang pada
masa Stalin terbentuk kultus terhadap Stalin. Dia juga menghentikan penyelidikan atas kasus
dokter13 dan mengeluarkan tahanan politik GULAG. Selain itu dia juga mengeluarkan kebijakan

11
Ibid. Fahrurodji, hlm. 148.
12
McLoughlin, Barry. McDermott, Kevin. (2002). Stalin's Terror: High Politics and Mass Repression in the Soviet
Union. Palgrave Macmillan.

13
Rossi, Jaggues. (1991). Spravochnik po Gulagy c 1 & 2. Moskva: Prosvet, hlm. 422.
penghapusan GULAG. Banyak keberhasilan yang terjadi di masa Kruschev, antara lain
pengiriman astronot pertama ke luar angkasa, keterbukaan hubungan diplomasi dengan Negara-
negara di Eropa dan Asia, serta dimulainya perundingan antara Uni Soviet dan Amerika,
meskipun tidak membuahkan hasil yang baik.

Kruschev mundur dari kursi kepemimpinan pada tahun 1964. Setelah itu, Uni Soviet
menyalami stagnasi dan hal ini merupakan awal dari kehancurannya. Kruschev digantikan oleh
Leonid Breznev, dengan perdana menteri Kosygin. Kosygin mencoba suatu sistem kebijakan
ekonomi dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, terutama ekonomi
pedesaan. Akan tetapi kebijakannya tersebut berdampak sebaliknya. Pada awalnya, kebijakan
ekonomi tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan sebesar 3% antara tahun 1960-1970, akan
tetapi setelah itu terjadi kemunduran yang cukup signifikan. Terjadi urbanisasi besar-besaran dari
desa ke kota. Sedangkan Breznev membuat kebijakan Dekruschevisasi14 yang merupakan sebuah
kebijkan yang kontra Kruschev. Dia berusaha untuk menguatkan sistem birokrasi pemerintahan.
Dia juga menjadi puncak pimpinan Dewan Tertinggi Uni Soviet menggantikan Voroshilov.
Breznhev memimpin Uni Soviet dengan kebijakan-kebijakan dia yang konservativ. Sifat curiga
dan hati-hatinya sangat berdampak buruk bagi kelanjutan perkembangan Uni Soviet nantinya.

Di awal tahun 1980-an, perekonomian Uni Soviet benar-benara mengalami kemnduran


yang sangat signifikan. NEP Uni Soviet menurun dan Uni Soviet mulai kalah dari para
pesaingnya yaitu Negara-negara Eropa dan Amerika. Setelah kemunduran Breznhev, puncak
tertinggi Uni Soviet sempat digantikan sebanyak dua kali, yaitu oleh Yuri Andropov (1982-
1984) dan Konstantin Chernenko (1984-1985). Waktu yang singkat yang dipegang oleh kedua
orang tersebut tidak dapat membawa Uni Soviet keluar dari stagnasi ekonomi, meskipun mereka
memiliki rencara untuk pembangunan ekonomi yang sangat baik.

14
Ibid, Fahrurodji, hlm. 169
BAB III

ANALISIS

Stagnasi perekonomian yang dialami Uni Soviet merupakan pekerjaan rumah yang berat
bagi pemimpin Uni Soviet selanjutnya. Sistem pemerintahan gaya komunis tidak mampu
mengeluarkan Uni Soviet dari kemunduran yang sangat jauh meninggalkan lawan-lawannya
seperti Amerika dan Negara-negara Eropa lainnya. Perang Dingin selama 34 tahun yang dialami
Uni Soviet tidak mampu membawa Negara ini untuk keluar dari stagnasi perekonomian.
Meskipun terjadi percepata alih teknologi secara fundamental, hal ini tidak diikuti dengan
percepatan ekonomi. Ketika di masa kepemimpinan Mikhail Sergeyevich Gorbachev, Uni Soviet
tidak mampu untuk berkembang. Hal inilah yang menyebabkan runtuhnya rezim komunisme.
Keruntuhan ini dipicu oleh beberpa faktor yaitu:

III.1. Kegagalan Leninisme dan Dampak Perang Dingin

Perang Dingin yang dimulai pada tahun 1946, telah memberikan dampak yang besar bagi
kedua kubu yang mengalami konflik. Blok Barat di bawah kepemimpinan Amerika Serikat telah
berhasil menanamkan pengaruh liberalisme dan sistem ekonomi kapitalisme pasar ke wilayah-
wilayah Afrika dan Asia. Blok Timur yang berada di bawah garis komando Uni Soviet pun tak
mau kalah dalam menanamkan pengaruh di kawasan Afrika dan Asia. Perang Dingin yang
sebenarnya merupakan perang semu antara keduabelah pihak yang lebih mengarah kepada
perang pengaruh dan antar terknologi. Dalam perang ini tidak ada persentuhan yang berarti,
sehingga hanya terkesan memunculkan ketegangan diantara keduabelah pihak.

Perang Dingin faktor penentu kemajuan teknologi Uni Soviet. Di masa itu, Uni soviet
menjadi Negara pertama yang mampu menerbangkan manusia ke luar angkasa. Melalui Sputnik,
Uni Soviet sangat mendapat pandangan positif di dunia internasional. Bahkan Sputnik pun
menjadi semangat dan panggilan bagi kejayaan bangsa Rusia. 15 Namun, di tahun-tahun
berikutnya, Perang Dingin juga memiliki dampak yang buruk bagi kelanjutan perekonomian Uni
15
Ucebnik Ruskogo Yazika, hlm. 196.
Soviet. Sistem kebijakan Marksisme-Leninisme merupakan momok yang nantinya akan memicu
stagnasi perekonomian Uni Soviet. Perang Dingin tidak memiliki arti kepada penutupan
hubungan diplomatic terhadap musuh. Hubungan perdagangan antara Uni Soviet dengan
Amerika Serikat masih terbentuk, meskipun dalam taraf yang terbatas. Akan tetapi berbagai
macam ketidaksiapan mereka termasuk inefisiensi kerja sistem perekonomian dan lemahnya
infrastruktur semakin mendorong mereka masuk ke dalam kesulitan dan penyesuaian-
penyesuaian yang dilakukan oleh pemerintah tidak memiliki makna yang berarti.16 Di sinilah
awal dari kegagaln Marksisme-Leninisme yang diterapkan oleh Uni Soviet. Kebijakan gaya
Lenin tidak mampu membawa Uni Soviet untuk menyesuaikan kondisi jaman yang terjadi.

III.2. Kebijakan Glasnost dan Perestroika

Krisis ekonomi dan politik yang dihadapi oleh Uni Soviet semakin menigkat di awal
tahun 1980-an. Krisis tersebut membuat semakin meningkatnya tingkat kriminalitas dan koriupsi
di Uni Soviet. Untuk itu diperlukan kebijakan-kebijakan baru yang mampu membawa Uni Soviet
kea rah yang lebih baik. Setelah kematian Chernenko pada tahun1985, Uni Soviet dipimpin oleh
Mikhail Gorbachev. Di bawah kekuasaanya, dia ingin mengembalikan kejayaan Uni Soviet
seperti pada saat masa kepemimpinan Lenin. Dia berusaha membangun Uni Soviet melalui
kebijakannya yaitu Glasnost dan Perestroika.

Perestroika sebenarnya merupakan sebuah restrukturisasi untuk mengantisipasi proses


stagnasi dan kelumpuhan total, dengan menciptakan mekanisme percepatan yang efektif
bertumpu pada kinerja dan karya nyata masyarakat, pada perkembangan demokrasi dan
perluasan.17 Dengan kata lain, perestroika merupakan reformasi dalam segala bidang yang
dilakukan oleh pemerintahan Uni Soviet. Reformasi ini mencakupi bidang ekonomi, politik,
birokrasi, budaya, dan sistem nilai yang terdapat di masyarakat. Diharapkan dengan adanya
kebijakan tersebut, Uni Soviet dapat menata ulang sistem yang berlaku di negaranya dengan
tujuan memperkuat sistem sosialisme.

16
Ivanhoe, Novan. Pengaruh Disintegrasi Uni Soviet dan Perubahan Sistemik Eropa Timur Terhadap Perubahan
Strategi NATO. hlm. 46.
17
Ibid. Fahrurodji. hlm. 173.
Implementasi kebijakan perestroika ini terlihat pada hasil Sidang Pleno Komite Sentral
pada tahun 1987 yang memutuskan diadakannya Reformasi Ekonomi Secara Radikal guna
memperbaiki kondisi kerja, tingkat hidup masyarakat dan peningkatan hasil produksi.18
Perubahan tersebut membawa dampak yang sangat besar bagi perekonomian Uni Soviet.
Dikembalikannya hak memiliki tanah yang sebelumnya dikuasai oleh pemerintah serta
terciptanya sistem ekonomi pasar merupakan efek dari kebijakan ini. Sistem ekonomi pasar
memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat Uni Soviet. Dikembalikannya perusahaan
milik pribadi yang awalnya dikuasai oleh pemerintah, tidak mampu memberikan angin positif
kepada masyarakat. Meningkatnya jumlah perusahaan swasta yang memproduksi kebutuhan
hajat hidup orang banyak merupakan ancaman nyata bagi rakyat Uni Soviet. Masyarakat yang
pada saat itu belum siap menerima ledakan perubahan ekonomi tidak sanggup menghadapinya.
Perusahaan swasta sendiri tidak ingin ikut campur mengenai kesulitan masyarakat. Sistem
market pasar yang ditawarkan perusahaan swasta pada umumnya sangat bergantung pada pasar.
Pihak perusahaan melihat bahwa di satu sisi masyarakat membutuhkan barangnya akan tetapi di
sisi lain masyarakat tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya. Di sinilah awal
terjadinya kontra antara masyarakat dan perusahaan. Dampak dari kebijakan tersebut adalah
penurunan tingkat kehidupan masyarakat. Hal ini memicu terjadinya pemogokan, aksi
demonstrasi dan juga meningkatnya tindak krimanilitas di Uni Soviet.

Selain di bidang ekonomi, restrukturisasi juga terjadi di bidang media. Media yang pada
masa antara tahun 1930 hingga tahun 1980 dikuasai oleh pemerintah, keberadaanya
dikembalikan oleh pemilik awalnya. Hal ini secara otomatis membuat pemerintah tidak memiliki
hak untuk mengatur penerbitan suatu berita. Media memiliki peranan yang penting bagi
kehancuran Uni Soviet nantinya. Melalui media, masyarakat dibukakan pandangannya mengenai
sistem pemerintahan komunis pada masa dahulu, kebaikan dan keburukan sistem sosialis dan
liberalism, serta masyarakat diberikan informasi terkini seputar masalah yang dihadapi oleh
pemerintah. Melalui media pulalah masyarakat mampu menjadi juri dalam menilai setiap
kebijakan yang diambil pemerintah. Pada akhirnya melalui media pula, masyarakat mengetahui
kebobrokan pemerintah mereka selama ini dan menimbulkan penolakan serta perlawanan
terhadap setiap kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah.

18
Ibid. hlm. 179.
Kebijakan pemerintah berikutnya adalah Glasnost. Dalam masyarakat Uni Soviet,
Glasnost diartikan sebagai era keterbukaan. Kebijakan tersebut membawa angin postif bagi hak
partisipasi masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah. Bagi Gorbachev,
masyarakat perlu tahu apa saja kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah, sehingga pada
akhirnya diharapkan terdapat hubungan timbal balik antara pemerintah dan masyarkat. Di
samping itu dengan adanya Glasnost, terjadi perubahan sistem ekonomi Uni Soviet. Uni Soviet
yang kita ketahui sebagi Negara tirai besi mulai membuka negaranya untuk memberikan
kesempatan kepada produk asing untuk masuk ke dalam Uni Soviet. Amerika Serikat melihat hal
ini sebagai peluang untuk mempromosikan produknya ke wilayah Uni Soviet. Dengan membawa
sistem ekonomi kapitalisme, Amerika berusaha memberikan pengaruh kepada sistem
perekonomian Uni Soviet. Amerika dengan berhasil masuk ke dalam pasar Uni Soviet, karena
segmen pasar produk mereka adalah untuk kalangan muda. Kalangan muda yang baru saja
mengenal produk-produk barat yang selama ini dianggap tabu di jaman komunis, mulai
menikmati kemewahan produk barat. Jika dibandingkan dengan produk-produk hasil ciptaan
dalam negeri pun, produk dalam negeri memiliki kualitas yang sama dengan produk barat.
Bahkan produk dalam negeri mampu lebih unggul dalam urusan harga daripada produk barat.
Namun bagi kalangan muda, mereka tidak memandang mutu sebagai tolak ukur keunggulan,
melainkan prestise yang melekat pada produk tersebut yang mereka banggakan. Maka dalam hal
ini lah hegemoni dan kapitalisme ala barat dimulai.

III.3. Separatisme dan Pemisahan Diri Anggota-Anggota Uni

Uni Soviet merupakan Negara multietnis yang berdasarkan sensus penduduk tahun 1989
memiliki jumlah penduduk sebesar 286.717.000 juta jiwa.19 Etnis mayoritas yang mendiami Uni
Soviet adalah etnis Rusia. Wilayah Uni Soviet terdiri dari 15 negara bagian. Hal ini memberikan
dampak ganda, di satu sisi jumlah penduduk yang besar memberikan kekuatan tersendiri ketika
Negara dalam kondisi perang, namun di sisi lain Negara dengan multietnis sangat rawan dengan
disintegrasi nasional. Semangat etnisitas yang terkadang dibawa dalam segala bidang mampu
menimbulkan perpecahan mendasar antar masing-masing etnis. Banyaknya kebijakan

19
Opcit, Zon. hlm. 89.
pemerintah yang terkadang hanya menguntungkan etnis-etnis tertentu dinilai bagi sebagian etnis
sebagai sebuah tindakan diskriminatif terhadap etnis minoritas.

Tema besar yang diangkat dari kebijkan Glasnost dan Perestroika sebenarnya adalah
demokrasi. Demokrasi ini disalahartikan oleh sebagian kelompok etnis untuk menyuarakan
pendapat, agar mereka dapat keluar dari genggaman Uni Soviet. Keberhasilan Glasnost dan
Perestroika dapat dikatakan sebagai keberhasilan demokrasi dalam menentukan pilihan akan
kemana nantinya kelangsungan hidup masing-masing etnis. Kekhawatiran yang menyeluruh
akibat adanya kedua kebijakan tersebut membawa dampak negatif bagi kehidupan bertetangga
antar etnis. Adanya dominasi etnis tertentu dalam menentukan kebijakansangat membawa
pengaruh yang buruk, sehingga hal ini menimbulkan banyak perlawanan. Secara hukum,
konstitusi Uni Soviet memiliki kelemahan yang sangat vital. Dalam konstitusi Uni Soviet 1977
terdapat pasal yang mampu mendukung legalitas adanya perlawanan untuk memisahkan diri dari
Uni Soviet. Pasal 72 yang mendukung legalitas separatismee tersebut berbunyi “Setiap Republik
Uni berhak secara bebas keluar dari USSR”.20 Jika kita mengacu pada isi konstitusi tersebut,
maka tidak heran jika tindakan separatismee dan anti pemerintah marak di Uni Soviet pada masa
kepemimpinan Gorbachev.

Permasalahan yang mendasar bagi timbulnya tindakan separatisme ini sebenarnya adalah
rasa tidak puas terhadap pemerintah atas kegagalan dalam menangani problematika
perekonomian yang dialami Uni Soviet. Munculnya partai-partai politik di Negara-negara Uni,
terjadi demonstrasi besar di Alma-ata dan adanya konflik bersenjata di Azerbaijan telah
membawa dampak kemunduran bagi Uni Soviet. Akibat hal tersebut, Gorbachev mengeluarkan
mandate mengundurkan diri dan digantikan oleh wakilnya Gennady Yanaev dan meminta untuk
segera dibentuk Komite Negara untuk Keadaan Darurat (GKCP). Hal ini menimbulkan reaksi
politik dari pimpinan-pimpinan masing-masing Negara Uni yang kontra atas keputusan tersebut,
terutama dari Boris Yeltsin. Boris Yeltsin yang menilai bahwa Gorbachev telah gagal dalam
memimpin Uni Soviet. Selama bulan Agustus 1991, terjadi banyak gejolak di ibukota Uni Soviet
yang banyak menimbulkan korban. Sentiment anti Gorbachev pun bermunculan. Pada tanggal 8
Desember 1991, terjadi pertemuan rahasia tiga Negara Uni tanpa mengundang Gorbachev, yaitu:
Boris Yeltsin (RSFSR), Leonid Kravchuk (Ukraina SSR), dan S. Shushkevich (Belarus SSR)

20
Opcit, Ivanhoe. hlm. 54.
yang mengumumkan berakhirnya Uni Soviet dan dibentuknya SNG (Sodruzhestvo Nezavisimikh
Gosudartstvo) atau lebih dikenal sebagai CIS (Commonwealth of Independence States). Pada
tanggal 24 Desember 1991, secara resmi Gorbachev mengundurkan diri dari kursi kepresidenan
Uni Soviet dan merupakan tanda berakhirnya perjalanan panjang sejarah Uni Soviet.
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan dan juga analisis yang telah saya lakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa keruntuhan Uni Soviet berasal dari tiga faktor utama, yaitu: kegagalan
leninisme dan dampak perang dingin, kegagalan kebijakan Glasnost dan Perestroika, serta yang
terakhir adalah separatisme dan pemisahan diri Negara-negara Uni. Masing-masing faktor
tersebut memiliki korelasi yang saling terkait satu sama lain, sehingga mampu menjadi sebuah
kesimpulan yang tepat dalam menjawab pertanyaan masalah seperti yang tertulis pada Bab I.
DAFTAR PUSTAKA

Bromlei, Yurii., Gurvich, I., dan Kozlov, V., (1987). “Etnicheskie Protessy V SSSR”,
Etnicheskie Protessy V Sovremennom Mire. Moskwa: Nauka.

Ministerstvom Viyssego i Srednego Spets‟ial‟nogo Obrazovaniya SSSR. (1976). Ucebnik


Russkogo Yazika 2. Moskwa

Fahrurodji. A. (2005). Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Gaus, Gerald F. (2004). „The Diversity of Comprehensive Liberalisms ‟ in The Handbook


of Political Theory, Gerald F. Gaus and Chandran Kukathas, eds. London: Sage.

Hammer, P. Darell. (1990). The USSR: The Politics of Oligarchy. Boulder, Colorado:
Westview Press

Ivanhoe, Novan. (1999). Pengaruh Disintegrasi Uni Soviet dan Perubahan Sistemik
Eropa Timur Terhadap Perubahan Strategi NATO. Jakarta: Universitas Indonesia

Lyndolp, E. Paul. (1990). Geography of the USSR. 5th Ed. Elkhart Lake. Wiscosin: Misty
Valley Publishing.

McLoughlin, Barry. McDermott, Kevin. (2002). Stalin's Terror: High Politics and Mass
Repression in the Soviet Union. Palgrave Macmillan.

Rawls, John. (1996). Political Liberalism. New York: Columbia University Press.

Rossi, Jaggues. (1991). Spravochnik po Gulagy c 1 & 2. Moskwa: Prosvet.

Saad, MS. 1967. Catatan Kecil Penelitian Kesusasteraan. Jakarta: PT Gunung Agung.

Zon, Fadli. (2002). Gerakan Etnonasionalis Bubarnya Imperium Uni Soviet. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.