P. 1
Edisi 370

Edisi 370

|Views: 1,458|Likes:
Dipublikasikan oleh Hary Buana
Edisi 37- dari Mingguan Medikom
Edisi 37- dari Mingguan Medikom

More info:

Published by: Hary Buana on May 23, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Simak Halaman Khusus

Satu Halaman Untuk Purwakarta - Subang dan Karawang

PURWASUKA
Halaman 5

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

Media Komunikasi Masyarakat Transparan Kom omunikasi Masyarakat ansparan araka

Tepat & Perlu

HARGA ECERAN Rp2.500,- LUAR JAWA + Ongkos Kirim

Dilumat Luapan Sungai Cimanuk Jumat Sore
Selengkapnya baca Halaman 3

Upah Pungut Halal atau Haram?

Rugikan Negara Pejabat PT Pindad Dituntut
Ir Washington Pane dan Tononan Silalahi

Kepala Daerah Antre Masuk Bui
Bagi masyarakat umum kata ‘upah pungut’ mungkin tidak terlalu akrab. Tapi bagi aparat penyelenggara Negara, kata upah pungut akhir-akhir ini menjadi perdebatan dan isu menarik. Sebab, karena upah pungut mantan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Subang Agus Muharam divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Subang dan dikuatkan vonis majelis hakim kasasi Mahkamah Agung dengan hukuman satu tahun penjara dan wajib membayar denda Rp50 juta serta membayar ganti rugi duit yang dikorupsi Rp1,1 miliar.
Bukan hanya Agus, dalam kasus upah pungut di Subang pihak kejaksaan juga telah menetapkan Bupati Subang Eep Hidayat sebagai tersangka. Pejabat lain yang dituduh korupsi dan penikmat upah pungut oleh kejaksaan termasuk mantan Wakil Bupati Subang Maman Yudia yang kini sebagai anggota DPRD Jawa Barat dan Bambang Heryanto mantan Sekda Kabupaten Subang yang kini menjabat Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Jabar juga jadi tersangka. Gonjang-ganjing upah pungut menjadi isu panas bak bola liar. Karena sebagian pihak menganggap upah pungut yang masuk ke kantong-kantong pribadi para pegawai pemerintah daerah adalah hal yang wajar karena punya landasan hukum. Apalagi sejalan dengan tugas dan fungsi. Sebagian pihak menilai, upah pungut yang dile-galkan oleh pemerintah seharusnya tidak perlu ada. Pasalnya penerima upah pungut adalah orang-orang yang sudah men-dapat gaji yang rutin dari Negara. Pertanyaannya, apakah pungutan itu sah atau tidak? Apakah layak disebut upeti, suap, atau korupsi? Bila upah pungut dinyatakan salah, tentu banyak pihak yang akan antre masuk bui, terutama bupati dan wali kota serta gubernur seluruh Indonesia. Karena, mereka-me-rekalah penerima upah pungut dan yang mendistribusikan pe-nerima upah pungut di daerah sesuai SK yang dilahirkan. Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung I Gede Panca Astawa, upah pungut (UP) tidak layak dipersoalkan. Sebab, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) itu pajak pusat yang pengaturan dan urusannya diserahkan kepada daerah yang memungut. “Pemerintah pusat memberikan keleluasaan kepada setiap daerah untuk mengurus perihal teknis pemungutan pajak pusat di daerahnya. Pemerintah pusat pun menargetkan perolehan pajak di setiap daerahnya, maka setiap daerah mempunyai cara tersendiri untuk pengaturan pemungutan pajak,” kata Panca. Ditanya mengenai insentif yang tertuang dalam SK kepala daerah, Panca menjelaskan, hal tersebut merupakan perkara wajar. “Insentif itu kan sebagai motivasi bagi para petugas pemungut pajak dan itu reward bagi mereka untuk bisa mencapai target pungutan yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah,” lanjutnya. Ia juga berpendapat, upah pungut tidak perlu dimasukkan dalam peraturan pemerintah daerah. Dikarenakan pajak bumi dan bangunan (PBB) merupakan pajak pusat, kecuali terkait upah pungut retribusi daerah ataupun pajak daerah. Sementara menanggapi perso-alan isu upah pungut yang telah mendudukkan beberapa pejabat daerah sebagai pesakitan dengan tuduhan korupsi upah pungut, Dedi Haryadi dari Bandung Institute of Governance Studies (BIGS) mengungkapkan, munculnya istilah upah pungut merupakan sebuah bentuk kekeliruan yang terjadi selama ini. Sebab, dalam Kepmendagri No 35 Tahun 2002 dan Kepmendagri No 27 Tahun 2002 tentang Pedoman Alokasi Biaya Pemungutan Pajak Daerah, tidak ada istilah upah pungut. “Dalam

Keluarga Pasien Ngamuk di RSUD Karawang
Dirut Katakan ‘Sensasi’
KARAWANG, Medikom–Rabu pekan lalu, kejadian aneh kembali mewarnai gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karawang. Salah seorang warga yang selanjutnya diketahui bernama Sugiono (58) mengamuk histeris lantaran pelecehan yang dilakukan oleh salah seorang perawat RSUD tersebut. Sugiono adalah warga Jatirasa Barat Kelurahan Karangpawitan Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang yang kecewa atas pelayanan tim medis RSUD Karawang. Keterangan yang dihimpun Medikom, kekecewaan Sugiono berawal ketika cucunya yang bernama Rezka Yunita Sulien (6) berobat ke RSUD Karawang dengan diantar Ibunya, Merlien (30), berbekal kartu keluarga miskin (gakin) pada dua pekan lalu. Alhasil Rezka menderita demam berdarah dengue (DBD) ini menjalani rawat inap. Namun, beberapa hari kemudian, pihak RSUD datang dan menunjukkan sikap yang tidak bersahabat terhadap keluarga Rezka. Beberapa perawat mendatangi pasien dan menyuruhnya untuk pindah dengan alasan akan ada pasien baru yang masuk. Pasien seperti dipaksa untuk pindah ke tempat yang tidak jelas seraya para perawat langsung mengganti seprei yang baru saja ditempati oleh Rezka. Kontan saja Merlien sang Ibu Rezka menangis sedih bercucuran air mata. Selanjutnya Sugiono mengamuk dan mencaci maki para perawat serta dokter yang berada di sekitar lokasi gedung RSUD. “Cucu saya bukan hewan. Kenapa harus diperlakukan seperti hewan,” teriak

di hal 4

Wajar Dipertanyakan Kerjasama PTPN III-PT Timun
MEDAN, Medikom-Karena berpotensi merugikan negara ratusan miliar, DPRD Sumut mendesak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) mengusut kerjasama jual-menjual batang kayu antara PTPN III dengan PT Tiga Mutiara Nusantara (Timun). “Kerjasama tersebut juga patut kita pertanyakan, karena bukan saja mengundang kecurigaan, tetapi juga selama ini PTPN III bergerak di bidang perkebunan,” kata anggota Komisi B DPRD Sumut, Ir Washington Pane didampingi anggota lain, Tononan Silalahi, kepada wartawan, baru-baru ini. Washington Pane mengatakan, perlu diusut penetapan harga batang kayu oleh PT Timun sesuai kerjasama selama lima tahun yang diduga tidak melebihi ambang batas wajar. Washington Pane mencontohkan, dari luas 1 hektare dengan jarak rentang tanaman 2 sampai 3 meter, akan diperoleh sekitar 200 batang kayu. Selama ini, PTPN III melepas harga per batang Rp18.000, sedangkan PTPN lain menjualanya dengan harga Rp50.000 per batang. “Sehingga kalau dikalikan selisihnya akan terdapat angka Rp32.000 per batang. Jumlah ini kalau dikalikan dengan luas kebun PTPN III ribuan hektare, maka selisih jumlahnya mencapai raturan miliar,” kata Washington Pane, politikus dari Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Sumut, lebih jauh. “Dengan selisih itu, wajar selaku wakil rakyat mempertanyakan sesungguhnya ke mana orientasi PTPN III selama ini. Apakah perkebunan atau perkayuan. Kemudian, kerja sama yang diduga penuh kongkalikong itu juga memukul industri lokal, yang seharusnya mensuplai kayu tersebut kepada pembeli,” katanya. Dan pada Juli 2004, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) menandatangani kesepakatan kerjasama dengan Yeo Aik Resources Berhad dan PT Innex Tripanca Corporation untuk bersama-sama membangun pabrik rubber wood dengan komitmen investasi sebesar 3,87 juta dolar AS.

Ke Halaman 11

Pada aksi tersebut para pendemo berorasi yang berisikan penentangan terhadap perilaku pihak-pihak yang melakukan aksi premanisme pada pekerja media/pers

Ke Halaman 11

Kali Cikarang Tercemar, Siapa Bertanggung Jawab?
BEKASI, Medikom-Sejumlah pabrik dan rumah sakit yang membuang limbah ke kali CBL Cikarang, dipanggil DPRD Kabupaten Bekasi bersama BPLHD (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah) Pemkab Bekasi, PJT II (Perum Jasa Tirta), LSM FOR Kampus dan sejumlah perusahaan. Di antaranya PT Cikarang Listrindo, PT Gunung Garuda, PT Fajar Paper, PT Sinta Putra Industri, PD Tahun Pratama, Jababeka, dan Rumah Sakit Bhakti Husada Cikarang. Satu per satu perusahaan dan rumah sakit memaparkan keterangan pada DPRD/Komisi C tentang perusahaan mereka. Namun, menurut keterangan yang diberikan kepada Dewan, semuanya membantah telah membuang limbah secara langsung ke kali Cikarang. “Limbah itu telah memenuhi syarat dan ada IPAL-nya. Kami tidak membuang secara langsung ke kali Cikarang,” tutur mereka. Namun, Marjaya, Riban, dan Fery dari LSM FOR Kampus, menuduh kali CBL Cikarang berwarna hitam pekat akibat limbah pabrik dibuang sembarangan oleh beberapa perusahaan di Cikarang. Dikatakan, siapa lagi kalau bukan limbah pabrik yang dibuang ke kali CBL Cikarang. “Buktinya sudah jelas, kalinya berwarna hitam pekat, bahkan menurut PJT II, kali Cikarang telah tercemar logam berat,” tegas LSM FOR Kampus. “Pokoknya warga Sukatani butuh air bersih sekarang juga. Sebab air kali yang ada sekarang sudah tidak bisa dipakai mandi lagi. Kalau pun mandi di kali menjadi gatal-gatal pada kulit, pengawasan dari BPLHD sangat lemah sehingga kali Cikarang menjadi tercemar,” sesalnya.

Wartawan Demo Antikekerasan
SUBANG, Medikom–Ratusan massa gabungan wartawan media cetak dan televisi dari berbagai organisasi kewartawanan yang ada di Subang, disertai massa dari sejumlah organisasi mahasiswa dan LSM di Subang, Kamis (20/5) melakukan demo mengutuk aksi premanisme dan kekerasan terhadap wartawan ke kantor Pemda, DPRD, kejaksaan dan berakhir di Mapolres Subang. Pada aksi tersebut para pendemo berorasi yang berisikan penentangan terhadap perilaku pihak-pihak yang melakukan aksi premanisme pada pekerja media/ pers. Dan sudah seyogianya aparatur pemerintah memberikan keleluasaan kepada pekerja media/ pers dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Semua pihak menentang pihak-pihak yang melakukan tindak kekerasan kepada pekerja media/pers yang sampai kini masih terjadi. Yang terakhir, kekerasan yang dialami wartawan Radar Karawang, Sigit di Rengasdengklok, Karawang. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Kabupaten Subang H Dadang Hidayat dalam orasinya mengatakan, menjadi wartawan merupakan hak asasi warga negara,

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Theo L Sambuaga:

Siapapun Tidak Bisa Halangi Pelantikan Darip Mulyana
JAKARTA, Medikom–Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Theo L Sambuaga mengancam akan memanggil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Barat Irianto MS Syafiuddin, jika tidak melantik HM Darip Mulyana sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, masa bakti 2010-2015.
“Kalau dia (Irianto MS Syafiuddin, red) tidak melantik Darip Mulyana, kita akan panggil. Kita tanya apa alasan dia tidak mau melantik Darip Mulyana,” kata Theo L Sambuaga kepada Medikom di Jakarta, Jumat pekan kemarin. Theo Sambuaga menegaskan, siapa pun tidak bisa menghalanghalangi pelantikan Darip Mulyana sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, karena Darip Mulyana merupakan pemenang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar VIII Kabupaten Bekasi, yang dilaksanakan pada 19-20 Januari 2010 di Hotel Sahid Lippo Cikarang dan berakhir di Gedung Olahraga (GOR) Tambun Selatan,” ujarnya. Karena itu, mantan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) di era Presiden BJ Habibie ini mendesak Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Irianto MS Syafiuddin secepatnya melantik Darip Mulyana, sekaligus mengukuhkan komposisi dan personalia Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Kabupaten Bekasi, masa bakti 2010-2015. Ketika ditanya sanksi yang akan diberikan DPP terhadap DPD Partai Golkar Jawa Barat, bila tidak melantik Darip Mulyana, Theo Sambuaga balik bertanya, “Siapa yang bilang DPD Partai Golkar Jawa Barat enggan melantik Darip. Itu kan menurut Anda.” Pemimpin Umum Harian Umum Suara Karya ini meyakini, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Irianto MS Syafiuddin bakal melantik Darip Mulyana, sekaligus mengukuhkan komposisi dan personalia DPD Golongan Karya Kabupaten Bekasi. Sebaliknya, jika Yance–panggilan akrab Irianto MS Syafiuddin–tidak melantik Darip Mulyana, pihaknya akan melihat tingkat kesalahan yang dilakukan DPD Partai Golkar Jawa Barat. “Yang pasti, kita akan panggil Yance, jika yang bersangkutan tidak melantik Darip Mulyana. Surat DPP yang dikirim ke Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu kan sudah sangat jelas, mau berkilah apalagi Yance,” tandasnya. Mantan Ketua Komisi I DPR RI ini menyatakan, surat DPP Partai Golkar Nomor: B-459/Golkar/IV/ 2010, tanggal 30 April 2010 tentang DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, yang dikirim ke Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, sudah final. Sebab, berdasarkan hasil Tim Fact Finding DPP Partai Golkar berdasarkan Surat Tugas DPP Partai Golkar Nomor: ST-31/B/DPP/ Golkar/III/2010, tanggal 19 Maret 2010, menurut Theo Sambuaga, kelanjutan Musda VIII Partai Golkar Kabupaten Bekasi yang diselenggarakan di Gedung Olahraga Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, pada 19-20 Januari 2010 sudah sesuai dengan AD/ART Partai Golkar dan Juklak01/DPP/Golkar/X/2009. DPP Partai Golkar menyimpulkan bahwa rapat yang dilaksanakan di Kantor DPD Partai Golkar Jawa Barat di Bandung, pada 24 Februari 2010 adalah forum yang tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan tentang kepengurusan DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, baik dari sisi kepesertaan maupun prosedur dan mekanisme penyelenggaraan rapat. Tidak terbukti Dalam surat yang ditembuskan, antara lain kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar, Wakil-Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ketua Korbid Kaderisasi DPP Partai Golkar, Ketua Korbid Organisasi & Daerah DPP Partai Golkar serta Ketua Korbid PP Wilayah Jawa, Bali & NTB DPP Partai Golkar itu, dinyatakan bahwa indikasi pemalsuan persyaratan calon yang dituduhkan kepada HM Darip Mulyana tidak dapat dibuktikan, sehingga rekomendasi Tim Kajian DPD Partai Golkar Jawa Barat tentang pelaksanaan Musda Ulang adalah tidak beralasan. Sedangkan terhadap Neneng Hasanah Yasin, selaku anggota Fraksi Partai Golkar di DPRD Jawa Barat, DPP menilai Neneng lebih diperlukan kehadiran dan

Ke Halaman 11

Theo L Sambuaga
pengabdiannya untuk kepentingan Partai Golkar di Jawa Barat, sehingga lebih strategis bagi yang bersangkutan dan partai apabila yang bersangkutan tetap pada jabatannya selaku pengurus di DPD Partai Golkar Jawa Barat.

Ke Halaman 11

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

Sisi Lain
Kompol Nugroho Arianto Waka Polresta Cimahi
CIMAHI, Medikom–Jabatan Wakapolresta Cimahi yang semula dijabat Kompol Faizal SIk beberapa hari lalu resmi diserahterimakan kepada Kompol Nugroho Arianto SIk yang sebelumnya menjabat Wakapolresta Bandung Tengah. Sertijab yang dilaksanakan di Aula Gedung Pengabdian Polresta Cimahi dipimpin langsung oleh Kapolresta Cimahi AKBP Drs H Rusdi Hartono MSi. Turut hadir dalam acara Sertijab tersebut para Kapolsek se Polresta Cimahi, para Kasat, Kanit dan anggota dari berbagai unit di lingkungan Polresta Cimahi juga para ibu-ibu Bhayangkari. Dalam sambutannya, Kapolresta Cimahi AKBP Rusdi Hartono, mengatakan dalam dinamika Kepolisian, sertijab merupakan hal yang biasa dilaksanakan, seperti halnya saat ini di Polresta Cimahi. Ia mengucapkan terima kasih kepada Waka yang lama Kompol Faizal yang telah menjalankan tugas sesuai fungsinya dengan baik dan serius penuh dedikasi yang tingi. “Saya juga mengucapkan selamat datang kepada Kompol Nugroho Arianto yang sekarang telah resmi menjadi wakil saya di Polresta Cimahi dalam menjalankan tugas,” katanya. Waka Polresta Cimahi yang baru Kompol Nugroho Arianto menuturkan, jabatan yang diembannya merupakan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan baik. “Karena itu, saya harapkan dukungan seluruh jajaran rekan-rekan di Polresta Cimahi,” tuturnya. Selamat jalan Bang Faizal sampai jumpa lagi di Polresta Cimahi. Selamat datang Bang Nugroho, selamat menjalankan tugas di Polresta Cimahi. (Fredy Hs/Sis)

2

Jawa Barat

Jabar Kekurangan Satu Juta Unit Rumah
BANDUNG, Medikom–Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta semua pihak untuk bersama menyediakan fasilitas perumahan yang layak di Jawa Barat. Apalagi saat ini Jawa Barat masih mengalami backlog atau kekurangan ketersediaan perumahan terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 1 juta unit rumah pada tahun 2009. Kekurangan ini diperkirakan akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang. Apalagi jumlah penduduk Jawa Barat kian tahun diperhitungan terus bertambah. Saat ini saja tercatat 42,5 juta penduduk mendiami kawasan Jawa Barat. “Kita maklumi bersama, sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk khususnya di daerah perkotaan, kebutuhan infrastruktur perumahan yang layak huni dan terjangkau telah menjadi salah satu isu strategis pembangunan yang perlu mendapat prioritas perhatian semua pihak. Apalagi Jawa Barat merupakan kawasan dengan penduduk terbesar sehingga perhatian Pemerintah Pusat pun harus proporsional ke Jawa Barat,” tegas Heryawan saat memberikan sambutan pada silaturahim Acara Groundbreaking Apartemen The Suites @ Metro belum lama ini. Menurut Heryawan, jika masalah ini tidak segera ditangani bersama secara sungguh-sungguh, maka tidak menutup kemungkinan munculnya permasalahan baru di perkotaan, mulai dari menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan, terhambatnya penataan ruang, menurunnya derajat kesehatan penduduk, hingga terhadap masalah sosial bahkan kriminal di masyarakat. “Pembangunan kawasan baru dengan lingkungan yang tertata diharapkan menumbuhkan kehidupan sosial ekonomi yang sehat dan kondusif,” ujarnya. Sejalan dengan program Pembangunan 1.000 Tower Rumah Susun Sederhana (Rusuna) yang digulirkan Pemerintah Pusat, pembangunan hunian vertikal dinilai tepat sebagai salah satu alternatif hunian di tengah keterbatasan serta tingginya harga lahan di perkotaan. Diharapkan terbangun sinergi yang lebih mantap antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jabar serta pihak swasta, dalam rangka memenuhi tingginya kebutuhan perumahan di perkotaan, khususnya bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal ini berfungsi sebagai regulator dan fasilitator, melalui dukungan kebijakan perizinan serta dukungan lainnya yang berpihak pada masyarakat. Untuk itu, keberpihakan tidak hanya pada Program Rumah Susun Sederhana (Sewa maupun Milik), tetapi juga fasilitasi Penyiapan Kawasan Siap Bangun (KASIBA) atau Lingkungan Siap Bangun (LISIBA), di antaranya pembangunan Rusunawa bagi para pekerja industri di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, serta direncanakan pula untuk daerah Bogor, Depok dan Bekasi (BODEBEK) serta Kota Cimahi. (IthinK)

Perlu Koordinasi Mengelola PNPM Mandiri Perdesaan
BANDUNG, Medikom–Sejak 17 Maret 2010 telah ditempatkan 16 orang asisten fasilitator kabupaten dan 16 orang asisten fasilitator teknik kabupaten di 12 kabupaten yang bertugas membantu fasilitator kabupaten ataupun fasilitator teknik kabupaten. Oleh karena itu fasilitator/fasilitator teknik kabupaten segera melakukan konsolidasi dengan para asisten fasilitator kabupaten dan fasilitator teknik kabupaten sehingga pembagian tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan jelas. Di samping itu, pada bulan Januari sampai dengan Februari 2010, Satker PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi Jawa Barat maupun kabupaten telah dilaksanakan audit atas laporan keuangan oleh Badan Pengawas Keuangan Provinsi Jawa Barat. Demikian diungkapkan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Jabar Dr Ir H Dadang Mohamad MSCE pada acara Rapat Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Se-Jawa Barat, di Kantor BPMPD Jabar Jalan Soekarno-Hatta Bandung, baru-baru ini. Dikatakannya, penyelenggaraan rakor merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan dalam rangka evaluasi program bulan sebelumnya dan rencana program bulan berikutnya. Rakor dapat juga dijadikan forum silaturahmi antara satuan kerja provinsi dengan koordinator provinsi, agar terwujud hubungan harmonis di antara para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan provinsi dan kabupaten. Berdasarkan hasil audit BPKP, lanjut Dadang, terdapat temuan menyangkut provinsi, kabupaten maupun di lapangan, antara lain berupa, pertama, masih lambatnya pengisian data induk fasilitator setiap bulan, mulai dari kabupaten sampai korprov, sehingga mempengaruhi data induk di satker provinsi. Kedua, kebijakan pembayaran biaya transportasi, untuk hal ini mohon bantuan faskab apabila ada kelebihan pembayaran atau kesalahan input data dalam pembayaran honorarium dan tunjangan agar memberitahukan Satker PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi. Ketiga, kinerja fasilitator kecamatan belum optimal, karena hal-hal, seperti penyusunan rencana anggaran biaya dan desain rencana anggaran biaya, pelaksanaan pembangunan fisik yang tidak sesuai dengan desain RAB maupun RAB, penyaluran simpan pinjam kelompok perempuan tidak sesuai dengan proposal, pengadaan material tidak sesuai petunjuk teknis operasional. Kondisi tersebut, kata Dadang, diakibatkan kurangnya pengawasan dan binaan fasilitator kabupaten atau fasilitator teknik kabupaten. “Sehubungan hal tersebut kami mohon perhatian koordinator provinsi, fasilitator kabupaten, fasilitator teknik kabupaten maupun fasilitator kecamatan untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan pada pelaksanaan kegiatan di lapangan,” kata Dadang. Di samping itu, juga hasil audit BPKP menyangkut asuransi, di mana tunjangan asuransi yang diberikan kepada fasilitator dengan peruntukan asuransi kesehatan dan kecelakaan. Diharapkan fasilitator melakukan kontrak asuransi sesuai dengan peruntukannya. Selanjutnya, evaluasi kinerja terhadap fasilitator belum dilaksanakan secara optimal dan objektif. “Mohon jadi perhatian satker kabupaten, faskab untuk melakukan evaluasi kinerja sesuai standar operasional dan menyampaikan hasilnya tepat waktu,” katanya. (Laures)

Daya tarik dari destinasi wisata yang terdapat di Jawa Barat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya peminat Jabar Travel Exchange (JTX) 2010.

Jabar Travel Exchange Berdampak Luar Biasa
BANDUNG, Medikom-Daya tarik dari destinasi wisata yang terdapat di Jawa Barat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya peminat Jabar Travel Exchange (JTX) 2010. Jumlah pendaftar atau peserta yang berpartisipasi dalam promosi wisata atau JTX kali ini meningkat signifikan dibandingkan tahuntahun sebelumnya atau selama 12 kali penyelenggaraan. Hal ini, menurut Kadisparbud Jabar Ir H Herdiwan MM, seperti dijelaskan kepada Medikom, Jumat (21/5), akan berimplikasi positif dengan kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Nilai transaksi selama JTX 2010 di Hotel Horison, 19-21 Mei, mencapai lebih dari Rp90 miliar. Ya, angka terbesar selama sejarah JTX. Ini seharusnya membuka mata kita terbuka tentang peran yang luar biasa sektor pariwisata,” tuturnya, itu belum lagi dampak dari kehadiran seller dan buyer dalam event itu, untuk transaksi kebutuhannya baik untuk konsumsi, sandang, hiburan dan kebutuhan lainnya. Kontak antara penyedia jasa pariwisata lokal (seller) dengan sejumlah penawaran paket wisatanya dan penggunanya dari luar negeri (buyer) sebagai operator yang memfasilitasi wisatawan mancanegara (wisman) merupakan sarana yang efektif untuk pemasaran atau promosi wisata. Event reguler setiap tahun ini diharapkan bisa meningkatkan angka kunjungan wisman ke seluruh destinasi atau objek wisata yang terdapat di Jabar. Para buyer yang menghadiri kontak bisnis sektor pariwisata itu diharapkan menjadi agen atau operator yang menyebarkan informasi tentang dunia pariwisata di Jawa Barat sekaligus menjadi agen promosi Jabar, termasuk ke negaranegara besar lainnya di dunia. “Dan seharusnya juga ketika tujuh negara besar yang penduduknya berpotensi wisata itu diberi informasi berupa info dunia pariwisata, maka diharapkan ketika pulang ke negara masingmasing, efektif untuk mendongkrak citra pariwisata Jabar. Mereka sebagai buyer atau agen pariwisata Jabar diharapkan akan menjadi agen promosi wisata Jabar,” tutur Kadisparbud. Untuk mendukung kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke destinasi, terus dilakukan pembenahan sarana-prasana, mesti disadari sangat minim dan terbatas dalam segi pembiayaannya, termasuk untuk melakukan promosi wisata seperti JTX. Untuk itu sinergisitas antara Pemerintah Provinsi Jabar dengan pemkab/pemkot dan pelaku usaha bidang penyelenggaraan kepariwisataan, serta masyarakat, diharapkan semakin meningkat untuk pembangunan sektor pariwisata sebagai salah satu urat nadi perekonomian masyarakat. “Tapi sayang, sarana-prasarana untuk mencapai hingga kawasan wisata atau destinasi yang seharusnya bisa mengangkat wajah citra pariwisata Jabar masih belum memadai. Keterbatasan ini menjadi tanggung jawab semua stakeholders, pemerintah sebagai fasilitator terus berupaya,” tambahnya. Secara terpisah, Ketua Panitia JTX 2010, Nicolaus Lumanauw dalam keterangan persnya mengatakan, peningkatan peserta yang mencapai lebih 180 perusahaan dan tercapainya transaksi bisnis sekitar Rp100 miliar, menunjukkan bahwa Jabar memiliki keunggulan dalam daya tarik wisata. “JTX 2010 ini merupakan acara tahunan untuk terjadinya kontak antara seller dengan buyer tentang tawaran sejumlah paket wisata. Sekitar 90% seller berasal dari Jabar, sisanya dari Bali, Yogyakarta dan DKI Jakarta. Sedangkan buyer 57 peserta berasal dari Jeddah, Arab Saudi, Jepang, Malaysia, Australia, Thailand dan Yaman,” tandas Pengurus ASITA Jabar ini, dengan harapan jaringan bisnis ini bisa mendongkrak kunjungan wisman ke Jabar. Kontak bisnis tertutup selama tiga hari sejak pukul 09.00–16.00, berlangsung antara seller dan buyer hingga ditutup, Jumat (21/ 5). Selanjutnya, sebagai acara pamungkas, seluruh peserta kontak, khususnya buyer mengunjungi destinasi wisata unggulan untuk wisata alam pegunungan, yaitu Lembang, kawasan Tangkuban Parahu dan Ciater, sekaligus menginap di kawasan sejuk itu. (Zaz)

Pemerintah Kota Diminta Tegas Jika Fasum Dikomersilkan
BANDUNG, Medikom–Warga RT02/ RW 01 Jalan Gamelan, Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, memprotes rencana alih fungsi fasilitas umum (fasum) menjadi perumahan. Di bawah lahan kosong seluas 1.300 meter itu sejak tahun 1970 terdapat septic tank komunal untuk 200 rumah. Warga tidak mengklaim lahan tersebut adalah milik Pemkot, yang selama ini lahan tersebut adalah taman, tetapi lebih tepatnya adalah fasum, yang notabene di bawahnya ada septic tank komunal. Warga, saat membeli rumah ditambah tanah atas kerjasama CV Ade dengan pihak Pemkot saat itu. Jadi, lahan tersebut merupakan bagian dari masyarakat. Tetapi saat ini diduga fasum tersebut telah dimiliki oleh seseorang untuk dibangun rumah. Yang menjadi pertanyaan: apakah fasum bisa dikomersilkan? Demikian diungkapkan beberapa warga yang merasa dirugikan atas dugaan penjualan fasum tersebut, yang diduga telah mempunyai sertifikat hak milik. Salah satu warga, Ny Lina Idris Daeng M, kepada Medikom, belum lama ini, mengatakan, pihaknya selaku orang lama di sekitar fasum sangat kaget fasum telah berubah fungsi. Ny Idris memahami betul bahwa sejak tahun 1970 di bawah lahan kosong/ruang terbuka atau fasum itu terdapat septic tank komunal. Namun disinyalir telah dimiliki oleh beberapa orang, yakni Hj Annie Sumarni, H Deden Fuad, dan RH Hasan Saputra. Warga lain yang termasuk orang lama di daerah Gamelan, yakni Ir Soewarno Darsoprayitno, juga membenarkan di bawah fasum terdapat septic tank komunal. “Kalau ini dibangun dapat merugikan warga sekitar,” katanya. Untuk itu dia mengharapkan pihak Pemkot dapat menunda pembangunan perumahan di atas fasum tersebut, menelusuri latar belakang peralihan fasum ke pihak individu. Dalam hal ini, kata Soewarno, pihak Pemkot dapat melindungi kepentingan orang banyak di atas kepentingan kelompok atau individu. Disinggung tentang apakah waktu itu fasum ini ada penyerahan dari CV Ade ke pihak Pemkot, menurut Soewarno dan Utang Warmana, dalam logikanya tidak mungkin ada penyerahan karena lahan ini adalah fasum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang mendiami Jalan Gamelan RT 01 RW 01 Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong. Hal ini juga telah dikuatkan dari Departemen PU, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman, Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, tertanggal 8 Desember 1994 yang ditandatangani oleh Pgs Padarmanto Darmonegoro. Intinya agar keberadaan lahan/ tanah tersebut tetap sesuai dengan fungsinya, tidak dialihkan sehingga berubah fungsi, karena masih dibutuhkan sebagai areal penelitian. Atas permasalahan ini, pihaknya telah menyampaikan ke pihak Pemerintah Kota Bandung beberapa kali, termasuk pada pertemuan dengan Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda di Jalan Nyland No 13, baru-baru ini, dalam acara open house, agar pihak Pemkot Bandung dapat membatalkan rencana pembangunan di atas ruang terbuka/fasilitas umum tersebut. Dan pihak Pemkot berjanji akan menelusuri peralihan lahan tersebut dengan memanggil pihak terkait. “Diharapkan warga bersabar,” kata Wakil Wali Kota, saat itu. Medikom sendiri mencoba konfirmasi ke Camat Lengkong untuk klarifikasi permasalahan ini. Tetapi sampai berita ini diturunkan belum ada informasi dari pihak kecamatan. (Laures)

Masyarakat Sambut Pawai Kafilah MTQ dan Persib U-21
BANDUNG, Medikom–Masyarakat Kota Bandung menyambut meriah Pawai Kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kota Bandung dan Persib U-21, Jumat (21/5). Meski menimbulkan kemacetan lalu lintas kendaraan di beberapa ruas jalan, Wali Kota Bandung H Dada Rosada memenuhi janji keinginan warga Kota Bandung, mengarak keliling kota piala Juara Umum MTQ Jabar 2010 yang berhasil dipertahankan kafillah Kota Bandung. Bersamaan itu pula, turut diarak piala gelar juara sepakbola Liga Super Indonesia (LSI) 2010 yang diraih Persib U 21. “Ini keinginan masyarakat sekaligus ungkapan kegembiraan, juga apresiasi pada mereka yang berprestasi,” ujar Dada yang larut dalam kegiatan bersama Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda, saat melepas rombongan di Taman Monumen Bandung lautan Api (BLA) Tegallega, Jumat (21/5). Peserta pawai dilepas di gerbang timur Tegallega, menuju Jalan Moh Toha, BKR, Laswi, Sukabumi, Supratman, Diponegoro, Gasibu, layang Paspati, Pasteur, Cokroaminoto, Pajajaran, Abdurrahman Shaleh, Garuda, Sudirman, Jamika, Peta dan finis di Tegallega kembali. Kegiatan diharapkan Dada, menjadi media motivasi warga lain Kota Bandung ikut berprestasi di bidang lain, baik secara perorangan maupun kolektif. Apalagi Bandung saat ini dihari yang sama, sedang dalam penilaian sinergitas kinerja kecamatan dalam menunjang akselarasi pencapaian target indeks pembangunan manusia (IPM) tingkat Jabar yang diwakili Kecamatan Batununggal. Target prestasi lainnya,

Warga Cisewu Dukung Program KB Pria
BANDUNG, Medikom-Dalam rangka optimalisasi dan pencapaian program Keluarga Berencana (KB), jajaran BKKBN Provinsi Jawa Barat, baru-baru ini, melakukan pelayanan MOP (metode operasi pria) di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Dukungan pemerintah serta partisipasi warga masyarakat terhadap program KB pria sangat bagus. Tercapainya 71 akseptor di kecamatan tersebut menunjukkan dukungan terhadap program cukup responsif. Sebagai penyeimbang dan penghibur masyarakat dalam pelayanan, segenap tim Mupen (Mobil Unit Penerangan) milik Provinsi Jawa Barat diterjunkan. Dengan 6 unit diharapkan terhibur warga Kecamatan Cisewu melalui pemutaran film. Enam unit Mupen diturunkan ke desa setiap malamnya. Hiburan berlangsung selama 2 malam untuk 8 desa. Selain menghibur warga, tim kru Mupen didampingi PLKB dan TPD melakukan penyuluhan serta advokasi kepada masyarakat, terutama kepada para suami yang telah mempunyai anak lebih dari dua. Kebanyakan dari masyarakat peserta MOP, selain faktor banyak anak, ternyata faktor ekonomi juga mempengaruhi. Wawan, kepada Medikom, usai pelaksanaan operasi, menuturkan, “Pak saya ikut MOP ini selain anak sudah banyak, ekonomi juga seret. Bagaimana ke depannya anak-anak saya nantinya. Dan saya ke tempat ini sudah bicara dengan istri. Selain menyetujui, istri juga mengeluhkan biaya kalau dia yang di-KB, sebagaimana dilakukannya selama ini. “Melalui program ini saya banyak terima kasih telah melakukan pelayanan di daerah terpencil,” tutur Wawan. Tim medis spesialis yang didatangkan dari Cianjur dapat melakukan operasi kecil kepada 71 pasien MOP. Pelayanan MOP ini merupakan pelayanan terbaik karena dapat menghimpun 71 akseptor, walaupun target sebelumnya harus mencapai 150 akseptor. Sebagaimana dituturkan salah satu panitia penyelenggara, saat dikonfirmasi mengenai alasan pencapaian akseptor tidak memenuhi target, pencapaian akseptor tidak memenuhi target sesuai harapan disebabkan cuaca alam saat ini terus-terusan turun hujan. Selain itu, jarak kediaman akseptor dengan tempat pelayanan cukup jauh, sampai-sampai harus ditempuh jarak puluhan kilometer dan medan jalan pun berbatu dan terjal. “Karena guyuran hujan, kami memaklumi situasi seperti ini. Dengan 71 akseptor saja sudah cukup bagus,” tutur Pak Acuy. Kepala Kanwil BKKBN Provinsi Jawa Barat, Drs Rukman Heryana MSi, dalam sambutannya di aula Kecamatan Cisewu mengatakan, untuk mendukung program pemerintah sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diharapkan kaum pria juga turut andil menyukseskan program dengan mengikuti Program Keluarga Berencana melalui MOP. Itu pun apabila telah memenuhi persyaratan, di antaranya anak lebih dari dua, faktor ekonomi atau keluarga miskin, dan dapat persetujuan dari keluarga. Selain itu, peranan pria ikut KB dapat juga meringankan beban istri yang selama ini harus mengeluarkan uang untuk ber-KB. “Dengan pria ikut KB maka beban istri pun berkurang dan dapat diperuntukkan yang lain,” tegasnya di hadapan masyarakat dan para pelajar SMU setempat. (Iwan)

Plasa Telkom Raih Service Quality Award 2010
BANDUNG, Medikom–Satu penghargaan lagi berhasil disabet PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) operator TIME (Telecommunication, Information, Multimedia dan Edutainment). Plasa Telkom meraih Service Quality Award 2010 untuk kategori Cellular (CDMA) service points, di Ballroom Hotel Mulia Jakarta baru-baru ini. Penghargaan diterima oleh VP Commerce & Customer Care Bagyo Nugroho, dari Yuliana Agung selaku CEO Customer Satisfaction & Loyalty, dan didampingi oleh Pemimpin Redaksi Majalah Marketing Rahmat Susanta. Service Quality Award adalah sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada perusahaan walk in center yang berhasil memberikan kepuasan pelanggan tertinggi ISSI (Indonesian Service Satisfaction Index). Plasa Telkom menerima penghargaan tertinggi yang didasarkan kepada survei melalui wawancara langsung terhadap 2.400 konsumen di daerah Jakarta dan Surabaya. Faktor service value dan service quality menjadi ukuran dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan servis. Persaingan industri telekomunikasi makin ketat, masing-masing operator berlomba memberikan yang terbaik bagi pengguna produknya. “Oleh karena itu, kami sangat memperhatikan dan terus meningkatkan pelayanan kepada pengguna produk-produk Telkom Group,” kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia. Penghargaan ini merupakan kali kedua, setelah pada tahun 2009 lalu Telkom meraih penghargaan. Eddy Kurnia mengatakan kegembiraannya atas penghargaan Service Quality untuk Telkom

Service Quality Award adalah sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada perusahaan walk in center yang berhasil memberikan kepuasan pelanggan tertinggi ISSI (Indonesian Service Satisfaction Index). Plasa Telkom menerima penghargaan tertinggi yang didasarkan kepada survei melalui wawancara langsung terhadap 2.400 konsumen di daerah Jakarta dan Surabaya.
tersebut. Ia menyebut hasil ini sebagai buah investasi Telkom untuk memenangi persaingan. “Ini merupakan bukti bahwa kami tidak hanya dapat mempertahankan kualitas servis, tetapi juga berhasil mempertahankan predikat terbaik,” ujar Eddy Kurnia. Penghargaan ini merupakan momentum penting bagi Telkom untuk melanjutkan proses transformasi perusahaan, di mana inti dari transformasi tersebut adalah memberikan layan yang terbaik bagi pelanggan dan dapat dirasakan sangat berbeda dari sebelumnya. Dijelaskannya, Telkom telah mengubah penampilan Plasa Telkom menjadi lebih akrab dan nyaman. “Dengan semakin baiknya layanan Telkom tentu akan berdampak pada loyalitas pelanggan yang tentunya akan diiringi dengan peningkatan revenue dan dapat memberikan profitability yang maksimal bagi perusahaan,” kata Eddy. Selain Plasa Telkom sebagai walk in centre yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, Telkom juga memberikan pelayanan kepada pelanggan melalui contact centre 147 dan web in centre di www.telkom.co.id. Pada ajang International Conference & Net Promoter Customer (NPS) Loyalty Award 2010 yang diselenggarakan oleh Octovate Consulting Group dan Majalah SWA, di Jakarta (10/5). Produk unggulan Telkom, yakni Flexi dan Speedy berhasil meraih penghargaan bergengsi masing-masing penghargaan NPS Leader untuk layanan Internet Broadband Speedy dan NPS Excellence untuk layananan CDMA Prepaid, Flexi Trendy. Net Promotor Score (NPS) adalah sebuah metodologi eksklusif dan terbaru yang dikembangkan oleh Satmetrix System Inc, Bain & Company & Reichheld. Net Promoter merupakan metodologi pengukuran scientific yang diaplikasikan dalam pengukuran peningkatan marketing dan kinera keuangan perusahaan. NPS diklaim sebagai metodologi terbaru yang praktis dan akurat dan diakui oleh Harvard Business Review dan Harvard Business Scholl. (IthinK)

piala Adipura sebagai penghargaan tertinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup, ketertiban dan kebersihan kota. Sama halnya dengan kafillah MTQ, kepada warga berprestasi lain, Pemkot Bandung juga tidak segan-segan memberi apresiasi. Di kesempatan menerima Persib U 21 melaporkan keberhasilannya menjuarai LSI, di Pendopo Jalan Dalem Kaum Dada menyerahkan kadeudeuh (bonus) Rp100 juta. Keberhasilan Persib U 21, baginya tidak hanya disyukuri tapi juga telah mengobati kerinduan prestasi Persib di LSI. Kepada Persib U 21 karena masih anak-anak, Dada mengingatkan

sekaligus berpesan, selain meningkatkan skill dan kemampuan untuk berprestasi, mereka juga harus mengimbanginya dengan pendidikan formal di sekolah. “Ini untuk kesejahteraan ke depan,” ujarnya. Ketua panitia acara yang sekaligus Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung H Ubad Bactiar melaporkan, sedikitnya seribu lebih kendaraan motor dan mobil mengiringi pawai. Mereka terdiri unsur SKPD di lingkungan pemkot, klub mobil hardtop, motor besar, ormas dan LSM keagamaan juga bobotoh Persib. (Dudi)

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

3

Lintas Kota
Cimahi Selatan Peserta Lomba Kecamatan Tingkat Provinsi
CIMAHI, Medikom–Kecamatan Cimahi Selatan patut berbangga, karena mewakili dua kecamatan yang ada di Kota Cimahi untuk diikutsertakan dalam lomba kecamatan tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2010. Perlombaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini terkait dengan penilaian sinergitas kinerja kecamatan untuk menunjang akselerasi pencapaian target indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2013 tingkat Provinsi Jabar. “Fokus penilaiannya pada bidang pendidikan, kesehatan dan daya beli di masyarakat, dilakukan setiap dua tahun sekali dalam sepuluh hari penilaian berturut-turut. Penilaian ini diharapkan dapat memberikan pengembangan kinerja serta pelayanan di bidang kesehatan, pendidikan serta aktivitas ekonomi,” ungkap Ketua Tim Penilai Dedi Haryadi, seusai acara di Aula Kecamatan Cimahi Selatan pekan kemarin. Sekda Kota Cimahi merasa optimistis Kecamatan Cimahi Selatan akan mampu mewakili Cimahi menjadi yang terbaik di Jawa Barat. “Kami optimis, insya Allah Kecamatan Cimahi Selatan akan mampu mewakili Cimahi menjadi yang terbaik di Jawa Barat. Bahkan apabila ternyata benar, ini merupakan kado ulang tahun Kota Cimahi yang ke9 tahun,” ujarnya. Camat Cimahi Selatan Setia Kusbaran kepada Medikom mengatakan, pihaknya merasa bersyukur Kecamatan Cimahi Selatan dapat mewakili lomba kecamatan tingkat provinsi. “Semoga Kecamatan Cimahi Selatan berhasil menjadi kecamatan yang terbaik di Jawa Barat,” ungkapnya. (Imam Sis/Fredy)

Dilumat Luapan Sungai Cimanuk Jumat Sore
Luapan air Sungai Cimanuk begitu rakus melumat ribuan rumah penduduk Kabupaten Majalengka dan Indramayu, Jumat (21/5). Air sungai meluap akibat jebolnya tanggul yang memang sudah pada kondisi kritis.
Sekitar 120 rumah yang dihuni sekitar 200 KK di Blok Hegarmanah, Desa Pasindangan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, terendam air luapan Sungai Cimanuk hingga ketinggian kurang lebih 80 cm. Warga yang tampak enggak siap, belingsatan berupaya mengamankan harta benda dan berusaha mengevakuasi keluarga terutama anak-anak dan perempuan ke tempat yang lebih tinggi. Selain merendam rumah, air juga menyapu sekitar 287 hektare sawah di Desa Sukawana dan Pasindangan yang kondisi padinya tengah berbunga. Di di Desa Babakananyar, kondisi padi baru berumur 70 harian. Pangkal penyebab banjir, tanggul Sungai Cimanuk di Blok Keman, Desa Sukawana, Kecamatan Kertajati jebol sekitar 30 meteran, Jumat (21/5). Menurut beberapa warga, seperti disampaikan H Madi (40), Kasma (59), Adnawi (40), Wahyu (39), dan Adnawi (49), luapan air terjadi sekitar pukul 06.30 WIB. Air tiba-tiba saja datang langsung merendam pemukiman penduduk. Kondisi air semakin siang justru semakin meluap. Di beberapa titik di pemukiman penduduk yang letaknya lebih rendah air hingga mencapai ketinggian kurang lebih satu meter. “Air datang langsung keruh, awalnya hanya setinggi sekitar 10 cm. Namun setengah jam kemudian langsung meluap hingga sepaha,” ungkap H Madi setelah mengantar keluarganya di pengungsian yang jaraknya sekitar setengah kilometer di Kertajati. Untuk sementara warga kini mengungsi di famili mereka di Desa dan Kecamatan Kertajati serta di tempat pengungsian. Beruntung bagi warga, sebab TNI dari Lanud Sugiri Sukani, Batalyon 321 Galuh Taruna, dan PMI Majalengka sigap membangun tenda dan membuka dapur umum. Sementara para pemuda tetap bertahan di lokasi. Mereka tinggal di pos ronda dan di rumah warga yang posisinya lebih tinggi meski sedikit terendam untuk menunggu ternak yang dikhawatir terbawa banjir. Hingga pukul 17.00 WIB air belum menunjukkan penyusutan. Mantri Pertanian Kecamatan Jatitujuh Dulkalim menyebutkan, selain merendam pemukiman penduduk, air juga merendam sekitar 220 hektare areal sawah. Di Desa Pasindangan sekitar 120 hektare dan Desa Sukawana, Kertajati sekitar 100 hektare. “Air dari Cimanuk tersebut sebelum masuk ke pemukiman penduduk terlebih dulu merendam sawah, ada juga yang melintasi sungai kecil kemudian ke pemukiman penduduk,” ungkap Dulkalim yang memprediksi jika banjir cukup lama maka diperkirakan panen akan mengalami puso, karena kondisi padi kini tengah berbunga. Menurutnya banjir diakibatkan oleh jebolnya empat titik tanggul Sungai Cimanuk yang berada di Blok Keman, Desa Sukawana, tepatnya di sebelah hulu tanggul yang sebelumnya sempat jebol. Padahal, beberapa waktu lalu baru saja diperbaiki. Tanggul yang jebol terdapat juga di Blok Cambay, Desa Kertawinangun, Blok Cimoyan Desa Karangsambung serta Desa Pasir Malati, Kecamatan Dawuan. Jebolnya tanggul Cimoyan menurut Camat Kadipaten Gatot Sulaeman, merendam empat rumah penduduk dan sawah sekitar 67 hektare di Desa Karangsambung. Di Indramayu 8 desa terendam Di Kabupaten Indramayu, luapan air Sungai Cimanuk melumpuhkan ribuan rumah warga termasuk bangunan SD dan madrasah di

DPRD Dukung Penambahan Fasilitas PPI Pamayangsari dan Cipatujah
BANDUNG, Medikom–Komisi B Berdasarkan data DPRD Provinsi Jawa Barat meninjau Pangkalan Pendaratan statistik dari Dinas Ikan (PPI) Pamayangsari dan Peternakan Perikanan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya baru-baru ini. Ketua dan Kelautan Kabupaten Komisi B Hasan Zainal Tasikmalaya, hasil mengapresiasi positif peningkatan produksi ikan laut pada hasil produksi ikan laut di K a b u p a t e n tahun 2009 mencapai Tasikmalaya, walaupun beberapa 876,40 ton dan pada sarana dan prasarana belum tahun 2010 sampai lengkap. Berdasarkan data statistik dari dengan saat ini telah Dinas Peternakan Perikanan dan mencapai 978,89 ton. Kelautan Kabupaten Tasikmalaya, hasil produksi ikan laut pada tahun 2009 mencapai 876,40 ton dan pada tahun 2010 sampai dengan saat ini telah mencapai 978,89 ton. PPI Pamayangsari merupakan PPI yang memiliki hasil produksi ikan paling tinggi dibandingkan dengan PPI lainnya yang berada di Jawa Barat. Lanjut Hasan, masih ditemui sejumlah hambatan di antaranya belum lengkapnya fasilitas pokok, fungsional dan fasilitas penunjang Pangkalan Pendaratan Ikan. Break water masih kurang panjang, begitu juga kolam/ dermaga masih sempit. Selain itu, bengkel juga belum optimal pemanfaatannya, jumlah armada tangkap terbatas dengan ukuran kecil, sehingga daya jangkau nelayan dalam menangkap ikan terbatas, serta untuk menjaga kesegaran ikan belum tersedianya pabrik es yang bisa memasok kebutuhan nelayan. Hal lain yang memprihatinkan adalah lampu penerangan yang ada sudah diputus PLN karena Rukun Nelayan tidak sanggup membayar beban listrik. Untuk mengatasi hambatan tersebut, Hasan menegaskan, Komisi B mengusulkan penambahan fasilitas PPI dari dana APBD Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jabar dan APBN Pusat. Selain itu, Komis B akan mengusulkan penambahan armada tangkap dari dana provinsi maupun pusat serta akan mendukung akselerasi pembangunan pabrik es. Komisi B juga akan memediasi agar PLN dan Dinas Perhubungan membangun fasilitas penerangan jalan umum. (IthinK)

empat desa serta Pasar Bangkir, Jumat (21/5) pukul 07.00 WIB. Rumah-rumah warga yang kebanjiran terletak di Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, Rambatan Wetan Kecamatan Sindang, Desa Plumbon, Telukagung Kecamatan Indramayu, Desa Sukawera dan Kertasemaya Kecamatan Kertasemaya, serta Desa Pagirikan dan Pabean Udik Kecamatan Pasekan. Desa-desa yang terkena banjir itu kebetulan berada di sisi bawah tanggul Sungai Cimanuk yang debit airnya dalam sepekan terakhir ini terus meninggi. Camat Lohbener Wawan S Odimiarta SH di lokasi banjir Desa Rambatan Kulon, Jumat (21/5) mengemukakan, air meluap melalui tiga titik tanggul Sungai Cimanuk yang kritis. Masing-masing tanggul di Blok Ballas, Blok Pulo, dan Blok Ningkon. Dari atas tanggul kritis di Blok Ballas itu, debit air Sungai Cimanuk berketinggian 5,5 meter mengalir deras menggenangi ribuan rumah warga di Desa Rambatan Kulon. Sedangkan pemukiman warga di Desa Rambatan Wetan dialiri banjir bandang dari dua titik tanggul yang jyga kritis di Blok Pulo dan Blok

Ballas. Banjir bandang juga menggenangi Pasar Bangkir yang kebetulan pada Jumat (21/5) suasananya sedang ramai karena merupakan hari pasaran. Selain itu, merendam beberapa bangunan SD, seperti di SD Rambatan Kulon I, II, dan III, air sudah merendam lantai kelas setinggi 80 cm. Pihak sekolah terpaksa meniadakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut. “Anak-anak tadi pagi sempat datang ke sekolah. Namun karena air sudah menggenangi halaman sekolah dan ruang belajar, terpaksa murid-murid diminta belajar di rumah. Khawatir terjadi hal-hal tak diinginkan, sekolah hari ini memulangkan murid-murid,” kata seorang guru. Selain bangunan SD yang kebanjiran, sejumlah bangunan madrasah dan masjid juga terendam. Menurut Camat Lohbener, banjir bandang menggenangi rumahrumah warga mulai terlihat pada Jumat (21/5) pukul 07.00 WIB. Debit air Sungai Cimanuk yang tinggi dan airnya tampak keruh berwarna coklat tua itu mengalir deras dari hulu di Kabupaten Garut. Air meluber

dari atas tanggul sungai yang kritis dan menggenangi halaman, lalu masuk ke rumah-rumah dan sekolah. Pantauan Medikom Jumat (21/ 5) pada pukul 17.30 WIB ketinggian air di Sungai Cimanuk Rambatan Kulon semakin meninggi. “Bahkan luapan air sudah memasuki Sungai Cimanuk Desa Terusan. Kondisi itu membuat warga sekitar jadi cemas takut air tersebut meluap seperti yang terjadi di Desa Rambatan Kulon,” ungkap salah seorang warga. Tanggul Cimanuk jebol Teguh Sutejo staf BBWS Cimanuk Cisanggarung membenarkan jebolnya tanggul tersebut. Menurutnya, tanggul di Blok Cimoyan, Desa Karangsambung sebetulnya sudah jebol sejak Jumat pekan kemarin. Namun kini semakin lebar setelah curah hujan terus tinggi serta banjir kiriman dari wilayah hulu, seperti Sumedang dan Garut. “Untuk Blok Cimoyan sekarang sudah mau diperbaiki, dan kontraknya sudah dibuat. Demikian juga yang berada di Blok Cambay sudah akan diperbaiki. Di Pasirmalati sudah diatasi dengan penumpukan karung sehingga untuk sementara

bisa teratasi,” ungkap Teguh. Yang jadi persoalan dan mengkhawatirkan menurutnya adalah tanggul di Blok Keman. Di wilayah tersebut, kata Teguh, selama bagian bawahnya tidak diperbaiki maka air akan terus menggerus tanggul dan akhirnya jebol seperti yang terjadi saat ini. Pengelola Pintu Air Bendung Rentang Joko Suwondo menyebutkan, kondisi air di Bendung Rentang pada Kamis malam mencapai 1204,555 m kubik/detik, pada Jumat siang 694,084 m kubik/detik. “Sejak tadi malam air kita buang seluruhnya ke Cimanuk. Posisi air sekarang masih cukup tinggi, masih rata dengan tanggul sehingga banjir masih belum surut,” ungkap Joko. Bupati Majalengka H Sutrisno saat mengunjungi pengungsi menyebutkan, pihaknya sudah berupaya melaporkan tanggul Cimanuk yang jebol dan kritis kepada Pemerintah Pusat dan Provinsi Jawa Barat untuk segera diperbaiki. “Sekarang yang kita lakukan adalah upaya penyelamatan warga terlebih dulu, serta jangan sampai mereka tidak makan,” ungkapnya. (Juremi, H Yonif Fatkhurony)

Tarik Aset yang Dihibahkan ke Yayasan Bale Bandung
SOREANG, Medikom–Pemkab Bandung disarankan untuk menarik kembali aset tanah seluas 37 hektare yang dihibahkan ke Yayasan Bale Bandung pada tahun 1980-an, karena diduga ada unsur KKN. Pada waktu proses hibah aset tersebut, disinyalir sebagian ada yang diperjualbelikan. Ketua Komite Independen Pemantau Kinerja Pemerintah (Kipen) Moh Reza mengatakan, aset Pemkab Bandung yang dihibahkan pada tahaun 1980-an oleh Bupati Bandung kepada Yayasan Bale Bandung tersebut, tanpa disetujui DPRD Kabupaten Bandung. ahkan disinyalir ada yang dijualbelikan kepada masyarakat. “Dari prosudurnya sudah salah dan sekarang masyarakat yang membeli tanah tersebut resah, karena tidak bisa menyertifkatkan tanahnya,” papar Reza yang juga dibenarkan Opan Sopian, salah seorang warga Baleendah. Dengan adanya masalah itu, Reza meminta Pemkab Bandung menarik kembali aset tersebut, agar bisa kembali digunakan untuk kepentingan masyarakat. “Misalnya untuk relokasi korban banjir Cieunteng, daripada seperti sekarang statusnya tidak jelas,” kata Reza Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Bandung Asep Samsudin membenarkan adanya ketidakberesan dalam penyerahan aset, bahkan mencium adanya unsur KKN. Karena, bupati yang menjabat saai itu merupakan pengurus yayasaan yang mendapat hibah. “Adanya ketidakberesan tercium ketika pembahasan LKPJ Kemarin saya lihat dalam proses hibah ini ada unsur KKN. Selain ada unsur KKN, tiap tahun yayasan tersebut mendapatkan bantuan dari pemerintah baik berbentuk dana maupun fasilitas,” tutur Asep seraya mengatakan, pihaknya akan memanggil pengurus yayasan untuk memperjelas status aset yang telah dihibahkan Pemkab tersebut. (S Rohmani)

Kebijakan Kepala Desa Menuai Protes
BANDUNG BARAT, Medikom-Jika dinilai tidak mengacu pada aturan, kebijakan kepala desa dapat juga dipertanyakan masyarakat. Contohnya, masyarakat menanyakan aset Desa Puncaksari yang dijual. Di antaranya kantor desa lama, gedung polindes. Selain itu dipertanyakan juga kontribusi tanah carik yang dipakai bangunan SMAN 1 Sindangkrta, dan penjualan raskin yang dinilai terlalu mahal. Hal itu disampaikan masyarakat Desa Puncaksari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, yang enggan disebutkan jati dirinya, baru-baru ini. “Beras raskin di masyarakat dijual dengan harga mencapai Rp2.300/liter. Kan itu terlalu mahal, padahal seharusnya dijual per kilo, bukan per liter, dengan harga Rp1.600,” katanya. Saat Medikom mengkonfirmasai hal ini, Kepala Desa Puncak Sari, H Asep Dudung mengatakan, untuk masalah tanah carik yang dipakai bangunan sekolah, sampai saat ini pihak desa belum pernah menerima apapun dari pihak sekolah. “Sedangkan polindes itu bukan saya kepala desanya. Untuk gedung desa yang lama, itu hasil musyawarah antara BPD, pemerintah desa, LPMD dan tokoh masyarakat, dan disetujui dengan alasan melihat kondisi bangunan yang sudah rapuh dan takut roboh. Karena gedung tersebut seringkali dipergunakan oleh anak-anak sekolah bermain,” katanya. Yang jelas, ungkapnya, itu hasil musyawarah dan dijualnya juga ke perangkat desa dengan harga Rp2 juta. Namun, belum dibayar sampai saat ini. Sedangkan untuk beras raskin dijelaskan, dari desa dijual sesuai dengan edaran dari Bulog, Rp1.600/kg kepada RT dan RW, selaku pelaksana penjualan beras tersebut. Jadi, desa tidak menjual lebih kepada RT dan RW. Menurut sumber Medikom, harga beras yang dijual mahal itu untuk menutupi beras-beras yang dibawa oleh para perangkat desa, karena banyak perangkat yang membawa beras tersebut. “Padahal, kan itu beras untuk masyarakat miskin, kenapa para perangkat mengambilnya. Ya, kalau mau beli, kenapa nggak bayar!” kata sumber. Saat Medikom meminta tanggapan, Camat Sindangkerta, Muhamad Yudi BA, selaku pembina di tingkat kecamatan, di ruang kerjanya, Rabu (12/5), mengatakan, untuk kantor desa yang dijual, itu jelas tidak diperbolehkan, karena itu merupakan aset negara. Apalagi bangunan tersebut dibangun di tanah carik desa. Sedangkan untuk beras raskin, sampai saat ini di Kecamatan Sindangkerta tidak ada masalah. “Kalau pun ada, masyarakat pasti melaporkan ke kecamatan melalui kasi P3D/pemberdayaan yang menangani masalah beras raskin. Nggak mungkin desa menjual Rp2.300. Kan seharusnya dijual seharga Rp1.100/kg. Jadi, kalau desa menjual Rp2.300/liter, jelas itu salah dan keterlaluan,” katanya. Dia menambahkan, pihak kecamatan selalu memberikan pembinaan kepada para kepala desa, baik internal maupun eksternal, melalui rapat mingguan, dan itu sudah maksimal. Namun, menurut salah satu anggota BPD Kecamatan Sindangkerta, pembinaan yang dilakukan pihak kecamantan saat ini belum maksimal. “Itu dilihat dari terjadinya beberapa hal di desa-desa di wilayah Kecamatan Sindangkerta. Contoh, demo di Desa Pasirpogor, Desa Cikadu, itu membuktikan bahwa camat gagal dalam melakukan pembinaan kepada para kepala desa,” tegasnya, kepada Medikom. (K Fauzi R)

Pemkot Kucurkan Rp7,5 Miliar Warga Tanyakan Bantuan Rekonstruksi untuk Bawaku Pangan
BANDUNG, Medikom–Pemerintah Kota Bandung pada tahun anggaran 2010 kembali mengucurkan dana hibah Program Bantuan Wali Kota Khusus (Bawaku) pangan Rp7,5 miliar. Program tersebut dimaksudkan membantu keluarga miskin (gakin) untuk meringankan pembelian beras miskin (raskin) Rp600/kg, sehingga harga tebus raskin di Kota Bandung Rp1.000/kg. Digulirkan selama 9 bulan mulai April s.d. Desember 2010. Untuk mendukung operasionalnya, dari titik distribusi ke titik bagi (rumah tangga sasaran penerima manfaat/RSTPM) bagi pelaksana distribusi dianggarkan Rp400/kg, diberikan setelah menyelesaikan administrasi raskin pada bulan sebelumnya. “Saya percaya pelaksana program mampu memegang amanah, teliti dan senantiasa mematuhi prosedur yang berlaku. Tidak terjadi pengurangan takaran atau penambahan biaya dari RTSPM, apapun alasannya, karena seluruh beban biaya operasional telah ditanggung APBD,” tandas Wali Kota Bandung H Dada Rosada saat launching Bawaku Pangan, di Pendopo pekan lalu. Acara ditandai penyerahan raskin kepada 5 RTSPM dari Kelurahan Babakan Ciamis dan dana hibah biaya operasional kepada 5 koordinator pengelolaan raskin pengaduan akan ditangani secara proporsional. Saya tidak segan-segan menindak setiap bentuk penyimpangan, khususnya aparat sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuat. Tapi jika itu dilakukan masyarakat, itu bukan ranah kewenangan saya, silakan adukan ke polisi,” tandas Dada. Ia berharap jumlah gakin Kota Bandung, setiap tahun semakin berkurang, agar pemkot bisa mengalokasikan anggarannya pada program prioritas lain. RTSPM mampu memanfaat pangan sebaik-baiknya, menjadikan motivasi meraih hak-hak lainnya secara mandiri. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Dedy Mulya menyebutkan, RTSPM penerima bawaku pangan di 2010 ada sebanyak 63.431 KK dari sebelumnya 82.432 RTSPM (gakin). Sesuai ketentuan, setiap RTSPM mendapat pagu alokasi 13 kg/gakin. Institusinya bekerja sama dengan Perum Bulog Subdivre I Bandung, kata Dedy, telah mendistribusikan beras cadangan pemerintah sebanyak 18,5 ton untuk penanggulangan rawan pangan di 24 kelurahan di Kota Bandung yang terkena bencana banjir. (Dudi) PANGALENGAN, Medikom–Ratusan warga 13 desa di Kecamatatan Pangalengan Kabupaten Bandung menanyakan kelanjutan pencairan dana rekonstruksi gempa kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui Komisi B DPRD pada kegiatan pansus yang dilaksanakan di beberapa kecamatan. Mereka menyatakan, belum mendapatkan kepastian terkait dengan bantuan. Bantuan kepada para korban gempa di Pangalengan baru disalurkan sekitar 10 s.d. 13% yang bersumber dari pemerintah pusat dan provinsi. Sedangkan sisanya, sampai saat ini belum juga diturunkan. Untuk yang ruksak berat besarnya bantuan Rp15 juta per unit rumah dari bantuan pusat. Sedangkan untuk yang ruksak sedang sekitar Rp10 juta berasal dari bantuan provinsi. Dan bantuan untuk yang rusak ringan nilainya Rp1 juta, sudah selesai diberikan karena bantuan tersebut bersumber dari Pemkab Bandung. Masyarakat menginginkan agar bantuan tersebut secepatnya diturunkan. Apalagi kini musim hujan masih berjalan. Seperti disampaikan warga Desa Margamulya Engkun, Ibin, dan Dedi. Mewakili masyarakat sekitarnya, mereka menegaskan sudah benarbenar tidak nyaman harus terus tidur di terpal yang sudah ruksak saat musim hujan berkepanjangan. Apalagi bagi yang mempunyai

H Dada Rosada Kelurahan Babakan Ciamis, Cicaheum, Pasirwangi, Mekarwangi, dan Wates. Dada mengajak seluruh warga kota, turut mengawasi pelaksanaan program, baik di tingkat distribusi maupun proses penebusan. Karena sekecil apapun kekeliruan diperbuat pengelola, menurutnya bisa menghambat upaya penanggulangan kemiskinan yang sedang diperjuangkan. “Saya menjamin setiap

anak kecil, nasibnya bisa dibayangkan. “Mudah-mudahan bapak-bapak pejabat bisa merasakan nasib kami yang kena musibah dan kini belum mendapatkan bantuan tersebut. Kapan bantuan akan diturunkan, kami minta kepastian karena sekarang sudah hampir satu tahun,” tuturnya. Tokoh masyarakat Kertasari Desa Santosa Ajang W beserta Drs Pardi juga mengharapakan bantuan secepatnya diturunkan, karena banyak warga desa yang mengeluh. “Mudah-mudahan dengan adanya media, batuan tersebut secepatnya diturunkan. Sangat kasihan masyarakat kecil,” paparnya kepada Medikom. Bupati Bandung H Obar Sobarna SIp didampingi Kepala Dinas Perumahan saat ditemui Medikom mengatakan, pihak pemkab kini sedangkan mengusahakan kepada pemerintah pusat/BNPB dan provinsi/BNPD. Karena, bantuan tersebut bersumber dari bantuan pusat dan provinsi. Untuk bantun ringan, sudah seratus persen dari bantuan pemerintah kabupaten. “Mudah-mudahan secepatnya, tapi bisa terjadi akan selesai pada tahun 2010 hingga 2011. Mudahmudahan saja dari mulai RT, RW, Kades, dan kecamatan dapat memberikan jawaban dan pengertian kepada masyarakat,” papar Obar. (Suhendar)

Saat Medikom mengkonfirmasai hal ini, Kepala Desa Puncak Sari, H Asep Dudung mengatakan, untuk masalah tanah carik yang dipakai bangunan sekolah, sampai saat ini pihak desa belum pernah menerima apapun dari pihak sekolah. “Sedangkan polindes itu bukan saya kepala desanya. Untuk gedung desa yang lama, itu hasil musyawarah antara BPD, pemerintah desa, LPMD dan tokoh masyarakat, dan disetujui dengan alasan melihat kondisi bangunan yang sudah rapuh dan takut roboh. Karena gedung tersebut seringkali dipergunakan oleh anak-anak sekolah bermain,” katanya.

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

Hukum
Peternakan Ayam Potong Diduga Tak Miliki Izin
BEKASI, Medikom- Di Kampung Warung Ampel RT 08/RW04 Desa Cilangkara Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tiba-tiba berdiri peternakan ayam potong. Warga dibuat resah dan kecewa disebabkan muncul bau tak sedap menyengat hidung. Ternyata dari pemilik peternakan tidak ada pemberitahuan dan izin terlebih dahulu kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Padahal, peternakan tersebut sudah beroperasi sejak enam bulan lalu. Beberapa warga melaporkan hal ini kepada ketua RT dan RW, dan ditindaklanjuti pelaporannya kepada aparat desa. “Yah, kami sebagai warga resah dan kecewa dengan adanya peternakan di lingkungan kami ini, karena tidak ada kompensasinya. Hanya bau tak sedap yang setiap detik kami hirup,” ketus salah satu warga saat ditemui Medikom pekan kemarin. Ketua RT dan RW pun sangat kecewa dengan pemilik peternakan H Minan yang tidak segera bermusyawarah dengan warga. “Seharusnya pemilik peternakan sudah mengantongi izin usaha dan lingkungan baik dari desa, kecamatan bahkan dari pemda, dan ada niat baik untuk bermusyawarah dengan warga,” jelas ketua RT saat ditemui Medikom di rumahnya. Kepala Desa Cilangkara, Bodin saat dikonfirmasi Medikom, membenarkan adanya pengaduan warga Kampung Warung Ampel RT 08/RW 04 kepada dirinya. “Pengaduan warga sudah diterima dan saya bersama aparat desa langsung menegur si pemilik peternakan (H Minan). “Tetapi, yang datang ke kantor desa adalah pengacaranya dengan maksud agar saya langsung memberikan dan mengeluarkan surat izin usaha terhadap peternakan tersebut, tapi saya tolak,” tutur Kades Bodin. Pada Jumat pekan lalu diadakan kembali musyawarah antara pemilik peternakan yang diwakili oleh pengacara, kepala desa dan aparatnya serta warga. Saat berita ini diturunkan, belum ada keputusan hasil musyawarah tersebut. Tapi menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, ada sedikit kendala atau masalah dari pihak pemilik peternakan tentang kompensasi untuk warga dan desa. (Anur/Dis)

4

Rugikan Negara Pejabat PT Pindad Dituntut
BANDUNG, Medikom-Terdakwa Haris (43) selaku Kepala Departemen Pemeliharaan Mesin Listrik (Kadep Harsintrik) pada PT Pindad, akhirnya dituntut jaksa 3 tahun 6 bulan, karena dinilai terbukti terlibat kasus dugaan korupsi pengadaan barang untuk perbaikan mesin listrik (generator) pada Divisi Mesin Industri dan Jasa pada Departemen Pemeliharaan Mesin Listrik PT Pindad senilai Rp 1,2 miliar. Perbuatan terdakwa dinyatakan jaksa telah melanggar Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Selain hukuman penjara, JPU Ahmad Yohana juga menuntut terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp50 juta subsider 3 bulan penjara. “Dan terdakwa juga diwajibkan membayar uang pengganti Rp626 juta subsider 2 tahun penjara,” ujar Ahmad dalam tuntutan pada sidang di ruang 6 Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (20/5). Berdasarkan keterangan di persidangan, kasus tersebut terjadi pada Juni 2007. Saat itu departemen yang dipimpin terdakwa mendapatkan order memperbaiki tiga generator milik PT Wiyannata Kalimantan Timur. Setelah diperiksa, beberapa konduktor dan isolasi di generator tersebut harus diganti. Terdakwa mengusulkan untuk pengadaan dua material kepada Biro Pengadaan Barang PT Pindad dengan alasan

Pelaku Judi di Aula Masjid Dipenjara Enam Bulan
BANDUNG,Medikom- Lima orang terdakwa, Dedi Hermawan, Iket, M Nurdin Saleh, Hermawan, Tatang Hendra Kurniawan, yang tertangkap tangan melakukan tindak pidana perjudian di aula Masjid Istiqomah Bandung akhirnya divonis dengan hukuman enam bulan penjara oleh ketua majelis hakim I Gede Ngurah Artanaya SH. Putusan majelis hakim yang beranggotakan Lamsana Sipayung SH dan M Nurhakim SH itu lebih rendah satu bulan dari tuntutan jaksa penuntut umum Intan SH. Putusan majelis hakim tersebut sependapat dengan tuntutan jaksa, yang menuntut para terdakwa dengan hukuman tujuh bulan penjara. Dalam amar putusan yang dibacakan di ruang sidang 2 Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, dinyatakan bahwa kelima terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana perjudian seabagimana diatur dan ditetapkan dalam Pasal 303 bis ayat (1) KUHP. Vonis enam bulan untuk perkara perjudian, menurut anggota majelis, sudah mnerupakan hukuman berat bagi para terdakwa. “Apalagi masingmasing mempunyai tanggungan beban kepada keluarga,” tuturnya kepada Medikom, usai persidangan. Tetapi, berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, ancaman hukuman yang tertera dalam Pasal 303 bis ayat (1) KUHP menyatakan bahwa diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak 10 juta rupiah, barangsiapa menggunakan kesempatan main judi yang diadakan dengan melanggar ketentuan Pasal 303. Berdasarkan keterangan saksi dari Kepolisian RI, saat melakukan penangkapan terhadap lima tersangka, didapatkan barang bukti Rp250.000. Yang disesalkan lagi, perbuatan para terdakwa dilakukan di dalam aula Masjid Istiqomah yang merupakan tempat ibadah, ditambah lagi salah satu pelaku merupakan keamanan setempat. Dengan rasa penyesalan yang dimohonkan kepada majelis hakim maupun JPU, akhirnya kelima terdakwa divonis enam bulan penjara dan dipotong masa tahanan selama ini. Atas putusan tersebut terlihat dari wajah para terdakwa rasa kegembiraan, begitu juga keluarganya yang saat itu hadir di ruang sidang. Vonis tersebut telah sesuai dengan harapan keluarga. (IWAN)

Pengacara Menilai Perdata Dakwaan
BANDUNG, Medikom-Pengacara terdakwa Rizki H (RH), M Darwin Pane SH dkk, keberatan dengan surat dakwaan, sebab semestinya tak bertentangan dengan perundangan yang berlaku. Dalam nota keberatan atau eksepsinya, Musa Darwin Pane SH, Komar Sarbini SH, Pandji Andrio SH, Selasa (11/5), menilai dakwaan jaksa tak cermat, prematur, salah mendakwa dan yang terpenting, salah subjek hukum (error in persona). Berdasarkan argumentasi itu dalam putusan sela memohon majelis hakim untuk mengabulkan eksepsi atau keberatan terdakwa dengan menolak surat dakwaan dalam register perkara: PDM-1603/BDUNG/ 02/2010 sekaligus memulihkan nama baik terdakwa. Dijelaskan bahwa dalam paparan surat dakwaan itu, yang disoal tentang peristiwa pidana yang dituduhkan dengan waktu yang tak dapat dingat lagi, antara bulan Mei 2007 hingga 15 Januari 2009. Uang diserahkan kepada Ani Nurrohmah pada bagian keuangan dan ditransfer ke rekening Roni Gunawan (anak Wawan Gunawan). Kemudian dikatakan oleh terdakwa I– III dicairkan/diambil lalu diserahkan kepada Ani Nurrohmah untuk disetor ke WG Group (pusat). Di sisi lain dipaparkan jaksa penuntut umum bahwa uang sebesar Rp3,746 miliar tidak dapat dipertanggungjawabkan tersangka Ani Nurrormah (DPO). Dengan demikian dakwaan terhadap terdakwa II RH dengan Pasal 374 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP, subsider dengan Pasal 374 KUHP jo Pasal 56 ayat (1) bisa disimpulkan tidak jelas. Diuraikan tentang tempoes delicti, yakni mengenai kapan terjadinya tindak pidana yang diduga dilakukan terdakwa tidak pasti. Begitu juga hubungan hukum dengan saksi korban (WG mobil), karena dalam dakwaan dinyatakan terdakwa II sebagai kepala cabang pembelian, tanpa menjelaskan apakah hubungannya terkait investasi modal atau hubungan kerja seperti antara atasan dengan bawahan. Perkara ini dinilai prematur alias tergantung pada perkara lain yang semestinya berkas perkara tersangka Ani Nurrohman terlebih dahulu diperiksa dibuktikan sebagaimana yang didakwakan. “Kalau terbukti didakwa penggelapan sebagaimana ketentuan Pasal 374 KUHP, baru bisa dinilai kaitan dengan terdakwa II,” tegas Komar dalam persidangan yang mulia. Mengenai perbuatan terdakwa II yang sesungguhnya membuat rekening sementara dan menyerahkan dana kepada tersangka Ani Nurrohmah (DPO) adalah perbuatan perdata dan administratif, karena terkait pelanggaran prosedur aturan perusahaan. Secara tegas dalam surat dakwaan disebutkan, “Kerugian sebagaimana surat dakwaan adalah tanggung jawab tersangka Ani Nurrohmah. Sehingga dengan demikian surat dakwaan jaksa haruslah tidak dapat diterima karena error in persona,” tegas para pengacara yang berkantor di Jalan Kelenteng Bandung ini. Sementara itu JPU Firdaus SH MH yang semestinya menjawab atau replik atas eksepsi atau nota keberatan, Selasa (18/5), ditunda sepekan menjadi Selasa (25/5). Lazimnya akan bersikukuh surat dakwaan yang diuraikan sudah cermat dan jelas.(Zaz)

bahwa PT Pindad tidak mempunyai barang tersebut. Untuk pengadaan kedua material tersebut, terdakwa meminjam bendera dua perusahaan lain. Untuk pengadaan konduktor senilai 145.747,25 dolar AS atau sekitar Rp1,2 miliar, terdakwa meminjam bendera CV Kwarta Eka Pratama. Sedangkan untuk pengadaan isolasi

senilai hampir Rp220 juta, terdakwa meminjam bendera CV Sonita Pratama. Ternyata semuanya sudah diatur oleh terdakwa, sehingga seolah-olah pembelian tersebut sudah sesuai mekanisme. Padahal CV rekanan yang dipilih sudah diatur, sehingga terdakwa mendapatkan keuntungan sekitar Rp626 juta dari harga tender

senilai Rp1,2 miliar tersebut. Akibat perbuatan terdakwa negara dirugikan hingga Rp626 juta. Atas tuntutan JPU tersebut tim kuasa hukum terdakwa meminta kepada majelis hakim yang diketuai Matras Supomo SH diberikan waktu satu minggu untuk mengajukan pembelaan (pledoi) terhadap tuntutan jaksa. (Iwan)

Putusan Hakim PHI Bandung Dianggap Tidak Fair
BANDUNG, Medikom – Gugatan tujuh pekerja PT Gracia Indo Garmen yang berkedudukan di Jalan Siliwangi No 97 Manggahang Kabupaten Bandung, saat ini berkedudukan di Jalan Karang Tinggal 26 Bandung, yang didaftarkan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Bandung pada 8 Januari 2010 dan No. Perkara VII/G/2010/PHI/PN Bandung, akhirnya diputus pada 17 Mei 2010. Dalam putusannya majelis hakim PHI Bandung yang diketuai H Syahrul Mahmud SH MH, dan hakim anggota/Ad-Hoc Imas Diana Sari SH MH dan Harris Manalu SH, mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian, menyatakan PHK terhadap Penggugat I Adjat Sudrajat, Penggugat II Ruben Sitepu SH, sejak 4 Agustus 2009 dan memerintahkan kepada Tergugat (PT Gracia Indo Garment) pesangon masing-masing sebesar Rp46 juta ditambah uang THR 2008 sebesar Rp10 juta dan kepada Penggugat VII Eli Roesman (ahli waris Herman Sugandi) sebesar Rp2 juta. Sementara Penggugat III, IV, V, VI, yakni Bambang Suprianto, Mugito, Marsidi dan Andrea Alpiana, dianggap telah mengundurkan diri sejak 30 September 2008. Perbuatan PT Gracia Indo Garment dianggap bertentangan dengan hukum dan PT Marsindo, yang saat ini berkedudukan di Jalan Siliwangi No 97 Manggahang Kabupaten Bandung, turut bertanggung jawab. Membebankan biaya perkara kepada tergugat sebesar Rp741 juta. Menanggapi putusan majelis hakim PHI tersebut, kuasa hukum pekerja, Hidayat SH, kepada Medikom, belum lama ini, mengungkapkan, pihaknya sangat kecewa atas putusan majelis hakim yang tidak mempertimbangkan upah yang belum dibayarkan oleh pihak tergugat (PT Gracia Indo Garment) yang justru nilainya lebih besar. Upah selama 14 bulan tidak dibayarkan oleh tergugat untuk penggugat I dan II totalnya lebihkurang Rp280 juta. Selanjutnya mengenai empat kliennya yang diduga telah mengundurkan diri, menurut Hidayat SH, hanyalah rekayasa menurut keluarga tergugat. Tidak dibuat pada 30 September 2008, tetapi diduga dibuat 13 Februari 2010, bersamaan pencabutan surat kuasa terhadap dirinya (Hidayat SH) yang diajukan oleh kuasa hukum tergugat. Di pihak lain, adanya kejanggalan pengunduran diri terhadap empat pekerja pada 30 September 2008, surat pengunduran diri semestinya diajukan satu bulan sebelumnya, kepada Direktur Utama (Beny Rahmat) dan General Manager maupun HRD, yakni Ajat Sudrajat dan Ruben Sitepu SH, yang notabene masih aktif saat itu. Saat mediasi di Disnaker Kabupaten Bandung 4 Agustus 2009, Beny Rahmat selaku Direktur Utama dengan empat kliennya tidak pernah mengatakan telah mengundurkan diri. Bahkan saat itu Beny Rahmat berjanji akan membayar hak-hak pekerja tiga bulan ke depan, walaupun tidak bisa direalisasikan. Selanjutnya di proses persidangan, kuasa tergugat Tomson Panjaitan SH tidak dapat menghadirkan kliennya untuk klarifikasi apakah telah mengundurkan diri atau diupayakan untuk mengundurkan diri dengan rekayasa pihak tergugat. Sementara itu, Medikom mencoba konfirmasi dan klarifikasi tentang permasalahan ini ke pihak perusahaan, Beny Rahmat mengungkapkan bahwa keempat pekerja telah mengundurkan diri dan tidak mengakui pihaknya samasama dimediasi Disnakers Kabupaten Bandung pada 4 Agustus 2009. (Laures)

Gelapkan Miliaran Rupiah, Penahanan Ditangguhkan Karena Damai
BANDUNG, Medikom-Majelis hakim yang diketuai Joko Siswanto SH akhirnya mengabulkan permohonan penangguhan terdakwa Yanto yang selama ini diajukan oleh kuasa hukum terdakwa. Terdakwa pelaku tindak pidana penggelapan atas uang perizinan tersebut akhirnya dapat bernafas lega atas penetapan yang dibacakan oleh ketua majelis sekaligus Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung. Berdasarkan keterangan Herman, dalam pemeriksaan saksi, mengatakan bahwa perizinan milik PT JKS hingga saat ini belum diturunkan oleh pihak pemda. Namun pengakuan terdakwa uang sebesar Rp300 juta telah dikeluarkan untuk perizinan tersebut. Padahal, menurut saksi yang notabene teman sekolah terdakwa, uang yang dikeluarkan oleh terdakwa barulah sebesar Rp10 juta. “Itu pun untuk koordinasi pertemuan,” terang saksi di hadapan majelis hakim yang beranggotakan Sumantono SH dan Agus Suwargi SH. Berdasarkan keterangan JPU M Syafe’i SH, usai persidangan, kepada wartawan, keluarnya penangguhan tersebut berdasarkan adanya perdamaian. Akan tetapi dalam perdamaian itu para pihaknya bukanlah orang yang relevan. “Karena bukan langsung orang yang dirugikan,” terang jaksa. “Apabila sampai terdakwa kabur kami nggak mau dipersalahkan, karena yang mengeluarkan penetapan tersebut majelis hakim,” lanjutnya. Kalaupun sampai terjadi, maka sebagai gantinya uang jaminan sebesar Rp100 juta. Namun sampai saat ini uang penjamin tersebut belum diketahui apakah sudah ada di kas pengadilan atau belum. Humas PN Bandung tidak mengetahui adanya uang jaminan tersebut saat dikonfirmasi Medikom di ruang kerjanya. (IWAN)

Itok Protes Upaya Eksekusi atas “Hak Miliknya”
BANDUNG, MedikomUpaya eksekusi oleh PN Bandung (PNB) atas putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap dalam perkara No 213/ Pdt.G/2007/PN.Bdg ditentang Itok Setiawan (IS). Menurut pengacara IS, Purnama Sutanto SH, Jumat (21/5), upaya eksekusi yang dilakukan Ketua PNB dengan cara melakukan teguran (aanmaning) untuk mengosongkan objek yang menjadi hak milik kliennya itu, tidak beralasan. Sebab alas hak yang dipergunakan pemohon Amin Mustofa (Amin) dkk, sebagai dasar dalam perkara gugatan perdata, meski sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi karena diduga kuat palsu maka semestinya eksekusi secara otomatis ditangguhkan.
Sebagai kuasa pelapor IS, dijelaskan, berkas perkara pidana pemalsuan atau penggunaan surat palsu, sudah memasuki tahap II atau penuntutan jaksa penuntut umum, setelah serah terima berkas, barang bukti dan para tersangka dilakukan dari penyidik kepada jaksa penuntut (JPU), Senin (17/ 5). Selanjutnya, berdasarkan informasi yang diperoleh, sebagai kuasa saksi pelapor yang dirugikan atas perbuatan yang dilakukan para tersangka dan pihak berkepentingan terkait yang lainnya, berkas perkara ini akan segera dilimpahkan ke PNB untuk diperiksa dan diadili. Menurut advokat Purnama, karena alas hak berupa segel yang menjadi dasar dalam gugatan perdata sekaligus alasan para tersangka selaku pemohon eksekusi, diduga kuat palsu, maka eksekusi harus ditangguhkan, hingga putusan pidananya berkekuatan hukum tetap. “Surat Zegel 1936 berdasarkan hasil dari Puslabfor Mabes Polri berdasarkan beberapa bukti pembanding yang dipinjam dari BPN menunjukkan non identik. Dukungan alat bukti menguatkan sangkaan para tersangka telah melanggar ketentuan dalam Pasal 263 jo Pasal 266 KUHPidana,” tegasnya, dalam berkas yang dilaporkan pada awal November 2007. Kliennya sebagai pemilik yang sah, meyakini dugaan itu palsu karena Oyoh Cs (AM Cs) dulunya dijadikan alat atau semacam boneka oleh CL (SG), mantan pemilik bank swasta yang berkepentingan. Lalu empat orang adik Oyoh menyadari dan mengakui bahwa gugatan yang dilakukan salah, sebab informasinya tak benar. “Empat orang adiknya Oyoh mengakui kesalahan, bahwa objek sengketa tanah Pasteur (Jalan Djunjunan) adalah milik Itok Setiawan (IS). Namun, kemudian membuat alasan lagi baru menemukan alat bukti Zegel 1936 sebagai alas hak,” tutur Purnama, sehingga dulu mengakui salah bahwa objek tanah itu benar miliknya, dalam perkembangannya menganulirnya lagi yang diibaratkan dulu mengaku salah sebagai perampok. Sebagai termohon eksekusi dan pelapor dalam kasus pidana, IS adalah pembeli yang ketiga dan yang keenam, atas objek tanah bersertifikat yang asalnya dari Soemanta Adimah sebagai ahli waris. Setelah memenangkan perkara yang sudah berkekuatan hukum tetap, Titi Sutia Adimah (TSA) mengajukan permohonan penerbitan sertifikat. Untuk pertama kalinya terbit Sertifikat Hak Milik (SHM) No 165/Sukabungah tercatat atas nama TSA seluas 3.680 m 2 . “Kemudian terjadi peralihan hak dari tangan I hingga terakhir atas nama Sugih Haryadi dengan SHM No 175/Sukabungah, kemudian beralih lagi kepada Itok Setiawan,” papar advokat yang akrab disapa Ivan ini dengan rinci. Juga dijelaskan, dalam mempertahankan hak kepemilikannya itu sudah beberapa kali berhadapan dengan sejumlah pihak, termasuk dalam perkara antara Euis Rohanah (ES) vs BPN Kota Bandung, yaitu Perkara No: 19/G/PTUN.BDG, terkait objek tanah dan bangunan yang dipergunakan IS, tetapi tidak diberitahukan dengan patut sebagai pemilik. “Sungguh luar biasa teganya, ketika proses persidangan di PTUN Bandung, IS tidak diberitahukan. Tetapi, ketika sertifikat dibatalkan, barulah diberitahukan. Kemudian ditelusuri, ER yang bersuamikan Ganda yang ternyata dijadikan “boneka” oleh CL (SG),” ungkapnya, kemudian terjadi surat perjanjian dan perdamaian di hadapan notaris tanggal 23 Desember 1994, Ganda ikut tanda tangan, sekaligus dalam pencabutan perkara. Lebih jauh, Dion Solihin Cs (penggugat asal), Ny Oyoh Cs (lima orang penggugat intervensi) mengajukan lagi objek sengketa itu dengan melibatkan IS sebagai pihak tergugat. Dalam proses perkara IS menemukan kejanggalan penggunaan alat bukti oleh Dion Solihin terkait pidana yang dilaporkan ke Polwiltabes Bandung hingga disidang dan berkekuatan hukum tetap di MA dengan menyatakan Dion Solihin diputus bersalah. Hanya anehnya dalam putusan perkara perdata itu majelis hakim malah memenangkan Ny Oyoh Cs sebagai penggugat intervensi yang patut diduga ada kaitan dengan pertalian gugatan ES termasuk dugaan sindikat. Euis kembali berulah, hendak mengupayakan agar hidup lagi putusan PTUN Bandung yang telah dicabut dengan alasan dahulu melakukan itu disebabkan telah terjadi penculikan dan upaya paksa sekaligus mempergunakan segel tahun 1936. Berdasarkan hasil Labfor Mabes Polri (Labkrim), urai Ivan, surat segel yang non identik itu diduga palsu, berkas perkara pidananya segera dilimpahkan. Sementara itu, meski tak sependapat dengan tuduhan itu, dikarenakan kekuasaan yang dimiliki penegak hukum, jelas advokat Singap A Pandajaitan SH MH, akhirnya para kliennya bersedia mengikuti perintah untuk diserahkan bersama berkas perkara, barang bukti kepada jaksa penuntut (JPU). Kembali ditegaskan Singap, selaku pengacara para tersangka, pada dasarnya berkas itu belum memenuhi bukti permulaan yang cukup untuk sangkaan pemalsuan atau menggunakan surat palsu. Sangkaan pemalsuan, atau sangkaan menggunakan surat atau akta otentik yang palsu, tidak cukup hanya dengan kesimpulan tanda tangannya tidak identik. Sebab hal itu hanyalah salah satu petunjuk. Sebab kalau hanya berdasarkan tanda tangan tidak identik, untuk peristiwa hukum yang terjadi pada tahun 1936, itu belum bisa disimpulkan memenuhi kualifikasi atau unsur tuduhan pemalsuan atau penggunaan surat palsu. Advokat Singap menegaskan, selaku kuasa hukum pemohon eksekusi AM, berharap pengosongan atas objek tanah dan bangunan bisa segera dilakukan, sekaligus termohon IS mematuhi proses aanmaning yang sedang dilakukan. Mengenai sengketa kepemilikan dikatakan, sudah jelas bahwa seluruh keberatan dari termohon sudah pernah diuji dalam gugatan perdata di PN Bandung, hingga sudah berkekuatan hukum tetap, bahwa AM Cs menjadi pemilik sah yang tak terbantahkan atas objek sengketa yang dikuasai termohon. Menurut Singap, keberatan pelapor secara hukum sudah diuji secara berjenjang, mulai dari PTUN yang sudah berkekuatan hukum tetap, secara gugatan/perdata mulai dari PN, PT hingga MA, seluruhnya menyatakan bahwa kliennya yang berhak menjadi objek atas tanah sengketa yang dikuasai pelapor. Sedangkan Ketua PN Bandung H Kresna Menon SH MH, yang dimintai tanggapan atas permohonan eksekusi yang sudah memasuki tahapan teguran atau aanmaning, yang dijadwalkan Rabu (26/5), hingga berita ini diturunkan, belum memberikan keterangan pers, sebagaimana sudah dikemukakan Medikom sebelumnya. (Zaz)

Warga Mustika Grande Burangkeng Tetap Menolak TPU di Cibarusah
BEKASI, Medikom-Lahan TPU (tempat pemakaman umum) seluas kurang lebih 15 ha di wilayah Desa Sirnajati Kecamatan Cibarusah disediakan oleh Pemkab Bekasi dengan peruntu-kan warga perumahan di Kabupaten Bekasi, meskipun sampai seka-rang lokasi lahan TPU belum digarap. Tapi, lagilagi warga perumahan mengungkapkan penolakan. Seperti diungkapkan kepada Medikom, bahwa meskipun sampai seka-rang belum digarap oleh Pemkab Bekasi, warga Perumahan Mustika Grande Cinyosog Burangkeng Kecamatan Setu tetap menolak. “Alasan penolakan warga karena lokasi TPU itu jaraknya sangat jauh dari perumahan kami,” ujar warga.
Menurut Ketua RW 13 Perumahan Mustika Grande, sekarang jumlah warga sudah ada 500 jiwa, yang terdiri dari 5 RT, pada tahap pertama, walaupun baru satu tahun. Namun, nanti jumlahnya pada tahap berikutnya akan terus bertambah sesuai dengan jumlah warga yang mengisi perumahan ini. Dikatakan, sangat tidak mungkin bila warga perumahan Mustika Grande, bila nantinya ada yang meninggal, untuk dimakamkan di lahan TPU Sirnajati Cibarusah. Alasannya karena jarak tempuhnya sangat jauh, sehingga bisa bayangkan berapa biaya yang akan dikeluarkan atau ditanggung oleh keluarga korban bila dimakamkan di tempat itu. “Untuk menyelesaikan masalah lahan TPU bagi warga perumahan Mustika Grande, kami sedang bermusyawarah guna mencari jalan keluarnya agar lahan TPU nantinya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Itu permintaan warga kami. Minimal lahan TPU itu sesuai hasil musyawarah yang terus dalam pembahasan. Kalau warga, lebih setuju di sekitar wilayah Desa Burangkeng,” tutur Ketua RW 13. Terkait permasalahan lahan TPU yang ada di wilayah Desa Sirnajati Kecamatan Cibarusah, ditolak warga Perumahan Mustika Grande Setu, staf Bagian Pemakaman DKPPK (Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemadamam Kebakaran) Pemkab Bekasi, dikonfirmasi Medikom, mengatakan, lahan TPU yang ada diwilayah Desa Sirnajati Cibarusah belum digarap karena belum ada anggarannya. “Lahannya masih asli dan utuh, nantinya pasti akan digarap dan diratakan layaknya seperti lahan TPU-lah. Memang sudah jelas bahwa lahan TPU itu diperuntukkan bagi warga perumahan yang akan memakamkan bila nanti ada keluarganya yang meninggal, khususnya bagi warga perumahan yang ada di wilayah bagian selatan Kabupaten Bekasi,” ungkapnya. (Ign/Stef)

Halaman Khusus

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

PURWASUKA
Purwakarta - Subang - Karawang

5
Purwasuka diolah oleh wartawan daerah yang dikepalai Endang Kosasih, penanggung jawab Ridwan Abdulah dengan wartawan Lodewyk Butar-Butar, Slamet SP, dan Asep Oloy.

Subang Menjadi “Pilot Project” Pendidikan Karakter
SUBANG, Medikom–Bupati Subang Eep Hidayat dalam Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-102 tingkat Kabupaten Subang yang dibacakan oleh Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi yang menjadi Inspektur Upacara menegaskan, Kabupaten Subang harus mampu menjadi pilot project pendidikan karakter anak bangsa di tingkat nasional dan menjadi kabupaten terdepan yang mampu merumuskan sistem dan pola pendidikan karakter terutama bagi putra-putri pelajar Kabupaten Subang. Dalam rangka mengaplikasikan Harkitnas tahun ini yang mengusung tema “Kita Tingkatkan Ketahanan Perekonomian Nasional dan Cintai Produk Dalam Negeri”, hal yang terpenting dalam pendidikan karakter, ialah mencintai produk dalam negeri khususnya produk Urang Subang. Seperti produk pakaian dan sepatu yang sekarang sudah ada produk Urang Subang. Lebih lanjut disampaikan, dengan banyak digunakannya produk Subang oleh warga Subang akan membangkitkan geliat perekonomian rakyat. Tindakan ini adalah bentuk nyata dari gerakan gotong royong yang menjadi semangat Urang Subang. “Jangan terjebak pada kualitas, tetapi bagaimana kita bisa mengembangkan kebiasaan gotong royong menjadi tindakan nyata dalam bentuk pembangunan, termasuk membangun ekonomi Urang Subang dengan mencintai produksi Urang Subang,” ujar inspektur upacara. Semangat ini bukan berarti antiproduk luar negeri, atau ingin menumbuhkan semangat fanatisme kedaerahan yang berlebihan, tetapi sebagai wujud pergerakan perjuanghan Kebangkitan Perekonomian Kabupaten Subang yang harus dimulai dari diri sendiri. Dalam amanatnya, dijelaskan pula mengenai pengiriman pelajar ke Negara Jerman adalah sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Subang untuk memperkuat perjuangan membangun Kabupaten Subang agar kelak mampu bicara dalam dimensi yang lebih luas. Selain itu, disampaikan pula kekhawatiran tentang terpinggirkannya pemahaman nilai ideologi nasional dan kebiasaan tatakrama Urang Subang yang nyunda, nyeni, nyantri dan nyakola oleh terjangan arus informasi yang mulai merebak. (Loy)

Menko Kesra Resmikan Kompleks Terpadu An-Nur Jatisari
KARAWANG, Medikom–Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, pekan lalu meresmikan Kompleks Terpadu AnNur di Desa Jatiragas, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang. Peresmian tersebut ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti oleh Menko Kesra yang didampingi Duta Besar Qatar, Gubernur Ahmad Heryawan, Bupati Dadang S Muchtar, serta Direktur Umum dan Donatur Qatar Charity Indonesia. Menko Kesra Agung Laksono dalam kesempatan tersebut mengatakan, Kompleks Terpadu AnNur adalah program pembangunan masyarakat terintegrasi yang disediakan bagi masyarakat setempat. “Keberadaan proyek ini memiliki arti yang sangat penting sekaligus menjadi contoh bagi program pengembangan masyarakat oleh lembaga swadaya masyarakat lokal maupun internasional. Selanjutnya, kompleks ini diharapkan dapat menjadi contoh pembangunan sarana dan prasarana bagi pembangunan manusia Indonesia yang didasari pendidikan karakter sekaligus pembelajaran entrepreneurship bagi masyarakat sekitarnya dan dilandasi oleh nilai-nilai Islam,” tuturnya. Catatan Medikom, kompleks ini mencakup perumahan, klinik kesehatan, bangunan, sekolah, masjid, taman bermain, tempat parkir dan fasilitas olahraga seperti bulu tangkis, bola voli dan basket. Kompleks Terpadu An-Nur yang berdiri di atas lahan seluas 3,4 hektare ini, memiliki 100 unit rumah berukuran 48 meter persegi dengan luas tanah 75 meter persegi. Kompleks tersebut merupakan bantuan dari lembaga sosial internasional Qatar Charity Indonesia, di mana fasilitas-fasilitas yang ada di kompleks tersebut dapat dipergunakan oleh masyarakat luas. Qatar Charity Indonesia melaksanakan secara penuh proses pembangunan kompleks tersebut, sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan AlHasanat sebagai muwakif (pemberi wakaf) tanah dari kompleks tersebut. Menko Kesra melanjutkan, pembangunan kompleks ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia yang saat ini sedang giat melakukan upaya penuntasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja melalui pengembangan entrepereuneurship. “Salah satunya adalah bahwa pada tahun ini, Pemerintah telah menganggarkan dana untuk program pemberdayaan masyarakat hingga mencapai Rp14 triliun melalui program PNPM Mandiri,” jelasnya. Menko Kesra menambahkan bahwa program ini merupakan pembelajaran moral dan etika masyarakat, di mana masyarakat dibimbing untuk membangun kemitraan dalam mewujudkan keinginan bersama. “Masyarakat dibina untuk mengembangkan kembali nilai tradisi baik, gotong royong, serta meningkatkan keberdayaan dan memandirikan masyarakat,” tambahnya. Di sisi lain, Menko Kesra juga menyatakan Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Qatar Charity Indonesia atas kerja sama yang baik dengan masyarakat Indonesia. “Juga kepada Bupati Dadang S Muchtar yang telah memberikan kemudahan izin bagi pembangunan kompleks tersebut,” imbuhnya. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk hubungan baik antara sesama muslim di mana pemberiannya didasari fakta bahwa Republik Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. “Kami berharap kerja sama tidak berhenti di sini, melainkan dapat terus berlanjut, dan kami siap menyediakan lahan wakaf yang dibutuhkan,” imbuhnya. Gubernur menambahkan, saat ini jumlah penduduk di Provinsi Jawa Barat mencapai 42 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, diperkirakan masih terdapat sebanyak 800.000 warga Jawa Barat yang masih memerlukan rumah. “Untuk itu, mudah-mudahan di masa yang akan datang dapat terjalin kerja sama kembali sehingga seluruh masyarakat Jawa Barat dapat memiliki rumah,” tambahnya. Donatur Qatar Charity Indonesia, Kaab Al-Quawry mengatakan, pembangunan kompleks ditujukan bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas untuk memiliki rumah, dengan harapan mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan layak. “Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten termasuk Yayasan Al-Hasanat serta pihak terkait lainnya yang telah menyukseskan program ini,” ujarnya. Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar menambahkan, pihak Pemerintah Kabupaten Karawang mengucapkan selamat atas diresmikannya kompleks tersebut. “Semoga kesuksesan senantiasa menyertai keberadaan Qatar Charity Indonesia sekaligus dapat memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya lapangan kerja lokal serta mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah,” ujarnya. (Andy Nugroho)

Penandatanganan prasasti oleh Menko Kesra yang didampingi Duta Besar Qatar, Gubernur Ahmad Heryawan, Bupati Dadang S Muchtar, serta Direktur Umum dan Donatur Qatar Charity Indonesia.

SMAN 1 Purwadadi Gelar Kreativitas Siswa
SUBANG, Medikom–Ratusan pelajar SMAN 1 Purwadadi, membaur menjadi satu dalam kegiatan hari kreativitas siswa baru-baru ini di halaman sekolah mereka. Kegiatan tersebut menampilkan berbagai kesenian dan kreativitas siswa yang tumbuh dari ide pelajar secara alami. Kegiatan itu diikuti oleh pelajar kelas X, kelas XI sebanyak 18 kelas dipelopri oleh OSIS SMAN 1 Purwadadi dan atas bimbingan wali kelas, para pembina dan sejumlah guru yang menguasai serta mampu menciptakan siswa yang akan tampil dalam kreativitas tersebut. Menurut Kepala SMAN 1 Purwadadi Drs Sopyan Arlan, saat dikonfirmasi di kantornya baru-baru ini, kegiatan kreativitas siswa menampilkan berbagai keahlian siswa di bidang seni musik, seni tari, bidang keterampilan dan menampilkan pasangan mojang dan bujang ala sekolah dan Bazar Kuliner yang digelar oleh masing-masing kelas. “Dari pelajar sebanyak 18 kelas yang mengikuti kegiatan kreativitas siswa tersebut merupakan kegiatan yang menonjolkan kretivitas siswa masing-masing kelas, hal itu dilakukan guna menumbuhkembangkan minat siswa dalam berkreasi,” ucap Sopyan. Kegiatan tersebut, tambah Sopyan, biasanya dilaksanakan pada pertengahan semester akhir, akan tetapi pada pertengahan semester akhir tahun ini berbarengan dengan kegiatan UN dan UAS, maka kegiatan tersebut dialihkan diakhir semester. Kemungkinan, katanya, pada tahun depan pihaknya akan mempersiapkan kegiatan yang sama pada saat diakhir semester yang mana di tengah semester terisi oleh kegiatan UN dan UAS. “Kami tidak akan mengubah jadwal kegiatan kreativitas siswa, karena UN belum tentu di tengah semester, karena setiap tahunnya kegiatan UN dan UAS waktunya selalu berubahubah. Adapun kegiatan kreativitas siswa di sekolah ini akan tetap dilakukan sesuai jadwal, kecuali ada perubahan waktu karena hal yang sama,” pungkasnya. (Lbb)

Perolehan Dana PMI Kabupaten Subang Lampaui Batas
SUBANG, Medikom–Laporan Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) yang dibacakan oleh Ketua PMI Cabang Subang Ojang Sohandi S STP MSi, menegaskan, perolehan kotor mencapai Rp232.851.834 (166,32%) dan perolehan bersih Rp192.101.834 (137,22%). Hal ini melampaui dari target yang ditetapkan sebesar Rp140 juta. Dikatakan Ojang, dana ini akan disalurkan untuk pelayanan donor darah dalam pembentukan Desa Donor Darah yang merupakan bagian dari Program DMGR. Saat ini desa percontohan dilaksanakan di Desa Cinangsi Kecamatan Cibogo. Pada masa datang akan dikembangkan ke desa-desa lain. Menurutnya, pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) dalam bentuk kegiatan Jumpa Gembira sebagai wahana pembinaan pada para remaja dalam kegiatan Palang Merah. Pembinaan korps PMR dalam melakukan sosialisasi tentang pentingnya donor darah, dan meningkatkan peranan PMI dalam membantu wilayahwilayah bencana. Penggunaan dana yang ada di PMI, Ojang mempersilakan untuk diawasi supaya berhasil secara optimal. “Kami siap diawasi dalam penggunaan anggaran. Supaya penggunaannya bisa optimal dengan tersalurkan dengan baik,” kata Ojang. Mengenai perolehan dana PMI yang melampaui target, menurut bendahara Panitia Bulan Dana PMI Hj Nina Herlina SSos MSi, baru kali ini perolehan sangat besar dari biasanya untuk mencapai 130 jutaan sangat sulit. “Pernah juga melampaui target, tetapi baru sekarang bisa mencapai angka demikian besar. Ini menandakan kesadaran pentingnya peran PMI di masyarakat sudah mulai meningkat. Sejalan dengan peranan PMI yang selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu,” kata Nina. Pada kesempatan tersebut Bupati Subang Eep Hidayat, selaku Ketua Panitia Bulan Dana PMI menyampaikan untuk terus mempergiat aksi donor darah. Karena kebutuhan darah masih diperlukan terutama untuk golongan darah AB. Secara langsung Bupati meminta, terutama kepada para pejabat dan karyawan Pemkab Subang untuk menjadi pelopor donor darah. Bupati pada kesempatan itu menceritakan tentang pengalaman keluarganya saat membutuhkan darah golongan AB, setelah berusaha, akhirnya mendapatkan golongan darah AB di Bandung. Maka dari itu khususnya kepada yang bergolongan darah AB untuk segera melakukan donor. “Bukan berarti golongan darah lain tidak usah mendonorkan,” kata Bupati. Dengan donor darah yang teratur sesuai ketentuan, tambah Bupati, tidak akan membuat sakit malah akan sehat. Mengenai ketersediaan dan kebutuhan darah, hingga kini menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Seperti disampaikan oleh Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Subang Dr Dwinan Marchiawati MARS, hingga kini dari kebutuhan 900 labu per bulan, sudah terpenuhi sampai 700 labu per bulan dari biasanya kurang dari 600 labu. “Ini artinya kebutuhan sudah mulai meningkat, yang tadinya sekitar 60% menjadi lebih dari 70%,” ujar Dr Dwinan. Hal ini sejalan dengan kesadaran akan pentingnya donor darah. Pada kesempatan ini diserahkan penghargaan kepada kecamatan yang telah berpartisipasi dalam Bulan Bakti PMI. Penerima penghargaan tersebut di antaranya Lencana Jasa Utama PMI diserahkan kepada Drs Soetedjo MSi, yang pada kesempatan itu diwakili oleh putranya. Penghargaan sebagai pencipta lagu hymne PMI Subang kepada Bapak A Jurith Adjie. Pemberian cindera mata kepada jalur pengumpul kecamatan secara simbolis diserahkan kepada Kecamatan Ciasem dan Kecamatan Subang. Untuk jalur pengumpul SKPD secara simbolis diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Subang dan untuk jalur perusahaan diserahkan kepada PT Sari Ater. (Loy)

Mobil Boks Beserta Miras Diamankan
SUBANG, Medikom–Mobil Colt Box No Pol D 8942 bermuatan sekitar 29 dus berbagai merk minuman keras (miras), barubaru ini berhasil diamankan Polisi Sektor (Polsek) Purwadadi Subang. Kapolres Subang AKBP Dadang Hartanto melalui Kapolsek Purwadadi AKP Deni Hamari saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, keberhasilan itu bermula dari anggota yang melihat ada sebuah mobil boks No Pol D 8942 DD melintas di Warung Asem, Purwadadi. Karena curiga, kemudian mobil itu distop dan dihentikan. Saat diperiksa, ternyata mobil tersebut mengangkut 29 dus miras berbagai merk. Saat itu juga mobil boks bermuatan miras itu digiring ke Mapolsek, untuk diusut. Dari hasil pemeriksaan polisi, ternyata mobil boks itu membawa miras dari berbagai merek seperti Vodka, anggur putih, anggur merah dan lainnya. Menurut Anto, pengemudi mobil boks tersebut mengatakan, barang haram itu berasal dari Cikampek dan hendak dikirim ke daerah Kalijati. Ia mengaku dalam seminggu mengirimkan barang sebanyak dua kali. Namun kali ini ditangkap dan miras disita. Guna pengusutan lebih lanjut, kini kasusnya ditangani Polsek Purwadadi. (Ssp)

Rumah Sakit Lamaran Medical Center Diresmikan
KARAWANG, Medikom–Saat ini, jumlah penduduk Kabupaten Karawang sudah mencapai 2,5 juta jiwa. Pesatnya pertumbuhan penduduk ini berujung pada tuntutan optimalisasi kebutuhan pelayanan kesehatan yang harus terpenuhi. Sementara itu, keberadaan rumah sakit di Kabupaten Karawang hanya berjumlah 11 dengan total tempat tidur 946. Artinya, setiap satu kamar rumah sakit harus melayani sekitar 2.593 orang pasien. Jelas belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara maksimal. Demikian dikatakan Direktur Rumah Sakit Lamaran Medical Center Dr Yudi Ardiansyah kepada Medikom, senin pekan lalu, usai acara peresmian yang dilakukan oleh Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar. Dalam sambutannya, Bupati Karawang mengatakan, dengan diresmikannya rumah sakit ini merupakan upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat Karawang khususnya warga Lamaran Kelurahan Palumbonsari Kecamatan Karawang Timur. Sepaham dengan Bupati, Yudi mengatakan, pasien menjadi sebuah prioritas bagi pelayanan rumah sakitnya dengan Moto “Melayani bukan untuk dilayani”. Yudi juga menambahkan, pelayanan yang diberikannya adalah 24 jam non stop dan terbuka bagi semua lapisan masyarakat. “Kami berharap ada kerja sama yang baik dengan berbagai komponen dan unsur masyarakat. Kami telah menyediakan berbagai fasilitas yang sesuai standar HMS (Hospital Management System) ditunjang tenaga dokter spesialis, perawat yang profesional, ditambah puluhan karyawan dan karyawati yang telah mendapat pelatihan serta pengalaman khusus di bidangnya,” papar Yudi. Selanjutnya, berdasarkan data yang dilaporkan Yudi, pembangunan gedung tersebut memakan waktu kurang lebih 7 bulan dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp40 miliar. “Dana ini bersumber dari pemilik rumah sakit, H Iyet Dimyati, serta pihak ketiga berikut investor lainnya,” ucap Yudi. Perwakilan dari tokoh masyarakat, H R Cecep Rudi SH merasakan rasa syukur yang mendalam atas berdirinya rumah sakit megah tersebut. “Ini akan menjadi kebanggaan bagi warga Lamaran khususnya dan masyarakat Karawang pada umumnya,” kata Cecep. Selanjutnya Cecep berpesan dan memohon agar pihak rumah sakit dapat menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar dan mempertahankannya. Komisaris RSU Medical Center H Udin, saat memberikan sambutannya mengucapkan terima kasih dan berharap dengan adanya RSU tersebut dapat memenuhi semua kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. “Kami mohon dukungan dan partisipasi dari seluruh masyarakat,” ucapnya. (Andy Nugroho)

Akibat Longsor Disertai Banjir Sejumlah Rumah dan Hotel Rusak
SUBANG, Medikom–Banjir bandang yang disertai longsor, merusak sejumlah rumah dan hotel pariwisata di Kampung Cikondang Kecamatan Ciater Kabupaten Subang, Kamis (20/ 5) sekitar pukul 18.00. Akibat peritiwa tersebut, sebanyak 15 rumah dan tempat ibadah mengalami kerusakan dihantam air bah tersebut, 6 unit rumah di antaranya rusak berat bahkan nyaris rata dengan tanah, 2 unit mobil dan 15 unit sepeda motor yang diparkir di sekitar lokasi juga hanyut terbawa air bah. Menurut salah seorang warga setempat, peristiwa ini terjadi saat itu kawasan Ciater dan sekitarnya terutama di wilayah Graha Ciater (Gracia) diguyur hujan cukup lebat disertai angin kencang. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh air, secara spontan warga langsung menyingkir ke wilayah yang aman. Berdasarkan pantauan Medikom di lapangan, korban yang mengalami rusak berat akibat bencana tersebut di antaranya Hotel Lembah Sari Alam yang mengalami kerusakan di berbagai bagian sarana hotel. Hingga keesokan harinya, Jumat (21/5) masih banyak warga yang mengevakuasi harta bendanya ke tempat yanng lebih aman dengan dibantu oleh personel kepolisian dari Polres Subang, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan personel dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Subang. Warga berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dipergunakan. Mereka mengangkat benda-benda tersebut dari reruntuhan bangunan dengan melewati genangan air bercampur lumpur. Untuk menyingkirkan bendabenda berat yang hanyut terbawa air bah, warga menggunakan alat berat (bekhoe). Sedangkan untuk bagian yang sulit dijangkau bekhoe dilakukan secara manual dan bergotong royong bersama aparat. Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi yang juga Ketua Satlak Penanggulangan Bencana Alam didampingi ajudannya langsung meninjau ke lokasi bencana. Ojang kemudian disambut oleh Camat Ciater, Ojat dengan didampingi oleh Kasie Dalops Satpol PP, Indri Tandia mendapatkan penjelasan tentang kerusakan. Hingga berita ini ditulis, jumlah kerugian masih didata oleh pihak terkait. Dijelaskan Ojang, dengan adanya bencana alam di Ciater, selatan Kabupaten Subang ini pihaknya selaku Satlak PBA telah mengerahkan semua kekuatan mulai dari lapisan masyarakat, TNI, Polri, PMI dan dinas intansi. Menurut Ojang, penyebab pastinya bencana ini akibat dari kerusakan lingkungan. “Untuk itu ke depannya mari kita jaga dan pelihara alam kita serta kita diharapkan tetap waspada terhadap bencana dan lingkungan yang rawan terjadi bencana,” pintanya. Selain itu, Ojang mengajak semua pihak untuk membantu korban musibah diperbatasan Desa Ciater dan Nagrak Kecamatan Ciater. Sementara, Dinas Sosial Kabupaten Subang telah menyalurkan bantuan berupa 3 kuwintal beras, pakaian wanita dan mi instan, untuk membantu korban bencana alam yang terjadi di Ciater. Selain itu, pihak Dinas Sosial Kabupaten Subang memberikan bantuan yang sama untuk para korban bencana alam di Desa Sukamandi dan Cicadas Sagalaherang. Menurut Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Uryanto, korban bencana alam di Kampung Cikondang Desa Nagrak Kecamatan Ciater berjumlah 17 kepala keluarga (KK), sedangkan korban akibat bencana alam di Desa Sukamandi dan Cicadas Kecamatan Sagalaherang sebanyak 12 kepala keluarga. Sementara itu Palang Merah Indonesia selain menurunkan personelnya juga memberikan bantuan di antaranya berupa selimut dan makanan serta menyiapkan obat-obatan untuk para korban yang sementara ini mengungsi ke rumah-rumah tetangga dan saudara terdekat. (Loy)

Kementrian UKM Akan Berikan Bantuan pada Koperasi Produktif
SUBANG, Medikom–Kementerian Koperasi Republik Indonesia akan mengucurkan dana dalam Program Pemberdayaan Koperasi di daerah-daerah. Dana akan diberikan kepada Koperasi Kelompok Perempuan dan Kelompok Pemuda yang mampu menjalankan koperasi usaha produktif. Adapun nilainya sebesar Rp50 juta per koperasi dengan anggota minimal 25 orang. Bantuan tersebut dikucurkan melalui koperasi simpan pinjam yang besarannya Rp2 juta per anggota. Hal tersebut disampaikan oleh Ir Agus Muharam MSP, Deputi Pembiayaan Kementerian Negara Koperasi dan UKM saat melakukan kunjungan kerja ke Pemkab Subang untuk meninjau kelompok kopersi wanita, kelompok perempuan dan kelompok pemuda di Desa Jambelaer Kecamatan Dawuan Subang. Pada kesempatan itu, Agus sangat kagum atas perkembangan koperasi di Subang. Di antaranya Koperasi Wanita Mekar Saluyu Jambelaer yang dikunjunginya. Dua tahun lalu koperasi ini mendapat kucuran dana bergulir sebesar Rp100 juta dari subsidi BBM. Sekarang nilainya telah berkembang menjadi Rp600 juta. “Ini sangat potensial untuk perkembangan pada pembinaan usaha kecil dan menengah,” tandasnya. Hal yang sama disampaikan oleh Asisten Deputi Urusan Permodalan Kementerian Koperasi dan UKM Ir Niniek Agustini MBA, yang menyampaikan kekagumannya pada usaha kecil menengah di Subang. Diharapkan para pengusaha kecil yang tergabung dalam koperasi makin meningkatkan kualitas produksi. Pemerintah saat ini tengah menggulirkan program pemberdayaan koperasi di daerah. Untuk makin memperluas promosi produksi, disampaikan pula untuk memanfaatkan keberadaan SMESCO UKM yang bertujuan mempromosikan produk unggulan dari tiap daerah ke dunia internasional. Untuk itu kepada para pengusaha agar bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan optimal. “Sebaiknya para pelaku usaha kecil dan menengah memanfaatkan keberadaan SMESCO UKM atau Small and Medium Enterprisees and Cooperatives,” ujar Niniek. Kedatangan rombongan Kementrian Koperasi dan UKM di terima oleh Bupati Subang Eep Hidayat bersama Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi yang didampingi oleh Kepala Dinas Koperasi & UKM Kabupaten Subang Drs H Ugit Sugiana MSi, Kabid. Pembinaan UKM Yeni Nuraeni SSos, dan pejabat lainnya. Pada kunjungan kerja kali ini rombongan Kementerian Koperasi & UKM mengunjungi beberapa sentra produksi unggulan di Kabupaten Subang, yaitu Tempat Produksi Sepatu asli produk Subang merk “CHATS” akronim dari “Charudin Anak Tenjolaut Subang” di Jln DI Pandjaitan, Koperasi Wanita “Mekar Saluyu” di Desa Jambelaer Kecamatan Dawuan, Koperasi Wanita Leles Sagalaherang dan Koperasi Wanita Cikujang (Hms)

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

6

OPINI

Upah Pungut Melanggar Kepatutan
Isu upah pungut seminggu belakangan ini menghangat, khususnya di Kabupaten Subang dan umumnya di Jawa Barat. Hal itu tidak terlepas, Bupati Subang Eep Hidayat beberapa waktu lalu, dan Bambang Heryanto mantan Sekda Kabupaten Subang yang kini menjabat Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Jabar, baru-baru ini ditetapkan oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Barat sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi upah pungut. Mencuatnya persoalan upah pungut, sekitar setahun lalu Kejaksaan Negeri Subang menyeret mantan Kepala Dispenda Agus Muharam menjadi pesakitan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi upah pungut. Di mana dalam perjalanannya, majelis hakim Pengadilan Negeri Subang memvonis yang bersangkutan satu tahun penjara. Dan selanjutnya, putusan pengadilan negeri ini dikuatkan vonis majelis hakim kasasi di Mahkamah Agung (MA) dengan satu tahun penjara dan wajib membayar denda Rp50 juta serta membayar ganti rugi duit yang dikorupsi Rp1,1 miliar. Penguatan vonis Agus Muharam oleh majelis hakim kasasi MA inilah yang menjadi isu panas upah pungut mencuat kembali. Sebab bagaimanapun, sejak isu ini digulirkan nama bupati Subang Eep Hidayat dikait-kaitkan. Apalagi akhirnya secara resmi pihak Kejaksaan menetapkan Bupati Eep juga sebagai tersangka. Sejak awal, persoalan upah pungut menjadi kontroversi di lingkungan penyelenggaraan pemerintah. Sebab, aparat pemerintah menganggap upah pungut tersebut sah dan lazim. Karena memiliki landasan hukum sejalan dengan tugas dan fungsi para pihak. Namun, aparat penegak hukum berpikir lain. Dan menempatkan upah pungut dan penerima upah pungut itu sendiri adalah perbuatan melawan hukum dan tindak pidana korupsi. Hal inilah yang menyulut kontroversi panjang. Khusus untuk persoalan upah pungut Subang kontroversi itu makin menajam karena ada langkah pihak Kejaksaan Negeri Subang yang dianggap memiliki muatan politik. Karena penetapan Eep Hidayat sebagai tersangka berbarengan dengan proses pemilukada 2008 lalu. Di mana saat itu, Eep ditetapkan sebagai tersangka pada posisi Eep sedang mengikuti pilkada Subang periode 2008-2013. Maka wajar kiranya, bila masyarakat, khususnya pendukung Eep Hidayat menilai langkah pihak kejaksaan cenderung bermuatan politis. Dan pada perjalanannya, Eep memenangani pemilukada sebagai Bupati Subang periode 2008-2013 untuk kedua kalinya. Terlepas dari itu, persoalan upah pungut yang menyeret Eep haruslah bertitik tolak pada penegakan hukum murni. Karena, kita ketahui bersama upah pungut yang mengalir ke kantong-kantong pribadi pegawai pemerintah bukan hanya terjadi di Kabupaten Subang. Seluruh bupati, wali kota, gubernur se Indonesia adalah penikmat dan penerima upah pungut yang selama ini terjadi. Bahkan, bila melihat infrastruktur hukum upah pungut, upah pungut jelas-jelas disebutkan sejak tahun 1987 sesuai Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan No 12 Tahun 1985. Jadi, bila nantinya Eep memang benar dapat dibuktikan secara hukum bersalah dalam kasus upah pungut ini, aparat penegak hukum tentu juga harus bersiap-siap gawe besar untuk menuntut semua bupati dan wali kota serta gubernur penerima upah pungut lainnya di seluruh Indonesia. Tantangan itu bukanlah pekerjaan main-main. Karena apa yang dimulai di Subang bisa didudukkan sebagai entry point penegakkan hukum dalam kasus upah pungut. Bila itu tidak dilakukan, kita bisa memaklumi betapa Eep hanya akan merasakan korban dari sebuah kebijakan pusat yang dampaknya menumbalkan seorang kepala daerah seperti Eep Hidayat yang tidak menyadari apa yang dilakukannya adalah sebuah perbuatan melanggar hukum. Walaupun bila kita berbicara dari nilai-nilai kepantasan, upah pungut dapat dikatakan sebuah perbuatan yang melanggar kepatutan. Kalau kita coba mengalikan pendapatan Agus Muharam dengan jabatan kepala dispenda dengan kedudukan eselon II, gaji pokok ditambah bebagai tunjangan pendapatan Agus Muharam tidak lebih hanya Rp5 juta. Tetapi coba kita bayangkan sebagai kepala dispenda selama tiga tahun, Agus Muharam meraup upah pungut hamper Rp1,2 miliar. Tentu ada yang salah, betapa pendapatan dari upah pungut jauh dari berlipat dari gaji pokoknya. Inilah yang kita sebut sebuah nilai-nilai yang melanggar kepatutan, yang tentu sangat kontroversi dalam tatanan penyelenggaraan pemerintah di negeri ini. Kontroversi upah pungut ini haruslah diselesaikan secara bijak oleh semua pihak dan semua pihak yang bertanggung jawab. ***

Tulalit
+ Munas II Partai Demokrat di Bandung berhasil memilih Anas Urbaningrum sebagai Ketua periode 20102015. - Selamat

+ Provinsi Jawa Barat dijadikan model dalam program pembangunan Jawa Selatan oleh pemerintah pusat. - Nya atuh tos heubeul teuing teu kasentuh pembangunan

Plat Merah
Oleh M Suratman SKom (Wartawan Medikom)
Pengertian masyarakat umum tentang nama “Plat Merah” adalah plat nomor polisi berwarna merah yang dipasang khusus untuk kendaraan-kendaraan milik negara yang notabene disediakan sebagai fasilitas penunjang bagi para pegawai negeri sipil untuk melaksanakan tugasnya. Namun berkembang juga di kalangan masyarakat tertentu, nama “Plat Merah” itu menjadi nama elite yang disandang pejabat-pejabat teras aparatur pemerintah, yang mempunyai kewenangan membuat kebijakan untuk meningkatkan kinerjanya, sekaligus programprogram dalam perencanaannya juga menjadi sangat istimewa karena mendapatkan skala prioritas. Ada juga yang bilang Plat Merah adalah nama khusus yang hanya orang tertentu saja yang tahu, sebab sudah diproteksi dengan “password” sehingga tidak mudah orang lain bisa masuk, apalagi bagi yang tidak mempunyai kunci rahasia untuk masuk ke wilayah Plat Merah tersebut. Dengan kata lain, program yang bermerek Plat Merah ini hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang sudah ditunjuk atau diberi kewenangan untuk melaksanakan program yang berplat merah saja. Artinya bahwa nama itu mengandung pengertian yang sangat dalam sebagai indentitas diri yang ditujukan kepada kalangan yang sangat terbatas. Sebut saja di Pemerintahan Kabupaten Cirebon, misalnya, sebagian program-program yang telah ditetapkan, kemudian menjadi perencanaan anggaran di setiap dinas, badan atau kantor, sudah dibagi sesuai dengan ajuannya dan telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DRPD) setempat. Baik itu anggaran rutin sebagai belanja tetap dinas, badan dan kantor, atau anggaran yang sengaja diajukan untuk menjadi program-program dinas, sehingga program-program tersebut dibuat telah mempunyai nilai kepentingan secara kedinasan. Namun kenyataan ini sering hanya kamuflase dinas saja. Buktinya, sering menjadi alasan kuat bahwa program itu menjadi program andalan dan “kebijakan” dinas. Padahal, program yang dibuat tersebut sudah terkontaminasi karena merupakan titipan elite pejabat teras yang berkepentingan akan program tersebut, atau titipan pihak ketiga yang ikut menggunakan kewenangan pejabatnya untuk kepentingannya pihaknya. Maka paket-paket anggaran dalam program itu menjadi tidak bergizi lagi bagi masyarakat bawah, karena sudah mempunyai nilai “komersil” di dalamnya, tergantung bagaimana dilihat, dari nilai besaran paketnya berapa. Sebagai contoh, paket program belanja tetap dinas misalnya, itu sudah direncanakan sedemikian rupa dengan pagu anggaran yang telah ditetapkan, baik secara teknis maupun non teknis, sehingga seyogianya sangat mudah melaksanakannya. Namun itu hanya bisa dilaksanakan oleh orangorang yang menyandang merek “Plat Merah”. Sementara di pihak lain, banyak orang atau masyarakat lainnya tidak paham bahwa paket program ber”Plat Merah” itu adalah nama program unggulan dinas, katanya, tapi yang sebenarnya anggaran yang telah diajukan itu hanya karena tekanan kepentingan, sehingga program yang dibuat menjadi kebijakan program destruktif dengan parameter yang lemah. Anggaran yang dituangkan dalam programprogram itu menyerap sekian rupiah yang dibutuhkan, namun itu ternyata menjadi “dagangan” oknum pejabat untuk mengeruk keuntungan dari paket programprogram yang dibuatnya sendiri. Ironis memang. Pejabat yang telah dibayar dan dibiayai oleh negara dan mendapat fasilitas yang lebih dan dimanjakan oleh berbagai tunjangan-tunjangan yang diperolehnya, tapi bukan sematamata mengabdi dan melaksanakan arah kebijakan yang murni untuk kepentingan masyarakat umum, tapi malah disalahgunakan demi kepentingan pribadinya. Penulis hanya mengingatkan bahwa pejabat tidak bisa membuat kebijakan secara sendiri-sendiri, tetapi bagaimana arah program dibuat demi kepentingan bersama untuk perbaikan kinerjanya, yang tidak hanya karena ada kepentingan pribadi atau golongan. Tapi bagaimana membangun program tersebut menjadi bermakna bagi rakyatnya. Istilah “Plat Merah” untuk paket yang dipegang sebaiknya tidak ada lagi karena hanya akan melukai rakyat kecil. Melalui paket program dinamai “Plat Merah” seringkali rakyat dibohongi. Seyogianya program-program yang dibuat hanya untuk semata-mata kepentingan umum saja. Terima kasih atas perhatian dan niat baik untuk melaksanakan program-program untuk kehidupan masyarakat luas. (*0

BPR KS Kritik Kebijakan Pengawasan BI
BANDUNG, MedikomKebijakan Bank Indonesia (BI) Bagian Penga-wasan, yaitu BI Cabang Bandung terhadap Ny Selmi Kusuma Dewi Syamsudin (SKDS), Komisaris Utama PT BPR KS untuk mengem-balikan insentif, dipertanyakan. Menurut Purnama Sutanto SH, Iwan Supriatna Bhakti SH, Yudi Sugiarto SH, selaku pengacara PT BPR KS (Turut Tergugat II), di hadapan majelis hakim yang diketuai H Suprapto SH MH, baru-baru ini, perintah pengembalian itu tidak beralasan secara hukum dan tidak bersifat pembinaan untuk kemajuan perbankan.
Dalam acara jawaban sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya sebagai Turut Tergugat II, pihaknya mengkritik keras tindakan Ananda T Mooy dkk (Para Tergugat I) selaku staf pengawasan BI, M Kadir Ruruparang, selaku pengawas bank madya senior (Tergugat II), Sarwanto selaku Deputi Pemimpin BI Cabang Bandung (Tergugat III), Iyang Achmad Rizal selaku Pemimpin BI Cabang Bandung (Tergugat IV) dan BI cq BI Cabang Bandung dalam memberikan pendapat/opini hasil pemeriksaan umum yang dilakukan terhadap kebijakan Turut Tergugat II. Sebab, kata Purnama Sutanto, uang insentif diberikan Turut Tergugat II dan diterima Ny SKDS, bukan dalam ruang lingkup pekerjaan dan atau jabatannya sebagai komisaris utama. “Tetapi sebagai pribadi, di luar tupoksi dan jam kerja yang ditentukan dalam aturan dan ketentuan perbankan. Di samping itu sebagai upaya untuk mendukung kemajuan aktivitas perbankan PT BPR KS,” tandas adavokat Purnama Sutanto SH. Dijelaskan Purnama, penghargaan yang diberikan PT BPR KS dalam bentuk insentif kepada Ny SKDS jelas dan tegas tidak bertentangan dengan ketentuan yang dimaksud para tergugat, sebagaimana tercantum dalam Pasal 29 UU No 23 Tahun 1999 tentang BI yang telah diubah dengan UU No 3 Tahun 2004, dan Pasal 30– 33 UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No 10 Tahun 1998. Landasan dan argumentasi hukumnya, bahwa penggugat sebagai komisaris utama, menjalankan perannya sebagai pribadi di luar ruang lingkup tupoksi sebagai komisaris utama yang selama ini telah dilakukannya dengan baik. Sebagai bentuk komitmen pribadi untuk menunjang operasional PT BPR KS, Ny SKDS berhasil menghimpun dana deposito dari masyarakat, sehingga dinilai oleh Turut Tergugat II berdasarkan kebijakan intern, sangat bagus untuk mendukung bisnis perbankan yang sehat dan bertanggung jawab. Dengan demikian, tambah pimpinan dari Kantor Advokat Purnama Sutanto SH ini, maka Ny SKDS sangat beralasan untuk menerima insentif, sehingga jelas dan beralasan secara hukum. Bukan sebaliknya, sebagai bentuk pelanggaran hukum sebagaimana dikemukakan para tergugat dari BI. Para advokat sebagai kuasa hukum mewakili PT BPR KS juga mengkritik tindakan Tergugat I–IV dan Turut Tergugat I, yang dalam rangka pengawasan langsung tidak mengedepankan pendekatan preventif dan represif yang bersifat membina. Apalagi itu sudah berlangsung sejak tahun 2006 hingga 2009. Mestinya, dalam melakukan pengawasan, BI yang memiliki kewenangan, tanggung jawab dan kewajiban, melakukannya secara utuh dan komprehensif, agar pengelolaan bank itu tetap sesuai koridor. “Kalau BI berpendapat pemberian insentif itu melanggar hukum, maka mes-tinya bukan mendesaknya untuk mengembalikan, tetapi mengingatkan supaya dalam kesempatan berikutnya tidak dilakukan kembali,” tandasnya di hadapan majelis hakim, sehingga bisa dicegah penghimpunan dana itu, bukan sebaliknya, setelah beberapa tahun berjalan baru kemudian dinilai dan didesak seluruh uang insentif itu dikembalikan kepada Turut Tergugat II. Pernyataan para pengacara Turut Tergugat II ini senada dengan gugatan penggugat yang dikemukakan dalam persidangan silam, melalui para pengacaranya Nur Kholim SH MH, Nona Idar Kartika SH, Zainudin SH, bahwa desakan dan paksaan pengembalian insentif itu tidak tepat. Akibat paksaan BI itu berimplikasi, dengan sangat terpaksa penggugat pada akhir 2009 mengundurkan diri dari pekerjaan dan jabatannya. Padahal baru diangkat kembali berdasarkan Akta RUPSLB No 13 tanggal 6 Maret 2008 sebagai komisaris utama hingga periode tanggal 17 Februari 2013. Gugatan penggugat Ny SKDS melalui Nur Kholim dan penjelasan dalam acara pembuktian secara perdata dalam paparannya menilai para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan mendesak dikembalikannya uang insentif yang telah diterima dari bulan Februari 2006–Oktober 2009 sebesar Rp717.800.500 kepada PT BPR KS paling lambat bulan Juni 2010. Selain mengadangada, juga bertentangan dengan norma kepatutan dan kesusilaan. Penggugat mengutip pernyataan para tergugat dari Bank Indonesia, apabila penggugat menolak mengembalikan insentif itu, maka akan ditinjau jabatannya sebagai komisaris utama. Pernyataan itu direspons penggugat dengan mengatakan bahwa uang insetif itu merupakan bonus/hadiah yang sudah habis digunakan, sehingga bagaimana mungkin bisa dikembalikan kepada PT BPR KS. “Kemudian dijawab para tergugat I– IV dengan mengatakan ‘terserah Anda boleh pilih: kembalikan atau fit and proper test lagi’,” jelas advokat Nur Kholim dalam persidangan sekaligus mempertanyakan pendapat BI atas kebijakan intern BPR itu, sebab sudah berlangsung sejak tahun 2006, tetapi disoal baru pada akhir tahun 2009. Tekanan para tergugat juga membuat penggugat stres, hingga terpaksa mengundurkan diri. Apalagi tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan hak atas uang insentif yang diterimanya. “Penggugat sebagai tulang punggung keluarga sangat menderita, stress dan depresi dengan kehilangan pendapatan sebagai komisaris utama sebesar Rp1,5 miliar sesuai perhitungan sebesar Rp532,596 juta yang mesti diterimanya per tahun,” tandasnya, sekaligus menggugat kerugian yang dialami Ny SKDS setidaknya secara materiil sebesar Rp2,6 miliar. Sementara dalam persidangan silam, pascapembacaan gugatan dan dalam acara persidangan Arjaya Dwi Raya SE, Belly Harry Tjong selaku kuasa hukum Tergugat I – IV dan Turut Tergugat I, dalam jawabannya menilai gugatan itu tidak jelas, termasuk kewajiban hukum, kepatutan dan kesusilaan mana yang dilanggar. Begitu juga tidak jelas ketentuan hukum yang dilanggar dalam gugatan perbuatan melawan hukum yang diajukan penggugat, sehingga secara prinsip menolaknya, dan dikatakan bahwa pengawasan yang dilakukan sudah sesuai ketentuan hukum. (Zaz)

T Acmad Tala’ah Ketua Golkar Deliserdang
DELI SERDANG, Medikom–Ketua DPD Partai Golkar Sumatra Utara H Syamsul Arifin SE melantik Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Deliserdang Drs H T Achmad Tala’ah dan pengurus lainnya masa bhakti 2009-2015, Selasa (18/5) di halaman Lapangan Taman Pramuka Cadika Lubuk Pakam. Acara pelantikan dihadiri pengurus DPD Partai Golkar Tk I Sumatra Utara, Kota Medan, Wakil Bupati Deliserdang H. Zainuddin Mars, Anggota DPRD Deliserdang, unsur Muspida plus, unsur pengurus DPD Partai Golkar Tk II Deliserdang, para pimpinan parpol/ormas seKabupaten serta ribuan undangan lainnya. Ketua DPD Partai Golkar Sumatra Utara dalam pidato politiknya mengajak seluruh kader Partai Golkar, khususnya kader Partai Golkar di Kabupaten Deliserdang, agar nantinya siap dalam memenangi pemilu pada tahun 2014 mendatang. Apalagi sesuai moto Golkar “Suara Rakyat adalah Suara Golkar”. Oleh karenanya, seluruh kader Golkar ke depan harus mampu dekat dengan seluruh masyarakat. Wabup H Zainuddin Mars dalam pidato singkatnya menyatakan, melalui pelantikan pengurus baru Partai Golkar Deliserdang mampu berdiri terdepan untuk mendukung upaya bersama mencapai keberhasilan. Tentunya dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Deliserdang pada lima tahun ke depan. Hal ini diharapkan agar lebih baik dibanding hari kemarin maupun hari ini. Ketua DPD Golkar Kabupaten Deliserdang Drs H T Achmad Tala’ah dalam sambutannya menegaskan, bagi seluruh kader Golkar khususnya di Deliserdang untuk selalu siap mendukung program Pemerintah Kabupaten Ddeliserdang yakni dalam Gerakan Deliserdang Membangun. Karena hal ini merupakan salah satu program Bupati Drs H Amri Tambunan yang cukup cemerlang, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebelumnya Wakil Ketua Bidang Informasi Komonikasi Surya Dharma SAg membacakan Ikrar Partai Golongan Karya Panca Bhakti. Kemudian Ketua DPD II Golkar T Achmad Tala’ah melantik pengurus DPD Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kabupaten Deliserdang yang diketuai oleh Yose Rizal SE. Dan turut juga dilantik pengurus Kelompok Peranan Perempuan Golongan Karya (KPPG) dengan Ketuanya Hj Chairiah Sujono Giatmo. (R David Sagala)

Ketua DPD Partai Golkar Sumut H Syamsul Arifin SE, disaksikan Wabup DS H Zainuddin Mars, melantik Ketua DPD Golkar Deliserdang Drs H T Achmad Talaah, di Lapangan Cadika Pramuka Lubuk Pakam.

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

7

Sudut
442 Siswa SMP/MTs di Kota Cimahi Ikuti UN Ulangan
CIMAHI, Medikom–Sebanyak 442 siswa SMP/MTs di Kota Cimahi mengikuti ujian nasional (UN) Ulangan yang secara serempak diadakan pada 17 s.d. 20 Mei. Berdasarkan data yang ada sebanyak 88 siswa mengikuti UN Ulangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, 150 siswa mengulang pada mata pelajaran Bahasa Inggris, 94 siswa mengulang pada mata pelajaran matematika dan 102 siswa mengulang pada mata pelajaran IPA. Demikian diktakan Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Ahli Sahrudin, saat ditemui di kantornya belum lama ini. Ahli menambahkan, walaupun beberapa siswa peserta mengeluhkan soal UN ulangan ini, karena dinilai tingkat kesulitannya lebih tinggi disbanding UN Utama, namun para siswa optimis dapat lulus dengan baik. Ahli mengatakan, pada Senin pagi lembar soal sudah dikirim ke lokasi pelaksanaan UN Ulangan dan tidak ada lembar jawaban yang lecek dan rusak. “Pada Senin pagi lembar soal sudah kami kirim ke lokasi pelaksanaan UN dan tidak ada lembar jawaban yang lecek dan rusak,” kata Ahli. Selanjutnya, Ahli juga menambahkan, pada saat pihaknya melakukan pemantauan di lapangan, salah satunya di SMPN 3 Cimahi, semua peserta terlihat tenang dan tidak dalam keadaan terbebani. “Saat kami melakukan pemantauan di lapangan, seperti di SMPN 3 Cimahi, kondisi mental dan fisik siswa yang mengikuti UN ulangan ini tidak dalam keadaan terbebani, kami memberikan motivasi kepada para siswa yang mengikuti ujian ulangan agar dalam mengerjakan soal ujian dapat setenang mungkin,” tambahnya. (Fredy HS/Sis)

PGRI Demo Bupati Berang
Dianggap Tidak Sesuai Dengan Isi Surat
MAJALENMGKA, Medikom– Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Majalengka lakukan aksi demo ke Bupati Majalengka, sementara bupati berang atas aksi demo tersebut karena dianggap aksi guru tidak sesuai dengan surat yang dikirim oleh Pengurus Daerah (PD) II PGRI Majalengka sebelumnya, Selasa (19/5). Pada komitmen awal, seperti dalam surat yang disampaikan Pengurus PGRI kehadiran ke bupati akan diwakili oleh masing-masing kecamatan sebanyak 10 orang untuk melakukan audiensi terkait dengan dihapuskannya honor bulanan guru senilai Rp75.000 dari APBD Kabupaten. Namun ternyata guru yang hadir mencapai sekitar seribu orang sambil membawa poster dengan aneka tulisan, serta gambar bertanduk yang dibawa oleh salah seorang guru. Pada poster tersebut antara lain bertuliskan, bupati adalah bukan bupati partai namun bupati untuk semua masyarakatnya sehingga kepentingan partai tidak perlu lagi dibawa-bawa di pemerintahan. Serta sejumlah poster lainnya yang ditulis dengan spidol aneka warna. Akibanya bupati berang dan merasa tersinggung dengan poster tersebut sehingga bupati meminta agar kepolisian mengusut siapa yang membawa poster serta siapa yang membuat poster tersebut. “Dalam surat ini (PD PGRI Majalengka), saya baca permintaannya adalah audiensi dengan pengurus Kabupaten dan Kecamatan. Faktanya, saudara mengerahkan masa,” tegur Sutrisno kepada Ketua PD PGRI Majalengka Aman Nurkamal sebelum audiensi dilaksanakan di gedung Yudha Karya Abdi Negara pada awal pembicaraannya. Pada kesempatan tersebut Ketua PD II PGRI Majalengka H Aman Nurkamal yang juga penanggung jawab aksi massa menyebutkan, kalau kehadirannya ke Pendopo adalah guna memohon pencairan uang insentif sekitar sepuluh ribu guru dengan nilai insentif masingmasing Rp75.000/bulan. “Kehadiran kami kemari hanya memohon pencairan insentif untuk sepuluh ribu orang guru. Dan mereka akan bangga apabila Bupatinya bisa mengabulkan anggaran insentif sebesar Rp75 ribu/bulan yang biasa mereka terima sebelumnya setiap bulan April,” ungkap Aman yang mengaku aksi tersebut sebelumnya hanya akan diwakili oleh masingmasing 10 orang guru dari tiap kecamatan namun tanpa diduga massa langsung membludak. Menyikapi keinginan dan aksi guru tersebut, Bupati Majalengka H Sutrisno menyebutkan, kalau guru yang sudah PNS seharusnya patuh atas peraturan tentang kepegawaian. “Bupati adalah pejabat pembina kepegawaian sehingga dapat melakukan apa pun terhadap pegawainya. Kita ini sama-sama berada pada ring birokrasi, yakni pemerintah. Tidak seharusnya, persoalan seperti ini mencuat keluar hingga harus mengerahkan massa. Saya ini adalah pimpinan seluruh pegawai di Kabupaten Majalengka, Kepala Disdik (Dinas Pendidikan) adalah pimpinan di Dinasnya, Ketua PD PGRI adalah pimpinan di organisasinya. Saya minta kita patuh terhadap pimpinan,” kata Bupati. Soal alokasi anggaran nuntuk insentif, Sutrisno menjelaskan, dari total APBD Kabupaten Majalengka tahun 2010 senilai Rp1,2 triliun, Rp546 miliar di antaranya dialokasikan untuk Dinas Pendidikan yang diperuntukan banyak program. “Persoalan alokasi anggaran kemana dan kemana adalah di luar kewenangan Bupati. Persoalan tersebut adalah persoalan teknis sehingga yang berwenang adalah Disdik. Apabila anggaran Disdik mencukupi kenapa tidak. Namun, persoalan tersebut tetap harus dikaji dan analisa terlebih dahulu oleh Disdik,” ungkap Sutrisno. Hanya menurut H Sutrisno, apabila guru terus menuntut haknya, maka pihaknya juga akan menuntut semua guru atas kewajibannya untuk mengajar. Selama ini banyak guru yang honor dan gajinya diterima namun jarang masuk kerja. Menurutnya, gaji dan honor guru sebenarnya telah melebihi gaji dan honor tenaga fungsional lainnya yang tidak mendapatkan kenaikan pangkat otomatis, sementara guru memiliki tunjangan sertifikasi yang nilainya sama dengan gaji, honor fungsional senilai Rp250.000/ bulan sehingga honor yang diterima jauh lebih besar. “Persoalan-persoalan tersebut yang seharusnya diperjuangkan, termasuk kewajiban guru itu sendiri terhadap siswa didiknya,” ungkap Bupati. Smentara itu salah seorang anggota Dewan Pendidikan di Majalengka menyebutkan, yang harus diprioritaskan pembahasannya saat ini adalah rasio kecukupan guru dengan jumlah kelas bagi guru SD, karena sebetulnya di tingkat SD belum dikenal guru bidang kecuali untuk pelajaran tertentu. Sehingga kita bisa tahu berapa sebetulnya guru honorer yang diperbolehkan ikut membantu di mana konsekuensinya pemerintah daerah harus mendukung bantuan honornya, sehingga APBD bisa mengalokasikan besaran jumlah insentif yang akan diberikan kepada guru honor, yang wajar dan bisa dipenuhi oleh kemampuan APBD. Selama ini ditengarai jumlah guru honor sudah melebihi kapasitas ruang kelas bila dibandingkan dengan guru PNS yang ada di sekolah tersebut. Sehingga hal ini menimbulkan kecenderungan kurang maksimalnya guru PNS dalam pelaksanaan KBM karena adanya guru honor tersebut. “Sebaiknya kita banyak melakukan evaluasi terhadap kualitas pendidikan selama ini, apalagi ini dikaitkan dengan telah berjalannya fungsionalisasi dan sertifikasi para guru. Kami pikir UN merupakan peta yang perlu dikaji secara komprehensif bagaimana kita memotret dunia pendidikan di Kabupaten Majalengka ini secara lebih bijaksana,” ungkap salah seorang anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Majalengka. (Jur)

SDIT Daarul Qolam Kembali Juara Umum Calistung dan MBTQ
BANDUNG, Medikom–Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Daarul Qolam yang terletak di Jalan Cilisung Terusan Cibaduyut Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu (Golf Lanud Sulaiman) Kabupaten Bandung berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas di segala bidang. Tujuannya tidak lain guna menggapai visi mewujudkan dan membangun serta menciptakan anak didik untuk menjadi generasi Qurani yang seimbang dalam penguasaan IPTEK dan IMTAQ serta mewujudkan generasi yang bermoral dan berakhlaqul karimah, mampu menumbuhkan kreativitas diri dalam rangka menata hidup dan kehidupannya untuk masa depan yang akan menjadi panutan dalam kehidupan di lingkungan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Karenanya, di bawah lembaga modern yang dipimpin Drs KH TB Mulhat HS dan dikepalai Dra Hj Ditdit Hadiati, SDIT Daarul Qolam menerapkan sistem pendidikan berbentuk full day school. Hasilnya tak diragukan lagi, para santri SDIT Daarul Qolam mempu menunjukkan prestasi baik di bidang akademis maupun non akademis. Buktinya, baru-baru ini SDIT Daarul Qolam mampu membawa puluhan piala sekaligus meraih juara umum untuk kedua kalinya pada perlombaan Calistung dan MBTQ di tingkat KKM XI dan Kabupaten. Pada perlombaan tingkat KKM XI di MI Al-Islah Ciganitri Bandung, Sabtu 20 Maret, 38 siswa SDIT Daarul Qolam berhasil meraih juara. Bahkan pada perlombaan yang diikuti 22 sekolah di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Margahayu, Margaasih, Bojong Soang, dan Dayeuhkolot ini, SDIT Daarul Qolam menjadi juara umum. Untuk itu, SDIT Daarul Qolam ditetapkan menjadi wakil beberapa sekolah untuk mengikuti lomba pada tingkat Kabupaten Bandung. Prestasi kembali ditorehkan siswa siswi SDIT Daarul Qolam. Pada perlombaan tingkat Kabupaten Bandung di MTsN Cililin Selasa 6 April 2010, juga mampu membawa puluhan piala dan menjadi juara umum. Sebagai ganjarannya, piala tetap kini menjadi milik Daarul Qolam dan trofi bergilir pun diraih Daarul Qolam. Sungguh mengagumkan! Tentunya hal ini, menjadi kebanggaan besar bagi para pengasuh santri-santri ini. Beberapa lomba yang mendapati juara 1 pada tingkat KKM XI yaitu Calistung membaca kelas satu dengan peserta: Farhan Abdullah, Arsila Kamila, dan Fakhira Chaerunnisa di bawah bimbingan Mamay Siti Maryam SSos I. Menulis kelas satu: A Natasya W, Niken Ayu D dan M Nurikhsan F Ayu Sekar P S.Sos I, berhitung satu: M Dhika PP, M Hanif D, dan M Fakhri F, di bawah bimbingan Fitri Muliawati, AMa. Pada membaca pemahaman kelas dua: Bintan NA, Syalma RA, dan Arrya Bagas S di bawah bimbingan Eti Rismawati SPsi.I, Dikte kelas dua: Tasya RR, Hayya AJ, dan Alya Rosidah di bawah bimbingan Mutti MA Sps, Mencongak kelas dua: Nijamudin H, Salwa AC, dan Andrian RS di bawah bimbingan Nenden Fitria S. Untuk peserta MBTQ, di antaranya menulis Alquran kelas tiga: Millah N dan M Rafly dan kelas empat: Devan dan Purti Agnia di bawah bimbingan Yeni Mulyani, Baca Quran kelas empat: M Rizal dan Azvani, kelas lima: Tamia dan M Rizki di bawah bimbingan Ade Irma Suryani Spd I, membaca pemahaman kelas empat: Putri Agnia dan Nurmahmudi Y, dan kelas lima: Rekha dan M Adifa di bawah bimbingan Inting Priatin A.ma, dan Imla kelas lima: M Teja dan R Yolanda di bawah bimbingan Ulfatun Amanah SPd. Pada tingkat kabupaten yang menjadi juara 1, pada kelompok Calistung di antaranya menulis kelas 1 dan juara 2 berhitung kelas 1, membaca kelas 1, dikte kelas 2, mencongak kelas 2, sedangkan membawa pemahaman kelas 2 dan juara 3, namun mendapat nilai tertinggi. Pada kelompok MBTQ, yang menjadi juara 1 diraih pada lomba menulis Quran kelas 3 putri, dan yang menjadi juara 2 di antaranya: menulis Quran kelas 3 putra, membaca Quran kelas 4 putra dan membaca Quran kelas 5 putri. (Redam)

Dalam Rangka HUT ke32, Unsil Adakan Seminar Kesehatan
TASIKMALAYA, Medikom–Bertempat di Ruang Rektorat Lt.2 Jln Siliwangi Kota Tasikmalaya dilaksanakan Seminar Nasional Kesehatan dengan tema Membangun Masyarakat Sehat, Produktif dan Sejahtera yang menghadirkan 3 pembicara di antaranya Wali Kota Tasikmalaya Drs H Syarif Hidayat MSi, Profesor Bisma Dosen Fakultas Kedokteran 11 Maret dan DR Dr SA Nugraheni Sekterataris Magister Ilmu Gizi Universitas Diponegoro Semarang yang dihadiri ratusan mahasiswa Unsil dan undangan pada hari Rabu (19/5). Dalam Kesempatan tersebut Wali Kota Tasikmalaya menyampaikan bahwa ia bukanlah ahli yang kompeten bidang kesehatan, tapi atas nama Pemerintahan akan disampaikan mengenai komitmen Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam pemenuhan kesehatan masyarakat. Ditambahkan, komitmen Pemkot Tasikmalaya yaitu menganggarkan Rp1,6 miliar untuk layanan puskesmas gratis bagi masyarakat serta Rp3,2 miliar untuk pelayanan gratis RSUD. Di akhir sambutan disampaikan kesimpulan bahwa Kota Tasikmalaya sedang membangun sumber daya manusia yang bagus dengan pembangunan kesehatan dan pendidikan sehingga nantinya bisa menjadi SDM yang berkualitas dan berdiri sendiri maka dia akan mampu berproduksi secara ekonomi dan sosial hingga bermanfaat bagi dirinya sendirinya dan orang lain. DR Dr SA Nugraheni Sekterataris Magister Ilmu Gizi Universitas Diponegoro Semarang menyampaikan materi tentang Gizi dan Kesehatan sebagai investasi SDM yang berkualitas, sedangkan acara seminar dilaksanakan dalam rangka Dies Natalies Universitas Siliwangi yang ke-32. Sementara itu pembicara Dr dr SA Nugraheni MKes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat menegaskan, untuk pembangunan kesehatan diperlukan adanya kesadaran, kemauan dan kemampuan semua komponen bangsa untuk mewujudkan rakyat sehat sebagai sumber ketahanan bangsa yang akhirnya menjadi landasan dalam membentuk negara yang kuat. Negara kuat dari aspek kesehatan dapat diartikan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki ketahanan bangsa yang tangguh dengan basis utamanya dalam wujud semua rakyat sehat secara fisik, mental dan sosial serta sejahtera. Dewasa ini masalah gizi dan kesehatan masih merupakan masalah nasional yang membutuhkan pemikiran khusus. (A Cucu)

Cegah Bahaya Narkoba Melalui Penyuluhan Hukum
TASIKMALAYA Medikom–Upaya meminimalisasi dampak dari bahaya penyalahgunaan minuman keras (miras), HIV dan narkotika di Kabupaten Tasikmalaya, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Bagian Hukum Setda Tasikmalaya mengadakan Penyuluhan Hukum ke berbagai sekolah tingkat menengah atas di tiga wilayah seperti SMAN Cikatomas, SMAN Manonjaya dan SMAN Cineam Kabupaten Tasikamlaya. Kamis (20/5). Penyuluhan hukum ini difokuskan kepada siswa-siswi sekolah menengah atas (SMA) karena seusia mereka dianggap rentan tertular bahaya tersebut, sehingga perlu upaya pencegahan dan memberikan pengetahuan tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari bahaya miras, narkotika juga virus HIV ini. Mereka adalah kaum remaja sebagai pewaris negara untuk masa yang akan datang. Kasubag Bantuan Hukum Setda Kabupaten Tasikmalaya H Cecep Rostata SH MM mengatakan, materi yang disampaikan pada Penyuluhan Hukum bagi siswa-siswi SMAN ini meliputi materi mengenai Perda No 5 Tahun 2004 tentang Pengendalian Miras di Kabupaten Tasikmalaya, materi lainnya Perda No 4 Tahun 2007 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS selanjutnya materi Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang No 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, Undang-Undang No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Adapun para narasumber yang memberikan materi yakni dari Kejaksaan Negeri Singaparna, Sekolah Tinggi Hukum Galunggung, Komisi I DPRD Kabupaten Tasikmalaya, dan Bagian Hukum Setda Kabupaten Tasikmalaya. Sementara itu sambutan Bupati Tasikmalaya Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd dalam acara penyuluhan hukum menegaskan dengan adanya penyuluhan hukum ini diharapkan meminimalisir terjadinya kenakalan remaja yang diakibatkan dari dampak minuman keras, narkotika dan psikotropika. Masyarakat juga menjadi tahu dan memahami tentang bahaya dari miras dan narkotika. Pemerintah berharap kepada masyarakat agar berperan aktif dalam upaya mencegah beredarnya minuman keras di tengah masyarakat. Dengan demikian hal yang dapat merugikan dan membahayakan masyarakat dapat ditekan bersama. Penyuluhan hukum ke SMA Cikatomas, SMA Manonjaya dan Cineam dipimpin Kabag Hukum Setda Kabupaten Tasikmalaya Akhmad Sujaya SH, Kasubag Bantuan Hukum H Cecep Rostata, SH MM dan jajaran bagian Hukum Setda. (A Cucu)

1.500 Usahawan Ikuti Pelatihan Internet
CIMAHI, Medikom-Pemerintah Kota Cimahi dalam waktu dekat akan menyelenggarakan pelatihan internet gratis dalam rangka pemberdayaan para pelaku usaha kecil bagi masyarakat. Pelatihan ini (internet) dimaksudkan untuk lebih mengenalkan internet kepada para usahawan kecil di Kota Cimahi dalam rangka Cimahi Cyber City. Kepala Bidang Pengawasan, Pelatihan, Penempatan Tenaga Kerja Transmigrasi Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil, Sosial dan Tenaga Kerja Kota Cimahi, Dani Bastian saat dikonfirmasi di kantornya belum lama ini, kepada Medikom mengatakan, pelatihan difokuskan bagi pelaku usaha kecil sebagai salah satu upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). “Dengan mengikuti pelatihan ini diharapkan para peserta yang terdiri dari pelaku usaha kecil ini dapat mengembangkan usaha mereka lebih luas melalui jaringan internet hingga ke tingkat global dan lebih luas,” ujar Dani. Selanjutnya Dani menambahkan, pelatihan internet ini akan dilaksanakan di enam kelurahan, sedangkan unsurunsur yang dilibatkan berasal dari 15 kelurahan yang ada di Kota Cimahi dan melibatkan sekitar 1.500 orang. Lokasinya di enam kelurahan yang ada di Kota Cimahi, yakni Kelurahan Cimahi, Kelurahan Cigugur Tengah, Kelurahan Citeureup, Kelurahan Cibabat, Kelurahan Utama dan Kelurahan Cibeureum. “Untuk mendukung pelatihan ini setiap kelurahan kami siapkan lima unit komputer,” tambahnya. Sekarang ini, tambah Dani lagi, pihaknya sedang memasang jaringan internetnya di enam kelurahan tersebut dan dalam waktu dekat setelah jaringan ini selesai semua, pelatihan akan segera laksanakan. “Untuk lama pelatihan kurang lebih 50 hari,” tambah Dani lagi. (Fredy/Imam Sis)

SMA Taman Siswa Sarat Prestasi Siap Berkompetisi
SUKABUMI, Medikom–Sekolah Menegah Atas (SMA) Taman Siswa Kota Sukabumi ternyata tidak kalah dengan sekolah-sekolah lainnya, baik swasta ataupun negeri. Berbagai prestasi yang telah diraihnya selama ini, baik bidang akademis maupun ekstrakurikuler, membuat sekolah ini semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat Kota Sukabumi. Beberapa prestasi itu, di antaranya Juara I pada Turnamen Sepak Bola se Wilayah Bogor tahun 2006, Juara I Lomba Lintas Alam se Wilayah Bogor tahun 2007 dan Juara I Lintas Alam tingkat Provinsi tahun 2009 dan masih banyak lagi prestasi yang sudah diraih sekolah ini. Dan yang paling membanggakan adalah target 100% lulus ujian nasional (UN) 2010 dapat direalisasikan. Dalam hal peningkatan mutu pembelajaran, sekolah ini didukung dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai, seperti Perpustakaan, Lab Bahasa, Lab Komputer dan Lab IPA. Sekolah yang telah memiliki gedung sendiri ini pun menyediakan musala, kantin sekolah dan bangunan serba guna. Kepala SMA Taman Siswa Kota Sukabumi Ki Maman Surachman mengutarakan, kendati sekolah swasta namun sekolahnya siap bersaing dengan sekolah lain baik swasta ataupun negeri. Pada musim penerimaan siswa baru, yang mendaftar ke sekolah ini, Ki Maman menambahkan, pelamar sebanyak itu tidak mungkin diterima seluruhnya, maka terpaksa pihak sekolah mengadakan penyaringan melalui tes seleksi. Dikatakannya, selain siap berkompetisi dan bersaing dengan sekolah lain, ia juga bersama guruguru yang ada berupaya meningkatkan mutu lulusannya, sehingga memudahkan para lulusan untuk melanjut ke perguruan tinggi manapun. Sekolah yang mempunyai visi mampu berkompetisi dengan memadukan daya cipta, rasa, karsa dan karya berlandaskn iman dan taqwa kepada Allah SWT, siap memajukan dunia pendidikan, dan misi melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Nasional Indonesia, membangun masyarakat tertib damai, salam dan bahagia sesuai masyarakat adil, makmur dan sentosa serta yang terakhir mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mempertajam daya cipta, rasa, karsa dan karya guna mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil, mandiri dan makarya, mampu bertindak sesuai kodratnya sebagai makhluk berharkat dan martabat. (Ne/Am)

Peserta dari SMP Terpadu Dampasan Diperhitungkan Lawan
CIAMIS, Medikom–Salah satu agenda Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Ciamis adalah mengadakan lomba Pidato Berbahasa Inggris dan Lomba Debat Berbahasa Inggris tingkat Kabupaten Ciamis. Pada tahun ini lomba yang diikuti oleh siswa SMP dari seluruh kecamatan yang ada di Ciamis dipusatkan di kompleks SMPN 4 Ciamis. Peserta lomba dari Kecamatan Banjarsari diwakili oleh SMPN 1 Banjarsari dengan mengirim 1 orang dan dari SMP Terpadu Dampasan mengirim 4 orang. SMP Terpadu Dampasan merupakan salah satu sekolah di wilayah komisariat 6 di Kecamatan Banjarsari Ciamis, Sabtu (22/5) mengirim siswanya untuk mengikuti lomba pidato dan debat dalam bahasa Inggris Tingkat Kabupaten Ciamis. “Alhamdulillah, sekolah kami dapat meraih pringkat IV pada lomba tingkat Kabupaten Ciamis tersebut. Walau hanya berhasil meraih pringkat IV tapi kami bangga,” ujar Wakil Kepala SMP Terpadu Dampasan Bidang Kurikulum, Aam Lusyana SPd. Aam mengatakan, SMP Terpadu Dampasan berdiri sejak tahun 2007. Sampai saat ini sudah mengeluarkan lulusan sebanyak dua angkatan. “Alhamdulillah, pada ujian nasional (UN) tahun 2010 yang baru lalu dari sekolah kami lulus semuanya,” ujar Aam lagi. Ditambahkannya, kurikulum yang digunakan di sekolahnya sama dengan sekolah lain, yakni KTSP. Hanya saja di SMP Terpadu Dampasan lebih ditekankan pada pelajaran agama serta penggunaan bahasa Arab dan Inggris. Untuk lebih meningkatkan pembelajaran di SMP Terpadu Dampasan yang fasilitasnya masih di bawah ideal, Aam meminta kepada pemerintah agar melihat sama rata antara negeri dan swasta. Sehingga bantuan sarana dan prasarana juga diberikan secara seimbang antara sekolah negeri dan swasta. Pidato berbahasa Inggris pada peringkat I diraih oleh Sindi dari SMPN 1 Kawali, peringkat II diraih oleh Julfa dari SMPN 1 Ciamis, peringkat III diraih oleh Yuliana dari SMPN 1 Sindangkasih. Sementara yang meraih peringkat IV adalah Septi dari SMP Terpadu Dampasan. Peringkat V diraih oleh Aldiyani dari SMPN 1 Pangandaran dan peringkat 6 diraih oleh Sahjinan dari SMPN 2 Ciamis. Pada lomba debat berbahasa Inggris masing-masing pemenangnya adalah, peringkat I diraih oleh SMPN 1 Ciamis, peringkat II diraih oleh SMPN 1 Pangandaran, peringkat III diraih oleh SMPN 1 Rancah dan pada peringkat IV diraih oleh SMP Terpadu Dampasan. **

STAI Siliwangi Garut Wisuda 503 Lulusannya
GARUT, Medikom–Salah satu sekolah tinggi terkemuka di kota Garut, STAI Siliwangi pada Sabtu (15/5) yang baru lalu telah menyelenggarakan acara wisuda yang bertempat di gedung Pendodpo Kabupaten Garut. Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang berbasis agama atau keislaman, STAI Siliwangi selalu mengedepankan kualitas lulusannya dan hal tersebut bukan hanya isapan jempol belaka. Terbukti banyak lulusan STAI Siliwang Garut yang kini telah sukses atau bekerja di beberapa lembaga pendidikan ataupun instansi pemerintah lainnya. Bahkan tercatat dua orang lulusan terbaik STAI Siliwangi Garut sekarang telah menjadi guru besar bahkan profesor, dan pada waktu digelarnya wisuda di pendopo Garut sang guru besar pun hadir memberikan sambutan dan menyampaikan orasi ilmiah ditambah testimoni kesan-kesanya saat menimba ilmu di STAI Siliwangi Garut. Dalam kata sambutannya, Ketua Yayasan Pendidikan Islam AlMu’awanah H Obos Ahmad Basjah mengingatkan kepada para wisudawan/i untuk bisa mengamalkan ilmu yang selama ini telah didapat di STAI Siliwangi, dan hasil sejak dari bangku kuliah hingga jadi sarjana supaya bisa diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga kesarjanaan yang disandang tidak sekadar gelar belaka, namun harus mampu merealisasikannya secara komprehensif, dan yang terpenting para sarjana lulusan STAI Siliwang Garut bisa menjaga akhlakul karimah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Acara yang berlangsung khidmat namun meriah ini dihadiri para pejabat dari dinas terkait se Kabupaten Garut, selain Bupati Garut HM Aceng Fikri SAg, acara wisuda STAI Siliwangi Garut ini juga dihadiri oleh Oong Somarna MAg, Deden Suparman MA yang didampingi Prof Dr H Nurwadjah Ahmad EQ MA dan Koordinator Kopertais Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof Dr H Nanat Fattah Natsir MSi. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Siliwangi Garut merupakan salah satu dari 94 sekolah tinggi agama Islam yang ada di wilayah Jabar Banten yang telah berdiri sejak tahun 1976/ Tidak salah jika STAI Siliwang menjadi salah satu sekolah tinggi yang paling dibanggakan warga Garut khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Hingga kini tercatat tidak kurang dari 1.900 mahasiswa dan mahasiswinya telah menyandang gelar SAg (Sarjana Agama) dan SPdI (Sarjana Pendidikan Islam). Dari sekian banyak lulusan STAI Siliwangi Garut saat ini SDM-nya banyak diandalkan di berbgai sektor yang berkompeten, selain di lembagalembaga pendidikan formal, tak sedikit pula yang menempati pospos di Departemen Agama, Diknas bahkan di dinas- dinas yang ada di lingkungan pemda. Penyelenggaraan STAI Siliwangi Garut sendiri, yang beralamat di Jalan Raya Tutugan Leles Kabupaten Garut ini, telah mendapatkan legalitas yang didasarkan pada SK Deroktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama No.Dj.II / 201 tanggal 20 Juni 2008, dan terakreditasi dengan No. 005/BANPT/Ak-XII/S1/IV/2009 tanggal 24 April 2009. Acara wisuda STAI Siliwangi Garut 2010 ini dibuka secara resmi melalui Pembukaan Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Siliwangi Garut, oleh Drs H Rahmad Sudjana MSi, kemudian dilanjutkan dengan laporan dari ketua panitia wisuda oleh Puket (Pembantu Ketua) II Drs H Bubun Achmad Shobur MSi. Seusai acara prosesi pelantikan wisudawan/i STAI Siliwangi Garut yang dilanjutkan dengan pembacaan ikrar oleh seluruh peserta wisuda, menjelang azan zuhur berkumandang acara pun ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh KH Encep Fachrudin yang juga sesepuh Pondok Pesantren Syifaus Shudur Tarogong. (Kus)

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

Lintas
Lurah Urug Bantah Pemotongan Bantuan Gempa
TASIKMALAYA, Medikom–Lurah Urug Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya Drs Asep Hari menegaskan, tidak ada pemotongan kepada penerima bantuan bagi korban gempa di wilayah kerjanya. Ia dengan tegas membantah jika ada yang mengatakan staf dan pokmasnya melakukan pemotongan terhadap masyarakat penerima bantuan gempa rusak ringan yang baru dikucurkan minggu lalu sebesar Rp1 juta. “Saya rasa penerima bantuan gempa cukup normatif dan tidak ada komplen dari warga. Dan saya sudah sarankan kepada staf kelurahan dan pokmas jangan ada pemotongan pada masyarakat yang mendapat bantuan gempa berapapun dan apapun alasannya. Jangan sampai terjadi seperti di kabupaten lain ada pemotongan terhadap warga yang mendapatkan bantuan gempa,” tandas lurah yang mengaku sebagai wartawa juga dan selaku Ketua Asosiasi Lurah Kecamatan Kawalu kepada Medikom, Rabu (19/5). Kecuali, tambahnya, ada masyarakat yang menggantikan bekas biaya pembuatan proposal dan ongkos pulang pergi ke pemkot. Lantaran, dalam pembuatan proposal harus dilengkapi dengan rencana anggaran (RB). “Lurah darimana, sedangkan pokmas bukan satu. Kalau salah satu proposalnya gagal tidak diterima oleh pemkot, itu mesti diperbaikikan dan bulak-balik staf kelurahan ke pemkot. Ya warga tahunya menerima bantuan terima beres dan mengasihnya pun sukarela ke pokmas dan pendamping, berapa saja tidak ditarget mesti berapa,” tutur Asep Hari. Fakta yang terjadi di lapangan, ada warga yang hanya menerima Rp600.000 dan Rp800.000/anggota dari pokmas dan pendampinngnya. Seperti terjadi di Kampung Leuwinanjung Kelurahan Urug. Menurut sumber, yang Rp400 000 dan Rp200.000 lagi dipotong untuk biaya membuat proposal dan ongkos pokmas dan pendamping pulang pergi ke pemkot. (Tim)

8

Gepeng Sampai Tunawisma Asal “Kairo” Kena Sensus di Bogor
BOGOR, Medikom–Ratusan tunawisma dan gelandangan di wilayah Kota Bogor didata oleh petugas Sensus Penduduk 2010 (SP2010), sejak Sabtu (15/5) malam hingga Minggu (16/5) dinihari. Sekitar 50 petugas yang dibagi enam kelompok harus menelusuri emperan toko, kolong jembatan, dan lorong-lorong sudut Kota Bogor yang biasa dijadikan tempat persinggahan dan tempat tidur tunawisma dan gelandangan. Petugas mulai bergerak dari Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor di Jalan Layungsari Bogor Selatan sekitar pukul 22.00 WIB. Dari enam kelompok, setiap kelompoknya berjumlah antara lima sampai enam petugas ditambah satu petugas kepolisian. Kebanyakan tunawisma dan gelandangan yang disensus berada di wilayah Kecamatan Bogor Tengah, seperti di emperan pertokoan kawasan Jembatan Merah, stasiun kereta api, kolong Jembatan Merah dan kolong Jembatan Pasar Anyar Jalan MA Salmun, Tugu Kujang, Plaza Pangrago Jalan Pajajaran Kolong Jembatan Sungai Ciliwung Jalan Oto Iskandardinata, pertokoan Suryakencana. Untuk melakukan pendataan tunawisma dan gelandangan petugas harus bersabar, karena mereka tidak semuanya mengerti maksud dan tujuan kedatangan petugas. Selain harus membangunkan yang terlelap tidur, kedatangan petugas yang disertai kepolisian membuat mereka kaget, dan takut dirazia. Setelah diberikan penjelasan bahwa kedatangan petugas hanya untuk mendata, mereka pun mengerti dan mau memberikan keterangan indentitas dirinya. ”Nama Saya Apud (43) berasal dari Brebes Jawa Tengah, sudah 3 tahun tinggal di Bogor,” ujar salah satu pemulung yang dibangunkan petugas di emperan pertokoan kawasan Jembatan Merah. Ada hal yang unik, petugas sensus dikelompok tiga memberikan nama Deny kepada seorang gelandangan di sekitar Stasiun Kereta Api Bogor. Pasalnya, ketika petugas bertanya siapa nama dirinya, dia ternyata tidak ingat namanya. “Kalau anda lupa nama, bagaimana kalau saya berinama Deny,” ujar Agus S salah satu petugas sensus dari kelompok tiga. Mendapatkan panggilan nama Deny, sang gelandangan yang mengaku berasal dari Sukabumi sumringah. “Makasih pak saya sudah dikasih nama,” katanya sambil menyalami petugas. Hal yang menarik lainnya, ada salah satu gelandangan mengaku kelahiran Kairo Mesir. “Saya lahir di Kairo Mesir Pak, Saya tamatan SR (Sekolah Rakyat), usia saya sekarang sudah 99 tahun,” tutur tunawisma yang mengaku pernah berteman dengan Pahlawan Jendral Sudirman. Sang Tunawisma yang satu ini dengan lantang menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas. Saleh didata oleh petugas sensus kelompok 5 di emperen pertokoan Jalan Suryakencana. Sementara itu di bawah Jembatan Ciliwung Jalan Oto Iskandardinata petugas menemukan satu keluarga yang dihuni oleh lima jiwa. Mawi (62) yang mengaku sebagai kepala keluarga (KK) sudah puluhan tahun tinggal di kolong Jembatan Sungai Ciliwung, dan memiliki KTP Kelurahan Babakan Pasar Kecamatan Bogor Tengah. Kesehariannya Mawi dan keluarganya bekerja sebagai pemulung. Kepala BPS Kota Bogor Sugati menyatakan, SP2010 targetnya seluruh warga negara terdata, termasuk gelandangan atau yang tidur di jalanan karena tidak memiliki rumah termasuk orang telantar dan anak-anak jalanan. Menurut Sugati, pendataan penduduk tuna wisma dan gelandangan dilakukan tengah malam hingga menjelang pagi ketika sedang tertidur. Hal ini untuk memudahkan mencari dan mendatanya. “Mendata tunawisma dan gelandangan harus bersabar sebab kalau orang terlelap tidur dibangunkan biasanya akan kaget, bahkan kebingungan. Tapi kami tetap berusaha agar mereka mau didata,” katanya. PGOT marak Pengemis Gelandangan dan Orang Telantar (PGOT) banyak berkeliaran di Kota Bogor. Oleh karenanya, sensus penduduk 2010 bagi tunawisma dan gelandangan sangat penting untuk menentukan solusi terbaik bagi Pemerintah Kota Bogor dalam menangani PGOT. “PGOT merupakan bagian dari masyarakat Kota Bogor, makanya dengan diperolehnya data yang akurat dan lengkap diharapkan akan ada solusi yang terbaik dalam menangani permasalahan sosial di Kota Bogor,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Saeful Anwar sebelum acara pelepasan petugas sensus yang akan mendata tunawisma dan gelandangan, di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Jalan Layung Sari Bogor Selatan, Sabtu (15/5) malam. Menurut Saeful, identifikasi terhadap PGOT di Kota Bogor diharapkan diperoleh data yang akurat dan diperoleh data yang pasti mengenai penduduk Kota Bogor. “Disdukcapil Kota Bogor berkepentingan dalam sensus kali ini, untuk mendapatkan data akurat kependudukan yang pasti,” ujar Saeful. Kepala Bidang IPDS Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat H Ruslan mengatakan, pendataan tunawisma dan gelandangan dilakukan serempak di seluruh Indonesia, yang merupakan bagian dari kegiatan Sensus Penduduk Tahun 2010 (SP2010). Ruslan menyebutkan data yang terkumpul bukan semata untuk kepentingan BPS, tapi BPS hanya pengejawantahan implementasi dari UU No 16 tentang Stastik, yang bertanggung jawab dalam pengumpulan data. Sedangkan hasilnya nanti, kata dia, BPS akan menyerahkan ke masing-masing pengambil kebijakan sesuai kepentingan yang dilakukan baik melalui program Pemerintah Pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Pendataan dilakukan terhadap semua penduduk tanpa terkecuali, termasuk tunawisma dan gelandangan,” ujarnya. Menurut dia, data penduduk yang disensus menggambarkan potret penduduk pada tahun 2010. “Sensus penduduk sangat penting terkait rencana pembangunan ke depan,” kata nya. Ruslan menyebutkan, data yang akan dihasilkan nanti berbeda dengan data-data sebelumnya. Sebab, sensus penduduk kali ini lebih tepat kepada sasaran program. “Jadi akurat dan tidaknya data itu, ada dua unsur yang menentukan yakni siapa yang mendata dan siapa responden,” jelasnya. Oleh karena itu, lanjut Ruslan, seberapa bagusnya petugas yang disiapkan kalau responden tidak menjawab jujur dan apa adanya tidak akan ada artinya. Sebaliknya jika petugas tidak melakukan SOP (Standar Operasional) yang telah ditentukan data yang ada tidak akan akurat. “Makanya, data yang benar akan menghasilkan data yang berkualitas untuk menentukan arah kebijakan pembangunan ke depan,” imbuhnya. (Gan)

34 Peziarah Asal Indramayu Tenggelam di Segara Anakan
CIAMIS, Medikom-Sebanyak 34 orang peziarah asal Kabupaten Indramayu Jawa Barat, beserta satu awak kapal/nahkoda, Ludy, asal Dusun Giri RT 01 RW 03 Desa/Kecamatan Kalipucang Kabupaten Ciamis, yang tengah membawa rombongan peziarah tersebut, tenggelam di perairan sungai Segara Anakan Citanduy Jawa Barat-Majiklak Jawa Tengah, Minggu (9/5), kurang lebih pukul 10.00 WIB. Kecelakaan yang terjadi di perairan sungai Segara Anakan Citanduy ini setelah rombongan asal Kabupaten Indramayu itu usai melangsungkan ritual ngalap berkah di Gua Masigit Sela, Desa Kelaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, dan akan menuju Pelabuhan Santolo Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis. Namun bernasib sial, rencana awak beserta penumpang kapal/ compreng tersebut mengalami kendala. Tepat di daerah Dusun Rawa Apu, RT 03 RW 08 Desa Rawa Apu Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, kapal tersebut mengalami hilang kendali, kemudian menabrak tembok pembatas sungai, dan akhirnya tenggelam. Akibat dari kejadian tersebut, pada hari Minggu (9/5) sebanyak 23 jiwa selamat, meski perlu perawatan medis lebih lanjut dengan cara dilarikan ke Puskesmas Kalipucang, Kabupaten Ciamis. Sementara yang meninggal tiga orang, yakni Warti (45) dan Ratmini (50) beralamat sama, yaitu Dusun Sabrang Wetan, RT 13 RW 05 Desa Anjatan Utara, Kabupaten Indramayu, dan Casminah (55), asal Dusun Kedungmulya RT 02 RW 05 Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu. Data dari Puskemas Kalipucang, penumpang yang selamat pada kecelakaan di perairan Segara Anakan Citanduy-Majiklak adalah Rasikem (48), Eli (4,5), Sutarim (50), Sarno (48), Sukinah (45), Dilam (35), H Samad (45), Nana (38), warga Anjatan Baru, Indramayu. Selanjutnya, Mursijah (40), Warkidi (45), Gani (41), Sunerih (42), Tasem (51), Duki (30), Mastur (60), Ranti (50), warga Sabrang Wetan, Anjatan Utara, Indramayu. Kemudian, Wasdika (48), warga Karangmalang, Karsini (43), warga Karangmalang, Anjatan Lama, Dastinah (16), Rahmat (56), Kampung Kedungdawa, Desa Sukra, Indramayu. Ananta (26), Irfan (65) warga Limpas Patrol, Indramayu, dan seorang nahkoda kapal, Ludi (48), warga Desa Girisetra, Kecamatan Kalipucang, Ciamis. Disusul Selasa (18 Mei) lima korban ditemukan dalam keadaan meninggal, yakni, Wardi (50), Desong (60) asal Desa Limpasan, serta Konas (40), Dursipan (45), dan Dasma (50), asal warga Rebeng Wetan, Kabupaten Indramayu. Hingga Jumat (21 Mei) masih dilakukan upaya pencarian dari tim SAR gabungan dan lokal “Sawunggalih” Majiklak. “Sementara dua korban lagi masih dalam pencarian hingga sore ini,” terang Kapolsek Kalipucang, AKP Edih Purmana, kepada Medikom, Jumat (21/5), melalui telepon selulernya. (Herz/Ipan)

Harkitnas Gelorakan Semangat Nasionalisme
DELI SERDANG, Medikom–Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harikitnas) ) ke-102, Kamis (20/5) di Lapangan Alun-alun Pemkab Deli Serdang di Lubuik Pakam. Untu Dan-up dipegang Kapten Inf Asrul Harahap dari Yon 121/MK, serta pembaca undang-undang Sukri SSTP, diikuti peserta upacara yang terdiri dari pelajar SMA, SMP, Pramuka, TNI/Polri dan PNS Pemkab Deli Serdang. Hadir pada upacara Wabup H Zainuddin Mars, Muspida plus, Unsur DPRD Deliserdang, Sekdakap Drs H Azwar, Ketua Tim PKK Hj Anita Amri Tambunan, Ketua GOP TKI Hj Asdiana Zainuddin, Percit KCK, Bayangkari, serta SKPD jajaran Pemkab Deliserdang. Menteri Komonikasi dan Informatika RI Ir H Tifatul Sembiring dalam pidatonya yang dibacakan Bupati Deli Serdang Drs H Amri Tambunan mengatakan memperingati Hari Kebangkitan Nasional dimaksudkan untuk menggugah dan menggelorakan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme. Hal ini agar tetap hidup dan terjaga dalam hati sanubari masing-masing. Usai upacara Bupati beserta Wabup dan Muspida Plus, Veteran dan undangan lainnya melakukan ziarah ke Makam Pahlawan Segitiga Lubuk Pakam, untuk mengenang jasa- jasa para pahlawan yang telah gugur. (R David Sagala)

Pengemplang Dana Bansos Sumedang, Pembangunan Sarana dan Prasarana Siap-siap Masuk Bui? Jalan di Sukabumi Akan Dituntaskan
SUKABUMI, Medikom–Demi lancarnya arus transportasi baik dari maupun menuju Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jabar akan merealisasikan sejumlah program pembangunan sarana dan prasarana transportasi angkutan darat di wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi. Rencananya, pembangunannya dituntaskan tahun depan. Di antaranya, penyelesaian pembangunan tahap dua terminal bus baru yang berada di jalan-jalur Kota Sukabumi. Kemudian, pembangunan jalan tembus yang menghubungkan terminal baru dari arah barat dan timur Kota Sukabumi. Selanjutnya, pembangunan jembatan timbang yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor dan pengoperasian kembali kereta api Sukabumi-Bandung. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jabar Dicky Saromi mengatakan, akan terus mengupayakan melanjutkan pembangunan tahap kedua terminal bus Kota Sukabumi. Penyelesaian pembangunan terminal Tipe A tersebut dirasakan semakin mendesak, dikarenakan terminal yang ada saat ini dianggap sudah tidak memadai untuk menampung jumlah kendaraan. “Bahkan kami telah mengajukan anggaran ke pemerintah pusat untuk kelanjutan pembangunan tahap kedua terminal yang berlokasi di jalan jalur Kota Sukabumi tersebut. Terangnya, ketika melakukan sosialisasi keselamatan berlalulintas di jalan raya, di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kota Sukabumi, Kamis (20/05). Selain itu, pembangunan akses jalan yang menghubungkan terminal baru ke wilayah barat Kota Sukabumi. Akses tersebut katanya sekaligus sebagai pengalihan arus kendaraan dari arah Jakarta menuju Cianjur. Mengenai pembangunan jembatan timbang yang berlokasi di perbatasan Sukabumi-Bogor, Dicky menjelaskan sudah melakukan tahap pembebasan lahan seluas 8.000 meter persegi. Biaya pembangunannnya telah diajukan ke pemerintah pusat. “Dana yang dibutuhkan pembangunan tersebut idealnya di atas Rp10 miliar. Mudahmudahan kalau semuanya lancar tahun 2011 sudah dapat dimulai pengerjaannya,” ujarnya. Dicky juga berharap pada tahun yang sama ini, pengoperasian kereta api jalur Sukabumi- Bandung bisa terwujud. Dengan pengoperasian tersebut, maka jalur BandungSukabumi–Bogor kembali aktif. Dalam acara sosilaisai keselamatan berlalulintas, Dishub Provinsi Jabar membagikan 150 helm Standar Nasional Indonesia (SNI) di Jalan Perintis Kemerdekaan kepada pengendara roda dua, dilanjutkan sosialisasi kepada siswa SMAN 1 Kota Sukabumi. Kepala Dinas Perhubungan Kota Sukabumi Andri Setiawan mengatakan, sosialisasi keselamatan berlalulintas sebagai upaya menekan tingkat korban kecelakaan di jalan raya. Dikatakan, sebagian besar korban kecelakaan di jalan raya karena tidak menggunakan helm standar. Kepala SMAN 1 Kota Sukabumi Tatang menyambut baik adanya kegiatan ini, karena sosialisasi keselamatan harus ditanamkan sedini mungkin. Apalagi, 30 persen siswanya membawa kendaraan roda dua. Jadi dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan semua siswa khususnya yang mempunyai kendaraan roda dua bisa memahami makna arti dari keselamatan sehingga saat mengendarai motor di jalan tidak ugal-ugalan. (Arya) SUMEDANG, Medikom– Pengusutan tuntas kasus Bantuan Sosial (Bansos) tahun 2008-2009 yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat, sekitar Rp24 000.000.000 di wilayah hukum Pemkab Sumedang, sepertinya akan memasuki babak baru yang menggemparkan. Diperkirakan, sejumlah pejabat maupun anggota Dewan yang terhormat akan terseret dalam kasus tersebut. Benarkah? Prediksi tersebut boleh jadi menjadi kenyataan, selepas pergantian Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Sumedang, yang saat ini ditempati Andri Juliansyah Skom SH. Sejumlah pihak berharap, Kepala Seksi Intelijen yang baru ini tidak terkontaminasi dengan pola pendahulunya. “Kita berharap, dengan Kasi Intel yang baru, dugaan pengemplangan dana Bansos Sumedang dapat diusut sampai tuntas dan tidak tebang pilih,” ujar sumber Medikom yang tidak bersedia disebut identitasnya di lingkungan Setda

Bersikap Netral, Pengurus PWI Indramayu menyerahkan pernyataan sikap netralitas wartawan kepada Bupati DR H Yance di ruang dalam Pendopo, Selasa Malam (15/5). (Foto: H Yonif Fatkhurony)

Terkait Isu Menduduki Pendopo, Wartawan Bersikap Netral
INDRAMAYU, Medikom–Beredarnya sms tentang rencana aksi besarbesaran oleh sekelompok massa yang ingin mengacaukan situasi Indramayu dengan melibatkan wartawan, membuat kondisi Indramayu sempat memanas. Akibatnya tidak sedikit pula wartawan menerima ancaman serta teror baik melalui sms maupun terhadap wartawan itu sendiri. Terlebih lagi sempat muncul adanya garis putih dengan garing kuning. Kondisi itulah yang benar-benar disesalkan oleh wartawan Indramayu baik yang tergabung dalam organisasi PWI, KWRI, maupun AJII. Mereka tidak mau dikambinghitamkan dari tuduhan sebagai provokator biang keributan, apalagi menjelang momen akbar Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati paad 18 Agustus mendatang. Menyikapi kondisi tersebut, puluhan wartawan Indramayu dari berbagai media cetak Selasa malam yang lalu (18/5) melakukan audiensi dengan Bupati Yance. Mereka menyampaikan pernyataan sikapnya, bahwa wartawan bersikap netral. Pimpinan rombongan Resman Sembiring mengatakan, pertemuan ini sangatlah penting dilakukan guna meluruskan persepsi yang selama ini beredar adanya isu wartawan akan turun ke jalan, sekaligus menetralisir suhu politik di Indramayu yang sempat memanas. Menurutnya, wartawan tetap akan menjaga independensi dan netralitas. “Para wartawan tidak mau terjebak dalam kancah politik praktis, karena hal itu justru akan membuat jatuh citra wartawan di masyarakat,” ujarnya seraya menegaskan beredarnya sms tentang rencana aksi demo tersebut diduga dilakukan oleh oknum dan bukan mengatasnamakan organisasi wartawan. Senada dengan Resman, Dewan Penasihat PWI Imam Santoso mengatakan dirinya merasa prihatin adanya isu gerakan yang sempat beredar melalui sms yang akan dilakukan wartawan. Dia juga merasa sedih saat mendengar adanya oknum wartawan yang mengorbankan etika profesinya sebagai seorang jurnalis hanya untuk kepentingan pribadinya. “Kita boleh mengkritik kinerja seseorang termasuk mengkritik Bupati. Tetapi kritikan tersebut hendaknya berdasarkan bukti dan fakta, bukan fitnah apalagi adu domba,” tandas Imam, wartawan senior Indramayu. Bupati Yance menyampaikan apresiasi positif adanya pertemuan dengan para wartawan. Bupati juga mengajak untuk sama-sama menjaga situasi Indramayu yang sudah kondusip, apalagi menjelang Pemilihan Kepala Daerah. Dijelaskan sebagai seorang pemimpin dirinya siap untuk dikritik asalkan bersifat membangun dan bukan fitnah. “Nah kalau saya dituduh korupsi, dituduh jual beli jabatan, apalagi dituduh jual beli proyek, tolong tunjukkan buktibukti tersebut sehingga tidak menimbulkan fitnah dan adu domba,” ujarnya seraya menegaskan tidak takut disumpah. Jangankan satu Alquran, seribu Alquran pun siap untuk disumpah. Dalam perkembangan yang sama Bupati juga menjelaskan soal pencalonan Hj Anna Sophana sebagai calon Bupati yang dituding sebagai penunjukan sepihak. Menurutnya, semuanya itu sesuai juklak. “Ketika muncul nama Ibu (Hj Anna Sophana, Red), itu adalah kehendak partai dan bukan kehendak saya, kemudian yang perlu dicatat kalau tidak ada dukungan dari rakyat, saya juga tidak mengizinkan, tetapi karena dukungan dari rakyat sangat besar, maka dia saya izinkan,” ungkapnya seraya menegaskan, dari hasil survei sampai pertengahan Mei 2010, Hj Anna Sophana sudah mengantongi 58% (H Yonif)

Sumedang. Sumber tersebut lebih jauh mengungkapkan, bila tidak jelas pengusutan dana Bansos tahun 2008-2009, maka dapat dipastikan, dana Bansos selanjutnya akan tetap menjadi bancakan. “Harus ada keseriusan dari pihak Kejaksaan Sumedang, kalau tidak jangan harap Bansos ke depannya bisa disalurkan dengan baik. Proses yang diharapkan itu adalah proses yang menimbulkan efek jera,” imbuhnya. Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Sumedang Andri Juliansyah saat bincang-bincang dengan Medikom di ruang kerjanya, Jumat (21/5) lalu mengatakan, sedang mempelajari kasus dana Bansos tersebut. “Saya sudah diperintahkan Kajari untuk mengusust tuntas dana Bansos. Saat ini sedang saya pelajari dulu, soalnya saya ini kan masih baru. Tapi yang jelas, perintah Kajari, usut tuntas dana Bansos, dan tidak ada kompromi,” ujar Jaksa yang masih muda dan ganteng ini antusias. (Aidin Sinaga)

Rapat Konsultasi PKK DS Dibuka
LUBUK PAKAM, Medikom– Tim Penggerak PKK Deliserdang menggelar Rapat Konsultasi Tahun 2010 di Gedung PKK Deliserdang di Lubuk Pakam, Selasa (18/5). Hadir pada acara, Ketua Tim Penggerak PKK Deliserdang Ny Anita Amri Tambunan dan unsur pengurus, para pimpinnan SKPD, para camat se-Kabupaten Deliserdang selaku Dewan Penyantun PKK Kecamatan, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan dan Desa seKabupaten Deli Serdang serta undangan lainnya. Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan dalam sambutannya yang disampaikan Sekda Dr H Azwar S MSi mengatakan, penyelenggaraan rapat konsultasi merupakan momentum penting untuk memosisisikan Tim Penggerak PKK di semua tingkatan agar menjadi lebih eksis dan mampu sebagai mitra kerja pemerintah daerah. Program kegiatan yang diarahkan bagi tercapainya sasaran, telah banyal dilakukan oleh Tim Penggerak PKK di antaranya melalui aktivitas di bidang pendidikan dan keterampilan. Tentunya yang diorientasikan kepada upaya peningkatan ketahannan keluarga, kesehatan keluarga dan pendapatan keluaraga. Lebih jauh Bupati menegaskan, melalui Sepuluh Program Pokok PKK, ingin membentuk kehidupan masyarakat yang maju dan memiliki derajat kesehatan yang tinggi baik secara fisik maupun mental. Di samping itu, mendidik serta membiasakan hidup berencana untuk membangun perekonomian keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Deli Serdang Anita Amri Tambunan dalam pidatonya menyatakan, ada beberapa program prioritas yang menjadi pembahasan dalam Rapat Konsultasi di antaranya kebijakan umum TP PKK, Sepuluh Program Pokok PKK, peningkatan kinerja dan fungsi kesekretariatan, peningkatan kinerja pokja I s.d. pokja IV dan beberapa penegasan berkaitan dengan isu yang berkembang belakangan ini. Ketua Panitia Rapat Konsultasi Tim Penggerak PKK Kabupaten Deliserdang Asdiana Zainuddin Mars melaporkan, dasar pelaksanaan acara ini adalah dari hasil rapat konsultasi PKK Provinsi dan Kabupaten/Kota se- Sumatra Utara tanggal 20 s.d. 21 Oktober 2009. Sementara maksud dan tujuan rapat konsultasi tersebut, untuk menghasilkan suatu kesepakatan bersama yang dapat dijadikan acuan di lapangan. (R David Sagala)

“Grand Launching” Hijau Parahyangan di Geger Hanjuang
TASIKMALAYA, Medikom–Wakil Bupati Tasikmalaya H E Hidayat SH MH menghadiri acara Grand Launching Hijau Parahyangan yang diselenggarakan di Geger Hanjuang Kecamatan Leuwisari, Kamis (20/ 5). Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan Republik Indonesia Zulkifli Hasan, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikma-laya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikma-laya, Kapolres Tasikmalaya, Pimpinan TNI wilayah Tasikmalaya, Muspida serta unsur terkait lainnya. Dalam sambutannya Wakil Bupati mengatakan, sumber daya hutan dan lahan sebagai penyangga kehidupan perlu dikelola dan diperta-hankan keberadaannya secara berkeadilan dan berkelanjutan untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Dewasa ini, jelas Wabup, kelestarian hutan dan lahan menjadi wacana publik dengan semakin meningkatnya fenomena bencana alam, longsor dan banjir di musim hujan, kekeringan di musim kemarau serta terjadinya pemanasan global dunia yang semakin meng-khawatirkan. Kondisi ini menuntut adanya tindakan penanganan arif dan bijaksana di mana pengelolaan hutan dan lahan seyogianya dikembalikan pada prinsip pengelolaan yang berkelanjutan, yakni melalui pendekatan ekosistem yang mempertimbangkan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial. Wakil Bupati juga menyampaikan beberapa permohonan kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia, di antaranya usulan dana alokasi khusus untuk fasilitasi kegiatan perlindungan hutan dan pembangunan hutan rakyat dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan di Kabupaten Tasikmalaya, pemba-ngunan hutan kota, dan pem-bangunan akses jalan ke wilayah Galunggung. Menteri Kehutanan Republik Indo-nesia Zulkifli Hasan menyampaikan apresiasi positif atas dilaksanakannya kegiatan Grand Launcing Hijau Parahiyangan. Menanggapi permohonan Wakil Bupati, jelasnya, Kementerian akan memberikan dana sebesar Rp1,3 juta/hektare untuk penanaman bibit yang sudah layak tanam. Untuk pembangunan hutan kota, Menteri mendukung sepenuhnya dengan menyarankan pihak Pemerintah Kabupaten menyediakan lahan seluas-luasnya sedangkan masalah pembibitan serta penanaman pohon akan dibantu oleh Kementerian. Kunjungan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan ke Tasikmalaya untuk membuka Kongres Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) se Jawa dan Madura di Kawalu Tasikmalaya yang diikuti oleh 140 peserta dan perwakilan LMDH per KPH Perhutani. Kongres berlangsung dari Kamis-Sabtu (2022 Mei). (A Cucu)

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

9

Pernak pernik
Si Monyong Ancam Desa Pilangsari
MAJALENGKA, Medikom-Kecamatan Jatitujuh merupakan salah satu kecamatan lumbung padi di Kabupaten Majalengka dan memiliki jaringan irigasi yang memadai. Tidak heran jika tiap musim panen menghasilkan padi yang melimpah, sehingga petaninya bisa untung dan masyarakat tidak mengalami kekurangan pangan. Perolehan panan pada musim tanam ke satu, petani mendapat keuntungan yang cukup. Sementara untuk musim tanam kedua tahun ini diperkirakan akan menurun disebabkan si monyong (sebutan untuk hama tikus) menyerang tanaman padi, khususnya di Desa Pilangsari. Apabila masyarakat tidak bisa mengendalikan si monyong, jelas petani akan merugi. Bahkan petani di Desa Pilangsari akan rawan pangan. Turohman, Kepala Desa Pilangsari menuturkan, si moyong mulai menyerang mulai beberapa minggu lalu. Untunglah masyarakat gencar, tiap hari melakukan pemberantasan dengan cara pengemposan dengan memakai berbagai macam obat. Bahkan petani memakai bubuk cabai rawit kering yang digiling. “Dan hasilnya cukup berhasil, walau sampai saat ini belum sampai siaga 1, kami sebagai kepala desa masih riskan karena pemberatasan hama tikus tidak diikuti oleh desa tetangga,” kata Turohman.(Tang/Jur)

Kejari Sumedang Diduga Petieskan Kasus Desa Cibeureyeuh
SUMEDANG, Medikom–Meski tergolong kecil-kecilan, alias kelas teri, penanganan berbagai kasus korupsi di Kejaksaan Negeri Sumedang, Jawa Barat, beberapa bulan terakhir tergolong meningkat. Paling tidak, salah seorang anggota DPRD Sumedang dari Fraksi Golkar Romli Firdaus, saat ini sudah meringkuk di balik tembok penjara. Namun, yang menarik, dari berbagai kasus yang sudah diendus pihak Kejaksaan Sumedang tersebut, beredar kabar, satu di antaranya, yaitu kasus Desa Cibeureyeuh, Kecamatan Conggaeng, dicurigai sejumlah pihak sudah masuk dalam daftar aman, alias dipetieskan. Kecurigaan tersebut boleh jadi bukan tanpa alasan, soalnya dugaan penyelewengan uang rakyat sekitar Rp140.000.000 di desa tersebut, sampai berita ini diturunkan tidak diketahui juntrungannya. Padahal, jauh sebelumnya berbagai pihak sudah telanjur mengetahui bahwa Kejaksaan Sumedang sudah memprosesnya. Konon, yang harus bertanggung jawab atas dana tersebut, saat ini sudah menjadi anggota DPRD yang terhormat. Informasi yang berhasil dihimpun Medikom mengungkapkan, uang rakyat yang diduga diselewengkan tersebut, bersumber dari APBD tahun 2006 silam sebesar Rp60.000. 000 yang seyogianya untuk pengadaan lahan dan bangunan Kantor Desa Cibeureyeuh, Kecamatan Conggeng. Selanjutnya, tahun anggaran 2007, desa tersebut mendapat kucuran dana bansos sebesar Rp25.000.000 dan bantuan Bupati Sumedang sebesar Rp35.000.000. Lagi-lagi tahun 2009 desa yang satu ini juga mendapat kucuran dana Bansos sebesar Rp20.000.000. “ Kejaksaan Sumedang sudah menangani kasus ini, bahkan sekdes maupun kepala desa sudah dimintai keterangan. Sayangnya, sampai sekarang tidak jelas di mana rimbanya,” ujar sumber Medikom yang enggan disebut identitasnya. Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Sumedang Eman Suherman, ketika dikonfirmasi Medikom, Jumat (21/ 5) lalu dengan tegas mebantah bahwa kasus tersebut dipetieskan. “Boleh saja masyarakat mengatakan bahwa kasus tersebut diendapkan atau dipetieskan. Namun yang pasti, kasus tersebut tidak diendapkan. Tidak ada dipetieskan,” ujar Eman. Lebih jauh Eman mengungkapkan, pihaknya sangat kesulitan soal kelengkapan data. Soalnya, rekening desa masih dipegang mantan kepala desa berinisial ET, yang saat ini menjadi anggota Dewan Sumedang. “Kita sangat kesulitan soal data. Sekdes maupun kepala desa waktu kita panggil dan diklarifikasi, kebanyakan menjawab tidak tahu. Jadi, maslahnya hanya datanya yang belum lengkap, makanya untuk sementara kita pending dulu, dan ET sendiri belum kita panggil,” ujar Eman. Sementara itu, ET, belum berhasil dikonfirmasi, karena yang bersangkutan sedang reses. (Aidin Sinaga)

Gubsu Usul 25% Bagi Hasil Perkebunan untuk Daerah

Harus Dioptimalkan Saluran Pembuang di Puloerang
CIAMIS, Medikom-Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy sebaiknya harus segera bisa memperbaiki saluran irigasi yang ada di Kecamatan Purwodadi Kabupaten Ciamis. Soalnya, saluran pembuang yang ada di salah satu dusun yang terdapat di Desa Puloerang, keberadaannya sudah tidak kondusif dan tidak berfungsi. Bahkan saluran tersebut nyaris hilang akibat kurangnya perawatan maupun perhatian secara maksimal dari pihak terkait. Kepala Desa Puloerang, Agus Sudrajat, saat ditemui Medikom, Kamis (20/5), di kediamannya, mengatakan, perbaikan saluran irigasi harus segera dilakukan atau dioptimalisasi, mengingat jika turun hujan, air meluap hingga ke perkampungan sehingga melumpuhkan aktivitas warga. Dirinya meminta saluran yang ada di wilayahnya segera diperbaiki, selain itu karena saluran tersebut menuju ke wilayah Desa Sukamulya Kecamatan Purwodadi yang kebetulan sumber saluran irigasi. “Irigasi ini sangat vital karena apabila musim hujan di wilayah pemukiman warga di sana, tergenang air. Makanya pemerintah sebaiknya segera memperbaiki saluran irigasi ini, daripada terus meluap ke warga hingga bisa tergenang air. Apalagi genangan air ini bisa merugikan warga di lima dusun tersebut,” terang Agus Sudrajat, Kamis, (20/5). Menurutnya dengan kejadian ini masyarakat di sekitar menjadi resah. Jika saluran irigasi tersebut tidak efektif dan tidak terpelihara, tidak bisa menampung air sehingga meluap ke mana-mana. “Maka dari itu kami meminta pihak BBWS yang mempuyai wilayah lokasi di sini bisa secepatnya memperbaikinya,” ujarnya. “Wajar saja kami meminta pihak BBWS untuk segera memperbaikinya karena selama ini letak kawasan di daerah kami tidak terserap, akibat banyaknya kerusakan dan saluran irigasi tidak efektif dan kurang perawatan,” lanjutnya. Tidak adanya perawatan maupun kerusakan saluran irigasi, lanjut Agus S, sebenarnya tidak hanya terjadi di saluran Irigasi Puloerang, akan tetapi di beberapa saluran irigasi lainnya, seperti irigasi yang ada di Desa Sukamulya mengalami hal yang sama. Dirinya khawatir dengan kondisi terus-terusan seperti itu, justru air sawah bisa meluap dan menggenangi daratan warga sekitar. Menurutnya, perbaikan atau pemeliharaan saluran irigasi diperlukan. Pasalnya, warga beberapa kampung lainnya yang berprofesi sebagai petani dan buruh tani sangat tergantung pada saluran irigasi itu. “Apabila saluran irigasi tersebut diperbaiki, otomatis dari hasil panen bisa mempengaruhi. Masalahnya, apabila musim panen petani jadi terus merugi, bisa dibayangkan petani bisa satu tahun sekali panen, akibat saluran irigasi selama ini belum disentuh perawatan dan perbaikannya,” tutur Agus. Di tempat terpisah, menurut salah satu anggota Komisi 3 DPRD Kabupaten Ciamis, Wowo Kustiwa, dinas terkait sebaiknya terjun langsung ke lapangan untuk segera meninjau lokasi. “Soalnya ini menyangkut hajat hidup orang banyak, perlu perhatian khusus dan secepatnya,” ujarnya kepada wartawan, saat dimintai tanggapannya. (Herz)

Meroe Buka Outlet Bolo Strong Distro di Tangerang
TANGERANG, Medikom-Dalam usianya yang masih sangat muda, Meroe sudah mampu mencapai posisi yang menjanjikan dalam kehidupannya. Posisi tersebut tentu tidak terlepas dari kepintaran dan kerja keras yang telah lama dilakoninya, sehingga bisa menjadi orang yang sukses seperti sekarang ini. Kesuksesan ini juga berkat dukungan yang diberikan orang tua serta istri tercintanya. Di balik kesederhanannya, ternyata anak Motor Club Merzy ini sangat tegas dan kreatif terhadap masalah apa saja. Membuka Outlet Bolo Strong Distro di Jalan Pajajaran No 113 Perum Tangerang, juga karena dirinya terpanggil selaku pencinta motor. Maka diharapkan temantemannya pencinta motor hadir pada Bolo Strong Distronya. Pada pembukaan Bolo Strong Distro tersebut hadir Club Benteng Merzy (CBM) Tangerang, serta pencinta motor/automotive lainnya. Mereka tidak terfokus hanya pada satu klub motor. “Mereka juga mengharapkan menjadi orang sukses dan menjadi pengusaha terkenal dengan membuka distro di mana-mana,” ujar Meroe. Menurutnya, dengan adanya teman-teman kita akan sukses. “Di situlah kuncinya jadi orang sukses, dengan didorong teman-teman yang lainnya,” katanya. Selain pakaian, dirinya juga menyediakan asesoris/atribut pakaian maupun pernik-pernik, assesoris motor, juga pakaian kaos dari anak kecil sampai orang dewasa yang modis dan dilengkapi dengan Bykes shoop. “Jadi kita dari Tangerang tidak perlu lagi ke Bandung, karena sudah disediakan semuanya dari produk Bandung, dengan harga pun bersaing juga dengan harga Bandung,” katanya. (AgsS)

MEDAN, Medikom-Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Syamsul Arifin SE kembali menggemakan tuntutan bagi hasil sektor perkebunan di tingkat forum strategis nasional. Hal itu sudah lama menjadi harapan sejumlah provinsi di Indonesia, termasuk Provinsi Sumut. Ketika mendapat kesempatan berbicara, Selasa (20/4), pada sidang Pokja Bidang Perekonomian pada Rapat Koordinasi Bersama, yang dibuka Presiden RI H Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Bali, Gubsu mengusulkan dana bagi hasil perkebunan bagi daerah sebesar 25 persen. Hal tersebut disampaikan Kadis Kominfo Sumut Drs H Eddy Syofian MAP, di kantor Gubsu di Medan, pekan kemarin. Dikatakan, Gubsu pada sidang Pokja Bidang Perekonomian tersebut, menyampaikan empat butir pernyataan yang cukup penting dalam rangka sinergisitas antara pusat dan daerah. Keempat butir dimaksud, yaitu agar dana bagi hasil perkebunan menjadi perhatian dan sumber pembiayaan daerah dalam membangkitkan ekonomi daerah, pembangunan trans railway atau kereta api lintas sumatera, terutama ke Aceh dan Riau, termasuk ke Kualanamu, khususnya dalam angkutan barang dan penumpang seperti CPO. Selanjutnya dana CSR diperlukan untuk pembangunan ekonomi daerah dan diharapkan menjadi perhatian BUMN, serta ditingkatkannya pertemuan presiden dengan gubernur se-Indonesia dalam rangka membahas percepatan pembangunan ekonomi daerah. Pada forum ini keempat butir tersebut direspons baik oleh Menteri Perhubungan, Menteri PU dan Menteri Keuangan, guna ditindaklanjuti. Secara umum, Rapat Koordinasi Bersama Presiden, Wapres, Menteri Kabinet Indonesia Bersatu 2, pimpinan BUMN, pakar teknologi, Kapolri, kejaksaan, Panglima TNI, gubernur, ketua DPRD provinsi se-Indonesia, kadin, dunia usaha, perbankan, kepala bappeda dan Bappenas. (SS)

Wakil Bupati DS Buka Muscab I Akli
LUBUK PAKAM, Medikom–Wakil Bupati Deli Serdang H Zainuddin Mars membuka secara resmi Musyawarah Cabang Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Lubuk Pakam, Selasa (18/5) di Aula Dinas Infokom Deli Serdang. Hadir dalam acara tersebut, Camat Lubuk Pakam Sariguna Tanjung, Kabid Pengelolaan Data Informasi Dinas Infokom Drs Ronal Manurung, Manajer PT PLN Lubuk Pakam, dan Ketua AKLI Sumut Rolan Siahaan SE. Dalam sambutannya Wabup mengatakan keberadaan asosiasi pengusaha pada dasarnya untuk mewujudkan iklim dan tata hubungan yang mendorong kerja sama yang serasi baik dengan pemerintah maupun antarpengusaha. “Dalam menghadapi pelaksanaan ekonomi kerakyatan yang menjadi arah pembangunan ekonomi saat ini, kita juga harus mampu memasuki jalur-jalur bisnis yang sifatnya terbuka dan bersaing. Diharapkan, AKLI Lubuk Pakam dapat menyusun program kerja yang berdaya guna dan realistis sehingga pada gilirannya akan mampu nantinya mendorong pertumbuhan pembangunan ketenaga-listrikan di daerah ini,” ungkap Wabup. Dikatakan, peran para pengusaha daerah yang berhimpun dalam AKLI cukup besar. Antara lain dapat diaplikasikan dengan menumbuhkan semangat rasa memiliki dan kepedulian terhadap kondisi dan permasalahan daerah, termasuk perlunya tanggung jawab yang tinggi setiap melaksanakan berbagai pekerjaan pembangunan kelistrikan di daerah ini. Ia juga berharap proses pemilihan kepengurusan AKLI berlangsung secara demokratis, terbuka dan dalam suasana kekeluargaan. Melalui forum musyawarah ini, tambahnya, akan dapat memilih pimpinan yang benar-benar profesional, berwawasan. “Siapapun yang terpilih, saya berharap dapat memberdayakan AKLI seoptimal mungkin,” tandasnya. Ketua AKLI Sumatera Utara Rolan Siahaan SE mengatakan, sesudah dibentuk Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Lubuk Pakam, DPC Lubuk Pakam harus berkoordinasi ke cabang Medan dan cabang Tebing Tinggi. Ia berharap kepada ketua terpilih, nantinya bisa bekerja sesuai dengan amanah yang sudah ada di dalam musda dan tidak lari dari etika. (R David Sagala)

Residivis Curi Kabel Telkom
SUBANG, Medikom–Adi Taryadi alias Karbit (31), warga Kampung Sukajadi Kelurahan Soklat Kecamatan/Kabupaten Subang, kembali ditangkap polisi. Residivis kambuhan yang baru keluar dari Lapas Subang ini, ketahuan melakukan aksi pencurian kabel Telkom di Jalan Pulau Timor, Cikalapa Kelurahan Pasirkareumbi, Subang. Kapolsekta Subang AKP Agus Sobri melalui Kanit Reskrim Polsekta Subang AIPTU Didin Wahyudin mengatakan, tersangka berhasil ditangkap berkat adanya laporan petugas jaga di PT Telkom Subang yang dikagetkan dengan adanya bunyi alarm di wilayah Cikalapa, Pasirkareumbi, Subang yang mengakibatkan saluran telepon di wilayah itu terputus. Petugas kemudian mengontak Polisi Sektor Subang yang langsung meluncur ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Belum juga sampai ke TKP, polisi memergoki seseorang membawa tas gendong lari di daerah itu. Petugas kemudian menghentikannya dan melakukan penggeledahan. Saat diperiksa, ternyata di dalam tas yang dibawa seorang pemuda itu berisi sebuah gergaji besi berikut tangkainya, pegangan golok dan sarung golok. Sebelumnya tersangka tidak mengakui perbuatannya. Namun setelah diinterograsi dan dibawa ke TKP, ditemukan potongan kabel telkom dan sebuah karung plastik, serta sebilah golok tanpa pegangan, akhirnya tersangka mengakui perbuatannya bahwa ia telah melakukan pencurian kabel Telkom sepanjang 1 gawang untuk 50 KU. (Ssp)

Pasar Tradisional Harus Siasati Persaingan
GARUT, Medikom-Pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat otomatis membuat para pelaku pasar tradisional harus mengantisipasi persaingan yang semakin beragam dan kompetitif bentuknya. Memang di era perdagangan bebas yang semakin mengglobal ini, keberadaan pasar tradisional kini semakin termarginalkan karena semakin tumbuh suburnya beragam pasar modern. Mulai dari minimarket hingga mal. Tampaknya, di kota besar pertumpuhan pasar modern dan sejenisnya semakin tak terkendali, mengakibatkan pasar tradisional agak sepi pembeli. Di Kabupaten Garut saja, kini tercatat tidak kurang dari 150 minimarket yang tersebar dari perkotaan hingga pinggiran kota Garut. “Tampaknya, zaman sekarang para konsumen, khususnya di kota Garut, lebih tertarik untuk berbelanja di supermarket atau pasar modern sejenisnya daripada di pasar tradisional. Mungkin merek, mempertimbangkan dari segi kemasan dan kenyamanan dalam pelayanannya. Dan biasanya, harga jual barang yang ditawarkan di minimarket atupun pasar modern dan sejenisnya lebih kompetitif,” ungkap Asisten Bidang Pembangunan dan Perekonomian, H Budiman SE MSi, Selasa (11/5) lalu. Menurut Budiman, sebenarnya dari aspek regulasi, pemerintah telah membentengi supaya para pelaku pasar tradisional ini bisa survive. Umpamanya terkait lokasi yang jaraknya terlalu berdekatan dengan pasar modern, harus dibenahi supaya lebih ideal. Paling tidak jarak lokasi antara pasar modern dan pasar tradisional minimal 200 meter. Namun, kebijakan itu perlu disinergikan dengan para pelaku pasar tradisional. Misalnya dengan menjaga kualitas dagangannya agar harus lebih diperhatikan. Atau dari sisi harga maupun kebersihan barang dagangannya. “Seharusnya keberadaan minimarket menjadi pemicu atau motivasi bagi para pelaku pasar tradisional sehingga siap berkompetisi dengan sehat,” tambah Budiman, saat diwawancarai beberapa wartawan. (Yudi K)

“Launching” BJB Syariah pada HUT ke-49 BJB
BANDUNG, Medikom–Grand Launching Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) ditandai dengan bunyi angklung yang diayun oleh jajaran Direksi BJB. Sementara peringatan HUT BJB, ditandai dengan pemberian potongan kue tar berbentuk gedung BJB kepada Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dan mantan Gubernur Jabar HR Nuriana oleh Dirut BJB Agus Ruswendi. Dengan simbolisasi Grand Launching setelah Ahmad Heryawan Gubernur Jawa Barat menekan tombol yang diikuti oleh visualisasi prosesi Pemisahan Logo Bank Jabar Banten dengan Bank Jabar Banten Syariah yang menandakan peluncuran Bank Jabar Banten Syariah sebagai entitas baru dalam industri perbankan Indonesia. Akhirnya, Bank Jabar Banten Resmi Spin Off Unit Usaha Syariah Menjadi Bank Jabar Banten Syariah. Dengan telah dilaksanakannya kegiatan spin off ini, maka Unit Usaha Syariah/Bank Jabar Banten Syariah tidak lagi menjadi bagian struktural Bank Jabar Banten namun menjadi anak perusahaan baru Bank Jabar Banten. Bank Jabar Banten (BJB) saat ini telah memasuki usianya yang ke-49 tahun, BJB kini telah mampu menunjukkan kinerja yang semakin menggembirakan. Berdasarkan data perkembangan kinerja keuangan PT Bank Jabar Banten, tercatat Volume Usaha Bank Jabar Banten per 31 Desember 2009 yang mencapai Rp32,41 triliun, meningkat sebesar Rp6,36 triliun (24,46 %) dari Volume Usaha tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp26,04 triliun. Demikian diungkapkan Direktur Utama BJB Agus Ruswendi dalam sambutannya pada Ulang Tahun ke49 Bank Jabar Banten dan Grand Launching Bank Jabar Banten Syariah, Kamis (20/5) malam di Grand Hyatt Bandung. “Data per 31 Desember 2009, laba bersih BJB mencapai Rp709,106 miliar, atau meningkat sebesar Rp166,9 miliar (30,79%) dari laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp542,162 miliar. Sedangkan sampai dengan bulan Maret tahun 2010, tercatat laba bersih Bank Jabar Banten sudah mencapai Rp210,23 miliar, serta rasio keuangan Bank Jabar Banten selama kurun waktu empat tahun terakhir yang berkualifikasi sehat. Hal itu menunjukkan kinerja positif bagi BJB,” ujar Agus. Lebih lanjut Agus mengatakan, kinerja BJB saat ini yang semakin baik itu sudah tentu harus memberikan kontribusi positif bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jawa Barat. Kontribusi Bank Jabar Banten, baik dalam bentuk deviden yang mencapai Rp1,04 triliun (akumulasi deviden dari tahun 19932009), maupun dalam bentuk penyaluran kredit produktif yang telah direalisasikan hingga per 31 Desember 2009 mencapai Rp4,8 triliun, termasuk di dalamnya kredit mikro utama sebesar Rp805,53 miliar, dengan jumlah debitur mencapai 34.032 orang, serta penyerapan tenaga kerja 40.814 orang. Gubernur Jaba Ahmad Heryawan menyambut baik dengan adanya terobosan usaha perbankan yang dilakukan Bank Jabar Banten, melalui kebijakan Spin Off Unit Usaha Syariah Bank Jabar Banten menjadi Bank Umum Syariah yang mandiri. Apalagi Unit Usaha Syariah Bank Jabar Banten sebagai embrio Bank Syariah yang sebelumnya berdiri hampir satu dasawarsa, menunjukkan kinerja menggembirakan. “Saya optimis Bank Jabar Banten Syariah mampu menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat, khususnya di Jawa Barat dan Banten,” ujarnya. Heryawan meminta agar Bank Jabar Banten Syariah mampu menjalankan sistem perbankan syariah berdasarkan prinsip bagi hasil yang saling menguntungkan dengan masyarakat, senantiasa mengedepankan aspek keadilan, kejujuran dan kewajaran dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, serta menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan demi tercapainya kemaslahatan bersama. (Sandi LJ)

PT Luxindo Raya Optimistis Capai Target Penjualan Nasional
BANDUNG, Medikom–PT Luxindo Raya, selaku distributor tunggal produk rumah tangga merk Lux, optimistis target kenaikan penjualan nasional sebesar 10% pada 2010 ini bisa terwujud. Terlebih adanya dukungan 1.500 direct seller yang menjual produk seperti mesin cuci, vacum cleaner, dan Lux Alfa Water Purifiers (pengolah air bersih dan sehat berwawasan kesehatan). President Direktur PT Luxindo Raya Per Thuresson mengatakan, produk Lux merupakan alat kebutuhan rumah tangga terbaik di Indonesia. Saat ini, Lux sedang melakukan inovasi pengembangan teknologi terhadap produk yang sudah puluhan tahun dipakai keluarga Indonesia dan negaranegara Asia Pasifik. “Tiga produk unggulan Lux saat ini adalah Lux Vacuum Cleaners (pembersih lantai), Lux Water Purifiers, dan Lux Washing Maschines (mesin cuci). Selain untuk memudahkan pekerjaan manusia, produk tersebut juga diciptakan dengan wawasan kesehatan manusia dan lingkungan. Karena itu, alat ini untuk memenuhi tuntutan kemajuan zaman,” ujar Per Thuresson, pekan lalu, di sela-sela Gala Dinner PT Luxindo Raya bersama 1.500 Direct Selller produk Lux di Batununggal. Menurut Per Thuresson, produk Lux yang dipasarkan di Indonesia langsung didatangkan dari pabriknya di Eropa melalui sistem penjualan langsung ke konsumen. Produk Lux sangat dipercaya sehingga mampu menjadi yang terbaik di pasar Indonesia. “Melihat perkembangan ini, kami optimis target kenaikan penjualan sebesar 10% pada 2010 bisa tercapai. Apalagi kita tidak memiliki saingan terhadap produk sejenis. Angka 10% merupakan rata-rata kenaikan penjualan setiap tahun,” ungkapnya. Pada 2009 lalu, lanjut Per Thuresson, sistem penjualan langsung ke konsumen telah mampu menjual 2.000-3.000 unit per bulan. Kondisi itu sempat terganggu oleh resesi ekonomi dunia 1998 dan 2008. “Saat ini PT Luxindo Raya telah 20 tahun lebih ada di pasar Indonesia. Kita mampu menyerap tenaga kerja sekitar 2.000 orang dan memiliki 53 kantor perwakilan pasar di 43 kota seluruh Indonesia. Motto kita adalah menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan ceria, sehingga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak yang sesuai motto,” tandasnya. Lux Indonesia berdiri pada April 1977 dengan nama PT Eluxindo Jaya. Perusahaan ini memasarkan produk Elektrolux secara langsung kepada konsumen. Selanjutnya pada 11 Maret 1985, PT Eluxindo Jaya berganti nama menjadi PT Supra Eluxindo Utama. Kemudian Oktober 1992 berganti nama menjadi PT Supra Luxindo Utama. Perubahan kembali terjadi pada 1999 dengan nama PT Luxindo Raya. Sejak itu, 2.000 distributor tunggal produk Lux di Indonesia dialihkan kepada PT Luxindo Raya. Akhirnya, perusahaan ini mengalami kemajuan pesat dan puncaknya menjadi bagian Lux Asia Pacific Pte. Ltd. yang berkantor pusat di Singapura pada September 2001. (Dudi)

Wakil Bupati DS Buka Muscab I Akli
LUBUK PAKAM, Medikom–Wakil Bupati Deli Serdang H Zainuddin Mars membuka secara resmi Musyawarah Cabang Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Lubuk Pakam, Selasa (18/5) di Aula Dinas Infokom Deli Serdang. Hadir dalam acara tersebut, Camat Lubuk Pakam Sariguna Tanjung, Kabid Pengelolaan Data Informasi Dinas Infokom Drs Ronal Manurung, Manajer PT PLN Lubuk Pakam, dan Ketua AKLI Sumut Rolan Siahaan SE. Dalam sambutannya Wabup mengatakan keberadaan asosiasi pengusaha pada dasarnya untuk mewujudkan iklim dan tata hubungan yang mendorong kerja sama yang serasi baik dengan pemerintah maupun antarpengusaha. “Dalam menghadapi pelaksanaan ekonomi kerakyatan yang menjadi arah pembangunan ekonomi saat ini, kita juga harus mampu memasuki jalur-jalur bisnis yang sifatnya terbuka dan bersaing. Diharapkan, AKLI Lubuk Pakam dapat menyusun program kerja yang berdaya guna dan realistis sehingga pada gilirannya akan mampu nantinya mendorong pertumbuhan pembangunan ketenaga-listrikan di daerah ini,” ungkap Wabup. Dikatakan, peran para pengusaha daerah yang berhimpun dalam AKLI cukup besar. Antara lain dapat diaplikasikan dengan menumbuhkan semangat rasa memiliki dan kepedulian terhadap kondisi dan permasalahan daerah, termasuk perlunya tanggung jawab yang tinggi setiap melaksanakan berbagai pekerjaan pembangunan kelistrikan di daerah ini. Ia juga berharap proses pemilihan kepengurusan AKLI berlangsung secara demokratis, terbuka dan dalam suasana kekeluargaan. Melalui forum musyawarah ini, tambahnya, akan dapat memilih pimpinan yang benar-benar profesional, berwawasan. “Siapapun yang terpilih, saya berharap dapat memberdayakan AKLI seoptimal mungkin,” tandasnya. Ketua AKLI Sumatera Utara Rolan Siahaan SE mengatakan, sesudah dibentuk Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Lubuk Pakam, DPC Lubuk Pakam harus berkoordinasi ke cabang Medan dan cabang Tebing Tinggi. Ia berharap kepada ketua terpilih, nantinya bisa bekerja sesuai dengan amanah yang sudah ada di dalam musda dan tidak lari dari etika. (R David Sagala)

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

sorot
Ketua DPRD Sumut H Saleh Bangun Harapkan Kongres II PD Lancar dan Sukses
MEDAN, Medikom-Menjelang pelaksanaan Kongres Nasional II Partai Demokrat (PD) di Bandung, 20-23 Mei 2010, H Saleh Bangun, selaku salah satu tokoh masyarakat Sumatera Utara, mengharapkan kongres tersebut berjalan lancar dan sukses. Saleh Bangun yang juga Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara periode 2010-2015, dalam keterangannya kepada wartawan, di gedung DPRD Sumut, Rabu (19/5), menyebutkan, sebagai salah satu partai pemenang Pemilu 2009, pelaksanaan Kongres ke-2 Partai Demokrat menjadi perhatian sebagian besar masyarakat. “Seperti diketahui, di Sumatera Utara sendiri, Partai Demokrat memiliki konstituen yang cukup besar. Oleh karena itu, saya mengharapkan kongres ke-2 PD di Bandung dapat berjalan dengan baik, dengan menghasilkan kepengurusan yang solid dan terbaik untuk memenuhi harapan besar dari seluruh rayat Indonesia,” kata Saleh Bangun. Saleh Bangun mengatakan, siapa pun yang akan terpilih nantinya menjadi Ketua Umum PD periode 2010-2015, harus didukung bersama dan semoga dapat mengantarkan Partai Demokrat menjadi partai yang lebih besar dan modern untuk memenuhi harapan rakyat Indonesia. Di tempat terpisah, Ketua LSM-Forum Komunikasi Anak Nusantara (Frokan) Sumut Aswandi Maulana, dan Direktur Lembaga Studi Demokrat Indonesia (LSDI) Sumut, Faisal Reza MA, menyebutkan, Kongres II PD sesungguhnya merupakan tantangan bagi PD secara internal untuk menjawab harapan dan tantangan bangsa ke depan. “Jika kongres ke-2 PD ini sukses, maka diprediksi menjadi pemenang dalam pemilu legislatif tahun 2014 nanti,” kata Faisal Reza. (SS)

10

Gubsu: Kalau Dirasa Tak Perlu Izin Bubarkanlah Republik Ini
MEDAN, Medikom–Pemprovsu merasa prihatin dengan adanya pernyataan Anggota DPR yang menyatakan PLN tidak memerlukan lagi izin Gubsu dalam membangun proyek PLTA Asahan III karena sudah mengantongi izin Pemerintah Pusat. “Saya tidak tahu itu. Kalau dirasa tidak perlu, ya gak lah, artinya bubarlah republik ini kalau tidak ada surat izin itu,” kata Gubsu menjawab pertanyaan wartawan seusai acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tingkat Provinsi Sumatera Utara di Lapangan Merdeka Medan, Kamis (20/5). Gubsu menyatakan hal itu berkaitan dengan adanya pertanyaan anggota DPR RI komisi VII di salah satu media cetak yang menyatakan pembangunan PLTA Asahan III tidak memerlukan izin dari Gubsu lagi, karena PLN sudah mengantongi izin dari pemerintah pusat. Gubsu mengaku tidak yakin kalau dikatakan pemerintah pusat merasa tidak perlu lagi izin di daerah. “Tidak mungkin pusat meninggalkan,” tegas Syamsul. Sebelumnya Gubsu menegaskan dalam pembangunan proyek PLTA Asahan III Pemprov Sumut tetap akan mempertahankan opsi pembangunan listrik di Sumut. Yaitu sebelum diberikan surat izin lokasi pendirian proyek Asahan III ini kepada PLN, harus jelas penandatanganan dan perjanjian bahwa PLTA untuk kebutuhan listrik Sumut. Gubsu menyatakan, kalau PLN memang benar-benar ingin membangun PLTA Asahan III, harus jelas teken kontrak perjanjian bahwa PLTA untuk kebutuhan listrik Sumut. Bukan PT Inamun. “Sudah saya katakan, kalau semua listrik digunakan untuk masyarakat, kita teken,” tandasnya seraya mengatakan, pihaknya nanti akan mengevaluasi dan mebahas persoalan pembangunan proyek PLTA Asahan. FD kecewa Sementara, Fraksi Demokrat DPRD Sumut merasa kecewa dengan sikap anggota DPR-RI yang mendukung PLN Pusat mengabaikan izin Pemprovsu dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan III. Sikap tersebut menciderai semangat otonomi daerah. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Fraksi Demokrat DPRD Sumut Mustofawiyah didampingi Marahalim Harahap menanggapi polemik pembangunan PLTA Asahan III di ruangan Fraksi Demokrat DPRD Sumut, Kamis (20/5). Mustofawiyah yang juga Anggota Komisi D (bidang pembangunan) DPRD Sumut itu mengatakan, sikap Pemprovsu yang masih belum memberikan izin lokasi PLTA Asahan III kepada PLN sangat wajar. Karena masih belum adanya kesepakatan soal annual fee kepada 10 kabupaten/kota di sekitar lokasi pembangunan pembangkit tersebut. Selain itu, katanya, Pemprovsu juga khawatir pembangunan PLTA Asahan III akan bernasib sama dengan PLTA Asahan II Siguragura yang ternyata pasokan listriknya bukan untuk kebutuhan masyarakat Sumut, namun diberikan untuk kebutuhan produksi PT Inalum. “Pemprovsu tentu tidak mau kecolongan lagi seperti PLTA Asahan II. Di mana sebagian besar listriknya disalurkan untuk Inalum. Hanya sekitar 60 MW yang disalurkan ke Sumut. Itu pun dengan perjanjian Sumut harus mengembalikannya lagi,” kata Mustofawiyah. (Syamsul Saragih)

DPC Partai Demokrat (PD) KOTA DEPOK secara resmi mengumumkan penetapan Badrul Kamal–A Supriyanto (BK-PRI) untuk maju sebagai calon Wali Kota Depok dan Wakil Wali Kota Depok Periode 2011-2016, berdasaskan hasil rekomendasi DPP Partai Dekokrat No: 117 / RKMD/DPP-PD/III/2010. Pada acara pengumuman hasil verifikasi PD Kota Depok di Gedung Puri Agung, Rabu (19/5), PD berkomitmen bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Damai Sejahtera (PDS) membuka diri seluas-luasnya untuk membangun sebuah koalisi bersama dalam menghadapi Pemilukada 2010 ini. (Foto FR Ambarita)

Gubsu: Ketahanan Sosial Bangsa Dihadapkan Berbagai Tantangan
MEDAN, Medikom-Ketahanan sosial bangsa kita saat ini tengah diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang kalau tidak dikelola dengan baik akan berakibat munculnya gejala-gejala yang dapat melemahkan karakter kebangsaan kita. Demikian dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring pada acara apel Harkitnas ke-102 di Lapangan Merdeka yang dibacakan Gubernur Sumut H Syamsul Arifin SE, Kamis (20/5). Menteri juga menyatakan, dalam era saat ini banyak ancaman dan gangguan, baik dari dalam maupun dari luar, untuk menghancurkan bangsa. Salah satunya dengan menebar informasi penghasutan. Untuk itu, dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, hal yang utama dilakukan adalah mengembangkan dalam diri rasa kebangsaan dan nasionalisme. “Ada empat karakter memperingati hari kebangkitan nasional, antara lain menjaga jati diri bangsa, menjaga keutuhan NKRI, membentuk bangsa yang maju dan mandiri bermartabat,” ujarnya. Pembangunan karakter ini, dikatakan menteri, harus dimulai dari keluarga, lingkungan, masyarakat, dan lingkup pemerintahan, serta pembelajaran dari guru dan tokoh-tokoh. Musuh Menteri mengatakan, saat ini bangsa Indonesia mengalami musuh yang sangat sulit diatasi, antara lain kemiskinan, pengangguran, korupsi dan lemahnya penegakan hukum. Untuk mengatasi hal ini, kata menteri, tidak cukup hanya dengan modal penegakan hukum, tetapi juga harus dibangun dengan menanamkan semangat dan jiwaa kebangsaan yang kuat. Karena dalam semangat dan jiwa yang kuat, sudah termasuk di dalamnya karater tidak berperilaku individual, tidak kedaerahan, kepartaian, dan tidak hanya memikirkan golongan. “Membangun Indonesia ke depan, mutlak harus dilakukan oleh warga bangsa yang memiliki semangat dan jiwa kebangsaan yang kuat. Sebab semangat dan jiwa kebangsaan adalah antitesis dari cara berpikir, bersikap dan bertindak dan berperilaku individual, kedaerahan, kepartaian dan golongan,” katanya. (SS)

Belum Tuntas Masalah Kapal Bergulir Nongol Coolstorage
JAKARTA, Medikom-Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Drs Ridho Kamaludin sangat gregetan dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan (PKPP) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke, Jakarta Utara yang dikomandoi Soetrisno. Pasalnya, seluruh anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta melihat ada ketidakberesan dalam pengelolaan kapal bergulir untuk nelayan sebanyak 34 unit. Hal itu diketahui pada saat rombongan Komisi C DPRD DKI melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi. Semula ada 34 unit kapal bergulir nelayan, ternyata saat disidak hanya ada 6 unit, dan sisanya tidak jelas rimbanya. Drs Ridho Kamaludin dengan sangat tegas mengatakan, sampai saat ini, seluruh anggota Komisi C DPRD Provinsi DKI Jakarta belum menerima data-data kapal bergulir. Padahal, dalam rapat antara Komisi C DPRD dengan Kepala UPT-PKPP dan PPI Muara Angke, Jakarta Utara Ir Soetrisno telah menjanjikan Agung (Kejagung), nongol lagi coolstorage minta tambah anggaran. Padahal, coolstorage itu proyek mubazir yang hanya menghamburhamburkan anggaran. Saat ini pun pengadaan coolstorage sedang dalam usutan,” kata Ridho Kamaludin. Menurut Ridho Kamaludin, sebelum masalah kapal bergulir untuk nelayan dan coolstorage dipanggil oleh Kejaksaan Agung (Kejagung), Kepala dan Kasie Fasilitas UPT-PKPP dan PPI Muara Angke, Jakarta Utara, Ir Soetrisno dan Iwan Sudarmawan akan dipanggil secara resmi. “Hal itu terkait dengan pengadaan kapal bergulir untuk nelayan dan pengadaan coolstorage yang sudah tiga tahun terbengkalai alias sia-sia. Padahal, kapal bergulir dan coolstorage diharapkan menjadi bagian dari pendapatan retribusi daerah di bidang perikanan,” papar Ridho Kamaludin. Saat dikonfirmasi di kantornya, Kepala dan Kasie UPT-PKPP dan PPI Muara Angke, Jakarta Utara, Ir Soetrisno dan Iwan Sudarmawan, tidak ada di tempat. Selalu keluar kantor. (tim)

Bocor Suara dari Balaikota:

Enny Pudjiwati Calon Kuat Kadis
JAKARTA, Medikom-Sudah yang ketiga kalinya Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Fauzi Bowo menunda pelantikan eselon dua. Bahkan kabarnya, pelantikan dilaksanakan setelah pulang studi banding dari Kanada. Sehingga kursi panas di Dinas Kelautan dan Pertanian (DKP) Provinsi DKI Jakarta (kepala dinas-red) yang selama ini kosong melompong, benar-benar menjadi bahan pembicaran/obrolan setiap pegawai negeri sipil (PNS)/satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan DKP itu sendiri. Hampir seluruh SKPD di lingkungan DKP Provinsi DKI Jakarta menghendaki agar kepala dinas yang akan datang dari dalam/internal dan wanita. Bocoran/suara dari Balaikota, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta melalui Asisten Tata Praja dan Aparatur (Astaprajatur) sudah mengantongi salah satu nama yang pantas untuk menjabat sebagai Kepala Dinas DKP Provinsi DKI Jakarta. Nama itu disertai dengan kriteria terutama jujur, transparan, loyal, dan akuntabel, sesuai dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Margasatwa Ragunan (TMR) Jakarta (drh Enny Pudjiwati-Red). “Mereka dianggap masuk dalam kriteria jujur, transparan, loyal, dan akuntabel,” kata narasumber yang tidak ingin namanya dipublikasikan. Di lain tempat, salah satu anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta pun ikut bicara. Dia mengatakan, secara pribadi dirinya menganggap lebih baik jika yang menjadi Kepala Dinas DKP Provinsi DKI Jakarta adalah sosok wanita. “Kalau sosok wanita ditanya soal kejujuran, ya, sudah pasti bisa dipercaya. Memang benar, suara/bocoran itu sudah ke mana-mana, bahkan sampai ke telinga saya,” ujar S Andika, selesai rapat tim pencari fakta (TPF). “Kalau Komisi B DPRD DKI tidak mempunyai kepentingan apa-apa, siapa pun yang akan maju dan menjadi Kepala Dinas DKP Provinsi DKI Jakarta. Tapi, informasi yang sangat kencang dari Balaikota, ada beberapa nama dan hanya satu yang menonjol, yaitu Kepala UPT-TMR Jakarta,” kata salah satu anggota Dewan dari Fraksi Gerindra, S Andika. (slamet supriyadi)

memberi data-data masalah kapal bergulir. “Itu kan namanya pembohong,” tegas Ridho Kamaludin pada saat selesai rapat membahas masalah aset, Jumat (21/5). “Kepala UPT-PKPP dan PPI Muara Angke, Jakarta Utara Ir Soetrisno, tidak ada kapok-kapoknya. Kapal bergulir untuk nelayan sedang dalam masalah/kasus yang akan dilaporkan Komisi C ke Kejaksaan

drh Enny Pudjiwati keinginan Gubernur DKI Fauzi Bowo yang telah mendukung program pemberantasan korupsi di lingkungan pejabat Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta. Salah satu pajabat yang selama ini berkantor di lantai empat Blok G Balaikota, mengatakan, aromanya yang akan menduduki kursi panas DKP Provinsi DKI Jakarta adalah sosok wanita. Dan saat ini menjabat

Pengukuran Bidang Tanah untuk Syarat Sertifikasi
CIBINONG, Medikom-Salah satu penentu dalam pembuatan sertifikasi pertanahan adalah dengan pengukuran sebidang tanah terlebih dahulu. Maka seksi survei pengukuran dan pemetaan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor, menjadi kesatuan dengan seksi lainnya dalam pemberikan pelayanan pertanahan. Hal itu, ungkap Kasi Survei, Pengukuran dan Pemetaan Tanah Kabupaten Bogor, Ir H Agus Taruna, sebagaimana telah diamanatkan dalam UU Agraria Nomor 5 Tahun 1960, serta diperkuat Peraturan Pemerintah (PP) No 24 Tahun 1997. Menurut Ir H Agus Taruna, dalam Peraturan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Republik Indonesia No 25 Tahun 2008, telah dijabarkan tentang uraian tugas sub bagian dan seksi pada kantor wilayah badan pertanahan nasional serta uraian tugas urusan dan subseksi pada kantor pertanahan. Dalam peraturan tersebut, Seksi Survei, Pengukuran dan Pemetaan secara struktural dibantu oleh dua subseksi, yaitu Subseksi Pengukuran dan Pemetaan serta Subseksi Tematik dan Potensi Tanah. “Selanjutnya pada Subseksi Pengukuran dan Pemetaan memiliki 21 uraian tugas, di antaranya menyiapkan peralatan kerangka dasar orde-4, penetapan batas bidang dan pengukuran bidang tanah, batas tanah kawasan/ wilayah, kerjasama teknis surveyor berlisensi, memelihara peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur gambar dan daftar-daftar lainnya di bidang pengukuran,” tegas H Agus Taruna. Hal ini penting bagi Subseksi Pengukuran dan Pemetaan Tanah, masih kata H Agus Taruna, karena telah dilaksanakan norma atau standar prosedur dan mekanisme dalam bidang tugas dan kegiatan pada subseksi tersebut. Terutama dalam tugas dan kegiatan pelayanan pengukuran dan pemetaan. “Di samping melakukan pengukuran dan pemetaan dalam menetapkan batas bidang tanah dan pengukuran bidang tanah batas kawasan/ wilayah yang kita ukur supaya lebih jelas dan terarah,” katanya. Sementara Subseksi Tematik dan Potensi Tanah di Seksi Survei Pengukuran dan Pemetaan memiliki 11 uraian tugas, di antaranya membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, termasuk menyampaikan saran dan pertimbangan kepada kepala seksi. Juga tidak kalah pentingnya subseksi memiliki tugas melaksanakan survei dan pemetaan tematik dalam setiap kegiatan pelayanan pertanahan, termasuk pengalihan data updating data tematik dalam setiap kegiatan pelayanan pertanahan menjadi data khusus termasuk peta tematik yang telah mengalami perubahan. Subseksi ini juga memiliki tugas untuk melakukan penyusunan dan pengolahan data potensi tanah dan peta dalam rangka pembangunan Simtanas (Sistem Informasi Pertanahan Nasional). (Edison)

Pangdam I /BB Resmikan Percepatan Pelaksanaan Revitalisasi Program KB
DELI SERDANG, Medikom–Kerja sama revitalisasi program KB-Kes merupakan program lintas sektoral dilaksanakan secara terpadu baik dari unsur TNI dan pihak BKKBN serta berbagai kementerian dan organisasi sosial kemasyarakatan/ LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha, dan masyarakat. Demikian dikatakan Pangdam I/ BB Mayor Jenderal TNI M Noer Muis dihadapan ribuan masa KB, pada acara peresmian Percepatan Pelaksanaan Revitalisasi Program Kependudukan dan KB melalui Bakti Sosial Tingkat Provinsi Sumut di Lapangan Alun-alun Pemkab Deliserdang Lubuk Pakam, Rabu (19/ 5), yang ditandai dengan pemukulan gong. Acara persmian bakti sosial ini dihadiri Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi dr Nelly Nangoy MPH, Ketua KCK Kodam I/ BB, Wakil Asisten Teritorial Panglima TNI Brigjen Marinir Lukman Sofyan, Ka.Biro Pemberdayaan Perempuan Anak dan KB Provinsi Sumut Dra Vita Lestari Nst MSi, Ka BKKBN Sumut Indra Wardana SH MM, Muspida Sumut, Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan, Ketua Tim Penggerak PKK DS Hj Anita Amri Tambunan, Wabup H Zainuddin Mars, Dandim 0204 DS Letkol Inf Herianto Syahputra dan Muspida, para Bupati/Wali Kota se-Sumut dan SKPD sejajaran DS. Lebih jauh Pangdam I/BB mengatakan, wujud kerja sama di lapangan melalui bakti sosial ini antara lain, dengan meningkatkan kemampuan komunikasi, informasi dan edukasi, pergerakan dan kemitraan bagi petugas KB. Pengelolaan pelaksanaan organisasi profesi dan institusi masyarakat pedesaan/perkotaan, pelayanan KB, pelayanan kesehatan reproduksi remaja, kelangsungan hidup bayi dan anak dan sebagainya. Kabiro Pemberdayaan Perempuan Anak dan KB Provinsi Sumut Dra Vita Lestari Nasution MSi menyatakan, sangat menyambut baik acara ini. Karena momentum tersebut memiliki nilai yang sangat strategis sebagai bagian dari percepatan pelaksanaan revitalisasi program KB dalam mewujudkan keluarga kecil sehat, bahagia dan sejahtera. Angka laju pertumbuhan penduduk Sumatra Utara, jelasnya, menurut data terkini sebesar 1,37 persen/tahun. Dengan total angka kelahiran kasar Sumut 3,8 per wanita subur. Angka tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional hanya 2,6 per wanita subur. Kepala BKKBN Pusat diwakili Plt Deputi Bidang KB dan KR dr Nelly Nangoy MPH dalam arahannya mengatakan, tahun ini merupakan tahun kedua tindak lanjut kerja sama TNI dengan BKKBN. Sejak dicanangkannya kegiatan Baksos KB-Kesehatan TNI tahun lalu di Mekarsari Kabupaten Bogor yang dicanangkan oleh Panglima TNI, ternyata telah berhasil memberikan inspirasi berbagai pihak termasuk para penentu kebijakan dan media massa serta masyarakat untuk kembali bangkit dan menggairahkan kembali citra program KB. Ketua Pelaksana Kepala Dispotmar Lantamal I Letkol Laut (S) Ferdinand DJ H SE melaporkan, kegiatan terdiri dari pelayanan KB gratis, pelayanan kesehatan gratis, donor darah, road show semarak KB sebanyak 500 kendaraan sepeda motor petugas KB dan lima mobil unit pelayanan KB, pameran dan gelanggang dagang kelompok UPPKS DS, Kabupaten Serdang Bedagai, Binjai, Medan, Dekranas DS, KCK Kodim 0204 DS. Selanjutnya dilakukan penyerahan alat teknologi tepat guna kepada dua kelompok UPPKS, bantuan modal Rp5 juta kepada empat kelompok UPPKS Kabupaten DS dan KIE KIT kepada empat orang PLKB baru. Kemudian diserahkan penghargaan pelaksana terbaik revitalisasi program KB Nasional Tahun 2009. Usai upacara, Pangdam I/BB beserta rombongan meninjau stan pameran dan gelanggang dagang, pelayanan KB dan kesehatan serta donor darah . (R David Sagala)

Warga berbondong-bodong berjaga-jaga agar wilayahnya tidak dibongkar atau digusur. Yang sudah dibongkar adalah rumah gubuk atau tempat wudhu yang tidak ada penghuninya.

20 Pejabat Eselon III Pemkab Deliserdang Dilantik
LUBUK PAKAM, Medikom–Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan diwakili Sekdakab Drs H Azwar S MSi, melantik 20 pejabat eselon III di Aula Cendana Kantor Bupati Deliserdang, Lubuk Pakam di Lubuk pakam, Jumat (14/5). Pelantikan itu turut mewakili unsur Muspida, pimpinan SKPD dan sejumlah camat sejajaran Pemkab Deliserdang. Sebanyak 20 pejabat eselon III yang dilantik di antaranya Prayitno SH, sebagai Sekretaris Disperindag, Ir Ramlan Refis sebagai Kakan Penanaman Modal, Drs Bambang Hariadi sebagai Kabag Adm Sumberdaya Alam, Yudi Hilmawan SE MM Kabag umum, Anwar SSos Sekretaris Dinas Kehutanan, Hj Saadah Lubis SPd sebagai Kabag Adm Kesra, Dra Hj Rabiatul Adawiyah Lubis sebagai Sekretaris Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan. Kemudian Dr Hariaty Agnes Saragih MKes sebagai Kabid Promosi dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan, Elmi Haryuni SKM MKes sebagai Kabid Kesehatan Keluarga pada Dinas Kesehatan, Gustur Husin Siregar SH sebagai Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Dinas Kependudukan dan Capil, Manginar Silaen S SSos sebagai Sekretaris pada Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Bupati Deliserdang dalam sambutan tertulis yang disampaikan oleh Sekdakab Drs H Azwar S Msi mengatakan, pejabat eselon III yang dilantik pada jajaran unit kerja maupun sekretariat daerah, pada dasarnya adalah jabatan strategis yang diharapkan mampu membantu pimpinan dalam penyelenggaraan tugastugas pemerintahan. Baik itu, administrasi, organisasi maupun tata laksana yang memiliki tanggung jawab awal mulai perencanaan sampai dengan pelaksanaan program kegiatan. “Ini berarti, seorang kepala kantor, kepala bagian maupun sekretaris dan kepala bidang pada setiap unit kerja selain akan dituntut memiliki kemampuan secara teknis, juga pemahaman manejerial yang komprehensif (R David Sagala)

Ada Buldoser di Bedeng Neglasari, Masyarakat Gelisah
TANGERANG KOTA, MedikomAdanya buldoser yang diturunkan di wilayah Bedeng Neglasari, RW 02, Tangerang, membuat warga merasa gelisah. Ternyata dari pihak kelurahan yang diwakilkan melalui Sat Pol PP, Supriatna (Cecep) dan Yosep, yang menurunkan alat berat itu. Inilah yang membuat warga jadi panik. Tetapi dari pihak kecamatan, mengatakan hanya meratakan tanah di lapangan. Namun tetap saja membuat terjadi ketegangan antara Sat Pol PP dengan perwakilan pihak warga, Edi. Menurut Edi (34), selaku korlap, dengan arogansinya Sat Pol PP berani masuk wilayah ini tanpa koordinasi dengan warga, atau tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu. Dikatakan, dibuat alasan membenahi wilayah ini untuk lapangan atau untuk merapikan, tapi ujung-ujungnya tempat wudhu dibongkar juga. Banyak yang menyayangkan sikap Sat Pol PP ini, karena sudah dijadikan status quo. Edi juga sudah melapor kepada staf khusus Presiden Bidang Pembangunan Otonomi Daerah, Setyardi dan Sultan, dan intinya mereka akan mendapatkan teguran. “Oleh DPRD Tangerang, DPR RI Komisi III dan Komisi II, DPR Provinsi Banten, segera ditindaklanjuti, serta Komnas HAM juga segera akan memanggil Wali Kota Wahidin Halim,” ujar Edi. “Apabila adanya pergusuran kami akan tetap bertahan. Sedangkan Presiden juga mengharapkan jangan ada pembongkaran atau ditunda dahulu. Ya, harus ada musyawarah, sedangkan belum ada musyawarah kata mufakat, kok sudah ada alatalat berat masuk di wilayah ini, Maka rakyat merasa gelisah, ini tidak kondusif suasana seperti ini,” kata Edi. Warga berbondong-bodong berjaga-jaga agar wilayahnya tidak dibongkar atau digusur. Yang sudah dibongkar adalah rumah gubuk atau tempat wudhu yang tidak ada penghuninya. Dalam hal ini warga juga akan mengadakan ronda malam di wilayah masing-masing untuk menjaga-jaga agar tidak muncul yang tidak diinginkan oleh warga, yaitu apabila ada pembongkaran pada malam hari. Dalam hal ini warga sangat solid. Persatuan warga dari Bedeng, Kedaung, Tangga Asam, Lebak, Kokun, ikut bergabung untuk berjaga-jaga. “Warga ini yang kita undang hanya sebagian saja, tidak terlalu banyak, hanya yang mengetahui saja sebagian. Tapi apabila yang kita undang semuanya, pasti semuanya akan datang,” ujar Edi. (AgsS)

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

11

Kali Cikarang Tercemar, Siapa Bertanggung Jawab? ...............................................Hal 1
Taih Minarno, anggota Komisi C dari Partai Demokrat, menyikapi permasalahan tersebut, mengatakan, untuk jangka pendek masyarakat Sukatani butuh air bersih. Sedangkan untuk jangka panjang harus membentuk tim kali bersih. Dikatakan, BPLHD harus kontinu memantau perusahaan yang membuang limbah yang tidak sesuai dengan peraturan. “Apalagi bila ditemukan pelanggaran. Bila terbukti perusahaan membuang limbah tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, Pemkab Bekasi harus memberikan sanksi yang tegas. Bila perlu, kalau bandel, tutup perusahaannya!” tegas Taih. Aef Saeful Rohman, Ketua Komisi C dari PDIP, mengatakan, kali Cikarang harus bebas dari pencemaran. Kalau mendengar pemaparan, baik dari perusahaan dan rumah sakit, sepertinya tidak ada yang mau disalahkan tentang pencemaran di kali CBL Cikarang. Lantas siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini. Buktinya sudah ada, kali CBL Cikarang telah berubah warna menjadi hitam pekat, bahkan telah tercemar logam berat. “Kami sebagai Dewan sangat prihatin atas ini semua. Kalau tidak ada yang mencemari kali Cikarang, lantas siapa yang mencemari kali Cikarang? Apa itu kencing setan, sehingga kali Cikarang menjadi tercemar!” tegas Aef. Anggota Komisi (C) lainnya, Budiyanto dari PKS, atas permasalahan pencemaran di kali CBL Cikarang, Budiyanto mengaku sudah sejak lima bulan dirinya berencana membentuk tim yang

Unsil Mewisuda 1.170 Lulusan di Hari Lahirnya yang Ke-32
TASIKMALAYA, Medikom– Puncak acara hari lahirnya Universitas Siliwangi (Unsil) ke32 tahun ini diisi dengan kegiatan mewisuda sebanyak 1.170 lulusannya yang berasal dari berbagai Fakultas yang ada. Dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Siliwangi ini, para lulusan yang diwisuda, Sabtu (22/5) terdiri dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebanyak 882 orang, Fakultas Ekonomi 132 orang, Fakultas Pertanian 10 orang, Fakultas Teknik 28 orang, Fakultas Agama Islam 15 orang, Fakultas Kesehatan Masyarakat 2 orang dan Akademi Pariwisata 17 orang. Sementara Program Pasca Sarjana sebanyak 84 orang. Rektor Universitas Siliwangi Prof Dr H Kartawan SE MP dalam sambutannya mengatakan tantangan pendidikan di Indonesia ke depan semakin berat, karena saat ini ada kecenderungan proses pendidikan hanya mampu meningkatkan kecerdasan intelektual saja. Jika orang hanya cerdas intelektual tidak disertai kecerdasan yang lain dapat membahayakan orang lain dibanding dengan yang intelektualnya rendah. Oleh karena itu proses pendidikan harus disertai dengan peningkatan kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual. Di samping itu sistem pendidikan di negara kita belum menggembirakan. Hasil Survei Political dan Ekonomic Risk Consultancy (PERC) tentang penilaian kualitas pendidikan di kawasan Asia, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 setingkat di bawah Vietnam. Menurut survei tersebut, sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia dari 12 negara yang disurvei Lembaga Penelitian yang berkantor di Hongkong itu. Saat ini pemerintah terus menerus melakukan perbaikan sistem dan manajemen pendidikan nasional. Manajemen memiliki peran kunci dalam menciptakan hasil yang berkualitas. Sementara Ketua Badan Pengurus Yayasan Universitas Siliwangi Drs H Oman Roesman. Dalam amanatnya mengajak kepada 1.170 wisudawan lulusan periode semester genap tahun akademik 2009–2010 bertepatan dengan Hari Jadi Universitas Siliwangi ke-32 kita hari ini menyaksikan mereka berhasil di wisuda. Tantangan yang dihadapi Universitas Siliwangi di masa datang dirasakan akan semakin berat. Secara eksternal di satu sisi globalisasi yang dewasa ini tengah melanda dunia Internasional tidak bisa dihindari telah membawa bangsa serta masyarakat kita akan tertinggal oleh bangsabangsa lain. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk senantiasa menambah dan melengkapi fasilitas yang dimilikinya baik yang berkaitan dengan bidang akademik maupun yang berkaitan dengan bidang lainnya dalam upaya menghasilkan lulusan yang yang memiliki daya saing atau kompetitif di pasar global. Unsil dituntut peningkatan kualitas dari berbagai aspek terkait keberadaan perguruan tinggi di tengah masyarakat sehingga Universitas Siliwangi dalam rangka mencerdaskan bangsa akan terwujud. Dalam rangka memperingati lahirnya Universitas Siliwangi ke-32 berbagai kegiatan diadakan dari mulai Seminar Pendidikan, Kesehatan dan puncaknya hari ini adalah melantik 1.170 wisudawan. (A Cucu)

terdiri dari Komisi (C), BPLHD dan LSM lingkungan hidup, untuk turun ke lokasi yang diduga bermasalah. “Kami menegaskan setiap perusahaan untuk melaksanakan CSR (corporate social responsibility), yang selama ini kurang diperhatikan perusahaan, selain itu juga perusahaan wajib melaksanakan program kali bersih,” tuturnya. Dikatakan, dalam menyikapi permasalahan ini, Kepala BPLHD Pemkab Bekasi Ir Daryanto harus menghidupkan kembali kali bersih. Karena sekarang ini masih kurang dipahami, hitamnya kali Cikarang bukan hanya berasal dari limbah pabrik. “Tapi kontribusi terbesar juga berasal dari limbah perumahan dan rumah tangga,” terangnya. (Ign/Stef)

Wajar Dipertanyakan Kerjasama PTPN III-PT Timun Keluarga Pasien Ngamuk di RSUD Karawang ...............................................Hal 1 ...............................................................Hal 1 Sugiono secara histeris. menyatakan bahwa Sugiono perhatian. Semua orang pun adalah golongan orang mampu. karena pihak RSUD Karawang
PT Tiga Mutiara Nusantara (Timun), perusahaan hasil kerja sama invstigasi tiga pihak ini akan mengoperasikan pabrik furnitur dengan bahan baku kayu karet, dengan target pasar ekspor. Melalui cara ini nantinya pohon-pohon yang tak lagi produksi tetap bisa dimanfaatkan secara bisnis. PTPN III memiliki 30% saham dengan menyetor modal US$394.000, Yeo Aik Resources memiliki 51% saham dengan menyetor 671.160 dolar AS, sementara PT Innex Tripanca Corporation menyetor sebanyak US$250.040 untuk 19% saham. Namun, Washington Pane dan Tohonan Silalahi dari Fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS) berpendapat, melihat ada kejanggalan dalam kerjasama periodikal 5 tahun itu. Washington Pane dan Tononan Silalahi juga mempertanyakan setelah pihaknya menemukan ribuan meter kubik kayu pinus yang siap dijadikan bahan olahan pabrik, telah berubah izin tanpa penjelasan. “Kita mau tahu asal-muasal kayu itu. Jangan-jangan hasil perambahan hutan,” katanya. Terhadap dugaan kerugian, baik Pane maupun Silalahi kembali mendesak Kejatisu untuk menelusurinya, terutama kerugian yang dialami oleh negara akibat kerjasama antara PTPN III dan PT Timun. (SS) Direktur RSUD Karawang Dr Dedi Letto, ketika dimintai tanggapannya oleh Medikom melalui telepon sellular, dengan Rezka ataupun Merlien tidak memiliki hubungan apaapa. “Mungkin itu hanyalah sensasi saja untuk mencari sudah tahu siapa Sugiono. Lagian Rezka yang diantar Ibunya, Merlien datang ke RSUD tidak menggunakan kartu gakin. Mereka Buktinya saja di kelas 2,” kata Dedi Letto. Jadi menurut Dedi Letto, ini hanyalah kesalahfahaman saja,

selalu melayani dengan tangan terbuka dan senang hati tanpa membeda-bedakan status. (Andy Nugroho)

Kepala Daerah Antre Masuk Bui..................................................................Hal 1
Kepmendagri tersebut yang benar adalah biaya pemungutan, bukan upah pungut,” ungkapnya. Pemungutan, kata Dedi, adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada wajib pajak serta pengawasan penyetorannya. Sementara Biaya pemungutan adalah biaya yang diberikan kepada aparat pelaksana pemungutan dan aparat penunjang dalam rangka kegiatan pemungutan. “Biaya pemungutan sebagaimana dimaksud pada pasal 2 ayat (1) Kepmendagri No 27 Tahun 2002 digunakan untuk membiayai kegiatan penghimpunan data objek dan subjek pajak, penagihan, dan pengawasan. Jadi pihak-pihak yang tidak relevan dalam hal pemungutan seharusnya tidak perlu mendapatkan uang dari biaya pungutan,” tegasnya. Ironisnya lanjut Dedi, yang terjadi di lapangan tidak sedikit pihak-pihak yang tidak relevan terkait pemungutan pajak daerah merasa enjoy saat menikmati uang pemberian dari biaya pungutan. Kondisi ini jelas sudah salah (terjadi penyimpangan) dan bisa digugat karena itu keliru. “Kalau misalnya ada anggota DPRD merasa berhak untuk mendapatkan uang dari biaya pemungutan karena menganggap sudah ikut terlibat dalam prosesnya, itu salah. Toh mereka sudah dibayar saat ikut rapat komisi,” jelasnya. Terlepas dari adanya kekeliruan isi di dalam Kepmendagri tersebut maupun adanya persepsi yang salah dari pihak-pihak yang menikmati uang dari biaya pemungutan, sebenarnya jatah biaya pemungutan yang didapat para pejabat yang selama ini mereka rasakan tidak dibenarkan. Karena penyisihan pendapatan dari biaya pemungutan tidak dialokasikan secara langsung untuk institusi ataupun individu, namun harus masuk ke kas daearah. “Dalam konteks untuk membayar biaya pemungutan yang benar adalah melalui dana bugeter (melalui proses APBD), tidak bisa dipotong langsung. Karena itu untuk mengganti biaya proses pemungutan. Makanya harus masuk mekanisme APBD. Selama ini yang terjadi dipotong langsung dan masuk ke pejabat. Padahal semestinya tidak seperti itu,” paparnya. Menyikapi dugaan adanya kasus penyimpangan biaya pemungutan yang terjadi di Kabupaten Subang, Dedi memberikan apresiasi terhadap aparat penegak hukum di wilayah tersebut. Ia berharap, hal itu bisa menjadi contoh dan pendorong bagi pihak penegak hukum di wilayah lainnya. Karena kekeliruan biaya pemungutan hampir terjadi di semua wilayah di Indonesia. “Apa yang dilakukan pihak kejaksaan di Kabupaten Subang patut kita hargai, terlepas itu ada dorongan politik dari pihak manapun. Tindakan ini diharapkan bisa menjadi motivasi dan contoh bagi aparat penegak hukum di daerah lainnya tanpa harus menunggu adanya pengaduan,” tegasnya. Kalaupun di beberapa wilayah aparat penegak hukum tidak mengambil tindakan, kemungkinan mereka tidak respek, atau mungkin juga telah terjadi kongkalikong dengan pihak eksekutif. Kalau ini dibiarkan, sebuah kekeliruan besar yang terjadi di negeri ini berkaitan dengan pengelolaan keuangan. “Namun saya pesimis, masalah ini akan bisa diproses semua, karena banyak institusi yang akan terlibat,” tandasnya. Dalam satu kesempatan Bupati Subang Eep Hidayat yang ditanya Medikom seputar upah pungut ini mengemukakan, pihaknya sudah melakukan kebijakan dalam pengelolaan biaya pemungutan itu sesuai dengan Surat Keputusan Menkeu Nomor 83/KMK-04/2000 tentang Biaya Pemungutan PBB Perkotaan dan Pedesaan, Pertambangan, Perhutanan dan Perkebunan. Di dalam SK Menkeu tersebut, telah ditetapkan ihwal nilai nominal setiap daerah kabupaten dan kota yang akan menerimanya. “Bahkan, dikuatkan lagi dengan SK spesifik per alokasi dan per daerahnya,” tutur Eep. Dan, sesuai hasil pemeriksaan BPK RI dan BPKP, pengelolaan dana Biaya pemungutan selama periode 2005-2008 di Kabupaten Subang, tak menimbulkan kerugian negara sepeser pun. “Jadi nggak benar kalau oleh penyidik kejaksaan telah terjadi korupsi,” kata Eep. Karenanya, Bupati Subang, Eep Hidayat, menantang Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat berdebat soal pengelolaan dana Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkotaan dan Pedesaan, Pertambangan, Perkebunan dan Perhutanan. Kebijakan Eep itu, diduga merugikan negara senilai Rp6,1 miliar dan membuat Bupati Subang itu menjadi salah satu tersangka korupsi. “Mari kita berdiskusi dan adu argumentasi dalam suasana terbuka,” kata Eep, kala itu. “Kalau salah argumentasi salah dan saya kalah berdebat soal aturannya, saya siap menyerahkan diri.” Menurut Eep, jika dirinya menang dalam adu argumentasi tersebut, “Saya harus dibebaskan dari segala tuntutan hukum.” Eep tidak saja menantang perdebatan soal biaya pemungutan pajak lima sektor itu sebatas dengan Kepala Kejati Jawa Barat saja, tapi juga dengan para pakar perguruan tinggi. “Saya siap, sebab saya sudah faham betul soal itu (biaya pemungutan pajak),” kata Eep. Eep mengkritisi penyidik yang menggunakan istilah upah pungut. Menurut dia, upah itu sudah tidak berlaku lagi. “Yang bener biaya pemungutan,” kata Eep. Namun tantangan Bupati Subang untuk berdebat persoalan upah pungut dianggap dingin oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Melalui Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jabar Slamet Riyadi kepada wartawan mengemukakan, Kejati Jawa Barat membentuk tim khusus untuk menangani kasus Upah Pungut Pajak Bumi dan Bangunan (UP PBB) yang melibatkan Bupati Subang Eep Hidayat dengan status sebagai tersangka. Kasus UP PBB ini juga melibatkan mantan Wakil Bupati Subang Maman Yudia dan mantan Sekda Kabupaten Subang Bambang Heryanto. Maman Yudia saat ini menjadi anggota DPRD Jabar dan Bambang Heryanto kini menjabat Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Jabar sudah ditetapkan Kejari Subang sebagai tersangka. Lebih lanjut Slamet menyatakan, pembentukan tim ini menegaskan Kejati Jabar tidak terpengaruh terhadap tekanan-tekanan yang selama ini dilakukan oleh Bupati Subang. Pihaknya tidak akan takut penekanan dari siapa pun. “Kalau memang ditemukan unsur pidana, kami akan tetap bersikukuh untuk mengusutnya,” ujar Slamet. Dikatakan, pihaknya selain melakukan pembentukan tim, juga terus mempelajari kasus tersebut. Soalnya, kasus UP PBB dengan tersangka Bupati Subang yang sebelumnya ditangani Kejari Subang, kini ditangani oleh Kejati Jabar. “Sebelumnya memang ditangani Kejari Subang, tapi karena aspek sosial politik tidak memungkinkan akhirnya ditarik ke Kejati Jabar. Pada dasarnya Kejati Jabar berwenang untuk menyidik bila kasus melibatkan Bupati. Jadi pertimbangannya tidak semata aspek sosial politik saja,” ujar Slamet. Selain pembentukan tim, Kejati Jabar juga sedang mengurus izin presiden. Izin tersebut telah dilayangkan dua kali, pertama pada tahun 2009, kemudian surat kedua kembali dilayangkan pada April 2010. Isinya meminta izin pemeriksaan Eep Hidayat sebagai Bupati Subang untuk diperiksa sebagai tersangka. Surat permintaan izin presiden itu dikirim Kejati Jabar melalui Kejagung. “Kini kami tinggal menunggu,” ujar Slamet. Ia juga menegaskan, pemeriksaan tersangka baik bupati atau pejabat biasa yang melakukan korupsi tidak dibeda-bedakan. “Siapa pun kalau tidak kooperatif terhadap penyidik akan kami tangkap dan ditahan,” ujarnya. Terkait dengan adanya ajakan Eep Hidayat untuk melakukan adu argumentasi dengan pihak Kejaksaan dalam kasus UP PBB, Slamet mengatakan Kejati Jabar tidak akan menanggapinya karena proses hukum tidak untuk diargumentasikan. “Kami tidak akan menanggapinya tapi kami akan membuktikan nanti di persidangan bahwa Eep bersalah melakukan korupsi,” katanya. Di sisi lain, persoalan upah pungut juga telah menjadi wacana hangat di pemerintah pusat. Meski pemerintah menganggap pungutan tersebut sah dan lazim, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus aroma korupsi di balik pungutan itu. KPK menegaskan, kepala daerah tidak berhak atas upah pungut yang ditarik saat memungut pajak daerah. Hal itu disampaikan KPK mengingat UU No 28/2009 tentang Pajak Daerah sudah mulai diberlakukan. Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan Haryono Umar menyatakan, selama ini upah pungut juga dinikmati oleh para pejabat daerah yang semestinya tidak memiliki hak atas insentif tersebut. “Kami minta untuk segera mengikuti UU No 28/2009 di mana upah pungut hanya instansi yang memang bertugas melakukan pemungutan,” tandas Haryono. KPK akan berkoordinasi dengan semua pihak untuk membenahi teknis dan mekanisme upah pungut. Pasalnya, dana yang ditarik dari upah pungut itu sangat besar dan bisa merealisasikan reformasi birokrasi, terutama menyangkut perbaikan remunerasi. “Angkanya besar sekali ini upah pungut. Maka hal itu penting sekali diperhatikan,” ujarnya. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi pun menyertakan KPK dalam membahas RPP Upah Pungut bersama pimpinan KPK. KPK dilibatkan menyusul adanya sejumlah kebijakan yang diduga berpotensi terjadi tindak pidana korupsi dalam penarikan insentif atau upah pungut pajak daerah. Sebelumnya, kewenangan menarik upah pungut itu berdasar Keputusan Mendagri yang ditandatangani Mendagri Hari Sabarno No 36/2002. Dalam Kepmendagri itu, diatur secara khusus alokasi biaya pemungutan untuk aparat pemungut dan aparat penunjang. Aturan tersebut merupakan revisi dari No 27/2002 dan No 35/2002. Mendagri Gamawan Fauzi mengakui, pelaksanaan penarikan upah pungut telah mengalami bias akibat perbedaan persepsi, baik di tingkat pusat maupun daerah. Dalam beberapa hal, penggunaan dan besaran upah kurang memenuhi asas kepatutan, kewajaran, dan rasionalitas. Selain itu, ungkap Gamawan, juga terjadi perbedaan persepsi tentang siapa yang berhak mendapat upah pungut. Apakah orang yang langsung memungut pajak, atau mulai dari pemungut pajak, kepala daerah, hingga pemerintan pusat mendapat bagian. Bahkan, muncul perbedaan pendapat apakah upah pungut itu pemanfaatannya diatur instansi atau perorangan. Melihat adanya kontroversi tentang pungutan dan pemanfaatan upah pungut pajak, Gamawan lalu mengeluarkan Surat Edaran No 973/98/SJ tanggal 14 Januari 2010 perihal Penundaan Sementara Pemberian Biaya Pemungutan Pajak Daerah Tahun Anggaran 2009. Intinya, penundaan sementara pemberian biaya pemungutan pajak daerah Tahun Anggaran 2009 kecuali bagi aparat pelaksana dan penanggung jawab pajak daerah di jajaran pemda, Pertamina dan PLN, serta kepolisian di tingkat daerah. ***

Siapapun Tidak Bisa Halangi Pelantikan Darip Mulyana ..............................................Hal 1
Dalam surat yang ditandatangani Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Theo L Sambuaga dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Idrus Marham mendesak Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Irianto MS Syafiuddin, meninjau kembali terhadap keputusan DPD Partai Golkar Jawa Barat Nomor: KEP-26/Golkar/II/ 2010, tanggal 24 Februari 2010 tentang Pengesahan Komposisi dan Personalia DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, masa bakti 2009-2015, sesuai dengan ketentuan AD/ART Partai Golkar serta Juklak01/DPP/Golkar/X/2009. Selanjutnya segera mengukuhkan komposisi dan personalia DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, masa bakti 2010-2015, sesuai surat panitia Musda VIII Partai Golkar Kabupaten Bekasi, tanggal 29 Januari 2010, perihal laporan formatur dan mohon penerbitan SK Pengurus DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, masa bakti 2009-2010 dan surat DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi Nomor: 130/DPD-Golkar/II/ 2010, tanggal 23 Februari 2010, perihal mohon segera menerbitkan SK Kepengurusan DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi Hasil

Musda VIII, masa bakti 2009-2015. Berdasarkan hasil Tim Fact Finding DPP Partai Golkar tersebut, Theo Sambuaga meminta semua pihak untuk mematuhi dan menerima secara legowo keputusan DPP Partai Golkar. “Keputusan DPP sudah final. Sekarang kita tunggu langkah DPD Partai Golkar Jawa Barat, mau melantik Darip Mulyana, sekaligus mengukuhkan komposisi dan personalia DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, masa bakti 2010-2015 atau tidak. Kita tunggu saja,” imbuh Theo Sambuaga. (Dudun/Ahmad Taufik)

tidak ada ketentuan yang membatasi hak seseorang untuk menjadi wartawan. Pekerjaan wartawan sangat berhubungan dengan kepentingan publik, karena wartawan adalah bidan sejarah, pengawal kebenaran dan perlindungan hak-hak masyarakat, dan musuh penjahat kemanusiaan seperti koruptor dan politisi busuk. Menurut Ketua PWI Subang, dalam melaksanakan tugasnya profesi wartawan dilindungi oleh UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum. Sedangkan orang yang menghalang-halangi atau melarang wartawan dalam tugasnya diancam hukum pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda Rp500.000. “Ingat! Pena wartawan tak akan pernah tumpul dalam menghadapi segala bentuk tindakan kejahatan yang mengancamnya. Ceceran darah dari rekan-rekan wartawan yang menjadi korban aksi kejahatan itu, akan menjadi tinta pena wartawan semakin tajam dari pedang,” ujar Dadang. Sementara Yahya Siregar, salah seorang tokoh pers di Subang, dalam orasinya mengatakan, pers adalah pilar keempat demokrasi. Melalui media berbagai peristiwa yang bisa dilaporkan bisa membentuk dan menyuarakan aspirasi publik. Selain itu, kemerdekaan pers adalah pilar yang strategis dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, menurut Bang Regar panggilan akrabnya, ketika pers coba dibungkam, ini akan menjadi preseden buruk dan sesuatu kemunduran. Karenanya, antara pelaku media/pers dan pemerintah

Wartawan Demo Antikekerasan ............................................................Hal 1
harus bisa berjalan seiring dalam membangun kesejahteraan rakyat. Sebagai salah satu pilar demokrasi hendaknya ketiga pilar lainnya yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif mampu menjalankan fungsinya masing-masing dan tentunya harus saling mendukung sehingga tercipta kehidupan demokrasi yang dinamis. Apalagi, lanjutnya, pilar demokrasi dalam tatanan demokrasi berfungsi watchdog bagi kinerja tiga pilar lainnya. Di mana, fakta-fakta yang disajikan media menyangkut tindak pidana korupsi misalnya, haruslah diproses secara hukum oleh lembaga yudikatif dan eksekutif wajib meningkatkan kinerja aparatnya dalam memberikan pelayanan kepada publik. Karenanya, tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap wartawan bukan hanya sebuah tindak pidana tetapi bisa mengancam kualitas demokrasi dan terhambatnya pencapaian nilai-nilai kemanusiaan dan keberadaban. Untuk itu, tidak ada kata yang bisa menerima kekerasan yang dilakukan. Kecuali satu kata, lawan. “Para wartawan harus siap untuk melawan,” ujar Yahya Siregar. Usai melakukan orasi di halaman pemda, salah seorang wartawan Radar Karawang, Agus Eko MS, membacakan petisi Anti-Kekerasan terhadap pekerja media/pers yang intinya menolak segala bentuk penindasan dan kekerasan kepada pekerja media/pers. Untuk selanjutnya ditandatangani oleh perwakilan wartawan dan pemerintah yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Asisten Tata Praja Kabupaten Subang H Saad B Abdulgani SH MSi.

Aksi demo dilanjutkan menuju Gedung DPRD Kabupaten Subang, sementara penandatanganan Petisi di DPRD diwakili oleh salah seorang anggota Dewan dari Fraksi PKS, yakni Agus Maskur Rosyadi. Usai penandatanganan aksi demo dilanjutakan kembali menuju kantor Kejaksaan Subang yang dikawal langsung oleh sejumlah personel Polres Subang. Setibanya di Kejaksaan, para demonstran diterima langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Subang Yusron SH MH. Setelah mendengarkan penjelasan dari perwakilan wartawan mengenai demo yang dilakukan, Yusron langsung menandatangani petisi yang diberikan oleh perwakilan demonstran. Kapolres Subang AKBP Dadang Hartanto SH MSi, dihadapan ratusan wartawan mengatakan siap berdiri paling depan untuk melindungi wartawan dari ancaman kekerasan. Bahkan pihaknya bakal menindak siapa saja yang terbukti mengganggu tugas para wartawan. Kapolres juga menyebutkan, wartawan merupakan profesi yang mulia karena ikut memberi pencerahan terhadap masyarakat. Sementara, media massa merupakan alat kontrol sosial yang sangat ampuh bagi semua pihak. “Oleh karena itu, saya merasa sangat prihatin jika ada kalangan tertentu yang memusuhi wartawan dan pekerja media,” ujar Kapolres sambil meminta kepada para wartawan yang mendapat tekanan atau bahkan tindak kekerasan untuk segera melaporkan hal itu ke Polisi. “Saya berjanji akan merespons dengan cepat laporan tersebut,” katanya. (Loy/One/Ssp)

Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks 022 7233856 Email : skmmedikom@yahoo.com Perusahaan : Jl. Peta No.149 A (Lingkar Selatan) Bandung Telp/Faks. 022 - 6001506
Diterbitkan : CV WIYATA PURNAKARYA. Berdasarkan UU No. 40/1999. Terdaftar pada Direktorat Merk Ditjen Hak & Kekayaan Intelektual Departemen Kehakiman dan HAM RI No. 556756/22 Desember 2003 Penasehat : Yodi Setiawan EDD, EDS Pendiri : LH Rahardja Pemimpin Perusahaan : HA Damini Wakil Pemimpin Perusahaan : Teddy Subarsyah SH SSos CN Dewan Redaksi : Yahya Siregar - HA Damini - Edie Nirwan S - HA Soleh Hidayat - H Rochadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Yahya Siregar Wakil Pemimpin Umum : Edie Nirwan S Wakil Pemimpin Redaksi : HA Soleh Hidayat Konsultan Hukum : Iwan Suwandhito SH - David Roesyidi Konsultan Kesehatan : dr Henry S Ibrahim - dr Isnindiary Sandra Dungga Manajer Keuangan : D Muliaman SE MBA Manajer Produksi : H Rochadi Manajer Iklan & Sirkulasi : Rudy Janto Soelaiman Litbang: Teddy Subarsyah SH SSos CN - Drs Heriyadi TS Redaktur Eksekutif : Dadan Supardan Redaktur Pelaksana : Hiskia Milala Redaktur Hukum : Sastrianta Sembiring Redaktur Politik: Drs A Basa MSc Redaktur Khusus : Bambang Wisono Staf Redaksi : Taryana SSos - Hary Buana - Nina Nurlinawati - Slamet Raharjo - Dudun Hamidullah - Desi Kurnia - Zulkifli SDP Lubis - Dudi Hendayat - Drs Eka Wirawan - Endang Kosasih - Kaka Suminta Koordinator Liputan/Wartawan : Kgs Dedi Iskandar Marketing : Edy Herwansyah Sekretaris Redaksi : Sulastiyah Desain Grafis : Hary Buana Sirkulasi : Sandi Lesmana Jaya - Angga Agus Junarsa - Nanang Johansyah Alamat Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks: 022 7233856 Perwakilan Jakarta : Jl Dr Muwardi I/37 Grogol Jakarta Barat Marketing Iklan : Jl Blitar No 13 Antapani Bandung 40291 Telp/Fax: (022) 7207988 Bank BNI 46 Cabang Kantor Unpad Bandung No Rek 6404937-3 a.n. Bpk Amin Damini H. Percetakan : CV WIYATA PURNAKARYA - Isi diluar tanggung jawab percetakan

Medikom Hadir di: Jl BKR depan Alifa, Jl BKR Depan PT INTI, Jl Peta Depan Tegalega, Jl Peta Depan RS Imanuel, Jl Peta Perempatan Jl Kopo, Jl Kopo Samping RS Imanuel, Jl Kopo Depan Alfamart, Jl Kopo Depan Bank BCA, Jl Astanaanyar, Jl Pasteur depan RSHS, Jl Pasteur Depan Yogya, Jl Pasteur samping Universitas PASIM, Jl Garuda Deket Lampu Merah, Jl Garuda, Jl Cihampelas Depan SDN Cihampelas 1,2, Jl Cihampelas Depan Pom Bensin,Jl Cihampelas Depan SMU Pasundan, Depan Alunalun, Jl Rajawali, Depan RS Rajawali, Terminal lewipanjang (dalam), Jl Terminal Leuwipanjang ( luar), Jl Tegalega Depan Museum Sri Baduga, Jl Buah Batu, Jl Buah Batu, Jl Gatot Subroto, Jl Gatot Subroto, Jl Kiaracondong, Jl Kiaracondong, Jl Soekarno Hatta, Jl Soekarno Hatta /Pasar Gede Bage, Jl Cipadung, Jl Raya Ujung Berung, Jl Raya Sumedang. Jl Padjadjaran (Depan Toko HWK), Jl Cihampelas (Depan STHB Bandung), Jl Cipaganti (Simpang Jl Dr Curie), Depan Jl Cipaganti No.37, Jl Sampurna (Depan Primajasatour), Jl Cipaganti (Depan Rumah-Praktek Prof Dr.Julianto W dan Dr Imelda A Widjojo SpPD), Jl Cipaganti (Depan Kantor Pos Cipaganti), Jl Cipaganti (Yayasan Bakti Sosial Santoso PSAA Santoso Cipaganti), Jl Setiabudhi (Depan Pizza Hut), Jl Ciumbuleuit (Depan Apotek Waringkas), Jl Ciumbuleuit (Depan Alfamart Ciumbuleuit), Jl Ciumbuleuit (Depan RSAU dr Salamun), Jl Siliwangi (Depan Siliwangi Billiards), Jl Ir H Juanda (Depan Dago Tea House), Jl Ir H Juanda Depan ITSB (Institute Tekhnologi dan Sains Bandung), Simpang Dago (Depan RM Pondok Kapau). WARTAWAN BANDUNG Kota : Mbayak Ginting - Iwan Herdiawan - Yusuf Suryaman - Laures - Eva - Akbar Kab Bandung : Suhendar R Kab Bandung Barat : K fauzi R CIMAHI : Zaenal Abidin - Fredy HS DKI Jakarta : Slamet Supriyadi - Ahmad Taufik Nawawi TASIKMALAYA : Agus Cucu SB - Anwar SB, Lukman Nurhakim CIAMIS : Heru Pramono (Kabiro) - Ipan Panuju Supriadi BANJAR : Handri Martandangi CIREBON Kota : Yuyun W Kurnia BBA SE - Rudi Mulyana - Indra Sunawar Kab : M Suratman - KUNINGAN : Yoyo Suhendar SUKABUMI : Anne Mustikasari - Ilham Septian B.W - Ariya Gumelar PURWAKARTA: - CIANJUR : Asep Kurnia - Rizal BOGOR : M Yusuf - Eka Wirawan - A Gani DJ - Rangga Anggoro TR Putra - Edison Nizar Jt DEPOK: FR. Ambarita - Lucia S. Andreeni Perwakilan KARAWANG : Andi Nugroho BEKASI : Iwan Gunawan- Rosyd - Dedi Sukandi - Stefanus Lung, Agus Nuryadin MAJALENGKA: Isa Ansori P - Juremi SUMEDANG : Aidin Sinaga INDRAMAYU : H. Yonif Fatkhurony SUBANG : Loy - Slamet Supuwijara - Lodewyk Butar-butar - Asep Nasa PANTURA : Ridwan Abdullah GARUT : Engkus K - Yudi K - NIK NIK - AGUS TEGAL : Dodi Yahya PANDEGLANG : - KABUPATEN LEBAK : - TANGERANG: Agus Salim - H. Bainul Amin - H. Syaiful Perwakilan JAWA TIMUR : Drs Albert PS JL Jaga Raga No 18 Surabaya (Tlp: 031 3557655/08165430289) Perwakilan YOGYAKARTA : - Perwakilan LAMPUNG BARAT : Suhardin (Kabiro) - Joniyawan Sumatera Utara : (Ka Perwakilan)-Jonpery Sinulingga Medan : Syamsul - Maradona Deli Serdang : R David Sagala - Paulus Butar Butar, HILDE TIURMA TAMPUBOLON Simanlungun/Siantar: Sailan Tarigan Langkat/Kota Binje : Sagin, Hendra Sinaga, Rusmajam Kabupaten DAIRI : Amin Sitanggang

Edisi 370 Tahun VII 24 s.d. 30 Mei 2010

12

Kolom
Negeri Tak Bangkit-bangkit
Oleh Yahya Siregar
PADA setiap tanggal 20 Mei, warga bangsa memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah peringatan momen bersejarah, ketika 102 tahun lalu sekumpulan anak muda menggalang kekuatan untuk bangkit dari keadaan sebagai negeri terjajah. Pada tanggal 20 Mei 1908 anak-anak muda yang dimotori oleh Dr Soetomo, Dr Wahidin Soedirohoesodo, Dr Goenawan, dan Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) membentuk perkumpulan yang kita kenal dengan Boedi Utomo. Awal kebangkitan nasional yang dicanangkan para anak muda ini tidaklah terjadi secara sendirinya. Tetapi terjadi berawal dari rasa keprihatinan terhadap kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Sejarah juga telah membuktikan kebangkitan nasional yang dicanangkan melahirkan keseragaman dalam perjuangan, khususnya perjuangan meraih kemerdekaan. Namun, setelah 102 tahun yang lalu apakah semangat kebangkitan yang dicanangkan para pendahulu ini masih menjadi semangat kebersamaan dalam mencapai cita-cita bangsa? Tentu persepsi bisa bermacam-macam berdasarkan dari sudut pandang dan latarbelakang melihat Indonesia kekinian. Tapi ada satu fakta yang tak terpungkiri, latar belakang lahirnya perjuangan kebangkitan seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan ternyata masih sebuah fakta dan realita dalam kehidupan dan dinamika negeri ini. Kalau begitu adanya, apakah semangat kebangkitan itu masih ada? Ataukah kebangkitan nasional yang dipelopori pelaku-pelaku sejarah seperti Ki Hajar Dewantara hanya mengantarkan kebangkitan dalam meraih kemerdekaan saja? Sebab ada kecenderungan sejak meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 bangsa ini malah tidak bangkitbangkit. Muncul keprihatinan luas melumernya karakter bangsa. Yang akibatnya, bangsa ini kehilangan jatidiri, lahir juga ancaman keutuhan kesatuan bangsa. Persoalan negeri ini makin parah, ketika hampir setengah warga bangsa dari 230 juta jiwa berada di bawah garis kemiskinan. Generasi muda yang dilahirkan dihinggapi penyakit gizi buruk. Sekolah menjadi barang mahal. Walaupun retorika dan slogan dinyatakan bahwa sekolah gratis. Dan yang lebih menyedihkan, pemimpin negeri ini adalah sosok dan tokoh yang sangat pintar berslogan dan beretorika. Pikiran rakyat diasupi tentang mimpi-mimpi kesejahteraan. Mimpi tentang harapanharapan dalam mencapai cita-cita. Tapi fakta dan realita rakyat tetap saja terpinggirkan. Paradigma penyelenggaraan Negara tidak juga berubah. Negara dijalankan bak kerajaan yang diisi penuh pejabat-pejabat Negara yang berperilaku priyayi dan menak, yang harus dilayani. Penyelenggaraan Negara yang egaliter, aspiratif jadi harapan-harapan kosong. Segala persoalan itu justru makin menyesakkan dada ketika bangsa ini memasuki sebuah era yang namanya reformasi. Pembangunan justru tidak memiliki arah dan fokus. Rakyat menjadi objek dan hanya menjadi datadata statistik. Langkah reduksi persoalan kerakyatan seringkali hanya bersifat janji. Lapindo sampai hari ini menyisakan kesengsaraan. Disvaritas kaya dan miskin makin menganga. Pendapatan per kapita rakyat anjlok paling rendah di antara Negara Asia Tenggara. Karenanya kita bertanya, apakah Hari Kebangkitan Nasional masih bisa dijadikan sumbu pemicu kesatuan, membangkitkan kembali semangat kejuangan kita meraih cita-cita bersama seperti apa yang dilakukan Dr Soetomo, Dr Wahidin Soedirohoesodo, Dr Goenawan dan Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) 102 tahun lalu atau kita pasrah dengan segala persoalan yang ada sambil menanti kebangkitan nasional jilid II? ***

Dari Apel Siaga Pemuda Pancasila

Ormas Siap Mengawal dan Mengamankan Pemilukada
INDRAMAYU, Medikom–Forum Indramayu Bersatu yang terdiri dari ormas-ormas se Kabupaten Indramayu bertekad untuk mengawal dan mengamankan Pemilukada Kabupaten Indramayu tanggal 18 Agustus 2010 mendatang. Hal itu tertuang dalam Apel Siaga Pemuda Pancasila Kabupaten Indramayu di alun-alun setempat, Kamis (20/5). Tampak hadir pada Apel Siaga tersebut Bupati Indramayu DR H Irianto MS Syafiuddin, Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Indramayu H Daniel Muttaqien Syafiuddin ST, utusan Pemuda Pancasila Jawa Barat, serta para pimpinan PP Kecamatan se Kabupaten Indramayu. Selain menggelar Apel Siaga, pada kesempatan yang sama Forum Indramayu Bersatu yang terdiri dari ormas-ormas menyampaikan pernyataan dukungan yang isinya siap mengawal Bung Yance sampai dengan akhir masa jabatan Bupati Indramayu dan pascaakhir masa jabatannya. FIB juga siap mengawal dan mengamankan serta memenangkan Ibu Hj Anna Sophana sebagai calon Bupati

H Abdul Kodir Sekda Kabupaten Tasikmalaya
TASIKMALAYA, Medikom–Sejak Maret lalu, Sekda Kabupaten Tasikmalaya Drs H Asep Ahmad Djaelani MM memasuki masa pensiun. Sebagai penggantinya, baru terjawab pada hari Kamis (20/5) setelah Bupati Tasikmalaya Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd melantik Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Drs Abdul Kodir MPd berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat yang baru turun sehari sebelumnya. Dalam sambutannya Bupati Tasikmalaya mengatakan, proses pelantikan Sekretaris Daerah sudah dinanti sejak tiga bulan lalu. “Kami baru kemarin menerima Surat Keputusan dari Gubernur Jawa Barat. Di hari ini dilakukan pelantikan agar jabatan Sekda cepat terisi,” ujarnya. Dikatakan, jabatan Sekda difungsikan sebagai pimpinan aparatur pemerintah daerah dari mulai dinas instansi di tingkat kabupaten sampai ke aparatur di tingkat desa. Sekda diharapkan mampu melakukan kontrol kinerja para aparatur dan bisa memfungsikan aparatur pemerintahan. Sekda juga harus membangun sistem pemerintahan sesuai dengan aturan perundangundangan. Pengangkatan Sekda Kabupaten Tasikmalaya Drs H Abdul Kodir MPd adalah pilihan terbaik di antara para pejabat eselon II B di Kabupaten Tasikmalaya. Abdul Kodir merupakan Sekda ke-5 semenjak periode Bupati Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd menjabat Bupati Tasikmalaya. “Dan jabatan Sekda ini akan sangat berat tanggung jawabnya, karena di masa akhir jabatan saya sebagai Bupati akan berakhir pada tahun depan. Tidak mau lagi saya mendengar ada pejabat eselon IV sampai II yang tidak tahu kerja atau tupoksi,” kata Bupati mengakhiri sambutan. Drs H Abdul Kodir MPd sebelumnya menjabat Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Latihan Daerah (BKPLD) Kabupaten Tasikmalaya. (A Cucu)

Bupati Indramayu DR H Yance pada Apel Siaga Pemuda Pancasila di Alun-alun Indramayu (20/5), disampingnya Anggota PP tengah membacakan pernyataan sikap dukungan. (Foto: H Yonif Fatkhurony) Indramayu Periode 2010-2015 sampai dengan terpilih dan masa baktinya sebagai Bupati Indramayu demi melanjutkan visi Indramayu REMAJA. Selain itu, Forum Indramayu Bersatu siap mengawal dan mengamankan Pemilukada Kabupaten Indramayu tanggal 18 Agustus 2010 mendatang. Bupati Indramayu DR H Yance dalam amanatnya mengatakan, Pemuda Pancasila dan ormas-ormas yang ada diminta untuk meneruskan perjuangan. Menurutnya Indramayu yang kondusip ini agar terus dipertahankan keutuhannya. “Sembilan tahun terakhir Indramayu tidak pernah ada tawuran, hal ini menunjukkan bahwa Indramayu dalam keadaan kondusip,” tegasnya. H Yance yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat mengingatkan agar jangan coba-coba mengadu domba, memfitnah, apalagi menghujat sesuatu yang tidak jelas. “Saya minta FIB dan ormas-ormas bisa menghalau segala aktivitas yang akan mengacaukan Bumi Wiralodra ini. Kalau ada yang menuduh saya korupsi jangankan satu Alquran seribu Alquran sekalipun saya siap untuk disumpah,” tegas DR H Yance. (H Yonif)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->