Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Program pembangunan pemukiman yang bersih dan sehat terus
dilakukan guna meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman. Salah satunya
adalah pembangunan rumah tipe sederhana (RS). Peningkatan kebutuhan rumah
untuk masyarakat berpenghasilan rendah mempunyai konsekuensi banyak
dibangun rumah tipe sederhana (RS) dan rumah sangat sederhana (RSS). Salah
satu dampak dari pembangunan rumah tipe sederhana tersebut dari sisi
pengelolaan air buangan rumah tangga adalah pembuatan tangki septik yang
kemungkinan besar tidak memenuhi persyaratan teknis karena jarak antar-rumah
yang berdekatan sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran air tanah.
Selain itu, Indonesia sampai dengan akhir tahun 2004, tingkat pelayanan
air limbah permukiman di perkotaan melalui sistem perpipaan (sewerage system)
mencapai 2,33 % dan melalui jamban (pribadi dan fasilitas umum) yang aman
baru mencapai 46,6% (world-psi, 2007). Pemerintah sudah berupaya membangun
berbagai fasilitas prasarana dan sarana penyaluran air buangan baik dengan sistem
terpusat (conventional sewerage) maupun sistem setempat dengan skala besar dan
sedang, tetapi masih belum optimal dan sistem tersebut membutuhkan
pembangunan yang lama dan investasi besar serta membutuhkan biaya
pengelolaan yang rutin.
Saat ini, pengembangan sarana sanitasi di Indonesia masih belum sesuai
dengan harapan, terutama bagi penduduk berpenghasilan rendah di kawasan
permukiman rawan sanitasi, padat, dan kumuh di perkotaan. Dari segi kuantitas,
akses penduduk Indonesia terhadap sarana sanitasi dasar (basic sanitation) di
tahun 2007 memang cukup tinggi, yaitu 77,15% (BPS, 2007). Angka ini telah
melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) 2015.
Namun, dari segi kualitas, akses sanitasi penduduk Indonesia masih jauh
dari yang diharapkan. Prosentase rumah tangga yang menggunakan sistem sanitasi

I-1
I-2

setempat (on-site system) yang aman (menggunakan tangki septik) di tahun 2007
baru sebesar 49,13%, yaitu 71,06% di perkotaan dan 32,47% di perdesaan, karena
masih banyak warga yang memiliki jamban, akan tetapi buangan dari jamban
tersebut langsung dialirkan kebadan air atau sungai tanpa melalui proses
pengolahan terlebih dulu. (Ditjen Cipta Karya PU, 2009). Oleh karena itu, sistem
pengelolaan dan penyaluran air buangan ini perlu diperbaiki agar sanitasi di
masyarakat dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Perumahan RSH Griya Sidoharjo Asri yang berada di Desa Singopadu,
Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, direncanakan akan dibangun sejumlah
676 unit rumah dengan tipe 21/72 sebanyak 508 unit dan tipe 29/84 sebanyak 168
unit. Luas kavling sebesar 6 x 13 m2 dan luas lahan total sebesar 7,50 Ha. Saat ini,
jumlah rumah yang telah terbangun sebanyak 120 unit rumah. Jarak antar rumah
yang sangat rapat serta lahan yang relatif kecil sehingga sangat tidak
memungkinkan apabila akan dibangun sebuah tangki septik atau unit pengolahan
dan pembuangan air buangan setempat di tiap rumah. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah (PP) No.16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan
Air Minum pada bab III disebutkan bahwa pembangunan sistem air buangan
terpusat diperuntukkan bagi kawasan padat penduduk dengan memperhatikan
kondisi daya dukung lahan dan SPAM serta mempertimbangkan kondisi sosial
ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan unit pengolahan dan
pembuangan air buangan setempat berupa tangki septik di perumahan dapat
mempengaruhi kondisi sanitasi di lokasi perumahan tersebut.
Berdasarkan kondisi tersebut di atas, perencanaan pembangunan
Perumahan RSH Griya Sidoharjo Asri oleh pihak pengembang dan untuk
memenuhi sasaran Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015, akan
direncanakan suatu sistem penyaluran air buangan dan unit pengolahan di
dalamnya. Nantinya, Perumahan RSH Griya Sidoharjo Asri ini akan dijadikan
sebagai proyek percontohan (pilot plant) untuk pembangunan perumahan
sederhana lainnya yang dilengkapi dengan sistem penyaluran air buangan dan unit
pengolahan. Oleh karena itu, diperlukan suatu Detail Engineering Desain (DED)
I-3

sistem penyaluran air buangan dan instalasi pengolahan air buangan di Perumahan
RSH Griya Sidoharjo Asri.
1.2. Identifikasi Masalah
Dalam perencanaan pembangunan Perumahan RSH Griya Sidoharjo Asri
sebelumnya perlu dilakukan pengindentifikasian masalah-masalah yang dapat
timbul dalam pembangunan perumahan tersebut. Permasalahan-permasalahan
yang dapat timbul antara lain :
1. Bagaimana kondisi persampahan dengan adanya pembangunan perumahan
tersebut
2. Bagaimana pengaruh air bersih di lokasi sekitar dengan adanya
pembangunan perumahan tersebut
3. Bagaimana pengaruh sistem pembuangan seperti saluran drainase dengan
adanya pembangunan perumahan tersebut
4. Bagaimana sistem dari pengelolaan air buangan yang dihasilkan
5. Apa pengaruh kondisi kesehatan masyarakat sekitar terhadap adanya
pembangunan perumahan tersebut
6. Bagaimana pengaruh lalu lintas/sarana perhubungan di lokasi perencanaan
terhadap adanya pembangunan perumahan tersebut.

1.3. Pembatasan Masalah


Dalam perencanaan pembangunan Perumahan RSH Griya Sidoharjo Asri
sebelumnya perlu dilakukan pengindentifikasian masalah-masalah yang dapat
timbul dalam pembangunan perumahan tersebut. Permasalahan-permasalahan
yang dapat timbul antara lain :

1.4. Perumusan Masalah


Dari pembatasan masalah tersebut di atas, kemudian dapat dijadikan suatu
perumusan masalah yang meliputi antara lain :
I-4

1. Bagaimana desain sistem penyaluran air buangan domestik di lokasi


perencanaan demi tercipta kondisi sanitasi yang sehat yang dapat diterapkan
pada perumahan ke depannya
2. Bagaimana sistem pengolahan yang cocok yang dapat digunakan/diterapkan
di lokasi perencanaan.

1.5. Maksud dan Tujuan


1.5.1. Maksud
Maksud dari perencanaan ini adalah tercapainya tingkat pelayanan yang
baik bagi masyarakat dalam pengelolaan air buangan domestik (air buangan
rumah tangga) sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat khususnya
lingkungan di suatu perumahan dan berkurangnya pencemaran yang diakibatkan
oleh air buangan domestik rumah tangga di kawasan perumahan.

1.5.2. Tujuan
Tujuan dari perencanaan Detail Engineering Desain (DED) sistem
penyaluran air buangan dan instalasi pengolahan air buangan Perumahan RSH
Griya Sidoharjo Asri di Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten
Sragen adalah :
1. Perencanaan desain sistem penyaluran air buangan yang cocok diterapkan di
lokasi perencanaan
2. Perencanaan desain instalasi pengolahan air buangan yang cocok diterapkan
di lokasi perencanaan
3. Perhitungan rencana anggaran biaya (RAB) yang akan dikeluarkan untuk
kegiatan perencanaan penyaluran air buangan dan unit pengolahannya.

1.6. Ruang Lingkup


Ruang lingkup perencanaan DED sistem penyaluran air buangan dan
instalasi pengolahannya meliputi lingkup wilayah, sasaran, dan masalah.
1.6.1. Lingkup Wilayah
I-5

Ruang lingkup wilayah perencanaan adalah Perumahan RSH Griya


Sidoharjo Asri di Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen pada
site plan tahap 1 (pertama).
1.6.2. Lingkup Sasaran
Ruang lingkup sasaran meliputi kajian mengenai kondisi lokasi
perencanaan dan perencanaan sistem pengelolaan air buangan.
a. Kajian mengenai kondisi lokasi perencanaan
Kajian mengenai kondisi lokasi perencanaan meliputi identifikasi dan analisis
dari kondisi fisik lokasi perencanaan
b. Kajian perencanaan sistem pengelolaan air
buangan
Kajian perencanaan sistem pengelolaan air buangan meliputi perhitungan
desain, dan gambar detail engineer. Perhitungan desain dan gambar detail
enggineer meliputi :
1. Pengukuran topografi di wilayah perencanaan
2. Perhitungan debit air buangan
3. Penentuan dan perencanaan jaringan perpipaan
4. Perencanaan bangunan pelengkap seperti manhole dan penggelontoran
5. Perencanaan instalasi pengolahan air buangan
6. Operasional dan pemeliharaan
7. Perencanaan anggaran biaya (RAB)
8. Gambar detail engineer sistem penyaluran air buangan, bangunan
pelengkap, dan instalasi pengolahannya.

1.6.3. Lingkup Masalah


Dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan yang baik dan sehat,
maka dirumuskan masalah sebagai berikut, yaitu bagaimana penanganan air
buangan domestik yang ada.

1.6.4. Lingkup Masalah


I-6

Ruang lingkup waktu perencanaan ini adalah selama 4 bulan yaitu mulai
pada tanggal 1 November 2009 dan berakhir pada tanggal 2 Februari 2010.