Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Bahwa setelah wafat Rasulullah SAW persoalan pertama yang


menyebabkan pertentangan hebat antara ummat Islam ialah mengenai siapa yang
berhak menggantikannya. Terjadilah perbedaan-perbedaan pendapat yang satu
dengan lainnya saling berlawanan. Maka terjadilah karenanya golongan-golongan
Islam yang penting pada masa pertama itu ialah Khowarij, Murjiah dan Syi’ah.
Rasulullah SAW wafat dan beliau tidak menentukan siapa penggantinya.
Tidak pula menerangkan bagaimana cara pemilihannya. Dengan demikian ummat
Islam menghadapi masalah yang berat dan jalan yang akan ditempuh itu
menentukan berhasil tidaknya kehidupan politik mereka di kemudian hari.
Begitu pentingnya pengganti Nabi itu, sehingga tidak mengherankan
apabila masyarakat Madinah disamping sibuk menyelenggarakan pemakaman
Nabi, sibuk pula memikirkan soal Khilafah, soal pengganti Nabi Muhammad
sebagai kepala negara. Sebagai Nabi atau Rasul, Nabi tentu tidak dapat diganti.
Dalam pertemuan para sahabat di tempat Bani Saidah yang dihadiri kaum
anshar dan Muhajirin untuk memikirkan siapa pengganti Nabi selaku kepala
negara timbullah pada saat itu pendapat :
Pendapat pertama menyatakan bahwa khalifah dari kaum Anshar, dengan
alasan bahwa Muhammad diantara sukunya sendiri di Mekkah 13 tahun
berda’wah Islam, tetapi yang beriman hanya sedikit. Juga mereka tidak
mempunyai kemampuan menolak penganiayaan yang datang kepada Rasul SAW
dan tidak berusaha memulyakan agama. Tetapi setelah beliau pindah dari Makkah
ke Madinah dibela oleh kaum Anshar dan dipercayai, mereka berusaha
menjunjung dan memulyakan agama dan membela beliau beserta sahabatnya dari
orang-orang jahat dan selalu menyertai beliau dalam menghadapi musuh sampai
seluruh Jazirah Arab takluk. Nabi puas terhadap kaum Anshar, mereka adalah
yang terdekat kepadanya. Maka merekalah yang paling pantas untuk
menggantikan.

22
Pendapat kedua dari Muhajirin yang menyatakan bahwa khalifah itu harus
dari kalangan mereka, dengan alasan bahwa merekalah yang pertama kali beriman
kepada Rasul, tabah terhadap penderitaan dan tidak gentar menghadapi musuh
walaupun sangat sedikit jumlah mereka. Mereka adalah anggota suku Nabi dan
familinya. Mereka dari suku Quraiys dan bangsa Arab tidak akan tunduk kecuali
kepada mereka, tidak mengakui kemulyaan atau kekuatan kecuali kemulyaan dan
kekuatan suku Quraiys. Oleh seab itu mereka adalah yang paling pantas untuk
menjadi khalifah dari pada golongan lain.
Setelah lama jadi perdebatan, kaum Anshar mengajukan usul kompromi
dengan mengadakan dua khalifah, seorang khalifah dari Anshar, seorang lagi dari
Muhajirin, tetapi Muhajirin menolak usul tersebut dan perdebatan itu berakhir
dengan di bai’atnya Abu Bakar At Taimi dari suku Quraiys.
Ali bin Abi Thalib tidak hadir dalam pertemuan di Bani Saidah itu karena
sibuk mempersiapkan pemakaman Rasul. Setelah mendengar tentang pembai’atan
Abu Bakar dia tidak begitu senang, sehingga menimbulkan pendapat ketiga ialah
bahwa khalifah harus dari keluarga Nabi. Famili Rasul yang paling dekat adalah
pamannya yaitu Abbas bin Abdul Mutholib dan anak paman beliau Ali bin Abi
Thalib. Tetapi Al Abbas tidak termasuk orang yang pertama kali masuk Islam, ia
telah mengikuti perang Badar dipihak musyrik dan baru masuk Islam pada saat
akhir-akhir saja. Dari famili Rasul yang paling pantas menjadi khalifah adalah Ali
bin Abi Thalib, sebab ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam, suami
Fatimah putri Rasul. Perjuangannya, jasanya, pengetahuannya tidak lagi
dipungkiri, dan alasan golongan penigkut pendapat ini ialah : “yang paling berhak
untuk menggantikan Rasul ialah orang yang paling dekat dengan beliau”, keluarga
Bani Hasyim lebih baik dari pada keluarga Abu Bakar. Orang Arab lebih taat dan
tunduk kepada keluarga Bani Hasyim.
Kaum Muhajirin mengajukan alasan kepada Anshar bahwa mereka itu
adalah suku Nabi dan familinya, maka keluarga Nabi dan yang paling dekat
dengan Nabi lebih berhak.
Tiga pendapat itu selalu bertentangan, dan ketiganya adalah : pertama
(kaum Anshar) ada segolongan orang yang tetap berpendirian demikian meskipun

22
mereka tidak pernah muncul dalam sejarah. Adapun pendapat kedua dan ketiga
terus hidup dan berlanjut dengan peperangan dan perdebatan yang hebat.
Pendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak daripada Abu Bakar tidak
lenyap di masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, tetapi hanya diam. Hal ini
disebabkan karena keadilan dan kebijaksanaan kedua khalifah ini, pun pula kedua
khalifah itu sama seklai tidak mau memperdulikan fanatisme kesukuan.
Disamping itu karena ummat Islam pada masa kedua khalifah itu sedang sibuk-
sibuknya dengan perluasan daerah dan pembangunan daerah-daerah baru maka
penyebar fitnah tidak ada peluang untuk memainkan peranannya.
Setelah Usman naik menjadi khalifah, Ali dan pengikut-pengikutnya mulai
kurang senang, apalagi setelah terlihat bahwa Usman selalu minta keluarga
Umayah dan kebanyakan para pembantunya dari keluarga ini. Sekretaris
peribadinya adalah Marwan bin Hakam seorang Umawi. Marwan dan
golongannya inilah yang telah meruntuhkan bangunan yang telah didirikan oleh
Islam dan diteruskan oleh Abu Bakar dan Umar, yaitu dalam mengikis habis
fanatisme kseukuan, serta menyebarkan rasa kesatuan diantara bangsa Arab.
Tindakan inilah yang kemudian menimbulkan permusuhan yang semenjak masa
jahiliah sudah berkecamuk dengan hebatnya antara keluarga Hasyim dan Umayah.
Maka pada masa akhir pemerintah Usman telah terdapat golongan yang bergerak
di bawah tanah yang menuntut turunnya Usman dari khilafah dan diganti dengan
yang lain. Diantara golongan ini ialah yang menyokong Ali dan pemimpinnya
yang terkenal ialah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman yang
kemudian masuk Islam, ia telah merantau di Basrah, Kufah, Syam dan Mesir, ia
menyatakan “Seorang Nabi tentu ada orang yang mendapat wasiyatnya dan Ali
adalah orang yang diwasiati oleh Nabi Muhammad. Orang yang paling zalim
adalah yang tidak mau melaksanakan wasiat Rasul dan memusuhi orang yang
mendapat wasiyat.
Setelah Usman terbunuh banyak orang yang membai’at Ali, maka
terwujudlah pendapat yang menyatakan bahwa Ali adalah yang paling berhak atas
khalifah semenjak Rasul wafat. Dalam hal ini Ali mendapat sokongan dari
sementara sahabat besar karena adanya kesamaan pendapat. Dalam pada itu yang

22
menentang adalah Thalhah, Zuber dan Muawiyah. Mereka ini menuduh Ali
campur tangan dalam pembunuhan Usman atau setidak-tidaknya membiarkan
Usman terbunuh, sedangkan Ali bisa berbuat untuk menghalanginya. Sebagian
lain mengatakan, karena Ali telah dibaiat maka ia berkewajiban untuk menuntut
balas atas kematian Usman.
Thalhah dan Zuber masing-masing menyatakan berhak menuntut balas
atas kematian Usman karena mereka adalah diantara enam orang yang terpilih
dalam musyawarah memilih khalifah dan termasuk sahbat yang pertama dan
utama. Muawiyah menyatakan bahwa ia adalah termasuk famili Usman dan yang
paling berhak menuntut balas.
Menanggapi situasi yang demikian itu ada sebagian sahabat yang besar
tidak mau ikut membaiat Ali juga tidak kepada yang lain. Mereka tidak ikut
campur dalam perselisihan yang terjadi di masa itu, mereka lebih senang
menyingkir. Yang terkenal diantaramereka ini ialah Abdullah bin Umar, bin
Khattab, Muhammad bin Maslamah, Sa’ad bin Abi Waqas, Usamah bin Zaid,
Hasan bin Tsabit dan Abdullah bin Salam. Dalam hubungan ini Sa’ad bin Abi
Waqas mengatakan : Rasul SAW sungguh telah memerintahkan kepada saya, bila
ada terjadi perselisihan antara ummat Islam supaya membawa pedang saya dan
memukulkan pada lambung gunung Uhud. Kalau sudah patah saya pulang dan
tetap tinggal di rumah sehingga saya mendapat petunjuk atau saya mati
menunggu.
Masalah Thalhah dan Zuber selesai setelah mereka dapat dikalahkan
dalam perang Jamal. Tetapi persoalan Muawiyan sukar diselesaikan karena ia
memiliki tentara yang taat dan terlatih baik, maka terjadilah peperangan antara
Muawiyah dan Ali di Siffin, dan setelah Muawiyah mengira kekalahan akan
menimpa dirinya ia menganjurkan tentaranya untuk mengangkat Al-Qur’an
dengan tombak sebagai tanda untuk minta damai, dengan mempergunakan Al-
Qur;an sebagai dasar hukum perundingan.
Sehubungan dengan hal itu Quura’ yang ada di pihak Ali mendesak
supaya menerima tawaran damai dan dengan demikian dicarilah perdamaian
dengan mengadakan tahkim (arbitrase). Sebagai perantara diangkat dua orang:

22
Amru ibn al ‘Ash dari pihak Muawiyah dan Abu Musa al Asy’ari dari pihak Ali.
Sejarah mengatakan antara keduanya terdapat kesepakatan untuk menjatuhkan
kedua pemuka yang tertentangan, Ali dan Muawiyah. Disebutkan bahwa Abu
Musa al Asy’ari sebagai yang tertua terlebih dahulu mengumumkan kepada
khalayak ramai putusan menjatuhkan kedua pemuka yang bermusuhan itu.
Berbeda dengan apa yang telah disetujui, Amr ibn al Asy mengumumkan hanya
menyetujui penjatuhan Ali yang telah diumumkan al Asy’ari, tetapi menolak
penjatuhan Muawiyah. Peristiwa ini jelas merugikan Ali dan menguntungkan
Muawiyah. Ali sebagai yang syah legal sebagai khalifah telah tertipu. Dengan
peristiwa tahkim itu Muawiyah kedudukannya terangkat dari Gubernur naik
menjadi Khalifah yang tidak resmi. Maka tidak mengherankan jika keputusan itu
ditolak Ali dan tidak mau meletakkan jabatannya sampai ia mati terbutuh pada
661 M.
Sikap Ali yang merneima tahkim, walaupun dalam keadaan terpaksa, tidak
disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat bahwa hal semacam itu
tidak dapat diputuskan oleh manusia. Putusan hanya datang dari Allah dengan
kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. La hukma illa lillah
(tidak ada hukum selain dari hukum Allah) menjadi semboyan mereka. Mereka
memandang Ali telah berbuat salah, dan oleh sebab itu mereka meninggalkan
barisannya, golongan mereka inilah yang terkenal dengan nama Khawarij, yaitu
orang yang keluar dan memisahkan diri. Karena memandang Ali bersalah dan
berbuat dosa, maka mereka melawan Ali. Ali sekarang menghadapi dua lawan,
yaitu Muawiyah di satu pihak dan Khawarij dari pihak lainnya.
Khawarij dapat dihancurkan secara pisik oleh pasukan Ali, tetapi setelah
ini tentara Ali terlalu payah untuk meneruskan pertempuran dengan Muawiyah.
Maka Muawiyah tetap berkuasa di Damaskus dan setelah Ali Wafat dengan
mudah dapat memperoleh pengakuan sebagai Khalifat Ummat Islam pada tahun
661 M.
Persoalan politik yang tergambar di atas itulah yang akhirnya membawa
kepada timbulnya persoalan-persoalan ke Tuhanan (teologi) . Timbullah persoalan

22
siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari
Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam.
Khawarij memandang Ali, Muawiyah, Amr ibn Al Asy, Abu Musa al
Asy;ari dan lain-lain yang menerima tahkim sebagai orang kafir, karena Al-
Qur;an mengatakan : Siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang telah
diturunkan Allah adalah kafir.

   


  
   
Dari ayat inilah mereka mengambil semboyan La Hukma Illa Lillah.
Karena keempat pemuka Islam tadi telah dipandang kafir, telah keluar dari Islam
yaitu murtad mereka mesti dibunuh. Maka kaum Khawarij memutuskan untuk
membunuh mereka berempat, tetapi menurut sejarah hanya Ali yang berhasil
dibunuh.
Lambat-laun kaum Khawarij pecah menhadi beberapa cabang atau sekte,
dan konsep kafirpun mengalami peruahan. Yang dipandang kafir bukan lagi
hanya orang yang tidak menentukan hukum dengan Al-Qur’an, tetapi orang yang
berbuat dosa besar, yaitu murtakib al kaba’ir juga dipandang kafir. Persoalan
orang yang berbuat dosa besar inilah kemudian yang mempunyai pengaruh besar
dalam pertumbuhan ilmu kalam. Persoalannya ialah : Masihkah ia dapat
dipandang orang mukmin ataukah sudah menjadi kafir karena berbuat dosa besar
itu.
Itulah sejarah singkat untuk mengetahui latar belakang timbulnya tiga
golongan ataupun aliran dalam Islam yang pertama kali, yaitu Khawarij, Murjiah
dan Syi’ah.

22
BAB II
PEMBAHASAN

Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, kaum Khawarij itu terdiri atas


para pengikut Ali bin Abi Thalib yang memisahkan diri karena tidak dapat
menerima sikap Ali menyetujui tahkim dan hasilnya, dalam usaha mencari jalan
penyelesaian persengketaan masalah khailafah dengan Muawiyah ibn Abi Sufyan.

A. Pengertian Khawarij
Kata “khawarij” berasal dari kata “kharaja” yang berarti keluar,
“kharij” artinya orang (tunggal) yang keluar, “khawarij” bentuk jamak dari
”kharij”.
Kata “khawarij” adalah nama yang dipergunakan oleh suatu golongan
atau aliran yang lahir akibat terjadinya pertengkaran pendapat dalam masalah
khalifah. Nama khawarij diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan
Ali. Ada yang mengatkan bahwa pemberian nama itu didasarkan atas ayat 100
dari surat Al Nisa yang didalamnya disebutkan, terdapat kalimat:
“... Jahruju min baitihi muhaajiran ilallahi warasulihi....”
keluar dari rumah lari kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian
kaum khawarij menempatkan diri sebagai orang yang meninggalkan rumah
dan kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-
Nya. Kaum khawarij senang dengan nama itu dengan penafsiran mereka
“keluar dari kelompok barisan Ali menuju jalan yang diridhoi Allah dan
Rasul-Nya.
Kaum Khawarij juga menyebutkan namanya dengan “Syurah” yang
artinya “para penjual”, maksudnya ialah bahwa mereka itu menjual diri
kepada Allah. Nama ini dipertalikan dengan ayat 201 sura Al Baqarah:
Dan diantara manusia, ada orang-orang yang menjual dirinya untuk
memperoleh kerelaan Allah.

22
Maksudnya ialah bahwa mereka aalah orang-orang sedia
mengorbankan diri untuk Allah. Akan tetapi dengan nama “Syurah” ini lawan-
lawan khawarij memberikan penafsiran lain, yaitu bahwa kata “syurah” ini
berasal dari kata kerja “syariya” syariya asysyarri artinya bertumpuk-tumpuk
kebusukannya, atau “syariya al rajulu” artinya orang laki-laki yang marah.
Maksudnya ialah bahwa kaum khawarij itu adalah orang yang bertumpuk-
tumpuk ksesalahannya dan suka marah. Masih ada beberapa nama lagi yang
diberikan kepada khawarij ini, Diantaranya ialah “Haruriyah” yang berasal
dari kata “haruha” yaitu nama tempat yang jauhnya dua mil dari Kufah.
Tempat ini pernah dijadikan markas oleh kaum Khawarij setelah memisahkan
diri dari barisan Ali. Disini mereka memilih Abdulah ibn Wahan Al Rasibi
menjadi Imam sebagai ganti dari Ali bin Abi Thalib. Nama lain lagi ialah
“Muhakkimah” dengan pengertian bahwa mereka tidak mengakui keputusan
hukum kecuali dari Allah.

B. Sinyalemen Rasululullah terhadap Khawarij.


Rasulullah SAW pernah memberikan sinyalemen tentang akan adanya
golongan Khawarij ini. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari sewaktu
Rasulullah sedang sibuk membagikan ghanimah sekonyong-konyong
datanglah ke hadapan Rasul seseorang yang warna kulitnya hitam, berbaju
putih bersih, seraya berkata ditujukan kepada Rasul “mulai hari ini anda sudah
tidak berbuat adil”. Mendengar ucapan tersebut tampaklah kemarahan di
wajah Rasulullah. Oleh karenanya Umar bin Khattab ikut bicara “Wahai
Rasulullah ! Bolehkah orang ini saya hajar?”. Rasul menjawab: “Biarkanlah,
dan nanti akan terjadi sesuatu yang patut menjadi berita dari ulah orang ini
dan semacamnya.” Isyarat Rasulullah itu sudah mulai tampak benihnya
dengan terjadinya fitnah yang menyebabkan terbunuhnya Utsman bin Affan.
Kemudian menjadi lebih jelas lagi sesudah peristiwa “Tahkim”. Selanjutnya
golongan khawarij ini benar-benar terwujud pada hari-hari kesepuluh terakhir
bulan Syawal 37 H, yiatu sejak mereka mengangkat dan menyumpah
pemimpinnya yang bernama Abdullah bin Wahb Al Rasibi,

22
C. Usaha Pencegahan Kelahiran Khawarij
Sebagaimana telah disebutkan bahwa kaum Khawarij ini semula
adalah sebagian dari pengikut Ali bin Abi Thalib yang memisahkan diri.
Sebenarnya dari kedua belah pihak (Ali dan kaum Khawarij) sudah pernah
mengadakan pendekatan untuk mencegah kelahiran khawarij ini, tetapi selalu
tidak membawa hasil yang diharapkan, usaha itu pernah diusahakan oleh
Abdullah ibn Abbas dan Ali sendiri. Kegagalan tersebut berpangkal pada
tuntutan Khawarij terhadap Ali, yaitu suatu tuntutan agar Ali mengaku
bersalah dan mengaku berdosa bahkan agar mengaku menjadi kafir lantaran
telah rela menerima tahkim. Sudah tentu tuntutan seperti itu tidak mungkin
dapat diterima dan dipenuhi oleh siapapun sekiranya memiliki kedudukan
seperti Ali.

D. Pendukung dan Sifat-Sifat Khawarij


Pada umumnya pendukung Khawarij terdiri orang-orang Arab murni
yang hidup di daerah-daerah pedalaman, yang biasanya disebut orang Badui.
Sebagian kecil pendukung terdiri dari hamba sahaya yang sudah
dimerdekakan tuannya dan mengagumi pikiran-pikiran “demokratis” dalam
masalah pimpinan ummat atau khalifah.
Dalam sejarah yang menulis tentang keadaan mereka, selalu disebut-
sebut, bahwa mereka adalah orang-orang yang hidupnya selalu berpindah-
pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari rizqi . Kehidupan
mereka masih sangat sederhana. Begitu pula ilmu pengetahuan dan
kebudayaannya.
Pada gholibnya mereka mempunyai sifat-sifat dan watak-watak
sebagai berikut :
a. Lugu dan sederhana; ini dapat dibuktikan oleh cerita berikut : seoran
Khawarij yang bernama Urwah bin Hadir (sebagai tawanan perang
Hanrowan) dihadapkan ke pada Ziad bin Abihi (kepala pemerintahan
suatu daerah yang menawannya), oleh Ziad kemudian ditanya tentang
pendapatnya terhadap diri Ziad sendiri, maka jawabnya : mula-mula

22
engkau adalah anak jadah, dan pada akhirnya engkau mendapat pengakuan
sebagai saudara Mu’awiyah.
b. Teguh iman dan ikhlas, yang dimaksud ialah bahwa mereka tidak
tergoyahkan keimanan dan keikhlasannya oleh emas dan perak.
c. Bebas, tinggi hati, serta sadis, mereka meperlakukan lawan-lawannya
dengan kejam, tidak perduli, apakah ia anak-anak, orang perempuan atau
orang-orang yang sudah tua-bangka.
Inilah uraian ringkas tentang keadaan pendukung-pendukung aliran
Khawarij. Dapat diperkirakan juga bahwa ini pulalah yang merupakan sebab
utama tidak dapat dicegahnya kelahiran golongan Khowarij itu.

E. Sekte-Sekte Khawarij dan Ajaran-Ajarannya.


Pada mulanya alirah Khawarij hanyalah satu kemudian terpecah
menjadi lebih dari dua puluh sekte.
Diantara para penulis ada yang membagi sekte-sekte Khawarij yang
banyak itu menjadi dua kelompok; kelompok induk dan kelompok cabang.
Sedangkan kelompok yang mana yang masuk kelompok induk ?
disinipun terdapat perbedaan-perbedaan.
Ada yang menghitung hanya empat kelompok induk, sedang yang lain
adalah cabang-cabangnya, sperti : Al-Azariqoh, An-Najdiyah, As-Shufriyah
dan Al-Ibadiyah.
Berikut ini adalah uraian singkat tentang sekte-sekte Khowarij beserta
ajaran-ajarannya.

1. Al Muhakkimatul Ula
Pemimpinnya :
Abdullah bi al Kawaai, pemimpin pertama yang membawa Khawarij
memisahkan diri dari barisan Ali berkumpul ke Harura.
Syabats bin Rabi’, sebagai komandan pertempuran.
Abdullah bin Wahab al Rasibi, imam, pemimpin pertama yang resmi
diangkat dan disumpah pada bulan Syawal 37 H.

22
Harqus bin Zuhair al Bajali, yang terkenal dengan sebutan Dzu as
tsudaiyah
‘Itab bin Al A’war, ‘Urwah bin Jarir dan Yazid bin Abi
‘Ashim al Maharibi.
Ajaran-ajarannya :
a. Mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan kawan-kawannya.
b. Mengkafirkan dua orang “Hakam” pada peristiwa Tahkim yiatu Abu
Musa al Asy’ari dan Amru bin ‘Ash.
c. Mengkafirkan semua mereka yang menyetujui Tahkim.
d. Mengkafirkan semua orang yang berbuat dosa besar dan bermuat
ma’shiyat.
e. Siapa saja boleh dipilih untuk menjadi imam atau khalifah pemimpin
ummat, dari suku Quraisy atau bukan, keturunan Arab atau bukan,
yang penting ia dapat berbuat adil untuk semua manusia.
f. Boleh jadi dunia ini tidak memerlukan seorang pemimpin ummat
apabila diperkirakan semua orang dapat berbuat adil.

2. Al Azaariqah, (yang terkuat dan banyak pengikutnya)


Pemimpinnya :
Nafi; bin Al Azraq al Hanafi, terkenal dengan panggilan Abu Rosyid, dan
‘Athiyah bin Al Aswad al Hanafi.
Ajaran-ajarannya :
a. Semua lawan-lawannya dianggap kafir, demikian juga simpatisan-
simpatisannya (Al-Azariqoh) yang tidak mau aktif bergerak.
b. Siapa saja yang ingin masuk menjadi anggota sekte ini (Al Azariqoh)
harus diuji lebih dahulu, yaitu ia harus membunuh seorang tawanan
yang disediakan untuk itu. Apabila ia mau membunuhnya, ia lulis dari
ujian dan diterima menjadi anggota. Tetapi apabila ia tidak mau
membunuhnya, ia dicap sebagai munafiq dan musyriq.
c. Perkampungan lawan-lawannya adalah perkampungan kafir, dan
diperkampungan ini, anak-anak serta kaum wanita boleh dibunuh.

22
d. Mereka mengingkari hukum rajam, dan boleh mengingkari amanat
yang harus ditunaikan.
e. Mereka tidak melaksanakan hukuman “hudud” terhadap orang yang
menuduh seorang lelaki berbuat zina, tetapi hukuman tersebut
dilaksanakan apabila yang dituduh itu seorang wanita.
f. Mereka menghukum pencuri dengan memotong tangannya, tanpa
memperhitungkan sedikit banyaknya sesuatu yang dicuri.
g. Pengikut-pengikut mereka tidak boleh shalat bersama orang-orang
yang tidak sealiran, tidak boleh memakan masakan mereka,
mengadakan hubungan perkawinan dengan mereka, dan waris mewaris
dengan mereka.

3. An-Najdiyah
Pemimpinnya, Najdah bin Amir Al Hanafi (terbunuh pada tahun 69 H).
Ajaran-ajarannya : tiap mukallaf wajib mengetahui bahwa
a. Agama itu meliputi dua hal, yaitu mengetahui adanya Allah dan Rosul-
rosul-Nya.
b. Membunuh orang Islam hukumnya haram
c. Mengambil harta orang lain tanpa kerelaannya meskipun tidak berniat
untuk memilikinya, hukumnya haram.
d. Sesuatu yang datangnya dari Allah harus diakui kebenarannya.
e. Tidak mengetahui sesuatu yang tidak disebutkan diatas, dapat
dimaafkan; bila ternyata bukti-bukti halal dan haramnya belum sampai
kepadanya.
f. Barang siapa menetapkan sesuatu hukum dengan berijtihad, ternyata
ijtihadnya itu salah, maka ia tidak boleh dipersalahkan karenanya.
g. Simpatisan-simpatisan pada sekte ini boleh diberikan kedudukan,
meskipun ia pernah mendapat hukuman “Hudud”

4. As-Shufriyah
Pemimpinnya, Ziad bin Al-Ashfar

22
Ajaran-ajarannya :
a. Orang-orang yang tidak ikut berperang tidak boleh dikatakan kafir,
selama mereka masih tetap pada agama dan aqidahnya.
b. Berbuat “Taqiyah” (menyembunyikan keimanan dan aqidah) itu boleh,
akan tetapi hanya dalam ucapan tidak pada perbuatan.
c. Dilarang membunuh dan mengkafirkan anak-anak orang musyrik.
Begitu juga dilarang mengatakan, bahwa mereka akan kekal di neraka.
d. Dosa benar yang dikenai hukuman “hudud” itu tidak sama dengan
dosa besar yang tidak dikenainya. Sebab pelaku dosa besar yang kedua
itu menjadi kafir, sedangkan pelaku yang pertama tidak.

5. Al-‘Ajaridah
Pemimpinnya, Abdulkarim bin ‘Ajrod
Ajaran-ajarannya :
a. Anak-anak belum dianggap Muslim, dan mereka harus diajak masuk
Islam pada waktu mereka sudah cukup umur (baligh)
b. Harta benda milik lawan tidak boleh dianggap sebagai harta benda
rampasan perang, sebelum pemiliknya itu dibunuh.
c. Orang-orang yang tidak ikut aktif dalam pergerakan boleh diberi
kedudukan, apabila diketahui bahwa mereka masih beragama.
d. Ikut berhijrah itu utama, bukan kewajiban.
e. Surat Yusuf itu tidak termasuk Al-Qur’an, ia hanyalah sebuah kisah
cinta.

6. Al-Hazimiyah
Pemimpinnya
Kazim bin Ali. Mula-mula ia adalah anggota sekte Ajaridah. Sekarang,
pengikut-pengikutnya itu kebanyakan terdiri dari anggota-anggota sekte
Ajaridah, yang berasal dari Sigistan.
Ajaran-ajarannya :

22
a. Tentang Taqdir, kemampuan, dan kehendak sama (identik) dengan
pendapat Ahlus-Sunnah, yaitu : tidak ada pencipta kecuali Allah, dan
tidak ada sesuatu, kecuali itulah yang dikehendaki oleh Allah, dan
adanya kemampuan pasti bersama perbautan.
b. Tentang kesetiaan dan permusuhan, keduanya adalah sifat Allah, Allah
akan setia terhadap orang yang pada akhir hayatnya tetap dalam
keimanannya, meskipun sebagian besar masa hidupnya dalam keadaan
kafir, dan begitulah sebaliknya. “Ajaran inis esuai dengan pendapat
Ahlus-Sunnah. Tetapi, sekte Khazimiyah ini tdka bermaksud
memasukkan pada ketentuan di atas, nasib-nasib Ali, Utsman, Talhah
dan Zubair padahal mereka ini adalah kelompok “Baiat Ar Ridwan”
yang mendapat jaminan masuk sorga, sesuan dengan firman Allah –
surat Al-Fath ayat 18.

7. As-Syu;aibiyah
Pemimpinnya : Syu;aib bin Muhammad
Ajaran-ajarannya :
a. Tentang taqdir, kemampuan, dan kehendak, sama dengan pendapat
sekte Khasimiyah.
b. Tentang perbuatan manusia : sesungguhnya Allah yang
menciptakannya. Sedangkan manusia akan berusaha untuk berbuat
sesuatu, sesuai dengan kemampuan dan kemauannya. Ia harus
mempertanggung jawabkan baik-buruk perbuatannya.
c. Sesuatu yang ada di dunia ini, sebenarnya adalah kehendak Allah.

8. Kholafiyah
Pemimpinnya : Kholaf Al-Khoriji
Ajaran-ajarannya :
a. Terhadap anak-anak lawan, sependapat dengan sekte Azariqoh, yaitu
mereka semua masuk neraka.
b. Tentang baik dan buruknya taqdir, terserah kepada Allah.

22
9. Al-Ma’lumiyah wal Majhuliyah
Pemimpinnya : Tak dikenal. Kedua sekte ini memisah dari induknya, yaitu
Wal-Khazimiyah.
Ajaran-Ajaran Al-Ma’lumiyah
a. Tingkah laku manusia tidak diciptakan Allah.
b. Seseorang yang tidak mengetahui asma-asma Allah karena
kebodohannya, maka orang seperti ini adalah kafir, (dua pendapat
inilah yang menyebabkan sekte ini memisahkan diri dari induknya).
c. Tentang masalah kemampuan dan kemauan pendapat sekte ini sama
dengan pendapat Ahlus-Sunnah.
Ajaran-ajaran Al-Majhuliyah
Ajaran-ajarannya sama dengan ajaran Al-Ma’lumiyah, kecuali yang
terdapat di bawah ini :
a. Seseorang yang sudah mengetahui sebagian dari asma-asma Allah,
berarti ia telah tahu akan Allah.

10. Sholitiyah
Pemimpinnya :
Sholt bin Utsman, dahulu ia anggota sekte Ajaridah
Ajaran-ajarannya :
Apabila seseorang suka masuk Islam, ia akan mendapatkan kedudukannya,
sedangkan anak-anaknya tidak, sebeb mereka belum Islam.

11. Hamziyah
Pemimpinnya :
Hamzah bin Akrok, dahulu ia anggota sekte Ajaridah
Ajaran-ajarannya :
a. Tentang Taqdir dan kemampuan, sama dengan pikiran-pikiran
Qodariyah.
b. Tentang anak-anak orang Musyrik, mereka (diduga) masuk neraka,
oleh karenanya sekte ini dikafirkan oleh Qodariyah.

22
c. Mengkafirkan orang-orang yang tidak setuju memerangi musuh (yang
aneh sekte ini pernah memberi kedudukan kepada mereka)
d. Musuh-musuh yang dapat dikalahkan, harta bendanya harus dibakar,
ternak-ternaknya dipotong dan musuh-musuh yang dapat ditawan
harus juga dibunuh.

12. Ats-Tsa’alibah
Pemimpinnya
Tsa’alabah bin Misykan, semula ia adalah pengikut Abdul Karim bin
‘Ajrod. Kemudian memisahkan diri.
Ajaran-ajarannya :
a. Melindungi anak-anak yang masih kecil dan yang sudah besar.
Sehingga dapat diketahui keingkaran mereka terhadap kebenaran, dan
kecintaan mereka terhadap kenakalan. Kemudian ajaran tersebut
mengalami sedikit perubahan, yaitu tidak memberi penilaian anak-
anak, sehingga mereka mengetahui tentang Islam, dan diajak
memasukinya.
b. Boleh memungut zakat dari pada budak (apabila mereka termasuk
yang mampu), dan boleh memberikan harta zakat kepada mereka.

13. Al-Ma’badiyah
Pemimpinnya :
Ma’bad bin Abdurrohman, semula ia adalah pengikut Ats-Tsa’alibah.
Ajaran-ajarannya :
a. Tidak menyetujui perkawinan putri-putri Islam dengan orang-orang
musyrik
b. Seseorang yang sedang dalam keadaan Taqiyah boleh menjadikan
bagian-bagian sodaqoh menjadi satu.
c. Tidak menyetujui adanya pemungutan zakat dari para hamba.

22
14. Al-Akhnasiyah
Pemimpinnya :
Akhnas bin Qois, ia semula aalah pengikut sekte Ats-Tsa’alibah.
Ajaran-ajarannya :
a. Tidak suka mencampuri urusan orang Ahlul Qiblat yang berada di
daerah – Taqiyah, kecuali jika mereka yang terang-terang masih
beriman, maka mereka boleh diberi kedudukan. Atau mereka yang
terang-terang sudah menjadi kafir, maka mereka harus disingkirkan.
b. Haram melakukan pembunuhan secara licik, secara jantan dan
pencurian, dengan sebab-sebab yang tidak jelas. Haram memulai
peperangan, sebelum disampaikan seruan masuk agama.
Memperbolehkan hubungan perkawinan antara putri-putri Islam
dengan laki-laki mereka yang musyrik (yang kemusyrikannya
disebabkan karena melakukan dosa besar).

15. AS-Syaibaniyah
Pemimpinnya :
Syaiban bin Salmah, dahulu ia anggota sekte “Tsaalibah:.
Ajaran-ajarannya :
a. Tentang perbuatan manusia, sama dengan ajaran “Jabariyah”, yaitu :
“Manusia tidak mempunyai kodrat dan ikhtiar, melainkan Tuhanlah
yang menciptakan perbuatan-perbuatan pada dirinya. Oleh karenanya,
seseorang tidak akan menjadi kafir lantaran dosa-dosa besar yang
dilakukannya.
b. Mempersamakan Allah dengan makhluk-Nya.

16. Ar-Rosydiyah / Al- ‘Usyriyah


Pimpinannya : Rosyid At-Thusi
Ajaran-ajarannya :
Zakat panenan yang pengolahan tanahnya menggunakan air sungai atau air
selokan itu hanya seperduapuluh.

22
17. Al-Mukromiyah
Pimpinannya : Makrom bin Abullah Al-Bajali
Ajaran-ajarannya :
a. Orang yang meninggalkan kewajiban shalat adalah kafir, dan
kekafirannya itu bukan semata-mata karena meninggalkan shalat,
tetapi karena kebodohannya terhadap Allah. Ketentuan ini berlaku pula
bagi seseorang yang mengerjakan dosa besar.
b. Percaya tentang berlakunya “al Muwafat” yaitu cinta kasih atau
kebencian Allah terhadap hambanya itu tergandung pada keadaan
akhir hayatnya, tidak tergantung pada perbuatan-perbuatannya, pada
waktu mereka berbuat.

18. Al-Ibadhiyah
Pemimpinnya : ‘Abdullah bin Ibadh.
Ajaran-ajarannya :
a. Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka adalah kafir, bukan
musyrik.
b. Boleh mengadakan perkawinan dengan mereka itu, juga boleh
hubungan waris mewarisi.
c. Yang boleh diambil dari harta rampasan yang didapat dari mereka
hanyalah senjata dan semacamnya, sedangkan mengambil selain itu
hukumnya haram.
d. Haram membunuh dan menawan mereka secara licik.
e. Perkampungan mereka (orang-orang Islam selain sekte ini) adalah
perkampungan tauhid, kecuali pusat-pusat permerintahan.
f. Kemampuan itu adalah baru, yang dengannya dapat dicapai suatu
perbuatan. Oleh karenanya perbuatan-perbuatan manusia itu adalah
ciptaan Allah.
g. Perintah-perintah Allah itu semuanya bersifat umum, tidak bersifat
khusus.

22
h. Dunia ini akan hancur seluruhnya apabila penghuni yang sudah
dewasa telah musnah.
i. Pemimpin skete ini tidak diberi sebutan “Amirul Mukminin”.
Pengikut-pengikutnya juga tidak boleh disebut dengan “Muhajirin”.

19. Al-Hafshiyah
Pemimpinnya : Hafs bin Abi al Miqdam
Ajaran-ajarannya :
a. Antara syirik dan iman terdapat sesuatu, yaitu : mengetahui Allah (jadi
: percaya kepada Allah dan tidak percaya kepada Rasul-Nya serta yang
lain-lain adalah kafir, bukan musyrik.
b. Iman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul, itu erat hubungannya dengan
iman akan ke Esaan Allah.

20. Al Haritsiyah
Pemimpinnya : Harits bin Yazid Al-Ibadly
Ajaran-ajarannya :
a. Tentang Qodar, sama dengan pendapat Mu’tazilah
b. Kemampuan itu telah ada sebelum adanya perbuatan. Mereka tidak
punya pemimpin sesudah “Al-Muhakkimatul’ Ula”, kecuali “Abdullah
bin Ibadl” dan Harits bin Yazid.

21. Al-Baihasiyah
Pemimpinnya : Abi Baihas – Haishom bin Jabir.
Ajaran-ajarannya :
a. seseorang tidak akan selamat, kecuali ia mengaku percaya kepada
Allah, Rasul-rasul-Nya, semua yang diajarkan Nabi Muhammad dan
kekuasaan wali-wali Allah, Oleh sebab itu sekte ini, mengkafirkan
“Al-Waqifiyah” yiatu orang-orang yang berani menentukan hukum
terhadap orang lain yang melanggar larangan, lantaran tidak
mengetahui halal dan haramnya.

22
b. Iman itu adalah pengakuan di hati, bukan ucapan dan perbuatan.
c. Lawan-lawan mereka, sama dengan musuh-musuh Rosulullah, oleh
karenanya boleh tinggal bersama-sama.

22. As-Syabibiyah
Pemimpinnya : Syabib bin Yazid As-Syaibani dan Ghozalah
Ajaran-ajarannya :
Boleh mengangkat seorang wanita sebagai imam sembahyang/Pemimpin.

Demikianlah sekte-sekte Khawarij dengan tokoh dan ajaran-ajarannya.


Dalam pada itu perlu kiranya ditambahkan di sini sebagai catatan yaitu :
1. Tentang Ajaran-ajaran Khawarij
Kalau ditinjau dan diteliti kembali ajaran-ajarannya, maka akan didapati,
bahwa diantara ajaran-ajaran tersebut ada yang sama meskipun tidak bulat,
yaitu :
a. Tentang khalifah, ia adalah hak siapa saja yang dipilih oleh rakyat
secara demokratis, tidak perduli apakah ia dari suku Quraisy atau ia
keturunan Arab atau bukan.
b. Tentang sholat, zakat, puasa dan semacamnya, itu adalah bagian
dari iman.
c. Tentang orang yang melanggar dosa besar, ia adalah kafir
d. Tentang pimpinan yang menyeleweng ia harus diturunkan dari
kedudukannya, dengan cara kekerasan, kalau perlu dan mampu. Tetapi
kalau tidak mampu mereka harus menyingkir. Yang termasyhur diantara
empat pelajaran di atas ialah pada point (a) dan (b)
2. Sifat-sifat menonjol pada pendukung-pendukung aliran Khawarij
a. Tekun beribadat, khususnya sholat dan puasa
b. Ikhlas terhadap aqidahnya, yakni untuk mempertahankannya,
nyawalah yang menjadi taruhannya.
3. Pengikut-pengikut pada masa sekarang dapat kita temui di Maghrib Afrika
Utara dan di Oman.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengetahuan pengikut-pengikut aliran “Khawarij” terhadap ajaran-
ajaran agama Islam pada ghalibnya masih dangkal, khususnya pada masa-
masa permulaan, itulah sebabnya mereka tertipu oleh semboyan-semboyan
Khawarij.
2. Berdirinya aliran Khawarij itu tidak berpijak pada dasar-dasar yang
kuat yang berakar di hati pengikut-pengikutnya, itulah sebabnya aliran ini
selalu terdesak oleh arus kemajuan yang melanda.

22
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur panjatkan kehadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan
rahmat kekuasaannya, dengan ridho dan kehendak-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “KAUM KHAWARIJ”
Berkenaan dengan hal ini kami berharap makalah ini dapat sambutan
positif bagi para pembaca yang sedikit banyaknya menambah wawasan, ilmu dan
keimanan. Selanjutnya dengan hati yang tulus kami sampaikan rasa hormat dan
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. H. Muhaimin,
MA dan Didin Nurul Rosyidin, Ph.D, selaku dosen mata kuliah Sejarah Pemikiran
dan Peradaban Islam.
Mohon maaf kami ucapkan apabila ada kesalahan kata-kata dalam
penulisan makalah ini. Kritik dan sarannya kami terima guna untuk membangun
dan mendapatkan wawasan yang lebih banyak untuk ke depannya.

Cirebon, Maret 2010

Penulis

22
KAUM KHAWARIJ

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam
Dosen : Prof Dr. H. Muhaimin, MA
Didin Nurul Rosyidin, Ph.D

Disusun oleh
SHOMAD JAJAT PERMANA
NIM : 505920052

PROGRAM PASCA SARJANA


PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
2010

22
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................... 7


A. Pengertian Khawarij ............................................................ 7
B. Sinyalemen Rasulullah terhadap Khawarij ......................... 8
C. Usaha Pencegahan Kelahiran Khawarij .............................. 9
D. Pendukung dan Sifat-sifat Khawarij ................................... 9
E. Sekte-sekte dan Ajaran-ajarannya ....................................... 10

BAB III PENUTUP ................................................................................ 21


A. Kesimpulan ......................................................................... 21

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmad Amin, Fajrul Islam, Maktabah wa Mathba’ah Salaiman Mar’i,


Kuala Lumpur, 1965, hal. 253-255.
2. Ath Thaba’i, Taarih al Thabari, Jl. V. Dairatul Ma’arif, Kairo, 1963, hal.
70-71.
3. Ibid, Jl. IV, hal. 55-57
4. Harun Nasution, Teologi Islam, Yayasan Pen. Un. Indonesia, Jakarta,
1972, hal. 6-7.
5. Abdul Qahir Thahir bin Muhammad Al Baghdadi, Al Farqu Bainal
Firaaq, Maktabah Ali Shubaiha wa Auladuhu, Mesir/Al Azhar, hal. 72.
6. Ahmad Amin, Op.Cit, hal. 257.
7. Muhammad bin ‘abdul Karim Asy. Syahrastani, Al Milal wa al Nihal,
Syarihat wa mathba’ah Mustafa al Babi al Halabi wa Auladuhu, Mesir, 1967,
hal. 116.
8. Hasan Ibrahim Hasan (Dr), Tarikhul Islam, I, An Nahdlah al Mishriyah,
1957, hal, 377.
9. Ali Musthafa Al Gharabi, Tarih Al Firaq al Islamiyah, Maktabah wa
Mathaba’ah Muhammad Ali Shubaiha wa Auladuhu, Al Azhar Mesih, 1984.
hal. 279.

22