Anda di halaman 1dari 99

Kuliah 9

Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.
Pengantar
 Pemerintah memiliki peran penting sebagai salahsatu aktor 
strategis untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
 Inti dari pemerintahan adalah sistem birokrasi, namun birokrasi 
I i d i  i h   d l h  i  bi k i    bi k i 
dirasakan belum menunjukkan kinerja yang optimal
 Reformasi birokrasi pemerintah sangat mendesak dilakukan untuk 
mengantisipasi demokratisasi, desentralisasi, dan globalisasi
 Reformasi birokrasi sesungguhnya juga menjadi awal dalam 
mengkaji ulang paradigma administrasi publik yang selama ini 
g j gp g p y g
diterapkan di Indonesia, khususnya dalam memandang bekerjanya 
negara, dan berupaya menemukan paradigma baru administrasi 
publik yang dapat mendukung reformasi birokrasi secara 
berkelanjutan
Paradigma Peran Negara
d
• Negara menjadi aktor dominan
1950‐1980‐an:          • Penyelenggaraan pemerintahan sentralistis
era statisme • Lingkup intervensi negara luas dan diimbangi dengan 
kuatnya kapasitas negara sebagai konsekuensi dari 
sentralisme

• Pasar adalah aktor dominan
1980 2000 an:         
1980‐2000‐an:          • P
Penyelenggaraan pemerintahan desentralistis dalam arti luas
l   i t h  d t li ti  d l   ti l
era liberalisme/  • Lingkup intervensi negara seminimal mungkin
minimal state • Kapasitas negara menurun karena delegitimasi akibat praktik‐praktik 
menyimpang yang menyebabkan munculnya distrust

• Berupaya mencapai keseimbangan dalam hubungan negara, pasar, 
2000‐sekarang:    dan masyarakat (sinergi/good governance)
era state building • Penyelenggaraan pemerintahan desentralistis
(penguatan  • Lingkup intervensi negara disesuaikan dengan kapasitas negara
negara) • Ada penguatan kapasitas negara melalui penyesuaian‐penyesuaian 
struktural dan ketatalaksanaan
l( l d )
Negara yang Gagal (Failed State)
 Selalu diwarnai dengan adanya disharmoni antar   Militer masih memungkinkan menjadi satu‐
Militer masih memungkinkan menjadi satu
komunitas; tidak bisa menyediakan barang politik  satunya institusi yang memiliki integritas, namun 
“keamanan” –yang merupakan barang politik yang  punya kecenderungan terpolitisasi secara kuat 
paling utama‐ kepada seluruh domain mereka.  (highly politized). Aparat keamanan cenderung 
menjadi negara dalam negara (state within a state) 
Negara gagal menciptakan atmosfir keamanan di   Menyediakan kesempatan ekonomi yang tidak 
seluruh wilayah nasional  
seluruh wilayah nasional.  l h  b i  liti        h k 
pararel hanya bagi segelitir orang yang punya hak 
 Negara hanya bisa menjamin keamanan pada  privilege. 
ibukota negara saja.   Tanggung jawab negara untuk 
memaksimlisasikan kesejahteraan warganya sama 
 Memiliki institusi yang lemah, hanya institusi  sekali tidak ada. 
eksekutif yang berfungsi sedangkan keberadaan   Korupsi menggurita dengan skala yang sangat 
p gg g y g g
legislatif tidak lebih dari tukang stempel semata.  luas. 
 Tidak ada debat‐debat yang demokratis di ranah   Pada beberapa kasus, chaos ekonomi yang 
publik.  dikombinasikan dengan bencana kemudian 
menimbulkan adanya bencana kelangkaan 
 Lembaga yudikatif tidak independen dan lebih  makanan dan keleparan yang meluas. 
sekedar kepanjangtanganan eksekutif  Masyrakat 
sekedar kepanjangtanganan eksekutif. Masyrakat   Negara kehilangan legitimasi dasar mereka di saat 
pun tidak mendapatkan keadilan di sistem  batas wilayah mereka menjadi tidak relevan lagi 
pengadilan, apalagi bila berhadapan dengan  dan sekelompok kekuatan mencoba menggalang 
kekuatan. 
negara.   Warga justru semakin menguat loyalitas 
 Birokrasi dalam waktu yang sudah cukup lama  komunitasnya dan menjadikannya sebagai 
kehilangan tanggungjawab profesionalitas  sumber keamanan dan kesempatan ekonomi
sumber keamanan dan kesempatan ekonomi.
mereka. Mereka hanya mementingkan 
kepentingan eksekutif semata dan dengan cara 
yang halus menekan warganya. 
Negara Kuat (Strong State)
( )
• Negara yang kuat ditandai oleh kemampuannya 
menjamin bahwa hukum dan kebijakan yang 
dilahirkannya ditaati oleh masyarakat, tanpa harus 
menyebarkan ancaman, paksaan, dan kecemasan yang 
berlebihan (Fukuyama, 2005)
• Elemen dasar yang ada pada negara yang kuat adalah 
El  d     d   d      k   d l h 
otoritas yang efektif dan terlembaga
• Kuat atau lemahnya negara tidak terkait dengan 
cakupan/lingkup peran negara, tapi dengan kapasitas
negara dalam berperan sebagai lembaga pengatur dan 
pemegang kekuasaan pemaksa dalam masyarakat
Lingkup Peran Negara

Sumber: Fukuyama, 2005
Kapasitas Negara
• Menggambarkan kemampuan‐kemampuan 
kelembagaan untuk:
– Merumuskan dan menjalankan berbagai kebijakan dan 
memberlakukan undang‐undang
– Menjalankan administrasi secara efisien dan dengan 
bi k i  i i l
birokrasi minimal
– Mengontrol penyogokan, korupsi, dan penyuapan
– Memilihara tingkat transparansi dan 
g p
pertanggungjawaban yang tinggi di lembaga‐lembaga 
pemerintah
– Menegakan undang‐undang
Pemerintahan yang Efektif

Kuadran I
Kuadran I Kuadran II
Kuadran II
Lingkup peran sedikit,  Lingkup peran banyak, 
kapasitas tinggi kapasitas tinggi
Negara
Kapasitas N

Kuadran III
Kuadran III Kuadran IV
Kuadran IV
K

Lingkup peran sedikit,  Lingkup peran banyak 
kapasitas rendah kapasitas rendah

Lingkup Peran Negara
 Terdapat 2 alternatif format pemerintahan yang 
efektif, yakni:
efektif  yakni:
 Pemerintahan dengan lingkup peran terbatas/sedikit dan 
kapasitas tinggi
 Pemerintahan dengan lingkup peran luas/banyak dan 
kapasitas tinggi
 Di antara kedua alternatif ini, yang dinilai lebih 
Di antara kedua alternatif ini  yang dinilai lebih 
optimal adalah alternatif pada Kuadran I, di mana 
lingkup peran terbatas dan kapasitas negara tinggi
g pp p g gg
 Upaya untuk mencapai kondisi pada Kuadran I 
tersebut, salahsatunya, dilakukan melalui 
y
reformasi birokrasi
Reformasi Birokrasi
 Deliberate changes to structure and processes of 
public sector organizations with the objective of 
getting them (in same sense) to run better  
(Christopher Pollit and Geert Bouckaert)
 Perubahan struktural, meliputi
 Penggabungan organisasi
 Pemisahan (pemekaran) organisasi
 Proses, meliputi antara lain :
 desain ulang sistem
d i   l  i t
 penetapan standar kualitas pelayanan
 penyusunan prosedur baru penganggaran
 monitoring dan evaluasi hasil akhir program
it i  d   l i h il  khi  
 Reformasi merupakan upaya untuk melakukan transformasi, 
dalam arti:
 Reframing: mengerangka ulang tujuan yang ingin dicapai organisasi 
melalui perubahan tata nilai
 Restructuring: melakukan pembenahan struktur organisasi dan tata 
kerja
 Revitalization: menyusun ulang prioritas peran birokrasi pemerintah
 Renewal: melakukan pembaharuan untuk membangkitkan semangat 
organisasi
 Birokrasi merupakan organisasi yang melaksanakan fungsi 
Bi k i  k   i i    l k k  f i 
tertentu berdasarkan hirarkhi jabatan, wewenang, dan bersifat 
impersonal
 Reformasi birokrasi merupakan proses transformasi sistem, 
R f i bi k i  k    t f i  i t  
struktur, dan kultur untuk mencapai kinerja birokrasi yang lebih 
efisien,  efektif, dan profesional dalam era pemerintahan yang 
demokratis
Reformasi Birokrasi dan Penguatan Kapasitas Negara

 Reformasi birokrasi merupakan perubahan (transformasi) 
yyang terencana, yang berfokus pada perubahan 
g y g p p
kelembagaan yang berdampak pada perubahan 
ketatalaksanaan dan kultur birokrasi.
 Reformasi birokrasi di Indonesia dimaknai sebagai media 
untuk melakukan pendefinisian ulang peran pemerintah  
untuk melakukan pendefinisian ulang peran pemerintah. 
 Peran pemerintah yang ingin dicapai melalui reformasi 
birokrasi adalah peran pemerintah yang moderat
 Artinya, bukan minimal state
Artinya  bukan minimal state yang lingkup fungsinya 
terbatas dan menyerahkan pada mekanisme pasar dalam 
penyediaan barang‐barang publik (public goods) dan 
p y
pelayanan publik; serta bukan pula intervensionist state
p p
dengan peran pemerintah yang sangat luas dalam hampir 
seluruh bidang kehidupan.
Praktik Reformasi Birokrasi 
di Berbagai Negara
di Berbagai Negara

 Korea Selatan
 Malaysia
y
 Thailand
Korea Selatan (1963‐2008)
l ( )
 Reformasi birokrasi di Korea Selatan merupakan konsekuensi dari terjadinya 
pergeseran paradigma dalam administrasi publik di Korea Selatan, yang ditandai 
oleh perubahan peran pemerintah, dari yang semula tradisional menjadi modern.
 Tujuan dari reformasi birokrasi di Korea Selatan adalah untuk menciptakan 
organisasi pemerintah yang ramping dan efisien, namun dapat memberikan 
pelayanan publik dengan kualitas terbaik
 Pembenahan birokrasi berawal dari permasalahan pokok yang menjadi penyakit 
birokrasi. 
 Dalam kasus Korea Selatan, tingginya tingkat korupsi dan penyimpangan birokrasi 
ditangani terlebih dahulu pada fase awal reformasi birokrasi (1963‐1972) dengan 
menerapkan pembenahan struktural dalam organisasi birokrasi pemerintahan dan 
k   b h   k l d l   i i bi k i  i h  d  
membentuk satuan tugas pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang 
diimbangi dengan penegakan hukum dalam hal peredaran barang‐barang ilegal
 Terdapat 2 (dua) lembaga yang menjadi aktor utama dalam reformasi birokrasi, 
p ( ) g y g j ,
yakni Komisi Reformasi Administratif dan Satuan Tugas Khusus Penyidikan Anti‐
Korupsi
Dimensi Reformasi Karakteristik
Struktural/  Restrukturisasi lembaga-lembaga pemerintah

M Institusional 


Penggabungan Lembaga Pelayanan Administrasi Negara dengan Lembaga Pelayanan
Administrasi Federal
Implementasi Kebijakan Privatisasi sejak tahun 1983

A
Prosedural Pembaharuan sistem dan prosedur pelayanan publik
 Pengembangan unit-unit pelayanan publik (counter services) untuk mendekatkan
pelayanan publik agar mudah dijangkau masyarakat
 Pengenalan formulir-formulir aplikasi baru, pembangunan pusat pelayanan satu pintu

L Sumber daya manusia 

Pengenalan sistem jaringan pelayanan publik (Public Service Networks)
Pengenalan sistem renumerasi yang baru (New Remuneration System), pada tahun 1992
Penerapan sistem penilaian kinerja yang baru (New Performance Appraisal), pada tahun
1992

A Keuangan
Ke angan dan
penganggaran



Penerapan sistem renumerasi Malaysia, pada tahun 2002
Pengenalan sistem penganggaran yang dimodifikasi
Pengenalan sistem micro-accounting
 Pengadopsian sistem akuntansi standar bagi lembaga pemerintah (Standard Accounting

Y Kualitas dan
produktivitas


System for Governmental Agencies)
Penerapan siklus jaminan mutu
Penerapan Total Quality Management

S
Pelembagaan unit-unit penjaminan mutu
 Pengadopsian sistem ISO 9000
 Penerapan sistem benchmarking
Integritas dan  Pengenalan Perjanjian Klien (Client’s Charter), pada tahun 1993

I akuntabilitas p
publik 


Penguatan Lembaga Anti Korupsi, pada tahun 1997
Pelembagaan unit-unit manajemen integritas di semua level organisasi pemerintah
Pengenalan pada program temu konsumen (meet the clients programme) sebagai sarana
partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas publik

A Teknologi informasi
dan komunikasi serta



Pembangunan Multimedia Super Corridor
Program e-services
Program e-procurement
(1981‐ pelayanan e-
 Skema pemeliharaan kesehatan jarak jauh (telehealth scheme) dan kartu multifungsi
government 
2005) Skema pertukaran tenaga kerja secara elektronik (electronic labour exchange scheme)
 E-public services
Thailand (1932‐1996)
 Mengawasi ukuran organisasi publik, baik dari sisi struktur 
kelembagaan, prosedur kerja, maupun jumlah pegawai
 Reformasi remunerasi berbasis kinerja dan keseimbangan 
antara remunerasi sektor publik dan swasta
 Pengawasan kinerja pelayanan
 Reformasi manajerial, melalui penerapan sistem penilaian 
untuk meningkatkan kualitas pelayanan, penyederhaan 
prosedur, penggunaan TIK, perubahan perilaku aparat.
 Penataan lembaga‐lembaga pemerintah, melalui 
desentralisasi kewenangan ke level pemerintahan terendah
Hasil Reformasi Birokrasi
Pembanding Korea Selatan Malaysia Thailand
Periode 45 tahun, bertahap sesuai  24 tahun, bertahap dalam  64 tahun, bertahap dalam 
periode kepresidenan periode pemerintahan Mahathir beberapa periode pemerintahan
Institusi Pelaksana Khusus, di bawah presiden Kementerian, di bawah Perdana  Khusus, di bawah Perdana
(Komisi Reformasi Administratif  Menteri (MAMPU/Unit  Menteri (Komisi Reformasi 
dan Satgas Khusus Penyidikan  Pemodenan Tadbiran dan  Birokrasi)
p ,y g
Anti Korupsi, yang kemudian  g g
Perancangan Pengurusan 
disempurnakan) Malaysia)
Titik awal Pemberantasan korupsi Reformasi birokrasi untuk  Mengubah citra buruk birokrasi 
mendukung pembangunan  pemerintah: pengeluaran 
ekonomi pemerintah yang sangat besar 
hingga mencapai 42% dari 
anggaran publik; besarnya 
ukuran organisasi birokrasi 
pemerintah padahal fungsinya 
tumpang tindih; maraknya 
lembaga‐lembaga ad hoc yang 
dibentuk untuk merespon 
tuntutan perubahan; terjadinya 
fenomena brain drain di mana 
sumber daya manusia yang 
berkualitas enggan bekerja di 
sektor publik yang 
menyebabkan kualitas 
pelayanan publik makin 
menurun; dll
Pembanding Korea Selatan Malaysia Thailand

Strategi Pembenahan struktural,  Mengatasi kesenjangan  Modernisasi dan efisiensi


delegasi fungsi pada swasta 
delegasi fungsi pada swasta sosial ekonomi memperkuat
sosial‐ekonomi, memperkuat  kelembagaan meningkatkan
kelembagaan, meningkatkan 
(privatisasi), perluasan  sektor swasta, kemitraan  kualitas kinerja dan etika 
partisipasi publik,  publik‐privat, privatisasi,  profesionalitas
pembenahan manajemen  strategi kultural melalui 
SDM dan penganggaran,  penyesuian struktur dan 
penggunaan TIK institusi antara sektor publik 
dan privat
Regulasi penunjang UU Pengawasan Perdagangan Liberalisasi ekonomi,  UU Lembaga Negara, UU 
Barang Ilegal, UU Etika  privatisasi, pembenahan  Organisasi Pemerintah, UU 
Pegawai Sipil, Gerakan 
l k sistem penganggaran,  Pegawai Publik
bl k
Pemurnian Sosial, Gerakan  pemanfaatan TIK
Reformasi Kesadaran bagi 
Pegawai Sipil, sistem 
penggunaan nama asli,dll
p gg ,
Hasil Profil birokrasi yang beretika  Birokrasi di Malaysia lebih  Birokrasi yang efisien dan 
dan profesional dalam  diorientasikan ke bisnis  suportif untuk meningkatkan 
memberikan pelayanan  untuk menggantikan peran  daya saing. Peran birokrasi 
publik aktif birokrasi dalam  publik adalah untuk 
pembangunan dan  memfasilitasi kebijakan pro‐
meredefinisi perannya  pasar seperti privatisasi dan 
sebagai fasilitator dalam  berbagai aktivitas yang 
aktivitas sektor swasta berkaitan dengan sektor 
swasta seperti business
swasta seperti business 
licensing, perdagangan 
internasional, dan 
pengawasan fiskal
Prakondisi Reformasi Birokrasi
 Komitmen politik dan kepemimpinan yang kuat
 Kewenangan untuk melakukan reformasi harus diberikan 
pada institusi yang sudah siap dan paham akan konsep 
reformasi birokrasi serta punya komitmen tinggi untuk 
f b k k k
menerapkan konsep tsb
 Masa transisi untuk institusi yang belum siap dengan time 
f
frame yang jelas
   j l
 Ada upaya pelibatan seluruh stakeholders
 Kajian untuk memetakan masalah dan mencari alternatif 
j
solusi bagi pembenahan seluruh sektor
 Pemanfaatan dana secara optimal yang didukung oleh 
penerapan teknologi komunikasi dan informasi, antara lain 
e‐government, e‐procurement, dll
   dll
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
 Aim‐on Aramkul. 1997. “Administration Reform in Thailand”. Makalah, disampaikan 
pada Consultative Meeting United Nations Headquarters, New York, 3 Juni.
pada Consultati e Meeting United Nations Headquarters  Ne  York  3 Juni
 Caiden, Gerald E. 1976. Implementation – The Achilles Heel of Administrative Reform in 
Arne F Leemans, The Management of Change in Government. The Hague.
 Evers, Hans Dieter dan Tilman Schiel. 1990. Kelompok‐Kelompok Strategis: Studi 
Perbandingan tentang Negara,  Birokrasi dan Pembentukan Kelas di Dunia Ketiga. 
Jakarta:  Yayasan Obor Indonesia.
 Gouillart, Francis J. dan James N. Kelly.1995. Transforming the Organization. New York : 
McGraw‐Hill Inc.
 Hwang, Yunwon. 2004. “Administrative Reform: Concepts, Theories, and Issues in Korea”. 
Makalah, disampaikan pada International Seminar: A New Look at Public Management 
in the Context Of the Indonesian Bureaucracy  Culture. Jakarta, 28 September.
 Pollitt  Christopher dan Geert Bouckaert  2004  Public Management Reform: A 
Pollitt, Christopher dan Geert Bouckaert. 2004. Public Management Reform: A 
Comparative Analysis (Second Edition). Oxford: Oxford University Press.
 Shah, Malek dan Mohd. Yusoff. 2002. “An Overview of the Administrative Reform in the 
Malaysian Public Service”. Makalah, download dari http://www.intanbk.intan.my/
 Siddiquee, Noore Alam dan Mohd. Zin Mohamed. 2007. “Paradox of Public Sector 
Reforms in Malaysia: a Good Governance Perspective”. Dalam Public Administration 
Quarterly, Fall. 
Beyond
y Election:
Redefining Democracy in the Americas

Kuliah 10

Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.


Pengantar
 Sesi perkuliahan ini disampaikan dengan
metode diskusi
 Mahasiswa diminta menonton film
dokumenter berjudul “Beyond Election:
Redefining Democracy in the Americas”
 Setelah menonton film tsbtsb, tiap mahasiswa
diminta menyampaikan kesannya terhadap
pengalaman praktik demokrasi di negara-
negara Amerika Latin yang ada pada film tsb,
kemudian apa lesson learned yang dapat
dipakai di Indonesia
Lesson Learned
 Konsep demokrasi mengandung nilai
nilai-nilai
nilai yang universal, tapi
penerapannya sangat bersifat kontekstual
 Artinya, tiap negara yang memilih menerapkan demokrasi harus
menerjemahkan nilai
nilai-nilai
nilai tsb sesuai dengan konteks sosial
sosial-budaya-
budaya
ekonomi negara tsb
 Negara-negara di Amerika Latin (Brazil dan Venezuela) serta
komunitas-komunitas marginal di Amerika Serikat mendefinisikan
demokrasi secara sederhana, mengaitkannya dengan pemenuhan
kebutuhan hidup sehari-hari, dan menjadikan demokrasi sebagai
alat untuk meningkatkan
g kualitas hidupnya
p y
 Konsep participatory democracy yang diterapkan di level grass root
harus diawali oleh pemahaman masyarakat akan pentingnya
demokrasi. Pemahaman ini hanyay akan terbentuk manakala rakyat y
benar-benar memperoleh manfaat konkret dari demokrasi
Bagaimana dengan Indonesia?
 Demokrasi cenderung dimaknai tunggal secara prosedural,
untuk memilih para pejabat politik
 Tidak ada keterkaitan antara praktik demokrasi prosedural
tsb dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari
 Indonesia punya modal sosial dan budaya yang kompatibel
dengan demokrasi partisipatori, seperti deliberasi
(musyawarah), semangat gotong royong dan kekeluargaan,
serta sistem ekonomi kerakyatan berbasis koperasi. Tapi,
modal ini tergerus akibat perubahan struktural ke arah
liberalisasi
 Ada ketidaksesuaian antara akar kultural Indonesia dengan
nilai-nilai liberalisme sehingga ketika demokrasi prosedural
diterapkan tidak ada penghayatan terhadap nilai-nilai individual
yang mendasarinya
 Karena itu, perlu redefinisi demokrasi yang cocok untuk
konteks Indonesia
Demokrasi ala Indonesia:
Yang Bagaimana?

 Demokrasi Terpimpin ala


Soekarno
 Demokrasi Pancasila ala
Suharto
 Demokrasi Prosedural-
Teknokratis ala Habibie
 D
Demokrasi
k i Pl
Pluralis
li ala
l GGus
Dur
 Demokrasi Santun
Sant n ala SBY
Atau…Ada
Atau Ada Model Lain?
 Demokrasi yang:
y g
√ Mensejahterakan
√ Melindungi
g kelompok
p marginal
g
√ Mengakui perbedaan sebagai hal yang wajar
√ Menjamin
j kesamaan akses ppublik
√ dst

Bagaimana mewujudkannya?
Kebijakan
d Praktik
dan P k ik Pembangunan:
P b
Kasus Cina dan India

Kuliah 11

Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.


Pengantar
• Pembangunan
Pembangunan identik dengan kesejahteraan, tapi 
identik dengan kesejahteraan, tapi
banyak kasus justru menunjukan bahwa praktik 
pembangunan malah menyebabkan ketergantungan 
dan kemiskinan
• Praktik pembangunan tidak dapat dilepaskan dari 
pengaruh ideologi dan relasi kuasa
• Dengan melihat pengalaman negara‐negara lain, 
d
dapat dipetakan aktor‐aktor dan relasi kuasa yang 
d k k k d l k
menentukan model pembangunan yang dipraktikan 
di negara ybs
di negara ybs
Faktor Pendorong Perubahan 
Paradigma Pembangunan
d b
• Ideologi
– Bila terjadi perubahan basis ideologi, maka otomatis akan 
membawa perubahan pada kerangka teori dan policy 
prescriptions pembangunan.
i ti b
• Revolusi dan inovasi teknologi
– Revolusi dan inovasi teknologi berimplikasi dan pengaruh 
Revolusi dan inovasi teknologi berimplikasi dan pengaruh
kuat pada perkembangan teori dan paradigma 
pembangunan. Contoh paradigma pembangunan knowledge‐
based economy
based economy  
• Perubahan lingkungan internasional sebagai dampak globalisasi 
ekonomi yang berlangsung sangat intensif, yang tecermin pada 
kian terintegrasinya aktivitas ekonomi antarbangsa 
Kecenderungan 
d l
dalam Studi Pembangunan
d b

Lama Baru
Struktur‐makro g
Orientasi aktor, agensi, institusi
Strukturalisme Konstruksivisme
Determinisme Interpretatif
Homogen, mencari generalisasi
l Diferensiasi
f
Tunggal Jamak
Eurosentris Polisentris

Sumber: Pieterse, 2001: 13


Sumber: Pieterse, 2001: 13
Makna Pembangunan
Periode Perspektif Makna Pembangunan
1850‐an Ekonomi kolonial Pengelolaan sumber daya, 
trusteeship (sistem kewalian)
1870‐an Latecomers Industrialisasi, catching up
1940‐an Pembangunan ekonomi Pertumbuhan ekonomi, 
industrialisasi
1950‐an Teori‐teori modernisasi Pertumbuhan, modernisasi sosial
dan politik
1960‐an Teori‐teori ketergantungan Akumulasi kapital, otosentris
1970‐an Pembangunan alternatif Sumber daya manusia
1980‐an Pembangunan manusia
g Kapasitas,
p ,pperluasan pilihan‐pilihan
p p
1990‐an Neoliberalisme Pertumbuhan ekonomi, reformasi 
struktural,  deregulasi, liberalisasi, 
privatisasi
2000‐an Post‐developmentism Rekayasa otoritarian, bencana

Sumber: Pieterse, 2001: 7
Aktor‐aktor dalam Pembangunan
g
Institusi Negara Lembaga Donor  PBB Civil Society
Internasional
Struktur Pemerintah,  IMF, Bank Dunia Lembaga‐lembaga  INGOs, NGOs
kementerian PBB
Infrastruktur Birokrasi, kelompok WTO, G7, bank‐ Majelis Umum, ILO,  Masyarakat, 
kepentingan,  bank  WHO, dll gerakan sosial, 
parpol, warga 
l pembangunan,
b serikat dagang, 
ik t d
masyarakat multinational  parpol, firma, 
corporations kelompok agama, 
dll
Lokasi Pusat pertumbuhan Washington DC New York, Jenewa, 
New York Jenewa Tersebar
Paris, Nairobi, dll
Paradigma Neoklasik  Neoklasik,  Pembangunan  Alternative 
pembangunan (Keynesian) dan  monetarism,  manusia development dan 
pembangunan
pembangunan  neoliberalism post‐
post
manusia developmentism
Bidang ilmu terkait Ekonomi, ilmu  Ekonomi Ekonomi, politik  Sosiologi, 
politik ekonomi, hubungan  antropologi,
internasional, ilmu 
, ekologi, gender dan 
g,g
politik studi budaya

Sumber: Pieterse, 2001: 10
Teori dan Kebijakan Pembangunan
Teori dan Kebijakan Pembangunan

Kebijakan

Sumber: Abdul Rahman Embong, 2003: 47 
Dragon vs Tiger
Persamaan
• Cina dan India mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat 
sehingga menarik perhatian para pengamat pembangunan (Cina
sehingga menarik perhatian para pengamat pembangunan (Cina 
sekitar 9,7% dan India sekitar 5,9% selama periode 1980‐2005) 
• Keduanya merupakan negara dengan jumlah penduduk yang 
sangat besar, wilayah yang luas, dan bermula dari negara agraris
b il h l d b l d i i
• Keduanya mengadopsi reformasi struktural untuk mendorong 
p
pertumbuhan ekonomi
• Keduanya mengalami permasalahan kesenjangan pembangunan 
dan kemiskinan yang disebabkan minimnya infrastruktur dan 
tingginya urbanisasi
tingginya urbanisasi
– Pembangunan di Cina terpusat di kota‐kota besar seperti 
Shanghai, Beijing, dan Tianjin. Sedangkan di India, 
pemusatan terjadi di Chandigarh, Goa, Delhi, dan 
Pondicherry
Cina
• Di Cina, daerah-
daerah yang
berada di peringkat
atas pertumbuhan
ekonomi berada di
wilayah pesisir,
seperti Zhejiang,
Jiangsu,
Guangdong,
• Fujian and
Shandong.
Shandong
• Daerah-daerah ini
memperoleh
manfaat terbesar
d i kkebijakan
dari bij k
ekonomi Cina
melalui konsep
‘letting
g some
• get rich first’
India
• Kesenjangan 
pembangunan 
pembangunan
terutama 
disebabkan oleh 
urbanisasi ke 
negara‐negara 
bagian yang 
menjadi pusat 
kegiatan ekonomi 
dan pendidikan
• Minimnya 
infrastruktur juga 
menyebabkan 
pembangunan 
tid k d t
tidak dapat 
dilaksanakan 
merata
Perbedaan
• Pendapatan per 
kapita di Cina 
meningkat lebih 
pesat ketimbang 
India
• Cina lebih terbuka 
g p g g
bagi perdagangan 
barang, sedangkan 
India lebih fokus 
pada sektor jasa
Sistem Pemerintahan 
d
dan Kebijakan Pembangunan
b k b
Cina India
• Rezim otoritarian, tanpa  • Negara demokratis terbesar 
pemilu  (dari sisi jumlah penduduk)
• Sistem politik dan  • Regulasi oleh negara di 
pemerintahan dimonopoli  hampir semua sektor, 
oleh Partai Komunis
oleh Partai Komunis sehingga memunculkan
sehingga memunculkan 
• Iklim bisnis sangat terbuka,  birokratisasi perizinan 
terutama untuk investasi  • Kondisi infrastruktur kurang 
g
asing   bagus
• Infrastruktur bagus • Kemudahan dalam sektor 
• Industrialisasi di semua  jasa
sektor
Dampak Pembangunan
Kebebasan Perdagangan Internasional Ukuran Lembaga Pemerintah Stabilitas Sistem Finansial

Regulasi (Bisnis & Naker) Kepastian


p Hukum & Hak Milik

Sumber:
Cox dan Alm, 2008
Tantangan Pembangunan di Masa Depan
Tantangan Pembangunan di Masa Depan

• India:
– berada di tahap awal untuk mengejar ketertinggalan dalam 
pertumbuhan ekonomi. 
– Prioritas diletakan pada sektor jasa, tapi India tidak dapat 
menghindari fase industrialisasi di sektor manufaktur 
sebagai pendukung jasa
sebagai pendukung jasa
– Industrialisasi diperlukan untuk menyerap tenaga kerja 
yang kurang trampil, termasuk menarik investasi asing di 
sektor industri
– Perlu memperhatikan pembangunan infrastruktur 
(transportasi dan energi) serta liberalisasi dalam aturan
(transportasi dan energi), serta liberalisasi dalam aturan 
ketenagakerjaan dan perizinan
• China 
– Pertumbuhan ekonomi terutama dihasilkan oleh 
industri berorientasi ekspor
– Dampak yang timbul: pemborosan energi, polusi, 
ketergantungan pada pasar global
– Harus menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi 
dengan sektor jasa
– Perlu menyiapkan prakondisi struktural, seperti: 
peningkatan kualitas SDM terutama dari sisi 
keterampilan dukungan sistem finansial dan
keterampilan, dukungan sistem finansial, dan 
insentif bagi swasta untuk masuk ke aktivitas 
ekonomi
Trend Kebijakan Pembangunan
Trend Kebijakan Pembangunan
• Berkembang ke arah kerjasama yang saling melengkapi secara 
g j y g g g p
ekonomis
– Bagi India: Cina sangat potensial sebagai pasar komersial untuk 
produk‐produk
produk produk jasa dari India 
jasa dari India
– Bagi Cina: tenaga IT dan insinyur dari India memiliki tarif yang relatif 
lebih murah untuk dibiayai dalam pengembangan teknologi oleh 
pemodal Cina (misal: Huawei perusahaan telekomunikasi Cina banyak
pemodal Cina (misal: Huawei perusahaan telekomunikasi Cina banyak 
mempekerjakan SDM IT dari India)
• Keduanya dapat bekerjasama menghadapi tuduhan negara‐
negara Barat akan praktik dumping dan manipulasi nilai tukar 
B t k ktik d i d i l i il i t k
di pasar saham 
j j g p g
• Kerjasama juga dapat dilakukan untuk mengatasi masalah 
penambahan jumlah tenaga kerja agar terserap
Pembelajaran bagi Indonesia
Pembelajaran bagi Indonesia
• Kebijakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh aktor‐aktor luar 
negara, termasuk mekanisme pasar di level global (misl: keberhasilan 
India dengan jasa TIK sangat dibantu oleh perkembangan globalisasi 
yang menitikberatkan penguasaan TIK)
• Negara perlu proaktif untuk beradaptasi dengan tuntutan perubahan 
• Model pembangunan harus disesuaikan dengan kondisi eksisting 
(potensi) dan tujuan yang ingin dicapai
(potensi) dan tujuan yang ingin dicapai
• Strategi kerjasama perlu dikembangkan untuk mengatasi sektor‐sektor 
yang masih lemah
• Sejumlah faktor penting yang perlu diperhatikan untuk menunjang 
S j l h f kt ti l di h tik t k j
pembangunan: infrastruktur; SDM; urbanisasi; indutrialisasi; trend 
ekspor dan impor (perdagangan internasional). Karena itu, kebijakan 
dan strategi pembangunan hendaknya berfokus untuk mengelola
dan strategi pembangunan hendaknya berfokus untuk mengelola 
faktor‐faktor tsb
Resep Pembangunan 
Berbasis Industri (ala Cina)
• Kapasitas negara untuk menjamin kestabilan 
upah tenaga kerja
• Kebijakan yang terbuka bagi investasi, 
termasuk kemudahan dalam infrastruktur
• Kemudahan untuk melakukan transaksi 
perdagangan terutama untuk kepentingan
perdagangan, terutama untuk kepentingan 
ekspor produk (deregulasi ekspor)
Resep bagi Pembangunan 
Berbasis Jasa (ala India)
• SDM yang berkualitas: kompeten, terampil, 
dan mampu berbahasa Inggris
• Penguasaan teknologi informasi dan 
komunikasi
• Kebijakan yang mendukung berkembangnya 
ff g
offshore‐management ((membangun cabang‐
g g
cabang bagi industri jasa ternama di lokasi 
negara ybs)
g y )
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
• Pieterse, Jan Nederveen. 2001. Development Theory: 
Deconstructions/Reconstructions. London: Sage Publisher.
• Wu, Yanrui. 2008. Comparing Regional Development in China and 
p / ,
India. Research Paper No. 2008/13, Finlandia: UNU‐WIDER.
• Poncet, Sandra. Economic Development in China and India. Diunduh 
dari http://team.univ‐
paris1.fr/teamperso/sponcet/455/lecture%2020%20comparing%20chi
na%20and%20india/ECON%20455%20Lecture%2020.pdf
• Mukherjee, Anit dan Xiaobo Zhang. 2005. “Rural Non Farm 
Development in China and India: The Role of Policies and Institutions”. 
Development in China and India: The Role of Policies and Institutions
DSGD Discussion Paper No. 24. Washington, DC: IFPRI.
• Cox, W. Michael dan Richard Alm. 2008. China and India: Two Paths to 
Economic Power Diunduh dari
Economic Power. Diunduh dari 
http://www.dallasfed.org/research/eclett/2008/el0808.html
Regionalisme:
Format Baru Tata Pemerintahan Dunia
Kuliah 12

Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.


Pengantar
• Globalisasi berimplikasi pada perubahan dalam konteks politik‐
ekonomi internal maupun eksternal negara
k l k l
• Terjadi perubahan dalam pola relasi antarnegara dalam satu 
kawasan yang makin terintegrasi, tidak hanya karena pertukaran 
atas dasar keunggulan komparatif, tapi juga atas dasar eksternalitas 
barang‐barang publik, seperti kesehatan, ketenagakerjaan, human 
security, dll
y,
• Kecenderungan terintegrasinya kawasan ini direspon dengan 
lahirnya berbagai bentuk aliansi strategis kawasan (regionalisme), 
seperti Uni Eropa dan ASEAN Plus
seperti Uni Eropa dan ASEAN Plus.
• Kebangkitan regionalisme di Asia menarik diamati karena tidak 
hanya mencerminkan interdependensi negara‐negara Asia, tapi juga 
menjadi kekuatan tandingan bagi negara‐negara Eropa (EU) dan 
j di k k t t di b i E (EU) d
Amerika Utara (NAFTA), pascakrisis ekonomi global 1997
Konsep Region dan Regionalisme
Konsep Region dan Regionalisme
• Region
Region menunjuk pada pengelompokan negara‐
menunjuk pada pengelompokan negara
negara yang berada dalam satu kawasan tertentu 
(misalnya: Eropa, Timur Jauh, Asia Timur)
• Ada 2 kategori definisi region:
d k d f
– Definisi Kognitif
Region merupakan kompleksitas sikap, loyalitas, dan ide 
eg o e upa a o p e s tas s ap, oya tas, da de
yang berpusat pada individu dan pikiran kolektif dari 
individu‐individu tentang apa yang mereka pahami sebagai 
wilayah
– Definisi Fungsional
Region merupakan relasi yang mengikat berbagai negara 
berdasarkan latar belakang politik, ekonomi, dan budaya, 
bahkan juga berdasarkan keunggulan geografi.
Region tidak terbatas Wilayah Geografi
‘Region’ tidak terbatas Wilayah Geografi

• Kasus 1  “East Asia Summit”
– ASEAN + 3 
• ASEAN + Jepang, Cina, Korea (3)
– East Asia Summit
• ASEAN
ASEAN + 3 + Australia, Selandia Baru, 
+ 3 + Australia Selandia Baru
India

Wilayah mana yang menunjukkan Asia Timur?
Mengapa Australia mengidentifikasikan dirinya 
sebagai negara Asia Timur?
sebagai negara Asia Timur? 
Region melampaui Ikatan Kultural
‘Region’ melampaui Ikatan Kultural

• Kasus 2: “ekspansi EU ke Turki”
– Negara‐negara anggota EU: 
g g gg
beragama Kristen
– Turki: beragama Islam

Jika sebuah kawasan meluas melampaui
ikatan kultural, prinsip‐prinsip apa yang 
k k l l
mendasari pembentukan sebuah kawasan? 
Regionalisme Fungsional
Regionalisme Fungsional
• Economic Integration 
Economic Integration (Edward L. Mansfield, Helen V. Milner 1997)
(Edward L Mansfield Helen V Milner 1997)
– Free Trade Area, customers union, common markets
– Economic interdependence

• Security Complex (David A. Lake and Patrik Morgan 1997)
– Region united by common security problems
g y yp
– “A group of states whose primary security concerns link 
together sufficiently closely…”

• Functional relations
– Environment, Transnational Issues…etc.
Regionalisme dalam Perspektif Studi 
Ilmu Pemerintahan
Ilmu Pemerintahan
• Tantangan‐tantangan yang muncul akibat globalisasi, yakni berkembangnya pusat‐
pusat kekuasaan, otoritas serta kompetensi yang baru di luar kerangka negara‐
bangsa. 
bangsa
• Salah satu situs kekuasaan, otoritas dan kompetensi yang sangat penting dalam 
konteks globalisasi adalah pasar. Globalisasi telah memberikan kekuatan yang 
p p p
semakin besar kepada kekuatan produksi dan finansial dalam berhadapan dengan  g
negara teritorial.
• Berangkat dari asumsi bahwa globalisasi menimbulkan krisis politik tradisional, 
kebutuhan akan mekanisme atau fungsi yang equivalen dengan pemerintahan 
menjadi
j di sangat besar. Konsep global governance atau ‘governance without 
b K l b l ‘ ih
government’ merupakan gagasan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan 
tersebut. 
• Global governance merupakan tatanan politik yang berkembang sebagai respon
Global governance merupakan tatanan politik yang berkembang sebagai respon 
terhadap globalisasi atau, lebih khusus lagi, merupakan mekanisme atau sarana 
institusional bagi kerjasama berbagai aktor baik negara maupun bukan negara 
untuk mengatasi masalah‐masalah yang muncul sebagai konsekuensi dari 
globalisasi
l b l
• Global governance diasumsikan akan mengambil alih peran regulasi yang tidak lagi 
bisa dimainkan oleh negara‐negara teritorial
Implikasi terhadap Institusi Pemerintah
Implikasi terhadap Institusi Pemerintah
• Perubahan mekanisme pengelolaan sumber daya:
– Government  governance
– Vertikal, hirarkhis  horisontal, jejaring
– Intra‐organization  intergovernmental (collective action)
– Kontrol dan koordinasi  kerjasama dan kolaborasi
Kontrol dan koordinasi  kerjasama dan kolaborasi
– Rasional  pertukaran
– Regulasi  negosiasi dan sinergi
– State‐led  market‐friendlyy
• Perubahan konsepsi barang publik:
– Ada barang publik yang dikelola murni oleh negara secara hirarkhis 
berbasis regulasi (yakni barang publik yang tidak boleh dimiliki individu 
dan tidak boleh dikelola secara pertukaran)
dan tidak boleh dikelola secara pertukaran)
– Ada barang privat yang dikelola pasar
– Ada common pool resources, yakni barang publik yang dikelola secara 
kolektif (bersama‐sama antara negara, pasar, dan masyarakat) yakni 
b
barang publik yang terbatas jumlahnya tapi kemanfaatannya tinggi
blik b j l h ik f i i
Global Governance sebagai Esensi Regionalisme
• Dua perspektif global governance:
– Sebagai tatanan/sistem/rezim yang dibentuk dan bekerja atas dasar 
mekanisme pasar
mekanisme pasar
– Sebagai institusi yang muncul untuk mengatasi kegagalan pasar atau 
masalah‐masalah yang berkaitan dengan perilaku kolektif di tingkat 
global
• Konsep global governance adalah tentang proses dan strategi collective 
action untuk memecahkan masalah‐masalah global ataupun masalah‐
masalah yang melintasi batas‐batas negara
masalah yang melintasi batas‐batas negara
• Kerangka pemecahan masalah tsb akan melahirkan pola dan bentuk regulasi 
yang berbeda dalam arsitektur global governance, sehingga suatu negara 
tidak mungkin membuat regulasi atau institusi yang tidak kompatibel
tidak mungkin membuat regulasi atau institusi yang tidak kompatibel 
dengan rezim global governance
• Pola relasi tidak bisa lagi bersifat hirarkhis berbasis kontrol negara, tapi 
mengarah pada pola horisontal berbasis kerjasama bahkan kolaborasi
mengarah pada pola horisontal berbasis kerjasama bahkan kolaborasi
• Maka, strategi yang dikembangkan adalah soft power, negosiasi, konsensus, 
dan sinergi (bukan regulasi)
• Konteks negara‐negara 
Asia sangat beragam: 
ada yang merupakan 
bagian dari negara‐
bagian dari negara
negara terkaya di dunia 
tapi ada juga yang 
termiskin, negara 
benua yang luas dan 
negara kota yang kecil, 
k t k il
Asia?

serta negara‐negara 
yang selalu merdeka 
dan negara yang 
ngapa A

p
pernah menjadi koloni
j
• Kekuatan Asia jelas 
berasal dari 
keterbukaan, 
keragaman, dan 
Men

dinamika negara
dinamika negara‐
negara yang saling 
berhubungan
• Negara‐negara Asia 
pada prinsipnya 
dihubungkan melalui 
pasar—melalui 
perdagangan, arus 
keuangan, investasi 
langsung dan bentuk‐
langsung, dan bentuk
bentuk lain dari 
pertukaran ekonomi 
dan sosial
Sumber: ADB, 2008
Dinamika Perdagangan  Integrasi Ekonomi Regional di 
I t
Intraregional 3 Region
i l3R i Asia Sebelum dan Sesudah Krisis
Asia Sebelum dan Sesudah Krisis

Sumber: ADB, 2008


Tujuan Regionalisme Asia
Tujuan Regionalisme Asia
• menyediakan barang publik regional yang baru, seperti mekanisme untuk 
di k b blik i l b ti k i t k
mengatasi epidemi; sumber daya untuk menangani krisis keuangan; dan peraturan 
yang memungkinkan negara‐negara untuk memadukan pasar‐pasar keuangan, 
barang dan jasa;.
g j ;
• mengelola dampak di negara‐negara akibat dari hubungan makro‐ekonomi yang 
lebih erat, arus modal dan aliran tenaga kerja yang lebih deras, serta kerusakan 
lingkungan;
• menggunakan pengaruh Asia dalam forum ekonomi global untuk membantu 
memelihara pasar global yang terbuka dan kompetitif;
• melakukan liberalisasi perdagangan dan investasi melebihi tingkat yang dapat 
dicapai melalui negosiasi global
dicapai melalui negosiasi global
• memberi nilai tambah dalam pembuatan keputusan nasional, terutama dengan 
berbagi “praktek terbaik” dan menggarisbawahi prioritas yang mungkin ditentang 
oleh kepentingan tertentu domestik—seperti
oleh kepentingan tertentu domestik seperti tindakan untuk meningkatkan 
tindakan untuk meningkatkan
kompetisi dan pengawasan peraturan, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, 
serta mengendalikan eksternalitas lingkungan hidup.
Arssitekttur 
Regionalismme Assia
Apa yang Diintegrasikan?
Apa yang Diintegrasikan?
• Integrasi produksi  keunggulan komparatif
Integrasi produksi  keunggulan komparatif
• Integrasi keuangan  memperkuat pasar keuangan, 
standarisasi pasar keuangan, dan stabilitas keuangan regional
p g , g g
• Interdependensi ekonomi makro  meningkatkan investasi 
dan pertumbuhan di negara‐negara yang pertumbuhannya 
l bih l b t
lebih lambat
• Pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan  menurunkan 
tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, 
g p g p p ,
meningkatkan jaringan sosial pengaman dan menyediakan 
dukungan bagi manula, memerangi epidemi dan 
meminimumkan dampak bencana dan menangani isu isu
meminimumkan dampak bencana, dan menangani isu‐isu 
lingkungan
Institusi (Regulasi dan Lembaga) yang Disiapkan
Institusi (Regulasi dan Lembaga) yang Disiapkan

• Berbeda
Berbeda dengan regionalisme Eropa dan Amerika Utara yang 
dengan regionalisme Eropa dan Amerika Utara yang
memberikan sepenuhnya kewenangan pengambilan kebijakan 
pada institusi regional, regionalisme Asia cenderung 
menerapkan regulatory state, dengan ciri:
– Asean telah mempunyai komitmen untuk meningkatkan kapasitas 
sekretariatnya dan akan mendirikan Komunitas Ekonomi Asean. 
– Pembentukan Dialog Stabilitas Keuangan Asia dan Sekretariat Asia bagi Kerja 
Sama Ekonomi sebagai prioritas penting. 
– Institusi lain yang akan muncul di kawasan ini nampaknya akan cenderung 
ramping ditata dengan berhati hati untuk mencapai maksud 
ramping, ditata dengan berhati‐hati untuk mencapai maksud
pembentukannya serta memiliki kewenangan terbatas.
– Dengan kata lain, bahkan dengan struktur institusional yang mendalam, 
konsultasi dan pembuatan keputusan antar pemerintah tampaknya akan tetap
konsultasi dan pembuatan keputusan antar pemerintah tampaknya akan tetap 
menjadi karakteristik utama dalam kerja sama regional Asia
Lanjutan
• Ada 3 pengaturan kerjasama regional Asia yang dikembangkan dalam rangka 
mengkompromikan tuntutan liberalisasi perdagangan dan keberlanjutan 
g p p g g j
politik‐ekonomi domestik (berbasis hubungan politisi‐pengusaha):
APEC AFTA EAS
O
Open regionalism
i li N ti t d fl ibilit
Negotiated flexibility Possible adoption of domestic
P ibl d ti fd ti
context
Minimal regional autonomy More regional autonomy Most regional autonomy
Economic liberalization
Economic liberalization Economic cooperation
Economic cooperation Compromizing liberalization 
Compromizing liberalization
and cooperation
Regional consolidation Regional consolidation Regional fragmentation

• Arsitektur yang fleksibel dengan beragam jalur juga menanggapi tantangan 
k fl k b l d b l
keragaman politik, ekonomi dan budaya yang luar biasa dari kawasan ini. 
Ekonomi dan politik Asia tak selalu bersekutu, tetapi mereka saling 
tergantung Kerja sama ekonomi yang lebih erat dalam Asia akan memberikan 
tergantung. Kerja sama ekonomi yang lebih erat dalam Asia akan memberikan
kerangka kerja yang lebih kuat untuk mengelola penyesuaian ekonomi di masa 
mendatang, baik dalam kawasan ini maupun dengan dunia.
Pustaka Rujukan
Pustaka Rujukan
• Asian Development Bank. 2008. Kebangkitan Regionalisme Asia: 
Kemitraan bagi Kemakmuran Bersama. Mandaluyong City Filipina: ADB.
• Haughton, Graham dan David Counsell. 2004. Regions, Spatial Strategies, 
and Sustainable Development. London dan NY: Routledge.
• Jayasuriya, Kanishka. 2004. Asian Regional Governance: Crisis and Change. 
London dan NY: RoutledgeCurzon.
• Sugiono, Muhadi. Tanpa tahun. Global Governance Sebagai Agenda 
g , p g g
Penelitian dalam Studi Hubungan Internasional. Diunduh dari 
http://msugiono.staff.ugm.ac.id/publikasi/agendariset.pdf
• Stubbs, Richard. 2002. “ASEAN Plus Three: Emerging East Asian 
, g g
Regionalism?”. Dalam Asian Survey, 42:3, hal. 440‐455.
• Van Hoa, Tran. 2002. “New Asian Regionalism and ASEAN+3 Free Trade 
Agreement: Theoretical Foundation, Policy Challenges, and Growth 
g , y g ,
Prospects”. Dalam Chulalongkorn Journal of Economics 14(3), September 
2002: 366‐384.
Institusi dan Kinerja
Pemerintahan

Kuliah 13

Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.


Pengantar
• Desain
Desain institusional mencakup semua pilihan nyata terhadap 
institusional mencakup semua pilihan nyata terhadap
seperangkat institusi (organisasi dan rezim/aturan main/norma) 
yang menghubungan masyarakat dengan pemerintahnya dan 
membentuk hubungan di antara berbagai lembaga 
b t kh b di t b b il b
pemerintahan
• Dalam pengertian ini, desain institusional mencakup baik 
dimensi intrinsik (representasi, akuntabilitas, dan hak) maupun 
dimensi ekstrinsik (alokasi dan distribusi sumber daya) 
• Desain institusional pada dasarnya dirumuskan sebagai alat 
Desain institusional pada dasarnya dirumuskan sebagai alat
untuk mencapai visi tertentu, dalam hal ini, visi tsb adalah visi 
kesejahteraan sebagai suatu negara
• Bagaimana keterkaitan antara desain institusional dan kinerja 
pemerintahan?
Posisi Negara
Posisi Negara
• Pada
Pada masa sekarang, dominasi negara telah melemah dan 
masa sekarang dominasi negara telah melemah dan
mulai berkembang kecenderungan global governance yang 
meminimalkan peran negara‐bangsa
• Tapi, negara masih tetap berperan strategis dalam 
memelihara stabilitas sistem pasar, ekonomi, dan finansial, 
terutama karena kewenangannya untuk memungut pajak
terutama karena kewenangannya untuk memungut pajak 
dan mengelola keuangan publik
• Konteks paradoksal ini menyebabkan wacana tentang peran 
p y gp
negara masih tetap menarik diperdebatkan, meskipun ada 
beragam perspektif teoretis dan ideologis yang dapat 
digunakan
Perkembangan Peran Negara
Perkembangan Peran Negara

Sumber: Dryzek dan Dunleavy, 2009
GLOBAL FACTORS AFFECTING LOCAL AND REGIONAL
ECONOMIC DEVELOPMENT

GLOBAL ECONOMIC GROWTH OF WORLD CRUCIAL ROLE OF


INTERACTION TRADE AND MARKET SIZE
INVESTMENT

REGIONALIZATION MOBILITY OF FACTORS


OF WORLD TRADE OF PRODUCTION

DRIVING FORCE OF
NATIONAL TECHNOLOGY
ECONOMIC
DEVELOPMENT NEED FOR AGILE
BUSINESS PRACTICES
EMERGENCE OF
GROWING KNOWLEDGE INDUSTRIES
SIMILARITIES IN
PRODUCTION
CAPABILITIES INCREASING
IMPORTANCE OF
SERVICE SECTOR
LOCAL AND
REGIONAL
DEVELOPMENT

FIRM NEED FOR GLOBAL


COMPETITIVENESS STRATEGIC ALLIANCES

DENNIS A. RONDINELLI, UNIVERSITY OF NORTH CAROLINA AT CHAPEL HILL


Ukuran Kinerja Pemerintahan
Ukuran Kinerja Pemerintahan

• Kesejahteraan rakyat  Human Development 
Index (HDI) atau Millenium Development Goals 
(
(MDGs) )
• Clean government  Indeks Persepsi Korupsi atau 
Political and Economy Risk Consultancy (PERC)
li i l d i kC l ( C)
• Kualitas pelayanan publik  Doing Business Index
• Kinerja birokrasi   Bureaucracy Performance
• Daya saing global  Global Competitiveness Index
Peringkat HDI di Negara Anggota APEC
Peringkat HDI di Negara Anggota APEC
Peringkat Korupsi (CPI)
Peringkat Korupsi (CPI)

Tahun CPI Score Peringkat Dunia


g

2005 2,2 137

2006 2,4 130

2007 2,3 143

2008 26
2,6 126

2009 2,8 111


Peringkat Korupsi (PERC)
Peringkat Korupsi (PERC)

TAHUN SKOR PERINGKAT

2005 9,10 1

2006 8,16 1

2007 8,03 2

2008 7,98 3

2009 8,32 1

2010 9,07 1
Peringkat Kinerja Birokrasi
Peringkat Kinerja Birokrasi

Negara Expert Advice Meritokrasi Akuntabilitas Transparansi Akses Rata‐rata 


Kinerja

India 4,00 4,06 2,92 2,94 2,83 3,35

Thailand 3,59 2,98 3,07 3,10 3,20 3,19

Mongolia 3,38 2,67 2,41 2,82 2,67 2,79

Pakistan 3,85 2,94 2,48 2,39 1,94 2,72

Cina 2,58 2,73 2,39 2,09 2,45 2,45

Filipina 2 57
2,57 2 37
2,37 2 14
2,14 2 37
2,37 2 03
2,03 2 30
2,30

Indonesia 2,57 2,17 1,97 2,03 2,46 2,24

Rata‐rata  3,18 2,53 2,44 2,46 2,63


Indikator

Sumber: Hyden, Court, dan Mease (2003)


Global Competitiveness Index di Negara Anggota APEC
2004 2010
2004 –
Global Competitiveness Index (GCI) 
I d
Indonesia tahun 2009 –
i t h 2009 2010 *)
2010 *)

*) Sumber: The Global Competitiveness Report 2009-2010 ,World Economic Forum


Sumber: The Global Competitiveness Report 2009-2010 ,World Economic Forum
Sumber: The Global Competitiveness Report 2009-2010 ,World Economic Forum
Indeks Suap 15 Institusi Publik *))
Indeks Suap 15 Institusi Publik

Rata-rata jumlah uang/transaksi


Polisi (n=1218) 48%
Bea dan Cukai (n=423) 41%
Kantor Imigrasi (n=363) 34%
DLLAJR (n=774) 33%
Pemda kota (n=1857) 33%
Badan Pertanahan Nasional (n=518) 32%
Pelindo (n=425) 30%
Pengadilan (n=204) 30%
DepHukHam (n=431) 21%
Angkasa Pura (n=357) 21%
Pajak Daerah (n=2159) 17%
Depkes (n=598) 15%
Pajak Nasional (n=2005) 14%
BPOM (n=387) 14%
MUI (n=177) 10%

0% 20% 40% 60% 80% 100%

*) Sumber: Survey Transparancy International Indonesia, 2008


Permasalahan yang Dihadapi Negara‐Bangsa 
d l
dalam Konteks Global
K k Gl b l

Political Goods:
• Kemiskinan
Redesain 
• Pemerataan  Kapasitas 
Institusi
kesejahteraan Pemerintahan
(Public Sector 
• Degradasi  (Governability)
Reform) 
lingkungan 
hidup
Lingkup
p Pub
blic Se
ector R
Reform

Sumber: World Bank, 2008


Strategi Institusional untuk Public Sector Reform
g

• Mensinergikan antara logika teknokrasi 
(birokrasi) dengan logika demokrasi 
(politisi/pejabat publik):
1. Akuntabilitas ‘intervensi’ politisi terhadap 
birokrasi;
2. Rasionalisasi tuntutan representasi politik 
dalam birokrasi;
3. Pengembangan kapasitas birokrat 
menghadapi arena dan peran baru tsb.
Intervensi Politisi
Intervensi Politisi

• D
Demokrasi menghendaki agar politisi mampu 
k i h d ki liti i
mengontrol birokrasi sebagai penyelenggara 
urusan publik sehari‐hari
urusan publik sehari‐hari
• Tapi, pengawasan politik tsb harus mengacu 
pada kepentingan publik dan
pada kepentingan publik dan 
mempertimbangkan logika teknokrasi
• Karena itu, diperlukan kejelasan netralitas 
Karena itu diperlukan kejelasan netralitas
birokrasi dan jaminan jalur akses politisi, 
y p
termasuk menyiapkan mekanisme arbitrasi 
jika meritokrasi terganggu intervensi politik 
Representasi Politik dalam Birokrasi
Representasi Politik dalam Birokrasi

• M
Masyarakat masih menganggap representasi 
k ih i
identitas di birokrasi sebagai hal penting (misl: isu 
put a dae a ; su et s; su ge de ; d )
putra daerah; isu etnis; isu gender; dll)
• Padahal, jika tuntutan tsb dipenuhi akan merusak 
meritokrasi dan profesionalitas birokrasi
• Karena itu, perlu alihkan makna representasi pada 
perwakilan gagasan via partisipasi (bring the public 
in)
• Untuk itu, institusi birokrasi harus didesain untuk 
meminimalkan bias partisipasi
meminimalkan bias partisipasi
– (bias: elit, urban, laki2, terdidik, kaya, dll)
Kapasitas Birokrasi yang diperlukan
Kapasitas Birokrasi yang diperlukan

• Dengan peran yang lebih luas, perlu birokrat 
yang  juga punya kapasitas “politik” yang baik 
untuk membangun legitimasi.
• Kapasitas birokrat perlu ditambahkan dengan 
kapasitas dalam:
• Berjejaring (network management)
• Skill relasional (game management)
• Skill membangun struktur sinergi (regulasi, desain 
kelembagaan mempengaruhi nilai/ norma/
kelembagaan, mempengaruhi nilai/ norma/ 
persepsi, dll)
Lesson Learned
Lesson Learned
• Institusi negara masih menjadi titik pusat dalam 
pengelola urusan publik, tapi perlu ada penyesuaian 
agar negara mampu merespon kompleksitas isu isu
agar negara mampu merespon kompleksitas isu‐isu 
lokal, nasional, dan global
• Redesain institusi negara terutama diperlukan untuk 
Redesain institusi negara terutama diperlukan untuk
melakukan fungsi redistribusi yang tidak mungkin 
dilakukan pasar dan masyarakat, sehingga 
p y , gg
pertumbuhan ekonomi dapat berkorelasi positif 
dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan 
taraf hidup masyarakat
Referensi
• Amenta,
Amenta, Edwin. (tanpa tahun). State
Edwin. (tanpa tahun). State‐Centered
Centered and 
and
Political Institutional Theory: Retrospect and Prospect.
• Ayres, Ian dan John Braithwaite. 1992. Responsive 
y , p
Regulation: Transcending the Deregulation Debate. NY: 
Oxford University Press.
• Beeson, Mark. 1998. “Indonesia, The East Asia Crisis 
and the Commodification of the Nation‐Satate”. Article
in New Political Economy Vol 3 No 3 hal 357 374
in New Political Economy, Vol. 3, No. 3, hal. 357‐374.
• Dryzek, John S. dan Patrick Dunleavy. 2009. Theories of 
the Democratic State Basingstoke: Palgrave
the Democratic State. Basingstoke: Palgrave 
MacMillan.
• Leftwich, Adrian. 2008. “Developmental States, Effective 
States and Poverty Reduction: The Primacy of Politics”. Paper
States, and Poverty Reduction: The Primacy of Politics Paper
for United Nations Research Institute for Social Development 
(UNRISD) Poverty Reduction and Policy Regimes
• Ostrom, Elinor. 1990. Governing the Commons: The Evolution 
of Institutions for Collective Action.  UK: Cambridge University 
Press.
• _____. 1994. “Neither Market nor State: Governance of 
Common‐Pool Resources in the Twenty‐first Century”. Lecture 
Paper, presented in International Food Policy Research 
Institute, Washington DC.
• Peters, Guy B. 2000. 
Peters Guy B 2000 “Institutional
Institutional Theory: Problems and 
Theory: Problems and
Prospects”. Paper for Institute for Advanced Studies, Vienna
• Robinson, Mark dan Gordon White (eds). 1998. The 
Democratic Developmental State: Politics and Institutional 
Design. New York: Oxford University Press.
Dialog
Indonesia – Malaysia

dalam rangka kunjungan mahasiswa


Universitas Malaya

Jatinangor,
g , 18 Mei 2010

Kuliah 14
Lesson Learned
Government System and Institutionalization in Malaysia

• What Malaysian does:


– Strong leadership
– Change management in government
– R b ildi nationalism
Rebuilding i li
– Institutionalization of the rule of game (regulation/act,
ideology/rukun
gy negara)
g )
– Preserving social and political order (Internal Security
Act/ISA/counter-terrorism)
– Open but responsible mass media
– Distribution of resources to develop marginalized area
(quota policy,
policy ICT policy
policy, incentives mechanism,
mechanism etc)
Common Issues Malaysia & Indonesia

 Culture:
 product or identity?
 economic asset or art?
 Territorial security
 Transnational
Transnational-workers/migrants
workers/migrants
New Approach in Diplomatic Relationship
 Tamadun Melayu
 Culture
Culture-based
based regionalism  ‘saudara
saudara serumpun’
serumpun as shared
identity
 Common interest  increase competitiveness against other
regions, especially the West (America
( and North European))

 Soft power approach


 Indonesia as the model for the biggest Moslem-Democratic
State  to drive democratization in South East Asia
 Strategic alliances networking  manage collaborative
networking to overcome transnational issues, such as
terrorism migration,
terrorism, migration and transborder trading
Overview Akhir
Perkuliahan

Kuliah 15

Caroline Paskarina
Paskarina, S
S.IP.,
IP M M.Si.
Si
Apa
p yang
y g Sudah Dipelajari
p j
• Sebagai sebuah metode, perbandingan memiliki
seperangkat teknik dan kaidah

• D
Daya penjelas
j l d darii analisis
li i yang dih
dihasilkan
ilk melalui
l l i
metode perbandingan akan ditentukan oleh pilihan
teknik dan kaidah yyangg dipakai
p

• Dalam perkembangan kontemporer, studi


perbandingan
b di sistem
i t pemerintahan
i t h punya misi i i
strategis sebagai bentuk perlawanan terhadap
g
hegemoni negara-negara
g g Barat ((Eropa
p Barat dan
Amerika Utara)  lokalisasi ilmu & pengetahuan
• Dalam perkembangan kontemporer
kontemporer, studi
perbandingan sistem pemerintahan punya misi
strategis sebagai bentuk perlawanan terhadap
hegemoni negara-negara Barat (Eropa Barat dan
Amerika Utara)  lokalisasi ilmu & pengetahuan

• Globalisasi membuat negara-negara makin


terintegrasi, sehingga konsep urusan publik bisa
melampaui batas teritorial negara  transnational
issues; regionalism; global governance

• Negara-bangsa dituntut untuk melakukan


penyesuaian institusi sebagai respon terhadap
kecenderungan global tsb
Yang Belum Dielaborasi?
• P
Penggunaan metodet d perbandingan
b di untuk
t k
lokalisasi pengetahuan (pribumisasi teori)
• Strategi
St t i adaptasi
d t i pengalaman
l (l
(lesson
learned) dari negara lain untuk
kepentingan Indonesia
• Agenda riset yang relevan untuk studi
PSP dan pembentukan sistem
pembelajaran (learning system) untuk
pengembangan Ilmu Pemerintahan