Anda di halaman 1dari 3

Ac, Nyamaaaan!!! Tapi…..

Setiap dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan ac, atau air conditioner.
Pendingin udara yang dapat membuat kita merasa nyaman di tengah perasaan
terpanggang karena kehidupan di lingkungan tropis. Lingkungan yang membuat kita
mendapatkan sengatan matahari maupun kelembaban udara yang berlebihan karena sifat
iklimnya. Ruangan ber ac tentu menjadi dambaan, betapa nyaman, betapa senang….
Hmmmm dingin, kita bilang.
Namun, tahukah kita di balik kenyamanan yang kita dapatkan ada harga yang
harus kita bayar???
Harga di samping harga dalam angka rupiah saat kita pasang ac tentunya :p. -sejenis
kredit yang terus menghantui dalam jangka panjang…-. Alat pendingin, termasuk
pendingin ruangan secara umum menggunakan syntetic refrigerant atau pendingin
buatan, salah satu yang digunakan secara luas adalah Chloro Fluoro Carbon (CFC), atau
yang lebih dikenal dengan freon. Freon dinilai tidak mudah terbakar atau meledak, tidak
beracun dan stabil (tidak mudah bereaksi dengan senyawa atau unsur lainnya), sehingga
penggunaannya di dunia industri semakin meningkat., tidak hanya pada industri sistim
pendingin tetapi juga sebagai pendorong aerosol dalam industri kemasan kaleng dan cat.
Terdapat bermacam jenis freon, tapi tipe yang umum dipakai sebagai pendingin
ada tiga. Pertama R-12 CFC, banyak kita temukan pada kulkas, dispenser, maupun ac
mobil dibawah tahun 1993. Kedua, R-22HCFC (Hydrochlorofluorocarbon) banyak
ditemukan pada pendingin ruangan berskala besar, seperti AC split, AC window, dan AC
sentral seperti yang digunakan pada gedung perkantoran.terakhir, R-22134a
HFC(Hydrofluorocarbon), digunakan pada AC mobil dewasa ini dan pada sebagian
prduk kulkas.
Kehadiran senyawa khlorin dalam atmosfer diketahui berasal dari pelepasan freon
ke udara. Sebab dalam lapisan stratosfer, -freon- meskipun sebenarnya merupakan
senyawa yang stabil, mengalami proses oksidasi fotokimia. Proses kimia ini terjadi
dengan bantuan sinar matahari akan mengoksidasi komponen-komponen yang tidak
dapat dioksidasi dengan cepat oleh oksigen.. dalam proses tersebut freon terurai menjadi
senyawa khlorin yang selanjutnya menghasilkan khlor dan bereaksi dengan ozon. Hal ini
dapat menyebabkan semakin menipisnya lapisan ozon di atmosfir apabila terjadi secara
terus menerus.
Freon memiliki Global Warming Potential (GWP) 510 kali lebih besar dari pada
CO2. karbon dioksida dalam alam sendiri menyebabkan 9-26% efek rumah kaca. Efek
tersebut belum sebanding dengan freon dalam hal percepatan pemanasan global. Selain
memiliki GWP tinggi freon pun memiliki ALT (atmosfer Life Time) yang sangat besar,
yaitu 15. artinya gas freon akan bertahan selama 15 tahun di atmosfer sebelum terurai.
Berarti, sejak pertama kali AC ditemukan dan dijual secara komersil (1950), freon baru
terurai empat kali di alam (genap tahun 2010).
Jika penggunaan freon terus meningkat, maka proses penipisan lapisan ozon akan
terus berlangsung. Dengan sedirinya jumlah radiasi ultraviolet ke permukaan bumi terus
meningkat dan membahayakan kehidupan makhluk hidup. Bahaya radiasi sinar ultra
violet tidak jauh berbeda dengan bahaya yang ditimbulkan oleh radiasi bahan nuklir.

Lalu, apakah solusinya? (solusi agar tetap sejuk di tengah udara khatulistiwa…?)
Selain syntetic refrigerant, terdapat juga natural refrigerant, yaitu Hydrocarbon
(CnH2n+2), atau yang dikenal dengan HC. Hydrocarbon sendiri terdapat di alam bebas,
namun sayangnya teknologi yang digunakan masih rumit dan mahal sehingga masih
kurang populer.
Selain kemajuan teknologi masih ada pula kearifan lokal yang dapat kita terapkan.
Karena kearifan lokal sendiri merupakan salah satu bentuk dari adaptasi manusia
terhadap lingkungan sekitar, misalnya mengapa kita tidak lebih memilih membuat rumah
dengan tata bangun yang mengkondisikan udara dapat berganti dengan leluasa -seperti
bentuk bangunan yang tepat untuk keadaan lingkungan tropis misalnya- (tapi kita malah
banyak membangun rumah seperi orang subtropis bangun di desanya…..dengan AC!!)

Demikianlah paparan singkat mengenai AC yang kita lihat dan gunakan sepanjang hari
itu.

Dan yang terakhir, yang perlu diutarakan adalah:


“ bahwa kita masih punya kesempatan, tapi adakah nyali pada kita untuk
bertindak??”

Dari berbagai sumber.

Ditulis oleh, Wiwit Jawi Indah, KS.300


Diskusi Lingkungan, Kapalasastra
13 April 2009

Terjadinya penipisan ozon lebih cepat terjadi di daerah subtropis dan kutub,
karena kadar kandungan organik yang dimiliki berbeda dengan daerah tropis.
Pada daerah tropis, penipisan lapisan ozon bisa sedikit diimbangi dengan
terjadinya pembentukan ozon melalui oksidasi fotokimia terhadap bahan-bahan
organik tersebut.