Anda di halaman 1dari 15

Berbagai Pendekatan

dalam Studi PSP

Kuliah 4

Dosen:
Dr. Dede Mariana, M.Si / Caroline Paskarina, S.IP., M.Si. /
Neneng Yani Yuningsih. S.IP., M.Si.
Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran
Pengantar

 Berbagai pendekatan dalam studi PSP berasal dari pendekatan-pendekatan


yang berkembang dalam Ilmu Politik
 Pendekatan (approach) diartikan secara sederhana sebagai suatu cara
pandang untuk menjelaskan fenomena tertentu (a way of looking at and then
explaining a particular phenomenon)
 Pendekatan juga didefinisikan sebagai sistem analitik untuk mengkaji suatu
fenomena atau gejala (Apter, 1996)
 Sebagai suatu sistem analitik, pendekatan memberikan suatu kerangka
konseptual dan teoretik dalam memandang dan menjelaskan suatu gejala
sekaligus juga memiliki metode tersendiri dalam melakukan analisis gejala
tersebut. Karena itu, pendekatan juga mencakup segala hal yang berkaitan
dengan pengumpulan dan seleksi bukti-bukti yang diikuti dengan penyelidikan
dan analisis terhadap hipotesis tertentu untuk kepentingan akademis
 Dapat disimpulkan bahwa pendekatan merupakan suatu cara pandang untuk
menjelaskan fenomena tertentu yang di dalamnya mencakup kerangka
konseptual dan metode analisis data
Pendekatan dalam Studi PSP

 Pendekatan
Kelembagaan/Institusional/Tradisional (1920-
1930)
 Pendekatan Behavioral/Tingkah Laku (1950-
1960-an)
 Pendekatan Pascabehavioral (1960-an s.d.
sekarang)
Pendekatan Kelembagaan/Institusional/
Tradisional (1920-1930)

 Dalam pendekatan ini negara menjadi fokus utama, dengan


menonjolkan segi konstitusional dan yuridis.
 Bahasan tradisional menyangkut misalnya: sifat Undang-
undang Dasar serta masalah kedaulatan, kedudukan dan
kekuasaan lembaga-lembaga kenegaraan formal seperti
parlemen, badan eksekutif, badan yudikatif dan sebagainya.
 Pendekatan ini sering juga disebut sebagai pendekatan
institusional atau pendekatan legal-institusional karena seolah-
olah hukum dan politik adalah satu dan berjalan seiring
 Pendekatan ini memiliki sifat yang sangat formal dan deskriptif
karena menggambarkan berbagai lembaga-lembaga
pemerintah dan saluran-saluran demokrasi yang telah ada
Karakteristik
Pendekatan Kelembagaan

 Sangat menekankan pada pentingnya nilai


(bersifat normatif) dan moral (seperti halnya
pada kajian filsafat politik).
 Metode yang digunakan bersifat deduktif,
deskriptif, historis-komparatif, dan preskriptif.
 Teori-teori yang lahir dari pendekatan ini
bersifat abstrak, hipotetikal, spekulatif, dan
metafisik.
Kritik terhadap
Pendekatan Kelembagaan

 Kurang menyoroti organisasi-organisasi yang tidak


formal, seperti kelompok kepentingan dan media
massa.
 Bahasan lebih bersifat deskriptif daripada analitis
dan banyak memakai ulasan sejarah, sehingga
kurang berkontribusi pada pembentukan teori baru
 Seringkali pendekatan tradisional bersifat normatif
(apakah sesuai dengan ideal atau standar) dengan
mengasumsikan norma-norma demokratis Barat.
Pendekatan Behavioral/
Tingkah Laku (1950-1960-an)
 Pendekatan ini merupakan sebuah reaksi terhadap spekulasi teori yang memberikan
uraian penjelasan, kesimpulan dan penilaian berdasarkan norma-norma atau aturan-
aturan dan standar-standar kekuasaan maupun etnosentrisme, formalisme dan
deskripsi barat yang menjadi karakteristik pendekatan tradisional
 Menurut para penganut pendekatan ini, tidak ada gunanya membahas lembaga-
lembaga formal karena bahasan itu tidak banyak memberi informasi mengenai
proses politik yang sebenarnya. Sebaiknya lebih bermanfaat bagi peneliti untuk
mempelajari manusia itu sendiri serta tingkah laku politiknya, sebagai gejala-gejala
yang benar-benar dapat diamati
 Pendekatan ini tidak menyangkal bahwa lembaga-lembaga formal itu penting, akan
tetapi lembaga-lembaga itu cenderung dipandang hanya sebagai kerangka bagi
berperannya individu
 Pendekatan ini tidak hanya menganalisis tingkah laku dan kegiatan-kegiatan
manusia (action), melainkan juga orientasi terhadap kegiatan tertentu seperti sikap,
motivasi, persepsi, evaluasi, tuntutan, harapan, dan sebagainya. Terlebih lagi
dengan anggapan bahwa tingkah laku politik hanya salah satu dari keseluruhan
tingkah laku, maka pendekatan ini cenderung bersifat interdisipliner, karena tidak
saja mempelajari dampak faktor pribadi tetapi juga dampak dari faktor sosial,
ekonomi dan budaya.
Karakteristik
Pendekatan Behavioral

 Perilaku politik menampilkan keteraturan (regularitas). Keteraturan ini


harus dirumuskan dalam generalisasi.
 Generalisasi-generalisasi ini pada dasarnya harus dapat dubuktikan
keabsahan atau kebenarannya (verification).
 Teknik-teknik penelitian yang cermat harus digunakan untuk
mengumpulkan dan menganalisis data.
 Pengukuran dan kualifikasi (antara lain melalui statistik dan matematika)
harus digunakan untuk mencapai kecermatan dalam penelitian.
 Harus ada usaha untuk membedakan secara jelas antara norma (ideal
atau standar yang harus menjadi pedoman untuk tingkah laku) dan fakta
(sesuatu yang dapat dibuktikan berdasarkan pengamatan atau
pengalaman). Dalam membuat analisis, nilai-nilai pribadi si peneliti
sedapat mungkin tidak main peranan (Value free) sebab benar/tidaknya
nilai-nilai (seperti demokrasi, persamaan, kebebasan dan sebagainya)
tidak dapat ditentukan secara ilmiah.
Lanjutan

 Penelitian harus bersifat sistematis dan berkaitan erat dengan


pembinaan teori.
 Ilmu politik harus bersifat murni (pure science) dalam arti bahwa usaha
untuk memahami dan menjelaskan perilaku politik harus mendahului
usaha untuk menerapkan pengetahuan itu bagi penyelesaian
masalah-masalah sosial.
 Dalam mengadakan penelitian politik diperlukan sikap terbuka serta
integrasi dengan konsep-konsep dan teori-teori dalam ilmu lainnya.
Dalam proses interaksi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya telah muncul
istilah-istilah baru seperti yang telah berkembang pada sosiologi dan
antropologi, misalnya sistem politik, fungsi, peranan, struktur, budaya
politik, dan sosialisasi politik, di samping istilah lama seperti negara,
kekuasaan, jabatan, lembaga, pendapat umum, dan pendidikan
kewarganearaan (citizenship training).
Kritik terhadap
Pendekatan Behavioral

 Pendekatan perilaku telah membawa efek yang kurang


menguntungkan, yakni mendorong para sarjana menekuni
masalah-masalah yang kurang penting, dan mengabaikan
konflik-konflik dan pertentangan yang menggoncangkan
masyarakat pada waktu itu
 Dalam usaha untuk mempelajari ”sistem” dan bagaimana agar
sistem itu bisa mempertahankan diri melalui usaha untuk
mencapai keseimbangan antara unsur-unsur dalam
masyarakat, para penganut pendekatan perilaku kurang
memberi perhatian pada masalah perubahan dalam
masyarakat
Pendekatan Pascabehavioral
(> 1960-an)

 Pendekatan pascabehavioral memperjuangkan perlunya


relevance and action (relevansi dan orientasi bertindak).
 Pendekatan ini tidak sepenuhnya menolak pendekatan
tingkah laku, hanya mengecam praktik dari sarjana
tingkah laku.
 Pendekatan pascabehavioral mendukung sepenuhnya
pendekatan tingkah laku mengenai perlunya
meningkatkan mutu ilmiah dari ilmu politik.
 Pada hakikatnya pendekatan pascabehavioral
merupakan kesinambungan sekaligus koreksi dari
pendekatan tingkah laku.
Kriteria
Pendekatan Pascabehavioral

 Substansi lebih penting dibandingkan metode, lebih penting untuk menjadi


relevan dan bermakna bagi penyelesaian masalah-masalah kekinian, daripada
mengembangkan metode-metode penelitian yang canggih namun tidak dapat
diaplikasikan.
 Perkembangan ilmu harus memperhatikan ideologi (nilai-nilai) dan konteks
yang berlangsung agar dapat memahami realitas dari kondisi faktual.
 Ilmu tidak boleh lepas dari realitas yang terjadi.
 Perkembangan ilmu tidak terlepas dari pengembangan nilai-nilai, sehingga
tidak ada ilmu yang bebas nilai.
 Komunitas akademik memiliki tanggung jawab untuk melindungi nilai-nilai
kemanusiaan dan peradaban.
 Memiliki pengetahuan artinya memiliki tanggung jawab untuk bertindak dan
berpartisipasi aktif dalam pembentukan masyarakat ke arah yang lebih baik.
 Institusi-institusi dan kelompok-kelompok profesional-akademik juga memiliki
tanggung jawab yang sama, sehingga tidak dapat terpisah dari permasalahan
masyarakat sehari-hari.
Perbandingan antara 3 Pendekatan
Sumber: Ronald H. Chilcote, Teori Perbandingan Politik, Penelusuran Paradigma, 2003

Pendekatan Tradisional Pendekatan Behavioural Pendekatan Paskabehavioural


• Saling mengaitkan fakta dan • Memisahkan fakta dari nilai • Fakta dan nilai diikat pada
nilai tindakan dan relevansi
• Perspektif dan normatif • Nonperspektif, objektif dan • Bersifat humanistik dan
empiris berorientasi-masalah;normatif
• Kualitatif • Kuantitatif • Kualitatif dan kuantitatif
• Berkaitan dengan • Berkaitan dengan keseragaman • Berkaitan dengan keteraturan
ketidakteraturan dan keteraturan dan keteraturan dan ketidakteraturan
• Konfiguratif dan non • Komparatif; berfokus pada • Komparatif; berfokus pada
komparatif, berfokus pada beberapa negara beberapa negara
negara-negara individual
• Etnosentris, secara khusus • Etnosentris; secara khusus • Secara khusus berorientasi pada
berfokus pada ’demokrasi- berkaitan dengan model Anglo- dunia ketiga
demokrasi’ Eropa Barat Amerika
• Deskriptif; sempit dan statis • Abstrak; berideologi • Teoretis, radikal dan
konservatif dan statis berorientasi hasil
• Berfokus pada struktur-struktur • Berfokus pada struktur-struktur • Berfokus pada hubungan dan
formal (institusi dan pemerintah) dan fungsi-fungsi (kelompok) konflik kelas serta kelompok
formal dan informal
Referensi Lanjut

 Almond, Gabriel A.dan G. Bingham Powell, Jr. 1996.


Comparative Politics Today: A World View. New York:Harper
Collins College Publishers.
 Blondel, J. 1995. Comparative Government: An Introduction.
London:Prentice Hall.
 Curtis, Michael. Introduction to Comparative Government. New
York:Addison-W esley Educational Publishers Inc.
 Johari, J.C. 1982. Comparative Politics, New Delhi : Sterling
Publishers PVT LTD.
 Mahler, Gregory dan Donald MacInnis. 2002. Comparative
Politics: An Institutional and Cross-National Approach.
Toronto:Prentice Hall.
 Wang, James C.F. 1994. Comparative Asian Politics: Power,
Policy, and Change. New Jersey: Prentice Hall International
Editions.
TERIMA KASIH