Anda di halaman 1dari 3

Hari AIDS Sedunia

Cegah HIV/AIDS, Hindari Perilaku Berisiko

Oleh Syaiful W. Harahap*

Jakarta, 24/11-2008. Laporan terakhir Depkes (30/6-2008) menunjukkan kasus AIDS


di Provinsi Banten mencapai 58, dari jumlah ini 47 terdeteksi di kalangan pengguna
narkoba, serta 11 kematian. Tapi, data lain menyebutkan

Angka-angka itu sendiri tidak menggambarkan jumlah kasus HIV dan AIDS yang ada
di masyarakat karena banyak yang tidak terdeteksi. Hal ini terjadi karena mereka tidak
menyadari dirinya sudah tertular HIV. Orang-orang yang sudah tertular HIV tidak
menunjukkan gejala, tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisikinya sebelum masa
AIDS (antara 5-10 tahun setelah tertular).

Tapi, para kurun waktu itu sudah terjadi penularan tanpa disadari melalui (a)
hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah yang
tidak diskrining HIV, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo,
alat-alat kesehatan yang dipakai bersama, (d) cangkok organ tubuh yang tidak
diskrining HIV, dan (e) air susu ibu (ASI) pada proses menyusui.

Donor Darah

Penularan horizontal antar penduduk inilah yang memicu penyebaran HIV karena
semua terjadi tanpa disadari. Persoalan yang dihadapi adalah informasi tentang cara-
cara penularan dan pencegahan melalui hubungan seks tidak pernah disampaikan
dengan akurat. Bebagai kegiatan penyuluhan, seperti ceramah dan diskusi, infomrasi
HIV/AIDS yang disampaikan selalu dibalut dengan norma, moral, dan agama
sehingga fakta medis tentang HIV/AIDS hilang. Yang muncul justru mitos (anggapan
yang salah) tentang HIV/AIDS.

Penularan HIV melalui hubungan seks selalu dikait-kaitkan dengan zina, pelacuran,
jajan, selingkuh, waria, dan homoseksual. Penularan HIV melalui hubungan seks
(bisa) terjadi di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu
HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan
seks (kondisi hubungan seks). Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif tidak ada
risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan dengan zina, pelacur, dll.
(sifat hubungan seks). Maka, penularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi
berdasarkan kondisi bukan sifat hubungan seks.

Persoalan besar dalam epidemi HIV adalah kita tidak bisa mengenali orang-orang
yang mengidap HIV (HIV-positif). Maka, jika tetap memilih melakukan hubungan
seks, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan
seseorang yang sering berganti-ganti pasangan hindarkan pergesekan penis dengan
vagina dan cegah agar air mani atau cairan vagina tidak masuk ke dalam tubuh. Untuk
itu diperlukan alat untuk melindugi penis dan vagina.

1
Penyebaran HIV di Banten dan daerah lain di Indonesia terjadi melalui hubungan seks
karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Kondisi inilah
yang membuat epidemi HIV menjadi masalah besar.

Tingkat penyebaran HIV di masyarakat dapat dilihat dari skrining HIV pada darah
donor yang dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) pada kegiatan tranfusi darah.
Donor adalah masyarakat sehingga kalau ada darah donor yang terdeteksi HIV-positif
itu menunjukkan di masyarakat sudah ada penduduk yang mengidap HIV. Berita di
”Radar Banten” (26/4-2008), misalnya, menyebutkan ”76 Kantung Positif
HIV/AIDS”. Ini bukti bahwa donor yang merupakan penduduk Banten sudah ada yang
mengidap HIV. Mereka tidak terdeteksi karena belum menunjukkan gejala terkait
AIDS sehingga mereka tidak menyadarinya. Mereka pun belum mengidap infeksi
oportunistik, yaitu penyakit-penyakit yang muncul setelah masa AIDS, sehingga
mereka belum berobat ke rumah sakit.

Namun, karena HIV/AIDS selalu dilihat dari kaca mata moral maka fakta yang tidak
ada kaitannya dengan moral selalu luput dari perhatian. Kasus labu darah yang
terdeteksi HIV-positif merupakan gambaran nyata kondisi penyebaran HIV di
masyarakat.

Perda AIDS

Karena HIV/AIDS dilihat dari moral, seperti pelacuran, maka pencegahan pun
dilakukan dengan menutup lokasi atau lokalisasi pelacuran. Bahkan, Pemkot
Tangerang membuat Perda anti pelacuran. Tapi, tunggu dulu. Yang menjadi pemicu
penyebaran HIV melalui hubungan seks bukan pelacur(an), tapi hubungan seks yang
berisiko baik dalam bentuk perzihan, pelacuran maupun ganti-ganti pasangan suka
sama suka atau dalam nikah.

Biar pu di Tangerang khususnya dan Banten umumnya tidak ada lokasi pelacuran bisa
saja terjadi ada penduduk Banten melakukan perilaku berisiko di luar Banten atau di
luar negeri. Jika ada di antara mereka yang tertular HIV maka mereka akan menjadi
mata rantai penyebaran HIV di Banten.

Dalam kaitan inilah yang perlu diperhatikan bukan perzinaan, pelacuran atau
homoseksual tapi perilaku berisiko tinggi tertular HIV. Soalnya, di beberapa tempat
terjadi ’halalisasi zina’ seperti ’kawin kontrak’ dan nikah mut’ah dengan hitungan
waktu kawin dalam jam, hari, minggu, dst. Biar pun hubungan seksnya halal tapi
risiko penularan HIV tidak bisa dihindarkan karena ada kemungkinan salah satu atau
kedua-duanya pernah melakukan hubungan seks dengan pasangan yang lain secara
berganti-ganti.

Lalu, siapa saja, sih, yang berisiko tertular HIV? Yang berisiko adalah orang-orang
yang pernah atau sering melakukan hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, tanpa
kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering
berganti-ganti pasangan.

Untuk itulah jika Pemprov Banten atau pemkab/pemkot di Banten tetap ingin
membuat perda penanggulangan AIDS perlu ada pasal yang mengatur perilaku
penduduk. Saat ini sudah ada 13 daerah mulai dari provinsi, kabupaten dan kota yang

2
mempunyai perda tapi hasilnya nol besar. Ini terjadi karena tidak ada pasal yang
menyentuh akar persoalan semua hanya mengedepankan moral.

Dalam perda perlu ada pasal yang berbunyi: ”Setiap orang wajib memakai kondom
jika melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang
berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.”

Selanjutnya untuk mendeteksi penduduk yang sudah tertular HIV untuk memutus
mata rantai penyebaran HIV, maka ada pula pasal yang berbunyi: Setiap orang yang
pernah atau sering melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar
nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering
berganti-ganti pasangan wajib melakukan tes HIV dengan konseling.”

Jika tidak ada tindakan yang konkret dan realistis dalam penanggulangan HIV/AIDS
maka epidemi HIV akan menjadi ’bom waktu’ yang akan menjadi ledakan AIDS.
Kalau ini terjadi maka persoalan kian runyam karena dibutuhkan biaya yang sangat
besar untuk menanggulangi penderita AIDS. ***

* Penulis pemerhati masalah HIV/AIDS melalui LSM (media watch) ”InfoKespro”


Jakarta (E-mail: infokespro@yahoo.com).