Anda di halaman 1dari 3

Informasi AIDS Kurang Penolakan terhadap Kondom Marak

Oleh Syaiful W. Harahap*

Jakarta, 2/8-2009. Sejak kasus AIDS ditemukan di Bali (1987), yang kemudian diakui
pemerintah sebagai kasus AIDS pertama di Indonesia, sampai sekarang kasus
HIV/AIDS terus terdeteksi di semua daerah. Sampai 31 Desember 2008 Depkes
melaporkan 6.554 kasus HIV dan 16.110AIDS dengan 3.362 kematian. Beberapa
daerah menanggapi epidemi HIV dengan membuat peraturan daerah (Perda) untuk
menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di daerahnya. Apakah perda-perda itu
berhasil?

Sampai sekarang di Indonesia sudah ada 22 daerah yang membuat perda mulai dari
tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Papua memegang rekor karena di sana ada
tujuh perda. Bahkan perda peratma ditelurkan di Papua (Nabire). Di Bali ada tiga.
Belasan daerah lain di seluruh nusantara sedang berlomba-lomba membuat perda.
Tapi, perda-perda itu hanya ’copy paste’.

Ide membuat perda itu adalah program ’100 persen kondom’ di Thailand yang
disebut-sebut berhasil menekan laju penyebaran HIV. Celakanya, program itu bisa
diterapkan karena di Thailand karena ada lokalisasi pelacuran dan rumah bordir.
Sedangkan di Indonesia semua lokalisasi sudah ditutup. Bahkan, beberapa daerah
membuat perda anti pelacuran, anti minuman keras, dan anti maksiat dengan
penegakan hukum yang ketat, seperti razia terhadap pasangan-pasangan di losmen dan
hotel melati. Selain itu terjadi pula penolakan besar-besaran terhadap promosi
kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seks.

Penerapan ’program 100 persen kondom’ di Indonesia tidak efektif karena hanya
meniru sebagai pengekor kebehasilan Thailand tanpa melihat program seccara utuh.
’Program 100 persen kondom’ itu merupakan ekor dari serangkaian program
penanggulangan HIV/AIDS di Thailand.

Keberhasilan Thailand dalam menurunkan laju infeksi HIV baru di kalangan dewasa
berkat pemahaman masyarakat yang disiarkan media massa. Media massa tanpa berita
kesehatan tetap bisa jalan. Tapi, kesehatan tidak bisa jalan kalau tidak dipublikasikan
(melalui media massa). Ini yang luput dari perhatian banyak kalangan yang terlibat
dengan program penanggulangan HIV/AIDS.

Kesenjangan Informasi

Dari serangkaian program penanggulangan yang dijalankan Thailand media massa


menjadi urutan pertama yang dimanfaatkan. Program utuh yang dijalakan Thailand
dalam menanggulangi HIV/AIDS adalah peningkatan peran media massa sebagai
media pembelajaran masyarakat, pendidikan sebaya (peer educator), pendidikan
HIV/AIDS di sekolah, pendidikan HIV/AIDS di tempat kerja di sektor pemerintah
dan swasta, pemberian keterampilan, promosi kondom, dan program kondom 100
persen di lingkungan industri seks.

Peningkatan peran media massa merupakan sumber pembelajaran bagi masyarakat.


Tanpa berita kesehatan media massa jalan terus, tapi kesehatan, terutama kesehatan

1
masyarakat, tanpa publikasi (media massa) tidak akan jalan. Persoalan yang sangat
mendasar di Indonesia adalah materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
tentang HIV/AIDS yang disebarluaskan tidak akurat karena selalu dibalut dengan
norma, moral, dan agama. Akibatnya, banyak orang yang tidak memahami HIV/AIDS
sebagai fakta medis, tapi memahami HIV/AIDS sebagai mitos.

Kesenjangan informasi HIV/AIDS pun kian lebar karena media massa nasional
sendiri sering pula membalut berita HIV/AIDS dengan norma, moral, dan agama. Ini
pun mendorong masyarakat melihat HIV/AIDS terkait dengan moral sehingga muncul
stigmatisasi dan diskriminasi terhadap Odha.

Karena program pendidikan masyarakat melalui media massa tidak dijalankan dengan
konsisten maka muncullah penolakan terhadap beberapa program yang terkait dengan
kesehatan reproduksi, gender, dan HIV/AIDS. Seorang menteri pernah ’diusir’
anggota DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) ketika berbicara tentang gender. Maka,
tidak mengherankan kalau kemudian Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi NAD,
misalnya, dengan tegas mengatakan tidak memasukkan penggunaan kondom dalam
program penanggulangan HIV/AIDS.

Hal itu semua terjadi karena masyarakat tidak memahami akar persoalan HIV/AIDS
dengan jernih karena informasi yang mereka terima tidak komprehensif. Untuk itulah
perlu ada upaya untuk meningkatkan kepedulian media massa terhadap
pemasyarakatan HIV/AIDS secara terus-menerus. Pelatihan untuk penulisan berita
HIV/AIDS sangat terbatas. Banyak donor yang enggan mendukung pelatihan
semacam ini. Begitu pula dengan lomba karya tulis AIDS sangat jarang ada donor dan
perusahaan yang mendukungnya.

Pelatihan untuk penulisan berita HIV/AIDS yang komprehensif saat ini hanya
dijalankan oleh HCPI (HIV Cooperation Program for Indonesia)- (Dana Kemitraan
Australia-Indonesia)/AusAID melalui media relations officer (MRO) di KPA DKI
Jakarta, Jawa Barat, Papua dan Papua Barat. Pelatihan lain dijalankan oleh Medan
Aceh Partnership (MAP) di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Dari dua puluh lebih perusahaan dan institusi yang diminta sebagai sponsor lomba
tulis AIDS bagi wartawan dengan hadiah meliput kongres AIDS di Bali bulan
Agustus nanti tidak ada satu pun yang berminat. Lomba tulis hanya dijalankan oleh
HCPI-AusAID yang. Itu pun terbatas bagi wartawan media cetak harian di daerah
kerja HCPI yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, dan Papua Barat.

Berita seputar HIV/AIDS yang konsisten di media massa diharapkan dapat


mendorong masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan HIV.
Ini menjadi penting karena program-program penanggulangan HIV/AIDS hanya
dilakukan di hilir. Penanganan dan pendampingan Odha, pemberian obat
antiretroviral, penjangkuan terhadap pekerja seks dan pengguna narkoba, dll. Program
itu bisa jalan karena ada bantuan asing berupa donor. Selama ini lebih dari 70 persen
dana penanggulangan HIV/AIDS berasal dari donor.

Dibalut Moral

2
Tapi, ada yang dilupakan yaitu pada saat yang sama ketika dana dipakai di hilir
jumlah infeksi baru (di hulu) terus meningkat yang akhirnya juga akan bermuara ke
program di hilir. Ini akan membenani program di hilir. Jika donor tidak ada maka
program di hilir akan kelabakan karena hanya mengandalkan dana dari pemerintah
melalui APBN dan APBD.

Penanganan di hulu terabaikan. Penyebarluasan informasi melalui media massa sangat


rendah. HIV/AIDS baru jadi berita kalau ada kasus. Berita pun lebih banyak yang
mengedepankan sensasi. Akibatnya, pemahman masyarakat terhadap HIV/AIDS
sangat rendah.

Karena penyebaran informasi HIV/AIDS yang sangat rendah itulah maka tidak
mengherankan kalau belakangan ini muncul penolakan yang keras terhadap
pemasyarakatan kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui
hubungan seks. Hal yang sama juga terjadi pada program harm reduction. Sebuah
majalah berita menyebut harm reduction dengan rumatan metadon sebagai ’melawan
setan dengan setan’.

Dari 18 Perda yang sudah ada satu pasal pun tidak ada yang menawarkan cara akurat
sebagai pencegahan HIV. Semua pencegahan dibalut dengan norma, moral, dan
agama. Perda AIDS Provinsi Riau dan Kab. Tasikmalaya, umpanya, menyebutkan
HIV/AIDS dapat dicegah dengan iman dan taqwa. Pertanyaannya adalah: (a)
bagaiman iman dan taqwa mencegah penularan HIV, (b) apa alat ukur iman dan
taqwa, dan (c) bagaimana menetapkan ukuran iman dan taqwa yang bisa mencegah
HIV.

Lagi pula hal itu akan menyuburkan stigma dan diskriminasi terhadap Odha karena
ada kesan orang-orang yang tertular HIV karena tidak beriman dan tidak bertaqwa.

Kalau saja Perda-perda itu mengacu ke fakta tentang penularan HIV, maka yang perlu
diatur untuk memutus mata rantai penyebaran HIV adalah perilaku orang per orang.
Dalam Perda ada pasal yang menyebutkan: ”Setiap orang diwajibkan memakai
kondom ketika melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah di mana saja
dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-
ganti pasangan, seperti PSK.”

Selanjutnya dibuat pula pasal yang berbunyi ” Setiap orang yang pernah atau sering
melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan
yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan,
seperti PSK, di mana saja diwajibkan menjalani tes HIV.”

Kian banyak penduduk yang terdeteksi HIV-positif makin banyak pula mata rantai
penyebaran HIV yang dapat diputus sehingga kasus infeksi baru bisa ditekan. Tapi,
karena semua dibalut dengan norma, moral, dan agama maka penanggulangan yang
ditawarkan di perda-perda pun tidak menyentuh akar persoalan penyebaran HIV.

* Penulis pemerhati masalah HIV/AIDS melalui LSM (media watch) ”InfoKespro”


Jakarta (E-mail: infokespro@yahoo.com).