Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hubungan Indonesia dan Malaysia kembali memanas beberapa waktu lalu.

Pemicunya dikarenakan Malaysia yang menggunakan kebudayaan Indonesia

dalam iklan pariwisatanya. Berbicara mengenai konflik Indonesia-Malaysia,

sudah terjadi sejak Malaysia baru berdiri. Dapat dikatakan, Malaysia berdiri atas

kuasa Inggris yang menjadi penjajahnya. Yang dapat dikatakan Malalaysia di

Semenanjung Malaya berdiri atas kuasa Inggris. Dan Indonesia tidak

mempersalahkan berdirinya Malaysia saat itu. Namun ternyata Inggris

mempunyai rencana lain tentang Negara Malaysia. Dimana Inggris hendak

menggabungkan Kalimantan bagian Utara dengan wilayah Semenanjung Malaya

dalam satu negara Malaysia. Saat itu Soekarno selaku Presiden Indonesia sangat

marah. Karena keberadaan negara boneka Inggris akan menjadi ancaman bagi

kedaulatan Indonesia. Soekarno tidak sembarang beralasan, karena fakta

membuktikan demikian. Saat sekutu datang ke Indonesia, dimana saat itu

Indonesia telah merdeka dan dengan dalih melucuti Jepang, ternyata diboncengi

Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dan kalau sampai Federasi

Malaysia dan Kalimantan Utara bergabung, tentu kontrol Inggris di wilayah Asia

Tenggara menjadi semakin kuat.


2

1.2 Identifikasi Masalah

Sejalan dengan berkembangnya budaya-budaya di Negara Indonesia, terutama

kebudayaan yang cukup diminati oleh Negara lain adalah budaya masalah

bertambah banyak dan semakin rumit, maka ditemukan beberapa masalah yang

akan timbul, antara lain :

1. Pengakuan budaya batik oleh Negara lain.

2. Kelangsungan batik di Negara Indonesia yaitu sampai kapan batik dapat

dipertahankan dengan keadaan seperti sekarang.

3. Hal-hal apa saja yang dapat mendukung bahwa batik adalah budaya asli

Indonesia.

4. Klaim Negara Malaysia atas Batik Indonesia.

Berdasarkan masalah-masalah di atas, maka akan dianalisa permasalahan yang

ada dana kemudian melakukan pencarian-pencarian solusi dan memberikan saran-

saran sebagai jalan keluarnya.

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penulisan karya tulis ini adalah :

1. Ditujukan untuk memenuhi salah satu syarat nilai tugas mata kuliah

Bahasa Indonesia program pendidikan sarjana (S-1) Hukum di Sekolah

Tinggi Hukum Bandung.

2. Menerapkan teori yang sudah diperoleh selama menempuh mata kuliah

Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Hukum Bandung.


3

Sedangkan tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah :

1. Mengenalkan batik sebagai kebudayaan Indonesia.

2. Memberi penjelasan dan pembuktian bahwa budaya batik adalah

kebudayaan Bangsa Indonesia.

1.4 Pembatasan Masalah

Dalam penyusunan karya tulis ini akan dibatasi ruang lingkup pembatasan

masalah pada :

1. Kebudayaan Indonesia yang dibahas yaitu batik secara keseluruhan.

2. Pembahasan dimulai dari sejarah budaya batik, klaim Malaysia atas

budaya batik dan pengakuan budaya batik sebagai milik Indonesia oleh

UNESCO.

Alasan dibatasinya ruang lingkup pembatasan masalah, yaitu agar dapat lebih

terarah dan tidak menyimpang dari tujuan penulisan karya tulis. Selain itu karena

keterbatasan waktu yang diberikan untuk menyusun karya tulis ini.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan karya tulis ini disusun dalam beberapa bab, dimana

masing-masing bab menguraikan beberapa pokok bahasan. Adapun sistematika

penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut :


4

BAB I Pendahuluan

Berisi tentang penjelasan latar belakang, identifikasi masalah, maksud

dan tujuan pembatasan masalah, dan sistematika penulisan yang sering

dipakai.

BABII Landasan Teori

Klaim Malaysia atas budaya Indonesia untuk mencari identitas.

BAB IV Analisis Masalah

Berisi penjelasan mengenai masalah yang dibahas

BAB IV Kesimpulan & Saran

Berisi kesimpulan dari keseluruhan hasil karya tulis yang dibahas beserta

saran-saran pengembangan yang berguna.


5

BAB II

LANDASAN TEORI

Malaysia adalah salah satu Negara yang menjadi tetangga dari negara kita

yaitu Indonesia. Klaim Pemerintah Malaysia terhadap budaya Indonesia sangat

meresahkan masyarakat Indonesia, dikarenakan klaim tersebut merambah banyak

khasanah budaya. Kain batik merupakan salah satu khasanah budaya Indonesia

yang pertama kali diklaim oleh Malaysia. Tiba-tiba Malaysia memperkenalkan

kain batik sebagai barang buatan asli Malaysia ke manacanegara di awal tahun

2000.

Para pengrajin batik di Indonesia, sempat mengeluhkan tindakan Pemerintah

Malaysia yang akan mematenkan batik sebagai barang buatan mereka. Tidak

berhenti sampai di situ, banyak lagi budaya Indonesia yang di klaim oleh

Malaysia seperti lagu Rasa Sayange, Tari Reog Ponorogo, Lagu Jali-Jali,

makanan Rendang yang berasal dari Padang, dan yang baru Bahasa Indonesia.

Aksi protes atas klaim dari Malaysia ini sudah dilakukan oleh masyarakat

Indonesia. Mereka juga menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia kurang tegas

dalam menyikapi klaim dari Malaysia. Namun, Malaysia justru menuduh media-

media Indonesia selalu membesarkan berita-berita ini, sehingga memunculkan

konflik. Saat ini Pemerintah Indonesia masih melakukan penelitian atas khasanah

budaya Indonesia.

Menteri kebudayaan dan pariwisata Bapak Jero Wacik menyatakan,

Pemerintah Indonesia dan Malaysia sudah melakukan kesepakatan untuk


6

menentukan batas area kepemilikan. Kebudayaan ini boleh digunakan oleh

Malaysia, namun tetap merupakan milik Indonesia. Pihaknya berjanji dalam

waktu dekat akan menyebarluaskan hasil penelitian dan kesepakatan ini ke

masyarakat.
7

BAB III

ANALISIS MASALAH

3.1 Klaim Malaysia atas Budaya Indonesia

Batik Indonesia sebenarnya sudah dikenal bangsa lain sejak zaman Kerajaan

Jenggala, Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan utamanya didatangkan

dari China. Penyebabnya, kain sebagai bahan dasar membatik sulit diperoleh di

Indonesia. Untuk itu, batik memang harus diklaim Indonesia dan bukan negara

lain yang mengaku-aku.

Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri,

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Arifin T. Hariadi, merasa

bangga karena batik sebagai warisan nenek moyang Indonesia bisa memperoleh

pengakuan internasional.

“Kerajinan Batik Indonesia sudah sepantasnya diangkat menjadi warisan

budaya dunia. Untuk itu, Bangsa Indonesia tidak perlu khawatir jika negara lain

mengakui batik menjadi miliknya,” katanya.

Menurut dia, klaim yang dilakukan Malaysia dengan alasan memproduksi

batik, tentu perlu dilihat bahwa produk itu bukan batik sebenarnya alias “printing”

(kain bermotif batik produksi pabrik).

Kita juga patut bersyukur karena konsep batik kita sulit ditiru karena memiliki

ciri khas tertentu, karena itu dengan adanya pengakuan dunia melalui UNESCO,

maka kita sebagai warga negara, harus lebih mencintai produk batik dalam negeri.
8

Pengakuan UNESCO terhadap budaya batik itu merupakan proses panjang

yang melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009

telah dilakukan sidang tertutup dalam penentuan dihadapan enam negara di Paris.

Dan pada tanggal 2 Oktober di Abu Dhabi, merupakan sidang terbuka sebagai

acara pengukuhan.

Dalam keterangan pers Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,

menyebutkan bahwa hari kedua dari sidang UNESCO “Intergovernmental

Committee for Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage” di Abu Dhabi,

antara lain membahas evaluasi nominasi inskripsi pada Daftar Representatif

mengenai Budaya bukan benda Warisan Manusia. Dalam sidang tersebut, Batik

Indonesia disebutkan dalam Rancangan Keputusan 13.44 yang diharapkan dapat

disahkan pada 2 Oktober 2009 malam.


9

BAB IV

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Maka kita sebagai Warga Negara Indonesia tidak perlu khawatir lagi tentang

budaya batik kita, karena budaya batik kita memiliki ciri khas yang tidak dimiliki

bangsa lain, yaitu batik yang diproduksi menggunakan tangan. Dan telah

mendapatkan pengakuan dari dunia melalui UNESCO pada tanggal 2 Oktober

2009 malam. Disebutkan, “Budaya batik adalah Warisan Budaya Tak Benda

(Intangible Cultural Heritage).

4.2 Saran

Untuk itu budaya batik perlu kita patentkan dan juga dilestarikan dengan cara

mencintai produk dalam negeri. Minimal kita sebagai Warga Negara Indonesia

berkenan memakai batik satu kali dalam sepekan. Dengan demikian kita akan

mencintai dan memasyarakatkan batik dengan baik, yang pada akhirnya dapat

meningkatkan angka penjualan perajin batik, baik industri kecil menengah (IKM)

dan Usaha Kecil Menengah (UKM).


10

DAFTAR PUSTAKA

Metrotvnews.com.

Kompas.com.

Detik.com.

ANTARA News.