Anda di halaman 1dari 8

KEPUTUSAN

MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI


Nomor : 34/KP/II/80

TENTANG
PERIZINAN KEGIATAN USAHA SEWA BELI (HIRE PURCHASE)
JUAL BELI DENGAN ANGSURAN, DAN SEWA (RENTNG)

MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERSAI

Menimbang : a. bahwa berbagai variasi system pemasaran barang telah tumbuh dalam
dunia usaha Indonesia sebagai akibat dari perkembangan kehidupan
perekonomian pada umumnya dan industri pada khususnya;

b. bahwa variasi system pemasaran dengan cara sewa beli (hire purchase)
jual beli dengan angsuran, dan sewa (rentng), perlu dibina dan
diarahkan;

c. bahwa untuk pembinaan dan pengarahan tersebut, dipandang perlu


untuk menetapkan peraturan tentang perizinan kegiatan usaha sewa beli
(hire purchase) jual beli dengan angsuran, dan sewa (rentng);

Mengingat : 1. Bedrijfsreglementeerings Ordonnantie 1934 (Stbl. 1938 No.86);

2. Undang-undang No.6 Tahun 1968


(LN 1968 No.33) jo. Undang-undang No.12 Tahun 1970 (LN 1970
No.47) Tentang Penanaman Modal Dalam Negeri;

3. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1957


(LN 1957 No.7) jo. No.53 Tahun 1957
(LN 1957 No.150) Tentang Penyaluran Perusahaan;

4. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1977


(LN 1977 No.60) Tentang Pengakhiran Kegiatan Usaha Asing Dalam
Bidang Perdagangan;

5. Keputusan Presiden R.I. No.44 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok


Organisasi Departemen;

6. Keputusan Presiden R.I. No.45 Tahun 1974 Tentang Susunan


Organisasi Departemen sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Presiden R.I. No. 47 tahun 1979;

7. Keputusan Presiden R.I. No.59/M Tahun 1978 Tentang Pembekuan


Kabinet Pembangunan III;
8. Keputusan Bersama Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan
No. 2077/M-Perind. tanggal 3 September 1957
2430/M-Perdag.
Tentang Ketentuan-ketentuan Kewenangan Pemberian Izin Bidang
Perindustrian dan Bidang Perdagangan serta Wajib Bayar Biaya
Administrasi;

9. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perdagangan


No. 56 Tahun 1971. tanggal 19 Mei 1971
103/A/Kp/V/71.
Tentang Ketentuan-ketentuan Kewenangan Dalam Memberikan Izin
Tempat Usaha dan Izin Usaha Perdagangan sebagaimana telah diubah
dan ditambah dengan Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 92 Tahun 1979. tanggal 23
Mei 1979; 409/KPB/V/1979.

10. Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan


Menteri Perdagangan No. Kep. 122/MK/2/1974
32/M/SK/2/74.
30/Kpb/I/1974
tanggal 7 Pebruari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing;

11. Keputusan Menteri Perdagangan No.101/M Tahun 1959 tanggal


8 Januari 1959 tentang Pendaftaran Perusahaan Dagang Nasional dan
Wajib Bayar Uang Jaminan dan Biaya Adminitrasi;

12. Keputusan Menteri Perdagangan No.03/Kp/I/74 tanggal 8 Januari


1974 tentang Penetapan Kembali Golongan Usaha Perdagangan dan
Perubahan Tarif Uang Jaminan dan Biaya Administrasi Perusahaan
Perdagangan/Jasa;

13. Keputusan Menteri Perdagangan No.110/Kp/V/75 tanggal 29 Mei


1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Perdagangan;

14. Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No.428/Kp/VI/79


tanggal 11 Juni 1979 tentang Ketentuan Perizinan di Bidang Usaha
Perdagangan;

15. Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No.721/Kp/XII/79


tanggal 31 Desember 1979 tentang Tata Cara Untuk Mendapatkan
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

16. Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No.04/Kp/I/1980


tanggal 7 Januari 1980 tentang Ketentuan Golongan Usaha, Uang
Jaminan dan Biaya Administrasi Perusahaan.;
Memperhatikan : Surat-surat Menteri Keuangan No. S.90/MK.011/1979 tanggal
2 Januari 1979 dan No. 390/MK.011/1979 tanggal 19 Mei 1979.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI


TENTANG PERIZINAN KEGIATAN USAHA SEWA BELI
(HIRE PURCHASE), JUAL BELI DENGAN ANGSURAN
DAN SEWA (RENTING).

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Yang dimaksud dalam Keputusan ini dengan :

a. Sewa beli (Hire Purchase) adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan
barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli
dengan pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam
suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada
pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual;

b. Jual beli dengan angsuran adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan
barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam
beberapa kali angsuran atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat
dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada
pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli;

c. Sewa (renting) adalah kegiatan dagang di bidang sewa menyewa atas barang, dimana hak
milik atas barang yang disewakan tetap berada pada pemilik barang;

d. Izin Usaha adalah izin yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan dan Koperasi
kepada perusahaan untuk melakukan salah satu kegiatan usaha, yaitu sewa beli (hire
purchase) atau jual beli dengan angsuran, atau sewa (renting).

e. Menteri adalah Menteri Perdagangan dan Koperasi.

Pasal 2

(1) Barang-barang yang boleh disewa belikan (hire purchase), dan dijual belikan dengan
angsuran adalah semua barang niaga tahan lama yang baru dan tidak mengalami
perubahan teknis, baik berasal dari hasil produksi sendiri ataupun hasil
produksi/perakitan (assembling) lainnya di dalam negeri, kecuali apabila produksi
dalam negeri belum memungkinkan untuk itu;
(2) Barang-barang yang boleh disewakan (renting) adalah semua barang niaga tahan lama
dan yang tidak mengalami perubahan teknis, baik yang berasal dari hasil produksi
sendiri ataupun hasil produksi/perakitan (assembling) lainnya di dalam negeri, kecuali
apabila produksi dalam negeri belum memungkinkan untuk itu;

(3) Pengecualian hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Menteri atau Pejabat yang
ditunjuk olehnya.

BAB II
PERUSAHAAN SEWA BELI (HIRE PURCHASE), JUAL BELI DENGAN
ANGSURAN, DAN SEWA (RENTING)

Pasal 3

(1) Kegiatan usaha sewa beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran, dan sewa (renting),
hanya dapat dilakukan oleh perusahaan perdagangan nasional;

(2) Untuk melakukan kegiatan usaha sewa beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran,
dan sewa (renting), perusahaan yang dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) di atas wajib
memiliki izin usaha, dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya.

BAB III
SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH IZIN USAHA

Pasal 4

(1) Untuk dapat memiliki izin usaha, perusahaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat
(1) wajib mengajukan permohonan izin usaha sesuai dengan ketentuan dalam BAB IV
serta wajib memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam ayat (2) pasal ini.

(2) Persyaratan sebgaimana dimaksud dalam ketentuan ayat (1) tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Permohonan izin harus memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan;
b. Permohonan harus menentukan salah satu kegiatan usaha sewa beli (hire purchase),
atau jual beli dengan angsuran, atau sewa (renting) sebagai kegiatan usahanya;
c. Perusahaan berbentuk badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia;
d. Modal perusahaan saham perusahaan seluruhnya dimiliki WNI;
e. Direksi/Penanggungjawab perusahaan dan seluruh pengurus perusahaan adalah
WNI;
f. Modal yang disetor sedikitnya berjumlah Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah);
g. Mempunyai kantor tetap di Indonesia yang beralamat jelas;
h. Perusahaan mempekerjakan sedikitnya seorang tenaga ahli di bidang usahanya;
i. Tidak mempekerjakan tenaga kerja atau tenaga ahli warga negara asing, kecuali atas
rekomendasi Menteri atau Pejabat yang ditunjuk olehnya;
j. Mempunyai rencana kerja sedikitnya untuk jangka waktu selama 5 (lima) tahun;
k. Dalam hal diperlukan adanya asuransi, maka penutupannya harus dilakukan pada
perusahaan asuransi nasional yang berkedudukan di Indonesia.

BAB IV
PROSEDUR PENGAJUAN IZIN USAHA

Pasal 5

(1) Permohonan untuk memperoleh izin usaha diajukan kepada Direktorat Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri melalui Kantor Wilayah Perdagangan di tempat kedudukan
Kantor tetap perusahaan dengan mengisi surat permohonan yang contohnya terlampir
pada Keputusan ini;

(2) Permohonan dilengkapi dengan :


a. Akta Notaris tentang pendirian perusahaan;
b. Bagan organisasi, serta nama pimpinan dan tenaga-tenaga teknis, masing-masing
disertai riwayat hidup;
c. Referensi Bank;
d. Bagi perusahaan yang telah melakukan kegiatan usaha dilengkapi pula dengan :
1. Neraca perusahaan tahun terakhir yang disusun oleh Akuntan Publik yang
terdaftar;
2. Surat keterangan pajak yang menyatakan pelunasan pajak negara yang
terhutang.

Pasal 6

(1) Kantor Wilayah Perdagangan setempat yang menerima pengajuan permohonan tersebut
dalam pasal 5 ayat (1) meneliti kelengkapan berkas permohonan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 5 ayat (2), dan selanjutnya meneruskannya kepada Direktur Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri;

(2) Dalam hal permohonan telah memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan, maka
Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya memberi Surat Izin Usaha.
BAB V
IZIN USAHA DAN MASA BERLAKUNYA

Pasal 7

(1) Menteri untuk keperluan pemberian Surat Izin Usaha melimpahkan wewenangnya
kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri;

(2) Surat izin Usaha memuat hal-hal sebagai berikut :


a. Nama perusahaan;
b. Alamat perusahaan;
c. Nama pimpinan perusahaan;
d. Kegiatan bidang usaha;
e. Batas waktu berlakunya izin usaha;
f. Kewajiban-kewajiban perusahaan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang
berlaku.

(3) Izin usaha diberikan hanya untuk salah satu kegiatan usaha, yaitu sewa beli (hire
purchase), atau jual beli dengan angsuran, atau sewa (renting);

(4) Izin usaha diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun setelah tanggal dikeluarkannya,
dan dapat diperpanjang lagi setelah berakhirnya jangka waktu itu.

BAB VI
KEWAJIBAN PERUSAHAAN

Pasal 8

Perusahaan sewa beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran, atau sewa (renting) yang
telah diberikan izin usaha berkewajiban :
1. Menyampaikan laporan tahunan tentang realisasi kegiatan usahanya kepada Direktur
Jenderal Perdagangan Dalam Negeri dengan tembusan kepada Kantor Wilayah
Perdagangan setempat;
2. Melaporkan kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri dengan tembusan
kepada Kantor Wilayah Perdagangan, yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan
Kantor Cabang, tentang pembukaan setiap Kantor Cabangnya;
3. Melaksanakan segala peraturan yang telah maupun yang akan ditetapkan oleh
Departemen Perdagangan dan Koperasi di bidang kegiatan usaha sewa beli (hire
purchase) jual beli dengan angsuran, dan sewa (renting).
BAB VII
SANKSI-SANKSI

Pasal 9

(1) Izin usaha dapat dicabut oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya apabila
ternyata hahwa perusahaan yang telah diberi izin usaha tidak memenuhi kewajiban
seperti yang tercantum dalam pasal 8 Keputusan ini, setelah diberikan peringatan kepada
perusahaaqn yang bersangkutan sebanyak 3 (tiga) kali;

(2) Atas pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Keputusan ini dapat dikenakan
sanksi pencabutan izin usaha dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan
perundang-undanganyang berlaku.

BAB VIII
PERATURAN - PERALIHAN

Pasal 10

Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) yang pada waktu ditetapkannya
keputusan ini telah menja!ankan kegiatan usaha sewa beli (hire purchase), atau jual beli
dengan angsuran, atau sewa (renting) wajib mengajukan permohonan untuk memperoleh
izin usaha berdasarkan ketentuan-ketentuan pada Keputusun ini dalam waktu
selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah ditetapkannya Keputusan ini.

BAB IX
PENUTUP

Pasal 11

Ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan,


Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan
kep. 122/MK/2/1974
No. 32/M/SK/2/74
30/Kpb./l/74

tentang perizinan usaha Leasing dikecualikan dari Keputusan perizinan dalam Keputusan ini.

Pasal 12

Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusin ini ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri.
Pasal 13

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan

Ditetapkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 1 Pebruari 1980

MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI

RADIUS PRAWIRO

Tembusan Surat Keputusan ini disampaikan kepada :


1. Bapak Presiden R.I (sebagai laporan);
2. Sdr. Menteri Koordinator EKUIN/Ketua BAPPENAS;
3. Sdr. Para Menteri Kabinet Pembangunan III;
4. Sdr. Menteri/Sekretaris Negara;
5. Sdr. Gubernur Bank Indonesia;
6. Sdr. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal;
7. Sdr. Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, dan para Direktur Jenderal di lingkungan Depdagkop;
8. Sdr. Kepala Balitbang dan Kepala BPEN Depdagkop;
9. Sdr. Kepala Biro, Inspektur, Direktur, Kepala Pusat, Direktur Lembaga dan para Sekretaris Direktorat
Jenderal/Inspektorat Jenderal di lingkungan Depdagkop;
10. Sdr. Kepala Kantor Wilayah Perdagangan seluruh Indonesia;
11. Sdr. Kepala Kantor Koperasi seluruh Indonesia;