Anda di halaman 1dari 2

Sinetron, baikkah untuk ditonton?

Pernah dengar atau mungkin pernah menonton bahkan menjadi seorang pecandu

sinetron? Sinetron atau sinema elektronik yang pada awalnya digagas oleh anwar

fuadi dan kawan-kawan saat ini telah menjadi sebuah entitas tanda bagi tontonan

masyarakat Indonesia. Dengan niatan awal untuk menjadi hiburan bagi masyarakat

Indonesia yang pada awalnya kurang merespon positif kehadiran bioskop sebagai

tempat menonton film.

Sinetron sebagai sebuah hiburan bagi masyarakat Indonesia ini kemudian

berkembang menjadi sebuah konsumsi harian bagi masyarakat Indonesia. Menurut

Sigmund freud, sesuatu yang kehadirannya terus diulang-ulang akan masuk kealam

bawah sadar kita dan menjadi sesuatu yang mempengaruhi gerak alam sadar kita.

Mentalitas kita menjadi mentalitas sinetron. Hal ini tidak salah jika kualitas sinetron

yang menjadi konsumsi harian kita tersebut memiliki kualitas yang baik sehingga

mentalitas kita pun akan semakin baik.

Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika konten atau isi dari sinetron

tersebut malah mengajarkan kita untuk menjadi semakin buruk dalam hal moralitas

kita dan perilaku kita. Bisa kita lihat dari konten atau muatan dari sinetron itu

sendiri dimana kejahatan dan kekerasan menjadi konten utama dalam hamper

setiap adegannya. Dimulai dari kekerasan fisik sampai pada kekerasan simbolik.

Belum lagi pengajaran tentang moral negative yang hadir dalam setiap episodenya.

Bagi sebagian orang akan berkata bahwa hal itu menjadi pelajaran dengan

metodologi negative bagi kita. Masalahnya kemudian adalah bahwa otak kita tidak

mengenal respon negative. Misalnya saja perintah jangan, tidak, tidak boleh, dan

perintah negative lainnya. Karena secara hakiki perintah negative tersebut adalah
ketiadaan. Jika saya perintahkan untuk jangan memikirkan rokok, maka secara

otomatis, otak kita merespon pikiran kita dengan memikirkan rokok pada awalnya

lalu kemudian dialihkan pada yang lain. Secara nyata terlihat bahwa perintah

negative tidak bisa mempengaruhi pikiran kita. Tetapi justru mengarahkan pikiran

kita kearah itu.

Contoh nyata dalam sinetron yang kita tonton, ada sinetron dimana tokoh

protagonisnya mengalami kondisi hamil diluar nikah. Maka akal kita akan merespon

dua hal. Pertama sebagai tokoh protagonist kita akan mengetahui bahwa dia adalah

sosok yang baik. Kedua dia hamil diluar nikah. Maka dialam bawah sadar kita akan

tersimpan pengetahuan bahwa hamil diluar nikah itu baik. Karena hamil diluar nikah

itu melekat pada tokoh protagonisnya. Selain itu tokoh antagonis yang setiap hari

melakukan kejahatan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya akan menjadi

pengetahuan bawah sadar kita bahwa hal tersebut lumrah untuk dilakukan karena

setiap hari kita disuguhi pengetahuan yang seperti itu. Maka hasilnya, dalam

kehidupan keseharian kita, secara tidak sadar pengetahuan itulah yang menjadi

salah satu factor penggerak dalam perilaku kita.

Meningkatnya tingkat kejahatan dinegara kita, bisa jadi salah satu penyebabnya

adalah sinetron yang kita tonton. Yang setiap harinya menyuguhi kita dengan

tontonan yang mengarahkan pikiran kita secara tidak sadar menuju kearah

kejatuhan moral bangsa. Oleh karena itu sudah saatnya kita menuntut tontonan

yang berkualitas dan meningkatkan moral bangsa. Tentunya kita masih ingat dulu

pernah kita menyaksikan tontonan serupa keluarga cemara sebagai salah satu

contoh tontonan yang berkualitas. Saat ini adalah saat dimana kita harus menuntut

agar tontonan kita lebih berkualitas lagi.