P. 1
Revisi RENSTRA 2008

Revisi RENSTRA 2008

|Views: 1,328|Likes:
Dipublikasikan oleh Eka Budisatria

More info:

Published by: Eka Budisatria on May 26, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2015

pdf

text

original

RENSTRA

(Rencana Strategik Bidang Kesehatan)

DINAS KESEHATAN KOTA BUKITTINGGI 2006 - 2010

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang Pembangunan kesehatan di Kota Bukittinggi telah dilaksanakan secara berkesinambungan baik oleh pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota maupun oleh masyarakat termasuk swasta. Pembangunan kesehatan tersebut sejauh ini telah cukup berhasil meningkatkan derajat kesehatan. Hal ini dibuktikan dimana Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bukittinggi pada tahun 2002 mencapai ranking 13 secara nasional. Namun demikian ada beberepa permasalahan kesehatan yang mesti diwaspadai seperti masalah kesehatan lingkungan / penanggulangan dampak sampah, gizi kurang pada balita serta kecenderungan semakin meningkatnya penyakit menular & tidak menular. Berhasil atau tidaknya pembangunan kesehatan yang dilaksanakan di Kota Bukittinggi sangat ditentukan oleh perencanaan strategis yang disusun oleh SKPD Dinas Kesehatan. Undang-Undang (SKPD) menyusun No 25 Tahun Strategis 2004 yang tentang Sistem Perencanaan Rencana RENSTRA Pembangunan Nasional mewajibkan setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah Rencana mengacu kepada serta Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) kota/kabupaten

Departemen Kesehatan. Dengan telah disusunnya RPJM Kota Bukittinggi 20062010 dan RENSTRA Departemen Kesehatan 2005-2009, maka selanjutnya SKPD Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi menyusun RENSTRA 2006-2010 yang nantinya dipergunakan sebagai dasar dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran. 1.2 Maksud dan tujuan RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan 2006-2010 adalah dokumen resmi perencanaan pembangunan kesehatan Kota Bukittinggi untuk periode 5 tahun yang bertujuan untuk memberikan arah dan pedoman terhadap semua kegiatan pembangunan kesehatan dalam wilayah Kota Bukittinggi baik yang dilakukan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan Khusus bagi pemerintah RENSTRA SKPD
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

ini merupakan tolak ukur untuk

melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Dinas yang merupakan salah satu sektor dari pemerintah daerah. 1.3. Landasan hukum Landasan Idil RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi adalah Pancasila dan UUD 45, sedangkan landasan operasionalnya meliputi seluruh ketentuan perundang undangan yang berkaitan langsung dengan pembangunan daerah. Ketentuan perundang undangan tersebut adalah : 1. Ketetapan MPR RI Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan 2. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah 5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah 6. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ tanggal 11 Agustus 2005 tentang petunjuk penyusunan dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah 7. Peraturan Daerah Kota Bukittinggi Nomor 01 Tahun 2001 tentang Susunan Organisasi dan Perangkat Daerah Kota Bukittinggi 8. Peraturan Walikota Bukittinggi Nomor 19 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bukittinggi 2006-2010 1.4 Hubungan RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi

dengan dokumen perencanaan lainnya. Penyusunan RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan mengacu kepada RPJM dan RPJP Kota Bukittinggi serta berpedoman kepada RENSTRA Depkes RI 2005-2010. RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi selanjutnya dijadikan sebagai pedoman dalam penyusunan rencana tahunan/Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPJ) Dinas Kesehatan yang nantinya menjadi dasar utama penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bukittinggi di sektor kesehatan.

1.5. Sistematika penulisan RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010 disusun dengan mempedomani Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

tanggal

11 Agustus 2005

tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP

danRPJM Daerah. Sistematika penulisan RENSTRA SKPD Dinas Kesehatan ini adalah sebagai berikut ; Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1.2 Maksud dan tujuan 1.3 Landasan hokum 1.4 Hubungan Renstra SKPD dengan dokumen perencanaan lain 1.5 Sistematika penulisan TUGAS 2.1 2.2 2.3 2.4 DAN FUNGSI Struktur organisasi Susunan kepegawaian dan perlengkapan Tugas dan fungsi Hal lain yang dianggap penting

Bab II

Bab III

GAMBARAN UMUM KONDISI CAKUPAN WILAYAH KERJA 4.1 Kondisi umum cakupan kerja saat ini 4.2 Kondisi yang diinginkan VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI dan KEBIJAKAN 3.1 Visi dan misi 3.2 Tujuan 3.3 Strategi 3.4 Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN 6.1 Program dan kegiatan 6.2 Program dan kegiatan lintas SKPD 6.3 Program dan kegiatan kewilayahan PENUTUP

Bab IV

Bab V

Bab VII LAMPIRAN

BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

2.1 Struktur organisasi Struktur organisasi SKPD Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi ditetapkan berdasarkan keputusan Walikota Bukittinggi Nomor 14 Tahun 2001 tanggal 05 April 2001 tentang uraian tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi (Struktur organisasi terlampir) 2.2. Susunan kepegawaian dan perlengkapan Jumlah tenaga kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi terhitung Mei 2006 adalah berjumlah 205 orang yang tersebar pada kantor Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi serta unit pelaksana teknis lainnya. Tabel 2.1 Distribusi tenaga di lingkungan DKK Bukittinggi menurut tingkat pendidikan pada bulan Mei 2006 UNIT KERJA
DKK Pusk Mandiangin Pusk T. Sawah Pusk Tigo Baleh Pusk Gg Panjang Pusk Nilam Sari Pusk Gulai Bancah Laboratorium Air Gudang Farmasi Jumlah JUMLAH TENAGA MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN SD SLTP SLTA/D1 D3 S1 S2 1 18 19 26 4 1 13 7 1 16 6 3 11 8 4 1 10 10 2 10 7 1 1 9 2 2 1 2 2 5 1 1 1 2 93 62 42 5

JUMLAH
68 22 25 23 23 19 13 5 7 205

Sedangkan tenaga kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bukitinggi menurut jenis pendidikannya terdiri dari : Dokter umum Dokter gigi Apoteker Bidan : 9 orang : 5 orang : 3 orang : 11 orang (D3), 37 orang (D1)

Sarjana kesehatan masyarakat : 1 orang (S2), 13 orang (S1)

Perawat Gizi Sanitarian Asisten Apoteker

: 2 orang ( S1), 10 orang (D3), : 7 orang (D3), 2 orang (SPAG) : 9 orang (D3), 5 orang (SPPH) : 7 orang (D3), 10 orang (SLTA)

21 orang (SPK)

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Perawat gigi Rekam medis Umum dan lainnya

: 1 orang ( D3), 5 orang (SLTA/SPRG) : 7 orang (D3) : 40 orang

Sarana kesehatan yang ada di Kota Bukittinggi dapat dilihat pada pada tabel berikut. Tabel 2.2 Sarana kesehatan di Kota Bukittinggi Tahun 2006
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sarana Kesehatan Rumah sakit Puskesmas Pustu Posyandu Praktek dokter Praktek bidan Klinik bersalin Klinik gigi Apotek Toko obat Optikal Laboratorium klinik Laboratorium air Fisioterapis Tukang gigi Swasta 2 0 0 0 111 80 4 2 28 30 14 4 0 14 9 Pemerintah 3 6 14 118 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 Jumlah 5 6 14 118 111 80 4 2 28 30 14 4 1 14 9

2.3. Tugas dan fungsi Uraian tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi ditetapkan berdasarkan keputusan Walikota Bukittinggi Nomor 14 Tahun 2001 tanggal 05 April 2001 tentang uraian tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi.

Tugas Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi mempunyai tugas melaksanakan kewenangan pemerintah Kota Bukittinggi di dalam bidang kesehatan dan yang meliputi serta perencanaan, mengkoordinasikan, menggerakkan membimbing

mengawasi kegiatan-kegiatan para unsure pembantu pimpinan dan unsure pelaksana serta memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan tindakan yang perlu diambil dibidang kesehatan. Fungsi
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

1. Pembinaan dan pembangunan dibidang kesehatan masyarakat 2. Pelayanan kesehatan 3. Pengawasan obat dan makanan Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi terdiri dari : KEPALA DINAS KESEHATAN Tugas Membantu Walikota dalam melaksanakan tugasnya dibidang kesehatan meliputi perencanaan, mengkoordinasikan, menggerakkan, dan membimbing serta mengawasi kegiatan-kegiatan para unsur pelaksana serta memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan tindakan yang perlu diambil dibidang kesehatan. BAGIAN TATA USAHA Tugas Melakukan urusan penyusunan rencana program, pegawai, keuangan, surat menyurat, hubungan masyarakat dan protocol, penyusunan data statistik, penggandaan, perlengkapan, tugas-tugas umum, pembinaan, evaluasi serta pembuatan laporan kerja Dinas Kesehatan. Fungsi

a. Pengelolaan

urusan

surat

menyurat,

perlengkapan

rumah

tangga,

penggandaan, hubungan masyarakat dan protokol serta urusan umum. b. Pengelolaan urusan admnistrasi pegawai dan latihan kepegawaian c. Pengelolaan urusan keuangan dan perbendaharaan

d. Penyusunan rencana program, penyusunan data statistik, penyusunan
laporan kerja dinas serta penyebarluasan informasi kesehatan

Bagian Tata Usaha terdiri dari : Sub.Bag Perencanaan Tugas Menyusun rencana, pengolahan data, penyebaran informasi kesehatan serta penyusunan laporan Sub Bag Keuangan Tugas
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Mengelola keuangan dan perbendaharaan Sub Bag Umum Tugas Mengelola surat menyurat, perlengkapan, penggandaan, kerumahtanggaan, tugas-tugas umum dan mengolah data adminsitrasi kesehatan, pengelolaan kepegawaian, hubungan masyarakat dan protokoler. SUBDIN PENYEHATAN LINGKUNGAN Tugas Melakukan pengumpulan bahan penyelenggaraan kegiatan penyehatan lingkungan dan penyehatan tempat-tempat umum serta usaha peningkatan kesehatan masyarakat. Fungsi a. Pengumpulan pemeriksaan b. Pengumpulan c. Pengumpulan d. Pengumpulan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan dan kegiatan bahan bahan bahan penyehatan dan mengkoordinasikan pengawasan usaha dan

peningkatan sarana kesehatan masyarakat. pengelolaan pengelolaan pengelolaan data, pembinaan pemeriksaan terhadap tempat pengelolaan makanan dan minuman data, data, pembinaan, pembinaan, pengawasan, pengawasan, pemeriksaan kualitas air dan lingkungan pemeriksaan penyehatan lingkungan pemukiman serta mengkoordinasikan kegiatan penyelenggaraan peningkatan kualitas lingkungan.

Subdin Penyehatan Lingkungan, terdiri dari : Seksi penyehatan tempat-tempat umum, makanan, minuman dan air Tugas Mengumpulkan, pengelolaan data, pembinaan, pengawasan dan pemeriksaan penyehatan tempat umum, tempat pengelolaan makanan dan minuman serta air bersih. Seksi penyehatan lingkungan dan sanitasi Tugas Mengumpulkan bahan pengelolaan kegiatan penyehatan lingkungan pemukiman
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

SUBDIN PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Tugas Menyiapkan Fungsi rencana penyelenggaraan kegiatan, pengamatan penyakit, pencegahan, pemberantasan dan pengawasan terhadap penyakit menular.

a. Perencanaan

kegiatan

pengamatan,

pencegahan,

pemberantasan

dan

pengawasan terhadap penyakit menular langsung, immunisasi dan penyakit yang bersumber dari binatang dan penelitian kemungkinan terjadinya wabah penyakit. b. Evaluasi monitoring serta tindaklanjut pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit c. Penyebarluasan informasi terhadap pencegahan dan pemberantasan penyakit Subdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, terdiri dari : Seksi pengamatan penyakit Tugas Mengumpulkan bahan rencana penelitian pengamatan dan tindakan kemungkinan terjadinya wabah penyakit.

Seksi pencegahan dan pemberantasan penyakit menular Tugas Melakukan perencanaan kegiatan mengumpulkan bahan monitoring dan evaluasi serta tindaklanjut terhadap pelaksanaan kegiatan pemberantasan dan pencegahan penyakit menular langsung, penyakit yang bersumber dari binatang serta immunisasi dan insidentil puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, unit pelayanan kesehatan lain serta melaksanaan analisa hasil penelitian penyakit dan penyebarluasan informasi cara pencegahan dan pemberantasannya. SUBDIN KESEHATAN KELUARGA Tugas : Melakukan kegiatan peningkatan status gizi pada Ibu Maternal, Balita dan Keluarga pada Unit Pelayanan Kesahatan termasuk Kelompok Institusi. Fungsi:
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

a. Mengumpulkan

bahan

pengelola

data,

pembinaan,

pengawasan

dan

pemeriksaan kesehatan Ibu Maternal, balita dan Kelompok Institusi pada Unit Pelayanan Kesehatan. b. Pengumpulan bahan, pengelola data, pembinaan, pengawasan dan kelompok Institusi melalui Unit Pelayanan Kesehatan. c. Pengumpilan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan dan pembinaan terhadap pelayanan Keluarga Berencana.

d. Penyebarluasan Informasi tentang Keluarga Berencana.
Sub Dinas Kesehatan keluarga terdiri dari : Seksi kesehatan ibu dan anak Tugas : Mengumpulkan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan dan pemeriksaan kegiatan pelayanan kesehatan ibu maternal, balita serta keluarga melalui unit pelayanan kesehatan serta peningkatan kerjasama lintas sektoral dan program. Seksi bina gizi masyarakat. Tugas : Mengumpulkan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan dan pemeriksaan status gizi masyarakat. Seksi kesehatan institusi Tugas : Mengumpulkan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan dan pelayanan kesehatan Kelompok Institusi, pemantapan kerjasama Lintas Sektoral. SUBDIN PELAYANAN KESEHATAN Tugas : Membina pengembangan serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, usaha kesehatan khusus di unit pelayanan kesehatan, pengelolaan farmasi dan pengobatan tradisional serta meningkatkan dan mengembangkan peran serta masyarakat / jaminan pelayanan kesehatan masyarakat. Fungsi : a. Mengumpulkan bahan pengelolaan data pembinaan pengawasan peningkatan kesehatan khusus serta peningkatan mutu pelayanan di unit pelayanan kesehatan.

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

b. Penyusunan rencana kebutuhan obat-obatan pada puskesmas-puskesmas pembantu dan Rumah Sakit Pemerintah ( Obat Askes ) Sub dinas Pelayanan Kesehatan terdiri dari : Seksi Pembinaan rumah sakit dan puskesmas Tugas : Mengumpulkan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan, pengembangan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatandi Puskesmas dan Rumah Sakit serta pengembangan Puskesmas ( Stratifikasi ). Seksi Kesehatan Khusus Tugas : Mengumpulkan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan, pemeriksaan usaha kesehatan khusus yang mencakup kesehatan olahraga, labor sederhana, puskesmas,kesehatan jiwa, kesehatan mata serta kesehatan gigi dan mulut serta pengawasan/perizinan usaha kesehatan dan pembinaan sekolah kesehatan. Seksi Farmasi dan Pengobatan Tradisional Tugas : Mengumpulkan bahan pengelolaan data, pembinaan, pengawasan, pemeriksaan kegiatan farmasian dan peralatan kesehatan pada Puskesmas dan puskesmas dan puskesmas pembantu serta penyusunan rencana kebutuhan obat obatan dan peralatan kesehatan puskesmas dan puskesmas pembantu, pengelolaan kosmetika, narkotika dan obat tradisional. Seksi PSM dan JPKM Tugas : Meningkatkan pembangunan pemberdayaan kesehatan masyarakat dan kemitraan perencanaan, LSM dalam termasuk penyiapan pembinaan,

pengembangan potensi dan peranserta meningkatkan kemampuan penyuluhan petugas. Pengembangan PJKM untuk menjamin terselenggaranya pemeliharaan kesehatan yang lebih merata dan bermutu. KELOMPOK FUNGSIONAL Tugas : Melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas sesuai dengan keahlian dan kebutuhan. Kelompok Fungsional terdiri dari : 1. Jabatan fungsional dokter
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

2. Jabatan fungsional dokter gigi 3. Jabatan fungsional perawat 4. Jabatan fungsional bidan 5. Jabatan fungsional perawat gigi 6. Jabatan fungsional gizi 7. Jabatan fungsional sanitarian

Sudah berjalan

8. Jabatan fungsional laboratorium kesehatan 9. Jabatan fungsional apoteker 10.Jabatan fungsional asisten apoteker 11.Jabatan fungsional administrator kesehatan 12.Jabatan fungsional penyuluh kesehatan 13.Jabatan fungsional epidemiologi 14.Jabatan fungsional rekam medis Sedang diusulkan

Unit pelaksana teknis (UPT) Tugas : Melaksanakan teknisnya. Unit Pelaksana Teknis di Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, terdiri dari : 1. Puskesmas Guguk Panjang 2. Puskesmas Tengah Sawah 3. Puskesmas Mandiangin 4. Puskesmas Tigo Baleh 5. Puskesmas Nilam Sari 6. Puskesmas Gulai Bancah 7. Laboratorium air 8. Gudang farmasi 2.4. Hal-hal lain Dinas Kesehatan sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Bukittinggi disamping mempunyai tugas dan fungsi sebagaimana point 2.3 di atas juga mempunyai Kewenangan yang diberikan Kepala Daerah berdasarkan Keputusan Walikota Bukittinggi nomor 188.45-292.2001 sebagai berikut :
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

sebagian

tugas

dibidang

kesehatan

pada

unit

pelaksana

1. Pengembangan system informasi kesehatan 2. Penetapan rencana strategis kesehatan 3. Penyusunan program kesehatan wilayah yang spesifik 4. Penyusunan rencana operasional kegiatan Dinas Kesehatan 5. Koordinasi penyusunan rencana operasional kegiatan UPTD ( Puskesmas, Laboratorium, Akper dan Gudang Farmasi ) 6. Perencanaan pembangunan kesehatan wilayah kota 7. Pengaturan dan pengorganisasian system pelayanan kesehatan 8. Penetapan struktur organisasi, susunan jabatan dan lain-lain dari Dinas Kesehatan 9. Adaptasi terhadap pedoman, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang ditetapkan pemerintah 10.Pelaksanaan penilaian kinerja organisasi Dinas Kesehatan dan UPTD 11.Pemberian surat izin praktek tenaga kesehatan 12.Perhitungan dan penetapan kebutuhan pegawai/tenaga kesehatan 13.Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan 14.Rekrutmen pegawai kesehatan 15.Pengawasan dan pengendalian 16.Pengaturan tarif layanan kesehatan 17.Penyusunan anggaran 18.Penyelenggaraan bimbingan dan pengendalian JPKM 19.Penyelenggaraan akuntabilitas instansi kesehatan di wilayah kota 20.Implementasi system pembiayaan kesehatan melalui JPKM atau sisem lain di kota

21. Perizinan dan sertifikasi sarana kesehatan
22.Perizinan dan sertifikasi obat dan alat kesehatan 23.Perizinan/bimbingan dan pengendalian pengobatan 24.Pengawasan penerapan standar bidang kesehatan 25.Perizinan dan sertifikasi sarana produksi 26.Penelitian dan pengembangan kesehatan 27.Penyelenggaraan pelayanan kesehatan 28.Peningkatan kesehatan masyarakat 29.Pencegahan dan pengendalian dampak lingkungan (limbah industri, air tanah, dll) 30.Penyuluhan NAPZA
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan obat

31.Perencanaan, pengadaan dan pengelolaan obat essensial 32.Penyuluhan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat bidnag kesehatan 33.Pengembangan kerjasama lintas sektoral 34.Penyelenggaraan system kewaspadaan pangan dan gizi 35.Penyelenggaraan system informasi kesehatan 36.Pencatatan dan pelaporan obat pelayanan dasar 37.Pemantauan system kewaspadaan pagan dan gizi 38.Menyelenggarakan pelayanan medis 39.Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis 40.Menyelenggarakan pelayanan asuhan keperaweatan 41.Menyelenggarakan pelayanan rujukan 42.Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan 43.Menyelenggarakan admistrasi umum dan keuangan 44.Melaksanakan kegiatan manajemen pengadaan sarana dan prasarana dalam menunjang kegiatan operasional 45.Mengelola kegiatan manajemen keuangan dalam menunjang kegiatan operasional dan pemeliharaan puskesmas 46.Rekrutmen ketenagaan 47.Pengembangan ketenagaan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan baik formal maupun informal 48.Peningkatan kesejahteraan ketenagaan 49.Perencanaan, pengorganisasin, monitoring, pengawasan dan evaluasi ketenagaan 50.Peningkatan dan pengembangan puskesmas (pemeliharaan bangunan lama dan pembagunan puskesmas baru) 51.Peningkatan kualitas dan kuantitas peralatan medis dan paramedis 52.Program operasional pemeliharaan puskesmas 53.Perencanaan, pengorganisasian, monitoring, pengawasan dan evaluasi sarana dan prasarana puskesmas.

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

BAB III DATA KESEHATAN BUKITTINGGI 3.1 Umum
Kota Bukittinggi terletak di bagian tengah Provinsi Sumatera Barat pada 100.210 - 100,250 Bujur Timur dan 00.760 - 00.190 Lintang Barat. Memiliki luas daerah sekitar 25,24 km2. Kota Bukittinggi dikenal sebagai "KOTA TRIARGA". Julukan ini muncul karena kondisi geografis kota yang dikelilingi oleh 3 gunung yaitu Gunung Singgalang, Gunung Marapi dan Gunung Sago. Kota ini terletak pada ketinggian 909 - 941 m di atas permukaan laut. Kota Bukittinggi terdiri dari 3 Kecamatan yang terbagi dalam 24 kelurahan. Kecamatan Mandiangin Koto Selayan merupakan kecamatan terluas (12,16 km2) yang terdiri atas 9 kelurahan. Kecamatan Guguk Panjang (6,83 km 2) terdiri atas 7 kelurahan. Sedangkan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh yang memiliki luas 6,25 km2 dan terdiri atas 8 kelurahan. Topografi Kota Bukittinggi berbukit dan berlembah, terbentang sebuah lembah (canyon) yang khas dan diberi nama Ngarai Sianok. Ngarai ini merupakan identitas geologis Kota Bukittinggi. Kota Bukittinggi memiliki iklim pegunungan yang sejuk dengan temperatur udara berkisar antara 16,1o - 24,1o C, kelembaban udara antara 82,0 - 90,8 % dan tekanan udara antara 22o - 25o serta curah hujan rata-rata 136,4 mm/tahun. Sesuai dengan data dari BPS Kota Bukittinggi, jumlah penduduk Kota Bukittinggi pada tahun 2005 tercatat sebesar 101.276 jiwa, dengan tingkat

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

kepadatan 4.013 jiwa per km2 dan angka pertumbuhan penduduk sebesar 0,94% (jumlah penduduk tahun 2004 dilaporkan sebesar 100.333 jiwa). Kepadatan penduduk Kota Bukittinggi tidak merata, kepadatan penduduk tertinggi adalah di daerah pusat perdagangan yaitu Kecamatan Guguk Panjang dengan kepadatan penduduk 5.607 Jiwa/Km 2. Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh memiliki kepadatan penduduk 3.615 Jiwa/Km2. Kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Mandiangin Koto Selayan dengan kepadatan 3.322 Jiwa/Km2 Komposisi penduduk Kota Bukittinggi menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 9,52%, yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 64,63%, dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar 25,85%. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Kota Bukittinggi pada tahun 2005 sebesar 54,72). Jumlah penduduk laki-laki relatif seimbang dibandingkan penduduk perempuan, yaitu masing-masing sebesar 51.252 sebesar 102,4). Kondisi perekonomian Kota Bukittinggi pada tiga tahun terakhir relatif stabil dan menunjukkan perkembangan yang cukup memuaskan. Pada tahun 2005 jumlah penduduk miskin (berdasarkan data Subdin Yankes) tercatat sebesar 8165 jiwa atau 8,06% dari total penduduk. Peningkatan produktivitas ekonomi Kota Bukittinggi didominasi dari sektor perdagangan dan wisata. Peningkatan ekonomi telah mendorong berkembangnya taraf kehidupan masyarakat secara makro. Meningkatnya aktivitas ekonomi menyebabkan peningkatan usaha kecil dan menengah disektor kerajinan dan industri kecil dan mengalami kemudahan dalam pengadaan bahan baku dan pemasaran hasilhasil. Kemampuan baca-tulis penduduk tercermin dari Angka Melek Huruf, yaitu persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya. Pada Tahun 2005 persentase penduduk yang dapat membaca huruf latin sebesar 98,97%. Persentase penduduk yang buta huruf pada perempuan, yaitu sebesar 1,75% lebih tinggi dibanding pada laki-laki yang hanya sebesar 0,30%. Pada tahun 2005, jumlah penduduk berusia 10 tahun keatas sebesar 80.024 jiwa. Jumlah penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah sebesar 11.704 (14,63%). Sedangkan yang masih bersekolah sebesar 67.308 orang (84,11%), terdiri atas 16.795 jiwa (20,99%) bersekolah di
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

jiwa penduduk laki-laki dan

50.024 jiwa penduduk perempuan (rasio penduduk menurut jenis kelamin

SD/MI, sebesar 18.181 jiwa (22,72%) di SLTP/MTs, sebesar 24.320 jiwa (30,39%) di SMU/SMK, dan 8.012 jiwa (10,01%) di Akademi/Universitas. Selebihnya, sebesar 1012 jiwa sudah tidak bersekolah lagi. 3.2 Pusat Kesehatan Kelurahan (Puskeskel) di Tarok Dipo Keberadaan Puskeskel Tarok Dipo sangat mendukung sekali Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Induk yang berada di wilayah kerjanya walaupun kondisi Puskeskel ini masih belum berdiri sendiri tetapi masih bersatu dengan kantor yang ada di sebelahnya. Kegiatan Puskeskel ini antara lain Pelayanan Posyandu dan pengobatan masyarakat umum. Diantara penyakit-penyakit yang sering ditangani di Puskeskel ini adalah: a. ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) b. Rheumatik c. Alergi kulit Sedangkan dari segi jumlah pengunjung minimal tiap harinya 10 orang dan maksimal 30 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Tabel III.1 berikut ini Tabel. III. 1 Pelayanan Kesehatan yang Dilaksanakan Oleh Puskeskel Tarok Dipo Kota Bukittinggi No 1 Jenis Sarana Puskeskel Dipo Jumlah Kunjungan/har i Tarok Bergabung dengan 10 – 30 orang kegiatan masyarakat (Posyandu, KUD) Tempat Alat yang dibutuhkan Motor dinas, KB Kit, Bidan Kit

Sumber: Hasil Survey Lapangan, 2007

Sedangkan informasi primer yang didapatkan dari Puskeskel (Pusat Kesehatan Kelurahan) diantaranya menyatakan:

a. penyusunan

program-program

kesehatan

sampai

kepada

pelaksanaannnya semuanya berasal dari atas (top-down commando), dalam hal ini program kesehatan datang dari puskesmas dan puskeskel sebagai operatornya, b. keluhan-keluhan dari pihak puskeskel kepada Dinas Kesehatan ditanggapi dengan melihat tingkat urgensinya,

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

c. cara penanggulangan sampah medis yang dilaksanakan agak berbahaya karena hanya dibungkus dalam plastik kemudian diantar ke puskesmas dengan frekuensi tiap satu kali dua bulan. Dari hasil survey didapatkan juga bahwa keberadaan Puskeskel ini sangat mendukung sekali berbagai program kesehatan yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bukittinggi, namun diharapkan agar masing-masing kelurahan yang ada di Bukittinggi (24 kelurahan) masing-masingnya harus mempunyai 1 unit Puskeskel, sehingga akan sangat menunjang visi dan misi kota Bukittinggi sebagai kota wisata berobat.

3.3

Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu) Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu) yang ada di wilayah kerja

DKK Bukittinggi berjumlah 14 buah yang tersebar di tiga kecamatan yang ada. Pustu ini dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab sepenuhnya kepada Puskesmas induknya. Informasi yang didapatkan dari beberapa Pustu yang ada di kota Bukittinggi yang diambil sebagai subjek survey diantaranya (Pustu Garegeh, Pustu Ujung Bukit dan Pustu Pintu Kabun), didapatkan keterangan tambahan dari wawancara yang dilakukan bahwa: a. penyusunan program kesehatan dengan segala aspeknya semuanya turun dari DKK Bukittinggi dan Pustu hanya sebagai operatornya,

b. keluhan

yang

sering

disampaikan

kepada

Puskesmas

Induk/Dinas

Kesehatan adalah peralatan medis yang rusak, kurang lancarnya distribusi air PDAM/air bersih, dan permintaan alat-alat termasuk bahan habis pakai, selanjutnya kurang informasi masalah kenaikan pangkat pegawai yang bersangkutan,

c. issue-issue lingkungan hidup yang berpengaruh terhadap pelayanan
kesehatan dewasa ini adalah: masalah sampah, polusi udara, dan air tanah, d. sedangkan sampah/limbah pustu diantaranya ada yang memiliki safety box dan baru dikirim ke puskesmas induk tiap satu kali dua bulan dan ada diantaranya yang tidak memiliki safety box,

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

e. ketenagaan di Pustu Garegeh ini contohnya hanya 1 orang (umumnya tiap
pustu), gedung milik STAIN Bukittinggi, instrumen tidak lengkap, jumlah penduduk yang berada dalam wilayah kerjanya 1.500 jiwa dengan ratarata kunjungan per hari 8 – 10 orang dengan penyakit pengunjung antara lain ISPA, gastritis dan rematik, sedangkan di dua pustu lainnya rata-rata kunjungan per hari 7 – 11 orang dengan jenis penyakit ISPA, rematik dan diare.

Tabel. III.2 Pelayanan Kesehatan Yang Dilaksanakan Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu) Di Kota Bukittinggi
No 1 Nama Pustu Pustu Nilam Sari (Garegeh) Transparansi Penyusunan programprogram kesehatan sampai kepada pelaksanaannya semuanya berasal dari atas (top-down commando) Responsif Keluhan-keluhan dari pihak puskeskel kepada Dinas Kesehatan ditanggapi dengan melihat tingkat urgensinya Desentralisasi Isu desentralisasi daerah, peningkatankualitas SDM di bidang kesehatan, promosi kesehatan lewat ”live TV”, leaflet dan radio, cara penanggulangan sampah medis yang dilaksanakan agak berbahaya karena hanya dibungkus dalam plastik kemudian diantar ke puskesmas dengan frekuensi tiap satu kali dua bulan Issue-issue lingkungan hidup yang berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan dewasa ini adalah masalah sampah, polusi udara, dan air tanah. Sampah/limbah pustu diantaranya ada yang memiliki safety box dan baru dikirim ke puskesmas induk tiap satu kali dua bulan dan ada diantaranya yang tidak memilki safety box. Ketenagaan di pustu umumnya hanya 1 orang (umumnya tiap pustu). Issue-issue lingkungan

2

Pustu Kabun

Pintu

Penyusunan program kesehatan dengan segala aspeknya semuanya turun dari DKK Bukittinggi dan Pustu hanya sebagai operatornya

Keluhan yang sering disampaikan kepada Puskesmas Induk/Dinas Kesehatan adalah peralatan medis yang rusak, kurang lancarnya distribusi air PDAM/air bersih, dan permintaan alatalat termasuk bahan habis pakai, selanjutnya kurang informasi masalah kenaikan pangkat pegawai yang bersangkutan Keluhan yang sering

3

Pustu Ujung Bukit

Penyusunan

program

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

kesehatan dengan segala aspeknya semuanya turun dari DKK Bukittinggi dan Pustu hanya sebagai operatornya

disampaikan kepada Puskesmas Induk/Dinas Kesehatan adalah peralatan medis yang rusak, kurang lancarnya distribusi air PDAM/air bersih, dan permintaan alatalat termasuk bahan habis pakai, selanjutnya kurang informasi masalah kenaikan pangkat pegawai yang bersangkutan

hidup yang berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan dewasa ini adalah masalah sampah, polusi udara, dan air tanah. Sampah/limbah pustu diantaranya ada yang memiliki safety box dan baru dikirim ke puskesmas induk tiap satu kali dua bulan dan ada diantaranya yang tidak memilki safety box. Ketenagaan di pustu umumnya hanya 1 orang (umumnya tiap pustu).

3.4

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Puskesmas merupakan salah satu sarana kesehatan yang berada di

setiap kecamatan. Jumlah puskesmas yang ada di Kota Bukittinggi berjumlah 6 unit. Jika di Bukittinggi memiliki 3 kecamatan, maka rata-rata satu kecamatan di Kota Bukittinggi memiliki 2 puskesmas. Tabel. III.3 Pelayanan Kesehatan Yang Dilaksanakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Di Kota Bukittinggi
No Nama Puskesmas Guguak 1. Panjang Tengah Sawah Tigo Baleh Mandiangin Nilam Sari Gulai Bancah Transparansi Responsif Desentralisasi

1 2 3 4 5 6

1.Penentuan proses alokasi anggaran sektor kesehatan dan tender proyek dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2.Sedangkan dalam hal penentuan alokasi anggaran bidang kesehatan oleh Pemda dan DPRD, penyusunan program kesehatan, penentuan biaya pelayanan kesehatan di puskesmas, tender proyek dan promosi aparat puskesmas tidak pernah dilibatkan

1.Keluhan yang berasal dari puskesmas, Dinas Kesehatan Kota cukup menampungnya. 2.Secara umum puskesmas-puskesmas tersebut mengusulkan penambahan dana alokasi umum untuk operasional dan penambahan tenaga profesional terutama dokter spesialis, laborant, rekam medis, administrasi, apoteker dan kesehatan lingkungan, ahli gizi dan kalau bisa di tiap kelurahan yang ada di kota Bukittinggi terdapat puskesmas pembantu. teknologi

1.Sarana dan prasarana masih belum memadai seperti alat gigi/dental unit yang tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya, besarnya biaya pemeliharaan alat medis, penambahan laboratorium klinik di tiap puskesmas. 2.Issue-issue lingkungan hidup yang urgen saat ini adalah masalah penanggulangan sampah, pencemaran air tanah, pencemaran air limbah/drainase yang tidak lancar. 3.Cara penanganan sampah dan limbah puskesmas diantaranya dilakukan untuk sampah non medis dibuang ke TPA dan sampah medis

2. 3.Aspek
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

informasi, jaringan kerjasama/networking masih kurang dan lemahnya koordinasi antar lembaga di Bukittinggi.

disimpan di dalam safety box dan dikirim ke unit DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota) untuk selanjutnya dibuang ke TPA sampah, namun ada juga yang membakarnya dengan menggunakan incenerator khusus, baru kemudian dibuang ke TPA melalui kendaraan sampah DKP.

Sumber: Hasil Survey Lapangan, 2007

Pada Tabel.III.3 diatas terlihat hasil rekapitulasi pengisian kuesioner, dan juga hasil wawancara lebih lanjut menyatakan bahwa: a. penentuan proses alokasi anggaran sektor kesehatan dan tender proyek seperti pengadaan obat dan alat medis, perawatan gedung, pengadaan alat tulis kantor dan sebagainya dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi,

b. dalam hal penentuan alokasi anggaran bidang kesehatan oleh pemda
dan DPRD, penyusunan program kesehatan, penentuan biaya pelayanan kesehatan di puskesmas, tender proyek dan promosi aparat puskesmas tidak pernah dilibatkan, c. sedangkan keluhan-keluhan yang berasal dari puskesmas Dinas Kesehatan Kota cukup menampungnya,

d. secara

umum

puskesmas-puskesmas

tersebut

mengusulkan

penambahan dana alokasi umum untuk operasional dan penambahan tenaga dokter spesialis, laborant, rekam medis, administrasi, apoteker dan kesehatan lingkungan, ahli gizi dan kalau bisa di tiap kelurahan yang ada di kota Bukittinggi terdapt puskesmas pembantu, e. sementara aspek teknologi informasi, jaringan kerjasama/networking masih kurang dan lemahnya koordinasi antar lembaga di Bukittinggi, f. aspek sarana dan prasarana masih belum memadai seperti alat gigi/dental unit yang tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya, besarnya biaya pemeliharaan alat medis, penambahan laboratorium klinik di tiap puskesmas, g. sementara itu issue-issue lingkungan hidup yang urgen saat ini adalah masalah penanggulangan sampah, pencemaran air tanah, pencemaran air limbah/drainase yang tidak lancar,
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

h. cara

penanganan

sampah

dan

limbah

puskesmas

diantaranya

dilakukan untuk sampah non medis dibuang ke TPA dan sampah medis disimpan di dalam safety box dan dikirim ke unit DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota) untuk selanjutnya dibuang ke TPA sampah, namun ada juga yang membakarnya dengan menggunakan incenerator khusus, baru kemudian dibuang ke TPA melalui kendaraan sampah DKP,

i. jumlah kunjungan/hari terbanyak terdapt pada puskesmas Gulai Bancah yaitu 90 – 100 orang, sedangkan jumlah kunjungan terkecil pada puskesmas Mandiangin yaitu maksimal 40 orang/hari. Kebutuhan tenaga saat ini antara lain SKM, akper/perawat, sanitarian, laborant, apoteker, petugas TU dan security/keamanan, sedangkan prasarana yang dibutuhkan umumnya antara lain klinik sanitasi, klinik gizi, UGD, laboratorium, dan perbaikan prasarana pendukung lainnya.

3.5

Rumah Sakit (Hospital) Dalam menghadapi era desentralisasi dan era globalisasi yang

dampaknya terhadap pelayanan kesehatan sudah sangat terasa, maka rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan sudah harus menciptakan unggulanunggulannya dalam pelayanan agar mampu bersaing, apabila dewasa ini rumah sakit tidak hanya dipandang sebagai usaha sosial semata, namun sudah sebagai usaha bisnis yang bersifat sosio ekonomi. Rumah sakit saat ini dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu, karena semakin tingginya kesadaran masyarakat, namun mutu yang baik tidak hanya diukur dari kemewahan fisilitas, kecanggihan teknologi dan penampilan fisik semata, tetapi diukur dari efisiensi dan efektivitas yang dirasakan oleh user/pelanggan. Guna mampu memberikan pelayanan yang optimal rumah sakit harus mencari usaha untuk mampu membiayai diri sendiri agar dapat mengimbangi pengeluaran biaya operasional rumah sakit, oleh karena itu pihak manajemen rumah sakit perlu menggali semua potensi yang dimiliki rumah sakit untuk uncertainty condition/mengantisipasi perkembangan yang serba tidak menentu di masa mendatang.
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Berikutnya data dan informasi survey yang didapatkan dari berbagai rumah sakit yang ada di Bukittinggi baik milik pemerintah maupun swasta. Di kota Bukittinggi terdapat tiga buah rumah sakit milik pemerintah (RSAM milik Pemda Sumatera Barat dan RSUP P3SN milik Pemerintah Pusat c.q Depkes RI dan RS TNI AD milik Dep. Pertahanan Keamanan), dan 3 buah milik swasta (RS Islam Ibnu Sina milik Yarsi Sumatera Barat, RS Medina dan RS/Klinik Khusus THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Data RS tersebut dapat dilihat pada Tabel III.4 dibawah ini. Tabel. III.4 Pelayanan Kesehatan Yang Dilaksanakan Rumah Sakit-Rumah Sakit di Kota Bukittinggi No. 1 2 3 4 5 6 Jenis Sarana RS Dr Achmad Muchtar (RSAM) RSSN (RS Stroke Nasional) RS TNI AD RS Yarsi Ibnu Sina RS Medina RS/Klinik Khusus THT Jumlah Pemilik Pemprov. Sumbar Depkes Pusat Dephankam Swasta Swasta Swasta Jumlah 1 1 1 1 1 1 6

Sumber: Hasil Survey Lapangan, 2007

Hasil survey dari masing-masing institusi jasa pelayanan kesehatan dapat kita lihat pada Tabel III.5 dibawah ini. Tabel. III.5 Pelayanan Kesehatan yang Dilaksanakan Rumah Sakit-Rumah Sakit di Kota Bukittinggi
No 1 Nama Rumah Sakit RS Dr Achmad Muchtar Transparansi RSAM Bukittinggi tidak terlibat langsung dalam aspek proses penyusunan program kesehatan, proses penentuan alokasi anggaran sektor kesehatan dan tender proyek, namun pada tender proyek RSAM Bukittinggi punya panitia sendiri yang dikenal dengan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Responsif 1.Anggaran yang disetujui tidak sesuai dengan kebutuhan tahun anggaran, sehingga biaya operasional mengalami kekurangan. 2.SDM yang ada belum mencukupi seperti dokter umum/spesialis dan sub spesialis, perawat, tenaga kesehatan lainnya. 3.Faktor yang tidak kalah pentingnya dalah insentif yang diterima oleh pegawai relatif rendah jika kita bandingkan dengan daerah/propinsi Desentralisasi RSAM sebagai rumah sakit propinsi dan yang paling berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan adalah Dinas Kesehatan Prop. Sumatera Barat, baru kemudian Gubernur seterusnya pihak manajemen rumah sakit.

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

2

RS Stroke Nasional

3

RS TNI AD

1.RSSN Bukittinggi terlibat langsung dalam aspek penyusunan program kesehatan dengan metode Button-up dari unit kerja masing-masing. 2.Proses penentuan alokasi anggaran sektor kesehatan ditentukan oleh pusat dalam hal ini Departemen Kesehatan cq. Ditjen Yanmedik. 3.Alokasi anggaran ini ditentukan melalui Rapat Konsultasi Anggaran dengan Depkes dan tidak ada kaitannya dengan pemko Bukittinggi dan DPRD. 4.Tender proyek RSSN Bukittinggi dilakukan sangat terbuka 1.Penentuan alokasi anggaran bidang kesehatan, penyusunan program kesehatan, tender proyek dan promosi aparat tidak pernah terlibat sama sekali 2.Operasional RS ini sepenuhnya swadana dan sumber biaya dari pusat non APBN

lain, seperti insentif dokter spesialis Kab. Bengkalis Prop. Riau diberikan Rp. 15 jutaan perbulan 1. SDM yang ada masih kurang terutama dalam bidang spesialis dan sub spesialis syaraf. 2.Di RSSN ini untuk mencegah terjadinya praktek-praktek KKN dibentuklah sebuah tim SPI (Satuan Pengawasan Internal RS).

RS dengan Pusat Rujukan Stroke Nasional di Indonesia disamping sebagai RS Umum Pusat (UPT/Unit Pelaksana Teknis Ditjen Yanmed Depkes Pusat).

Perihal ketenagaan di RS ini sangat kurang sekali karena tenaga medis (dokter umum dan ahli serta perawat) didatangkan dari RSAM, RSUP, maupun RS Yarsi yang ada di Bukittinggi

4

RSI Sina

Ibnu

Penentuan alokasi anggaran bidang kesehatan, penyusunan program kesehatan, penentuan biaya pelayanan kesehatan, tender proyek dan promosi aparat ditentukan oleh yayasan dan manajemen.

5

RS Medina

1.Program penyelenggaraan kesehatan yang ada di RS ini hampir sama dengan RS Islam Ibnu Sina yaitu sepenuhnya disusun secara internal dan tidak

1.Keluhan yang berasal dari pihak RS adalah izin RS yang harus diperbaharui secara periodik. 2.Keluhan dari pihak masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh RS ini antara lain waiting time (waktu tunggu) yang relatif lama Pihak direksi mengusulkan agar dipikirkan tentang pembentukan sebuah konsorsium rumah sakit se kota Bukittinggi untuk menjembatani berbagai

1.RS TNI AD adalah salah satu rumah sakit milik Departemen Pertahanan dan Keamanan RI yang langsung berada dibawah komando Detasemen Kesehatan Wilayah Militer II Kodam Bukit Barisan. 2.Pihak yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam RS ini adalah Detasemen Kesehatan Wilayah Militer II Kodam Bukit Barisan. 1.Link atau kerjasama dengan pihak RS lain di kota Bukittinggi terjalin dengan baik. 2.Issue lingkungan hidup yang dikemukakan adalah masalah penanganan sampah yang sangat mendesak untuk dicarikan solusi terbaik. 1.Sebagai konsekuensi logis dari operasional RS swasta adalah profit oriented bukan nirlaba dengan arti kata RS swasta

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

dipublikasikan, mulai dari penentuan alokasi anggaran sektor kesehatan dan tender proyek sepenuhnya dilakukan dengan manajemen internal dan yayasan RS yang bersangkutan. 2.RS tidak pernah terlibat dengan pihak pemda maupun DPRD Kota Bukittinggi dalam penyusunan program kesehatan kota.

aktivitas yang dilakukan rumah sakit-rumah sakit di kota Bukittingi.

cenderung mencari keuntungan yang sebesar-besarnya namun dibalik itu juga memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien sehingga pasien puas dan senang berobat ke rumah sakit yang bersangkutan. 2.Selanjutnya issue kesehatan yang dikemukakan adalah adalah masalah penanggulangan HIV/AIDS yang dikatakan sebagai fenomena gunung es sehubungan dengan kota Bukittinggi sebagai kota wisata, dimana didalamnya kemungkinan ada yang disebut dengan ”wisata sex”.

Sumber: Hasil Survey Lapangan, 2007

Keterangan lainnya yang dapat dituliskan disini dari hasil wawancara dengan direksi menyatakan, bahwa diantara keluhan yang dirasakan pihak RSAM dewasa ini antara lain: (a) anggaran yang disetujui tidak sesuai dengan kebutuhan tahun anggaran, sehingga biaya operasional mengalami kekurangan,

(b) SDM yang ada belum mencukupi seperti dokter umum/spesialis dan sub
spesialis, perawat, tenaga kesehatan lainnya, dengan kondisi sekarang jumlah pegawai RSAM lebih kurang 700 orang terdapat kekurangan pada spesialis jantung tidak ada, spesialis urologi tidak ada, ahli anastesi saat ini baru 1 orang, ahli radiolgi 1 orang, ahli kulit dan kelamin 1 orang, ahli syaraf 1 orang, sedangkan ahli-ahli lainnya sudah cukup, disamping itu RSAM juga kekurangan dengan tenaga pengelola keuangan (sarjana akuntansi belum ada), sarana serta prasarana pendukung pelayanan kesehatan,

(c) faktor yang tidak kalah pentingnya adalah insentif yang diterima oleh
pegawai relatif rendah jika dibandingkan dengan daerah/propinsi lain seperti insentif dokter di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau diberikan sebesar Rp. 15 jutaan per bulan,

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

(d) kiranya perlu dipikirkan pembentukan Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, mengingat kota Bukittinggi adalah sebuah kota wisata yang sangat ramai dikunjungi oleh berbagai turis mancanegara dan pembentukan sebuah rumah sakit daerah kota Bukittinggi untuk mengantisipasi kondisi dimasa yang akan datang, (e) hubungan/link RSAM dengan instansi pelayanan kesehatan eksternal kota Bukittinggi berjalan dengan baik seperti RSUP P3SN, RS Islam Ibnu Sina, RS TNI AD, RS Medina. Sedangkan pada RS Stroke Nasional (RSSN) adalah satu-satunya RS dengan Pusat Rujukan Stroke Nasional di Indonesia disamping sebagai RS Umum Pusat (UPT/Unit Pelaksana Teknis Ditjen Yanmed Depkes Pusat). Keberadaan RS ini sangat strategis sekali karena berada di persimpangan perdagangan, wisata kuliner, dan dekat dengan segi tiga emas perkembangan Indonesia-MalaysiaSingapore. RSSN ini awalnya berasal dari RSUP Bukittinggi yang secara historis berasal dari RS Immanuel yang dikelola oleh Yayasan Baptis Indonesia sejak tahun 1978. Berdasarkan Surat Keputusan Menkes RI No. 365/Menkes/SK/VIII/1982 RSUP Bukittinggi merupakan RSU vertikal kelas C UPT Vertikal Depkes. Kemudian tahun 2002 dengan adanya SK Menkes No. 21/Menkes/SK/I/2002 RSUP Bukittinggi ditetapkan sebagai Pusat Pengembangan Pengelolaan Stroke Nasional (P3SN), selanjutnya berdasarkan SK Menkes No.105/Menkes/SK/IV/2005 ditingkatkan kelembagaannya menjadi Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN). Jenis pelayanan yang dilaksanakan yaitu total care khusus stroke dengan unggulan pelayanan rehabilitasi stroke. Disamping itu jenis pelayanan lainnya yang juga dilaksanakan guna mendukung pelayanan RS seperti penyakit dalam, kebidanan, anak, perinatologi, mata dan jantung. Untung penunjang lainnya meliputi elektromedis, farmasi, rehabilitasi medik, radiologi serta tindakan medik. RSSN Bukittinggi terlibat langsung dalam aspek proses penyusunan program kesehatan dengan metode Bottom-up dari unit kerja masing-masing, sedangkan proses penentuan alokasi anggaran sektor kesehatan ditentukan langsung oleh pusat dalam hal ini Departemen Kesehatan RI cq. Ditjen Yanmedik. Alokasi anggaran ini ditentukan melalui Rapat Konsultasi Anggaran dengan Depkes dan tidak ada kaitannya dengan pemko Bukittinggi dan DPRD, tender proyek (mencakup pengadaan obat dan alat medis, perawatan gedung,
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

pengadaan alat tulis kantor dan sebagainya), selanjutnya pada tender proyek RSSN Bukittinggi dilakukan sangat terbuka. RSSN sebagai rumah sakit UPT Pusat maka yang paling berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan adalah Direktur RSSN, seterusnya pihak manajemen rumah sakit. Pihak yang paling berpengaruh dalam semua proses pengambilan keputusan adalah Direktur, kemudian pihak manajemen RSSN. Hubungan antara RSSN dengan pihak DKK Bukittinggi hanya sebatas koordinasi. Dari segi keluhan masyarakat terhadap pelayanan RSSN adalah: a. tempat tidur kurang, b. masalah pengadaan obat, c. sistem pembayaran belum menerapkan satu pintu. Di RSSN ini untuk mencegah terjadinya praktek-praktek KKN dibentuklah sebuah tim SPI (Satuan Pengawasan Internal RS). Selanjutnya pada RS TNI AD adalah salah satu rumah sakit milik Departemen Pertahanan dan Keamanan RI yang langsung berada dibawah komando Detasemen Kesehatan Wilayah Militer II Kodam Bukit Barisan. Pelaksanaan operasional RS ini sepenuhnya swadana dan sumber biaya dari pusat non APBN, dan alat-alat medis yang ada sekarang dibantu oleh pusat, namun jika pihak RS akan menambah alat yang baru maka harus berusaha secara swadana untuk memenuhinya sendiri. Sementara itu hubungan/link antara RS TNI AD dengan Pemda dan DPRD dalam penentuan alokasi anggaran bidang kesehatan, penyusunan program kesehatan, penentuan biaya pelayanan kesehatan, tender proyek dan promosi aparat tidak pernah terlibat sama sekali. Hasil temuan lainnya adalah:

a. pihak yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam
RS ini adalah Detasemen Kesehatan Wilayah II Kodam Bukit Barisan, b. perihal ketenagaan di RS ini sangat kurang sekali karena tenaga medis (dokter umum dan ahli serta perawat) didatangkan dari RSAM, RSUP, maupun RS Yarsi yang ada di Bukittinggi,

c. tentang program-program kesehatan yang dijalankan di RS ini
sepenuhnya datang dari atas (top-down commando), d. link kerjasama yang baik telah dijalankan oleh RS ini baik dengan RSAM, RSUP P3SN, RS Islam Ibnu Sina dan RS lainnya di Bukittinggi.

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Peran tersebut dewasa ini semakin dituntut yang diakibatkan struktur oleh perubahan-perubahan perkembangan epidemiologi penyakit, struktur perubahan ekonomi demografi, iptek, perubahan

masyarakat yang menghendaki pelayanan yang lebih bermutu, ramah dan sanggup memenuhi kebutuhan. Tuntutan ini semakin bertambah berat dalam memasuki era globalisasi yang sedang terjadi, dimana salah satu kondisi yang mau tidak mau harus dihadapi rumah sakit adalah adanya liberalisasi jasa kesehatan. Pada saat itu rumah sakit-rumah sakit yang ada tidak saja akan bersaing dengan rumah sakit dari pemodal dalam negeri saja tetapi juga rumah sakit dengan PMA (modal asing). Disamping itu dengan adanya kebijakan pemerintah tentang otonomi daerah dan diberlakukannya UU No.24/2003 tentang Praktek Kedokteran, sedikit banyaknya kewenangan akan untuk berdampak Dengan mengelola kepada sebagian dunia ini kesehatan/kedokteran pemerintah daerah termasuk dan diberi kerumahsakitan. otonomi daerah

assetnya

pengelolaan

keuangan daerah masing-masing, bagi daerah yang kaya hal ini tentu tidak menjadi masalah, tetapi bagi daerah yang kurang tentu akan menjadi masalah tersendiri. Pemerintah daerah akan berusaha maksimal untuk menggali sumber daya yang ada termasuk investor lokal/asing untuk melakukan investasi di daerah dengan tujuan meningkatkan perekonomian daerah. Dengan demikian rumah sakit pemerintah yang selama ini menjadi mitra bisa saja berubah menjadi pesaing karena telah berubah menjadi unit swakelola. RS Islam Ibnu Sina Bukittinggi merupakan RS swasta tertua di Sumatera Barat. Program penyelenggaraan kesehatan yang ada di RS ini sepenuhnya disusun secara internal dan tidak dipublikasikan, mulai dari penentuan alokasi anggaran sektor kesehatan dan tender proyek sepenuhnya dilakukan dengan manajemen internal dan yayasan RS yang bersangkutan, hal lain yang dapat ditampilkan sebagai data dan informasi survey adalah: a. keluhan yang berasal dari pihak RS adalah izin RS yang harus diperbaharui secara periodik, b. keluhan dari pihak masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh RS ini antara lain waiting time (waktu tunggu) yang relatif lama
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

terutama rujukan dokter spesialis, karena sebagian besar dari dokter tersebut adalah dokter pemerintah (PNS) yang bertugas di RSAM maupun RSSN, c. kendala utama yang dihadapi RS ini adalah kurangnya dokter spesialis atau subspesialis, d. pihak direksi juga mengharapkan agar kota Bukittinggi memiliki RSUD kota nantinya,

e. link atau kerjasama dengan pihak RS lain di kota Bukittinggi terjalin
dengan baik, namun disarankan agar kota Bukittinggi melalui pemda dan jajarannya agar dapat membuat sebuah program pengembangan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan terutama peralatan medis, penguasaan TI (Teknologi Informasi) yang masih rendah, jalinan kerjasama/networking yang masih lemah dalam hal koordinasi antar lembaga dengan pemda Bukittinggi, f. sedangkan issue lingkungan hidup yang dikemukakan adalah masalah penanganan sampah yang sangat mendesak untuk dicarikan solusi terbaik, g. RS ini telah memilki incenerator khusus untuk penanggulangan sampah medis. RS Medina memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap akses pelayanan kesehatan yang ada di Bukittinggi, dengan adanya RS ini masyarakat yang akan datang berobat ke Bukittinggi dapat memilih RS mana yang akan mereka masuki. Program penyelenggaraan kesehatan yang ada di RS ini hampir sama dengan RS Islam Ibnu Sina yaitu sepenuhnya disusun secara internal dan tidak dipublikasikan, mulai dari penentuan alokasi anggaran kesehatan dan tender proyek sepenuhnya dilakukan dengan manajemen internal dan yayasan RS yang bersangkutan, demikian juga halnya dengan penyusunan program kesehatan kota Bukittinggi, pihak RS tidak pernah terlibat dengan pihak pemda maupun DPRD Kota Bukittinggi, sedangkan informasi lain yang dapat ditampilkan adalah:

a. badan atau orang yang paling berpengaruh pada pengambilan
keputusan di RS ini adalah internal RS dan manajemen/direksi, b. pihak direksi mengusulkan agar dipikirkan tentang pembentukan sebuah konsorsium rumah sakit se kota Bukittinggi untuk

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

menjembatani berbagai aktifitas yang dilakukan rumah sakit-rumah sakit di kota Bukittinggi ini, sehingga akan terjalin sinergisme kegiatan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat,

c. sebagai konsekuensi logis dari operasional RS swasta adalah profit
oriented bukan nirlaba, dengan arti kata bahwa RS swasta cenderung mencari keuntungan yang sebesarnya namun dibalik itu juga memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien sehingga pasien puas dan senang berobat ke rumah sakit yang bersangkutan, d. selanjutnya issue kesehatan yang dikemukakan adalah masalah penanggulangan HIV/AIDS yang dikatakan sebagai fenomena gunung es sehubungan dengan kota Bukittinggi sebagai kota wisata, dimana didalamnya kemungkinan ada yang disebut dengan ”wisata sex”,

e. persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah kurangnya tenaga
spesialis ataupun subspesialis.

3.6

Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi (DKK) sebagai regulator program

kesehatan di kota Bukittinggi sangat menentukan sekali kesuksesan berbagai program kesehatan yang diprogramkan terutama ditentukan manajemen kesehatan dengan tersedianya data dan informasi, dukungan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu unsur utama manajemen kesehatan adalah informasi kesehatan berupa hasil pengumpulan dan pengolahan data yang merupakan masukan bagi pengambil keputusan di bidang kesehatan. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan diperlukan sebuah indikator, yaitu indikator Indonesia Sehat dan Indikator Kinerja dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, indikator ini telah diluncurkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan yang terdiri: 1. Indikator Derajat Kesehatan yang terdiri dari mortalitas, morbiditas, dan status gizi,

2. Indikator hasil antara seperti kesehatan lingkungan, perilaku hidup,
akses dan mutu pelayanan kesehatan, 3. Indikator proses dan masukan seperti pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan dan kontribusi sektor terkait. Dari hasil pengisian kuesioner didapatkan data-data sebagai berikut:
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Tabel. III.6 Regulator Kesehatan Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi
No. 1 Unit Kerja Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Transparansi 1.Penentuan biaya pelayanan kesehatan di puskesmas sebagai unit pelaksana teknis DKK Bukittinggi diusullkan dari DKK dan dievaluasi 1x2 tahun atau 1x3 tahun. 2.Tender proyek dituangkan dalam Perda Kota Bukittinggi dan didukung dengan persetujuan tenaga teknis. Responsif 1. Kebutuhan sarana dan tenaga untuk pelayanan, obat-obat dan peralatan yang tidak lengkap. 2.Keluhan masyarakat terhadap DKK adalah rendahnya mutu pelayanan yang diberikan petugas kepada masyarakat terutama yang mengeluh kalau ada pelayanan yang mereka rasa tidak ramah dan sikap petugas yang tidak disiplin atau lambat melayani. Desentralisasi 1.Penambahan tenaga profesional sangat diperlukan sekali terutama asisten apoteker, sanitarian, ahli teknologi informasi (TI). 2.Sarana dan prasarana yang dibutuhkan adalah penambahan pustupustu. 3.Issue lingkungan hidup dewasa ini yang dominan adalah dampak dari pengelolaan sampah di kota Bukittinggi, khusus untuk DKK sampah tersebut dibakar dengan incenerator khusus. 4. Persoalan utama bidang kesehatan di kota Bukittinggi adalah gaji dan insentif tenaga kesehatan serta partisipasi masyarakat. 5.Mutu pelayanan kesehatan perlu kiranya pembenahan SDM sehingga akan menghasilkan proses yang bagus dan akhirnya dapat memetik keuntungan finansial, sehingga mutu SDM tersebut dapat ditingkatkan.

Sumber: Hasil Survey Lapangan, 2007

Setelah dilakukan pengisian kuesioner, hal-hal yang perlu dijelaskan dengan melakukan wawancara lebih lanjut didapatkan hal-hal berikut ini:

a. dalam hal penentuan biya pelayanan kesehatan di puskesmas sebagai
unit pelaksana teknis DKK Bukittinggi diusulkan dari DKK dan dievaluasi 1x2 tahun atau 1x3 tahun dan tender proyek pengadaan obat dan alat medis, perawatan gedung, pengadaan alat tulis kantor dan sebagainya

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

dituangkan

dalam

Perda

Kota

Bukittinggi

dan

didukung

dengan

persetujuan tenaga teknis, b. pihak-pihak yang paling berpengaruh dalam penentuan alokasi anggaran adalah Bappeda Kota Bukittinggi kemudian DPRD,

c. penentuan biaya pelayanan kesehatan ditentukan oleh DPRD, sedangkan
tender proyek oleh procurement unit dan promosi aparat ditetapkan oleh bagian kepegawaian pemda, d. keluhan-keluhan tidak lengkap, e. sedangkan keluhan masyarakat terhadap DKK adalah rendahnya mutu pelayanan yang diberikan petugas kepada masyarakat terutama yang mengeluh kalau ada pelayanan yang mereka rasa tidak ramah dan sikap petugas yang tiak disiplin atau lambat melayani, yang diterima DKK dari puskesmas antara lain kebutuhan sarana dan tenaga pelayanan, obat-obat dan peralatan yang

f. praktek KKN dalam hal pengadaan obat dan penyusunan program
kesehatan di DKK Bukittinggi sangat sedikit dan dalam hal pengangkatan pegawai sedikit, g. penambahan tenaga profesional sangat diperlukan sekali terutama asisten apoteker, sanitarian, ahli teknologi informasi (TI), h. sedangkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan adalah penambahan pustu-pustu, i. issue lingkungan hidup dewasa ini yang dominan adalah dampak dari pengelolaan sampah di kota Bukittinggi, khusus untuk DKK sampah tersebut dibakar dengan incenerator khusus, j. persoalan utama bidang kesehatan di kota Bukittinggi adalah gaji dan insentif tenaga kesehatan serta partisipasi masyarakat,

k. untuk mutu pelayanan kesehatan perlu kiranya pembenahan SDM sehingga akan menghasilkan proses yang bagus dan akhirnya dapat memetik keuntungan finansial, sehingga mutu SDM tersebut dapat ditingkatkan, l. komitmen walikota dengan berbagai direktur RS.

3.7

Informasi Bersumber dari Masyarakat

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Informasi primer yang didapatkan surveyor dari masyarakat yang diwawancarai menyatakan bahwa program pelayanan kesehatan yang telah dijalankan pemerintah dalam hal ini Rumah Sakit yang ada di Bukittinggi dan Dinas Kesehatan Kota dengan jajarannya sudah cukup baik, disamping itu mereka mengharapkan beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh Stake holder diantaranya:

a. harus mempertimbangkan tenaga kerja dalam pelayanan kesehatan yang
sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, b. harus dapat mempertimbangkan kebutuhan masyarakat banyak,

c. membuka diri untuk menerima kritikan-kritikan
masyarakat sebagai user pelayanan kesehatan,

yang berasal dari

d. sarana dan prasarana yang sudah mulai memerlukan peremajaan atau penggantian dengan alat yang baru,

e. dalam memberikan surat rujukan kesehatan, diminta kepada pihak
puskesmas dan rumah sakit untuk segera memberikan rujukan reveral dengan melihat kondisi yang telah dialami oleh si pasien, karena kebanyakan dari pasien yang segera membutuhkan rujukan langsung tetapi masih ditanggulangi dahulu dengan obat yang tersedia dimana pasien tersebut berkunjung (RS atau puskesmas).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel. III.7 Pelayanan Kesehayan Yang Dilaksanakan Penyedia Pelayanan Kesehatan di Kota Bukittinggi No 1 2 3 Harapan Masyarakat Mempertimbangkan tenaga kerja dalam pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan Mempertimbangkan kebutuhan masyarakat banyak Membuka diri untuk menerima kritikan yang berasal dari masyarakat sebagai user pelayanan kesehatan % 23 14 20

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

4 5

Sarana dan prasarana yang sudah mulai memerlukan peremajaan atau penggantian dengan alat yang baru Dalam memberikan surat rujukan kesehatan, diminta kepada pihak puskesmas dan rumah sakit untuk segera memberikan rujukan reveral melihat kondisi yang telah dialami oleh si pasien Jumlah

28 15

100

Sumber: Hasil Survey Lapangan, 2007

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
4.1 Visi
Visi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam RPJMD 2006-2010 adalah : Visi : Terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi-potensi unggulan daerah (jasa dan perdagangan, kepariwisataan, pendidikan dan pelayanan kesehatan) yang dijiwai oleh agama dan adat, syarak mangato adaik mamakai
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Sedangkan visi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi adalah : Visi : Terwujudnya masyarakat Kota Bukittinggi yang mandiri untuk hidup sehat. 4.2 Misi Misi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam RPJMD 2006-2010 adalah : Misi : 1. Mewujudkan masyarakat yang berbudaya dan beradat berdasarkan iman dan taqwa

2. Meningkatkan

kualitas

sumberdaya

manusia

yang

profesional dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) 3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana yang mendukung potensi unggulan kota 4. Meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) kota 5. Meningakatkan kualitas pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata, bertanggungjawab dan tercapainya tujuan pemberian otonomi daerah tersebut berupa kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Sedangkan Misi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi adalah : Misi : 1. Meningkatkan kinerja dan mutu upaya kesehatan 2. Memantapkan manajemen kesehatan yang dinamis dan akuntabel 3. Meningkatkan kesehatan 4. Meningkatkan kualitas sumberdaya peningkatan pendidikan dan pelatihan 4.3.Tujuan
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

pemberdayaan

masyarakat

terhadap

kesehatan melalui

Tujuan yang akan dicapai sebagai penjabaran visi dan misi SKPD Dinas Kesehatan adalah guna dan terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil guna dalam rangka terwujudnya derajat kesehatan berdaya

masyarakat yang setinggi-tingginya. Tujuan tersebut dapat tercapai melalui pembinaan, pengembangan dan pelaksanaan serta pemantapan fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian serta pertanggungjawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang didukung oleh sistem informasi kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan serta hukum kesehatan. Fungsi-fungsi administrasi kesehatan . Secara khusus maka tujuan pembangunan kesehatan yang akan dicapai oleh Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi lima tahun kedepan adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan melaluii peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku sesuai dengan syara’ dan adat dalam rangka memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya. 2. Mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat. 3. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan terhadap segenap masyarakat 4. Meningkatkan kualitas tenaga kesehatan dan sarana prasarana kesehatan yang pengelolaannya dilaksanakan secara professional sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan 5. Meningkatkan kualitas manajemen pembanguan kesehatan 5.4 Sasaran pemberdayaan masyarakat (individu, keluarga dan kelompok) dibidang kesehatan melalui upaya promosi kesehatan 2. Terwujudnya masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat 3. Terwujudnya lingkungan yang sehat dtingkat keluarga, kelompok, institusi, tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, sarana air bersih, jamban, saluran pembuangan air limbah dan badan air. 4. Meningkatnya mutu pelayanan oleh tenaga kesehatan terhadap individu, keluarga, kelompok dan institusi 5. Tersedianya tenaga kesehatan yang professional dan handal serta sarana prasarana kesehatan yang memadai
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

1. Terwujudnya

6. Terselenggaranya

manajemen

kesehatan

yang

dinamis

dalam

pembangunan kesehatan Agar pembangunan kesehatan di Kota Bukittinggi dapat diselenggarakan dengan berhasilguna, maka indikator yang akan dicapai oleh Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi pada akhir 2010 adalah mengacu kepada Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang meliputi :

5.5
1. 2. 3. 4.

Strategi Meningkatkan keterpaduan lintas program dan lintas sector dalam Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan Meningkatkan dan menggalang sumberdaya kesehatan dan

pemberdayaan kesehatan masyarakat

memfokuskan kepada program prioritas

5.

Mewujudkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang

baik (good governance) 5.6 Kebijakan
Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Meningkatkan promosi kesehatan Meningkatkan pemberdayaan masyarakat Meningkatkan kualitas lingkungan Meningkatkan upaya kesehatan masyarakat dan perorangan Meningkatkan status kesehatan dan gizi keluarga Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan sarana prasarana Meningkatkan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan Memantapkan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan

kesehatan

BAB 5 PROGRAM DAN KEGIATAN
5.1 Program
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Pengadaan dan pengembangan media promosi kesehatan Pengembangan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat serta pembiayaan dan jaminan kesehatan Peningkatan promosi kesehatan kepada masyarakat Pengawasan kualitas air Penyehatan lingkungan perumahan dan pemukiman Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum Penyehatan makanan dan minuman Pembinaan kota sehat Peningkatan pelayanan kesehatan dasar Melakukan fasilitasi dan pembinaan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan Memberikan dukungan manajemen/administrasi dan operasional puskesmas

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

12 13 14 15 16 17 18

Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko Peningkatan Imunisasi Penemuan dan tata laksana penderita Peningkatan surveilans epidemiologi Peningkatan komunikasi informasi dan edukasi Peningkatan pendidikan kesehatan keluarga dan gizi Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium, Kurang Vitamin A, Kekurangan Zat Gizi Mikro lainnya dan kelainan kesehatan ibu dan anak Peningkatan surveilan kesehatan keluarga dan gizi Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar kesehatan dan gizi Perencanaan dan monitoring evaluasi tenaga kesehatan Peningkatan keterampilan dan profesionalisme tenaga kesehatan melalui pendidikan, pelatihan dan pendampingan Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan Peningkatan ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas Pembinaan dan pengembangan obat tradisional Pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan bahan berbahaya Perizinan sarana dan tenaga kesehatan Pengkajian dan penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan Peningkatan sistem informasi kesehatan Penelitian kesehatan Pengembangan kesehatan

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

5.2 Kegiatan 1. Administrasi Rutin 2. Pembangunan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Pengadaan media penyuluhan Penggandaan CD film kesehatan Penyuluhan kelompok potensial Evaluasi program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Penyuluhan melalui radio Pemutaran film kesehatan Pembuatan spanduk kesehatan Cetak blanko dan poster Penyiaran radio spot Pelaksanaan promkes di televisi Pertemuan pembahasan dan penggandaan profil UKBM Latihan pembinaan dan pemahaman krida Saka Bakti Husada Pembinaan teknis posyandu Evaluasi program rehabilitasi bersumber daya masyarakat Kontak kader/jambore kesehatan Pelatihan kepemimpinan bagi generasi muda Sosialisasi JPKM pada dunia usaha Sosialisasi UU jaminan sosial nasional ( JSN ) Pengambilan sampel air bersih, badan air dan limbah Inspeksi sanitasi sarana air bersih

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71

Kaporitisasi sarana air bersih Sosialisasi peningkatan kualitas air bersih Pemeriksaan sanitasi lingkungan perumahan Penyuluhan kesehatan lingkungan Pengawasan institusi Pengawasan & pengendalian dampak sampah Pengawasan rumah makan Pengawasan hotel Pelatihan higiene dan sanitasi hotel Pengawasan tempat-tempat umum lainnya Penyuluhan keamanan pangan Pengambilan sampel pangan Pembinaan IRT Sosialisasi kota sehat Pertemuan LP/LS tentang kota sehat Pembentukan kelurahan binaan P3K dalam rangka PAM lebaran Pelaksanaan Manajemen QA Kesehatan di RS dan Puskesmas Pelayanan kesehatan melalui Puskesmas Keliling Pemantapan kesehatan jiwa Pertemuan pembinaan program olah raga Pemantapan program kesehatan indera Pemantapan penanggulangan kasus stroke Pemeriksaan kesehatan rutin bagi warga binaan LAPAS kelas IIA Bukittinggi Pemeriksaan kesehatan pegawai DKP Pertemuan evaluasi laporan SP2TP dan analisa 10 penyakit terbanyak Penilaian puskesmas berprestasi Pertemuan evaluasi program sie puskesmas dan pembahasan penilaian hasil kinerja puskesmas Pelaksanaan monitoring evaluasi kegiatan Yankes Pemantapan manajemen dan SP2TP bagi puskesmas Pencegahan dan pemberantasan penyakit serta matra Pembinaan dan pemantauan kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko Pengadaan bahan dan peralatan penunjang penanggulangan faktor resiko Pengadaan dan pemeliharaan sarana logistik Pembinaan terhadap tenaga imunisasi Pengadaan bahan dan peralatan penunjang Penelitian, penjaringan dan pengobatan penderita penyakit menular dan tidak menular Pembinaan SDM pengelola pencegahan penyakit Penanggulangan wabah Pembinaan petugas dalam kewaspadaan dini, investigasi dan penanggulangan KLB Penanggulangan KLB Surveilans kasus dan vektor Peningkatan jejaring dan kemitraan dalam pencatatan dan pemberantasan penyakit Peningkatan upaya sosialisasi dan advokasi Peningkatan SDM, LS dan LP terkait (Pokjanal DBD ) Pengembangan materi KIE kesehatan keluarga dan gizi Penyebarluasan materi pendidikan kesehatan keluarga dan gizi melalui pendidikan formal, non formal dan isntitusi masyarakat Penyelenggaraan promosi kesehatan keluarga dan gizi secara berkelanjutan Penyelenggaran pelatihan teknis dan manajemen kesehatan keluarga dan gizi Pembinaan dan peningkatan kemampuan petugas dalam program kesehatan keluarga dan gizi Penyusunan kerangka kebijakan dan startegi pendidikan kesehatan keluarga dan gizi

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 12 123 124

Penyusunan juklak, juknis kesehatan keluarga dan gizi Pemantauan dan promosi pertumbuhan Intervensi gizi meliputi pemberian makanan tambahan, suplementasi obat program dan fortifikasi bahan makanan Penatalaksanaan kasus kelainan gizi dan tumbuh kembang anak Pendampingan dan kunjungan rumah Pengembangan teknologi pencegahan penanggulangan masalah gizi Peningkatan sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB Peningkatan SKPG dan kesehatan institusi secara lintas sektoral Pemantauan dan evaluasi program kesehatan keluarga dan gizi Pengembangan jejaring informasi kesehatan keluarga dan gizi Fasilitasi upaya pemberdayaan keluarga Fasilitasi revitalisasi posyandu Pengembangan jejaring informasi kesehatan keluarga dan gizi Advokasi program gizi Penyusunan masterplan kebutuhan dan pengembangan SDM kesehatan Monitoring dan evaluasi tenaga kesehatan Pengelolaan data dasar pegawai Penilaian angka kredit jabatan fungsional Peningkatan SDM tenaga kesehatan melalui pendidikan formal dan pelatihan Pelaksanaan pelatihan teknis dan administrasi program kesehatan Penyusunan dan sosialisasi sistem diklat Pengembangan model unit diklat/Tim Diklat Kesehatan Kota Bukittinggi Pelatihan PHBS Pelatihan promkes Pelatihan TOT petugas pembina di puskesmas Pelatihan program perkesmas Pelatihan amdal A Pelatihan amdal B Pelatihan/magang bidang kesehatan lingkungan Pengadaan dan rehabilitasi fisik dan pemeliharaan sarana dan prasarana kesehatan Pengadaan bahan operasional dinas kesehatan, puskesmas, pustu dan UPT lainnya Pengadaan obat-obatan Pengadaan peralatan kesehatan (medis) untuk penunjang pelayanan kesehatan dasar Pengadaan bahan habis pakai untuk penunjang pelayanan kesehatan dasar Pembahasan standar terapi di puskesmas dan pustu Pertemuan penggunaan obat secara rasional (POSR) Pembinaan pelayanan kefarmasian dan alkes di Puskesmas dan pustu Pertemuan pembinaan kosalkes bagi pengelola kosalkes swasta Pembinaan pengelolaan obat bagi pengelola obat di apotek swasta Pemantauan distribusi kefarmasian dan bahan berbahaya di sarana yankes swasta Sosialisasi pengembangan batra dan batantra Pendataan batra & batantra di Kota Bukittinggi Pelatihan kader batantra Monitoring dan evaluasi pembinaan dan pengembangan obat tradisional Penyuluhan tentang pemanfaatan TOGA bagi masyarakat Sosialisasi pencegahan penanggulangan NAPZA bagi guru BP/konseling Sosialisasi toksisitas dan efek samping bahan berbahaya ke sekolah-sekolah Pelatihan pencegahan penyalahgunaan NAPZA bagi remaja Pembinaan perizinan ke RS Bersalin dan Balai Pengobatan Pembinaan perizinan ke optikal Pembinaan perizinan ke tukang gigi Pembinaan perizinan ke pengobatan tradisional Penyusunan Renstra SKPD Dinas Kesehatan

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

125 126 127 128 129 130 131 132 133

Penyusunan Sistem Kesehatan Daerah Penyusunan Standar Pelayanan Minimal dan Indikator Kota Bukittinggi Sehat Pengkajian SOTK Dinas Kesehatan Penyusunan dan pengkajian perda yang berhubungan dengan kesehatan Pengembangkan sistem informasi manajemen perencanaan, keuangan dan perlengkapan Kepegawaian dan cakupan program kesehatan Pengumpulan,pengolahan & penyajian data kesehatan Pelaksanaan penelitian di bidang kesehatan (Surkesda, Survey PHBS, survey cepat,dll) Desiminasi, dokumentasi dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan kesehatan Pengembangan program inovatif bidang kesehatan

BAB 5 PENUTUP Rencana strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Tahun 2006-2010 ini dapat digunakan untuk melakukan penilaian/monitoring program pembangunan sektor kesehatan di Kota Bukittinggi. Untuk mencapai visi “ Terwujudnya masyarakat Kota Bukittinggi yang sehat dan mandiri “ telah ditetapkan misi, strategi dan kebijakan dalam pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan di Kota Bukittinggi. Keberhasilan pelaksanaan program-program dan kegiatan pembangunan kesehatan di Kota Bukittinggi sangat tergantung kepada komitmen serta kesungguhan para penyelenggaranya dalam melaksanakan program dan kegiatan-kegiatan dalam pembangunan kesehatan. Demikianlah Rencana Strategis (Renstra) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi tahun 2006-2010 ini disusun semoga dapat bermanfaat dan dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan pembangunan kesehatan di Kota Bukittinggi.

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

Renstra Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi 2006-2010

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->