Anda di halaman 1dari 2

Birokrasi Yang ‘Mati Rasa’

Oleh : Dinoroy Aritonang1

Masih belum hilang dari ingatan ketika beberapa waktu lalu pemerintah akhirnya menaikkan
harga BBM sekitar 30% dari harga awal. Reaksi yang muncul sampai saat ini adalah maraknya aksi
protes dan ketidakpuasan sebagian rakyat dan elemen mahasiswa terhadap kebijakan tersebut. Belum
lagi hilang masa transisi tersebut, Bangsa ini sudah dimiriskan kembali oleh hasil temuan KPK terkait
dengan pemeriksaan yang dilakukan terhadap Dirjen Bea dan Cukai beberapa hari lalu.
Penyakit kekuasaan
Sudah bukan rahasia lagi apabila muncul pandangan bahwa beberapa unit departemen di
Indonesia diklaim sebagai unit yang ‘basah’. Biasanya unit-unit tersebut merupakan bagian dari
departemen yang dipercayakan sejumlah anggaran yang besar dari APBN atau merupakan departemen
pengelola keuangan atau kekayaan negara. Dalam kondisi ini terdapat kemungkinan bahwa unit
tersebut akan dijadikan sebagai ‘lumbung uang’ atau pun‘special vehicle’ bagi birokasi untuk meraup
uang sebanyak-banyaknya. Modus inilah yang sudah pasti digunakan oleh birokasi secara turun
temurun.
Tepat apa yang dikatakan oleh Lord Acton ketika berusaha menjelaskan tentang kekuasaan
bahwa kekuasaan itu pada dasarnya cenderung untuk menjadi korup apalagi kekuasaan yang mutlak.
Hal ini pula yang saat ini terjadi dalam birokrasi Indonesia. Dalam urusan kepabeanan, Dirjen Bea dan
Cukai adalah lambang lembaga dengan kewenangan yang kuat mulai dari pemeriksaan hingga kepada
penghitungan beban bea dan cukai yang dikenakan kepada pelaku usaha. Belum lagi apabila dikaitkan
dengan kewenangan dalam hal policy making bisa dipastikan bahwa sumber dan inisiatif kewenangan
dalam hal kepabeanan ada di tangan Dirjen Bea dan Cukai. Dalam urusan teknis pemerintahan memang
setiap kewenangan membuat kebijakan diserahkan kepada Departemen Teknis yang terkait dengan
tugas dan fungsinya, untuk kemudian kebijakan tersebut akan diserahkan lagi kepada Direktorat
Jendral (Dirjen) yang wujudnya berupa Peraturan Dirjen. Hal ini rasional, sebab pelaksanaan tugas
pemerintahan dalam lingkup pelayanan publik sangat menghendaki efisiensi dan efektifitas kinerja dan
hasilnya.
Permasalahannya adalah dalam birokrasi yang mengidap ’penyakit’ seperti Indonesia, tujuan
tersebut justru akan menjadi bumerang sebab tidak ada lembaga kontrol dan punishment yang sanggup
untuk mengimbanginya. Apalagi mulai dari tahap perumusan kebijakan hingga pelaksanaan bahkan
evaluasi, semuanya berada dalam satu ’tangan’. Oleh sebab itu tepat pula yang dikatakan Martin
Albrow dalam bukunya yang berjudul Bureaucracy (1970) bahwa birokrasi disatu sisi sebagai efisiensi
administrasi dan disisi lain sebagai inefisiensi administrasi. Bisa dipastikan bahwa ketika hal itu terjadi
maka birokasi pada akhirnya akan menjadi korup.
’Mati Rasa’
Ulah para birokasi memang sudah dalam level yang amat parah. Segala macam batasan baik
itu batasan moral, sosial, hukum, hingga agama semuanya sudah dilanggar. Seolah-olah tidak ada lagi
mekanisme kontrol yang bisa diterapkan untuk mereduksi hal tersebut. Segala macam agenda sudah
dicanangkan mulai dari pembuatan aturan hukum dan lembaga penegaknya, mekanisme akuntabilitas
hingga kepada peningkatan renumerasi. Lantas apalagi yang hendak ’diberikan’ kepada birokasi
sekedar untuk ’membujuk’ agar mental dan sikap yang korup itu tidak terjadi lagi.
Salah satu kekurangan atau mungkin kelemahan dari birokasi Indonesia adalah tidak adanya
mekanisme yang jelas dan mengikat akan transparansi lembaga pemerintahan. Meskipun pemerintah
sudah mulai menggemakannya namun tetap saja hanya beberapa gelintir lembaga yang
melaksanakannya, bahkan bisa dikatakan hilang dengan sendirinya. Sebabnya adalah bahwa sejak awal
pemerintah (SBY-JK) tidak pernah sungguh-sungguh menjadikan hal tersebut sebagai sebuah aksi
nyata dan konsisten namun sebatas ’lip service’ saja. Bisa dikatakan bahwa pemerintahan SBY-JK telah
gagal mengubah dan membawa birokrasi kearah sebagaimana mestinya yaitu sebagai pelayan
masyarakat.
Wajah birokrasi Indonesia tidak banyak mengalami perubahan sebagaimana era-era
sebelumnya. Lembaga pemerintah tetap menjadi ’bangunan’ yang tertutup dan formal jauh dari kesan
terbuka dan ’milik’ rakyat. Seolah-olah menjadi kumpulan orang dengan otoritas yang tidak bisa
dikutak-kutik lagi. Hal ini tepat seperti yang dikatakan Merton dalam Bureaucaracy di atas (Martin
Albrow,1970) bahwa para pejabat (baca : birokrasi) mengembangkan solidaritas kelompok yang dapat
menimbulkan penolakan bagi perubahan yang diperlukan, apalagi jika kondisi tersebut dibangun atas
1 Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara-Lembaga Administrasi Negara Bandung (STIA LAN
Bandung)
dasar norma-norma impersonal, sehingga apabila dikaitkan dengan konteks pelayanan publik, maka
mereka akan cenderung untuk memiliki konflik dengan individu-individu warga negara. Atau mengutip
istilah Mosca (Martin Albrow,1970) ketika membicarakan mengenai birokratisme yaitu sebagai tingkah
laku dan sikap pejabat profesional yang menyakiti warga negara.
Reformasi Total Birokasi
Terkait dengan kondisi di atas, sekali lagi ide reformasi total birokasi tetap relevan. Bukan lagi
sekedar wacana dan program yang terus menerus didengungkan namun harus menjadi kebutuhan yang
segera harus dipenuhi oleh pemimpin bangsa ini. Hal ini tidak memerlukan pertimbangan dan analisis
yang mendalam lagi untuk memahami penyakit birokrasi Indonesia. Sebab sudah jelas bahwa bukti
empiris telah menunjukkan bahwa kondisi birokasi Indonesia tidak beranjak ke arah yang lebih mulia.
Bahkan di tengah-tengah kondisi bangsa yang sedang susah, birokrasi telah menunjukkan bukti sebagai
salah satu faktor penyebab stagnanya perekonomian Indonesia dan penambah beban rakyat.
Bisa dikatakan bahwa Indonesia sudah dalam kondisi yang disebut Marx sebagaimana dikutip
oleh Albrow dalam bukunya di atas bahwa didalam birokrasi, identitas kepentingan negara dan
identitas tujuan pribadi tertentu menjadi begitu kentara, sehingga kepentingan negara menjelma
menjadi tujuan pribadi tertentu, yang bertentangan dnegan tujuan pribadi yang lain. Oleh sebab itu
sangat perlu bagi para aktor dan pelaku dalam birokasi Indonesia untuk mengganti haluan dan ’isi
hati’nya agar kembali kepada kepentingan rakyat. Hidup Reformasi!

******