P. 1
3

3

|Views: 880|Likes:
Dipublikasikan oleh Linda Safitry

More info:

Published by: Linda Safitry on May 29, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

INFO KESEHATAN MASYARAKAT

ISSN 1410-6434 Volume XI, Nomor 2, Desember 2007, Halaman 98–203 Terakreditasi No. 56/DIKTI/Kep/2005 HASIL PENELITIAN

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat di 20 Puskesmas Sumatera Barat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani (Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan) Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (Peeling) Ditinjau dari Faktor Ergonomi di PT Keluarga Mitratani Sejahtera Binjai Tahun 2004 (105–114) Eka Lestari Mahyuni (Fakultas Kesehatan Masyarakat USU) Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (Studi Pendahuluan untuk Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran HIV/AIDS di Kota Kendari) (115–122) Fitrilailah Mokui (Jurusan Epidemiologi Program Studi Kesmas Universitas Haluoleo) Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (Studi Kasus di 7 Kabupaten/Kota, di Provinsi Sumatera Utara) (123–130) Fotarisman Zaluchu, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah (Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara, Medan, Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Bagian PKIP Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara) Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri Fajar Ayu (Department of Administration and Health Policy FKM USU, School of Postgraduate Administration and Health Policy USU) Analisis Risiko Pajanan Mangan dalam Air Melalui Intake Oral terhadap Kesehatan Masyarakat di Sekitar TPA Rawakucing Kecamatan Neglasari Kota Tangerang Provinsi Banten Tahun 2007 (138–148) Taufik Ashar (Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan) Gambaran Kepuasan Pasien Berdasarkan Metode Servqual dan Diagram Kartesius di Rumah Sakit Bakti Yudha Kota Depok (149–157) Siti Khadijah Nasution (Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara) Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Menuju Kepesertaan Semesta (Universal Coverage) di Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih (Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah) Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Binjai Kota (166–171) Heru Santosa (Departemen Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara) Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 terhadap Serum Vitamin B12 dan Hemoglobin Anak Prasekolah (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal (Program Doktor PS GMK SPS IPB, Dept. Gizi Masyarakat FEMA IPB, Dept. Gizi Masyarakat FEMA IPB, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas dan Fak. Kedokteran Univ. Andalas Padang, Fak. Kedokteran UNPAD Bandung)

i

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri di Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta (181–188) Woro Riyadina (Puslitbang Biomedis dan Farmasi Balitbangkes Depkes RI) TINJAUAN PUSTAKA Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja dan Pengetahuan Kespro sebagai Alternatif Penangkalnya (189–197) Abdul Jalil Amri Arma (Departemen Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara) Upaya Eradikasi Polio di Indonesia (198–203) Oke Rina R. dan Kiking Ritarwan (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSUP H. Adam Malik, Departemen Ilmu Penyakit Saraf FK-USU/RSUP H. Adam Malik)

ii

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

GAMBARAN INDIKATOR EVALUASI PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN OBAT DI 20 PUSKESMAS SUMATERA BARAT
Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan ABSTRACT Drug financing is the biggest cost component of health care which is relatively easy to be intervened, especially at the government sector. If key outcome indicators have been determined at the beginning of an intervention measuring whether the objectives of the intervention have been met through changes in these indicators makes it possible to assess the impact of an intervention. The objective of the study is essential regarding the recent decentralization policy. Guidelines on Drug Management and Financing at Puskesmas with indicators adopted from WHO-PAHO “Manual of Rapid Assessment Pharmaceutical Management,1995” as well as indicators recently developed from a study in Pekalongan District in 1999/2000, i.e. cost recovery, actual cost and ability to pay, is intended to increase efficiency, to assess the system and to broaden the knowledge of drug managing staff at District Health Office (Dinkes Kabupaten/Kota), District Pharmaceutical Warehouse (GFK) and Primary Health Care (Puskesmas). This cross-sectional retrospective study was designed to characterize drug use practices in each locality for a sample of at least 20 health facilities, with a minimum of 30 encounters being recorded in each facility. Studying 20 Puskesmas from 4 districts, i.e. Pesisir Selatan, Sawahlunto Sijunjung, Padang Pariaman and Payakumbuh through their medical records (600 from each district) will increase the reliability and generalizability of the indicators. The results of this study shows that in all district, drug budget per capita was too high during 1998-2001 for drug cost per encounter had been determined up to 218% higher than the actual drug cost per encounter and patients’ ability to pay was higher than the actual treatment cost for certain diseases. On the other hand, the cost recovery was declining for all districts. More intensive socialization of rational prescribing for Puskesmas physician to achieve efficiency in drug financing and implementation of this guidelines is necessary, regional authority should better return all Puskesmas retribution entirely. Keywords: Drug financing, Health facility, Assessment guidelines PENDAHULUAN “Pedoman Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat di Puskesmas” hasil penelitian di kabupaten Pekalongan tahun 1999/2000 yang diadopsi dari pedoman WHO- PAHO, Manual of Rapid Assessment Pharmaceutical Management, Based on: An Indicator Approach1, disusun dan disesuaikan dengan keadaan permulaan berlakunya peraturan desentralisasi (UndangUndang Nomor 22 Tahun 19992 tentang Otonomi Daerah dan Peraturan Pemerintah tentang Nomor 25 Tahun 20003 Pemerintahan Daerah). Pengadaan obat di kabupaten/kota tahun 2002 saat penelitian ini dilakukan belum sepenuhnya desentralisasi, serta indikatornya belum dilengkapi dengan indikator biaya pemulihan, biaya riil obat dan ATP (ability to pay). 1,4 Pengelolaan obat di Puskesmas bertujuan agar (a) pengadaan obat sesuai

98

dengan kebutuhan nyata, (b) penggunaan dana obat untuk Puskesmas secara efektif dan efisien, (c) jadwal rencana kebutuhan, pengadaan dan pendistribusian obat untuk Puskesmas tersusun secara tepat, dan (d) penggunaan obat yang tersedia di Puskesmas secara tepat dan rasional.5 Pembiayaan obat merupakan komponen terbesar (30-40%) dari total biaya kesehatan dan relatif mudah diintervensi. Pembiayaan obat sektor pemerintah merupakan mekanisme yang relatif paling mudah untuk diintervensi, meskipun dalam perhitungan belum termasuk biaya pengelolaan dan biaya pelayanan obat. Pembiayaan obat sektor pemerintah mencakup 7,2% dari porsi total biaya obat.6 Pembiayaan obat berkaitan dengan biaya obat dan biaya pengobatan penyakit yang harus dibayar masyarakat, juga pendapatan, kemampuan dan kemauan pasien membayar. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang data dasar evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat dengan adanya desentralisasi menggunakan pedoman yang sudah disempurnakan. Hasil penelitian diharapkan sebagai masukan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten dalam upaya penyediaan data dasar dan menilai keberhasilan pengelolaan obat di kabupaten. Juga merupakan masukan bagi Direktorat Jenderal Pelayanan Farmasi dan Alat Kesehatan Depkes dalam upaya membandingkan keberhasilan pengelolaan obat di suatu kabupaten dengan kabupaten lainnya. METODE PENELITIAN Penelitian Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat dilakukan di 4 kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yaitu Kabupaten Pesisir Selatan, Sawahlunto Sijunjung, Padang Pariaman dan Kota Payakumbuh. Setiap kabupaten/kota diwakili oleh pengelola obat

dinas kesehatan kabupaten, gudang farmasi dan 5 Puskesmas. Intervensi yang dilakukan berupa pelatihan pada tenaga kesehatan tentang pengenalan pedoman evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat dan pengumpulan data primer serta sekunder. Sampel penelitian adalah pasien rawat jalan Puskesmas, masing-masing 60 pasien tiap Puskesmas dengan kriteria orang dewasa yang berobat ke Puskesmas pada saat penelitian berlangsung sehingga total diperoleh 1200 pasien, sedangkan data sekunder adalah medical record tahun 19982001 sejumlah 60 pasien per Puskesmas. Pengumpulan data dilakukan oleh tenaga kesehatan setelah dilakukan pelatihan dengan materi cara penghitungan indikator evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat di kabupaten. Data yang dikumpulkan mencakup data primer dan data sekunder, serta alat pengumpul data untuk penghitungan indikator evaluasi seperti pada Tabel 1. Berdasarkan penelitian terdahulu sebelum undang-undang desentralisai dilaksanakan ada 7 kelompok indikator yang dinilai, setiap kelompok terdiri dari beberapa indikator yang ditetapkan secara kuantitatif hingga semua ada 29 indikator seperti pada Tabel 2. Analisis data dilakukan per kabupaten mencakup analisis trend indikator evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat di kabupaten 4 tahun terakhir serta penghitungan persentase atau rasio setiap indikator evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat pasien rawat jalan di Puskesmas. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penghitungan indikator untuk keempat kabupaten/kota berdasarkan pedoman evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat yang disempurnakan dapat dilihat dalam Tabel 3.

99

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani

Tabel 1. Data dan alat pengumpul data Data yang Dikumpulkan Data sekunder yang berasal dari buku Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, laporan bulanan program kesehatan, dan anggaran/biaya kesehatan (1999 –2002) Data penduduk dari Kantor Statistik Kabupaten Data sekunder yang berasal dari Laporan Tahunan Gudang Farmasi, anggaran/biaya pengadaan obat, pengadaan obat dari pihak lain/non pemerintah, laporan Puskesmas dan harga obat (1999 – 2002). Data sekunder yang berasal dari laporan bulanan Puskesmas kepada Dinas Kesehatan Kabupaten, profil Puskesmas, bantuan kesehatan yang ada (1999 – 2002) Data primer tentang demografi, penghasilan, belanja dan biaya pengobatan pasien rawat jalan. 2002

Alat Pengumpul Data Formulir Isian Dinas Kesehatan Kabupaten Formulir Isian Gudang Farmasi Kabupaten Formulir Isian Puskesmas Kuesioner pasien Puskesmas

Tabel 2. Indikator pedoman evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat No Indikator 1. Anggaran dan biaya kesehatan (GFK) 1. Anggaran/biaya obat per kapita per tahun sektor pemerintah 2. % anggaran/biaya obat kabupaten per anggaran rutin kesehatan kabupaten 3. Biaya obat per kunjungan Puskesmas Pemulihan Biaya (cost recovery) (GFK dan Puskesmas) 1. % pasien yang berkartu sehat 2. Penerimaan retribusi Puskesmas termasuk Askes 3. % retribusi yang disetorkan oleh Puskesmas termasuk Askes 4. % pemulihan biaya (cost recovery rate = CRR) Pengadaan obat (GFK) 1. % pengadaan obat oleh kabupaten per pengadaan obat total 2. % pengadaan obat tender terbuka per pengadaan total kabupaten 3. % pengadaan obat sumber lain Penyimpanan obat (GFK dan Puskesmas) 1. % rerata penggunaan obat dari set indikator obat 2. % rerata obat daluwarsa dari set indikator obat 3. % rerata waktu kekosongan obat dari set indikator obat Akses pasien dan pemanfaatan obat (Puskesmas) 1. Rasio jumlah penduduk per jumlah Puskesmas 2. Rasio jumlah penduduk per jumlah peracik obat 3. Rasio jumlah penduduk per jumlah penulis R/ 4. Lamanya pelayanan medik di Puskesmas 5. Lamanya peracikan obat di Puskesmas 6. Rerata jumlah jenis obat per lembar R/ pasien rawat jalan 7. % jumlah jenis obat generik per lembar R/ pasien rawat jalan 8. % jumlah lembar R/ yang mengandung antibiotika 9. % jumlah lembar R/ yang mengandung obat suntik 10. % jumlah lembar R/ yang obat dan dosisnya sesuai dgn pengobatan dasar Biaya obat dan pengobatan yang sebenarnya (Puskesmas) 1. Biaya obat penyakit tertentu per pasien 2. Biaya pengobatan penyakit tertentu per pasien Kemampuan membayar pasien (Puskesmas) 1. Rerata pendapatan pasien 2. Rerata belanja pasien untuk makanan 3. Rerata belanja pasien untuk bukan makanan 4. Penetapan ATP (ability to pay)

2.

3.

4.

5.

6. 7.

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani

100

101
1 2 98/99 3 4 1 2 1 2 4 1 2 4 1 2 99/00 3 4 2000 3 2001 3 2002 3 4 3212; 2810; 1966; 4.925 38; 306; 945; 655 99; 100; 97; 100 37 ; 355; 5 41; 294 100 ; 100; 100; 100 2573; 5778; 2538;2971 8 ; 65; 5425;3327; - ;5302 3040; 3899; 4725;3092 2558; 3017; 1574; 4.955 48; ; 414; 344; 371 100; ; 88; 100; 86 2314;3452;1350; 2252 1900; 2477; 2258; 2402 607 ; - ; 267 90; 52 ; 77 - ; - ; - ; 2279; 4301; 3365; 2971 - ; - ; 91; 88; 155; 131; 69; 78; 83; 95 256; 152;8116;58528 75; 41; 0,7 ; 12 ; 0 ; 0; - ; - ; 14 0 0 50; - ; 75; - ; 50 16 75; 50; 75; - ; 55; - ; 0,7; 0 ; 0; - ; 3 ; - ; 0 75 52 93; 98 - ; 26544 65 ; 70; 84 ; 75 198; 169; 11.211; 54092 50; 50; 75; 50 - ; 36; - ; 13 ; 0 ; 0 ; 0 ; - ; - ; 75; 56 ; 82 ; 75 327; 43; 27.131; 75768 50; 50 ; 75 ; 0 - ; 62; - ; 29 35 ; 10; 33 ; 33; 48 ; 50 ; 23 33 -; -; 50 ; - ; 35; 33; - ; - ; - ; - ; 50 ; 50 ; 3 ; - ; ; -; - ; 0 ; - ; - ; 0 ; - ; - ; ; - ; - ; ; - ; - ; 2,3 ; - ; - ; 1,0 0 0 ; ; ; -; -; -; - ; 1,0 - ; - ; 0 0 40; 40; 19; 25; 0; 0; ; 1,0 ; 0,01 ; 1,60 - ; -;

Tabel 3. Indikator evaluasi pengelolaan dan pembiayaan obat di Kabupaten Pesisir Selatan, Sawahlunto Sijunjung, Padang Pariaman & Kota Payakumbuh tahun 1998 – 2002

INDIKATOR *

A.Anggaran dan biaya kesehatan 1. Biaya obat/ kapita (Rp)

- ; ,3866 ; - ; 68 ; - ; 180 63 ; - ; 49 -

2. 3.

4.

B.

1. 2.

32 ; - ; 51 - ; - ; 51

3. 4. C. 1. 2.

D.

1.

- ; - ; 52 ; 0,7 - ; - ; 10 ; 1,21 0 ; 0,4

2.

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani

3.

% biaya obat/anggaran rutin % biaya obat sumber lain/obat total Rerata biaya obat/kunjungan (Rp.) Pemulihan Biaya (cost recovery) % pasien bayar retribusi Penerimaan retribusi (ribuan Rp.) % retribusi disetorkan % pemulihan biaya Pengadaan obat (GFK) % pengadaan obat/obat total % pengadaan obat tender terbuka Penyimpanan obat (PKM) % rerata penggunaan obat/set indikator % rerata obat daluarsa/set indikator daluarsa % rerata waktu kekosongan oba/\t/set indikator

- ; - ; 1291 ; - ; - ; 1240 ; - ; - ; 969 ; - ; - ; - ; - ; ; ; 3,2; 2,9; 3,7 ; 3,0 - ; ; ; ; - ; - ; 100; 100; 100 ; 100 13,2; 20; 0 ; 0; 81 ; 81; 7 ; 18 0 ; 0 93; 81 4,2; 6,5 ; 5,0; 4,2; 6,5; 5,0; ; ; ; - ; ; ; - ; ; ; - ; ; ; - ; - ; ; - ; - ; ; - ; - ; ; ; ; ; ; - ; ; - ; -; - ; ; - ; -; ; ; - ; ; - ; ; 5,7 4,6; 7,2 ; 5,3 ; 4,9; 7,3 ; 6,5; 6,0 6,9 5,7 4,6; 7,2 ; 5,3 ; 6,9 4,9; 7,3 ; 6,5; 6,0 ; 815; ; 886 ; ; ; ; - ; ; 12322 - ; 3943 ; - ; - ; 12250 - ;,3920 ; ; - ; 2460 ; - ; - ; ,2733 5.7; 6,1; 5,5; 5,7; 6,1; 5,5; ; - ; - ; ; - ; - ; ; - ; - ; ; - ; - ; ; - ; - ; 5,6 5,6 ;3344; -; 11991 ; 3193; - ; 3837 ; - ; -; 11894 - ; 3806

;

- ;

- ;2440

-

; -

;

- ;2722

; - ; - ; ; - ; - ; ;

;

- ; - ;

-

-

;

- ; - ;

-

-

;

- ; - ;

- ; - ;

-

-

; ;

-

; ;

- ; - ;

-

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani
2500;2000;2500; 2698 3725;4313;3925; 3898 ; - ; - ; - ; ; - ; - ; ; - ; ; ; - ; ; ; ; ; ; - ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; 640 ; 832 ; 744; 805 405 ; 573 ; 403; 444 235 ; 259 ; 341; 361 12000;12975; 17071; 18081 - ; - ; ; ; ; - ; - ; -; - ; -; - ; -; - ; -; -; - ; - ; - ; - ; -

E. Akses pasien dan pemanfaatan obat(PKM) 1. Rasio jumlah penduduk per jumlah sarana pelayanan kesehatan 2. Rasio jumlah penduduk per jumlah peracik obat 3. Rasio jumlah penduduk per jumlah penulis resep 4. Lamanya pelayanan medik di puskesmas (dalam menit) 5. Lamanya peracikan obat di puskesmas (dalam menit) 6. Rerata jumlah jenis obat per lembar resep 7. % jumlah jenis obat generik per lembar resep 8. % jumlah lembar resep yang mengandung antibiotika 9. % jumlah lembar resep yang mengandung obat suntik 10. % jumlah lembar resep yang obat dan dosisnya sesuai dengan pedoman pengobatan dasar puskesmas F. Biaya obat dan pengobatan yang sebenarnya (PKM) 1. Biaya riil obat per kuratif per pasien Rp. 2. Biaya riil pengobatan per kuratif per pasien Rp G. Kemampuan pasien membayar (GFK dan PKM) 1. Rerata pendapatan penduduk/ pasien ( ribuan Rp) 2. Rerata belanja penduduk/ pasien makanan (ribuan Rp) 3. Rerata belanja pddk/ pasien bukan makanan (ribuan Rp) 4. Kemampuan pasien membayar (ATP = ability to pay) Rp

102

* Keterangan: 1 Kab. Pesisir Selatan, 2 Kab. Sawahlunto Sijunjung, 3 Kab. Padang Pariaman, 4 Kota Payakumbuh. • Penetapan anggaran biaya obat semua kabupaten/kota terlalu tinggi, bahkan bisa mencapai 218% lebih tinggi dari biaya riil obat perkunjungan, meskipun ada naik turunnya. Hal ini disebabkan oleh karena persentase penggunaan obat turun terus. Persentase biaya obat per anggaran rutin Dinkes di semua kabupaten/kota, baik termasuk ataupun tidak termasuk dalam anggaran rutin, cukup tinggi. Di Padang Pariaman bahkan bisa mencapai 945% pada tahun 1998/1999, adanya pelatihan tenaga pengelola obat diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengadaan, pendistribusian dan pemanfaatan obat. Persentase biaya obat sumber lain relatif tetap tetapi tahun 2001 cenderung turun karena dimulainya desentralisasi pengadaan obat. Rerata biaya obat per kunjungan umumnya turun terus, hal ini mungkin berarti persediaan obat masih banyak atau pengadaan obat tahun sebelumnya berlebihan, kecuali di di Sawahlunto Sijunjung yang mungkin disebabkan oleh kenaikan harga obat dan penggunaan obat yang berlebihan. Pasien yang membayar tahun 1998-2001 cenderung turun di keempat kabupaten/kota dan menunjukkan meningkatnya jumlah pasien yang tidak membayar retribusi atau pasien JPS. Penerimaan retribusi pada tahun 2001 naik hampir dua kalinya karena kenaikan retribusi Puskesmas, kecuali di Sawahlunto Sijunjung yang mungkin disebabkan oleh meningkatnya pasien JPS. Retribusi disetor oleh Puskesmas dari tahun 1998–2002 relatif turun dan mungkin disebabkan oleh karena biaya operasional Puskesmas naik atau Puskesmas menjadi Puskesmas swadana, kecuali di Sawahlunto Sijunjung tetap karena mungkin berkaitan dengan kebijakan dinkes setempat. Persentase pemulihan biaya dari tahun 1998 2001 menurun di Payakumbuh dibandingkan biaya operasional, hal ini mungkin berarti biaya operasional tinggi dengan meningkatnya jumlah pasien JPS. Persentase pengadaan obat pada tahun 2001 di semua kabupaten/kota naik mungkin karena desentralisasi pengadaan obat yang •

dimulai tahun 2001dan pengadaan dengan tender terbuka baru dilakukan tahun 2001 dengan tujuan peningkatan efisiensi pengadaan obat. Rerata penggunaan obat paling tinggi hanya mencapai 52%, rerata obat daluarsa antara 125% dan kekosongan obat 0-1%. Hal ini mungkin disebabkan karena pengadaan obat berlebih dan pengelolaan obat yang mempunyai masa daluarsa kurang baik. Rasio penduduk per jumlah sarana kesehatan dari tahun 1998 sampai tahun 2001 di payakumbuh relatif tetap seperti halnya dengan rasio jumlah penduduk per peracik obat dan penulis resep yang berarti selama 4 tahun belum ada penambahan sarana kesehatan. Lama pelayanan medik dan lama peracikan obat cenderung naik di semua kabupaten/kota pada tahun 2001. Dengan asumsi jam kerja efektif 5 jam per hari, hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya jumlah pasien dan/atau berkurangnya jumlah sarana pelayanan. Kerasionalan penggunaan obat di semua Kabupaten/Kota berdasarkan rerata jenis obat per lembar resep pasien rawat jalan, persentase penggunaan antibiotik dan injeksi serta lembar resep yang sesuai dengan pedoman umumnya sudah cukup baik. Biaya riil obat per pasien di semua kabupaten/kota yang lebih kecil dari rerata biaya pengobatan per kunjungan menunjukkan anggaran biaya/pengadaan obat berlebihan. ATP pasien atau kemampuan pasien membayar yang jauh lebih tinggi dari biaya riil pengobatan menunjukkan pasien di semua kabupaten/kota ini masih mampu membayar biaya pengobatan Puskesmas.

KESIMPULAN Dari hasil evaluasi berdasarkan penetapan indikator menggunakan pedoman yang disempurnakan secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut: • Penetapan anggaran biaya obat semua kabupaten/kota terlalu tinggi, karena persentase penggunaan obat turun terus. Hal tersebut di atas disebabkan karena penetapan biaya obat per kunjungan dari Kabupaten Padang Pariaman-Sawahlunto Sijunjung-Payakumbuh bisa mencapai 218% lebih tinggi dari biaya riil obat per kunjungan.

103

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani

• •

Pemulihan biaya pada tahun 2001 Kabupaten Sawahlunto Sijunjung adalah 62% dan Kota Payakumbuh 29% sedangkan di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 1999 adalah 41%, berarti anggaran obat belum merupakan anggaran rutin. Rerata biaya obat per kunjungan tahun 2001 lebih tinggi dibandingkan dengan biaya riil obat pasien di 5 Puskesmas tahun 2002 di semua Kabupaten/Kota kecuali Pesisir Selatan, berarti perencanaan dan pengadaan obat tahun lalu berlebihan. Kerasionalan penggunaan obat di semua kabupaten/kota sudah baik. Pasien dari keempat Kabupaten/Kota tersebut mampu membayar biaya pengobatan di Puskesmas.

UCAPAN TERIMA KASIH Para peneliti mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Barat dan Tingkat II (Kabupaten Pesisir Selatan, Sawahlunto Sijunjung, Padang Pariaman, dan Payakumbuh, serta Puslitbag Farmasi dan Obat Tradisional, Badan Litbang Kesehatan yang telah bekerjasama dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA

SARAN 1. Sebaiknya diterbitkan dan disosialisasikan “Pedoman Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat di Kabupaten/Kota” ke Kepala Dinas Kesehatan Tingkat I dan Tingkat II. 2. Pelatihan petugas daerah tentang pemanfaatan “Pedoman Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat di Kabupaten/Kota” dapat dilanjutkan ke semua daerah di Sumatera Barat. Hal ini dimaksudkan agar petugas daerah dapat mengukur sendiri indikator pembiayaan obat dan dapat menyediakan data dasar perencanaan pengadaan obat dan keberhasilan sistem. 3. Peningkatan kerasionalan peresepan di Puskesmas terutama penggunaan antibiotik dan obat suntik.

Credes. Responding to the Crissis Supply and Distribution of Pharmaceutical in Indonesia, ASEM TRUS FUND, 2000. Kota Tahun 2000. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI, 2000. PAHO. Rapid Pharmaceutical Management Assesement an Indicator-based Approach. Washington DC, 1995. Pedoman Teknis Pengelolaan Obat untuk Unit Pelayanan Kesehatan Kabupaten/ Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pemerintahan Daerah Sriana Azis, dkk. Laporan Penelitian Pengembangan Pola Pembiayaan Obat Penyakit Menular (Malaria, ISPA, TBC, dan Campak) di Rumah Sakit Umum dan 4 Puskesmas di Kabupaten Pekalongan. Jakarta, 2000. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat (98–104) Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani

104

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

EVALUASI FASILITAS KERJA DAN SIKAP KERJA PADA BAGIAN PENGUPASAN (PEELING) DITINJAU DARI FAKTOR ERGONOMI DI PT KELUARGA MITRATANI SEJAHTERA BINJAI TAHUN 2004
Eka Lestari Mahyuni Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Jl. Universitas No. 21 Kampus USU Medan, 20155

ABSTRACT
The successful of development with science and technology implementation influenced of human resource in this case the workers. For that reason, any risk that relate with the workers life must be anticipated by fitting the worker, process and work environment with the ergonomic approach. The purpose of this research is to evaluate to fitting of work facilities with the work posture and to recommend the re-design of work facilities to decrease the strain of work. Evaluation by using survey method at PT Keluarga Mitratani Sejahtera, has 30 sample of woman workers at peeling division. The anthropometry of peeling workers is the indicator from this evaluation to fit the workers with the facilities. This evaluation supported by observation of work posture as the interaction effect with the facilities. The result said that the facilities of peeling workers are not fit with the anthropometry. So the workers do not feel comfortable with their work. On the other hand, the work postures such as sitting, peeling, and handling are not ergonomic and cause of the fatigue on the part of the workers body. With body map questioner, the dominant fatigue found out on the back and waist. Beside that, the strain feeling also we can find on their hand and fingers. To solve this problem we should recommend the re-design of facilities and give the ergonomic work posture to decrease the muscular fatigue and increase the productivity. Keywords: Ergonomic, Anthropometry, Work facilities, Work posture, Fatigue, Worker PENDAHULUAN Perkembangan dunia perindustrian dalam era globalisasi dan AFTA semakin pesat dan mengundang persaingan yang ketat antar tiap industri yang ada baik industri besar, menengah, ataupun industri kecil. Persaingan antara negara tidak lagi dilandasi oleh jenis dan jumlah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang mampu dibeli dan dipakai tetapi oleh adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengoperasikan dan memanfaatkan Iptek tersebut secara optimal. Hal ini akan berhasil jika berbagai risiko yang akan mempengaruhi kehidupan para pekerja, keluarga dan masyarakat dapat diantisipasi. Berbagai risiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK), penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomik (Wicaksono dkk., 2003). Ergonomi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara manusia dan lingkungan kerjanya. Di dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan

105

tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Ergonomi berkenaan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja (Nurmianto, 1996). Kelelahan akibat tidak ergonomisnya kondisi sarana, prasarana dan lingkungan kerja merupakan faktor dominan bagi menurun atau rendahnya produktivitas kerja tenaga kerja. Suasana kerja yang tidak ditunjang oleh kondisi lingkungan kerja yang sehat, nyaman, aman dan selamat akan memicu timbulnya kelelahan pada tenaga kerja (Aztanti, 2003). PT Keluarga Mitratani Sejahtera (PT KMS) merupakan salah satu industri menengah besar yang padat karya dan bergerak di bidang industri pangan yang bekerjasama dengan investor Jepang dalam kelancaran proses industrinya. Dari hasil survey yang dilakukan peneliti pada PT KMS ini, seluruh pekerja bekerja selama 8 jam disertai satu kali istirahat panjang selama 1 jam. Dengan pola kerja yang manual banyak ditemui keadaan-keadaan yang tidak ergonomis seperti kursi yang tidak memiliki sandaran, ketinggian meja, gagang pisau yang keras dan kecil, sikap duduk yang membungkuk dan cara pengangkatan dan pengakutan hasil kerja yang salah. Selain itu, terdapat beberapa keluhan pekerja pada bagian tubuh mereka seperti pada punggung, pundak, kaki, pinggang, bahu, dan tangan pekerja karena bekerja dengan posisi yang statis dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: a. Bagaimana keadaan fasilitas kerja yang digunakan pekerja bagian pengupasan (peeling) dalam bekerja ditinjau dari faktor ergonomi? b. Bagaimana sikap kerja dari pekerja bagian pengupasan (peeling) pada saat melakukan kerja ditinjau dari faktor ergonomi? c. Apakah fasilitas yang digunakan pada saat bekerja dapat menyebabkan rasa sakit pada bagian tubuh pekerja? TUJUAN PENELITIAN a. Tujuan Umum Melakukan evaluasi terhadap kesesuaian antara fasilitas kerja yang digunakan pekerja dan postur/sikap kerja serta

merekomendasikan perbaikan fasilitas kerja dalam upaya mengurangi keluhan sakit akibat kerja di PT Keluarga Mitratani Sejahtera. b. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui kesesuaian antara fasilitas kerja dengan anthropometri pekerja ditinjau dari faktor ergonomi pada bagian pengupasan (peeling) di PT Keluarga Mitratani Sejahtera. b. Untuk mengetahui bagaimana sikap kerja meliputi sikap duduk, berdiri, angkat/angkut dari pekerja di bagian pengupasan (peeling) di PT Keluarga Mitratani Sejahtera. c. Untuk mengetahui jenis dari keluhan sakit yang dialami pekerja akibat fasilitas kerja yang digunakan pada bagian pengupasan (peeling) di PT Keluarga Mitratani Sejahtera. d. Mengusulkan rekomendasi rancangan fasilitas kerja dan sikap kerja yang ergonomis dalam mengurangi keluhan sakit pada pekerja. METODE PENELITIAN Dengan rancangan evaluasi deskriptif yang menggambarkan fenomena secara luas dengan menggunakan metode survey, populasi pada penelitian ini adalah seluruh tenaga kerja yang ada pada bagian proses pengupasan (peeling) di PT Keluarga Mitratani Sejahtera sebanyak 30 orang pekerja wanita yang sekaligus menjadi sampel penelitian. Pengambilan sampel ini dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian yang ada dimana seluruh sampel berinteraksi dengan fasilitas yang digunakan dan menunjukkan sikap-sikap ataupun postur kerja yang tidak ergonomis. Instrumen pengumpul data yang digunakan adalah: 1. Martin Human Body Measuring Instrument Model YM-1 yang digunakan untuk mengukur dimensi tubuh (anthropometri) pekerja bagian pengupasan (peeling). 2. Bangku anthropometri yang digunakan untuk mengukur besar popliteal yang dibentuk dan ukuran dimensi tubuh lainnya dalam posisi duduk. 3. Body map quesioner yang digunakan untuk melihat keluhan-keluhan yang

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

106

timbul berupa rasa sakit pada bagianbagian tubuh pekerja akibat kerja fisik yang dilakukan sebelum, selama dan sesudah bekerja. Variabel yang diteliti pada penelitian ini: 1. Anthropometri pekerja yang diambil melalui pengukuran pada dimensi tubuh pekerja bagian pengupasan dan sebagai data untuk melihat kesesuaian antara fasilitas kerja yang digunakan dalam proses pengupasan (peeling) dengan pekerja. 2. Fasilitas kerja yaitu semua alat kerja yang digunakan dalam proses pengupasan (peeling) meliputi kursi, meja, dan alat potong. 3. Sikap/postur kerja meliputi pengamatan terhadap sikap kerja duduk, angkat dan angkut yang ada dalam proses pengupasan (peeling). 4. Keluhan sakit yang timbul akibat kerja yang monoton sebelum, selama dan sesudah bekerja. Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah statistik deskriptif dimana data yang diperoleh didistribusikan secara statistik. Untuk data anthropometri yang diambil pada penelitian ini akan dilakukan uji statistik yaitu uji keseragaman data dan uji kenormalan data dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk digunakan dalam merancang fasilitas kerja yang ergonomis sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan. Gambar kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Proses produksi yang ada pada perusahaan ini adalah pengolahan ubi rambat menjadi pasta (ubi kukus) dan stick (ubi goreng). Pada penelitian ini lebih dikhususkan pada salah satu proses produksi yaitu proses pembuatan kue ubi rambat kukus. Proses pembuatan ubi rambat kukus (pasta) diolah melalui proses-proses kerja yang dikerjakan secara manual dan mekanisasi. Adapun proses pembuatan pasta dari ubi rambat ini adalah sebagai berikut: 1. Raw Material: bahan baku yaitu ubi rambat 2. Sorting Size 1: penyortiran ukuran ubi dari ubi berukuran besar (large), sedang (medium) dan kecil (small) 3. Weight: ubi yang telah disortir ditimbang berdasarkan ukurannya untuk mengetahui jumlah ubi yang masuk. 4. Washing: pencucian ubi rambat yang dimasukkan dalam media pencucian. 5. Sorting Size 2: Ubi yang telah dicuci dan bersih disortir kembali berdasarkan ukuran yang telah ditentukan yaitu besar, sedang dan kecil. Kemudian diangkut ke bagian pertama proses untuk dipanggang (baking) 6. Baking: pemanggangan ubi yang diproses di dalam oven (pemanggangan ubi) 7. Cooling down: ubi yang telah dipanggang dan masak didinginkan beberapa lama di ruang terbuka untuk dikupas.

ERGONOMI: - Anthropometri - Sikap kerja Fasilitas Kerja: - Meja kerja - Kursi kerja - Alat potong Keluhan sakit Rekomendasi ERGONOMI Gambar 1. Kerangka Konsep Tenaga Kerja: Cara duduk Cara mengupas Cara angkat/angkut

107

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

8. Peeling: proses pengupasan kulit ubi terdiri dari 2 bagian yaitu; - First Peeling: yaitu pengupasan pertama dalam bentuk proses mengupas kulit ubi yang telah dipanggang. - Second peeling: yaitu pengupasan kedua dalam proses mengupas kulit ubi yang masih tersisa hasil dari proses first peeling. Bagian ini bisa disebut juga bagian sorting 1 dari proses inti. 9. Sorting: proses penyortiran isi ubi dari kotoran-kotoran ataupun serat-serat yang terdapat dalam isi ubi. Bagian ini terdiri dari 2 bagian yaitu: - Sorting 2: membersihkan ubi dari bintik-bintik hitam yang tersisa dan terdapat dalam ubi. - Sorting 3: menyortir ubi lebih bersih dari bintik-bintik yang mungkin masih terdapat dalam ubi. 10. Mincer: ubi yang telah disortir bersih dihancurkan dalam mesin mincer. 11. Packing: ubi yang telah dihancurkan dimasukkan dalam kantong plastik dan ditimbang beratnya sesuai permintaan. 12. Sorting plastic: ubi yang telah dimasukkan dalam plastik disortir kembali untuk melihat apakah masih ada sisa-sisa kotoran ubi di dalamnya. 13. Vacuum pack: setelah disortir kembali kebersihannya, ubi yang telah dalam plastik dimasukkan ke dalam mesin vakum untuk divakum. 14. Blancing: ubi diratakan atau dirapikan dalam plastik yang telah divakum. 15. Chiller: ubi kemudian dikukus dalam mesin perebusan. 16. Frozen: ubi yang telah dikemas tersebut kemudian didinginkan kembali dalam ruang pendingin. 17. Packing: Setelah beku (dingin) sisa-sisa pembekuan dikikis kemudian ubi dilewatkan melalui mesin methal detector untuk melihat apakah didalamnya terdapat bahan-bahan logam atau benda asing lainnya. Apabila tidak ada maka ubi dapat dimasukkan dalam kotak (packing). 18. Storage: ubi yang telah di-pack dalam kotak disimpan dalam ruang pendingin kembali hingga jumlah kotak telah memenuhi satu container untuk kemudian dikirim ke Jepang.

A. Fasilitas Kerja Untuk melihat kesesuaian fasilitas kerja dengan pekerja seperti yang dituju dalam penelitian ini dapat diperoleh dari hasil pengukuran anthropometri pekerja. (Sutalaksana, 2001). Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan pada perusahaan ini, menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara fasilitas kerja yang digunakan oleh pekerja khususnya pada pekerja bagian pengupasan (peeling) meliputi meja kerja, kursi kerja dan alat potong (pisau kerja) yang digunakan dimana semua fasilitas yang digunakan pekerja peeling ini tidak sesuai dengan anthropometri pekerja. Yang paling jelas terlihat adalah kursi kerja yang mana dapat membentuk sikap kerja yang membungkuk dalam keadaan statis saat bekerja sehingga memicu timbulnya rasa lelah pada bagian punggung dan pinggang ke bawah. Begitu juga dengan alat potong yang digunakan dimana dengan gagang yang kecil dan keras dan tidak sesuai dengan anthropometri genggaman tangan pekerja, membuat pekerja membutuhkan energi yang cukup besar untuk mengupas ubi yang bervariasi bentuk dan besarnya. Belum lagi apabila ubi tersebut tidak terpanggang secara sempurna sehingga membuat ubi tersebut menjadi keras dan sulit untuk dikupas. Akibatnya pekerja banyak merasakan sakit pada tangan dan jari-jari mereka. Dalam hal ini, interaksi salah satu fasilitas dengan fasilitas lainnya seperti kursi dengan meja ataupun dengan pisau kerja yang digunakan dalam proses pengupasan, tidak dapat dipisahkan. Dari kursi kerja yang tidak sesuai dengan anthropometri pekerja menyebabkan pekerja lebih banyak menggunakan sandaran kaki (footrest) kursi untuk menghindari posisi kaki yang menggantung saat duduk. Selain itu, ketinggian meja juga tidak sesuai dan membuat pekerja membutuhkan energi yang lebih besar pada bagian tangan mereka pada saat meletakkan ubi yang telah dikupas ke dalam bowl yang diletakkan di atas meja. Postur kerja demikian yang terjadi secara terus menerus sangat besar pengaruhnya untuk menimbulkan rasa lelah ataupun sakit pada otot tangan.

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

108

Data Anthropometri Pekerja Bagian Pengupasan (Peeling) Dari hasil uji statistik yang dilakukan, menunjukkan bahwa semua data anthropometri yang digunakan adalah seragam dan berdistribusi normal dan seragam. Oleh karena itu semua data yang diukur dapat digunakan sesuai kebutuhan dalam perancangan fasilitas yang ergonomis. Nilai perhitungan persentil dari data
Tabel 1. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

anthropometri pekerja dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2. Untuk mengatasi ketidaksesuaian dari fasilitas yang digunakan ini, maka diperlukan perancangan fasilitas kerja yang ergonomis sesuai dengan anthropometri pekerja untuk memperbaiki fasilitas kerja yang digunakan sekarang ini oleh perusahaan.

Hasil perhitungan persentil dari data anthropometri posisi duduk pekerja bagian pengupasan (peeling) PT Keluarga Mitratani Sejahtera Binjai tahun 2004 Hasil Perhitungan Anthropometri (dimensi tubuh) P 50th P 95th P 5th Tinggi duduk tegak 74.78 79.68 84.58 Tinggi bahu duduk 51.09 55.26 59.42 Tingi mata duduk 62.55 67.48 72.42 Tinggi siku duduk 16.56 20.13 23.70 Tebal paha 9.62 11.69 13.76 Tinggi popliteal 37.01 42.55 48.09 Pantat popliteal 36.44 40.52 44.60 Pantat ke lutut 46.12 49.72 53.32 Lebar bahu 32.15 36.51 40.87 Lebar pinggul 27.20 33.76 40.32 Hasil perhitungan persentil dari data anthropometri tangan pekerja bagian pengupasan (peeling) PT Keluarga Mitratani Sejahtera Binjai tahun 2004 Anthropometri (dimensi tubuh) Hasil Perhitungan P 5th P 50th P 95th Panjang tangan 13.59 15.46 17.34 Panjang telapak tangan 6.03 7.64 9.25 Panjang ibu jari 3.56 5.06 6.56 Panjang jari telunjuk 5.65 7.28 8.91 Panjang jari tengah 6.43 8.19 9.95 Panjang jari manis 5.46 7.35 9.24 Panjang jari kelingking 3.65 5.57 7.49 Lebar ibu jari 1.31 1.66 2.00 Tebal ibu jari 1.18 1.39 1.60 Lebar jari telunjuk 1.29 1.50 1.71 Tebal jari telunjuk 1.20 1.35 1.49 Lebar jari tengah 1.41 1.56 1.71 Tebal jari tengah 1.27 1.40 1.53 Lebar jari manis 1.30 1.42 1.54 Tebal jari manis 1.18 1.31 1.44 Lebar jari kelingking 1.17 1.27 1.37 Tebal jari kelingking 0.99 1.15 1.31 Lebar telapak tangan 5.90 7.73 9.56 Lebar telapak tangan sampai ibu jari 5.40 7.31 9.22 Lebar telapak tangan minimum 4.22 6.05 7.88 Tebal telapak tangan 2.32 2.91 3.50 Tebal telapak tangan sampai ibu jari 1.92 2.41 2.90 Diameter genggam maksimum 5.42 7.38 9.34 Lebar maksimum (ibu jari – kelingking) 13.87 16.01 18.15 Lebar fungsional maksimum 4.19 5.90 7.61 Segiempat min yg dpt dilewati tlpk tangan 5.37 7.41 9.45

Tabel 2. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26.

109

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

Rekomendasi dari rancangan fasilitas kerja yang diperbaiki meliputi: a. Tinggi meja (P 5th dan P 50th): 58 cm b. Sandaran kaki di bawah meja: 25 cm dari sisi luar kaki meja c. Tinggi sandaran kaki meja: 10 cm dari lantai d. Tinggi kaki kursi (P 5th): 37 cm e. Tinggi footrest dari lantai: 10 cm f. Lebar alas kursi ( P 95th): 41 cm g. Panjang alas kursi (P 50th): 40,5 cm h. Lebar sandaran ( P 50th): 37 cm i. Tinggi sandaran (P 5th): 51 cm j. Tinggi kursi (P 50th): 98 cm k. Panjang gagang pisau (P 50th): 7.7 cm l. Lebar gagang pisau: 3 cm m. Besar gagang pisau: 5 cm B. Sikap Kerja Dalam proses kerja pengupasan, terdapat beberapa sikap kerja yang terbentuk dari interaksi antara fasilitas kerja dengan pekerja. Hal ini ditunjukkan melalui gerakgerik alamiah pekerja dan posisi atau posturpostur yang dibentuk tubuh pekerja. Sikapsikap kerja tersebut meliputi: 1. Sikap duduk Pekerja yang bekerja pada bagian pengupasan (peeling) bekerja dengan posisi duduk. Dari hasil observasi yang dilakukan, sikap duduk yang dialami oleh para pekerja tidaklah ergonomis dimana mereka bekerja dengan posisi duduk yang statis selama bekerja, dengan postur tubuh yang membungkuk dan leher dalam posisi menunduk ke depan. Postur ini terbentuk akibat objek kerja yang berada di bawah, yaitu ubi yang dikupas dan dipegang oleh tangan kiri dengan sudut siku ± 400- 650 di depan ataupun agak ke samping kiri dari tubuh bagian depan pekerja. Selain itu kursi kerja yang tidak mempunyai sandaran punggung semakin membuat tubuh pekerja cenderung membungkuk karena tubuh secara alami akan beradaptasi dengan fasilitas yang digunakan. Faktor kebiasaan duduk pekerja juga mempengaruhi postur yang salah ini. Akibatnya pekerja cepat merasakan lelah pada bagian punggung dan pinggang ke bawah. Postur membungkuk ini semakin terlihat pada saat pekerja harus mengupas kulit ubi yang keras karena ketidaksempurnaan dalam proses pemanggangan. Agar dapat mengupas kulit ubi tersebut, pekerja harus

menekan ubi ke bawah dengan lebih kuat dengan cara meletakkan ubi tersebut di atas pangkuan (paha) mereka bahkan terkadang ke bagian perut dan dada kiri atas sehingga tangan akan memberikan tekanan yang lebih besar untuk mengupas kulit ubi tersebut. Akibatnya dengan cara ini terbentuk postur tubuh yang cenderung salah. Cara duduk selain membungkuk, pada umumnya pekerja juga duduk dengan posisi kaki terbuka dimana paha ke bawah menahan krat tempat mereka mengumpulkan hasil kerja berupa kulit ubi yang dikupas. Kaki disandarkan di kaki kursi ataupun diletakkan di atas lantai. Dan hal ini berlangsung sekitar 30-45 menit kemudian adakalanya pekerja merubah posisi duduk tersebut. Samara (2003) menyatakan bahwa duduk dalam waktu yang lama dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah dan ini merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Duduk lama dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot pinggang menjadi tegang dan dapat merusak jaringan lunak sekitarnya. Dan bila ini berlanjut terus, akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan hernia nukleus pulposus. Setelah duduk selama 15-20 menit, otot-otot punggung biasanya mulai letih. Maka mulai dirasakan nyeri pinggang bawah. Namun, orang yang duduk tegak lebih cepat lelah karena otot-otot punggungnya lebih tegang. Sementara orang yang duduk membungkuk kerja otot lebih ringan, namun tekanan pada bantalan saraf lebih besar. 2. Sikap mengupas Pekerja peeling yang terbagi atas 2 bagian memiliki metode kerja yang berbeda dalam mengupas ubi. Untuk bagian first peeling (pengupasan), ubi dikupas sekedar menghilangkan kulit ubi dan masih dibolehkan meninggalkan sisa kulit yang belum terkupas namun dalam frekuensi yang kecil. Cara mengupas ubi pada bagian ini dari bawah ke atas dengan gerak lurus yang disesuaikan dengan bentuk ubi. Dengan ukuran ubi yang berbeda-beda maka untuk tiap ubi dapat diselesaikan dalam waktu yang berbeda pula. Untuk ubi yang berukuran besar, biasanya dapat diselesaikan ±1.5-2 menit sedangkan untuk ubi berukuran kecil ataupun sedang dapat diselesaikan selama ± 0.7-1.3 menit. Pada proses kerja ini tangan

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

110

kanan yang memegang pisau kerja lebih berperan penting karena harus memberikan tekanan dan gaya pada saat mengupas ubi. Di samping itu jari-jari tangan kiri juga berperan besar dimana telapak tangan harus mampu menggenggam ubi dan menjaga keutuhannya pada saat dikupas. Sedangkan bagian second peeling (sortir 1), mempunyai cara potong yang berbeda. Tangan kiri mereka berfungsi lebih banyak untuk mempertahankan keutuhan ubi yang telah dikupas. Sedangkan cara mereka mengupas lebih hati-hati dimana pisau digunakan ditempat-tempat tertentu khususnya pada bagian ubi yang masih dijumpai sisa kulit yang belum terkupas dan kotoran berupa bintik hitam pada ubi. Dalam proses kerja ini membutuhkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi dalam mencari ataupun menemukan kotoran yang masih terdapat di dalam ubi yang akan dibuang dengan mengupasnya hingga ubi tampak bersih. Sebagian besar cara mengupas menggunakan bagian ujung dan tengah pisau dengan gerak dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan hanya ditujukan pada bagianbagian tertentu. Bahkan terkadang ubi dikupas dari atas ke bawah atau dengan menekan pisau kea rah telapak tangan kiri sehingga jari tangan dapat mempertahankan keutuhan ubi. Ubi yang dikupas akan ditahan oleh jari-jari tangan kiri khususnya telapak tangan sekitar ibu jari yang lebih banyak berperan sehingga dapat tetap menjaga keutuhan ubi yang dikupas. Waktu yang dibutuhkan dalam menyortir kotoran ubi untuk tiap ubi berbeda-beda dan juga dipengaruhi oleh bentuk pisau yang digunakan. Untuk ubi besar dapat memakan waktu 2-3 menit bila menggunakan pisau pendek dengan mata pisau melengkung, sedangkan bila menggunakan pisau dengan mata pisau panjang dapat diselesaikan dalam waktu 2.54 menit. Hal ini disebabkan karena lengkungan ubi tidak begitu sesuai dengan bentuk pisau yang digunakan dan tangan kiri ataupun tangan kanan pekerja sedikit lebih sulit dalam mempertahankan keutuhan ubi dibandingkan bila menggunakan pisau pendek yang didesain melengkung. 3. Sikap angkat/angkut Dalam proses kerja peeling juga dijumpai sikap mengangkat dan mengangkut.

Hal ini dijumpai pada saat mereka menimbang ubi yang akan dikupas ataupun menimbang hasil kupasan mereka setelah selesai bekerja. Beban yang diangkat berkisar dari 5 kg sampai dengan 19 kg bahkan adakalanya mencapai 20 kg. Beban angkat ini tidak sesuai dengan standar yang diharuskan dimana seharusnya untuk pekerja wanita diperbolehkan mengangkat 15-16 kg. Sikap tubuh yang dibentuk pada saat mengangkat cukup baik. Namun pada saat mengangkut beban, ada kecendrungan membentuk postur tubuh yang membungkuk dan hal ini sering dijumpai pada saat mereka menimbang hasil kerja Khususnya pada saat istirahat siang dan selesai kerja, dimana masing-masing pekerja mengangkat hasil kerjanya dan satu persatu menimbang hasil kerja mereka. Dengan padatnya pekerja dan timbangan hanya satu buah membuat pekerja berbaris hingga menunggu gilirannya tiba sambil mengangkat krat ataupun trayer yang berisi hasil kupasan mereka. Ada kalanya mereka menunggu dalam waktu yang cukup lama sehingga merasakan ketegangan pada otot tangan mereka akibat mengangkat beban secara statis dalam jangka waktu yang lama. Bila seorang pekerja mengangkat barang sambil membungkuk, tekanan yang besar sekali terjadi pada daerah pinggang sebagai akibat gaya pengungkit. Sebaliknya dengan posisi mengangkat yang benar dimana punggung dalam keadaan tegak, tekanan terhadap pinggang pada saat mengangkut beban tidak mengalami tekanan yang besar bahkan lebih rendah daripada dengan sikap yang membungkuk. C. Body Map Quesioner Data bodymap diperoleh dengan cara menanyakan langsung pada pekerja sebelum bekerja di pagi hari (pukul 07.00 wib), setelah 4-5 jam bekerja ( pukul 12.00 wib) dan sebelum pulang kerja (pukul 16.00 wib). Dengan adanya bodymap ini dapat diketahui alternatif yang dapat membantu dalam mengurangi rasa sakit pada pekerja. Pada pagi hari, rasa sakit yang dialami pekerja tidak begitu serius hanya berupa rasa pegal-pegal pada bagian tubuh tertentu. Pada pukul 12.00 banyak pekerja mengalami keluhan di pinggang (16 orang) dan punggung (15 orang). Rasa sakit lainnya yang banyak dirasakan adalah pada bokong dan tangan kanan khususnya jari-jari tangan

111

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

kanan (masing-masing 13 orang). Pada pukul 16.00 wib, keluhan sakit semakin bertambah, baik pada bagian tubuh yang sama ataupun timbulnya rasa sakit pada bagian tubuh lainnya. Hal ini ditunjukkan dari data di atas dimana rasa sakit di pinggang meningkat menjadi 20 orang dan di punggung sebanyak 21 orang, begitu juga pada bagian bokong (10 orang), pantat (15 orang) dan tangan kanan (16 orang). Bahkan rasa sakit pada tangan kiri khususnya jari-jari tangan kiri sangat meningkat dari sebelumnya (dari 8 orang sakit menjadi 15 orang sakit) bahkan yang pada awalnya (pagi) merasa agak sakit
Tabel 3.

setelah bekerja kembali pekerja merasakan sakit pada bagian yang sama. Kesemua rasa sakit yang dirasakan pekerja ini disebabkan karena duduk pada kursi yang memiliki sandaran punggung terus menerus dalam waktu yang lama, menggunakan pisau kerja untuk mengupas dengan gagang pisau yang kecil dan keras, memegang ubi yang bervariasi bentuk dan ukurannya serta beratnya. Hal ini lebih dipicu lagi karena sikap angkat dan angkut beban yaitu hasil kerja mereka seberat 20 kg. Hal ini melebihi batas maksimum beban yang dapat diangkat oleh pekerja wanita (1516 kg).

Hasil rekapitulasi dari body map quesioner pekerja bagian pengupasan (peeling) PT Keluarga Mitratani Sejahtera tahun 2004 Pukul 07.00 wib Pukul 12.00 wib Pukul 16.00 wib No Jenis keluhan A B C D A B C D A B C D 1. Sakit kaku di leher bagian atas 28 2 0 0 26 0 4 0 25 0 5 0 2. Sakit kaku di leher bagian 23 6 1 0 21 0 9 0 21 0 9 0 bawah 3. Sakit di bahu kiri 23 7 0 0 23 0 7 0 20 1 9 0 4. Sakit di bahu kanan 22 8 0 0 22 0 8 0 21 1 8 0 5. Sakit pada lengan atas kiri 28 2 0 0 27 0 3 0 26 0 4 0 6. Sakit pada lengan atas kanan 28 1 1 0 28 0 2 0 26 0 4 0 7. Sakit di punggung 20 10 0 0 15 0 15 0 9 0 21 0 8. Sakit pada pinggang 22 6 2 0 14 0 16 0 10 0 20 0 9. Sakit pada bokong 28 2 0 0 21 1 8 0 20 0 10 0 10. Sakit pada pantat 23 4 3 0 17 0 13 0 15 0 15 0 11. Sakit pada siku kiri 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 12. Sakit pada siku kanan 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 13. Sakit pada lengan bawah kiri 29 1 0 0 26 0 4 0 26 0 4 0 14. Sakit pada lengan bawah kanan 29 1 0 0 27 0 3 0 27 0 3 0 15. Sakit pada pergelangan tangan 27 3 0 0 22 0 8 0 18 0 12 0 kiri 16. Sakit pada pergelangan tangan 29 0 1 0 26 0 4 0 24 0 6 0 kanan 17. Sakit pada tangan kiri 23 5 2 0 20 2 8 0 15 0 15 0 18. Sakit pada tangan kanan 24 2 4 0 17 0 13 0 14 0 16 0 19. Sakit pada paha kiri 29 1 0 0 29 0 1 0 27 0 3 0 20. Sakit pada paha kanan 29 0 1 0 28 0 2 0 27 0 3 0 21. Sakit pada lutut kiri 29 1 0 0 29 1 0 0 28 0 2 0 22. Sakit pada lutut kanan 29 1 0 0 29 1 0 0 28 0 2 0 23. Sakit pada betis kiri 28 2 0 0 28 2 0 0 27 0 3 0 24. Sakit pada betis kanan 28 2 0 0 28 2 0 0 27 0 3 0 25. Sakit pada pergelangan kaki 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 kiri 26. Sakit pada pergelangan kaki 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 kanan 27. Sakit pada kaki kiri 29 0 1 0 29 0 1 0 29 0 1 0 28. Sakit pada kaki kanan 29 0 1 0 29 0 1 0 29 0 1 0 Keterangan: A : tidak sakit B : agak sakit C : sakit D : sangat sakit

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

112

Di samping itu, terjadinya rasa lelah ini tidak hanya diakibatkan karena ketidaksesuaian antara fasilitas kerja dengan anthropometri dan menunjukkan sikap kerja yang tidak ergonomis, namun rasa lelah juga dapat terjadi pada pekerja yang memiliki riwayat penyakit tertentu seperti anemia, jantung, kurang gizi dan sebagainya. Faktor psikologis juga turut berperan disitu seperti motivasi kerja yang kurang, stress dan adanya ketidakpuasan dalam bekerja. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Fasilitas kerja yang digunakan dalam bekerja di bagian pengupasan (peeling) PT Keluarga Mitratani Sejahtera meliputi meja kerja, kursi kerja dan alat potong (pisau kerja) tidak sesuai dengan anthropometri pekerja. 2. Sikap kerja yang terdapat pada bagian pengupasan (peeling) ini meliputi sikap duduk, sikap mengupas dan sikap mengangkat/mengangkut juga tidak ergonomis. 3. Dari fasilitas kerja dan sikap kerja yang tidak ergonomis tersebut, banyak ditemui keluhan sakit pada beberapa bagian tubuh pekerja yaitu punggung, pinggang, tangan kanan khususnya jari-jari tangan kanan, jari-jari tangan kiri, pantat, pergelangan tangan kiri, bokong, leher, bahu, lengan atas, lengan bawah, paha, lutut dan kaki. SARAN Dengan ketidakergonomisannya sikap kerja dan tidak sesuainya fasilitas kerja yang digunakan pekerja dengan anthropometri pekerja maka bagi perusahaan disarankan: 1. Untuk memperbaiki fasilitas kerja yang digunakan sesuai dengan rancangan fasilitas kerja yang direkomendasikan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan memberikan sistem kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien. 2. Dianjurkan fasilitas pisau kerja diberi bahan yang lunak untuk mengurangi terjadinya pengerasan pada telapak tangan ataupun sendi-sendi jari tangan. 3. Sandaran punggung pada kursi dan alas kursi ditambah dengan bahan yang lembut juga untuk menghindari rasa sakit akibat

penegangan atau kekerasan bahan kursi yang juga mempengaruhi rasa sakit apabila duduk dalam waktu yang lama. 4. Melakukan pencatatan terhadap terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja sebagai data dan informasi perusahaan dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dari waktu ke waktu. 5. Memberikan pelatihan pada pekerja untuk bekerja dalam sikap-sikap yang ergonomis dalam mengurangi rasa lelah ataupun dalam upaya menghindari penyakit akibat kerja. 6. Menerapkan waktu istirahat pendek selama bekerja dengan melakukan streching (peregangan) pada tubuh untuk mengurangi rasa lelah akibat kerja. DAFTAR PUSTAKA Adriana Pusparini, Pekerjaan Monoton, Bunga Rampai Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi), Universitas Diponegoro, Semarang, 2003 Aprianto, Dedy, Joko Siswanto, Ergonomi Makro Dalam Perancangan Sistem Kerja ; Suatu Kajian Literatur, Jurnal Ergonomika, Edisi 4, Laboratorium Perancangan Sistem Kerja & Ergonomi, Institut Teknologi Bandung, November, 2000. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Jakarta, Rineka Cipta, 2002. Astuti, Pudji, dkk, Sistem Kerja Yang Ergonomis Untuk Mengurangi Keluhan Rasa Sakit Dan Memperbaiki Kualitas Produk Pada Divisi Sortir PT. X, Proceeding Seminar Nasional Ergonomi, Kerjasama Perhimpunan Ergonomi Indonesia Dengan Panitia Catur Dasa Warsa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 September 2003 Aztanti Srie Ramandhani, Ergonomi, Bunga Rampai Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi), Semarang,Universitas Diponegoro, 2003 ------------------, Kelelahan (Fatigue) Pada Tenaga Kerja, Bunga Rampai Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi), Universitas Diponegoro, Semarang, 2003

113

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

Bridger, R.S, Introduction To Ergonomics, Singapore,Mcgraw-Hill.Inc, 1995. Goetsch, David L, The Safety And Health Handbook, Ohio, Prentice Hall, 2000. Grandjean, Etienne, Fitting The Task To The Man, A Textbook Of Occupational Ergonomics, London, Taylor & Francis Ltd, 1980 Http://Www.Ydba.Astra.Co.Id/Teknisdetail. Asp?Steknisid=4, Hafid, Peranan Ergonomi Dalam Meningkatkan Produktivitas, Juli, 2002. Kuswadji, Sudjoko, Ergonomi, Perhimpunan Dokter Kesehatan Kerja Indonesia (IDKI), Jakarta, 2003 Labor Occupational Health Program U.C. Barkeley & Maquiladora Health and Safety Support Network, Pelatihan bagi Pelatih Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Jakarta, Indonesia, 26-29 Juni, 2000. Manuaba, Adnyana, Aplikasi Ergonomi Dengan Pendekatan Holistik Perlu, Demi Hasil Yang Lebih Lestari Dan Mampu Bersaing, Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 1, Nomor 1, Agustus, 2003. ------------------, Ergonomi, Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, Proceeding Seminar Nasional Ergonomi 2000, Guna Widya, 2000. Nasution, Harmein &, Iwan Rifai Alam, Materi Pembinaan Kesejahteraan Pekerja Di Perusahaan, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Medan Universitas Sumatera Utara Press, Desember 2000. Nurmianto, Eko, Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya, Edisi Pertama, Surabaya, Guna Widya, 1996 Pulat, B.Mustafa, Fundamental Of Industrial Ergonomics, New Jersey, Prentice Hall Inc, 1992. Samara, Diana,dr, Duduk Lama Dapat Sebabkan Nyeri Pinggang Bawah, KOMPAS Senin, 11Agustus2003, http://www.senior.co.id/kesehatan/new s/0308/11/091848.htm Sastrowinoto Suyatno, Meningkatkan Produktivitas Dengan Ergonomi, Seri Manajemen No. 116, Pustaka Binaman Pressindo, 1985

Sritomo Wignjosoebroto, Ergonomi, Studi Gerak Dan Waktu, Teknik Analisis Untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Edisi Pertama, Cetakan Kedua, Surabaya, Guna Widya, 2000. Suma’mur, P.K, Dr, Msc, Hygiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja, Cetakan Ke-7, Jakarta, Haji Masagung, 1991 ----------------, Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja, Cetakan 1, Jakarta, Haji Masagung, 1989. Sutajaya, I Made, Penerapan Ergonomi Parsipatore Dalam Memperbaiki Kondisi Kerja Di Industri Kecil Menengah Di Bali, Proceeding Seminar Nasional Ergonomi, Kerjasama Perhimpunan Ergonomi Indonesia Dengan Panitia Catur Dasa Warsa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 September 2003 Sutalaksana, Iftikar Z, Ergonomi Kerja Perkembangan Keilmuan, Manfaat Dan Pemasyarakatannya, Kumpulan Makalah Konvensi Nasional V Keselamatn Dan Kesehatan Kerja Tahun 2003, Jakarta, 13-15 Januari, 2003 -----------------------, Sebuah Metodologi Penetapan Persentil Ukuran Anthropometri Untuk Perancangan Produk, Jurnal Ergonomika, Edisi 5, Laboratorium Perancangan Sistem Kerja & Ergonomi, Institut Teknologi Bandung, Maret, 2001. Tambunan, Tulus T.H, Usaha Kecil Dan Menengah Di Indonesia, Beberapa Isu Penting, Salemba Empat Patria, 2002. Wicaksono, Purnawan Adi, Dkk, Identifikasi Penerapan Ergonomi Pada Industri Kecil Menengah Di Kodya Semarang, Proceeding Seminar Nasional Ergonomi, Kerjasama Perhimpunan Ergonomi Indonesia Dengan Panitia Catur Dasa Warsa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 September 2003 Widyanti, Ari, Aurik Gustomo, Analisis Potensi-Potensi Masalah Ergonomi-K3 Pada Pengoperasian Alat Berat Pertambangan, Jurnal Ergonomika, Edisi 5, Laboratoerium Perancangan Sistem Kerja & Ergonomi, Institut Teknologi Bandung,

Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (105–114) Eka Lestari Mahyuni

114

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

PENGETAHUAN DAN PERILAKU SEKS WANITA (STUDI PENDAHULUAN UNTUK PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYEBARAN HIV/AIDS DI KOTA KENDARI)
Fitrilailah Mokui Jurusan Epidemiologi Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Haluoleo ABSTRACT The objectives of this research namely to analyze the level of women’s knowledge with regard to HIV/AIDS, to get the picture of women’s sexual behavior contributing to the increasing of HIV/AIDS cases and kinds of effort that have been performed by women in order to diminish the spread of HIV/AIDS in Kendari Municipality. The kind of study is analytic study with cross sectional study approach. The targets of this research are as many as 378 appropriate women. The result shows that the level of women’s knowledge in relation to HIV/AIDS was still deficient, however safe sex behavior had been implemented, and eradicable attempts performed by governments yet to be maximum. As stated by conclusion, it is proposed to put reproduction health education for women into action, to maximize governments’ efforts especially in the form extensions and to elevate cross program and cross sector cooperation. Keywords: Knowledge, Sex attitude, HIV/AIDS PENDAHULUAN Epidemi HIV/AIDS global sampai saat ini masih mengancam dunia, kasuskasus baru meningkat pesat. Sebelum tahun 2004, data tentang penderita HIV/AIDS di Provinsi Sulawesi Tenggara dinyatakan tidak ada tahun 2005 melalui sero survey tahun 2005 terdeteksi 9 penderita HIV positif. Secara global, perempuan dan remaja putri lebih rentan tertular HIV/AIDS dari pada laki-laki. Separuh dari jumlah odha di seluruh dunia adalah perempuan. Menurut data subdit PMS & AIDS, Depkes RI, proporsi kasus HIV/AIDS pada perempuan semakin lama semakin meningkat. Selain lebih berisiko, perempuan dan remaja putri mendapatkan beban ganda karena di samping harus merawat dirinya sebagai odha juga suami/anggota keluarga lainnya, yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi. Pengetahuan perempuan yang minim tentang HIV/AIDS dan interpretasi yang salah tentang masalah seksual merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya kasus HIV/AIDS. Untuk itu upaya pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan dengan hanya menggunakan obat seperti penyakit lainnya. Kasus HIV positif yang terdeteksi di Kota Kendari Sulawesi Tenggara merupakan masalah yang membutuhkan perhatian untuk segera ditanggulangi penyebarannya. BAHAN DAN CARA KERJA Jenis penelitan yang akan digunakan adalah yaitu survai analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh perempuan yang bermukim di wilayah administrative Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2005. Sampel diambil secara bertingkat (Stratified Random Sampling) atau proportional Stratified Sampling yaitu mengidentifikasi karakteristik umum dari anggota populasi

115

dan kemudian menentukan strata atau lapisan dari jenis karakteristik unit-unit tersebut dan agar perimbangan sampel merata, maka dilakukan perimbangan jumlah. Setelah dilakukan perhitungan menggunakan rumusan Soekidjo Notoatmodjo didapatkan besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 378 orang. HASIL Pentingnya Peningkatan Pengetahuan tentang HIV/AIDS Seluruh responden (100%) yang diwawancarai dalam penelitian ini menyatakan pernah mendengar istilah HIV/AIDS. Sebagian besar dari mereka yaitu sebanyak 86,50%. memperoleh informasi dari media massa. Paling banyak menyatakan bahwa cara Penularan HIV/AIDS Hubungan seks bebas yaitu 57,94%. Yang menyatakan

bahwa orang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan penyakit adalah pekerja seks yaitu 98,15%. Responden yang mengetahui bahwa HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan sebanyak 89,15%. Perilaku Seks yang Aman Mencegah HIV/AIDS Sebagian besar responden tidak setuju dengan pernyataan pentingnya kebebasan seks bagi masyarakat yaitu 91,27%. Yang tidak setuju dengan hubungan seks dengan bukan pasangan sah sebanyak 96,03%. Perilaku wanita yang mengkonsumsi narkoba sebagian besar menyatakan tidak yaitu 96,03%. Dari 9 responden wanita yang mengkonsumsi sebagian besar mengkonsumsi jenis bubuk yaitu 55,56%.

Tabel 1. Distribusi responden yang mendengar informasi tentang HIV/AIDS No Informasi HIV/AIDS N 1. Pernah Mendengar 378 2. Tidak Pernah 0 Total 378 Sumber: Data Primer Tabel 2. Distribusi responden menurut sumber informasi HIV/AIDS No Sumber Informasi N HIV/AIDS 1. Media Massa 327 2. Orang Tua 3 3. Teman 2 4. Seminar 35 5. Lainnya 11 Total 378 Sumber: Data Primer Tabel 3. Distribusi pengetahuan responden tentang cara penularan HIV/AIDS No Cara Penularan HIV/AIDS N 1. Hubungan seks bebas 219 2. Tranfusi Darah 6 3. Alat Suntikan 5 4. Keringat,ludah, dll 125 5. Tidak Tahu 23 Total 378 Sumber: Data Primer

% 100,0 0,0 100,0

% 86,50 0,79 0,53 9,26 2,91 100,0

% 57,94 1,59 1,32 33,07 6,09 100,0

Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (115–122) Fitrilailah Mokui

116

Tabel 4. Distribusi pengetahuan responden tentang risiko tinggi HIV/AIDS No Risiko Tinggi HIV/AIDS N 1. Pekerja seks (WTS) 371 2. Pecandu narkoba 3 3. Tranfusi darah 4 4. Bayi dari ibu 0 Total 378 Sumber: Data Primer Tabel 5. Distribusi pengetahuan responden tentang kesembuhan HIV/AIDS No Kesembuhan Penderita n HIV/AIDS 1. Dapat sembuh 41 2. Tidak dapat sembuh 337 Total 378 Sumber: Data Primer Tabel 6. Distribusi sikap responden tentang kebebasan seks No Sikap terhadap kebebasan N seks 1. Ya 21 2. Tidak 345 3. Ragu-ragu 12 Total 378 Sumber: Data Primer

% 98,15 0,80 1,06 0,00 100,0

% 10,85 89,15 100,0

% 5,56 91,27 3,17 100,0

Tabel 7. Distribusi perilaku responden tentang hubungan seks dengan bukan pasangan sah No Perilaku Seks dengan bukan N % pasangan sah 1. Ya 10 2,65 2. Tidak 363 96,03 3. Ragu-ragu 5 1,32 Total 378 100,0 Tabel 8. Distribusi perilaku responden tentang konsumsi narkoba No Konsumsi Narkoba N 1. Pernah 9 2. Tidak Pernah 369 Total 378 Sumber: Data Primer Tabel 9. Distribusi responden tentang jenis narkoba yang dikonsumsi No Jenis Narkoba N 1. Pil 4 2. Bubuk 5 3. Cairan/suntik 0 4. Lain-lain 0 Total 9 Sumber: Data Primer % 2,38 97,62 100,0

% 44,44 55,56 0,00 0,00 100,0

Upaya Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS Sebanyak 61,38% setuju untuk menggunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit tersebut. Jika mereka mempunyai anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS, sebanyak 49,47% menyatakan akan menempatkannya dalam ruangan khusus. 117

Sebanyak 96,56% wanita responden pernah mendapatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS. Sebagian besar wanita responden yaitu 81,48% menyatakan bahwa mereka mendapatkan penyuluhan HIV/AIDS dari berbagai kegiatan pengajian, media massa.

Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (115–122) Fitrilailah Mokui

Tabel 10. Distribusi upaya responden untuk mencegah penularan HIV/AIDS No Upaya Mencegah n 1. Kondom untuk seks bebas 232 2. Alat suntik steril untuk narkoba 2 3. Menghidari narkoba dan seks bebas 144 Total 378 Sumber: Data Primer Tabel 11. Distribusi upaya responden jika anggota keluarga menderita HIV/AIDS No Upaya Jika Keluarga Menderita n 1. Tidak perlu beri perhatian 113 2. Beri Perhatian 71 3. Ditempatkan di ruangan khusus 187 4. Tidak tahu 7 Total 378 Sumber: Data Primer

% 61,38 0,52 38,10 100,0

% 29,89 18,78 49,47 1,85 100,0

Tabel 12. Distribusi responden yang pernah mengikuti penyuluhan tentang HIV/AIDS No Penyuluhan HIV/AIDS N % 1. Ya 13 3,44 2. Tidak 365 96,56 Total 378 100,0 Sumber: Data Primer Tabel 13. Distribusi pendapat responden menurut pemberi penyuluhan No Pemberi Penyuluhan HIV/AIDS N 1. Pemerintah Kota Kendari 11 2. Dinas Kesehatan 13 3. Organisasi Kemasyarakatan 40 4. Sekolah 6 5. Lainnya, pengajian, dll 308 Total 378 Sumber: Data Primer % 2,91 3,44 10,58 1,59 81,48 100,0

PEMBAHASAN Data HIV positif di Sulawesi tenggara melalui sero survey pada tempattempat hiburan malam menunjukkan bahwa sebagian besar yang mengalaminya adalah wanita. Wanita yang bekerja sebagai wanita penghibur sangat rentan atau memiliki risiko tinggi untuk mengalami penyakit tersebut. Di lain pihak para suami yang mendapatkan penyakit tersebut di luar rumah, jika kembali kepada isteri maka akan menularkannya kepada isteri yang tidak dapat mengetahuinya karena secara hukum syah dan halal untuk berhubungan seks. Selain melalui hubungan kelamin, penyakit ini juga banyak ditularkan melalui jarum suntik. Wanita yang secara psikologis mengukur sesuatu hal lebih banyak melalui perasaan cenderung untuk mengalami stres yang mengarahkannya untuk menggunakan narkoba khususnya jarum suntik. Hal ini juga 118

akan meningkatkan kejadian penyakit HIV/AIDS. Wanita di Kota Kendari seperti kebanyakan wanita di dunia dan di daerah lain di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk tertular HIV/AIDS. Penemuan kasus yang didapatkan oleh pemerintah telah menyentak seluruh elemen masyarakat a. Pentingnya Peningkatan Pengetahuan tentang HIV/AIDS Rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS serta perilaku seks yang tidak sehat meningkatkan tingginya kejadian penyakit tersebut dari tahun ke tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus HIV positif semakin bertambah pada tahun 2006 di Sulawesi Tenggara dan teridentifikasi 2 kasus AIDS. Salah satu diantaranya telah meninggal tetapi keluarga malu untuk menyatakan bahwa yang bersangkutan

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Aktivitas Cholinesterase Darah (24– 32) Indra Chahaya S. dan Evi Naria

mengidap penyakit AIDS. Hal ini akan menyulitkan tenaga kesehatan untuk mendeteksi lebih jauh serta masyarakat yang pernah berhubungan seks dengan penderita tidak akan menyadari kemungkinan mereka telah terinfeksi penyakit tersebut. Pengetahuan perempuan terhadap reproduksi sehat dan HIV/AIDS sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik dari penyuluhan maupun dari media massa serta kemampuan untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut. Pengetahuan akan terbentuk jika seseorang pernah mendengar tentang suatu hal yang akan menarik orang tersebut untuk mengetahui lebih banyak tentang suatu hal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh wanita yang menjadi responden di Kota Kendari pernah mendengar istilah HIV/AIDS. Namun, demikian pengetahuan yang benar diawali dari mendengar dari sumber informasi yang akurat. Sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka mendengar istilah HIV/AIDS melalui media massa terutama media elektronik. Hal ini disebabkan sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga yang aktifitas keseharian mereka sebagian besar di rumah dan media elektronik yang paling mereka senangi adalah televisi. Informasi lain mereka dapatkan di stiker dan pamplet. Sebagian besar responden menyatakan bahwa penularan HIV/AIDS hanya melalui hubungan seks dengan yang bukan pasangan sah. Hal ini disebabkan sebagian besar informasi yang mereka dapatkan baik yang mereka dengar maupun melihat dari iklan dan pamplet hanya menayangkan larangan untuk melakukan seks bebas. Pengetahuan mereka tentang bahaya jarum suntik bagi penularan HIV/AIDS sangat minim. Hal ini akan berdampak pada informasi yang akan mereka berikan kepada anak-anak mereka agar tidak menggunakan narkoba terutama jarum suntik. Menurut penelitian, sebagian besar HIV/AIDS ditularkan melalui jarum suntik saat menggunakan narkoba. Namun demikian beberapa responden menyatakan bahwa HIV/AIDS juga ditularkan oleh keringat, air ludah, air mata dan cairan tubuh lain. Sebagian kecil responden tidak mengetahui cara penularan disebabkan

tingkat pendidikan mereka yang relatif rendah yaitu tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Menurut pengetahuan sebagian besar wanita di Kota Kendari bahwa risiko tinggi untuk menderita HIV/AIDS adalah pekerja seks bebas seperti wanita tuna susila (WTS) dan pria gay. Hal ini disebabkan informasi yang mereka dapatkan sebagian besar menyatakan bahwa penderita HIV positif dan AIDS yang terdeteksi di Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara melalui sero survey pada tempat hiburan malam. Penderita AIDS yang telah diberitakan di media cetak dan elektronik di Sulawesi Tenggara adalah dari kalangan WTS. Hanya sebagian kecil dari mereka yang mengetahui bahwa orang yang paling berisiko tinggi untuk terkena penyakit ini adalah pengguna narkoba khususnya jarum suntik. Namun demikian jarum suntik yang dipakai di Puskesmas, rumah sakit atau klinik kesehatan lainnya tetap mempunyai risiko untuk menularkan penyakit ini. Sesuai dengan teori, sebagian besar responden menyatakan bahwa orang yang menderita HIV/AIDS tidak akan sembuh karena sampai saat ini belum ada obat untuk penyakit tersebut. Selain itu penyakit ini dianggap merupakan penyakit kutukan dari Tuhan karena melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama dan bertentangan dengan norma-norma sosial budaya yang ada di tengah masyarakat. Teori ini sesuai dengan pendapat sebagian besar wanita yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka tidak setuju tentang adanya kebebasan seks yang kini marak di tengah masyarakat. Mereka berpendapat bahwa kebebasan seks ini akan memicu peningkatan kasus penyakit kelamin terutama HIV/AIDS. Responden sebagian besar menyatakan bahwa seorang perempuan sebaiknya seorang gadis ketika menikah masih dalam keadaan perawan. Hal ini menjadi simbol bahwa seorang gadis yang masih perawan adalah merupakan gadis yang baik-baik dan bukan murahan. Wanita boleh melakukan hubungan seks jika telah menikah secara sah, dan saling mencintai. Wanita yang baik juga diindikasikan jika tidak menggugurkan kandungan jika hamil di luar nikah. Oleh karena itu, sebaiknya seorang wanita melakukan hubungan seks hanya dengan pasangan sah.

119

Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (115–122) Fitrilailah Mokui

Sesuai dengan pernyataan responden, sebagian besar menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengkonsumsi narkoba. Data ini dapat bersifat subyektif karena wawancara yang dilakukan bersifat langsung dimana pertanyaan ini sensitif. Oleh karena itu sebagian besar responden tidak mengetahui bahwa salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah melalui jarum suntik narkoba. Bagi responden yang menggunakan narkoba sebagian besar menggunakan obat berupa pil penenang dan bubuk seperti shabu-shabu. Pengguna narkoba ini merupakan wanita yang bekerja di tempat hiburan malam. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyebaran kasus HIV/AIDS adalah upaya internal bagi setiap individu dan upaya eksternal yang dapat dilakukan untuk memperkuat kemauan individu untuk menghindari penyakit yang berbahaya ini. Upaya internal individu erat kaitannya dengan pengetahuan dan perilaku seks yang sehat yang dipraktekkan oleh individu. Upaya yang dilakukan individu untuk mencegah penularan HIV/AIDS sebagian besar dilakukan dengan menggunakan kondom bagi yang melakukan seks bebas. Hal ini sesuai dengan pengetahuan mereka bahwa orang yang berisiko tinggi untuk menderita penyakit ini adalah yang berhubungan seks dengan yang bukan pasangan sah. Seorang wanita harus mampu mengambil sikap yang bijaksana jika ada anggota keluarga yang menderita HI/AIDS. Hal ini bertentangan dengan pernyataan sebagian besar responden bahwa jika ada anggota keluarga atau kerabat yang menderita penyakit ini maka mereka harus ditempatkan dalam ruangan khusus dengan fasilitas yang khusus pula. Seperti alat makan dan minum, serta alat mandi yang terpisah dari anggota keluarga lainnya. Hal ini diakibatkan anggapan sebagian besar dari responden bahwa penyakit ini dapat menular melalui cairan air mata dan alat-alat rumah tangga. Pendapat dan pandangan yang keliru ini dapat diluruskan dengan pemberian informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat. Informasi yang akurat ini penting untuk mencegah peningkatan kasus HIV/AIDS yang terjadi. Oleh karena itu

semua elemen masyarakat harus didorong untuk mengambil peran dalam mencegah serta menanggulanginya. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Sulawesi Tenggara telah terbentuk demikian pula dengan KPAD Kota Kendari. Lembaga ini dibentuk dari berbagai elemen masyarakat, baik pemerintah, institusi, swasta maupun organisasi keagamaan dan organisasi kemasyarakatan. Tujuan nyata dari lembaga ini adalah untuk merumuskan langkah-langkah konkrit dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kota Kendari. Kegiatan ini dilakukan dapat berupa pemberian pendidikan kesehatan resproduksi terutama terhadap kaum wanita yang merupakan komunitas terbesar dalam masyarakat sekaligus memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit tersebut. Pendidikan kesehatan ini diberikan melalui ceramah keagamaan seperti program Badan Kontak Majelis Taklim Kota Kendari yang secara rutin mengadakan ceramah Agama Islam bagi ibu-ibu dan remaja putri di seluruh masjid Kota Kendari dengan program “Suara di balik Surau”. Kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh KPAD adalah memfasilitasi LSM lokal yang bergerak di bidang kesehatan umumnya dan penanggulangan HIV/AIDS pada khususnya. KPAD juga dapat memberikan justifikasi kepada pemerintah lokal untuk menganggarkan dan memprogramkan kegiatan yang dapat membantu penanggulangan HIV/AIDS di segala sektor. Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara dengan para responden wanita, sebagian besar dari mereka tidak pernah mengikuti mendengar ataupun mengikuti penyuluhan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Kebanyakan informasi mereka dapatkan hanya dari televisi yang disiarkan oleh pemerintah pusat. Pendidikan kesehatan yang bersifat non formal kebanyakan mereka dapatkan melalui seminar yang diadakan oleh LSM ataupun informasi di Televisi Swasta yang bersifat lokal seperti Kendari TV dan radio swasta yang berisi dialog interaktif para remaja. Ibu-ibu yang sering mengikuti pengajian juga menyatakan bahwa informasi penyakit HIV/AIDS dan penyakit kelamin terkadang disampaikan pada saat pengajian.

Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (115–122) Fitrilailah Mokui

120

KESIMPULAN Dari uraian di atas kita dapat menarik beberapa kesimpulan, yaitu: Sebagian besar wanita di Kota Kendari telah mendengar tentang istilah HIV/AIDS melalui media massa baik media elektronik (televisi, radio) maupun media cetak seperti majalah dan surat kabar, tetapi pengetahuan tentang cara penularan, kelompok yang berisiko tinggi masih rendah. Hal ini diindikasikan dengan masih rendahnya pengetahuan tentang penyebab HIV/AIDS, orang yang berisiko tinggi untuk mengidap HIV AIDS, dll. Sebagian besar mereka tidak mengetahui bahwa penyebab utama penularan penyakit ini melalui jarum suntik narkoba. Perilaku seks yang berisiko sebagian besar responden rendah, hal ini disebabkan sebagian besar responden yang diwawancarai adalah wanita yang telah menikah dan memiliki pasangan yang sah. Upaya individu yang dilakukan untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran HIV/AIDS di Kota Kendari sebagian besar dilakukan dengan menghindari seks bebas dan penggunaan narkoba serta jarum suntik. Upaya pemerintah khususnya Pemerintah Kota Kendari berupa penyuluhan dan bimbingan serta pendidikan kesehatan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS masih sangat kurang. Hal ini diakui oleh sebagian besar responden dimana mereka sebagian besar tidak pernah mendapatkan informasi dari kegiatan penyuluhan oleh pemerintah baik melalui simposium, seminar maupun melalui media cetak. SARAN Berdasarkan kesimpulan maka disarankan: 1. Pendidikan kesehatan reproduksi khususnya terhadap wanita dan remaja putri harus segera dilaksanakan mengingat akses remaja putri khususnya terhadap informasi yang tidak akurat masih ada. 2. Pemerintah harus tetap menggalakkan penyuluhan bagi masyarakat pada umumnya dan menyediakan fasilitas bagi para penderita HIV/AIDS berupa perbaikan pelayanan Voluntary and Conseling HIV/AIDS.Hal ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan kinerja KPAD (Komisi Pemberantasa AIDS Daerah).

3. Kerja sama pihak terkait, baik dari kalangan pemerintah, akademik maupun lembaga swasta/Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi cepatnya penyebaran kasus HIV/AIDS. DAFTAR ACUAN Adi Utarini, Dr., dalam Marge Koblinsky, at all, 1997, Kesehatan Perempuan: Sebuah Perspektif Global, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Badan Pusat Statistik, 2004, Kota Kendari Dalam Angka Tahun 2004, BPS, Kendari. Bhisma Murti., 1997, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Depkes RI Dirjen P2M dan PLP, 1997, AIDS: Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan, Depkes, Jakarta. ________________________, 1999, Surveilans AIDS, Depkes, Jakarta. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara, 2004, Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara, Dinkes, Kendari. Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Dirjen Dikti, 2002, Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dirjen Dikti, Jakarta. Hutapea, Ronald, 1995, AIDS, PMS dan Perkosaan, Rineka Cipta, Jakarta. Kantor Menteri pemberdayaan perempuan RI, UNFPA Dan BKKBN, 2001, Panduan Pelatihan Regional Pengarusutamaan Jender Di Bidang Kesehatan Reproduksi dan Kependudukan, Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan Program BKKBN, Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan, 2004, Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan di Berbagai Bidang, Kementrian Pemberdayaan Perempuan, Jakarta. Panitia Nasional Kampanye AIDS Sedunia Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI, 2004, Dukung Perempuan Melawan HIV/AIDS, Pelita Mandiri, Jakarta.

121

Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (115–122) Fitrilailah Mokui

Siswandi Suarta, 2002, AIDS Dalam Pandangan Islam, Majalah “Kabar” Media Informasi Jender dan Kesehatan, Edisi XV/November 2002, Jambi. Soekidjo Notoatmodjo, Prof, Dr., 1996, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta. __________________________, 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi Offset, Yogyakarta. Soekidjo Notoatmodjo, Dr., 1993, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

Sudarsono, Drs, SH., 1990, Kenakalan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta. Su’udan M.D, Dr., SKM., 1997, Al Qur’an dan Panduan Kesehatan Masyarakat, PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta. Teguh Pramono, MA., dkk, 2002, Profil Statistik dan Indikator Gender Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2000, CV Sabena Utama, Jakarta. Thowaf, 2004, Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia, Embrio: Buketin Kesehatan Reproduksi Berperspektif Gender, Edisi 19 September 2004.

Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (115–122) Fitrilailah Mokui

122

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

STUDI KOMPARATIF KELUHAN PASIEN DI RUMAH SAKIT DENGAN PASIEN DI PUSKESMAS (STUDI KASUS DI 7 KABUPATEN/ KOTA, DI PROVINSI SUMATERA UTARA)
Fotarisman Zaluchu1, Sori Muda Sarumpaet2, dan Syarifah3
2

Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara, Medan Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara 3 Bagian PKIP, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara

1

ABSTRACT Nowdays the health services should be oriented to the consumers in order to increase their quality. The consumer needs and satisfaction have to clarify and their complaint should be identifiy for improving the health management. The purpose of this study was to find and to compare the consumers complaint at hospitals and health centers, and to know how their gave their feedback. The study design was a cross sectional study, located at 7 districts, consist of 3 hospitals and 4 health centers In each location, 50 respondents as a consumer of health services was interviewed using structured questionnaire. The results of this study are consumer of health centers have complaint (16, 57%), higher than consumer of hospital (14,28%), 60% of consumer of hospitals did not express their complaints. The main reason of hospitals consumer hesitated to give feedback and tough that complaints are useless. This study also found that the main complaints are low responsiveness and unsatisfied empathies of the health providers. The consumers felt that sending complaints directly to the health providers are more effective or expressed it to their friends. Only 50% of hospital consumers and 63,6% of health center consumers feel satisfied. Keywords: Consumer complaint, Consumer satisfaction, Health services PENDAHULUAN Kepuasan dirasakan oleh seseorang yang telah mengalami suatu hasil (out come) yang sesuai dengan harapannya. Jadi kepuasan merupakan fungsi dari tingkat harapan yang dirasakan dari hasil kegiatan. Apabila suatu hasil kegiatan melebihi harapan seseorang, orang tersebut akan dikatakan mengalami tingkat kepuasan yang tinggi (highly satisfied). Apabila hasil kerja tersebut sama dengan yang diharapkan, seseorang dikatakan puas (satisfied). Akan tetapi apabila hasil tersebut jauh di bawah harapan, seseorang akan merasa tidak puas (dissatisfied). Kepuasan terbentuk berdasarkan pengalaman seseorang terhadap 123 pengalaman yang lalu dengan kejadian yang sama, melalui suatu pernyataan yang dibuat oleh teman-teman atau orang lain yang berhubungan dengan kita. Pernyataan yang dibuat organisasi supplier mempengaruhi kepuasan seseorang bukan hanya pada hasil produksi yang baik akan tetapi juga atas dasar suatu harapan yang telah mereka buat sebelumnya. Begitu pula terhadap ketidak puasan; apabila suatu hasil produksi menghasilkan banyak keluhan tampaknya hasil kerja tersebut tidak memuaskan. Apabila sedikit keluhan terhadap hasil kerja tersebut, hasil kerja tersebut memuaskan.1 Kepuasan sering dikaitkan dengan mutu. Mutu berarti kepuasan pelanggan, baik

internal maupun eksternal. Kepuasan tidak hanya bagi pelanggan ataupun pasien akan tetapi akan dirasakan oleh petugas kesehatan. Jika kepuasan petugas kesehatan terpenuhi, diharapkan akan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pasien ataupun pelanggan.2 Dalam bidang kesehatan mutu adalah terpenuhinya keinginan seseorang yang paling membutuhkan pelayanan kesehatan yang memuaskan pelanggan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata pelanggan, serta diberikan sesuai dan etika profesi.3 Kebutuhan konsumen kesehatan amat bervariasi. Secara umum, kebutuhan konsumen kesehatan adalah kebutuhan terhadap akses layanan kesehatan, layanan yang tepat waktu, layanan yang efektif dan efisien, layanan yang layak dan tepat, lingkungan yang aman serta penghargaan dan penghormatan. Sementara itu terdapat kebutuhan khusus konsumen, antara lain kesinambungan layanan kesehatan dan kerahasiaan.4 Hal-hal tersebutlah yang mempengaruhi kepuasan konsumen di sarana pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan yang lazim dikenal oleh konsumen di Indonesia adalah rumah sakit dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Kedua jenis sarana pelayanan kesehatan ini sudah lama menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam melakukan upaya kesehatan sesuai dengan perkembangan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. Sarana pelayanan kesehatan sekarang ini harus mengikuti kebutuhan dan kepuasan konsumennya. Dengan pendekatan jaminan mutu layanan kesehatan kesehatan, kepuasan adalah bagian integral dan menyeluruh dari kegiatan jaminan mutu layanan kesehatan. Artinya, pengukuran tingkat kepuasan harus menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu layanan kesehatan. Konsekuensi dari pola pikir yang demikian adalah dimensi kepuasan konsumen menjadi salah satu dimensi mutu layanan kesehatan yang penting.4 Beberapa metode dalam pengukuran kepuasan pelanggan adalah, 1) Sistem keluhan dan saran; untuk memberikan kesempatan kepada pelanggan menyampaikan keluhan ataupun saran, organisasi yang berorientasi pelanggan

(costumer centered) memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak saran, kartu komentar, customer hot lines dan lain-lain. 2) Ghost Shopping; merupakan salah satu cara untuk memperoleh gambaran kepuasan pelanggan/pasien dengan memperkerjakan beberapa orang berperan sebagai pembeli untuk melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan maupun pesaing. 3) Lost Customer Analysis; yaitu dengan menghubungi pelanggan yang berhenti berlangganan dan memahami mengapa hal tersebut terjadi. Peningkatan lost customer rate menunjukkan kegagalan perusahaan untuk memuaskan pelanggan dan 4) Survey Kepuasan Pelanggan; yaitu dengan melakukan survey untuk dapat memperoleh umpan balik ataupun tanggapan secara langsung dari pelanggan.1 Interaksi antara konsumen dengan sarana layanan kesehatan memang harus dipahami dalam kerangka perilaku. Sebagaimana kita ketahui bahwa ketika seseorang mengalami penyakit, maka berkembanglah perilaku sakit. Seseorang yang menganggap dirinya sakit lalu membandingkannya dengan konsep sehat sakit masyarakat, lalu merasakan bahwa penyakitnya serius baru dia masuk pada tahap pencarian pelayanan.5 Dalam hal pemilihan pelayanan, pelayanan kesehatan mungkin bukanlah alternatif pertama yang dicari. Akibatnya, keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan sering sekali terlambat, apalagi pada kasus-kasus penyakit yang masa inkubasinya panjang atau pada masa inkubasi tidak ada tandatanda yang mengganggu aktivitas fisik individu. Untuk itu ketika pasien mengambil keputusan untuk mengunjungi pelayanan kesehatan, seharusnya para penyedia layanan kesehatan (provider), yaitu para petugas kesehatan harus memahami tahap dan proses panjang yang telah dilalui pasien sebelum sampai pada tangan mereka. Artinya, interaksi yang baik kepada pasien dari petugas harus dibangun agar jangan sampai mengecewakan pasien dan akhirnya memutuskan tidak memilih pelayanan kesehatan.

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

124

Memang, di beberapa sarana layanan kesehatan, sudah dilaksanakan mekanisme untuk menanggapi keluhan pasien. Di Propinsi Sumatera Utara, terdapat lima sarana yang dikembangkan oleh sarana layanan kesehatan, yaitu telepon/faks, kotak saran, forum kesehatan kota (FKK), penerimaan keluhan langsung kepada dokter/ petugas kesehatan dan penyampaian langsung kepada keluarga. Namun hasil terhadap mekanisme tersebut belum banyak diketahui. Penelitian ini dirasakan sangat penting mengingat kepuasan pasien atas keluhannya yang ditanggapi oleh sarana layanan kesehatan, menjadi indikator dan tolak ukur kualitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian akan dapat dilakukan perbaikan terhadap sarana pelayanan kesehatan dimaksud. Membandingkan keluhan dan kemudian kepuasan pasien atas tanggapan terhadap keluhan tersebut di rumah sakit dan Puskesmas amat penting dilakukan mengingat kedua sarana layanan kesehatan itu masih merupakan sarana layanan kesehatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Jika kita kaitkan dengan mutu, ketiadaan informasi mengenai hal ini dapat menyebabkan pihak manajemen mengambil kebijakan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kosumen. Akibatnya dapat terjadi marjinalisasi masyarakat dalam sarana layanan kesehatan. Banyak pihak berharap perbaikan atas tanggapan terhadap keluhan konsumen ini akan menjadi gerbang bagi munculnya sistem kesehatan madani; yaitu sebuah sistem yang komitmen terkuatnya ditujukan pada kesehatan masyarakat; dimana masyarakat bukan diperlakukan sebagai objek melainkan sebagai subjek yang turut berperan dalam pelayanan kesehatan sejak dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi maupun pembiayaan kesehatan.6 BAHAN DAN METODE Penelitian menggunakan disain cross sectional study dalam bentuk survei. Populasi penelitian adalah semua pasien Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah di Provinsi Sumatera Utara. Sampel dipilih secara purposive di 7 (tujuh) Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara yakni Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, Kota Tebing

Tinggi, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, dan Kota Pematang Siantar. Sampel Puskesmas juga diambil secara purposive yang diwakili oleh Kabupaten Karo, Simalungun, Medan dan Langkat. Untuk Kabupaten Karo Puskesmas terpilih adalah Puskesmas Kabanjahe, Kabupaten Simalungun oleh Puskesmas Batu Anam, Kota Medan diwakili oleh Puskesmas Medan Polonia, dan Kabupaten Langkat oleh Puskesmas Stabat. Sampel rumah Sakit diwakili oleh RSU Daerah Lubuk Pakam di Kabupaten Deli Serdang, RSU Kota Tebing Tinggi di Kota Tebing Tinggi dan RSU Daerah Kota Siantar di Kota Pematang Siantar. Responden adalah pasien pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah di lokasi terpilih. Pemilihan responden berdasarkan quota sampling sebanyak 50 orang pasien di masing-masing sarana pelayanan kesehatan yang berada di Kabupaten/Kota yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan pasien di Puskesmas, dipilih hari kunjungan terbanyak. Pada hari kunjungan terbanyak tersebut, dicarilah pasien sampai memenuhi jumlah 50 responden yang sedang berkunjung di Puskesmas tersebut. Total sampel untuk untuk Puskesmas adalah 200 responden. Responden untuk rumah sakit adalah keluarga dekat pasien rawat inap (dewasa yang dapat diwawancarai), yakni pasien rawat inap yang minimal sudah 3 hari di rawat di Rumah Sakit. Di masing-masing Rumah Sakit, dicarilah pasien sampai memenuhi jumlah yang telah ditetapkan, yaitu 50 orang pasien. Total sampel untuk Rumah Sakit adalah 150 responden. Untuk kedua jenis sarana pelayanan kesehatan, jumlah sampel seluruhnya adalah 350 orang pasien. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji coba. HASIL Karakteristik responden. Responden dalam penelitian ini umumnya berusia lebih dari 18 tahun. Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat distribusi menurut kelompok umur, yang terbanyak adalah responden yang berusia lebih dari 35 tahun. Ini tidak menggambarkan sebaran populasi secara umum, mengingat bahwa jumlah responden

125

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

di setiap lokasi penelitian hanyalah 50 orang saja. Masih dalam tabel yang sama, terlihat bahwa mayoritas responden telah pernah berobat ke sarana pelayanan lokasi penelitian sebanyak 2 kali (27,7 persen) dan bahkan ada yang lebih dari 4 kali (20,6 persen). Ini berarti bahwa mereka yang menjadi responden telah dapat menunjukkan pengalamannya selama berhubungan dengan pelayanan kesehatan tersebut. Sementara itu, sebanyak 61,1 persen responden ternyata adalah pasien yang dilihat dari segi waktu adalah pasien yang barusan saja berobat di sarana pelayanan kesehatan. Hanya ada 2,9 persen responden yang berobatnya lebih dari 3 bulan yang lalu. Keluhan pasien. Berhubungan dengan keluhan yang mereka alami selama berada di sarana pelayanan kesehatan, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2. Ternyata terdapat pasien pelayanan kesehatan yang mengalami keluhan. Sebanyak 14,28 pasien di rumah sakit menyatakan pernah memiliki keluhan, dan 16,57 persen pasien Puskesmas menyatakan pernah memiliki keluhan. Dari jumlah itu, tindak lanjut tindakan responden kemudian dipertanyakan. Ternyata, di rumah sakit, hanya 40 persen dari mereka yang memiliki keluhan kemudian menyampaikannya. Sementara itu, sebanyak 51,7 persen pasien Puskesmas yang memiliki keluhan justru pernah menyampaikan keluhan tersebut. Bagi mereka yang tidak menyampaikan keluhan, baik yang mengunjungi rumah sakit maupun Puskesmas diberikan pertanyaan lanjutan. Dari mereka yang memiliki keluhan di Rumah Sakit, tetapi tidak pernah menyampaikan keluhannya sebanyak 56,6 persen alasan utamanya adalah karena mereka takut menyampaikan. Sementara alasan utama yang disampaikan oleh pasien Puskesmas yang memiliki keluhan tetapi tidak menyampaikan keluhan tersebut adalah karena merasa tidak ada gunanya menyampaikan keluhan tersebut. Alasan ini dinyatakan oleh 46,4 persen pasien (Tabel 3). Jenis keluhan. Berdasarkan hasil sebelumnya, maka pasien yang menyampaikan keluhan kemudian diberikan pertanyaan lanjutan. Alasan yang paling banyak dikeluhkan dan kemudian disampaikan oleh pasien rumah sakit adalah

masalah prosedur penerimaan yang lambat (35,7 persen) dan pelayanan yang kurang ramah (25 persen). Sementara itu pasien Puskesmas memilih hal yang sama yaitu, prosedur penerimaan yang lambat (28,1 persen) dan pelayanan yang kurang ramah (24,4). Dengan demikian terlihat bahwa keluhan sudah dialami oleh pasien ketika ”menginjakkan kaki” untuk pertama sekalinya ke sarana pelayanan kesehatan (Tabel 4). Sarana penyampaikan keluhan. Pasien diberikan pertanyaan mengenai sarana penyampaian keluhan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5. Pasien di rumah sakit ternyata paling banyak menyampaikan keluhannya langsung kepada dokter/petugas kesehatan di rumah sakit (54,2 persen). Sementara pasien di Puskesmas, selain kepada dokter/petugas kesehatan (40,5 persen), yang paling banyak digunakan adalah cara menyampaikan langsung kepada keluarga (43,3 persen). Tanggapan dan kepuasan pasien atas tanggapan. Keluhan pasien yang disampaikan kepada sarana pelayanan kesehatan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit kemudian ditelusuri. Ternyata, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 6, sebanyak 40 persen pasien rumah sakit yang menyampaikan keluhan menyatakan tidak tahu apakah keluhannya tersebut kemudian ditanggapi oleh petugas. Sementara itu, sebanyak 40 persen pasien Puskesmas yang menyampaikan keluhan menyatakan tidak ada tanggapan dari petugas atas keluhan yang disampaikan. Terhadap tanggapan yang diberikan oleh petugas kesehatan terhadap keluhan yang disampaikan, sebanyak 50 persen pasien rumah sakit mengaku tidak puas, sama banyaknya dengan yang puas. Sementara itu, sebanyak 63,6 persen pasien Puskesmas mengaku puas, sisanya sebanyak 36,4 persen mengaku tidak puas (Tabel 7). PEMBAHASAN Masalah pelayanan kesehatan memang menjadi sebuah pembicaraan dalam dekade terakhir ini. Dalam berbagai penelitian ditemukan bahwa pelayanan kesehatan seharusnya mengacu kepada kepuasan konsumen. Dalam pemahaman demikian maka dikenal adanya perspektif

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

126

konsumen dalam memberikan penilaian terhadap pelayanan kesehatan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perspektif konsumen. Umumnya hal-hal tersebut menyangkut kepuasan menggunkan produk atau jasa yang didapatkannya dengan cara membayar. Konsumen memiliki hak untuk menyampaikan keluhannya terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya dan kemudian memberikan penilaian atas tanggapan yang diberikan oleh mereka yang menerima keluhan tersebut. Mekanisme feed back inilah yang kita harapkan akan meningkatkan mutu sarana pelayanan kesehatan. Pemahaman responden mengenai pelayanan kesehatan yang diterimanya akan menjadi sebuah perspektif kepada penentu keputusan di sarana pelayanan kesehatan supaya perspektif mengenai pelayanan kesehatan dari sudut pandangnya sebagai penyedia jasa dapat lebih dilengkapi lagi. Beredasarkan hasil penelitian, masih banyaknya keluhan yang tidak disampaikan oleh konsumen memperlihatkan adanya kesenjangan komunikasi antara pasien sebagai konsumen dengan sarana pelayanan kesehatan sebagai provider sebagai penyedia layanan kesehatan. Ketakutan pasien barangkali berhubungan dengan ketidakterbukaan provider terhadap keluhan pasien. Sementara jika pasien merasakan tidak ada gunanya menyampaikan keluhan, berhubungan erat dengan pengalaman berinteraksi dengan provider selama ini. Di RSUD Sidoarjo, misalnya, sikap povider adalah salah satu penentu kepuasan pasien di sarana layanan kesehatan.7 Persoalan komunikasi antara provider dengan pasien ini juga mengemuka dari penemuan berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSU Dharma Yadnya Denpasar Bali.8 Dari hasil penelitian, terlihat bahwa kebanyakan keluhan responden memang bersumber dari dua hal saja, yaitu prosedur penerimaan yang lambat dan pelayanan yang kurang ramah. Kedua hal ini sebenarnya adalah “pintu masuk” interaksi antara konsumen dengan sarana pelayanan kesehatan. Sungguh amat disayangkan bahwa pasien kemudian harus mengeluh pada menghadapi hal demikian. Penelitian terhadap keluhan konsumen sudah lazim dilakukan untuk mengukur kinerja kebutuhan pasien, untuk

mencegah adanya keengganan pasien menyampaikan keluhannya. Hal ini harus direspon sesegera mungkin supaya pasien dapat memiliki pemahaman baru yang lebih baik terhadap kualitas layanan kesehatan yang diterimanya. Sumber keluhan pasien terhadap pelayanan kesehatan di sarana kesehatan memang bervariasi. Di RS Delta Surya Sidoarjo, misalnya, telah dilakukan penelitian secara terus menerus sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2002. Penelitian ini menemukan bahwa telah terjadi peningkatan ketidakpuasan di rumah sakit tersebut. Penelitian tersebut menemukan bahwa ketidakpuasan pasien banyak terjadi pada layanan administratif dan perawatan penderita.9 Di RSU Dharma Yadnya Denpasar Bali, ditemukan bahwa sumber ketidakpuasan pasien adalah pada layanan keperawatan yang kurang tanggap dan kurang memberikan kenyamanan kepada pasien.8 Dalam inventarisasi hasil penelitian yang dibuat di RSUP Dr. Sardjito Yogjakarta ditemukan bahwa faktor kemudahan, kualitas pelayanan dan hubungan pribadi menjadi penentu kepuasan pasien. Di RSU Sleman, yang berpengaruh adalah informasi yang diberikan provider beserta dengan hubungan interpersonalnya. Di banyak negara, ditemukan bahwa kecakapan dokter, keramahan, perawatan perorangan, suasana lingkungan, waktu tunggu dan tarif adalah penentu kepuasan pasien.10 Munculnya keluhan pasien banyak diwarnai oleh ketidaksesuaian antara keinginannya sebagai manusia yang membutuhkan jaminan pelayanan kesehatan sebagaimana dapat dilihat dalam teori Maslow11 Lawrence Green menyatakan bahwa jika perilaku menggambarkan keluhan pasien, maka hal itu terbentuk salah satunya oleh sikap dan perilaku petugas kesehatan, disamping fasilitas yang ada di sarana pelayanan kesehatan tersebut.5, 11 Proporsi pasien yang puas dan yang tidak puas terhadap tanggapan yang diberikan secara umum berimbang di rumah sakit. Sementara itu, lebih banyak tanggapan yang menghasilkan kepuasan di Puskesmas. Jumlah yang puas atas umpan balik (feed back) yang dilakukan oleh petugas kesehatan ini masih sangat jauh dari sebaiknya. Kepuasan adalah perbandingan terhadap apa yang diterima atau dirasakan

127

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

(perceived performance) sama atau melebihi apa yang diharapkan. Loyalitas terjadi bila konsumen sangat puas atau apa yang diterima lebih besar dari harapan. Sebagaimana dikutip dalam Kotler, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan berbagai harapannya. Kepuasan adalah keadaan psikologis dari emosional seseorang yang menunjukkan adanya diskonformasi atau konformasi terhadap layanan yang diterimanya dengan harapannya dan menjadikan pengalaman setelah mengkonsumsinya.9 Keluhan konsumen atas pelayanan kesehatan yang diterimanya, berdasarkan penelitian ini, lebih banyak diungkapkan secara langsung kepada petugas kesehatan.

Namun sebagaimana sudah diketahui di atas, hanya sekitar setengahnya saja yang mengaku puas terhadap tanggapan yang diberikan. Hal ini perlu menjadi perhatian penting dalam menata ulang pengelolaan keluhan konsumen. Layanan kesehatan yang bermutu, tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan akan pentingnya menjaga kepuasan pasien, termasuk dalam menangani keluhan yang disampaikan oleh pasien. Kepuasan adalah sebuah suasana batin yang seharusnya direbut oleh layanan kesehatan untuk memenangkan persaingan dalam konteks pelayanan kepada masyarakat. Bagi pelayanan kesehatan secara khusus rumah sakit, penurunan kepuasan akan dapat diikuti oleh penurunan loyalitas. Dan ini merupakan sebuah warning bagi rumah sakit.6

Tabel 1. Karakteristik responden rumah sakit dan puskesmas Karakteristik Responden Kelompok Umur a. 18-25 tahun b. 26-35 tahun c. > 35 tahun Frekuensi Berobat Ke Sarana Pelayanan Kesehatan a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. 4 kali e. > 4 kali Terakhir berobat a. < 2 minggu yang lalu b. 2- 1 bulan yang lalu c. 1 -3 bulan yang lalu d. >3 bulan yang lalu Tabel 2. Proporsi keluhan pasien konsumen RS dan puskesmas (dalam persen) Kategori konsumen Konsumen RS Keluhan a. Ada b. 1. Pernah disampaikan 2. Tidak pernah disampaikan Tidak ada 14,28 (40) (60) 85,72

Persentase 20 50 30 14,6 27,7 15,1 12,0 20,6 61,1 27,7 8,3 2,9

Konsumen Puskesmas 16,57 (51,7) (48,3) 83,43

Tabel 3. Proporsi faktor penyebab konsumen rumah sakit dan puskesmas tidak menyampaikan keluhan (dalam persen) Alasan Konsumen RS Konsumen Puskesmas Tidak tahu kemana menyampaikan 6,7 0 Takut menyampaikan 56,6 39,3 Merasa tidak ada gunanya 20 46,4 Lainnya 16,7 14,3

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

128

Tabel 4. Proporsi jenis keluhan konsumen rumah sakit dan puskesmas (dalam persen) Jenis Keluhan *) Konsumen RS Konsumen Puskesmas Prosedur penerimaan yang lambat 35,7 28,1 Pelayanan yang kurang ramah 25 24,4 Informasi yang tidak jelas 3,6 14,1 Pengobatan yang lambat 10,7 19,3 Lainnya 25 14,1 *) Keterangan: jawaban responden dapat lebih dari 1 pilihan Tabel 5. Proporsi jenis sarana penyampaian keluhan konsumen rumah sakit dan puskesmas (dalam persen) Jenis Sarana *) Konsumen RS Konsumen Puskesmas Telepon/ faks 4,2 2,7 Kotak saran 16,6 8,1 Forum Kesehatan Kota 0 2,7 Langsung kepada dokter/ petugas kesehatan 54,2 40,5 Langsung kepada keluarga 25 43,3 Lainnya 0 2,7 *) Keterangan: jawaban responden dapat lebih dari 1 pilihan Tabel 6. Proporsi tanggapan petugas atas keluhan konsumen rumah sakit dan puskesmas (dalam persen) Tanggapan Petugas Pasien RS Pasien Puskemas Ada Tidak ada Tidak tahu 30 30 40 36,6 40 23,4

Tabel 7. Proporsi kepuasan konsumen rumah sakit dan puskesmas terhadap tanggapan petugas (dalam persen) Kepuasan Konsumen Konsumen RS Konsumen Puskesmas Puas 50 63,6 Tidak puas 50 36,4

KESIMPULAN DAN SARAN Dapat disimpulkan bahwa masih perlu dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan di lokasi penelitian. Pembenahan harus meliputi pelayanan hulu sampai hilir, termasuk dalam mendisain ulang cara menanggapi keluhan yang disampaikan oleh konsumen pelayanan kesehatan. Disarankan untuk lebih memperkuat pemberdayaan terhadap sikap dan perilaku petugas kesehatan yang melayani pasien termasuk. Diperlukan juga sosialisasi kepada pasien untuk menyalurkan keluhannya. Kenyamanan media penyaluran juga dapat diperbaiki dengan membuka unit khusus yang lebih nyaman dan responsif.

DAFTAR PUSTAKA 1. Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Jilid 2, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1996 2. Ishikawa, K. Pengendalian Mutu Terpadu. Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1992 3. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Pedoman Dasar Pelaksanaan Jaminan Mutu Di Puskesmas Jakarta, Depkes RI, 2003. 4. Pohan, IS. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Jakarta, EGC, 2006:23-24 5. Notoadmodjo, S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jogjakarta, Penerbit ANDI, 1993

129

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

6. Rosalia. Menuju Kesehatan Madani. Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 1999 7. Widodo, S dan S Supriyanto. Faktor Dominan Kepuasan Pasien Sebagai Dasar Penyusunan Upaya Pengembangan Mutu Pelayanan Kesehatan di RSUD Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Administrasi Kebijakan Kesehatan Vol 2 No. 2 2004:85-91 8. Luh Sri Ani, Sri werdati dan Adi Utarini. Harapan Konsumen Terhadap Pelayanan keperawatan: Penelitian Kualitatif di RSU Dharma Yadnya Denpasar Bali. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vo. 04/No.01/2002:13-18.

9. Hariono, Karjadi Wirjoatmodjo dan Stefanus Supriyanto. Kepuasan Pasien Rawat Inap Terhadap Kualitas Layanan Dokter Spesialis, Komitmen dan Kepuasan Kerja Dokter Spesialias di RS Delta Surya Sidoarjo. Jurnal Administrasi Kebijakan Kesehatan Vol 2 No. 2 2004:77-84 10. Farida dan Haripurnomo Kushadiwijaya. Cara Pembayaran Sebagai Modifier Terhadap Pengaruh Faktor-Faktor Penentu Kepuasan Pasien Pada Layanan Rawat Inap Di RSU Tegalyoso Klaten. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. 01/No. 03/ 1998:161-170. 11. Soekidjo, N. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi (Penyunting). Jakarta, Rineka Cipta, 2005

Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (123–130) Fotarisman, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah

130

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

HEALTH MANPOWER FORECASTING IN MALAYSIA
Destanul Aulia1 dan Sri Fajar Ayu2
2

Department of Administration and Health Policy, FKM, USU School of Postgraduate Administration and Health Policy, USU

1

ABSTRACT Fülöp and Mejía (1998) believed that manpower in health requires the longest preparatory period of all the health resources and cannot be improvised. It is also subject to a certain inherent inertia, in that the rigidity of the health and education systems and the attitudes of health workers do not make for easy mobility or conduce to improving geographical and occupational distribution. Nor can manpower be stored or discarded. If it is to be available at the proper time, it has to be planned for in advance in the right amount and type, no more and less than is needed. Because they are subject to obsolescence, manpower abilities and skills also need to be maintained by means of permanent supervision and continuing education. So, it is necessary and important to keep planning, especially forecasting health man power needs. Specifically, the objective of this paper is to forecast the needs of man power in health sector in year 2010, in order to deliver the equitable and high quality health care. The data collected for the forecasting purpose using the two methods (ratio of health manpower-output and manpower requirement approach (MRA) are the yearly data of the number of doctors, dentist, nurses, assistant of nurses and GDP others in Malaysia for the period of 1975 to 2004. Based on the result of the two methods, it is can be seen that different method gives different result. In forecasting, especially the preparation, as suggest by Hall (1998) there is no best method. It is worth to try different method in order to see it in the different angle. The important things from the result are the implication to the decision maker. Based on the forecasting it is found that there is an increasing demand for health manpower in the future. In order to fulfill this, the decision maker need to make the adequate preparation, such as training that show result in rather short time compare to educate young people. Another possibility is to contract the manpower from outside of the country such as from India, Myanmar, Pakistan, or Indonesia. Keywords: Human resource management, Manpower forecasting INTRODUCTION Recently, it is becoming obvious, that the economic growth of a country depend more on its quality of human resource than any other source in that country. Country that rich in natural resource but has low quality of man power, will be a poor country, soon after the resource becoming scarce. A country that has high quality of human resource can manage and maintain the natural resource, and then it will give the benefit in a sustainable way. However, high quality of human resource can’t be made in short time; a country has to spent time and invests on education and health. On the other side, a high quality of human resources in health sector is can be consider a national valuable asset. Health industry is essentially labor intensive, man power constitutes a critical component. According to Tejada-De-Rivero (1998), one of the greatest challenges is managing this manpower in a way that will make it less costly but yet fully capable of meeting what

131

is the stated goal in most societies, the development of a more accessible, more equitable, more effective health care delivery system. Beside that, access to health care is a basic human right and a primary aim of social development and an essential means to sound economic and social progress. This task according to him is to do the planning in health man power. It is essentially to provide the right number and type of health man power. Malaysia is one of the developing countries that realized the importance of health man power. This country takes a long effort to educate their people to become a high quality specialist, general practitioners, dentists, nurses and other manpower in health. In the mean time, the shortage of this man power must be fulfilling in order to deliver the equitable and high quality health care. So, it is necessary and important to keep planning, especially forecasting health man power needs in Malaysia. This paper basically attempts to overview the needs of man power in health in Malaysia for the future time. Specifically, the objective of this paper is to forecast the needs of man power in health sector in year 2010, in order to deliver the equitable and high quality health care. LITERATURE REVIEW Health Manpower Planning The aim of health manpower planning according to Ray and Andreano (1998) is to design manpower mixes and utilization patterns in order to move the health manpower system from a given situation to a predetermined improved situation in the future. A health manpower plan, therefore, represents a coherent set of practical proposals intended to improve health service delivery and distribution through changes in the production, use and motivation of health manpower. Recently this demand has been increasing especially rapidly in virtually all countries; high population growth, rising social expectations, and socioeconomics development that stimulate the demand for more services, and advances in health technology and the shift in the pattern of disease from the acute illness to youth of the

chronic illnesses of the aged stimulate the demand for a greater variety of services. According to Fülöp and Mejía (1998), manpower in health requires the longest preparatory period of all the health resources and cannot be improvised. It is also subject to a certain inherent inertia, in that the rigidity of the health and education systems and the attitudes of health workers do not make for easy mobility or conduce to improving geographical and occupational distribution. Nor can manpower be stored or discarded. F it is to be available at the proper time, it has to be planned for in advance in the right amount and type, no more and less than is needed. Because they are subject to obsolescence, manpower abilities and skills also need to be maintained by means of permanent supervision and continuing education. Further more Fülöp and Mejía (1998) shows the consequences of bad planning. According to them, the complete absence of health manpower planning or bad planning has led to acute shortages of services in some countries and areas and to surpluses and imbalances in others. Some countries produce more health workers than they can economically absorbs, while others appear to have an insatiable appetite for them within a situation of underproduction relative to effective demand. The imbalance between the supply of and the demand for health manpower is a result of a basic lack of coordination between the providers of health services on the one hand and the procedure of health manpower on the other. Health manpower is not a commodity whose production can be left to the imperfect functioning of laissez-faire market mechanisms. Health Manpower Forecasting As it is mention before the essence of health man power planning problem is trying to provide a supply of health man power adequate to meet society’s increasing demand for health care. One way to estimate the demand of health manpower is using the statistical basis, to forecast that demand. In United States according to Reinhardt (1991) health manpower forecasters in almost a century have always offered projections of the future need and supply of physician, in which the first one was prepared in 1933.

Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri FajarAyu

132

The controversy surrounding major health manpower forecasts is not surprising. Fülöp and Mejía (1998) noted that planners recently, found themselves in vast gathering data-gathering operations, where the amount of information collected has greatly exceeded the capacity of planners and decision makers to digest and make use of it. However, Reinhardt (1991), shows that historically the estimates submitted by the forecasters have had a direct impact on the nature of public intervention in the markets for medical education and for medical manpower in America. This intervention tends to alter the constraints faced by the participants (the medical schools and medical professions) in these markets, usually by redistributing dollars and cents among them. The participants have learned the hard way that the dicta of health manpower forecasters cannot be ignored with impunity. Health Manpower Forecasting Technique The basic analytic steps in any health manpower forecasting according to Reinhardt (1991) are always the same. The forecast begin with a projection of future changes in the size and in the socioeconomic and demographic composition of the population to be covered by the health system in question. Next, that population forecast is somehow translated into the corresponding future supply of health manpower, and into the corresponding future requirements of particular type of health manpower. This paper basically employs two different method of forecasting technique because it is always believe that there is no “best” method in forecasting. Although, finally it will come out with different result, it is up to the decision maker to choose the right amount. This paper assumed that, in the context of preparation or planning, it is better to have many opinions than just one. The first technique employ in this paper is the ratio of health manpower and output. The purpose of this method is to estimate the needs of manpower on various specific jobs, such as the needs on teachers, doctors, technicians, or specialist. In order to do the forecasting this methods needs a robust cross section data. The problems that usually arise using this technique is that, it is quite difficult to determine the optimum

value of the ratio of health manpower and output. This technique also does not consider the up and down that always happened in economic setting. The second technique is manpower requirement approach (MRA). This method can be considered more comprehensive than the first method, introduced by “The Mediterranean Regional Project” (OECD). It is based on the assumption that if the economic continuing to growth then it will always need skill and semiskilled workers, and it is also depend on the information about how to blend the ratio of manpower and capital. Based on that information, the number of needed manpower in the future can be forecasted. This method really needs the information about the estimated growth of GDP that can be obtained through various ways, including the input-output approach, output function method, regression and so on. It is obvious that this method does not consider all non economical factors. This method has been widely used in Malaysia, especially after the release of the document “Toward a Masterplan on Manpower Development” by Mampu in 1983. Another advantage of MRA method is that the result of the forecast of manpower and economic growth is important in human needs. This is because MRA used information input-output table in order to estimate demand and growth. This method also considering the gap between demand and supply before determined the amount of manpower needs in the future. The weakness of this method including the problem in choosing the suitable GDP growth rate and problem in choosing the ratio of manpower per output, or productivity for manpower in certain industry. Despite this, this method also neglected the effect of manpower substitution. MRA also stress on the training to manpower to have the high skill quality and it is depend on the data and the information of type of job in formal sector that has a fixed wages. METHODOLOGY Using Excel and E-Views 5 the data is calculated and analyzed according to each method that consists of different step.

133

Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri FajarAyu

Data Analysis The data collected for the forecasting purpose using the two methods (ratio of health manpower-output and manpower requirement approach (MRA)) are the yearly data of the number of doctors, dentist, nurses, assistant of nurses and GDP others in
Years 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Doctors 2511 2659 2789 2906 3207 3858 3941 4234 4474 4505 4939 5394 5794 6247 6577 7012 7198 7719 8279 8831 9608 10196 14248 15016 15503 15619 16146 17442 18191 18246 Dentist 659 959 833 767 826 691 720 798 858 957 1041 1130 1220 1288 1401 1471 1501 1562 1606 1712 1750 1800 1865 2058 1909 2144 2225 2297 2418 2550

Malaysia for the period of 1975 to 2004. The source of data basically from the Year 2006, Book of Statistics, Department of Statistics, Malaysia. The GDP other is the contribution of other sector to GDP, or treat as output in health sector.
Nurses 9283 10658 11999 13124 14206 15891 17392 18351 18556 19348 20258 21009 22179 22925 23733 24364 1173 11961 11961 13224 13647 14614 16068 18134 20914 23255 24543 35280 36784 30002 As nurses 4114 4794 5402 6195 6923 8239 8871 9379 9955 10209 10935 11195 11366 12007 12343 12578 13513 13429 12530 10886 9677 9459 8738 8058 6889 5819 5325 7319 7033 4243 GDP Others 932 1006 1136 1864 1848 2213 2275 2105 2899 3011 3116 3186 5527 6248 6818 7631 8595 9389 10335 11430 12780 13793 14760 15036 15435 15662 19586 21172 22089 22156

Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri FajarAyu

134

A. Ratio of health manpower-output. In this method, first, the average rate of growth between the latest year and basic year calculated using the formula: r = [ n √ QT/QA ] - 1 where, r : the average rate of growth between the latest year and basic year QT : health output in the recent year (2003) QA : health output in basic year (1996) n : years of growth (7) Then, the health output in 2010 can be calculated using the formula: Xi (2010) = Xi(2003) (1 + r)n Where Xi(2010) : health output in 2010 Xi(2003) : health output in 2003 r : the average rate of growth between the latest year and basic year n : years of growth (7) Finally, the ratio health manpower – output can be calculated using: Lij = Hij (2003) / Xi (2003) where, Lij : the ratio health manpower – output Hij : the health manpower in 2003, and Xi : health output in 2003

Then, Hij (2010) = Lij * Xi(2010) B. Manpower Requirement Approach (MRA) In this method we have to convert the data into natural logarithm and then find the elasticity of doctors, dentist, nurses and assistant of nurses. The formula is as follows: Lndoctors = β + β1 Lngdpother + e Lndentist = β + β1 Lngdpother + e Lnnurses = β + β1 Lngdpother + e Lnasnurses = β + β1 Lngdpother + e Lndoctors = elasticity of doctors (α) Lngdpother Lndentist = elasticity of dentist (α) Lngdpother Lnnurses = elasticity of nurses (α) Lngdpother Lnasnurses = elasticity of asnurses (α) Lngdpother Lij (doctor,2010) = Li(2003) + (Li(2003) * g * n * α) Lij (dentist,2010) = Li(2003) + (Li(2003) * g * n * α) Lij (nurses,2010) = Li(2003) + (Li(2003) * g * n * α) Lij (asnurses,2010) = Li(2003) + (Li(2003) * g * n * α) RESULT AND DISCUSSION In order to conduct the analysis using the Labor-Output Ratio, the data of output need to be collected; the result of the data is as below:

Table 1. The total output in year 1994, 1996, 1999, 2002 and 2003 Year Output value of Output value of Output value of Medical Services Private Hospital & Dental Services Maternity Home 1994 791,700,000 734,300,000 90,370,000 1996 1,074,510,000 1,149,890,000 118,860,000 1999 1,232,590,000 1,558,970,000 152,320,000 2002 1,434,450,000 2,274,650,000 199,580,000 2003 1,628,610,000 2,708,910,000 228,370,000 Source: Year book of statistics 2006, Departemen of statistics, Malaysia

Total output 1,616,370,000 2,343,260,000 2,943,880,000 3,908,680,000 4,565,890,000

135

Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri FajarAyu

The value of health output in 2010 and 2013 and the value of r is shown in the table below:
Table 2. The value of health output in 2010 and 2013 and the value of r Xi (2003) Xi(1996) r Xi(2010) 4,565,890,000 2,943,880,000 0.0647051 7,081,590,110 Xi(2013) 8,547,100,078

Finally, the result of forecasting using the Labor-Output Ratio can be seen in Table 3. The table also shows the number of doctors, dentist, nurses and assistant of nurses needed in year 2010 and year 2013.
Table 3. The result of forecasting using Labor-Output Ratio Doctors Dentist Nurses Hij (2003) 18,191 2,418 36,784 Xi (2003) 4,565,890,000 4,565,890,000 4,565,890,000 Lij (2003) 0.0000040 0.0000005 0.0000081 Hij (2010) 28,326 3,540 57,361 Hij(2013) 34,188 4,228 6,9231 Assistant Nurses 7,033 4,565,890,000 0.0000015 10,622 12,820

The second method of forecasting, that is using Manpower Requirement Approach (MRA), result in different number of doctors, dentist, nurses, and assistant nurses, as shown by Table 4.
Table 4. The result of forecasting using MRA Lij(2003) Elasticity Doctors 18246 0.620281 Dentist 2418 0.402014 Nurses 36784 0.155682 Assistant Nurses 7033 0.055294 g 0.0647 0.0647 0.0647 0.0647 n 7 7 7 7 n 10 10 10 10 Lij(2010) 23,372 2,858 39,378 7,209 Lij(2013) 25,569 3,047 40,489 7,285

Based on the result of the two methods, it is can be seen that different method gives different result. In forecasting, especially the preparation, as suggest by Hall (1998) there is no best method. It is worth to try different method in order to see it in the different angle. The important things from the result are the implication to the decision maker. Based on the forecasting it is found that there is an increasing demand for health manpower in the future. In order to fulfill this, the decision maker need to make the adequate preparation, such as training that show result in rather short time compare to educate young people. Another possibility is to contract the manpower from outside of the country such as from India, Myanmar, Pakistan, or Indonesia. CONCLUSION The aim of health planning is basically trying to provide a supply of health

man power adequate to meet society’s increasing demand for health care, and one way to estimate the demand of health manpower is to forecast that demand. It is found that different method of forecasting will resulting in different amount of the result of forecasting, but there is no “best” method in forecasting. It is up to the decision maker to choose the right amount, and the most importance things are to learn what the real trend in all the result found. REFERENCES Abegaz, B. 1994. manpower Development Planning. Great Britain: Athenaeum Press Limited. Albreht, T. and Klazinga, N. 2002. Health manpower planning in Slovenia: A policy analysis of the changes in roles of stakeholders and methodologies. Journal of Health Politics, Policy and Law 27(6):1001-21.

Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri FajarAyu

136

Fülöp, T. and Mejía, A. 1998. Health manpower planning: An overview. In. Health manpower planning: Principle, methods and issues. Tejada-de-Rivero, D. (ed.). Geneva: WHO. Hall, T.L. 1998. Demand. In. Health manpower planning: Principle, methods and issues. Tejada-de-Rivero, D. (ed.). Geneva: WHO. Rahmah Ismail. 1996. Modal Manusia dan Perolehan Buruh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. .

Ray, D. and Andreano, R. Economics of health manpower planning. In. Health manpower planning: Principle, methods and issues. Tejada-de-Rivero, D. (ed.). Geneva: WHO. Reinhardt, U.E. 1991. The GMENAC forecast: An alternative View. American Journal of Public Health 91(10):1149-57. Tejada-de-Rivero, D.1998. Health manpower planning: Principle, methods and issues. Geneva: WH.

137

Health Manpower Forecasting in Malaysia (131–137) Destanul Aulia dan Sri FajarAyu

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

ANALISIS RISIKO PAJANAN MANGAN DALAM AIR MELALUI INTAKE ORAL TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT DI SEKITAR TPA RAWAKUCING KECAMATAN NEGLASARI KOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN TAHUN 2007
Taufik Ashar Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jl.Universitas No.21 Kampus USU Medan, 20155 ABSTRACT Background: Manganese is a naturally-occurring element that can be found ubiquitously in the air, soil, and water. Manganese is an essential nutrient for humans and animals. Adverse health effects can be caused by inadequate intake or over exposure. Although manganese is an essential nutrient at low doses, chronic exposure to high doses may be harmful. Regardless, the nervous system has been determined to be the primary target organ with neurological effects generally observed. Aim: The objective of the study is to assess the health risk of manganese exposure from the well drinking water intake. Design: This study was done in Final Disposal Site Rawakucing area and out of this area. The number of subjects sampled were 114 and 117, respectively. Study design is crossectional with hypotesis test. Result: The result showed that the average manganese concentration was 4.3 mg/l (SD=2.8873), 0.300 mg/l (SD=0.1888) respectively. The result was significant different statistically (p<0.05) for manganese concentration from two study area. The average RQ showed 0.2347 (SD=0.5095) for RQ in Disposal Site Area and 0.2955 (SD=0.2465) for RQ in out of Disposal Site Area. The result was significant different statistically (p<0.05) for RQ value, with OR=8.109 (95% CI = 2.668-24.650). Conclusion: It is recomended that The Government of Tangerang City should changed open dumping system in Disposal Site Rawakucing Area to sanitary landfill. District Health of Tangerang City especially, should be able to apply risk management to the community in the Disposal Site Rawakucing Area. Keywords: Manganese, Disposal site area, Health risk assessment, Risk quetient PENDAHULUAN Mangan merupakan unsur yang secara alami banyak terdapat di udara, air, dan tanah. Mangan juga merupakan unsur esensial bagi manusia dan hewan (Leach dan Harris, 1997; U.S. EPA, 2003). Mangan diperlukan berbagai enzim seluler pada tubuh manusia dan hewan seperti manganese superoxide dismutase dan pyruvate carboxylase, serta mengaktifasi enzim lainnya yaitu: kinase, decarboxylase, transferase, dan hydrolase (WHO, 2002). Konsumsi yang kurang atau berlebihan dapat menyebabkan dampak yang buruk untuk kesehatan. Manusia terutama terpapar mangan dari makanan. Meskipun mangan merupakan salah satu unsur esensial bagi manusia dan hewan, namun paparan kronis sampai pada dosis yang tinggi dapat membahayakan kesehatan. Target utama akibat toksisitas mangan adalah sistem saraf. Sebuah studi epidemiologi di Yunani (Kondakis et al., 1989) menunjukkan bahwa konsumsi air minum yang secara alami mengandung konsentrasi mangan yang

138

cukup tinggi seumur hidup, menyebabkan gejala-gejala neurologi dan peningkatan retensi mangan (ditandai dengan tingginya konsentrasi mangan pada rambut) pada penduduk yang berusia di atas 50 tahun. Sebuah komunitas kecil di Jepang yang terdiri dari 25 orang mengkonsumsi air minum dari sumur yang tercemar mangan pada konsentrasi tinggi dengan sumber pencemaran berasal dari sel-sel baterai kering yang dikubur tidak jauh dari sumur penduduk, dan telah mengkonsumsi air tersebut selama kurang lebih 3 bulan (Kawamura et al., 1941). Perkiraan konsentrasi mangan hampir mencapai 29 mg/L (58 mg/hari atau sekitar 1 mg/kg-hari dengan asumsi berat bedan 60 kg). Gejalagejala yang timbul adalah letargi, peningkatan tonus otot, tremor, gangguan mental, dan bahkan kematian. Meskipun air tanah dan air permukaan secara alamiah mengandung mangan namun tambahan konsentrasi mangan dapat terjadi akibat adanya leachate (cairan lindi). Cairan lindi adalah cairan yang mengandung zat terlarut dan tersuspensi yang sangat halus sebagai hasil penguraian oleh mikroba, biasanya terdiri atas kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K), besi (Fe), khlorida (Cl), sulfat (SO4), fosfat (PO4), seng (Zn), nikel (Ni), karbon dioksida (CO2), air (H2O), gas nitrogen (N2), amoniak (NH3), asam sulfida (H2S), asam organik dan gas hidrogen (H2) (Soemirat, 1999). Tharanit (1992) melakukan studi karakteristik leachate di On-nuch, sebuah kawasan tempat pembuangan sampah dengan sistem open dumping di Bangkok Thailand. Konsentrasi mangan yang terdeteksi adalah sekitar 0,01 – 2,88 ppm. Dinas Kesehatan Kota Tangerang (2006) melakukan pengambilan sampel terhadap seluruh sumur penduduk di sekitar TPA Rawakucing. Dari hasil pemeriksaan parameter kimia, seluruh sumur menunjukkan konsentrasi mangan berada di atas kadar maksimum yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 416/MENKES/SK/ IX/90 tentang Persyaratan kualitas Air Bersih yaitu 0,5 mg/L. Konsentrasi mangan terendah adalah 1,61 mg/L dan konsentrasi tertinggi 13,95 mg/L.

Rumusan Masalah Masyarakat di kawasan TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten sangat rentan terhadap terjadinya gangguan kesehatan akibat tingginya konsentrasi mangan pada air sumur mereka yang jauh melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini melakukan analisis risiko dampak mangan dalam air sumur terhadap kesehatan masyarakat di kawasan TPA Rawakucing. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk menganalisa besaran risiko gangguan kesehatan masyarakat di sekitar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten terhadap efek non-karsinogen mangan akibat mengkonsumsi air dari sumur yang mengandung mangan pada tahun 2007. Tujuan Khusus 1. Untuk menganalisa rata-rata konsentrasi mangan dalam air sumur di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. 2. Untuk menganalisa rata-rata laju asupan air yang mengandung mangan yang diperoleh dari sumur pada masyarakat di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. 3. Untuk menganalisa rata-rata durasi atau lama pajanan terhadap konsumsi air yang mengandung mangan yang diperoleh dari sumur pada masyarakat di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. 4. Untuk menganalisa rata-rata berat badan masyarakat yang mengkonsumsi air yang diperoleh dari sumur yang mengandung mangan di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. 5. Untuk menganalisa ada tidaknya perbedaan konsentrasi mangan dalam air sumur di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007.

139

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

6. Untuk menganalisa ada tidaknya perbedaan besar risiko gangguan kesehatan masyarakat di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007 akibat mengkonsumsi air yang mengandung mangan. Hipotesa Ada perbedaan besar risiko gangguan kesehatan antara masyarakat yang tinggal di TPA Rawakucing dengan masyarakat yang tinggal di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional analitik. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dalam lingkungan TPA Rawakucing, RT 04 RW 04 kelurahan Kedaung Wetan dan RT 02 RW 02 kelurahan Kedaung Baru. Untuk pemeriksaan sampel air (analisis konsentrasi logam mangan dalam air sumur) dilakukan di Laboratorium Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Depok. Waktu penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai bulan Juni 2007. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang tinggal di TPA dan di luar TPA Rawakucing yang masih berdekatan dengan kawasan TPA Rawakucing di kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. Populasi obyek pada penelitian ini adalah seluruh sumur yang ada di TPA dan di luar TPA Rawakucing yang masih berdekatan dengan kawasan TPA Rawakucing di kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten pada tahun 2007. Sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat berusia ≥ 18 tahun yang tinggal di TPA dan di luar TPA Rawakucing dan telah bermukim selama minimal 2 bulan. Lama mukim responden minimal 2 bulan didasarkan pada penelitian Kawamura et al. (1942) yang menemukan bahwa gejala-gejala

gangguan saraf telah muncul setelah terpajan mangan dalam air minum dalam kurun waktu 2-3 bulan. Unit analisis adalah individu yang mengkonsumsi air yang berasal dari sumur yang berada di lingkungan komplek TPA Rawakucing. Sampel sumur yang akan diambil adalah sumur yang airnya dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari masyarakat di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang provinsi Banten tahun 2007. Dalam penelitian ini jumlah sampel yang dipakai adalah 114 orang untuk kelompok subyek di TPA dan 177 orang untuk kelompok subyek di luar TPA dengan pembagian 98 orang di RT 04 RW 04 kelurahan Kedaung Wetan dan 79 orang di RT 02 RW 02 kelurahan Kedaung Baru. Jumlah sampel sumur yang dianalisa adalah sebanyak 27 titik sampel sumur, 7 (tujuh) sumur di TPA Rawakucing dan 20 sumur di luar TPA dengan perincian masing-masing diambil 10 (sepuluh) sampel air sumur dari RT 04 RW 04 kelurahan Kedaung Wetan dan 10 (sepuluh) sampel air sumur dari RT 02 RW 02 kelurahan Kedaung Baru. Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data diperoleh dari data hasil pengisian kuesioner, hasil penimbangan berat badan dan hasil pemeriksaan konsentrasi mangan dalam air sumur. Data kuesioner diperoleh dari hasil wawancara peneliti dengan responden yang tinggal di lokasi penelitian. Sebelum dilakukan wawancara maka peneliti menanyakan kesediaan responden untuk dijadikan sebagai subjek dalam penelitian ini. Data antropometri diperoleh dengan melakukan penimbangan berat badan responden. Data-data yang telah diperoleh selanjutnya digunakan untuk menghitung asupan (intake) mangan dalam air yang masuk ke tubuh manusia melalui jalur oral (saluran pencernaan). Pengolahan Data Analisis Risiko Pengolahan data menggunakan perhitungan analisis risiko yaitu dengan menghitung asupan (intake), untuk mengetahui tingkat risiko risk agent (RQ)

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

140

terhadap konsumen. Data asupan konsentrasi mangan dalam air minum diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut (Kolluru R. V., et al, 1996).

tinggal) dan keempat variabel kovariat lainnya yang juga telah diubah dari data numerik menjadi data kategorik. Uji ini bertujuan untuk menguji perbedaan proporsi dua kelompok sampel (Hastono, 2001). HASIL DAN PEMBAHASAN Konsentrasi Mangan dalam Air Sumur Dari hasil pemeriksaan dari 27 titik sumur (Tabel 1) di lokasi penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada konsentrasi mangan antara sumur di TPA dan di luar TPA. Rata-rata (mean) konsentrasi mangan dari ketujuh air sumur di TPA adalah 4,3 mg/l, sedangkan rata-rata (median) ke-20 air sumur di luar TPA Rawakucing adalah 0,300 mg/l (Tabel 2). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 416/MENKES/SK/ IX/90 tentang Persyaratan kualitas Air Bersih menyebutkan bahwa konsentrasi mangan maksimal adalah 0,5 mg/l. Berdasarkan Permenkes ini, maka dari tujuh titik sumur yang ada di TPA, hanya satu sumur yang konsentrasi mangannya masih di bawah kadar maksimal yang diperbolehkan, sedangkan selebihnya konsentrasi mangannya melebihi kadar yang diperbolehkan dengan konsentrasi tertinggi mencapai 7,7 mg/l (Tabel 1). Sebagai perbandingan, untuk konsentrasi mangan dari 20 titik sumur yang diperiksa di luar TPA Rawakucing hanya 3 titik sumur yang konsentrasi mangannya melebihi kadar maksimal yang diperbolehkan, dengan konsentrasi tertinggi adalah 0,8 mg/l. Secara total keseluruhan maka terdapat enam titik sumur di lokasi penelitian yang tidak memenuhi syarat untuk konsentrasi mangan.

I=

C × R × f e × Dt Wb × tavg

Untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan yang akan terjadi dari masingmasing individu, maka dilakukan perhitungan RQ sesuai dengan persamaan berikut: Risk Quotients (RQ)

Intake (mg / kg − hari ) ...................(3) (RfD = 0,047 mg / kg − hari )

=

Hasil perhitungan RQ dapat menunjukkan tingkat risiko kesehatan masyarakat akibat mengkonsumsi air minum yang mengandung mangan. Apabila RQ<1 menunjukkan pajanan masih berada di bawah batas normal dan penduduk yang mengkonsumsi air tersebut aman dari risiko kesehatan oleh mangan sepanjang hidupnya. Sedangkan, bila RQ>1 menunjukkan pajanan berada di atas batas normal dan penduduk yang mengkonsumsi air tersebut memiliki risiko kesehatan oleh mangan sepanjang hidupnya. Analisis Data Dalam penelitian ini uji yang digunakan adalah uji chi-square karena baik variabel independen maupun variabel dependen merupakan data kategorik (data numerik yang sudah diubah menjadi dua kelompok), begitu pula dengan variabel kovariat merupakan data kategorik (tempat

Tabel 1. Hasil pemeriksaan mangan di lokasi penelitian Lokasi Pemeriksaan Nomor Sumur TPA Rawakucing 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3.

RT 02 RW 02 Kelurahan Kedaung Baru

Konsentrasi Mangan (mg/l) 7,7 6,4 6,1 5,7 2,9 1,0 0,3 0,2 0,2 0,2

141

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

Lokasi Pemeriksaan

Nomor Sumur 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

RT 04 RW 04 Kelurahan Kedaung Wetan

Konsentrasi Mangan (mg/l) 0,3 0,2 0,5 0,5 0,6 0,2 0,5 0,5 0,7 0,2 0,3 0,2 0,8 0,3 0,2 0,4 0,5

Tabel 2. Distribusi konsentrasi mangan (mg/l) dalam air sumur menurut tempat tinggal responden di TPA dan di luar TPA Rawakucing Tahun 2007 Tempat Tinggal N Mean Min SD p-value Responden Median Maks Kolmogorov-Smirnov TPA Luar TPA 7 20 4,3 5,7 0,375 0,300 0,3 7,7 0,2 0,8 2,8873 0,1888 0,177 0,010

Tabel 3. Distribusi Statistik Deskriptif Variabel Konsentrasi Mangan dalam Air Sumur (C), Frekuensi Pajanan (F), Laju Asupan (R), Durasi Pajanan (Dt), Berat Badan (Wb), dan Besar Risiko (RQ) gangguan kesehatan masyarakat di TPA dan di luar TPA Rawakucing tahun 2007 Variabel Mean Min 95% CI SD p-value Median Maks KolmogorovSmirnov Konsentrasi Mangan dalam 1,393 0,2-7,7 0,506-2,279 2,2410 0,000 Air Sumur (mg/l) 0,5000 Frekuensi Pajanan Data tidak dapat diolah karena homogen (hari/tahun) (Frekuensi pajanan adalah 365 hari/tahun) Laju Asupan Konsumsi Air 2,1006 0.1167 2,0408-2,1605 0,5186 0,000 (l/hari) 2,0833 3,3333 Durasi Pajanan (Tahun) 20,7795 0,33 18,5179-23,04 19,6018 0,000 19 80 Berat Badan Responden 51,06 30 50,14-51,98 7,978 0,000 (Kg) 50 76 Intake mangan 0,0175 0,0003 0,0155-0,0196 0,0176 0,000 0,0132 0,0889 Besar Risiko (RQ) 0,3731 0,0062 0,3298-0,4163 0,3744 0,000 Kesehatan Masyarakat 0,2796 1,8913

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

142

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Konsentrasi Mangan dalam Air Sumur (C), Frekuensi Pajanan (F), Laju Asupan (R), Durasi Pajanan (Dt), Berat Badan (Wb), Besar Risiko Kesehatan (RQ) Masyarakat, dan jumlah responden menurut tempat tinggal di TPA dan di luar TPA Rawakucing tahun 2007 Variabel Jumlah Persentase (%) Konsentrasi Mangan dalam Air Sumur > 0,5 mg/l 9 33,3 18 66,7 ≤ 0,5 mg/l TOTAL 27 100 Laju Asupan Konsumsi Air (R) 149 51,2 > 2 l/hari 142 48,8 ≤ 2 l/hari TOTAL 291 100 Durasi Pajanan (Dt) > 19 tahun 137 47,1 154 52,9 ≤ 19 tahun TOTAL 291 100 Berat Badan Responden (Wb) > 50 kg 125 43 166 57 ≤ 50 kg TOTAL 291 100 Tempat Tinggal Responden: - TPA 114 39,2 - Luar TPA Rawakucing 177 60,8 TOTAL 291 100 Besar Risiko (RQ) Kesehatan Masyarakat >1 22 7,6 269 92,4 ≤1 TOTAL 291 100 Tabel 5. Hasil Analisa Chi Square Distribusi Konsentrasi Mangan dalam Air Sumur (C), Frekuensi Pajanan (F), Laju Asupan (R), Durasi Pajanan (Dt), Berat Badan (Wb), dan Besar Risiko (RQ) gangguan kesehatan masyarakat di TPA dan di luar TPA Rawakucing tahun 2007 VARIABEL OR 95% CI Besar Risiko (RQ) p-value Gangguan Kesehatan RQ > 1 RQ ≤ 1 N % N % Konsentrasi Mangan dalam Air Sumur (C) 21 16,3 108 83,7 0,000 31,036 4,149-236,191 > 0,5 mg/l 1 0,6 161 99,4 ≤ 0,5 mg/l Laju Asupan Konsumsi Air (R) 18 12,1 131 87,9 0,006 4,740 1,563-14,377 > 2 l/hari 4 2,8 138 97,2 ≤ 2 l/hari Durasi Pajanan (Dt) 4 2,9 133 97,1 0,009 0,227 0,075-0,689 > 19 tahun 18 11,7 136 88,3 ≤ 19 tahun Berat Badan Responden (Wb) > 50 kg 6 4,8 119 95,2 0,186 0,473 0,179-1,245 16 9,6 150 90,4 ≤ 50 kg Tempat Tingal Responden - TPA - Di luar TPA 18 15,8 96 84,2 0,000 8,109 2,668-24,650 4 2,3 173 97,7

143

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

Tabel 6. Distribusi Besar Risiko Kesehatan (RQ) masyarakat menurut tempat tinggal responden di TPA dan di luar TPA Rawakucing tahun 2007 Variabel Mean Min 95% CI SD p-value Median Maks KolmogorovSmirnov TPA Rawakucing 0,4312 0,0062 0,3367-0,5257 0,5095 0,000 0,2347 1,8913 Di luar TPA Rawakucing 0,3356 0,0177 0,2990-0,3721 0,2465 0,000 0,2955 1,7576

Laju Asupan Konsumsi Air yang Mengandung Mangan Rata-rata (median) laju asupan konsumsi air di lokasi penelitian adalah 2,0833 l/hari (Tabel 3). Laju asupan konsumsi air di lokasi penelitian ini tidak berbeda jauh dengan anjuran kesehatan dalam hal pola minum dengan meminum sekurangnya 2 liter air per hari. Dari hasil uji beda (Tabel 5) diperoleh kesimpulan ada perbedaan proporsi besar risiko gangguan kesehatan antara responden yang mengkonsumsi air yang melebihi 2 liter per hari dengan responden yang mengkonsumsi air yang tidak melebihi 2 liter per hari. Dengan nilai OR 4,740, maka disimpulkan responden yang mengkonsumsi air yang melebihi 2 liter per hari mempunyai peluang 4,740 kali memiliki risiko akan mengalami gangguan kesehatan dibandingkan dengan responden yang mengkonsumsi air yang tidak melebihi 2 liter per hari. Jika dinilai secara populasi maka dengan laju asupan air dengan tidak melebihi 2 liter/hari, maka masyarakat masih aman mengkonsumsi air dari sumur di lokasi penelitian tapi jika dinilai secara individu tidak demikian halnya. Karena masingmasing individu akan jelas berbeda besar risiko (RQ) gangguan kesehatannya karena variabilitas faktor-faktor yang menentukan besarnya risiko, yaitu karakteristik antropometri dan pola pajanan. Dengan mensubstitusikan nilai-nilai yang diperoleh dari penelitian maka diperoleh nilai rata-rata (median) asupan adalah 0,013 mg/kg.hari. Apabila diambil nilai rata-rata berat badan populasi penelitian adalah 50 kg, maka asupan mangan yang diperoleh dari air minum di lokasi penelitian adalah 0,65 mg/hari. Jika dibandingkan dengan kisaran asupan yang masih aman dan adekuat untuk orang dewasa menurut Badan Gizi dan Makanan USA (2-5 mg/hari) atau

kisaran yang direkomendasikan Komite sains Uni-Eropa (1-10 mg/hari), maka asupan mangan pada populasi di wilayah penelitian melalui air minum tentu saja masih kurang. Hal ini disebabkan karena penelitian ini tidak melakukan perhitungan asupan mangan dari sumber lain, sehingga belum dapat ditentukan apakah populasi yang diteliti mengalami defisiensi mangan atau tidak. Durasi Pajanan Rata-rata (median) durasi pajanan di lokasi penelitian adalah 19 tahun dengan durasi pajanan terendah adalah 0,33 tahun (4 bulan) dan terlama 80 tahun. Dari 291 responden yang diteliti, sekitar 47,1% (137 orang) telah terpajan mangan selama lebih dari 19 tahun (Tabel 3). Dari uji statistik (Tabel 5) diperoleh nilai OR 0,227, sehingga disimpulkan bahwa responden yang mengkonsumsi air yang mengandung mangan lebih dari 19 tahun memiliki peluang 0,227 kali memiliki risiko akan mengalami gangguan kesehatan atau konsumsi selama lebih dari 19 tahun akan melindungi repsonden sebanyak 4,41 kali. Hal ini bertolak belakang dengan hasil-hasil penelitian yang telah pernah dilakukan. Kaitannya dengan hasil penelitian ini adalah karena distribusi responden yang terpajan mangan yang lebih dari 19 tahun dan memiliki RQ > 1 hanya 2,9% (lihat lampiran), sehingga distribusi durasi pajanan terpusat pada kelompok responden yang terpajan mangan lebih dari 19 tahun yaitu sebanyak 97,1%. Dengan kata lain, variabel durasi pajanan dalam penelitian ini tidak merupakan data yang baik untuk dianalisis karena memiliki sebaran data yang homogen, sehingga hasil analisis tidak menggambarkan atau tidak sesuai dengan teori yang ada. Pajanan yang terus menerus dari mangan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Target organ yang sering terganggu adalah sistem saraf. Sebuah studi

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

144

epidemiologi yang dilakukan di Yunani meneliti kemungkinan adanya hubungan pajanan kronik (lebih dari 10 tahun) mangan dari air minum dan efek neurologi pada orang-orang yang sudah tua yang berusia lebih dari 50 tahun (Kondakis et al. 1989). Peneliti membagi area studi menjadi 3 wilayah berdasarkan perbedaan konsentrasi mangan dalam suplai air minum. Konsentrasi mangan di wilayah A adalah 3,6-14,6 μg/L, wilayah B memiliki konsentrasi 81,6-252,6 μg/L, dan wilayah C memiliki konsentrasi 1.800 sampai 2.300 μg/L. Efek neurologi dievaluasi dengan pemeriksaan neurologi dengan mengevaluasi tingkat keparahan dari 33 gejala (seperti kelemahan/fatigue, kelainan gaya berjalan, tremor, dan distonia) dari seluruh subjek penelitian. Hasil dari pemeriksaan neurologi dinyatakan dalam bentuk skor composite. Skor neurologi yang tinggi mengindikasikan peningkatan frekuensi dan atau semakin beratnya 33 gejala yang dievaluasi. Peneliti menunjukkan bahwa perbedaan skor antara wilayah C dan wilayah A secara statistik bermakna (Tes Mann-Whitney, z=3,16, p=0,002), yang menandakan adanya gangguan neurologik pada penduduk yang tinggal di wilayah C. Dari analisis berikutnya, regresi logistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara wilayah A dan C ketika umur dan jenis kelamin diikutsertakan dalam analisis. Berat Badan Dalam analisis risiko, berat badan akan mempengaruhi besarnya nilai risiko dan secara teoritis semakin berat badan seseorang maka semakin kecil kemungkinannya untuk berisiko mengalami gangguan kesehatan. Dalam penelitian ini, dari hasil uji baivariat (Tabel 5) diperoleh nilai p = 0,186 dan nilai interval kepercayaan yang mencakup nilai 1 (0,179-1,245), sehingga disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi besar risiko gangguan kesehatan antara responden yang memiliki berat badan lebih dari 50 kg dengan responden yang memiliki berat badan kurang dari atau sama dengan 50 kg. Tentu saja, ini bertentangan dengan teori yang ada. Seharusnya sesuai dengan perhitungan matematis besar RQ akan berbanding terbalik dengan berat badan, artinya semakin kecil berat badan seseorang maka besar risiko (RQ) individu tersebut akan semakin besar.

Kaitannya dengan hasil penelitian ini, dapat dijelaskan bahwa dari hasil analisa bivariat menunujukkan bahwa distribusi responden yang memiliki berat badan kurang dari 50 kg dan memiliki RQ > 1 hanya 9,6% (lihat lampiran), sehingga distribusi responden cenderung terpusat pada responden dengan berat badan kurang dari atau sama dengan 50 kg yaitu 90,4%. Sama halnya dengan variabel durasi pajanan, variabel berat badan dalam penelitian ini bukan merupakan variabel yang baik untuk dianalisis karena memiliki sebaran data yang homogen, sehingga hasil analisis tidak menggambarkan atau tidak sesuai dengan teori yang ada. Besar Risiko Penelitian ini menghasilkan 291 nilai RQ. Dari dua kelompok lokasi yang diteliti yaitu kelompok populasi di TPA dan kelompok populasi yang bermukim di luar TPA, yang memiliki RQ > 1 terdapat sebanyak 22 responden atau sebanyak 7,6% dari seluruh responden yang diperiksa. Dan dari 22 responden yang memiliki RQ > 1 terdapat 18 responden (81,8%) bermukim di TPA (Tabel 5). Dengan nilai OR 8,109, dapat diambil kesimpulan bahwa responden yang tinggal di TPA Rawakucing mempunyai peluang 8,109 kali memiliki risiko akan mengalami gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi mangan yang terkandung dalam air dibandingkan dengan responden yang tinggal di luar TPA Rawakucing. Jika diperhatikan hasil rata-rata nilai RQ untuk kedua lokasi penelitian, maka terlihat tidak menunjukkan perbedaan bermakna, dimana rata-rata RQ di TPA adalah 0,2347 dan di luar TPA adalah 0,2955 (Tabel 6). Seharusnya RQ populasi responden di TPA akan lebih besar daripada RQ yang dimiliki populasi di luar TPA. Hal ini disebabkan terdapat dua buah variabel yang homogen yaitu variabel durasi pajanan dan berat badan. Untuk variabel durasi pajanan, sebanyak 97,1% responden telah terpajan mangan selama lebih dari atau sama dengan 19 tahun tapi memiliki RQ kurang dari 1, sedangkan banyaknya responden yang memiliki RQ lebih dari 1 hanya 2,9% responden. Begitu pula dengan variabel berat badan, responden yang memiliki berat badan kurang dari 50 kg dan memiliki RQ kurang dari 1 sebanyak 90,4%. Sedangkan yang

145

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

memiliki RQ lebih dari 1 dengan berat badan kurang dari 50 kg hanya 9,6% responden. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata (median) besaran risiko di lokasi penelitian adalah 0,2796. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat di lokasi penelitian berdasarkan parameter populasi belum memiliki risiko akan terkena gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi mangan dari air sumur yang ada di lokasi penelitian. Namun demikian, bila dikelompokkan berdasarkan pajanan mangan dari air sumur, maka terdapat 129 orang (44,3%) di lokasi penelitian yang terpajan mangan pada konsentrasi yang melebihi kadar yang diperbolehkan dan yang memiliki risiko akan terkena gangguan kesehatan akibat mangan ada sebanyak 21 responden (16,3%). Sementara itu hanya ada 1 responden yang memiliki RQ>1 yang mengkonsumsi mangan di bawah kadarr yang diperbolehkan. Dari analisa hubungan konsentrasi mangan pada air sumur dengan besar risiko (RQ) menghasilkan nilai p = 0,000 dan nilai interval kepercayaan yang tidak mencakup angka 1 (4,149-236,191), sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan bermakna proporsi besar risiko gangguan kesehatan antara responden yang mengkonsumsi air yang mengandung mangan melebihi kadar maksimal dengan responden yang mengkonsumsi air yang tidak melebihi kadar maksimal. Dengan nilai OR 31,036, dapat diambil kesimpulan bahwa responden yang mengkonsumsi air yang mengandung mangan melebihi kadar maksimal mempunyai peluang 31,036 kali memiliki risiko akan mengalami gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi mangan yang terkandung dalam air dibandingkan dengan responden yang mengkonsumsi air yang tidak melebihi kadar maksimal. Dengan demikian, penetapan 0,5 mg/l sebagai cut off point konsentrasi maksimal mangan dalam air bersih yang diperbolehkan menurut Permenkes No. 416 tahun 1990 tentang persyaratan air bersih untuk parameter kadar maksimal mangan masih cukup aman untuk melindungi populasi di tempat penelitian ini dilakukan. Gangguan kesehatan yang dapat timbul akibat toksisitas mangan yang pernah diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bleich et al. (1999) mempublikasikan laporan kasus mengenai efek neurologi yang terjadi pada lelaki dewasa yang menelan sekitar 1,8 mg/kg-hari Kalium permanganat (0,62 mg Mn) selama 4 minggu dengan periode follow up selama 14 tahun. Sebagian besar gejala yang dicatat adalah kekakuan pada otot, nyeri otot, hypersomnia, meningkatnya libido, berkeringat, fatigue, dan kecemasan. 2. Intoksikasi mangan terjadi pada lelaki berusia 62 tahun yang menerima nutrisi parenteral total yang mengandung 2,2 mg setiap hari selama 23 bulan (Ejima et al., 1992). Konsentrasi ini sebanding dengan dosis 0,023 mg Mn/kg-hari untuk seorang dewasa yang berbobot 70 kg. Konsentrasi mangan dari hasil pemeriksaan darah penderita meningkat. Penderita menunjukkan tanda-tanda disartria, kekakuan ringan, hipokinesia dengan gambaran ’muka topeng’, gaya berjalan yang terpatah-patah (halting gait), dan gangguan reflex-reflex postural yang parah, dan diagnosis untuk kelainan ini adalah Parkinson. Dengan asumsi rata-rata absorbsi sebesar 5% melalui pajanan oral, dosis 2,2 mg Mn/hari secara intravena akan ekuivalen dengan intake oral sebanyak 40 mg Mn/hari (US EPA, 1993). 3. Gangguan kesehatan yang dilaporkan Kawamura et al. (1941) adalah lethargy, peningkatan tonus otot, tremor, dan gangguan mental diakibatkan oleh ingesti mangan yang mengkontaminasi air sumur. Sumber kontaminasi adalah leachate yang berasal dari sekitar 400 sel baterai kering yang dikubur dekat dengan sumur air minum. Dari 50 orang yang diperiksa, 15 orang memiliki gejala. Sebanyak 5 kasus dikategorikan sebagai kasus berat, 2 kasus sedang, dan 8 kasus ringan. Kebanyakan dari kasus berat terjadi pada mereka yang berusia lebih tua. Orang-orang yang berusia muda tidak begitu terpengaruh, dan gejalagejala intoksikasi tidak ditemukan pada anak-anak (usia 1 sampai 6 tahun). Terjadi 3 kematian, yang salah satunya adalah akibat bunuh diri. Dari hasil autopsi, konsentrasi mangan pada otak salah satu pasien yang meninggal ditemukan lebih tinggi 2 sampai 3 kali

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

146

daripada konsentrasi yang diukur pada 2 kontrol autopsi lainnya. Perubahan makroskopik dan mikroskopik yang mencolok terlihat pada jaringan otak, khususnya di wilayah globus pallidus. 4. Sebuah studi epedemiologi diidentifikasi untuk mencari kaitan antara pajanan tinggi mangan melalui oral dengan kejadian neurotoksisitas pada anak-anak. Efek samping neurologi yang ditandai dengan penurunan kemampuan belajar di sekolah dilaporkan terjadi pada anakanak berusia 11-13 tahun yang terpajan konsentrasi mangan yang berlebihan melalui ingesti air minum yang terkontaminasi dan mengkonsumsi makanan yang terbuat dari tanaman gandum yang disirami dengan air kotor (Zhang et al., 1995). KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Konsentrasi rata-rata mangan dalam air sumur di TPA Rawakucing adalah 4,3 mg/l (SD=2,8873 mg/l). Sedangkan di luar TPA Rawakucing adalah 0,3000 mg/l (SD=0,1888 mg/l). 2. Rata-rata (median) laju asupan konsumsi air di lokasi penelitian adalah 2,0833 liter per hari. 3. Rata-rata (median) durasi pajanan terhadap konsumsi air yang mengandung mangan di lokasi penelitian adalah 19 tahun. 4. Rata-rata (median) berat badan orang di lokasi penelitian adalah 50 kg. 5. Besaran risiko kesehatan masyarakat akibat mengkonsumsi air yang mengandung mangan di lokasi penelitian adalah 0,2796. Proporsi masyarakat di TPA Rawakucing dan di luar TP Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang Provinsi Banten pada tahun 2007, yang mempunyai besaran risiko lebih dari satu (RQ > 1) dan mengkonsumsi mangan yang melebihi kadar yang diperbolehkan adalah 16,3%. 6. Rata-rata besaran risiko (RQ) gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi air yang mengandung mangan pada masyarakat yang tinggal di TPA Rawakucing adalah 0,2347 dan rata-rata besaran risiko (RQ)

gangguan kesehatan masyarakat yang tinggal di luar TPA Rawakucing adalah 0,2955. 7. Ada perbedaan konsentrasi mangan dalam air-air sumur yang ada di TPA dan di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang Provinsi Banten pada tahun 2007. 8. Ada perbedaan besar risiko gangguan kesehatan antara masyarakat yang tinggal di TPA Rawakucing dengan masayarakat yang tinggal di luar TPA Rawakucing kecamatan Neglasari kota Tangerang Provinsi Banten pada tahun 2007. SARAN Diharapkan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang agar mempertimbangkan perubahan sistem pengelolaan TPA di Rawakucing. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan sistem sanitary landfill. Dengan sistem ini, cairan lindi tidak akan mencemari air permukaan dan air tanah di kawasan atau sekitar TPA, karena cairan lindi akan tertampung di kolam pengolah lindi. Langkah lain yang dapat dipertimbangkan oleh Pemkot Tangerang adalah dengan membuat pengolahan air komunal yang dapat menghasilkan air yang layak dan aman untuk dikonsumsi warga masyarakat di sekitar Rawakucing. Untuk Dinas Kesehatan Kota Tangerang diharapkan mampu melakukan upaya manajemen/pengelolaan risiko bagi anggota masyarakat dengan RQ>1. Dengan melakukan manajemen risiko diharapkan anggota masyarakat yang memiliki risiko akan terkena gangguan kesehatan di kemudian hari akibat mengkonsumsi air yang mengandung mangan dapat terhindar. DAFTAR PUSTAKA Bleich S.et al. 1999. Chronic manganism: Fourteen years follow-up. J. Neuropsych. Clin. Neuro. 11:117. Ejima, A. et al. 1992. Manganese intoxication during total parenteral nutrition [letter]. Lancet 339: 426. Kawamura et al. 1941. Intoxication by manganese in well water. Kitasato Arch. Exp. Med. 18:145-169.

147

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

Kolluru, R. V., Bartel & Pitblado, R. 1996. Risk Assessment and Managemnet Handbook: for Environmental, Health, and Safety Professional, McGraw-Hill, New York Kondakis et al. 1989. Possible health effects of high manganese concentration in drinking water. Arch. Environ. Health 44(3):175-178. Leach, R.M., Harris. 1997. Manganese. Clinical Nutrition in Health and Disease, 2 (Handbook of Nutritionally Essential Mineral Elements), 335-355. Soemirat, J. 1999. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Tharanit, T. 1992. The contamination of mercury, cadmium and manganese in leachate from solid waste disposal site of Bangkok Metropolitan Administration. Master’s Thesis, Chulalongkorn University.

U.S. EPA. 1993. Drinking Water Criteria Document for Manganese. Final Draft. U.S. Environmental Protection Agency, Environmental Criteria and Assessment Office, Office of Health and Environmental Assessment. ECAO- CIN-D008. Cincinnati, OH. US EPA. 2003. Health Effects Support Document for Manganese. U.S. Environmental Protection Agency, Office of Water. EPA. EPA-822-R-03003. Washington, D.C. WHO. 2002. Environmental Health Criteria 228: Principles and methods for the assessment of risk from essential trace elements. World Health Organization: Geneva, Switzerland. Zhang, G., D. Liu, and P. He. 1995. [Effects of manganese on learning abilities in school children]. Chung Hua Yu Fang I Hsueh Tsa Chih 29:156-158 (Chinese).

Analisis Risiko Pajanan Mangan (138–148) Taufik Ashar

148

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

GAMBARAN KEPUASAN PASIEN BERDASARKAN METODE SERVQUAL DAN DIAGRAM KARTESIUS DI RUMAH SAKIT BAKTI YUDHA KOTA DEPOK
Siti Khadijah Nasution Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jl.Universitas No.21 Kampus USU Medan, 20155 ABSTRACT Continuity of health service efforts was very important to increase community health degree. One of health service facilities is a hospital. As a organization, hospital need to measure their performance and one of indicator of performance measurement is customer satisfaction. The purpose of the research is to describe patient satisfaction based on ServQual Method and Kartesius Diagram. The designed of the study is descriptive study. The sample of this research is inpatient. The data was collected by interview with questionare. The result showed that satisfaction level of inpatient with satisfaction limit 100% (expectation score equal to reality score) is only 10% inpatient felt satisfied. Based on five satisfaction dimension, inpatient that felt satisfied with tangible dimension is 12%, satisfy with reliability dimension is 13%, satisfy with responsiveness dimension is 19%, satisfy with empathy dimension is 22%, satisfy with assurance dimension is 23%. Using satisfaction limit 80%, 56% of inpatient felt satisfied. Based on Kartesius Diagram, there is two dimensions that has factors in priority position and must to be improved. The first dimension was tangible dimension with factor;1) completeness, modern, and cleanliness of tools, 2)calmness and cleanliness of inpatient room, 3) cleanliness and the adequacy of toilet/bathroom. The second dimension is responsiveness dimension with factor:1) waiting time of inpatient to get service. Based on this findings, it is important to increase service quality that gives effects to satisfaction level of inpatient. Keywords: Customer satisfaction, Performance measurement, Service quality, Kartesius diagram PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (curatif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan (UU No.23 Tentang Kesehatan, 1992). Untuk mewujudkannya, didirikanlah sarana kesehatan. Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan yang mempunyai fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Oleh sebab itu, terjaminnya kesinambungan usaha pelayanan kesehatan sangat penting dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Permasalahan yang mungkin terjadi di dunia usaha jasa pelayanan kesehatan rumah sakit, diantaranya kurangnya tenaga sumber daya

149

manusia baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, banyaknya keluhan dari customer terhadap pelayanan kesehatan yang merupakan cermin ketidakpuasan, produktifitas kerja yang rendah yang merupakan cermin dari ketidakpuasan kerja, serta pengelolaan aset yang tidak efisien. Semua permasalahan diatas dapat berakibat kepada rendahnya keuntungan yang diperoleh rumah sakit sehingga tidak dapat survive. Untuk itu, penting diketahui gambaran kepuasan pasien berdasarkan metode servqual dan diagram kartesius, sehingga diketahui indikator dalam dimensi mutu yang dirasakan penting oleh pasien dalam upaya meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan. Perumusan Masalah Belum diketahui gambaran kepuasan pasien berdasarkan metode servqual dan diagram kartesius di Rumah Sakit Bakti Yudha Kota Depok. Tujuan Penelitian Menjelaskan gambaran kepuasan pasien berdasarkan metode servqual dan diagram kartesius di Rumah Sakit Bakti Yudha Kota Depok. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan bagi pihak manajemen rumah sakit. 2. Sebagai bahan masukan bagi pengembangan ilmu
Variabel Kepuasan pelanggan Tangibility Responsive-ness Reliability Assurance Empathy

METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian survei, sehingga nantinya didapatkan gambaran kepuasan pasien berdasarkan metode servqual dan diagram kartesius di Rumah Sakit Bakti Yudha Kota Depok. Tingkat kepuasan pelanggan diukur dengan melakukan wawancara dengan 100 pasien rawat inap, menggunakan kuesioner kepuasan pelanggan yang didasarkan pada teori service quality Valerie Ziethaml yang mencakup pertanyaan mengenai tangibility, reliability, responsiveness, assurance, empathy. Masing-masing pernyataan diberi skor dengan menggunakan 4- skala likert. Setelah didapat jumlah keseluruhan skor persepsi dan skor harapan, selanjutnya di hitung tingkat kepuasan. Selain diukur berdasarkan seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas pelayanan yang diterima, tingkat kepuasan juga dapat diukur melalui tingkat kesesuaian. Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor kinerja/ pelaksanaan (kenyataan) dengan skor kepentingan (harapan). Tingkat kesesuaian inilah yang akan menentukan urutan prioritas peningkatan faktor-faktor yang akan mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dalam penelitian ini terdapat 2 buah variabel yang diwakilkan oleh huruf X dan Y, di mana: X merupakan tingkat kinerja perusahaan yang dapat memberikan kepuasan pada pelanggan, sedangkan Y merupakan tingkat kepentingan pelanggan.

Definisi Operasional tingkat perasaan di mana seseorang menyatakan hasil perbandingan atas kinerja jasa rumah sakit yang diterima dan yang diharapkan bukti fisik yaitu kemampuan suatu rumah sakit dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan rumah sakit, dengan penyampaian informasi yang jelas keandalan yaitu kemampuan rumah sakit untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai rumah sakit untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan rumah sakit dengan berupaya memahami keinginan konsumen

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

150

Adapun rumus yang digunakan adalah: (Supranto, 1997:241) Xi Tki = X 100% Yi Di mana: Tki = Tingkat kesesuaian responden Xi = Skor penilaian kinerja perusahaan Yi = Skor penilaian kepentingan pelanggan Selanjutnya sumbu mendatar (X) akan diisi oleh skor rata-rata tingkat pelaksanaan, sedangkan sumbu tegak (Y) akan diisi oleh skor tingkat kepentingan. Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang dibagi atas empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titik-titik (X, Y), dimana X merupakan rata-rata dari rata-rata skor tingkat pelaksanaan dan Y adalah rata-rata skor tingkat kepentingan seluruh faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan.
Diagram Kartesius Kepentingan Y Prioritas utama A Y C D Prioritas rendah Berlebihan X X Pelaksanaan (Kinerja) Pertahankan prestasi B

C. Menunjukkan beberapa faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan, pelaksanaannya oleh perusahaan biasa-biasa saja. Dianggap kurang penting dan kurang memuaskan. D. Menunjukkan faktor yang mempengaruhi pelanggan kurang penting, akan tetapi pelaksanaannya berlebihan. Dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan. (Supranto, 1997:241-243). HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat kepuasan pelanggan Rumah Sakit Bakti Yudha diukur berdasarkan Metode ServQual dari Valerie Zheitaml, dan dibedakan kepuasan terhadap dimensi bukti fisik, dimensi keandalan, dimensi daya tanggap, dimensi jaminan, dimensi empati, serta kepuasan secara keseluruhan. Adapun hasilnya dapat digambarkan Tabel 1. Dari Tabel 1 diketahui 88% pasien rawat inap Rumah Sakit tidak puas terhadap dimensi bukti fisik (tangible), 87% tidak puas terhadap dimensi keandalan (reliability), 81% tidak puas terhadap dimensi daya tanggap (responsiveness), 77% tidak puas terhadap dimensi jaminan (assurance), 78% tidak puas terhadap dimensi empati (empathy), dan 90% tidak puas terhadap pelayanan jasa yang diberikan oleh Rumah Sakit. Dari Tabel 2 diketahui 59% pasien rawat inap Rumah Sakit tidak puas terhadap dimensi bukti fisik (tangible), 44% tidak puas terhadap dimensi keandalan (reliability), 48% tidak puas terhadap dimensi daya tanggap (responsiveness), 42% tidak puas terhadap dimensi jaminan (assurance), 58% tidak puas terhadap dimensi empati (empathy), dan 44% tidak puas terhadap pelayanan jasa yang diberikan oleh Rumah Sakit.

Keterangan: A. Menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi kepuasan pelanggan, termasuk unsur-unsur jasa yang dianggap sangat penting, namun manajemen belum melaksananakan sesuai keinginan pelanggan. Sehingga mengecewakan/tidak puas. B. Menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan perusahaan, untuk itu wajib dipertahankannya. Dianggap sangat penting dan sangat memuaskan.

Tabel 1. Distribusi kepuasan pelanggan (kepuasan 100%) RS Bakti Yudha Tingkat Kepuasan Dimensi Kepuasan Puas Tidak Puas jumlah % jumlah % Bukti Fisik 12 12 88 88 Keandalan 13 13 87 87 Daya Tanggap 19 19 81 81 Jaminan 23 23 77 77 Empati 22 22 78 78 Kepuasan Keseluruhan 10 10 90 90

Total jumlah 100 100 100 100 100 100

% 100 100 100 100 100 100

151

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

Berdasarkan perbandingan 2 cara penentuan tingkat kepuasan diatas, terlihat dengan tingkat kepuasan 80% rumah sakit X belum dapat menjangkau 100% pelanggan, terlebih lagi menggunakan batas tingkat kesesuaian 100%. Untuk itu rumah sakit perlu mengambil kebijakan dalam penetapan tujuan dan sasaran tahunan rumah sakit sesuai dengan kemampuannya. Apakah diperlukan penurunan tingkat kepuasan pelanggan untuk tahun berikutnya sekaligus menetapkan tujuan dan sasaran kepuasan pelanggan 100% dalam sasaran jangka panjangnya. Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan sangat penting, menurut Kotler (1997) pada dasarnya kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan atas produk akan berpengaruh pada pola perilaku selanjutnya. Hal ini ditunjukkan pelanggan setelah terjadi proses pembelian. Apabila pelanggan merasa puas, maka dia akan menunjukkan besarnya kemungkinan untuk kembali membeli produk yang sama. Pelanggan yang puas juga cenderung akan memberikan referensi yang baik terhadap produk kepada orang lain. (Lupiyoadi, 2001:159). Rumah sakit mempunyai pasar dengan karakteristik yang menarik, walaupun terjadi peralihan dari dominasi pasar dengan

semi monopoli ke satu karakteristik dengan kompetisi yang hebat, pasar rumah sakit masih tetap dapat menghalangi dengan baik para pengguna yang akan beralih/berpindah. Beberapa faktor mempengaruhi pilihan dari rumah sakit. Pasien dokter, organisasi pemelihara kesehatan (HMO), atau asuransi sering mempengaruhi pasien dalam mencari pengobatan; setelah pengobatan dimulai pada rumah sakit, pasien cenderung untuk menyempurnakan pengobatan di sana; dan akhirnya, dibanyak negara, hanya ada satu rumah sakit pada jarak yang sesuai. Meskipun demikian, ada saat-saat dimana ketika penghalang turun dan pasien dapat melakukan peralihan/pergantian. (Jones & Sasser, 1995: 91-92). Untuk lebih memperjelas posisi masing-masing dimensi serta faktornya digunakan diagram kartesius. Dari hasil perhitungan didapat rata-rata dari rata-rata skor tingkat pelaksanaan/kenyataan sebesar 2,88 dan rata-rata dari rata-rata skor tingkat kepentingan/harapan sebesar 3,62. Dari dua titik ini akan dibentuk dua buah garis yang berpotongan tegak lurus. Untuk selanjutnya akan ditentukan posisi masing-masing pernyataan tiap dimensi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 1.

Tabel 2. Distribusi kepuasan pelanggan (kepuasan 80%) RS Bakti Yudha Tingkat Kepuasan Dimensi Kepuasan Puas Tidak Puas jumlah % jumlah % Bukti Fisik 41 41 59 59 Keandalan 56 56 44 44 Daya Tanggap 52 52 48 48 Jaminan 58 58 42 42 Empati 42 42 58 58 Kepuasan Keseluruhan 56 56 44 44

Total jumlah 100 100 100 100 100 100

% 100 100 100 100 100 100

Tabel 3. Rata-rata dari pernyataan harapan dan kenyataan dimensi fisik (tangibility) Pernyataan Rata-rata Kenyataan Rata-rata Harapan P1 2.87 3.78 P2 2.81 3.75 P3 3.13 3.59 P4 2.61 3.7 P5 2.49 3.51

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

152

3 ,8 3 ,7 5 3 ,7
Harapan 3,62 (Y)

3 ,6 5 3 ,6 3 ,5 5 3 ,5 3 ,4 5 0 0 ,5 1
2 ,8 8 ( X ) K e n y a ta a n

1 ,5

2

2 ,5

3

3 ,5

4

G a m b a r 1 .D ia g ra m K a r te s iu s d a ri D im e n s i F is ik K e p u a s a n P e la n g g a n R S .B a k ti Y u d h a

Dari gambar diatas terlihat pernyataan 1, 2, dan 4 berada pada kuadran A. Pernyataan 3 berada pada kuadran D dan pernyataan 5 berada pada kuadran C.
Tabel 4. Rata-rata dari pernyataan harapan dan kenyataan dimensi keandalan (reliability) Pernyataan Rata-rata Kenyataan Rata-rata Harapan P6 2.81 3.58 P7 3.05 3.75 P8 3.06 3.65 P9 3.03 3.76 P10 3.06 3.63

3 .8 3 .7 5
Harapan 3,62 (Y)

3 .7 3 .6 5 3 .6 3 .5 5 2 .7 2 .8 2 .9 3 3 .1
G a m b a r 2 . D ia g r a m K a r t e s iu s d a r i D im e n s i K e a n d a la n K e p u a s a n P e la n g g a n R S . B a k t i Y u d h a 2 ,8 8 (X ) K e n ya ta a n

Dari gambar diatas terlihat pernyataan 7, 8, 9 dan 10 berada pada kuadran B. sedangkan pernyataan 6 berada pada kuadran C.

153

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

Tabel 5.

Rata-rata dari (responsiveness) Pernyataan P11 P12 P13 P14

pernyataan

harapan

dan

kenyataan

dimensi

ketanggapan

Rata-rata Kenyataan 2.9 2.91 2.72 2.86

Rata-rata Harapan 3.62 3.67 3.69 3.55

3 .7 3 .6 8 3 .6 6
Harapan 3,62 (Y)

3 .6 4 3 .6 2 3 .6 3 .5 8 3 .5 6 3 .5 4 2 .7 2 .7 5 2 .8 2 .8 5 2 .9 2 .9 5
2 ,8 8 (X ) K e n ya ta a n G a m b a r 3 .D ia g ra m K a rte s iu s d a ri D im e n s i K e ta n g g a p a n K e p u a s a n P e la n g g a n R S .B a k ti Y u d h a

Dari gambar diatas terlihat pernyataan 13 berada pada kuadran A, pernyataan 11 dan 12 berada pada kuadran B, sedangkan pernyataan 14 berada pada kuadran C.
Tabel 6. Rata-rata dari pernyataan harapan dan kenyataan dimensi jaminan (assurance) Pernyataan Rata-rata Kenyataan Rata-rata Harapan P15 P16 P17 P18 3.01 3.03 3.07 3.04 3.69 3.63 3.63 3.65

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

154

3 .7 3 .6 9 3 .6 8 3 .6 7 3 .6 6 3 .6 5 3 .6 4 3 .6 3 3 .6 2 3 .6 1 3 .6 2 .8 5

Harapan 3,62 (Y)

2 ,8 8 (X ) K e n y a ta a n

2 .9

2 .9 5

3

3 .0 5

3 .1

G a m b a r 4 . D ia g ra m K a rte s iu s d a ri D im e n s i J a m in a n K e p u a s a n P e la n g g a n R S .B a k ti Y u d h a

Dari gambar diatas terlihat seluruh pernyataan, yaitu pernyataan 15, 16, 17, 18 berada pada kuadran B.
Tabel 7. rata-rata dari pernyataan harapan dan kenyataan dimensi empati (empathy) Pernyataan Rata-rata Kenyataan Rata-rata Harapan P19 2.8 3.54 P20 2.7 3.53 P21 2.66 3.22 P22 2.75 3.48 P23 2.92 3.66

3.7 3.6
Harapan 3,62 (Y)

3.5 3.4 3.3 3.2 3.1 2.6 2.7
2,88 (X) Kenyataan

Gam bar 5. Diagram Kartesius dari Dim ensi Em pati Kepuasan Pelanggan RS.Bakti Yudha

2.8

2.9

3

Dari gambar diatas terlihat pernyataan 19, 20, 21, 22 berada pada kuadran C, dan pernyataan 23 berada pada kuadran B.

155

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

Tabel 8. Gambaran pernyataan Dimensi ServQual dan posisinya dalam Diagram Kartesius Dimensi ServQual Kuadran Keterangan Dimensi Fisik: P1 : memiliki peralatan yang lengkap dan A Prioritas utama modern serta bersih P2 : memiliki Kamar rawat inap yang bersih A Prioritas utama dan tenang Berlebihan P3 : memiliki petugas yang berpenampilan D rapi, bersih dan berseragam Prioritas utama P4 : memiliki WC/toilet/kamar mandi yang A Prioritas rendah bersih serta cukup P5 : memiliki fasilitas telepon umum/wartel C Dimensi Keandalan: Prioritas rendah C P6 : memberikan pelayanan sesuai dengan jadwal (visit/kunjungan dokter, perawatan, istirahat): Pertahankan prestasi B P7 : mampu memberikan pertolongan (pelayanan pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan) yang cepat dan tepat Pertahankan prestasi B P8 : menangani administrasi catatan/dokumen tentang pasien dengan baik P9 : memiliki petugas yang selalu siap Pertahankan prestasi B melayani pasien masuk serta proses penerimaan yang cepat dan tepat Pertahankan prestasi B P10 : memberikan penjelasan yang dibutuhkan pasien: Dimensi Ketanggapan: Pertahankan prestasi P11 : mempunyai petugas yang mampu B memberikan informasi yang jelas, mudah dimengerti Pertahankan prestasi P12 : mempunyai dokter dan perawat yang B mengutamakan pelayanan terhadap kebutuhan pasien Prioritas utama P13 : dalam pelayanannya, tidak membuat A pasien menunggu terlalu lama Prioritas rendah C P14 : mempunyai petugas yang siap membantu setiap saat Dimensi Jaminan: P15 : memiliki dokter ahli yang cekatan dari B Pertahankan Prestasi berbagai bidang: P16 : memiliki perawat yang terdidik dan B Pertahankan Prestasi terampil : P17 : memiliki petugas yang memberikan B Pertahankan Prestasi pelayanan dengan sopan dan ramah : P18 : memberikan pelayanan yang B Pertahankan Prestasi menimbulkan rasa aman dan percaya : Dimensi Empati: P19 : memberikan perhatian secara khusus C Prioritas rendah kepada setiap pasien P20 : memberikan waktu yang cukup bagi C Prioritas rendah keluarga pasien untuk berkonsultasi : P21 : petugas yang selalu memperhatikan C Prioritas rendah kebutuhan pribadi pasiennya: P22 : mampu menyediakan fasilitas yang C Prioritas rendah dibutuhkan pasien P23: memberikan pelayanan kepada semua B Pertahankan prestasi pasien tanpa memandang status sosial dan lain-lain

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

156

KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian kepuasan pelanggan berdasarkan Metode Servqual diatas dengan menggunakan batas kepuasan 100% dimana skor harapan sama dengan skor kenyataan dan didapatkan hanya 10% pelanggan yang puas. Bila menggunakan mean sebagai cut-off penentuan tingkat kepuasan dan didapat tingkat kesesuaian 80%, didapat 56% puas. Berdasarkan diagram kartesius, ada 2 dimensi yang mempunyai faktor dalam posisi prioritas utama dan harus diperbaiki. Dimensi pertama adalah dimensi fisik dengan faktor yang menjadi prioritas utama peralatan yang lengkap dan modern serta bersih, kamar rawat inap yang bersih dan tenang, WC/toilet/kamar mandi yang bersih serta cukup. Dimensi kedua adalah dimensi daya tanggap dengan faktor yang menjadi prioritas utama tidak membuat pasien menunggu terlalu lama.

Berdasarkan hal tersebut, diharapkan kepada pihak manajemen Rumah Sakit Bakti Yudha meningkatkan mutu pelayanan sehingga meningkatkan kepuasan pasien. DAFTAR PUSTAKA Azwar, Saifuddin, 1988, Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya, Liberty, Yogyakarta Depkes RI, 1992, UU No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Jones & Sasser, 1995, Why Satisfied Custoners Defect, Harvard Business Review, November-Desember 1995: 88-91 Lupiyoadi, Rambat, 2001, Manajemen Pemasaran Jasa, Salemba Empat, Jakarta. Supranto, J, 2001, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar, Rineka Cipta

157

Gambaran Kepuasan Pasien (149–157) Siti Khadijah Nasution

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

PENGEMBANGAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT (JPKM) MENUJU KEPESERTAAN SEMESTA (UNIVERSAL COVERAGE) DI KABUPATEN PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH
Budi Aji1 dan Eri Wahyuningsih2
1,2

Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah ABSTRACT JPKM became a health development priority for District of Purbalingga since their development prone was not only focused in infrastructure development but also increasing quality of human resource. Issue of universal coverage became main objective as an effort to strengthening district health system, but similar with other developing countries, prepaid system in Purbalingga also faced lack of budget and problem of accessing to the health care provider. This study tried to design a strategy by propose a road map how JPKM system in the future by analyze the existing condition, premium resetting and optimizing the role of village clinic or PKD as the nearest health care provider that people can easily to access. It is a descriptive study design by analyzing using secondary data i.e. health service utilization report, JPKM members report, district health account and district health profile. The results showed that it was possible to develop JPKM became universal coverage system if there is any law enforcement and based on premium resetting, it indicated that there was a large different between the existing premium with the real need of premium by calculating the last year health service utilization. Keywords: Health development, Universal coverage

PENDAHULUAN Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah yang sejak tahun 2001 melakukan suatu upaya pembenahan mekanisme pembiayaan kesehatan berbasis pre-paid payment dalam bentuk program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) telah menjadikan Kabupaten Purbalingga menjadi percontohan nasional bidang kesehatan masyarakat berdasarkan surat Menko Kesra No. B 179/MMENKO/KESRA/IX/2006 tertanggal 18 September 2006. Pada saat ini cakupan peserta JPKM telah mencapai 72% dari total penduduk di Kabupaten Purbalingga sehingga tidaklah salah jika keinginan menuju kepesertaan semesta atau universal coverage dengan mewajibkan seluruh

penduduk di Kabupaten Purbalingga menjadi peserta JPKM menjadi salah satu obsesi dari Pemerintah Daerah Purbalingga (Mukti dkk., 2006). Selain itu, pembangunan kesehatan di Kabupaten Purbalingga pada saat ini juga mencoba meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dengan mengembangkan Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) dengan konsep Desa Sehat Mandiri (DSM) mencerminkan Sistem Kesehatan Daerah (SKD) mengarah kepada efisiensi dan keadilan dalam pelayanan kesehatan. Untuk mencapai obsesi universal coverage merupakan suatu keinginan yang sangat rasional sebab jika dikaitkan dengan prinsip asuransi the law of the large number atau hukum bilangan besar akan menjadikan JPKM memiliki risk pooling yang besar, hal

158

ini akan menghasilkan skala ekonomi yang besar terhadap pemerolehan premi yang nantinya berdampak pada semakin banyaknya benefit pelayanan kesehatan yang bisa ditawarkan. Perlu suatu kajian yang menghasilkan suatu road map pengembangan yang memberikan suatu strategi dan operasionalisasi kemana arah pengembangan program JPKM di Kabupaten Purbalingga dalam upaya menuju universal coverage dengan mempertimbangkan kekuatan dan potensi yang dimiliki sehingga menghasilkan sistem yang lebih sempurna menuju upaya peningkatan derajat status kesehatan masyarakat di Kabupaten Purbalingga itu sendiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menganalisis data sekunder yang berasal dari laporan Badan Pelaksana (Bapel) mengenai angka utilisasi pelayanan kesehatan tahun 2001 sampai dengan 2006 untuk menganalisis kecukupan premi, data kepesertaan JPKM tahun 2001 sampai

dengan 2006, Profil Kesehatan Kabupaten Purbalingga Tahun 2005 serta Akuntasi Kesehatan Kabupaten Purbalingga Tahun 2002 sampai dengan 2006. Kerangka berpikir yang menjadi dasar dalam kajian ini dapat dilihat pada Gambar 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi JPKM Saat Ini Perjalanan program JPKM telah berlangsung selama 6 tahun sejak tahun 2001 dengan skema yang tergolong ideal yaitu terjadi risk pooling antara peserta miskin dan yang tidak miskin. Kepesertaan JPKM di Kabupaten Purbalingga mencapai 70% Kepala Keluarga (KK) dimana kepesertaannya dibagi menjadi 3 strata; Strata I adalah peserta keluarga miskin (gakin) dimana premi 100% disubsidi oleh Pemkab Purbalingga, Strata II adalah peserta dimana preminya 50% disubsidi oleh Pemkab dan Strata III yang merupakan peserta dengan premi tanpa subsidi.

• • •

Aspirasi Stakeholder Utama Persaingan Regulasi Proyeksi Lingkungan ROAD MAP PENGEMBANGAN Sasaran

Aspirasi Manajemen

Portofolio Bisnis Y.A.D Produk dan Jasa Segmen Pasar Kompetensi yang dibutuhkan Analisis JPKM

Strategi

Program

• • •

Sumber Daya Kompetensi Portofolio Bisnis Saat Gambar 1. Kerangka Berpikir

159

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

Setelah pelaksanaan program JPKMM oleh pemerintah pusat dengan menunjuk PT Askes sebagai pelaksana kegiatan untuk mengelola asuransi kesehatan untuk penduduk miskin di seluruh Indonesia, hal tersebut juga berdampak pada pelaksanaan JPKM di Kabupaten Purbalingga tidak terkecuali. Peserta gakin pada program JPKM yang tadinya dikelola dan menjadi tanggung jawab Pemkab Purbalingga setelah pelaksanaan program JPKMM menjadi tanggungan pemerintah pusat dan kepesertaannya di bawah program JPKMM dengan skema benefit pelayanan kesehatannya disesuaikan dengan program yang baru tersebut. Sehingga saat ini program JPKM di Kabupaten Purbalingga terjadi kekurangan jumlah pesertanya sebagai konsekuensi adanya program JPKMM tersebut. Proyeksi Lingkungan Tersusunnya Undang-Undang (UU) Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No. 40 Tahun 2004 merupakan suatu peluang besar bagi bangsa Indonesia dalam upaya penataan sistem pembiayaan kesehatan yang lebih ideal. Dalam UU SJSN ditetapkan bahwa akan dikembangankan asuransi kesehatan sosial yang nantinya akan mencakup seluruh penduduk di Indonesia. Keinginan untuk mengembangkan program JPKM di Kabupaten Purbalingga menuju universal coverage dengan mewajibkan semua penduduk yang belum mempunyai jaminan asuransi kesehatan menjadi peserta JPKM merupakan sesuatu yang sangat rasional dan suatu breakthrough atau terobosan yang sangat jitu untuk dapat melanggengkan program JPKM sekaligus sebagai pelopor sistem jaminan kesehatan bagi penduduk yang terutama berpekerja di sektor informal. Sebab jika dilihat dari kepesertaan JPKM di Kabupaten Purbalingga pada tahun 2006 sebanyak 40.299 Kepala

Keluarga (KK) merupakan penduduk yang bekerja di sektor informal, menunjukkan bahwa selama ini Kabupaten Purbalingga telah sukses mengelola asuransi kesehatan bagi penduduk sektor informal. Dimana pelaksanaan asuransi kesehatan bagi pekerja sektor informal mempunyai keunikan dan kekhususan dalam penanganan pengumpulan premi dikarenakan karakteristik penghasilan yang sangat berbeda antar masing-masing peserta serta tingkat kesulitan yang tinggi dalam collecting premi dan menjaga keberlanjutan kepesertaan. Arah Pengembangan Pengembangan JPKM menuju universal coverage memerlukan rancangan yang mencakup 3 aspek yaitu aspek operasional, aspek finansial dan aspek sumber daya manusia, fasilitas dan infrastruktur. Ketiga aspek tersebut akan menjadi portofolio pengelolaan JPKM di Kabupaten Purbalingga yang mencerminkan produk dan jasa yang dihasilkan, segmen pasar serta kompetensi yang dibutuhkan oleh JPKM untuk mencapai goal universal coverage. a. Aspek operasional JPKM di Kabupaten Purbalingga yang telah berjalan selama 6 tahun, kepesertaan hingga tahun 2006 yang sebesar 40.299 KK masih perlu ditingkatkan jumlahnya agar hukum bilangan besar (the law of the large number) dapat terpenuhi sehingga mampu menciptakan subsidi silang yang bermakna diantara para peserta. Sistem managed care juga perlu diterapkan karena sistem tersebut akan dapat menyeimbangkan antara peningkatan mutu dan pengendalian biaya pelayanan kesehatan. Tahapan sebagai agenda untuk pengembangan program JPKM ke depan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Agenda untuk pengembangan program JPKM ke depan Tahun Tahapan Agenda 2007-2009 I Penetapan kebijakan, penguatan skema yang telah dilaksanakan. 2010-2012 II Pengembangan skema asuransi, kemantapan operasional (badan penyelenggara dan mekanisme penyelenggaraan). 2013-2015 III Transisi dan penyesuaian dengan penyelenggaraan asuransi kesehatan sosial nasional. 2016-seterusnya IV Kemandirian sistem asuransi kesehatan sosial menuju sistem yang lebih mantap.

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

160

Pada tahap I perlu adanya payung kebijakan yaitu adanya Perda yang merujuk pada peraturan pemerintah (PP) pusat mengenai asuransi kesehatan sosial nasional, perda tersebut menjadi landasan hukum penyelenggaraan program JPKM wajib. Skema benefit yang diberikan disesuaikan dengan skema benefit yang telah ada untuk memudahkan operasionalisasi dan kaitannya dengan besaran iuran untuk premi. Pada Tahap II perlu mulai dikembangkan skema benefit dan jaringan PPK yang lebih luas akan tetapi memperhatikan ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP) masyarakat untuk membayar premi. Pengembangan skema benefit lebih diarahkan untuk mencakup jenisjenis layanan yang bersifat catastrophic seperti penyakit ginjal akut dan penyakitpenyakit kronis lainnya dikarena jenis layanan ini sangat memberatkan si penderita dari sisi finansial. Pengembangan jaringan PPK yang dikontrak perlu dilaksanakan untuk meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan seperti pengembangan konsep dokter sehat dan kontrak dengan rumah sakit swasta di Kabupaten Purbalingga (public-private mix). Pengembangan mekanisme pembayaran ke PPK pun perlu dilaksanakan seperti mekanisme pembayaran dengan sistem paket, DRG ataupun global budget. Sistem pembayaran tersebut akan meningkatkan incentive bagi PPK sehingga PPK akan meningkatkan kualitas pelayanan selain itu sistem pembayaran tersebut sebagai upaya cost containment inflasi biaya pelayanan kesehatan. Tahap III merupakan tahap penyesuaian terhadap kebijakan nasional asuransi kesehatan sosial. Ada 2 skenario yang perlu dipersiapkan sebagai antisipasi yaitu pertama, jika kebijakan asuransi kesehatan sosial bisa mandiri di tiap-tiap kabupaten maka program JPKM yang sudah ada bisa tetap berjalan sesuai dengan perkembangan di tahap II. Akan tetapi dari sisi portabilitas, jaringan PPK hingga top referal tingkat nasional dan hukum bilangan besar, skenario ini kurang ideal untuk memberikan

pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif. Skenario yang kedua yaitu penyesuaian untuk melebur menjadi satu pooling asuransi kesehatan nasional. Kondisi ini akan memenuhi 3 kriteria diatas, akan tetapi bukan berarti bahwa fungsi di tingkat kabupaten berhenti namun peran daerah seperti halnya subsidi premi untuk strata II, kegiatan safe guarding, verifikasi kepesertaan kaitannya dengan status ekonomi serta pembuatan kebijakan terhadap sistem pelayanan kesehatan (healthcare delivery system) daerah yang mendukung program asuransi kesehatan nasional sangatlah diperlukan. Tahap IV sebagai tahap kemandirian dari program yang ada baik skenario pertama maupun kedua pada tahap III. Tahap ini mencerminkan stabilitas sistem dan pengembangan-pengembangan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat. b. Aspek finansial Secara administratif ada 3 masalah pokok dalam aspek pendanaan yang perlu diperhatikan dalam perancangan program JPKM menjadi sistem yang bersifat semesta dan terjaga keberlanjutannya, yaitu sumber dana, premi dan pengunaan dana. Aspek finansial akan berkembang menyesuaikan tahap-tahap perkembangan program JPKM sebagai berikut: Tahap I (2007-2009) 1) Sumber dana Sumber dana untuk pelaksanaan program JPKM pada tahap ini berasal dari premi masyarakat dan subsidi premi dari APBD untuk peserta strata II. Karena pada tahap ini skema benefits yang diberikan adalah sama seperti skema benefits pada program sebelumnya maka besarnya premi masih sama. 2) Premi Pada tahun 2006, besarnya premi yang ditetapkan untuk setiap KK adalah sebesar Rp. 80.000,00 dimana untuk peserta strata II memperoleh subsidi dari ABPD sebesar Rp. 40.000,00. Besaran premi Rp. 80.000,00 masih menjadikan suatu pertanyaan apakah sebenarnya

161

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

besaran tersebut telah benar-benar mencakup unit cost taip-tiap jenis pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis. Hasil dari kajian data sekunder utilisasi pelayanan kesehatan pada tahun 2005 dari dari peserta JPKM sebanyak 40.299 KK dan kajian tarif Puskesmas berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Tabel 2. Perhitungan premi program JPKM No Jenis Pelayanan Ket. Rawat Jalan Tingkat Pertama a. Insentif dokter umum b. Tindakan dokter umum c. Insentif dokter gigi d. Tindakan dokter gigi e. Obat-obatan f. Persalinan g. Pemeriksaan laboratorium h. Kamar perawatan termasuk obat Sub total 2 Rawat Jalan Tingkat Lanjut a. Pelayanan Dokter spesialis b. Tindakan dokter spesialis c. Penunjang diagnostik - Rontgen - Laboratorium - USG - EKG d. Obat e. Fisioterapi f. Konsultasi gizi Sub total 3 Rawat Inap a. Mondok b. Operasi c. Obat-obatan d. Visite e. Perawatan khusus (ICU) f. Persalinan normal g. Persalinan dengan penyakit h. Penunjang diagnostik - Rontgen - Laboratorium - Pemeriksaan khusus j. Transfusi khusus k. Fisioterapi 4 Gawat darurat Sub total Total 1

Purbalingga No. 6 Tahun 2003 dan tarif RSUD berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga No. 7 Tahun 2000, diperoleh perhitungan besaran premi yang hasilnya ternyata sangat berbeda dengan besaran premi yang telah ditetapkan pada tahun 2006. Perhitungan secara rinci dari besaran premi tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Angka Utilisasi (%) 17,00 0,09 0,40 0,04 17,40 0,18 0,03 0,06 Tarif/Biaya satuan (Rp.) 2.500,00 20.000,00 15.000,00 25.000,00 10.000,00 85.000,00 10.000,00 100.000,00 Kapitasi/ Bulan 425,00 18,00 60,00 10,00 1.740,00 153,00 3,00 60,00 2.469,00 1,25 0,12 0,05 0,20 0,20 0,03 1,25 0,02 0,03 5.500,00 45.000,00 25.000,00 15.000,00 30.000,00 10.000,00 30.000,00 25.000,00 3.500,00 68,75 54,00 12,50 30,00 60,00 3,00 375,00 5,00 1,05 609,30 862,50 250,00 187,50 13,75 114,00 135,00 75,00 5,00 3,00 12,50 2,50 5,00 5,75 1.671,50 4.749,80

Maximum 30 hari

0,25 0,05 0,25 0,25 0,02 0,15 0,05 0,02 0,02 0,05 0,01 0,02 0,05

345.000,00 500.000,00 75.000,00 5.500,00 570.000,00 90.000,00 150.000,00 25.000,00 15.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 11.500,00

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

162

Besaran premi per jiwa dalam 1 tahun adalah Rp 4.749,80 x 12 bulan = Rp 56.997,60/jiwa/tahun. Untuk premi per KK dalam 1 tahun jika asumsi rata-rata dalam satu keluarga terdapat 4 anggota keluarga maka besaran premi yang harus ditarik adalah Rp 56.997,60 x 4 orang = Rp 227.990,40/KK/tahun. Jika dibandingkan dengan besaran premi pada tahun 2006 terlihat bahwa seharusnya besaran premi tidak lagi Rp 80.000,00/KK/tahun. Jauhnya premi yang ditetapkan dengan kebutuhan premi riil menyebabkan ketidakcukupan pengembalian klain kepada PPK kecuali jika adanya subsidi premi dari pemerintah daerah. Selama ini sebagai upaya subsidi yang dilakukan pemerintah selain subsidi premi untuk peserta strata II, layanan kesehatan juga disubsidi melalui dana lain seperti sumbangan rutin oleh pemerintah daerah untuk mensubsidi biaya operasional Puskesmas. Puskesmas juga menerima subsidi dari pemerintah untuk membeli obat-obatan dan perlengkapan medis, hal itu juga berlaku juga pada RSUD. Beberapa alternatif yang mungkin dilakukan agar kekurangan dana pelayanan kesehatan dapat tercukupi pada tahap I ini adalah dengan pertama, subsidi dari sisi penawaran (supply side) berupa subsidi obat dengan kalkulasi sebagai berikut: - Pada program JPKM pada tahun 2006 jumlah total peserta adalah 40.299 KK atau 72% dari total penduduk termasuk penduduk yang belum menjadi peserta skema asuransi kesehatan. Pada tahap I ini sudah status kepesertaan sudah diwajibkan sehingga total KK yang akan menjadi peserta JPKM adalah 100/72 x 40.299 KK = 55.970 KK - Total kebutuhan biaya pelayanan kesehatan dalam satu tahun berdasarkan utilisasi adalah Rp 227.990,40 x 55.970 KK = Rp 12.760.622.690,00 - Dana yang diperoleh dari pengumpulan premi peserta dalam satu tahun (ditambah subsidi premi untuk peserta strata II sebesar Rp 40.000,00) adalah Rp 80.000,00 (disamakan dengan premi tahun

2006) x 55.970 KK = Rp 4.477.600.000,00 - Total biaya obat dalam satu tahun berdasarkan utilisasi pelayanan adalah Rp 2.302,50 x 12 bulan x 55.970 KK x 4 jiwa = Rp 6.185.804.400,00 - Seandainya dilakukan subsidi terhadap obat maka masih terdapat kekurangan biaya total pelayanan kesehatan sebesar Rp 2.097.218.290,00. Subsidi dari sisi penawaran berupa subsidi obat masih menyisakan kekurangan penutupan biaya kesehatan sebesar Rp 2.097.218.290,00. Alternatif kedua untuk dapat menutup kebutuhan biaya pelayanan kesehatan adalah dari sisi penawaran (demand side) yaitu dengan menaikkan premi sebesar Rp 37.470,00 sehingga premi yang sesuai untuk tahap I ini adalah sebesar Rp 117.470,00. Besaran premi tersebut harus memperhatikan juga ATP dan WTP masyarakat sehingga dapat menyusuaikan tingkat kemampuan masyarakat untuk bergabung menjadi peserta JPKM. Dari perhitungan tersebut total subsidi yang harus disediakan oleh pemda Kabupaten Purbalingga adalah sebagai berikut: - Asumsi peserta strata II sejumlah 30.000 KK maka subsidi premi (setengah dari total premi) dari pemda sebesar Rp 58.735,00 x 30.000 KK = Rp 1.762.050.000,00. - Subsidi obat sebesar Rp 6.185.804.400,00 - Total subsidi yang diperlukan sebesar Rp 7.947.854.400,00. Selain 2 alternatif tersebut sebagai upaya untuk menutupi kecukupan biaya pelayanan kesehatan dari sisi penawaran (demand side) adalah dengan iur biaya (cost sharing). Paling potensial untuk iur biaya tersebut diberlakukan untuk jenis pelayanan rawat jalan tingkat lanjut spesialis dan rawat inap. Hal ini selain untuk menutup kecukupan biaya pelayanan kesehatan berfungsi pula sebagai upaya cost containment untuk mengurangi moral hazard dan overutilization dari peserta JPKM.

163

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

Mekanisme pengumpulan premi yang telah dilaksanakan pada program sebelumnya dilakukan dengan mengandalkan peran kader kesehatan. Pengumpulan premi program merupakan salah satu kendala yang perlu mendapatkan perhatian dikarenakan ketidakseragaman besar dan waktu pemerolehan penghasilan peserta program JPKM yang mayoritas adalah penduduk yang bekerja di sektor informal. Untuk peningkatan kemudahan proses pengumpulan premi beberapa alternatif yang dapat digunakan adalah: - Pembayaran dilakukan di tiap-tiap Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) atau di kantor kepala desa/kelurahan jika desa/kelurahan tersebut tidak memiliki PKD. - Pembayaran dilakukan bersamaan dengan pembayaran rekening PLN. Mekanisme ini potensial dijadikan sarana pembayaran premi JPKM karena dimungkinkan setiap peserta JPKM juga berlangganan listrik PLN. - Pembayaran dilakukan bersamaan dengan pembayaran pajak. Mekanisme ini sangat ideal akan tetapi relisasinya masih sulit dikarenakan sistem perpajakan kita yang belum baik. 3) Penggunaan dana Pembayaran kepada PPK menggunakan pendekatan prospektif yaitu dengan sistem kapitasi. Hal ini akan mendorong terjadinya insentif finansial bagi PPK, sehingga dapat dicegah penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang berlebihan (overutilization). Tahap II (2010-2012) 1) Sumber dana Tahap kedua adalah tahap pengembangan program JPKM semesta. Sumber dana untuk pelaksanaan program harus sudah berdasarkan pengumpulan premi dari peserta dan semakin sedikit subsidi yang diberikan oleh pemda. 2) Premi Besaran premi pada tahap ini perlu disesuaikan lagi terhadap kenaikan tarif pelayanan kesehatan dan juga mempertimbangkan faktor inflasi. Inovasiinovasi penentuan besaran premi perlu dikembangkan. Selama ini penetapan premi

berdasarkan community rating dan experience based pada utilisasi pelayanan dan besarannya dihitung menggunakan sistem kapitasi. Teknik penetapan premi berdasarkan tingkat penghasilan atau kekayaan perlu diujicobakan dalam tahap ini. Akan tetapi teknik ini membutuhkan ketepatan dalam penilaian tingkat penghasilan atau kekayaan seseorang. Teknik ini secara nilai keadilan atau equity lebih progresif dibanding teknik kapitasi atau community rating. 3) Penggunaan dana Pengembangan mekanisme pembayaran (payment system) kepada PPK seperti Diagnostic Related Groups (DRGs), sistem paket maupun sistem budget (global budget) perlu diujicobakan. Payment system tersebut lebih mampu memprediksi kecukupan unit cost masing-masing pelayanan kesehatan dibanding sistem kapitasi. Dengan semakin baiknya mekanisme reimbursement tersebut akan meningkatan insentif bagi PPK dan meningkatkan kepuasan PPK. Tahap III (2013-2015) Tahap ini merupakan tahap transisi yaitu disesuaikan dengan kebijakan yang berkembang khususnya kebijakan nasional mengenai asuransi kesehatan sosial nasional. Selagi grand design secara nasional belum jelas bagaimana pengembangan asuransi kesehatan sosial di Indonesia, 2 skenario pada tahap ini yaitu tetap berbentuk JPKM atau melebur menjadi bagian dari skema nasional akan mempengaruhi sumber pendanaan program, besaran premi dan penggunaan dana. Jika skenario pertama dijalankan maka dana untuk program JPKM sama seperti program sebelumnya dengan melakukan pengembangan-pengembangan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, akan tetapi jika skenario kedua yang berjalan, maka sumber dana, besaran premi dan penggunaan dana akan menyesuaikan dengan kebijakan nasional. Tahap IV (2016-seterusnya) Desain premi, sumber dan pemanfaat dana pada tahap ini lebih mencerminkan kemandirian suatu program. Apapun grand design yang akan terbentuk dalam tahap ini haruslah bertujuan menciptakan performa

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

164

sistem kesehatan yang memenuhi 2 kriteria keberhasilan yaitu fairness financing dan responsiveness pelayanan kesehatan terhadap kebutuhan masyarakat. c. Aspek sumber daya manusia, fasilitas dan infrastruktur untuk pelaksanaan program Aspek SDM, fasilitas dan infrastruktur berkaitan dengan peran Bapel JPKM selaku badan penyelenggara program. Bapel haruslah semakin mandiri dan profesional dalam menjalankan fungsinya sehingga kegiatan administrasi operasional semakin efektif dan efisien. Beberapa aspek dari bapel yang perlu dikembangkan yaitu struktur organisasi Bapel haruslah mencerminkan profesionalisme kerja dan efisien namun kaya fungsi, Bapel haruslah memiliki SDM yang berkompeten dalam bidang perasuransian, pengembangan sistem informasi, serta Bapel haruslah memposisikan diri sebagai badan asuransi kesehatan yang berfungsi untuk mengelola kepesertaan, manajemen pelayanan kesehatan dan keuangan penyelanggaraan program. KESIMPULAN Dari hasil kajian di atas dapat bahwa upaya menuju program JPKM dengan kepesertaan semesta (universal coverage) merupakan upaya yang rasional dan akan memberikan dampak yang baik bagi sistem pembiayaan dan penataaan pelayanan kesehatan di Kabupaten Purbalingga. Aspek kebijakan sangat menentukan keberhasilan program dikarenakan dengan peraturan yang ada akan memberikan payung hukum bagi operasional dan perkembangan JPKM menuju universal coverage yang mana kepesertaannya bersifat wajib. Selain itu Aspek operasional, finansial, SDM, fasilitas dan infrastruktur perlu dirancang sedimikan rupa menjadi bagian yang saling mendukung dalam upaya mensuskseskan program JPKM semesta di Kabupaten Purbalingga. DAFTAR PUSTAKA Aji, B., 2005. Road map of PT ASKES for preparing the implementation of social security act. Laporan Magang, Asia University, Taiwan.

Aji, B., 2006. Equitable financing, out-ofpocket payments and the effects of mandatory health insurance in Indonesia. Laporan Thesis, Asia University, Taiwan. Anonim, 2005. Kabupaten Purbalingga dalam angka 2004. Bapedda dan BPS Kabupaten Purbalingga. Arifianto, A., Marianti, R., Budiyati, S., dan Tan, E., 2005. Menyediakan layanan efektif bagi kaum miskin di Indonesia: laporan mekanisme pembiayaan kesehatan (JPK-GAKIN) di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah: Sebuah studi kasus. Lembaga Penelitian SMERU, Jakarta. Carrin, G., dan Hanvoravongchai, P., 2003. Provider payments and patient charges as policy tools for cost-containment: How successful are they in highincome countries? BioMed Central Ltd. Habsyi, A. dkk., 2002. Kurikulum dan kumpulan materi pelatihan Bapim JPKM. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Mukti, A.G., Chriswardani, S., Efriandi, S., dan Puspandari, D.A., 2006. Evaluasi program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin (JPKMM) tahun 2005 (Studi di dua kabupaten). Makalah pada seminar nasional reformasi sektor kesehatan dalam desentralisasi kesehatan di Bandung tanggal 6-8 Juni 2006. Mukti, A.G., dan Servais, G., 2004. Pengembangan sistem jaminan kesehatan bagi keluarga miskin di Kabupaten Sumba Timur. Berita Daerah Volume II/01/2004 Desentralisasi Kesehatan PMPK UGM, Yogyakarta. Soetadji, O.A., 2002. Peran PT ASKES dalam mensukseskan sistem jaminan sosial bidang kesehatan bagi keluarga miskin. PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia, Jakarta. Sulastomo, 2005. Sistem jaminan sosial nasional, penyelenggaraan jaminan kesehatan. Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta.

165

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (158–165) Budi Aji dan Eri Wahyuningsih

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS BINJAI KOTA
Heru Santosa Departemen Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jl.Universitas No.21 Kampus USU Medan, 20155 ABSTRACT Public Health Center (Puskesmas) is a leading health service in the development of health that plays a vital role to realize the health development through vision of Indonesian Healthy 2010. The objectives of the research would be to know the quality of health services, the contributing factors., and the demand and need of community. The measurement of quality of services used SERQUAL method and the extraction of data is made either quantitatively or qualitatively. The analysis indicated that mean quality score was 3.77. Furthermore, health service quality of Public Health Center on all dimensions generally indicate the score above 3. It means that health service quality of Public Health Center from several measurement dimensions indicate a relative good phase. Stratified by mean score, dimension of assurance and tangibles has mean score of 3.82; dimension of responsivenness has mean score of 3.79; and dimension of empathy has mean of 3.74. The dimension of reliability has lowest mean score: 3.68. The factors effecting the improvement of health service quality in Public Health Center are input factor, process factor, and environmental factor. Keywords: Public health center, Service quality PENDAHULUAN Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan mempunyai dua fungsi, iaitu fungsi pelayanan publik dan fungsi pelayanan klinis/medikal. Kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas dalam rangka pemenuhan keperluan pelayanan kesehatan masyarakat ditentukan oleh dua faktor. Faktor pertama, adalah faktor dalaman (internal) Puskesmas yang berhubungkait dengan kualitas pelayanan kesehatan dan tingkat kepuasaan pasien. Artinya, selama kualitas pelayanan kesehatan memenuhi kepuasan pasien, maka tingkat kebersesuaianan akan tinggi dan Puskesmas akan tetap merupakan keperluan masyarakat. Sebaliknya, selama kualitas pelayanan kesehatan tidak memenuhi tingkat kepuasaan pasien, maka tingkat kebersesuaianan akan rendah, mengakibatkan Puskesmas akan ditinggalkan oleh masyarakat. Faktor kedua, adalah faktor luaran (eksternal) iaitu adanya perubahan (transisi) demografi, epidemiologi, sosio-ekonomi serta nilai dan sikap kritis masyarakat akan menciptakan keperluan-keperluan pelayanan kesehatan yang sangat komplek dan beragam. Dengan demikian kedudukan dan peran kualitas pelayanan Puskesmas sangatlah penting untuk dilaksanakan. Sejak pengadaan Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan berlangsung iaitu tahun 1968, maka secara umum hingga saat ini telah menunjukkan sumbangannya yang cukup besar dalam pemberian pelayanan kesehatan, terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah baik di kota maupun di desa. Selanjutnya, proses pemberian pelayanan ditingkatkan melalui peningkatan

166

kualitas dan profesionalisme sumber daya kesehatan sebagaimana dihuraikan di atas. Sedangkan harapan masyarakat pengguna diselaraskan melalui peningkatan pendidikan umum, penyuluhan kesehatan, komunikasi yang baik antara pemberi pelayanan dan masyarakat. Berazaskan paparan di atas maka kajian dilakukan dengan mengambil judul “Persepsi Masyarakat Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Binjai Kota. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Zeithami (dalam bukunya yang berjudul “Delivering quality service balancing customer perceptions and expectations, 1990:21-22) dalam Sedarmayanti (200:205) menyatakan bahwa tolok ukur kualitas pelayanan dapat diukur dari 10 sub variabel (dimensi), iaitu tangibles, reliability, responsivenss, competence, coutesy, credibility, security, access, communications, undestanding the customer. Namun demikian, selepas indikatorindikator daripada dimensi tersebut digunakan untuk pengkajian secara berulangulang didapati berlaku pertindihan (overlapping) antara beberapa indikator sebagai dimensi pengukuran, iaitu antara kecakapan (competency), kesantunan (courtesy), kredibiliti (credibility) dan keselamatan (security). Kesemua dimensi berkenaan digabung dan disebut sebagai indikator dimensi jaminan (assurance). Selanjutnya, indikator dimensi akses (access), komunikasi (communication), dan memahami pengguna (understanding the customer) digabung dan disebut sebagai indikator dimensi kesefahaman (empathy) (Skema 2.3). Akhirnya, indikator dimensi pengukuran kualitas pelayanan mengikuti sepuluh indikator dimensi tersebut diperbaiki menjadi lima indikator dimensi yang mudah digunakan dan dikenali sebagai SERQUAL (Service Quality), yaitu: 1. Tangibles, meliputi kewujudan bukti fizikal yang nyata seperti penampilan atau rupa bentuk fizikal kemudahan peralatan, personel dan sistem komunikadsi. 2. Reliability, meliputi kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan.

3. Responsiveness, meliputi keinginan para pemberi pelayanan untuk membantu pengguna dan memberikan pelayanan dengan cekap. 4. Assurance, meliputi kemampuan, kesopanan, sifat boleh dipercayai dan bebas dari risiko bahaya atau ralat kesalahan perobatan. 5. Empathy, meliputi kemudahan dan kelesaan dalam menjalankan hubungan, komunikasi yang baik dan memahami keinginan pengguna. Metode SERQUAL tersebut telah digunakan dalam beberapa penyelidikan dan telah memberikan peringkat kesahihan dan kepercayaan yang tinggi. Seterusnya, dengan mengguna skala Likert, maka persepsi kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas sebagai variabel (variable) diukur dengan lima sub variabel (sub-variable) dan seterusnya dikembangkan menjadi 25 item pertanyaan. Setiap uraian daftar pertanyaan persepsi kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas menyediakan lima jawaban penilaian peringkat tinggi hingga rendah seperti ”sangat baik”, ”baik”, ”sedang”, ”kurang baik” dan ”sangat tidak baik”. 1
Sangat Tidak Baik

Skala Skor Kualitas 2 3 4

5
Sangat Baik

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan penelitian ini ialah: 1. Mengetahui kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas berdasarkan persepsi masyarakat pengguna. 2. Mengetahui faktor penyebab kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas baik faktor input, proses dan lingkungan. 3. Mengetahui demand dan need masyarakat akan keinginan pelayanan kesehatan masa depan. METODE PENELITIAN Sebagaimana yang telah diuraikan, salah satu tujuan kajian ini ialah menilai tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas di Binaji Kota. Justifikasi memilih Binaji Kota, karena 1). Binjai Kota merupakan wilayah sub

167

Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan (166–171) Heru Santosa

urban, yakni perbatasan Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera dan wilayah pedesaan yakni Kabupaten Langkat.. 2). Sejak tahun 1999 hingga tahun 2003 kunjungan pasien ke Puskesmas di Kota Binjai mengalami penurunan 4,2% setiap tahunnya. Populasi dalam kajian ini terdiri daripada dua jenis, iaitu (1) populasi penduduk yang diwakili ketua keluarga atau anggota keluarga sebagai pengguna pelayanan Puskesmas dan (2) populasi ketua Puskesmas. Populasi dalam kajian ini ialah kepala keluarga atau anggota keluarga yang pernah memanfaatkan atau melakukan lawatan pemeriksaan dan atau perobatan kesehatan Puskesmas di tempat penelitian tahun 2007. Diambil sebanayk 50 Kepala keluarga. Populasi pengelola Puskesmas ini adalah terdiri dari Kepala Puskesmas. Pengumpulan data terhadap Kepala Puskesmas dijalankan dengan metode wawancara mendalam. Wawancara mendalam ialah teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif dengan tujuan untuk menemukan makna bagi sebuah tema menurut pemahaman responden secara mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan berdasarkan ke 25 indikator sebagai dimensi pengukuran kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas hasil mendapati skor kualitas adalah 3.77. Selanjutnya, hasil pengolahan data mendapati skor tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas terhadap semua dimensi secara umumnya menunjukkan skor di atas 3. Dengan demikian secara umumnya

tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas dari berbagai dimensi pengukuran menunjukkan tahap yang relatip cukup tinggi atau bagus. Diurutkan menurut dimensi kualitas, maka dimensi assurance mempunyai rata-rata skor 3,82; tangibles mempunyai rata-rata skor 3.82; responsivenness mempunyai rata-rata skor 3.79; empathy mempunyai rata-rata skor 3.74; dan reliability mempunyai rata-rata skor paling rendah iaitu 3.68. Mendasarkan daripada hasil tersebut, maka secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa dimensi-dimensi penting yang perlu mendapat perhatian guna peningkatan dan pembaikan lebih lanjut adalah menyangkut: keterjangkuan lokasi, ketepatan kehadiran tenaga kesehatan perawat, kemampuan dokter dari tanggapan terhadap keluhan pasien, keramahan dan kesopanan, kesesuaian pelayanan dengan harapan pesakit. Lebih lanjut, dengan berdasarkan pengukuran faktor internal dan eksternal melalui pengkuran faktor input, proses dan lingkungan daripada persepsi Kepala Puskesmas, maka didapatkan gambaran bahwa pencapaian tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas hingga saat ini, juga disebabkan karena faktor sikap dan kinerja personil yang meliputi faktor internal dan eksternal. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa personil kesehatan atau provider kesehatan dalam sebuah organisasi merupakan fokus daripada hasil karya organisasi tersebut. Artinya, bahwa personil kesehatan atau provider kesehatan harus mempunyai ciri dan sifat yang melekat pada dirinya.

Tabel 1. Skor kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas No. Dimensi Pengukuran

I. 1. 2. 3. 4. 5. II. 6.

Tangibles Lokasi Puskesmas dilihat daripada aspek kemudahan dikunjungi masyarakat Kebersihan, kerapian dan kenyamanan di lingkungan Puskesmas. Keadaan kebersihan alat-alat medis yang digunakan untuk pemeriksaan kesehatan Kelengkapan administrasi dalam memberi pelayanan di Puskesmas Kerapian dan kebersihan penampilan dokter, perawat dan pegawai Puskesmas Reliability Kecepatan penerimaan pesakit

Purata Skor Kualitas 3,82 3.02 3.94 3.74 3.52 3.96 3,68 3.94

Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan (166–171) Heru Santosa

168

7. 8. 9. 10. III. 11. 12. 13. 14. 15. IV. 16. 17. 18. 19. 20. V. 21. 22. 23. 24. 25.

Pelayanan pesakit berdasarkan urutan nomor pendaftaran Masa buka dan tutup Puskesmas Ketepatan kehadiran dokter di Puskesmas Ketepatan kehadiran perawat di Puskesmas Responsivenness Kemampuan dokter dari tanggapan terhadap keluhan pesakit Kesabaran dokter dalam memberi informasi yang jelas bagi pesakit Kenyamanan pesakit ketika dokter menjalankan pemeriksaan kepada pesakit Ketepatan dan ketangkasan tindakan dokter kepada pesakit Ketepatan dan ketangkasan tindakan perawat disaat diperlukan oleh pesakit Assurance Kemampuan dan pengetahuan dokter dalam menyembuhkan pesakit Keramahan, kesopanan dan persahabatan dari dokter/perawat terhadap pesakit. Kemampuan komunikasi dan kemesraan dokter, perawat terhadap pesakit Pemberian jaminan kesembuhan dari dokter kepada pesakit Mutu obat-obatan dan jumlahnya Empathy Kemampuan dokter dan perawat memberikan semangat dan harapan kepada pesakit Pemberian informasi dokter dan perawat mengenai penyakit dan perobatan kepada pesakit Dokter dan perawat memenuhi keinginan pesakit Kesesuaian pelayanan dengan harapan pesakit Kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan oleh dokter, perawat kepada pesakit Rata-rata skor tahap kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan

3.78 3.82 3.44 3.40 3,79 3.72 3.74 3.86 3.82 3.82 3,82 3.82 3.76 3.80 3.90 3.80 3,74 3.84 3.80 3.78 3.46 3.82 3.77

KESIMPULAN Secara keseluruhan berdasarkan ke 25 indikator sebagai dimensi pengukuran kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas hasil mendapati skor kualitas adalah 3.77. Selanjutnya, hasil pengolahan data mendapati skor tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas terhadap semua dimensi secara umumnya menunjukkan skor di atas 3. Dengan demikian secara umumnya tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas dari berbagai dimensi pengukuran menunjukkan tahap yang relatip cukup tinggi atau bagus. Diurutkan menurut dimensi kualitas, maka dimensi assurance mempunyai rata-rata skor 3,82; tangibles mempunyai rata-rata skor 3.82; responsivenness mempunyai rata-rata skor 3.79; empathy mempunyai rata-rata skor 3.74; dan reliability mempunyai rata-rata skor paling rendah iaitu 3.68. Selanjutnya, hasil kajian melalui pendekatan kualitatif kepada informaninforman mendapatkan bahwa disamping adanya pengaruh positif faktor masukan, faktor proses dan faktor lingkungan terhadap

kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas ternyata juga didapati adanya perkaraperkara dan tantangan-tantnagn yang harus diupayakan penyelesaiannya di masa depan. Dan akhirnya, walaupun penilaian kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas atau yang disebut sebagai hasil karya Puskesmas telah sedia ada, akan tetapi secara konseptual dimensi-dimensi yang diciptakan pihak pemerintah masih bersifat internal (internaldimention), belum mengarah kepada aspek eksternal (external-dimention), yakni persepsi pesakit atau pengguna daripada pelayanan kesehatan. Oleh yang demikian, diharapkan instrumen pengukuran tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas dengan pemakaian indikator atau dimensi bukti nyata (tangibles), kebolehpercayaan (reliability), tindakbalas (responsivenness), jamianan (assurance), dan kesefahaman (empathy) yang diguna pakai dalam penyelidikan ini hendahlah dapat diadopsi (adoption) sebagai rancangan instrumen untuk pengukuran tahap kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas di wilayah Binjai.

169

Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan (166–171) Heru Santosa

DAFTAR PUSTAKA Ancok, Djamaludin (2002). Teknik Penyusunan Skala Pengukur. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada. Arikunto, Suharsimi (1995). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Cetakan ke-11. Arikunto, Suharsimi (1998). Prosedur Penyelidikan Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Edisi Revisi IV. Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi (2000). Manajemen Penelitian. Jakarta: Renika Cipta. Azwar, Azrul (1994). Program Menjaga kualitias Pelayanan kesehatan (Aplikasi Prinsip Lingkaran Pemecahan Masalah). Jakarta: IDI. Azwar, Azrul (1996). Menjaga kualitas Pelayanan kesehatan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Azwar, Azrul (1996). Pengantar Administrasi kesehatan. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Bruce, J (1990). Fundamental element of the quality of care: a simple framework; Studies in family planning; Vol.21 Number 2 March/April Vol 17. Pages 61-91. Departemen Kesehatan R.I., Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas, (1998). Pengembangan Program Jaminan Kualiti Pelayanan Kesehatan Dasar di “Puskesmas”, Model A, Analisis Sistem Pelayanan Kesehatan Dasar dan POA (Plan of Action), Jakarta. Departemen Kesehatan RI (1999). Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan R.I., Direktorat Kesehatan Khusus, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2000. Panduan Pelaksanaan Jaminan Kualiti Model Evolusi Pelayanan Kesehatan Dasar bagi “Puskesmas”, Jakarta. Departemen Kesehatan RI (2001). Informasi Singkat: Penyelenggaraan “Puskesmas” Di Era Desentralisasi. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI. (2002). Visi Pembangunan Kesehatan “Indonesia Sehat 2010”. www.depkes.go.id/publikasi. Depertemen Kesehatan RI. (2002). Perjalanan Menuju Indonesia Sehat 2010. www.depkes.go.id/publikasi.

Departemen Kesehatan RI (2002). Arrime Panduan Manajemen “Puskesmas”. Jakarta: Proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI (2003). Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1457/Menkes/SK/X/2003. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI (2004). Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara (2000). Profil Kesehatan Sumatera Utara. Medan: Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara (2004). Profil Kesehatan Sumatera Utara. Medan: Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas (1996). Konsep jaminan mutu (QA) pelayanan kesehatan dan penerapannya di Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas. Donabedian, A (1980). Explorations in quality assessment and monitoring. Volume I, The Definition of quality and approaches to its assessment. Michigan: Health Administration Press, Ann Arbor. Donabedian, A., Wheeler, J.R.C. Wyszewlanski I. (1982). Quality, Cost and Health: an Integrated Model. Med care. Fromberg, R (1988). Guide to quality assurance; The Joint Commission on Acreditation of Healthcare Organization; Chicago. Gambone JC and Reiter RC (1991), Quality improvement in helath care, current problems in obstetrics, Gynecology and fertility, Vol XIV No. 5 Sept-Oct. Mosby-New York. Gaspersz, Vincend (1991). Teknik Penarikan Contoh untuk penyelidikan survai. Bandung: Tarsito. Murti, Bhisma (2003). Mengembangkan Petanda Kualitas Pelayanan Kesehatan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Volume 06/Nomor 02/2003. Yogyakarta: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Notoadmojo, S.(2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta.

Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan (166–171) Heru Santosa

170

Parasuraman, A; Zeithaml,V.A. and Berry LL (1985). Conceptual model of service quality and its implicatins for fiture research. Journal of Marketing. (41-50). Pena, JJ et all (1984). Hospital quality assurance. Maryland: An Aspen Publication, Rochville. Rakich,J.S, Longest, Jr.B.B. Darr, K. (1992). Managing Health Services Organizations. Baltimore: Health Professions Press. Inc. Siregar, Abidin (2005). Persepsi Masyarakat Pengguna Terhadap Kebijakan Pembebasan Retribusi Pelayanan Kesehatan Dasar Di “Puskesmas” Kota Medan Tahun 2004. “Tesis” Pasca Sarjana. Medan: Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Trisnantoro, Laksana (2001). Aspek ekonomi dalam rumah sakit. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Trisnantoro, Laksana (2001). Kegagalan Pemerintah dan Kekuatan Pasar dalam Pelayanan Kesehatan: Apakah kebijakan desentralisasi pelayanan kesehatan akan memperburuk situasi ?. Yogyakarta: Pusat Manajemen pelayanan Kesehatan FK-UGM. World Health Organization (WHO). (1981). Development of Indicators for Monitoring Progress Towards Health for All by the Year 2000. Geneva: WHO. Zeithaml, Valerie a., Parasuraman, A., and Leonard L.Berry (1990). Delivering Quality Service, Balancing Customer Perceptions and Expectations. New York: The Free Press A Division of Mecmillian, Inc.

171

Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan (166–171) Heru Santosa

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMEN VITAMIN B12 TERHADAP SERUM VITAMIN B12 DAN HEMOGLOBIN ANAK PRASEKOLAH
Zulhaida Lubis1, Hardinsyah2, Hidayat Syarief3, Fasli Jalal4, dan Muhilal5 Program Doktor PS GMK SPS IPB Dept. Gizi Masyarakat FEMA IPB 3 Dept. Gizi Masyarakat FEMA IPB 4 Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas dan Fak. Kedokteran Univ. Andalas Padang 5 Fak. Kedokteran UNPAD Bandung
2 1

ABSTRACT This research aimed to analyze prevalence of vitamin B12 deficiency and anemia, and effects of vitamin B12 suplement on vitamin B12 serum and hemoglobin of preschool children. A randomized controlled trial of 32 preschool children (4-6 year) for 6 months was appliad. Subjects divided in to 2 groups, treatment group (received 10 μg vitamin B12 syrup daily) and control group (placebo). Consentration of vitamin B12 serum and hemoglobin of children was measured before and after their intervention. The results of research indicate that prevalence of vitamin B12 deficiency and anemia among preschool children was 24,1% and 41.4% respectively. After getting vitamin B12 suplement, vitamin B12 deficiency of treatment group decreased from 26.7% to 0.0%, while in the control group increase from 21.4% to 28.6%. Vitamin B12 suplement influenced vitamin B12 serum level significantly ( p < 0.05). Vitamin B12 serum increase at the treatment group148.4 ± 110.9 pg/ml and only 3.7 ± 12.8 pg/ml at control group. Hemoglobin concentration was influenced vitamin B12 suplement especially to anemia preschool children. Keywords: Vitamin B12, Suplement, Hemoglobin, Preschool children PENDAHULUAN Usia prasekolah adalah bagian dari periode usia dini yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan pesat dalam siklus kehidupan dan turut menentukan kualitas manusia. Separuh perkembangan kognitif berlangsung dalam kurun waktu antara konsepsi sampai usia 4 tahun, dan 30% berlangsung pada usia 4-8 tahun. Sehingga pada periode ini anak sangat memerlukan gizi yang memadai agar kapasitas otak yang terbentuk dapat maksimum (Gutama 2004). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak erat kaitannya dengan kekurangan gizimikro. Defisiensi vitamin B12 berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak melalui perannya sebagai kofaktor dalam beberapa reaksi enzim. Salah satu peran vitamin B12 adalah dalam sintesis hemoglobin dan sel-sel darah merah melalui metabolisme lemak, protein dan asam folat (Wardlaw et al 1992; Brody 1999). Peran vitamin B12 dalam perkembangan anak termasuk perkembangan kognitif diduga melalui fungsinya sebagai kofaktor dalam sistem syaraf pusat (Bryan 2002; Black 2003). Selain itu juga kemungkinan erat kaitannya dengan fungsi vitamin B12 dalam metabolisme asam lemak esensial untuk pemeliharaan myelin. Defisiensi vitamin B12 dalam waktu lama dapat menyebabkan

172

kerusakan sistem syaraf yang tidak dapat diperbaiki dan akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel syaraf. Beberapa penelitian menunjukkan prevalensi defisiensi vitamin B12 cukup tinggi pada anak-anak. Penelitian di Kenya menunjukkan bahwa 80,7% anak sekolah mengalami defisiensi vitamin B12 tingktat berat dan sedang (Siekmann et al. 2003), dan di Guatemala 33% anak usia 5-12 tahun juga mmengalami defisiensi vitamin B12 (Roger 2003). Vitamin B12 hanya ditemukan dalam pangan hewani seperti daging, susu, dan telur, sehingga diperkirakan anak yang jarang makan makanan tersebut akan mengalami defisiensi vitamin B12. Sumber pangan hewani umumnya relatif lebih mahal dibandingkan dengan pangan nabati, sehingga diperkirakan konsumsi pangan hewani rendah pada keluarga ekonomi rendah. Menurut Hardinsyah (2001), sebagian anak di Indonesia masih mempunyai masalah ketidakcukupan zat gizi mikro, terutama karena kekurangan pangan hewani. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan di Indonesia (SDKI 1997) hanya setengah dari jumlah anak yang memperoleh pangan hewani, bahkan semakin bertambah umur anak semakin sedikit persentase yang memperoleh pangan hewani. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak sejak usia dini sudah mempunyai resiko kekurangan gizi mikro, yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Sampai saat ini penelitian tentang keterkaitan antara beberapa zat gizi mikro dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sudah mulai banyak dilakukan, seperti zat besi, iodium dan zink, dan beberapa vitamin. Namun penelitian yang berkaitan dengan defisiensi vitamin B12 dan konsekuensi fungsionalnya masih sangat terbatas. Oleh karena itu diperlukan kajiankajian lebih mendalam dan ’clinical trial’ terkait defisiensi vitamin B12. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dirancang dengan tujuan 1) Menganalisis prevalensi defisiensi vitamin B12 dan anemia pada anak prasekolah, 2) Menganalisis pengaruh pemberian suplemen vitamin B12 terhadap serum vitamin B12 pada anak prasekolah, dan. 3) Menganalisis pengaruh pemberian suplemen vitamin B12 terhadap kadar hemoglobin pada anak prasekolah.

METODE Disain, Contoh, dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan disain “Randomize Control Trial” (RCT). Intervensi diberikan kepada anak prasekolah (4-6 tahun) di Taman Kanak-kanak Az-Zahra Kecamatan Darmaga Bogor. Contoh dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pelakuan (diberi sirup vitamin B12), dan kelompok kontrol (diberi plasebo). Formula sirup vitamin B12 dan plasebo diracik peneliti bersama pembimbing dengan pertimbangan faktor kecukupan dan bioavailabilitas vitamin B12, dibuat dan dikemas atas bantuan PT. Kalbe Farma. Dosis vitamin B12 diberikan sebesar 10 μg/hari dalam 2.5 ml sirup. Pemberian sirup dilakukan setiap hari, 5 hari di sekolah (Senin sampai Jumat) oleh peneliti dan 2 hari di rumah (Sabtu dan Minggu) dititipkan peneliti pada ibu selama 6 bulan. Ukuran contoh ditentukan dengan rumus n = {(zα+zβ)2(σ12+σ22)}/(d)2. Berdasarkan hasil penelitian anak sekolah di Kenya (Siekmann et al. 2003), perubahan plasma Vitamin B12 sebesar 89 ± 104 pg/ml pada kelompok intervensi dan -18 ± 88 pg/ml pada kelompok kontrol, dengan taraf nyata (α) = 0,05 dan kekuatan uji (1-β) = 80%, sehingga diperoleh contoh sebanyak 13 orang per kelompok. Dengan memperkirakan contoh drop out sekitar 20% maka jumlah contoh ditambah menjadi 16 orang per kelompok. Penelitian dilakukan selama 12 bulan mulai bulan Juli 2006 sampai bulan Juni 2007, mulai dari pengurusan ijin penelitian, pembuatan sirup, ethical clearance, dan eksperimental berupa pemberian sirup vitamin B12 selama 6 bulan (24 minggu). Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data sekunder diperlukan dalam tahapan penentuan contoh, yang meliputi data Taman Kanak-kanak dengan kondisi sosial ekonomi orang tua menengah ke bawah dan jumlah anak di TK agar dapat memenuhi jumlah contoh yang diperlukan. Data primer terdiri dari data sosial ekonomi keluarga (pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan pengeluaran pangan), kebiasaan

173

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

makan, konsumsi gizi, status gizi, penyakit infeksi, kadar serum vitamin B12 dan kadar Hb (hemoglobin). Data sosial ekonomi diperoleh dengan wawancara langsung dengan orang tua menggunakan kuesioner. Kebiasaan makan anak meliputi jenis dan perkiraan jumlah pangan yang dikonsumsi diperoleh dengan metode food frequency questionnaire, serta konsumsi gizi diperoleh dengan metode recall 24 jam. Status gizi ditentukan dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB. Berat badan diukur dengan timbangan injak dengan ketelitian 0,1 kg. Tinggi badan diukur dengan mikrotois dengan ketelitian 0,1 cm. Penyakit infeksi ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik oleh dokter. Serum vitamin B12 ditentukan dengan metode AxSYM (Abbott Laboratories 2005), dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Demikian juga untuk kadar hemoglobin darah diukur sebelum dan sesudah intervensi dengan metode ‘cyanmethemoglobyn’. Pengolahan dan Analisis Data Status vitamin B12 ditentukan berdasarkan kadar serum vitamin B12, defisiensi bila serum vitamin B12 < 300 pg/ml, dan normal bila serum vitamin B12 ≥ 300 pg/ml (Herbert 1996; Sauberlich 1999; Siekmann 2003). Berdasarkan kadar Hb ditentukan anemia bila kadar Hb < 11 g/dl dan normal bila kadar Hb ≥ 11 g/dl. Uji beda (t test) digunakan untuk membandingkan karakteristik contoh dan faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap serum vitamin B12 dan hemoglobin pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Untuk mengetahui dampak pemberian suplemen vitamin B12 terhadap kadar vitamin B12 dan kadar Hb anak dilakukan analisis regresi linier. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Contoh Selama 6 bulan pemberian intervensi terdapat 3 orang drop out (1 orang kelompok perlakuan dan 2 orang kelompok kontrol, sehingga yang dapat dianalisis 15 contoh perlakuan dan 14 contoh kontrol. Rata-rata jumlah anggota keluarga 4, rata-rata umur anak 61 bulan (5 tahun), dan merupakan anak ke-2. Umur ayah rata-rata 37 tahun dan umur ibu 31 tahun. Tingkat pendidikan

orangtua rata-rata SLTP atau lama sekolah 10,9 tahun untuk ayah dan 9,9 tahun untuk ibu. Pendapatan perkapita per bulan ratarata Rp 227.500,0 ± 95.908,4 digunakan untuk pengeluaran pangan 66,76% dan untuk pengeluaran nonpangan 33.24%. Pekerjaan ayah sebagian besar karyawan swasta dan dagang (55.2%), sedangka ibu sebagian besar tidak bekerja (79.3%). Keadaan kesehatan contoh umumnya baik, hanya ada sebagian yang batuk, pilek dan dermatitis. Hasil uji beda terhadap karakteristik contoh menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p >0.05). Konsumsi Pangan dan Status Gizi Konsumsi pangan anak relatif sama antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol baik pada awal maupun akhir intervensi. Awal intervensi konsumsi pangan hewani 48.2 ± 22.5 g/hr pada kelompok perlakuan dan 47.7 ± 22.9 g/hr pada kelompok kontrol. Akhir intervensi terdapat sedikit peningkatan menjadi 50.8 ± 21.1 g/hr dan 49.2 ± 23.3 g/hr masing-masing kelompok perlakuan dan kontrol. Telur merupakan penyumbang terbesar untuk pangan hewani sementara daging sapi dan ikan sangat kecil. Hal ini berkaitan dengan harga telur yang relatif murah dibandingkan daging sapi, ayam dan ikan. Konsumsi energi lebih tinggi pada kelompok perlakuan dan terjadi sedikit kenaikan konsumsi pada kedua kelompok di akhir intervensi. Konsumsi energi kedua kelompok pada awal dan akhir intervensi menunjukkan perbedaan yang signifikan, namun hasil uji beda terhadap selisih konsumsi energi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p>0.05). Sedangkan konsumsi protein, vitamin A, vitamin B12, vitamin C, kalsium, phospor, dan besi hampir sama pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dan hasil uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p > 0.05). Ratarata kecukupan gizi masih rendah yaitu sekitar 60 persen untuk energi, protein dan besi. Demikian juga kecukupan vitamin C dan kalsium masih kurang dari 50 persen. Hal ini sesuai dengan kebiasaan makan anak yang porsinya sedikit dan kurang bervariasi.

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

174

Tabel 1. Rata-rata konsumsi dan kecukupan gizi
Zat gizi Energi (kkal) Protein (gram) Vitamin A (RE) Vitamin B12 Vitamin C (mg) Kalsium (mg) Phospor (mg Besi (mg) Perlakuan (n=15) Awal 1005.3±150.6 (64.8±9.7) 24.5±6.3 (62.9±16.2) 227.7±166.2 (50.6±36.9) 0.89±0.38 (73.8±31.8) 5.7±6.0 (12.5±13.4) 161.1±117.0 (32.2±23.4) 331.5±166.9 (82.9±42.2) 6.4±3.0 (71.1±33.0) Akhir Energi (kkal) Protein (gram) Vitamin A (RE) Vitamin B12 Vitamin C (mg) Kalsium (mg) Phospor (mg) Besi (mg)
a

Kontrol (n=14) 852.4±175.1 (54.9±11.3) 21.9±8.0 (56.0±20.5) 181.6±167.3 (40.4±37. 2) 0.78 ± 0.31 (64.9±26.2) 12.6±15.8 (28.1±35.0) 147.1±131.6 (29.4±26.3) 313.5±200.3 (78.4±50.1) 5.4±3.8 (60.3±41.7) 965.1±134.7 (62.3±8. 7) 25.4±7.1 (65.2±18.2) 190.5±157.9 (42.3±35.1) 0.82±0.3 (68.2±27.8) 16.2±12.4 (36.0±27.5) 156.0±126.4 (31.2±25.3) 303.0±161.1 (75.8±40.3) 5.3±2.4 (58.7±26.7)

Total (n=29) 931.5±177.8 (60.1±11.5) 23.2±7.2 (59.6±18.4) 205.5±165.4 (45.7±36.8) 0.83±0.35 (69.5±29.1) 9.0±12.1 (20.1±26.9) 154.3±122.2 (30.9±24.4) 322.8±181.6 (80.7±45.4) 5.9±3.4 (65.9±37.2) 1026.7±163.1 (66.2±10.5) 27.1±6.6 (69.5±16.9) 210.3±156.1 (46.7±34.7) 0.88±0.3 (73.6±28.6) 13.2±9.9 (29.3±22.1) 168.5±128.3 (33.7±25.7) 320.5±159.0 (80.1±39.7) 6.1±2.6 (68.9±29.0)

Sig. 0.021a 0.334 0.458 0.727 0.346 0.743 0.793 0.163

1084.1±170.5 (69.9±10.9) 28.7±5.9 (73.5±15.1) 228.9±157.6 (50.9±35.0) 0.94±0.3 (78.6±29.4) 10.3±6.1 (22.9±13.5) 180.1±133.4 (36.0±26.7) 336.8±160.8 (84.2±40.2) 6.8±2.7 (78.5±28.6)

0.025a 0.182 0.600 0.715 0.211 0.711 0.727 0.061

= berbeda nyata (p< 0.05)

Tabel 2. Sebaran contoh berdasarkan status gizi
Status Gizi Perlakuan n % Awal 5 33.3 10 66.7 8 53.3 7 46.7 0 0.0 15 100.0 Akhir 5 33.3 10 67.7 8 53.3 7 46.7 0 0.0 15 100.0 Kontrol n 4 10 6 8 0 14 5 9 6 8 0 14 % 28.6 71.4 42.9 57.1 0.0 100.0 35.7 64.3 42.9 57.1 0.0 100.0 n 9 20 14 15 0 29 10 19 14 15 0 29 Total % 31.0 69.0 48.3 51.7 0.0 100.0 34.5 65.5 48.3 51.7 0.0 100.0

BB/U TB/U BB/TB

Kurus Normal Pendek Normal Kecil Normal Kurus Normal Pendek Normal Kecil Normal

BB/U TB/U BB/TB

Ket: Kurus, pendek, kecil (z-skor < -2) Normal (-2 ≤ z-skor ≤ 2)

175

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

Hasil penilaian status gizi pada awal intervensi berdasarkan Z-skor BB/U menunjukkan bahwa anak yang tergolong kurus 33.3% pada kelompok perlakuan dan 28.6% pada kelompok kontrol. Angka ini berada diatas rata-rata nasional prevalensi gizi kurang pada balita yaitu 27.3% (Untoro, R. 2004). Berdasarkan TB/U anak yang tergolong pendek 53.3% pada kelompok perlakuan dan 42.9% pada kelompok kontrol. Angka pada kelompok perlakuan sedikit diatas rata-rata nasional yaitu 49.3% pada balita dan 36.1% pada anak baru masuk sekolah (Depkes RI 2003). Sedangkan untuk indeks BB/TB semua anak tergolong normal pada dua kelompok. Pada akhir intervensi tidak terdapat perbaikan status gizi pada kedua kelompok, bahkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan persentase anak kurus menjadi 35.7%. Walaupun kecukupan gizi khususnya energi dan protein meningkat pada kedua kelompok namun belum dapat memperbaiki status gizi anak. Hal ini karena kecukupan energi dan protein di awal intervensi cukup rendah yaitu sekitar 60 persen sementara peningkatannya hanya sedikit yaitu sekitar 5% dan 7% masingmasing untuk energi dan protein. Hasil uji beda z-skor untuk BB/U, TB/U dan BB/TB menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol baik awal maupun akhir intervensi (p> 0.05).

Pengaruh Suplemen Vitamin B12 terhadap Kadar Vitamin B12 Rata-rata kadar serum vitamin B12 kelompok perlakuan meningkat 148.4±110.9 pg/ml, sedangkan pada kelompok kontrol hanya meningkat sedikit (3.7±12.8 pg/ml). Pada akhir intervensi hasil uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kadar vitamin B12 antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Perbedaan tersebut lebih diperjelas dengan hasil uji beda terhadap selisih kadar serum vitamin B12 yang juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0.05) (Tabel 3). Kenaikan kadar serum vitamin B12 juga diikuti perbaikan status vitamin B12. Awal penelitian terdapat 26.7% contoh pada kelompok perlakuan mengalami defisiensi vitamin B12 dan 21.4% pada kelompok kontrol. Setelah pemberian suplemen vitamin B12 selama 6 bulan, prevalensi defisiensi vitamin B12 pada kelompok perlakuan turun menjadi 0.0%, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi sedikit peningkatan menjadi 28.6% (Tabel 4). Penurunan prevalensi defisiensi vitamin B12 juga terjadi pada penelitian Siekman (2003) di Kenya, dengan pemberian makanan tambahan pada anak sekolah berupa daging 60-85 g/hr selama satu tahun ajaran dapat menurunkan prevalensi defisiensi vitamin B12 sekitar 16 persen (80,7% menjadi 64,1%). Demikian juga dengan pemberian susu 200-250 ml/hr dapat menurunkan prevalensi defisiensi vitamin B12 sekitar 26 persen (71,6% menjadi 45.1%).
Sig. Total (n:29) 343.9±72.3 422.5±127.9 78.6±107.9 0.965 0.009a 0.000a

Tabel 3. Rata-rata kadar serum vitamin B12 Kadar serum vit B12 (pg/ml) Waktu pengukuran Perlakuan (n:15) Kontrol (n:14) Awal 337.9±62.8 350.4±83.2 Akhir 486.3±131.8 354.1±82.3 Selisih 148.4±110.9 3.7±12.8
a

= berbeda nyata (p < 0.05)
Kontrol n % 3 21.4 11 78.6 4 28.6 10 71.4 Total n % 7 24.1 22 75.9 4 13.8 27 86.2

Tabel 4. Sebaran contoh berdasarkan status vitamin B12 StatusVitamin B12 Perlakuan n % Awal Defisiensi (B12 < 300 pg/ml) 4 26.7 11 73.3 Normal (B12 ≥ 300 pg/ml) Akhir Defisiensi (B12 < 300 pg/ml) 0 0.0 15 100.0 Normal (B12 ≥ 300 pg/ml)

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

176

Tabel 5. Hasil uji regresi terhadap kadar vitamin B12 Variabel Konstanta Suplemen vit. B12 (0=kontrol; 1=perlakuan) a = berbeda nyata (p < 0.05) Tabel 6. Sebaran contoh berdasarkan status anemia Perlakuan StatusAnemia n % Awal Anemia (Hb < 11.0 g/dl) 7 46.7 8 53.3 Normal (Hb ≥ 11.0 g/dl) Akhir Anemia (Hb < 11.0 g/dl) 3 20.0 12 80.0 Normal (Hb ≥ 11.0 g/dl) Tabel 7. Rata-rata kadar Hb pada awal dan akhir penelitian Waktu Kadar Hb (g/dl) pengukuran Perlakuan (n=15) Kontrol (n=14) Awal 11.2±1.8 11.9±1.3 Akhir 12.2±1.1 11.8±1.0 Selisih 1.0±1.3 -0.2±1.2 Tabel 8. Rata-rata kadar Hb pada contoh yang anemia Kadar Hb (g/dl) Waktu pengukuran Perlakuan (n=7) Kontrol (n=5) Awal 9.6±1.1 10.5±0.3 Akhir 11.6±1.3 11.0±0.7 Selisih 2.0±1.2 0.5±0.7 a = berbeda nyata (p < 0.05)

B 354.143 132.170

t 11.961 3.211

Sig. 0.000 0.003a

n 5 9 3 11

Kontrol % 35.7 64.3 21.4 78.6

Total n 12 17 6 23 % 41.4 58.6 20.7 79.3

Sig. Total (n=29) 11.6±1.6 12.0±1.1 0.4±1.3 0.285 0.197 0.100

Sig. Total (n=12) 9.9±0.9 11.3±1.1 0.4±1.3 0.042a 0.413 0.028a

Hasil uji regresi menunjukkan bahwa pemberian suplemen vitamin B12 berpengaruh nyata terhadap kadar serum vitamin B12 (p < 0.05). Hal ini menunjukkan kenaikan kadar vitaminB12 pada kelompok perlakuan disebabkan suplemen vitamin B12 yang diberikan selama 6 bulan (Tabel 5). Hasil ini sesuai dengan penelitian Siekman (2003) di Kenya yang menemukan bahwa intervensi vitamin B12 pada anak sekolah melalui pemberian makanan tambahan berupa daging dan susu selama 1 tahun dapat meningkatkan kadar plasma vitamin B12 sebesar 64 ± 89 pg/ml pada kelompok yang diberi daging dan 89 ± 96 pg/ml pada kelompok yang diberi susu. Selanjutnya hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa peningkatan kadar vitamin B12 pada kedua kelompok perlakuan (daging dan susu) berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Pengaruh Suplemen Vitamin B12 terhadap Hemoglobin Awal penelitian terdapat 41.4% contoh menderita anemia, 46.7% kelompok

perlakuan dan 35.7% kelompok kontrol. Angka ini hampir sama dengan prevalensi anemia pada balita menurut Depkes (2005) yaitu 47.0%. Setelah intervensi, angka anemia menurun pada kelompok perlakuan menjadi 20.0% sedangkan pada kelompok kontrol juga terjadi penurunan menjadi 21.4% (Tabel 6). Hal ini menunjukkan penurunan prevalensi anemia setelah mendapat suplemen vitamin B12 lebih besar pada kelompok perlakuan (sekitar 27 persen) sementara pada kelompok kontrol hanya separuhnya. Rata-rata kadar Hb pada kelompok perlakuan dan kontrol baik awal maupun akhir intervensi berada pada keadaan normal. Terjadi peningkatan kadar Hb sebesar 1.0±1.3 g/dl pada kelompok perlakuan, sedangkan pada kelompok kontrol menurun sebesar -0.2±1.2g/dl (Tabel 7). Namun demikian hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok (p>0.05). Demikian juga hasil uji regresi terhadap kadar Hb menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan pemberian

177

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

suplemen vitamin B12 terhadap kadar Hb (p > 0.05). Hasil yang sama diperoleh Siekman (2003) pada penelitian anak sekolah di Kenya, yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan peningkatan kadar hemoglobin antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan intervensi pangan hewani berupa daging dan susu selama satu tahun. Hal ini dapat dijelaskan bahwa vitamin B12 yang berperan sebagai kofaktor dalam pembentukan energi dari protein dan lemak melalui pembentukan sucsinyl-CoA yang dibutuhkan dalam sintesis hemoglobin (Gibson 2005; Herbert 1996). Kecukupan protein dalam penelitian ini hanya sekitar 60% dari kecukupan yang dianjurkan sehingga kemungkinan terjadi gangguan pembentukan sucsinyl-CoA yang sekaligus juga mengganggu sintesis hemoglobin. Selain itu vitamin B12 juga berperan dalam metabolisme asam folat yang merupakan komponen penting dalam pembentukan hemoglobin disamping zat besi. Dengan demikian keterkaitan antara vitamin B12 dengan hemoglobin juga tergantung pada keberadaan zat-zat gizi lain seperti asam folat, besi dan protein (Wardlaw et al. 1992; Brody 1999). Namun bila dilakukan uji beda pada anak yang menderita anemia saja, ternyata terdapat perbedaan kadar Hb yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah diberi suplemen vitamin B12 (p< 0.05). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa kadar hemoglobin lebih menunjukkan respon yang positif terhadap pemberian suplemen vitamin B12 bila anak menderita anemia (Tabel 8). Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa vitamin B12 berperan dalam pembentukan hemoglobin dengan asumsi keberadaan zat-zat gizi lain pembentuk hemoglobin sama pada kedua kelompok. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1 bahwa asupan zat-zat gizi seperti protein dan besi tidak berbeda nyata antara kelompok perlakuan dan kontrol baik di awal maupun akhir intervensi, sehingga pemberian vitamin B12 pada kelompok perlakuan mampu meningkatkan kadar Hb lebih besar dibandingkan pada kelompok kontrol. SIMPULAN DAN SARAN 1. Sebesar 24.1% contoh mengalami defisiensi vitamin B12, dan 41.4% menderita anemia.

2. Pemberian suplemen vitamin B12 berpengaruh nyata terhadap kadar serum vitamin B12 (p < 0.05). Pemberian suplemen vitamin B12 selama 6 bulan mampu meningkatkan kadar vitamin B12 sebesar 148.4 ± 110.9 pg/ml, sedangkan kelompok kontrol peningkatannya sangat kecil (3.1 ± 12.8 pg/ml). 3. Khusus pada anak yang menderita anemia, setelah diberi suplemen vitamin B12 terdapat perbedaan kadar Hb yang signifikan antara kelompok yang diberi suplemen dan kelompok kontrol (p<0.05). Mengingat suplementasi vitamin B12 mampu meningkatkan kadar serum vitamin B12 dan dapat meningkatkan kadar Hb terutama pada anak yang anemia, sudah saatnya pembuat kebijakan mempertimbangkan vitamin B12 disamping zat gizi mikro lainnya dalam program penanggulangan kekurangan gizi mikro khususnya pada anak prasekolah. DAFTAR PUSTAKA Abbott Laboratories, Diagnostics division. 2005. Abbott Axsym System. Abbott Laboratories, USA. Aicardi J. 1992. Diseases of the Nervous System in Childhood. Clinics in Developmental Medicine No. 115/118. Allen, Rosado, Casterkline, Martinez, Munoz, and Black. 2000. Vitamin B12 deficiency and malabsorbtion are highly prevalent in rural Mexican communities. Am. J Clin Nutr 62:1013-1019. 2000. Berk, L.E. 1989. Child Development. Allyn and Bacon. Boston, London, Sydney, Toronto. Black, 2003. Micronutrient Deficiencies and Cognitive Functioning. J.Nutr. 133: 3927S-3931S. 2003. Brody, 1999. Nutritional Biochemistry. Academic Press. San Diego, San Fransisco, New York, Boston, London, Sydney, Tokyo. Bryan, Calvares, and Hughes. 2002. ShortTerm Folate, Vitamin B-12 or Vitamin B-6 Suplementation Slightly Affects Memory Performance But Not Mood in Women of Various Ages. J.Nutr. 132:1346-1356.

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

178

Carmel. 2004. Cobalamin (Vitamin B12) in Modern Nutrition in Health and Disease. Tenth edition. Lippicott William and Wilkins. Baltimore. CDC, Neurologic Impairment in Children Associated With Maternal Dietary Deficiency of Cobalamin – Georgia 2001. Center for disease Control and Prevention. MMWR 52 (4):61-64. 2003. Depkes RI. 2003. Gizi Dalam Angka. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta. Depkes RI. 2005. Gizi Dalam Angka. Departemen Kesehatan RI. Jakarta Dhopeshwarkar, 1983. Nutrition and Brain Development. Plenum Press. New York. Durand C, Mary S, Brazo P and Dollfus S. 2003. Psychiatric manifestations of vitamin B12 deficiency: a case report. Encephale. Nov-Des:29(6):560-5. FAO/WHO, 2001. Human Vitamin and Mineral Requirements. Food and Agriculture Organization of United Nation and World Health Organization. Gibson. 1990. Principle of Nutritional Assessment. Oxford University Press. New York. Gibson. 2005. Principles of Nutritional Assessment. Oxford University Press. New York. Gutama. 2004. Aspek Gizi dan Stimulasi Pendidikan Anak Dini Usia. dalam Prosiding Inovasi Pangan dan Gizi untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak. Jakarta Hardinsyah. 2001. Complementary Feeding and Caring Practices. Proceeding from the National Seminar and Workshop “Optimizing Early Child Nutrition”. September 26-27 2001. Jakarta. Healton. 1991. Neurologic aspect of cobalamin deficiency. Medicine, Baltimore. Juli; 70(4):229-245. Herbert. 1996. Present Knowledge in Nutrition (ed. Ziegler EG. Filer L.). ILSI press. Washington DC. Jalal. 2003. Pendidikan Input Tumbuh Kembang Anak. Pikiran rakyat 9 september 2003

Lewerin, Matousek, Steen, Johansson, Steen and Nilson-Ehle. 2005. Significant correlation of plasma homocysteineand serum methylmalonic acid with movement and cognitive performance in elderly subjects but no improvement from short-term vitamin therapy: a placebo-controlled randomized study. A.J.Clin.Nutr. vol 81, No.5:1155-1162. LIPI. 2004. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG): Angka Kecukupan Vitamin Larut Air. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Louwman, Dusseldorp, Vijver, Thomas, Scheede, Ueland, Refsum and Staveren. 2000. Signs of impaired cognitive function in adolecent with marginal cobalamin status. A.J.Clin.Nurt. Vol. 72 No.3:762-769. Lucas. 1993. Perkembangan Anak Usia sekolah. PT Rajawali. Jakarta Morgan, King RA, Weisz JR, Schopler J. 1986. Introduction to Psychology. Seven Edition. Ew York: McGrawHill International Editions. Olivares, Ramona, Jesus, Maria and Antonio. Vitamin B12 and Folic Acid. In Chidren with Intestinal Parasitic Infection. J of the Am College of Nut, 21:109-113. 2002. Pollit. 1990. Malnutrition and Infection in the classroom. UNESCO. Paris Robert C. and David L Brown. 2003. Vitamin B12 Deficiency. Am Fam Physician:67: 979-986, 993-994. American Academy of Family Physicians. Rogers, Erick, Joshua, Ralph, Jenifer and Lindsay. 2003. High Prevalence of Cobalamin Deficiency in Guatemalan Schoolchildren: Associations with Low Plasma Holotranscobalamin II and Elevated Serum Methylmalonic Acid and Plasma Homocysteine Concentrations. Am J Clin. Nutr.: 77,2.2 433-440, 2003, Sauberlich.1999, Assessment of Nutritional status. Second edition. CRC Press. Boca Raton, London, New York, Washington DC. Savage. 1995. Neurological complications of acquired cobalamin deficiency: clinical aspects.

179

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

Seifort, KL. And Hoffnung RJ. 1997. Child and Adolescent Development. Houghton Zifflin Company. New York. Siekmann,. J. Lindsay H., Nimrod O. B, Montague W., Suzanne P. M and Charlotte G. N. 2003. Kenyan School Children Have Multple Micronutrient Deficiencies, But Increased Plasma Vitamin B12 Is The Only Detectable Micronutrient response to Meat or Milk Suplementation. J. Nutr. 133:3972s-3980s. November 2003.

Syarief. 1997. Membangun Sumberdaya Manusia Berkualitas: suatu Telaah Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Orasi Ilmiah pada pengukuhan Guru Besar Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian Instutut Pertanian Bogor. Bogor. Untoro, R. 2004. Kebijakan dan Program Gizi Aak di Indonesia Saat ini dan Mendatang. dalam Prosiding Inovasi Pangan dan Gizi untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak. Jakarta Wardlaw, Paul and Marcia. 1992. Contemporary Nutrition. Issues and Insights. Mosby Year Book. St Louis, Baltimor, Chicago, London, Philadelphia, Sydney, Toronto.

Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 (172–180) Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal

180

HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

KECELAKAAN KERJA DAN CEDERA YANG DIALAMI OLEH PEKERJA INDUSTRI DI KAWASAN INDUSTRI PULO GADUNG JAKARTA
Woro Riyadina Puslitbang Biomedis dan Farmasi Balitbangkes Depkes RI ABSTRACT Occupational accidents are stil high. There were 17 workers death each workday. Human factor is main caused risk factor of occupational accident. The objective of study to determine type of accidents and injuries related with accident at workplace in Pulogadung Industrial Estare. The study was operational research with cross sectional design. The study conducted 950 industrial workers at seven companies in 2006. Respondents were industrial workers who were worked in Jakarta Pulogadung industrial estate. Data collected based on interview with questionnaire and analyzed with statistic analysis. Result showed that industrial workers have ever been accident at workplace 29.9% with injury on hinge-hipupper leg (40.2%), head (24,8%) and hand ankle (14.3%). Type of injuries were excoriasi (37.2%), superficial (29.6%) and an eyes injury (14.8%). Occupational accident often occurence on steel industry (11.2%) with an eyes injury (10%), spare part industry (8.2%) with pierced (6.1%) andi garment industries (3.7%) with pierced (43.1%). Occupational aacident correlated with male workers OR 3.25 (95% CI 2.29–4.62), moderate level of activity OR 2.08 (95% CI 1.48–2.92), distres OR 1.36 (95% CI 1.03–1.80), painful OR 1.50 (95%CI 1.13– 1.98), and using safety tools OR 1.50 (95% CI 1.13–1.98). Physical condition correlated with occupational accident such as noisy OR 2.24 (95% CI 1.66 – 3.03), heat OR 2.19 (95%CI 1.63 – 2.93), close OR 2.32 (95%CI 1.57–3.41), extreme scent OR 2.01 (95%CI 1.42–2.85), dusty OR 1.87 (95%CI 1.41–2.48) and smoky OR 2.40 (95%CI 1.77–3.25). Keywords: Occupational, Accident, Injury, Worker, Industry PENDAHULUAN Masyarakat pekerja di Indonesia mengalami peningkatan terus dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995 jumlah pekerja sekitar 88,5 juta dan meningkat pada tahun 2003 pekerja di Indonesia berjumlah 100.316.000.1 Jumlah penduduk Indonesia tahun 2003 sebesar 216.948.400 orang, jumlah penduduk usia kerja 152.649.981 orang, angkatan kerja 100.316.007 orang, yang terbagi dalam beberapa lapangan usaha utama atau jenis industri utama yaitu pertanian 47,67% perdagangan 17,90% industri pengolahan 11,80%, jasa 10,98%.2 Kecelakaan industri adalah kejadian kecelakaan yang terjadi di tempat kerja khususnya di lingkungan industri. Menurut International Labour Organization (ILO) setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian akibat penyakit akibat hubungan pekerjaa.3 Data dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N) menunjukkan bahwa kecenderungan kejadian kecelakaan kerja meningkat dari tahun ke tahun yaitu 82.456 kasus di tahun 1999 meningkat menjadi 98.905 kasus di

181

tahun 2000 dan naik lagi mencapai 104.774 kasus pada tahun 2001. Dari kasus-kasus kecelakaan kerja 9,5% diantaranya (5.476 tenaga kerja) mendapat cacat permanen. Ini berarti setiap hari kerja ada 39 orang pekerja yang mendapat cacat baru atau rata-rata 17 orang meninggal karena kecelakaan kerja.4 Kecelakaan industri secara umum disebabkan oleh 2 hal pokok yaitu perilaku kerja yang berbahay (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe condistions). Beberapa hasil penelitian menunjukkkan bahwa faktor manusia memegang pernanan penting timbulnya kecelakaan kerja. Hasil penelitian menyatakan bahwa 80%-85% kecelkaan keja disebebkan oleh kelalaian atau kesalahan faktor manusia. 3 Undang-undang Nomor 23 Tahun 19925 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah menentukan jenis kecelakaan dan cedera yang dialami oleh pekerja serta faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja di kawasan industri Pulogadung. Hasil penelitian diharapkan dapat membantu memberikan masukan dalam menyusun program faktor risiko kecelakaan dan cedera masyarakat pekerja, serta menentukan kebijakan kesehatan yang lebih sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada. METODE Jenis penelitian ini adalah operasional riset (riset terapan) dengan rancangan penelitian Cross-Sectional. Populasi adalah masyarakat pekerja industri dewasa laki-laki maupun perempuan yang berusia kerja (15–55 tahun) di wilayah kawasan industri Pulo Gadung pada tahun 2006. Sampel adalah responden sebagai pekerja industri yang berusia 15- 55 tahun yang bekerja di wilayah kawasan industri Pulo Gadung. Cara pengambilan sampel dengan Simple Random Sampling dari pekerja industri yang terpilih. Variabel yang di ukur meliputi karakteristik

responden, jenis kecelakaan kerja, jenis cedera dan kondisi lingkungan fisik ruang pekerja. Pengumpulan data dengan metode wawancara dengan kuesioner. Analisis data melalui tahapan analisis deskriptif dengan menghitung proporsi masing-masing variabel dan bivariat untuk menentukan hubungan dan menghitung besarnya risiko/OR (odd ratio). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan data penelitian telah dilaksanakan pada bulan Agustus dan September 2006 dan mendapatkan 950 responden yang memenuhi kriteria responden yang berasal dari 7 perusahaan yang masingmasing mewakili jenis industri di kawasan industri Pulo Gadung Jakarta Timur. Data terbagi dalam dua kelompok yaitu data hasil pemeriksaan fisik terhadap responden dan data fisik lingkungan tempat kerja. Data responden yang terkumpul diperoleh dari hasil wawancara berdasarkan kuesioner. Waktu pengumpulan data dilakukan pada jam kerja dengan sistem bergilir atau bergantian sehingga tidak menyebabkan gangguan produksi di masing-masing perusahaan. I. Karakteristik Responden Responden yang terpilih adalah pekerja di bagian produksi di 7 jenis industri yang secara keseluruhan berjumlah 950 responden. Pengambilan sampling responden terpilih untuk masing-masing jenis industri dilakukan secara proporsional. Adapun perincian jumlah responden menurut jenis industri ditunjukkan dalam Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa industri baja yang menempati urutan terbanyak jumlah respondennya yaitu 249 orang (26,2%) dan paling sedikit jumlah respondennya adalah jenis industri konstruksi yaitu hanya sekitar 20 orang (2,1%). Pekerja di industri konstruksi bagian produksi mengalami kesulitan waktu dan tempat dalam praktek pengambilan datanya karena pekerja di industri tersebut mobilitasnya tinggi dan tersebar di beberapa tempat yang sulit untuk dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan. Responden adalah para pekerja di bagian produksi dari 7 jenis industri yang sudah bekerja minimal selama 2 tahun dan berusia kerja yaitu antar umur 15 – 55 tahun.

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

182

Karakteristi responden tercantum dalam tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi umur pekerja industri tertinggi (33,9%) berkisar antara umur 30 – 39 tahun yang diikuti oleh kelompok umur 20-29 tahun sekitar 30% dan umur 40-49 tahun sebesar 27,7%. Kelompok umur tersebut menunjukkan usia produktif untuk seluruh jenis industri yang ikut dalam penelitian ini.

Pekerja industri mayoritas laki-laki yaitu sebanyak 647 orang (68,1%) dan tingkat pendidikan didominasi oleh pendidikan setingkat SMU yaitu sekitar 624 (65,7%) dan status perkawinan sebagian besar sudah kawin yaitu sekitar 744 orang (78,3%). Adapun suku dari pekerja yang diperiksa sebagian besar adalah Jawa sebanyak 559 orang (59,1%) selanjutnya diikuti oleh suku Betawi 178 orang (18,8%).
Presentase % 13,9 5,7 21,7 22,5 7,9 26,2 2,1 100

Tabel 1. Jumlah responden dari 7 jenis industri yang ikut dalam penelitian No. Jenis Industri Jumlah responden 1. Garmen 132 orang 2. Percetakan 54 orang 3. Spare Part 206 orang 4. Kimia 214 orang 5. Makanan 75 orang 6. Baja 249 orang 7. Konstruksi 20 orang Jumlah 950 orang Tabel 2. Distribusi frekuensi karakteristik responden Variabel Jumlah responden N = 950 (n) Umur 15 – 29 tahun 286 30 – 39 tahun 322 40 – 49 tahun 263 ≥50 tahun 79 Jenis kelamin Laki-laki 647 Perempuan 303 Tingkat Pendidikan Rendah (SD,SMP) 273 Sedang (SMU) 624 Tinggi (D3,PT) 53 Status Perkawinan Belum Kawin 194 Kawin 744 Cerai 12 Suku jawa 559 sunda 143 betawi 178 batak 19 minang 11 lainnya 36 Bekerja dengan aktivitas fisik Ringan Sedang 269 681 Pakai alat pelindung diri (APD) Ya 647 303 Tidak

Prosentase (%) 30,1 33,9 27,7 8,3 68,1 29,9 28,7 65,7 5,6 20,4 78,3 1,3 59,1 15,1 18,8 2,0 1,2 3,7 28,3 71,7 68,1 31,9

183

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

Sunda 143 orang (15,1%). Sedangkan aktifitas fisik selama bekerja kebanyakan mempunyai aktifitas fisik sedang yaitu sekitar 71,7% dengan pembagian klasifikasi melakukan pekerjaan dengan posisi berdiri selama lebih dari 6 jam per hari. Aktifitas fisik selama bekerja merupakan aktifitas rutin yang dilakukan pekerja dan dikatagorikan menjadi aktifitas ringan, sedang dan berat berdasarkan pembagian klasifikasi dari Promkes Depkes Rl. Adapun pekerja yang sudah patuh menggunakan APD (alat pelindung diri) saat bekerja sebanyak 68,1% sedangkan yang tidak menggunakan APD ada sebanyak 31,9%. Sebagian besar alasan tidak memakai APD saat bekerja dikarenakan tidak nyaman

atau justru merasa mengganggu aktifitasnya saat bekerja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan memakai APD cukup tinggi yaitu 82,3% tetapi yang mengaku selalu memakai APD hanya 41,7%.7 Riwayat Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja adalah riwayat kecelakaan akibat kerja atau di tempat kerja yang pernah dialami oleh pekerja industri. Daerah cedera merupakan bagian tubuh yang mengalami cedera sedangkan sifat cedera adalah jenis luka yang diderita akibat kecelakaan. Klasifikasi daerah dan sifat cedera berdasarkan ICD-10.6 Riwayat kecelakaan kerja ditunjukkan pada Tabel 3.
Prosentase (%) 29,9 70,1 24,8 0,7 0,7 2,2 0,7 14,3 40,2 1,9 7,5 6,8 29,6 37,2 3,4 4,2 4,9 2,3 14,8 1,9 1,5

Tabel 3. Riwayat kecelakaan di tempat kerja Variabel Jumlah responden (n) Kecelakaan akibat kerja (N = 950) Ya 284 Tidak 666 Daerah Cedera (ICD-10) (N= ) Kepala 66 Leher 2 Dada 2 Perut, punggung, pinggang, panggul 6 Bahu, lengan atas 2 Siku, lengan bawah 38 Pergelangan tangan 107 Sendi, pinggul, tungkai atas 5 20 Lutut, tungkai bawah 18 Pergelangan kaki Sifat Cedera (ICD-10) (N= ) Superfisial 78 Luka terbuka 98 Patah tulang (termasuk gigi) 9 Dislokasi, sprain, strain 11 Cedera pembuluh darah 13 Cedera otot dan tendo 6 Cedera mata 39 Amputasi 5 Lainnya 4

Tabel 4. Perbedaan proporsi kecelakaan kerja menurut jenis industri Kecelakaan kerja Jenis Industri Ya Tidak Total n = 284 n = 666 N = 950 n (%) n (%) N (%) • • • • • • • Garmen Percetakan Kimia Obat Spare Part Makanan Baja (workshop) Konstruksi 35 13 22 78 23 106 7 3,7 1,4 2,3 8,2 2,4 11,2 0,7 97 41 184 136 52 143 13 10,2 4,3 19,4 14,3 5,5 15,1 1,4 132 54 206 214 75 249 20 13,9 5,7 21,7 22,5 7,9 26,2 2,1

p

0,000

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

184

Pekerja industri yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 29,9%. Bagian tubuh yang mengalami cedera paling banyak adalah bagian sendi,pinggul,tungkai atas yaitu sebanyak 40,2% selanjutnya diikuti bagian kepala sekitar 24,8% dan bagian pergelangan tangan sebanyak 14,3%. Melihat daerah cedera tersebut maka perlu dipertimbangkan penggunaan, kepatuhan dan ukuran menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk mencegah cedera di bagian tubuh tersebut. Adapun sifat luka akibat kerja yang dialami oleh pekerja industri paling banyak adalah luka terbuka (37,2%), diikuti dengan luka lecet atau superfisial (29,6%) dan cedera mata (14,8%). Kecelakaan Kerja Menurut Jenis Industri Adapun untuk perbedaan proporsi kejadian kecelakaan menurut jenis industri ditampilkan pada Tabel 4. Tiga urutan terbanyak sering terjadinya kecelakaan kerja terdapat pada jenis industri baja (11,2%) industri spare part (8,2%) dan industri garmen (3,7%). Urutan jenis kecelakaan kerja terbanyak pada industri baja

yaitu mata kemasukan benda (gram) (10%) tertimpa (8%), dan terjepit (6%). Adapun untuk jenis industri spare part adalah tertusuk (6,1%), tertimpa (5,6%) dan terjepit (5,1%), sedangkan untuk jenis industri garmen yaitu tertusuk (43,1%), lainnya (9,8%) dan terbakar dan tergores (3,9%). Melihat masing-masing jenis risiko kecelakaan di masing-masing jenis industri tersebut, maka perlu ditingkatkan kepatuhan menggunakan alat pelindung kerja sesuai dengan jenis pekerjaannya dan evaluasi terhadap APD yang sudah ada. Hubungan antara Faktor Risiko dengan Kecelakaan Kerja Kecelakaan terjadi disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu manusia (host), alat (vector) dan lingkungan (environment) sesuai dengan teori Haddon (WHO, 2001).8 Kecelakaan kerja disini adalah kecelakaan yang terjadi sebagai akibat kerja atau terjadi di tempat kerja saat bekerja di industri. Untuk lebih jelasnya tentang hubungan antara karakteristik pekerja industri dengan kejadian kecelakaan kerja ditampilkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Hubungan antara karakteristik pekerja industri dengan kejadian kecelakaan kerja Kecelakaan kerja Karakteristik pekerja OR 95% CI Ya Tidak Total N =284 N = 666 N = 950 (29,9%) (70,1%) (100%) n (%) n (%) N (%) Jenis Kelamin (N=950) • Laki-laki • Perempuan Umur (N=950) • > 40 tahun • ≤ 40 yahun Pendidikan (N=950) • Rendah • Tinggi Pekerja dengan aktifitas fisik (N=949) • Sedang • Ringan Status Distres (N= 950) • Ya • Tidak Keluhan sering nyeri (N=949) • Ya • Tidak 238 46 62 222 53 231 36,815,2 409 257 242 424 220 446 63,2 84,8 79,6 65,6 80,6 65,9 647 303 304 646 273 677 100 100 100 100 100 100 3,25 2,29 – 4,62

20,434,4

0,46

0,33 – 0,65

19,434,1

0,46

0,33 – 0,65

230 53

33,819,7

450 216

66,2 80,3

680 269

100 100

2,08

1,48 – 2,92

133 151 170 114

33,727,2

262 404 332 333

66,3 72,8 66,1 74,5

395 555 502 44

100 100 100 100

1,36

1,03 – 1,80

33,925,5

1,50

1,13 – 1,98

185

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

Tabel 5 memperlihatkan bahwa faktor risiko karakteristik pekerja industri yang mempunyai faktor risiko yang bermakna (p<0,05) adalah jenis kelamin dan aktifitas fisik pada saat bekerja. Pekerja laki-laki mempunyai risiko mengalami kecelakaan kerja 3,25 (CI 95%: 2,29 – 4,62) kali dibandingkan dengan pekerja perempuan. Hal ini dikarenakan pekerja laki-laki menempati mayoritas pekerja di bagian produksi di jenis industri berat atau menggunakan alat-alat yang besar dan berbahaya. Sedangkan pekerja dengan aktifitas fisik katagori sedang selama bekerja berisiko 2,08 kali (95% CI: 1,48 – 2,92) mengalami kecelakaan kerja dibandingkan pekerja dengan aktifitas ringan. Hal ini disebabkan pekerja dengan aktifitas sedang akan lebih cepat mengalami kelelahan secara fisik dibandingkan dengan aktifitas ringan sehingga bisa mengurangi stamina dan konsentrasi pekerja. Kondisi fisik dan psikis pekerja berhubungan dengan kejadian kecelakaan. Pekerja industri yang mengalami distres mempunyai risiko mengalami kecelakaan kerja 1,36 kali (95% CI: 1,03 – 1,80) dibandingkan dengan pekerja yang sehat secara psikis. Sedangkan pekerja yang mempunyai keluhan sering nyeri juga berisiko 1,5 kali (95% CI: 1,13 – 1,98) mengalami celaka dibandingkan dengan yang tidak mempunyai keluhan nyeri. Keadaan tersebut menjelaskan bahwa pekerja yang mempunyai kondisi baik fisik maupun psikis yang tidak sehat leboh berisiko tinggi untuk mengalami kecelakaan kerja. Pekerja di bagian produksi di suatu jenis industri diwajibkan menggunakan APD

(Alat Pelindung Diri) sebagai alat untuk pelindung kerja disesuiakan dengan jenis pekerjaannya. Hubungan pemakaian APD dengan kejadian kecelakaan kerja digambarkan pada Tabel 6. Kecelakaan kerja pada pekerja industri ternyata justru terjadi pada pekerja yang mengunakan APD saat terjadi kecelakaan. Pekerja yang menggunakan APD berisiko 2,20 kali (95% CI: 1,59 – 3,05) mengalami kecelakaan kerja dibandingkan dengan pekerja yang tidak memakai APD. Beberapa kasus menunjukkan bahwa menggunakan sarung tangan justru membuat pekerja tidak merasa nyaman atau mengganggu aktifitas kerja sehingga justru membahayakan. Untuk itu perlu dilakukan kajian tentang APD disesuaikan dengan jenis pekerjaan sehingga APD tersebut benar-benar bisa melindungi. Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting untuk ikut berperan dalam kejadian kecelakaan kerja. Hubungan antara kondisi lingkungan dengan kejadian kecelakaan kerja dijelaskan pada Tabel 7. Tabel 7 menunjukkan bahwa kondisi tempat kerja berhubungan bermakna (p<0,05) dengan kejadian kecelakaan kerja. Ruang kerja yang berisiko celaka mempunyai potensi risiko 4,07 kali ( 95% CI: 2,95 – 5,63) dibandingkan dengan ruang tidak berisiko. Beberapa kondisi fisik ruang kerja yang mempunyai risiko tinggi kecelakaan kerja adalah berasap dengan risiko 2,4 (95%: 1,77 – 3,25), pengap 2,32 (95%: 1,57 – 3,41) dan bising 2,24 (95%: 1,66 – 3,03). Kondisi ruang kerja yang seperti itu dapat menyebabkan gangguan fisik atau psikis terhadap pekerja sehingga berisiko terjadi kecelakaan kerja.

Tabel 6. Hubungan antara pemakaian APD dengan kejadian kecelakaan kerja Kecelakaan kerja Pemakaian APD OR Ya Tidak Total N = 950 N =284 N = 666 N = 950 (29,9%) (70,1%) (100%) n (%) n (%) N (%) Pakai APD • Ya • Tidak 225 59 34,819,5 422 244 65,2 80,5 647 303 100 100 2,20

95% CI

1,59 – 3,05

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

186

Tabel 7. Hubungan antara kondisi tempat kerja dengan kejadian kecelakaan kerja Kecelakaan kerja Karakteristik pekerja OR Ya Tidak Total N =284 N = 666 N = 950 (29,9%) (70,1%) (100%) n (%) n (%) N (%) Ruang kerja berisiko celaka (N=949) • Ya • Tidak Ruang Bising (N=945) • Ya • Tidak Ruang terlalu panas (N=949) • Ya • Tidak Ruang pengap (N=949) • Ya • Tidak Bau menyengat (N= 949) • Ya • Tidak Ruang berdebu (N=949) • Ya • Tidak Ruang berasap (N=949) • Ya • Tidak

95% CI

224 60

41,314,7

318 347

58,7 85,3

542 407

100 100

4,07

2,95 – 5,63

203 79 123 161

36,420,4

354 309 172 493

63,6 79,6 58,3 75,4

557 388 295 654

100 100 100 100

2,24

1,66 – 3,03

41,724,6

2,19

1,63 – 2,93

57 227 70 214

46,727,4

65 600 93 572

53,3 72,6 57,1 72,8

122 827 163 786

100 100 100 100

2,32

1,57 – 3,41

42,927,2

2,01

1,42 – 2,85

168 116 109 175

36,723,6

290 375 137 528

63,3 76,4 55,7 75,1

458 491 246 703

100 100 100 100

1,87

1,41 – 2,48

44,324,9

2,40

1,77 – 3,25

KESIMPULAN Karakteristik pekerja industri adalah berumur antara 20 – 39 tahun (33,9%), lakilaki (68,1%), berpendidikan SMU (65,7%), status kawin (78,3%), suku Jawa (59,1%), aktifitas kerja sedang (71,7%) dan tidak memakai APD (31,9%). Pekerja industri yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 29,9% dengan cedera sendi-pinggul-tungkaiatas (40,2%), kepala (24,8%) dan pergelangan tangan (14,3%). Luka akibat kerja adalah luka terbuka (37,2%), lecet atau superfisial (29,6%) dan cedera mata (14,8). Kecelakaan kerja sering terjadi pada jenis industri baja (11,2%) yaitu mata kemasukan benda (gram) (10%), industri spare part (8,2%) yaitu tertusuk (6,1%) dan industri garmen (3,7%) yaitu tertusuk (43,1%).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada pekerja industri adalah pekerja laki-laki dengan OR 3,25 (95% CI 2,29–4,62), aktifitas kerja sedang OR 2,08 (95% CI 1,48–2,92), status distres OR 1,36 (95% CI 1,03–1,80), keluhan nyeri OR 1,50 (95%CI 1,13– 1,98), dan pemakaian APD OR 1,50 (95% CI 1,13– 1,98). Untuk factor risiko fisik tempat kerja yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja meliputi kebisingan OR 2,24 (95% CI 1,66 – 3,03), ruangan terlalu panas OR 2,19 (95%CI 1,63 – 2,93), ruang pengap OR 2,32 (95%CI 1,57–3,41), bau menyengat OR 2,01 (95%CI 1,42–2,85), ruang berdebu OR 1,87 (95%CI 1,41–2,48) dan ruang berasap OR 2,40 (95%CI 1,77– 3,25). Kejadian kecelakaan dan cedera akibat kecelakaan kerja masih sering terjadi maka perlu ditingkatkan kepatuhan pemakaian

187

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

APD saat bekerja dan melengkapi serta menyempurnakan APD agar nyaman dipakai. Upaya untuk menurunkan angka kejadian kecelakaan akibat kerja dengan cara pengendalikan faktor risiko melalui model intervensi yang tepat dan sesuai masingmasing jenis industri. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini terlaksana atas bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempakatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada: Direktur, Manager Personalia beserta jajarannya di 7 perusahaan di kawasan industri Pulo Gadung yaitu PT. Bina Busana Internusa, PT. Metropos, PT Kimia Farma, PT Morita Tjokro Gearindo, PT. Cadbury, PT Sanggar Sarana Baja dan PT Jaya Konstruksi Manggala., Balai Teknik Kesehatan Lingkungan semua pihak yang membantu kelancaran pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA 1. BPS. Data Proyeksi Angkatan Kerja Indonesia. 2003.

2. BPS. Pekerja di Indonesia berdasarkan jenis lapangan pekerjaan. 2002. 3. Pusat Kesehatan Kerja. Kecelakaan di Industri. Puskesja, Depkes RI. 2002. 4. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja nasional (DK3N). Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3): Jangan sampai global compact beraksi. Warta ekonomi.com. 2002. 5. Depkes. Undang-undang Kesehatan RI pasal 23 tentang Kesehatan Kerja. Jakarta.1992. 6. WHO.International Statistical Classification of Diseases and Health Related Problems (The) ICD-10. Second Edition. English. 2005. 7. Trihandoyo,B. Pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja pada sector industri dalam kaitannya dengan produktivitas kerja di kawasan industri, Kabupaten Serang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Keseahatan dan Teknologi, Balitbangkes Depkes RI. 2001. 8. Holder, Peden M, Krug E et al (Eds). Injury Surveillance Guidelines. World Health Organization. Geneva. 2001.

Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami oleh Pekerja Industri (181–188) Woro Riyadina

188

TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PERUBAHAN SOSIAL TERHADAP PERILAKU SEKS REMAJA DAN PENGETAHUAN KESPRO SEBAGAI ALTERNATIF PENANGKALNYA
Abdul Jalil Amri Arma Departemen Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jl.Universitas No.21 Kampus USU Medan, 20155 ABSTRACT The teenage is asset of human resource, they are the backbone of the next generation. Teenage live in the period of the transitory in physical, psychical or social, from childhood to adult. This period is a period of collaboration between the growth of psychological and biological age, so they can be influenced by multifactor happened in various area in society (change). The change happened, can be because of economic factor, political, culture and particularly social change can give more influenced to the teenage behavior. The problem related to teenage reproduction and behavior including the increasing case of sexual contagion especially HIV/AIDS, the rate of maternal death which is still very high, the increasing growth of abortion because of undesirable pregnancy and the tendency to do the premarital sexual relation. The problem can’t be solve using only the clinical aspect by an expert such as doctors but the core problem lie on a very complex social context because health reproduction influenced by and bring effect to political system, social and economy, and closely related with the value, ethics, religion and culture. Therefore, it needed effort from various kind of society such as government, elite figure, religion figure, self-supporting institute and especially the parent of the teenager to guide them to the right way while exploit their potency to the good advantage. Effort in educating young generation becoming very important because empowering the young generation to protect their self is the first step to control their problem. Knowledge about health reproduce among adolescent can be obtained from local knowledge, traditionally inheritened from former generation specially parent, obtained from peer group and from formal lesson in school, those who can guaranteed the truth lesson. Keywords: Social change, Sex behaviour, Teenage, Knowledge about health reproduction Remaja adalah aset sumber daya manusia yang merupakan tulang punggung penerus generasi di masa mendatang. Besarnya jumlah penduduk usia remaja ini adalah merupakan peluang dan bukan menjadi masalah bagi pemerintah. Masa remaja adalah merupakan masa peralihan baik secara fisik, psikis maupun sosial dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini adalah perpaduan antara perkembangan usia psikologis dan usia biologis sehingga sangat dipengaruhi 189 multifaktor yang terjadi di berbagai bidang dalam masyarakat. Perubahan yang terjadi tersebut, baik karena faktor ekonomi, politik, budaya dan terlebih lagi faktor perubahan sosial yang sangat mempengaruhi perilaku remaja. Masalah yang berkaitan dengan perilaku dan reproduksi remaja seperti bertambahnya kasus penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS, kematian ibu muda yang masih sangat tinggi, merebaknya praktek aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan dan kecenderungan remaja masa

kini untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Masalah ini tidak dapat didekati hanya dari aspek klinis oleh para ahli kedokteran. Inti persoalan sesungguhnya terletak pada konteks sosial yang sangat kompleks karena kesehatan reproduksi dipengaruhi dan mempengaruhi sistem politik, sosial dan ekonomi dan berhubungan erat dengan nilai, etika, agama dan kebudayaan. Untuk itu diperlukan upaya dari berbagai pihak untuk menghadapi masalah perilaku sesual remaja yang berisiko ini. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, orang tua dan Lembaga Swadaya Masyrakat untuk memanfaatkan potensi remaja tersebut. Upaya dalam mendidik para kaum muda menjadi sangat penting karena pada intinya, memberdayakan generasi muda untuk melindungi diri mereka adalah langkah pertama untuk mengendalikan masalah mereka. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja dapat diperoleh dari pengetahuan lokal yang secara tradisional diperoleh dari generasi terdahulu khususnya orang tua, pengetahuan yang diperoleh dari teman-teman remaja (peer group) dan pengetahuan yang diperoleh dari pelajaran formal di sekolah. Remaja terkadang tidak memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, informasi yang benar, bahkan keterampilan hidup untuk menghindari penyakit menular seksual khususnya kejadian HIV/AIDS. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan kurangnya informasi yang membahas khusus tentang kesehatan reproduksi remaja menjadi masalah yang sampai saat ini mendukung tingginya angka kejadian penyakit ini. Tulisan ini mengulas tentang pengertian remaja, bagaimana proses perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat mempengaruhi perilaku seks remaja, dampak perilaku seks remaja yang berisiko dan alternatif upaya untuk menangkalnya dengan pendidikan kesehatan reproduksi remaja. TINJAUAN TENTANG REMAJA Masa remaja adalah merupakan masa peralihan baik secara fisik, psikis maupun sosial dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Remaja adalah aset sumber daya

manusia yang merupakan tulang punggung penerus generasi di masa mendatang. Bila dilihat dari komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin, jumlah remaja menempati posisi yang lebih besar dibanding dengan komposisi umur lainnya. Besarnya jumlah penduduk usia remaja ini adalah merupakan peluang dan bukan menjadi masalah bagi pemerintah. Pada tahun 1974, WHO memberikan defensi tentang remaja yang bersifat konseptual. Defenisi ini berdasarkan 3 kriteria biologik, psikologik dan sosial ekonomi. Dari segi umur WHO membagi menjadi remaja awal (10 – 14 tahun) dan remaja akhir (15-20 tahun). PBB menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rengka menetapkan tahun 1985 sebagai tahun pemuda internasional. Di Indonesia, batasan remaja mendekati batasan PBB tentang pemuda kurun usia 14-24 tahun yang dikemukakan dalam Sensus Penduduk 1980. Menurut sensus ini, jumlah remaja Indonesia adalah 147.338.075 jiwa atau 18,5% dari seluruh penduduk Indonesia. Pedoman umum masyarakat Indonesia untuk menentukan batasan usia remaja yaitu 11 – 24 tahun dan belum menikah. J.J. Rosseau membagi perkembangan jiwa manusia menurut perkembangan perasaannya, yang membaginya menjadi 4 tahap yaitu: 1. Umur 0-4 atau 5 tahun: masa kanakkanan (infancy). 2. Umur 5 –12 tahun: masa bandel (savage stage). 3. Umur 12 –15 tahun: bangkitnya akal (rasio), nalar (reason) dan kesadaran diri (self consciousness). 4. Umur 15-20 tahun: masa kesempurnaan remaja (adolescence proper) dan merupakan puncak perkembangan emosi. Perkembangan Fisik (Biologik) pada Masa Remaja Pada masa remaja seseorang mengalami pertumbuhan fisik yang lebih cepat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Ini nampak pada organ seksualnya, dimana biologik sampai pada kesiapan untuk melanjutkan keturunan. Ciri sekunder individu dewasa adalah:

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

190

Pada pria tampak tumbuh kumis, jenggot dan rembut sekitar alat kelamin dan ketiak. Rambut yang tumbuh relatif lebih kasar. Suara menjadi lebih besar, dada melebar dan berbentuk segitiga, serta kulit relatif lebih kasar. - Pada wanita tampak rambut mulai tumbuh di sekitar alat kelamin dan ketiak, payudara dan panggul mulai membesar, dan kulit relatif lebih halus. Organ kelamin juga mengalami perubahan ke arah pematangan yaitu: - Pada pria, sejak usia ini testis akan menghasilkan sperma yang tersimpan dalam skrotum. Kelenjar prostat menghasilkan sperma, dan penis dapat digunakan untuk bersenggama dalam perkawinan. Seorang pria dapat menghasilkan puluhan sampai jutaan sperma sekali ejakulasi dan mengalami mimpi basah, dimana sperma keluar dengan sendirinya secara alamiah. - Pada wanita, kedua indung telur (ovarium) akan menghasilkan sel telur (ovum). Hormon kelamin wanita mempersiapkan uterus (rahim) untuk menerima hasil konsepsi bila ovum dibuahi oleh sperma, juga mempersiapkan vagina sebagai penerima penis saat senggama. Sejak saat ini wanita akan mengalami ovulasi dan menstruasi. Ovulasi adalah proses keluarnya ovum dari ovarium dan jika tidak dibuahi, maka ovum akan mati dan terjadilah menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa alamiah keluarnya darah dari vagina yang berasal dari uterus akibat lepasnya endometrium sebagai akibat dari ovum yang tidak dibuahi. Perkembangan Psikosial pada Masa Remaja Kesadaran akan bentuk fisik yang bukan lagi anak-akan menjadikan remaja sadar meninggalkan tingkah laku anakanaknya dan mengikuti norma serta aturan yang berlaku. Menurut Havigrust aspek psikologis yang menyertainya yaitu: - Menerima kenyataan (realitas) jasmani - Mencapai hubungan sosial yanglebih matang dengan teman sebaya. - Menjalankan peran-peran sosial menurut jenis kelamin sesuaikan dengan norma.

-

-

Mencapai kebebasan emosional (tidak tergantung) pada orang tua atau orang dewasa lain. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep untuk bermasyarakat. Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan atau jabatan. Mencapai kebebasan ekonomi, merasa mampu hidup dengan nafkah sendiri. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan.

PERUBAHAN SOSIAL MEMPENGARUHI PERILAKU SEKS REMAJA Secara ekologis, perilaku seksual manusia merupakan bagian dari perilaku reproduksi. Pada manusia, perilaku seksual dapat didefenisikan sebagai interaksi antara perilaku prokreatif dengan situasi fisik serta sosial yang melingkunginya. Perilaku seksual manusia bukan hanya cerminan rangsangan hormon semata, melainkan menggambarkan juga hasil saling pengaruh antara hormon dan pikiran (mind). Pikiran itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan budaya. Sehingga meskipun dorongan birahi itu sendiri bersifat biologis, pola perilaku seksual seseorang akan sangat dipengaruhi oleh tata nilai dan adat istiadat yang berbeda-beda sesuai dengan etnis, agama dan status sosial ekonominya. Semua itu kemudian akan menentukan peran seksual seseorang dalam masyarakat. Perubahan sosial adalah gejala yang wajar terjadi di manapun. Sepanjang sejarah masyarakat, perubahan dan kestabilan pada hampir seluruh kehidupan sosial merupakan dua kontras yang saling silih berganti. Perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan oleh multifaktor. Kendati demikian, dalam perjalanan waktu, beberapa faktor penyebab perubahan terbukti berperan lebih berperan lebih signifikan secara khusus (Spooner, 1972). Salah satu diantaranya adalah perubahan lingkungan, baik yang disebabkan oleh perubahan kependudukan maupun iklim atau topografi. Perubahan kependudukan, baik dengan maupun tanpa perubahan iklim, cepat atau lambat mendorong terjadinya migrasi, teknik-teknik produksi baru, kepadatan penduduk yang tidak merata, dan kombinasi semua itu. Tampaknya pertumbuhan penduduk di daerah-daerah yang sangat

191

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

produktif mengakibatkan perubahan organsisasi sosial terbesar dalam sejarah sosial manusia (Corneiro, 1970). Selain perubahan lingkungan, faktor penyebab perubahan sosial lainnya, yang sejak dulu dipandang paling penting, adalah perubahan teknologi dan perubahan politik. Perubahan teknologi tersebut, khususnya berupa arus informasi dan komunikasi hasil terknologi baru, telah masuk hingga ke pelosok desa. Tanpa terasa, arus tersebut telah masuk dalam berbagai janji dan impian, dan berdampak sangat besar terhadap tatanan masyarakat dan kebudayaan setempat. Politik kependudukan pemerintah, terutama berupa program keluarga berencana nasional, hadir dalam masyarakat kota maupun desa dalam wujud materi yang jarang disadari dan diukur dampaknya. Materi tersebut berwujud dalam bentuk kondom, spiral, pil anti hamil, buku-buku panduan singkat mencegah kehamilan dan lain-lain yang tersedia, di toko-toko buku, apotik-apotik, toko -toko obat di pinggir jalan hingga di Puskesmas-Puskesmas dan kedai-kedai di pedesaan. Tujuan mengejar target program keluarga berencana yaitu menekan kenaikan jumlah penduduk, tampaknya lebih penting daripada proses sosial dan kebudayaan yang terjadi dalam keluarga dan masyarakat. Keluarga sebagai bagian dari sistem masyarakat yang lebih luas, terkait secara harmonis dan fungsional dengan unsur-unsur lain dalam sistem tersebut. Keluarga dalam perspektif ini dilihat sebagai satu kesatuan sosial dimana para anggotanya termasuk remaja merupakan bagian integral yang solid secara analitik. Remaja akan merespons perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya dengan cepat karena rasa ingin tahu yang dimiliki. Kemajuan pembangunan di bidang ekonomi serta meningkatnya industrialisasi juga akan disertai dengan meningkatnya kesempatan bagi remaja untuk hidup konsumtif, hedonistik atau kesempatan untuk tinggal di luar pengawasan orang tua. Keadaan ini dapat diikuti dengan meningkatnya aktifitas seksual mereka yang sulit untuk dihentikan hanya dengan melarang atau mengajari mereka tentang moralitas, karena di sisi lain, para produsen akan merayu remaja dengan memanfaatkan

perkembangan biologi dan seksualitas mereka. Gejala perilaku seksual remaja merupakan cerminan dari terjadinya perubahan-perubahan penting dalam tatanan masyarakat dan kebudayaan. Hipotesa yang popular adalah merosotnya nilai-nilai budaya keluarga, atau semakin longgarnya ikatan dan kontrol keluarga luas muncul karena keluarga semakin cenderung menjadi keluarga inti. Perilaku Seks Remaja yang Berisiko Perilaku seks remaja yang tidak sehat akan menimbulkan beberapa manifestasi khususnya di kalangan remaja sendiri. Masalah yang berkaitan dengan kehamilan yang tidak diinginkan yang meliputi: 1. Pembunuhan bayi karena faktor malu. 2. Pengguguran kandungan, terutama yang dilakukan secara tidak aman. 3. Dampak kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja putri baik terhadap kesehatan. 4. Dampak sosial ekonomi dari kehamilan yang tidak diinginkan. Selain masalah di atas, masalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang meliputi: 1. Masalah penyakit menular seksual yang lama, seperti siphilis dan gonorheae. 2. Masalah penyakit menular seksual yang relatif baru seperti chlamidya dan herpes. 3. Masalah HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome). 4. Dampak sosial dan ekonomi dari penyakit menular seksual. Menurut Ayke SK, Lembaga Demogrfi UI, Tahun 2002-2003 yang meneliti tentang kesehatan reproduksi, jumlah remaja yang berusia 15-24 tahun dan mencakup 20% penduduk Indonesia. Dari waktu ke waktu, mobilitas remaja Indonesia yang meningkat pesat, arus informasi yang sangat kuat, dan semakin bertambahnya remaja yang berperilaku berisiko ikut meningkatkan kasus penularan HIV/AIDS. Menurut laporan Sekretaris Jenderal pada sesi khusus majelis umum PBB mengenai HIV/AIDS bahwa tiap hari ada 6000 remaja yang terinfeksi HIV. Sebagian

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

192

besar dari mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, informasi yang benar, bahkan keterampilan hidup. Berbagai upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan infeksi seksual menular lainnya seringkali tidak tersedia bagi para remaja. Pelayanan kesehatan reproduksi pada umumnya hanya membatasi bagi oreng dewasa yang sudah menikah dan tidak menyediakan sarana khusus bagi remaja yang hadir tampa wali. Bila tersedia pelayanan kesehatan, banyak faktor yang membuat remaja tidak menggunakannya termasuk kurangnya pelayanan yang bersifat pribadi serta menjaga kerahasiaan, petugas yang kurang peka, lingkungan yang tidak aman dan ketidakmampuan membayar. Karena jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat dengan pesat di kalangan usia 15-24 tahun, maka perlu dilakukan upaya-upaya khusus bagi kelompok tersebut. Agar menurunkan dampak secara keseluruhan, upaya dalam mendidik para kaum muda menjadi sangat penting karena pada intinya, memberdayakan generasi muda untuk melindungi diri mereka adalah langkah pertama untuk mengendalikan HIV/AIDS. Salah satu upaya konkrit adalah kesadaran untuk berperilaku seks yang sehat dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka sendiri. PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI YANG BENAR MEMBENTUK PERILAKU SEKS YANG AMAN Peningkatan Pengetahuan Melalui Sekolah Pengetahuan remaja terhadap reproduksi sehat dan HIV/AIDS sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik dari penyuluhan maupun dari media massa serta kemampuan untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut. Pendidikan seksualitas adalah suatu kegiatan pendidikan yang berusaha untuk memberikan pengetahuan agar remaja dapat mengubah perilaku seksualnya ke arah yang lebih bertanggung jawab. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran dan penciuman, rasa, dan raba.

Pengetahuan seseorang individu terhadap sesuatu dapat berubah dan berkembang sesuai kemampuan, kebutuhan, pengalaman dan tinggi rendahnya mobilitas materi informasi tentang sesuatu di lingkungannya. Pengetahuan yang dicakup dalam daerah kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu: 1. Tahu (know) adalah mengingat suatu materi yang telah diremajai sebelumnya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang diremajai antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan. 2. Memahami (comprehension) adalah kemampuan untuk memahami secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah diremajai pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). 4. Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. 5. Sintesis (synthesis) adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6. Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Pengguguran kandungan yang dilakukan secara gelap/aborsi akibat ketidaktahuan yang mendatangkan kematian merupakan salah satu alasan mengapa pendidikan seksualitas diperlukan dan mendesak untuk dimasukkan dalam kurikulum pelajaran formal di tiap sekolah. Sayangnya, banyak negara berkembang termasuk indonesia, makna pendidikan seksualitas/PKRR banyak disalahartikan. Pendidikan seksual dianggap sebagai pendidikan yang mengajari bagaimana melakukan hubungan seks, dan untuk itu sebelumnya pendidikan seperti ini dilarang. Tetapi seiring dengan bergulirnya waktu dan makin kompleksnya permasalahan rema yang dihadapi pemerintah khususnya yang

193

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

berhubungan dengan perilaku seks atau reproduksi yang tidak aman, maka pemerintah kembali mengambil kebijakan untuk menghidupkan kembali program pendidikan seks ini melalui program Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKRR). Sekolah sebagai institusi formal yang merupakan tempat sebagian besar kelompok remaja adalah wadah yang tepat untuk memberikan pengetahuan kepada remaja tentang kesehatan reproduksi atau perilaku seks yang sehat dan aman melalui pendidikan yang dimasukkan dalam kurikulum. Tujuan umum dari Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKRR) adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan siswa dan remaja menuju kehidupan generasi penerus yang berkualitas. Tujuan khususnya adalah untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku siswa/remaja tentang kesehatan reproduksi remaja, meningkatkan peran aktif masyarakat (orang tua siswa) dalam penanggulangan masalah kesehatan reproduksi remaja. Materi PKRR meliputi pertumbuhan dan perkembangan remaja, perkembangan seksual remaja, gizi remaja, latihan fisik dan rekreasi, rokok, minuman keras dan narkoba, kebersihan organ reproduksi, perilaku seksual berisiko, pergaulan bebas, PMS dan HIV/AIDS, pelecehan seksual, membangun keluarga sejahtera, kehamilan dan persalinan, serta hak reproduksi remaja. Kebijakan yang dikembangkan yaitu bentuk pendekatan dalam menyampaikan pengetahuan, pemahaman dan perilaku positif tentang reproduksi sehat remaja adalah dengan memperkuat dan memberdayakan para tenaga pendidik dan pengelola pendidikan melalui jalur dan sistem pendidikan yang sudah ada. Sehingga pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) atau adolescent reproductive health (ARH) akan dilaksanakan melalui jalur sekolah dan luar sekolah. Strategi Pendidikan pada satuan dan jenis serta jenjang pendidikan: SLTP, SLTA (SMU/SMK), paket A dan B serta kelompok pemuda. Pelaksanaan pendidikan melalui/mengikuti sistem yang sudah ada. Jika mengacu pada sistem dimana KRR dilaksanakan, maka dibedakan menjadi 2 yaitu di sekolah meliputi jalur kurikuler,

ekstrakurikuler, dan kegiatan khusus. Sedangkan yang kedua adalah jalur di luar sekolah. Meliputi kelompok pemuda, sanggar kegiatan belajar, balai pengembangan kegitan belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat dan sebagainya. Untuk mengembangkan pendidikan KRR melalui jalur sekolah dan luar sekolah upaya yang telah dan akan dilakukan adalah pengembangan modul/bahan belajar, metode dan model pembelajaran, pengadaan alat bantu peraga pendidikan KRR, dan penyiapan ketenagaan baik tenaga pendidik dan tenaga pendidikan melalui TOT yang diselenggarakan secara bertahap. Materi PKRR meliputi pertumbuhan dan perkembangan remaja, perkembangan seksual remaja, gizi remaja, latihan fisik dan rekreasi, rokok, minuman keras dan narkoba, kebersihan organ reproduksi, perilaku seksual berisiko, pergaulan bebas, PMS dan HIV/AIDS, pelecehan seksual, membangun keluarga sejahtera, kehamilan dan persalinan, serta hak reproduksi remaja. Kerja sama dalam pelaksanaan PKRR yaitu pendidikan dilaksanakan disekolah oleh guru Bimbingan konseling, guru agama, guru biologi dan guru penjaskes bekerja sama dengan profesi, TOMA, TOGA, instansi lain dan LSM, Puskesmas, orangtua/BP3. Kebijakan yang dikembangkan yaitu bentuk pendekatan dalam menyampaikan pengetahuan, pemahaman dan perilaku positif tentang reproduksi sehat remaja adalah dengan memperkuat dan memberdayakan para tenaga pendidik dan pengelola pendidikan melalui jalur dan sistem pendidikan yang sudah ada. Sehingga pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) atau adolescent reproductive health (ARH) akan dilaksanakan melalui jalur sekolah dan luar sekolah. Pada dasarnya, tujuan pendidikan seksualitas atau pendidikan kesehatan reproduksi remaja (PKRR), adalah untuk membekali para remaja dalam menghadapi gejolak biologisnya agar: - Mereka tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah karena mengetahui risiko yang dapat mereka hadapi. - Seandainya mereka tetap melakukannya juga (tidak semua orang dapat dicegah agar tidak melakukannya), mereka dapat

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

194

-

mencegah risiko buruk yang dapat terjadi. Jika risiko tetap terjadi juga, mereka akan menghadapinya secara bertanggung jawab.

Peningkatan Pengetahuan di Luar Sekolah Pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah diajarkan berdasarkan kurikulum yang disusun dan dikembangkan secara sistematis, dan pengajaran disampaikan secara teratur dan berjenjang. Individu diharapkan menyerap seperangkat pengetahuan berdasarkan usia dan jenjang pendidikannya. Sebagian lagi proses belajar tersebut berlangsung dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi individu dengan keluarga, kelompok-kelompok sosial, peer group, dan sebagainya. Sehingga secara keseluruhan kedua proses tadi membentuk manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki pengetahuan, kemampuan, persepsi, nilai-nilai yang digunakannya untuk beradaptasi dalam kehidupannya. Secara ideal, pendidikan formal dalam sistem kemasyarakatan kita diharapkan berjalan dan berkembang seimbang dengan proses belajar di luar sekolah. Sehingga kedua-duanya membentuk dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam kenyataannya, proses pendidikan formal menghadapi masalah dalam konteks penyampaian, penyerapan, dan aktualisasinya dalam tindakan. Secara khusus, perubahan sosial dan perubahan kebudayaan yang diakibatkan oleh derasnya arus informasi melalui media massa, dan aneka ragam informasi lain, seringkali tidak mampu disaring sepenuhnya oleh perangkat institusi lokal maupun nasional kita, dan memberi dampak langsung terhadap kehidupan remaja. Proses belajar di luar bangku sekolah terjadi di dalam keluarga dan di luar lingkungan keluarga. Secara tradisional, proses belajar dalam masyarakat dimaksudkan sebagai proses penyampaian dan transfer pengetahuan dan nilai-nilai luhur yang terjadi secara harmonis sesuai dengan ukuran masyarakat yang bersangkutan. Melalui proses ini, pewarisan nilai-nilai budaya diasumsikan terjadi dari generasi yang lebih tua ke generasi yang lebih muda. Selain itu, unsur-unsur kebudayaan dari luar (asing) seyogyanya juga terjadi secara

selektif dan selaras, yakni unsur-unsur budaya yang dipandang baik, positif dan berguna oleh masyarakat yang bersangkutan akan diserap. Orang tua yang mewakili generasi yang lebih tua yang umumnya tidak menikmati pendidikan tinggi setinggi anakanak mereka. Terutama di desa-desa, orang tua rata-rata hanya berpendidikan rendah. Meskipun jenjang pendidikan bukan penyebab mutlak dari perbedaan pengetahuan, generasi muda sekarang ini memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengakses informasi ketimbang orang tua mereka. Orang tua di pedesaan yang bersikap ambivalen antara pengakuan dan kebanggaan akan anak tumpuan harapan yang dianggap “lebih maju” dan penggunaan kekuasaan sendiri menerapkan aturan moral yang menabukan persoalan seks. Upaya untuk melestarikan budaya lokal yang barangkali justru sudah mengalami perubahan pula, menjadi kurang fungsional. Dalam situasi ambivalen ini, pengetahuan dan perilaku remaja seolah-olah berkembang menjadi dimensi baru yang berada di luar pranatapranata keluarga dan agama. Desakan arus informasi tentang seks dan kontrasepsi terhadap remaja yang makin besar dan tak dapat dikendalikan berbarengan dengan melemahnya otoritas orang tua, muncullah peer group (teman sebaya) sebagai arena wacana yang memperkenalkan anak remaja dengan informasi baru, nilai baru dan perilaku baru, yang sering tidak atau kurang disetujui oleh generasi tua. Mengingat semakin pentingnya peer group sebagai penentu jenis pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi umumnya dan perilaku seks remaja khususnya, sehingga kajian dan pemberian pemahaman kepada kelompok ini perlu ditingkatkan. Kajian tentang hal ini penting dalam rangka memahami perubahan sosial khususnya proses homogenisasi yang terjadi di Indonesia. Meskipun remaja menggunakan bahasa, istilah dan ungkapan yang berbeda, pengetahuan dan perilaku seksual remaja merupakan dampak penyebaran informasi melalui berbagai media. Kehidupan Seksual yang Sehat Pendekatan kesehatan reproduksi adalah berdasarkan jenis kelamin dan kategori usia yaitu usia pranikah yaitu

195

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

remaja. Sebagian remaja telah siap bereproduksi yang biasanya ditandai dengan datangnya haid pada perempuan. Kesehatan reproduksi pada dasarnya merupakan unsur yang intrinsic dan penting dalam kesehatan umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Selain itu kesehatan reproduksi juga merupakan syarat yang esensial bagi kesehatan bayi dan anak, remaja, orang dewasa, dan bahkan orang yang berusia setelah masa reproduktif. Organisasi kesehatan dunia (Word Health Organization/WHO) menempatkan masalah kesehatan reproduksi dalam konteks kependudukan dan pembangunan. Berarti masalah-masalah kependudukan kini dipusatkan pada kesehatan dan kesejahteraan sosial individu dan keluarga. Pasal VII dokumenn kependudukan Kairo menyatakan bahwa kesehatan reproduksi meliputi kesejahteraan fisik, mental dan sosial seutuhnya, bukan hanya secara sempit berarti tidak ada penyakit atau kelemahan, yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsifungsi dan prosesnya. Jika diterjemahkan dalam kebijakan dan program, cakupannya sangat luas karena tidak hanya menyangkut masalah biomedis tetapi juga persoalan sosial budaya. Dari perspektif biomedis, kesehatan reproduksi mencakup 3 unsur pokok yaitu kemampuan bereproduksi, keberhasilan bereproduksi, dan keamanan bereproduksi. Aspek budaya yang terkait dengan masalah reproduksi adalah perilaku seksual, kepercayaan tradisional, religi, kelas sosial, status sosial dan ekonomi, kesehatan jiwa, berbagai jenis pelayanan persalinan, faktor gender dan sebagainya. (Affandi, 1995). Ditinjau dari pendekatan biomedis dan sosial budaya, salah satu aspek kesehatan reproduksi remaja adalah perilaku seksual remaja laki-laki dan perempuan. Hal ini dimulai dari pengetahuan remaja laki-laki dan perempuan tentang organ reproduksi dan fungsinya, perilaku seksual yang menyebabkan kehamilan, aborsi dan berbagai penyakit kelamin. Kehidupan seksual remaja yang sehat adalah: 1. Kehidupan seksual itu dapat dinikmati karena remaja sudah tahu aspek positif dan negatifnya, sehingga mereka melakukannya setelah benar-benar mempertimbangkannya secara matang.

Jika mereka melakukan, merekapun akan bertanggung jawab terhadap akibatakibat yang dapat terjadi. 2. Bebas dari kemungkinan terkena penyakit. Bukan hanya penyakit seksual saja, tetapi segala penyakit yang dapat mengenai organ reproduksinya. 3. Bebas dari ketakutan yang tidak perlu. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka mengetahui proses reproduksi secara benar dan dapat membedakan mana yang hanya kepercayaan tanpa dasar dan mana yang berdasarkan fakta ilmu pengetahuan. 4. Mereka memahami tata nilai sosial dan budaya mengenai seksualitas, sehingga mereka akan berperilaku seksual sesuai dengan tata nilai tersebut. Secara psikologis remaja harus mampu mengendalikan diri dan mengintegrasikan segala dorongan yang ada dalam dirinya, baik dorongan sosial maupun seksualnya. Upaya agar menjadi orang yang bermoral dan bertanggung jawab, yang harus diberikan adalah: - Pendidikan seksual yang benar dan bertanggung jawab. - Perhatian dan kasih sayang yang cukup dalam keluarga - Rangsangan seksual (psikis dan fisik) harus dihindari. - Bergaul dengan lawan jenis secara prositif dan sehat. - Menerima pendidikan agama dan moral sesuai kebutuhan remaja masa kini. - Melibatkan diri dalam kegiatan positif, baik fisik maupun mental. Pendidikan kesehatan yang dilaksanakan di lembaga formal maupun di luar sekolah akan menghasilkan meningkatkan pengetahuan pada remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya sehingga akan dapat menimbulkan perubahan perilaku. Perubahan pengetahuan ini menurut Soekidjo Notoatmodjo, Dr., 1993, dimulai dari daerah kognitif kemudian menimbulkan respon batin dan akhirnya rangsangan tersebut akan menimbulkan respon yang lebih jauh lagi yaitu tindakan atau perilaku. Perilaku kesehatan (health behaviour) adalah setiap tindakan yang diambil oleh seorang individu yang berpendapat bahwa dirinya sehat dengan

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

196

maksud untuk mencegah terjadinya penyakit atau mengenalnya pada stadium permulaan. PENUTUP Perubahan sosial adalah gejala yang wajar terjadi di manapun. Sepanjang sejarah masyarakat, perubahan dan kestabilan pada hampir seluruh kehidupan sosial merupakan dua kontras yang saling silih berganti. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh multifaktor. Pembangunan di bidang ekonomi serta meningkatnya industrialisasi juga akan disertai dengan meningkatnya kesempatan bagi remaja untuk hidup konsumtif, hedonistik atau kesempatan untuk tinggal di luar pengawasan orang tua. Kebijakan politik pemerintah di bidang kependudukan yang berhubungan dengan alat kontrasepsi. Keadaan ini dapat diikuti dengan meningkatnya aktifitas seksual sehingga dapat mengarahkan remaja kepada perilaku seks yang berisiko yang bermanifestasi kerugian moril dan materil pada remaja maupun masyarakat sekitar. Upaya penanggulangan dapat dilakukan oleh seluruh unsur dalam masyarakat tetapi upaya ini harus memberdayakan remaja sendiri untuk menghindari dan menangkal pengaruh sosial yang buruk. Peningkatan pengetahuan mereka baik dari dalam sekolah melalui Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKRR) maupun di luar sekolah melalui orang tua dan teman sebaya (peer group). Informasi yang diberikan diharapkan dapat berupa informasi yang benar sehingga remaja dapat menghindari perilaku seks yang berbahaya dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi mereka akhirnya. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI Dirjen P2M dan PLP, 1997, AIDS: Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan, Depkes, Jakarta.

Kantor Menteri pemberdayaan perempuan RI, UNFPA Dan BKKBN, 2001, Panduan Pelatihan Regional Pengarusutamaan Jender Di Bidang Kesehatan Reproduksi dan Kependudukan, Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan Program BKKBN, Jakarta. Kartono Mohamad, 1998, Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Ngatimin, MR, 1981, Mengenal Health Education & Behavioral Science, Bagian ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu kedokteran pencegahan FKUH, Ujung Pandang. Muhammad Fedyani S dan Irwan Mertua H, 1999, Seksualitas Remaja, Pustaka Sinar Harapan Jakarta. Panitia Nasional Kampanye AIDS Sedunia Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI, 2004, Dukung Perempuan Melawan HIV/AIDS, Pelita Mandiri, Jakarta. Sarlito Wirawan, DR, 1997, Psikologi Remaja, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta. Soekidjo Notoatmodjo, Prof, Dr., 1996, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta. __________________________, 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi Offset, Yogyakarta. Sudarsono, Drs, SH., 1990, Kenakalan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta. Supriadi, 1998, Perkembangan remaja,: Sebuah dilemma. Filia (Buletin kesehatan seksual- reproduksi) no.2 tahun I/April.Denpasar.LEKKI (Ford Foundation). Thowaf, 2004, Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia, Embrio: Buketin Kesehatan Reproduksi Berperspektif Gender, Edisi 19 September 2004.

197

Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perilaku Seks Remaja (189–197) Abdul Jalil Amri Arma

TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

UPAYA ERADIKASI POLIO DI INDONESIA
Oke Rina R.1 dan Kiking Ritarwan2
1

Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSUP H. Adam Malik 2 Departemen Ilmu Penyakit Saraf FK-USU/RSUP H. Adam Malik

ABSTRACT Poliomyelitis is an acute infectious disease involve motor neuron of the spinal cord and brain and results in an asymmetric flaccid paralysis of the voluntary muscles. Although poliomyelitis caused by wild virus has been eradicated from the western since 1994, its remains a problem in developing countries.With widespread immunization, poliomyelitis has become preventable, and recurrent major epidemics are no longer encountered. Wisdom background and eradicate poliomyelitis strategy in Indonesia is agreement of World Health Assembly 1988 specifying reaching of global eradicate polio goals in the year 2000. Keywords: Poliomyelitis, Asymmetric flaccid paralysis, Eradicate PENDAHULUAN Dalam sidang WHA ke-41 (World Health Assembly- sidang para menteri kesehatan dari negara-negara WHO) tahun 1988 dan Summit for Children tahun 1990 oleh Menteri Kesehatan sedunia telah disepakati melalui komitmen global Eradikasi Polio (ERAPO) pada tahun 2000. Indonesia sebagai anggota WHO, ikut menandatangani kesepakatan untuk mencapai eradikasi polio dimaksud di Indonesia.1-3 Strategi yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam rangka Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000 antara lain: Penambahan dosis ke-4 Imunisasi Polio rutin, Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan Surveilans Polio yang meliputi Surveilans Polio Liar (SPL) dan Surveilans Acute Flaccid Paralysis (SAFP).4 Berbagai manfaat akan diperoleh apabila eradikasi polio global berhasil dicapai, yang terutama antara lain: 1. Dunia terbebas dari penyakit Polio dan cacat/lumpuh/layu yang terjadi akibat penyakit tersebut. 2. Mengurangi pengeluaran biaya yang diperlukan oleh sistem kesehatan untuk menyelenggarakan imunisasi dan perawatan kasus-kasus Polio yang diperkirakan mencapai US S 1.5 milyar pertahun.5 Surveilans Polio bertujuan untuk memantau adanya transmisi virus polio liar disuatu wilayah, sehingga upaya pemberantasannya menjadi terfokus dan efisien. Pada akhirnya berdasarkan informasi yang didapat melalui kegiatan surveilans ini, Indonesia diharapkan akan mendapatkan sertifikasi bebas polio. Surveilans polio ini terdiri dari surveilans Polio Liar (SPL) dan Surveilans kasus SAFP/AFT (Acute Flaccide Paralysis). Sasaran surveilans adalah kelompok yang rentan terhadap poliomyelitis yakni anak berusia dibawah 15 tahun. Untuk meningkatkan sensitifitas dan surveilans polio, pengamatan dilakukan pada semua kelompok yang terjadi secara akut dan sifatnya layuh.5 Di Indonesia, kegiatan imunisasi rutin OPV (Oral Polio Vaksin) 4x telah dilaksanakan sejak tahun 1990. Pada tahun 1991, di Indonesia dengan populasi 181 juta diperkirakan 90% anak berusia satu tahun telah memperoleh tiga vaksin polio oral, namum kasus polio tetap dijumpai. Pada tahun 1995, 1996 dan 1997, Indonesia melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang diperkirakan mencakup 97-100% anak balita yang ada.5-7 Untuk mencapai sertifikat bebas polio di Indonesia ternyata tidak mudah, 17 Maret 2005 oleh seorang

198

dokter praktek swasta melaporkan satu kasus AFP atau lumpuh layuh ke Puskesmas Cidahu, Sukabumi. Oleh petugas Puskesmas tersebut mengambil specimen tinja penderita dan kemudian dikirim ke Laboratorium Biofarma, ternyata pada 21 April 2005 hasil dari laboratorium tersebut positif virus polio liar. Akhirnya pada 29 April 2005 oleh Tim Kajian Epidemiologi Lapangan Menteri Kesehatan RI, dilaksanakan Mopping up imunisasi polio di 3 provinsi yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Ternyata virus polio liar yang ditemukan di Sukabumi oleh kajian Laboratorium Global Specific Laboratory (GSL) Mumbai berdasarkan tes DNA sequencing, ditemukan strain yang sama dengan virus polio Sudan yang beredar di Arab Saudi pada saat musim haji.8 POLIOMYELITIS Poliomyelitis anterior akuta adalah penyakit dengan kelumpuhan ditandai dengan kerusakan motor neuron pada cornu anterior dari sumsum tulang belakang akibat infeksi virus polio. Virus polio ini termasuk golongan enterovirus. Enterovirus adalah golongan virus yang suka pada saluran pencernaan manusia dan sistem saraf, yang termasuk kedalam kelompok ini adalah virus polio, virus coxsackie dan virus echo.5-7 Virus polio ini termasuk golongan RNA, dalam famili Picornaviridae. Dari famili tersebut yang patogenik pada manusia adalah dalam 68 species, termasuk kedalamnya virus polio. Species virus polio ini terdiri dari 3 serotipe yakni serotipe I (Brunhilde), serotipe 2 (Lansing) dan serotipe 3 yakni (Leon).7 Penyakit ini meskipun dapat menyerang semua usia, namun sebagian besar (50-70%) akan menyerang anak usia di bawah tiga tahun. Adanya perbaikan sanitasi dan lingkungan pada akhir abad ke 19, menyebabkan paparan virus menjadi lebih lambat dan terjadi akumulasi anak rentan terhadap virus polio, sehingga polio penyakit yang semula endemik berubah menjadi epidemik dengan pola penuh letusan wabah.5

Di negara-negara industri penyakit polio sudah hampir dilupakan. Kasus polio pada saat ini umumnya hanya dijumpai pada negara-negara sedang berkembang, yang miskin dan padat penduduknya dan sistem pelayanan kesehatannya belum memadai.5 Gejala polio bervariasi mulai dari tidak tampak secara klinis sampai berupa Acute Flaccide Paralysis (AFP) yang nantinya menjadi kelumpuhan yang menetap (permanent). Penyakit ini biasanya menyerang manusia pada tungkai bawah dan bersifat asimetris. Berikut ini pada Tabel 1. dapat dilihat gejala klinis polio:7 Orang dewasa yang terkena polio paralitik pada masa kanak-kanak dapat menderita sindroma pasca polio setelah 30-40 tahun. Sindroma ini ditandai dengan nyeri otot, kelemahan/ kelumpuhan yang berulang kembali atau munculnya kelumpuhan yang baru.7 Faktor predisposisi virus polio tergantung pada status imunitas, neurovirulensi virus dan faktor host, manusia adalah salah satunya tuan rumah virus poliomyelitis.7,8 Penyebaran infeksi virus polio terjadi secara fecal-oral dan oral-oral (pernafasan). Transmisi perinatal bisa terjadi dari ibu kepada bayinya.7 Masa inkubasi pada polio yang abortif sekitar 3-6 hari. Kelumpuhan pada kasus polio yang paralitik terjadi setelah 7 sampai 21 hari, tetapi terkadang bias singkat hanya dalam waktu 4 hari.7,9 Masa yang paling menular adalah beberapa saat sebelum sakit dan sesudah munculnya manifestasi klinik. Pada saat virus dijumpai di tenggorokkan dan dieksresikan dalam konsentrasi yang tinggi melalui tinja. Virus bertahan di tenggorokkan selama lebih kurang satu minggu setelah sakit dan dieksresikan melalui tinja selama beberapa minggu bahkan beberapa bulan kemudian. Pasien berpotensi untuk menularkan virus selama ekskresi melalui tinja terus berlangsung.7,10

Tabel 1. Manifestasi klinis infeksi virus polio. 1. Inapperent asymptomatic infection --------------------------------------------------90-95% tidak menunjukkan gejala klinis. 2. Non spesifik demam,sakit tenggorok,nausea, muntah,mialgia,nyeri abdomen--4-8% 3. Aseptik meningitis dijumpai tanda-tanda rangsangan meningeal ----------------1-5% 4. Lumpuh layu (AFP) asimetris satu lengan atau satu kaki ---------------------- 0.1-2% 5. Poliomielitis paralitik (residual) --------------------------------------------------1/250 infeksi

199

Upaya Eradikasi Polio di Indonesia (198–203) Oke Rina R.. dan Kiking Ritarwan

DIAGNOSA BANDING AFP Berikut ini diagnosa banding dari Acute Flaccid Parálisis. 7,9,10
Tanda/ gejala Demam Poliomyelitis Demam tinggi Selalu timbul Pada onset kelumpuhan Akut, asimetris Terutama otot proksimal Sindroma Guillain Mielitis Barre Transversa Biasanya tdk diser- kadang demam tai demam Neuritis Traumatika demam

Kelumpuhan

Progresivitas 3-4 hari Kelumpuhan Paralisis residual Berat, simetris, Atrofi otot dan Deformitas Rasa Raba (-) Rasa nyeri otot sangat berat Refleks tendon berkurang/ hilang

Akut, simetris otot Akut, simetris Akut, simetris distal tungkai bawah biasanya menyerang satu anggota gerak 1-14 hari jam- 4 hari jam – 4 hari atrofi otot tjd simetris otot distal Hipoanestesia bervariasi hilang atrofi diplegia atrofi moderat stlh bbrp thn hanya me nyerang tungkai anesthesia hipotermia tidak ada didaerah gluteus menurun/ hilang hilang di – Tungkai/kaki Dpt timbul Hiperreflek + -

Gangguan kandung kemih -

transien

ERAPO Eradikasi polio (ERAPO) global diilhami oleh program kesehatan yang dinilai paling berhasil sepanjang zaman yakni program eradikasi cacar (small pox) global. Pada saat program tersebut dimulai pada tahun 1967, terdapat sebanyak 10-15 juta kasus cacar pertahun yang menyebabkan 2 juta kematian dan 100.000 kasus kebutaan.5 Selama periode 10 tahun semua negara di dunia bersatu memerangi penyakit yang mematikan itu. Akhirnya pada tahun 1977, dijumpai kasus cacar terakhir di Somalia dan sejak saat itu imunisasi terhadap cacar tidak lagi diperlukan.5,6,9 Pada tahun 1988, dalam sidangnya yang ke 41, WHA telah menetapkan program eradikasi polio global ( global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasikan penyakit polio pada tahun 2000 (ERAPO 2000). Target ini kemudian diformulasikan lagi pada pertemuan World Summit for Children yang berlangsung tanggal 29-30 September 1990 di New York, yakni dalam sasaran kesejahteraan anak.5,7

Terbukanya peluang untuk melaksanakan eradikasi polio dimungkinkan oleh karena a. Infeksi polio hanya berlangsung pada manusia, tidak ada animal reservoir (binatang pengidap polio) maupun pengidap kronis (chronic carrier). b. Sumber virus polio dari lingkungan yang dapat bertahan lama tidak ada; virus polio didaerah tropis diluar tubuh hanya bertahan sekitar 48 jam. c. Kekebalan berlangsung seumur hidup. d. Vaksin polio yang efektif telah berhasil dikembangkan, yakni vaksin polio inaktif pada tahun 1955 oleh Dr. Jonas Salk dan vaksin polio oral (life attenuated) tahun 1960 oleh Dr. Albert Sabin.7 Untuk mencapai eradikasi polio tersebut WHO menetapkan 4 strategi global untuk mengeradikasi polio pada tahun 2000, yakni: 1. Imunisasi rutin dengan cakupan > 80% 2. NID (National Immunization Days) identik dengan PIN 3. Surveilans AFP dan surveilans virus polio liar. 4. Mopping-up.6

Upaya Eradikasi Polio di Indonesia (198–203) Oke Rina R. dan Kiking Ritarwan

200

Berdasarkan data Global Annual reported polio cases antara tahun 1988 sampai dengan tahun 1997, diperoleh saat eradikasi polio global dimulai pada tahun 1988; diseluruh dunia dilaporkan terdapat sekitar 35.000 kasus polio. Pada tahun 1996 hanya dijumpai sebanyak 4.074 kasus yang artinya menurun 90% dibandingkan pada tahun 1988. Dalam tahun 1997 dilaporkan sebnayak 2.319 kasus, namun pelaporan masih belum lengkap sehingga angka terakhir kemungkinan lebih dari 3.500. WHO mengestimasi bahwa kasus yang dilaporkan hanyalah 10% dari kasus yang sebenarnya sehingga untuk tahun 1997 insidens diseluruh dunia sebenarnya adalah sekitar 35-40 ribu kasus.5 Eradikasi polio di bumi belahan barat telah tercapai pada tahun 1991. Analisa laboratorium tanggal 5 September 1991 terhadap Louis Tenorio Cortea, anak lelaki 2 tahun asal Pichanaqui di Peru Selatan, dipastikan kelumpuhannya karena virus tipe 1. Sejak kasus terakhir ini tidak pernah lagi tercatat kasus polio di bumi belahan barat.7,8 Polio telah menghilang dari Eropa Barat, Tengah, Afrika Utara, Selatan dan Timur, Jazirah Arab dan Asia Pasifik termasuk Australia.9 Di Cina dari 5000 kasus dalam tahun 1990 turun menjadi 3 kasus import tahun 1996 dan 0 kasus pada tahun 1997. Regio Pacific Barat hampir mendekati eradikasi polio dengan dilaporkannya kasus terakhir pada bulan Maret 1997 di Kampuchea.9 Di regio Eropa, virus polio liar yang berhasil diidentifikasikan hanya di Turki. Tiga kasus yang diidentifikasi secara klinis dilaporkan di Tajikistan. Reservoir utama polio pada saat ini hanya tinggal di wilayah Asia Selatan (Afganistan, Bangladesh, India dan Pakistan), Afrika Barat ( Nigeria) dan tengah (Congo).9 Sukses yang telah diperoleh sampai saat kini memperkuat keyakinan bahwa secara tekhnis seradikasi polio dimungkinkan. Tanpa mengabaiakan beberapa hambatan, target tahun 2000 sebagai target eradikasi polio global kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Namun ada satu hal yang perlu diwaspadai pada saat titik eradikasi tercapai. Setelah periode bebas kasus kelumpuhan lebih dari 3 tahun diperkirakan baru sekitar 95% (belum 100%) infeksi virus polio liar dapat

disingkirkan. Lima tahun tanpa kasus kelumpuhan pun kemungkinan masih ditemukan adanya penyebaran virus polio liar sebesar 0.1 – 1.0%. Oleh sebab itu upaya surveilans AFP dan virus polio liar mungkin masih diperlukan beberapa tahun lagi walaupun dunia telah dinyatakan bebas polio.7,9 ERADIKASI POLIO DI INDONESIA Latar belakang kebijaksanaan dan strategi ERAPO di Indonesia adalah kesepakatan WHA 1988 yang menetapkan dicapainya target eradikasi polio global pada tahun 2000. Untuk mencapai target tersebut diIndonesia telah ditetapkan langkah-langkah kegiatan berikut: 1. Imunisasi rutin dengan OPV sebanyak 4 kali 2. Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan 3. Surveilans AFP dan virus polio liar.5-7 Strategi eradikasi polio di Indonesia 5 dapat dilihat pada Gambar 1. Analisa SWOT Dalam upaya untuk mengeradikasi penyakit polio secara global, WHO telah membuat pentahapan dan kegiatan perioritasnya. Pentahapan dan kegiatan perioritas ini berorientasi pada suatu goal tertentu, sehingga suatu negara bisa melakukan upaya eradikasi polio yang direkomendasikan oleh WHO sesuai dengan tahapan dan prioritas dimana negara tersebut berada. Adapun analisa SWOT (Strength, weakness, oppurtinity, threat) dalam eradikasi polio di Indinesia adalah: - Analisa 1 tentang S: yang perlu mengetahui kompetensi yang menonjol dari upaya kesehatan polio. Adanya endemis polio di Indonesia menunjukkan adanya bukti-bukti virologis dan atau epidemiologis tentang transmisi virus polio liar di Indonesia; sehingga di Indonesia dilaksanakan perioritas: A. Melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional Polio (National Immunizatin Day) Gunanya: untuk menghentikan transmisi virus polio liar di Indonesia. B. Melaksanakan surveilans AFP yang didukung oleh pemeriksaan laboratorium C. Memperkuat program immunisasi rutin polio.

201

Upaya Eradikasi Polio di Indonesia (198–203) Oke Rina R.. dan Kiking Ritarwan

Gambar 1. Strategi Eradikasi Polio di Indonesia

-

Analisa 2 tentang W: perlunya kejelasan tentang tingkat kelemahan program polio. Dalam hal pelaksanaan PIN, terdapat kelemahan dalam hal pendistribusian vaksin polio di daerah-daerah terpencil, sehingga hasil yang diharapkan tidak mencapai target. Misalnya ada beberapa daerah di Nias, dimana untuk mencapai daerah-daerah yang berbukit di pegunungan membutuhkan waktu selama

2-3 hari sehingga efektivitas vaksin polio tidak maksimal walaupun menggunakan termos es. Selain itu juga pelaporan pelaksanaan PIN tahun 1997 masih belum lengkap, karena pada tahun 1987 dilaporkan sebanyak 2.319 kasus, namun pelaporan masih belum lengkap sehingga angka terakhir kemungkinan lebih dari 3.500.

Upaya Eradikasi Polio di Indonesia (198–203) Oke Rina R. dan Kiking Ritarwan

202

-

Analisa 3 tentang O:dengan adanya Surveilans AFP dan Surveilans virus polio liar dapat mencapai program eradikasi polio di Indonesia pada tahun 2000. Surveilans polio bertujuan untuk memantau adanya transmisi virus polio liar disuatu wilayah sehingga upaya pemberantasan menjadi terfokus dan efisien. Sasaran surveilans adalah kelompok yang rentan terhadap polio, yaitu anak berusia dibawah 15 tahun. Untuk meningkatkan sensitivitas surveilans polio, pengamatannya dilakukan pada semua kelumpuhan yang terjadi secara akut dan sifatnya layuh. Analisa 4 tentang T: Dengan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Sukabumi, menunjukkan masih lemahnya tingkatan sasaran surveilans polio di Indonesia. Untuk mencapai sertifikat bebas polio di Indonesia ternyata tidak mudah, 17 Maret 2005 oleh seorang dokter praktek swasta melaporkan satu kasus AFP atau lumpuh layuh ke Puskesmas Cidahu, Sukabumi. Oleh petugas Puskesmas tersebut mengambil specimen tinja penderita dan kemudian dikirim ke Laboratorium Biofarma, ternyata pada 21 April 2005 hasil dari laboratorium tersebut positif virus polio liar. Akhirnya pada 29 April 2005 oleh Tim Kajian Epidemiologi Lapangan Menteri Kesehatan RI, dilaksanakan Mopping up imunisasi polio di 3 provinsi yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Dilakukannya Mopping up di 3 provinsi tersebut untuk menghentikan transmisi virus polio di Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

timbul akibat kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, sanitasi yang jelek dan kondisi epidemiologi disuatu wilayah. 4. Mopping-up dilaksanakan pada Pasca PIN (daerah kantong yang diidentifikasi surveilans AFP) dan pasca bebas Polio ( daerah Virus Polio Liar impor). 5. Melaksanakan imunisasi dengan OPV di Indonesia sebanyak 4 kali. 6. Penyebaran infeksi virus polio terjadi secara fecal-oral dan oral-oral (pernafasan) DAFTAR PUSTAKA 1. GPV The Polio Eradication Initiative. Great efforts by China to eradicate polio. WHO Epidemiological Records; 50,1996, 71, 777-779. 2. GPV. The Polio Eradication Initiative. Reported Polio and AFP data for 19961997. 3. GPV. The Polio Eradication Initiative. The Global Eradication of Poliomyelitis. Update January 1997. 4. Brotowasisto. Kebijaksanaan dan strategi Erapo di Indonesia. Seminar sehari peran organisasi profesi dalam surveilans AFP menuju Indonesia bebas polio tahun 2000, Jakarta, Desember 1996. 5. Yuwono S. Program Eradikasi Polio Global. Dalam: Buku Rujukan Eradikasi Polio di Indonesia, 2002;hal 1-7. 6. Imari S. Pelaksanaan Eradikasi Polio Global di Indonesia. Dalam: Buku Rujukan Eradikasi Polio di Indonesia, 2002;hal 9-17. 7. Poerwadi T, Mudjiani. Pendekatan klinik Acute onset of Flaccid Paralysis. Dalam: Buku Rujukan Eradikasi Polio di Indonesia, 2002;hal 65-80. 8. Kronologis KLB Polio di Sukabumi. Dalam:Farmacia; vol IV. No 11, 2005,p.42. 9. M. Gourie-Devi. Poliomyelitis and anterior Horn Cell Disorders. In: Tropical Neurology.W.B. Saunders Company. 1996,p.95-121. 10. Modlin JF, Coffey DJ. Poliomyelitis, Polio Vaccines, and the post poliomyelitis Syndrome. In: Infection of the Central Nervous system.3rd ed.Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2004. p.95-111.

-

KESIMPULAN 1. Dengan adanya Kejadian Luar biasa (KLB = outbreak) Polio di Sukabumi, menimbulkan masalah issue virus polio liar yang dibawa oleh pekerja Indonesia di Luar Negeri terutama dari negaranegara Afrika. 2. Adanya kinerja surveilans AFP rendah dan tidak bekerja merata di seluruh wilayah Indonesia. 3. Perlunya mopping-up untuk memutuskan tali rantai virus liar di Indonesia yang

203

Upaya Eradikasi Polio di Indonesia (198–203) Oke Rina R.. dan Kiking Ritarwan

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada para pakar yang telah memberikan telaahnya pada konsep tulisan Jurnal Info Kesehatan Masyarakat oleh Jurnal Info Kesehatan Masyarakat dalam Volume XI. Berikut ini daftar nama pakar yang berpartisipasi: Prof. Dr. Rozaini Nasution, S.K.M., FKM USU, Medan Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, M.Sc., FKM UI, Jakarta Dr. dr. Chatarina Umbul Wahyuni, M.S., M.P.H., FKM UNAIR, Surabaya Prof. Dr. dr. Aznan Lelo, Ph.D., Sp.FK., FK USU, Medan Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, M.App., Sc., FP USU, Medan Prof. Dr. Drs. Arif Nasution, M.A., FISIP USU, Medan Prof. dr. Aman Nasution, M.P.H., FKM USU, Medan dr. Achsan Harahap, M.P.H., FKM USU, Medan Prof. dr. David H. Simanjuntak, FKM USU, Medan Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H., FKM USU, Medan Dr. Drs. Surya Utama, M.S., FKM USU, Medan Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si., FKM USU, Medan Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes., FKM USU, Medan

INDEKS PENULIS VOLUME XI
Aji, Budi, 158 Arma, Abdul Jalil Amri, 54, 89, 189 Ashar, Taufik, 138 Aulia, Destanul, 67, 89, 131 Ayu, Sri Fajar, 67, 89, 131 Barus, Nerseri, 38 Dewi, Rosmala, 1 Handayani, Rini Sasanti, 98 Hardinsyah, 172 Hasan, Wirsal, 44 Herman, Max Joseph, 98 Hiswanil, 75 Jalal, Fasli, 172 Kalsum, 33 Lim, Hadyanto, 19 Lubis, Rahayu, 79 Lubis, Zulhaida, 172 Mahyuni, Eka Lestari, 105 Marpaung, Blondina, 19 Mokui, Fitrilailah, 115 Muhilal, 172 Naria, Evi, 24 Nasoetion, Amini, 1 Nasution, Siti Khadijah, 149 R., Oke Rina, 198 Rasmaliah, 85 Ritarwan, Kiking, 198 Riyadi, Hadi, 1 Riyadina, Woro, 181 S., Indra Chahaya, 24 Santosa, Heru, 166 Saragih, Bernatal, 1 Sarumpaet, Sori Muda, 58, 123 Siagian, Albiner, 94 Sianturi, Tumiar, 54 Sinaga, Jaminsen, 19 Sirait, Bilter A., 54 Siregar, Yahwardiah, 19 Syarief, Hidayat, 1, 172 Syarifah, 123 Tarigan, Richard, 58 Thalal, M., 75 Wahyuningsih, Eri, 158 Zaluchu, Fotarisman, 11, 123 Zein, Umar, 19

INDEKS SUBYEK VOLUME XI
Accident, 181 Anemia, 11 Anthropometry, 105 ARI, 38 Ascariais lumbricoides, 85 Ascariassis, 85 Assessment guidelines, 98 Asymmetric flaccid paralysis, 198 Broom makers, 33 Cell proliferation, 94 Cholinesterase activities, 24 Comfort, 33 Consumer complaint, 123 Consumer satisfaction, 123 Crowded, 44 Customer satisfaction, 149 Degenerative diseases, 94 Disposal site area, 138 Drug financing, 98 Eradicate, 198 Ergonomic, 105 Family, 19 Fatigue, 105 Financial impact, 19 Fogging official, 24 Health care, 89 Health care financing model, 67 Health development, 158 Health expenditure, 67 Health facility, 98 Health risk assessment, 138 Health service, 67, 75, 123 Hematocrit, 1 Hemoglobin, 172 HIV/AIDS, 115 HIV-TB, 79 Human resource management, 123 Improved living conditions, 44 Industry, 181 Infant, 1 Injury, 181 Kartesius diagram, 149 Knowledge, 115 Knowledge about health reproduction, 189 Ko-infeksi, 79 Law, 75 Leuser Ecosystem Area, 58 Manganese, 138 Manpower forecasting, 123 Morbidity, 1 Multi micronutrients, 1 N leaf, 54 Nutritional status, 1 Occupational, 181 Osteogenesis imperfecta, 19 Performance measurement, 149 Poliomyelitis, 198 Porter’s competitive forces model, 89 Pregnancy, 1 Pregnancy women, 11 Preschool children, 172 Prevalence, 38 Productivity, 33 Protein SDS PAGE, 54 Public health center, 166 Risk Factor of the Incidence of Malaria, 58 Risk quetient, 138 Service quality, 149 Sex attitude, 115 Sex behaviour, 189 Social change, 189 Socio-psychology aspect, 11 Specific morbidity rate, 38 Strategic information system, 89 Sugar content, 54 Suplement, 172 Service quality, 166 Teenage, 189 Transmited helminth, 85 Unhealthy living conditions, 44 Universal coverage, 158 Vitamin B12, 172 Vitamin D, 94 Work facilities, 105 Work posture, 105 Work position, 33 Worker, 105, 181

DAFTAR ISI VOLUME XI
Nomor 1
Pengaruh Pemberian Pangan Fortifikasi Zat Multi Gizi Mikro pada Ibu Hamil terhadap Status Gizi dan Morbiditas Bayi dari Usia 0–6 Bulan. Bernatal Saragih, Hidayat Syarief, Hadi Riyadi, Amini Nasoetion, dan Rosmala Dewi ............................................ Faktor Sosio-psikologi Masyarakat yang Berhubungan dengan Anemia Ibu Hamil di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara. Fotarisman Zaluchu.................................................... The Impact of Three Siblings of Children with Severe Osteogenesis Imperfecta on Financial Burden for Inpatient Care in A Hospital. Hadyanto Lim, Umar Zein, Yahwardiah Siregar, Blondina Marpaung, dan Jaminsen Sinaga ................................... Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Aktivitas Cholinesterase Darah Petugas Penyemprot Pestisida Jenis Malathion di Kota Medan. Indra Chahaya S. dan Evi Naria ............................................................................................................................. Kenyamanan dan Produktivitas Pembuat Sapu Ijuk Ditinjau dari Aspek Ergonomis di Desa Medan Sinembah, Tanjung Morawa. Kalsum ....................................................... Prevalensi dan Pola Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Tiga Kelurahan Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, 2005. Nerseri Barus.......................................... Slum Area on Deli River Bank. Wirsal Hasan........................................................................ Kadar Gula dan Ukuran Protein SDS Page Durian (Durio zibethinus) sebagai Komoditas Unggulan Pakpak Bharat untuk Mendukung Pembangunan Agropolitan. Tumiar Sianturi, Abdul Jalil Amri Arma, dan Bilter A. Sirait........................................................ Faktor Risiko Kejadian Malaria di Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara. Sori Muda Sarumpaet dan Richard Tarigan ............................................... Suitable Health Care Financing Model for Malaysia. Destanul Aulia dan Sri Fajar Ayu ....... Aspek Hukum dalam Pelayanan Kesehatan. M. Thalal dan Hiswanil ................................... Ko-Infeksi HIV/Aids dan TB. Rahayu Lubis ............................................................................ Askariasis sebagai Penyakit Cacing yang Perlu Diingat Kembali. Rasmaliah ...................... Strategic Information System in Health Care Industry (Case Study Mitra Keluarga Hospital). Destanul Aulia, Abdul Jalil Amri Arma, dan Sri Fajar Ayu............................... Peranan Vitamin D pada Pencegahan Penyakit Degeneratif: Perspektif Baru. Albiner Siagian ........................................................................................................................... Nomor 2

Juni 2007

1 –10 11 –18 19 –23 24 – 32 33 – 37 38 – 43 44 – 53 54 – 57 58 – 66 67 – 74 75 – 78 79 – 84 85 – 88 89 – 93 94 – 97

Desember 2007 98 – 104 105 – 114 115 – 122 123 – 130 131 – 137 138 – 148 149 – 157

Gambaran Indikator Evaluasi Pengelolaan dan Pembiayaan Obat di 20 Puskesmas Sumatera Barat. Max Joseph Herman dan Rini Sasanti Handayani................................ Evaluasi Fasilitas Kerja dan Sikap Kerja pada Bagian Pengupasan (Peeling) Ditinjau dari Faktor Ergonomi di PT Keluarga Mitratani Sejahtera Binjai Tahun 2004. Eka Lestari Mahyuni ......................................................................................................................... Pengetahuan dan Perilaku Seks Wanita (Studi Pendahuluan untuk Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran HIV/AIDS di Kota Kendari). Fitrilailah Mokui ................. Studi Komparatif Keluhan Pasien di Rumah Sakit dengan Pasien di Puskesmas (Studi Kasus di 7 Kabupaten/ Kota, di Provinsi Sumatera Utara). Fotarisman Zaluchu, Sori Muda Sarumpaet, dan Syarifah ...................................................................................... Health Manpower Forecasting in Malaysia. Destanul Aulia dan Sri Fajar Ayu ..................... Analisis Risiko Pajanan Mangan Dalam Air Melalui Intake Oral terhadap Kesehatan Masyarakat di Sekitar TPA Rawakucing Kecamatan Neglasari Kota Tangerang Provinsi Banten Tahun 2007. Taufik Ashar ................................................................... Gambaran Kepuasan Pasien Berdasarkan Metode Servqual dan Diagram Kartesius di Rumah Sakit Bakti Yudha Kota Depok. Siti Khadijah Nasution.....................................

Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Menuju Kepesertaan Semesta (Universal Coverage) di Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah. Budi Aji dam Eri Wahyuningsih........................................................................ Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Binjai Kota. Heru Santosa ................................................................................................................. Pengaruh Pemberian Suplemen Vitamin B12 terhadap Serum Vitamin B12 dan Hemoglobin Anak Prasekolah. Zulhaida Lubis, Hardinsyah, Hidayat Syarief, Fasli Jalal, dan Muhilal .................................................................................................................... Kecelakaan Kerja dan Cedera yang Dialami Oleh Pekerja Industri di Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta. Woro Riyadina ............................................................................ Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap Perilaku Seks Remaja dan Pengetahuan Kespro sebagai Alternatif Penangkalnya. Abdul Jalil Amri Arma............................................... Upaya Eradikasi Polio di Indonesia. Oke Rina R. dan Kiking Ritarwan ................................

158 – 165 166 – 171 172 – 180 181 – 188 189 – 197 198 – 203

Info

Kesehatan Masyarakat
The Journal of Public Health

INFORMASI BERLANGGANAN
Biaya Berlangganan: Termasuk Biaya Pengiriman (dengan pos udara) • • Pulau Sumatera Rp 60.000 (Enam Puluh Ribu Rupiah)/tahun Luar Pulau Sumatera Rp 85.000 (Delapan Puluh Lima Ribu Rupiah)/tahun

LEMBAR PEMESANAN LANGGANAN Nama : _________________________________________________

Alamat : _________________________________________________ Kota : _________________________ Kode Pos _______________

Telepon : _____________ Fax. ___________ e-mail ______________ Instansi : _________________________________________________ _________________________________________________ Pemesanan Tahun Terbitan Pembayaran : _______________________________ Tunai Transfer

Transfer melalui Rekening Bank Mandiri Cabang USU Medan a.n. Jumirah, Dra. No. Rekening: 106-00-9202303-8

Informasi dapat diperoleh pada:

REDAKSI Info Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jl. Universitas No. 21, Kampus USU, Medan, 20155 Telp. 061-8213221. Fax. 061-8213221 E-Mail: infokesmas_fkmusu@yahoo.com

INSTRUCTIONS FOR AUTHOR 1. Info Kesehatan Masyarakat (The Journal of Public Health) is published semester by the School Study of Public Health, University of North Sumatra and intended for the publication of original papers, literature studies, case studies and research report on a specific theme. Should have never been published in other journals and be prepared in the following manner. a. b. Manuscripts should be typed by using MS-Word. Manuscripts should be submitted with abstract not more than 250 words together with possible keywords for retrieval. Manuscripts should be received by editorial staff in form of hardcopy and softcopy. Manuscripts should be typed using Times New Roman font (size 12) in double-spacing on A4 (21 x 29.7 cm) paper and not more than 15 pages, specially for case studies not more than 15 pages. Original paper and case studies are reporting results in field of public health or any branch of its. The manuscript should follow the order: Title, Name of authors, Abstract, Introduction (without sub topic which consists of backgrounds, problem formulation, objectives, scientific contribution), Method, Results and Discussion, conclusions and suggestions and References. Abbreviations and scientific unit must conform to the international system. Literature studies consist of article review in field of public health based on recent references. The manuscript should follow the order: Title, Name of authors, Abstract, Introduction (without sub topic), Discussion (with relevant sub title) and Concluding remarks (or Conclusion and Suggestions). Title should be typed in capital letters, name of authors and their affiliations together with current addresses. Tabel-title must be typed above the tabel and figure-title must be typed below the figure. •

i.

References should be name of authors refrence and years according to Harvard system.

Examples of references: • Journal article Each reference should be written in the following order: names of authors, year of publication, title of article, name of journal, volume number and inclusive pagination. Asfahl, C. R. 1996. "No effect level of sub acute carbon monoxide inhalation on mouse lung." Journal of Occupational Health. 37: 1-4. Monograph/Book/Dissertation Each monograph/book should be followed the order as: name of authors or editors [ed(s)], year of publication, title of book, place of publication, name of publisher, page (s) quoted. Rosenberg, J. and A. Cairns. 1990. "Effects of mediation of biological levels of industrial chemical." In: Fiserova Bergerova. Biological monitoring of workplace. Michigan: NIOSH, 170-184. Yasui, H. and H. Homa. 1981. Modern handbook of ergonomics. Philadelphia: W. B. Saunders, 134-6. Cherry, A. 1990. Phtalic anhydride; Induced occupational asthma. Pittsburgh: University of Pittsburgh,: 210-5. Diss. • Article without author "Health effects of poly unsaturated fatty acid" (editorial). 1996. Annual Nutrition Metabolism. 28: 256-8. • Articles from Internet Yamano, Y. 10 Feb. 2002. “A simple determination method bromide ion in plasma of methyl bromide workers." <http://www.joh.med.uoehu.ac.jp/yamano. html>. • Proceeding from scientific meeting Obesso, J. A. 1989. "Methyl bromide intoxication." Proceeding of the First Fumigation Technology. Tokyo: International Society for Environmental Chemistry, 26-98 • In printing article Hine, C. H. "Methyl bromide poisoning." Science. In pres

2.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->