Anda di halaman 1dari 39

Sumber: http://www.darussalaf.or.

id

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 1


MENGENAL ABU SANGKAN DAN KEILMUANNYA
Sabtu, 24-Januari-2009, Penulis: Al-Ustadz Abu Umamah Abdurrohim bin Abdulqohhar al-Atsary

Abu Sangkan lahir pada tanggal 8 Mei 1965 di desa Alasbuluh Selat Bali Banyuwangi Jawa
Timur, nama anak – anaknya adalah Essenza Quranique, Sangkan Paraning Wisesa, dan
Gibraltar Wahyamaya. Bapaknya meninggal ketika Abu Sangkan usia 15 hari dari kalimat
terakhir yang diucapkan bapaknya ketika akan meninggal adalah ya Quddus….., ya Quddus…..
kata Abu Sangkan “ Kata – kata ini sangat diidam–idamkan oleh setiap mukmin pada akhir
kalamnya”. Padahal kata–kata ya Quddus…. Ya Quddus…. Ketika akan meninggal bukan tanda
orang yang mati khusnul khotimah dan tidak benar jika setiap mukmin mengidam–idamkan
kalimat ini, yang diidam–idamkan mukminin adalah kalimat tauhid yaitu Laailaaha illalloh
karena Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

”Barangsiapa yang ucapan terakhirnya Laa ilaaha illalloh maka dia masuk surga”.(HR. Hakim
dan lainnya dengan sanad hasan, hadist dari Mu’adz)

Hadist ini menjelaskan ciri orang yang matinya husnul khotimah, karena itu Rosululloh
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan menuntun orang yang mau meninggal dunia agar
mengucapkan Laa ilaaha illalloh yang disebut talqin sebagaimana sabdanya :

”Bimbinglah orang yang akan meninggal diantara kalian dengan Laa ilaaha illalloh.” (HR.
Muslim)
Berdasarkan hadist shohih ini kita tidak menyaksikan bahwa bapaknya Abu Sangkan
meninggalnya dengan tanda – tanda husnul khotimah.

Sejak awal Abu Sangkan sudah tertarik dengan ilmu hakikat ma’rifat, inilah yang mendorong
dia untuk belajar dan memperdalam ilmu Tasawuf dan ilmu Filsafat, karena memang hanya di
sanalah dipelajarinya ilmu hakikat dan ma’rifat.

Maka mulailah Abu Sangkan melanglang berguru mencari ilmu hakikat ma’rifat. Tercatat di
antara guru tasawuf yang paling dia kagumi adalah Bapak Haji Selamet Oetomo, dia juga
belajar di pesantren al-Ihya’ di Bogor, di pesantren al-Ghozali Bogor pimpinan KH. Abdulloh
bin Nuh, dan di pesantren al-Baqiyatush Sholihat Bekasi pimpinan KH. Yusuf Kamil dan ilmu
filsafatnya belajar di IAIN Syarif Hidayatulloh Jakarta.
Dan dari jerih payahnya itu telah mengantarkan Abu Sangkan kepada apa yang dia cita-citakan

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 2


yaitu ingin sampai kepada hakikat ma’rifat – dan Abu Sangkan merasa telah sampai kepada
hakikat ma’rifat. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dan terang di dalam buku – buku
karyanya, karena tulisan merupakan tuangan hati seseorang.

Apa Ilmu Hakikat Ma’rifat itu?

Ilmu hakikat ma’rifat adalah ilmu yang mempelajari cara memfanakan diri yaitu cara-cara
menyatu secara mutlak dan meniadakan bilangan dan pecahan sehingga tidak di bedakan lagi
antara hamba dan Tuhan bahkan semua adalah satu yaitu Tuhan adalah hamba dan hamba
adalah Tuhan, tidak dibedakan lagi antara Kholiq (Pencipta) dengan makhluk, sedangkan
perintah dan larangan syar’i hanya untuk orang-orang yang masih terhijab yaitu orang yang
belum mencapai hakekat kefanaan (hakekat ma’rifat).

Bagi orang hakekat ma’rifat perintah dan larangan adalah sesuatu yang tidak dibedakan
sehingga bagi mereka tidak ada lagi ketaatan dan kemaksiatan karena sudah tidak ada lagi
siapa yang harus taat dan siapa yang harus ditaati, bahkan seluruh isi al-Qur’an adalah
kesyirikan karena masih membedakan antara perintah dan larangan, antara ketaatan dan
maksiat, antara yang baik dan yang buruk.

Inilah arti tauhid dan hakekat ma’rifat menurut mereka, sehingga mereka tidak membedakan
lagi antara wali Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan musuh Alloh Subhanahu wa Ta’ala , antara
orang yang dicintai Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan orang yang dimurkai Alloh Subhanahu wa
Ta’ala, antara ma’ruf dan munkar, antara muttaqin dan orang durhaka, antara orang yang taat
dengan ahli maksiat.

Apabila seseorang memiliki keyakinan yang demikian maka terlepas Islam dari lehernya dan
dia telah kafir dengan kekafiran yang nyata walaupun orangnya mengaku telah mencapai
hakekat ma’rifat atau mengaku sebagai wali Alloh Subhanahu wa Ta’ala maka mereka adalah
wali syetan.

Padahal sebenarnya mereka telah menyatu dengan iblis dan tentaranya, mereka telah menyatu
dengan setiap kekafiran, kesyirikan dan kedurhakaan. (Madarij : I/130-134).

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 3


Dimana Dipelajari Ilmu Hakekat Ma’rifat?

Ilmu hakekat ma’rifat adanya hanya pada tasawuf dan filsafat atau ajaran kebatinan
(batiniyah). Ilmu hakikat ma’rifat tidak ada pada kitab-kitab ahlussunnah wal jama’ah
semacam kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Kitab Sunan at-Tirmidzi, Abu Dawud, Annasa’I,
Ibnu Majah, dan seluruh ulama’ ahlussunnah wal jama’ah semacam al-Imam Abu Hanifah, al-
Imam Malik bin Anas, al-Imam Asy-Syafi’I, al-Imam Auza’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-
Imam an-Nawawi semuanya tidak pernah mengajarkan ilmu hakekat ma’rifat sebagai mana
difahami kelompok sufi.

Ilmu hakekat ma’rifat hanya bisa didapatkan di dalam kitab-kitabnya tokoh-tokoh sufi seperti
al-Futuhat al-Fushush, Tarjamul Asywaq, Unaqo’, Maghrib, Mawaqiun Nujum semuanya karya
Ibnu Arobi, kitab Insanul Kamil karya al-Jaili, Taiyah karya Ibnul Faridl, kitab at-Thibaqot, al-
Jawahir, al-Kibrit, al Ahmar karya Asy Sya’roni, kitab al-Ibriz karya ad Dibagh, kitab al-
Jawahim dan ar-rimah karya at-Tijari, kitab Roudlotulqulum karya Hasan Ridwan. Kalau
pembaca membaca kitab – kitab tasawuf tersebut kemudian membaca buku – buku karya Abu
Sangkan maka akan mendapati kesamaan dan kesambungan benang merahnya.

Mengapa Hanya Pada Ajaran Sufi, Filsafat dan Batiniyah Saja Adanya Ilmu Hakekat Ma’rifat?
Karena hanya kelompok sufi yang telah mengajarkan dan membagi muslimin menjadi dua
golongan yaitu :
1. Ahli syari’at.
Menurut istilah kelompok sufi, kelompok batiniyah(1), atau kebatinan, ahli syari’at adalah
penganut zhohir atau kulit, atau penganut kertas dan mereka katakan sebagai agamanya
(syari’atnya) orang awam.
2. Ahli hakekat ma’rifat.
Ilmu hakekat ma’rifat menurut orang tasawuf adalah ilmu yang berasal dari perasaan,
kecintaan, dan hawa nafsu tanpa harus mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah, sedangkan ilmu
hakekat menurut islam adalah ilmu yang berasal dari al-Kitab dan as-Sunnah dengan
pemahaman as-Salafush shohih.

Ahli hakekat ma’rifat mengaku menganut batin, penganut daya rasa, orang khusus, karena

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 4


sudah mengerti batinnya atau intinya al-Quran dan al-Hadist yang hanya diketahui orang –
orang sufi saja dan tidak diketahui oleh orang syari’at.

Ibarat buah, orang syari’at adalah orang yang masih di kulit dan orang hakekat ma’rifat adalah
orang yang sudah mencapai isi/inti yang sudah lepas dari kulit serta tidak butuh lagi dengan
syari’at, orang – orang syari’at adalah orang – orang yang masih terikat oleh hukum – hukum
syari’at, masih terikat hukum halal harom, perintah dan larangan, dan masih harus sholat,
puasa, zakat, dan haji dan seterusnya. Sedangkan ahli hakekat ma’rifat sudah bebas dari semua
itu.(2)

Kemudian mereka, tokoh – tokoh sufi terdahulu membuat thoriqoh sendiri untuk mencapai
hakekat ma’rifat yaitu acara riyadloh, tujuan tertinggi dari riyadloh ini sama dengan latihan
sholat khusyu’ buatan Abu Sangkan yaitu menyatunya hamba dengan Alloh Subhanahu wa
Ta’ala atau wihdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Setelah mereka mengadakan
riyadloh, mereka berkata:

“sekarang kita tidak usah pedulikan perbuatan kita, adapun perintah dan larangan itu hanya
untuk orang awam yang masih terkena beban (taklif)”.

Terhadap perkataan tokoh sufi ini telah berkata Syaikhul Islam bin Taimiyah Rahimahullah :

“Tidak diragukan lagi dikalangan ahli Ilmu dan iman bahwa ucapan ini adalah puncak
kekufuran, melampaui kekufuran yahudi dan nashoro mengingkari sebagian dan mengimani
sebagian dan tetap menyakini bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala menetapkan perintah dan
larangan bagi mereka”

Beliau juga berkata:

“Barang siapa yang berkeyakinan bisa keluar dari perintah dan larangan syari’at dan tidak
berlaku padanya hukum harom maka ia adalah orang yang paling kufur di muka bumi dan
tergolong jenis Fir’aun”.

Padahal pembagian ini adalah muhdats, dusta dan kebohongan merupakan kebatilan yang
besar karena tidak ada dalil yang menunjukan adanya pembagian muslimin menjadi dua

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 5


golongan tersebut.
Ilmu hakekat ma’rifat muhdats inilah yang menarik hatinya Abu Sangkan dan dia sudah
mendapatnya sehingga dengan ini kita bisa mengatakan bahwa Abu Sangkan adalah seorang
tokoh sufi, ahli batin, ahli mantiq, ahli kalam dan tokoh filsafat.

Setelah faham-faham tasawuf dan filsafat telah masuk ke dalam hati Abu Sangkan maka dia
mulai mengeluarkan faham-faham tersebut dengan segala media yang bisa dia lakukan,
diantaranya:

1. Menyusun buku-buku yaitu Alloh Menyambut sholatku, Pelatihan Sholat Khusyu’, dan
Berguru Kepada Alloh.
2. Mencetak dan menyebarkan DVD-DVD pelatihan sholat khusyu’.
3. Tampil di Metro TV menjelaskan Paradigma dan teori sholat khusyu’ hasil temuannya.
4. Mencetak kader-kader pelatih sholat khusyu’ untuk disebar di penjuru yang terjangkau.

Sebenarnya pelatihan sholat khusyu’ yang dibuat Abu Sangkan ini hanya alat atau wasilah
menyampaikan ajaran tasawuf dan filsafat.

Bagaimana Kedudukan Ahli Kalam, Tokoh Sufi Di Dalam Islam?


Mereka itu seperti yang dikatakan oleh asy-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

“Mereka itu dari jenis dukun, tukang sihir yang telah turun kepada mereka syetan, sebagaimana
firmanNya:

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syetan-syetan itu turun? Mereka turun
kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa”. (QS.asy-syu’aro’: 221-222) (Majmu’,11/98)

“Sesungguhnya syetan itu membisikkan kepada kawan-kawannya”. (QS. Al-anam:121)

Adapun asy-Syaikhul Imam Rahimahullah mengatakan:

”Mereka itu sama dengan ahli nujum,tukang tenung, ahli sihir dan dukun” (Irsyadunnazhir ila
ma’rifati ‘alamatissahir, hal:19)

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 6


Jadi ahli filsafat, ahli tasawuf, ahli mantiq, dan ahli kalam itu kedudukannya seperti dukun yang
senantiasa menerima wahyu dari syetan hasil curian dari kabar-kabar langit dan setiap satu
kebenaran kabar dari langit itu disertai seratus kedustaan, sebagaimana sabda Rosululloh
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Sesungguhnya Malaikat turun ke-awan kemudian menyebutkan perkara yang di putuskan


(oleh Alloh) di langit maka syetan–syetan mencuri berita pendengaran kemudian diwahyukan
kepada para dukun yang disertai dengan seratus kedustaan dari diri mereka (syetan-syetan
itu)”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Artinya apa-apa yang telah disampaikan oleh para tokoh sufi terdahulu sampai saat ini seperti
Abu Sangkan cs hanyalah wahyu-wahyu syetan atau istilah lainnya adalah khayalan-khayalan
syaithoniyah yang kalau dia mengucapkan satu kebenaran telah disertai seratus kedustaan.

Sedangkan apabila dia tidak mendapatkan wahyu dari syetan maka dia adalah tergolong dajjal
dan tergolong pendusta sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikhul Imam dalam kitab beliau
yang berjudul Irsyadunnazhir ila ma’rifati ‘alamatissahir, hal: 19:

“Jika mereka (tukang tenung, ahli nujum, tukang sihir, dan dukun) tidak mendapat wahyu dari
syetan maka mereka adalah jenis dajjal, pendusta untuk menipu manusia untuk mendapatkan
keuntungan dunia”.

Apa Hukum Mendatangi dukun?

Barangsiapa mendatangi tukang tenung atau dukun dan bertanya-tanya tentang sesuatu maka
sholatnya tidak diterima selama 40 hari dan barangsiapa yang membenarkan ucapan dukun
maka dia telah kufur kepada apa yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa mendatangi tukang tenung kemudian bertanya sesuatu maka sholatnya tidak
diterima selama 40 malam”. (HR. Muslim)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 7


“Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian membenarkan apa yang diucapkan sungguh
di telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”.
(HR. yang empat)

Tokoh sufi filsafat itu adalah tukang sihir yaitu ketika seseorang memiliki kemampuan
menjelaskan, kefasihan berbicara dan retorika yang dengan kemampuannya itu dia gunakan
untuk melipstik kebatilan, kesesatan dan kekufuran sehingga nampak seperti kebenaran oleh
pembaca atau pendengar maka orang yang demikian itu disebut tukang sihir, Rosululloh
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya sebagian dari penjelasan itu adalah sihir”. (HR. Bukhori)

Sungguh sifat ini ada pada Abu Sangkan, baik ketika dia berbicara lewat media electronic
seperti ketika berbicara lewat Metro TV atau ketika berbicara lewat buku-bukunya sehingga
menjadi best seller sebagai bukti banyaknya orang yang tersihir oleh Abu Sangkan, padahal
dalam setiap satu kebenaran telah disertai seratus kedustaan yang tidak akan memberikan
faidah kecuali kerusakan pada akal, fitroh, dan hati pendengar atau pembaca buku-buku
karyanya.

Kaum mukmin tidak boleh mendengarkan ucapan tukang sihir sebagaimana sabda Rosululloh
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Tidak masuk surga peminum khomer dan yang mempercayai tukang sihir…”. (HR. Ibnu
Hibban)

Jadi Abu Sangkan itu sama dengan ahli nujum, tukang tenung, ahli sihir dan dukun bukan
orang yang mengerti agama yang benar, bukan mengajar agama yang benar apalagi seorang
ustadz atau ulama’.

Adapun muslimin yang telah mengerti thoriqohnya Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dan para shohabat – yang disebut as-Salafus-sholih – mereka mengamalkan Islam dan
menda’wahkan Islam sesuai dengan as-Salafussholih mereka itulah yang disebut Ulama’.
Mereka (para Ulama’)lah panutan dan ikutan kaum muslimin di dalam memahami dan
mengamalkan Islam, merekalah pewaris nabi, dan mereka itulah orang-orang yang takut

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 8


kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan merekalah pembawa bendera kebenaran sampai
menjelang kiamat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (QS.
Fathir: 28)

Apabila kita tidak mengerti masalah agama, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk
bertanya kepada Ulama’ bukan kepada tokoh sufi atau ahli filsafat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:

“Maka bertanyalah kepada para ulama’ jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An-Nahl: 43)

telah berkata al-Imam As-Syafi’i Rahimahullah :

“Seluruh ‘Ilmu selain Al-Qur’an adalah sesuatu yang menyibukkan kecuali al-Hadits dan fikih
dan tafaqquh fiddin. ‘Ilmu adalah ‘ilmu hadits (ada perkataan hadatsana) dan dari selain
daripadanya adalah bisikan-bisikan syetan”.

Beliau juga berkata:

“Jika datang sebuah perkara yang rumit jangan mengajak musyawaroh kecuali orang yang
terpercaya dan ulama’ tentang al-Kitab dan as-Sunnah, ucapan para shohabat dan pendapat
para Ulama (1) “.

Telah berkata al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah Rahimahullah:

‘Ilmu adalah berkata Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan berkata Rosul-Nya, dan perkataan para
Shohabat yang tiada menyelisihi akal sehat”.

Dari penjelasan di atas bisa dikatakan bahwa orang yang dikatakan ulama’ adalah orang yang
mengerti ulama’ adalah orang yang mengerti Al-Qur’an dan as-Sunnah dan perkataan para
shohabat dan mengamalkannya serta menimbulkan rasa takut kepada Alloh Subhanahu wa
Ta’ala.

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 9


Mereka itulah rujukan kaum Muslimin yaitu para ulama’, mereka itulah ahlinya dalam masalah
agama dan mereka bukan tokoh sufi, ahli mantiq, ahli kalam dan filsafat.
Apabila suatu perkara diatasi/diurusi oleh orang yang bukan ahlinya maka tunggulah
kehancurannya. Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Apabila sudah disia-siakan amanah maka tunggulah kehancurannya, shohabat bertanya,


bagaimna disia-siakan amanah itu ya Rosululloh? Beliau bersabda: “Apabila suatu urusan
diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya”. (HR. Bukhori)

Maksud bab ini adalah untuk difahami bersama bahwa Abu Sangkan itu adalah tokoh sufi, ahli
kalam, ahli mantiq, ahli filsafat yang kedudukannya seperti dukun dan tukang sihir yang tidak
boleh diambil ilmunya dan tidak boleh didatangi untuk bertanya masalah-masalah agama atau
lainnya, tidak boleh dibenarkan ucapan-ucapannya baik buku-bukunya atau lewat media
electronic, via telepon atau sms karena isinya hanyalah kebohongan dan kedustaan serta
bisikan-bisikan syetan.

Yang muncul dari Abu Sangkan adalah apa-apa yang juga telah dihasilkan oleh pendahulunya
dari tokoh-tokoh sufi dan tokoh filsafat semacam Arestoteles, Al-Hallaj, Ibnu Arobi dan lainnya
yaitu berbagai kesesatan, kemaksiatan, dan kekufuran.

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 10


ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA

Di dalam bab ini akan saya terangkan pinyimpangan-penyimpangan Abu Sangkan


berdasarkan kajian saya terhadap buku – buku karya Abu Sangkan yaitu Pelatihan shalat
Khusyu’, penerbit Yayasan Shalat Khusyu’, cetakan ke 13, Berguru Kepada Allah
Penerbit Yayasan Shalat Khusyu, cetakan ke 13, Makalah – makalah Pelatihan Shalat Khusyu’
dari para pelatih yang datang ke wilayah saya, diantaranya Drs. Shodiq dari Malang, Drs Moh.
Fahri, MM dari Malang dan saudara Sukana,Sag dari Surabaya, dan DVD Pelatihan Sholat
Khusyu’ karya Abu Sangkan.

Sebelum kita membahas penyimpangan – penyimpangan Abu Sangkan sedikit terlebih dahulu
kita membahas dulu tentang hukum mengghibahi, mencela dan melaknat tokoh sesat (ahli
bid’ah) sebagai dasar agar tidak dikatakan sok benar sendiri, lisan kotor, akhlaknya jelek, dan
tuduhan – tuduhan jelek lainnya kepada penulis.

Ketahuilah sesungguhnya di antara prinsip Ahlussunnah wal jama’ah adalah menyakini bahwa
mengghibahi saudara sesama muslim itu hukumnya harom, tetapi tidaklah mutlak, ada ghibah
yang diperbolehkan diantaranya;
1. Menyebutkan keadaan orang yang zholim.
2. Menyebutkan identitas seseorang.
3. untuk memperingatkan manusia dari kejahatan seseorang (tahdzir)
4. Orang muslim yang berbuat maksiat secara terang – terangan.
5. orang yang meminta fatwa dan.
6. Orang yang meminta pertolongan untuk menghilangkan kejahatan.
Maka 6 orang golongan diatas tersebut boleh dighibahi, sedangkan asal hukum ghibah adalah
harom dan termasuk dosa besar karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“ Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena
sebagian purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 11


saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah
kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-
Hujurot:12)

Demikian juga ahlussunah meyakini wajibnya menghinakan tokoh penyesat (ahli bid’ah) dan
harom memuji dan memulyakannya,prinsip ini berdasarkan dalil shohih yaitu firman Alloh
Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai Nabi , berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan
bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahanam, dan itu adalah tempat
kembali yang seburuk-buruknya”.(QS. At Taubah:73)

“Sesungguhnya orang orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, pasti mendapat kehinaan
sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah
menurunkan bukti-bukti nyata, dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan”.
(QS.Mujadilah:5)

Hadits shohih yaitu sabda Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

Al madinah itu negeri harom,barang siapa yang berbuat bid’ah di dalamnya atau membela
kebid’ahan maka dia dilaknat Alloh, Malaikat dan seluruh manusia”.(HR.Muslim)

Demikian juga banyak kita dapati perkataan ulama’ ahlussunnah wal jama’ah, ulama’salaf
tentang wajibnya menghinakan tokoh penyesat (ahli bid’ah), diantaranya:

1) Telah berkata al-Imam Ibrohim bin Maisaroh Rahimahullah :


“Barang siapa yang menghormati tokoh – tokoh penyesat (ahli bid’ah) bearti ia telah
menolong menghancurkan Islam”. (Mauqif: 2 / 571)
 2) Telah berkata al-Imam al-Fudloil bin ‘Iyad Rahimahullah :
“Barangsiapa yang menghormati tokoh bid’ah sungguh dia telah menolong
menghancurkan Islam, barangsiapa yang tersenyum dengan tokoh penyesat sungguh
dia telah menyamarkan apa yang Alloh turunkan kepada Muhammad”. (Mauqif: 2 /
572)

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 12


Berdasarkan dalil – dalil di atas maka merupakan prinsip ahlussunnah wal jama’ah
bahwa mengghibahi, mencela, menghinakan dan melaknat tokoh – tokoh sesat, ahli
bid’ah, pengikut langkah – langkah syetan, bukan akhlak yang buruk tetapi perbuatan
tersebut merupakan:
1. Termasuk jihad amar ma’ruf dan nahi munkar yang lebih afdol dari pada berjihad
dengan pedang melawan orang kafir.

2. Pelaksanaan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rosul–Nya.

3. Untuk menjaga kemurnian Islam.

4. Menjaga Islam agar orang yang awam tidak mengikuti tokoh – tokoh sesat sehingga
selamat dari kesesatan.

Sehingga berdasarkan prinsip Ahlussunnah wal jama’ah ini dan dari kajian saya
terhadap buku – buku Abu Sangkan maka lewat buku ini saya sampaikan hak – hak Abu
Sangkan dari karyanya, dengan harapan mudah – mudahan:

a) Ihklas karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

b) Bersih dari sifat hasud dan dengki kepada Abu Sangkan.

c) Sebagai nasehat kaum muslimin terhadap bahayanya Abu Sangkan dan buku –
bukunya.

d) Sebagai nasehat terhadap Abu Sangkan dan yang terpengaruh dengannya serta para
kader Abu Sangkan untuk segera bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

e) Terkhusus nasehat ini terhadap Abu Sangkan untuk segera bertaubat kepada Alloh
Subhanahu wa Ta’ala atas penyimpangandan akibat yang telah dihasilkan.

Bertaubat dari kesesatan bagi Abu Sangkan sungguh merupakan perkara yang sangat
berat-kecuali Alloh Subhanahu wa Ta’ala benar – benar mencurahkan Rohmat-Nya

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 13


kepadanya- karena :
1. Dia sudah lama asyik dengan khayalan – khayalan syaithoniyah.
2. Kebanyakan tokoh sesat itu merasa di atas hidayah sehingga sulit dinasehati kecuali
mendapat rohmah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Abu Sangkan dan yang
telah mengikutinya mendapat rohmat dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
3. Kebanyakan tokoh sesat siap membela kesesatannya walaupun harus mengorbankan
nyawanya, hal ini telah dialami oleh tokoh sufi dan filsafat sebelumnya seperti Abu
Mansyur al-Hallaj yang mati dibunuh, Ibnu ‘Arobi al-Hatimi, Ja’d bin Dirham,
Aburrohman bin Muljam, Imam Samudra dan lain-lain.
4. Kesesatan disamakan oleh Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti rabies
(penyakit anjing gila). Anjing kalau sudah terjangkit virus rabies memiliki dua sifat jelek
yaitu galak dan seperti kehausan tetapi tidak mau minum sampai mati kehausan.
Demikian juga orang yang terjangkit hawa nafsu seperti ingin mengetahui kebenaran
tetapi kalau dijelaskan tidak mau terima dan siap mati untuk membela kesesatnnya.
Rosululloh bersabda:

”Sesungguhnya akan keluar dari umatku suatu kaum yang mengikuti hawa nafsu,
menjangkitinya seperti rabies yang masuk keseluruh sendi dan urat (pada anjing)”. (HR.
Ibnu Abi Ashim)

Adapun penyimpangan – penyimpangan Abu Sangkan adalah seperti berikut:


Abu Sangkan Telah Mengada-ada Dalam Agama

Mengada – ada dalam agama Islam baik menambah atau mengurangi merupakan buah
dari buruk sangka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala serta merupakan bentuk
penentangan dan pembangkangan kepada keputusan Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang
telah memutuskan bahwa agama Islam ini sudah sempurna, tidak butuh penambahan,
pengurangan, dan perubahan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridloi Islam menjadi agama bagimu”. (QS. Al-
Maidah: 3)

Telah berkata al-Imam Malik Rahimahullah terhadap ayat ini:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 14


“Barangsiapa mengada-ada dalam Islam dengan suatu bid’ah dan dia anggap bid’ah
hasanah sungguh dia telah menuduh Rosululloh telah mengkhianati risalah, karena
Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan Islam sebagai agama untukmu”
maka apa yang bukan agama pada hari itu bukan agama juga pada hari ini”.

Artinya: “Sesungguhnya perumpamaanku dengan para nabi sebelumku seperti seseorang


yang membangun sebuah rumah, maka dia memperbagus dan mempercantik kecuali
satu tempat bata di suatu sudut (yang belum terpasang) maka manusia mengelilingi
rumah tersebut dan mereka terkagum dengan keindahan rumah tersebut dan mereka
berkata: Sekiranya ada orang yang bisa memasang bata itu? Beliau bersabda: “Maka
akulah bata itu dan aku adalah penutup para nabi”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Artinya: “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah
kami maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim)

Artinya: “Sesunggunya sebaik - baik pembuicaraan adalah Kitabulloh dan sebaik – baik
petunjuk adalah petunjuknya Muhammad, dan sejelek – jelek perkara adalah yang diada
– adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiapa
kesesatan di neraka”. (HR. Muslim)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

“barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk maka dia mendapat pahala sebanyak
orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa
yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa sebanyak orang yang
mengikutuinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

“Barangsiapa yang membuat suatu cara yaitu cara yang baik kemudian diikuti maka dia
mendapat pahalanya dan mendapatkan pahala sebanyak orang yang mengikuti tanpa
mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang membuat suatu cara yang
jelek kemudian diikuti maka dia mendapat dosanya dan dosa sebanyak orang yang

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 15


mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR. Tirmidzi)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:


“Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama atau membela perbuatan baru yang
diada – adakan maka baginya laknat Alloh dan para malaikat serta mendapat laknat
seluruh manusia”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Di Mana Perbuatan Abu Sangkan Yang Katanya Mengada – ada Dalam Agama?

1) Membuat ajaran pelatihan sholat khsyu’ amalan ini tidak pernah diamalkan oleh
para ulama’, tidak pernah diamalkan oleh para imam ahlussunnah, tidak pernah
diamalkan oleh tabi’ut tabi’in, tabi’in, para shohabat maupun Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi Wasallam sehingga ajaran pelatihan sholat khusyu’ ini benar – benar baru yang
diada –adakan oleh Abu Sangkan dari Indonesia. Ajaran ini tidak kita dapatkan di
Negara – negara lain.

2) Cara – cara sholat khusyu’ yang disampaikan oleh Abu Sangkan adalah cara – cara
baru yang tidak ada di dalam kitab – kitab kaum muslimin sehingga ajaran sholat
khusyu’ ala Abu Sangkan ini betul – betul versi Abu Sangkan. Abu Sangkan sendiri telah
mengatakan dalam DVD-nya bahwa sholat khusyu’ yang dia ciptakan itu adalah produk
baru versi Abu Sangkan. Dia berkata: “Sholat khusyu’ menurut paradigma kami” dia juga
berkata: “Sholat khusyu’ menurut teori kami”.

Ajaran baru versi Abu Sangkan ini bisa kita baca di dalam buku – buku dia baik di
dalam buku Pelatihan Sholat Khusyu’ ataupun di dalam buku Berguru Kepada Alloh.
Hampir semua cara sholat yang dijelaskan oleh Abu Sangkan adalah cara baru atau
tepatnya disebut Muhdats mulai dari cara wudlu’ sampai cara berdzikir ba’da sholat.
Contoh yang sangat jelas:

1) Halaman 58-59 buku Pelatihan Sholat Khusyu’ karya Abu Sangkan cetakan ke 13,
penerbit Yayasan Sholat Khusyu’, Abu Sangkan berkata:

“Cara memasuki sholat…….

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 16


a) Heningkan pikiran anda agar rileks. Usahakan tubuh anda tidak tegang. Tak perlu
konsentrasikan pikiran sampai mengerutkan kening
b) Biarkan tubuh anda meluruh, agak lemaskan atau bersikap serileks mungkin
c) Kemudian rasakan getaran qolbu…..
d) Bangkitkan kesadaran diri…..

Dan seterusnya ada sembilan poin sampai halaman 59.

2) Pada halaman 64 ketika menjelaskan cara berwudlu’, Abu Sangkan berkata:


a Mulailah dengan mengucapkan…Hubungkan jiwa anda kepada Alloh…
b) Cucilah kedua tangan Anda dengan air mutlak. Pastikan hati tetap bersambung
dengan Alloh…dst
c) Hadirkan jiwa Anda kepada Alloh. Dan seterusnya sampai 8 poin.

3) Pada halaman 71-78, Abu Sangkan menjelaskan cara wudlu’ dengan cara meditasi.

4) Pada halaman 82-98, Abu Sangkan menjelaskan cara sholat dengan gaya meditasi.

5) Pada halaman 104-116, Abu Sangkan menjelaskan cara berdzikir dengan cara
meditasi. Sedangkan di dalam buku Berguru Kepada Alloh hanyalah pengulangan saja
tanpa ada perbedaan.

Setelah saya cek di dalam kitab-kitab fiqih karya para ulama’ ahlussunnah baik yang
berupa matan maupun yang berbentuk syarah (penjelasan para ulama’), ternyata apa
yang dijelaskan Abu Sangkan di dalam buku – bukunya hanyalah kutipan dengan
beberapa perubahan dari Abu Sangkan yaitu Abu Sangkan menukil cara – cara meditasi
yang baik meditasi diam atau meditasi gerak seperti taichi, kemudian dimasukan ke
dalam cara - cara berwudlu’, cara – cara sholat, dan cara – cara berdzikir. Supaya lebih
samar Abu Sangkan menutupi perbuatannya ini dengan mencarikan dalil – dalil berupa
ayat maupun hadist. Padahal dalil yang dia bawa itu bukan dalilnya-.

Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat dan

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 17


perbuatan Abu Sangkan ini termasuk kriteria no. 9 yaitu: Merubah, Menambah, Dan
Atau Mengurai Pokok – Pokok Ibadah Yang Telah Ditetapkan Oleh Syari’ah.
Abu Sangkan Penganut Sinkretisme

Hal ini sangat jelas dari perbuatan dia yang telah menciptakan sholat khusyu’ dengan
caranya sendiri dengan cara memadukan ajaran agama lain ke agama Islam yaitu ajaran
agama Hindu Budha dijadikan kaifiyah, sifat atau cara sholat yakni ajaran meditasi atau
semedi atau bertapa yang merupakan ajaran pokoknya orang Hindu Budha.

Sinkretisme adalah pembenaran dan pemaduan semua agama. Ajaran Abu Sangkan ini
sarat dengan faham sinkretisme atau pluralisme. Contoh:

1) Pada buku Berguru Kepada Alloh hal. 35: Abu Sangkan berkata:

“Barang siapa yang menjaga lingkungannya dan melestarikannya maka ia telah


berislam, barang siapa menjaga amanah janji dalam berbisnis serta menuliskannya
maka ia telah berislam, barangsiapa meneliti tumbuh – tumbuhan, meneliti benda langit
dan kandungan di dalam bumi kemudian ia menemukan manfaatnya maka
ia telah berislam dan mendapatkan ganjaran yang bermanfaat dalam hidupnya.
Sebaliknya barangsiapa menghancurkan alam dan menganiaya dirinya dengan tidak
menjalankan sunnatulloh maka ia tidak berislam. Sehingga tidak jarang Negara-negara
yang mayoritas beragama islam tidak mendapatkan Rohmat dari Alloh bahkan
terhinakan dan dijajah orang kafir yang telah memanfaatkan Rohmat dari Alloh. Dari
fakta-fakta yang telah kita ketahui, siapakah sebenarnya yang telah kita ketahui,
siapakah sebenarnya yang telah berislam?”.

Bagi Ahlussunnah wal Jama’ah perkataan Abu Sangkan ini adalah kekufuran karena
bertentangan dengan prinsip ahlussunnah yang telah meyakini bahwa agama-agama
selain Islam adalah kafir karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan dan telah Ku-ridhai Islam itu agama bagimu”. (QS. Al-
Maidah: 3)

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 18


“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali – kali tidaklah akan
diterima (agama itu) dari padanya, dan Dia di akhirat termasuk orang – orang yang
rugi”. (QS. Ali-Imron: 85)

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya tidaklah mendengar tentang aku
seorangpun dari ummat ini apakah itu Yahudi atau Nasrani kemudian mati belum
beriman dengan yang aku utus kecuali menjadi penghuni neraka”. (HR. Muslim)

Orang Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha walaupun telah menjaga lingkungan atau
melestarikan-nya dia adalah orang kafir selama belum masuk ke dalam agama Islam
dengan mengucap dua kalimat syahadat dan melaksanakan syari’at Alloh Subhanahu
wa Ta’ala. Kalau tidak, maka dia tetap kafir yang terancam kekal di neraka sebagaimana
firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya orang – orang kafir yakni ahli kitab (Yahudi dan nasrani) dan orang –
orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam mereka kekal di dalamnya.
Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (QS. Al-Bayyinah: 6)

Berdasarkan prinsip ini, barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia
telah kafir dan murtad keluar dari Islam.

2) Pada halaman 87, Abu Sangkan berkata:

“Oleh karena itu jangan salahkan orang-orang kafir kalau setelah mereka bersungguh-
sungguh meneliti dan mendata apa yang mereka baca dari kejadian alam lalu
mendapatkan ganjaran atas manfaat membaca ayat kauniyah”.

Ini juga sinkretisme karena secanggih apapun hasil karya dan teknologi orang kafir,
mereka tetap kafir, tidak ada manfaat bagi mereka sendiri, harta, dan keluarganya
terutama nanti ketika menghadap Alloh walaupun ada manfaat nisbi di dunia. Karena
mereka tidak beriman dan belum masuk agama Islam, dan semua perbuatan baiknya
tidak mendapat pahala (ganjaran).

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 19


3) Pada halaman 174, Abu Sangkan berkata:

“Jepang, Singapura, Perancis adalah kodrat Negara Islami sebab disanalah dasar-dasar
filsafat Islam tertanam menjadi budaya yang tertinggi seperti kedisiplinan, ketekunan,
kesadaran hukum dan lingkungan”.

Perkataan Abu Sangkan ini membuktikan bahwa Abu Sangkan adalah penganut ajaran
kufur yaitu ajaran sinkretisme yang para ulama’ telah sepakat tentang kufurnya ajaran
ini berdasarkan dalil-dalil di atas yaitu kafirnya penganut agama selain Islam.

Diantara tokoh ajaran sinkretisme adalah Jamaluddin bin Shofdar al-Afghoni,


Muhammad ‘Abduh bin Hasan at-Turkumani, Hasan al-Banna (Pendiri gerakan Islam
penganut faham sesat khowarijyaitu Ikhwanul Muslimin atau IM), Hasan at-Turobi
(Pimpinan Front Islam Nasional-Sudan), Thoriq Suwaidan dari Kuwait, Dr. Yusuf al-
Qordhowi (tokoh IM), di Indonesia ajaran ini digencarkan Prof. Dr. Nurcholis Madjid,
Prof. Dr. Harun Nasution, Budy Munawar Rochman dari Yayasan Paramadina, Jakarta,
Muhammad Ali dosen IAIN Syarif Hidayatulloh Jakarta, Said Aqil dari PBNU, Jakarta dan
seluruh tokoh-tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal)1.

Dan masih banyak contoh-contoh ajaran sinkretisme dalam buku Abu Sangkan. MUI
telah mengeluarkan fatwa sesatnya faham pluralisme ini dengan no. 7 / MUNAS VII / 10
/2005.

Abu Sangkan Mengatakan Bahwa Al-Qur an Makhluk

Di dalam bukunya Berguru Kepada Alloh, Abu Sangkan berkata:


1) “Dengan ini saya katakan, bahwa Al-Qur an itu adalah sebuah pengalaman yang
muncul dalam jiwa manusia, yang keluar dari jiwa yang baik maupun yang buruk, al-
Qur an adalah fitrah manusia”. (Berguru 14)

2) “Al-Qur an hanyalah sebuah berita tentang firman yang ada dalam hati manusia”.

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 20


(Berguru: 15)

3) “Al-Qur an adalah gambaran hati setiap manusia seutuhnya secara lengkap. Apabila
kita memunculkan kejiwaan yang baik dalam diri kita, maka akhlak kita sama dengan
Al-Qur an. Demikian juga potensi kejahatan yang ada dalam jiwa kita, apabila
dihidupkan maka kejahatan itu akan sama dengan A-Qur’an”. (Berguru : 23)

4)“Karena Alloh sendiri yang memerintahkan membaca Al-Qur’an yang lebih nyata
yaitu alam semesta dan apa yang ada pada diri kita sendiri”. (Berguru: 37)

5)“Al-Qur’an kita adalah alam semesta dan diri kita sendiri”. (Berguru: 37)
Para Ulama’ Ahlussunnah telah sepakat (ijma’) tentang kufurnya orang yang
mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Karena Al-Quran itu kalamulloh (sifat Alloh
Subhanahu wa Ta’ala) diturunkan bukan makhluk, dari-Nya permulaannya dan
kepada-Nya kembali, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berbicara dengan Al-Qur’an, dengan
taurot, dengan injil, dan lainnya. Bukan makhluk yang terpisah dengannya. Alloh
Subhanahu wa Ta’ala berbicara sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan
kekuasaannya, dan pembicaraan Alloh Subhanahu wa Ta’ala ada pada dzat-Nya, bukan
makhluk yang terpisah dari diri-Nya, disampaikan kepada jibril dan diturunkan kepada
hati Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“dan jika seorang diantara orang – morang musyrikin itu meminta perlindungan
kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamulloh, kemudian
antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum
yang tidak mengetahui”. (QS. At-Taubah: 6)
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat – ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang – orang yang
mempunyai fikiran”. (QS. Shaad: 29)
“Atau kamu mempunyai rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali –
kali tidak mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas Kami sebuah kitab
yang Kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya manusia
yang menjadi rasul? Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman
tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: Adakah Alloh mengutus

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 21


seorang menjadi rosul? Katakanlah: “Kalau seandainya ada malaikat – malaikat yang
berjalan – jalan sebagai penghuni di bumi, niscahya Kami turunkan dari langit kepada
mereka seorang malaikat menjadi rosul”. (QS. Al-Isro’: 93-95)

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sekiranya ada seseorang yang membawa aku kepada kaumnya agar aku menyampaikan
Kalam Robbku karena Quraisy telah menghalangi aku menyampaikan kalam Robbku”.
(HR. Abu Dawud)

Telah berkata al-Imam Amir bin dinar Rahimahullah:

“Aku mendapati para ulama’ semenjak 70 tahun, semua mengatakan Alloh adalah
Kholiq (pencipta) dan selain-Nya adalah makhluk kecuali Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-
Qur’an adalah kalamulloh bukan makhluk, dari-Nya permulaannya dan kepada-Nya
kembali”(8)

Telah berkata al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah:

”Sesungguhnya al-Qur’an adalah kalamulloh, dari-Nya permulaan, tanpa takyif (9),


ucapan-Nya dan ditirukan kepada nabi-Nya berupa wahyu dan mukminin
membenarkannya secara hakekat, dan mukminin menetapkan bahwa al-Quran itu
adalah kalamulloh (sifat Alloh) secara hakekat bukan makhluk seperti ucapan manusia,
barangsiapa yang telah mendengar dan masih mengatakan bahwa al-Qur’an adalah
ucapan manusia maka dia telah kafir”.(10)

Telah berkata Imam Malik bin Anas Rahimahullah:

“Telah jelas dari para imam salaf tentang kufurnya orang yang mengatakan al-Qur’an
adalah makhluk, maka dia harus disuruh bertoubat, jika tidak mau maka harus
dibunuh”.

Telah berkata al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 22


“Al-Qur’an adalah kalamulloh, barang siapa yang mengatakan al-Qur’an itu makhluk
maka dia telah kafir”.

Adapun al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullah telah didatangi oleh seseorang yang bernama
Hafsh al-Fard, dia berkeyakinan bahwa al-Qur’an itu makhluk, maka al-Imam asy-
Syafi’I berkata kepada Hafsh: “Engkau telah kafir”.

Dengan ini jelas bahwa perkataan Abu Sangkan dalam bukunya yang menyatakan
bahwa al-Qur’an adalah makhluk merupakan kekafiran atas kesepakatan para kaum
muslimin.

Telah berkata asy-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah;

“Madzab Salaful Ummah dan para imam salaf dari kalangan para shohabat dan yang
mengikuti para shohabat dengan baik, dan seluruh imam kaum muslimin seperti imam
yang empat, sebagaimana yang ditunjukan dalam al-Kitab dan as-Sunnah dan telah
mencocoki dalil akal yang sehat bahwa al-Qur’an itu kalamulloh yang diturunkan,
bukan makhluk dari-Nya dimulai dan kepada-Nya kembali. Alloh berbicara dengan al-
Qur’an, dengan Taurot, dengan Injil dan dengan lainnya, bukan makhluk yang terpisah
dengan-Nya”.(11)

Sungguh perkataan Abu Sangkan ini adalah kekufuran dan celaan terhadap al-Qur’an
yang sekaligus telah mencela Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Abu Sangkan Penganut Wihdatulwujud

Buku – buku Abu Sangkan dipenuhi oleh ajaran kufur terjelek, terburuk, kufur terbusuk
dan kekufuran paling kufur di muka bumi ini yaitu keyakinan wihdatuwujud yang
dalam bahasa jawa dikenal dengan sebutan manunggaling kawulo gusti.
Mulai dari cover depan sampai ke cover belakang isi buku Abu Sangkan adalah ajaran
kufur ini, dan terlalu panjang kalau saya sebutkan semua perkataan Abu Sangkan
tentang wihdatuilwujud ini tersebut dan saya hanya mengutip secukupnya saja:
.
1. Hal. 52 “Berguru Kepada Alloh” dia berkata:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 23


“Tanah itu dipilih untuk megejawantahkan sifat dua tangan-Ku”.

2. Hal. 54, dia berkata:


“Alloh menyabut tentang Aku ini sebagai roh-Ku”.

3. Hal. 54, dia berkata:


“Yang timbul kesadaran dari yang mampu menembus alam malakut dan Uluhiyah,
dimana manusia mampu mencapai puncak eksestensi sejati”.

4. Hal. 56, dia berkata:


“hakekat manusia adalah subtansi immaterial yang berdiri sendiri, bersifat ilahi”.

5. Hal. 57, dia berkata:


“Seluruh makhluk, apakah itu binatang, manusia, tumbuhan, serta bumi dan matahari
semuanya bergerak dinamis atas sifat hidup Alloh”.

6. Hal. 60, dia berkata:


“Badanku adalah jagad raya. Kesadaran sudah berubah luas dan menjadi satu kesatuan
dengan lingkungan kita. Kesadaran ini akan memudahkan mengidentifikasi siapa diri
sebenarnya setelah tahu esensi badan ini yaitu kesadaran hakiki yang menggerakan dan
alam semesta”.

7. Hal 61, dia berkata:


“Apabila zat-zat, tubuh manusia dan benda-benda di alam sudah dipahami sebanyak
rangkaian kejadian-kejadian, serta menurut kemauan sunnatulloh, maka sebenarnya
atom-atom atau zarroh bergerak bukan atas kemauannya sendiri, akan tetapi ada sosok
yang bukan dirinya yang menyebabkan atom-atom itu bergerak mengikuti kekuatan-
Nya. Dialah yang Maha Basar. Benda-benda kecil itu hanya patuh terhadap Yang Tidak
Bisa Diperbandingkan Dengan Sesuatu. Wujud itu begitu absolute. Ternyata benda-
benda ini tidak mati, akan tetapi ia bergerak dan dihidupkan oleh Sesuatu Kuasa Yang
Maha Besar. Itulah Metakosmos yang hidup, yang perkasa, yang meliputi seluruh benda.
Dialah Robbul ‘alamin”.

8. Hal 72, dia berkata:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 24


”Dan karena manusia terikat erat dengan Alloh, pusat ini merupakan tempat di mana
mereka bertemu Alloh”.

9. Hal 97, dia berkata:


“Manusia tidak bisa menentukan gerakan ilahi yang mengalir dalam tubuhnya, yaitu
gerak hakiki”.

10. Hal 98, dia berkata:


“Kita akan memasuki dunia ketuhanan secara total”.

Apa Wihdatul Wujud Itu?

Wihdatul wujud adalah keyakinan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu menyatu pada
makhluk dan makhluk menyatu pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jadi semuanya satu.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu makhluk dan makhluk itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Sebenarnya wihdatul wujud ini hanya kata lain atau lafadz lain (sinonim) dari atheis,
satu maksud dan satu makna, Cuma beda pengucapan saja, tapi intinya sama, bahwa
wihdatul wujud adalah atheis yang disamarkan. Dan munculnya keyakinan wihdatul
wujud ini juga dari orang-orang atheis yaitu orang-orang yang mengingkari adanya
Tuhan Yang Mencipta dan Mengatur alam ini. Keyakinan ini lebih jelek dan lebih
berbahaya dari dari ucapan Fir’aun laknatulloh. Mereka mengatakan bahwa alam ini
ada dengan sendirinya yakni Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu sendiri. Keyakinan wihdatul
wujud ini adalah sampah-sampah kekafiran, muncul dari orang-orang yang sudah
rusak akal dan fitrohnya. Keyakinan ini bukan baru tetapi sudah lama adanya.

Kita telah mengenal tokoh-tokoh wihdatul wujud yaitu para penganut sufi. Berikut saya
nukilkan perkataan tokoh-tokoh sufi tentang wihdatul wujud agar pembaca bisa
membandingkan dan menarik benang merah keyakinan Abu Sangkan dengan tokoh sufi
terdahulu:

1) Telah berkata dedengkot sufi yang bernama Ibnul Faridl:


“Robb (Tuhan) ini mencakup dzat, sifat, nama dan perbuatan-Nya, baik dalam bentuk
materi maupun gambaran pikiran. Maka dia adalah hewan, benda mati, manusia, jin,
patung dan berhala. Tuhan adalah khayalan dan sangkaan. Sifat, nama, dan perbuatan-

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 25


Nya sama dengan sifat, nama dan perbuatan hewan, benda mati, manusia, jin, patung,
dan berhala, sebab semua itu adalah Dia”.

Dia juga berkata:


“Saya nampak dalam segala wujud bagi siapa yang memandangku.
Dalam segala yang dilihat saya memperlihatkannya dengan pandanganku.
Saya menyaksikan alam ghoibku, jika saya telah nampak maka engkau mandapatiku”.

Dia juga berkata:


“Tidaklah ruang angkasa melainkan dari cahaya dalam diriku.
Dengannya para malaikat memberi hidayah melalui kehendakku.
Tidaklah ada tetes hujan melainkan dari limpahan penampakanku…
Andaikan bukan karena aku maka tidak ada wujud serta tidak ada pemandangan dan
tidak diikat perjanjian dan jaminanku.

Tidak ada yang hidup melainkan kehidupan-Nya dan kehidupanku, dan tunduk kepada
keimananku semua jiwa yang berkemauan”.

2) Telah berkata thoghut terbesar di alam ini yaitu Ibnu Arobi semoga Alloh
Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya untuk selamanya:
“Tuhan itu memiliki 2 hal yang berlawanan(12) pada Dzat-Nya dan dua hakekat yang
berlawanan pada sifat-Nya. Dia (Alloh) adalah wujud yang hakiki dan dia juga tidak
ada(13), Dia adalah Kholik juga makhluk, Dia adalah segala yang ada beserta sifat-Nya,
Dia adalah sifat segala yang ada dan tidak ada, Dialah yang haq, yang mulia, dan Dia
pula yang batil lagi hina, Dia ide jenius dan Khurofat tolol, Dia adalah lintasan ilham,
prasangka keliru, khayalan bingung dan kemustahilan yang tidak terbayangkan oleh
akal sama sekali…”.

“Dia orang mukmin, orang kafir, ahli tauhid, musyrik dengan puncak keberhalaan
benda mati yang kasar, hewan yang mempunyai indera tajam, malikat yang sujud
dibawah ‘arsy, syetan yang berteriak di neraka saqor, ahli ibadah yang mengalir deras
air matanya saat bertasbih, penjahat di tempat-tempat kefasikan dengan berbagi dosa-
dosa”.

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 26


“Robb adalah pemandangan alam yang dapat kamu lihat. Pemandangan alam itu adalah
lahiriyah hakekat, sebab Tuhan itulah yang tampak sedangkan Dia adalah batinnya
sebab Dialah yang batin”.
Dia juga berkata:
“Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba.
Aduhai siapa yang akan dibebani,
jika aku katakan hamba maka ini benar atau aku katakana Tuhan.
Sesungguhnya akulah yang membebani”.

Dia juga berkata:


“Wujud kita adalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kita membutuhkan Alloh Subhanahu
wa Ta’ala dari sisi wujud kita dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala membutuhkan kita dari
sisi penampakan diri-Nya”.

3) Telah berkata tokoh sufi lainnya yaitu si zindiq al Jaili:


”Betapapun engkau melihat tambang bumi dan tanamannya, hewan, manusia dan semua
perangainya. Betapapun engkau melihat lautan dan pulaunya, pohon atau bangunan
tinggi pencakar langit, maka sesungguhnya sayalah semuanya itu. Semua adalah
penampilanku. Sayalah yang nampak dalam hakekatnya, bukan Dia. Sesungguhnya
sayalah robb manusia dan pemimpin seluruh makhluk. Nama dan Dzatkulah yang
disebutkan”.(14)

4) Telah berkata tokoh sufi lainnya yaitu al-Ghozali:


“Orang-orang bijak setelah naik ke langit hakekat sepakat bahwa mereka tidak melihat
dalam wujud ini selain Yang Maha Satu dan Yang Hakiki”.

5) Telah berkata tokoh sufi lainnya yaitu Sadr al-Qonawi:


“Manusia itulah al-Haq. Dialah dzat, sifat, arsy, kursi, lauh, qolam, malaikat, jin, semua
langit, bintang-bintang, semua bumi dan yang ada di atasnya, alam akhirat, segala yang
wujud dan kandungannya, al-Haq, makhluk, qodim dan hadits”.

6) Sayyid Quthub seorang tokoh IM, dia berkata:


“Sesungguhnya alam ini adalah kesatuan wujud. Tidak ada disana hakikat kecuali
hakikatNya. Dan tidak ada disana wujud yang hakiki kecuali wujudNya. Maka seluruh

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 27


wujud yang lain hanyalah bersandar wujudnya kepada Wujud Ynag Hakiki”.(15)

Coba pembaca perhatikan baik-baik perkataan tokoh-tokoh sufi ini kemudian


bandingkan dengan perkataan Abu Sangkan baik yang ada di dalam buku Pelatihan
Sholat Khusyu’ atau dalam buku Brguru Kepada Alloh yang sebagiannya sudah saya
kutip, maka isinya sama walaupun redaksinya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa
keyakinan Abu Sangkan sama dengan para tokoh sufi terdahulu karena memang
keilmuan Abu Sangkan adalah ilmu tasawuf dan ilmu filsafat. Dan yang sangat menipu
umat Islam adalah mereka para tokoh sufi itu mengaku sebagai waliyulloh yang
derajatnya di atas para nabi, kemudian mereka menetapkan sendiri thoriqoh menuju
Alloh Subhanahu wa Ta’ala tanpa harus mengikuti thoriqoh Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, mereka memiliki jalan sendiri yang tidak diketahui dan tidak
ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pengikutnya. Mereka mengaku
mendapat wahyu langsung dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala tanpa harus mengambil
ilmu dari Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam hal ini telah berkata as-Syaikul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

“Barangsiapa beranggapan bahwa di antara para wali yang telah sampai padanya risalah
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki thoriqoh sendiri menuju Alloh
Subhanahu wa Ta’ala dan tidak butuh kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
sungguh dia kafir mulhid”. (Majmu’: 11/126).

Beliau juga berkata:

Barangsiapa mengatakan: “Saya butuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam


ilmu dhohir dan tidak butuh pada ilmu batin atau saya butuh Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dalam ilmu syari’ah bukan ilmu hakekat maka dia lebih jelek dari
yahudi dan nashoro yang telah mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam adalah Rosul pada ummiyin bukan kepada ahli kitab” dan
sesungguhnya mereka (yahudi dan nashoro) meng-imani (risalah) sebagian dan
mengkufuri sebagian maka mereka itupun telah kafir”.

Sehingga keyakinan-keyakinan tokoh-tokoh sufi itu lebih kufur dari Yahudi dan

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 28


Nashoro karena telah mengatakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu diutus
hanya dengan ilmu dhohir tanpa ilmu batin, mereka tidak butuh dengan ilmu dhohir
(Syari’ah) dan mereka memiliki ilmu batin sendiri(16).
Keyakinan wihdatul wujud ini bertentangan dengan keyakinan ahlussunnah wal
jama’ah yang meyakini bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu tinggi di atas makhlukNya
terpisah dengan makhlukNya dan tidak butuh serta tidak bergantung dengan
makhlukNya, Dzat Alloh Subhanahu wa Ta’ala tinggi di atas “ArsyNya sedangkan
ilmuNya meliputi segala makhlukNya, dua hal yang tidak bisa disamakan dari segala sisi,
Robb ya Robb, hamba ya hamba, tidak bisa difahami bahwa pada makhluk ada DzatNya
dan pada Dzat Alloh Subhanahu wa Ta’ala ada makhlukNya, tetapi hal ini menjadi
samar dan rancu bagi orang yang hilang akalnya karena gila, pingsan, tidur, atau tidak
sadar karena obat, sebagaimana firmanNya:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia istawa di atas “Arsy, Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-
bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Alloh. Maha Suci Alloh, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-
A’rof:54)

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, kemudian Dia istawa di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada
seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang
demikian Itulah Alloh, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak
mengambil pelajaran?”. (QS. Yunus: 3)

“(yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang istawa di atas ‘Arsy”. (QS. Thoha: 5)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu tinggi di atas makhluk-Nya berikut dalil-dalilnya:

1. Secara jelas dan terang bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu di atas makhlukNya,
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 29


“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka)”. (QS. An-Nahl:50)

2. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkuasa di atas makhlukNya, firmanNya:

“Dan dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah yang Maha
Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-An’am:18)

3. Naiknya Malaikat dan ruh kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan yang namanya
naik itu ke atas bukan ke bawah atau kesamping, firmanNya:

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang
kadarnya lima puluh ribu tahun”. (QS. Al-Ma’arij: 4)

4. Diangkatnya sebagaian makhlukNya kepadaNya dan yang namanya diangkat juga


dari bawah ke atas bukan kebawah atau kesamping, firmanNya;

“Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan
mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali Imron: 55)

5. Alloh Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi diatas makhlukNya baik Dzat, kedudukan
maupun kemulianNya, firmanNya:

“Dan Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al-Baqoroh: 255)
6. Penjelasan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Kitab itu dari atas
kebawah bukan dari bawah keatas atau dari bawah kesamping, firmanNya:

“Kitab( al-Qur’an ini) diturunkan oleh Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(QS. Az-Zumar: 1)

7. Pengkhususan sebagian makhlukNya yang berada disisiNya, firmanNya:

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang
di sisi-Nya”. (QS. Al-Anbiyaa’: 19)

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 30


8. Diangkatnya kedua tangan ketika berdo’a, dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya Alloh malu terhadap hambaNya yang berdo’a dengan mengangkat


kedua tangannya untuk menolaknya tidak mengabulkannya”. (HR. at-Tirmidzi)

9. TurunNya Alloh Subhanahu wa Ta’ala kelangit dunia tiap sepertiga malam terakhir,
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Robb kita turun ke langit dunia tiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir
kemudian menyeru: “Barangsiapa yang berdo’a kepadaKu akan Ku kabulkan,
Barangsiapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan barangsiapa yang meminta
ampun kepada-Ku maka akan Ku ampuni”. (Muttafaqun’alaih)

10. Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi isyarat dengan jari telunjuknya
yang diarahkan keatas, dalam hadits disebutkan:

“Kalian akan ditanya (oleh Alloh) tentang aku maka apakah yang akan kalian katakan
(pada Alloh)? Mereka menjawab: “Kami telah bersaksi bahwa sesungguhnya engkau
telah menyampaikan, engkau telah menunaikan, dan engkau telah menasehati,
kemudian beliau mengangkat tangannya yang mulia ke langit mengarahkan ke Yang Di
Atas segala sesuatu sambil berkata: Ya Alloh persaksikanlah”. (Muttafaqun’alaih)

11. Fir’aun laknatulloh meyakini bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu ada dilangit,
dia berkata kepada pembantunya:

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi
supaya Aku sampai ke pintu-pintu (yaitu) pintu-pintu langit, supaya Aku dapat melihat
Tuhan Musa dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta”. (QS. Al-
Mu’min: 36-37)

Keyakinan Fir’aun ini tidak seperti keyakinannya Abu Sangkan dan pengikutnya yang
mengatakan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu dimana-mana dan menyatu dengan
makhluk, sebagai bukti bahwa keyakinan Abu Sangkan lebih jelek dari keyakinan

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 31


Fir’aun.

12. Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bolak-balik antara Nabiyulloh Musa


dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada peristiwa isro’ mi’roj ketika memohon
keringanan sholat. (Muttfaqun’alaih)

13. Ahli surga ketika melihat Alloh disurga pada hari kiamat adalah melihat ke atas
seperti ketika melihat bulan purnama.

14. Telah ditanyakan kepada al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah tentang orang yang
mengatakan: “Saya tidak tahu apakah Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu di langit atau di
bumi? Maka Beliau berkata: “Sungguh dia telah kafir karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala
telah berfirman:

“Tuhan yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”. (QS,Thoha: 5)

Dan ‘Arsy Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu ada di atas langit ke tujuh”, kalau dia berkata
bahwa Alloh itu di atas ‘Arsy tetapi saya tidak tahu apakah ‘arsy itu ada di langit atau di
bumi? Beliau menjawab: “Sungguh dia telah kafir karena dia telah mengingkari bahwa
‘arsy itu di atas langit ke tujuh”.

Maka sangat jelas dan terang bagi orang yang hatinya masih bersih dari kerancuan-
kerancuan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu istawa di atas Arsy-Nya, tinggi diatas
makhlukNya dan turun kelangit dunia tiap sepertiga malam terakhir. Tetapi keyakinan
yang terang dan jelas ini menjadi samar bagi hati-hati yang dipenuhi kerancuan-
kerancuan sehingga mereka sebisa mungkin untuk memalingkan makna ayat di atas
untuk disesuaikan dengan akal dan hawa nafsu mereka dan yang paling parah mereka
adalah keyakinan orang-orang tasawuf, ahli kalam, dan ahli filsafat.

Mengapa Mereka (Tokoh-Tokoh Sufi) Itu Berani Berbuat Seperti Itu?

Hal itu merupakan sunnatulloh dan konsekuensi bagi orang yang berpaling dari jalan

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 32


Alloh Subhanahu wa Ta’ala yaitu jalan yang telah ditempuh Rosululloh dan para
shohabat, maka syetan mendatangi mereka untuk menyampaikan wahyu-wahyunya.
Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri


terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Maka
siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Alloh
atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah
ditentukan untuknya dalam kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka
utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami
bertanya: “Dimana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Alloh?” Orang-
orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari dari
kami, “ dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang
yang kafir. Alloh berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-
umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke
dalam neraka), Dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka
masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka
kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan
kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”.
Alloh berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi
kamu tidak mengetahui”. Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara
mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: “Kamu tidak mempunyai kelebihan
sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu
lakukan”. (QS. Al-A’rof:36-39)

“Syetan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan


kosong pada mereka, padahal syetan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari
tipuan belaka”. (QS. An-Nisaa’: 120)

“Dan berkatalah syetan tatkala perkara(hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Alloh


telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu
tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu,

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 33


melainkan (sekedar) aku mengajak kamu lalu kamu mematuhi ajakanku, oleh sebab itu
janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak
dapat menolongmu dan kamu-pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya
aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Alloh) sejak
dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zholim itu mendapat siksaan yang pedih”.
(QS. Ibrohim: 22)

“Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan
mengatakan: “Tidak ada seorang manusia-pun yang dapat menang terhadapmu pada
hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan
itu telah saling lihat melihat (berhadapan), syetan itu balik ke belakang seraya berkata:
“Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa
yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Alloh”. Dan
Alloh sangat keras siksa-Nya”. (QS. Al-Anfal: 48)

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kapada kawan-kawannya”. (QS. Al-An’am:


121)

Maka jin-jin dan syetan-syetan mendatangi mereka tetapi karena kepandiran tokoh-
tokoh sufi itu mereka mengira bahwa yang datang adalah malaikat, kemudian semua
wahyu-wahyu syetan itu dijadikan kitab oleh tokoh-tokoh sufi tersebut, mulai dari
tokoh sufi terdahulu (17) sampai saat ini dan tidak terkecuali buku-buku Abu Sangkan,
yang isinya hanyalah kesesatan dan kekufuran, isinya hanya perusak akal, fitroh, dan
hati-hati manusia yang tidak berbeda dengan buku-buku tasawuf terdahulu.

Abu Sangkan Berdusta Kepada Alloh, Rosul-nya dan Kaum Muslimin

Sebagaimana sudah dijelaskan pada bab I bahwa paradigma atau teori atau cara sholat
yang dibuat Abu Sangkan hanyalah buah dari khayalan-khayalan Abu Sangkan bukan
ilmu yang diwariskan dari Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada para
shohabat dan yang mengikuti mereka dengan baik sampai kepad para ulama’ maka ini
artinya Abu Sangkan telah berdusta kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, berdusta kepada
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan berdusta kepada kaum muslimin karena

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 34


telah mengada-ada ajaran baru dalam agama.

Teori sholat khusyu’ yang dibuat Abu Sangkan bukanlah ilmu yang bisa diamalkan
sebagai amal sholeh yang dapat mendekatkan diri kepada Alloh bahkan hanya bisa
menjauhkan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Paradigma sholat khusyu’ Abu Sangkan hanyalah khayalan-khayalan syetan yang belum
pernah ada yang mendahului dia dari para ulama’ sebelumnya. Abu Sangkan telah
berbicara tentang agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan mengikuti bisikan-bisikan
syetan, padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isro’: 36)

“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Alloh tanpa ilmu pengetahuan
dan mengikuti setiap syetan yang jahat, yang telah ditetapkan terhadap syetan itu,
bahwa barang siapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan
membawanya ke azab neraka”. (QS. Al-Hajj: 3-4)

”Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Alloh tanpa ilmu
pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. Dengan
memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh. Ia mendapat
kehinaan di dunia dan di hari kiamat kami rasakan kepadanya azab neraka yang
membakar”. (QS. Al-Hajj: 8-9)

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya


mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Alloh sedikitpun. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zholim”.

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu
mengadakannya Alloh tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 35


nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini
oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari
Tuhan mereka”.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan
tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; :Ini dari Alloh”, (dengan maksud) untuk
memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang
besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al-
Baqoroh: 79)

Terhadap ayat ini telah berkata asy-syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

“Ayat ini sebagai celaan terhadap orang-orang yang telah menyelewengkan ayat untuk
dijadikan dalil-dalil kebid’ahan, sebagai celaan terhadap orang yang tidak mau
mempelajari al-Qur’an yaitu menjadikan al-Qur’an hanya sebagai bacaan huruf-
hurufnya, sebagai celaan terhadap orang yang menulis kitab atau buku yang menyelisihi
al-Qur’anuntuk mendapatkan keuntungan dunia kemudian mengatakan: “Ini dari Alloh,
ini syari’at agama, ini adalah makna al-Qur’an dan as-Sunnah, ini merupakan pendapat
ulama’ salaf, dan merupakan dasar-dasar agama yang wajib diyakini kebenarannya”,
ayat ini juga sebagai celaan bagi orang yang menutup kebenaran al-Qur’an dan as-
Sunnah”.

Ayat ini telah mengena kepada Abu Sangkan yang telah menulis buku-buku yang
bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits dengan pemahaman as-Salafushsholih.

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an dengan akalnya maka dia telah mempersiapkan
tempat duduknya di neraka. (HR. at-Tirmidzi)

Abu Sangkan berbicara masalah agama semata-mata dari akalnya yang dikenal
dikalangan para ulama’ sebagai ‘aqlani (pemuja akal), musuh-musuh sunnah yang sesat
dan menyesatkan, sebagaimana dikatakan oleh Shohabat Umar Ibnul Khoththob

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 36


Radhiallahu ‘Anhu:

“Para pemuja akal adalah musuh-musuh sunnah, hadits-hadits telah memberatkan


mereka untuk menghafalnya, hadits-hadits itupun berpaling darinya sehingga mereka
sulit untuk memahaminya, akhirnya mereka mereka berbicara dengan akalnya sehingga
mereka sesat dan menyesatkan”. (al-Ibanatussughro)

Teori sholat khusyu’ buatan Abu Sangkan hanyalah kedustaan yang tidak ada gunanya
(sia-sia) untuk diamalkan, hanya sebagaimana difirmankan oleh Alloh Subhanahu wa
Ta’ala:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqon: 23)

“Amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu
hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari
apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang
jauh”. (QS. Ibrohim: 18)

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang
datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu
dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Alloh disisinya,
lalu Alloh memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Alloh
adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. (QS. An-Nuur: 39)

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beramal sesuatu agama yang bukan atas perintah kami, maka
tertolak”. (HR. Muslim)

Di antara bukti kedustaan Abu Sangkan bisa kita lihat pada bukunya Pelatihan Shalat
Khusyu’, halaman 58-59, dia berkata:

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 37


“Cara memasuki shalat, menurut ayat tersebut di atas (yaitu al-Baqoroh: 45-46) ….
1. Heningkan pikiran Anda……dst.
2. Biarka tubuh meluruh……dst.
3. Kemudian rasakan getaran qalbu…..dst…..dst.
Padahal ayat tersebut sama sekali tidak menjelaskan apa yang dikatakan Abu Sangkan
diatas, Abu Sangkan hanya mengutip dari cara-cara meditasi atau samedi baik dari
Taichi atau dari agama Hindu kemudian dimasukkan ke dalam cara sholat, begitu juga
seterusnya mulai cara berwudlu’, cara sholat dan cara berdzikir.

Inilah penyimpangan Abu Sangkan yang paling besar dan paling parah dan uraian ini
bukan sebagai batasan bahwa penyimpangan Abu Sangkan hanya ini, masih banyak dan
terlalu banyak penyimpangan Abu Sangkan jika ditimbang dengan al-Qur’an dan as-
Sunnah. Buku ini saya susun bukan untuk membantah setiap kerancuan Abu Sangkan
dan buku-buku karyanya, buku ini disusun untuk memperingatkan kaum muslimin
akan bahaya penyimpangan-penyimpangan Abu Sangkan dan buku-bukunya sehingga
bahasannya masih bersifat umum. Adapun apabila mau membantah kerancuan-
kerancuan Abu sangkan dan buku-bukunya membutuh bahasan khusus dalam buku
khusus.

Kiranya apa yang telah saya uraikan di atas tidak kurang dan tidak berlebihan di dalam
mensikapi saudaranya sesama muslim, dan saya berharap dan berdo’a semoga Abu
Sangkan dan yang mengikutinya bisa mengambil pelajaran untuk kebaikan semuanya,
tujuan saya adalah untuk menghilangkan noda dan aib saudaranya agar semuanya
berjalan diatas agama yang haq, semoga buku ini sebagai tawashau bilhaq yang
dikerjakan ikhlash karena mengharap wajah Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata.

Dikutip dari Buku “Mengenal Lebih Dekat ABU SANGKAN & Buku-Bukunya (Sang Pencipta Ajaran Baru
Pelatihan Shalat Khusyu’) Bab IV, hal.74-89 atas ijin Penulis (Al-Ustadz Abu Umamah Abdurrohim bin
Abdulqohhar al-Atsary) dan Penerbit Daar Ibnu Utsaimin Lumajang untuk situs www.darussalaf.or.id

Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 38


Sumber: http://www.darussalaf.or.id | ABU SANGKAN DAN PENYIMPANGANNYA 39