Anda di halaman 1dari 11

2.

Pembahasan
a. Pengendalian Musuh Alami
Pengendalian hayati adalah penggunaan musuh alami serangga
hama, penyakit dan tumbuhan penganggu untuk mengurangi kepadatan
populasi (Speight et al, 1999).
Rudyct (2005) mengatakan bahwa pengendalian biologi terapan
dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu :
1. Introduksi adalah usaha mendatangkan dan melepaskan musuh
alami ke alam,
2. Augmentasi yaitu usaha mempertinggi daya guna musuh alami
yang telah ada misalnya dengan melakukan pembiakan secara
masal dan menyebarkannya kembali ke alam. Augmentasi
dibagi menjadi dua yaitu inokulasi dan inundasi. Inokulasi
pelepasan musuh alami dalam jumlah terbatas untuk
meningkatkan populasi, sedangkan inundasi adalah pelepasan
musuh alami dalam jumlah besar.
Pada pengendalian hama secara hayati musuh alami dibagi atas
dua jenis yaitu sebagai predator dan sebagai parasitoid. Musuh alami
yang termasuk golongan predator yaitu langsung memakan mangsa
seketika. Yang berperan sebagai predator kebanyakan dari golongan
serangga. Sedangkan musuh alami yang sebagai parasitoid cara
memangsanya dengan mematikan kekebalan tubuh yang akan
dimangsa baru kemudian memangsanya. Biasanya yang berbentuk
parasitoid menumpang hidup pada tubuh yang akan dimangsa sehingga
akan terjadi kompetisi dalam memperoleh makanan atau dengan kata
lain parasit akan mengambil makanan dari tubuh yang dimangsa,
sehingga lama – kelamaan perkembangannya akan terganggu.
Pada praktikum pengendalian musuh alami, predator yang
digunakan antara lain : Lycosa pseudoanulata (laba-laba serigala),
Coccinela arcuata (kumbang buas), Hymenopus coronatus (belalang
sembah), Odonata (capung) dan coleoptera (Hydrophilidae)..
Sedangkan pada parasitoid digunakan Diadegma dan Trichogramma.
1) Predator
Predator adalah organisme yang hidup dengan memangsa
hewan lain. Pada praktikum yang dikenalkan antara lain: belalang
sembah, capung, laba- laba, lalat syrphidae dan kumbang buas.
Pengendalian OPT dengan musuh alami yaitu dengan menggunakan
predatornya di alam. Penggunaan predator sebagai pemberantasan
hama sebenarnya lebih menguntungkan karena tidak mengeluarkan
biaya dan lebih ramah lingkungan. Sifat dari pengendalian secara
alami adalah tidak meninggalkan residu yang berbahaya bagi
lingkungan.
a. Laba-laba (Lycosa pseudoanulata)
Laba-laba ini memiliki ciri-ciri yaitu tubuh terbagi
menjadi dua bagian, yaitu cephalotoraks dan abdomen,
bewarna hitam, abu-abu dan coklat. Pada abdomen berbentuk
oval dan lebih besardaripada chepalotoraks, pada punggung
terdapat gambaran seperti gurau. Kaki berjumlah empatpasang
dan betinanya mempunyai ulkuran lebih besar dengan warna
lebih terang (Subyanto et al, 1991).
Stadium aktif menjadi predator saat dewasa.
Mangsanya adalah wereng coklat dan Aphis sp. Laba-laba ini
menyerang mangsa secara langsung dan tidak membuat
saranga atau jaring-jaring. Mereka merupakan laba-laba yang
hidup di dalam tanah dan dapat berlari dengan cepat. Pada
umumnya mereka memiliki habitat dilahan padi sawah atau
padi kering yang baru dipersiapkan.
b. Kumbang buas (Coccinellidae)
Kumbang buas yang memangsa aphids termasuk dalam
ordo coleoptera. Hewan ini mempunyai 2 pasang sayap,
memiliki tubuh oval dan pendek sehingga mampu bergerak
lincah. Aktif sebagai predator pada stadia larva dan imago.
Menurut Pracaya (1991), kumbang buas ini membentuk
setengah lingkaran atau cembung, dengan bagian perut datar.
Kepala berukuran kecil yang sebagian ditarik dalam thorax atau
tertutup dibawah bagian pronotum. Sayapnya berupa eliptra
yang menutupi seluruh tubuhnya. Warnanya bermacam-macam
dan biasanya mempunyai bercak-bercak.
c. Belalang sembah (Hymenopus
coronatus)
Belalang sembah (Mantidae sp) merupaka predator dari
Aphis sp. Belalang sembah termasuk dalam ordo Orthoptera
dan famili Mantidae. Belalang sembah memiliki kaki depan
lebih panjang dari kaki belakang, femur dilengkapi dengan
duri-duri. Stadia aktif sebagai predator yaitu pada stadia nimfa
dan imago. Antara nimfa dan imago dibedakan dari ukuran
tubuhnya. Apabila populasi mangsa dalam suatu area
meningkat, maka pengendalian dengan menggunakan predator
belalang sembah dapat menjadi tidak efektif (Nyoman, 1995).
Posisi kaki depan belalang sembah seperti menyembah
atau berdoa dimana dalam keadaan ini belalang siap untuk
memangsa. Baik nimfa maupun imagonya bertindak sebagai
predator yang efektif memangsa hama Aphis sp, walang sangit
serta Helliopeltis sp. serangga ini mempunyai sifat kanibal.
d. Capung (Pentala sp)
Serangga pada Odonata ini kurang berperan dalam
bidang pertanian. Tetapi beberapa diantaranya menjadi
predator pada rayap, penggerek padi dan sebagai predator pada
thrips bawang. Tipe perkembangannya hemimetabola
(Tjahyadi, 1989).

Capung mempunyai kaki tiga pasang, mata facet, ekor


yang panjang, tubuhnya bersegmen dan mempunyai sayap dua
pasang. Merupakan pengendalian hama secar hayati karena
capung merupakan predator bagi hama lain. Capung bertindak
sebagai predator setelah memasuki fase imago. Capung sebagai
predator hama sangat bermanfaat bagi petani untuk
mengendalikan populasi hama di lahan pertanian disamping
mudah dilakukan, biaya murah dan tidak menimbulkan
pencemaran ataupun polusi lingkuangan.
e. Hydrophylidae
Hydrophylidae merupakan predator yang berada dalam
ordo Coleoptera.Hydrophilidae merupakan sejenias kepik yang
termasuk dalam kelas insecta dan berordo coleoptera, tipe
metamorfosis dari kepik ini adalah holometabola. Ciri-ciri dari
hydrophilidae adalah tubuhnya terdiri dari 3 bagian yaitu
kepala, torax dan abdomen, memiliki 2 pasang kaki yang
berada di torax, memiliki 2 pasang sayap dan ukuran sayapnya
sama dengan ukuran tubuhnya. Kepik dapat bermanfaat karena
kepik dapat memangsa serangga salah satu serangga yang
bernama Aphids sp. Stadium memangsa dari kepik sendiri yaitu
pada saat dewasa memangsa Aphids sp, tetapi apabila pada saat
pradewasa menjadi hama (Marwoto, 2005).
2) Parasitoid
a. Diadegma
Parasitoid pada ordo Hymenoptera yaitu Diadegma
mempunyai ciri-ciri tiga pasang kaki, dua pasang sayap.
Mekanisme secara ektoparasit dan endoparasit dengan
meletakkan telur dalam larva plutella sampai menetas. Larva
plutella ditaruh pada tanaman inang yaitu kubis-kubisan.
Menurut Hamid (2003), Diadegma adalah
endoparasitoid larva soliter. Parasitoid ini meletakkan telur di
dalam tubuh larva P. xylostella, terutama pada instar ketiga.
Imago Diadegma muncul dari tubuh inang saat inang berada
masih dalam fase larva. Setelah larva Diadegma memasuki
instar akhir (keempat), larva keluar dari tubuh larva P.
xylostella dan memintal kokon di dalam kokon P. xylostella.
Kokon Diadegma berwarna abu-abu kecokelatan. Imago
muncul dari kokon berwarna hitam mengkilat dengan panjang
tubuh berkisar 4.5-5.5 mm. Diadegma adalah parasitoid larva
b. Trichogramma
Parasitoid berikutnya yaitu Trichogramma. Parasitoid
ini memiliki ciri-ciri : mempunyai satu pasang sayap dan
sayapnya berumbai, warnanya hitam, tipe mulut penggigit.
Panjangnya kira-kira 0,3 sampai 1 mm. Mekanisme menyerang
secara endoparasit dengan meletakkan telur dalam penggerek
batang.
b. Pengenalan Pestisida
Taktik pengendalian OPT ada dua macam yaitu pengendalian
secara kimiawi dan pengendalian secara hayati. Pengendalian secara
kimiawi biasanya menggunakan zat-zat kimia seperti pestisida.
Sedangkan pengendalian secara hayati adalah dengan menggunakan
musuh alami atau predator.
Pengendalian OPT secara kimiawi maksudnya adalah
menggunakan zat kimia untuk mengendalikan jasad pengganggu
tanaman kita. Dilihat dari kegunaannya maka pestisida dapat
digolongkan menjadi lima macam, yaitu Insectisida, Fungisida,
Nematisida, Bakterisida, Rodentisida, dan Acarisida. Fungisida adalah
pestisida yang digunakan untuk memberantas berbagai macam gulma.
Nematisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberanta hama
jenis cacing. Bakterisida adalah pestisida yang dapat untuk
memberantas berbagai macam bakteri. Rodentisida adalah macam
pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tikus, sedangkan
Acarisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama
golonagn Acarina (Martoredjo, 2003). Cara pengendalian OPT melalui
zat kimia adalah menggunakan Pestisida.
Pestisida adalah semua zat atau campuran zat khusus untuk
memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat,
nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, dan jenis-jenis jasad renik
yang dianggap sebagai hama.
Bila dilihat dari jenis jasad pengganggu, pestisida digolongkan
menjadi :
1. Insektisida, adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan bisa mematikan berbagai jenis serangga.
2. Herbisida, adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan digunakan untuk mematikan gulma.
3. Fungisida, adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan digunakan untuk memberantas dan mencegah fungi.
4. Akarisida, adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan digunakan untuk mematikan tungau.
5. Rodentisida, adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang
pengerat.
6. Nemastisida, adalah bahan yang mengandung senyawa beracun
dan digunakan untuk mematikan nematoda yang merusak
tanaman.
(Natawigena, 1985).
Dalam pestisida dikenal dengan singkatan EC, WSC, CP, SC, G,
dan RM.B. EC artinya emulsifiable concentreate yang berarti pestisida
pekat (cairan pekat) yang bisa dicampur dengan air dan membentuk
emulsi. WSC (Water Soluble Concentreate) adalah pestisida pekat
yang dapat dilarutkan dalam air. WP (Wettable Powder) adalah
pestisida berbentuk tepung yang dapat dicampurkan dengan air
(Natawigena, 1985).
Cara penggunaan pestisida ada bermacam-macam yaitu ada yang
disemprot, ditaburkan, dengan pengumpanan, dan digoreskan. Untuk
menggunakan pestisida harus memperhatikan dosis, konsentrasi dan
volumea semprotnya karena apabila tidak sesuai bisa berbahaya.
Dalam praktikum ini, pengendalian OPT dengan menggunakan
klerat, prodigy, decis, antracol, curacron, durasol, dan sebagainya.
Masuknya pestisida kedalam tubuh hewan dapat bersifat secara
kontak, sistemik, biologik ataupun nabati. Pengendalian hama dengan
menggunakan pestisida memiliki keuntungan dan kerugian.
Keuntungannya adalah hama tersebut mati dalam waktu yang relatif
singkat. Kerugian yang ditimbulkan sangat banyak, antara lain polusi
air, adanya kekebalan pada tubuh hama jika digunakan secara terus
menerus. Hal yang paling penting dan harus diperhatikan adalah
mengenai dosis pemakaian pestisida. Dosis harus disesuaikan dengan
lingkungan dan tanaman., cara pemakaian juga harus diperhatikan
karena tidak semua pestisida memilik cara pemakaian yang sama.
c. Uji Metyl Eugenol
Methyl eugenol yaitu suatu bahan kimia yang digunakan sebagai
perangkap lalat jantan buah betina. Pada praktikum ini methyl eguanol
diletakkan pada tiga titik pada tanaman yang berbeda yaitu tanaman
jeruk, sawo dan belimbing
Metyl eugenol berfungsi untuk menarik serangga karena
mengeluarkan bau atau aroma yang di sukai serangga sehingga mudah
masuk ke dalam perangkap. Cara aplikasinya adalah dengan menetesi
kapas yang sebelumnya ditetesi insektisida monokrotofos sebanyak 2
cc dengan methyl eugenol sebanyak 0,1 cc/kapas. Kemudian kapas
tersebut dimasukan kedalam botol aqua yang sudah dimodifikasi dan
digantungkan pada pelepah daun setinggi 2-3 m diatas permukaan
tanah. Jumlah perangkap bisa 5-10 buah untuk setiap hektar. Lalat
jantan yang mencium aroma methyl eugenol akan datang masuk ke
dalam botol perangkap, karena menduga ada lalat betina di daamnya.
Lalat akan mengerumuni kapas sumber aroma tersebut dalam hal ini
lalat jantan akan menghisap feromon iuza menghisap racun, akhirnya
mati.
Pengamatan penggunaan methyl eugenol pada pohon jeruk,
sawo dan belimbing pada menit ke 15, 30 dan 45. Hasil pada pohon
jeruk menit ke-15 memperoleh lalat buah sebanyak 2 ekor, menit ke-
30 sebanyak 4 ekor dan pada menit ke-45 lalat buah yang tertangkap
sebanyak 4 ekor. Lalat buah yang tertangkap pada pohon sawo ada
yang tertangkap hanya pada menit ke-45 sebanyak 1 ekor. Sedangkan
pada pohon belimbing lalat buah yang tertangkap pada menit ke-15
sebanyak 2 ekor, pada menit ke-30 sebanyak 5 ekor dan pada menit
ke-45 sebanyak 8 ekor.
Dari hasil pengamatan perangkap methyl eugenol menunjukkan
bahwa semakin lama waktu, maka semakin banyak pula lalat buah
yang tertangkap. Baik pada pohon jeruk, sawo dan belimbing.
Sehingga methyl eugenol memang cocok untuk mengendalikan
gangguan lalat buah. Lalat buah yang terperangkap relatif sedikit
terutama pada buah sawo karena pada saat ini merupakan saat pohon
sawo tidak berbuah sehingga sangat sedikit lalat buah yang hinggap di
pohon sawo.
d. Uji Antagonis Phatogen
Trichoderma adalah sejenis jamur yang bersifat antagonis dan
menyerang pathogen. Warnamya hijau lumut berbentuk hifa. Bakteri
pada Crocidolomia jika menyerang menyebabkan warna dari
Crocidolomia yang semula berwarna hijau menjadi hitam. Bakteri ini
mengganggu metabolisme dari Crocidolomia sehingga tubuhnya
menjadi lunak.
Trichorderma sp jarang diisolasikan dalam laboratorium secara
mendalam, lebih-lebih dalam laboratorim pribadi. Jamur ini menolak
adanya airasi tanah yang jelas rendah. Kontribusi yang penting dibuat
melalui tuba penolakan yang diperlihatkan di dalam daftar jamur tanah
yang pada umumnya di isolasi secara teknis, karena cara yang
digunakan oleh Trichoderma ialah melalui pengenceran tanah
(Borror, 1992).
Fusarium adalah salah satu genus cendawan berfilamen yang
banyak ditemukan pada tanaman dan tanah.
Golongan Fusarium dicirikan dengan struktur tubuh
berupa miselium bercabang, hialin, dan bersekat (septat) dengan
diameter 2-4 µm. Cendawan ini juga memiliki struktur fialid yang
berupa monofialid ataupun polifialid dan berbentuk soliter ataupun
merupakan bagian dari sistem percabangan yang
kompleks[. Reproduksi aseksual cendawan ini menggunakan
mikrokonidia yang terletak pada konidiospora yang tidak bercabang
dan makrokonidia yang terletak pada konidiospora bercabang dan tak
bercabang. Makrokonidia dibentuk dari fialid, memiliki struktur halus
serta bentuk silindris, dan terdiri dari 2 atau lebih sel yang memiliki
dinding sel tebal. Sedangkan mikrokonidia yang dihasilkan umumnya
terdiri dari 1-3 sel, berbentuk bulat atau silinder, dan tersusun menjadi
rantai atau gumpalan (Wikipedia, 2010).
Praktikum uji antagonisme in vitro ini dilakukan dengan
meletakkan biakkan patogen dan jamur antagonis pada medium PDA
dalam petridish secara berpasangan, dan membuat perlakuan kontrol
dengan hanya meletakkan biakkan patogen tanpa antagonis pada
medium PDA dalam petridish.
Setelah diamati selama kurang lebih lima hari, terlihat adanya
perbedaan jari-jari koloni patogen ke arah antagonis, dan jari-jari
koloni patogen yang menjauhi antagonis. Setelah dianalisis

 (r 2 − r1) 
  x100%
menggunakan rumus H =  r 2  , diperoleh hasil pada
ulangan pertama sebesar 55,17% dan pada ulangan kedua sebesar
21,43%. Sehingga diperoleh rata-rata 38,30% Angka tersebut
menunjukkan adanya hambatan sebesar 38,30% terhadap
perkembangan patogen. Hal ini membuktikan bahwa adanya jasad
antagonis dapat menghambat pertumbuhan ataupun perkembangan
patogen, meskipun dalam praktikum gangguan yang diberikan hanya
berada pada kisaran 38,30% atau tergolong rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Borror, Donal J, et al. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada
University. Yogyakarta.

Hamid H, Buchori D, Triwidodo H. 2003. Keanekaragaman parasitoid dan


parasitisasinya pada pertanaman padi di Kawasan Taman Nasional Gunung
Halimun. Hayati 10:85-90.

Martoredjo. 1984. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan,Bagian dari Perlindungan


Tanaman. Andi Offset. Yogyakarta.

Marwoto.2005. Pengendalian dengan Musuh Alami. http://www.deptan.go.id.


20 Desember 2005, pukul 14.00 WIB.

Natawigena, H. 1985. Pestisida dan Kegunaannya. C V Armico. Bandung.

Nyoman, Ida. 1995. Pengendalian Hama Terpadu. UGM Press. Yogyakarta.

Pracaya. 1991. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rudyct. 2005. http://rudyct.250x/sem1_012/kel_012.htm. Diakses tanggal


21 Desember 2005 jam 14.20 WIB.

Speight, M. R., M.D. Hunter and A.D. Wall. 1999. Ecology of insect. Blackwell
Science Ltd.p.259.

Subyanto dan Sulthoni, A. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanisus.


Yogyakarta.

Tjahjadi Nur. 1989. Hama dan Penyakit Tanaman Semusim. Kanisius.


Yogyakarta.

Wikipedai.2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Fusarium diakses pada tanggal 29


Mei 2010 pukul 01.25