Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

INDUSTRI TERNAK UNGGAS

Disusun oleh :

Tri Nurul Arifin

LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS


BAGIAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2009
BAB I
PENDAHULUAN

Peternakan ayam pedaging pada mulanya hanya merupakan


usaha sampingan. Jumlah ayam yang dipelihara pada petani usaha kecil
sekedar memenuhi kebutuhan keluarga dan dijual ketika ada keperluan
yang mendadak. Pada waktu itu ayam dipelihara tanpa kandang, dilepas
dan berkeliaran ke mana-mana. Tetapi karena adanya suatu pemikiran
bahwa ayam yang berkeliaran itu dianggap berbahaya bagi penyebaran
penyakit, kemudian ayam tersebut dikurung dan dibuatkan kandang.
Ternyata ayam yang hidupnya terkurung produksinya tidak
mengecewakan, justru bagus, tidak mengganggu dan hemat tempat.
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan konsumsi
protein, maka daging ayam cukup menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Harganya bila dibandingkan dengan ternak ruminansia jauh lebih murah.
Meningkatnya konsumsi daging ayam belum diringi dengan kenaikan
populasi dan produksi ayam pedaging. Hal ini disebabkan oleh
menejemen pemeliharaaan yang belum baik dan efektif. Hanya sebagian
kecil dari peternak rakyat yang sudah menerapkan menejemen
pemeliharaan yang sesuai dan diikuti dengan penerapan teknologi. Hal ini
merupakan salah satu hambatan dalam peningkatan produksi ayam
pedaging sehingga peluang pemeliharaan ayam pedaging diindonesia
masih terbuka lebar.
Melalui praktikum Industri Ternak Unggas ini praktikan diharapkan
praktikan dapat mengetahui cara memelihara ayam pedaging mulai dari
DOC umur 1 minggu sampai 5 minggu, menejemen pemberian pakan,
manajemen pemeliharaan, sanitasi dan kesehatan serta system
perkandangan. Selain itu praktikan dapat mengetahui cara pemeliharaan
ayam di suatu perusahaan serta penanganan dan pemeliharaanya dari
ayam dating hingga pasca panen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Broiler
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah
dikembangbiakan secara khusus untuk pemasaran secara dini. Ayam
pedaging ini biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4 kg tergantung
pada efisiensinya perusahaan. Ayam pedaging atau lazim disebut ayam
broiler merupakan ayam yang memiliki pertumbuhan sangat cepat
(Rasyaf, 1994).
Ayam broiler merupakan hasil teknologi yang memiliki karakteristik
ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi
pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan
sebagai penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut
Northe (1984) pertambahan berat badan yang ideal adalah 400 gram per
minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu.
Ayam broiler merupakan jenis ayam jantan atau betina yang
berumur 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk
mendapatkan produksi daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan
pada umur 6 sampai 7 minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen
akan permintaan daging. Ayam broiler terutama unggas yang
pertumbuhannya cepat pada fase hidup awal, setelah itu pertumbuhan
menurun dan akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang
membentuk tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam
pertumbuhan dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam
klasifikasinya, karena ayam broiler mempunyai kecepatan yang sangat
tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh atau delapan minggu
saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan dipasarkan padahal
ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila ayam broiler
dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur enam
minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor (Anonimus,
1994).
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang
dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang
tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat
mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energi
yang lebih banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi
pakan lebih banyak, (Anggorodi, 1985). Hal-hal yang terus diperhatikan
dalam pemeliharaan ayam broiler antara lain perkandangan, pemilihan
bibit, manajemen pakan, sanitasi dan kesehatan, recording dan
pemasaran. Banyak kendala yang akan muncul apabila kebutuhan ayam
tidak terpenuhi, antara lain penyakit yang dapat menimbulkan kematian,
dan bila ayam dipanen lebih dari 8 minggu akan menimbulkan kerugian
karena pemberian pakan sudah tidak efisien dibandingkan
kenaikkan/penambahan berat badan, sehingga akan menambah biaya
produksi (Anonimus, 1994)

3
Daghir (1998) membagi tiga tipe fase pemeliharaan ayam broiler
yaitu fase starter umur 0 sampai 3 minggu, fase grower 3 sampai 6
minggu dan fase finisher 6 minggu hingga dipasarkan.

4
Perkandangan
Kandang merupakan unsur penting dalam usaha peternakan ayam.
Kandang dipergunakan mulai dari awal hingga masa berproduksi. Pada
prinsipnya, kandang yang baik adalah kandang yang sederhana, biaya
pembuatan murah, dan memenuhi persyaratan teknis (Martono, 1996).
Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan
kenyamanan bagi ayam, mudah dalam tata laksana, dapat memberikan
produksi yang optimal, memenuhi persyaratan kesehatan dan bahan
kandang mudah didapat serta murah harganya. Bangunan kandang yang
baik adalah bangunan yang memenuhi persyaratan teknis, sehingga
kandang tersebut biasa berfungsi untuk melindungi ternak terhadap
lingkungan yang merugikan, mempermudah tata laksana, menghemat
tempat, menghindarkan gangguan binatang buas, dan menghindarkan
ayam kontak langsung dengan ternak unggas lain (Anonimus, 1994).
Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana
pokok untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive,
berdaya guna dan berhasil guna. Ayam akan terus menerus berada di
dalam kandang, oleh karea itu kandang harus dirancang dan ditata agar
menyenangkan dan memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi
ayam-ayam yang berada di dalamnya. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam hal ini adalah pemilihan tempat atau lokasi untuk
mendirikan kandang serta konstruksi atau bentuk kandang itu sendiri.
Kandang merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya,
maka sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan-kesalahan
dalam pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan menimbulkan
problema-problema terus menerus sedangkan perbaikan tambal sulam
tidak banyak membantu (Williamsons dan Payne, 1993).

Kepadatan Kandang
Pengaturan kepadatan kandang dilakukan sedemikian rupa untuk
mengatasi kanibalisme akibat terlalu padatnya kandang. Hal ini juga
bermanfaat untuk kenyamanan ayam. Kepadatan kandang juga
berpengaruh terhadap produksi, performen dan tingkat kenyamanan ayam
broiler (May dan Lott, 1992).
Tabel 1.1 Tingkat kepadatan kandang ayam per bobot hidup
Bobot Badan (kg) Ekor/m2
1,4 13 – 17
1,8 10 – 13
2,3 8 – 10
2,7 6–8
Siregar et al., 1980
Kepadatan tinggi menurunkan berat badan pullet umur 18 minggu
(Anderson dan Adams, 1997), meningkatkan kerusakan dada pada broiler,
menimbulkan kanibalisme pada ayam, yakni ayam saling patuk mematuk
sehingga menimbulkan luka pada tubuh ternak sehingga memudahkan

5
masuknya parasit dan menimbulkan penyakit dan akhirnya meningkatkan
angka kematian, pencapaian berat badan yang rendah dan mengurangi
konsumsi pakan pada broiler, sedangkan konsumsi pakan broiler umur 7
minggu menurun sebesar 3,7% pada jantan dan 3,9% pada betina ketika
kepadatan kandang ditingkatkan dari 10 ekor/m2 menjadi 15 ekor/m2.
Kepadatan tinggi yang diasumsikan dengan bobot badan perluasan lantai
mengurangi aktivitas broiler menjadi lebih sedikit berjalan, sebaliknya lebih
banyak mengantuk dan tidur (Cravener et al., 1992).

Tipe Kandang
Kandang postal. Kandang ini tidak terdapat halaman umbaran
sehingga dalam pemeliharaan sistem ini ayam-ayam selalu terkurung
sepanjang hari di dalam kandang. Litter yang baik harus dapat memenuhi
beberapa kriteria yakni: memiliki daya serap yang tinggi, lembut sehingga
tidak menyebabkan kerusakan dada, mempertahankan kehangatan,
menyerap panas, dan menyeragamkan temperatur dalam kandang
(Prayitno dan Yuwono, 1997).
Litter. Merupakan sistem kandang pemeliharaan unggas dengan
lantai kandang ditutup oleh bahan penutup lantai seperti, sekam padi,
serutan gergaji, dan jerami padi (Rasyaf, 1994). Keuntungan sistem ini
adalah biaya relatif rendah, menghilangkan bau kotoran, jika litter kering
maka pembuangan kotoran lebih mudah dan dapat menahan panas
didalam kandang. Kekurangannya adalah penyebaran penyakit lebih
mudah, pengawasan kesehatan lewat kotoran sulit diamati (Campa,
1994).
Cage. Bangunan kandang berbentuk sangkar berderet, menyerupai
batere dan alasnya dibuat berlubang (bercelah). Keuntungan sistem ini
adalah tingkat produksi individual dan kesehatan masing-masing
terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak mudah.
Kelemahannya adalah biaya pembuatan semakin tinggi, ayam dapat
kekurangan mineral, dan sering banyak lalat (Rasyaf, 1994).
Panggung. Sistem ini biasanya dibuat diatas kolam ikan. Bahan
yang biasa digunakan untuk alas lantai adalah bambu yang dipasang
secara berderet agar ayam tidak terperosok.Kelebihannya adalah sisa
pakan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, penyebaran penyakit
relatif rendah. Kekurangannya jika jarak pemasangan bambu unutk alas
terlalu lebar, akan dapat mengakibatkan ayam terperosok, biaya
pembuatan relatif mahal (Martono, 2006).

Pakan
Ayam broiler sebagai bangsa unggas umumnya tidak dapat
membuat makananya sendiri. Oleh sebab itu ia harus makan dengan cara
mengambil makanan yang layak baginya agar kebutuhan nutrisinya dapat
dipenuhi. Protein, asam amino, energi, vitamin, mineral harus dipenuhi
agar pertumbuhan yang cepat itu dapat terwujud tanpa menunggu fungsi-
fungsi tubuhnya secara normal. Dari semua unsur nutrisi itu kebutuhan

6
energi bagi ayam broiler sangat besar (Rasyaf, 1994).
Berdasarkan kebutuhan zat-zat makanan harian untuk kebutuhan
berbagai tujuan, pakan dikelompokkan sebagai tinggi, rendah dan variable
atau intermediet. Kebutuhan pakan untuk produksi telur disebut kebutuhan
penggurangan tinggi (night demand uses), molting sebagai kebutuhan
rendah (low demand uses), sedangkan pertumbuhan dan penggemukan
dikelompokan sebagai kebutuhan penggunaan intermediet (Suprijatna et
al., 2005).
Pakan pemula (starter) harus diberi setelah ayam memperoleh
minum, pada beberapa hari pertama pakan dapat diberi dengan cara
ditaburkan pada katon box DOC atau tempat pakan untuk anak ayam.
Sisa pakan harus dibuang tiap pagi dan jangan dibuang di litter karena
akan membahayakan kesehatan ayam. Pada 2 hari pertama gunakan air
hangat bersuhu  16 sampai 20oC. Untuk air minum larutkan 50 gram
gula dan 2 gram vitamin (dalam 1 liter air minum untuk 12 jam pertama)
Perlu juga memakai meter air agar dapat diketahui dengan pasti berapa
banyak air yang digunakan pada 2 minggu pertama tempat minum
dibersihkan 3 kali sehari setelah itu 2 kali sehari (Anonimus, 2004).
Pada ayam broiler fase starter kebutuhan energi adalah 3200
kcal/kg dengan kebutuhan asam amino methionin 0,38%. Sedangkan
pada finisher kebutuhan energi sama tetapi kebutuhan protein berkurang
dan kebutuhan asam amino methionin juga berkurang menjadi 0,32%
(NRC. 1994).
Pakan dapat dikatakan berkualitas baik jika mampu memberikan
sejumlah kebutuhan nutrisi secara tepat, baik jenis, jumlah serta
imbangan nutrisi tersebut bagi ternak. Dengan pakan berkualitas baik,
proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh ternak akan berlangsung
sempurna, sehingga ternak dapat memberikan hasil akhir berupa daging
sesuai dengan harapan (Ichudan, 2003).
Faktor yang dapat mempengaruhi ransum pada ayam broiler,
diantaranya yaitu temperatur lingkungan, kesehatan ayam, tingkat energi
ransum yang diberikan sistem pemberian makanan pada ayam, jenis
kelamin ayam dan genetik ayam (Rasyaf, 1994).
Bentuk fisik ransum yang diberikan pada ayam broiler ada tiga
bentuk fisik ransum yang diberikan yaitu bentuk halus seperti tepung
(mesh) yang didalamnya merupakan campuran berbagai bahan makanan
yang telah diramu dalam suatu sistem formula. Ransum berbentuk butiran
lengkap atau pellet yang didasarkan pada sifat ayam broiler yang memang
gemar sekali makanan-makanan butiran dan ransum bentuk butiran pecah
atau crumble yang berbentuk butiran tetapi kecil-kecil (Rasyaf, 1994).

Manajemen Pemeliharaan
Pemeliharaan ayam daging ditujukan untuk mencapai beberapa
sasaran yaitu tingkat kematian serendah mungkin, kesehatan ternak baik,
berat timbangan setiap ekor setinggi mungkin dan daya alih makanan baik
(hemat). Untuk mencapai hal-hal tersebut ada beberapa hal pokok yang

7
perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya dalam pemeliharaan ayam
pedaging yaitu perkandangan dan peralatan serta persiapannya,
pemeliharaan masa awal dan akhir, pemberian pakan, pencegahan dan
pemberantasan penyakit dan pengelolaan (Suyoto, 1983).
Ayam broiler atau ayam daging dipelihara selama kurang lebih 6
sampai 7 minggu. Ayam ini tidak dimaksudkan untuk produksi telur, tetapi
diharapkan dagingnya. Sampai umur 5 minggu beratnya kira-kira sama
dengan ayam telur dewasa yaitu kurang lebih 1,5 kg. Cara pemeliharaan
ayam daging hampir sama dengan ayam telur dari periode starter sampai
grower (Jahja, 2000).
Pemeliharaan dilakukan dengan pembersihan secara tuntas
terhadap kandang dan peralatan yang akan dipakai didalamnya, baik
tempat makanan, tempat minuman, brooder, alat pelingkan dan lain-lain.
Terutama pada kandang lama yang sudah dipakai, sisa-sisa dari ternak
yang lama, baik kotoran, bahan-bahan yang tercecer harus dibersihkan
secara tuntas sehingga tidak ada yang tertinggal, sebab setiap butir sisa
dari kawanan ayam yang lama akan ada kemungkinan akan menularkan
sesuatu penyakit kepada kawanan berikutnya. Pembersih dilakukan
dengan air dan bahan pencuci (sabun atau detergen) (Suyoto, 1983).
Teknis pemeliharaan ayam broiler yang baik menurut (Anonimus,
2009), yaitu minggu pertama (hari ke-1 sampai ke-7). DOC dipindahkan
ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah
gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan
dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gram atau 1,3 kg untuk
100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada
prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal
pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen sudah diberi air munum.
Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4. Minggu Kedua (hari
ke-8 sampai ke-14). Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan
pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas
sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua
adalah 33 gram per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.
Minggu Ketiga (hari ke-15 sampai ke-21). Pemanas sudah dapat
dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah
48 gram per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21
hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain
Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum,
sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu,
agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air
mengandung vaksin sebanyak-banyaknya.
Minggu Keempat (hari ke-22 sampai ke-28). Pemanas sudah tidak
diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur
28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat
pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal mempunyai berat badan
minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gram per ekor atau 6,5 kg

8
untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan
karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.
Minggu Kelima (hari ke-29 sampai ke-35). Pada minggu ini, yang
perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah
kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan
penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan
pakan adalah 88 gram per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada
umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan
dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 sampai 2 kg. Dengan bobot
tersebut, ayam sudah dapat dipanen.
Minggu Keenam (hari ke-36 sampai ke-42). Jika ingin diperpanjang
untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam
dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan
pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.

Penampilan Produksi
Feed Intake
Konsumsi pakan adalah banyaknya pakan yang dimakan pada
waktu tertentu. Tinjauan ayam makan adalah dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhan energinya (Yuwono, 1992). Jumlah protein yang
diperlukan sesuai dengan keperluan dan asam aminonya dan
proporsional dengan kandungan energi pakan. NRC (1984)
merekomendasikan bahwa kebutuhan energi ayam brioiler adalah 3200
kcal ME/kg dengan protein kasar 20% untuk ayam umur 3 sampai 6
minggu. Konsumsi pakan komulatif pada minggu 3 sampai 6 berturut-turut
adalah 783,9; 1416,5; 2155,4; dan 3030 gram/ekor. Sedang standar
konsumsi pakan menurut NRC (1984) sebanyak 3000 gram/ekor/minggu
selama pertumbuhan 0 sampai 6 minggu.
Tingkat konsumsi pakan pada ayam cenderung dipengaruhi oleh
tingkat energi pakan, maka kandungan nutrien dalam pakan perlu
disesuaikan dengan tingkat energi dan protein. Asam-asam amino pakan
hanya digunakan secara efektif jik tingkat energinya cukup (Blakely and
Bade, 1991).

Gain
Pertumbuhan adalah proses pertambahan berat hidup sejak
pembuahan dan lahir hingga mencapai berat dan ukuran dewasa.
Pertumbuhan merupakan hasil interaksi antara bibit, sunsum dan tata
laksana yang baik untuk menjamin suksesnya setiap usaha peternakan
ayam broiler (Siregar et al., 1980). Pada dasarnya pertumbuhan yang
timbul itu sbenarnya merupakan menifestasi dari perubahan-perubahan
yang tergadi di dalam sel yang mengalami proses-proses hiperplast atau
pertambahan jumlah yang selanjutnya diikuti dengan proses hypertropi
atau pembesaran ukuran dari sel tersebut (Williams, 1982).
Pertumbuhan hewan ditentukan oileh cakupan makanannya, bila
makannya tinggi maka pertumbuhannya juga cepat dan hewan akan

9
mencapai suatu berat badan tertentu pad umur muda (Tilman et al., 1991).
Perbedaan kecepatan pertumbuhan organ sesuai dengan fungsi organ
tertentu, organ yang dibutuhkan untuk kehidupan berkembang lebih
dahulu, sedangkan organ yang berfungsi untuk produksi berkembang
lebih lambat (Hammond et al., 1993). Menurut Williams (1982). Faktor-
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah genetik, jenis kelamin
dan hormon.

Feed Convertion Ratio (FCR)


Konversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR) adalah
perbandingan antara jumlah pakan (kg) yang dikonsumsi dengan
pertumbuhan berat badan/gain (kg) sampai ayam itu dijual (Siregar et al.,
1980) sehingga makin kecil angka konversi pakan menunjukkan semakin
baik efisiensi penggunaan pakan. Bila angka perbandingan kecil berarti
kenaikan berat badan memuaskan atau ayam makan tidak terlalu banyak
untuk meningkatkan berat badannya (Sidadolog, 2001).

Tabel 1.2 Standar konversi pakan berdasarkan umur


Usia Bobot hidup (kg) Konversi ransum
(minggu) Akhir Pertambahan Mingguan Komulatif
minggu
1 0,14 0,10 0,84 0,59
2 0,31 0,17 1,36 1,02
3 0,55 0,24 1,68 1,31
4 0,83 0,29 1,90 1,51
5 1,16 0,33 2,07 1,67
6 1,51 0,35 2,22 1,80
(Rasyaf, 1994)
Penampilan ayam broiler yang mendapatkan pakan mengandung
tingkat protein kasar 20% dan 22% serta energi 3200 kcal ME/kg dan
3400 kcal ME/kg berturt-turut adalah 3,264; 2,193; 2,219; dan 2,174
(Togacrop, 1991).
Agar konversi pakan baik, peternak harus memperhatikan
beberapa faktor yang dapat meningkatkan nafsu makan ayam broiler
sebagai berikut : 1) bentuk ransum yang diberikan, ayam akan lebih
menyukai ransum yang berbentuk butiran, 2). Pemberian pakan dalam
jumlah yang tepat (tidak berlebihan), 3). kandang dilengkapi dengan
ventilasi yang baik sehingga pertukaran udara lancar, 4). Jenis ransum

10
yang diganti hangan diganti-ganti, 5). Penyediaan air yang cukup dan
bersih (ad libitum), 6). Mutu dan kelezatan pakan terjaga, 7). Menghindari
terjadinya stress ayam (Zuprizal et al., 1993).

Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit


Vaksinasi
Vaksin adalah mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah
dilemahkan atau dimatikan dan mempunyai sifat immunogenik.
Immunogenik artinya dapat merangsang pembentukan kekebalan.
Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak
dengan tujuan supaya ternak tersebut kebal terhadap penyakit yang
disebabkan organisme tersebut. Vaksin ada dua macam, yaitu vaksin aktif
dan vaksin inaktif. Vaksin aktif adalah vaksin yang mikroorganismenya
masih aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan
kering beku, contoh: MEDIVAC ND LA SOTA, MEDIVAC ND-IB dan
MEDIVAC GUMBORO A. Vaksin inaktif adalah vaksin yang
mikroorganismenya telah dimatikan. Biasanya berbentuk sediaan emulsi
atau suspensi, contoh: MEDIVAC ND-EDS EMULSION, MEDIVAC
CORYZA B (Jahja, 2000).
Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti
tetes mata, hidung, mulut (cekok), atau melalui air minum. Vaksinasi harus
dilakukan dengan benar sehingga tidak menyakiti, unggas dan
mempercepat proses vaksinasi, dan tidak meninggalkan sisa sampah dari
peralatan vaksinasi seperti suntikan, sarung tangan, masker maupun sisa
vaksin yang digunakan (botol vaksin). Unggas yang divaksin harus benar-
benar dalam keadaan sehat tidak dalam kondisi sakit maupun stress
sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terjadi
kematian dalam proses vaksinasi. Tata cara vaksinasi harus ditempat
yang teduh, bersih, vaksin tidak dalam kondisi sakit maupun stress
sehingga tidak merusak vaksin. Program vaksinasi untuk unggas, harus
disesuaikan dengan umur dari unggas tersebut dan harus berhati-hati
dalam memvaksin karena sangat sensitif terhadap jarum suntik dan dapat
menimbulkan stress dan kematian mendadak (Jahja, 2000).

Pencegahan penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu: 1) Tetelo
(Newcastle Disease/ND), disebabkan virus Paramyxo yang bersifat
menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu
makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat.
Setelah 1 sampai 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher
berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang
terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam
lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat
menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih
sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering. 2)
Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD), merupakan penyakit yang

11
menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan
Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka
bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh
bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan
secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air
minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat
menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin
Gumboro. 3) Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease), merupakan
infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma
gallisepticum. Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus
keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda
menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan
kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui
pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat.
Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai. 4) Berak
Kapur (Pullorum), disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah
terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan
setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri
Salmonella pullorum (Anonimus, 2009).
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan
melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang
memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan
perbaikan sanitasi kandang. Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan
penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut
banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca
yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres
adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara
drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk
disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi
kandang yang baik (Anonimus, 2009).

Mortalitas
Mortalitas merupakan angka kematian dalam pemeliharaan ternak.
Ada banyak hal yang berpengaruh terhadap mortalitas dalam
pemeliharaan unggas. Misalnya, adalah karena penyakit, kekurangan
pakan, kekurangan minum, temperatur, sanitasi, dan lain sebagainya.
Penyakit didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan
kesehatan yang normal. Tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit
tergantung dari jenis penyakit yang menyerang unggas. Dalam
pemeliharaan petelur yang berhasil, tingkat kematian 10 sampai 12%
dianggap normal dalam satu tahun produksi. Dalam kelompok pedaging,
kematian maksimum per tahun normalnya adalah sekitar 4%. Setiap
kematian yang melebihi angka tersebut harus dianggap sebagai kondisi
yang serius yang harus mendapat perhatian segera dari peternak yang
bersangkutan (Blakely and Bade, 1991).
Menurut Sidadolog (2001) ayam dewasa dan merpati mampu

12
bertahan hidup tanpa makan selama 2 sampai 3 minggu. Kehilangan
berat akibat kekurangan pakan (kelaparan) pada merpati antara 38
sampai 42% dari berat badan semula, sedangkan pada ayam setelah
berpuasa selama 11 hari dan bebas minum, kehilangan berat 25% dari
berat semula. Pemberian pakan yang terkontrol dan teratur dapat
menurunkan mortalitas ayam dan daya hidup bertambah.
Kecukupan air minum pada ayam sangat penting diperhatikan.
Ayam lebih baik mengalami kelaparan daripada kehausan dan kehilangan
air. Ayam akan mati apabila kehilangan air 5 sampai 15% berat hidup.
Kematian terjadi pada ayam akibat kekurangan air dinyatakan sebagai
berikut, ayam berumur 8 minggu selama 72 jam, merpati dewasa selama
12 sampai 13 hari, ayam petelur selama 8 sampai 13 hari dan ayam
dewasa yang tidak bertelur sampai 32 hari. Pada periode starter, ayam
broiler yang dipelihara pada temperatur rendah (5oC) terjadi kematian
pada 4 minggu pertama sekitar 18%, karena secara nyata temperatur
tubuh terlalu rendah di bawah sollwert (Sidadolog, 2001).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menekan angka kematian
adalah mengontrol kesehatan ayam, mengontrol kebersihan tempat pakan
dan minum serta kandang, melakukan vaksinasi secara teratur,
memisahkan ayam yang terkena penyakit dengan ayam yang sehat, dan
memberikan pakan dan minum pada waktunya (Siregar et al., 1980).

Analisis Hubungan
Usaha perunggasan pada saat sekarang dan masa mendatang
memiliki prospek yang cukup baik. Hal ini karena produk unggas memiliki
kemampuan produksi yang cepat dan masal, produk daging dan telur
disukai semua lapisan masyarakat dan didukung oleh industri penunjang
secara paripurna diantaranya industry pembibitan, pabrik pakan, obat-
obatan dan peralatan (Anonimus, 1985).
Untuk mendirikan suatu peternakan diperlukan adanya modal
yang menurut Kadarson (1992) merupakan salah satu faktor produksi
yang disediakan, diolah dan dikontrol di dalam suatu perusahaan
agrobisnis maupun usaha tani yang masih sederhana.
Berdasarkan arah pemakainnya, modal terbagi menjadi modal
investasi dan modal operasional (Kadarson, 1992). Modal operasional
atau modal kerja disebut juga modal lancar yang dipakai untuk membiayai
semua pengeluaran yang menyebabkan perusahaan aktif, misalnya untuk
membeli bahan-bahan produksi, perlengkapan-perlengkapan, upah
pengawas borongan dan pengeluaran-pengeluaran konsumtif pada masa
operasional (Kadarson, 1992).
Menurut Rasyaf (1994) biaya ransum merupakan biaya terbesar
dari seluruh komponen biaya produksi unggas umumnya dan ayam broiler
khususnya. Biaya ini tergantung pada harga ransum dan konsumsi
ransum secara kuantitatif dan kualitatif ditentukan secara teknis dan

13
sudah ada standarnya, maka yang pertama harus dilihat dari sudut harga
ransum itu sendiri.
Tujuan setiap perusahaan adalah meraih keuntungan semaksimal
mungkin dan mempertahankan kelestarian perusahaan (Kadarson, 1992).
Oleh karena output yang digunakan, maka perusahaan akan berusaha
mencapai suatu tingkat produksi yang dapat memberikan laba maksimal,
yaitu suatu kondisi dimana marginal costnya adalah sama dengan
marginal revenue (Prawirokusumo, 1981).

Kunjungan Perusahaan
Lokasi Perusahaan
Untuk ideal sebuah perusahaan haruslah lokasi yang cukup jauh
dari keramaian/perumahan penduduk, lokasi mudah terjangkau dari pusat-
pusat pemasaran, dan lokasi terpilih bersifat menetap, artinya tidak mudah
terganggu oleh keperluan-keperluan lain selain untuk usaha peternakan.
Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3
(tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan),
breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan) (Prihatman,
2000).

Produktifitas
Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah
beredar dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan
pilihannya. Sebab semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya
produktifitas relatif sama. Artinya seandainya terdapat perbedaan,
perbedaannya tidak menyolok atau sangat kecil sekali. Dalam
menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara, peternak dapat
meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di Poultry
Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar di
pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline,
Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor
arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-
Broiler, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, CP
707.

Perkandangan
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras
meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2 sampai 35 derajat
C, kelembaban berkisar antara 60 sampai 70%, penerangan/pemanasan
kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar
mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin
kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan
sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam
remaja ± 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang
dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun
kandang battery. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang

14
mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama (Rasyaf, 2004).
Ada 2 macam kandang yaitu close house dan open house. Untuk
close house kepadatannya 15 sampai 18 ekor. Dan untuk open house
kepdatannya 8 sampai 10 ekor. Sedangkan untuk ukuran kandangnya
50x7 m2.

Peralatan
Litter (alas lantai). Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering,
maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk
walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai
campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir
secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3 sampai 5
cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
Indukan atau brooder. Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat
dengan areal jangkauan 1 sampai 3 m dengan alat pemanas di tengah.
Fungsinya seperti induk ayam yang menghangatkan anak ayamnya ketika
baru menetas.
Tempat bertengger (bila perlu). Tempat bertengger untuk tempat
istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai
yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin
dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
Tempat makan, minum dan tempat grit Tempat makan dan minum
harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja
yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan
kotak khusus.
Alat-alat rutin. Alat-alat rutin termasuk alat kesehatan ayam seperti:
suntikan, gunting operasi, pisau potong operasi kecil, dan lain-lain.

Pembibitan
Ternak yang dipelihara haruslah memenuhi persyaratan sebagai
berikut: ternak sehat dan tidak cacat pada fisiknya, pertumbuhan dan
perkembangannya normal, ternak berasal dari pembibitan yang dikenal
keunggulannya, tidak ada lekatan tinja di duburnya dan pemilihan bibit
serta calon induk
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (day old
chicken)/ayam umur sehari: Anak ayam (DOC) berasal dari induk yang
sehat. Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya. Tidak
terdapat kecacatan pada tubuhnya. Anak ayam mempunyak nafsu makan
yang baik. Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35 sampai
40 gram. Tidak ada letakan tinja diduburnya (Cahyono, 1995).
Perawatan Bibit dan Calon Induk. Dilakukan setiap saat, bila ada
gejala kelainan pada ternak supaya segera diberi perhatian secara khusus
dan diberikan pengobatan sesuai petunjuk. Dinas Peternakan setempat
atau dokter hewan yang bertugas di daerah yang bersangkutan.
Persentase kematian 1:1000 untuk skala 3 sampai 5 hari pada populasi
5000 ekor.

15
Pemeliharaan
Pemberian Pakan dan Minuman. Untuk pemberian pakan ayam ras
broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0 sampai 4 minggu) dan
fase finisher (umur 4 sampai 6 minggu). Kualitas dan kuantitas pakan fase
starter adalah sebagai berikut: kualitas atau kandungan zat gizi pakan
terdiri dari protein 22 sampai 24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium
(Ca) 1%, Phospor (P) 0,7 sampai 0,9%, ME 2800 sampai 3500 Kcal
(Rasyaf, 2004).
Kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan
yaitu minggu pertama (umur 1 sampai 7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu
kedua (umur 8 sampai 14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15
sampai 21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22 sampai 29
hari) 91 gram/hari/ekor. Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor
sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram (Cahyono, 1995).
Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1 sampai
21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7
sampai 0,9% dan energi (ME) 2900 sampai 3400 Kcal. Kuantitas pakan
terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5
(umur 30 sampai 36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umur 37
sampai 43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44 sampai 50 hari)
146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51 sampai 57 hari) 161
gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30 sampai 57
hari adalah 3.829 gram (Rasyaf, 2004).
Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang
dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu: Fase starter (umur 1 sampai 29
hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu
minggu ke-1 (1 sampai 7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8
sampai 14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15 sampai 21 hari)
4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22 sampai 29 hari) 7,7
liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4
minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada
hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress
kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50
gram/liter air. Fase finisher (umur 30 sampai 57 hari), terkelompok dalam
masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30 sampai 36 hari) 9,5
liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37 sampai 43 hari) 10,9 liter/hari/100
ekor, minggu ke-7 (44 sampai 50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu
ke-8 (51 sampai 57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30
sampai 57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor (Rasyaf, 2004).
Pemeliharaan Kandang. Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi)
pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang
paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan
preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan
dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Agar bangunan
kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu

16
dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek
apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali.
Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi
persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara (Cahyono, 1995).

Penyakit
Berak darah (Coccidiosis). Gejala: tinja berdarah dan mencret,
nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap
kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal,
Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline,
amprolium, cxaldayocox.
Tetelo (NCD/New Casstle Disease). Gejala: ayam sulit bernafas,
batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap
terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya
gejala “tortikolis” yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Penyakit Laryngotrachietis. Blakely dan Bade (1991)
menyarankan agar unggas yang sudah sembuh dikeluarkan dan stock
yang baru divaksinasi pada waktu dimasukkan ke dalam kelompok untuk
produksi. Unggas lama yang sudah menderita laryngotracheitis harus
disingkirkan meskipun nampaknya normal. Oleh karena itu tidak
disarankan vaksinasi rutin untuk laryngotrachietis kecuali kalau dikandang
tersebut ada masalah penyakit itu sebelumnya.
Penyakit Infectious Coryza. Pengobatan yang paling efektif
menggunakan obat seperti misalnya Sulfathiazole dalam pakan atau
pemberian injeksi streptomycin. Pemisahan unggas yang terserang,
penyingkiran ayam betina tua pada akhir tahun, dan suatu pemeliharaan
dengan isolasi yang terkontrol dan lingkungan yang bersih, merupakan
kunci untuk mencegah penyakit ini (Blakely dan Bade, 1991).
Aspergillosis. Pencegahan dilakukan dengan menjaga makanan
dan alas (litter) agar tetap rendah kandungan uap airnya hingga
pertumbuhan jamur dapat dicegah (Blakely dan Bade, 1991).
Penyakit Marek’s (Range Paralysis). Vaksin tersedia untuk
mengembangkan kekebalan tubuh terhadap penyakit ini pada unggas,
dan beberapa strain telah pula diseleksi ketahanan alamiyahnya terhadap
penyakit Marek’s (Blakely dan Bade, 1991).
Penyakit Infeksi Bursal (Penyakit Gumboro). Di daerah-daerah
dimana penyakit ini diketahui menjadi masalah, tersedia vaksinasi
komersial untuk mengendalikannya (Blakely dan Bade, 1991).
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan
yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati
segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu
masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/steril serta
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

17
BAB III
KEGIATAN PRAKTIKUM

Praktikum Industri Ternak Unggas dilaksanakan dengan kegiatan


memelihara ayam broiler sejak DOC sampai siap dipanen dan dipasarkan.

Kerja bakti pembersihan kandang


Sebelum DOC masuk, kandang dibersihkan dari segala jenis
kotoran baik di dalam maupun di luar kandang. Kandang yang digunakan
oleh praktikan adalah kandang model panggung kawat. Kandang dicuci,
tempat makan dan minum juga dibersihkan dan dicuci, lantai kandang
dibersihkan. Ruang kandang dan kandang disemprot desinfektan dan
diistirahatkan 2 hari. Setiap kandang dipasang sebuah lampu bohlam 40
watt. Sehari sebelum pemasukan DOC, kandang (brooder boks) lantai
diberi alas koran, dinding juga diberi koran, pemanas dinyalakan.

Pemasukan DOC
DOC yang dipelihara berjumlah 10 ekor, ditimbang dahulu sebelum
dimasukan ke kandang. DOC diberi identifikasi dengan car nomor ditulis
pad plastik dan dipeniti, lalu ditempel/dipeniti pada sayap bagian dalam.
Nomor 1 sampai 5 untuk ayam jantan dan nomor 6 sampai 10 untuk ayam
betina. Disediakan pakan seberat 20 gram/ekor/hari, diberi minum
dicampur gula sebagai pengganti energi yang hilang selama perjalanan,
pakan juga diberikan. Diukur badannya.

Penimbangan I, II, III, dan IV


Setiap ayam ditimbang berat badan dan konsumsi pakan lalu
dihitung FCRnya. Ayam diukur panjang badan, panjang dada, lebar dada,
panjang shank, diameter shank. Ditimbang pakan yang berupa BR1.
Pakan diberikan pagi dan sore.

Vaksinasi ND 1
Vaksinasi dilakukan dengan cara tetes pada mata (1x tetes),
dicampur obat anti stress pada air minum pada pagi hari (sebelum
divaksin) dan sore hari supaya ayam tidak stress karena dilakukan
vaksinasi. Jenis vaksin yang digunakan adalah vaksin ND Hectceren atau
vaksin RIVS 2 (tahap mild: 125).

Vaksinasi Gumboro
Vaksinasi dilakukan dengan cara mencampurkan vaksin pada air
minumnya. Dicampur anti stress pada air minum pada pagi hari sebelum
divaksin dan sore hari. Supaya ayam tidak stress. Jenis vaksin yang
digunakan adalah vaksin IBD (tahap intermediate plus: 500).

Vaksinasi ND 2
Vaksinasi dilakukan dengan cara mencampurkan vaksin pada air

18
minumnya, dicampur obat anti stress pada air minum pada pagi hari
(sebelum divaksin) dan sore hari supaya ayam tidak stress karena
dilakukan vaksinasi. Jenis vaksin yang digunakan adalah vaksin ND
Laksota atau vaksin RIVS 3 (tahap hot: 1000).

Penimbangan V
Setiap ayam ditimbang berat badan dan konsumsi pakan lalu
dihitung FCRnya. Ayam diukur panjang badan, panjang dada, lebar dada,
panjang shank, diameter shank. Dihitung mortalitasnya dan pemeliharaan
selesai dan ayam siap dipanen.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Ayam Broiler
Ayam broiler yang dipelihara pada praktikum Industri Ternak
Unggas adalah strain Lohman MB-202, yang diproduksi oleh PT.
Multibreeder Adirama TBK, Indonesia. Ayam dengan strain Lohman
mempunyai ciri-ciri fisik antara lain bulu berwarna putih kekuningan,
jengger tunggal, dan kaki berwarna kuning.
Ayam broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat pada
fase hidup awal, setelah itu pertumbuhan menurun dan akhirnya berhenti
akibat pertumbuhan jaringan yang membentuk tubuh. Ayam broiler
mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan dibandingkan dengan jenis
ayam piaraan dalam klasifikasinya, karena ayam broiler mempunyai
kecepatan yang sangat tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh
atau delapan minggu saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan
dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan
apabila ayam broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi
hasilnya pada umur enam minggu dengan berat badan mencapai 2
kilogram per ekor (Anonimus, 1994).
Ayam strain ini memiliki kemampuan pertumbuhan yang cukup baik
dan cukup cepat terbukti bahwa pencapaian berat rata-rata 1,5 kg dicapai
dalam waktu 4 sampai 5 minggu. Kelebihan lainnya adalah bahwa ayam
ini memilki nafsu makan yang cukup baik, pemberian pakan yang berupa
konsentrat pada setiap harinya rata-rata tidak bersisa kalaupun ada sisa
itupun hanya sedikit sekali. Hal ini tentu saja menunjang pertumbuhan
yang baik, dan pencapaian bobot badan yang tinggi akan didapatkan
dalam waktu yang singkat.

19
Menurut Northe (1984), berat badan yang baik (optimal) pada saat
dipanen adalah antara 1,5 kg hingga 2 kg, dengan pertumbuhan atau
pertambaan berat badan antara 300 gram hingga 400 gram per minggu.
Perkandangan
Kepadatan kandang
Ukuran kandang adalah 1x1,5 m2 untuk sepuluh ekor, sehingga
kepadatan untuk tiap m2 adalah 8 ekor (perhitungan terlampir). Dengan
ukuran ini, ayam akan mudah untuk melakukan aktivitas dan pengambilan
pakan dan minum dengan jarak yang tidak terlalu jauh, seperti yang
diungkapkan Prayitno dan Yuwono (1997), bahwa kepadatan maksimum
yang dianjurkan 34 ekor/m² dan dari segi kenyamanan ternak maka
kepadatan kandang yang baik adalah yang masih memungkinkan ayam
melakukan hal-hal seperti secara mudah dapat menjangkau tempat pakan
dan minum denga jarak tidak lebih dari 4 m, melakukan kebiasaan yang
normal misalkan mengepakkan sayap, mandi debu dan berpindah dari
suatu tempat yang sesak ke tempat yang lebih longgar
Sistem perkandangan memegang peranan penting dalam usaha
peternakan. Kandang yang baik harus memenuhi syarat-syarat teknis
tertentu sehingga kandang tersebut mampu berfungsi untuk melindungi
ternak dari lingkungan yang merugikan, mempermudah tatalaksana,
menghemat tempat, melindungi dari gangguan binatang buas dan
menghindari dari kontak langsung dengan ternak yang lain. Pada
praktikum ini digunakan kandang panggung yang terbuat dari jeruji-jeruji
kawat dan kerangka kayu. Keuntungan sistem kandang ini antara lain
kandang bersih, tidak berbau, kecil kemungkinan tertular kuman penyakit
dari kotoran, mudah dalam pemberian pakan dan minum, serta mudah
dalm pemasukan dan pengeluaran ayam (Rasyaf,1994).

Tipe kandang
Tipe kandang yang digunakan dalam praktikum termasuk kandang
bertipe cage. Bangunan kandang berbentuk sangkar berderet,
menyerupai batere dan alasnya dibuat berlubang (bercelah). Keuntungan
sistem ini adalah tingkat produksi individual dan kesehatan masing-
masing terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak
mudah. Kelemahannya adalah biaya pembuatan semakin tinggi, ayam
dapat kekurangan mineral, dan sering banyak lalat (Rasyaf, 1994).
Pada waktu DOC dimasukkan sampai umur 2 minggu, lantai
kandang diberi alas yang berupa koran yang setiap harinya harus selalu
diganti. Setelah lebih dari 2 minggu, alas koran tidak dipakai lagi sehingga
kotoran langsung jatuh ke lantai yang diberi lapisan koran. Dilapisi koran
agar kotoran mudah dibersihkan dan tidak mengotori lantai secara
langsung yang dapat menimbulkan penyakit.

Pakan
Pemberian pakan pada praktikum Industri Ternak Unggas yang

20
telah dilakukan dalam pemeliharaan 10 ekor ayam broiler yang bejenis
kelamin jantan sebanyak 5 ekor dam betina 5 ekor yang telah diberi tanda
pada bagian bawah sayap ayam tersebut menggunakan pakan yang
berbentuk crumble yaitu BR1. Pemberian pakan dan pergantian air minum
dilakukan dua kali, yakni saat pagi hari (06.30 sampai 07.00 WIB) dan
sore hari (15.30 sampai 16.00 WIB).
Tabel 2.1 Pakan yang diberikan selama 5 minggu
Waktu Pemberian Sisa Konsumsi Konversi
(gram) (gram)
Minggu I 1400 - 1400 0,94
Minggu II 1680 - 1680 1,35
Minggu III 4550 - 4550 1,625
Minggu IV 7700 - 7700 1,41
Minggu V 8060 - 8060 1,61
Metode pemberian pakan yang digunakan adalah sistem retricted,
artinya jumlah pakan dan pemberian pakan ditentukan kadarnya sesuai
dengan kebutuhan ayam. Pakan yang diberikan sudah cukup memenuhi
kebutuhan ayam, hal ini terbukti dengan adanya sisa pakan sewaktu
pemberian pakan berikutnya.
Pemberian pakan pada pagi dan sore dilakukan guna memenuhi
kebutuhan ayam. Pada umur 1 minggu diberi pakan 20 gram per ekor per
hari. Umur 2 minggu diberi pakan 24 gram per ekor per hari. Umur 3
minggu diberi pakan 445 gram per ekor per hari. Umur 4 minggu diberi
pakan 770 gram per ekor per hari. Umur 5 minggu diberi pakan 910 gram
per ekor per hari.
Ransum atau pakan yang diberikan pada ternak sebagian besar
untuk memenuhi energi. Pada ayam kebutuhan energi meningkat seiring
dengan pertumbuhan badannya. ME pada BR1 dan BR2 3000 sampai
3200 kcal/kg. Energi pakan yang dinukan untuk masing-masing fase
disusun seimbang sehingga variasi konsumsi energi ditentukan oleh besar
kecilnya konsumsi pakan. Selain itu peran suplement, antibiotik dan
vitamin juga memegang peranan penting pada kondisi ayam.
Semakin bertambah umur ayam, mulai dari fase starter menjadi
grower, grower menjadi finisher, membutuhkan konsumsi pakan yang
sesuai untuk mencukupi kebutuhan maintenance dan produksi dagingnya.
Pemberian pakan yang baik harus diatur sesuai jumlahnya, akan tetapi
jumlah kebutuhan tidak boleh dikurangi (Hartono, 1997).
Selain pakan yang diperhatikan, pemberian air minum juga harus
diberikan bersamaan waktunya dengan saat memberikan pakan pada
ayam. Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi ayam setelah
melakukan aktivitas makan. Konsumsi air akan meningkat karena
peningkatan konsumsi pakan yang membutuhkan air untuk pelunak dan
memperlancar pelarutan pakan dalam alat pencernaan (Sidadolog, 2001).

Manajemen Pemeliharaan

21
Pemeliharaan ayam broiler dimulai dengan kegiatan kerja bakti
pada hari min 3. Kegiatan ini meliputi pembersihan ruangan dan brooder
boks kandang dengan cara dicuci. Pembersihan tempat pakan dan
minum, lantai kandang dibersihkan dan dipel, lingkungan sekitar kandang
dibersihkan dan dipel, lingkungan sekitar kandang dibersihkan, ruang
kandang dan brooder boks disemprot dengan desinfektan, setiap kandang
dipasang sebuah bola lampu 40 watt. Sehari sebelum pemasukan DOC,
brooder boks lantai diberi alas koran dinding juga diberi koran baru bola
lampu dinyalakan.
Pemeliharaan hari pertama yaitu pemaukan DOC. Meliputi
penimbangan DOC sebelum dimasukkan kekandang dan diberi identifikasi
dengan cara ditempelkan pada sayap menggunakan peniti. Disediakan
pakan dengan berat yang berbeda setiap minggunya. Air minum diganti
dan ditambahkan setiap pagi dan sore hari. Pemberian pakan dilakukan 2
kali sehari yaitu pagi dan sore hari berupa BR2. Pada hari ketiga
dilakukan vaksinasi ND1, vaksinasi dilakukan dengan cara tetes pada
mata.
Dilakukan penimbangan seminggu sekali sebanyak lima kali yaitu
pada hari ke 7, 14, 21, 28, dan 35. Kegiatan penimbangan meliputi
pengukuran berat badan, lingkar dada, panjang badan, diameter shank,
panjang tulang dada dan panjang shank. Menghitung konsumsi pakan dan
FCR setiap minggunya. Vaksinasi gumboro dilakukan pada hari
kesepuluh. Vaksinasi dilakukan dengan cara mencampurkan vaksin pada
air minum. Vaksinasi ND2 dilakukan pada hari ke 27. Penimbangan ke 5
merupakan hari ayam siap dipanen, didapati mortalitas kematian 20%.
Pemeliharaan ayam daging ditujukan untuk mencapai beberapa
sasaran yaitu tingkat kematian serendah mungkin, kesehatan ternak baik,
berat timbangan setiap ekor setinggi mungkin dan daya alih makanan
baik. Nilai mortalitas pada broiler yang dipelihara kelompok kami cukup
tinggi yaitu 20%. Hal ini tentunya belum mencapai sasaran yang
diinginkan.

Penampilan Produksi
Feed Intake
Pertumbuhan dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh ternak.
Konsumsi pakan oleh 10 ekor untuk minggu ke-I, ke II, ke-III, dan ke-IV
adalah 1400 gr, 1.680 gr, 4550 gr, dan 1700 gr. Konsumsi pakan pada
minggu ke-V dengan jumlah ayam delapan ekor adalah 8060 gram. Rata-
rata FI selama pemeliharaan adalah 2443 gram/ekor. Standar konsumsi
pakan menurut NRC (1984), konsumsi pakan selama pertumbuhan 0
sampai 6 minggu adalah 3000 gram/ekor.
Konsumsi pakan ayam tergantung dari beberapa faktor yaitu: besar
tubuh ayam (jenis galur), keaktifan badannya sehari-hari, suhu atau
temperatur di dalam dan di sekitar kandang, kualitas dan kuantitas pakan
yang diberikan pada ayam pedaging itu, dan cara pengelolaan yang
dipraktekkan sehari-hari untuk memelihara ayam pedaging tersebut

22
(Siregar et al., 1980).
Tingkat konsumsi pakan pada ayam cenderung dipengaruhi oleh
tingkat energi pakan, maka kandungan nutrien dalam pakan perlu
disesuaikan dengan tingkat energi dan protein, asam-asam amino pakan
hanya digunakan secara efektif jika tingkat energinya cukup (Scott et al.,
1982).

Gain
Yang dimaksud dengan gain atau pertumbuhan murni adalah
termasuk pertambahan bentuk dan berat dari jaringan bangun seperti urat,
daging, jantung, dan otak, serta semua jaringan tubuh lainnya kecuali
lemak. Biasanya pertumbuhan badan dinyatakan dengan pengkuran
kenaikan berat badan tiap hari, tiap minggu, atau periode waktu lainnya
(Tilman et al., 1991).
Tabel 2.2 Pengamatan gain tiap minggu
Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke
I II III IV V
Gain 174 g 124 g 280 g 545 g 443,75 g

Feed Convertion Ratio


Feed Convertion Ratio adalah perbandingan antara jumlah pakan
(kg) yang dikonsumsi dengan berat hidup (kg) sampai ayam itu dijual
(Siregar et al., 1980). Berdasarkan hubungan pada praktikum, diperoleh
FCR ayam sebesar 1,61. Anggorodi (1985) menyatakan bahwa faktor
yang mempengaruhi besar kecilnya konversi pakan meliputi kemampuan
daya cerna, kualitas pakan yang dikonsumsi dan keserasian nilai nutrien
yang ada dalam pakan tersebut.
Togatrop (1991) mengatakan bahwa konversi pakan ayam broiler
yang mendapat pakan dengan tingkat protein kasar 20% dan 22% serta
energi 3.200 kcal ME/kg dan 3.400 kcal ME/kg berturut-turut adalah 2,264;
2,193; 2,219 dan 2,174.

Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit


Vaksinasi
Vaksinasi pada praktikum pemeliharaan ayam broiler dilakukan 3
kali. Pertama vaksinasi ND1 pada hari ketiga, vaksinasi dilakukan dengan
cara tetes pada mata (1 kali tetes). Vaksinasi ND atau tetelo dilaksanakan
pada umur 4 hari dengan metode tetes mata. Vaksin ND berfungsi untuk
mencegah penyakit tetelo (Newcastle Disease) yang disebabkan virus
Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam
sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul
pada tempat yang hangat. Setelah satu sampai dua hari muncul gejala
syaraf yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang
akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisahkan, karena
mudah menularkan pada ayam lain melaui kotoran dan pernapasan.
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi

23
kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai
kandang tetap kering (Anonimus, 2009).
Dilakukan vaksinasi yang kedua yaitu vaksinasi Gumboro pada hari
ke 10. Vaksinasi dilakukan dengan cara mencampurkan vaksin sesuai
dengan konsumsi air hari sebelumnya. Fungsi dari vaksin ini ialah
mencegah penyakit gumboro. Penyakit gumboro secara ekonomis sangat
merugikan oleh karena gangguan pertumbuhan, in efisiensi pakan dan
sejumlah besar kematian yang dapat ditimbulkan pada kelompok ayam
yang terserang penyakit tersebut, serta meningkatnya biaya pemakaian
obat-obatan dan desinfektan. Dampak lain yang tidak kalah pentingnya
dari ayam yang pernah terserang gumboro atau oleh karena pemakaian
vaksin gumboro yang cukup keras (intermediate plus atau hot strain)
berupa immunosuspensi jangka panjang oleh karena terjadinya deplesi
(kelainan) pada sel-sel limfoid dari bursa fabrisiusnya (Wiryawan, 2007).
Setelah diberi vaksin gumboro, pada hari ke 27, diberikan vaksin
ND2 yang diberikan pada air minum, sebelumnya ayam dipuasakan
dahulu dari pagi. Vaksin ND2 ini diberikan juga untuk mencegah tetelo.

Pencegahan penyakit
Selain vaksinasi, program pencegahan penyakit lainnya yaitu
dengan cara memberikan vitamin/vitachick yang berfungsi untuk untuk
mencegah ayam stess dari perjalanan yang cukup jauh.
Pencegahan penyakit dilakukan sejak sebelum DOC dimasukkan
kandang. Kelompok XVIII menggunakan kandang dengan sistem
panggung. Kandang dibersihkan dan dicuci terlebih dahulu.
Waktu pemasukan DOC, lantai kandang diberi alas koran untuk
menampung kotoran dan memudahkan aktivitas DOC. Setelah ayam bisa
menapak kuat pada lantai panggung, kandang tidak diberi lagi alas koran,
tapi alas berupa karan dan plastik yang diletakkan dibawah kandang. Alas
ini untuk menampung kotoran agar mudah didalam membersihkannya.
Selama pemeliharaan usaha lain untuk pencegahan penyakit
adalah dengan cara tindakan hygienis dan sanitasi kandang yang teratur,
membersihkan tempat pakan dan minum minimal 2 kali sehari serta
menjaga kebersihan lingkungan sekitar kandang.

Mortalitas
Mortalitas pemeliharaan ayam broiler dalam praktikum ini adalah
20%. Hal ini disebabkan karena ayam stress akibat suhu yang terlalu
tinggi dalam kandang dan pemberian air minum yang kurang, karena pada
kandang kelompok kami hanya tersedia satu tempat minum. Menurut
Sidadolog (2001), kebutuhan pakan dan air minum merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan mortalitas.
Hal-hal yang diperhatikan dalam menekan angka kematian adalah
mengontrol kesehatan ayam, mengontrol kebersihan tempat pakan dan

24
minum serta kandang, melakukan vaksinasi secara teratur, memisahkan
ayam yang terkena penyakit dengan tidak yang terkena penyakit,
memberikan pakan dan minum pada waktunya (Siregar et al., 1980)
Sebenarnya dari jumlah ayam yang digunakan pada praktikum ini
(10 ekor), tidak dapat digunakan untuk mengukur presentase kematian.
Untuk dapat menggunakan presentase kematian yang standar seperti
yang diungkapkan Blakely dan Bade (1991), ayam yang dipelihara
minimal 1000 ekor.

Analisis Hubungan
Dalam pemberian ransum pada unggas khususnya ayam pedaging
atau broiler, harus memperhatikan aspek-aspek yang terkait. Untuk
menyusun pakan ternak unggas, diperlukan perhitungan. Dikenal ada
beberapa cara perhitungan pedoman operasional simpleks. Namun,
dalam perhitungan penyusunan pakan unggas terapan hanya
diperkenalkan tiga metode sederhana. Agar pada nantinya akan
bertambah bobot badannya. Perbedaan pemberian ransum yang berbeda-
beda dapat menyebabkan bentuk atau karakteristik tubuh juga akan
berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh konsumsi dan kandungan nutrient yang
terkandung dalam ransum. Selain itu juga disebabkan oleh persaingan
antar ayam untuk menduduki tempat makan. Seperti halnya pada panjang
badan, shank, diameter shank dan lingkar dada.

Tabel 2.3 Karakteristik tubuh


Pengukuran rata-rata (cm)
Pekan
Panjang Diameter Lingkar Panjang Panjang
ke
shank shank dada tulang dada badan
O 3,2 0,39 10,35 2,55 16,65
I 4,9 0,5 13,9 5,05 26,3
II 5,65 0,85 17,4 7,9 33,7
III 6,8 1,03 25 9,6 34,6
IV 8 1,05 27,1 12,5 36

Kunjungan Perusahaan
Identitas Perusahaan
Teaching Farm di Perusahaan KP4 Universitas Gadjah Mada
awalnya didirikan oleh PKP, yang merupakan alumni fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada. Pengelolaan juga dilakukan oleh PKP.
Perusahaan ini milik fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Tabel 2.4 Data pengamatan kunjungan perusahaan
Hal yang diamati Checklist
1) Sejarah perusahaan

25
2) Lokasi perusahaan v
3) Jumlah kepemilikan/populasi pada farm tersebut v
4) Umur ayam yang ada pada saat kunjungan dan pengaturan v
pemeliharaan bila terdapat beberapa angkatan pada farm yang dikunjungi
5) Strain ayam yang digunakan v
6) HDA (hen daily average)
7) HHA (hen house average)
8) Presentase kematian (mortalitas) per periode (angkatan) v
9) Vaksinasi v
10) Penyakit yang sering ditemui v
11) Perkandangan (kandang karantina, kepadatan kandang/floor space) v
12) Pakan v
13) Peremajaan
14) Menghitung perkiraan FCR v
15) Bobot badan (bobot awal DOC, bobot saat praktikum)
16) Bentuk kandang litter untuk layer
17) Bentuk kandang panggung untuk layer
18) Bentuk kandang litter untuk broiler v
19) Bentuk kandang panggung untuk broiler v
20) Floor space yang diterapkan di perusahaan
21) Kondisi produksi ayam layer yang memakai kandang litter
22) Kondisi produksi ayam layer yang memakai kandang battery
23) Kondisi produksi ayam broiler yang memakai kandang litter
24) Kondisi produksi ayam broiler yang memakai kandang panggung
25) Tinggi tempat pakan dan minum yang ideal untuk ayam pada masing-
masing kandang
26) Ratio jumlah tempat pakan dan minum di kandang panggung dan litter v

Produktifitas
Umur ayam di teaching farm pada saat kunjungan adalah 13 hari
dan pada umur 15 hari akan diganti. Angka kematian di teaching farm
sangat rendah yaitu 0,1% per hari, angka ini sangatlah rendah untuk
mortalitas. Pada umur ayam ke 11 dilakukan penimbangan, dan didapati
ayam 269 gr pada kandang sederhana, 346 gr pada kandang panggung
dan 376 gr pada kandang postal. Pengecekan dilakukan 6 kali per tahun
dengan rotasi 35 hari dan pembersihan 2 hari. Vaksinasi ND dan gumboro
juga diterapkan pada farm ini. Sedangkan strain yang dipakai di
perusahaan KP4 jenis strain Mb 202 Platinum.

Perkandangan
Keamanan kandang di Teaching farm sudah maksimal yakni
dengan adanya biosecurity yang diharapkan agar mikroorganisme tidak
masuk ke dalam farm, setelah itu kandang juga dipagari dengan double
pagar, yakni pagar tembok dan seng. Selain itu juga terdapat men shower,
yang menyemprotkan desinfektan ke tubuh kita. Foot dipping agar bakteri
tidak masuk kedalam kandang.
Terdapat 9 unit kandang di Teaching farm, yang terdiri dari close
house dan open house. Close house adalah kandang postal dengan
dinding yang tertutup sedangkan open house adalah kandang dengan
bentuk panggung. Kedua kandang dialasi oleh sekam. Close house
dilengkapi dengan suatu sistem yang baik, yakni “inlete” dimana diarah
kandang bagian timur dilengkapi dengan tenpet udara masuk yang selalu

26
dialiri air sehingga udara tetap dingin dan dialirkan kearah barat dengan
“outlete” yakni blower.
Kedua kandang tersebut berbeda kepadatannya kandang open
kepadatannya 3000 ekor setara dengan 7 sampai 8 ekor per m2 untuk
kandangnya, sedangkan kandang close kepadatannya 5000 ekor setara
dengan 15 ekor per m2 untuk kandangnya.
Biaya operasional kandang open lebih rendah dan kepadatannya
lebih sedikit, sedangkan biaya operasional kandang close lebih banyak
dan kepadatannya lebih banyak pula. FCR ayam pada close house atau
postal lebih bagus daripada open house atau panggung.

Makan dan Minum


Tempat pakan dan minum ditempatkan berselang-seling dan
tempat pakannya ada yang digantung dan diletakkan dibawah, hal
tersebut berguna untuk proses adaptasi. Setiap 1 tempat pakan isinya 10
kg setara untuk 30 sampai 35 ekor ayam, sedangkan tempat minum
otomatisnya 1 buah setara untuk 80 sampai 100 ekor ayam.

Penanganan Kotoran
Kotoran ayam di teaching farm ditangani dengan cara dibersihkan
secara teratur atau berkala untuk diolah menjadi pupuk, sehingga tidak
menimbulkan polusi bau di udara. Sedangkan pada perusahaan di KP4
yang banyak di derita jenis penyakit coli, coccidiosis dan CSD.

27
BAB V
KESIMPULAN

Praktikum Pemeliharaan Broiler. Praktikum Pemeliharaan Broiler


menggunakan Ayam broiler strain Lohman. Ayam dengan strain Lohman
mempunyai ciri-ciri fisik antara lain bulu berwarna putih kekuningan,
jengger tunggal, dan kaki berwarna kuning. Tipe kandang yang digunakan
dalam praktikum termasuk kandang bertipe cage. Metode pemberian
pakan yang dihgunakan adalah sistem retricted, artinya jumlah pakan dan
pemberian pakan ditentukan kadarnya sesuai dengan kebutuhan ayam.
Pakan yang diberikan sudah cukup memenuhi kebutuhan ayam, hal ini
terbukti dengan adanya sisa pakan sewaktu pemberian pakan.
Pertumbuhan dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh ternak.
Konsumsi pakan oleh 10 ekor untuk minggu ke-I, ke II, ke-III, dan ke-IV
adalah 1400 gr, 1.680 gr, 4550 gr, dan 1700 gr. Konsumsi pakan pada
minggu ke-V dengan jumlah ayam delapan ekor adalah 8060 gram. Rata-
rata FI selama pemeliharaan adalah 2443 gram/ekor. Standar konsumsi
pakan menurut NRC (1984), konsumsi pakan selama pertumbuhan 0
sampai 6 minggu adalah 3000 gram/ekor. Gain yang diperoleh dari
minggu ke-I, ke II, ke-III, ke-IV, dan ke-V secara berurutan yaitu 174,6 gr,
124 gr, 280 gr, 545 gr, 443,75 gr. Berdasarkan hubungan pada praktikum,
diperoleh FCR ayam sebesar 1,61. Mortalitas pemeliharaan ayam broiler
dalam praktikum ini adalah 20%. Hal ini tentunya belum mencapai
sasaran yang diinginkan.
Praktikum Kunjungan Perusahaan. Kunjungan perusahaan
dilakukan di Teaching Farm di Perusahaan KP4 Universitas Gadjah Mada.
Pengelolaan disana sudah modern, hal ini ditunjukkan dengan sudah
adanya biosterilizer yang ada disana, adanya kandang full house dan
kandang open house, dan juga cara pemberian pakannya yang sudah
modern, selain itu disana produksi ayamnya sudah banyak mencapai 500
ribu.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2004. Petunjuk Pemeliharaan Petelur 909. Charoen Pokphand


Indonesia. Tangerang.

Anonimus. 1994. Cara Pemeliharaan Ayam Pedaging. PT Charoen


Phokphand Indonesia, Co. ltd. Jakarta.

Anonimus. 1994. Pedoman Umum Proyek Perunggasan Pola Kemitraan.


Gappi. Jakarta.

Anonimus. 2009. Budidaya ayam pedaging (broiler).


http://www.murasmanrahman.com/node/661. Diakses 22
November 2009.

28
Anggorodi. R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia. Jakarta.

Anderson, K.E. and A.W. Adams, 1997. Effects Of Rearing Density And
Feeder Waterer Spaces On The Productivity And Fearfull Behavior
Of Layers. Poultry Science. Vol. 71: 53.

Blakely, J dan D.H Bade. 1991. Ilmu Peternakan. 4th Edition. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Cahyono, B. 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging


(Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Campa, I.S.A.R. 1994. Kepadatan Kandang dan Model Alas Kandang


Broiler di Daerah Tropis. Poultry Indonesia. 174: 14-16.

Cravener, T.L., W.W. Roush and M.M. Mashaly, 1992. Broiler Production
Under Varying Population Densities. Poultry Science. Vol. 71: 427.

Daghir, N.J. 1998. Broiler Feding And Management In Hots Climate. Cab
International 198 Madison Avenue. New York.

Hammond, R. Izat, A. L., J. T. Slanner and P. W. Waldroup. 1993. Effect of


Dietary Amino Acids Level on Performance and Carcas
Composition of Broiler 42 to 49 Days of Age. J. poult. Sci. 70: 1223-
1230.

Hartono, S. 1997. Beternak Ayam Pedaging Super. CV Gunung Mas.


Penerbit Toko Buku Agency. Pekalongan.

Ichudan, E. 2003. Penambahan Minyak Kedelai Kedalam Ransum untuk


Menurunkan Kadar Lemak Dan Kolesterol. Jurnal Peternakan dan
Lingkungan. 2. (03) 5-8.

Jahja, Jonas. 2000. Ayam Sehat Ayam Produkstif. Medion. Bandung.

Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Deputi Bidang


Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek. Gedung II BPPT
Lantai 6. Jl. M.H.Thamrin No. 8. Jakarta 10340. Indonesia. Tel. +62
21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web:
http://www.ristek.go.id.
Kardason, S. 1992. Beberapa Asas Ekonomi Produksi Pertanian dan
Peternakan. Amurta. Yogyakarta.

Martono, T. 1996. Pengantar Ekonomi Pertanian. Edisi ke-3 Cetakan ke-3.


PT Pustaka LP3ES. Jakarta. Indonesia.

29
May, J.D. and B.D. Lott. 1992. Feed and Nater Consumtion Pattern of
Broiler At High Temperature. Poultry Sci.

Murtidjo, A.B. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius,


Yogyakarta.

Northe, M. O. 1984. Commercial Chicken Production Manual. 2nd ed. Avi


Publishing, Co., Inc., West Port Connecticut.

NRC. 1984. Nutrient Requirement of Domestic Animal. Nutrient


th
Requirement of Poultry. 8 ed. Washington.

NRC. 1994. Nutrient Requirement Of Domestic Animal, Nutrient


Requirement Of Poultry. 8th ed. Revised ed. Washington.

Prawirokusumo, S. 1981. Pengantar Ekonomi Peternakan. Fakultas


Peternakan UGM. Yogyakarta.

Prayitno, Dwi Sunarti dan Yuwono, Wahono Eko. 1997. Manajemen


Kandang Ayam Ras Pedaging. Trubus Agriwidya. Semarang.

Prihatman, K. 2000. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat


Pedesaan. Bappenas. Jakarta.

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS,


Jl.Sunda Kelapa No. 7. Jakarta. Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390
9829.

Rasyaf, M. 1994. Beternak Ayam Pedaging. Edisi ke-6, Penebar Swadaya,


Jakarta.

Rasyaf, M. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya


(anggota IKAPI). Jakarta.

Scott, M. L., M. C. Neshein and R. J. Young. 1982. Nutrition of Chicken. 3 rd


ed. M. L. Scoot and Association. Ithaca. New York.

Sidadolog, J.H.P. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Laboratorium Ilmu


Ternak Unggas.Jurusan Produksi Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Siregar, A.P., M. Sabrani dan P. Soeprawiro. 1980. Teknik Beternak Ayam


Pedaging di Indonesia. Cetakan I. Margie Group. Jakarta.

Suprijatna, M. Prawirokusumo, dan S. Bekti. 2005. Ilmu Usaha Tani. Edisi


Ke-1. BPFE. Yogyakarta.

30
Suyoto, Bambang. 1983. Petunjuk Pelaksanaan Proyek Bimasayam
(Broiler). Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan
Sekretariat Pengendali Harian Bimas Ayam Pusat. Jakarta.

Tilman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo,S. Prawiro Kusumo, dan S.


Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Togacrop, R.L. 1991. Modern. Fifth ed. Crosby Lockweed and Sons Ltd.,
London 397.

Williams, L. H. 1982. Growth and Energy In: Nutrition and Growth Manual.
H. I. Davies ed. Hedges and Bell pty. Ltd. Melbourne.

Williamsons, G and W. J. A. Payne, 1993. Pengantar Peternakan di


Daerah Tropis. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

Wiryawan, Wayan. 2007. Pengebalan terhadap Gumboro. Available at


http//infovet.blogspot.com/2007/09/Pengebalan trhopgumboro.html.

Zuprizal, Ali Wibowo, M. Kamal dan Lies Mira Yusiati. 1993. Evaluasi
Protein dan Energi Pakan Unggas. Forum Komunikasi Hasil
Penelitian Bidang Peternakan Fakultas Peternakan. Yogyakarta.

31
LAMPIRAN

Perhitungan Analisis Hubungan


Koefisien Korelasi rxy = Spxy

SSx.SSy

= 5245x90702

1076068,048x26.34

= 0,985
Uji terhadap nilai koefisien korelasi oleh α = 5% = 0.05
Ho = rxy
Ho = rxy>0

t hitung : rxy

(1- rxy)2/n-2

= 0,985

(1-0,985)2/5-2

= 113,741

Nilai kritis 0,05 : n-2


Tabel t 0,05 : 3 menunjukkan angka 2,353, t hitung >nilai kritis, maka Ho
ditolak dan Ha diterima sehingga panjang shank mempunyai korelasi atau
signifikan terhadap berat badan.
Contoh analisis hubungan :
Korelasi antara panjang shank dengan berat badan

Tabel 3.1 Korelasi panjang shank dan berat badan


Minggu ke Panjang shank Berat badan
(x) cm (x) cm
I 4,55 123
II 4,8 238,8
III 7,001 523
IV 7,55 873,6
V 10,9 1401,5

32
∑x2 = 1232 + 238,82 + 5232 + 873,62 + 1401,52
= 3073062,65
∑y = 4,552 + 4,82 + 7,0012 + 7,552 + 10,92
2

= 268,569
Fkx = ∑x2
n
= 9984968,01:5
= 1996993,602
Fky = ∑y2
n
= (34,801) 2 /5
= 242,222
SSx = ∑x2 - Fkx
= 3073062,65 – 1996933,602
= 1076069,048
SSy = ∑y2 – Fky
= 268,569 – 242,222
= 26,347
∑xy = (4,55x123)+(4,8x238,8)+(7,001x523)+(7,55x873,6+(10,9x1401,5)
= 27239,443
Spxy= (∑xy) – (∑x)( ∑y)
N
= 27239,443-(3159,9)(34,801)/5
= 5245,90702

Tabel 3.2 Konsumsi dan konversi pakan (FCR)


Minggu ke I
No identitas Bobot badan (gain) Pakan (gram) FCR
Berat awal Berat akhir Gain Pemberian Sisa konsumsi
1 50 190 140 140 -
2 50 200 150 140 -
3 50 180 130 140 -
4 50 210 160 140 -
5 50 190 140 140 -
6 40 180 140 140 -
7 50 200 150 140 -
8 45 200 155 140 -
9 50 200 150 140 -
10 49 210 161 140 -
Total 1476 1400 0 1400 0,94
Rerata 147,6 140

Minggu ke II
No identitas Bobot badan (gain) Pakan (gram) FCR
Berat awal Berat akhir Gain Pemberian Sisa konsumsi
1 190 270 80 168 -
2 200 380 180 168 -
3 180 300 120 168 -
4 210 290 80 168 -
5 190 370 180 168 -
6 180 320 140 168 -
7 200 300 100 168 -

33
8 200 300 100 168 -
9 200 350 150 168 -
10 210 320 110 168 -
Total 1240 1680 0 1680 1,35
Rerata 124 168

Minggu ke III
No identitas Bobot badan (gain) Pakan (gram) FCR
Berat awal Berat akhir Gain Pemberian Sisa konsumsi
1 270 500 230 455 -
2 380 700 320 455 -
3 300 550 250 455 -
4 290 550 260 455 -
5 370 600 230 455 -
6 320 650 330 455 -
7 300 600 300 455 -
8 300 600 300 455 -
9 350 650 300 455 -
10 320 600 280 455 -
Total 2800 4550 0 4550 1,625
Rerata 280 455

Minggu ke IV
No identitas Bobot badan (gain) Pakan (gram) FCR
Berat awal Berat akhir Gain Pemberian Sisa konsumsi
1 500 950 450 770 -
2 700 1400 700 770 -
3 550 1000 450 770 -
4 550 1050 500 770 -
5 600 1100 500 770 -
6 650 1300 650 770 -
7 600 1250 650 770 -
8 600 1100 500 770 -
9 650 1250 600 770 -
10 600 1050 450 770 -
Total 5450 7700 0 7700 1,41
Rerata 545 770

Minggu ke V
No identitas Bobot badan (gain) Pakan (gram) FCR
Berat awal Berat akhir Gain Pemberian Sisa konsumsi
1 950 1200 250 390 520
2 1400 2000 600 910 -
3 1000 1400 400 390 520
4 1050 1400 350 910 -
5 1100 1600 500 910 -
6 1300 1800 500 910 -
7 1250 1700 450 910 -
8 1100 1550 450 910 -
9 1250 1600 350 910 -
10 1050 1400 350 910 -
Total 8060 1040 8060 1,61
Rerata 806

34
Tabel 3.3 Jadwal piket pemberian pakan
Paraf praktikan Paraf asisten ket
No Hari/tanggal Nama NIM Pagi Sore Pagi Sore
61/2-7 31/2-4
1 Sabtu,10/10 Aniq 5418 √ √
2 Ahad, 11 Ria 5252 √ √
3 Senin, 12 Dugong 5315 √ √
4 Selasa, 13 Yustin 5272 √ √
5 Rabu, 14 Satria 5338 √ √
6 Kamis, 15 Ninit 5407 √ √
7 Jum’at, 16 Wahyu 5261 √ √
8 Sabtu, 17 Arifin 5374 √ √
9 Ahad, 18 Arifian 5404 √ √
10 Senin, 19 Mz ucup 5121 √ √
11 Senin, 19 Mz jambrong 5158 √ √
12 Selasa, 20 Aniq 5418 √ √
13 Rabu, 21 Ria 5252 √ √
14 Kamis, 22 Dugong 5315 √ √
15 Jum’at, 23 Yustin 5272 √ √
16 Sabtu, 24 Satria 5338 √ √ J
17 Ahad, 25 Ninit 5407 √ √
18 Senin, 26 Wahyu 5261 √ √ J
19 Selasa, 27 Arifin 5374 √ √
20 Rabu, 28 Arifian 5404 √ √
21 Kamis, 29 Mz ucup 5121 √ √
22 Kamis, 29 Mz jambrong 5158 √ √
23 Jum’at, 30 Aniq 5418 √ √
24 Sabtu, 31 Ria 5252 √ √
25 Ahad, 1/11 Dugong 5315 √ √
26 Senin, 2 Yustin 5272 √ √
27 Selasa, 3 Satria 5338 √ √
28 Rabu, 4 Ninit 5407 √ √
29 Kamis, 5 Wahyu 5261 √ √
30 Jum’at, 6 Arifin 5374 √ √ J
31 Sabtu, 7 Arifian 5404 √ √ J
32 Ahad, 8 Mz ucup 5121 √ √ -
J
33 Ahad, 8 Mz jambrong 5158 √ √ -
34 Senin, 9 Aniq 5418 √ √
35 Selasa, 10 Ria 5252 √ √
36 Rabu, 11 Dugong 5315 √ √
37 Kamis, 12 Yustin 5272 √ √

35
38 Jum’at, 13 Satria 5338 √ √

Kartu praktikum

36