Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan perekonomian Indonesia, akan diikuti pula


dengan kebijakan- kebijakan dibidang pajak.Oleh karena itu,pajak merupakan
fenomena yang selalu berkembang di masyarakat.Masalah perpajakan tidaklah
sederhana, dalam era globalisasi inilah cepat atau lambat tidak dapat di tolak dan
harus menerima keberadaan globalisasi ekonom serta yang paling penting yaitu
mengambil kesempatan yang dapat timbul akibat adanya perubahan
ekonomi.Salah satu bagian yang dibahas adalah masalah perpajakan Masalah
perpajakan adalah tidaklah hanya sekadar menyerahkan sebagian penghasilan
atau kekayaan seseorang kepada Negara, tetapi terlihat bermacam – macam
tergantung kepada pendekatannya.dalam hal inilah pajak dapat ditinjau dari
berbagai aspek, khusunya aspek bisnis dalam pajak,dan makalah kami akan
membahas aspek bisnis dalam pajak restoran

Industri Makanan & Minuman(F&B) atau Restaurant adalah sebuah industri


yang Luar Biasa & hampir tidak pernah mati. Industri yang penuh potensi,
prospek, berkembang dengan sangat cepat, dan merupakan Bisnis pembawa
Kesuksesan bahkan Kemakmuran (tentu saja, jika direncanakan, dikelola dan
dioperasikan dengan baik).

Bagaimanapun juga, sangat sedikit Bisnis Restaurant yang akhirnya Sukses.

1
Kebanyakan Bisnis Restaurant gagal pada tahun pertama operasionalnya. Ada
banyak opini dan alasan yang ada seperti mengapa hal ini dapat terjadi? Lebih
dari 25-33% dari Industri Restoran menuutup usahanya dan mendeklarasikan
kebangrutannya dibawah 12 bulan sejak operasional pertamanya.

Tentu saja ini sangat membuat para pebisnis makanan bertanya-tanya mengapa ini
terjadi dan apa yang bisa kita lakukan untuk lebih mengerti Resiko, Tantangan,
Sebab, Realitas dan Detail-detail yang rumit tentang membuka, menjalankan, dan
sampai pada akhirnya mendapatkan Restaurant yang Sukses.

Dewasa ini sektor Bisnis Makanan semakin berkembang. Memiliki pengertian &
filosofi mendasar dan penghargaan akan makanan, gaya hidup, terlebih ‘Dine Out’
dalam gambaran besar sangatlah penting dalam menuju kesuksesan sebuah Bisnis
Restoran.

Setiap aspek dari bisnis dan operasional, kepuasan pelanggan, hubungan Profit &
Lost, ukuran sistem kendali, standarisasi dan kebanggaan dari pemilik semuanya
harus terlihat, sebagaimana kegigihan, ketangguhan, perhatian yang teliti akan detail
dan setiap keputusan bahkan pada hal yang kecil sekalipun.

Beberapa dari aspek ini mencakup Manajemen Bisnis Umum (General Business
Management), Administrasi, Organisasi, Pengawasan (Supervising), Pengendalian
(Controlling), Prosedur Akuntansi, Pricing, Promosi, Kontrak dan Proteksi dan
Asuransi, Regulasi Perpajakan dimana bisnis tsb berada & berfungsi

I.2 Maksud dan tujuan

Tujuan

2
Tujuan dilaksanakanya studi kelayakan ini adalah untuk mengetahui apakah dana
yang akan ditanamkan dalam Bisnis restoran “ Voresto “ini menguntungkan dan
Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah perpajakan dan
tentunya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai aspek pajak
dalam bisnis Restoran,yang di dalamnya membahas tentang apa itu pajak
restoran,tarif yang dikenakan dalam pajak restoran tersebut serta mengetahui
kasus-kasus yang terdapat dalam pajak restoran.yang akan kami bahas secara
detail dalam makalah ini.dari segi finasial dapat dipertanggungjawabkan dengan
baik atau tidak.

Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari studi kelayakan ini adalah:

1. tersusunya hasil studi kelayakan dan rekomendasi studi atas rencana investasi
dalam Bisnis restoran sehingga dapat digunakan sebagai alat pengambilan
kebijakan dan keputusan-keputusan sehubungan dengan rencana investasi
tersebut;

2. tersusunya konsep operasional Bisnis restoransebagai langkah awal operasional


usaha.

BAB II

PEMBAHASAN

PAJAK RESTAURANT

A. Dasar Hukum
1. UU. No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah & Retribusi Daerah
2. UU. No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU. No.18 Tahun 1997
3. PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah

3
4. KMDM No. 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah
5. Perda No. 16 Tahun 2003 tentang Pajak Restoran

B. Obyek Pajak
Obyek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di restoran, rumah makan,
depot, bar, kafe dan atau nama lainnya.
Termasuk penyedia makanan/minuman yang diantar atau dibawa pulang

C. Subyek Pajak dan Wajib Pajak


1. Subyek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran atas pelayanan
Restoran
2. Wajib pajak restoran adalah pengusaha restoran

D. Kewajiban Wajib Pajak


1. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD (Surat Pemberitahuan Pajak Daerah)
2. SPTPD harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak
3. SPTPD setelah diisi harus disampaikan kepada Dinas Pendapatan Kab. Gresik

E. Pengenaan Pajak

1. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada Restaurant
2. Tarip pajak ditetapkan sebagai berikut :
a. Penerimaan pembayaran setiap bulan 0 s/d Rp. 250.000 sebesar 0%

4
b. Penerimaan pembayaran setiap bulan 251.000,- s/d Rp. 1.000.000 sebesar 5%
c. Penerimaan pembayaran setiap bulan diatas 1.000.000 sebesar 10%
3. Rumus perhitungan pajak adalah tarip pajak kali jumlah pembayaran yang dilakukan pada restaurant

F. Masa Pajak dan Pajak Terutang


1. Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan Takwin
2. Pajak Terutang dalam masa pajak, terjadi saat pelayanan Hotel dan Restoran

G. Sistem Pembayaran
Pembayaran dilakukan di Kas Daerah melalui Bendaharawan Khusus Penerima Dinas Pendapatan
Kab. Gresik dengan ketentuan :
1. Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas

2. Pembayaran dilakukan paling lama 30 hari sejak ketetapan diterima


3. Pembayaran dilakukan sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT,
STPD

H. Sanksi Administrasi
1. Tidak atau kurang dibayar dikenakan bunga 2% sebulan, setelah lewat 30 hari sejak ketetapan
diterima
2. Kekurangan pajak terutang dikenakan kenaikan 100% dari tambahan jumlah pajak apabila
ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap.
3. Kekurangan atau keterlambatan pembayaran dikenakan bunga 2% per bulan dari pokok
pajak untuk jangka waktu 24 bulan sejak terutangnya pajak
4. Tidak menyampaikan SPTPD dalam jangka waktu tertentu dikenakan bunga 2% sebulan dari
pokok pajak tahun lalu dengan melakukan pemeriksaan lapangan untuk jangka waktu paling
lama 24 bulan sejak saat terutangnya pajak

5
A. Sanksi Pidana
1. Wajib Pajak karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar
atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar dapat dipidana dengan
pidana kurungan 3 bulan atau denda paling banyak 2 kali jumlah pajak yang terutang.

2. Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak
benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar dapat dipenjara 3 tahun
atau denda paling banyak 4 kali jumlah pajak yang terutang.

Pajak Restoran Naik 300%

SERANG – Sejumlah pengelola rumah makan di Jalan Ahmad Yani


mempertanyakan kenaikan pajak restoran yang mencapai 300 persen.

Kusnanto, seorang pemilik salah satu rumah makan, mengungkapkan, bulan Januari
lalu membayar pajak restoran sebesar Rp 150 ribu. Saat masih dikelola Pemkab
hanya Rp 50 ribu.
“Saya bingung kenapa saat menjadi kota malah jadi mahal. Mereka juga tak bisa
menjelaskan soal kenaikan itu. Saya tak mengerti bagaimana perhitungannya,” ujar
Kusnanto di rumah makan miliknya, Senin (2/3).
Dengan kenaikan pajak yang mencekik, ia mengaku, keberatan. Ia juga pernah
melayangkan surat permohonan keringanan pajak ke Pemkot, namun tak ditanggapi.
Kepada sejumlah wartawan, Kusnanto membeberkan, surat tanda pembayaran pajak
antara yang dikelola Pemkot dan Pemkab Serang. Surat dari Pemkab tercantum
aturannya, sementara dari Pemkot tidak ada.
Selain membayar pajak, setiap bulannya harus membayar uang retribusi sampah ke
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Serang sebesar Rp 25 ribu. “Saya juga harus

6
membayar uang kebersihkan kampung sebesar Rp 30 ribu. Belum lagi gaji pegawai
dan lainnya. Bisa-bisa gulung tikar,” ungkapnya.
Lugina Kusuma, pemilik rumah makan Damai, juga mengaku keberatan dengan nilai
pajak restoran saat ini. Saat masih dikelola Pemkab membayar Rp 75 ribu. Namun,
bulan Februari harus mambayar Rp 300 ribu. Padahal, bulan Januari lalu Rp 200 ribu.
“Bagaimana perhitungannya. Saya tak mengerti,” ungkapnya.

Saat ia dan Kusnanto menanyakan ke Dinas Pengelola Keuangan Daerah (DPKD)


Kota Serang, mereka mendapat penjelasan dari pejabat DPKD bahwa saat ini sedang
masa transisi dan Kota Serang sedang membutuhkan anggaran.
Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendataan DPKD Kota Serang Rachmatullah
menjelaskan, sesuai dengan Perda No 15 Tahun 2008 tentang Pajak Retoran, pajak
restoran sebesar 10 persen dari omzet. Yang dimaksud restoran adalah kantin, warung
makan, atau kafe. Idealnya, menurut dia, para pengusaha restoran menghitung,
melaporkan, serta membayarkannya. Tapi pada kenyataannya, ada juga beberapa
pengusaha yang membandel tak melaporkan omzet dan nilai pajaknya.
“Kalau sudah seperti itu, omzet akan ditetapkan sesuai jabatan,” ujarnya. Setiap
restoran ditenggat hingga tanggal 15 setiap bulannya untuk melaporkan omzet serta
besaran pajak. Apabila hingga tanggal 15 tak ada laporan, Pemkot akan membuat
besaran pajak restoran tersebut dengan 3 cara penetapan, yakni hasil kas opname,
hasil pengamatan langsung di lokasi usaha wajib pajak, serta data pembanding.
Diungkapkan, ada sejumlah restoran yang besaran pajaknya harus dihitung DPKD.
“Oleh karena itu, kami meminta kesadaran dari para pengusaha restoran untuk
melaporkan,” pinta Rachmatullah. Terkait besaran pajak yang berubah, ia
menjelaskan, besaran pajak setiap restoran tiap bulannya fluktuatif disesuaikan
dengan omzet.

7
Kepala Bidang Pendapatan DPKD Kota Serang Ahmad Yani mengatakan, para
pengusaha telah masuk menjadi wajib pajak bukan wajib pungut, sehingga mereka
mempunyai tiga kewajiban, yakni menghitung, melapor, serta menyetorkan.
“Memang secara langsung mereka tak merasakan manfaatnya, tetapi masyarakat luas
yang tidak mampu. Dengan adanya pajak, maka pemerintah dapat memberikan
subsidi bagi masyarakat,” ujarnya.

Kata dia, tak ada salahnya apabila harga makanan ditambah pajak seperti restoran
yang mencantumkan pajak pada bill. “Kan tak ada bedanya, antara Rp 11.000 ,
misalnya dengan Rp 10.000 ribu plus pajak 10 persen,” terang Yani.
Untuk itu, ia berharap kepada para wajib pajak mempunyai kesadaran untuk
melaporkan, bukan DPKD yang menetapkan pajak sesuai jabatan. Yani
mengungkapkan, pihaknya telah membuat banner atau alat peraga sosialisasi pajak
restoran.

Terpisah, Kepala Bagian Hukum Pemkot Serang Ipiyanto mengungkapkan,


sosialisasi perwal serta perda tentang pajak restoran memang belum dilakukan kepada
wajib pajak. Dikatakan, alasan utama belum disosialisasikan kedua peraturan itu
yakni karena belum adanya anggaran. Kata dia, setelah anggaran turun, maka kedua
peraturan tersebut akan disosialisasikan langsung tatap muka dengan para pengusaha
dan masyarakat, serta melakukan sosialisasi baik itu melalui koran atau radio.
“Sebenarnya para pengusaha tak perlu cemas membayar pajak, karena pajak tersebut
dibebankan kepada masyarakat yang membeli makanan,” urai Ipiyanto.
Sebelum anggaran turun, pihaknya akan bekerjasama dengan Satpol PP serta DPKD
untuk memasang iklan layanan masyarakat di papan reklame yang belum terpakai
untuk sosialisasi.

8
BAB III
PEMBAHASAN

PAJAK HOTEL DAN RESTORAN ( Perda No.9 Th 1998 )


A. Pengertian
Restoran adalah tempat menyantap makanan atau minuman yang disediakan
dengan pungutan bayaran, tidak termasuk usaha jasa boga atau katering.

B. Objek Pajak
Pajak Hotel dan Restoran dipungut atas pembayaran pelayanan di Hotel atau
Restoran.
Objek Pajak hotel dan Restoran adalah pelayanan yang disediakan dengan
pembayaran pelayanan di Hotel dan atau Restoran meliputi :
1. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek.
2. Fasilitas pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau
tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan
kenyamanan.
3. Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel dan
bukan untuk umum
4. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.
5. Penjualan makanan dan minuman ditempat yang disertai dengan fasilitas
penyantapannya, termasuk yang di bawa pulang.
A. Subjek Pajak
Subyek Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran
kepada Restoran .
B. Persyaratan Pembayaran Bulanan/Setoran Masa Pajak hotel dan Restoran :
1. Mengisi formulir Surat Setoran pajak Daerah ( SSPD )
2. Mengisi formulir Surat Pemberitahuan Pajak Daerah ( SPTPD ) bulan....
tahun...
3. Wajib Pajak membayar Pajak Hotel dan Restoran ke Kas Daerah.
4. Melaporkan ke Kantor Suku Dinas Pendapatan Daerah yang bersangkutan
pada seksi penagihan dengan melampirkan bukti penerimaan bulanan.

9
A. Tarif Pajak
Tarif pajak hotel dan restoran ditetapkan sebesar 10 %.

B. Cara Menghitung Pajak


Pajak Hotel dan Restoran dihitung dengan mengalikan tarif pajak 10% dengan dasar
pengenaan pajak
C. Wajib Daftar Usaha
Wajib pajak wajib mendaftarkan usahamya kepada Dinas Pendapatan Daerah dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 30 hari sebelum dimulainya kegiatan usaha untuk
dikukuhkan dan diberi Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD)
D. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD)
• Setiap wajib pajak wajib mengisi SPTPD, kecuali ditetapkan lain oleh
Gubernur Kepala Daerah
• SPTPD diisi dengan benar, jelas dan lengkap serta ditanda tangani wajib pajak
atau kuasanya.
• SPTPD harus disampaikan kepada Dinas Pendapatan Daerah selambat-
lambatnya 15 hari setelah berakhirnya masa pajak.
A. Pembayaran Pajak
• Pajak yang terutang harus dilunasi selambat-lambatnya tanggal 15 bulan
berikutnya dari masa pajak.
• Pembayaran dilakukan pada Kantor Kas Daerah.
A. Sanksi Administrasi
Dalam jangka waktu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak, Gubernur Kepala
Daerah dapat menerbitkan:

A. Surat Ketetapan pajak Daerah Kurang Bayar ( SKPDK ) dengan sanksi


administrasi berupa bunga 2 % sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau
lambat dibayar untuk paling lama 24 bulan sejak terutangnya pajak, apabila :

10
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak terutang,
tidak atau kurang
dibayar
2. SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu 15 hari setelah
berakhirnya masa pajak dan setelah ditegur secara tertulis.

B. SKPDKB secara jabatan dengan dikenakan sanksi administrasi berupa


kenaikan sebesar 25% dari pokok pajak ditambah bunga 2% sebulan, dihitung
dari pajak yang kurang dibayar atau terlambat dibayar untuk paling lama 24
bulan sejak saat terutangnya pajak, apabila : kewajiban mengisi SPTPD tidak
dipenuhi.

C. SKPDKBT apabila ditemukan data baru dan atau datayang semula belum
terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang
dengan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% dari jumlah
kekurangan pajak tersebut.

A. Sistem Pajak Restoran :


Self assessment atau wajib pajak wajib menghitung, melaporkan dan
membayar pajak yang terutang sendiri.

B. Kasus Pajak
Masih Ada Restoran yang akan Disegel
Jakarta–Menyusul penyegelan enam restoran karena menunggak pajak Rp 3,4
miliar, Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jakarta mengisyaratkan
kemungkinan masih adanya restoran lain yang akan disegel dalam waktu
dekat.
“Kemungkinan ada restoran lain yang akan menyusul disegel,” kata Kepala
Subdinas Pemeriksaan Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jakarta Iwan
Djumhana di Jakarta, Kamis (20/11) siang.

Hanya saja, katanya, pihaknya masih dalam tahap pendataan dan penelitian.
“Pada saatnya, kalau ada yang harus disegel, akan dilaksanakan dan
disampaikan secara terbuka,” katanya.

11
Dia mengungkapkan, enam restoran disegel karena menunggak pajak Rp 3,4
miliar. Tragisnya lagi, izin usaha restoran tersebut sudah dua tahun tidak
diperpanjang dan Undang-undang Gangguan (UUG) sudah habis masa
berlakunya.
Iwan menyebutkan, enam restoran yang merupakan kelompok Gang-gang
Sulai yang disegel itu berlokasi di Tis Square MT Haryono Jakarta Selatan,
Pondok Indah Plaza I Jakarta Selatan, Auto Mall SCBD Sudirman Jakarta
Selatan, Jalan Cideng Timur 65 Jakarta Pusat, Mangga Dua Square Jakarta
Pusat, dan La Piazza Kelapa Gading Jakarta Utara.
Menurutnya, selama ini berbagai upaya dan usaha sudah dilakukan sesuai
dengan ketentuan. Bahkan, penagihan tunggakan pajak melalui kejaksaan pun
sia-sia. Langkah yang sudah dilakukan tidak memberikan hasil dan yang
bersangkutan tetap tidak membayar tunggakan sehingga akhirnya disegel.
Secara keseluruhan, tunggakan keenam restoran itu berjumlah Rp 3,4 miliar,
terdiri dari tunggakan tahun 2004 dan 2005 sebesar Rp 1,2 miliar, serta tahun
2007 dan 2008 sekitar Rp 2,2 miliar. Alasan yang dikemukakan pemilik usaha
adalah tidak mempunyai uang. Padahal, usaha bisa jalan terus.
Ketika dilakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata serta Dinas
Ketenteraman dan Ketertiban (Tramtib) Jakarta, ternyata izin usaha keenam
restoran itu telah mati selama dua tahun dan belum diperpanjang. Begitu juga
dengan izin UUG.

Tunggakan pajak tidak dibayar. Selain itu, izin usaha yang sudah habis tidak
diperpanjang sehingga tidak ada pilihan lain selain disegel,'' kata Iwan.
Ketika akan disegel, pemilik mulai membayar hampir Rp 1 miliar. Meski
demikian, tidak membuat rencana segel dibatalkan atau tidak dilaksanakan. Segel
jalan terus dan di lapangan terlaksana dengan baik tanpa ada hambatan.

Ada beberapa pemahaman dasar, mengapa Bisnis Restoran biasanya gagal.


Dibawah ini hanyalah sebagian kecilnya :

12
- Ketidakmampuan beradaptasi terhadap Perubahan dan mengoptimalkan Peluang
serta Persaingan

- Kurangnya Pengalaman

- Kurangnya Pengetahuan akan Bisnis Makanan dan Manajemen Operasional

- Kurangnya Pemahaman akan diri sendiri dan dan orang lain, kesulitan-kesulitan
hubungan kerja, jiwa kepemimpinan dan Kemampuan Interpersonal yang sangat
diperlukan dalam pekerjaan.

Bisnis Restoran selalu berubah, kompleks dan bukan tidak mungkin bisa
“memakan” dan mengalahkan banyak pendatang baru yang tidak siap secara tak
terduga. Banyak perusahaan makanan pendatang baru yang mencoba bergelut di
bidang ini gagal dalam tahun pertamanya.

Seperti yang diwartakan sebelumnya bahwa setiap penyedia jasa makanan yang
memungut biaya jasa dari konsumen, bakal dikenakan pajak restoran. Tarifnya sebesar
10 persen, sebagaimana diatur dalam peraturan daerah (Perda) nomor 3 Tahun 2003.
Dasar pemungutan pajak adalah jumlah yang dibayarkan kepada restoran atau omzet
penjualan.
Namun terkadang, banyak pengusaha rumah makan yang salah pengertian dalam
pembayaran pajaknya. Kerap terjadi, jumlah pembayaran yang diterima dari
konsumen terlebih dahulu dikurangi biaya operasional, setelah itu baru dikenakan
pajak. Menurut Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Balikpapan Drs Fauzi,
yang seperti itu tidak sesuai dengan aturan Perda, karena tarif sebesar 10 persen itu
dasar pengaliannya merujuk jumlah yang dibayarkan konsumen tanpa ada potongan.
Misalkan, kata Fauzi, konsumen menyantap makanan di suatu rumah makan
dengan rincian : nasi putih Rp 2.000, ayam penyet Rp 15.000, jeruk hangat Rp

13
5.000. Jumlahnya Rp 22.000. Nah, pajak restorannya berarti 10 persen dari Rp
22.000, yakni Rp 2.200. Jadi konsumen yang kena beban pajak restoran itu harus
membayar Rp 24.200. “Yang Rp 2.200 tadi yang harus disetorkan ke Dispenda
sebagai kas daerah,” jelas Fauzi, kemarin.
Karena itu, Fauzi berharap, untuk penetapan pajak secara taksasi dan penetapan
pajak secara jabatan, maka sebaiknya pengusaha restoran sebagai wajib pajak
memasukkan komponen pajak sebesar 10 persen dalam menetapkan harga makanan
atau minumannya. Dengan demikian, pajak tidak menjadi beban, karena sesuai Perda
pajak tersebut dibebankan ke konsumen.

BAB IV

PENUTUP

IV. I Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan pada makalah kami


dapat kami simpulkan,bahwa pajak restoran memiliki tarif pajak 10% yang subjek
pajaknya terdiri dari orang pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran
kepada Restoran wajib membayar pajak. Apabila subjek pajak tidak membayar
pajak akan dikenakan sanksi administrasi dan sanksi pidana sesuai Undang-
Undang pajak dalam restoran. Pajak restoran sebagai sumber penerimaan Negara
untuk menerima pengeluaran rutin dan juga digunakan untuk pembiayaan
pembangunan. Berarti, dengan pembangunan ini dibiayai masyarakat. Oleh

14
karena itulah upaya untuk meningkatkan penerimaan Negara dari sektor pajak
sangatlah penting.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com/aspek pajak dalam bisnis/

http://www.dispendabalikpapan.com/

http://www.wikipedia.com/

http://www.google.com/sistem pemungutan pajak/

http://www.google.com/kasus pajak restoran/

15
16