P. 1
E-Book Puisi Lingkungan KALSEL

E-Book Puisi Lingkungan KALSEL

|Views: 822|Likes:
Dipublikasikan oleh Dwitho Frasetiandy
Kumpulan Puisi-puisi Peduli Lingkungan Sastrawan Kalsel
Kumpulan Puisi-puisi Peduli Lingkungan Sastrawan Kalsel

More info:

Published by: Dwitho Frasetiandy on Jun 01, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

Sections

MENGHIJAUKAN KATA-KATA BERSAMA SASTRA MENGHIJAUKAN DAERAH KITA DALAM KARYA NYATA BERSAMA KITA LINDUNGI DAN

GALAKKAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN HIDUP

DAFTAR ISI Sajak-sajak Kepedulian Lingkungan
01. A.Rahman Al Hakim (ARAska) - Musim Alam Terzholim Tangisan Waktu - Prasasti Kehancuran Alam - Tubuh Alam Tercabik 02. Abdurrahman El Husaini - Negeri Asap dan Kini Aku adalah Lelakimu - Menunggu Hujan Tumpah dalam Puisiku 03. Adjim Arijadi - Kayu-kayuku Hutan-hutanku - Arus Barito - Balada Arutmin di Yaumil Akhir 04. Ahmad fitriadi F - Lelaki 05. Ajamuddin Tifani - Requiem Meratus - Madah Meratus - Nyanyian Hutan 06. Ali Syamsudin Arsi - Sebamban – Batulicin - Di Mata Kita Ada Asap - Dendam Hutan - Sebab Aku Bukan Orang Bukit 07. Andi Jamaluddin AR. AK - Bagaimana Aku Bisa Membaca 08. Antung Kusairi - Kenapa Banjir Melanda 09. Aria Patrajaya - Hutan Kemarau. 10. Arsyad Indradi - Etam Sayang Gunung - Dundang Duka Seribu Burung - Tafakur Memandang Waduk Riam Kanan. 11. Bakhtiar Sanderta - Meratus, Warisan yang Tersisa - Mantera Terakhir 12. Burhanuddin Soebely - Konser Kecemasan - Megatruh. 13. Dwi Putri Ananda - Bumi Menggerutu. 14. D. Zauhidhie - Hutan - Orang Gunung 15. East Star from Asia - Sajak Orang Pedalaman 16. Eddy Wahyuddin SP - Diorama Bukit Malaris . 17. Eko Suryadi WS - Meratus Berduka - Pesta Sebuah Jalan Bebas Waktu Sepanjang 46 Kilometer - Dendam Sungai - Stasiun Waktu Kilometer Lima puluh lima 18. Eza Thabry Husano - Turai Hunjuran Meratus - Siklus - Meratus Rumah Kita 19. Fitryani - Sajak di Atas Rakit 20. H. Muhammad - Sebatung Menangis 21. Hajriansyah - Gunung-gunung Pergi Jauh - Pekerjaan Memindah Gunung 22. Hamami Adaby - Bumi Semakin Panas - Aku Menulis 23. Hardiansyah Asmail - Malam Malaris - Meratus Berduka - Ritus Meratus - Cerita dari Hulu Sungai 24. Harie Insani Putra - Kemusnahan Peradaban Bukit 25. Hijaz Yamani - Dalam Pesawat - Riwayat 1 26. Ibramsyah Amandit - Jembatan Asap - Meratus Bertutur 27. Imraatul Zannah - Perawanku Telah Pergi - Oh, Pedih Nian ... 28. Isuur Loeweng S - Ke mana Harus Kami Tanam - Ibu, Sebenarnya Hutan Ini Milik Siapa? 29. Jamal T. Suryanata - Surat dari Kota - Menangisi Airmatamu 30. Lisa Yuliani - Meratus 31. Maman S. Tawie - Di Lembah Meratus - Dari Balunan ke Lembah Mantar 32. Micky Hidayat - Hutan di Mataku - Reportase dari Kaki Pegunungan Meratus - Kalimantan Selatan 2030 Kemudian

33. M. Nahdiansyah Abdi - Tinggal Bersama Maniak - Tongkang Emas Hitam 34. M. Rifani Djamhari - Jurnal Kecil tentang Perjalanan di Hutan Meratus 35. M.S. Sailillah - Hutan Surgawi yang Luka - Wajah Telanjang 36. M. Syarkawi Mar’ie - Hutan 37. Mudjahidin S - Hanya Cermin 38. Muhammad Radi - Sajak tentang Sungai 39. Nailiya Nikmah - Pada Sebuah Forum - Rindu Peri 40. Noor Aini Cahya Khairani - Vignet Kalimantan - Sektor di Luar Statistik 41. Rahmatiah - Air mata yang Hilang - Pagi yang Menangis. 42. Rahmiyati - Apa yang Masih Tersisa dari Rindu yang Lelah? - Kepada Hijau yang Menangis

43. Roeck Syamsuri Saberi - Nyanyian Hutan Larangan - Raja gundul 44. Roestam Effendi Karel - Siapakah Lagi yang Peduli 45. Sahdi Anak Amid - Hutan Bertutur 46. Sainul Hermawan - Saat Hujan Bertemu Pasang - Rumahku Rawaku 47. Sandi Firly - Sajak Sebatang Pohon Karet - Yang Bertahan dan Melawan 48. Shah Kalana Al-Haji - Risau Rimba Sunyi 49. Syafiqotul Macmudah - Nyanyian Bisu sang Bumi - Sebungkus Cerita untuk Bumiku dan Bumimu 50. S. Surya - Sajak Burung-burung Negeriku 51. Taufiq Ht - Selepas dari Hutan 52. Yuniar M. Ary - Balada Banjarbaru - Mega Putih - Waduk Riam Kanan 53. Y.S. Agus Suseno - Suara Tanah Air dan Udara - Kuala - Air Mata Rimba

A.Rahman Al Hakim

Musim Alam Terzholim Tangisan Waktu
Bila musim telah semusim jerih angin lirih merintih perih Derai air mata hujan suram genangi daratan raya tenggelam yang kosong dari kehidupan alam keragaman buram kelam Gunung-gunung sambut pilu sendu Gundah luapkan lahar jiwa jiwa resah ngilu Abu pekat kelam selimuti hati yang buram hancur Semburan keruh lumpur longsor mengubur Luluh lantak harapan retak Amarah serak teriakan sesak Luka alam timbun sapu segala yang bernyawa geliat bumi lantakkan mahligai manusia nelangsa badai banjir menerpa teriakan pekik kematian bagai dalam neraka Hilangnya kerimbunan flora Hilangnya canda fauna Kala kering kemarau kerontang meranggas kehijauan tercabik membentang api bakar alam amarah keserakahan yang terpampang Bila musim tiba semusim hilang harapan masa depan rahim angan indah kenangan alam lalu menjadi dongeng saksi bisu Oleh nafsu pengumpul harta dunia Oleh keserakahan tamak dunia Melupakan generasi Sisakan alam kerak basi Bila musim jelang semusim Hati pilu alam terzhalim

ARAska-Banjarbaru, 12 Februari 2006

A.Rahman Al Hakim

Tubuh Alam Tercabik
Paru-paru kian sesak retak tiris O2 kian menipis miris Udara ini penuh polusi Oleh-oleh dari ambisi Kerongkongan-kerongkongan kering H2O menjadi asing Air keruh teracuni Hasil olah limbah indrustri Perut-perut melilit lapar terkapar aus Ladang-ladang layu tanah kurus tak terurus Kesuburan tak lagi alami Pupuk kimia racuni bumi Manusia yang katanya berbudi Dan punya hati Mana terima kasihmu Untuk alammu Tiap detik apa yang kau hirup raup pernafasan Hasil fotosintesis nafas kehidupan Dari pepohonan hingga rerumputan Tapi kini Kau cekik lehermu sendiri Dengan hancurkan rimbunan kehijauan Gali tambang tambang lubang kuburan Tebar bisa di sungai dan lautan Produk industri limbah kematian Nasib petani di nista Pikul dosa tuan berdasi di belakang meja Yang tetap kenyang Kala rakyat meradang Telah robek paru-paruku Bersama denyut nadiku Tubuh alam tercabik ngilu Kerindangan yang telah berlalu

ARAska-Banjarmasin, 10 Juli 2006

A.Rahman Al Hakim

Prasasti Kehancuran Alam
Dari alam kita peroleh hidup kehidupan dari alam kita peroleh kebutuhan dari alam kita mendapat makanan dan energi setiap hari atmosfer daratan perairan menyediakan bahan penunjang bagi kehidupan makhluk di bumi agar tak lekang tidak untuk sesaat kandas tapi selama masih bernafas selama kita jaga kelestarian dan keserasian alam namun kebodohan dari keserakahan tiada lagi peduli akan alam Lihatlah tumbuh tumbuhan dihalaman cita ayam dan kucing yang dipelihara burung yang berterbangan dari pohon ke pohon dan bernyanyi di waktu pagi memohon serangga yang suaranya melengking jengkrik yang bersenandung di waktu malam bising katak yang bernyanyi simponi alam raya cengkrama satwa di padang savana canda fauna di rimba belantara ikan yang berenang di kolam rasa geliat buaya di rawa penantian masa jua sungai dan lautan jiwa cacing yang hidup dalam tanah hati dan jamur yang tumbuh di kayu kayu mati semuanya di bumi ini serasi dan seimbang harmoni harmonis kestabilan ekosistem dalam kelestarian sampai sistem tuan ciptakan pemusnahan alasan pembangunan untuk isi anggaran kantong tuan cicil bunga hutang untuk gaji tuan dan kami rumput rumput kecil kian terpencil dibiarkan menguning di tanah tanah kian gersang kering meradang Ketakseimbangan komponen komponen lingkungan campur tangan manusia keserakahan eksploitasi berlebihan menuai panen banjir kehancuran angin ribut kemarau kebakaran jaring-jaring makanan terputus habitat komonitas populasi kian pupus tanah air udara suhu iklim gravitasi gurun hutan hujan hutan tropis hutan gugur hutan rimba kini tiada lagi dapat beradaptasi air hujan tak lagi lembutkan kulit bumi akar serapan telah tercerabut mati hujan asam dan pencemaran udara sesakkan dada

cemari air racuni tumbuhan cemari air racuni kehidupan Berkurangnya lapisan ozon di langit biru panas muka bumi kian sembilu kekebalan manusia dan hewan terganggu kangker kulit sudah menunggu inilah hasil rumah kaca negeri industri hasil transportasi kita setiap hari hasil limbah yang di buang tanpa hati nurani Kelestarian keanekaragaman hayati diambang kepunahan flora dan fauna menanti kehancuran anggrek yang indah pun akan menghilang tinggal kenangan pembukaan lahan pemanenan hasil hutan serampangan penambangan pembangunan perumahan pengaspalan jalan di daerah terpencil di sana oleh rancangan yang tiada terencana ekosistem yang bersambung menjadi terputus rasa tumbuhan dan hewan terisolir dalam suatu wilayah lara inilah awal mula kerusakan yang kini kian parah berdarah bila jenis punah tinggallah kisah hubungan rumit antar jenis ikatan biologi dan perilaku – terpisah bahkan proses proses daur air dan zat hara yang menghubungkan tiap ekositem dengan proses kimia dan geologi akan terpengaruh jengah terperangah tanah yang tak subur sakit merangsang berjangkitnya serangan hama penyakit dan hati kami yang sakit Perompak perompak alam pelaku industri berjaya Penggundulan dan perusakan hutan semaunya hutan yang kian lenyap merana boldoser dan truk truk raksasa jarah harta pusaka untuk pesta tuan tuan berdasi di kursi singgasana sadarlah ! kami rumput rumput kering merintih minta langit beri keadilan lingkungan tersisih sadarlah ! jangan sisakan alam yang telah kurus pada kami generasi penerus sadarlah ! bila suatu hutan telah digunduli mungkin 150 tahun sampai dengan 1000 tahun lagi kerimbunan mungkin baru akan muncul kembali tapi kami tiada hidup selama ini karena tuan tuan telah siapkan lubang lubang kubur yang menganga di atas bukit dan gunung gunung yang dulunya subur hanya untuk tambang tambang nafsu perut tuan yang takabur lubang kubur untuk kami pergi berlibur di taman taman longsor pesta air bah hidangan lumpur bubur sadarlah !

bila kita menzholim alam di sayat-sayat alam akan membalas dengan qisas yang lebih dasyat dan tuan tuan yang terhormat tersenyum selamat dibelakang meja kekuasaan sementara kami pikul bencana warisan penderitaan sadarlah ! Pohon pinus terakhir yang kian menguning daun-daunnya berjatuhan meratapi bumi hening batang yang tumbang dan rebah di atas tanah kering yang kian menjadi padang gersang asing badak terakhir akan tampak jelas hidup menyendiri merana tiada lagi pasangan birahi nun jauh di samudera satwa laut hilang di bawa ombak prahara tanpa diketahui tiada lagi dapat di sua dan laut akan selalu nampak menggunung gelombangnya sembunyikan kegetiran kepunahan hidupnya dan kami rumput kering mati serta generasi yang peduli meranggas hati karena tuan telah mengukir prasasti kehancuran alam nasib bumi yang kian kelam
ARAska-Banjarmasin, 9 Juli 2006

A.Rahman Al Hakim (ARAska) lahir di Sei.Namang, kab.HSU, pada 1 Agustus. Penyair, pelatih & pemain teater, seni gambar dan kriya, instruktur & aktivis jurnalistik mahasiswa, BEM-DLM-Himpunan dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat dalam ruang lingkup Lingkungan dan Soial, serta pelatih seni bela diri. ARAska ini pernah menimba pengetahuan di Pondok Pesantren Darussalam Mtp dan juga salah satu mahasiswa jurusan Sosek.Pert.Fakultas Pertanian Univ.Achmad Yani Bjb. Ia juga Menulis sajak, cerpen, esai: sastra – kebudayaan – lingkungan hidup, yang dipublikasikan di beberapa media cetak, serta menulis naskah teater/ drama dan lagu banjar. Sajak-sajaknya terbit dalam kumpulan sajak bersama Sastrawan/i Kalsel : Naskah Puisi (2006), Taman Banjarbaru (2006), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab (2006), dalam buku “kitab kecil awal Hikayat Shahifah – R0H” (2007), Ziarah Pelangi Balangan Menari (2008), dan Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (2008), Do’a Pelangi Di Tahun Emas (2009). Aktif dalam pengajaran seni budaya dibeberapa sekolah, salah satu pencetus komunitas Front Budaya Godong Kelor Indonesia, serta bergiat pula dalam pengkaderan generasi muda seni di Komunitas Apresiasi Studi Seni Budaya Sosial dan Sastra (Art Partner). Serta mengisi program siaran Lanting Banjar di salah satu Radio FM di Bjm. ARAska saat ini berdomisili di Bjm. Hp.05117722990 email: araska.katalangit@yahoo.com, facebook: araska.kalsel@yahoo.com, web; http://artpartner.blogspot.com, http://araska-araskata.blogspot.com, http://araska-araskata.hi5.com.

Abdurrahman El Husaini

Negeri Asap dan Kini Aku adalah Lelakimu
Matahari pasi di cakrawala Bercerita tentang sebuah negeri asap Yang membuat hujan buatan dari butiran-butiran Air mata anak cucu kami Matahari pingsan di cakrawala Bercerita tentang sebuah negeri asap Yang dicibiri negara-negara tetangga Matahari sekarat di cakrawala Bercerita tentang sebuah negeri asap Yang menyewa pesawat asing Dari cucuran keringat anak cucu negeri ini Hanya untuk mengusir kabut Matahari beku di cakrawala Bercerita tentang sebuah negeri asap Yang tak mampu mengusir asap Matahari lenyap di cakrawala Bernyanyi tentang negeri asap Yang menambah derita anak cucu kami Dan kini aku adalah lelakimu Yang kalian bunuh pada setiap kemarau Yang jasadnya menjadi patung kebencian di negeri tetangga

Abdurrahman El Husaini

Menunggu Hujan Tumpah dalam Puisiku
Begitulah kutelusuri jejak-jejak asap Di lahan-lahan gambut membara Di hutan-hutan ilalang berkelelatu Kemarau semakin betah Hujan semakin sombong Pada wajah bunda borneo yang penuh koreng malu hujanMu aku tak pernah lelah menunggumu tumpah dalam puisiku

Abdurrahman El Husaini (Puruk Cahu, Kalteng, 1 Januari 1965). Aktivis di komunitas sastra Forum Taman Hati Banjarbaru ini sekarang menjadi pengajar di SMA Negeri 1 Martapura. Sajak-sajaknya terdapat dalam antologi bersama, di antaranya Taman Banjarbaru (2006) dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006).

Adjim Arijadi

Kayu-kayuku Hutan-hutanku
Kayu-kayu meranti hutanku hutan hijau pesona tanah tenteram atap dedaunannya, merindangi lantai-lantainya beribu satwa, beribu puspa langka Kayuku kayu meranti dengar, di tiap tiup angin musim ia bernyanyi kekayaan yang limpah berseru padaku terbaca dari surat-surat wenang nini-datu Ada yang hangat mengalir dalam darahku saat kuberi kau salam dari ketinggian ini bergemulung riang kau datang padaku belederu hijau yang terhampar hingga ke kaki langit wilayah ini Kayuku kayu meranti burung tingang membuka gerbang pagi pendulang emas di hulu menderaikan pantun dendang penoreh karet terbit mengalun Lalu datang tahun-tahun yang menghumbalangkanmu gelegar gigir cakar keserakahan mencerabuti akar pijakmu ada sungai yang meluapkan air mata membanjiri tiap-tiap hati, tiap-tiap dada Lalu tongkang-tongkang seperti memuat budak-budak dipasung dilayarkan ke seberang sana adakah kita sama larut dan hanyut ke muara setelah Barito, laut menganga mengaut mangsa

Banjarmasin, 1994

____________
Tingang = Burung Enggang. Menurut kepercayaan kaharingan, burung ini adalah “Burung Dewa”, burung “alam atas”, seperti “Phoenix”.

Adjim Arijadi

Arus Barito
beratus petani buah dan sayuran menggeser sebeng kecemasan jukungnya menyinggahkan kelelahan kapal kelotoknya dari perjalanan panjang: Tamban – Marabahan tapi lintas Kuwin tertebat rakit batang meranti di arus lasak sungai Barito ini bila jukung-jukungmu sudah menepi dan pengayuh jadi tonggak penambat di air dangkal kudengar lagi ayun apan dan kucium harum asap tanakan nasi karang-dukuh tapi tercemar tuba menayang harapan adalah air saksikanlah bianglala karbon dioksida dan bebauan kasturi sia-sia menggoda bekantan tua burung-burung sarindit terbakar lidahnya mencecap air Barito yang cemar dan asap hitam kapal-kapal hitam pabrik-pabrik hitam petrodollar di hilir di hulu menebar sampar angin mengucurkan hujan asam sianida menyempurnakan derita; suara kintung dan kurung-kurung bagai rintihan; angin membawa angkara ke mana-mana menerpa lanting dan rumah beranjung para raja air sawah digenangi tahi minyak dan obat pengawet kayu hutan gilas-rencah pengaplingan keserakahan oleh tangan-tangan kekuasaan yang sia-sia disembunyikan dari pandang dunia; kita ini cuma anak angkat dari beribu kesempatan yang diluangkan kekuasaan ah Barito, menangislah ke pangkuan penyair saja atau diamlah, ada cerita bagus tentangmu di televisi siang ini

Banjarmasin, 1994

Adjim Arijadi

Balada Arutmin di Yaumil Akhir
Arutmin oh Arutmin Liang kubur kesengsaraan Kau tatah emas sepuhan semegah masjid, gereja, madrasah kemanusiaan dan jembatan aspal jalanan iming-iming boneka mainan industri usaha di sebatas liang kuburan Satui Kintap Mulia Batulicin Asam-asam Semenanjung Senakin Liang kuburmu Liang tambangmu sungguh elok Tongkang-tongkang berkemampuan teknologi canggih meraup mengangkut emas hitam penghuni hutan menumpuk menggunung di Pulau Laut di Utara sana Arutmin oh Arutmin kau angkut pusaka karun nini datu turunan dikemas dipajang di pasaran seantero bumi North Pulau Laut Coal Terminal Keren dan Wangi semerbak cendana orang mati Ketika puisi datang menghiba Menata kata setandan dandanan Berderai air mata membasahi hati sakit karena emas hitamnya menularkan penyakit Arutmin oh Arutmin Riwayatmu di awal perjanjian Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Mengibarkan panji-panji Republik ini Bertepuk dada pongah dengan apa yang kau sebut Mutu Kalori Tinggi katanya kandungan Abu Rendah tak ada lawan dongak dagu Akulah Indonesia Ledakan bom pemecah bebatuan

Alat berat mesin pengeruk Pemberai lapisan ampas tak berguna Lampu-lampu surgawi menyerusup menularkan penyakit paru-paru berdebu ke jantung kehidupan lingkungan Supremasi danau buatan dan taman oh indahnya air yang tak pernah kering demi kemarau Arutmin oh Arutmin dendangmu di irama sarunai kematian kau ancam kehidupan anak cucu Adam Banua kedahsyatanmu tak sedahsyat Tuhan kau ciptakan sendiri hari akhir zaman.

Banjarmasin, 7 Juli 2000

Adjim Arijadi (Kabupaten Banjar, 7 Juli 1940). Penyair, dramawan, sutradara, penulis naskah teater, film dan sinetron ini adalah pendiri sekaligus pimpinan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan yang masih eksis hingga kini sejak didirikan tahun 1970-an. Sajaknya terdapat dalam sejumlah antologi bersama, seperti Air Bah (1970), Jabat Hati (1973), Jejak Berlari (1974), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006).

Ahmad Fitriadi F

Lelaki
Lelaki itu menuju puncak gunung batu ditikamnya rembulan dipadamkannya matahari dibungkamnya halilintar maka bagi dia ada pesta suka-cita Dihirupnya air laut di lidah rasa manis, manis hei, air laut di sini rasa manis Dilahapnya akar, batang, ranting, dan pucuk hijau pepohonan di badan rasa segar, tubuh jadi subur subur hei, pepohonan di sini sangat subur Dibongkarnya isi bumi, ditelannya bebatuan, walau menetes darah tapi di nafsu terasa nikmat nikmat hei, batu di sini sangat nikmat Lalu, para pemuja menyuguhkan persembahan eksotik tari telanjang, tetabuhan hingar-bingar, lagu puja-puja menggeliat dalam aroma dan asap kabut warna abu-abu Eeei... yaho... yahoo tari telanjang, tetabuhan, lagu puja-puja semakin menggila disuguhkan Eeei... yaho... yahoo tari telanjang, tetabuhan, lagu puja-puja semakin membakar suasana pesta kemenangan Wahai saudaraku, Hari ini kemenanganku, kemenangan kita, kemenangan para leluhur, dedemit, hantu-hantu, dan para jin Puncak gunung batu telah kita taklukkan Rengkuhlah kenikmatan segera Para pemuja pun bergegas bertebaran, meraup, merampas, menggasak dan memangsa setiap jengkal kesempatan Tak ada sisa, semua sudah diberi tanda Lelaki itu berdiri di atas puncak gunung batu Rona wajahnya merah darah Air mata, isak-tangis, rintihan janda musuh dan anak-anak menggiringnya siapa peduli kemenangan sudah di telapak kaki Lelaki itu berdiri di atas puncak gunung batu Puas rasa, puas raga, puas angkara Puas kelaki-lakiannya

Kotabaru, Juni 2005

Ahmad fitriadi F (Kotabaru, 33 tahun silam). Sarjana Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan Magister Hukum Universitas Gajah Mada Yogjakarta ini sekarang bekerja di Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Sejumlah sajaknya terbit dalam kumpulan sajak bersama Jembatan (2000), Reportase (2004), Stasiun Waktu Kilometer 55 (2005), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006).

Ajamuddin Tifani

Requiem Meratus
Bagi Joko Pekik

dan engkau pun saksi atas terkelupasnya kerak bumi di meratus dan siapa yang menjadikan suka atas kesengsaraan ini, jeritan yang dikirim angin kemari ke rimba-rimba yang terusir hingga pamdang ke jauh sana, kaki langit membentang dari jejak riwayat dedaunan ke kerakusan, bagai mulut gurun yang tak habis dahaga, siapa pemilik sungai gila, reguklah kekuasaan atas airnya yang darah itu apa beda antara tangisan dan burung terakhir dan kau yang lelah ditebas dalam mimpi yang gundah? o, pipit yang bersarang di reranting awan-awan jangan meratap, tapi melawanlah hidup hanya sejari dari mati, fahamilah bebijian yang semedi dalam perjalanan menuju jadi di bawah waktu daun kering yang ikhlas, gugur melepas reranting luluh dengan roh tanah, meragi kehidupan baru, dan engkaulah pohon garing milik mula jadi dari hakikatnya burung tingang yang ditimang musim itu di kolam-kolam hatatai; ah, ibu bumi tempatnya menyusu, meratus namanya luasan tanah malai tanggungan elang raja kemala bagi mamang aruh, sasindin air mata di denting kuriding istana gading, ditujah oleh duri langgundi, di gantang emas di gantang intan, luluh ke hati, alahai... sibiran tulang, meratus yang senantiasa menatap langit dengan gigil yang sangat kasmaran dan harapan yang keterlaluan ketika kau disongsong mimpi buruk, lalu merajah waktu-waktumu hingga kau tak sempat membaca waktu, lalu kau terlempar hingga ke jazirah katulistiwa ini, hingga impian bercendawan o, ning hatala di langit pitu, meratus: titian doa dan harapan tiang langit tuju mahligai bambang siwara, libas mereka, pasung rohnya, kita tak berseloroh di hadapan kemanusiaan ini meratus, jenjang alam atas, tempatku moksa jandih dan bawuk, menata takdir semesta, muara sungai suara dan air mata pahlawan simpai delapan, berjaga di tiap sudut maka, jangan renggut meratus dari cinta dan kasih dicurahkan di siang di malam tak ada bendera putih dan merah hanya hitam dan kuning, tanda perlawanan akan menjadi abadi

Ajamuddin Tifani

Madah Meratus
salam kepada meratus, paku dan titian ke asal mula jadi semesta yang menjadi udara menjadi batu, menjadi angin, pepohonan dan humus tanah yang menurunkan kantuk dan tangis kepada anak yang memuai di delta-delta dan padang sabana yang jadi bianglala dan gugur dedaunan dicelupnya kawasan seluas-luas kasih, inilah tanah yang dijanjikan di padi yang menghampar permadani emas hingga ke kaki langit salam kepada meratus yang senantiasa hadir di warna darah kambang ilihi, di janur rumbia di sajian aruh banua di kelengkapan aruh banih ringan, di sasangga doa penggugah pintu alam atas tinggal hanya kepongahan penguasa yang ingin menjadi ning hatala seperti akhnaton dan amenhoteph, seperti hamnan dan qorun, peniadaan hak dan kewajiban atas keseimbangan pepohonan yang merimba dan bantuan tidak seperti itu ini cuma kebebasan manusia untuk memilih menghinakan sehina-hinanya diri yang tanah, yang debu tujuh harkat lebih rendah dari binatang... salam kepada meratus, yang menyimpan riwayat perjalanan dan burung-burung yang tertindas, yang sayapnya patah di sana-sini; nafas perih pada laskar, masih berdesir di dedaunan yang berjaga di empat sudut alam prasangka; makanya, jangan curangi tanah meratus yang segera (adalah cepat membakar kapas; ini lebih dari itu) menjadi bara, menjadi nyala tidak saja didamak sumpit roh ditebas tapi di jalan mudik dan labuh parangmaya salam bagimu meratus, lumbung emas-pangiri mercu penghabisan di tanjung yang lengang haribaan dendam, bersemedi larut dalam arus: meragi...!

Ajamuddin Tifani

Nyanyian Hutan
nyanyian kumandang sang matahari terkait di belukar mimpi gundah burung-burung pagi berlinangan di dedaun kering, burung terakhir itu bertanya kepada paku-paku “wahai, mana rimbaku?” reranting mencakari awang-awang, menagih musim hijau yang sudah pergi lama ke masa lampau pohon-pohon ditebas, kayu-kayu dimilirkan meniang malam, membenam hutan bukan kepada kelam kerakusan dititiskan, tapi pada kekuasaan yang tangannya sudah lama membesi o, paras satwa, paras hutan yang sesegera itu tak berupa lagi ke mana aku harus riwayatkan perjalanan keji dedaunan hutan hanyalah bangkai harapan yang direncah mesin-mesin peradaban tekukur kinantan ayam kinantan berkedip matanya si kunang-kunang terkubur hutan alahai hutan senyap rimbanya terkenang-kenang

Ajamuddin Tifani (Banjarmasin, 23 September 1951). Selain penyair juga dikenal sebagai pelukis dan dramawan. Sajak, cerpen, esai sastra dan budayanya dipublikasikan di berbagai media massa lokal dan nasional. Sajak-sajaknya terbit dalam sejumlah antologi bersama, seperti Air Bah (1970), Jabat Hati (1973), Jejak Berlari (1973), Panorama (1974), Busur Waktu (1974), Jembatan I (1975), Jembatan II (1975), Lalan (1975), Antologi Puisi ASEAN (1983), Kilau Zamrud Khatulistiwa (1984), Banjarmasin dalam Puisi (1987), Puisi Indonesia ’87 91987), Festival Puisi PPIA XIII (1992), Sahayun (1994), Jendela Tanah Air (1995), Mimbar Penyair Abad XXI (1996), dan Antologi Puisi Indonesia 1997 (1997). Antologi sajak tunggalnya yang telah terbit adalah Tanah Perjanjian (2005). Penyair ini meninggal dunia 6 Mei 2002.

A. Kusairi

Kenapa Banjir Melanda
Ketika banjir itu datang kita telah mengetahui kita pun menyadarinya Kita tahu ia bakal datang karena kita telah mengundangnya sejak lama; bertahun-tahun Jika banjir ibarat tanaman maka kita telah menyemainya sejak lama dipupuk, ditumbuhkembangkan Sebatang pohon kita tebang ribuan bibit banjir kita semai sebongkah gunung diruntuhkan bagi segumpal keserakahan berjuta riak banjir kita alirkan ke tanah-tanah leluhur tanah anak negeri tanah yang mengalirkan banjir itu sendiri Banjir bukan musuh kita ia adalah sahabat lama yang datang tiba-tiba karena kita lupa undangan itu telah lama terabaikan

2006

A. Kusairi (Rantau, 11 Januari 1959). Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Terbuka. Menulis sajak, cerpen, naskah drama, dan esai, sejak 1979. Sajaksajaknya terhimpun dalam antologi bersama Tamu Malam (1992), Wasi (1999), Jejak Sunyi Tsunami (2005), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006).

Ali Syamsudin Arsi

Sebamban – Batulicin
melewati batas-batas, persinggahan dan simpangan cakrawala dan kadang fatamorgana Batulicin suatu siang hari panas menyengat ubun-ubun tiang-tiang kapal membongkar muat bolak-balik laut-darat sebentar lagi kayu kita di hutan habis (tidak adakah yang menanam untuk gantinya?) melewati batas-batas cakrawala malam tadi penyihir mengubah bakau menjadi tambak udang yang lentik, udang yang cantik melewati batas-batas fatamorgana sambil berebut tanah untuk kuburan keluarga dari Sebamban melewati persinggahan dan simpangan Sungai Loban, Betung menjamur petak-petak tambak sampai ke penyeberangan, sementara di bukit-bukit hijau berubah coklat

Sebamban, September 1998

Ali Syamsudin Arsi

Di Mata Kita Ada Asap
sementara raung tak pernah membuka hati pada luka sedang luka selalu menjadi tumpuan amarah bunga dendam ranting pada cabang dendam cabang pada dahan dendam dahan pada batang dendam batang pada akar dendam akar pada daun dendam daun pada luka tersisa tunggul kayu di sela-sela daun ilalang bunga putih bergoyang diterpa angin ngilu hati dan langkah semakin jauh ke dalam gigil jantung dan berapa sudah memakan korban di mata kita ada asap dari gunung dari bukit dari hutan dari rimba belantara sementara raung tak pernah membuka hati pada luka sedang luka selalu menjadi tumpuan amarah bunga di mata kita ada asap dan kita tak pernah sadar ada sekawanan kijang lewat berkelebat hilang-lenyap dari tatap serta tangkap (tak lama lagi turunan dimakan dendam)

Sebamban, September 1999

Ali Syamsudin Arsi

Sebab Aku Bukan Orang Bukit
bila ada yang mempertanyakan siapa aku sebenarnya maka jawablah sebab dengan jawaban itu membuka mata dan pikiran siapa saja, sebab aku bukan orang bukit aku bukan orang yang tepat untuk melestarikan hening aku bukan aku bukan orang yang tepat untuk menjaga adat leluhur aku bukan aku bukan orang yang tepat untuk menjernihkan keruh aku bukan sebab dengan itu semua akan membuka mata dan pikiran siapa saja, sebab aku bukan orang bukit bila ada sesuatu yang harus dipertahankan tentang apa saja, segala sesuatu yang sudah ada, bahkan turun-temurun biasanya aku tidak akan pernah tahu dan memang tidak akan pernah mau tahu itu adalah urusanmu; siapa saja, sebab aku bukan orang bukit rotan mengecil dan terpencil damar tak ada lagi di ketiak dahan ulin hanya menyisakan nama-nama gedung dan jalan jejak kijang hilang disapu amarah sungai jantung unggas tercemar karena racun mesiu serat daging ikan tak lagi terasa manis gemeretak daun kering di ranting-ranting lapuk apabila harus ada yang menyusun kembali tulang-tulang masa silam agar peradaban mempunyai daya untuk bicara sebab dengan itu semua akan membuka mata dan pikiran siapa saja, sebab aku bukan orang bukit aku orang kiriman akulah yang membuat pasar di tengah hutan akulah yang meletakkan harga sebiji gunung dengan segala isinya bahkan kepadakulah semua tawaran akulah yang akan membangun istana di gelisahnya rumputan dan kerajaan tulang-belulang siapa saja, sebab aku bukan orang bukit dan aku orang kiriman, datang sebagai mesin

Ali Syamsudin Arsi

Dendam Hutan
Kata dendam adalah suara yang paling pantas sejak embun meleleh di ujung-ujung daun melintas sepi semoga cuaca tak pernah berubah dari prasangka dan marah memuncak di bukit-bukit alangkah nistanya langkah-langkah berlumut lembab walau setiap detak rimba tak pernah mengembalikan raungan malam ke bentuk semula sementara gemetar ranting gigil di tikungan antarbenua entah hanyut sampai di mana bersama perahu bahkan kapal-kapal berbendera asap sutera lagu-lagu dan tanah bebatuan lagu-lagu dan daun berguguran lagu-lagu dan kijang menghilang lagu-lagu dan awan retak di kejauhan Sebentar lagi ia datang (padahal akal kita tak mampu menjelang)

Sebamban, Juli 1999

Ali Syamsudin Arsi (Barabai, 5 Juni 1964). Pendidikan terakhir S1 Universitas Terbuka. Selain penyair dikenal juga sebagai aktivis teater, dan pernah bergabung di Teater Mahi Jogjakarta (1981-1984). Antologi sajak tunggalnya adalah ASA (1986), Seribu Ranting Satu Daun (1987), Tafsir Rindu (1989), dan Anak Bawang (1999). Sajaksajaknya juga terdapat dalam sejumlah antologi bersama, di antaranya Bandarmasih (1985), Banjarmasin dalam Puisi (1987), Festival Poesi Kalimantan (1992), Jendela Tanah Air (1995), Tamu Malam (1996), Wasi (1999), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Reportase (2004), Air Mata Malam-malam (2004), Dimensi (2005), Mendulang Cahaya Bulan (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Taman Banjarbaru (2006), dan Antologi Puisi Komunitas Sastra Indonesia (2008). Kini menjabat Wakil Ketua Dewan Kesenian Banjarbaru serta bergiat di Forum Taman Hati, sebagai pendiri dan ketuanya.

Andi Jamaluddin AR.AK.

Bagaimana Aku Bisa Membaca
Kepada anak-cucuku di hari esok

Bagaimana aku bisa membaca angin kalau pepohonan tidak bergerak, berdaun pun tidak? Bagaimana aku bisa membaca cuaca kalau keringatku selalu mengucur? Bagaimana aku bisa membaca awan yang menggumpal sepanjang waktu tetapi tidak ada langit dan laut yang memberinya setitik air? Bagaimana aku bisa membaca hujan kalau angin, cuaca, dan awan tidak bersatu? Bagaimana aku bisa membaca cakrawala kalau cahaya matahari hanya membias di balik pepohonan kering yang tumbuh di setiap sudut jalan?

Pagatan, April 2004

Andi Jamaluddin AR. AK (Pagatan, 14 Februari 1964). Penyair, guru, dan aktivis ini sudah aktif menulis sajak sejak tahun 1980-an. Sekarang menjabat Kepala SD Negeri Rantau Panjang, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu. Buku kumpulan sajak tunggalnya Kehidupan, Domino, Losmen, Matahariku, Pidato Seekor Kakap, dan Bersujud. Beberapa sajaknya juga termuat dalam antologi bersama Wasi (1999). ZikZai, adalah buku puisi tunggalnya yang siap diterbitkan.

Aria Patrajaya

Hutan Kemarau
Hutanmulah yang hilang ketika kemarau melintas di atas kabut pagi Bumi retak dan daun musim ini menyanyi lagu tentang kemarau: “Panas nian kemarau ini”
Hutanmulah yang hilang ketika mereka terlena oleh kemurahan suburmu Dan sungai dan sumur musim ini menyanyi lagu tentang kemarau: “Panas nian kemarau ini” Hutanmulah yang hilang ketika panasmu runtuh karena ozonmu dicabik mereka yang nanar Padi yang hampa dan petani beserta anak dan menantunya menangis Sawah ladang musim ini menyanyi lagu tentang kemarau: “Panas nian kemarau ini” Hutanmulah yang hilang ketika kobar apimu melalap keruing, melalap ulin, melalap meranti, melalap jati, melalap lanan, dan melalap semua apa yang sebenarnya tak boleh kau lalap Syamsudin, Rustam, dan semua tetangganya meratap dengan ratapnya yang bisu Burung-burung di pohon ulin musim ini menyanyi lagu tentang kemarau: “Panas nian kemarau ini” Hutanmulah yang hilang ketika emas, batu, dan semua benda berharga lainnya berubah jadi patok kayu Maka manusia pun jadi batu Para pendulang musim ini menyanyi lagu tentang kemarau: “Panas nian kemarau ini” Hutanmulah yang hilang ketika penggusuran hak jadi illegal Dan menyanyilah lagu tentang kemarau: “Panas nian kemarau ini”

11 September 1997

* Salah satu baris syair lagu Kemarau, dinyanyikan Gito Rollies

Aria Patrajaya (Banjarmasin, 8 Mei 1962). Penyair, cerpenis, dan seorang guru. Kerap memenangkan lomba penulisan sajak dan cerpen se-Kalimantan Selatan. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama Festival Puisi Kalimantan (1992), Gerbang Pemukiman (1998), Wasi (1999), Cakrawala (2000), dan Narasi Matahari (2002). Sekarang bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, Banjarbaru.

Arsyad Indradi

Etam Sayang Gunung
Rangka Kenyah Rangka Kenyah dangsanak etam Dangsanak puaka puaka di riam riam Darahnya getah kayu talikan Rangka Kenyah cucu Damang Ebbeh Pemimpin legendaris pegunungan meratus Mengajarkan pada etam Bagaimana mencintai alam Mengharamkan kotoran narkoba Mengharamkan budaya ngerpe Dan segala tipu muslihat Mengingatkan pada etam Jangan terbuai dengan hasil teknologi Karena etam hanya bisa membeli dan memakai Tetapi tidak bisa menciptakannya sendiri Mengajarkan pada etam Jangan menyusahkan guru guru etam Jangan bikin pusing masyarakat lingkungan Rangka Kenyah Rangka Kenyah putra Indonesia Telah tuan tuan lupakan Tanah ladang Rangka Kenyah Tuan gusur tanpa belas kasihan Kemudian tuan buat pemukiman trans Tanpa beretika sama sekali Lihatlah tuan tuan Seribu Rangka Kenyah tercampak Di lembah lembah pengasingan Duhai berbulu landakkah hati tuan Rangka Kenyah Rangka Kenyah putra Indonesia Tuan tuduh huma berpindah Sumber malapetaka Padahal hutan hutan beratus tahun Dibabat habis untuk kekayaan tuan tuan Sehingga seribu Rangka Kenyah terusir Di padang padang perburuan Duhai sarang kabibitakkah jantung tuan Tuan tuan Lihatlah tuan tuan

Rangka Kenyah Seribu Rangka Kenyah menatap langit Nyanyian seribu duka Di puncak puncak pegunungan meratus Etam cinta tanah banyu turun-temurun Nyalakan damar di ulu ulu Bumi menangis diamlah sungai mengalir Etam batandik di duri rukam

Ambilkan sumpit buluh kuning di gunung ampar Suruh ikat talimbaran di batu pancur Apabila pecah bulanai Jangan dipagat akar kariwaya Maka pagari ruh dengan tulang etam Maka pagari ruh dengan darah etam Tajaki tunggul puaka di riam riam Dangsanak Pegunungan meratus inilah Tumpah-darah etam yang tersisa Dari titis nenek moyang Maka janganlah dangsanak bikin Eksploitasi kawasan hutan lindung Karena dangsanak menciptakan wabah anak sima yang berlidah halimatak yang melatik latik di daun daun kehidupan etam Dan janganlah dangsanak bikin Pertambangan batubara di tanah banyu etam Karena dangsanak menciptakan wabah bumburaya Yang bertaring babi hutan Yang mengaduk ladang kehidupan etam Yang membongkar kubur kehidupan etam Maka dengarkanlah suara hati nurani etam Demi Indonesia tercinta
Banjarbaru, 2000

_____________ Rangka Kenyah : Kepala suku/Damang etam : kita/kami dangsanak : saudara (sapaan) puaka : demit penunggu hutan talihan : sejenis ulin kabibitak : sejenis laba-laba beracun ulu : daerah atas, daerah hulu batandik : menari-nari memanggil dewa talimbaran : tali dari kulit kayu bulanai : gentong, tajau (tempayan) dipagat : diputus kariwaya : sejenis beringin tajaki : tancapi riam : sungai menyerupai air terjun anak sima : hantu bentuknya seperti tuyul pemakan jantung manusia melatik-latik : berjalan dengan badan halimatak : lintah pengisap darah, bentuknya agak kecil daripada lintah di air dan hidupnya di hutan lebat bumburaya : raksasa pemakan mayat

Arsyad Indradi

Dundang Duka Seribu Burung
Yulan ya lalalin Dahan mana aku berhinggap Awan mana aku bersayap Matahari mana aku berterang Sawang jadi bayangbayang Hutan kehilangan pohon Pohon kehilangan daun Duka langit luka menganga Dayak yang nestapa Pegunungan meratus hancur Cerobong asap mesin pembabat amuk Rampok yang mabuk Damaklah mata angin Sebab guntung tanpa puaka Sungai tanpa muara Kembang ilalang terbang Kepak sayap yang lengang Yulan ya lalalin Ke mana senyap ke mana ratap Ke mana kepak ke mana retak Dalam sembilu mesin gergaji Menyarulah sekuat batubatu yang remuk Pepohonan yang tumbang Rumah adat yang terbelah Dalam perangkap eksploitasi Dan penambang liar membabi Terbanglah burung seribu burung Membusur bianglala Ruh nenek moyang menyumpah Kalimantanku punah Dundang duka seribu burung Adalah duka dayak terusir Dari tanah pusaka Darah getah kayu talikan adalah Darah dayak tumpah dari balainya

Yulan ya lalalin Hutan beratus tahun Dibabat habis Batubara dikikis Untuk kekayaan tuantuan Kami tercampak Ke lembahlembah pengasingan Terusir ke padangpadang perburuan

Kabibitak Anak sima Halimatak Bumburaya O apa bedanya dengan tuantuan Ladang kehidupan Kubur kehidupan Ruh nenek moyang menyumpah Kalimantanku punah Nyalakan damar di uluulu Meratus menangis Biarkan darah mengalir Bertandik di duri rukam Oi ambilkan sumpit buluh kuning Di gununggunung batu ampar Ikat talimbaran Di pancurpancur Bila pecah bulanai Jangan dipagat akar kariwaya Pagari ruh dengan tulangtulang Pagari ruh dengan darahdarah Tajaki tunggul puaka di riamriam Ruh nenek moyang menyumpah Kalimantanku punah

Banjarbaru, 2002

Arsyad Indradi

Tafakur Memandang Waduk Riam Kanan
memandang permukaan wajahmu begitu tenang langit yang terapung di atas membiaskan spektrum kehidupan dan mengalir dari bibir bendunganmu gemuruh di tubuh sungai entah berapa kampung, dusun, kebunkebun, ladangladang dan hutanhutan yang merelakan kau lahir dengan sempurna di lembahlembah hijau gununggunung yang menopang tubuhmu dari segenap penjuru yang tak pernah terdengar keluh dan orangorang tak pernah sepi datang ke sini menimba kehidupan yang kau berikan aku memandang pucukpucuk pinus yang berderai entah apa terbaca hatimu semacam memendam ribuan rahasia yang belum pernah siapa pun mau menerjemahkannya atau orangorangkah yang tak mau jauh berpikir sampai ke sana tahun ke tahun senantiasa musim tak menentu yang selalu lepas dari prakiraan cuaca dan sungguh kau semakin merenta jua guratanguratan semakin nampak di keningmu karena lukaluka ini semakin menganga aku pernah mengingatkan hal ini kepada orangorang seperti yang pernah kau ajarkan padaku tapi mungkin kepercayaan ini begitu purba di khalayak zaman penuh pesona masih juga wajahmu begitu tenang tapi ombakombak di wajahmu terus juga melayarkan bayangbayang kegelisahanku pada bendunganmu yang meneteskan darah di mataku dan gemuruh di tubuh sungai meluap sampai ke segenap penjuru karena gunung tak berhutan lagi bukitbukit batu telah menjadi material jalanan rumah pemukiman atau gedunggedung bertingkat membayangkan kau tak mampu lagi menampung guyuran hujan yang berkepanjangan dan loncatan air dari lerenglereng perbukitan sedang bendunganmu kian keropos dimakan zaman membayangkan peristiwa duka yang tak hentihenti entah berapa kampung dusun bahkan kota ini dengan penghuninya akan musnah tiada tersisa

dalam muntahan bendunganmu yang teramat mengerikan membayangkan sebuah kota yang bernama serambi mekah dalam riwayat yang menyedihkan masih tersimpan dalam ingatan sebuah tangis pertama ketika kau lahir menulis hari kelahiranmu di tebingtebing gunung dan menulis perhentian hidupmu di lembahlembah langit dan pepohonan hijau dan bukitbukit batu

saksi sejarah dari sumber hidup dan kehidupan tapi juga sumber dari petaka orangorang selalu meratap setelah bencana tapi adakah yang peduli mengapa terjadi bencana setiap aku memandang permukaan wajahmu yang biru dengan segala pinusmu yang belederu Tuhan, sesungguhnya Kau tak ada niatan murka pada negeriku

Banjarbaru, 2001

Arsyad Indradi (Barabai, 31 Desember 1949). Penyair, seniman tari dan musik ini menyandang dua gelar kesarjanaan dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Banjarmasin, jurusan Bahasa Indonesia dan Seni, dan FKIP Unlam Banjarmasin, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sekarang pengajar mata kuliah seni tari dan drama FKIP jurusan PGTK/PGSD Unlam Banjarbaru. Karya sajaknya terbit dalam sejumlah buku kumpulan tunggal, seperti Romansa Setangkai Bunga (2005), Nyanyian Seribu Burung (2006), dan Narasi Musafir Gila (2006). Sajak-sajaknya juga dimuat dalam antologi bersama Jejak Berlari (1970), Tamu Malam (1992), Jendela Tanah Air (1995), Rumah Hutan Pinus (1996), Gerbang Pemukiman (1997), Bentang Bianglala (1998), Cakrawala (2000), Bahana (2001), Tiga Kutub Senja (2001), Bulan Ditelan Kutu (2004), Anak Zaman (2004), Baturai Sanja (2004), Dimensi (2005), Garunum (2006), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), dan 142 Penyair Menuju Bulan – Antologi Puisi Penyair Nusantara (2006). Kini bergiat di Kelompok Studi Sastra Banjarbaru dan mengelola penerbitan buku-buku sastra.

Bakhtiar Sanderta

Mantera Terakhir
Mancar Mahatala, Mahatala mancar Hancur daging, mengalir dalam darah wenang Mahatala Uria empunya kata Mahatala yang dikata Siapa yang aku tunduk yang aku dalam daging Siapa yang aku tunduk yang aku dalam darah Mustahil Mahatala tunduk kepadamu Mustahil yang dikata tunduk kepadamu (BALIAN TUA ITU MENYAPU WAJAH DENGAN RAJAH TANGANNYA) Aku yang bercermin di mancarmu lengan langit Berdiri di batu besar karena teguhnya Duduk di air deras karena mengalirnya Laksana pagar air pagar batu Aku di hulu aku di hilir Menjaga warisan Datu Datu gunung Riyut gunung Halau-halau (BALIAN TUA BERDIRI KAKI TUNGGAL LALU DUDUK JIPUK) Siapa yang datang lain dangsanak yang datang Jangan percaya kucapa rayuan sangkala Sangkala makan daging minum darah kita Bunyi janji-janji bukan janji Mahatala Yang ada pada kita bunyi gemerincing kejujuran Yang ada pada kita giring-giring keadilan (ORANG-ORANG TEGANG MEMANDANG BALIAN TUA) Tanda nanti bumi lemah Tinggal ilalang terbangkan lembukut terbangkan Bumi jadi hitam hangus dibakar nafsu kuasa Tidak ada tersisa buah-buah hutan, tidak ada Mata mati hati mati, jasad kita terpenjara Nurani kita terluka Tanda nanti bumi juga terluka, bumi kita Di sini sudah tak ada apa-apa (BALIAN TUA MENGHEMBUSKAN NAFAS MANTERANYA TERAKHIR) Uria empunya kata mahatala yang dikata Tidak tunduk kepadamu kecuali kehendaknya.

_____________
dangsanak = Saudara Kucapa = Orasi

Bakhtiar Sanderta

Meratus, Warisan yang Tersisa
Apakah para pemegang amanat belum jera-jeranya menyantap dusta Ketika sejarah di tangannya penuh dengan luka-luka bernanah Omong-omong kosong, orasi-orasi tentang kemakmuran, duh lelahnya mendengarkan takbir mimpi-mimpi itu Lalu tanah-tanah, hutan-hutan, gunung-gunung, lembah dan sungai-sungainya sudah habis diangkut ke atas sana Propaganda kemakmuran itu terus saja dan tak pernah berhenti sampai kini Ketika masih terdengar raung tangis anak-anak kurus telanjang Karena ibunya mati kelaparan Karena bapanya tersungkur mati ditembak ketika masuk hutannya sendiri sampai kini Ketika berkecamuk cemas dan harapan: “Meratus, warisan yang tersisa” Apakah para pewaris cuma dia, cuma mereka, cuma orang-orang itu Ketika rakus dan tamak bersembunyi di balik panggung birokrasi Duh, lelahnya generasi-generasi dididik supaya bisa digiring Sambil mulut dibungkam, lalu Meratus pun digadaikan dan seisinya, seludesnya diangkut ke sana Sebagian dan sebagian untuk para penggadai Kebodohan macam apa, macam mana ketika anak-anak digilas sejarah Sejarah orang-orang gila! Kaum dusun-dusun di kaki Meratus mengapa kehilangan kepercayaan Upacara doa tak mempan Dan sampai suatu ketika: Desa-desa hanyut bersama Balai Adat Hanyut pula bunga Lilihi Gendang sulit ditabuh para perempuan Gelang Hiyang menumpuk di Lalaya Karena para Balian ditidurkan janji-janji Dan para anak muda mereka hanyut juga ke muara Menumpuk di bawah jembatan
Banjarmasin, April 2000

Bakhtiar Sanderta (Awayan, 4 Juli 1939). Sarjana Fakultas Keguruan Unlam dan mantan Kepala Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan (1985-1995) ini menguasai hampir semua cabang seni, khususnya seni tradisional lisan Kalsel, seperti mamanda, lamut, bakisah, dan wayang gong. Selain sajak yang ditulisnya dalam bahasa Indonesia dan daerah (Banjar), ia juga produktif menulis cerpen berbahasa Banjar, pantun, dan naskah drama sekaligus menyutradarainya. Kumpulan sajak tunggalnya Pasar Terapung, Telabang Loksado, Bunda dengan Lentera di Tangan, dan Pohon Maksiat. Sajaksajaknya ikut dimuat dalam berbagai antologi bersama, seperti Panorama (1974), Dengarlah Bicara Kami (1984), Kelahiran Sang Cahaya (1985), Banjarmasin dalam Puisi (1987), Festival Puisi Kalimantan (1992), Jendela Tanah Air (1995), Puisi Banua Banjar (1998), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Tahun 2008, menerima penghargaan dari Pemerintah RI melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sebagai maestro seni tradisi. Kini bergiat di Lembaga Budaya Banjar. Penyair ini meninggal di Banjarmasin, 6 Maret 2008.

Burhanuddin Soebely

Konser Kecemasan
-- siapakah mereka yang menyesap sanginduyung menaburkan bau bunga bau cendana di petanahan purba wadah semaian asa? –

tak ada sahutan. Anak-anak balai bilaran gelimpangan di lantai, dihempas musik rak-rak-gui yang muncul dari keganasan chainsaw bahkan dalam tidur pun musik itu terus mengalun bersabung dengan raung buldoser erang eksavator derak loader deru tronton gemuruh ratusan truk mencipta konser kecemasan dan pemandangan senjakala lalu bagai kupu-kupu bersayap tunggal anak-anak itu beringsut merubung lalaya -- iiii...laaahhh batang tajunjung batang sasangga daunnya maharing langit iii...laaahhh di langit bajunjung kaca di tanah barunta anggit -“ya, apang, ya, umang apalagi yang tersisa di mana lagi kami semaikan asa hutan-hutan tiada huma-huma tiada tanah-tanah rekah mengalirkan nanah pancur-pancur jelaga sungai-sungai berbisa ah, apalagi yang bakal terban di mana letak keadilan” perempuan-perempuan berambut putih terjurai mengais sisa tangis “jangan bertanya tentang keadilan, Diyang karena jiwa mereka telah kering karena mereka adalah bangkai yang berkisar di antara angka-angka yang sungainya cuma kerakusan yang muaranya cuma perasaan ketakcukupan akan sebiji dunia dan kita tak lebih dari binatang korban yang digiring ke altar persembahan atas nama kemakmuran

tapi jangan menangis, Diyang kita bukan batu yang bisa digaris-tepikan kita akan kibarkan bendera perlawanan” -- siapakah mereka yang merobeki rahim ibu bumi dan mengangkuti belulang moyang kami? – tak ada sahutan. Para balian balai bilaran batandik mengelilingi lalaya, menating mangkuk merah berisi air mata rembulan, santan kecemasan, darah perasaan -- iiii...laahhh langit baputar langit baguncang langit baradin tanah bargana bakumpang hati carincing gading basamban darah batunjuk parang batunggang angin – “awas, jangan papas hutan kami nanti aku amuk aku tuang wisa ke pembuluh raga awas, jangan ganggu sorga kami nanti aku sumpit aku damak aku kirim parang maya jangan tuang nila jangan bawa bala amukku amuk sukma amuk maya amuk sangkala selusupku selusup datu selusup tak berwaktu jariku jari pahat jari-jari tombak mataku mata pisau mata-mata mandau tiupku tiup puja tiup mantera-mantera awas, jangan papas hutan kami jangan ganggu sorga kami aku ada di sukma burung di sukma gunung aku ada di sukma bayu di sukma kayu aku ada di sukma batu di sukma datu mengintai selalu” -- siapakah mereka yang menyesap sanginduyung menebarkan bau bunga bau cendana merobeki rahim ibu bumi dan mengangkuti belulang moyang kami? –

tak ada sahutan. Pertanyaanku membentur jidat para birokrat yang terlilit utang pada konglomerat

____________
1 salah 2 salah

satu mantera Balian Dayak Meratus satu mantera Balian Dayak Meratus

Burhanuddin Soebely

Megatruh
kediaman itulah yang membuka jalan di sisi pembaringanmu. Kerlip lampu damar telah menyambut padam. Dan kau pun menjelma kenangan, beterbangan di antara doa hutan kepak sayap burung, gunung yang menjulang
“ sepinggan darah, o, pembuka kata sambut tetamu ‘tuk bernaung letih jangan marah, o, kembara maya kuantar kamu ‘tuk ke gunung putih Diwata kambang ‘rang cakap malangkapi panggung Panggung tapusing panggung taputar Panggung panyambutan maut iiii...laaaahh bentara kanan, bakar kemenyan bentara kiri, ambil lilihi siapkan bekal dan sesajian sebelum jarak kami tapaki “

masihkah kau menghitung hari, menjumputi pecahan bulan di wajah sungai? Atau barangkali kau lagi termangu menatap langit yang asing, hutan yang asing, bebukitan yang asing? Aku tak tahu, cuma memandangi kaku tanganmu mendekap tingang dan naga yang terpeta di sarung mandau
“ tabuh gendang, bentara kanan tiup serunai, bentara kiri nyanyikan aku kidung perjalanan tutur pengantar ruh si mati iiii...laaahh Nining Bahatara Urang panjanji maut panjanji nyawa Di ruang sungkul di ruang balai ke gunung putih ke gunung putih wadah tujuan ke gunung sandaran hari sandaran bulan jangan menoleh jangan menoleh waktu berjalan kita ‘kan lintasi hutan berbuah kutukan “

perlahan kusintuh tanganmu. Barangkali untuk menegaskan ketiadaan sekaligus keberadaan. Barangkali juga sekadar ucapan selamat jalan yang tak terkatakan “ iiii...laaahhh panjampaian janji panutusan hajat maut dunia maut karama sambut ka Nining Raja Kuasa ke gunung putih ke gunung putih wadah tujuan ke gunung sandaran hari sandaran bulan

ke negeri tak ada siang tak ada malam ke negeri berpasir intan berumput manikam “

Loksado, 2004

_____________
1 salah satu mantera Balian Dayak Meratus 2 tingang = enggang 3 salah satu mantera Balian Dayak Meratus 4 salah satu mantera Balian Dayak Meratus

Burhanuddin Soebely (Kandangan, Kabupten HST, 2 Januari 1957). Sarjana FISIP UT jurusan Administrasi Negara, kini bekerja di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Buku sajak tunggalnya yang sudah terbit adalah Palangsaran (1982), Patilarahan (1987), dan Ritus Puisi (2000). Antologi bersama yang memuat sajak-sajaknya antara lain Puisi Indonesia ’87 (1987), Festival Puisi XIII (1992), Wasi (1999), La Ventre de Kandangan (2004), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Penyair, cerpenis, novelis, esais, penulis naskah drama, dan aktivis teater ini sekarang bergiat di Posko La-Bastari yang bermarkas di kota kelahirannya, Kandangan.

Dwi Putri Ananda

Bumi Menggerutu
Aku sudah tua Dan aku lelah menopang kehidupan manusia Tak ada yang peduli Umurku tak lama lagi Mengapa aku tak jadi langit saja? Tak ada yang pernah menjamahnya Ia hidup tenang di atas sana Kebisingan yang selalu mendera Badanku rusak, lubang perutku semakin dalam Perang menghancurkanku Keserakahan manusia membuatku miskin Planet-planet tak lagi mengagumiku Mereka berbalik mencibirku

Banjarbaru, 5 Agustus 2004

Dwi Putri Ananda (Pamekasan, 10 Februari 1987). Alumni SMA Negeri 1 Banjarbaru ini di samping produktif menulis sajak juga aktif berteater dan musikalisasi puisi. Sajaksajaknya diikutsertakan dalam antologi penyair Banjarbaru Bumi Menggerutu (2005). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha.

D. Zauhidhie

Hutan
Bidang dadanya dan berbulu Ubun-ubun bertudung kabut sarang labah-labah Mulut menyuap gelap. Lembab Kaki-kaki batu-batu menggerundul Pehong. Tidak melunjur ke laut Tebing-tebing itu bagai naga yang berendam Sebentar mengelepak kelelawar ujung sayapnya mengibas cahaya matahari yang tembus di daun pecah Batang-batang pohon besar-besar bercacar. Tegap kukuh bagai menyumbat langit bakal runtuh Sungguhlah tua bangka Adakah harimau di sini? Ada ngaum dedaunan berlaga Ada desingan bagai jet. Apa itu kumbang sedang menyimbat? Bukankah kota yang benderang itu Dahulu tempat binatang-binatang kelana dan bercanda Adakah beruang adakah pelanduk adakah kijang Kulit bumikah yang mengelupas. Lalat-lalat yang lapar Adakah si anu di sini Hoi! Hoi! Sipongang menggelantang Hoi! Hoi! Di sini aku bisa telanjang. Tak ada yang menyindir Di sini bisa berteriak nyaring-nyaring. Di sini berguling-guling enak sekali biar gatalan Hoi! Hoi!! Hoi! Hoi!!

D. Zauhidhie

Orang Gunung
Aku orang gunung karena lahir di gunung Aku berhati sejuk karena gunung itu batu Aku bahagia di gunung tiada resah Karena gunung hatinya putih Aku orang gunung sederhana sekali makan nasi harum ikan kailan lauknya pucuk-pucukan Aku orang gunung lugu sekali hujan turun berpayung daun keladi Sesekali karibku membawa turun Katanya itu kota, kataku itu hutan banyak perampok dan pembunuhan Aku orang gunung kembali ke gunung Di gunung kami tak ada itu Kami damai, pintu jendela terbuka-buka Jangan ganggu gunung jangan hina kami nanti kalian lapar dan bisa mati Nanti aku bisa murka Aku titisan batu tahan pahat Aku bisa menjelma jadi balian bertandik seputar langgatan sangkar-sangkar dan kindung Bila mengepul asap dupa menyan Melayang aku Hah – hah – hah Hih – hih – hih Huh – huh – huh Bisa kuradang, kudamak, kusumpit, kuparang maya Puh! Berhamburan sangga-sangga Melayup racun-racun Puh! buh Rubuh! bah Rebah!

D. Zauhidhie (Muara Teweh, Kalteng, 24 Agustus 1934). Menulis sajak, cerpen, esai, dan naskah drama. Antologi sajaknya yang telah terbit adalah Imajinasi (1960) dan Hari Sudah Senja (1986). Antologi bersama yang memuat sajaknya, antara lain Perkenalan Dalam Sajak (1963), Pesta Seni 1974 (Dewan Kesenian Jakarta, 1974), Festival Desember (DKJ, 1975), Tanah Huma (Pustaka Jaya, Jakarta, 1978), Antologi Puisi ASEAN (DKJ, 1978), Temu Penyair 10 Kota (DKJ, 1982), Tonggak II (PT. Gramedia Widya Sarana, Jakarta, 1989), dan Festival Puisi Kalimantan (1992). Penyair ini meninggal di Kandangan, 12 Juni 1984.

East Star from Asia

Sajak Orang Pedalaman
ketika pohon-pohon itu ditebang tubuh kamilah yang luka pertama kali ketika pohon-pohon itu tumbang rumah kamilah yang ditimpa pertama kali kehidupan hijau dahulu yang kami dambakan tanda sebagai manusia dari dunia bebas atas nama kemanusiaan telah disingkirkan dan ketika pohon-pohon itu diperjualbelikan kamilah yang terakhir kali merasakan bantuan ketika sungai-sungai itu meluap air mata kamilah yang mengalir pertama kali ketika sungai-sungai itu kering tenggorokan kamilah yang mati pertama kali kami tak dapat bicara tanpa tenggorokan dan kami memang tidak memiliki mulut tenggorokan sebagai ganti rugi semua yang kami dambakan atas nama kemanusiaan telah disingkirkan dan ketika sungai-sungai itu meminta korban kamilah yang terakhir kali merasakan bantuan bila tubuh kami hanyut menjadi cerita bila rumah kami hanyut menjadi cerita hanya air mata anak-cucu yang dapat kami sisakan dan ketika semua itu menjadi pilu cerita kamilah disebut penyebab pertama kali alasan terakhir atas nama membangun kemanusiaan

Banjarbaru, 1990

East Star from Asia, adalah nama pena dari Qinimain Zain (Kandangan, 21 Mei 1965). Sarjana Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru juga dikenal sebagai ahli strategi dengan istilah ‘paradigma TQZ (Total Qinimain Zain)’. Menulis sajak, cerpen, esai, dan opini sejak tahun 1980-an. Beberapa sajaknya dimuat dalam antologi bersama Taman Banjarbaru (2006).

Eddy Wahyuddin, S.P.

Diorama Bukit Malaris
Berjalan meniti tapak ke bukit Malaris Ditemani kemesraan angin membagi suara Kabut mengulur makna bunyi dan aksara Menyurutkan keyakinan menjadi mati rasa Riam diam terkurung dalam bilik muram Memohon pemukiman anak pribumi tetap lapang Karena selalu akan ada yang lahir di sini Segala peradaban hidup tanpa tarian perang Sesekali langkah kita terjaga oleh mantera Melihat bayang dunia tersungkur ditusuk belati trauma Doa-doa tak mampu lagi menjelajahi jalan darah Seperti biasa hal ini membuat mulut terdiam O, jangan hancurkan kepercayaan alam Di antara gerak arus menyesatkan pikiran Peliharalah hidup bukan sekadar nasib Bagai seorang bayi merindukan payudara ibunya Sekarang biarkan nyala obor itu tetap terpasang Biar pula kupu-kupu datang menyerbuki kembang Bumi kini telah luka, hitam, berjelaga Tetap berdiri tegak perkasa: Menuding matahari!

Bukit Malaris – Loksado, 2003

Eddy Wahyuddin SP (Martapura, 20 April 1957). Pendidikan terakhir di Fakultas Pertanian unlam jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Selain sajak juga menulis cerpen, naskah drama, dan esai, juga aktif berteater dan musik. Buku sajaknya yang telah terbit adalah Ketika Bulan Jatuh (1991), Gerhana Separuh Bayang (1991), dan Epigram Rindu (1992). Antologi bersama yang memuat sajak-sajaknya adalah Siagra Milir I (1980), Siagra Milir II (1981), Titian Alit (1982), Potret Pariwisata Indonesia dalam Puisi (1991), Festival Puisi XIII (1992), Festival Puisi Kalimantan (1992), Festival Puisi XIV (1994), Jendela Tanah Air (1995), Tabur Bunga Penyair Indonesia dalam Setengah Abad Haul Bung Karno (1995), dan Wasi (1999). Sebagai politisi, kini ia berkiprah di kepengurusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalimantan Selatan.

Eko Suryadi WS

Meratus Berduka
pergantian abad milenium warnakan kedukaan meratus dilukai dilukai air matanya mengaliri melarutkan balai-balai tandik babalian tihang manteraku selaput kabut sungai dan hulunya meratus berduka satwanya menangis meratusku berduka ketika kemerdekaan dihanyutkan kita menyaksikan dunia kecil paru-paru dunia dihapuskan dari peta dunia kita pun melawannya karena kita sedang dipersiapkan dalam sebuah kubangan padang ketiadaan kuburan peradaban meratusku berduka meratusku terluka meratusku ketika burung-burung meninggalkan sarangnya

Kotabaru, April 2000

Eko Suryadi WS

Pesta Sebuah Jalan Bebas Waktu Sepanjang 46 Kilometer
ayo, bunyikan musik dari gelombang waktu hutan-hutan yang kini tidak teduh lagi kita giring peristiwa pada sebuah pesta ulang tahun kota ini di jalan bebas waktu sepanjang 46 kilometer dari suasana serba seremonial diupacarakan sebuah pesta oleh kita – untuk kita – tapi, bukan milik kita musik laut telah diantar para nelayan musik hutan telah digergaji para pengembara musik sungai telah ditenggelamkan sampah dan limbah musik pantai telah disusutkan para pengayuh musik kota telah diupacarakan burung-burung pemakan bangkai di jalan bebas waktu kita buat pesta sendiri oleh kita – untuk kita, tapi mestinya juga milik kita kota yang selalu menyapa, jangan besar kepala simpan keramahan itu di almari kepercayaanmu sendiri aspal yang menawarkan ketelanjangan, jangan membuatmu berkaca simpan wajahmu rapat-rapat ke dinding mimpi gedung-gedung agung, pagar besi, jeruji keangkuhan bank-bank mengangkang, kantor-kantor berhati dingin ngayau membawa batu dan buih ke negeri di awan lihat, iklan-iklan yang menaburi jiwa-jiwa dengan kemabukan kalkulator menunggu namamu di toko-toko kita menyerahkan kemabukan dengan sejumlah uang pemandangan menjadi tidak bertelinga eksistensi menguap rahasia hidup betapa dungu kita menyerahkan nurani ke instalasi industri – birokrasi tanpa tabel harga yang jelas betapa kita masih menyuapi kehidupan dengan telapak tangan sendiri sementara orang-orang memanfaatkan teknologi siasat baru dengan kayuhan besar bandingkan telapak tanganmu dengan excavator dan pukat harimau kita rasakan bumi, tanah air, tumpah darah ini menjadi kerontang, bongkok dan agak bugil kita masih asyik menata kehidupan dengan sendi-sendinya kesenian dengan renda-rendanya sawah-sawah, kebun rakyat, lahan masa depan

menjadi telaga real estate, pabrik-pabrik gedung-gedung, pir hutan industri semua yang serba menjanjikan mengusir para pemukim keterasingan ayo, bunyikan musik untuk pesta kota ini sepanjang 46 kilometer jalanan bebas waktu kita renggut renda-renda usang biarkan pemandangan itu bertelinga lagi dan kota menjadi miliknya sendiri

Kotabaru, 1996

Eko Suryadi WS

Stasiun Waktu Kilometer Lima puluh lima
Di stasiun waktu Kilometer lima puluh lima Hamparan senja di batas laut, pemandangan itu Senantiasa kita jumpai dari waktu ke waktu Bakau mangrove kehilangan akar tanahnya Satwanya dihalau gergaji Ke mana perginya udang dan iwak belanak Sebatung kehilangan ulin dan meranti Meganya diusir chainsaw dan para pengembara Ke mana perginya pilanduk dan tupai-tupainya Ke mana perginya mereka Di stasiun waktu Kilometer lima puluh lima Kita menjual mimpi melupakan doa dan kasih sayang para leluhur hutan telah kita punahkan rumah-rumah kita gergaji sungai-sungai kita sempitkan kuburnya kota kita tenggelamkan akan ke mana perginya kita di siring laut pada suatu pagi ketika waktu menghantar kota ini pada kilometer lima puluh lima kita menyaksikan sebuah pesta kita rayakan dengan mata terpejam kita menyaksikan sejarah hitam putih di semangkok bubur ayam yang siap disantap anak-anak kita pada setiap sarapan pagi inikah pewarisan itu Kita sudah semakin tidak paham dengan diri kita sendiri isyarat alam kita simpan di almari betapa dungu hati kita, menisbikannya kesaksian ketidakberdayaan ini menunjukkan bahwa kita yang pongah ini ternyata tolol kedukaan yang kita ciptakan seperti tanpa salah alam telah kita haru-birui kita lukai pohon kita buldoser mimpi tanah kita tenggelamkan masa depan esok pagi kita harus siap berlarian
Kotabaru, 2005

Eko Suryadi WS

Dendam Sungai
kau ambil ruhku dari hulu hingga muara kemerdekaanku kau rebahkan dengan kesewenang-wenangan kau sempitkan rongga dadaku dengan bangunan-bangunan jembatan yang salah konstruksi kau usir satwa-satwa dari pangkuanku dalam pengungsian tanpa batas limbah dan kotoranmu menggiringnya ke padang kepunahan kau ambil kemerdekaanku dengan kesewenang-wenangan padahal aku adalah kehidupan jika aku bukan lagi kebutuhan kan kukirimkan dendamku kan kutenggelamkan kesemena-menaan itu sebab keangkuhan cuma sebutir pasir yang siap kusapu dengan banjir akan ke mana kau berdiri aku akan menangkap kakimu

Mei 2000

Eko Suryadi WS (Kotabaru, 12 April 1959). Lulusan pasca sarjana Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, dan sekarang bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Buku sajak tunggalnya yang telah terbit adalah Di Balik Bayang-bayang (1982), Sebelum Tidur Berangkat (1983), dan Di Batas Laut (2005). Sejumlah sajaknya juga termuat dalam antologi bersama Dahaga – B. Post 1981 (1982), Ulang Tahun (1984), Tamu Malam (1993), Kesaksian (1996), Wasi (1999), Kasidah Kota (2000), Jembatan (2000), Reportase (2004), Stasiun Waktu Kilometer Lima puluh lima (2005), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Kini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kabupaten Kotabaru, sebagai Ketua.

Eza Thabry Husano

Turai Hunjuran Meratus
Musim tak lagi lurus mengemudi mahatara di antara bukit dan lembah. Tanah ladang tak mampu membangunkan penghuni balai serta menghidupi banua Hunjuran Meratus. Kembang-kembang hangus Padi pun mandul tak bunting-bunting Burung-burung tak bersarang Cadas leluhur benar-benar jadi batu Kuburan leluhur jadi batu Tahi cacing membatu Beratus mulut tengadah bersatu menuruni tangga balai rumah adat menuju mahatara Balian sang perantara menunjuk ke langit “Hai Ning Diwata, hai Sangiyang Baturai guruh baturai guntur Runtuhkan rintik runtuhkan hujan” Adakah runtuh, di antara bukit dan lembah Selain azab dunia? Jarang terlihat orang menghantak-hantak asak manugal tanah ladang di gunung dan cericit burung-burung Sang Balian tidaklah Kuasa menghijaukan Meratus menghijaukan banua Beratus mulut tengadah tak bisa dibantu Setelah kutatap Mikail berdiri pihak Ku “Istiqa, Istiqa”. Hud pun berseru.

1983

Eza Thabry Husano

Meratus Rumah Kita
meratus denyut jantung matahari dan sungai degupan banua ke timur ke barat di pembuluh hutan dan mineral. jangan tinggalkan meratus, cuma setangkup jantung kita ketika semua jatuh hati tergoda batubara meratus rumah kita, jendela dan air mata rumah balai suku dayak bukit yang kehilangan halaman pembangunan untuk pulang. tuahnya dilipati kabut lalu-lintas peradaban burung-burung menghitamkan sarang, kembang-kembang gunung menggagap irama wanginya dari kepulan asap rimba zaman tanah tugalan, lereng bukit, tepi sungai, mata air dicabik-cabik beruang pengusaha tiada pula kelestarian menjadi rupa. amsal pengembangan usaha telah tuli jeritan lingkungan dan kemanusiaan. telah ditulikan yang seharusnya di telingakan telah dibutakan yang seharusnya di matakan tanah pijak kehilangan peta kata-kata ombak kemanusiaan tak lagi menjadi daya tak terdengar lagi pada lagu manusia tembang manis satu hujan satu gerimis rekah kelopak batu yang satu! tangan-tangan batu mengusik benteng mata rantai timur-selatan bumi meratus kiamat dilantak paku-paku tanpa kepala dalam perjudian manusia. bencana pun tiba tak pernah berpura-pura, katamu. kuuurr sumangat kuuurr sumangat kuuurr sumangat... kupanggil-panggil jiwa dupa kehidupan, sejuta bukit leluhur hempasan sejuta jeram batu-batu riam, lanting-lanting peradaban, tapi kabut jatuh berabad-abad. jangan usik setitik api pun, meratus! nyala mengapung jutaan belati jangan usik meratus jangan jamah meratus kutiup damak racun – mati tak peduli.

Banjarbaru, 2000

Eza Thabry Husano

Siklus
Kukenali daun dalam putikku Di kerimbunan pohon menjulang Di ganggang sekian masa Menatap keluasan langit tiada tara Dari putik tumbuh melebat Menelusuri tangkai dan daun Memikul makna batang, akar-akar serta segumpal tanah Pucuk-pucuk pun berseri Pengembaraan pohon menjulang Tumbuh kemudian tumbang Dari wajah tanah roboh ke tanah Ciptaan keluasan langit tiada tara

1985

Eza Thabry Husano (Kandanga, Kabupten HST,, 3 Agustus 1938). Menulis sajak, cerpen, naskah drama, dan esai. Buku sajak tunggalnya Rakit Bambu (1984), Surat Dari Langit (1985), Clurit Dusun (1993), dan Aerobik Tidur (1996). Sejumlah antologi bersama juga memuat sajak-sajaknya, antara lain Banjarbaru Kotaku (1974), Dawat (1982, antologi berdua dengan Hamami Adaby), Festival Puisi Kalimantan (1992), Jendela Tanah Air (1995), Getar (1995), Getar II (1996), Bangkit III (1996), Gerbang Pemukiman (1997), Wasi (1999), Datang Dari Masa Depan (1999), Cakrawala (2000), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (2000), Bahana (2001), Tiga Kutub Senja (2001), Narasi Matahari (2002), Sajadah Kata (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), La Ventre de Kandangan (2004), Baturai Sanja (2004), Bulan Ditelan Kutu (2004), Anak Zaman (2004), Bumi Menggerutu (2005), Dimensi (2005), Perkawinan Batu (DKJ, 2005), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha yang didirikannya sejak 1996.

Fitryani

Sajak di Atas Rakit
Kurangkai sajak ini di atas rakit Setelah angin tanpa irama Setelah hujan tanpa suara Mengguyur lorong, kebun, dan sawahku Menggenang pondok atap rumbia Peraduan anakku yang mati tanpa keranda Tanpa kuburan berhias nisan juga taburan bunga kenanga Kurangkai sajak ini di atas rakit Ketika air mulai membukit Melaut nestapa sederas air mata Kukayuh sendiri mencari bangkai anakku Dengan kayuh tangan ini, langka Nak, kau harus tahu Merekalah yang menenggelamkanmu Seiring musnahnya kayu jati dan pohon meranti Yang ditanam kakekmu dengan siraman darah dan keringat Yang ditebang penjahat berkawan aparat Nak, kau harus tahu Ketika sampai pada bait ini Kampung dan pondok kita benar-benar tenggelam Rakit ini makin melaju Selaju kata menyambangi penyair Yang dirangkai bagi mereka Yang tak punya hati nurani

Fitryani (Banjarmasin, 24 April 1977). Menyelesaikan pendidikan di FKIP Unlam, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Sekarang berstatus sebagai guru di SMA Negeri 1 Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalsel. Sajaknya dimuat dalam antologi Kau tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih tak Bersebab (antologi pemenang lomba penulisan puisi se Kalimantan Selatan, 2006).

H. Muhammad

Sebatung Menangis
Pedih perih Kubawa berlari Berlari tak punya kaki Napas pun tiada Karena aku hanya Tanah yang menonjol Dari perut bumi Temanku ada Rumput semak belukar pepohonan Mereka bernapas Tak bisa jalan Aku terlindung Teduh dan tenang Kini, temanku dibabat habis Diterkam macan bergigi besi Perutku dibongkar Dikeruk dikikis Katanya emas hitam Membawa rezeki Tak peduli perutku robek Lubang-lubang menganga Penebang liar Penambang liar Tak peduli Asal kantong berisi Temanku ditebang habis Mati Megaku berangsur pupus Kulitku gundul Temanku penyanggah banjir Kini, aku menangis Merana merintih pilu Ke mana mengadu?

Kotabaru, 2005

H. Muhammad (Kotabaru, 10 Maret 1940). Pensiunan PNS pada Dinas Pendidikan Kabupaten Kotabaru. Buku sajaknya yang telah terbit Sebatung Menangis, juga dimuat dalam antologi bersama penyair Kotabaru Stasiun Waktu Kilometer Lima puluh lima (2005).

Hajriansyah

Gunung-gunung Pergi Jauh
Gunung-gunung pergi jauh bersama barisan panjang truk malam segelap batu bara Hujan turun Tanah berdebu Gunung-gunung menjelma lembah dan bukit-bukit berubah arah Ingin kutulis sajak panjang mengenang kehilangan akan gunung dan bukit, dan pohon yang mengering: setumpuk celana tua Sepuluh tahun lagi, Kawan Saat air laut membanjiri rumah kita kemudian seratus tahun lagi; Saat pulau ini kehilangan keseimbangannya hanya tangis anak-cucu yang akan sampai ke pekuburan kita Dan sebuah cerita: Telah kita tinggali anak-cucu kita Lubang yang dalam Hutan yang kerontang dan bumi yang sekarat. Sampai cerita itu naik ke langit menggumpal gelombang awan dan hujan air mata Menangislah! Menangislah sekarang, mumpung ceritaku belum jadi kenyataan

Banjarmasin, 23 November 2007

Hajriansyah

Pekerjaan Memindah Gunung
Rumah-rumah di sebelah rumah kita, dan rumah kita tentunya, adalah gunung-gunung baru di tengah kota Orang-orang memindahkannya batu demi batu; tanah, pasir Gedung-gedung di dekat rumah kita, dan rumah kita tentunya, dindingnya adalah batu gunung di sebelah rumah kawan di kampung sana; pasir, semen, koral yang diracik dari batu itu Orang-orang memindahkannya dengan kerja keras demi tujuan yang jelas: sesuap nasi, sekantung kesenangan, sebuah mimpi indah untuk anak dan istri Genteng, kaca, jendela Kayu-kayu penopang Keramik, sendok, piring, meja rias, dan begitu banyak pemandangan indah telah pindah ke rumah kita, dari gununggunung yang menyangga bumi kita, rumah sejati kita Ketika datang banjir kita hanya bisa menangis, sedih; bukankah kita yang memindahkan semuanya Laut, sungai, lahar; Panas; kesedihan Pekerjaan memindah gunung bukan pekerjaan tercela tentunya Kerja keras, harapan Kebahagiaan, kesuksesan Lalu datang kesedihan Kepapaan, kerja keras Rasa kecewa, penghujatan

Lalu di mana rasa syukur kita Rumah-rumah dan gedung besar di tengah kota, di sebelah rumah kita, dan rumah kita tentunya, adalah bagian dari harapan dan kekecewaan, kesenangan dan kesedihan, kerja keras dan kerja keras

Semoga bumi ini tetap menjadi rumah untuk anak-cucu kita kelak; Dan air mata kesedihan, adalah sungai-sungai panjang pengharapan

Banjarmasin, 16 Oktober 2006, direvisi 24 November 2007

Hajriansyah (Banjarmasin, 10 Oktober 1979). Penyair dan pelukis produktif ini adalah alumni MSD (Modern School of Design) Jogjakarta dan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta, Program Studi Seni Lukis. Semasa kuliah menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa Seni Lukis (KMSL) ISI, dan sering berpameran tunggal lukisan-lukisannya. Jejak Air merupakan buku sajak tunggal pertamanya yang terbit tahun 2007. Antologi sajaknya bersama penyair M. Nahdiansyah Abdi adalah Jejak-jejak Angin (2007). Kini mengelola Tahura Media, sebuah lembaga dengan visi pengelolaan sumber daya ekonomi untuk pengembangan budaya Banjar, penerbitan dan event organizer.

Hamami Adaby

Bumi Semakin Panas
Musim telah menggugur kesetiaan siklus sementara lapisan ozon mulai menipis panas bumi seperti bermilyar koloni dari sengatan lebah madu tereliminasi dari kehidupan. Paru dunia yang kita tuang ke dalam gelas kaca putih berubah warna jadi betonan kota tempat habitat manusia. Lapis ozon mulai melebar polusi pabrik dan knalpot mulai menikam ulu hati cacar tanah mengeringkan sungai dan pohon seakan kemarau berabad. Kupungut doa dari luka hati agar dunia tak jadi sekarat menikam bumi dengan mentari

Hamami Adaby

Aku Menulis
Kucoba menulis laut, dalam maha luas Gelombang tak pernah teduh apalagi diam Kucoba menulis langit, tinggi sekali Di bawahnya ikan, kerang taman berebut garis air. Alam teduh dan indah, elok. Matahari di sela ranting daun mengajari warna dari ranting daun angin melodi. Syahdu. Manakala melihat alam bersedih, meringis muram tersedu, aku menangis sekuatnya dan belukar yang mandul sunyi sepi menjerit : tolong selamatkan dari malapetaka, katanya menatap mataku dengan penuh iba. Aku menangis lebih keras lagi, melolong: Hutanku sekarat telah jadi peti mati. Sekali waktu kutulis tentang cinta. Panorama wajahnya cantik dan jeramnya mengalirkan riak hati bergejolak di bukit bunga liar warna-warni bunga tak tahu namanya. Cinta terombang-ambing bahkan mulai sekarat. Dipahatnya batu jadi memori cinta. Begitu dahsyat. Aku sadar tertunduk “aku tak menyalahkan siapa-siapa”

3 Mei 2005

Hamami Adaby (Banjarmasin, 5 Mei 1942). Pensiunan PNS yang pernah menjabat Kepala Kantor Departemen Penerangan di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ini menghimpun sajak-sajaknya dalam antologi Desah (1984), Senja (1994), Iqra (1997), Kesumba (2001), Dunia Telur (2001), Nyanyian Seribu Sungai (2001), dan Bunga Angin (2002). Antologi bersama yang memuat sajaknya adalah Banjarbaru Kotaku (1974), Dawat (1982), Bunga Api (1994), Bahalap (1995), Pelabuhan (1996), Jembatan Asap (1998), Bentang Bianglala (1998), Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja (2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Anak Zaman (2004), Uma Bungas Banjarbaru (2004), Baturai Sanja (2004), Bulan Ditelan Kutu (2004), Dimensi (2005), Bumi Menggerutu (2005), Garunum (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), dan 142 Penyair Menuju Bulan (2006). Kini bergiat di Kelompok Studi Sastra Banjarbaru.

Hardiansyah Asmail

Malam Malaris
Deru angin jenggala mengiris cakrawala Merebahkan senja Sepuluh lelaki luka menari dalam irama sukma Lagu hutan sengsara Hingga rembulan pun payah meng-igali-nya Seribu dengung gong menggaris pagi yang ngilu Hingga matahari pun menangis dalam nadiku Sepuluh lelaki kian gila menari Menyetubuhi malam hingga memuntahkan miang rimba Merebahkan ulin dan kariwaya Sehingga bilaran tapah kehilangan rambatan damak pun kehilangan ipuh Sepuluh lelaki kian gila menari Menyetubuhi hutan perawan dan ibu bumi Menghumbalangkan kesumat nirmala Sepuluh lelaki gila kian mabuk dalam irama tampulu Hingga muntahnya menjelma banjir dan debu batubara Seluruh sungai dalam nadiku mempat dalam sekejap Sepuluh lelaki menjelma hutan dan terbakar Miangnya menebar aroma jelaga membopengkan wajah ibu bumi Sepuluh lelaki gila masih menari hingga pagi tiba Meperapuh altar yang kubangun dalam samadi senja.

Hardiansyah Asmail

Meratus Berduka
Jenggala yang perawan ini bakal hilang rupa dikudapaksa oleh peradaban yang melahirkan juriat nestapa yang berkepanjangan rintih dan isak tangisnya pun naik ke langit menusuk hati puisi air matanya berubah jadi banjir yang melanda kota-kota menenggelamkan banua lima melahirkan duka membirukan luka melahirkan perih yang berkepanjangan bagi anak cucuBambang Siwara Oo... mengapa kita tiba-tiba menjadi harimau di antara sesama Mengapa engkau tiba-tiba menjadi raksasa super rakus tak cukup memakan daun-daun malah menelan pohon-pohon tak kenyang oleh pohon-pohon malah bumi sendiri tempat berpijak kau gadaikan pada matahari lain apakah kau akan menanam keranda di cakrawala hingga bumi pertiwi ini kau garuk-garuk digali dan terus digali batubara kami kau kemas buat hari tua hutan kami hanya tinggal dalam peta buta dan yang lebih terasa menyembilu emas-emas kami dicuri oleh pencuri yang ultrasakti Kami anak cucu Bambang Siwara hanya menyaksikan saja karena dianggap tak cukup pintar untuk mengelola Jika kami ingin menggali itu berarti pencuri dan liar jika kami ingin menebang itu berarti perambah dan melanggar undang-undang tiang layar padahal itu hanya suatu cara untuk memperpanjang tanah jajahan dan menegakkan bendera ambisi dalam dinasti Sekarang wahai para pencuri ultrasakti para perambah bermobil mewah para penggali negeri sendiri mari bicara dalam bahasa bunga atau bahasa ringkik kuda namun jika ini tak bisa kami akan bicara ke langit saja sambil mengasah pedang puisi maramu ipuh menyebar tuba ke cakrawala dan mengangkat tinggi bendera perang Kami pun bisa jadi harimau Kami pun pandai jadi macan dan serigala mampu jadi raksasa Dan kami juga bisa menjadikan tanah ini jadi sahara atau padang Karbala

Hardiansyah Asmail

Ritus Meratus
Seribu luka telah menggaris huma Seribu upacara telah tunai kami hajatkan Namun engkau masih berharap persembahan Seribu liku jalan berdebu bertabur di tubuhmu Meratus yang dulu gadis lugu berbibir biru Tarikan nafasmu bosanova indah hutan kariwaya Meratus yang dulu adalah jeram-jeram di hulu Yang mengaromakan anggerik bulan dan turun dayang Yang mengusik pertapa dalam samadi senjanya Meratus kini layu dan sakit-sakitan Sering mencret dan demam berpanjangan Mencret di hulu banjirnya di tepian demam dahulu panasnya kemudian setelah itu hutan hutan kebakaran pohon-pohon kehilangan daunan tumpah harapan Ritus meratus kembali merajut kenangan pada hutan yang kehilangan biji-bijian Meratus kini dijadikan arena perlombaan tempat berpacu kuku kekuasaan Ke manakah kami hinggap jika jenggala hilang rupa ujar kacer angkat wicara Meratus kini dalam genggaman Dibius anak zaman dengan seribu perjanjian Lalu ke mana lagi kita akan mengantar persembahan sebab jejak di bukit telah dihapus oleh roda-roda peradaban yang mengatasnamakan illegal logging dan illegal mining

Kandangan, 2006

Hardiansyah Asmail

Cerita dari Hulu Sungai
(Siapa yang menggali kecemasan demi kecemasan akan menuai nestapa berkepanjangan) Untuk saudaraku di Ampalit, di Sangga-sangga, di Sungai Durian dan terkhusus bagi mereka yang terkubur hidup-hidup di terowongan perburuan emas Tanah lengkung ini telah mengabarkan nestapa kepadaku entah berapa banyak sudah keperawanan rimba yang kau renggut dikudapaksa ladang dan huma kau bopengkan ke muka sendiri hingga menjelaga sampai ke cakrawala bahkan ke negara tetangga Cerita dari hulu sungai adalah cerita nestapa bumi yang terbencana oleh tangan-tangan hitam yang selalu mengagungkan pada bendera kemunafikan dan bertindak atas dasar hukum tiang layar yang memegang teguh pada praduga kecipak riak tepi pantai Kini bumiku kehilangan rupa hutan dan jenggala tak lagi menebar aroma dupa miangnya pun telah pergi entah ke mana semuanya telah kehilangan hakikatnya sebagai rimba Semua ini telah kukabarkan pada langit pada laut, pada pohon-pohon yang hanya tinggal nama dalam diktat Dendrologi mahasiswa fakultas kehutanan pada burung-burung yang telah kehilangan ricau dan pijakan Termasuk pada engkau wahai burung garuda yang kini mulai patah sayap Sekarang aku ingin bertanya apakah satu juta hektar hutan yang kau babat dalam sekali kepak sayapmu berdasar pada aspirasi burung-burung atau demi menegakkan keberadaan hukum tiang layar yang kau agungkan itu Suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa kepak sayapmu selama ini hanya melahirkan angin kesangsian dan memperanakkan prahara yang berkepanjangan
Kandangan, April 2000

Hardiansyah Asmail (Kandangan, Kabupten HST, 1 Oktober 1960). Guru SMP Negeri 7 Kandangan. Buku sajak tunggalnya Bawanang (1996) dan Kembara (1997). Sajaksajaknya antara lain terhimpun dalam antologi Jendela Tanah Air (1995), Meratus Berduka (2000), Jembatan (2000), La Ventre de Kandangan (2004), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Kini bergiat di Posko La-Bastari Kandangan.

Harie Insani Putra

Kemusnahan Peradaban Bukit
Kami puas menetas di bukit-bukit berselimut embun cuaca demi cuaca merdeka kita merdeka selamat pagi, peradaban pagi; selamat malam peradaban malam PERADABAN; manakala bersarang senja di atas rumputan meneduh sinar di kamar-kamar kita membagi minum dari sungai deras jauh ke peluncuran Selalu ada untuk kita berbagi Selalu juga ada yang menghabiskan peradaban hari ini di peradaban batu ekspansi kami, sisa kemusnahan peradaban bukit cicit tak lagi sarang dahan, akar tak lagi sisakan tumbang daun-daun gugur bertangisan luka mengeringkan setiap getah bening bunga-bunga makam di kali kuning melukis semua keserakahan pagi MAKAN pagi peradaban, malam, MAKAN malam peradaban senyum kami di peradaban batu kau miliki juga batu-batu lalu di mana kami tinggal terlalu murah kau beli kami TUUUHAANNN

24 Mei 2004 – Juni 2005

Harie Insani Putra (Banjarmasin, 25 Februari 1981). Selain sajak juga produktif menulis cerpen. Cerpennya “Rahasia Sedih tak Bersebab” menjadi pemenang pertama lomba menulis cerita pendek se-Kalimantan Selatan 2006, dan dimuat dalam antologi Kau tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih tak Bersebab (2006). Sajaknya juga ikut dalam antologi Dimensi (2005). Kini bergiat di Kelompok Studi Sastra Banjarbaru dan redaktur di buletin sastra WaTas.

Hijaz Yamani

Dalam Pesawat
(Banjarmasin – Kotabaru)

Kami pandang lembah merayap di bawah sana bumi pun membuhulkan uap pagi hari awan tipis di lereng-lereng meratus yang tidak membentengi bayang-bayang bertanggalan Dan butir-butir nadi-nadi hijau itu merayap juga begitu pasti menuju laut lepas Lepas

1980

Hijaz Yamani

Riwayat 1
sungguh seorang tua begitu setia bersamamu dulunya pengembara ketika masih anak muda dan anak muda yang lain zaman berikutnya tidak tahan dalam gua lengang dengan beribu riwayat ketika wabah yang menciptakan mayat-mayat di sini tapi aku ingin bertanya bagaimana riwayat tahun-tahun depan jika seorang tua yang terbaring menerima amanat leluhur dengan sisa lentur-lentur kesetiaannya sedang di kiri-kanannya pohon-pohon bertumbangan dan jalan raya tidak mengenal daun-daun gugur lagi karena pohon-pohon sisanya gundul dan engkau sendiri terjepit di kebalauan negeri yang maya

1982

Hijaz Yamani (Banjarmasin, 23 Maret 1933). Menulis sajak, cerpen, naskah drama, esai sastra dan budaya. Pendiri Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalimantan Selatan ini juga mengasuh Ruang Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni, serta Ruang Sastra dan Budaya pada RRI Nusantara III Banjarmasin hingga akhir hayatnya. Di tahun 1980-an juga menjadi redaktur ruang sajak ‘Dahaga’ harian Banjarmasin Post. Sajak-sajaknya terhimpun dalam beberapa antologi bersama, di antaranya Perkenalan di Dalam Sajak Penyair Kalimantan (1963), Panorama (1974), Pesta Seni (Dewan Kesenian Jakarta, 1974), Pesta Puisi (DKJ, 1975), Tanah Huma (Pustaka Jaya, Jakarta, 1978), Temu Penyair 10 Kota (DKJ, 1982), Kilau Zamrud Khatulistiwa (1984), Tonggak (Jilid II, editor Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987), Bosnia Kita (1992), Tamu Malam (1992), dan Jendela Tanah Air (1995). Percakapan Malam merupakan kumpulan sajak tunggalnya yang diterbitkan tahun 1997. Sebagai seorang politisi, ia pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Banjarmasin dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang pertama di Kalimantan Selatan. Selama 25 tahun lebih berkiprah di lembaga legislatif sebagai wakil rakyat. Meninggal dunia di Banjarmasin, 17 Desember 2001.

Ibramsyah Amandit

Jembatan Asap
Pohon-pohon tahun ini berkhutbah asap dan tongkat api. Bagai perahu-perahu mendayung fatwa dan bahan diskusi Gemuruh suara berloncatan; fenomena alam pada angin musim; bukit-bukit yang terkoyak ozon yang tercabik dan teriakan hutan yang diobrak-abrik Ah, jari-jari zaman berselingkuh dalam lipatan! Tapi pastikanlah; itu takkan lama kemarau akan berlalu dan anak-anak negeri segera lupa Tuhan memegang batu-Nya sebelum melempar muka manusia Betapa sayang ... mereka lupakan makna selarik duka dan tanpa kesanggupan melihat tanda-tanda bahkan semacam isyarat-isyarat kabut pekat dalam jiwa Oo, betapa sayang ...

Tamban, November 1997

Ibramsyah Amandit

Meratus Bertutur
Kubuka peta kepulauan Nusantara; ada tokoh Semar alam pewayangan merasuk merohani pulau Kalimantan ia pendek tangan dudu dewa, dudu manungsa ora nangis ora ngguyu Di benua ini banyak bayang-bayang penyamaran demi penyamaran orang pun menangis tidak tertawa pun tidak antara sekian banyak tangan pendek dan kepanjangan bikin limbah pencemaran bagi sejarah dan kehidupan daerah Di bawah “udel” Semar : Meratus alam sekitar bertutur pinutur mulai gunung Singsingan desa Batuah redup tuahnya Buluh Kuning ibarat lanting sangkut di kering Sungai Durian tak ada buah yang runtuh jalan setapak pun enggan tersentuh bila tidak menyiapkan kucuran peluh Di gunung Batu Digahai sayup-sayup kulihat lobang terburai membiru kawah bekas kubangan “hadangan Japan” jenis buldoser menyeruduk menggaruk-garukkan tanduk mengugai-ugai tambang komoditas supply tapi di perut tanah jeritan tersimpan suaranya: “aduhai, aduhai... banua kami hilang permai banua kami lebur terkulai” Naik ke gunung Tunggangan tampak terhampar tunggul tebangan selesai hutan dimangsa buruan tapi oleh siapa menunggang siapa? ketika desa Gendang Timburu mendayukan irama gendang dalam lagu pilu dan cemburu Di gunung Barangkupan ketinggian 1104 meter itu aku cepat-cepat berlalu karena saat memberi salam dan sapa jari penduduk dingin dan kelu waktu tapak tangan kami berangkup beradu rasanya hilang akrab persahabatan dulu yang dijalin para leluhurku Di gunung Banyu Tawar;

sebuah danau biru kucicipi aku bimbang; air apa rasa asam belerang mungkin lunturan sisa galian tambang Lewat gunung Canting Dalam ke puncak Gunung Besar di gunung Halau-Halau roh manusia hantu dihalau ke situ mungkin semasa hidupnya kacau-balau kalah kebenaran oleh napsu dunia memukau membuat ia silau kudengar pula suara sarun dan babun mengalun gaib dalam belantara hutan kutengok hulu Riam Kiwa di Peramasan orang sibuk menangguk harta karun emas memang merombak struktur perekonomian tapi kilau kuningnya mengubah pola kehidupan orang tambah taat, orang pun jadi lupa Tuhan Tiba di gunung Panginangan di balik tawing palupuh ibu-ibu duduk bersimpuh kacip kapur sirih pinang dan gambir diasuh kinangan dikunyah antara gigi yang kokoh terbayang gadis-gadisku di kota jauh mengoleskan lipstick merek Revlon lalu buru-buru keluar salon karena lobang giginya cari tambalan Aku pun ke gunung Menteng bukan Menteng Jakarta Raya ini Menteng di hutan belantara beberapa pohon keminting tumbuh di hutan dalam udara sejuk teduh dan nyaman bukannya bising panas kehidupan metropolitan Dari gunung Karurangan ke Huluniwani menyusuri Hampang ke Sungai Kupang tiba aku di desa Pantai sejenak di sini berandai-andai kepada sebuah rumah yang letak pintunya salah! ia cuma menghadap lintas jalanan membaca hilir-mudik para pejalan tangan pendek dan kepanjangan yang carut-marut menata lingkungan Oo, pintu yang letaknya salah dengari ini sedikit petuah; lingkungan adalah atribut dan bias bayang-bayang dari pintu dirimu sendiri kalau suara tanpa makna kesungguhan itu bual jual obrolan senda-gurau di emper pelataran apa arti eksistensi tanpa esensi? bilamana hati nurani insan pilihan dalam kamar 4 lapis tersimpan kau tak temukan masalah inti kebenaran

Hati adalah “Sultan” di istana anjungan ia Rajamu dan Raja orang-orang dahulu coba lihat tanah wilayah patih Gajah Mada tanyakan pula pada Hayam Wuruk mengapa bumi Majapahit gemah ripah loh jinawi tanpa gempa, bencana dan tsunami ekonomi pun juga tidak terpuruk Atau tanyalah juga Sriwijaya kerajaannya yang merentang samudera tulang punggung negara cuma perahu cadik tapi aman makmur sentosa padahal tak banyak orang yang cerdik Di pantai itu aku keras berpikir penyebab apa yang segala jadi kucar-kacir adalah loba, rakus dan tamak di Majapahit orang mau hidup berpahit-pahit mereka tidak berpantang pada pisang godok padahal apa susahnya bikin kolak semangkok Tapi kita ini orang-orang sialan hidup maunya selalu “bersantan” karena banyak hal dirasuk nafsu kesetanan yang berdampak pada lingkungan

Dari gunung Aluran ke Kayu Juhara lewat gunung Riam Dinding tingginya tak berapa tapi pohon-pohonnya dan tambang buminya aduhai, memikat antero negara keduanya bagai runner-up dan juara tapi bagi siapa? Bila rakyat cuma penonton putih mata Melewati gunung Hapare tiba di gunung Tanah Baambin bulu romaku di sini tegak merinding bagiku tanah cuma lantai dan dinding bila ajal datang dikubur terbaring mana kumau maambin tanah ke kota-kota penduduk yang padat aku bukanlah pemilik real estate Di gunung Beringin Kuantan kulangkahi gunung Tinggi (515 meter) tiba di gunung Ambalangan di hadapanku gunung Batu Tungku seperti sebuah bayang-bayang menyapaku: “ngono ya ngono nanging aja ngono” (ah, jumpa suara Semar lagi!) Batu Tungku, Batu Tungku ... kearifan cara dan keseimbanganmu itu ajaran Semar ada di situ tapi aku adalah “Pramuka” bayangan mengambil posisi jalan Panyipatan di bawah pinang habang Ambi kawanku membelah bumbung lamang

isinya nasi dari beras taring pilanduk sedang aku makan ketan dan hintalu jaruk Kau kira; kami kelelahan keluar masuk hutan-hutan padahal menyimak perkara di tempat duduk

Tamban, Agustus 2006

Ibramsyah Amandit (Kandangan, Kabupten HST,, 9 Agustus 1943). Pendidikan terakhir sarjana muda FKIS IKIP Jogjakarta. Selama studi di Jogja 1970-an, pernah bergabung di PSK (Persada Studi Klub) pimpinan ‘presiden malioboro’ Umbu Landu Paranggi. Sajaknya antara lain terhimpun dalam antologi bersama Bahalap (1995), Pelabuhan (1996), Rumah Sungai (1997), Jembatan Asap (1998), La Ventre de Kandangan (2004), Sajak-sajak Bumi Selidah (2005), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006).

Imraatul Zannah

PERAWANKU TELAH PERGI
Cinta, belajarlah untuk mencinta. Jika hari ini burung-burung enggan beterbngan, dan hutan-hutan tak lagi memperdulikan rimbunnya dedaunan, engkau yang mengurai air mataku diantara hitamnya batu-batu, menakar aroma nafasmu di cawan-cawan peradaban Tapi perawanku telah pergi, menyisakan debu-debu yang luruh dalam banjir air mata anak cucu kita, lahan-lahan kosong, gersang, dan terbuang, memformulasikn bahasanya untuk meratapi keangkuhan gedung-gedung yang menggerayangi wajahnya yang semakin tak berdaya “Bakarlah indahnya dedaunan dan kicau riang populasi hewan-hewan!” teriakmu (kita senantiasa dikeramas roh pohon-pohon ketika mesin air matanya mengantarkan sesaji ke meja-meja purba yang memetakan nafas kekuasan di laci-lacinya)

Kandangan, 11 Desember 2008

Imraatul Zannah

OH, PEDIH NIAN ...
Burung-burung mengepakkan sayap-sayap lusuh di kekelaman masa depan, semak belukar merundukkan wajahnya, lidah-lidah api menjelmakan ranting-ranting patah menjadi gemuruh luka di cakrawala, seperti angin yng mencumbui roh-roh bukit dalam lekuk penghijauan yang sia-sia Ribuan anak-anak berlarian di antara perih dan lapar, memahat cinta di lahan-lahan kering dan aroma kemiskinan yang tak juga selesai, kemarau menaburkan daun-daun kering di atas jenazah sungai “siapa yang peduli?” desaknya pada irama nasib yang mempertaruhkannya pada rumahrumah kaca yang kian menambah volume panas di wajah bumi Oh, pedih nian traktor-traktor keserakahan merampas denyut nadi kehidupan hutanhutan kita, jelmakan lahan-lahan terbuka tanpa nama!

Imraatul Zannah, dengan nama pena Annisa (Kandangan, Kabupten HST, 2 Mei 1982). Dari Madrasah Aliyah Darul Ulum Kandangan, melanjutkan ke PONPES Darussalam Martapura. Buku kumpulan sajak tunggalnya adalah Epilog Hari Ini (2002), dan Jika Cinta Telah Menyapa (2004). Sajaknya yang terhimpun dalam antologi bersama antara lain Potret Tiga Warna (2002), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003),Bulan Ditelan Kutu (2004), Bumi Menggerutu (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab (2006), Kugadaikan Luka. (2007). Kini dia sudah kembali kekampung halamannya di Kandangan.
Kandangan, 12 Desember 2008

Isuur Loeweng S

Ibu, Sebenarnya Hutan Ini Milik Siapa?
ibu kenapa sekepak mata memandang tak lagi aku melihat indah jajar galam ulin dan gaharu kenapa pohon-pohon berubah, kini berbunyi nyaring dan disiram bensin serta solar kenapa? ibu kenapa tanah-tanah disayat-sayat dikeruk, lalu batu-batu diangkut dengan kotak-kotak yang meraung gila kenapa kita diam! kapan kita akan hentikan makhluk-makhluk bengis yang merebut milik kita ibu? ah, ibu coba lihat, kenapa yang berdiri di tanah-tanah kita bukan nenek-moyang kita tapi orang-orang tak sedarah dengan kita ibu bukankah hutan-hutan ini punya nenek-moyang kita tapi! oh ibu sebenarnya, ini hutan siapa punya hutan ini milik siapa ibuu!

Banjarbaru, November 2007

Isuur Loeweng S

Ke mana Harus Kami Tanam
kalau saja, kami masih punya semangat untuk menciptakan bibit ulin tanah sebelah mana yang harus kami gali bukankah semua hutan telah dipenuhi bibit air mata yang ditanam bengis ekskavator gila bopeng-bopeng berhamburan di setiap sudut katulistiwa, seakan ada perjanjian! di sini kita harus timbun air mata padahal tanah-tanah itu hak anak-cucu kita lalu esok ke mana mereka meneduhkan hati seandainya kami masih punya semangat katakan, katakan pada kami ke mana semangat itu harus kami tanam

Banjarbaru, November 2007

Isuur Loeweng S (Jogjakarta, 8 Juni 1980). Pendidikan terakhir di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, mengambil minor jurusan Pencipta Seni Tari. Aktif pula di bidang seni teater. Buku sajak tunggalnya Sajak Buat yang Tercinta (2005), Padang Luka (2006), dan kini sedang menyiapkan penerbitan antologi sajak terbarunya. Beberapa sajaknya juga terhimpun dalam antologi bersama penyair kota Banjarbaru, Dimensi (2005). Kini bergiat di Loeweng Production dan mengelola buletin sastra WaTas (Warta Tentang Sastra).

Jamal T. Suryanata

Menangisi Airmatamu
airmata yang sembunyikan perih dunia itu telah mengalir dari getir keperawananmu betapa deras, betapa derasnya membanjiri setiap selokan dan lorong kota-kota, lalu orang-orang pun tersentak dari igau-mimpinya “aku memang tak perawan lagi. Sudah lama, lama sekali,” bisikmu lirih dengan pucat wajahmu yang selalu menyisakan kecemasan, “tapi, aku masih punya cinta. Aku punya kecantikan, kelembutan, dan susu montok yang mengundang berahi segala petualang aku sanggup melayani semuanya sampai orgasme maka, setubuhilah aku dengan kasih sayang.” “sayang,” kataku iba, “kau tidak mengenal uang alat tukar ekonomi yang menciptakan neraka engkau pun tidak mengerti bahasa keserakahan jangan jual dirimu, jangan gadaikan sisa kegadisanmu – mahkota hijau kilau daunan wahai, akulah mimpi sejuta cinta tak bermusim yang terhimpit di sela batu-batu jejak kakimu.” airmata itu pun kemudian kian menderas membuncah selunas-lunas tangis diamnya mengalir, terus mengalir dari aroma tanah, batu hitam, desau angin, kicau burung, bisa ular, hijau pohonan, segar buahan, dan puing-puing keperawanan yang masih tersisa “setubuhilah aku dengan kasih sayang,” pintamu “kecuali kuberikan cinta,” jawabku sambil mengelus mulus tubuh yang menanti getar jemari kemanusiaan, “engkaulah mimpiku, engkaulah masa depanku,” teriakku berulang hingga membelah sunyi semesta airmata yang sembunyikan perih dunia itu telah jauh mengaliri seluruh nadi dan aortaku betapa sejuk, betapa sejuknya membekukan bahasa persinggungan antara cinta dan keserakahan seperti bongkahan salju yang jatuh di telaga
2000

Jamal T. Suryanata

Surat dari Kota
telah kudengar isak-tangismu yang jauh, kawan menggaung dari kisah duka penawaran pasar terbuka ada desah angin membisikkan risau alam raya ada kuik elang dan tabuhan tifa mengabarkan maut semua kuhafal sebagai tanda-tanda menjelang kematian kawan, salamku dari kota yang menyimpan neraka kita diuji dengan kesabaran dan keberingasan padamkan api dendam, redamkan segala kecemasan bersenandunglah bersamaku dalam lirik pesisiran: kurangkai syair kisah nelangsa kaum pinggiran di belantara menunggu nasib bak di penjara putusan hakim yang berkuasa dalam takut dan rasa cemas alamat diri bakal terhempas hutan meratus akan digilas kalau penguasa memang tak waras (jadi, hanya ada dua pilihan bagi kita berjuang melawan keserakahan dan kelaliman atau pasrah menunggu nasib dalam kecemasan dan itu berarti awal dari kehancuran kita) kawan, rinduku dari kota bernama angkara di sini, kemanusiaan bukan lagi perhitungan moncong senapan serupa suara kekuasaan palu keadilan bahkan telah diperdagangkan maka berjuanglah untuk mendapatkannya kawan, kuharap ini bukan surat terakhir yang kau terima karena setiap saat aku bisa saja masuk penjara

2000

Jamal T. Suryanata (Kandangan, Kabupten HST, 1 september 1966). Lulusan pasca sarjana FKIP Unlam yang meraih gelar Magister Pendidikan ini selain dikenal sebagai penyair juga produktif menulis cerita pendek berbahasa Indonesia dan bahasa daerah (Banjar). Pernah mengikuti Writing Program Majelis Sastera Asia Tenggara (1999) dan Ubud Writer’s and Reader’s Festival (2004). Bukunya yang sudah diterbitkan antara lain Untuk Sebuah Pengabdian (1995), Di Bawah Matahari Terminal (2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (2003), Galuh (2005), dan Boneka untuk Brenda (2005). Sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Festival Puisi Kalimantan (1992), Mimbar Penyair Abad 21 (1997), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Menghimpun sajak-sajaknya dalam manuskrip Lentera (1988), Sel (1990), Sajak Sepanjang Trotoar (1992), dan Topeng Kota Pendaki (1992). Kini bekerja sebagai PNS di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Laut dan bergiat di Dewan Kesenian Kabupaten Tanah Laut, sebagai Wakil Ketua.

Lisa Yuliani

Meratus
Suasana kembali purba Manakala kabut liar itu terperangkap dalam butah Sementara entah gumam siapa meretas padang lalang, bernada kesumat Betapa wangi bulir air matamu, meratus Meski rimbun buluh dan ilalang menyimpan bayang prahara Aku tersentak ketika mahligai bilaran bergulir Aku terhenyak ketika hunjuran meratus terbongkar Kini akan ku akarkan di mana benih padi dan biji kesturi bila huma dan ladang terhampar Duhai peradaban yang nanar Wajah alammu mengiris ngilu Di mana wajah alamku nan indah Hamparan pohon dan rerumputanmu Bak permadani hijau nan nyata Meratus kini tak berdaya Meratus kini terkungkum lara Ketika pohon terakhir telah kering Ketika hutan itu lenyap dan air pun sirna Tanah mengering dan menjadi debu Manusia tak akan berdaya, hanya bisa meratap dan menyesal Karena ulah tangan yang berkuasa terhadap meratus Meratus, begitu berharga dirimu Kau adalah lukisan Tuhan nan indah dan nyata Meratus, tersenyumlah selalu untuk manusia Terima kasih, meratus Karena napasmu adalah napasku

Lisa Yuliani, puisinya dalam antologi ini adalah puisi yang masuk dalam 10 puisi nominasi nonranking lomba cipta puisi pelajar se-kabupaten Balangan tahun 2008. kini bermukim di Paringin, kabupaten Balangan.

Maman S. Tawie

Dari Balunan ke Lembah Mantar
– perjalanan imajiner bersama Uma Adang

dari Balunan ke lembah Mantar: dinihari seperti kembali purba ketika udara yang berat dan embun yang likat begitu jinak di pangkuan Ning Batara begitulah ceracau anggang yang kusekap dalam butah menuntun langkahku meretas tanah basah dari Balunan ke lembah Mantar: angin Munjung meruapkan dupa meratus betapa harumnya bayang-bayang petaka pun lampus terbenam di selangkang rimba dan di kehijauan lumut pada tebing-tebing andesit kubelai kuntum-kuntum Turun Dayang kutanam wanginya di patilarahan Bukit sungai-sungai pun mengurai mayang dalam tandik bawanang uuuiii, Datung Kilai ulurkan tangga-tangga balai balian Mambur segera sampai dari Balunan ke lembah Mantar: langit mendadak suram Tangkaramin dan haratai menggeram dan aku tersentak ketika bumi mahligai bilaran bergetar dan aku terhenyak ketika hunjuran Meratus terbongkar o, buldoser-buldoser negeri seberang akan kutanam di mana sekar-sekar Lilihi akan kusemai di mana biji-biji kasturi cuaca menghitam batu-batu arang ladang-ladang terhumbalang o, bubuhan dingsanak di tahta raja-raja tolong, jangan cabik-cabik hamparan zamrud banua tolong, jangan hancurkan peradaban nini-datu kita dari Balunan ke lembah Mantar: senja berangkat malam, betapa letihnya perjalanan dan bersuluh kandil damar kuruyak gelap di depan Uma Adang. Mari, Uma Adang kita pulang di sebelah sana banjir melanda gemuruhnya adalah bencana hidup kita
22 April 2000

Maman S. Tawie

Di Lembah Meratus
dinihari seperti kembali purba ketika udara yang berat dan embun yang likat begitu jinak di pangkuan Ning Diwata dan ceracau anggang yang kusekap dalam butah menggiring langkahku meretas rumput-rumput basah betapa harumnya banua lima ketika kehijauan meruapkan dupa lembah Meratus bayang-bayang petaka pun lampus terbenam di selangkang rimba dan pada dingin lumut di tebing-tebing andesit kuhikmati kuntum-kuntum Turun Dayang kutanam wanginya di patilarahan Bukit sungai-sungai pun mengurai mayang dalam tarian bawanang – oooii, Datung Kilai sintak tangga-tangga balai balian Mambur sebentar sampai – mendadak langit suram jeram-jeram menggeram dan aku tersentak ketika bumi mahligai bilaran bergetar dan aku terhenyak ketika lembah Meratus terbongkar o, buldoser-buldoser negeri seberang akan kutanam di mana sekar-sekar lilihi akan kusemai di mana biji-biji kasturi cuaca menghitam batu-batu arang ladang-ladang terbantun dan terhumbalang senja berangkat malam, betapa letihnya perjalanan dan bersuluh kandil damar kuruyak gelap di depan

Banjarmasin, 22 April 2000

___________
Ning Diwata butah banua lima : sebutan untuk Tuhan bagi suku Dayak Bukit di pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. : wadah dari anyaman purun, bamban atau rotan. : sebutan untuk lima Kabupaten di Kalimantan Selatan yang terdapat di sepanjang lereng pegunungan Meratus sebelah barat, yaitu: Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Tabalong. : jenis batu gunung : nama jenis anggrek di lembah Meratus : alam gaib tempat roh-roh para leluhur Dayak Bukit. : pesta kemenangan : tarik (bahasa Banjar). : rumah panjang adat Dayak Bukit.

andesit Turun dayang patilarahan bawanang sintak balai

balian Mambur bilaran lilihi kasturi

: dukun. : konon adalah raja dukun suku Dayat Bukit yang dianggap setingkat dewa. : jenis tumbuhan merambat/menjalar. : bunga khas pegunungan Meratus. : jenis buah asam yang dijadikan maskot flora Kalimantan Selatan.

Maman S. Tawie (Lokpaikat, Kabupaten Tapin, 25 September 1957). Selain sajak juga menulis cerpen, esai dan kritik sastra. Menghimpun sajak-sajaknya dalam beberapa manuskrip Sajak-sajak Dahaga (1981), Dinding Kaca (1982), dan Kebun Di Belakang Rumah (1995). Nyanyian Dusun merupakan buku kumpulan sajak pilihannya yang sedang dalam proses untuk diterbitkan. Sajak-sajaknya dimuat pula dalam beberapa antologi bersama Dahaga – B. Post (1981), Terminal (1984), Elit Penyair Kalsel 19791985 (1986), Banjarmasin Dalam Puisi (1987), Puisi Indonesia 87 (1987), Harkat Kemanusiaan (1990), Tamu Malam (1992), Festival Puisi Kalimantan (1992), Pemberontak yang Gagal (1998), Wasi (1999), Datang Dari Masa Depan (2000), Malam Palestina (2000), Perkawinan Batu (2005), Aku Cuma Punya Kata (2006), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Tahun 1996 mendirikan “Forum Diskusi Sastra” (FORDIAS) dan menjabat Ketua hingga sekarang. Di samping ketekunannya mengelola dokumentasi sastra, ia juga menjadi Redaktur Pelaksana majalah bulanan Tunggal Dharma Visudha (TDV) yang diterbitkan Humas Polda Kalsel.

Micky Hidayat

Hutan di Mataku
sebuah hutan tak bernama tak berpeta tak terbaca terhampar di anganku sebuah hutan tak berpohon tak berakar tak berdahan tak beranting tak berdaun terbakar di jantungku sebuah hutan menjerit-jerit melolong-lolong mengerang-erang meraung-raung merintih-rintih terkapar di lorong jiwaku sebuah hutan menjelma jadi api, asap, bara, dan puing berserakan di ruang sunyiku sebuah hutan adalah luka adalah duka sebuah hutan adalah perih adalah pedih sebuah hutan menjadi hujan di mataku menderaskan bencana berkepanjangan

Banjarmasin,2005

Micky Hidayat

Kalimantan Selatan 2030 Kemudian
Teruslah perkosa aku senafsu-nafsu rakusmu tebas dan cabik tubuhku sebirahi-birahi erangmu cakar dan bongkar isi perutku sepuas-puas raungmu. Lemparkan jasadku dari ketinggian jurang menganga hingga rohku melayang-layang di udara melintasi gunung-gunung dan samudera tak bernama menjelajahi hutan-hutanku yang sirna tanpa suara Renungkanlah! Sebuah peristiwa yang tak akan pernah tercatat dalam sejarah kemanusiaan, betapa tragis dan memilukan: tahun 2020 nanti, jasadku akan bangkit menuntut balas atas perlakuanmu yang semena-mena, brutal, sadis, psikopat dan tak berperikemanusiaan yang adil apalagi beradab terhadap tubuhku. Maka terimalah pelampiasan dendam-kesumatku: bumi Kalimantan Selatan beserta seluruh isinya ini akan kutenggelamkan dan kurendam sedalamdalam hingga lenyap dari peta negeri beribu pulau ini. Maka terimalah laknat dan azabku: semua desa dan kota kutenggelamkan. Jangan pernah kau cari lagi di mana geografi kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah laut, Tabalong, Hulu Sungai Utara, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Barito Kuala, kota Banjarbaru dan Banjarmasin. Semuanya kutenggelamkan dan lenyap tak ada yang tersisa hingga hilang dari peta kemanusiaan. Terimalah gelegak air bah amarahku ini sebagai tumbal dan ganjaran atas keserakahan, kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia memerlakukan keseimbangan dan kelestarian alam. Jangan kau sesali dan tangisi lagi tragedi alam ini. Segalanya kulumatkan, kululuhlantakkan, kuhancur-leburkan! Jangan kau cari tempat mengungsi ke bukit-bukit dan gunung-gunung, sebab bukit dan gunung pun sudah lenyap kutenggelamkan. Tiada guna lagi kau cari kapal Nuh penyelamat nyawamu. Jangan kau cari lagi rahim kehidupan, sebab kehidupan telah tiada. Semuanya telah kutuntaskan! Maka terimalah karmaku – ini bukan sekadar kiamat qubra Tapi sebenar-benar kiamat bagi dosa-dosamu sebagai manusia.

Banjarmasin, 2007

Micky Hidayat

Reportase dari Kaki Pegunungan Meratus
Inilah reportase mengerikan Dari kawasan pegunungan Meratus Yang mulai meranggas Menjelma hamparan nestapa Menyisakan bilur-bilur luka Inilah berita memilukan Yang tak sempat terbaca Tentang tebing-tebing yang longsor Tentang tanah yang retak-merekah Tentang batang dan ranting yang hangus Daun-daun layu dan kering Kabut asap liar menggumpal dan menari-nari Batu-batu merintih Pohon dan satwa pun bersedih O, Meratus nestapa Masih pantaskah aku menyebutmu cantik rupawan Teguh mempertahankan tradisi warisan Petuah para leluhur-moyang Menjaga mahkota keperawanan tegar bertahta Terhindar dari segala marabahaya dan bencana – desing gergaji mesin berdesingan, melengking-lengking, meraung-raung, melolong-lolong, memekakkan gendang telingaku, menggedor-gedor dan menyayat-nyayat dinding jiwaku, bagaikan pendekar ninja tanpa ampun dengan beringasnya membabat-libas dan menumbangkan pohonan raksasa di kawasan hutan Meratus, Kalimantan Selatan. Hutan lindung seluas 46.270 hektare itu telah berubah statusnya menjadi hutan produksi terbatas. Pesona hutan perawan itu terancam. Memang, menurut teori, di hutan produksi terbatas ini hanya pohon berdiameter 60 centimeter ke atas yang boleh ditebang. “Tetapi, siapa yang dapat menjamin tidak ada penebangan sembarangan?” tanya Musa, kepala Adat Suku Dayak Meratus, yang tinggal di Desa Pantai Mangkiling di tepi hutan lindung itu. O, Meratus sengsara Aku pun tersentak mendengar keluh dan isak-tangismu Telah aku saksikan hutan dan isi perutmu dijarah membabi-buta, tanpa akal dan nurani. Telah aku saksikan raungan gergaji mesin dengan buasnya menyembelihmu tanpa ampun. Telah aku saksikan buldoser mengerang-erang menumbangkan keperkasaanmu, tanpa kompromi, dengan bahasa keserakahan dan kesombongan manusia. Maka aku pun tak sanggup lagi bertanya tentang hari depanmu. Karena hari depanmu adalah buldoser, eksavator, chainsaw, dump truk, tronton raksasa, kontiner, tongkang, ekspor nonmigas, dan mesin-mesin peradaban. Karena hari depanmu telah menjelma virus teknologi super canggih yang bersemayam di jantungku. Karena hari depanmu hanyalah sebuah kehancuran; erosi, longsor, kolam-kolam raksasa galian batubara tanpa reklamasi, banjir bandang, kobaran api, kabut asap, suara bising, keputusasaan, rasa dendam dan amarah purba.

Karena hari depan bagimu hanyalah ketidakberdayaan Bahkan sejarah pun tak lagi mencatat Bahwa keperkasaan alam pernah kau miliki Juga hamparan hutan yang asri. Inilah berita menyakitkan Dari Meratus yang terluka Meratus yang menangis Air matanya menjelma banjir di setiap musim hujan Hingga ladang dan kebun kehidupan tenggelam Kota-kota dan desa pun menjelma jadi lautan. O, paduka-paduka eksekutif yang terlena menikmati singgasana tahta, yang merasa dilegitimasi kesaktian panah dewa. Jangan seenak udel kalian bikin peraturan tidak konsisten pengelolaan sumber daya alam tanpa memedulikan kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia. Dengan dalih keberlangsungan pembangunan, menyokong pendapatan asli daerah, kepentingan pertumbuhan ekonomi, dan untuk kemakmuran rakyat, telah kalian tolerir izin ratusan perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan, surat keterangan sahnya hasil hutan, dan kuasa pertambangan, dan kalian pun kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu praktik illegal logging dan illegal mining yang kian leluasa dan membabi-buta mengeksploitasi dan mengeksplorasi kekayaan sumber daya alam kita. Telah kalian lahirkan keputusan dan rekomendasi tidak bermartabat, atas nama pemberdayaan masyarakat setempat. Telah kalian jungkirbalikkan hukum alam dan hukum adat Dan kalian perjualbelikan hukum Tuhan dan agama Untuk melawan, menindas, dan memerkosa hak-hak rakyat. O, paduka-paduka legislatif yang merasa diri terhormat Yang hobinya studi banding sekalian refreshing berwisata Yang hobinya mengoleksi arca-arca tunjangan dibeli dari uang rakyat. Jangan seenak jidat kalian mengetok palu tanda setuju terhadap kebijakan yang tidak berpihak ke rakyat. O, paduka-paduka penegak hukum yang kongkalikong dengan para cukong dan mafia pembalakan hutan dan penambangan liar. Telah kalian rekayasa proses hukum dengan metode tebang pilih, sehingga penjahat lingkungan yang telah memorak-porandakan bumi dan kehidupan bersuka-cita menghirup udara kebebasan untuk kembali mengendalikan bisnis haram dan penegakan hukum pun semakin suram. Meratus yang uzur Meratus yang lelah Nyanyi pedihmu Tangis di hatiku Saudara-saudaraku, senasib sepenanggungan Apabila ketenteraman telah terusik oleh kebisingan Apabila kesejukan dan kesegaran tercemar oleh kekotoran Apabila keluguan dan keikhlasan dibayar dengan penindasan Apabila kejujuran dimanipulasi menjadi kebohongan Apabila kearifan alam disambut dengan kehancuran Apabila keramahan diteror dengan bahasa kekerasan Maka tak ada lagi pilihan, Saudaraku Kecuali kalian melawan, lawan dan lawan!

Dengan tetes darah penghabisan.

Banjarmasin, 2000

Micky Hidayat (Banjarmasin, 4 Mei 1959). Semasa kuliah di Fakultas Teknik Unlam aktif di MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) dan LSM Kompas Borneo. Selain sajak juga menulis esai sastra, kritik sastra, dan reportase. Tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa lokal dan nasional. Kumpulan sajak tunggalnya Percakapan dalam Diam (1982), Jalan Sunyi (1985), dan Meditasi Rindu sedang dalam proses penerbitan. Sejumlah sajaknya juga dimuat dalam antologi bersama, antara lain Penyair ASEAN (Bali, 1983), Puisi Indonesia ’87 (Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Kul Kul (Bali, 1992), Refleksi Setengah Abad Kemerdekaan Indonesia (Solo, 1995), Datang Dari Masa Depan (Tasikmalaya, 2000), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (Jakarta, 2000), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005), Perkawinan Batu (DKJ, Jakarta, 2005), Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru (Jogjakarta, 2006), 142 Penyair Menuju Bulan (Banjarbaru, 2006), Medan Puisi – Antologi Temu Penyair Internasional (Medan, 2007), Cinta Disucikan, Kehidupan Dirayakan (Bali, 2007), dan beberapa antologi bersama penyair Kalsel. Selama sepuluh tahun lebih menjadi pengurus di Dewan Kesenian Kalimantan Selatan (Ketua Komite Sastra), kemudian mengundurkan diri dan kini lebih berkonsentrasi mengelola Pusat Dokumentasi Sastra, serta bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin dan KSI Pusat periode 2008-2011, menjabat Ketua III.

M. Nahdiansyah Abdi

Tinggal Bersama Maniak
Tinggal bersama maniak Kamu merasa utuh-utuh saja Kamu pergi bekerja dengan tenang Kamu duduk manis di sekolah Sekali latah Ramai-ramai menghujat koruptor Ramai-ramai menghujat pembalak Suatu waktu rumahmu gelap Petir sambar-menyambar, hujan turun dengan deras Kutuk. Kutuk mengepungmu Kamu hanyut sambil mengigau-igau memanggili berhala-berhala kecilmu Ya, kamu memang ditakdirkan menjadi pengungsi Seumur hidupmu Sepanjang sejarah kemanusiaanmu

2007

M. Nahdiansyah Abdi

Tongkang Emas Hitam
Seribu tongkang merasuki sungai membangkitkan hasrat Arus yang dahsyat berputar-putar di dalam Kelipan lampu kibaran angin telah benar-benar pekat Emas hitam berayun-ayun di retakan ombak Di anjungan kapal ia hirup bumi yang purba, dengan santai menawarkan kopi pada roh-roh yang terbelenggu Tidak terlihat serius, roh-roh tahu di laut lepas telah digali kuburan-kuburan tidur bersama nafsu kosong, ketololan-ketololan Maka nyanyian-nyanyian yang mungkin, syair-syair kuno, jeritan-jeritan hidup beribu tahun dalam koral dan kerang Dan lebatnya hutan dapat dihayati pada laut yang menangkup Pun humus, siklus, dan labirin peradaban terperangkap di riak samudera saat maut menyeludup

2007

M. Nahdiansyah Abdi (Barabai, 29 Juni 1979). Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Sekarang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Tamban, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sajak-sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Bumi Menggerutu (2005), Melayat Langit, Kau tidak akan pernah tahu rahasia sedih tak bersebab (2006), dan Jejak-jejak Angin (2007, antologi berdua dengan penyair Hajriansyah). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, Banjarbaru.

M. Rifani Djamhari

Jurnal Kecil tentang Perjalanan di Hutan Meratus
inilah desa penghabisan: los-los pasar yang kosong, desa yang lengang, beberapa lelaki dan anak-anak tak berbaju – merubung kami. Sungai iyam yang mendesau membasuh batu waktu mengalir dari rahim kasih sayang dan kesetiaan bumi ini. Tengoklah, langit sore yang sederhana: polos seperti kain dikanji. Di jalan setapak ini, para lelaki kehilangan keangkuhan diri. Dipermainkan tebing, gunung dan lembah: rumah semakin jauh! Namun tetap saja sungai iyam mendesau menjelujuri waktu. Mencari jalan ke arah hatimu!
***

Sepetak huma di lereng bukit menjala sepi musim matahari. Lelaki sederhana melambai dan tersenyum padaku. “Inilah kehidupan kami: Sebuah pondok tak berdaun pintu.” Hanya dari puncak bukit dapat kau saksikan bagaimana angin membersihkan langit.

Meratus, 2000

M. Rifani Djamhari (Margasari, 8 Juli 1959). Alumni Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru ini adalah seorang praktisi di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (PPLH-Unlam) Banjarbaru. Menulis sajak, cerpen, esai sastra, artikel kebudayaan dan lingkungan hidup yang dipublikasikan di media cetak lokal dan nasional. Buku sajak tunggalnya adalah Oda dan Doa (1977), Lanskap Laut (1979), Sajak-sajak (1980), Sajak Jambon Buat Dik Ami (1981), Luka (1982), dan Surat Terbuka dari Laki-laki dengan Vonis Mati (2004). Antologi bersama yang memuat sajak-sajaknya, antara lain Tiga Karangan Sajak Perjuangan Sayembara Mengarang Hari Pahlawan (1977), Bandarmasih (1980), Pesta Baca Puisi (1980), Antologi Puisi Penyair Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru (1986), Tamu Malam (1992), Festival Puisi Kalimantan (1992), Jendela Tanah Air (1995), Rumah Hutan Pinus (1996), Gerbang Pemukiman (1997), Wasi (1999), Bahana (2001), Anak Zaman (2004), Taman Banjarbaru (2006), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Kini bergiat di Keluarga Penulis Banjarbaru (KPB), Forum Taman Hati (FTH) Banjarbaru, dan mengelola Pusat Dokumentasi Sastra Budaya dan Lingkungan (PDSBL) Jerami Banjarbaru.

M.S. Sailillah

Hutan Surgawi yang Luka
Yang hilang Yang tenggelam Yang digelontor dikikis Yang hanyut disapu banjir Adalah kau saudaraku Hanya dengan curah sebersit Telah tertebas musim dan tangis Apalah lagi bila badai dan petir merenggut Akan runtuhlah langit Dan terbenamlah bumi terpental tersenggol senyum cibir Adalah kau saudaraku yang luka Beranda belakang rumah kita Telah dicabik-cabik serigala yang menyeringai tiap saat Ruang bermain anak-anak kita Telah dijadikan sarang ribuan pemangsa yang berbisa Semua dilahap rakus tanpa sisa Cuma bangkai busuk yang terserak di pinggir jalan Orang-orang berbaring sambil menutupi hidungnya Sebab tangis selalu ingin meledak di udara Adalah kau saudaraku yang luka Pernah terucap sebait kata dengan rajut laba-laba Sepuluh tahun lagi benua ini akan terbenam Tapi kau nyana baru lima tahun dadaku pecah Oleh belatimu yang tajam Darah semburat dari bumi memuntahkan segala isinya Meratusku yang menangis tak henti-henti menggelepar Dicengkeram lapar Tak mampu lagi mendirikan tiang penyangga Maafkan aku meratus, kalau aku terlihat cengeng dan bebal Maafkan aku ikut menangis hutan surgaku yang luka Karena isi perutmu telah dikuras untuk berpuasa

Banjarmasin, 6 Juli 2006

M.S. Sailillah

Wajah Telanjang
wajah-wajah niskala telah menenggelamkan matahari sebelum senja dihijabkannya mata di belantara birahi dan menangislah hutanku masya allah, tersapu banjir di belia usia waktu yang telah mempertaruhkan senyum dengan cekikikan iblis maka terbukalah pintu neraka kotaku terbenam air di mana pun datang masya allah, aurat siapa yang menggelepar di kolam neraka disaksikan gapai-gapai bara membakar tapi tak ada tangan mengulur karena mulut telah lama terkunci wahai sebelum Allah sentakkan benang kasih rahimnya dari sulaman sutra hatimu tutuplah pintu durjana dengan iman tanpa menoleh tanpa lirik lalu senyumlah dengan istigfar banjir dan air adalah tanda teguran

M.S. Sailillah (Pelaihari, 19 Juni 1953). Sarjana FISIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Banjarmasin ini juga seorang aktivis teater. Menulis sajak, cerpen, esai sastra, dan naskah drama. Antologi sajak tunggalnya Titian (1981) dan Saat-saat yang Perih (1982). Sajaknya juga terhimpun dalam antologi bersama Bingkisan (1981), Tamu Malam (1992), Festival Puisi Kalimantan (1992), Bunga Api (1994), Jendela Tanah Air (1995), Refleksi Setengah Abad Kemerdekaan Indonesia (1995), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Kini bekerja di Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin dan penyiar di Radio ‘Abdi Persada’ Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

M. Syarkawi Mar’ie

Hutan
Sepuluh tahun yang lalu hutan ini masih menghijau ada rama-rama aneka warna dan burung-burung masih berkicau. Sepuluh tahun yang lalu di sini rimba belantara sinar matahari tidak menggapai punggung semut tanah menyimpan air dan batu berlumut. Sepanjang hari ada bunyi bersatu dengan alam bagaikan gita buana merdunya simponi bumi ciptaan Tuhan kelompok bekantan menari di atas dahan. Waktu ini hutan menjadi sunyi burung tidak berkicau dan gema alam tidak berbunyi kupu-kupu terbang jauh tidak kembali. Pohon kasturi sudah ditebang hutan menjadi lengang pemilik bumi bagaikan sisa hidup yang terbuang. Tidak ada lagi pohon yang dipeluk tidak ada lagi bunga yang dicium hanya tinggal tanah yang retak di musim panas dan bencana banjir di musim hujan

Banjarbaru, Desember 1994

M. Syarkawi Mar’ie (Kandangan, Kabupten HST, 2 Februari 1938). Sarjana IKIPSTKS Bandung ini menulis sajak, cerpen dan esai sastra sejak tahun 1950-an. Ketika bermukim di Surakarta (1954-1958) pernah bergabung di Himpunan Sastrawan Indonesia Surakarta pimpinan W.S. Rendra. Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru merupakan tempatnya bergiat hingga akhir hayatnya. Sajaknya antara lain terhimpun dalam antologi bersama Jendela Tanah Air (1995), Rumah Hutan Pinus (1996), Gerbang Pemukiman (1997), Bentang Bianglala (1998), Cakrawala (2000), Bahana (2001), dan Narasi Matahari (2002). Penyair ini wafat di Banjarbaru, 9 Oktober 2002.

Mudjahidin S.

Hanya Cermin
Bercermin di danau itu bayangan dijilat lapik bukit dataran bertanya, bila dendam melantak! merombak membawa arus berkarat Di danau itu hanya cermin balik menyilau perjanjian yang disepakati, mencari dan menghitung dari sisa-sisa galian yang dikorbankan atas nama benua yang memerkosa benuanya Bercermin aku memandang kaki bukit dalam waktu tak menentu danau cermin lukamu dalam menganga tak pernah dijahit dan diobati Di sini hanya bercermin Longsor bukit, air sungai sakit melekat debu penyakit, di pohon dan di kulit bias panas batu hitam batu membara jantung bercuka sementara di hotel itu asyik ketawa membikin naskah sandiwara Di sini, karena aku juga kau sebelum mentarimu menghilang ke barat ingat ingat danaumu menjebak Cermin benua! retak menyayat perih mendidih.

Benua anak negeri, 1998

Mudjahidin S (Banjarmasin, 14 Juli 1946). Menulis sajak, cerpen, dan esai sastra sejak 1970-an. Sebagai aktivis teater, ia juga banyak menulis naskah drama, pelakon sekaligus menyutradarainya. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama Panorama (1974), Terminal (1984), Dengarlah Bicara Kami (1984), Bunga Api (1994), Wasi (1999), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006). Antologi sajak tunggalnya adalah Pakem-pakem Kehidupan (2006). Pensiunan PNS di Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kota Banjarmasin ini sekarang bergiat di Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) Kalimantan Selatan dan konsultan LASQI Pusat.

Muhammad Radi

Sajak tentang Sungai
Sungai mengalir tanpa kata, hening menyimpan makna. Dalam heningnya sungai ber”filsafat”, “bertanya” tentang dari dan ke mana (padahal bukankah ia dari dan ke mana?) “bertanya” tentang ada dan tiada (padahal ia pun ada dan tiada?) Sungai, dari “langit” ke “tubuh-tubuh” bumi nyungsep ke “mata” mata air. Orang-orang sibuk menggali sumur, nyari “setetes” hidup. O bumi menyimpan air Hutan “ibu”nya air. Namun orang-orang terus saja berburu hutan. Hutan-hutan “berlarian” serabutan, “menguap” ke langit! Dan bebukitan pun jadi sering iseng nanya. Padahal ia, kan, yang paling nggak doyan ke-iseng-an? (Ah, tiba-tiba sungai jadi pembunuh kehidupan. Di mata air menggenang air mata, Nggak terbendung!)

Kandangan, 2004

Muhammad Radi (Kandangan, Kabupten HST, 17 April 1962). Sarjana FKIP Unlam Banjarmasin jurusan MIPA. Semasa kuliah pernah mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia ke wilayah New South Wales, Victoria, dan Australian Capital Territory. Juga mengikuti forum science dan kebudayaan di Victoria, Osaka, Yokohama, Lyon, Marsielle, dan Koln. Sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Bah, Tis! Gaung Kami (1985), Jendela Tanah Air (1995), La Ventre de Kandangan (2004), dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006).

Nailiya Nikmah

Rindu Peri
Aku rindu Pada bau daun di pagi hari Ketika kau suguhkan aku secangkir kopi Lalu kita berbincang tentang peri Katamu peri tinggal di hutan Makanya jangan rusak hutan, kasihan peri Aku tertawakanmu geli Aku rindu Pada bau rumput seusai hujan Ketika kau sangakan aku sepiring gumbili Lalu kita berbincang tentang negeri ini Katamu negeri ini umpama intan Harusnya kita bangga dan lindungi Lalu aku menelponmu Bertanya apakah kau juga merindu Nyatanya malah ambisi beradu Dari sebrang kau terbahak Persetan dengan peri Kubanting intan dalam genggaman Ku lari menggenggam banyu Terlambat culas kau nyalakan api di hutanku Kulihat peri-peri berlari sambil menangis Peri hutan yang dulu kutertawakan Kini membuatku nangis tak tertahankan

Banjarmasin, 2007

______________
sangakan gumbili banyu : gorengkan : ketela : air

Nailiya Nikmah

Pada Sebuah Forum
Pada sebuah forum aku diminta bicara tentang hutan, yang konon terbanyak di pulau kami Aku gagap tak banyak yang kuingat Maaf, hadirin Aku lupa bagaimana hijaunya daun Aku ragu bagaimana kokohnya dahan Aku gagu bagaimana gemerisik rimbun Forum gemuruh, seolah ambil ancang hendak membunuh Maaf, hadirin yang kutahu sakitnya paru gara-gara udara yang tabu karena debu dan asap beradu Lalu, apa yang tersisa untuk kami? Forum riuh Aku tertunduk malu Pada sebuah forum yang seharusnya jadi ajang busung dadaku karena berjaya di masa lalu Aku tak mampu mengangkat dagu pada sebuah forum yang pesertanya tak lain adalah cucu-cucuku.

Banjarmasin, 2007

Nailiya Nikmah (Banjarmasin, 9 Desember 1980). Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Unlam Banjarmasin. Koordinator Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Kalimantan Selatan ini selain menulis sajak juga produktif menulis cerpen dan novel. Kini menjadi pengajar di Politeknik Negeri Banjarmasin. Sajak, cerpen, dan novelnya sedang dalam persiapan untuk diterbitkan.

Noor Aini Cahya Khairani

Vignet Kalimantan
1 di atas sungai hitam hutan dan gunung berjalan menuju mantra kekuasaan 2 antara hutan larangan dan cerobong industri membentang kabel-kabel kekuasaan sementara krisis bergayutan di tengahnya ratusan titik api mengepung bayi-bayi 3 di sini tak pernah unjuk rasa sebenarnya karena penduduknya begitu berbakti meski kekuasaan mengajarkan kecemasan namun selalu ditelan bersama pil kb 4 kami naik dari perahu karena sungai tak lagi biru kami dipindahkan dari pedalaman karena hutan kami yang menawan kami kehabisan sungai dan bukit dan tenggelam di langit 5 di sini matahari padam di timur dan pulau tidak milik kami maka ketika ia kehilangan pesona flora dan fauna berderak tanpa arti

Noor Aini Cahya Khairani

Sektor di Luar Statistik
sektor yang terlempar ke luar statistik seperti boma lewat pintu atau tidak, mencapai bumi dan punya dendamnya sendiri konon di sini pohon tumbuh dari biji api batubara lahir dari lahar bumi minyak dan emas mengalir dari air mata di atas sungai air mata hutan dan gunung menuju ibukota maka ketika hutan merindukan api gunung mencium lahar kota memeluk banjir dunia menyetubuhi cemas adakah ini dari sektor yang luka?

Indonesia, 22 Maret 2002

Noor Aini Cahya Khairani (Banjarmasin, 10 Januari 1959). Menulis sajak, cerpen, esai sastra dan kritik seni. Ia sering menjadi pemenang pertama lomba penulisan sajak dan cerita pendek se-Kalimantan Selatan. Sajak-sajaknya terhimpun dalam beberapa antologi bersama, antara lain Antologi 4 Penyair Muda Banjarmasin (1984), Banjarmasin Kota Kita (1985), Elite Penyair Kalsel. 1979-1985 (1986), Puisi Indonesia ’87 (1987), Perjalanan (1990), Festival Puisi XIII PPIA (1992), Jendela Tanah Air (1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (1995), dan API – Antologi Puisi Indonesia (1997). Antologi sajak tunggalnya adalah Sungai Hitam Semesta Berkabut (2004). Penyair ini wafat di Banjarmasin, 4 Agustus 2003.

Rahmatiah

Air mata yang Hilang
Bulan berkaca-kaca di langit Daun-daun itu terus saja gemetar, mengaminkan gelisahku Sejak hijau tak mampu lagi bertengger di sana Telah lapuk rupanya ranting keringku Di tempat di mana hutan telah dikuburkan Dengan bekas-bekas luka dan lebam Dibiarkan menganga di lambungnya Hingga suara-suara yang kau titipkan di lubang telingaku Menjadi asin dan berlumut Kabarnya, laut pun hendak kembali memunggungi aku Melepaskan bibirnya yang pasang untuk kembali melaut Aku pun kehilangan pantai untuk pulang Lalu di suatu hari aku membayangkan hujan Mengetuk pintu rumahmu Begitu ramai pohon-pohon mengaduh, terkadang saling menikam Batu-batu pun tak lagi bisu di tempatnya Hujan dan angin sama-sama terpelanting Engkau kembali entah sebagai hujan atau sebagai abu Satu-satunya yang kukenali hanyalah bau air mata Yang mengalir di tubuhmu Janganlah bertanya ke mana burung-burung akan terbang setelahnya Kelak ikan-ikan pun akan belajar mencuri sayap Meninggalkan sungai yang terus saja mengapungkan jasadnya Hingga ke atap-atap Sepagi ini kita telah belajar menikam senja Diam-diam senja pun mulai belajar menikam kita

Banjarbaru, 14 Desember 2007

Rahmatiah

Pagi yang Menangis
Langit basah Berapa banyak pesan yang disampaikan rintih akar dan denyut tanah? Aminkan saja doa-doa yang terlepas dari busurnya agar genangan air mata tak lagi tenggelamkan rumah anai-anai kita Di lembah dan gunung-gunung yang kehilangan denyut rimba entah, apakah Tuhan tengah marah? Ia mengirimkan bala dengan seribu wajah hampir di setiap sudut rumah

Meratus, April 2007

Rahmatiah (Nusa Tenggara Barat, 3 Juli 1979). Pendidikan terakhir D III Keperawatan, kini bekerja di Direktorat POLTEKKES Banjarmasin, dan bermukim di Banjarbaru. Sajaknya dimuat dalam antologi bersama Kau tidak akan pernah tahu rahasia sedih tak bersebab (2006).

Rahmiyati

Apa yang Masih Tersisa dari Rindu yang Lelah?
Pada para raksasa yang tertawa Pada binatang-binatang yang riang Pada hijau yang sempurna dan Pada tanah yang basah Aku seperti renta yang bernafas pada ingatan masa kecil Sungguh, aku seperti lagu-lagu cinta yang patah Apa yang masih tersisa dari rindu yang lelah? Rindu pada tanah yang silam Adalah mimpi buruk yang selalu menyudutkanku Di tempat yang sama Mungkin yang tersisa hanya sisa Seperti ketika manusia masih bisa tertawa Saat hujan mulai retak Saat hutan-hutan terluka Maka saat itu pula dingin yang teduh enggan berbagi Hanya riak-riak jelata yang meminta tolong Tapi pada siapa dan entah pada tolong yang mana Sungguh, yang tersisa hanya sisa Hutan dan hujan Entahlah

Rantau, 9 Juli 2006

Rahmiyati

Kepada Hijau yang Menangis
Kami tak lagi punya kekuatan sehingga hanya bisa ikut menangis Tangis karena sedikit dari kami yang berkhianat Terlalu naif dan lebih memilih diam lalu menyerah Pada yang kusebut tajam melukaimu Hanya rintihan kecil yang begitu samar Nyaris tak terdengar Sementara siang terlalu tuli Dan hijaumu semakin tak tampak

Rantau,9 Juli 2006

Rahmiyati (Rantau, 8 Juni 1983). Sarjana FKIP Unlam jurusan PBSID. Semasa kuliah aktif pula berteater di Komunitas Ilalang FKIP Unlam. Sajaknya dimuat dalam antologi bersama Kau tidak akan pernah tahu rahasia sedih tak bersebab (2006).

Roeck Syamsuri Saberi

Nyanyian Hutan Larangan
Cerita apa lagi yang kau tuturkan hutanku ketika ribuan pohon rebah tersandar menangisi akarnya di sepanjang musim Kidung apa lagi yang kau tembangkan hutanku, ketika berpuluh gergaji mengusik rimbunan pohon dari barisan hutan larangan Protes apa yang hendak kau sampaikan hutanku, ketika kau dengar raung bekantan yang kehilangan anaknya, mati terhimpit ranting dan kuik elang yang kehilangan sarangnya Amanat apa yang ingin kau sampaikan hutanku, ketika wajah dan parasmu gundul dan bopeng oleh gencarnya perburuan dan penebangan liar mengeringkan hijau dedaunanmu dan gemercik air di antara akarmu Hutanku, tatkala kau semaput dan kepayahan tinggal sisa tangis embun yang menetes dari ranting yang kering Dan tunas-tunas di rebung dedaunan yang gugur tak mampu menggapai tanah kehidupan yang makin gersang dan tandus Sementara keserakahan makin menina bobokan nurani pembalak.

Marabahan, Juni 2006

Roeck Syamsuri Saberi

Raja Gundul
Kau memang tak peduli meski kalian dicaci-maki meski kalian meresahkan negeri karena amanat yang kalian ingkari Tidak sekadar ingin menikmati kesejahteraan tapi nafsu serakah dan kerakusan yang kau tampakkan Pembalak, telah kau gunduli hutan larangan telah kau runtuhkan gunung pujaan telah kau cemari sungai kehidupan telah kau rambah dusun impian Gaduh teriakan di celah jendela kecemasan tak pernah kau dengarkan bahkan kau remas beratus hektar hutan warisan Jeritan derita karena banjir dan tanah longsor tak pernah kau hiraukan yang terbayang olehmu jutaan dolar kekayaan Kau memang tak peduli meski kau dicaci-maki karena kau adalah garis-garis mati yang tak terketuk oleh nurani

Marabahan, Juni 2006

Roeck Syamsuri Saberi (Banjarmasin, 11 Juni 1949). Menulis sajak, cerpen, artikel kebudayaan, dan naskah drama. antologi sajak tunggalnya Tembang buat Ida, Puisi-puisi Mantra Jajarat dan Kariau (2003), Nyanyian Kuala (2003), dan Rumah Anakku (2003). Sajak-sajaknya juga dimuat dalam antologi bersama: Banjarbaru Kotaku (1974), Riakriak Barito (1979), Kuala (1984), 7 Penyair Marabahan (1984), Menatap Cermin (1987), Tembang Sungai Lirik (1993), Rimbun Tulang (1994), Bunga Api (1994), Bahalap (1995), Pelabuhan (1996), Rumah Sungai (1997), Gardu (1998), Jembatan Asab (1998), Sajak-sajak Bumi Selidah (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Seribu Sungai Paris Berantai (2006). Pensiun PNS Pada Kantor Departemen Penerangan dan mantan anggota DPRD Barito Kuala ini sekarang bergiat di Dewan Kesenian Kabupaten Barito Kuala, menjabat Ketua.

Roestam Effendi Karel

Siapakah Lagi yang Peduli
Siapakah lagi yang kini masih peduli pada jeritan pilu yang berkepanjangan atau teriakan putus asa yang terancam di antara deru serbuan besi-besi keserakahan Dada kami, bumi ini telah lama dicabik-cabik Bukit dan gunung-gunung kami digunduli Hutan-hutan kami ditebangi Sungai-sungai kami dicemari Satu-satu kami terusir dan diusir dari rumah kami, ladang-ladang kami Satu-satu satwa sahabat kami berlarian pergi dari habitatnya tanpa tujuan Kami semua bukan lagi pemilik bumi ini Bukit dan gunung-gunung ini Hutan-hutan ini Dan sungai-sungai ini Mereka burung-burung besi Kuda-kuda troya zaman kini Merampas hak-hak dan kemerdekaan kami Kami sudah tidak tahu lagi Siapakah yang kini masih peduli?

Banjarmasin, 4 Mei 2000

Roestam Effendi Karel (Alabio, Kabupaten HSU, Kalsel., 1938). Penyair dan wartawan yang pernah pernah menjabat Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan ini selain menulis sajak juga menulis cerpen, esai sastra, dan naskah drama sejak tahun 1950-an.

Sahdi Anak Amid

Hutan Bertutur
Ketika dongeng hutan Bertutur tentang hutan Tentang hijau dan hitam Tentang halimun Tentang Lembayung Tentang harum Satwa saling sapa Memindai pekik dan auman Melantunkan kicauan Dan siulan Dan hutan menuturkan Kedamaian Di telapaknya menetes air Kehidupan

Halong, 9 Januari 1974

Sahdi Anak Amid (Kandangan, Kabupaten HST, 19 Februari 1951). Nama aslinya Noor Sjahdi. Menulis sajak dalam berbagai bahasa, di antaranya Indonesia, Inggris, Rusia, Thailand, Jepang, dan Banjar. Sajak-sajaknya berbahasa Thai dimuat dalam Asia Pasific Scout Forum Bulletine (Bangkok, 1985). Sajaknya juga dimuat dalam antologi bersama penyair Banjarbaru Bahana (2001). Purna tugas pegawai negeri sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarbaru. Mantan Ketua Dewan Kesenian Banjarbaru ini sekarang mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan, Banjarbaru.

Sainul Hermawan

Rumahku Rawaku
Kemarau: debu dan asap Penghujan: becek dan banjir Laksana irama sedih dari senar-senar panting Yang memadamkan purnama di atas banua Siapakah yang menghitamkan nasibmu Di tengah rimbunan kopiah haji Yang kau beli setiap tahun dengan darah nurani Yang mudah lenyap Dihitamkan kembali oleh nasibmu Bicaralah sederhana saja di rumahku Dengan pikiran anak yang masih suka bertelanjang Kaki, dada, kepala, dan hati Aku mengerti tuhan telah ada saat Ia meniupkan udara pertama Dalam relung persalinan Tapi kenapa kau buat rumit Membuat semua lupa Pada daun hijau yang digilas truk batu bara Pada air-air sungai yang mulai terasa gerah Beraroma kematian dari kerukan-kerukan serakah di bumi kita Rumahku di rawa-rawa Dari kayu yang mudah bersenyawa dengan bara Saat kemarau tiba Dan kelalaian kita tak pernah sirna: Betapa mahalnya menjadikan nasib sebagai hiburan Menjelang pemilu atau perebutan kekuasaan Rumahku di rawa-rawa Kemarau: asap dan penyakit tenggorokan Penghujan: musim bencana bertunas muda Seperi jamur Subur Makmur Bersama nasib yang tak mujur
Banjarmasin, 9/12/2007

Sainul Hermawan

Saat Hujan Bertemu Pasang
Saat hujan bertemu pasang Kota kita berkecipak, tapi ini bukan banjir sayang Hanya luapan air sungai beraroma pesing Membawa entah lendir apa ke depan pintu rumah kita Setiap hujan bertemu pasang Kita tak pernah sempat berhitung Berapa sungai telah mati Rongga-rongga rawa kota kita Arteri tanah banua dipasung, disumbat beton-beton Jika kelak hujan maha deras bertemu pasang paling dalam Mereka berpeluk mesra berhari-hari Merendam kota kota kita bersama bah bau bangkai Lantas kemana kita akan berpaling? Kita terlalu jauh bicara peradaban Mimpi-mimpi usang yang selalu kita usung ke kuburan latah Lantas kita lupa memberi ruang pasang Dan hujan yang ingin bercengkarama Di rawa-rawa kota kita Membuat panggung terbuka Bagi kodok-kodok yang ingin bernyanyi
Banjarmasin, 9/12/2007

Sainul Hermawan (Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jatim, 13 Maret 1973). Setelah menyelesaikan studi pascasarjananya di Pascasarjana Sastra Universitas Gajah Mada Jogjakarta pada 2003, dia kembali mengajar di almamaternya, FKIP Universitas Islam Malang. Sejak 2005 menjadi staf pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PS-PBSID) FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dengan spesialisasi mata kuliah Teori Sastra, Kritik Sastra, Semantik, sosiolinguistik, Penerjemahan, dan Ilmu Budaya Dasar. Menulis sajak, cerpen, esai dan kritik sastra, artikel seni, budaya, pendidikan, sosial, politik, dan resensi buku. Selain sebagai dosen tetap di FKIP UNLAM, dia juga menjadi dosen tidak tetap di STKIP PGRI Banjarmasin, membina mata kuliah Filsafat Ilmu dan Penulisan Kreatif Sastra. Bukunya yang sudah diterbitkan adalah Tionghoa Dalam Sastra Indonesia (2005) dan Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2005-2007 (2007). Kini bergiat di Dewan Kesenian Kalimantan Selatan (Komite Sastra) dan berumah maya di www.geocities.com/sainulh.

Sandi Firly

Sajak Sebatang Pohon Karet
Aku telah menyaksikan gajah-gajah besi seperti pasukan Abrahah di tepi hutan ini berderap, menerbangkan debu hitam batubara dan tanah kering merah bata Pepohonan sunyi burung embun lesap sebelum mencium daun angin kaku, kehilangan peta arah pada subuh beraroma barah Tanah terang, anak penakik getah datang wajahnya pucat lesi bulan kesiangan telah terbayang harga karet turun beribu-ribu sebab getahku berserbuk, kesat kain belacu Nadiku tercekat berlarat-larat dalam bola mata anak penakik getah yang sekarat tepi hutan, tepi kematian suaranya kian menghilang Kubayangkan arakan ababil datang dari samudera sunyi menghujani gajah-gajah besi dengan batu api langit terbakar, berkibar, menerbangkan lelatu tepi hutan ini pun berubah menjadi abu

bulan awal tahun 2008

Sandi Firly

Yang Bertahan dan Melawan
: kepada Jhonson Maseri di pegunungan Meratus

Selalu ada yang bertahan dan melawan di tanah ulayat dan hutan larangan setiap jengkal tanah, sebatang pohon adalah warisan hidup tujuh turunan Chico Mendes lelaki liat hutan Amazonia meradang menghadang deru gergaji siang malam meski akhirnya tumbang ditembus peluru bayaran di tanah basah ia rebah …, dan kita membaca seorang teman mengenangnya, Luis Sepulveda pada buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

bulan awal tahun 2008

Sandi Firly (Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalteng, 16 Oktober 1975). Alumni FISIP jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin ini sekarang menjadi Redaktur Pelaksana dan merangkap sebagai Redaktur Cakrawala Sastra dan Budaya serta kolomnis di harian Radar Banjarmasin. Menulis sajak, cerpen, esai sastra dan kebudayaan. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama Bulan Ditelan Kutu (2004) dan Taman Banjarbaru (2006). Mantan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan ini sekarang bergiat di Rumah Cerita Banjarbaru dan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru.

Shah Kalana Al-Haji

Risau Rimba Sunyi
aku tulis hati ini ketika derai kembang jambu runtuh di air mata pedalaman tangisan tak lagi jadi kesedihan kemarau ngalir di sungai kayu merapuh pandang kembang ilalang kesedihan bukan pula ketakutan tatap langit detak jantungnya telah henti tinggal air mata yang curah di tingkap-tingkap rimba mati mambang kuning menjeram rekah tanah mengeja asap menghitung hutan mendesah kemarau air mata pedalaman di musim-musim keakuan tangisan tak lagi jadi duka kesedihan bukan pula ketakutan ketakutan bisa jadi bara murka pemuka-pemuka pedalaman tangisan kesedihan ketakutan adalah risau sunyi pedalaman aku tulis puisi ini ketika derai kembang jambu runtuh ripuk di atas keringnya mata air kemanusiaan

riau-kapuas-bontang-banua, 2006

Shah Kalana Al-Haji (Samarinda, Kaltim, 23 November 1970). Sajaknya dimuat dalam antologi bersama Taman Banjarbaru (2006). Kini bergiat di komunitas Front Budaya Godong Kelor Banjarbaru dan redaktur buletin sastra WaTas.

Syafiqotul Machmudah

Sebungkus Cerita untuk Bumiku dan Bumimu
Inikah yang kau sebut bumi Dengan lantang kau teriakkan sebagai tempatmu menghembus nafas Bisa kita ulang dengan perlahan! Kali ini dengan ejaan dan suara yang membata saja Karena yang kuyakini bumi yang kau pijak ini hanya reruntuhan yang mulai terserak bumi yang menyanggahmu ini, hanya ribuan hektar lahan yang mulai gersang dan berubah warna bisa kau ubah teriakanmu dengan berbisik saja karena semua yang kau sebut dengan bumi, bukan lagi tanah impian yang menjanjikan ribuan mimpi hijau yang membentang atau bukan lagi tempat menyambung nyawa yang nyaman bumi itu sudah mulai menua dan merapuh tapi kau tak jua memapahnya dengan cinta dan kasih yang membuatnya kuat dan terus tersenyum bahkan kau pun telah mulai lepas kendali, mulai menyiksa rentanya dengan air mata yang menggenang memotong tulang-belulang di tubuhnya yang telah mulai manula kau dan berjuta persepsi tentang bumimu itu, begitu memuakkan bagai polusi seribu sampah yang kau kalungkan sebagai aksesoris kotamu sudahlah, tak perlu kau teriakkan dengan lantang bumi-bumimu itu karena yang terekam dalam benakku bumimu itu telah membaur dengan bara hitam dan hijau sawit bumimu itu telah mengganas dalam banjir dan lumpur kita sudahi sajalah, dan taruh bumi-bumi kita dalam ruang yang semestinya dalam udara yang seharusnya dan di antara tangan yang mengasihinya karena yang kuyakini bumi kita tak akan bisa bernafas dengan baik tanpa cinta dari kita sekarang kita bisa mulai teriakkan dengan lantang dan dengarkanlah di telingamu bahwa bumi ini milikmu dan juga milikku satu dan indah dalam cinta kita
Banjarbaru, 12 April 2007

Syafiqotul Machmudah

Nyanyian Bisu sang Bumi
Mereka bernyanyi dengan hati dan suara yang terbata hingga hampir tak tertata karena jiwa mereka telah kau jadikan bara yang hilang seketika terbawa udara yang kau hirup dengan percuma kau dan berbagai keinginanmu telah menenggelamkan mereka dalam tangis yang tertahan hingga akhirnya mereka hanya bisa menimbun amarah, lewat bencana yang terkirim dengan beribu pesan untukmu entahlah, cinta mana yang kau bicarakan kasih dan ketulusan mana yang kau berikan yang terlihat hanya kau yang terpenjara oleh nafsu menguasainya yang terdengar hanya ribut kicaumu tentang keserakahan menginginkannya yang terasa hanya tangan-tanganmu sajalah yang dengan leluasa menghancurkannya Mereka bernyanyi dengan hati dan suara yang terbata hingga hampir tak tertata karena jiwa mereka telah kau jadikan bara yang hilang seketika terbawa udara yang kau hirup dengan percuma kini bisa kau dengar nyanyian bisu mereka nyaris, mereka hanya bisa menangis dan menangis tak terkendali, walaupun kau yang coba pegang kendali hingga sukmamu akhirnya kalut sempurna mengatakan dirimu sebagai pecundang kau selalu muncul dengan warna-warni berbeda itu, memukulnya, menendangnya dan mencoba menghentikan nafasnya secara perlahan dengan jari-jari setanmu yang menari-nari di tengah kegetiran ribuan makhluk. Kau bisa tiba-tiba muncul dengan wajah hitam nan dingin, lalu-lalang menyebarkan debu yang tak berkesudahan dan meninggalkan jejak-jejak penuh bencana. Ternyata perih itu benar-benar dengan indah kau buat untuk para korbanmu. Lalu tiba-tiba kau hadir di depanku dengan berjuta mesin pemotong dan berdiri dengan gagahnya menantangnya. Dengan derai tawa dan perhitungan keuntungan yang tak berkesudahan kau mainkan tangan orang-orang bodoh hingga akhirnya kau bodohi dirimu sendiri, kau ciptakan khayalanmu yang semu, menata serakan daun kering seperti kau tata dirimu yang bermoral bobrok.

Kau hijaukan hutan dengan sawit yang entah dengan jumlah ke berapa telah menguasai berhektar-hektar kehidupan masyarakat adat. Kau sebut itu kemakmuran? Kau pura-pura bodoh atau berkamuflase menjadi orang pintar Kau rusak hijaunya bumi yang alami itu dengan hijau buatan yang menyengsarakan Kau memang tak bisa berdamai dengan semua itu... Damaimu hanya susunan uang yang kau sulap setinggi piramida Omonganmu hanya bual yang seketika layu terbawa hujan Kau pura-pura bodoh atau berkamuflase menjadi orang pintar Kau dengar? Dasi dan jasmu benar-benar membuatku muak Kau tak ubahnya binatang bahkan binatang pun lebih tinggi derajatnya darimu Binatang berdasi, yah berdasi penghancuran dan berjas pengkhianatan Kau sadarkah itu? Suara rakyatmu kau bayar bencana Suara bumimu kau bayar bencana Suara alammu kau bayar penghancuran Suara Tuhanmu kau bayar pengkhianatan Hingga Mereka bernyanyi dengan hati dan suara yang terbata hingga hampir tak tertata karena jiwa mereka telah kau jadikan bara yang hilang seketika terbawa udara yang kau hirup dengan percuma kini nyanyian mereka hanya bisa menjadi sejarah bisu hingga bumiku yang dulu hijau akankah hanya dongeng nenek moyang untuk generasiku

lihatlah dirimu dalam cermin wahai penguasa kekuasaan takkan membuatmu kekal dan abadi dengan damai

Banjarbaru, 17 April 2007

Syafiqotul Macmudah, sering mencantumkan nama Viefin dalam mempublikasikan karyanya.(Kebumen,13 oktober 1984). Penyair dan cerpenis perempuan produktif. Sajaksajak dan cerpennya banyak dipublikasikan di rubrik sastra harian Radar Banjarmasin. Kini bermukim di kota Banjarbaru.

S. Surya

Sajak Burung-burung Negeriku
Burung-burung negeriku bila kau tak mau kena peluru pemburu atau pemulut menebar jala gala rindu terbanglah kau ke hutan menuju hulu di sana kau dapat beranak-cucu Burung-burung negeriku bila waktu datang juga pemburu perambah liar, penebang pilih atau penebang habis beratus ribu mengungsilah kau ke semenanjung atau ke hutan lindung bertengger di pokok kayu tapi relakan anak-cucumu yang tertinggal hidup mati tak menentu Burung-burung negeriku bila waktu datang juga pemburu perambah liar, penebang pilih atau penebang habis beratus ribu mengungsilah kau ke awan atau ke langit biru bila terpaksa serahkan diri pada tuhanmu.

S. Surya (Negara, Kabupaten HSS, Kalsel., 14 Mei 1945). Nama lengkapnya Sofyan Hadi Surya Negara. Selain penyair dikenal juga sebagai pelukis, penyanyi, dan dramawan. Antologi sajak tunggalnya yang sudah terbit adalah Sepi, Sajak BurungBurung Negeriku (1997), dan Nyanyian Anak Seribu Sungai (1998). Antologi bersama yang memuat sajaknya adalah Panorama (1974). Penyair ini meninggal dunia di Banjarmasin

Taufiq Ht Selepas dari Hutan Serdadu-serdadu liar kekal dalam nafasku seratus kupu-kupu menjalar-jalar serupa siluman daun-daun rontok menyajikan diri menjelma buntalan ular! Kuputari jalan-jalanmu garis tanah terdengar rintih, sehening maut di ranting rapuh, burung bicara lewat biru langit mengabarkan rumah sangkar terburai lebar berbaur teduh di ubun tanah, hilanglah segala tabiat Akar-akar melengkung, merancahi batubatu jauh menuju wangi rumput di mana hinggap cahaya waktu Telah kusinggahi hamparan-hamparan itu paling tidak, biarlah aku menyimpan rahasianya sendiri dari kesunyian yang paling jauh di kegetiran sajak ini

Taufiq Ht (Barabai, 17 Juli 1982). Alumnus Perguruan Tinggi Negeri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Aqidah Filsafat. Semasa Kuliah, selain aktif di organisasi kampus, ia berkecimpung di Sanggar Teater Eska UIN SUKA angkatan XV (binaan Hamdy Salad dan Teater Garasi UGM Yogyakarta.

Yuniar M. Ary

Balada Banjarbaru
sore ini kuguncang jantungku dengan iringan truck iblis dari gunung yang datang membonceng angin tenggara gemuruh menghempas dalam gelap teriakan suara knalpot bercampur asap solar membakar pandang menyesak nafas sore ini air mancur simpang empat berhenti muncrat tidak ada bianglala yang bertebar yang membentuk fenomena lorong gaib laron dan belalang mengungsi ke bukit cahaya lampu yang berbinar temaram redup gejolak perasaan berontak di dada ada bara api yang tak pernah padam karena kotaku sayang diperkosa dan diobrak-abrik truck iblis dari gunung sore ini kubasuh wajahku dengan air mata wangi cendana getaran dimensi kehidupan memancarkan energi penyejuk walaupun mendung menggelantung di langit kita

Yuniar M. Ary

Mega Putih
sudah lama mega putih tak berarak di langit Banjarbaru berpendar dihantam angin puting beliung dari hembusan hidung kerbau pejabat kota nafas-nafas tahi kuda berkumpul di meja runding kelabu menumpuk mengotori cakrawala para pendekar rakyat (baca: LSM) mati suri mulut mereka tersumpal bongkahan hitam batubara kawula cilik tersengal (dalam hati mereka bergumam: mampus lu) kapan mega putih berarak lagi di langit Banjarbaru? hanya Tuhan yang tahu

Yuniar M. Ary

Waduk Riam Kanan
terbaring tidur ratusan gunung bagai laskar antasari yang kalah perang membiru di antara mega kelabu hijau pucuk ilalang hutan gundul, hitam angus kuik elang kawin sudah tak terdengar iwak nila, kalui dan tauman berbaris naik ke hulu yang tinggal sapi kurus kelaparan tadi pagi raksasa penjaga hutan lagi ngorok kekenyangan makan bakpao reboisasi lapor pak menteri hutan sudah dihijaukan sepuluh ribu hektar kentut air waduk sebening air mata beriak diusap angin gunung tik tok tik tok kelotok berbaris memburu rejeki ganti rugi atas kuburan nenek moyang yang mati lemas tenggelam di dasar waduk

Yuniar M. Ary (Banjarmasin, 19 September 1942). Akhir tahun 1968 hijrah dan bermukim di Surabaya serta bergabung dengan penyair Muhammad Ali, D. Zawawi imron dan Sabrot D. Malioboro. Pernah menjabat Ketua Seni Sastra dan Research Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Banjarmasin (19671968). Tahun 1999 pulang ke Kalimantan Selatan dan menetap di kota Banjarbaru. Sajaksajaknya dimuat dalam antologi bersama penyair Banjarbaru Notasi Kota 24 Jam (2003), Bulan Ditelan Kutu (2004), dan Bumi Menggerutu (2005). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru.

Y.S. Agus Suseno

Suara Tanah Air dan Udara
Aku mendengar langkahmu, Saudaraku Apakah kau melihat gerakku? Akulah tanah. Kuberi kalian jalan: manusia hewan tumbuhan Melalui tangan Tuhan kuberi kalian kehidupan Sejak tanah dihamparkan bebijian tumbuh menjadi tanaman Tak kubedakan apakah untuk kebaikan atau kebusukan Padaku ditanamkan zat Tuhan: memberi tanpa meminta membagi seikhlasnya Kalau aku sakit, kalianlah yang merasakan perihnya Kalian taburi aku dengan insektisida, kalian yang merasakannya Kalian bongkar isi perutku, kalian gali jantung dan empedu Kalian ciptakan mahkota angkara kemegahan dunia Tapi kalian jualah yang kelak menanggung bencana Aku mendengar suaramu, Saudaraku Apakah kau mendengar gemericikku? Akulah air. Kuberi kalian minum: manusia hewan tumbuhan Memancur di tangan Tuhan kuberi kalian kesejukan Sejak aku dialirkan pepohonan tumbuh menjadi hutan Tak kubedakan untuk apa aku digunakan Padaku menetes rahmat Tuhan: mengalir sebebasnya membasahi mayapada Kalau aku kotor dan bau, kalian yang mereguknya Kalian campur aku dengan limbah beracun, kalian yang menghirupnya Kalian aduk kedalamanku, kalian cemari di hilir dan di hulu Kalian buih ombak bencana keluasan sungai dan samudera Tapi kalian jualah yang kelak tenggelam oleh prahara Aku mendengar napasmu, Saudaraku Apakah kau mendengar desirku? Akulah udara. Kuberi kalian kemurnian: manusia hewan tumbuhan Melalui napas Tuhan kuberi kalian kehidupan Sejak aku dihembuskan tepungsari berhamburan Tak kubedakan timur barat utara selatan Padaku ditiupkan keabadian: berembus di alam fana menghidupi semesta Kalau aku bising berisik, kalianlah pendengarnya Kalian dentumkan raungan mesin zaman, kalian kehilangan ketenangan Kalian kotori aku dengan limbah industri, polusi dan gas emisi Kalian bor keheninganku, kalian guncang kediamdirianku Kalian jualah yang menanggung pilu Akulah tanah air dan udara Kalian mengaku membutuhkanku Tapi kalian memang budak hawa nafsu Kalian tak bergeming sebelum waktu

Banjarmasin, 22 April 2000

Y.S. Agus Suseno

Kuala
Dari hulu sampai pesisir sungai Wajahmu berdarah. Hutan-hutan rebah Dalam gelimang lumpur darah Hablur keringatmu mendaki Melumuri batang kayu besi Engkau yang meratapi kaki langit Menatap kegersangan gurun Kalimantan Adakah tersiasa di hati perlawanan Bersama mandau dan tombak Mendayung mengarungi telaga empedu Menelusuri rawa beku Memanggili kepergian emas intan dan batubara Yang mengalir ke kuala Kuala. Kuala sungai siapa Tempat para dewa bertahta Perompak bermahkota Mata hatinya tak ada

2000

Y.S. Agus Suseno

Air Mata Rimba
Air matamu turun di ujung daun Ranting dan batang pohon Membanjiri akar tunjang Humus dan tanah rawa Di manakah mata ikan yang berenang semalam Di sungai tak ada Jeritanmu tak bergema Di lembayung matahari senja Di sini tinggal kemarau yang tua Membungkam kicau burung-burung terpenjara Di rimba beton baja Air matamu yang menggenangi danau hutan bakau Menguap jadi embun Mengambang di udara juga hatimu Hatimu yang tak pernah damai Sampai rimba langit tak terpermanai Menjeritkan sangsai

2004

Y.S. Agus Suseno (Banjarmasin, 23 Agustus 1964). Menulis sajak, cerpen, esai sastra, naskah teater, dan reportase seni budaya. Ia juga pemerhati dan aktivis teater di Banjarmasin. Antologi sajak tunggalnya adalah Di Bawah Langit Beku (1991). Sajaksajaknya terhimpun dalam antologi bersama, antara lain Dahaga – B. Post 1981 (1982), Forum Empat Penyair Muda Banjarmasin (1984), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1986), Perjalanan (1990), Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi (1991), Sahayun (1994), Cerita Dari Hutan Bakau (1994), Wasi (1999), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), dan Taman Banjarbaru (2006). Kini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->