Anda di halaman 1dari 44

I. 1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Wilayah perairan laut Indonesia memiliki kandungan sumberdaya alam

khususnya sumberdaya hayati (ikan) yang berlimpah dan beraneka ragam.

Pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia di berbagai wilayah tidak merata.

Di

beberapa

wilayah

perairan

masih

terbuka

peluang

besar

untuk

pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah yang lain

sudah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing. Hal tersebut dapat

disebabkan karena pengelolaan potensi sumberdaya perikanan tidak dikelola

secara terpadu. Salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya data dan

informasi

mengenai

potensi

sumberdaya

perikanan

wilayah

Indonesia.

Kurangnya data dan informasi menyebabkan potensi perikanan tidak dapat

dimanfaatkan secara optimal dan lestari.

Kebijakan pengembangan dan pengelolaan harus diselaraskan dengan

tujuan pembangunan perikanan secara umum (pasal 3, UU No. 31 tahun 2004

tentang Perikanan) yaitu : (1) meningkatkan taraf hidup nelayan kecil, (2)

meningkatkan penerimaan daerah (PAD) dan penerimaan negara (devisa), (3)

mendorong perluasan dan kesempatan kerja, (4) meningkatkan ketersediaan dan

konsumsi protein hewani, (5) mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan, (6)

meningkatkan

produktivitas,

mutu,

nilai

tambah

dan

daya

saing,

(7)

meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan ikan, (8)

pemamfaatan

sumberdaya

ikan

secara

optimal,

(9)

menjamin

kelestarian

sumberdaya ikan dan lingkungannya. Selain pengembangan dan pengelolaan

perikanan tangkap harus memperhatikan norma - norma internasional yang

mengatur etika melakukan perikanan. Salah satu diantaranya yaitu FAO, Code of

Conduct for Responsibles Fisheries (CCRF) yang mengamanahkan dilakukannya

beberapa hal yang berhubungan dengan perikanan tangkap antara lain : (1)

pengguna

SDI

menggunakan

harus

menjaga

sumberdaya

dan

lingkungannya

cara

penangkapan

yang

bertanggung

jawab,

(2)

dan

wajib

mencegah

terjadinya

penangkapan

yang

berlebihan

(over

fishing),

(3)

pemamfaatan

sumberdaya

perikanan

harus

menerapkan

pendekatan

kehati-hatian

(precautionary measures), (4) pengembangan dan penerapan alat penangkap

ikan harus diarahkan pada alat penangkap selektif dan ramah lingkungan, (5)

perlindungan

terhadap

habitat

yang

kritis,

(6)

menjamin

terlaksananya

pengawasan dan kepatuhan dalam pengelolaan dan lain-lain.

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan hasil penangkapan

ikan yang sangat besar. Dari 9 kabupaten saja, yaitu kabupaten Luwu, Wajo,

Bone,

Sinjai,

Bulukamba,

Jeneponto,

Takalar,

Maros

dan

Pinrang, jumlah

produksinya sudah mencapai 254.267 ton dengan pemberi kontribusi terbesar

adalah kabupaten Bone dengan jumlah produksi 66.109 ton. Total produksi

perikanan Provinsi Sulawesi Selatan adalah sebesar 337.317 ton. Adapun

distribusi wilayah sentra penangkapan ikan di provinsi Sulawesi Selatan adalah

sebagai berikut:

a. Kabupaten Bulukamba : Ujung Bulu, Bonto Bahari, Kajang, Gantarang

Kindang, Bontotiro, Hero Lange-lange

b. Kabupaten Takalar : Galesong Selatan, Galesong Utara, Manggara

Bombang, Mappakasungu

c. Kabupaten Maros : Maros Baru, Maros Utara

d. Kabupaten Bone : Awang Pone, Tanete Riattang Timur, Kajuara,

Salomekko, Tonra, Mare, Sibulue, Barebbo, Cina, Tellu Siatinge

e. Kabupaten Wajo : Pitumpanua, Takkalalo, Sajoanging

f. Kota Makasar : Ujung Tanah, Tamalate, Tallo, Mariso, Ujung Pandang,

Biring Kanaya

g. Kabupaten Pinrang

: Suppa,

Mattirosompe, Cempa,

Duampanua,

Lembang

h. Luwu

Kabupaten

:

Wara

Utara,

Larompong,

Suli,

Belopa,

Bua

Ponrang, Bua, Walenrang, Malangke, Bone-bone, Wotu, Malili,Wara

i. Kabupaten Bantaeng : Bissapu, Bantaeng

j. Kabupaten Jeneponto : Bangkela, Tamalatea, Binamu, Batang.

k. Kabupaten Luwu Utara

l. Kabupaten Sinjai

(Sumber : Dinas Perikanan, 2002)

Potensi sumberdaya perikanan laut untuk wilayah Sulawesi Selatan

sebesar 620.480 ton/tahun, yang terletak sepanjang garis pantai 2.500 km. Untuk

potensi sumberdaya perikanan laut sebesar 929.720 ton/tahun dengan peluang

pengembangannya adalah skala menengah kebawah, sumberdaya manusia

terdiri dari nelayan di laut sebanyak 280.375 orang dan nelayan di Perairan

Umum sebanyak 14.486 orang.

Perairan Sulawesi Selatan terdiri atas tiga perairan umum, yaitu :

a. Perairan Selat Makassar, terdiri atas; Makassar, Maros, Pangkep, Barru,

Pinrang dan Pare-pare.

b. Perairan

Laut

Flores,

terdiri

atas;

Jeneponto, dan Takalar.

Selayar,

Bulukumba,

Bantaeng,

c. Perairan Teluk Bone, terdiri atas; Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Luwu Utara,

Luwu Timur dan Palopo.

Gambar 1. Perairan Teluk Bone Untuk perairan Teluk Bone masih memiliki potensi yang cukup besar,

Gambar 1. Perairan Teluk Bone

Untuk perairan Teluk Bone masih memiliki potensi yang cukup besar,

Potensi di bidang perikanan sangat besar terutama pada 11 Kecamatan di

sepanjang pesisir Teluk Bone. Wilayah penangkapan ikan disekitar Teluk Bone

dengan panjang pantai 127 km sampai puluhan Mil ketengah laut dengan

produksi tahun 2001 sebesar 68.384,2 ton, Perairan umum sebesar 859,5 ton.

Potensi yang ada tersebut kalau dikelola dengan baik akan endatangkan

keuntungan secara terus menerus (berkelanjutan), tetapi kenyataan di lapangan

banyak terjadi kegiatan eksploitasi ikan yang tidak memperhatikan masalah

kelestariannya, bahkan dengan cara-cara yang merusak habitat. Hal tersebut

tidak boleh dibiarkan terus menerus terjadi, kalau tidak ada upaya pencegahan,

sumberdaya ikan yang ada dapat menjadi punah. Hal ini tidak sejalan dengan

code of conduct for responsible fisheries (CCRF) dimana negara pemakai harus

menjaga kelestarian sumberdaya perikanan.

Melihat potensi yang cukup besar tersebut maka perlu dilakukan suatu

studi pengelolaan sumberdaya hayati perairan untuk melihat besar potensi

perikanan

tangkap

yang

ada

di

perairan

teluk

bone

sehingga

dalam

pemanfaatannya kedepan tidak mengalami overexploitasi

I. 2 Tujuan Kegunaan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini ialah untuk mengestimasi

potensi sumberdaya perikanan tangkap khususnya ikan tongkol sebagai dasar

penilaian pengelolaan

sumberdaya yang

berkelanjutan, melalui pendekatan

Maximum Sustainable Yieald (MSY), serta menentukan besarnya pemanfaatan

dan

pencapaian

tujuan

pengelolaan

optimal di perairan teluk Bone.

sumberdaya

perikanan

tangkap

yang

Adapun kegunaan dari laporan ini ialah diharapkan dapat digunakan

sebagai bahan rujukan untuk menentukan besar potensi perikanan tangkap

khususnya ikan tngkol di perairan teluk Bone, agar tidak terjadi over exploitasi

sehingga perikanan tangkap khususnya ikan tongkol di perairan teluk Bone dapat

dimanfaatkan secara berkelanjutan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 Perairan teluk Bone

Perairan Teluk Bone Secara administratif terletak di Propinsi Sulawesi

Selatan (di sebelah barat dan utara) dan Propinsi Sulawesi Tenggara (di sebelah

timur). Wilayah administratif dari Propinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan

perairan Teluk Bone adalah Kabupaten Bulukumba, Kab. Sinjai, Kab. Bone, Kab.

Wajo, Kab. Luwuk, Kodya Polopo, Kab. Luwuk Utara, Kab. Luwuk Timur.

Sedangkan wilayah administratif di Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan

dengan perairan Teluk Bone adalah Kabupaten Bombana dan Kab. Kolaka. Laut

Flores adalah batas sebelah selatan dari perairan Teluk Bone. Teluk Bone

dicirikan sebagai tempat bermuaranya Sungai Cenrana. Secara geografis Sungai

Cenrana menjadi muara dari sejumlah sungai besar dan kecil di Sulawesi

Selatan. Dimana air dari Sungai Cenrana ini kemudian mengalir ke Teluk Bone

(Wagey T, 2004).

II. 2 Aspek Biologi iKan Tongkol

Ikan tongkol terklasifikasi dalam ordo Goboioida, family Scombridae,

genus Auxis, spesies Auxis thazard. Ikan tongkol masih tergolong pada ikan

Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin .Sirip dada

melengkung, ujngnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan

perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip

punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada

tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut,

sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut

berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-

sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet (Nainggolan E, 2009)

Ikan tongkol dapat mencapai ukuran panjang 60 65 cm dengan berat

1.720 gr pada umur 5 tahun. Panjang pertama kali matang gonad ialah 29 30

cm. ikan tongkol temasuk ikan pelagis yang hidup pada kedalaman hingga 50 m

di daerah tropis dengan kisaran suhu 27 28 o C. Ikan tongkol merupakan jenis

ikan migratory yang tersebar disekitar perairan samudera atlantik, hindia dan

pasifik.

Ikan tongkol memiliki 10 12 jari-jari sirip punggung, 10 13 jari-jari halus

sirip punggung, 10 14 jari-jari halus sirip dubur, dengan warna punggung

kebiru-biruan, ungu tua bahkan berwarna hitam pada bagian kepala. Sebuah

pola 15 garis-garis halus, miring hampir horisontal, garis bergelombang gelap di

daerah scaleless diatas gurat sisi (linea lateralis). Bagian bawah agak putih

(cerah). Dada dan sirip perut ungu, sisi bagian dalam mereka hitam. Badan kuat,

memanjang dan bulat. Gigi kecil dan berbentuk kerucut, dalam rangkaian

tunggal. Sirip dada pendek, tapi mencapai garis vertikal melewati batas anterior

dari

daerah

scaleless

atas

corselet.

Sebuah

flap

tunggal

besar

(proses

interpelvic) antara sirip perut. Tubuh telanjang kecuali untuk corselet, yang

dikembangkan dengan baik dan sempit di bagian posterior (tidak lebih dari 5

skala yang luas di bawah asal-sirip punggung kedua). Sebuah keel pusat yang

kuat pada setiap sisi dasar sirip ekor-kecil antara 2 keel.

Gambar 2. Ikan Tongkol ( Auxisthazard ) Klasifikasi Ikan Tongkol. Phylum : Chordata Sub phylum

Gambar 2. Ikan Tongkol (Auxisthazard)

Klasifikasi Ikan Tongkol.

Phylum : Chordata

Sub phylum : Vertebrata

Class : Pisces

Sub class : Teleostei

Ordo

: Percomorphi

Sub ordo : Scromboidea

Family : Scromboidae

Genus : Auxis

Species : Auxis thazard

Bersifat epipelagic di perairan neretik dan samudra . makanannya berupa

ikan kecil, cumi-cumi, krustasea planktonik (megalops), dan larva stomatopod.

Karena kelimpahan mereka, mereka dianggap sebagai elemen penting dari

rantai makanan, khususnya sebagai hijauan untuk spesies lain bagi kepentingan

komersial. Diincar oleh ikan yang lebih besar, termasuk tuna lainnya. Dipasarkan

segar dan beku juga digunakan kering atau asin, asap, dan kaleng. (fishbase.org,

2010).

II. 3 Alat Tangkap Yang Menangkap Ikan Tongkol di Perairan Teluk Bone

Ada beberapa jenis alat

tangkap yang menangkap ikan tongkol di

perairan teluk Bone, jenis alat tangkap ini dari tahun ke tahun mulai tahun 1999

2007 beberapa mengalami pergantian. Adapun jenis alat tangkap tersebut antara

lain :

1.

Payang

Menurut Monintja (1991), jaring pada payang terdiri atas kantong, dua

buah sayap, dua tali ris, tali selembar, serta pelampung dan pemberat. Kantong

merupakan satu kesatuan yang berbentuk kerucut terpancung, semakin ke arah

ujung kantong jumlah mata jaring semakin berkurang dan ukuran mata jaringnya

semakin kecil. Ikan hasil tangkapan akan berkumpul di bagian kantong ini,

semakin

kecil

ukuran

meloloskan diri.

mata

jaaringmaka

semakin

kecil

kemungkinan

ikan

ukuran meloloskan diri. mata jaaringmaka semakin kecil kemungkinan ikan Gambar 3. Jaring paying dan operasi penangkapan

Gambar 3. Jaring paying dan operasi penangkapan

Keterangan:

1. Tali selembar kanan

4. Sayap kanan

7. pelampung

2. Tali selembar kiri

5. Sayap kiri

6. Pemberat

8. Buntut

10. Tal iris bawah

3. Pelampung bulat

9. Tal iris atas

Sayap

merupakan

lembaran

jaring

yang

daisatukan

dan

berfungsi

sebagai penggiring dan dan pengejut bagi ikan sehingga ikan mengarah ke mulut

jaring. Sayap terdiri atas sayap kiri dan sayap kanan, memiliki ukuran mata jaring

yang lebih besar dari bagian lainnya (Monintja, 1991).

Tali ris ada dua bagian, yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Tali ris atas

lebih panjang dan tali ris bawah yang menyebabkan bibir jaring bagian atas lebih

menjorok ke dalam. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ikan eloloskan diri ke

bagian

bawah

perairan.

Tali

ris

berfungsi

untuk

merentangkan jaring

dan

merupakan tempat tali pelampung (floats)dan pemberat (sinker). Tali selembar

adalah

tali

yang

mengikat

ujung

sayap

kiri

dan

kanan

jaring,

berfungsi

menghubungkan antaa jaring dan kapal / perahu (Subani dan Barus, 1989).

Pelampung dan pemberat berfungsi untuk membantu bukaan mulut

jaring. Pelampung juga berfungsi untuk mempertahankan bentuk jaring sesuai

dengan yang diinginkan daan menjaga bukaan mulut jaring dari pengaruh angin

dan arus saat dioperasikan. Pemberat berfungsi agar bagian bawah jaring

terendam sempurna sehingga membentuk bukaan mulut jaring yang maksimal

(Monintja, 1991).

2. Pukat Cincin (Purse Seine)

Pukat cincin atau jaring lingkar (purse seine) merupakan jenis jaring

penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang atau trapesium, dilengkapi

dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian

bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah

jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan terkurung di dalam jaring.

Gambar 4. Pukat Cincin ( Purse seine ) Pukat cincin atau purse seine adalah sejenis

Gambar 4. Pukat Cincin (Purse seine)

Pukat cincin atau purse seine adalah sejenis jaring yang di bagian

bawahnya dipasang sejumlah cincin atau gelang besi. Dewasa ini tidak terlalu

banyak dilakukan penangkapan tuna menggunakan pukat cincin, kalau pun ada

hanya berskala kecil.

Pukat cincin dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring terhadap

gerombolan ikan. Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya

menarik purse line di antara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring akan

membentuk seperti mangkuk. Kecepatan tinggi diperlukan agar ikan tidak dapat

meloloskan diri. Setelah ikan berada di dalam mangkuk jaring, lalu dilakukan

pengambilan hasil tangkapan menggunakan serok atau penciduk.

Pukat cincin dapat dioperasikan siang atau malam hari. Pengoperasian

pada siang hari sering menggunakan rumpon atau payaos sebagai alat bantu

pengumpul ikan. Sedangkan alat bantu pengumpul yang sering digunakan di

malam hari adalah lampu, umumnya menggunakan lampu petromaks.

Rumpon selain berfungsi sebagai alat pengumpul ikan juga berfungsi

sebagai penghambat pergerakan atau ruaya ikan, sehingga ikan akan berada

lebih lama di sekitar payaos. Rumpon dapat menjaga atau membantu cakalang

tetap berada d lokasi pemasangannya selama 340 hari.

3.

Jaring Insang

Jaring insang adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring

empat persegi panjang, yang mempunyai ukuran mata jaring merata. Lembaran

jaring dilengkapi dengan sejumlah pelampung pada tali ris atas dan sejumlah

pemberat pada tali ris bawah. Ada beberapa gill net yang mempunyai penguat

bawah (srampat/selvedge) terbuat dari saran sebagai pengganti pemberat.

Tinggi jaring insang permukaan 5 - 15 meter dan bentuk gill net empat persegi

panjang atau trapesium terbalik, tinggi jaring insang pertengahan 5 - 10 meter

dan bentuk gill net empat persegi panjang serta tinggi jaring insang dasar 1 - 3

meter dan bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium. Bentuk gill net

tergantung dari panjang tali ris atas dan bawah.

Pengoperasiannya

dipasang

tegak

lurus

di

dalam

perairan

dan

menghadang arah gerakan ikan. Ikan tertangkap dengan cara terjerat insangnya

pada mata jaring atau dengan cara terpuntal pada tubuh jaring. Satuan jaring

insang menggunakan satuan pis jaring (piece). Satu unit gill net terdiri dari

beberapa pis jaring (SISKA, 2010).

Dilihat dari cara pengoperasiannya, alat tangkap ini biasa dihanyutkan

(drift gill-net), dilabuh (set gill-net), dilingkarkan (encircling gill-net). Jaring insang

termasuk

alat

tangkap

potensial

terlebih

setelah

adanya

Keppres

29/80

khususnya jaring insang dasar (bottom set gill-net) atau yang lebih dikenal

dengan nama “Jaring klitik” ( Genisa. A. S, 1998)

Gambar 5. Jaring Insang ( Gill-net ) a. Jaring insang hanyut Jaring insang hanyut adalah

Gambar 5. Jaring Insang (Gill-net)

a. Jaring insang hanyut

Jaring insang hanyut adalah jenis gill net yang berbentuk empat persegi

panjang. Jaring insang hanyut termasuk dalam klasifikasi jaring insang hanyut di

permukaan air (surface drift gill net) atau jaring insang hanyut di pertengahan air

(midwater drift gill net) dengan panjang tali ris bawah sama dengan atau lebih

kecil daripada panjang tali ris atas.

Pengoperasiannya

dipasang

tegak

lurus

dan

dihanyutkan

di

dalam

perairan mengikuti gerakan arus selama jangka waktu tertentu, salah satu ujung

unit gill net diikatkan pada perahu/kapal atau kedua ujung gill net dihanyutkan di

perairan. Pada perairan umum, jaring insang hanyut digunakan di danau atau

waduk.

Gambar 6. Jenis-jenis Jaring Insang Hanyut ( Drift gill-net ) Hasil tangkapan antara lain :
Gambar 6. Jenis-jenis Jaring Insang Hanyut ( Drift gill-net ) Hasil tangkapan antara lain :

Gambar 6. Jenis-jenis Jaring Insang Hanyut (Drift gill-net)

Hasil tangkapan antara lain : baung, keting, sepat siam, gabus, koan,

lukas, mas, mujair, botia, berukung, benteur, bilih, tawes, depik, hampal, jelawat,

kendia, lalawak, sili, nilem, parang, repang, salab, semah, seren, betutu, patin

jambal, tempe dan lempuk (SISKA, 2010).

b. Jaring insang tetap

Jaring

insang

tetap

adalah

jaring

insang

berbentuk

empat

persegi

panjang. Jaring insang tetap dapat dikategorikan dalam klasifikasi jaring insang

tetap di dasar air (bottom set gill net), jaring insang tetap di pertengahan air

(midwater set gill net) tergantung pada pemasangan gill net di dalam perairan.

Tali ris bawah sama dengan atau lebih panjang daripada tali ris atas.

Pengoperasiannya dipasang menetap di perairan dengan menggunakan

pemberat selama jangka waktu tertentu. Pada perairan umum, jaring insang

hanyut digunakan di danau atau waduk (SISKA, 2010).

Gambar 7. Jaring Insang Tetap ( Set gill-net ) Dalam pengoperasiannya jaring ini bisa dilabuh

Gambar 7. Jaring Insang Tetap (Set gill-net)

Dalam pengoperasiannya jaring ini bisa dilabuh (diset), lapisan tengah

maupun

dibawah

lapisan

atas,

tergantung

dari

panjang

tali

yang

menghubungkan pelampung dengan pemberat (jangkar). Jaring insang labuh ini

sama dengan jaring klitik yaitu jaring insang dasar menetap yang sasaran utama

penangkapannya adalah udang dan ikan-ikan dasar.

Cara pengoperasian jaring insang labuh ini disamping didirikan secara

tegak lurus, dapat juga diatur sedemikian rupa yang seakan-akan menutup

permukaan dasar atsau dihamparan tepat di atas karang-karang ( Genisa. A. S,

1998).

c. Jaring Lingkar

Jaring insang lingkar adalah jaring insang yang dalam pengoperasiannya

dengan

cara

melingkarkan

ke

sasaran

tertentu

yaitu

kawanan

ikan

yang

sebelumnya dikumpulkan melalui alat bantu sinar lampu. Stelah kawanan ikan

terkurung kemudian dikejutkan dengan suara dengan cara memukul-mukul

bagian

perahu, karena terkejut

ikan-ikan tersebut

akan bercerai-berai

dan

akhirnya tersangkut karena melanggar mata jaring ( Genisa. A. S, 1998).

Gambar 8. Jaring Insang Lingkar ( Encircling gill-net ) d. Jaring angkat Jaring angkat adalah

Gambar 8. Jaring Insang Lingkar (Encircling gill-net)

d. Jaring angkat

Jaring angkat adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring

persegi panjang atau bujur sangkar yang direntangkan atau dibentangkan

dengan menggunakan kerangka dari batang kayu atau bambu (bingkai kantong

jaring) agar diupayakan jaring angkat membentuk kantong. Pengoperasiannya

dengan

cara

menurunkan

atau

menenggelamkan

jaring

perairan atau ke dekat permukaan air.

4.

Bagan

angkat

ke

dalam

Bagan adalah suatu alat penangkapan ikan yang menggunakan jaring

dan lampu sehingga alat ini dapat digolongkan kepada light fishing. Bagan

pertama-tama diperkenalkan oleh orang-orang Makassar dan Bugis di Sulawesi

Selatan dan Tenggara pada tahun 1950-an. Kemudian dalam waktu yang relative

singkat sudah dikenal hamper diseluruh daerah perikanan laut Indonesia dan

dalam perkembangannya telah mengalami perubahan-perubahan bentuk.

Bagan terdiri dari komponen-komponen penting, yaitu; jaring bagan,

rumah bagan (anjang-anjang, kadang tanpa anjang-anjang), serok dan lampu.

Jaring bagan umumnya berukuran 9 x 9 m, dengan mata jaring 0,5 1 cm,

terbuat dari benang katun atau nilon. Jaring tersebut diikatkan pada bingkai

berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bamboo atau kayu. Rumah bagan

(anjang-anjang) terbuat dari bamboo / kayu yang berukuran bagian bawah

berukuran 10 x 10 m, sedang bagian atas berukuran0,5 x 0,5 m (bagan tancap).

Pada bagian atas rumah bagan (pelataran bagan) terdapat alat penggulung

(roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengankat jaring bagan pada

waktu penangkapan.

Penangkapan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari (light

fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai

alat bantu penangkapan. Dilihat dari bentuk dan cara pengoperasiannya bagan

dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu; bagan tancap, bagan rakit dan bagan

perahu ( Genisa. A. S, 1998).

a. Bagan tancap

Bagan merupakan alat tangkap terdiri dari susunan bambu berbentuk

persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh di atas perairan. Pada

Bagian tengah bangunan dipasang jaring yang disebut Wareng dengan ukuran

bervariasi tergantung selera pemiliknya

ukurannya 7 x 7 meter.

dengan mata jaring 0.4 cm, biasanya

Pada dasarnya alat ini terdiri dari bangunan bagan yang terbuat dari

bambu/kayu, jaring yang berbentuk segi empat yang diikatkan pada bingkai yang

terbuat dari bambu/kayu.

Pada keempat sisinya terdapat beberapa batang

bambu/kayu melintang dan menyilang yang dimaksudkan untuk memperkuat

berdirinya bagan. Di atas bangunan bagan dibagian tengah terdapat bangunan

rumah yang berfungsi sebagai tempat istirahat, pelindung lampu dari hujan dan

tempat untuk melihat ikan/hasil tangkapan. Di atas bangunan ini terdapat

roller

(semacam pemutar) yang terbuat dari bambu /kayu yang berfungsi untuk

menarik jaring.

Umumnya alat tangkap ini berukuran 9 x 9 meter, sedangkan tinggi dari

dasar perairan rata-rata 12 meter, dengan demikian, kedalaman perairan untuk

tempat pemasangan alat tangkap ini rata-rata pada kedalaman 8 meter, namun

pada daerah tertentu ada yang memasang pada kedalaman 15 meter, karena

ditancapkan

ke

dasar

perairan

maka

dasar

laut

yang

menjadi

tempat

penancapan tiang bagan adalah dasar perairan yang mengandung lumpur

bercampur pasir.

Posisi jaring dari Bagan ini terletak di bagian bawah dari bangunan Bagan

yang diikatkan pada bingkai bambu/kayu

yang berbentuk segi empat. Bingkai

bambu/kayu tersebut dihubungkan dengan tali pada keempat sisinya yang

berfungsi untuk menarik jaring. Pada ke empat sisi jaring ini diberi pemberat yang

berfungsi untuk menenggelamkan jaring dan memberikan posisi jaring yang lebih

baik selama dalam air.

Untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul di bawah Bagan, umumnya

nelayan menggunakan lampu petromaks yang jumlahnya bervariasi 2 5 buah.

Langkah pertama dalam mengoperasikan alat ini adalah menurunkan

jaring dan kemudian memasang lampu yang posisinya tepat di atas Jaring

(Wareng). Setelah beberapa jam kemudian (sekitar 4 jam) atau dianggap sudah

banyak ikan yang berkumpul di bawah Bagan maka penarikan jaring mulai

dilakukan. Penarikan dilakukan dengan memutar roller secara perlahan-lahan

dan setelah jaring agak mendekati permukaan maka jaring diangkat dengan

cepat

sehingga jaring terangkat ke atas dan tangkapan terjebak di dalamnya.

Setelah

jaring

terangkat,

maka

pengambilan

tangkapan

dilakukan

dengan

menggunak serok (jaring yang bertangkai panjang). Demikian seterusnya , jika

operasi penangkapan ingin dilanjutkan kembali, maka jaring diturunkan kembali

ke air seperti semula. Dalam satu malam, operasi penangkapan bisa dilakukan

sampai tiga kali bergantung umur bulan (Rharnadi, 2009)

Gambar 9. Bagan Tancap Karena Bagan ditancapkan ke dasar perairan, yang berarti kedalaman laut tempat

Gambar 9. Bagan Tancap

Karena Bagan ditancapkan ke dasar perairan, yang berarti kedalaman

laut tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas yaitu pada perairan

dangkal.

Alat ini dapat dipakai dengan efektif pada saat bulan gelap sebab sasaran

tangkapan akan tertarik kepada cahaya lampu Petromaks pada saat gelap dan

berkumpul di bawah bagan (di atas jaring).

Hasil tangkapan alat adalah ikan-ikan yang biasa hidup bergerombol

misalnya ikan Tamban, ikan Ciu, ikan Kepetek, ikan-ikan berukuran sedang

misalnya

ikan

Tongkol,

ikan

Tenggiri,

cumi-cumi

sebagainya ( Genisa. A. S, 1998).

b. Bagan perahu

(sotong),

udang,

dan

Bagan perahu merupakan bagan yang lebih sederhana dan lebih ringan

sehingga memudahkan dalam pamindahanke tempat-tempat yang dikehendaki.

Bagan perahu ni terdiri dari dua perahu yang pada bagian depan dan belakang

dihubungkan dengan dua batang bamboo sehingga terbentuk bujur sangkr

sebagai tempat menggantungkan jaring bagan. Pada waktu penangkapan, maka

bagan ini akan di labuh dengan menggunakan jangkar ( Genisa. A. S, 1998).

di labuh dengan menggunakan jangkar ( Genisa. A. S, 1998). Gambar 10. Bagan Perahu 5. Rawai

Gambar 10. Bagan Perahu

5. Rawai tuna (tuna longilne)

Rawai tuna atau tuna longline adalah alat penangkap tuna yang paling

efektif. Rawai tuna merupakan rangkaian sejumlah pancing yang dioperasikan

sekaligus. Satu tuna longliner biasanya mengoperasikan 1.000 - 2.000 mata

pancing untuk sekali turun.

Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan

samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, menanti umpan dimakan oleh ikan

sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan.

sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arah arus atau sering

disebut drifting. Drifting berlangsung selama kurang lebih empat jam. Selanjutnya

mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.

Umpan longline harus bersifat atraktif. misalnya sisik ikan mengkilat,

tahan di dalam air, dan tulang punggung kuat. Umpan dalam pengoperasian alat

tangkap ini berfungsi sebagai alat pemikat ikan. Jenis umpan yang digunakan

umumnya ikan pelagis kecil, seperti lemuru (Sardinella sp.), layang (Decopterus

sp.), kembung (Rastrelliger sp.), dan bandeng (Chanos chanos) (FBC, 2010).

6. Huhate (pole and line)

Huhate atau pole and line khusus dipakai untuk menangkap cakalang.

Tak heran jika alat ini sering disebut "pancing cakalang". Huhate dioperasikan

sepanjang siang hari pada saat terdapat gerombolan ikan di sekitar kapal. Alat

tangkap

ini

bersifat

aktif.

Kapal

akan

mengejar gerombolan

ikan.

Setelah

gerombolan ikan berada di sekitar kapal, lalu diadakan pemancingan.

Terdapat beberapa keunikan dari alat tangkap huhate. Bentuk mata

pancing huhate tidak berkait seperti lazimnya mata pancing. Mata pancing

huhate ditutupi bulu-bulu ayam atau potongan rafia yang halus agar tidak tampak

oleh

ikan.

Bagian

haluan

kapal

huhate

mempunyai

konstruksi

khusus,

dimodifikasi menjadi lebih panjang, sehingga dapat dijadikan tempat duduk oleh

pemancing. Kapal huhate umumnya berukuran kecil. Di dinding bagian lambung

kapal, beberapa cm di bawah dek, terdapat sprayer dan di dek terdapat

beberapa tempat ikan umpan hidup. Sprayer adalah alat penyemprot air.

Pemancingan dilakukan serempak oleh seluruh pemancing. Pemancing

duduk di sekeliling kapal dengan pembagian kelompok berdasarkan keterampilan

memancing.

Pemancing

I

adalah

pemancing

paling

unggul

dengan

kecepatan

mengangkat mata pancing berikan sebesar 50-60 ekor per menit. Pemaneing I

diberi posisi di bagian haluan kapal, dimaksudkan agar lebih banyak ikan

tertangkap.

Pemancing II diberi posisi di bagian lambung kiri dan kanan kapal.

Sedangkan pemancing III berposisi di bagian buritan, umumnya adalah orang-

orang yang baru belajar memancing dan pemancing berusia tua yang tenaganya

sudah mulai berkurang atau sudah lamban. Hal yang perlu diperhatikan adalah

pada saat pemancingan dilakukan jangan ada ikan yang lolos atau jatuh kembali

ke perairan, karena dapat menyebabkan gerombolan ikan menjauh dari sekitar

kapal.

Umpan yang digunakan adalah umpan hidup, dimaksudkan agar setelah

ikan umpan dilempar ke perairan akan berusaha kembali naik ke permukaan air.

Hal ini akan mengundang cakalang untuk mengikuti naik ke dekat permukaan.

Selanjutnya dilakukan penyemprotan air melalui sprayer. Penyemprotan air

dimaksudkan

untuk

mengaburkan

pandangan

ikan,

sehingga

tidak

dapat

membedakan antara ikan umpan sebagai makanan atau mata pancing yang

sedang

dioperasikan.

Umpan

hidup

yang

digunakan

biasanya

adalah

teri

(Stolephorus spp.) (Kliping dunia ikan dan Mancing, 2010

BAB III

METODE PENELITIAN

III. 1 Waktu dan Tempat

Laporan ini disusun berdasarkan data potensi perikanan tangkap perairan

Teluk Bone yang terdiri atas 7 kabupaten, yaitu kabupaten Sinjai, Bone, Wajo,

Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan Palopo. Data diolah mulai dari tahun 1999

sampai dengan tahun 2007.

III. 2 Pengambilan data

Data yang diolah merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas

Kelautan dan Perikanan Unit Perikanan Tangkap Propinsi Sulawesi Selatan,

dengan melihat potensi perairan teluk Bone sejak tahun 1999 sampai dengan

tahun 2007.

III. 3 Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Schaefer dan

Guland-Fox. Adapun langkah analisis data ialah sebagai berikut :

1. Standarisasi Effort

Unit effort sejumlah armada penangkapan ikan dengan alat tangkap dan

waktu tertentu dikonversi ke dalam satuan “boat-days” (trip). Pertimbangan yang

digunakan adalah :

a. respon stock terhadap alat tangkap standar akan menentukan status

sumberdaya

selanjutnya

berdampak

pada

status

perikanan

alat

tangkap lain,

b. total hasil tangkap ikan per unit effort alat tangkap standar lebih

dominan dibanding alat tangkap lain, dan

c. daerah

penangkapan

alat

tangkap

standar

meliputi

dan

atau

berhubungan dengan daerah penangkapan alat tangkap lain.

Prosedur standarisasi alat tangkap ke dalam satuan baku unit alat

tangkap standar, dapat dilakukan sebagai berikut :

(1) Alat tangkap standar yang digunakan mempunyai CPUE terbesar dan

memiliki nilai faktor daya tangkap (fishing power index, FPI) sama dengan 1. Nilai

FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983):

Nilai FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983): dimana : CPUEr CPUEs FPIi = total hasil
Nilai FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983): dimana : CPUEr CPUEs FPIi = total hasil
Nilai FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983): dimana : CPUEr CPUEs FPIi = total hasil
Nilai FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983): dimana : CPUEr CPUEs FPIi = total hasil
Nilai FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983): dimana : CPUEr CPUEs FPIi = total hasil
Nilai FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983): dimana : CPUEr CPUEs FPIi = total hasil

dimana :

CPUEr

CPUEs

FPIi

= total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat

tangkap r yang akan distandarisasi (ton/trip).

= total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat

tangkap s yang dijadikan standar (ton/trip).

= fishing power index dari alat tangkap i (yang distandarisasi dan alat

tangkap standar)

(2) Nilai FPIi digunakan untuk menghitung total upaya standar, yakni :

dimana :

E

=

total

effort

atau

jumlah upaya tangkap
jumlah
upaya
tangkap

dari

distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)

alat

tangkap

yang

Ei

= effort dari alat tangkap yang distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)

2. Maximum Sustainable Yield

Estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap didasarkan atas jumlah

hasil tangkapan ikan yang didaratkan pada suatu wilayah dan variasi alat

tangkap per trip. Prosedur estimasi dilakukan dengan cara (Sparre dan Venema,

1999) :

a.

dimana :

CPUE n

Catch n =

E n

Menghitung

hasil tangkapan

per

upaya tangkap (CPUE),

melalui

persamaan :

 
 
 

=

total

hasil

tangkapan

per

upaya

penangkapan

yang

telah

distandarisasi dalam tahun n (ton/trip)

total hasil tangkapan dari seluruh alat dalam tahun n (ton)

= total effort atau jumlah upaya tangkap dari alat tangkap yang

distandarisasi dengan alat tangkap standar dalam tahun n (trip).

b. Melakukan

estimasi

parameter

alat

tangkap

menggunakan model Schaefer berikut :

dimana :

CPUE n = α – βE n atau Catch n = α E n – βE n

2

standar

dengan

CPUE n

E n

α dan β

= total hasil tangkapan per upaya setelah distandarisasi pada tahun n

(ton/trip)

= total effort standar pada tahun n (trip/tahun)

= konstanta dan koefisien parameter dari model Schaefer

Persamaan di atas dihitung dengan menggunakan metode regresi linear

sederhana (Ordinary Least Square, OLS).

c. Melakukan

estimasi

effort

optimum

pada

kondisi

keseimbangan

(equilibrium state), digunakan persamaan :

 
 

F opt = - ½ (α / β)

d. Melakukan

estimasi

Maximum

Sustainable

Yield

(MSY)

sebagai

indikator potensi sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan

(lestari) melalui persamaan :

MSY = - ¼ (α 2 / β)

Nilai effort optimum dan MSY yang diperoleh melalui persamaan (3) dan

(4) selanjutnya dimasukkan sebagai kendala tujuan dalam model ekonomi

sumberdaya perikanan tangkap (model dasar LGP). Dengan demikian, secara

biologi

pengelolaan

perikanan

menunjukkan

optimalisasi

pemanfaatan

sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data produksi hasil tangkapan perairan Teluk Bone yang

diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Sulawesi Selatan, maka

Penangkapan ikan tongkol di perairan Teluk Bone yang meliputi tujuh kabupaten

(terlampir)

dilakukan

dengan

menggunakan

alat

tangkap,

antara

lain;

Payang/Lampara, Pukat cincin (Purse seine), Jaring Insang Hanyut (Drift gill net),

Jaring lingkar (Enclircling gill net), Jaring klitik (Shrimp gill net), Jaring Insang

Tetap (Set gill net), Bagan Perahu (Boat lift net), Bagan Tancap (Bagan), Jaring

Angkat Lain (Other lift net), R.Hanyut lain S.R.T (Drift long lines), Rawai Tetap

(Set long line), Pancing yang Lain (Other pole and line), Pancing tonda (Troll

line), Huhate (Skipjack pole and line) dan alat tangkap lain-lain (others).

Semua alat tangkap di atas merupakan alat tangkap yang beroperasi di

perairan Teluk Bone yang memperoleh hasil tangkapan berupa ikan Tongkol.

Terdapat beberapa jenis alat tangkap yang memperoleh jumlah tangkapan ikan

Tongkol terbesar, dimana dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Pada tahun

1999 2002 alat tangkap Huhate (Skipjack pole and line) memperoleh hasil

tangkapan ikan tongkol terbesar, tahun 2003 2006 alat tangkap pukat cincin

(Purse seine) memperoleh hasil tangkapan terbesar untuk ikan tongkol dan pada

tahun 2007 alat tangkap pancing tonda (Troll line) memperoleh hasil tangkapan

terbesar untuk ikan tongkol. Data tersebut kemudian di standari berdasarkan

jenis alat tangkap yang banyak menangkap (CPUE) ikan tongkol pada tahun

tersebut (terlampir).

Berdasarkan data yang diperoleh, maka hasil tangkapan ikan tongkol di

perairan Teluk Bone dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Produksi Ikan Tongkol Perairan Teluk Bone tahun 1999-2007

No.

TAHUN

Catch(ton)

1.

1999

6,100.00

2.

2000

6,104.50

3.

2001

9,745.30

4.

2002

14,521.30

5.

2003

9,993.40

6.

2004

10,468.50

7.

2005

10,499.30

8.

2006

10,728.20

9.

2007

15,725.90

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil tangkapan ikan tongkol

terbesar ialah terjadi pada tahun 2007 sebesar 15.725,90 ton, sedang hasil

tangkapan terkecil terjadi pada tahun 1999 sebesar 6.100,00 ton. Hal ini

disebabkan karena alat tangkap yang menjadi standar penangkapan ikan tongkol

pada tahun 2007 memiliki jumlah trip lebih banyak dibanding alat tangkap yang

menjadi standar penangkapan pada tahun 1999. Pada tahun 2007 jumlah trip

alat tangkap ialah

17.233 trip.

sebesar 27.326 trip sedang pada tahun 1999 ialah sebesar

Untuk melihat besarnya potensi ikan tongkol yang terdapat pada perairan

teluk Bone, maka kita dapat menghitungnya menggunakan model Schaefer dan

Guland-Fox. Dari hasil perhitungan berdasarkan model tersebut diperoleh nilai

MSY dan F opt seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 2. Potensi Lestari Maksimum dan Effort Optimum Ikan Tongkol di perairan

Teluk Bone Tahun 1999 - 2007 berdasarkan metode Schaefer dan

Guland-Fox.

No

Nilai

Scheafer

Fox

Satuan

1

A

0.1436

-1.9424

 

2

B

-3E-07

-4E-06

 

3

MSY

17,346.00

13,080.36

Ton

4

FOpt

241,519.50

248,018.84

Trip

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai MSY antara dua model

tersebut cukup berbeda, dimana nilai MSY pada model Schaefer lebih besar bila

dibandingkan dengan nilai MSY pada model Guland-Fox. Nilai MSY tersebut

merupakan nilai tangkapan lestari yang menunjukan besarnya tangkapan dan

jumlah trip yang diperbolehkan agar tidak terjadi overfishing.

Menurut

Irnawati

S

(2004)

ketentuan

jumlah

tangkapan

yang

diperbolehkan (JTB) atau 80 % dari MSY, maka jumlah tangkapan ikan tongkol

yang diperbolehkan pada perairan teluk Bone ialah sebesar (17.346,00 x 80 % =

13.876,80) nilai ini sesuai dengan hasil yang diperoleh dengan model Guland-

Fox. Dari hasil yang diperoleh tersebut dan dihubungkan deng jumlah tangkapan

tiap tahun, maka dapat diketahui pada tahun 2002 dan 2007 telah mengalami

overfishsing ikan tongkol.

Adanya indikasi gejala overfishing ini bisa dibuktikan langsung dengan

terjadinya penurunan hasil tangkapan ikan tongkol di perairan teluk Bone yang

dapat dihitung dengan melihat selisih antara produksi tahun 2002 dengan tahun

2003 sebesar

4.5271,90 ton atau turun sebesar 31,18 %. Penurunan hasil

tangkapan ikan tongkol pada perairan Teluk Bone dapat kita lihat melalui grafik

produksi di bawah ini.

18,000.00 16,000.00 14,000.00 12,000.00 10,000.00 8,000.00 6,000.00 4,000.00 2,000.00 - 1999 2000 2001 2002
18,000.00
16,000.00
14,000.00
12,000.00
10,000.00
8,000.00
6,000.00
4,000.00
2,000.00
-
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
TAHUN
Total Catch (TON)

Gambar 11. Produksi Tahunan Ikan Tongkol di Perairan Teluk Bone

Tahun 1999 2007

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa dari tahun 1999 2001 hasil

tangkapan ikan tongkol di perairan Teluk Bone mengalami peningkatan, hingga

akhirnya pada ahun 2002 terjadi overfishing yang menyebabkan produksi pada

tahun 2003 menurun. Kemudian produksinya kembali meningkat hingga tahun

2006 dan pada tahun 2007 kembali terjadi overfishing.

Hal tersebut mengindakasikan bahwa belum ada pengelolaan yang baik

dalam penangkapan ikan tongkol. Bisa diprediksikan bahwa pada tahun 2008

produksi ikan tongkol di perairan Teluk Bone akan mengalami penurunan. Maka

perlu dilakukan pengelolaan terhadap upaya dan hasil tangkapannya.

Model yang bisa digunakan dalam melakukan pengelolaan sumberdaya

ikan tongkol di perairan Teluk Bone ialah dengan menggunakan model Schaefer

dan Guland-Fox. Dengan menggunakan data hasil tangkapan ikan tongkol mulai

dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2007, maka kita bisa memprediksi jumlah

tangkapan lestari.

Perhitungan

dengan model

Schaefer

dan Guland-Fox ialah

dengan

menggunakan data hasil tangkapan dan effort kemudian dilanjutkan dengan

menghitung nilai CPUE dan LN CPUE seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. Perhitungan nilai CPUE dan LN CPUE

     

Effort

   

No.

TAHUN

Catch(ton)

Stand(F)

CPUE

LN CPUE

1

 

1999 6,100.00

149,960

0.04068

-3.20208

2

 

2000 6,104.50

97,300

0.06274

-2.76877

3

 

2001 9,745.30

159,873

0.06096

-2.79760

4

 

2002 14,521.30

423,709

0.03427

-3.37343

5

 

2003 9,993.40

496,438

0.02013

-3.90553

6

 

2004 10,468.50

46,273

0.22623

-1.48618

7

 

2005 10,499.30

158,569

0.06621

-2.71488

8

 

2006 10,728.20

167,793

0.06394

-2.74986

9

 

2007 15,725.90

84,045

0.18711

-1.67605

Kemudian perhitungan dilanjutkan dengan membuat grafik persamaan

regresi linear dengan memasukkan data Effort dan CPUE untuk Schaefer serta

data Effort dan LN CPUE untuk model Guland-Fox. Grafik regresi linear tersebut

dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini.

0.24000 0.20000 y = -3E-07x + 0.1436 R² = 0.415 0.16000 0.12000 0.08000 0.04000 0.00000
0.24000
0.20000
y
= -3E-07x + 0.1436
R² = 0.415
0.16000
0.12000
0.08000
0.04000
0.00000
-
100,000
200,000
300,000
400,000
500,000
600,000
-0.04000
Effort
CPUE

Gambar 12. Grafik Regresi Linear Model Shaefer

0.0000 - 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 -0.5000 -1.0000 y = -4E-06x - 1.9424
0.0000
-
100,000
200,000
300,000
400,000
500,000
600,000
-0.5000
-1.0000
y
= -4E-06x - 1.9424
-1.5000
R² = 0.668
-2.0000
-2.5000
-3.0000
-3.5000
-4.0000
-4.5000
Effort
LN CPUE

Gambar 13. Grafik Regresi Linear Model Guland-Fox

Dari gambar diatas terlihat hubungan antara Effort dan nilai CPUE,

dimana semakin tinggi nilai dari Effort akan menyebabkan turunnya nilai CPUE.

Kemudian nilai A dan B yang di peroleh pada perhitungan regresi linear ini akan

digunakan untuk menghitung MSY dari masing-masing model, yang kemudian

digunakan

sebagai

nilai

lestari

dari

suatu

penangkapan.

Dalam

hal

ini

penangkapan ikan tongkol di perairan teluk Bone. Nilai MSY yang diperoleh,

dapat dilihat pada grafik MSY di bawah ini.

20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 0 100000 200000 300000
20000
18000
16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
0
100000
200000
300000
400000
500000
Effort
Yield per Reqruit (ton)

Gambar 14. Grafik MSY Model Schaefer

14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
0
50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000 500000
Effort
Yield per Reqruit (ton)

Gambar 15. Grafik MSY Model guland-Fox

Berdasarkan grafik di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai MSY untuk

model Schaefer ialah sebesar 17.346,00 ton pertahun dengan effort sebesar

241.519,50 trip. Sedang nilai MSY untuk model Guland-Fox ialah sebesar

13.080,36 ton pertahun dengan effort sebesar 248.018,84 trip.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V. 1

Kesimpulan

Dari hasil pembahasan potensi perikanan tongkol perairan Teluk Bone

yang telah dijelaskan diatas, maka dapat ditari beberapa kesimpulan, antara lain

sebagai berikut :

1. Produksi terbesar ikan tongkol di perairan Teluk Bone terjadi pada tahun

2007

sebesar

15.725,90 ton dan produksi terendah terjadi pada tahun

1999

sebesar 6.100,00 ton.

2. Nilai MSY untuk model Schaefer ialah sebesar 17.346,00 ton pertahun

dengan effort sebesar 241.519,50 trip. Sedang nilai MSY untuk model

Guland-Fox ialah sebesar 13.080,36 ton pertahun dengan effort sebesar

248.018,84 trip.

3. Menurut

jumlah

tangkapan

yang

diperbolehkan

(JTB),

telah

terjadi

overfishing terhadap penangkapan ikan tongkol di perairan teluk Bone,

yaitu pada tahun 2002 dengan total penangkapan

14.521,30 ton dan

tahun 2007 dengan total penangkapan 15.725,90 ton.

V. 2

Saran

Sebaikanya dilakukan pengelolaan terhadap penangkapan ikan tongkol di

perairan teluk Bone sesuai dengan nilai MSY dan jumlah tangkapan yang

diperbolehkan (JTB), guna menjaga kelangsungan dan kelestarian sumberdaya

perikanan tangkap khususnya ikan tongkol di perairan teluk bone, sehingga tidak

terjadi lagi overfishing dan perikanan tangkap ikan tongkol di perairan Teluk Bone

dapat di manfaatkan secara berkelanjutan (Sustainable).

DAFTAR PUSTAKA

Fishery Bussines Center. 2010. Teknologi Penangkapan Ikan Tuna. http://www.

perikanan-diy.info/home.php?mode=content&submode=detail&id=205.

[online]. Diakses tanggal 20 Mei 2010.

Genisa, A. S. 1998. Beberapa Catatan Tentang Alat Tangkap Ikan Pelagik Kecil. Jurnal Oseana. Volume XXIII Nomor: 3 dan 4 Th: 1998. Jakarta: Balitbang Biologi Laut, Puslitbang Oseanologi-LIPI. Hal. 19-34.

Irnawati, S. 2004. Analisis Aspek Bio-Teknis Penangkapan Payang di Perairan Ulak Karang, Sumatera Barat. [Skripsi]. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kliping dunia ikan dan Mancing. 2010. Teknologi Penangkapan Ikan Tuna.

tuna/. [online]. Diakses tanggal 20 Mei 2010.

Monintja, D. R. 1991. Teknologi Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Laut II. Diklat Kuliah. Bogor: Proyek Peninkatan Perguruan Tinggi, Institut Pertanian Bogor. 42 hal.

Nainggolan E. 2009. Deskripsi Dan Klasifikasi Ikan.http://enmygolan.blogspot. com/2009/03/deskripsi-dan-klasifikasi-ikan.html. [online]. Diakses tanggal 20 Mei 2010.

Rharnadi. 2009. Bagan Tancap. http://tampukpinang.info/tradisional/alattangkap/ hewanlaut/152-bagan-tancap.html. [online]. dikses tanggal 20 Mei 2010.

Sistem Informasi Statistik Perikanan Tangkap. 2010. Klasifikasi Alat

Penangkapan Ikan di Perairan Umum. http://statistikdjpt.dkp.go.id/artikel. php?id=50. [online]. Diakses tanggal 20 Mei 2010Species summary.

2010.

.[online] . Diakses tanggal 20 Mei 2010.

Subani, W dan H. R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Perikanan Laut. Nomor: 50 Th: 1988/1989. Jakarta:

Departemen Pertanian, Balai Penelitian Perikanan Laut. Hal. 40-56.

Wagey T. 2004. Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone. Dinas Kelautan dan Perikanan. Jakarta

LAMPIRAN

Lampiran 1. Standarisasi Effort (FPI) tiap tahun (1999 2007)

Tahun 1999

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

Effort

CPUE

FPI

F

Stand

1

Payang/Lampara

601.58

41,183

0.0146075

0.3591061

 

14,789

2

Pukat cincin- Purse seine

448.24

14,452

0.0310160

0.7624854

 

11,019

3

Jaring Insang Hanyut- Drift gill net

1,354.49

213,431

0.0063463

0.1560139

 

33,298

4

Jaring lingkar-Enclircling gill net

294.14

23,014

0.0127810

0.3142028

 

7,231

5

Jaring Insang Tetap- Set gill net

181.11

30,223

0.0059923

0.1473136

 

4,452

6

Bagan Perahu-Boat lift net

1,103.69

132,497

0.0083299

0.2047795

 

27,133

7

Bagan Tancap-Bagan

328.68

106,844

0.0030763

0.0756267

 

8,080

8

Jaring Angkat Lain- Other lift net

38.74

10,488

0.0036939

0.0908098

 

952

9

R.Hanyut lain S.R.T- Drift long lines

158.63

31,231

0.0050794

0.1248691

 

3,900

10

Rawai Tetap-Set long line

28.11

7,176

0.0039175

0.0963069

 

691

11

Pancing yang Lain- Other pole and line

313.49

169,481

0.0018497

0.0454721

 

7,707

12

Pancing tonda-Troll line

548.10

41,032

0.0133578

0.3283842

 

13,474

13

Huhate-Skipjack pole and line

700.99

17,233

0.0406775

1.0000000

 

17,233

 

Total

6,100.00

       

149,960

149,960

Tahun 2000

 

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

Effort

CPUE

FPI

F

Stand

1

Payang/Lampara

452.43

54,180

0.0083504

0.1330974

 

7,211

2

Pukat cincin- Purse seine

447.15

25,755

0.0173617

0.2767286

 

7,127

3

Jaring Insang Hanyut- Drift gill net

1,556.94

220,452

0.0070625

0.1125688

 

24,816

4

Jaring lingkar-Enclircling gill net

297.53

30,836

0.0096487

0.1537903

 

4,742

5

Jaring Insang Tetap- Set gill net

158.57

42,443

0.0037360

0.0595479

 

2,527

6

Bagan Perahu-Boat lift net

1,081.00

104,626

0.0103320

0.1646823

 

17,230

7

Bagan Tancap-Bagan

387.82

79,400

0.0048843

0.0778512

 

6,181

8

Jaring Angkat Lain- Other lift net

38.42

11,658

0.0032952

0.0525220

 

612

9

R.Hanyut lain S.R.T- Drift long lines

148.56

27,740

0.0053555

0.0853613

 

2,368

10

Rawai Tetap-Set long line

36.34

7,582

0.0047929

0.0763935

 

579

11

Pancing yang Lain- Other pole and line

240.75

61,776

0.0038971

0.0621166

 

3,837

12

Pancing tonda- Troll line

864.69

200,779

0.0043067

0.0686441

 

13,782

13

Huhate-Skipjack pole and line

394.32

6,285

0.0627393

1.0000000

 

6,285

 

Total

6,104.50

       

97,300

97,300

Tahun 2001

 

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

Effort

CPUE

FPI

F Stand

1

Payang/Lampara

994.30

93,490

0.0106354

0.1744758

 

16,312

2

Pukat cincin-Purse seine

488.71

22,785

0.0214490

0.3518740

 

8,017

3

Jaring Insang Hanyut- Drift gill net

2,175.03

250,401

0.0086862

0.1424982

 

35,682

4

Jaring lingkar-Enclircling gill net

202.72

25,427

0.0079728

0.1307953

 

3,326

5

Jaring Insang Tetap- Set gill net

488.98

72,937

0.0067041

0.1099821

 

8,022

6

Bagan Perahu-Boat lift net

2,382.84

227,464

0.0104757

0.1718557

 

39,091

7

Bagan Tancap-Bagan

568.72

118,701

0.0047912

0.0785998

 

9,330

8

R.Hanyut lain S.R.T- Drift long lines

208.68

39,472

0.0052869

0.0867321

 

3,423

9

Rawai Tetap-Set long line

71.82

9,950

0.0072176

0.1184062

 

1,178

10

Pancing yang Lain- Other pole and line

222.92

59,209

0.0037650

0.0617658

 

3,657

11

Pancing tonda-Troll line

1,342.11

167,585

0.0080085

0.1313810

 

22,017

12

Huhate-Skipjack pole and line

598.47

9,818

0.0609563

1.0000000

 

9,818

 

Total

9,745.30

       

159,873

159,873

Tahun 2002

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

Effort

CPUE

FPI

F Stand

1

Payang/Lampara

944.15

87,442

0.010797

0.315054

27,549

2

Pukat Pantai- Beach seine

195.45

40,517

0.004824

0.140756

5,703

3

Pukat cincin- Purse seine

367.20

33,738

0.010884

0.317573

10,714

4

Jaring Insang Hanyut- Drift gill net

2,975.55

302,836

0.009826

0.286696

86,822

5

Jaring lingkar- Enclircling gill net

446.28

14,210

0.031406

0.916380

13,022

6

Jaring Insang Tetap- Set gill net

1,254.61

177,403

0.007072

0.206353

36,608

7

Bagan Perahu- Boat lift net

4,118.43

354,198

0.011627

0.339272

120,170

8

Bagan Tancap- Bagan

503.37

74,914

0.006719

0.196058

14,687

9

Jaring Angkat Lain- Other lift net

19.77

5,906

0.003348

0.097681

577

10

R.Hanyut lain S.R.T- Drift long lines

152.61

25,615

0.005958

0.173845

4,453

11

Rawai Tetap- Set long line

59.70

11,209

0.005326

0.155407

1,742

12

Pancing yang Lain- Other pole and line

388.28

72,748

0.005337

0.155735

11,329

13

Pancing tonda- Troll line

1,081.67

129,858

0.008330

0.243047

31,562

14

Huhate- Skipjack pole and line

1,980.40

57,785

0.034272

1.000000

57,785

15

Lain-lain

33.82

7,766

0.004355

0.127072

987

 

Total

14,521.30

   

423,709

423,709

Tahun 2003

 

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

Effort

CPUE

FPI

F Stand

1

Payang/Lampara

873.74

104,029

0.0083990

0.4172358

43,405

2

Pukat cincin-Purse seine

526.24

26,142

0.0201302

1.0000000

26,142

3

Jaring Insang Hanyut- Drift gill net

2,426.10

275,611

0.0088026

0.4372844

120,520

4

Jaring lingkar-Enclircling gill net

128.08

11,335

0.0112991

0.5612999

6,362

5

Jaring Insang Tetap- Set gill net

1,767.66

297,890

0.0059339

0.2947782

87,811

6

Bagan Perahu-Boat lift net

1,942.79

332,958

0.0058349

0.2898600

96,511

7

Bagan Tancap-Bagan

686.63

103,643

0.0066250

0.3291060

34,110

8

R.Hanyut lain S.R.T- Drift long lines

158.22

30,139

0.0052497

0.2607872

7,860

9

Rawai Tetap-Set long line

21.41

6,265

0.0034170

0.1697451

1,063

10

Pancing yang Lain- Other pole and line

626.09

140,535

0.0044550

0.2213105

31,102

11

Pancing tonda-Troll line

773.58

111,202

0.0069566

0.3455778

38,429

12

Lain-lain

62.85

8,331

0.0075444

0.3747798

3,122

 

Total

9,993.40

     

496,438

496,438

Tahun 2004

 

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

Effort

CPUE

FPI

F Stand

1

Pukat cincin-Purse seine

2,590.84

11,452

0.2262346

1.0000000

11,452

2

Jaring Insang Hanyut- Drift gill net

1,524.33

121,425

0.0125537

0.0554896

6,738

3

Jaring lingkar-Enclircling gill net

277.89

6,573

0.0422778

0.1868758

1,228

4

Jaring klitik-Shrimp gill net

397.37

60,019

0.0066208

0.0292652

1,756

5

Rawai tuna-Tuna long line

660.79

26,360

0.0250680

0.1108055

2,921

6

R.Hanyut lain S.R.T- Drift long lines

79.25

4,458

0.0177774

0.0785795

350

7

Rawai tetap-Set long line

176.73

37,315

0.0047361

0.0209343

781

8

Pancing tonda-Trowl line

2,750.94

73,351

0.0375037

0.1657736

12,160

9

Pancing ulur

590.23

14,062

0.0419733

0.1855298

2,609

10

Pancing tegak

87.15

21,231

0.0041047

0.0181436

385

11

Pancing yang Lain- Other pole and line

1,332.99

75,684

0.0176125

0.0778506

5,892

 

Total

10,468.50

     

46,273

46,273

Tahun 2005

No.

Jenis Alat Tangkap

Total Catch

 

Effort

 

CPUE

FPI

F Stand

1

Pukat cincin-Purse seine

 

4,604.57

 

69,542

 

0.0662128

1.0000000

69,542

2

Jaring Insang Hanyut-Drift gill net

 

1,227.41

 

121,425

 

0.0101084

0.1526652

18,537

3

Jaring lingkar-Enclircling gill net

 

252.66

 

17,325

 

0.0145835

0.2202523

3,816

4

Jaring klitik-Shrimp gill net

 

327.33

 

57,688

 

0.0056742

0.0856965

4,944

6

R.Hanyut lain S.R.T-Drift long lines

 

85.09

 

61,272

 

0.0013887

0.0209736

1,285

7

Rawai tetap-Set long line

 

162.30

 

11,913

 

0.0136241

0.2057629

2,451

8

Pancing tonda-Trowl line

 

2,204.37

 

46,545

 

0.0473601

0.7152708

33,292

9

Pancing ulur

 

459.68

 

57,603

 

0.0079801

0.1205215

6,942

10

Pancing tegak

 

75.18

 

18,165

 

0.0041388