Anda di halaman 1dari 3

Catatan dari Tragedi Tanjung Priok

T
anjung Priok kembali berdarah. Kini isunya bukan soal ideologi, tapi ekonomi. Tahun 1980-
an, Tanjung Priok berdarah atas alasan penolakan Pancasila sebagai asas tunggal. Ketika itu,
ratusan—mungkin ribuan—jamaah Amir Biki wafat diberondong peluru. Pelakunya tentara.
Kini situasinya terbalik. Kendati tentu banyak korban dari masyarakat sipil, namun yang
diekspos media, tragedi Tanjung Priok telah menewaskan beberapa orang satpol PP. Pihak yang
bertikai pun melibatkan PT Pelindo II. Masalahnya pun sangat ekonomi: soal konflik tanah untuk
perluasan pelabuhan bongkar muat peti kemas. Ditengarai konflik ini melibatkan isu putaran uang
kurang lebih sebelas miliar rupiah.

PT Pelindo II berisi kukuh dengan status kemenangan mereka di pengadilan. Masyarakat berisi
kukuh dengan nilai keramat makam Mbah Priok—istilah yang dipakai belakangan untuk makam Al-
Marhum Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Salah seorang penyebar agama Islam yang
wafat sekitar tahun 1756 M. Konon, Belanda pun dulu pernah bermasalah dengan posisi makam,
untuk kepentingan bongkar muat di pelabuhan. Namun, ketika itu Belanda tampak lebih arif
dengan memindahkan makam Mbah Priok. Kini PT Pelindo II tidak searif Belanda, ia merasa
memiliki bukti bahwa jejak makam itu sudah tidak ada lagi, sudah rata dengan tanah. Pun tersiar
pandangan bahwa Pemprov DKI juga memiliki pandangan serupa.

Kedua, melirik ke Masalahnya, jamaah yang berziarah dan beristighastah di kompleks makam itu setiap minggunya
standar mana mencapai ribuan orang. Alih-alih bersikap arif dan bijaksana dengan makna mahabbah kepada
pun, acara gusur habâ’ib, PT Pelindo II—dan tampaknya diamini oleh pemda setempat, berkesimpulan bahwa acara
paksa kepada ritual itu mengganggu eksistensi bisnis PT Pelindo II. Rencana penggusuran atau belakangan
warisan
diperhalus dengan rencana relokasi pemakaman pun dilakukan.
budaya—apalagi
bernuansa
relijius, adalah Sayangnya, PT Pelindo II hanya berpegang pada status kemenangan di pengadilan. Ia sama sekali
sebuah tindakan tidak memiliki sikap arif dengan telaah historis dan betapa berisikonya “mengganggu” aktivitas
maha bodoh.. ritual. Lebih sial lagi, mereka menggunakan tenaga satpol PP yang citranya di mata masyarakat
sebagai organisasi tukang gusur. Bentrokan pun tak terelakkan! Korban nyawa dan kucuran darah
pun tak bisa dihindari.

Ada dua pelajaran penting dari kasus itu. Pertama, status legal tetap tidak memberikan jaminan
keamanan sosial. Diperlukan langkah panjang untuk menerapkan kebenaran status legal. Apalagi
legalitas itu berasal dari ketuk palu pengadilan. Isu kongkalingkong alias tuduhan suap pun sudah
pasti merebak ke mana-mana. Kendati Gubernur Foke bereaksi cepat dengan mencopot Ka Satpol

1
PP, namun sudah pasti itu tidak cukup. Isu politisnya pun terus merebak dengan rencana
pembubaran Satpol PP.

Kedua, melirik ke standar mana pun, acara gusur paksa kepada warisan budaya—apalagi bernuansa
relijius, adalah sebuah tindakan maha bodoh. Untuk kasus Makam Mbah Priok, ia tidak semata-
mata soal mengganggu ideologi-spiritual, tapi juga pasti mengganggu stabilitas aktivitas
perekonomian yang sudah melembaga bertahun-tahun di sana. Jika dirasa sudah sangat sekular,
pastilah tameng pertahanan alasan ekonomi juga memiliki daya dan kekuatan sekeras pertahanan
ideologis. Dan Tanjung Priok adalah wilayah dengan sejarah kekuatan ideologis dan ekonomis
sekaligus!

Soal Warisan Budaya


Keberanian PT Pelindo II dan Satpol PP hendak membongkar makam mbah Priok konon didasarkan
pada dua hal. Pertama, dalih bahwa foto udara yang dimiliki PT Pelindo tidak ditemukan jejak
makam mbah Priok di kawasan itu. Kedua Pemprov DKI konon menyatakan tidak mengakui
eksistensi makam mbah Priok sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilindungi. Selain itu,
seperti disebutkan di atas, PT Pelindo II juga memegang kemenangan status legal di pengadilan.

Jika menggunakan “kacamata kuda”, bagaimana pun PT Pelindo II memegang “kebenaran”. Pun
dengan Satpol PP. Namun status legal di Indonesia, apalagi menyangkut konflik tanah antara
masyarakat dengan perusahaan, seperti kebanyakan terjadi di Indonesia, selalu menyisakan
masalah mendasar. Kemenangan perusahaan selalu saja dipandang sebagai sebuah kemenangan
semu, atau lebih kasar lagi sebagai sebuah kemenangan yang dituduh sebagai hasil suap.

Seakan kehabisan akal, acara rencana penggusuran pun tetap dilangsungkan. Padahal seperti
terlihat dari perkembangan belakangan, ternyata ada alternatif yang lebih elegan yang bisa
mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak. Proses ziarah dan istighatsah tidak terganggu,
pun dengan aktivitas bongkar muat peti kemas PT Pelindo II.

Jika memerhatikan sejumlah standar CSR—standar kinerja sosial dan lingkungan IFC berkenaan
dengan pemanfaatan warisan budaya misalnya, menyebutkan bahwa prinsip kehati-hatian
sangatlah penting. Selanjutnya proses itu harus diselenggarakan dengan upaya seoptimal mungkin
untuk tidak mengubah, merusak atau memindahkan warisan budaya kritis. Pada kondisi
pengecualian, perusahaan harus: 1) melakukan konsultasi dengan komunitas, 2) negosiasi dengan
niat baik (good faith) dan dokumentasi; 3) Mitigasi yang memadai bersama komunitas.

Membangun Rencana relokasi makam mbah Priok, bagaimana pun merupakan sebuah rencana kritis. Ia tidak
kemitraan, hanya berkenaan dengan salah satu tradisi yang sedemikian umum berlaku di Indonesia, namun
dukungan, dan secara lokal DKI Jakarta saja memiliki tingkat kekritisan luar biasa. Mbah Priok adalah seorang
pertukaran habib, keturunan langsung dari Nabi Muhammad Saw. Posisi habib dalam tradisi relijiusitas
pengalaman,
masyarakat Betawi jelaslah sangat penting. Kehormatan mereka sedemikian sentral. Sudah sangat
sumberdaya dan
usaha bersama. lama bahwa nama Tanjung Priok dilekatkan dengan legenda makam almarhum Habib Husen bin
Muhammad Al-Haddad. Pun dengan nama kampung Koja atau Pekojan, jelas berhubungan dengan
jejak sejarah perkampungan bangsa Arab, para habib di wilayah itu.

Sisi kritis lainnya adalah soal sejarah tragedi Tanjung Priok di zaman Orde Baru. Di wilayah tersebut
sempat tertoreh sejarah gerakan perlawanan kepada azas Tunggal dengan nama Komando Jihad.
Kesucian posisi habib dan tradisi Islam “garis keras” pernah hidup dan berkembang di wilayah
Tanjung Priok. Jadi sangatlah gegabah dan mungkin tidak berlebihan jikan dinilai—maaf terlalu
“bodoh” jika melakukan tindakan segegabah itu.

2
Di sini kita memiliki pelajaran penting tentang sebuah kegagalan bagaimana perusahaan tidak
mampu untuk:
 Menempatkan diri sebagai bagian dari dan tidak terpisah dari komunitas.
 Mengetahui dan menghormati hak-hak komunitas.
 Mengetahui dan menghormati karakteristik dan sejarah komunitas ketika berinteraksi
dengan mereka.
 Membangun kemitraan, dukungan, dan pertukaran pengalaman, sumberdaya dan usaha
bersama.

Bahkan jika ditilik lebih dalam lagi, si perusahaan dan juga pemerintah, jelas telah melanggar Hak
Asasi Manusia. Sangat boleh jadi dua komponen dasar perekonomian ini (perusahaan dan
pemerintah) telah terlibat secara langsung dalam melanggar hak asasi manusia.

Bogor, 19 April 2010

Taufik Rahman, Lingkar Studi CSR

Lingkar Studi CSR


Jln. Danau Sentani Blok C VII No.9 Kompleks Duta Pakuan
Bogor 16144 Indonesia
Telp. (0251) 336349, Fax. (0251) 336349
www.csrindonesia.com, e-mail:office@csrindonesia.co

Tulisan ini dibuat dengan tujuan utama menyebarluaskan pengetahuan mengenai CSR kepada seluruh
pemangku kepentingan. Silakan mengutip dan menyebarluaskan tulisan ini apabila Anda
mempunyai tujuan yang sama. Kami berharap agar sumber tulisan bisa diberitahukan sejelas
mungkin kepada pihak lain yang menerima kutipan sebagian atau seluruh isi tulisan. Terima kasih.