Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

PERCOBAAN III

KINETIKA REAKSI DARI FeCl3 DAN KI

OLEH :

NAMA : ERLYANI

STAMBUK : A1C4 08 029

KELOMPOK : VII (TUJUH)

ASISTEN : SITI SAMSURIATI

LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2010
KINETIKA REAKSI DARI FeCl3 DAN KI

I.A. Tujuan Praktikum

Tujuan percobaabn ini dilakukan adalah :

• Menentukan tingkat reaksi terhadap Fe3+

• Menentukan tingkat reaksi terhadap I-

• Menentukan tingkat reaksi terhadap Fe3+ dan I-

• Menentuakan tetapan reaksi terhadap reaksi

• Menentukan persamaan kecepatan reaksi antara Fe3+ dan I-

B. Prinsip Percobaan

Percobaan ini didasarkan pada proses termodinamika dan kinetika suatu

reaksi untuk menunjukkan arah reaksi berlangsung dan tingkat reaksi yang

menyatakan hubungan antara kepekatan pereaksi terhadap kecepatan reaksi .

II.Teori

Pada umumnya suatu cairan dapat diendapkan dengan mennggunakan

larutan basa. Namun pada beberapa unsur misalnya untuk krom (IV) sulit

diendapkan dengan basa . cara lain yaitu dengan menggunakan proses reduksi

menjadi krom (III). Menggunakan reduktor tertentu untuk memperoleh persamaan

kinetikanya meliputi orrde reaksi, dan persamaan Arhenius yaitu tenaga

pengaktifan dan faktor frekuensi. Data yang diperoleh berasal dari bahan yang

mengandung cairan industri. Jumlah zat yang tereduksi dapat diketai dari jumlah
pereduksi yang kadarnya sudah diketahui dengan pengenceran dan ditambahkan

berdasarkan perhitungan stoikimetri dan waktu yang digunakan untuk perubahan

warna. Berdeasarkan data waktu reaksi dan zat yang tersisa dapat dievaluasi secara

integral untuk menentukan orde reaksi dan konstanta kecepatan reaksi (Noor Anis

Kundari, Nurmaya Arofah, Kartini Megasari. 2009).

Dalam kimia fisik, kinetika kimia atau kinetika reaksi mempelajari laju

reaksi dalam suatu reaksi kimia. Analisis terhadap pengaruh berbagai kondisi

reaksi terhadap laju reaksi memberikan informasi mengenai mekanisme reaksi dan

keadaan transisi dari suatu reaksi kimia. Pada tahun 1864, Peter Waage merintis

pengembangan kinetika kimia dengan memformulasikan hukum aksi massa, yang

menyatakan bahwa kecepatan suatu reaksi kimia proporsional dengan kuantitas zat

yang bereaksi ( Anomin, 2009).

Kinetika kimia berkaitan dengan penentuan percobaan laju reaksi yang

menilai hukum dan konstanta laju berasal. Relatif hukum tingkat sederhana ada

untuk reaksi orde nol (untuk yang laju reaksi adalah independen konsentrasi),

reaksi orde pertama, dan reaksi orde kedua, dan dapat diturunkan untuk orang lain.

Dalam reaksi berturut-turut langkah menentukan tarif-sering menentukan kinetika.

Pada reaksi orde pertama berturut-turut, sebuah pendekatan steady state dapat

menyederhanakan hukum tingkat. Energi aktivasi untuk reaksi adalah

eksperimental ditentukan melalui persamaan Arrhenius dan persamaan Eyring.

Faktor utama yang mempengaruhi laju reaksi meliputi: kondisi fisik dari reaktan,
konsentrasi reaktan, suhu di mana reaksi tersebut terjadi, dan apakah atau tidak ada

katalis yang hadir dalam reaksi ( Anonim , 2010 )

Laju reaksi adalah ukuran dari laju berkurangnya konsentrasi pereaksi atau

laju terbentuknya hasil reaksi (produk). Ada 2 macam laju reaksi yaitu laju rata-

rata yaitu laju reaksi dalam interval waktu tertentu dan laju sesaat yaitu laju pada

saat tertentu. Laju reaksi sesaat tidak sama besar dari waktu ke waktu, pada awal

reaksi laju ini paling besar dan selama reaksi berlangsung terus berkurang sampai

akhirnya mencapai harga nol di akhir reaksi. Ada beberapa cara untuk menentukan

laju reaksi yang tidak terlampau cepat. Analisis kimia secara volumetri merupakan

cara yang paling sederhana baik dari segi prosedur maupun peralatannya.

Persamaan laju reaksi ditentukan dengan 2 cara yaitu cara laju awal dan cara

integral. Orde reaksi merupakan bilangan yang menyatakan hubungan konsentrasi

dengan laju reaksi. Reaksi yang umum dan sederhana biasanya mempunyai orde

pertama, selain itu kita kenal reaksi orde kedua dan ketiga dan beberapa reaksi

yang berorde nol bahkan orde pecahan. Peningkatan suhu reaksi dapat

meningkatkan fraksi molekul yang mempunyai energi aktivasi sehingga reaksi

dipercepat. Untuk mempercepat terjadinya reaksi dapat juga dilakukan dengan

meningkatkan konsentrasi pereaksi dan penambahan katalis ( Marhesi,dkk , 2007)

Reaksi kimia adalah perubahan pereaksi menjadi hasil reaksi. Proses

perubahan ini dapat berlangsung cepat ataupun lambat. Pembahasan tentang

kecapatan reaksi tersebut dikenal dengan kinetika kimia. Dalam menentukannya

dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya dengan cara eksperiment, dan
pengelolahan data sederhana. Kecepatan reaksi juga dipengaruhi oleh beberapa

faktor yaitu sifat pereaksi, konsentrasi pereaksi, suhu dan katalis ( Sukri S, 1999 ).

III.Metode Praktikum

A. Alat dan Bahan

Alat :

• Gelas piala 100mL : 5 buah

• Gelas piala 50 mL : 7 buah

• Gelas ukur 10 mL : 1 buah

• Pipet volum 5 mL : 1 buah

• Pipet volume 25 mL : 1 buah

• Stopwach : 5 buah

• Batang pengaduk : 2 buah

• Timbangan : 1 buah

• Pemanas : 1 unit

Bahan :

– FeCl3

– HNO3

– KI

– Na2S2O3

– Larutan Kanji

A. Prosedur Kerja
1. Penentuan tingkat reaksi terhadap Fe3+
-dicatat
15
20
25
30 mLmL Fe3+mL
waktu
dicampurkan
100
10Tingkat
100 yangterhadap
reaksi Fe3+sampai
diperlukan
Na SNa
0,04M
0,04MO2+S+
terbentuk 0,04
O5 3 0,04
220
15
10
2 2 3 warna biru
mL M + 53 mL
mL+Aquades
M HNO
5 mL
Kanji +2010 mL
KanjiM++10
0,04
KI
KI 0,04
0,04 M +
mL Aquades
mL
M + 2525 mLmL
aquades
aquades
1. Penentuan tingkat reaksi terhadap I-

25
10
15
20
-5dicampurkan
mL
mL
dicatat
20 KI
mL
Tingkat Fe3+ reaksi
KIwaktu
0,04
0,04 MM yang diperlukan
20 -
sampai20 mL Fe3+ 0,04M
mL Fe3+ I0,04M
terhadap 20 mL Fe3+ 0,04M
++0,04M
+1010
10mLmLNa
mL+NaNa
10SSmL
OO + 10 mL HNO3 + 10 mL HNO3 + 10 mL HNO3
terbentuk
HNOM
0,04
0,04 M 0,04
30M
warna
2 22 2 3 3
+ biru0,04 M + 20 mL 0,04 M + 20 mL 0,04 M + 20 mL
3 ++10
25
20
15 mL
mL
H20OHmL
+O5+Aquades
mL
5 mLKanji Aquades Aquades Aquades
2 2
Kanji Kanji

I.Hasil Pengamatan

A. Data Hasil Pengamatan


1) Penentuan tingkat reaksi terhadap Fe3+
[Fe3+] awal = 0,04 M
Volume akhir = 100 mL
Volume awal [Fe3+] (mL) Waktu (menit) (sekon)
t
10 11,20 340,33
15 3,30 101,63
20 2,05 64,49
25 1,54 48,095
30 2,12 64,165

2) Penentuan tingkat reaksi terhadap I-


[Fe3+] awal = 0,04 M
Volume akhir = 110 mL
Volume awal [I-] (mL) Waktu (sekon) (sekon)
t
5 8,66 340,33
10 5,26 101,63
15 5,98 64,49
20 3,79 48,095
25 1,13 64,165

Dimana t= t Fe3+ + t I-2

A. Reaksi-reaksi

2 Fe3+(aq) + 3 I-(aq) 2 Fe2+(aq) + I3 –(aq)

B. Perhitungan
1. Menentukan konsentrasi Fe3+ dan I- awal
a) Konsentrasi Fe3+
[ Fe ]3+
akhir 1 =
Volumeawal 1
Volumeakhir
[ ]
× Fe 3+ awal

10 ml
= × 0,04 = 0,004 M
100 ml

Untuk perhitungan konsentrasi Fe3+ eksperimen selanjutnya dapat dilihat


pada tabel berikut:
No. Eksperimen Konsentrasi akhir Fe3+
(M)
1 1 0,004
2 2 0,006
3 3 0,008
4 4 0,01
5 5 0,012

b) Konsentrasi I-

[I ]

akhir 1 =
Volume awal1
Volume akhir
[ ]
× I − akhir

5 ml
= × 0,04 = 1,82 x 10−3 M
110 ml

Untuk perhitungan konsentrasi I- eksperimen selanjutnya dapat dilihat pada


tabel berikut:
No. Eksperimen Konsentrasi akhir I-
(M)
1 1 1,82 x 10-3
2 2 4 x 10-3
3 3 5,455 x 10-3
4 4 7,273 x 10-3
5 5 9,091 x 10-3
1. Menentukan orde reaksi
Eksperimen 1 dan 3 Eksperimen 2 dan 5

[ ] [ ] [ ]
a a
t 3  Fe 3+  t 2  Fe 3+  b
   I− 
= 1
= 4
 − 4

[
t1  Fe 3+ ]3

 [
t 4  Fe 3+ ]
2

 [ ]
 I 2 
a 2 b
2,05  0,004  5,26  0,01   0,0073
=  =   
11,20  0,008  3,79  0,006   0,004 
0,183 = [0,5] a 1,388 = ( 2,78) (1,182)
b

log 0,183 0,499 = [1,182]b


a =
log o,5 log 0,499
a = 2,45 ≈ 2.......... .(1) b =
log1,182
b = −1,18 ≈ 1 .......... ..( 2)

Orde reaksi total = 2 + 1 = 3 (tanda mines pada orde reaksi tidak berarti bahwa
laju reaksi bernilai mines namun menunjukan bahwa arah reaksi bergeser ke arah
pereaksi, karena pada perhitungan laju reaksi , reaksi dianggap berlangsung
reversibbel )

2. Penentuan harga tetapan

1
K1 =
[
t1 Fe 3+ ] [I ]
a − b

1
=
340,33 (0,004) 2 (0,00182)1
1
=
9.910496x 10 −6
= 100904,003 s −1 M − 2

Untuk tetapan yang lainnya dapat dilihat pada tabel berikut :


No. Eksperimen Tetapan
1 1 100904,003
2 2 68330,65477
3 3 44456,07811
4 4 28588,17839
5 5 11904,95208

K1 + K 2 + K 3 + K 4 + K 5
K total =
5
100904,003+ 68330,65477 + 44456,07811 + 28588,17839 + 11904,95208
=
5
− 2 −1
= 50836,7702 M s

3. Penentuan laju reaksi

[
V = K Fe 3+ ] [I ] ,
a − b

maka,
[
V1 = K 1 Fe 3+ ] [I ]
1
a −
1
b

= 100904,003(0,004) 2 (0,00182)1
= 2,938 x 10−3

Untuk laju eksperimen berikutnya lihat tabel berikut :


No. Eksperimen Laju reaksi
1 1
2 2 2,938 x 10−3
3 3
4 4 9,839 x 10−3
5 5
0,0155
0,0208
0,0156
V1 + V2 + V3 + V4 + V5
Vtotal =
5
0,002938+ 0,009839+ 0,0155 + 0,0208 + 0,0156
=
5
= 0,0129 m / s
1. Hubungan t terhadap [Fe3+]

2. Hubungan t terhadap ln[Fe3+]

3. Hubungan t terhadap 1 / [Fe3+]

4. Hubungan t terhadap [I-]

5. Hubungan t terhadap ln [I-]

6. Hubungan t terhadap 1 / [I-]

A. Pembahasan

Kinetika kimia adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari kecepatan/

laju reaksi kimia, mekanisme reaksi kimia yang terjadi pada kondisi reaksi yang

berbeda. Laju reaksi diartikan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi maupun

produk persatuan waktu, satuan umum dari laju (M/det atau mol dm-3 det-1). Dasar

inilah yang akan dipakai dalam kinetika reaksi dari FeCl3 dan KI dalam penentuan

orde reaksi (tingkat reaksi) masing – masing pereaksinya.

Secara umum pembahasan mengenai mekanisme reaksi dalam penentuan

tangkat reaksi pada kinetika kimia tidak akan dibahas dalam percobaan ini,
karena dalam pembahasannya penentuan orde atau tingkat reaksi dengan

mekanisme reaksinya dilihat melalui tahapan – tahapan berjalannya atau

berlangsungnya reaksi tersebut (dimana orde atau tingkatan reaksi ditentukan

pada tahapan reaksi yang berjalan lambat). Dalam percobaan kali ini kita tidak

melihat bagaimana jalannya atau mekanisme reaksi tersebut tetapi kita hanya

meninjaunya sebagai reaksi elementer ( reaksi yang berlangsung satu tahap)

sehingga penentuan ordenya dilakukan melalui data eksperimen yang dilakukan

dalam suatu kerja laboratorium.

Faktor utama yang mempengaruhi laju reaksi meliputi: kondisi fisik dari

reaktan, konsentrasi reaktan, suhu di mana reaksi tersebut terjadi, dan apakah atau

tidak ada katalis yang hadir dalam reaksi Sifat reaktan ; Tergantung pada apa yang

zat yang bereaksi, waktu bervariasi. Reaksi asam, pembentukan garam, dan

pertukaran ion adalah reaksi cepat. Ketika pembentukan ikatan kovalen terjadi

antara molekul-molekul dan ketika molekul besar terbentuk, reaksi cenderung

sangat lambat. Alam dan kekuatan ikatan pada molekul reaktan sangat

mempengaruhi laju transformasi ke dalam produk. Reaksi yang melibatkan

penataan ulang obligasi lebih rendah melanjutkan lebih cepat daripada reaksi yang

melibatkan penataan ulang obligasi yang lebih besar. Keadaan fisik (padat, cair,

atau gas) dari reaktan adalah juga merupakan faktor penting dari laju perubahan.

Ketika reaktan dalam fase yang sama, seperti dalam larutan, gerak termal

membawa mereka ke dalam kontak. Namun, ketika mereka berada di fase yang

berbeda, reaksi ini terbatas pada antarmuka antara reaktan. Reaksi hanya dapat
terjadi di daerah kontak tertentu, dalam hal cairan dan gas, pada permukaan cairan.

Kuat tumbukan dan pengadukan diperlukan untuk membawa reaksi selesai. Ini

berarti bahwa, lebih halus reaktan padat atau cair semakin besar luas permukaan

per satuan volume, dan kontak lebih dengan pereaksi lain, sehingga semakin cepat

reaksi. Dalam kimia organik, Pada reaksi air adalah pengecualian dari aturan

bahwa reaksi homogen terjadi lebih cepat daripada reaksi heterogen. Konsentrasi

memainkan peran yang sangat penting dalam reaksi sesuai dengan teori tabrakan

reaksi kimia, karena molekul-molekul harus bertumbukan untuk bereaksi bersama-

sama. Pada konsentrasi reaktan meningkat, frekuensi bertabrakan molekul

meningkat, mencolok satu sama lain lebih sering dengan berada di dalam kontak

yang lebih dekat pada suatu titik waktu tertentu. Pikirkan dua reaktan yang dalam

wadah tertutup. Semua molekul yang terkandung dalam yang bertabrakan terus-

menerus. Dengan meningkatkan jumlah satu atau lebih reaktan menyebabkan

tabrakan ini terjadi lebih sering, meningkatkan laju reaksi . Suhu biasanya

memiliki pengaruh besar terhadap laju reaksi kimia. Molekul pada temperatur

yang lebih tinggi memiliki lebih banyak energi termal. Meskipun frekuensi

tumbukan lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi, ini saja kontribusinya

hanya sebagian kecil untuk peningkatan laju reaksi. Jauh lebih penting adalah

kenyataan bahwa proporsi molekul reaktan dengan energi yang cukup untuk

bereaksi (energi lebih besar dari energi aktivasi: E> Ea) secara signifikan lebih

tinggi dan dijelaskan secara rinci oleh distribusi Maxwell-Boltzmann energi

molekul. Kinetika Reaksi juga dapat dipelajari dengan pendekatan melompat


suhu. Ini melibatkan penggunaan kenaikan tajam dalam suhu dan mengamati

tingkat relaksasi dari proses keseimbangan. Generik diagram energi potensial yang

menunjukkan pengaruh katalis dalam suatu reaksi kimia endotermik hipotetis.

Keberadaan katalis akan membuka jalur reaksi yang berbeda (ditampilkan dalam

warna merah) dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Hasil akhir dan

termodinamika secara keseluruhan adalah sama. Katalis adalah zat yang

mempercepat laju reaksi kimia tetapi kimia tetap tidak berubah setelah itu. Katalis

meningkatkan laju reaksi dengan menyediakan mekanisme reaksi yang berbeda

terjadi dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Dalam autocatalysis produk

reaksi itu sendiri merupakan katalis untuk reaksi yang mengarah ke umpan balik

positif, sebagai katalis mempercepat reaksi maju mundur dan sama. Dalam

molekul organik tertentu, substituen tertentu dapat memiliki pengaruh pada laju

reaksi pereaksi yang lain. Mencampur larutan juga akan mempercepat laju reaksi

kimia, karena hal ini memberikan energi kinetik partikel yang lebih besar,

peningkatan jumlah tumbukan antara reaktan dan karenanya kemungkinan

tabrakan sukses. Peningkatan tekanan dalam reaksi gas akan meningkatkan jumlah

tumbukan antara reaktan, meningkatkan laju reaksi. Hal ini karena aktivitas gas

berbanding lurus dengan tekanan parsial gas. Hal ini mirip dengan efek

meningkatkan konsentrasi larutan. Kesetimbangan Sementara kinetika kimia

berkaitan dengan laju reaksi kimia, termodinamika menentukan sejauh mana

reaksi terjadi. Dalam reaksi reversibel, kesetimbangan kimia tercapai bila tingkat

maju dan mundur reaksi adalah sama dan konsentrasi reaktan dan produk tidak ada
perubahan lagi. Hal ini ditunjukkan dengan proses Haber-Bosch untuk

menggabungkan nitrogen dan hidrogen untuk memproduksi amoniak.

Secara umum perubahan energi bebas (ΔG) reaksi yang menentukan

apakah perubahan kimia akan berlangsung, namun kinetika menggambarkan

seberapa cepat reaksi ini. Reaksi bisa sangat eksotermik dan perubahan entropi

yang sangat positif namun tidak akan terjadi dalam praktek jika reaksi ini terlalu

lambat. Jika reaktan dapat menghasilkan dua produk yang berbeda, yang paling

stabil termodinamika umumnya akan membentuk kecuali dalam keadaan khusus

ketika reaksi dikatakan berada di bawah kontrol reaksi kinetik. Prinsip-Hammett

Curtin berlaku saat menentukan rasio produk untuk dua reaktan interconverting

cepat, masing-masing pergi ke produk yang berbeda. Hal ini dimungkinkan untuk

membuat prediksi tentang konstanta laju reaksi untuk reaksi dari hubungan energi

bebas. Efek isotop kinetik adalah perbedaan laju reaksi kimia ketika sebuah atom

di salah satu reaktan digantikan oleh salah satu isotop nya.

Penentuan tingkat (orde) reaksi dari ion Fe3+ maupun tingkat (orde) reaksi

untuk I- ditentukan dengan membandingkan data hasil percobaan yang dilakukan

untuk ion Fe3+ dan ion I- dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk

identifikasi masing – masing ion Fe3+ dan ion I- dalam larutannya. Identifikasi

dari kedua ion ini dapat dilakukan dengan menggunakan larutan kanji sebagai

penanda (penunjuk/indicator ) terdapatnya ion yang dimaksud dalam larutan

tersebut. Larutan kanji yang dilarutkan akan segera bereaksi dengan senyawa

klorida dari ion Fe3+ dan iod membentuk larutan biru dalam selang beberapa
menit (detik) sehingga ketika perubahan tersebut mulai nampak maka pada saat

itu pula waktu yang tepat untuk mengukur ion Fe3+ dan I-. Kelebihan sedetik saja

dari waktu yang di tentukan dapat berakibat besar dalam penentuan tingkat atau

orde reaksi masing –masing ionnya.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan juga ternyata kecepatan reaksi dari

masing – masing larutan semakin cepat seiring bertambah konsentrasi pereaksi

yang ditambahkan dalam larutan , hal ini dapat dilihat dalam penentuan tingkat

reaksi (orde reaksi) dari ion I- dimana waktu yang diperlukan untuk bereaksi

dengan pereaksi lainnya (Kanji, Na2S2O3, HNO3, dan air) sangat cepat untuk

volume KI 0,04 M 25 mL, sedangkan bereaksi sangat lambat pada volume 5 mL

dengan konsentrasi yang sama. Hal ini membuktikan teori bahwa kecepatan suatu

reaksi dipengaruhi oleh faktor –faktor seperti: konsentrasi zat, temperature/ suhu,

tekanan, luas permukaan, katalis, dan keadaan zat. Dalam percobaan ini

konsentrasi zatlah yang mempengaruhi laju reaksi antara ion Fe 3+ dan ion I-. Akan

tetapi berbeda halnya pada data ke 5 penentuan tingkat (orde) reaksi dari ion

Fe3+, dimana justru bertambahnya konsentrasi zat memperlambat jalannya suatu

reaksi dimana waktu yang dibutuhkan dengan konsentrasi lebih tinggi lebih lama

dibandingkan dengan konsentrasi yang rendah sebelumnya (data ke 3 dan 4) .

Penyebab terjadinya kesalahan data yang tidak sejalan dengan teori tersebut dapat

disebabkan dari banyak faktor yang terbagi dalam tiga jenis kesalahan dalam

analisis kimia seperti: kesalahan instrument, kesalahan metode, dan kesalahan


personal. Sehingga penyimpangan ini akan berpengaruh penentuan orde reaksi,

penentuan harga tetapan lajunya , dan laju reaksinya.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh konsentrasi akhir dari

masing – masing komponen berkurang dari konsentrasi awalnya, sedangkan orde

reaksi dari reaksi ini adalah Fe3+ berorde 2 dan I- berorde 1 jadi orde totalnya

adalah 3, nilai harga tetapan lajunya totalnya adalah , dan


50836,7702 M −2 s −1

laju total reaksi , adapun persamaan laju reaksinya adalah v = k


= 0,0129 m / s

[Fe3+] 2 [I-]

I.Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan diatas maka dapat

disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat reaksi terhadap Fe3+ adalah 2

2. Tingkat reaksi terhadap I- adalah 1

3. Tingkat Reaksi terhadap Fe3+ dan I- adalah 3

4. Tetapan kecepatan reaksi (k) adalah


50836,7702 M −2 s −1

5. Persamaan kecepatan reaksi antara Fe3+ dan I- (hukum laju) adalah


v = k [Fe3+] 2 [I-]
Daftar Pustaka

Anonim . 2009. Kinetika kimia. http://www.wapedia.co.id. [ 19 Mei 2010 ]

Anonim . 2010. Chemical kinetics. . http://en.wikipedia.org. [ 23 Mei 2010 ]

Kundari, Noor Anis, dkk. 2009. Kinetika Reduksi Krom (VI) Dalam Pelapisan
Logam. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Batan.

Marhesi , dkk . 2007 . Kimia Dasar 2 . Universitas Terbuka . Jakarta.

Sukri S . 1999 . Kimia Dasar jilid 2 . Intitut Teknologi Bandung. Bandung.