Anda di halaman 1dari 4

Nama : Andi Ahmad R.

NPM :170510070004

Mata Kuliah : Kajian Mandiri (Reading Course)

ANOTASI BIBLIOGRAFI
Howell, Julia Day dan Martin Van Bruinessen, dkk. Sufism and The
‘Modern’ in Islam. London: I.B Tauris & Co. Ltd, 2007

Buku yang diedit oleh Julia Day Howell dan Martin Van Bruinessen ini
adalah sebuah buku yang berisi tentang penelitian-penelitian terhadap
fenomena yang berkaitan dengan sufisme dan Islam dalam menghadapi arus
modernisasi yang semakin meluas di berbagai belahan dunia. Penelitian-
penelitian ini dilakukan oleh sarjana-sarjana dari berbagai universitas yang
mengkaji perkembangan agama Islam dan sufisme di dalam dunia yang
dilanda modernitas. Indonesia pun sebagai salah satu negara yang
mayoritasnya adalah umat Islam, ikut pula menjadi objek penelitian para
sarjana ini, yang secara khusus penelitiannya dilakukan oleh Julia Day Howell
dan Martin Van Bruinessen. Secara garis besar buku ini menjelaskan tentang
berbagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Islam dan juga tarekat-
tarekat sufisme sebagai respon dalam menghadapi wacana-wacana barat
mengenai industrialisasi, partisipasi demokrasi, yang juga mengikutsertakan
persamaan hak, persamaan gender, pluralisme dan berbagai wacana lainnya
dalam dunia barat. Tindakan dan respon ini mengakibatkan berbagai
perubahan-perubahan dalam bentuk organisasi sosial, jaringan komunikasi,
eksistensi, dan aturan-aturan didalam komunitas islam dan sufi untuk
mengadaptasikan dirinya dalam dunia modernisasi. Sehingga dari hal
tersebut mulai muncul orang-orang dalam dunia islam yang disebut dengan
‘Islam Reformist’ dan ‘Neo-sufi’. Selain itu pula dijelaskan mengenai peran-
peran tarekat sufi (sufi orders) dalam dunia politik, ekonomi, dan sosial-
budaya yang ada dalam suatu negara.

Sebagai salah satu contoh dari respon yang dilakukan adalah: adanya
interpretasi-interpretasi baru melalui pengkajian ulang canonical texts ( Al-
Qur’an dan hadis-hadis yang berasal Nabi Muhammad SAW dan para
pengikut atau sahabatnya) yang dilakukan oleh kaum salafi dan para muslim
modernis dalam menyesuaikan diri mereka terhadap wacana-wacana dunia
barat. Meskipun sebenarnya kaum salafi agak menolak beberapa wacana-
wacana dunia barat mengenai modernisasi karena bertolak belakang dengan
syariah-syariah atau hukum islam yang berlaku. Sedangkan muslim
modernis (islam reformist) malah menghasilkan suatu analisis berdasarkan
canonical texts yang bisa diadaptasikan kedalam wacana-wacana barat. Lalu
munculnya sebuah gerakan sufi baru yang disebut dengan Neo-sufisme, Neo
sufisme ini adalah suatu gerakan sufisme yang agak radikal dan keras. Dan
bertolak belakang dengan citra sufi yang lebih lemah lembut, cinta damai
dan toleran. Sebelumnya banyak para sarjana-sarjana barat yang
meragukan tentang penyesuaian tarekat-tarekat sufi terhadap modernisasi,
dengan melihat sufisme sebagai suatu kelompok dalam Islam yang
cenderung melakukan praktik mistik dan cara hidupnya yang sangat
menjauhi kehidupan modern, juga mereka yang lebih bertempat didaerah-
daerah dimana bentuknya lebih di pedesaan, namun melihat fakta-fakta
yang ditemukan oleh para sarjana yang mengkaji sufisme agaknya keraguan
yang terjadi harus dipertanyakan kembali. Salah satu faktanya adalah
mengenai tarekat naqshabandiyya yang mendirikan partai islam pertama di
daerah Turki sebagai perannya dalam politik, dan juga melakukan bisnis
yang terasosiasi dengan tarekat itu sendiri.

Pada bagian pertama didalam buku ini menjelaskan tentang


penekanan perubahan yang terjadi dalam praktik sufi yang menghubungkan
mereka dengan pemerintahan dan munculnya pola-pola asosiasi atau
kerjasama baru dalam organisasi untuk merespon perubahan sosial yang
terhubung dengan modernisasi. Salah satu contohnya adalalah penelitian
yang dilakukan di Mesir oleh Rachida Chih. Rachida Chih menanyakan
beberapa pandangan tentang apa sebenarnya tarekat itu, bagaimana bentuk
keanggotaannya, dan bagaimana ini bisa terorganisasi. Tarekat yang dikaji
oleh Rachida adalah tarekat Khalwatiyya, Rachida mengungkapkan bahwa
tarekat ini mampu menciptakan dan menyesuaikan praktik-praktik mereka
sesuai dengan keadaan lingkungan yang beragam. Praktik-praktik ini
meliputi : ibadah-ibadah, bentuk-bentuk kerja sama atau asosiasi, dan
jaringan yang menghubungkan antara murid dan shaykh (syeikh), juga yang
lainnya. Keragaman tersebut terbentuk berdasarkan atas tempat,
kepribadian yang dimiliki sang syeikh, dan kebutuhan yang diperlukan oleh
komunitas.

Selain penelitian yang dilakukan oleh Rachida Chih di Mesir, adapula


penelitian yang dilakukan oleh sarjana-sarjana lain salah satunya Brian
Silverstein, yang mengkaji tarekat Naqshabandiyya di Turki, sama halnya
dengan tarekat Khalwatiyya di Mesir. Tarekat Naqshabandiyya ini memiliki
sejumlah praktik-praktik ibadah dan spiritual yang disesuaikan dengan
keadaan-keadaan sosial, budaya dan politik yang terjadi. Istilah praktik
tersebut ada yang dinamakan sohbet, hizmet, yang memiliki fungsi
tersendiri dalam melayani masyarakat dan komunitasnya. Juga dalam
chapter 4 menjelaskan tentang penyesuaian tarekat atau para sufi terhadap
era revolusi di Iran yang dikaji oleh Matthijs van den Bos. Berdasarkan
penelitiannya di Iran, Matthijs van den Bos mengungkapkan bahwa
organisasi-organisasi sufisme tersebut menghadapi banyak bentuk-bentuk
kecurigaan dan kekerasan didalam rezim pemerintahan Iran, namun
organisasi-organisasi sufi ini mampu menghadapi hal tersebut dengan sikap
yang tenang dan menyesuaikan diri mereka dengan berbagai macam bentuk
kerjasama terhadap rezim baru yang muncul. Selain beberapa penelitian
diatas masih ada lagi penelitian lain yang tersusun dalam bab lain di buku ini
mengenai sufisme. Pada intinya, bagian pertama buku ini lebih menjelaskan
bagaimana sufi dan masyarakat islam menciptakan suatu kerjasama dan
organisasi baik dalam bentuk politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam
negara, serta peran-peran mereka yang sangat menonjol dalam menghadapi
negara mereka yang mengalami modernisasi.

Pada bagian kedua di buku ini keseluruhan babnya yang saya lihat
lebih fokus kepada hubungan antara sufisme, para modernis muslim dan
juga kaum salafi di daerah India, Indonesia, dan senegal. Dimana hubungan
antara ketiga kelompok muslim ini bersifat rumit, dan kadang mereka saling
mengecam satu sama lain berdasarkan atas ideologi kelompok ini masing-
masing. Meskipun ada pula yang menggabungkan antara ideologi sufi dan
ideologi salafi, Seperti kelompok Tablighi Jama’at di India yang dikaji oleh
Itzchak Weismann. Selain itu didalam bab 10, menggambarkan tentang
bagaimana para islam modernis mengkritik tarekat-tarekat sufi yang bentuk
praktik-praktik mereka(kaum sufi) bertentangan dengan ajaran Islam di
Senegal, bahkan kritikan tersebut dilakukan pada suatu lingkungan dimana
kesetiaan kepada tarekat Sufi merupakan norma yang berlaku dalam
lingkungan tersebut. Namun dari kritik-kritik yang dilancarkan oleh islam
modernis tersebut tidak membuat tarekat-tarekat sufi di Senegal
melemahkan eksistensinya. Leonardo Villalon mengungkapakan bahwa
beberapa cara kepemimpinan sufi di Senegal mengadopsi elemen-elemen
yang ada dalam wacana para reformis tanpa menghilangkan model
maraboutic dan afiliasi mereka dengan tarekat. Dan dalam kurun waktu 2
dekade, tarekat-tarekat yang berada di Senegal telah menciptakan suatu
gerakan transnasional dimana perdagangan dan praktik-praktik sufi berada
didalam gerakan tersebut.

Lalu berlanjut kepada Bab 3 mengenai eksistensi sufisme dan islam


dalam dunia modernitas, lebih ditekankan pada eksistensi mereka(sufisme
dan Islam) dalam dunia globalisasi, dan dikaitkan dengan transnasionalime
serta hybridity(mengenai peranakan). Atau dengan kata lain bab terakhir ini
lebih menceritakan bagaimana penyebaran sufisme dari timur ke negara-
negara lain, serta pengaruh-pengaruh ajaran mereka terhadap negara-
negara yang mereka singgahi. Salah contohnya adalah mengenai suatu
organisasi formal yang bernama Hazrat Inayat Khan’s International Sufi
Movement dari India, organisasi formal ini menurut Celia Genn’s merupakan
organisasi yang mampu menciptakan atau menyokong suatu bentuk
transnasionalisme yang lebih kuat daripada jaringan Sufi yang lampau.