Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Radiografi dental adalah salah satu bagian terpenting dari diagnosis oral
moderen. Dalam menentukan diagnosis yang tepat, setiap dokter harus
mengetahui nilai dan interpretasi suatu hasil gambaran radiografis. Hasil
gambaran radiografis dapat menunjukkan lesi patologis yang tidak dapat
diidentifikasi dengan cara lain, selain itu gambaran radiografis juga dapat
menunjukkan lokasi lesi tersebut (Menson dan Hing, 1985).
Radiografi dental adalah suatu gambaran fotografis pada suatu film yang
dihasilkan dengan paparan sinar-X ke arah gigi dan struktur jaringan
pendukung gigi. Penggunaan radiografi dental bervariasi, antara lain untuk
mendeteksi penyakit, lesi dan kondisi gigi serta tulang yang tidak bisa dilihat
secara klinis. Radiografi dental tidak hanya dipakai untuk mendeteksi penyakit,
tetapi juga untuk memastikan penyakit yang diderita, serta membantu untuk
mengetahui letak dari lesi ataupun benda asing. Radiografi dental
menggambarkan informasi yang dibutuhkan selama perawatan gigi, contohnya
pada prosedur perawatan saluran akar. Dental radiografi juga dapat digunakan
untuk memeriksa status kesehatan gigi dan tulang selama pertumbuhan dan
perkembangannya. Radiografi dental sangat diperlukan untuk menunjukkan
perubahan sekunder dari suatu trauma, karies ataupun penyakit periodontal.
Penggunaan radiografi dental yang tepat dapat membantu dokter gigi
dalam mendeteksi penyakit, sehingga menguntungkan pasien dengan
meminimalisasi serta mencegah penyakit, seperti rasa sakit yang disebabkan
oleh gigi, serta pada kebutuhan prosedur operasi. Aspek preventif ini sangat
menguntungkan bagi pasien dalam hal menghemat waktu dan uang, selagi
pasien mendapatkan perawatan kesehatan gigi.
Terdapat dua jenis dental radiografi yaitu intra oral dan ekstra oral.
Pemeriksaan radiografi intra oral menggambarkan sebagian kecil dari keadaan
gigi dan struktur pendukung intra oral, sedangkan pemeriksaan radiografi
ekstra oral menggambarkan seluruh daerah tengkorak dan rahang. Dalam
penggunaannya, film intra oral diletakkan di dalam mulut, sedangkan ekstra
oral di luar mulut.
Radiografi intraoral terdiri dari 3 jenis, yaitu pemeriksaan periapikal,
interproksimal dan oklusal. Pemeriksaan periapikal terdiri dari 2 teknik, yaitu
teknik kesejajaran dan teknik bidang bagi. Teknik-teknik ini digunakan untuk
memeriksa kondisi mahkota dan akar gigi, serta struktur periodontal gigi.
Pemeriksaan interproksimal, dengan menggunakan teknik bite-wing,
digunakan untuk memeriksa kondisi mahkota gigi pada 2 rahang sekaligus,
yaitu rahang atas dan rahang bawah, pada satu film saja. Pemeriksaan oklusal,
dengan penggunaan teknik oklusal, digunakan untuk pemeriksaan mandibula
atau maksila dengan area yang lebih luas, yang tergambar pada satu film.
Dalam bidang kedokteran gigi, operator harus menguasai berbagai macam
teknik dalam radiografi intra oral. Teknik kesejajaran adalah salah satu teknik
yang cukup penting yang digunakan untuk radiografi daerah periapikal.
Sehingga, sebelum operator melakukan teknik ini, pengertian konsep dasar dan
alat-alat yang diperlukan harus dikuasai (Iannuci dan Howerton, 2006).
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dapat
dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut: bagaimana peranan teknik
kesejajaran radiografi pada rahang bawah dalam bidang kedokteran gigi untuk
mendeteksi kelainan periapikal dan peranannya dalam prosedur perawatan
saluran akar.
Tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk mengetahui konsep dasar
dari teknik kesejajaran radiografi pada rahang bawah, menjelaskan persiapan
pasien, alat-alat, serta prosedur pemasangan film yang digunakan pada teknik
ini. Selain itu, juga dijelaskan modifikasi dari teknik ini pada pasien dengan
kondisi anatomis tertentu, serta keuntungan dan kerugian pada pengunaan
teknik roentgenografi ini.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teknik Kesejajaran

Teknik kesejajaran menyempurnakan kekurangan dari teknik bidang bagi.


Konsep dasar dari teknik kesejajaran berdasarkan dari konsep kesejajaran
bidang, dimana prinsip-prinsip dasarnya adalah sebagai berikut:

1. Film yang diletakkan di mulut harus sejajar dengan sumbu panjang gigi
yang akan difoto.
2. Arah masuk sinar-X harus tegak lurus (membentuk sudut 90°) terhadap
film dan sumbu panjang gigi.
3. Film holder digunakan untuk menjaga agar posisi film tetap sejajar dengan
sumbu panjang gigi. Hal ini disebabkan oleh karena pasien tidak
memungkinkan untuk memegang film dalam posisi yang benar (Iannuci
dan Howerton, 2006).
Teknik kesejajaran memerlukan jarak target ke objek atau TOD (Target-
Object Distance) semaksimal mungkin serta tepat. Pada teknik ini, sinar-X
memaparkan sinarnya tegak lurus terhadap objek, dan film intra oral harus
diletakkan sejajar dengan sumbu panjang gigi yang akan difoto. Jarak target ke
objek harus semaksimal mungkin. Akan tetapi, peraturan ini tidak berlaku
untuk daerah molar mandibula, dimana ketiadaan perlekatan otot yang kuat
serta permukaan lingual yang datar memungkinkan film diletakkan secara
vertikal di dalam mulut, sejajar dan dekat dengan gigi molar. Jarak target ke
objek yang dekat ini akan menyebabkan terjadinya distorsi hasil foto. Oleh
karena itu, pengunaan silinder tambahan akan meningkatkan jarak target ke
objek, sehingga akan meminimalisasi distorsi serta ketidakjelasan hasil foto
(Wuehrmann dan Manson-Hing, 1981).
Struktur oral, khususnya lengkung palatum, menimbulkan kesulitan untuk
menempatkan film sejajar terhadap sumbu panjang gigi. Kesejajaran pada
teknik ini diperoleh dengan menempatkan film jauh dari mahkota gigi. Sebagai
kompensasi jarak objek-film yang meningkat, jarak target-film juga harus
ditingkatkan. Pada umumnya, jarak target-film yang digunakan adalah 16 inch
atau 41 cm. Peraturannya adalah jarak target-film harus sama panjang dengan
peralatan yang digunakan (Johnson dkk, 2003).

B. Alat dan Bahan

1. Alat:

Mesin X-ray: sinar X diproduksi di dalam mesin X-ray. Mesin ini dapat
dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian komponen, tabung X-ray, peralatan
X-ray generating.

Terdiri dari komponen – komponen:

a. Control panel: memiliki tombol on - off dan lampu indikator, tombol


pembuka dan lampu indikatornya, dan bagian pengontrol (waktu,
kilovolt, miliamper) untuk mengatur pancaran sinar X. Control panel
ini disambungkan ke sumber listrik dan menjadi sebuah panel yang
menempel pada dinding.

b. Extension arm: alat yang menghubungkan antara control panel dengan


tubehead.

Gunanya untuk menghantarkan gelombang elektrik dari control panel


ke tubehead. Alat ini memungkinkan tubehead melakukan pergerakan
dan perubahan posisi.

c. Tubehead: terbuat dari logam berat dan memiliki X-ray tube yang
memproduksi sinar X.

Bagian-bagian dari alat ini

•) Metal Housing (Badan Metal)  mengelilingi X-ray tube dan


transformers. Keduanya terisi dengan minyak untuk melindungi X-
ray tube tersebut dan mendasari komponen bertegangan tinggi.

•) Insulating Oil  merupakan minyak yang mengelilingi X-ray tube


dan transformers untuk mencegah panas berlebih dengan menyerap
panas yang dihasilkan sinar X tersebut.

•) Tubehead seal / aluminium  bahan ini menutupi tubehead dan


berfungsi sebagai filter/penyaring dari pancaran sinar X.

•) X-ray tube  bagian terpenting dari sistem X-ray generating. X-ray


tube merupakan tabung hampa udara yang terbuat dari kaca. Tabung
X-ray yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi memiliki
panjang beberapa inci dan diameter 1 inci. Bagian komponen terdiri
dari

o Leaded-Glass Housing: berfungsi untuk mencegah keluarnya sinar


X ke segala arah sehingga terfokus pada
satu daerah central. Di ujungnya terdapat
lubang yang terhubung dengan PID
(konus).

o Katode: disebut juga elektrode negatif, berfungsi untuk mensuplai


elektron yang diperlukan untuk menghasilkan sinar X.
Pada X-ray tube, elektron yang dihasilkan katode
tersebut dibawa ke anode positif.

o Anode: disebut juga elektrode positif, mengubah elektron menjadi


foto X-ray.

Peralatan penghasil X-ray terdiri dari

1. Electricity and electrical currents

2. Sirkuit

3. Transformers

2. Bahan dalam teknik parallel:

1. Film holder: untuk meletakkan film dalam posisi yang benar


(parallel/sejajar dengan gigi) dan mempertahankan posisi tersebut
agar daerah periapikal diproyeksikan ke film. Penempatan film
jangan terlalu dekat dengan gigi tetapi lebih ke arah tengah mulut.

Film holder yang banyak digunakan untuk teknik kesejajaran ada 5 adalah:

a. Rinn XCP

XCP (Extension Core Paralleling) terdiri dari bite-block plastik, ring


pengarah dari plastik, dan lengan indikator dari metal. Untuk
mengurangi jumlah radiasi yang diterima pasien, ring snap-on
collimator dapat ditambahkan ke ring pengarah plastic tersebut.
b. Precision film holders

Terdiri dari collimating shields dari metal dan alat pemegang film yang
membatasi ukuran sinar X sesuai dengan ukuran film.

c. Stabe film holder (bite-block)

Merupakan sebuah film holder yang disposable film holder yang


didesign untuk sekali pakai.
d. EEZEE-grip film holder

Dikenal juga dengan Snap-A-Ray, alat ini dapat dipakai untuk


menstabilisasi film

e. Hemostat film holder (hemostat dengan bite-block)

Dimasukkan melalui bite block dari karet yang juga dapat digunakan
untuk menstabilkan film.
2. Ukuran film yang digunakan untuk teknik ini :

SIZE UKURAN DEWASA ANAK ANTERIOR POSTERIOR


(mm) -ANAK
0 22x35 X X X
1 24x40 X X X X
2 31x41 X X X X

3. External guide: alat yang digunakan untuk memposisikan tube X-Ray


agar sinar terpusat pada sudut yang benar.

C. Prosedur dalam Foto Radiologi dengan Teknik Kesejajaran

1. Persiapan umum

Langkah- langkah umum:

a. Atur posisi pasien

Pasien duduk tegak dengan posisi kepala pada sandaran kepala, sehingga
bidang sagital tegak lurus terhadap lantai, dan bidang oklusal sejajar
dengan lantai.
b. Sesuaikan pengaturan unit sinar X

Mesin sinar X diatur untuk kVp, mA, dan waktu pemaparan, sesuai
rekomendasi pabrik film. Sehingga dapat menghasilkan kualitas terbaik
dengan radiasi terkecil

c. Posisi tubehead

Diatur setelah film ditempatkan dalam mulut.

d. Mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun

e. Memeriksa kembali rongga mulut sebelum film ditempatkan.

Bertujuan untuk melihat inklinasi aksialnya. Hal ini mempengaruhi


penempatan film.

f. Posisi film

Pindahkan film dari film dispenser ke film holding device, dan posisikan
pada region mulut yang hendak difoto.

Untuk anterior mandibula: lidah akan bergeser secara reflex dan secara
perlahan menyentuh dasar mulut.

Guideline untuk penempatan film


1) Bagian putih dari film harus menghadap gigi.
2) Film untuk anterior gigi harus diletakkan vertikal.
3) Film untuk posterior gigi harus diletakkan horizontal.
4) ‘Dot pressure’ pada film diletakkan di slot dari film holder.
5) Penempatan film dalam mulut dimulai dengan bagian ujung apikal
film, kemudian putar film holder.
6) Saat memposisikan film holder, tempatkan film jauh dari gigi, kea
rah bagian tengah dari kavitas oral.
7) Saat memposisikan film holder, letakkan film di bagian tengah dari
gigi yang akan di foto. Instruksikan pasien untuk perlahan-lahan
menggigit bite block. Pastikan bahwa bite block dalam kondisi stabil
oleh gigi, bukan dengan bibir. (Iannuci dan Howerton, 2006).

Film dan waktu exposure

Film untuk teknik konus panjang selalu cepat dan ultra cepat.
Sebaliknya, waktu exposurenya sangat panjang atau lama. Pada proyeksi
lain telah diikuti dengan pedoman exposure untuk memberikan penjelasan
tentang tekniknya. Berikut ini adalah pedoman exposure untuk teknik
konus panjang.

Peraturan waktu exposure berdasarkan pada bentuk tubuh:

1. Tulang berat, laki-laki dewasa ditambahkan 25 %

2. Wanita dewasa  dikurangi 25 %

3. Daerah tidak bergigi dikurangi 25 %

4. Anak2x  dikurangi 25 %

Teknik kesejajaran pada gigi insisif rahang bawah


Penempatan film. Letakkan dimensi panjang dari film no.1 secara
vertikal di belakang insisif sentral dan lateral, dengan perbatasan tengah
dan bawah dari lidah. Posisi film dibagian posterior letakkan sejauh
mungkin, biasanya diantara premolar. Film ditempatkan didasar mulut
secara hati - hati sebagai fulkrum. Ujung dari instrumen diturunkan
sampai film holder bite block tepat diatas gigi insisif. Instruksikan pasien
untuk menutup mulutnya perlahan-lahan. Ketika pasien menutup mulut
secara perlahan-lahan dan dasar mulut sedang relaks, putar instrumen
dengan gigi sebagai fulkrum untuk meluruskan film agar menjadi lebih
paralel dengan gigi. Langkah-langkah:

1. Letakan film holder dan film tepat dikedua insisif sentral

2. Posisikan film sejauh mungkin dari gigi

3. Intruksikan pasien untuk menggigit bite block secara perlahan,


kemudian geser cincin penunjuk ke bawah dari lengan indikator ke
permukaan kulit. Luruskan PID dengan cincin penunjuk

4. Exposure film

Teknik kesejajaran proyeksi gigi kaninus RB


Penempatan film. Letakkan film no.1 didalam mulut dengan panjang
dimensi vertikal dan kaninus ditengah film. Posisikan film sejauh lingual
lidah dan kontralateral dengan prosesus alveolaris, dengan kesejajaran
sumbu panjangnya dan segaris dengan kaninus. Ujung instrumen dengan
bite-block harus berada di atas kaninus sebelum pasien diminta untuk
menutup mulutnya. Langkah-langkah:

1. Letakan film holder dan film tepat di posisi tengah gigi kaninus

2. Posisikan film sejauh mungkin dari gigi

3. Intruksikan pasien untuk menggigit bite block secara perlahan,


kemudian geser cincin penunjuk ke bawah dari lengan indikator ke
permukaan kulit. Luruskan PID dengan cincin penunjuk

4. Exposure film

Teknik kesejajran proyeksi premolar RB


1. Letakkan film holder dan film di premolar kedua, bidang tepi dari film
menutup kaninus

2. Posisikan film sejauh mungkin dari gigi

3. Intruksikan pasien untuk menggigit bite block secara perlahan,


kemudian geser cincin penunjuk ke bawah dari lengan indikator ke
permukaan kulit. Luruskan PID dengan cincin penunjuk

4. Exposure film

Teknik kesejajaran proyeksi molar RB


1. Letakkan film holder dan film pada molar kedua, bidang tepi dari film
harus lurus dengan midline molar kedua

2. Posisikan film sejauh mungkin dari gigi

3. Intruksikan pasien untuk menggigit bite block secara perlahan,


kemudian geser cincin penunjuk ke bawah dari lengan indikator ke
permukaan kulit. Luruskan PID dengan cincin penunjuk

4. Exposure film

g. Posisi X-ray tube

Disesuaikan dengan alat beam-guide (external guide).

Bila tidak ada petunjuk arah tembak sinar, arahkan sinar pusat pada titik
masuknya.

1). Angulasi tube head (kepala tabung)


Posisi dari tube head mesin X-ray biasanya disesuaikan dalam 2
pesawat yaitu pergerakan horizontal dan pergerakan vertikal. Hal ini
memungkinkan posisi tabung dapat dengan mudah dan akurat
digambarkan serta kemudahan reposisi. Dimensi ketiga dikendalikan
dengan membawa ujung dari tabung silinder itu ke alat pemegang film
atau 2 cm dari muka pasien. Ketika teknik paralel itu digunakan dengan
menggunakan alat yang menyediakan pemandu eksternal untuk
memposisikan silinder tersebut (seperti alat Rinn atau Precision),
Pemandu tersebut paling penting untuk menempatkan ujung dari buka
tutupnya flush silinder. Pengaturan ini membantu untuk menghilangkan
adanya cone cut dan memastikan pusat sinar diorientasikan ke film
pada sudut yang tepat . Cone cut ini merupakan artefak yang terpapar di
film sebagai daerah yang tidak jelas.

Posisi dari tube head yang mengarahkan konus ke bawah digambarkan


sebagai angulasi vertikal positif, sedangkan yang mengarahkan konus
ke atas digambarkan sebagai angulasi vertical negative. Angulasi
vertical biasanya digambarkan dalam hal derajat +/-, yang terdapat di
tombol pada sisi tube head. Arah horizontal dari konus terutama
mempengaruhi derajat overlapping (tumpang tindih) dari gambaran gigi
pada ruang interproksimal.

h. Pemaparan sinar

Setelah sinar dipaparkan ke mulut pasien, film dikeringkan dengan


handuk kertas, letakkan di wadah dengan dilindungi oleh lead-lining.

i. Film Processing

Pemprosesan film terdiri dari 5 langkah berikut, yaitu:


1. Development (pengembangan)
Pengembangan merupakan langkah pertama dalam memproses
film. Suatu larutan kimia yang dikenal sebagai larutan pengembang
atau developer digunakan dalam proses pengembangan. Tujuan dari
developer atau pengembang adalah mengurangi paparan, energi Kristal
perak halida kimia ke perak hitam metalik. Larutan pengembang ini
melembutkan emulsi film selama proses ini.
2. Rinsing (Pembilasan)
Setelah proses pengembangan, rendaman air digunakan untuk
mencuci atau membilas film. Pembilasan digunakan untuk
menghilangkan developer atau pengembang dari film dan
memberhentikan proses pengembangan.
3. Fixing (pemasangan / fiksasi)
Setelah proses pembilasan, difiksasi. Suatu larutan kimia yang
dikenal sebagai fiksator digunakan dalam proses fiksasi. Tujuan dari
fiksator adalah untuk menghilangkan Kristal perak halida yang tidak
terpapar dan terkena energi emulsi film. Fiksator menguatkan emulsi
film selama proses ini.
4. Washing (pencucian)
Setelah difiksasi, rendaman air digunakan untuk mencuci film.
Langkah ini diperlukan untuk menghilangkan semua bahan kimia yang
berlebihan dari emulsi.
5. Drying (pengeringan)
Langkah terakhir dalam memproses film adalah pengeringan. Film
dapat diletakan pada udara kering yg bebas debu dalam suhu kamar
atau ditempatkan pada lemari pengering yang hangat.

D. Modifikasi Teknik

Modifikasi teknik kesejajaran pada rahang bawah dipakai pada variasi


keadaan anatomis, seperti torus mandibularis dan daerah sensitif di daerah
premolar mandibula.
1. Torus mandibularis
Torus adalah pertumbuhan tulang yang terlihat di kavitas oral. Torus
mandibularis terletak pada aspek lingual dari mandibula. Penempatan
film dengan teknik kesejajaran dapat menimbulkan masalah apabila
terdapat torus mandibularis. Oleh karena itu, film harus diletakkan di
antara torus dan lidah (bukan menempel pada torus), kemudian lakukan
eksposure.
2. Daerah sensitif premolar mandibula
Dasar anterior dari kavitas oral adalah daerah yang sensitif. Penempatan
film terkadang dapat menyebabkan ketidaknyaman pada daerah
tersebut, oleh karena itu digunakan modifikasi sebagai berikut:
a. Penempatan film di bawah lidah untuk mencegah film bersentuhan
dengan perlekatan otot dan area sensitive dari lingual gingival. Saat
memasukkan film holder ke dalam mulut, film dijauhkan dari lidah,
ke arah gigi yang akan di foto sambil dilakukan pemasangan bite
block pada premolar mandibula. Saat pasien menggigit bite block,
maka film akan dengan sendirinya bergerak ke posisi yang benar.
b. Pada bagian ujung bawah film dibuat berliku atau dilembutkan,
untuk mencegah ketidaknyamanan. Menekuk atau melipat film harus
dihindari.
3. Pasien Dengan Rahang Tak Bergigi
Hilangnya alveolar ridge dan licinnya jaringan lunak dapat
menimbulkan kesulitan. Seringkali teknik kesejajaran tidak dapat
digunakan dan sudut sinar harus ditingkatkan dari prinsip yang
seharusnya. Jari pasien dan cotton roll sering digunakan untuk
mempertahankan film pada posisi yang tepat.

4. Modifikasi Untuk Pasien Endodontik


Pada kasus ini, pusat sinar seharusnya diarahkan pada regio apikal dari
gigi. Seringkali foto radiografi ini diperlukan setelah gigi diisolasi
menggunakan rubber dam.
5. Terbatasnya kemampuan membuka mulut
Pada pasien dengan mulut yang tidak dapat membuka lebar, misalnya:
pada pasien trismus, dapat dilakukan alternatif sebagai berikut:

a. Menggunakan hemostat sebagai film holder. Film yang dijepit


dengan menggunakan hemostat dapat melalui rongga mulut yang
pembukaannya terbatas dengan cara memasukkan film secara
horizontal lalu setelah film berada di dalam mulut, putar hingga
mencapai posisi yang tepat.

b. Prinsip utamanya adalah dengan meletakkan film pada bidang


oklusal dan memperkirakan sudut yang tepat.

c. Apabila pembukaan sama sekali tidak bisa dilakukan, metode


alternatifnya adalah secara ekstra oral seperti lateral oblique atau
panoramik.

6. Lengkung rahang yang sempit

Alternatif yang dapat dilakukan:

o Menggunakan film dengan ukuran kecil.

o Menempatkan film pada bidang oklusal dan hitung sudut dari sinar.

7. Molar 3 rahang bawah

Impaksi M3 menimbulkan masalah dalam menempatkan film. Hal ini


dapat ditanggulangi dengan cara:

o Film yang digunakan diletakkan pada posterior mulut dalam posisi


horizontal. Ketika anterior edge setinggi midpoint dari molar
pertama, film diarahkan ke sisi alveolus dengan bantuan jari.
o Sinar x-ray harus horizontal dan dipusatkan melalui gigi M2.

E. Hasil Foto yang Baik

1. Pengaturan sinar (KVp)

Exposure
Old New
kVp Old kVp Factor
Time/Seconds Time/Seconds
Multiplier

60 70 0.3 1.47 0.44

65 70 0.3 1.2 0.36

70 70 0.3 1 0.30

75 70 0.3 0.84 0.25

80 70 0.3 0.72 0.22

85 70 0.3 0.62 0.19

90 70 0.3 0.53 0.16

2. Menyesuaikan setelan kVpAdjusting kVp Settings


3. Intensitas sinar X bervariasi menurut kotak KVp nya. Untuk menjaga nilai
rata – rata densitas ketika mengubah nilai KVp.
4. Aturan ibu jari berikut dapat diikuti:
• Untuk mengurangi kontras, mengurangi waktu eksposure sebesar faktor
dari 2 untuk setiap kenaikan 15 kilovolt.
• Untuk meningkatkan kontras, meningkatakan eksposure sebesar faktor
dari 2 untuk setiap penurunan 15 kilovolt.

Terdapat efek dari penyetelan kVp pada kenaikan densitas sinar. yaitu
setiap kenaikan 15 kVp terjadi dua kali kenaikan densitas sinar.

2. Ketajaman
Peningkatan ketajaman atau kejelasan detail adalah salah satu dari
beberapa hal utama dalam radiografi. Hal ini bergantung pada penumbra
atau zona di luar ketajaman; semakin kecil zona ini semakin baik
ketajamannya.
Ketajaman bergantung dari:
1. Ukuran focal spot
2. Kedekatan film dengan objek
3. Jarak fokus-film
4. Film
Semakin kecil focal spot semakin baik ketajamannya. Semakin dekat
jarak film dengan objek semakin baik ketajamannya. Semakin besar jarak
fokus-film semakin baik ketajamannya. Semakin kecil kristal halida perak
dan semakin tipis emulsinya, semakin baik ketajamannya.

3. Kontras
Kontras berarti suatu gradasi dari hitam ke putih yang melalui abu-
abu. Kontras yang ideal menunjukkan hitam dan putih serta abu-abu yang
dapat dilihat langsung dengan mata telanjang perbedaan-perbedaannya
tersebut.
Kontras dapat terganggu oleh hal-hal seperti:
1. Radiasi yang terpancar
2. Metode proses yang kurang baik
3. Kilovolt yang tinggi
4. Kualitas film yang kurang baik

F. Keuntungan dan Kerugian

1. Keuntungan Teknik Kesejajaran


Keuntungan utama dari teknik kesejajaran adalah dapat menghasilkan
gambaran radiografis tanpa disertai distorsi dimensi. Teknik ini
sederhana untuk dilakukan. Keuntungan dari teknik-teknik ini adalah
sebagai berikut:
a. Teknik kesejajaran menghasilkan gambaran yang mempunyai
akurasi ukuran, sehingga dapat diperoleh gambaran gigi dengan
ukuran yang menyerupai ukuran gigi yang sebenarnya. Gambaran
radiografi ini bebas dari distorsi dan menampilkan detail gambar
yang baik.
b. Teknik kesejajaran sederhana dan mudah untuk dipelajari dan
dilakukan. Penggunaan film holder dan mesin pengatur sidar
memungkinkan operator untuk tidak mengatur angulasi horizontal
dan vertikal serta memperkecil kemungkinan terjadinya distorsi
dimensi.
c. Teknik kesejajaran mudah untuk distandarisasi dan dapat diduplikasi
secara akurat, ketika serial radiografi diperlukan. Sebagai ahasilnya,
hasil foto dengan serial radiografi denga teknik ini memiliki tingkat
keakuratan yang tinggi.

2. Kekurangan Teknik Kesejajaran


a. Oleh karena teknik ini harus menggunakan film holder, maka
menyebabkan operator mengalami kesulitan untuk memasang film.
Kesulitan akan dialami pada pasien anak-anak atau dewasa yang
memiliki ukuran mulut yang kecil atau palatum yang dangkal.
b. Penggunaan film holder pada teknik ini bisa mengenai jaringan
lunak mulut sehingga pasien merasa tidak nyaman.
BAB III
LAPORAN KASUS

Laporan kasus diambil dari jurnal “Tips for Endodontic Radiography” oleh
Dr. Mohammad Hammo, BDS, DESE Endodontics.
Sumber: http://www.smiledentaljournal.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=162%3Atips-for-endodontic-
radiography&catid=908&Itemid=110

A. Abstrak
Radiografi endodontik merupakan kunci utama dalam menentukan
diagnosis, prosedur perawatan, dan tindakan lanjutan dari kasus endodontik.
Teknik ini merupakan satu-satunya cara bagi seorang dokter gigi untuk
melihat secara jelas apa yang tidak bisa dilihat saat penentuan diagnosis dan
selama prosedur perawatan. Radiografi merupakan gambaran dua dimensi
dari objek tiga dimensi. Bila seorang dokter gigi dapat melakukan interpretasi
gambar dengan baik, maka perawatan saluran akar akan menjadi lebih baik
dan mudah.

B. Latar Belakang
Radiografi telah menjadi kebutuhan utama dalam perawatan endodontik.
Hampir tidak mungkin bagi seorang dokter gigi untuk mendapatkan hasil
perawatan yang baik tanpa menggunakan radiografi. Fungsi pertama
radiografi saat perawatan pre-operatif adalah untuk evaluasi kasus, fungsi
kedua adalah saat dilakukan perawatan, dimana radiografi diperlukan untuk
verifikasi prosedur perawatan, dan fungsi terakhir adalah saat post-operatif
perawatan dimana radiografi digunakan untuk mengevaluasi hasil perawatan
yang telah dilakukan. Sehingga menjadi hal yang sangat penting untuk dapat
mengambil gambar dengan baik, membaca dan menginterpretasi gambar
untuk bisa dilakukannya perawatan yang maksimal.
Sinar-X dapat memperlihatkan struktur detail dari gigi yang penting untuk
perawatan endodontik, seperti isi, jumlah, keadaan, lekukan, dan panjang dari
saluran akar. Untuk kasus perawatan ulangan, radiografi dapat memberikan
gambaran perforasi saluran akar, alat endodontik yang patah di dalam saluran
akar, kesalahan dalam pembukaan rongga pulpa, operasi endodontik yang
tidak sempurna, serta kondisi-kondisi lain yang tidak seharusnya terjadi dalam
perawatan.

C. Laporan Kasus
1. Dalam suatu foto, apeks akar harus terlihat dengan jelas. Radiografi harus
menggambarkan seluruh daerah gigi dan struktur pendukung gigi yang
difoto. Apeks gigi minimal berada 3mm dari bagian ujung bawah foto.

a) b)

Gambar 1
a) Foto gigi C rahang atas. Daerah periapikal tidak dengan terlihat jelas.
b) Pada gigi yang sama, tampak pemanjangan gigi C rahang atas, dimana
terlihat radiolusensi di bagian apeks.

2. Teknik kesejajaran merupakan teknik pilihan untuk radiografi endodontik.


Teknik ini menggambarkan radiografi yang akurat dengan distorsi
minimal. Lakukan dua atau tiga kali foto dengan sudut yang berbeda. Satu
foto dapat menggambarkan hasil perawatan yang baik, akan tetapi dengan
penggambilan foto kedua atau ketiga kali dengan sudut yang berbeda
dapat menggambarkan ketidaksesuaian yang berhubungan dengan foto
pertama.
a)

b)

Gambar 2
a) Foto gigi M1 rahang bawah menggambarkan radiolusensi
apikal, akan tetapi terlihat perawatan endodontik yang baik.
b) Pengambilan foto dari sudut yang berbeda menunjukkan
perawatan endodontik yang tidak sempurna dari akar mesial M1.

3. Pada teknik kesejajaran, arah konus harus tegak lurus dengan film dan
sumbu panjang gigi. Kemungkinan kedua, gambar dengan angulasi mesial
diambil dengan menggeser konus secara horizontal 30° ke arah mesial,
tegak lurus dengan film dan sumbu panjang gigi. Kemungkinan ketiga,
gambar dengan angulasi distal diambil dengan menggeser konus secara
horizontal 30° ke arah distal, tegak lurus dengan film dan sumbu panjang
gigi.
a)

b)

c)

Gambar 3
a)Foto gigi M1 rahang bawah diambil dengan teknik kesejajaran dari arah
bukal menunjukkan 2 saluran akar.
b) Foto gigi M1 rahang bawah diambil dengan teknik kesejajaran
dari arah distal menunjukkan 3 saluran akar.
c) Foto gigi M1 rahang bawah diambil dengan teknik kesejajaran
dari arah mesial menunjukkan 4 saluran akar.
a)

b)

c)

Gambar 4
a)Foto gigi P1 rahang atas dengan teknik kesejajaran dari arah bukal
menunjukkan 1 saluran akar.
b) Foto gigi P1 rahang atas diambil dengan teknik kesejajaran dari
arah distal menunjukkan 2 saluran akar.
c)Foto gigi P1 rahang atas diambil dengan teknik kesejajaran dari arah
mesial menunjukkan 3 saluran akar.
4. Angulasi horizontal dari konus diperlukan untuk identifikasi saluran akar
ganda dalam satu akar. Untuk indentifikasi keadaan ini tergantung dari
besarnya separasi dan perbedaan letak saluran akar, yang dilaporkan
terletak pada sudut antara 20°-40°. Penilaian anatomi saluran akar sebelum
dilakukannya perawatan saluran akar merupakan syarat utama untuk
preparasi saluran akar yang baik, yang selanjutnya menentukan
keberhasilan dari suatu perawatan.
a)

b) c)

Gambar 5
a) Foto pre-operatif dari gigi P1 dan P2 rahang atas. Jejak ligamen
periodontal mengindikasikan adanya 3 saluran akar pada tiap gigi.
b, c) Foto post-operatif menunjukkan dengan jelas jejak dari foto pre-operatif.
a)

b)

Gambar 6
a) Foto pre-operatif dari gigi P1 rahang bawah. Jejak ligamen
periodontal mengindikasikan adanya 3 saluran akar pada ujung akar.
b) Terlihat adanya 3 saluran akar pada foto post-operatif.

5. Apabila terlihat pengisian saluran akar tidak terletak pada bagian tengah
dari saluran akar, maka sebenarnya terdapat saluran akar kedua pada akar
tersebut yang belum dirawat.
a)
b)

Gambar 7
a)Foto pre-operatif dari gigi P1 rahang atas. Pengisian saluran akar yang
tampak tidak tepat berada di tengah saluran akar, mengindikasikan adanya
saluran akar kedua yang belum dirawat.
b) Foto post-operatif setelah kedua saluran akar telah dilakukan
pengisian.

6. Kehilangan seluruh tulang alveolar pada daerah furkasi merupakan


indikasi kuat bahwa salah satu akar mengalami fraktur, atau terdapat
fraktur dari mesial-distal di sepanjang dasar lantai furkasi.

a)

b)
Gambar 8
a)Foto pre-operatif dari gigi P1 rahang bawah menunjukkan adamya
resorbsi tulang alveolar pada daerah furkasi.
b) Pemeriksaan klinis memperlihatkan adanya garis fraktur arah
mesial-distal sepanjang dasar lantai furkasi.

7. Letak daerah radiolusen harus diperhatikan. Lesi awal endodontik dapat


muncul dari bagian lateral, sepanjang ligamen periodontal, dimana pada
akhirnya terlihat di bagian apeks. Daerah radiolusensi pada bagian apeks
biasanya berhubungan dengan fraktur akar vertikal. Dignosa dilakukan
dengan pemeriksaan hingga apeks gigi.

a) b)

c)

Gambar 9

a)Adanya daerah radiolusen di bagian apeks dari gigi P2 atas


mengindikasikan adanya fraktur vertikal akar.
b) Gutta percha dimasukkan ke dalam poket sampai ke daerah
resistensi.
c)Perpanjangan gutta percha yang terlihat hingga akar memastikan
diagnosis awal.
BAB IV
KESIMPULAN

Radiografi dental adalah suatu gambaran fotografis pada suatu film yang
dihasilkan dengan paparan sinar-X ke arah gigi dan struktur jaringan
pendukung gigi. Peranannya sangat penting untuk mendapatkan diagnosis
yang tepat, setiap dokter harus mengetahui nilai dan interpretasi suatu hasil
gambaran radiografis.
Radiografi dental menggambarkan informasi yang dibutuhkan selama
perawatan gigi, contohnya pada prosedur perawatan saluran akar. Dan
merupakan satu-satunya cara bagi seorang dokter gigi untuk melihat secara
jelas apa yang tidak bisa dilihat saat penentuan diagnosis dan selama prosedur
perawatan. Fungsi pertama radiografi saat perawatan pre-operatif adalah untuk
evaluasi kasus, fungsi kedua adalah saat dilakukan perawatan, dimana
radiografi diperlukan untuk verifikasi prosedur perawatan, dan fungsi terakhir
adalah saat post-operatif.
Dalam hal ini, teknik kesejajaran merupakan teknik yang paling banyak
dipakai dalam radiografi intraoral, khususnya untuk memberikan gambaran
periapikal. Teknik kesejajaran cukup mudah untuk digunakan dan dapat
memberikan hasil yang cukup akurat, dengan prinsip utamanya: kesejajaran
film dengan sumbu gigi. Teknik ini juga dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.
Dan berdasarkan laporan kasus, dapat dilihat bahwa pengambilan foto 2-3 kali
dapat membantu kita untuk dapat mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Melihat betapa penting peranan radiologi dental, maka sudah menjadi
suatu kewajiban bagi seorang dokter gigi untuk benar-benar mengerti
radiologi dental. Untuk dapat seutuhnya mengerti, kita perlu mempelajari
berbagai teknik yang digunakan sesuai kebutuhan, unsur-unsur yang
diperlukan untuk menghasilkan gambar yang baik, dan bagaimana
menginterpretasikan hasil foto sehingga dapat mendiagnosis dengan benar.