Anda di halaman 1dari 18

Dept.

Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 1


SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

Makalah Akhir:
Cybercampaign Oposisi dalam Pemilu
Malaysia 2008: Internet sebagai Platform
Otonom Kampanye Politik
Tangguh
0706291426

Abstract
Internet as an aspect of social change has been a new media sphere where political
autonomy is constructed in networking society. This phenomenon can be observed in
Malaysian general election, 2008, in which the Web 2.0 applications in the Internet was used
by the opposition politicians to launch a cybercampaign against the ruling Barisan Nasional
coalition. This cybercampaign led to a phenomenon of electronic democracy (e-democracy)
by the opposition with Malaysian public, which accounted to the powermaking process of the
opposition. The political power generated had led to the significant winnings of the
opposition in five Malaysian states, although the national overall results were still in favor of
the Barisan Nasional. This phenomenon has generated the writer’s curiosity over the use of
the Internet as an autonomous platform of political campaign by the Malaysian opposition.
This paper attempts to analyze how the cybercampaign launched by the opposition in
Malaysian general election, 2008, led them to a better result compared with previous
elections.
Keywords
Web 2.0; communication power; electronic democracy; cybercampaign; Malaysian general
election 2008

PERMASALAHAN PENELITIAN

Latar Belakang
Manuel Castells, sebagai salah satu ilmuwan sosial ternama di dunia, telah
menjelaskan Internet dari aspek perubahan sosial. Salah satu poin fokus
penelitiannya tentang Internet sebagai struktur kehidupan manusia adalah Internet
sebagai lingkungan media baru tempat otonomi dikonstruksikan dalam masyarakat
berjaringan. Konstruksi otonomi dalam Internet yang diungkapkan oleh Castells ini
dapat kita lihat dalam fenomena cybercampaign (kampanye Internet).1 Sebagai studi

1
Cybercampaign yang dimaksud adalah kampanye politik yang dilakukan melalui internet, bukan, bukan
cyberattack (serangan Internet) terkoordinasi sebagai bagian konflik sosial sebagaimana didefinisikan Sandor
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 2
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

kasus, sangat menarik untuk mencermati Pemilihan Umum (Pemilu) Malaysia 2008,
di mana terjadi penurunan raihan koalisi Barisan Nasional (BN). Walaupun BN yang
dipimpin Perdana Menteri Abdullah Badawi memenangi pemilu, raihan BN pada
pemilu kali ini mengalami penurunan. Pada pemilu 2004, BN mendapat
kemenangan meyakinkan setelah mengamankan 199 dari 219 kursi yang ada,
sementara kini BN hanya mendapat 127 kursi dari 222 kursi yang tersedia. BN pun
secara mengejutkan kalah dari kubu oposisi di daerah Penang.2 Nurul Izzah, putri
sulung pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, pun berhasil memenangi
pemilu di daerah pemilihan Lembah Pantai Kuala Lumpur.3
Dalam kampanye dan strategi pemenangan Pemilu Malaysia ini, dapat dilihat
bahwa kubu oposisi melakukan cybercampaign, yang tak terlalu tampak pada
kampanye BN. Partai-partai oposisi utama Malaysia, terdiri atas Parti Keadilan
Rakyat (PKR), Democratic Action Party (DAP), dan Pan-Malaysian Islamic Party (PAS),
Parti Sosialis Malaysia (PSM), dan United Pasok Nunukragang National Organisation
(PASOK) bergabung di bawah slogan Barisan Rakyat dan melakukan kampanye di
berbagai cyberspace dan media baru, menggunakan berbagai teknologi baru seperti
blog, short message service (SMS), dan YouTube.4 Dalam menggalang dana pun, kubu
oposisi berhasil menarik perhatian publik melalui berbagai website dan blog bagi
para pendukung untuk menyumbangkan dana melalui kartu kredit dan transfer
bank untuk membantu mereka mencetak poster-poster kampanye dan mengadakan
berbagai forum publik.

Pokok Permasalahan
Makalah akhir mata kuliah Kekuatan Jaringan Informasi Global berusaha
memahami berbagai aspek cybercampaign dalam kampanye dan strategi kubu oposisi
dalam Pemilu Malaysia 2008. Pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui
penelitian ini adalah, “Bagaimana cybercampaign yang dilancarkan kubu oposisi
dalam Pemilu Malaysia 2008 dapat membawa mereka menuju hasil yang lebih baik
daripada pemilu sebelumnya?”

Tujuan Penelitian
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan analisis mengenai:
1. Cybercampaign yang dilancarkan oposisi dalam Pemilu Malaysia 2008;
2. Bentuk-bentuk aplikasi Web 2.0 dalam cybercampaign oposisi Malaysia;

Vegh (2003) dalam “Classifying forms of online activism”, Cyberactivism, ed. Martha McCaughey dan Michael
D. Ayers (New York: Routledge), hlm. 71–95.
2
Gagah Wijoseno, “Kubu PM Abdullah Badawi Menangkan Pemilu Malaysia”, detikNews 9 Maret 2008,
diakses dari
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/09/time/040041/idnews/905410/idkan
al/10, pada 27 April 2010, 22:41.
3
“Nurul Izzah Menangi Pemilu Malaysia”, Tempointeraktif.Com 8 Maret 2008, diakses dari
http://www.tempointeraktif.com/hg/luarnegeri/2008/03/08/brk,20080308-118838,id.html, pada 27 April 2010,
22:44.
4
“Malaysia's opposition mounts campaign in cyberspace”, AFP 19 Februari 2008, diakses dari
http://afp.google.com/article/ALeqM5jTnVxg61uaHTAYJ_3bMeLt-X_jzQ, pada 27 April 2010, 23:01.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 3
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

3. Bentuk-bentuk e-democracy komunikatif antara oposisi Malaysia dengan


publik;
4. Proses pembuatan power politik oposisi melalui jaringan komunikasi Internet;
serta
5. Potensi hambatan terhadap cybercampaign oposisi.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari pembuatan makalah ini adalah untuk:
1. Memberikan pemahaman tentang Web 2.0 dan aplikasinya dalam politik
khususnya dalam konteks cybercampaign; serta
2. Mengonfirmasi/mendiskonfirmasi teori Communication Power Manuel
Castells.

KERANGKA TEORITIK

Definisi Konsep-Konsep Kunci


Web 2.0
Istilah “Web 2.0” terkait dengan aplikasi web yang memfasilitasi pembagian
informasi interaktif, interoperabilitas, rancangan user-sentris,5 dan kolaborasi pada
World Wide Web. Suatu Web 2.0 memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi
satu sama lain sebagai kontributor terhadap konten website, berbeda dengan website
di mana pengguna terbatas pada melihat secara pasif informasi yang disediakan
oleh website tersebut. Contoh-contoh Web 2.0 termasuk komunitas berbasis web,
layanan hosting, aplikasi web, situs-situs jejaring sosial, situs-situs video-sharing, wiki,
blog, mashup, dan folksonomy. Istilah ini dipopulerkan oleh Tim O’Reilly melalui
konferensi Media Web 2.0 O’Reilly pada 2004.6 Istilah Web 2.0 tak merujuk kepada
perbaruan spesifikasi teknis, namun perubahan kumulatif dalam cara-cara pada
pengembang software dan user akhir menggunakan Web.

Teori Communication Power Manuel Castells (2009)


Dalam Communication Power, Manuel Castells (2009) meneliti mengapa,
bagaimana, dan oleh siapa hubungan power terknostruksi dan digunakan melalui
manajemen proses-proses komunikasi, dan bagaimana berbagai hubungan power ini

5
Prashant Sharma, “Core Characteristics of Web 2.0 Services”, diakses dari http://www.techpluto.com/web-20-
services/, pada 1 Juni 2010, 13:52.
6
Lihat Tim O‟Reilly, “What Is Web 2.0: Design Patterns and Business Models for the Next Generation of
Software”, O’Reilly Media 30 September 2005, diakses dari http://oreilly.com/web2/archive/what-is-web-
20.html dan Paul Graham, “Web 2.0”, dari http://www.paulgraham.com/web20.html.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 4
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

dapat diubah oleh aktor-aktor sosial yang menghendaki perubahan sosial dengan
memengaruhi pikiran publik. Castells menghadirkan tiga argumen sentral bahwa:7
1. Power bersifat multidimensi dan terkonstruksi di sekeliling jaringan-jaringan
yang terpogram di tiap-tiap domain aktivitas manusia menurut kepentingan
dan nilai-nilai yang dipegang aktor-aktor yang terberdayakan. Namun
seluruh jaringan power menggunakan power mereka dengan memengaruhi
pikiran manusia melalui berbagai jaringan multimedia komunikasi massa.
Jadi, jaringan-jaringan komunikasi adalah jaringan fundamental pembuatan
power dalam masyarakat.
2. Jaringan-jaringan power dalam berbagai domain aktivitas manusia
terjaringkan di sekeliling jaringan-jaringan tersebut dan tak bergabung.
Namun, jaringan-jaringan tersebut ikut serta dalam berbagai strategi
kemitraan dan kompetisi, mempraktikkan kerjasama dan kompetisi secara
simultan dengan membentuk jaringan-jaringan ad hoc di sekeliling proyek-
proyek khusus dan dengan berganti mitra tergantung kepentingan pada tiap-
tiap konteks dan tiap-tiap momen waktu.
3. Jaringan power yang terkonstruksi di sekeliling negara dan sistem politik
memainkan peran fundamental dalam keseluruhan jaringan power. Hal ini
disebabkan operasi sistem yang stabil, dan reproduksi hubungan power dalam
seluruh jaringan, pada akhirnya bergantung pada fungsi-fungsi koordinasi
dan regulasi negara dan sistem politik. Hal ini juga karena melalui negaralah,
berbagai bentuk penggunaan power dalam berbagai lingkungan sosial
berhubungan dengan monopoli kekerasan sebagai kapasitas untuk
memaksakan power sebagai usaha terakhir.

Electronic Democracy
Dalam The Internet and Democratic Citizenship, Stephen Coleman dan Jay G.
Bumler (2009) membahas berbagai kegelisahan dan optimisme tentang demokrasi
dan mengaitkannya dengan Internet. Defisit deliberatif demokrasi adalah bahwa
publik takkan mendukung keputusan kecuali mereka merasa telah diajak
berkonsultasi dengan layak dan dilibatkan dalam proses pembuatannya. 8 Namun,
terdapat krisis komunikasi publik, sehingga diperlukan transformasi dari partisipasi
tak langsung menjadi partisipasi langsung. Muncullah konsep e-democracy, yang
merupakan aransemen komunikatif antara pemerintah dengan publik melalui
berbagai proyek online inovatif, seperti konsultasi parlementer online yang
dilunsurkan di Inggris pada 1998 dan pembentukan juru kampanye komunitas
(Campaign Creator).9 Menurut Angelika Füting dan Marco Bräuer, terdapat lima jenis
komunikasi politik individual dalam e-democracy sebagai berikut:10

7
Manuel Castells (2009), Communication Power (Oxford: Oxford University Press).
8
Stephen Coleman dan Jay G. Bumler (2009), The Internet and Democratic Citizenship: Theory, Practice and
Policy (Cambridge: Cambridge University Press), hlm.14-41.
9
Lihat “Campaign Creator” pada http://www.campaigncreator.org/holding_page/
10
Angelika Füting dan Marco Bräuer, Presentasi “Electronic Democracy and its Citizens”, Ilmenau University
of Technology, Institute for Media and Communication Science.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 5
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

Jenis Ukuran Deskripsi/Sifat Nama


1 46% Penghindaran umum terhadap komunikasi Passive
dan aktivitas politik mainstreamer
(mainstreamer
pasif)
2 14% Komunikasi politik atau keanggotaan serikat Egocentric lobbyist
pekerja yang terbatas, partisipasi memberikan (pelobi egosentris)
suara
3 15% Komunikasi politik multisegi/penggunaan Traditional activist
Internet yang rendah, keanggotaan dalam (aktivis
kelompok aksi lokal atau kelompok hak-hak tradisional)
hewan
4 7% Komunikasi politik yang komprehensif dan Involved extrovert
multisegi, keanggotaan dalam partai politik, (ekstrover yang
donasi bagi organisasi politik terlibat)
5 18% Komunikasi politik khusus/ketertarikan Lazy modernist
tinggi terhadap komunikasi Internet; (modernis yang
penghindaran terhadap “aktivitas luar” yang malas)
bersifat politis

Menurut Füting dan Bräuer, hanya lazy modernist yang menggunakan Internet
untuk komunikasi politiknya hingga tingkat yang relevan, dan menyebut lazy
modernist sebagai “golongan perintis online politik” (political online avant-garde).
Füting dan Bräuer menyimpulkan bahwa akan terdapat difusi lebih jauh tawaran
elektronik politik, seperti e-voting, e-petition, dialog-online, dalam Web 2.0, serta
memprediksi bahwa di masa depan akan terjadi praktik multisegi kewarganegaraan
digital dan konsepsi teoritis e-democracy lebih lanjut.11

Kajian Kepustakaan: Keterkaitan antara Politik dan Web 2.0


Telah terdapat berbagai kajian tentang keterkaitan antara politik dan Web 2.0.
Pandangan yang lebih optimis diperlihatkan, misalnya, oleh Kostas Zafiropoulos
dan Vasiliki Vrana (2008), yang mengkaji blogging politik di Yunani, dan
menyimpulkan bahwa blogging politik di Yunani telah sesuai dengan karakteristik
blogging politik, dan blog politik Yunani bertindak dalam suatu jaringan sosial blog,
yang membentuk kelompok utama otoritas di mana diskusi politik terjadi. Blog-blog
utama ini menyediakan opini dan sikap warga, yang dipertimbangkan oleh media.
Afiliasi politik sebagian terefleksikan dalam formasi kelompok-kelompok utama
blog, sehingga lebih mudah bagi warga untuk berkoordinasi dan menemukan
perdebatan yang menarik.12 Nicolas Desquinabo (2008) mengevaluasi pengaruh
“rancangan institusional” forum-forum online selama pemilu presidensial Prancis
2007 pada pertimbangan warga, dan menyimpulkan bahwa forum-forum tersebut
memberikan potensi pengaruh Internet pada kemungkinan “perselisihan

11
Ibid.
12
Kostas Zafiropoulos dan Vasiliki Vrana, “An exploration of Political Blogging in Greece”, paper yang
dipresentasikan pada Web 2.0: An International Conference, University of London (17-18 April 2008).
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 6
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

deliberatif”, sehingga berbagai sistem institusional dan perlengkapan teknis dalam


Internet mendorong perdebatan kontroversial terus-menerus, dan kerangka
institusional diskusi online dengan kuat memengaruhi karakteristik mereka.13
Zachary P. Devereaux (2008) meneliti peran uang, publisitas, satire video,
pengawasan, dan rekrutmen ke dalam asosiasi politik terbuka dalam situs satire
video Liberal Ontaria bernama Torytube.ca, dan menyimpulkan bahwa situs tesebut
telah memainkan peran penting dalam kampanye modern dan mengonfirmasi
bahwa platform Web 2.0 bertindak dalam kapasitas ideologis.14 Brian J. Gaines dan
Jeffery J. Mondak (2008) menganalisis situs Facebook untuk melihat tanda-tanda
pengelompokan oleh para anggotanya menurut pandangan politik mereka, dan
menyimpulkan bahwa para mahasiswa cenderung berkelompok secara ideologis
dalam Facebook.15
Di lain pihak, terdapat juga berbagai pandangan yang lebih pesimis terhadap
politik dan Web 2.0. Dylan Kissane (2008) mengkaji keterkaitan Web 2.0 milik ALP
(Partai Buruh Australia), Kevin07.com.au, dalam mengumpulkan suara para pemilih
muda dalam Pemilu Federal Australia 2007 dan menyimpulkan bahwa
Kevin07.com.au tak terlalu berarti dalam perolehan dukungan dari golongan usia
18-29 yang meningkat karena berbagai keadaan spesifik pada pemilu tersebut, yaitu
para pemilih muda yang lebih menyukai kandidat muda. Sehingga, langkah paling
penting ALP sebenarnya adalah penunjukan Kevin Rudd yang lebih muda daripada
Kim Beazley yang berpengalaman namun tak populer.16 Darren G. Lilleker dan
Nigel Jackson (2008) mengkaji bagaimana para elit politik di Inggris menggunakan
aplikasi Web 2.0 dan menyimpulkan bahwa mereka cenderung menyesuaikan Web
2.0 terhadap kebutuhan mereka daripada mengubah modus operandi mereka untuk
memenuhi norma-norma kultural Web 2.0. Mereka tak siap dan tak mampu
mengadopsi Web 2.0 sehingga mengembangkan apa yang Lilleker dan Jackson sebut
Web 1.5, yang mencakup unsur interaktif namun juga mencakup monolog satu arah
pada saat yang sama.17 Sarah Oates (2008) mengkaji bagaimana di Rusia Internet tak
berhasil mengimbangi media tradisional yang bias, dan menyimpulkan bahwa hal
ini terjadi karena tak ada mekanisme di Rusia agar informasi dapat menjadi
kekuatan politik, dan Internet di Rusia tetap menjadi “kamerad” komunis
sebagaimana di dunia media offline.18
Dapat dilihat bahwa Web 2.0 menyediakan tempat bagi diskusi politik yang
kontroversial dan terus-menerus tanpa menimbulkan perselisihan fisik. Web 2.0 juga

13
Nicolas Desquinabo, “Webforum design and debate practices during the 2007 French presidential campaign”,
Politics: Web 2.0: An International Conference, University of London (17-18 April 2008).
14
Zachary P. Devereaux, “Torytube.ca and the Ontario 2007 Election: The Web 2.0 Politics of Embedded
Political Video”, paper yang dipersiapkan untuk konferensi Politics: Web 2.0: An International Conference,
London, Inggris (17-18 April 2008).
15
J. Gaines dan Jeffery J. Mondak (2008), “Typing Together? Clustering of Ideological Types in Online Social
Networks”, paper yang dipersiapkan untuk konferensi Politics: Web 2.0, London, Inggris (9 April 2008).
16
Dylan Kissane, “Chasing the Youth Vote: Kevin07, Web 2.0 and the 2007 Australian Federal Election”,
paper yang dipersiapkan untuk konferensi Politics: Web 2.0: An International Conference, London, Inggris (17-
18 April 2008).
17
Dr Darren G. Lilleker dan Nigel Jackson (2008), “Politicians and Web 2.0: the current bandwagon or
changing the mindset?” Web 2.0: an International Conference.
18
Sarah Oates, “Comrades Online?: How the Russian Case Challenges the Democratising Potential of the
Internet”, paper yang dipersiapkan untuk konferensi Politics: Web 2.0: An International Conference, University
of London (17-18 April 2008).
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 7
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

bertindak dalam kapasitas ideologis dan menjadi sarana pengelompokan


pandangan politik. Namun, di berbagai kasus, Web 2.0 tak menjadi faktor utama
yang dapat membawa kepada kemenangan politik. Diperlukan kesiapan dan
kemampuan menggunakan Web 2.0 dengan optimal agar efek deliberatif Web 2.0
dapat benar-benar menjadi kekuatan politik.

Kajian Empirik: Kampanye Presidensial Barack Obama 2008


Contoh aktual dari konstruksi otonomi dalam masyarakat berjaringan yang
memperlihatkan keterkaitan antara politik dan Web 2.0 adalah kampanye
presidensial Barack Obama, yang diawali dengan pelibatan para pendukungnya di
Internet selama pemilihan pertama. Ketika pendukungnya menggalang dana untuk
berbagai alasan spesifik dan menyediakan laporan pembelanjaan dana tersebut, 62%
donasi diberikan melalui Internet, dengan total US$ 605 juta. Banyak pula pengamat
yang memandang kuatnya dukungan terhadap Obama di antara berbagai situs
jejaring sosial, seperti MySpace dan Facebook.com,19 serta menilai Obama sebagai
kandidat yang paling terhubung dengan pemilih potensial melalui Internet. 20
Kampanye pertama Obama pun memperoleh publisitas dari berbagai video musik
di Internet, seperti video “Obama Girl” berjudul I Got a Crush… on Obama, video Yes
We Can,21 dan video pidato Obama A More Perfect Union.22
Obama memang sukses menggunakan Internet untuk mengumpulkan
pendukung dan memperkenalkan kebijakan-kebijakannya. Integrasi teknologi ke
dalam proses organisasi lapangan merupakan keberhasilan kampanye Obama, yang
membawa efisiensi Internet dalam mengorganisasi massa dalam cara yang
terdistribusi dan terpercaya.23 Penggunaan Internet oleh Obama mengincar target
golongan usia 18-29, golongan usia yang paling bergantung pada media baru untuk
memperoleh informasi politik tentang pemilihan umum. Manajer kampanye Obama
memahami bahwa alasan para pemilih muda cenderung mengabaikan politisi
adalah karena politisi cenderung mengabaikan isu-isu yang paling menyangkut
para pemuda. Kampanye Obama akhirnya berhasil memperoleh reaksi positif dari
para pemuda Amerika.
Melalui forum-forum dan website sosial seperti MySpace dan Facebook,
Obama membangun hubungan dengan para pendukung dan calon pendukungnya.
Ia membangun kualitas yang jujur dan face-to-face sehingga memberikan rasa
jaminan dan kepercayaan kepada para pendukungnya, yang menginspirasi mereka
19
Jose Antonio Vargas, “Young Voters Find Voice on Facebook”, Washington Post 17 Februari 2008, diakses
dari http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2007/02/16/AR2007021602084.html, pada 28
April 2010, 9:49.
20
“SIPP index”, diakses dari http://www.spartaninternet.com/2008, pada 28 April 2010, 9:50.
21
Video Yes We Can memperoleh jumlah akses sekitar satu juta kali di YouTube pada hari pertama rilis, lihat
Neil McCormick, “Barack Obama‟s „Yes We Can‟ video” The Daily Telegraph (London), 14 Februari 2008,
diakses dari http://www.telegraph.co.uk/arts/main.jhtml?xml=/arts/2008/02/16/bmobama116.xml&DCMP=ILC-
traffdrv07053100, pada 28 April 2010, 9:55.
22
Video A More Perfect Union memperoleh jumlah akses sekitar 1,3 juta kali di YouTube pada hari pertama
rilis, lihat Alex Chadwick dan Alex Cohen, “The Viral Obama Web Cycle”, Day to Day (NPR) 19 Maret 2008,
diakses dari http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=88584840, pada 28 April 2010, 9:58.
23
Sarah Lai Stirland, “Obama‟s Secret Weapons: Internet, Databases and Psychology”, Threat Level,
Wired.com 29 Oktober 2008, diakses dari http://www.wired.com/threatlevel/2008/10/obamas-secret-w/, pada 1
Juni 2010, 21:01.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 8
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

untuk mengumpulkan para pendukung lain di komunitas lokal mereka. Para


pendukung Obama juga membentuk komunitas nasional. Internet menyediakan
sarana yang berguna dan efektif untuk itu, seperti sarana Neighbor-to-Neighbor dalam
My.BarackObama.com, memungkinkan para pendukung mencapai jumlah yang
besar dalam waktu singkat dalam komunitas mereka, yang pada gilirannya
membawa kepada kampanye yang mengumpulkan lebih banyak lagi dukungan
bagi Obama. Komunikasi online membawa para pendukung Obama terlibat dalam
berbagai aktivitas sosial seperti pemberian tandatangan dan petisi door-to-door untuk
dukungan bagi Obama, juga mendiskusikan opini mereka tentang kebijakan dan isu
yang mereka dukung bersama Obama.24
Seluruh kebijakan Obama tersedia secara online, dan update dikirim ke
pelanggan partai politiknya melalui email dan SMS, yang pada akhirnya membuat
Obama menjadi kandidat dengan penggunaan teknologi paling cerdas dan modern,
dan meningkatkan popularitasnya di antara para pemilih muda. Lebih lanjut,
kampanye Obama juga diperkuat dengan terbatasnya penggunaan Internet oleh
lawannya, John McCain. McCain tak memiliki organisasi seperti dalam kampanye
Obama, juga tak mengeluarkan uang pada porsi kampanye ini. Pemilihan waktu
yang tepat dan penggunaan kampanye online memberi Obama keunggulan
signifikan atas McCain.25

Analisis Keterkaitan Antarkonsep


Kesimpulan dari kajian kepustakaan bahwa Web 2.0 dapat menjadi kekuatan
politik diperlihatkan secara aktual dalam kampanye presidensial Obama. Obama
berhasil melibatkan para pendukungnya di Internet, menggalang dana melalui
Internet, dan menunjukkan dukungan terhadap Obama melalui Internet. Integrasi
teknologi ke dalam proses organisasi lapangan merupakan keberhasilan kampanye
Obama. Hal ini juga diperkuat dengan terbatasnya penggunaan Internet oleh
lawannya, John McCain. Maka, proses translasi Web 2.0 menjadi kekuatan politik
juga berada dalam analisis keunggulan kompetitif penggunaan Web 2.0 secara relatif
dengan lawan politik.

24
M. Xenos dan W. Lance Bennett, “The Disconnection in Online Politics: The Youth Political Sphere and US
Election Sites, 2002-2004”, Information, Communication, and Society 10 (2007): 443-64; dan Josh Pasek,
Daniel Romer, dan Kathleen Hall Jamieson, “America's Youth and Community Engagement: How Use of Mass
Media Is Related to Civic Activity and Political Awareness in 14-to-22-Year-Olds”, Communication Research
33 (2006): 115-35.
25
Stirland, op. cit.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 9
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

DATA TEMUAN DAN ANALISIS

Kampanye Oposisi Malaysia di Cyberspace dalam Pemilu Malaysia 2008

Latar Belakang: Tekanan pada Media Mainstream


Penggunaan cyberspace oleh oposisi dalam kampanye dalam Pemilu Malaysia
2008 pada awalnya disebabkan penggelapan pada media mainstream. Banyak surat
kabar dan stasiun televisi di Malaysia sebagian dimiliki oleh partai-partai dalam
koalisi yang memimpin, dan media-media tersebut dinilai terlalu menyanjung
cerita-cerita tentang pemerintah dan pencapaiannya. Outlet media yang dimiliki
secara langsung oleh pemerintah Malaysia antara lain Bernama (Berita Nasional
Malaysia), agen berita pemerintah Malaysia Sementara yang dimiliki oleh partai-
partai dalam koalisi Barisan Nasional antara lain grup Media Prima, yang dimiliki
oleh United Malays National Organisation. Media Prima adalah perusahaan induk
empat saluran televisi dan dua saluran radio. Sementara itu, RTM (Radio Televisyen
Malaysia), penyiar publik milik negara di Malaysia, mengoperasikan dua saluran
televisi lokal dan 32 saluran radio nasional.
Terdapat sekitar 30 surat kabar dan tabloid yang diterbitkan dalam bahasa
Melayu, Inggris, China, dan Tamil. Surat kabar terkemuka mencakup The Star, New
Straits Times, theSun, Berita Harian, Utusan Malaysia, Sin Chew Jit Poh, dan Nanyang
Siang Pau. The Star secara mayoritas dimiliki oleh Malaysian Chinese Association
(Persatuan Cina Malaysia), partai kedua terbesar di aliansi Barisan Nasional. New
Straits Times merupakan bagian dari grup perusahaan Media Prima yang dimiliki
oleh partai politik dominan, UMNO. Sementara itu, Utusan Malaysia dianggap
memiliki kredibilitas yang rendah karena praktik standar ganda dalam pelaporan,
khususnya berkenaan dengan berita politik.26 Pernyataan-pernyataan oleh para Chief
Minister di negara-negara bagian yang dipimpin oposisi seringkali dilaporkan keluar
dari konteks, dimanipulasi, atau difabrikasi.27
Regulasi kebebasan pers di Malaysia menjadi sasaran kritik karena
pemerintah dianggap menyebarkan ancaman-ancaman reduksi peluang pekerjaan
dan menolak anggota keluarga jurnalis di universitas publik. Legislasi seperti
Printing Presses and Publications Act juga disebut membatasi kebebasan berekspresi.
Pada 2007, agen pemerintah Malaysian Communications and Multimedia Commission
mengeluarkan instruksi kepada seluruh stasiun televisi dan radio swasta untuk tak
menyiarkan pidato-pidato yang dibuat oleh para pemimpin oposisi.28 Tentu saja,
gerakan ini dikutuk oleh para politisi dari oposisi, seperti oleh Democratic Action
Party.29 Instruksi tersebut kemudian ditarik kembali oleh Energy, Water and

26
http://klpos.com
27
Lihat “Penang CM slams PM, denies stoking racial tension”, YouTube, diakses dari
http://www.youtube.com/watch?v=KYUlAIvjs7o, pada 2 Juni 2010, 10:52, d imana Chief Minister Penang, Lim
Guan Eng, mengklarifikasi hal tersebut.
28
“Opposition muzzled - here's black and white proof”, Malaysiakini 29 Juni 2007, diakses dari
http://www.malaysiakini.com/news/69331, pada 2 Juni 2010, 10:00.
29
G. Vikneswary, “TV station denies censoring opposition news”, Malaysiakini 28 Juni 2007, diakses dari
http://www.malaysiakini.com/news/69226, pada 2 Juni 2010, 10:03.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 10
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

Gambar 1 Scan instruksi Malaysian Communications and Multimedia Communication kepada


stasiun-stasiun radio dan televisi swasta untuk tak menyiarkan pidato para politisi
oposisi. Sumber:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/e/e7/Mcmc_directive.png
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 11
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

Communications Ministry. Media watchdog Reporters Without Borders menempatkan


Malaysia pada posisi 124 dari 169 dalam indeks kebebasan pers internasional dan
mengatakan bahwa media mainstream “sering dipaksa untuk mengabaikan atau
menjatuhkan event- event yang diorganisasi oleh oposisi”.30

New Media dan Kampanye Oposisi di Cyberspace Malaysia


Dapat dilihat bahwa pemberitaan media mainstream di Malaysia cenderung
bersifat partisan. Oleh karena itu, di Malaysia muncul berbagai media alternatif,
seperti Malaysiakini.com, suatu jurnal berita online yang beroperasi sejak 1999 dan
pernah mengalami penggerebekan polisi dan penyangkalan pas jalan media bagi
para reporternya untuk meliput event-event pemerintahan. Compete.com menaksir
bahwa Malaysiakini.com kini menarik 10.000 pengunjung unik pada Mei 2009 dan
119.431 pengunjung unik pada April 2010.31 Alexa menempatkan Malaysiakini.com
sebagai website paling popular ke-16 di Malaysia, lebih tinggi daripada website The
Star thestar.com.my pada 2008,32 dan hanya berada satu tingkat di bawah
thestar.com.my pada 2010.33 Penggunaan Internet sebagai sarana kampanye
terhambat oleh tingkat penetrasi yang rendah di daerah-daerah pedesaan, di mana
pemerintah memperoleh dukungan yang kuat. Namun, di daerah-daerah kota,
penggunaan Internet signifikan, dan masyarakat kota kini memiliki akses alternatif
terhadap berita dan pandangan berbeda.34
Karena partai-partai oposisi jarang memperoleh pemberitaan di media-media
mainstream tersebut, mereka mulai berkampanye di cyberspace dengan sasaran para
pemilih muda di daerah kota yang terdidik. Setelah Perdana Menteri Abdullah
Ahmad Badawi membubarkan parlemen pada Februari 2008, pemimpin oposisi Lim
Kit Siang mengunggah pidato terkait pemilu di YouTube. Lim adalah salah satu
politisi Malaysia yang paling terhubung dengan cyberspace. Lim memiliki tiga blog35
yang di-update dengan cermat dengan banyak post tiap hari, dan banyak pemimpin
partai lainnya yang mengikuti hal tersebut.36
Partai oposisi Malaysia PAS memiliki jurnal online sendiri, HarakahDaily.net,
yang menampilkan enam saluran televisi online berbeda dan pelaporan original
terkait pemilu Malaysia. HarakahDaily.net adalah website surat kabar Harakah yang
diterbitkan oleh PAS. HarakahDaily.net menjadi alternatif yang baik sejak akhir
1990-an Perdana Menteri ke-4 Malaysia, Mahathir bin Mohamad, membatasi izin
terbit surat kabar Harakah, dari publikasi dua kali seminggu menjadi dua kali
sebulan.
Mantan Perdana Menteri Malaysia dan pemimpin de facto PKR, Anwar
Ibrahim, memiliki blog37 sendiri yang memiliki link-link berita dan video aktivitas

30
“Malaysia's opposition mounts campaign in cyberspace”, AFP, op. cit.
31
“170,000 visitors in 2008”, diakses dari http://siteanalytics.compete.com/malaysiakini.com/?metric=uv, pada
2 Juni 2010, 11:04.
32
“Malaysiakini overtakes Star online rankings”, diakses dari
http://www.alexa.com/site/ds/top_sites?cc=MY&ts_mode=country&lang=none, pada 2 Juni 2010, 11:12.
33
“Top Sites in Malaysia”, diakses dari http://www.alexa.com/topsites/countries/MY, pada 2 Juni 2010, 11:14.
34
“Malaysia's opposition mounts campaign in cyberspace”, AFP, op. cit.
35
Blog Lim antara lain blog.limkitsiang.com, limkitsiang.com, dan limkitsiang.blogspot.com.
36
“Malaysia's opposition mounts campaign in cyberspace”, AFP, op. cit.
37
Blog Anwar antara lain anwaribrahimblog.com dan anwaribrahim.com.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 12
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

kampanye partainya, PKR. Pada 2007, Anwar merilis suatu klip video yang diduga
menunjukkan seorang pengacara tingkat tinggi memperdagangkan penunjukan
yudisial tinggi, suatu skandal yang memicu dibentuknya suatu komisi penyelidikan
penuh.

Cybercampaign Oposisi dalam Pemilu Malaysia 2008


Kampanye oposisi di cyberspace Malaysia ini berlanjut dalam kampanye dan
strategi pemenangan Pemilu Malaysia 2008. Hal ini tak terlalu tampak pada
kampanye BN. Partai-partai oposisi utama Malaysia, terdiri atas PKR, DAP, dan
PAS, serta PSM dan PASOK bergabung di bawah slogan Barisan Rakyat dan
melakukan kampanye di berbagai cyberspace dan media baru, menggunakan
berbagai teknologi baru seperti blog, SMS, dan YouTube. Ibrahim Suffian dari Merdeka
Centre for Opinion Research di Kuala Lumpur menyebutkan bahwa oposisi lebih siap
dan berhati-hati dalam pendekatannya menggunakan Internet dan teknologi lainnya
dalam strategi komunikasi mereka daripada partai-partai pemerintah. Aplikasi
teknologi informasi dalam pemilu antara lain:38
 SMS: digunakan secara maksimal oleh para juru kampanye oposisi. Beberapa
unsur dalam oposisi telah mengembangkan kapasitas untuk mengirim SMS
kepada para individu yang tinggal di lokasi-lokasi khusus, dan memiliki
kemampuan untuk membanjiri para pemilih di suatu lokasi khusus dengan
berbagai pesan SMS. SMS digunakan untuk memberitahukan para pemilih
tentang event-event terdekat dan mengirim pesan teaser untuk mengajak
mereka mengunjungi website tertentu. Pada malam sebelum hari pemilu,
puluhan ribu pemilih dikirimkan rekaman pesan audio oleh Anwar Ibrahim
yang mengajak mereka memilih untuk perubahan.
 Website Kandidat: berbagai website kampanye muncul sebagai dukungan
terhadap para kandidat, kebanyakan dibuat oleh para kandidat oposisi.
Website-website tersebut memberikan informasi tentang para kandidat dan
melaporkan berbagai peristiwa, beberapa juga mengumpulkan donasi.
Beberapa keberhasilan website kandidat antara lain gerakan donasi online oleh
kandidat Jeff Ooi dari DAP, yang mengumpulkan puluhan ribu dolar secara
online dan Badrul Hisham dari PKR yang mengumpulkan lebih dari RM
30.000 ($ 9.050,-) dalam sepekan.
 Portal Media Partai: situs-situs partai seperti HarakahDaily.net dan Suara-
Keadilan.com menjadi portal yang menyediakan materi untuk penggandaan
dan transmisi berikutnya di antara publik. PAS mengembangkan suatu
laporan newsletter berkala yang memberikan pernyataan-pernyataan dan
reportase isu-isu dan event-event kampanye, yang didistribusikan secara luas
selama kampanye oleh para aktivis partai.
 Website Pendukung: sebagai tambahan terhadap website partai, berbagai
homepage yang dioperasikan oleh para aktivis dan pendukung partai juga
memberikan informasi tambahan dan materi serta selebaran yang dapat
diunduh dan didistribusikan.
38
Mr. Ibrahim Suffian, “Reflections of the 2008 Malaysian General Election: Role of the Internet in Political
Communications”, Merdeka Centre for Opinion Research, Kuala Lumpur, diakses dari
www2.lse.ac.uk/IDEAS/publications/reports/pdf/SR005/Msia_Suffian.pdf, pada 2 Juni 2010, 12:23.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 13
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

YouTube dan Situs-situs Video Lainnya: karena oposisi dilarang akses


terhadap jaringan televisi mainstream, mereka bergantung pada situs-situs
video-sharing seperti YouTube untuk memperlihatkan event-event dan pidato
mereka. Sejumlah besar materi yang diberikan oleh para pengguna YouTube
dapat ditemukan di YouTube. Salah satu klip video paling populer
menampilkan Perdana Menteri Malaysia tertidur di berbagai event publik.
 Distribusi Video Compact Disc (VCD): sebagai adaptasi dari selebaran,
dalam Pemilu Malaysia 2008 terdapat penggunaan luas VCD sebagai bentuk
selebaran digital oleh para juru kampanye dari kedua belah pihak. VCD
tersebut digunakan untuk memberikan berbagai bentuk pesan, dari
pengenalan khas para kandidat lokal hingga transmisi materi rahasia yang
dapat mencemarkan nama kandidat atau partai tertentu. Selama kampanye,
para aktivis yang mungkin terhubung dengan BN menerbitkan kembali video
lama terkait skandal seksual Anwar Ibrahim, namun pengaruh hal tersebut
tak terlalu berarti karena proses legal telah membebaskan Anwar pada 2004.39
Sebaliknya, VCD yang dibuat oleh kelompok kepentingan HINDRAF
(Barisan Bertindak Hak-hak Hindu) yang menunjukkan penghancuran
berbagai candi Hindu dan rumah warga Malaysia keturunan India oleh para
otoritas lokal Malaysia40 terbukti sangat penting dalam memengaruhi para
pemilih.
Oposisi juga mengumpulkan dana melalui cyberspace dengan memohon
kepada publik melalui website dan blog untuk para pendukung agar menyumbang
dana melalui kartu kredit dan transfer bank untuk membantu juru kampanye
mencetak poster-poster kampanye dan menggelar berbagai forum publik. Oposisi
berulang-kali mengungkapkan bahwa mereka tak mampu mengimbangi kekuatan
pengeluaran yang massif dari koalisi BN.41
Hasil Pemilu Malaysia 2008 adalah kemenangan BN sebesar 50,27% suara
dengan 140 kursi (63,1%) dalam Dewan Rakyat Malaysia (jumlah kursi turun
sebanyak 58). Barisan Rakyat memperoleh 46,75% suara dengan jumlah kursi naik
sebanyak 62 kursi menjadi 82 kursi (36,9%).42 Jumlah perolehan kursi di tiap-tiap
negara bagian adalah sebagai berikut.

39
Lihat skandal seksual Anwar pada Mark Colvin, “Anwar Ibrahim freed after sodomy sentence overturned”,
abc.net.au 2 September 2004, http://www.abc.net.au/cgi-
bin/common/printfriendly.pl?http://www.abc.net.au/pm/content/2004/s1190999.htm.
40
Dalam kampanye HINDRAF pada 16 Februari 2008, di mana HINDRAF memberikan mawar sebagai simbol
cinta dan kasih sayang, dalam usaha menghadirkan unsur humanis dalam kampanyenya, kepada Perdana
Menteri Malaysia di parlemen, polisi menembakkan gas air mata dan water cannon kepada ratusan etnis India di
pusat Kuala Lumpur. Lebih dari 200 orang ditahan oleh otoritas setelah diserang oleh polisi di dekat situs candi
India. Lihat “Hindraf‟s „roses campaign‟ thwarted”, The Hindu 17 Februari 2008,
http://www.thehindu.com/2008/02/17/stories/2008021750180100.htm; dan “Malaysia: Police Break Up Ethnic
Indian Rally, Detain More Than 120 People”, My Sinchew, http://www.mysinchew.com/node/7133?tid=4.
41
Eileen Ng, “Malaysia's government rejects call for American-style political debate ahead of election”,
Associated Press (Yahoo! News) 2 Maret 2008, diakses dari http://malaysia.news.yahoo.com/ap/20080302/tap-
as-gen-malaysia-election-b3c65ae.html, pada 2 Juni 2010, 14:56.
42
“3 Sin Chew Jit Poh nationwide results statistics”, Sin Chew Jit Poh 10 Maret 2008, diakses dari
http://www.sinchew-i.com/special/election2008/result.phtml, pada 2 Juni 2010, 14:00.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 14
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

Negara Bagian Barisan Nasional Oposisi


Suara (Persen) Kursi (Persen) Suara (Persen) Kursi (Persen)
Perlis 61,5% 14 (93,33%) 36,83% 1 (6,67%)
Kedah* 47,40% 14 (38,89%) 50,40% 21 (58,33%)
Kelantan* 45,12% 6 (13,33%) 56,36% 39 (86,67%)
Terengganu NA 24 (75,00%) NA 8 (25,00%)
Penang* NA 11 (27,50%) NA 29 (72,50%)
Perak* NA 28 (47,46%) NA 31 (52,54%)
Pahang NA 37 (88,10%) NA 4 (9,52%)
Selangor* NA 20 (35,71%) NA 36 (64,29%)
Negri Sembilan NA 21 (58,33%) NA 15 (41,67%)
Malaka NA 23 (82,14%) NA 5 (17,86%)
Johor NA 50 (89,29%) NA 6 (10,71%)
Sabah NA 59 (98,33%) NA 1 (1,67%)
Negara bagian dengan tanda * menunjukkan kemenangan oposisi.

Gambar 2 Hasil pemilihan parlementer dalam Pemilu Malaysia 2008. Sumber:


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/2/2b/Malaysian_general_election_2008.gif

Apabila diteliti dengan baik, negara-negara bagian di mana oposisi menang


adalah negara-negara bagian yang maju dengan fasilitas teknologi informasi dan
komunikasi serta jangkauan Internet yang baik. Di Penang, terdapat Telekom
Malaysia Berhad sebagai provider layanan telepon darat juga provider layanan
Internet utama, serta terdapat jangkauan seluler yang unggul. Selangor adalah
negara bagian paling maju di Malaysia dan menerima keuntungan mutlak dari efek
spillover pembangunan ibu kota, Kuala Lumpur. Pun Kuala Lumpur, sebagai ibu
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 15
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

kota Malaysia, memiliki tingkat pemilih muda dengan penggunaan teknologi paling
cerdas dan modern.
Ibrahim Suffian kemudian mengkaji pengaruh teknologi informasi dalam
Pemilu Malaysia 2008. Ia mengutip survei pasca-pemilu oleh Merdeka Centre bahwa
sementara 90% warga Malaysia memperoleh informasi pemilu melalui media
mainstream, namun dua pertiga warga juga memiliki akses terhadap sumber-sumber
informasi sekunder dan alternatif seperti Internet, selebaran, dan pertemuan aktivis.
Bentuk komunikasi ini mencapai pengaruh yang menentukan dalam hasil pemilu.
Ibrahim mengungkapkan bahwa media mainstream Malaysia terus menolak
liberalisasi lebih lanjut, dan berbagai jaringan televisi dan radio tetap dimiliki oleh
koalisi BN. Para pemilih telah bersikap sinis terhadap media mainstream dan para
pemiliknya. Ibrahim kembali mengutip polling oleh Merdeka Centre pada Juli 2008
yang menemukan bahwa hanya 25% pemilih Malaysia yang mempercayai peliputan
berita politik oleh media mainstream lokal, dan kurang dari 10% yang memiliki
kepercayaan kuat terhadap media tersebut. Dengan investasi pada jaringan
broadband dan perluasan akses Internet di luar daerah-daerah kota, Ibrahim
memprediksi bahwa hal ini hanyalah awal dari peran teknologi informasi dan
komunikasi yang semakin luas dalam diskursus sosial politik Malaysia. 43
Namun, terdapat satu potensi hambatan terhadap cybercampaign oposisi ini,
yaitu status Malaysia sebagai salah satu negara yang mengalami penyensoran
Internet secara nominal. Pada 2006, Deputi Science and Technology Minister Kong Cho
Ha mengumumkan bahwa seluruh blog berita Malaysia harus didaftarkan dengan
Ministry of Information. Kong menjustifikasi hal ini dengan menyatakan bahwa
hukum tersebut penting untuk mencegah para blogger menimbulkan kekacauan
dalam masyarakat multietnik Malaysia.44

KESIMPULAN

Kesimpulan
Oposisi Malaysia berhasil membangun interaksi informasi dan kolaborasi
dengan para pemilih dalam kampanye Pemilu Malaysia 2008 berbagai aplikasi Web
2.0. Hal ini mengonfirmasi kekuatan komunikasi, di mana Web 2.0 sebagai jaringan
komunikasi berperan fundamental dalam proses pembuatan power oposisi.
Penggunaan Web 2.0 ini adalah bentuk e-democracy yang lahir bukan dari defisit
deliberatif demokrasi, namun lebih parah lagi adalah krisis komunikasi publik yang
berasal dari opresi dari sistem politik yang tak demokratis yang membuat oposisi
tak memiliki kebebasan berekspresi dalam media mainstream, sehingga penggunaan
Web 2.0 merupakan suatu alternatif esensial yang wajib dilakukan oposisi untuk
mempertahankan kelangsungannya. Cybercampaign oposisi melalui Web 2.0 di
Malaysia menyediakan tempat bagi diskusi politik yang tak dapat terjadi dalam
43
Suffian, op. cit.
44
Peter Walker, “Malaysia's mission unbloggable”, The Guardian, London, 5 Desember 2006, diakses dari
http://www.guardian.co.uk/news/blog/2006/dec/05/malaysiablog, pada 2 Juni 2010, 12:21.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 16
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

media mainstream. Cybercampaign ini dilakukan melalui SMS, website kandidat, portal
media partai, website pendukung, situs-situs video seperti YouTube, dan distribusi
VCD, serta penggalangan dana online melalui website dan blog.
Cybercampaign oposisi ini berhasil meningkatkan popularitas para kandidat
oposisi di antara para pemilih muda. Hal ini juga diperkuat dengan terbatasnya
penggunaan Internet oleh BN, yang tak memiliki organisasi seperti dalam
kampanye oposisi, juga tak mengeluarkan uang pada porsi kampanye ini, sehingga
memberi oposisi keunggulan signifikan atas BN. Dapat dilihat bahwa oposisi pun
akhirnya menang dari BN di negara-negara bagian yang maju dengan fasilitas
teknologi informasi dan komunikasi serta jangkauan Internet yang baik. Namun,
kekuatan politik oposisi yang berasal dari penggunaan Web 2.0 tak cukup signifikan
dalam membawa mereka memenangkan Pemilu Malaysia 2008. Hal ini terkait
kekuatan BN yang memerintah yang telah memiliki sistem operasi power yang stabil
dan memiliki fungsi-fungsi koordinasi dan regulasi yang dibutuhkan untuk
reproduksi hubungan power. Hal ini juga disebabkan kurangnya kesiapan dan
kemampuan mengeluarkan efek deliberatif Web 2.0 di Malaysia. Kurangnya
kesiapan ini disebabkan hal ini merupakan sesuatu yang sangat baru di Malaysia, di
mana Malaysia baru mulai berinvestasi dalam jaringan broadband dan memperluas
akses Internet, sehingga peran teknologi informasi dan komunikasi dalam diskursus
sosial politik Malaysia baru saja dimulai.
Penulis memprediksi bahwa di masa depan, bentuk komunikasi sekunder
dan alternatif melalui Internet akan memiliki pengaruh yang lebih desisif dalam
hasil Pemilu Malaysia. Hal ini terkait efek deliberatif yang telah dibawa teknologi
informasi dan komunikasi modern kepada para pemilih Malaysia, yang telah skeptis
terhadap media mainstream. Hal ini dengan catatan, penyensoran Internet di
Malaysia tak menghambat gerakan para blogger politik dan juru kampanye dalam
cyberspace Malaysia. Apabila ini terjadi, seperti kasus Rusia, takkan ada mekanisme
translasi informasi menjadi kekuatan politik di Malaysia.

Implikasi Teoritis
Cybercampaign oposisi dalam Pemilu Malaysia 2008 mengonfirmasi argumen-
argumen sentral Castells bahwa jaringan-jaringan komunikasi adalah jaringan
fundamental pembuatan power dalam masyarakat. Hal ini tampak dari bagaimana
blog, SMS, dan website oposisi dapat menjadi kekuatan politik oposisi dalam pemilu.
Kekalahan oposisi, walaupun telah memberikan pukulan signifikan terhadap BN
melalui peningkatan perolehan suara dan kursi, juga mengonfirmasi argumen
Castells tentang peran fundamental negara dalam keseluruhan jaringan power. BN
sebagai pemerintah yang berkuasa memiliki fungsi-fungsi koordinasi dan regulasi
yang dibutuhkan untuk menstabilkan operasi sistem politik dan mereproduksi
hubungan power di Malaysia, serta memiliki monopoli kekerasan sebagai kapasitas
untuk memaksakan power sebagai usaha terakhir, seperti usaha melakukan
penyensoran Internet untuk membendung cybercampaign oposisi.
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 17
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

BIOGRAFI

Buku
Castells, Manuel. (2009). Communication Power. Oxford: Oxford University Press.
Coleman, Stephen dan Jay G. Bumler. (2009). The Internet and Democratic Citizenship:
Theory, Practice and Policy. Cambridge: Cambridge University Press.
McCaughey, Martha dan Michael D. Ayers (ed.). (2003). Cyberactivism. New York:
Routledge.

Jurnal
Pasek, Josh; Daniel Romer, dan Kathleen Hall Jamieson. (2006). “America's Youth
and Community Engagement: How Use of Mass Media Is Related to Civic
Activity and Political Awareness in 14-to-22-Year-Olds.” Communication
Research 33 (2006): 115-35.
Xenos, M. dan W. Lance Bennett. (2007). “The Disconnection in Online Politics: The
Youth Political Sphere and US Election Sites, 2002-2004.” Information,
Communication, and Society 10 (2007): 443-64.

Presentasi
Desquinabo, Nicolas. (2008). “Webforum design and debate practices during the
2007 French presidential campaign.” Politics: Web 2.0: An International
Conference. London.
Devereaux, Zachary P. (2008). “Torytube.ca and the Ontario 2007 Election: The Web
2.0 Politics of Embedded Political Video.” Politics: Web 2.0: An International
Conference. London.
Füting, Angelika dan Marco Bräuer. “Electronic Democracy and its Citizens.”
Ilmenau University of Technology, Institute for Media and Communication Science.
Gaines, J. dan Jeffery J. Mondak. (2008). “Typing Together? Clustering of Ideological
Types in Online Social Networks.” Politics: Web 2.0. London.
Kissane, Dylan. (2008). “Chasing the Youth Vote: Kevin07, Web 2.0 and the 2007
Australian Federal Election.” Politics: Web 2.0: An International Conference.
London.
Lilleker, Darren G. dan Nigel Jackson. (2008). “Politicians and Web 2.0: the current
bandwagon or changing the mindset?” Web 2.0: an International Conference.
Oates, Sarah. (2008). “Comrades Online? How the Russian Case Challenges the
Democratising Potential of the Internet.” Politics: Web 2.0: An International
Conference. London.
Zafiropoulos, Kostas dan Vasiliki Vrana (2008). “An exploration of Political Blogging
in Greece.” Web 2.0: An International Conference. London.

Internet
afp.google.com
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 18
SHI 40038 Kekuatan Jaringan Informasi Global

anwaribrahim.com
anwaribrahimblog.com
blog.limkitsiang.com
klpos.com
limkitsiang.blogspot.com
limkitsiang.com
malaysia.news.yahoo.com
oreilly.com
siteanalytics.compete.com
www.abc.net.au
www.alexa.com
www.campaigncreator.org
www.detiknews.com
www.guardian.co.uk
www.malaysiakini.com
www.mysinchew.com
www.npr.org
www.paulgraham.com
www.sinchew-i.com
www.spartaninternet.com
www.techpluto.com
www.telegraph.co.uk
www.tempointeraktif.com
www.thehindu.com
www.washingtonpost.com
www.wired.com
www.youtube.com
www2.lse.ac.uk