Anda di halaman 1dari 6

Kalimah Taqwa II

KALIMAH TAQWA Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan
(yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan
kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah
mewajibkan kepada mereka kalimah taqwa dan adalah mereka berhak
dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 48:26)

Kalimah taqwa sesungguhnya merupakan visualisasi tentang apa itu


sesungguhnya taqwa. Bahwa permasalahan taqwa itu amat terkait
dengan permasalahan kalimah. Sehingga Al-Qur’an menggandengkan 2
istilah itu.
Sehingga uraian berikut semata-mata ditujukan untuk mengantarkan
kepada pemahaman lebih dalam tentang ketaqwaan.

TENTANG KALIMAH
Allah SWT berfirman:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
… permasalahan perumpamaan kalimah yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya
taqwa itu amat teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan
terkait dengan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Dan Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya
mereka selalu ingat.” (QS. 14:24-25)

Perhatikan juga ayat berikut:

“Dan sesungguhnya telah tetap kalimah Kami kepada hamba-hamba


Kami yang menjadi rasul,” (QS. 37:171)

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah


menggembirakan kamu dengan kalimah-Nya, namanya Al Masih `Isa
putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan
termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. 3:45)

Di QS. 14:24-25, Allah SWT mengumpamakan kalimah dengan pohon.


Kemudian di QS. 37:171 dan QS. 3:45 dinyatakan bahwa kalimah itu
adalah para rasul, termasuk Nabi Isa as. Dan di materi Pengantar
Ma’rifatullah telah dijelaskan bahwa para rasul tersebut adalah contoh
dari insan kamil. Dimana setiap insan sesungguhnya adalah kalimah
Allah, bila mereka mencapai bentuk kesempurnaannya (kamil).

Ini semua menunjukkan bahwa pohon yang baik (syajaratun thoyyibah),


merupakan visualisasi dari kalimah. Dan juga merupakan visualisasi
dari insan kamil. Artinya segala hal seperti sifat, kondisi, dan proses
pertumbuhan sang pohon dapat digunakan untuk menggambarkan hal
yang sama pada diri manusia. Pada titik inilah dapat kita pahami
relevansi kata taqwa dengan makna bahasanya, yaitu “memelihara” .
Dan juga kenapa Al-Qur'an memunculkan istilah kalimah taqwa.
… segala hal
seperti sifat,
kondisi, dan proses
pertumbuhan sang
pohon dapat
Pada bab Pengantar Ma’rifatu’l Insan telah diuraikan bahwa asal muasal
digunakan untuk
PERJALANAN SANG diri kita adalah nafsu’l wahidah. Atau yang sering disebut di Al-Qur'an
BENIH dengan istilah Nafs. Ia ibarat benih pohon yang ditanam di bumi jasad,
untuk dinantikan buahnya. Untuk itu si benih akan dirawat dan
dipelihara, agar tumbuh sehat dan menjadi pohon yang baik.
Nabi Isa AS pernah menguraikan masalah benih nafs ini dalam sebuah
kisah indah. Katanya:
“Kerajaan Surga itu ibarat orang yang menaburkan benih yang baik di
ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya
menaburkan benih ilalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika
gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak juga ilalang itu tumbuh.
Maka datanglah pembantu-pembantu pemilik ladang itu kepadanya dan
berkata: “Tuan, bukankah benih baik yang tuan taburkan di ladang
tuan? Dari manakah ilalang itu?” Jawab pemilik ladang, “Seorang musuh
yang melakukannya.” Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya,
“Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?” Tuan itu
menolak, “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu
kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama
sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para
penuai: ‘Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas
untuk dibakar. Kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam
… Tumbuh lumbungku."
kembangnya sang
benih nafs inilah Nabi Isa as kemudian melanjutkan:
yang dimaksud "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia. Ladang ialah
dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan Surga dan ilalang adalah
anak-anak si jahat.”

Yang dimaksud anak-anak Kerajaan Surga adalah Nafs. Dia dititipkan ke


jasad agar kelak dapat tumbuh. Tumbuh kembangnya sang benih nafs
inilah yang dimaksud dengan bertaqwa. Dimana untuk merasakan
buahnya, sang benih harus menjalani proses kehidupan yang panjang
dan penuh perjuangan. Wajarlah bila kemuliaan seseorang di sisi Allah
SWT diukur dalam hal ini.
Berbuah Menjadi khalifatu
sepanjang fi’l ardh dan
Berbuah rahmatan
Menjadi khalifatu fi’l lil
sepanjang ardh dan rahmatan lil
Alam
musim ‘alamin
Menumbuhkan
Tumbuh diri berbekal
menjadi bakat dan misi
Alam Dunia
pohon

Menumbuhkan diri
Tumbuh berbekal bakat dan
Alam menjadi pohonDitanam Penyatuan
misi hidup yang
pribadi (ditaburkan melekatdengan
di NafsJasad

Alam Nafs sebagai


Pembentuk
benih diberikan
an Benih
Ditanam bakat
Penyatuan dan misi
dengan
Alam Rahim
(ditaburkan) Jasad dan Ruh

Pembentukan Nafs sebagai benih


Alam Alastu
Benih diberikan bakat dan
misi hidup
Diagram di atas adalah peta perjalanan diri kita. Dimana lakon
utamanya adalah nafs, sang benih.
Kepada mereka
dilekatkan kodrat
dirinya berupa 2
Pembentukan Benih
Kehadiran Nafs dalam jasad seorang manusia adalah ibarat sebuah
benih yang ditanam di bumi. Nafs itu sendiri sesungguhnya telah ada
dan menjalani kehidupannya di alam alastu, jauh sebelum jasad
terbentuk. Di khazanah Yunani alam ini disebut juga dengan alam idea.
Dimana pada masa inilah nafs insan dibentuk menjadi benih yang siap
ditanam dan ditumbuhkan dalam diri insan. Kepada mereka dilekatkan
kodrat dirinya berupa bakat dan misi hidupnya kelak, sebagaimana
Allah SWT melekatkan bakat dan buah macam apa yang harus
ditumbuhkan oleh sebutir biji tumbuhan.

Allah SWT berfirman:


“dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.”
(QS. 87:3)

Penanaman Benih
Ketika nafs dikumpulkan dengan jasad, dan nafakh ruh ditiupkan maka
Allah SWT menentukan rezeki, ajal, amal dan kecelakaan-kebahagiaan
insan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda,
“Kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama 40 hari,
kemudian dia menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama 40 hari. Kemudian
menjadi mudhghah selama 40 hari. Kemudian Allah s.w.t mengutuskan
malaikat untuk meniupkan ruh serta memerintahkan supaya menulis
empat kalimah yaitu rezekinya, ajalnya, amalannya serta kecelakaan atau
kebahagiaannya.” (HR. Bukhari Buslim)
… Allah SWT
menanamkan Ditentukannya 4 hal tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi logis
benih nafs dalam dari sifat Ar-Rahman. Ketika Allah SWT menanamkan benih nafs dalam
jasad insan, maka jasad insan, maka benih tsb harus tumbuh hingga berbuah. Bila itu
benih tsb harus adalah benih durian, maka ia kelak harus berbuah durian. Dimana
berbuah itu, adalah misi hidup dari sebuah pohon. Dan buah yang
keluar harus sesuai dengan bakatnya. Sebuah pohon durian, haruslah
berbuah durian, bukannya rambutan.

Karena itu 4 hal diatas ditentukan Allah SWT di atas sejak awal. Dimana
itu terkait dengan adanya kodrat diri seorang insan. Juga sebagai
bentuk pemeliharaan dan dukungan Allah SWT atas misi hidup yang Dia
amanahkan kepada hambaNya. Sehingga ketika pohon diri manusia
ditumbuhkan di atas bumi, maka akar-akarnya akan diberikan
kemampuan menyerap unsur hara yang dibutuhkan sesuai dengan
bakat dirinya. Inilah hakikat rezeki. Dimana rezeki seorang manusia
sesungguhnya telah dicukupkan oleh Allah SWT, bila dia hidup sesuai
dengan kodrat dirinya. Sesuai dengan amal apa yang mesti
didarmakan. Dia akan mendapatkan kebahagiaan, bila dia tumbuh di
tempat dan kondisi yang semestinya, yaitu yang mendukung bakatnya.
Dan dia akan celaka dan sengsara ketika tumbuh dalam kondisi yang
tidak selaras dengan kodrat dirinya. Ibarat benih durian, maka
kecelakaan baginya ketika ditanam di padang pasir. Dia butuh tumbuh
di tanah hutan seperti Sumatera atau Kalimantan, untuk menemukan
kebahagiaannya. Tapi bagi sebutir biji kurma, tumbuh di tanah padang
pasir justru merupakan kebahagiaan baginya.

Tumbuh menjadi pohon pribadi


Setiap diri ini, harus hidup di mana dia seharusnya hidup. Sesuai
dengan amal apa yang harus dia dharmakan. Sesuai dengan misi hidup
apa yang harus ditunaikan. Sesuai dengan kodrat diri apa yang harus
dia jalankan.

Setiap manusia telah Allah SWT tentukan amalnya. Sehingga ketika dia
beramal sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dia dikatakan sedang

… Nafs kita 3
memang tampak
Pada aspek Di
berpakaian.
penumbuhan
mana kualitasdiri
inilah
pakaianletak amal
si nafs
menjalankan kesholehan dirinya. Karena amal sholeh adalah amal yang
benar, bukan amal yang salah. Benar dalam artian sesuai apa yang
telah ditentukan Allah SWT bagi masing-masing pribadi.

Karena itu seperti pohon, diri manusia pun harus tumbuh. Jasad dan
terkhusus nafsnya. Pada aspek penumbuhan diri inilah letak amal
sholeh seseorang. Allah SWT berfirman:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat


perumpamaan kalimah yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya
teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. 14:24)

Teguh akarnya, menunjukkan aspek keteguhan iman. Akar yang teguh


mampu menerobos jauh ke dalam bumi. Sehingga sang pohon bisa
menghidupi dirinya sendiri. Meski musim kemarau, akar-akarnya tetap
mampu mencari sumber air. Bahkan keteguhan akarnya ini, bisa
mencegah datangnya banjir ketika musim hujan. Dengan akar yang
teguh ini, ia akan tegak kukuh di atas bumi. Sehingga tak akan roboh
diterjang badai.

Demikian pula semestinya kondisi seorang manusia. Imannya harus


teguh sehingga kesholehannya tak tergantung oleh kondisi eksternal.
Baik dalam kondisi lapang maupun sempit, seorang beriman akan tetap
dapat hidup dengan benar.

Rantingnya menjulang ke langit, menunjukkan aspek kesholehan dan


keterhubungannya dengan aspek langit. Dan ini menunjukkan proses
tumbuh yang benar. Karena adanya ranting menunjukkan adanya batang.
Sementara melalui 2 hal inilah masyarakat mengakui eksistensi sebuah
pohon. Artinya ketika baru sekedar benih saja, pohon tersebut belum
diakui keberadaannya dan belum diharapkan eksistensinya oleh
masyarakat. Dengan adanya batang dan ranting yang menjulang,
masyarakat baru melihat hingga muncul harapan terhadap buahnya.

Tumbuhnya batang dan ranting, akan berdampak pada aspek lahiriah kita.
Ketaatan kepada Allah SWT dan transformasi akhlaq akan tampak secara
natural. Karena pada saat ini manusia telah sampai pada derajat
membutuhkan. Butuh untuk taat dan mengikuti kehendak Allah SWT. Ini
semua akan menjadi pakaian taqwa kita. Dan dengan pakaian inilah
seseorang akan dikenal.

Bagi orang-orang yang Allah SWT berikan karunia penglihatan batin,


Nafs kita memang tampak berpakaian. Di mana kualitas pakaian si nafs
akan menunjukkan kualitas taqwa kita. Allah SWT berfirman:

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu


pakaian untuk menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah
sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka
selalu ingat.” (QS. 7:26)

Juga sebagaimana pernah dikisahkan oleh Rasulullah Rasulullah SAW:


“Ketika aku sedang tidur, aku melihat orang ramai memakai berbagai
jenis pakaian. Ada yang berpakaian hanya sebatas dada dan ada yang
pakaiannya kurang daripada itu. Sedangkan aku melihat Umar bin al-

4
Khattab berjalan dengan pakaian yang menjuntai-juntai. Mereka
bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana penafsiranmu mengenai hal
tersebut.” Rasulullah SAW bersabda, “Itulah agama.” (HR. Bukhari-
Muslim)

Karena itu Rasulullah SAW juga berkata:

“Iman itu telanjang, pakaiannya taqwa, buahnya ilmu dan hiasannya


malu.”

Kesuburan batang dan ranting menunjukkan tingkat ketaqwaan seseorang.


Dua hal tersebut merupakan pakaian bagi pohon pribadi, sehingga
masyarakat melihat kehadirannya.

Pohon pinus, batang dan rantingnya kurus lurus menjulang ke langit.


Sedang pohon beringin berbatang besar sehingga ranting-rantingnya
dapat merentang rimbun menaungi. Sehingga bila ada pohon pinus yang
berkembang seperti pohon beringin, maka itu adalah suatu proses yang
salah.

Begitu pula diri manusia. Setiap pribadi harus tumbuh dari bumi diri dan
mencari jalan menuju langit. Demi menghadap Allah SWT. Dimana setiap
manusia memiliki jalannya masing-masing. Bagaimana setiap pribadi
harus merentangkan ranting-rantingnya menghadap langit.

Dengan itu dia bisa menerima dan mengolah cahaya petunjuk Allah SWT,
sebagaimana pohon menerima dan mengolah cahaya matahari. Sehingga
cahaya itu bisa menjadi energi bagi kehidupannya. Di lain sisi dirinya
menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi makhluq lain, terkhusus
sesama manusia. Sehingga ia menjadi rahmat bagi alamnya (rahmatan lil
‘alamiin).

Karena itu Rasulullah SAW pernah bercerita:

“ Didalam surga terdapat sebatang pohon yang naungannya tidak


terlewati oleh seorang pengendara selama seratus tahun.” (HR. Muslim)

Berbuah Di setiap Musim


Allah SWT berfirman:

“Pohon itu memberikan rasa (buahnya) pada setiap musim dengan


seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. 14:25)

Buah adalah tujuan adanya pohon. Karena itu pohon pribadi yang harus
Buah adalah tujuan ditumbuhkan, tidak cukup hanya berbatang dan berdaun. Dia harus
adanya pohon berbuah. Bahkan bila mengacu ayat di atas, kita harus berbuah di
setiap musim. Tak peduli musim kemarau atau hujan. Tak peduli dalam
kondisi lapang maupun sempit.

Aspek buah inilah yang membuat seseorang menjadi lebih utama


dibanding yang lain. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

5
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan
kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang
bercabang, disirami dengan air yang sama.Kami melebihkan sebagian
tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasa
(buahnya).Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. 13:4)

Dalam pohon pribadi seorang manusia, adanya buah adalah wujud


paripurna dari taqwa. Tanpa buah ini seseorang belumlah disebut
sebagai al-muttaqiin. Karena itu Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah


ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. 49:13)

Wujud kesempurnaan sebuah pohon pribadi adalah ketika berbuah.

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan


beramal sholeh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-
buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-
buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri
yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:25)

Demikianlah Allah SWT menghadiahkan surga bagi mereka yang


bertaqwa, yaitu orang-orang beriman dan beramal sholeh. Dan cita rasa
kenikmatan surga ini, sesungguhnya sudah Allah SWT hadirkan bagi
mereka sejak di dunia. Rezeki buah-buahan surga sudah mereka
nikmati sejak kehidupan di dunia. Sehingga ketika itu dilimpahkan di
surga, mereka berkata “Inilah yang pernah diberikan kepada kami
dulu”.