Anda di halaman 1dari 5

Kalimah Taqwa I

KEMULIAAN DI SISI ALLAH


Kata taqwa sudah demikian populer di masyarakat kita. Sampai-sampai taqwa sering menjadi
persyaratan dalam suatu jabatan. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, demikianlah
umumnya bunyi dari syarat tersebut.
Hal ini tidak aneh karena kemuliaan seseorang itu memang terletak dalam hal taqwa.
Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
49:13)

Tapi meskipun begitu, standar kemuliaan ini tak cukup dipahami. Sehingga pencatuman kata
taqwa cenderung hanya menjadi pemanis belaka. Tak ada fit & proper test yang bisa mengukur
tingkat taqwa seseorang. Seolah taqwa memang tak perlu dipahami secara konkrit, dan tak
perlu dipermasalahkan. Tak mudah bagi kita membedakannya dengan istilah iman misalnya.
Juga dengan ihsan, maupun istilah islam itu sendiri. Terlebih dalam bahasa Indonesia, kata
taqwa sering tidak diterjemahkan. Bahkan kini telah dijadikan bagian dari kosa kata Indonesia.

Padahal sangat penting memahami masalah ini secara tepat. Karena terkait dengan kemuliaan
kita di sisi Allah SWT. Masa depan setelah kematian, masalah surga-neraka, dan derajat
kedekatan kita dengan Allah SWT kelak, akan ditentukan dari tingkat ketaqwaan kita selama di
dunia. Sementara ketidakjelasan masalah ini, sangat potensial membuat kita tertipu (ghurur).
Sehingga hubungan kita dengan Allah SWT adalah hubungan yang semu.

Secara bahasa kata taqwa sesungguhnya berarti “memelihara” atau “menghindari”. Dan bila kita
lihat bagaimana Al-Qur'an memposisikan kata taqwa, ternyata arti “memelihara” cukup mengena.
Hanya permasalahannya sekarang, apakah yang diperlihara itu?
AGAR KAMU BERTAQWA

Allah SWT berfirman:


“Hai manusia, beribadahlah untuk Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu senantiasa bertaqwa.” (QS. 2:21)

Ayat di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak ayat yang menyeru kepada taqwa. Kata-
kata la’allakum tattaquun -- agar kamu senantiasa bertaqwa -- merupakan bukti nyata bahwa
taqwa merupakan tujuan. Tujuan dari kehidupan seluruh manusia, dan tujuan dari segala ibadah
yang dilakukan manusia. Sehingga ayat ini saling menjelaskan dengan ayat yang berbunyi:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah untuk-Ku.”
(QS. 51:56)

Jadi tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah. Dan tujuan dari ibadah adalah
untuk senantiasa bertaqwa.

Kata tattaquun merupakan bentuk fi’il mudhori dari taqwa. Artinya taqwa yang kita tuju
bersama-sama ini bukan sekedar suatu titik, tapi merupakan suatu fase atau tahapan. Yang di
dalamnya terjadi suatu proses yang kontinu dan berkesinambungan. Sehingga kata-kata
la’allakum tattaquun bisa kita pahami sebagai seruan Allah SWT agar kita menuju sebuah fase
dimana proses pemeliharaan senantiasa terjadi secara kontinu.
Sebagai sebuah fase, maka bertaqwa juga merupakan bagian dari suatu proses besar
perjalanan manusia menuju Rabb-nya. Untuk sampai pada fase bertaqwa ini, seseorang terlebih
dahulu harus melalui fase beriman. Seperti ditunjukkan pada ayat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

Karena itu cukuplah bagi kita saat ini mengetahui betapa pentingnya iman dalam meraih
kemuliaan di sisi Allah SWT.

HIDANGAN NAFS
Iman itu adalah hidangan bagi nafs kita. Dan bertaqwa adalah ketika si nafs menyantap
hidangan tersebut. Sudah sunnah yang Allah SWT gariskan bahwa manusia butuh makan dan
minum dalam hidupnya. Dimana masalah ini ternyata berlaku baik bagi jasad maupun nafs.

Mereka berkata; "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya
kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang
menyaksikan (Asy-Syaahidiin) ". (QS. 5:112-113).

Yang butuh makanan bukan hanya jasad. Nafs kita juga butuh makanan. Tentu saja tidak berupa
benda-benda materi. Tetapi hukum yang berlaku sama saja, yaitu harus halal dan thoyyib yang
sesuai. Iman dan pengetahuan yang benar adalah makanan yang halal dan thoyyib bagi Nafs.
Sedangkan waham dan pengetahuan yang menyesatkan adalah makanan yang tidak halal dan
thoyyib.

Allah SWT berfirman:

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 23:51)

Dengan makanan yang baik bagi si nafs, amal sholeh akan bisa ditegakkan. Iman yang
merupakan makanan yang baik juga harus dicari, diolah, dihidangkan hingga akhirnya siap
disantap oleh nafs. Seseorang disebut sebagai orang yang memiliki makanan, tak perlu telah
memiliki hidangan yang siap saji. Apalagi sedang makan. Cukup dengan memiliki bahan mentah
seperti beras saja, kita sudah disebut sebagai orang memiliki makanan. Demikian pula
pengertian beriman. Seseorang sudah dikatakan memiliki iman (beriman), begitu cahaya iman
telah dia miliki. Tak perlu menunggu sampai cahaya iman disantap oleh si nafs.

Apa hubungan ini semua dengan masalah taqwa? Perlu kita pahami bahwa bertaqwa adalah
kondisi ketika hidangan iman tersebut disantap oleh si nafs. Makanan tersebut harus dicerna
sehingga menghasilkan energi untuk beraktifitas dan tumbuh. Dan ketika proses ini kontinu
seperti rutinnya jasad kita makan, kita dikatakan sedang “memelihara” diri kita. Sehingga
makna “memelihara” yang terkandung pada kata taqwa tersebut, bisa kita pahami relevansinya
di sini. Tentu saja yang menjadi subyek pemeliharaan, adalah si nafs.

Karena itu bila kita amati, Al-Qur'an banyak sekali menyeru orang-orang beriman agar
bertaqwa. Itu maksudnya agar mereka segera menyantap hidangan langit yang sudah tersaji
dihadapan mereka. Sehingga Allah SWT seperti orang tua yang sedang merayu anaknya agar
mau makan. Dan untuk itu Allah SWT menghadirkan berbagai bentuk rayuan. Dari cita rasa
masakan yang lezat tiada tara, penyajian yang mengundang selera, hingga rayuan kata-kata.

Dalam hal penyajian inilah dikenal istilah maqom dan syari’at. Kalau iman itu ibarat
makanannya, maka maqom itu ibarat wadah tempat makanan itu disajikan. Sementara syari’at
adalah ilmu menyajikannya (tata boga). Dimana wadah dan tata boga ini akan mengikuti
makanan seperti apa yang disajikan. Bila sedikit dan kering, maka cukup disajikan dengan
piring. Tapi bila banyak dan berkuah, maka kita akan butuh mangkok besar.

MAKAN SETELAH LAPAR DAN BERHENTI SEBELUM KENYANG


Inilah kaidah yang diajarkan Imam Al-Ghazali di kitab Ihya dalam hal makan. Yang mana hal ini
berlaku juga baik bagi si jasad, maupun si nafs. Karena itu sebaik-baiknya makanan disajikan,
kita tak akan bisa menikmati nya tanpa rasa lapar. Karena dengan rasa laparlah, selera makan
akan muncul, termasuk selera makannya nafs kita.
Dalam kitab Ihya disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Bermujahadahlah terhadap nafs-nafs kalian dengan lapar dan haus. Sesungguhnya ada ganjaran
pada yang demikian itu, (yaitu) seperti ganjaran bagi mujahid fi sabilillah. Dan sesungguhnya tiada
amal yang paling disukai Allah SWT, selain lapar dan haus.”

Di riwayatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah SAW juga bersabda:

“Cahaya hikmah itu lapar. Menjauhkan diri dari Allah Azza wa Jalla itu kenyang. Mendekatkan diri
kepada Allah SWT itu mencintai orang miskin dan mendekatinya. Janganlah kamu kenyang, lalu
kamu memadamkan cahaya hikmah hatimu! Orang yang bermalam dalam keadaan ringan dari
makanan, maka bermalamlah bidadari di sekelilingnya, hingga pagi hari.”

Lapar itu ibarat awan. Apabila hamba Allah lapar, maka akan terjadi hujan hikmah di hati. Demikian
Abu Zaid Al Bustami menjelaskan. Karena itu bagi orang-orang yang beriman adalah penting untuk
memelihara rasa lapar ini. Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan shaum dan mengkaitkannya
dengan masalah taqwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)
Jadi sebagaimana si jasad, si nafs pun punya rasa lapar dan selera makan. Dan ketika nafs kita lapar,
itu sesungguhnya merupakan karunia. Artinya, nafs kita akan segera makan. Rasulullah SAW
bersabda:
“Barang siapa dikehendaki Allah SWT kebaikan maka Dia akan memberinya pemahaman tentang
agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikianlah Allah SWT memunculkan rasa lapar bagi nafs kita. Sebagaimana Rasulullah SAW
mengajarkan tahnik atas bayi yang baru lahir. Yang merupakan pemancing bagi datangnya rasa
lapar, sehingga si bayi akan segera menangis minta disusui.

Rasa lapar inipun bisa hilang. Dan itu adalah kecelakaan besar. Nafs kita bisa semakin lumpuh tak
berdaya bila hilangnya rasa lapar ini dibiarkan.

JIWA YANG SAKIT


Sakitnya si nafs merupakan penyebab pertama. Karena rasa sakit akan menghilangkan selera
makan, meski kita tahu dan membutuhkannya. Untuk nafs yang sakit, maka makanan yang
diberikan haruslah berupa obat. Dimana obat ini umumnya tidak enak rasanya. Disinilah posisi
tazkiyyatun nafs. Yaitu menyembuhkan jiwa yang sakit, sehingga daya hidup dan selera
makannya tumbuh kembali.
Yang dibersihkan pada proses ini, adalah parasit-parasit qolb. Yang membuat qolb manusia
sakit. Parasit-parasit qolb ini sebenarnya adalah hawa nafsu, yang sebenarnya bagian dari diri
kita. Tapi karena pertumbuhannya tak terkendali, hawa nafsu kemudian berubah menjadi parasit
bagi kehidupan si nafs.

Jalannya agar penyakit itu hilang, adalah dengan senang menerima semua siksa. Karena ini
ibarat obat, pahit rasanya tapi baik hakikatnya. Dan proses ini harus kontinu dan
berkesinambungan. Jamur parasit nafs kita harus dibersihkan tiap hari.

Nafs yang sakit tak akan bisa menerima pengetahuan dari Allah SWT. Bila dipaksakan, malah
akan dimuntahkan. Karena itu, dalam suatu thariqah, terapi pertama yang dilakukan adalah
menghilangkan penyakit-penyakit si nafs.

JIWA YANG KENYANG


Kekenyangan adalah penyebab lain dari hilangnya rasa lapar. Jiwa itu memang harus makan,
tapi tidak boleh sampai kekenyangan. Karena rasa kenyang itu mengundang kantuk. Sehingga
Rasulullah SAW mewanti-wanti:

“Barang siapa yang kenyang dan tidur maka keraslah hatinya” (HARI. Ibnu Majah).

Abu Sulaiman Ad-Darami berkata: “Apabila hati itu lapar dan haus, niscaya jernih dan halus. Dan
apabila kenyang, niscaya ia buta dan menebal. Apabila hati itu berkesan dengan kelezatan
bermunajah, niscaya ia melalui di belakang pemudahan pikiran dan pemurnian ma’rifah.”

Karena itulah ketika Rasulullah SAW ditawarkan apakah ingin seperti Nabi Sulaeman as atau
Nabi Ayyub as, beliau menjawab:
“Tidak, tetapi aku akan lapar sehari dan kenyang sehari. Maka apabila aku lapar, tentu aku
bersyukur.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Salah satu sebab yang membuat jiwa bisa kekenyangan, adalah karena manusia terbiasa
menyantap wahm (waham). Waham ini adalah pengetahuan yang meninabobokkan si nafs.
Sehingga nafs kita mengantuk dan tertidur, serta lupa amal sholehnya.

Ibarat makanan, waham ini adalah makanan yang tidak memenuhi kriteria halalan wa
thoyyiban (halal dan baik). Tidak halal karena asalnya haram. Dan tidak thoyyib, karena
dimakan pada kondisi yang tidak tepat.

Pengetahuan adalah bahan dasar iman. Dan Allah SWT senantiasa menjadikan kita haus
pengetahuan, ketika Dia ta’ala menginginkan kebaikan atas diri kita. Tapi di sini harus terjadi
proses seleksi, karena pengetahuan yang tidak tepat bisa menjadi waham bagi nafs kita. Seperti
fast food, kalau terlalu banyak dikonsumsi akan tidak baik akibatnya. Meskipun fast food itu
lezat rasanya dan menimbulkan ketagihan. Diri kita memang bisa hidup dan tumbuh dengan
fast food. Tapi suatu saat nanti, berbagai penyakit berbahaya akan membinasakan kita.

Karena itu permasalahan kekenyangan ini di atasi dengan meninggalkan semua waham ini.
Iman yang ibarat air jernih itu, hanya bisa dinikmati ketika gelas berisi kopi dibersihkan. Kopinya
dibuang, gelasnya dicuci, barulah iman akan tercurah. Karena pengabdian kepada Allah SWT
hanya bisa dilakukan dengan meninggalkan semua rasa dan karsa yang aneh-aneh. Sehingga
memunculkan harapan yang tidak benar dan menina bobokkan.

Kemudian agar tak terkontaminsi lagi oleh zat-zat lain, air jernih tersebut harus segera diminum.
Kita harus mentransformasi iman tersebut ke bentuk amal sholeh. Sebagaimana si jasad
menggunakan energi dari makanannya untuk bekerja, si nafs pun harus menjadikan makanan
dan minumannya sebagai sumber energi. Semata-mata untuk beramal sholeh, menumbuhkan
dirinya sesuai dengan kehendak Allah SWT.

RELASI TAQWA DENGAN STRUKTUR INSAN


Telah didefinisikan di atas, bahwa taqwa berarti memelihara. Tapi yang jadi masalah, hal apa
yang dipelihara?
Untuk menjawab masalah ini kita bisa merujuk ke ayat berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap nafs
memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59:18)

Sebagaimana telah kita pahami, istilah nafs di Al-Qur'an secara khusus menunjuk kepada satu
oknum dalam diri kita. Yaitu nafsul wahidah, yang merupakan awal dan hakikat diri kita. Ayat di
atas menunjukkan sebuah pola berikut:
Bertaqwa Tandzur Bertaqwa
nafs

Kita ingat sebelumnya bahwa kondisi taqwa yang menjadi tujuan manusia merupakan sebuah
proses yang kontinu dan berulang. Dan kita lihat bahwa di QS. 59:18 ini bertaqwa juga muncul
sebagai proses yang berulang. Kemudian kata-kata tandzur nafsum maa qoddamat li ghad juga
berbentuk imperfektum. Yang menunjukkan proses persiapan si nafs tersebut adalah kontinu
dan berulang juga. Sehingga bisa kita tarik kesimpulan bahwa permasalahan taqwa ini amat
terkait dengan nafs dan kondisinya.

Mari kita lihat juga QS. 7:172 berikut:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):"Bukankah Aku ini
Tuhanmu". Mereka menjawab:"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:"Sesungguhnya kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (QS. 7:172)

Pada ayat tersebut terlihat, bahwa tujuan diambilnya persaksian nafs kita di alam alastu adalah
untuk menghadapi yaumu’l qiyaamah. Dan ini berati senada dengan QS. 59:18. Dimana kita
diminta untuk memperhatikan kondisi dan persiapan nafs kita dalam rangka menghadapi masa
depannya di yaumu’l qiyaamah. Karena itu bisa kita simpulkan bahwa yang menjadi subyek
dalam masalah taqwa ini adalah si nafs. Artinya, kita dikatakan sebagai orang yang bertaqwa
ketika memelihara dan mempersiapkan nafs kita.

Karena itu, memahami lebih dulu masalah struktur insan merupakan kunci untuk memahami
masalah taqwa.