Anda di halaman 1dari 64

Bulan Ramadhan yang penuh berkah telah berlalu dari kita.

Ada
perasaan bahagia, sedih, haru menyatu melepas kepergiannya.
Banyak kejadian dan hikmah yang bisa kita petik didalamnya. Semoga,
dengan penggodokan bulan Ramadhan kita bisa lebih mengenal
makna dan tujuan hidup. Sehingga kita lebih bersungguh-sungguh
dalam mempersiapkan perbekalan untuk meniti jalan menuju tujuan.
Kita berharap dan berdo’a, Allah masih memberikan kesempatan
kepada kita untuk kembali bertemu dengannya di tahun esok
Segenap tim Majalah Fatawa mengucapkan “Taqobbalallahu
minna wa minkum”, semoga semua amal dan ibadah yang kita
lakukan Allah catatkan sebagai amalan yang shalih di sisi-Nya, amin.
Kami berupaya sekuat tenaga betapapun padatnya kesibukan para
tim pengasuh di bulan Ramadhan, untuk bisa menghadirkan Fatawa
tepat waktu kepada pembaca.
Terakhir, kami mengharap masukan, baik saran dan koreksi dari
pembaca, sehingga dapat tampil sebaik mungkin demi tegaknya Dienul
Islam yang mulia ini.

redaksi

Penerbit: Pustaka At-Turots Al-Islamy Yogyakarta Pemimpin Umum: Abu Nida’ Ch.
Shofwan Tim Pengasuh: Abu Humaid Arif Syarifuddin, Abu Mush’ab, Abu Husam M.
Nurhuda, Abu Isa, Abu Nida’ Ch. Shofwan Pemimpin Redaksi/Usaha: Tri Madiyono
Sekretaris: Syafaruddin Staf Redaksi: Abu Athifah, Husain Sunding, Mubarok
Pemasaran & Sirkulasi: Siswanto JH (0812 279 7463) Setting-Layout: Masrinto
Keuangan: Indra Rekening: Rek.Giro: 801.20173001 BNI Syari’ah Cab. Yogyakarta,
a/n Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy Yogyakarta Alamat Redaksi: Islamic Center
Bin Baaz, Jl. Wonosari Km 10, Sitimulyo, Piyungan, Bantul- Yogyakarta Telp/Faks
(0274)522964

FatawaVol.
Fatawa Vol.
01/02/I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 1
Tauhid Hadits
4 Bumi dan Langit Berlapis 15 Kewajiban Menghadirkan dan
Tujuh Mengikhlaskan Niat dalam
5 Proses Penciptaan Manusia Amal dan Ibadah (bagian II)
6 Mengapa Dinamai Islam?
6 Hakikat Islam Fiqih
7 Makna Kalimat Syahadat
8 Makna Penghambaan dalam 21 Bab Thaharah (Bersuci)
Islam 23 Bab Aniyah (Bejana-Bejana)
9 Penulisan Lafal Allah dan
Muhammad Keluarga
27 Membina Rumah Tangga yang
Fatwa Bahagia (bagian II) - Hak Suami
10 Mengqadha Puasa Ramadhan Terhadap Istri
Setelah Puasa Syawwal
11 Hukum Ucapan Selamat Hari Manhaj
Natal
34 As Sunnah, Wahyu Kedua
13 Hari Ulang Tahun
Setelah Al Qur’an
14 Menggunakan Kalender Masehi

Aktual
40 Ghuluw, Melampaui Batas
dalam Beragama

Akhlaq
46 Akhlaq Bertetangga

Firaq
51 Ajaran Kejawen Sapto Darmo
dalam Pandangan Islam
(Bagian II)

Profil
58 Al Hasan Al Bashri

2 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kami senang dengan terbitnya majalah Fatawa edisi perdana. Sederhana dan bersahaja,
namun isinya berbobot. Semoga Fatawa benar-benar menjadi majalah ilmiah yang terbit lancar
tiap bulan, tidak tersendat-sendat kemunculannya. Amin.
Ana mau usul.
 Untuk cover depan, kalau bisa materi bahasan jangan ditulis secara keseluruhan. Cari
bahasan yang menarik saja untuk ditampilkan, sehingga enak dipandang dan akan lebih
memikat.
 Untuk iklan, apa nggak bisa diturunin dulu harganya biar yang mau iklan di Fatawa tidak
takut.
Abdurrahim – Yogyakarta
Red: Terimakasih atas usulan Anda. Insya Allah akan kami pertimbangkan. Khusus untuk tarif
iklan, kami punya strategi tersendiri, karena kami hanya mengiklankan produk tertentu saja.
Bila Anda berminat, kami memberikan diskon khusus.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Langsung saja. Ana ikut gembira dan bersyukur dengan terbitnya majalah islam Fatawa.
Insyaallah menambah semarak syi’ar dakwah di bumi Indonesia yang memang lagi butuh-
butuhnya. Mungkin sedikit masukan dari ana sebagai pembaca. Kalau bisa, bagian dalam
dibuat lebih menarik yah bisa dengan sedikit warna-warna gitu biar matanya tidak jenuh. Terus
ana juga mau tanya Fatawa terbit berapa bulan sekali sih? Ini saja dulu, semoga Fatawa selalu
tepat waktu.
Abul Khair
Red: Fatawa terbit Insya Allah sebulan sekali. Untuk tahap awal kami harus melakukan
minimalisasi biaya, sehingga halaman dalam belum bisa tampil berwarna. Insya Allah kalau
cash flow-nya sudah baik.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Saya sangat gembira dan bersyukur tatkala mengikuti Daurah Ramadhan di Yogya
mendapatkan majalah Fatawa. Semoga pemahaman Ahlus Sunnah semakin melekat di hati
masyarakat.
Omong punya omong, saya usul bagaimana kalau :
1. Cover-nya jangan terlalu lugu karena orang tertarik isi berawal dari tertarik kenampakan
luar.
2. Bagaimana kalau diadakan rubrik Bahasa Arab secara bersambung?
Luqman AMM, Samarinda-Kaltim
Red: Insya Allah akan kami pertimbangkan, untuk rubrik Bahasa Arab akan kami
musyawarahkan dengan Tim Pengasuh.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 3
2
Tauhid
Rubrik Tauhid yang akan hadir secara rutin dalam yang telah Ia ciptakan berlapis tujuh.
Fatawa ini disajikan dalam format tanya-jawab. Sebagai Berfirman Allah :
rujukan utamanya adalah fatwa-fatwa dari Lajnah Da
imah yang merupakan lembaga majelis ulama-ulama
besar Kerajaan Saudi yang didirikan oleh pemerintah
Saudi Arabia (SK. No:1/137 tanggal 8/7/1391H/
1993M), dalam rangka memberikan fatwa-fatwa yang
berkenaan dengan perkara-perkara agama seperti
aqidah, ibadah dan muamalah. Yang pada mulanya
beranggotakan Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin
Ibrahim Alu Syaikh (Ketua), Syaikh Abdurrazzaak Afifi
Atiyyah (Wakil Ketua), Syaikh Abdullah bin
Abdurrahman al Ghadyan (Anggota), Syaikh Abdullah
bin Sulaiman bin Muni’ (Anggota). Pada akhir tahun
1395H/1997M, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin “Allahlah yang menciptakan tujuh langit; dan
Ibrahim Alu Syaikh digantikan oleh Syaikh Abdul Aziz seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku
bin Abdullah bin Baaz. Fatwa-fatwa yang dinukilkan padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya
adalah fatwa yang dikeluarkan pada masa mereka;
ditambah fatwa para ulama salaf lain yang tidak Allah maha berkuasa atas segala sesuatu,
terangkum kedalam kitab Majmu Fatawa Lil Lajnah Da dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-
imah. benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-
Diasuh oleh: Abu Nida Ch. Shofwan
Thalaq:12)
Di dalam hadits shahih disebutkan bahwa
 Bumi dan Langit bumi berlapis tujuh, sebagaimana yang
Berlapis Tujuh diriwayatkan oleh Bukhari1 dan Muslim2
dari Sa’id bin Zaid  , bahwasanya
Pertanyaan: Rasulullah  bersabda:
Apakah di dalam Al-Qur’an Al-Karim atau
dalam hadits Nabi  terdapat
(keterangan) bahwa bumi berlapis tujuh,
karena selama ini kami berbeda pendapat
dalam masalah tersebut. Kalau ada, “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah
tolong sebutkan dalam surat apa atau (orang lain) secara zhalim, maka kelak Allah
hadits Nabi  mana keterangan tersebut himpitkan kepadanya pada hari kiamat
terdapat! Atas jawabannya kami ucapkan (dengan) tujuh lapis bumi.”
jazakumullah khairan katsira.
Di dalam kitab shahihain3 juga tercantum
Jawab: hadits serupa itu dari Aisyah secara
Di dalam Al-Qur’an Al-Karim disebutkan marfu’.4
bahwasanya Allah  menciptakan bumi Semoga shalawat tercurah kepada Nabi,
berlapis tujuh, sebagaimana juga langit keluarganya dan sahabat-sahabatnya .

1
Hadits no.2320.
2
Hadits no.1610.
3
Kitab Bukhari No.2321,3023 dan Muslim No.1612.
4
Fatawa li Al Lajnah Da’imah 1/63, Fatwa no.8805; disusun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad
Duwaisy, Darul ’Asimah - Riyadh.

4 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Tauhid

 Proses Penciptaan
Manusia
Pertanyaan:
Ruh ditiupkan ke dalam janin setelah
berumur empat bulan. Apakah dari
pernyataan tersebut bisa dipahami
bahwa sperma yang telah bersatu
dengan indung telur wanita dan menjadi
bakal janin sebelumnya tidak memiliki
ruh?
Jawab: Allah  berfirman :
Setiap sperma dan indung telur wanita
(memiliki) kehidupan yang sesuai dengan
tabiatnya, tentu jika selamat dari
penyakit. Keduanya, (yaitu sperma dan
indung telur) telah dipersiapkan dan
ditakdirkan oleh Allah untuk saling
menyatu, lalu menjadi zigot; dan zigot “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh
ini juga hidup dengan kehidupan yang setiap perempuan, dan kandungan rahim
sesuai dengan tabiatnya pada masa yang kurang sempurna dan yang bertambah.
perkembangan dan perubahan dalam Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada
waktu yang telah tertentu; kemudian jika ukurannya. Dialah Yang Maha Mengetahui
telah ditiupkan ruh ke dalamnya akan perkara yang ghaib maupun yang nampak,
berlangsunglah kehidupan yang baru Maha Besar lagi Maha Tinggi.” (Q.S. Ar-
dengan izin Allah yang Maha Lembut lagi Ra’d: 8-9)
Maha Mengetahui. Dan betapapun
manusia mengerahkan seluruh dan firmannya :
upayanya, sekalipun seorang dokter yang
ahli maka tidak akan dapat meliputi
pengetahuan tentang rahasia kandungan,
sebab-sebab dan perkembangannya;
jikapun ada (sedikit) pengetahuan “Sesungguhnya hanya ada pada-Nya sajalah
mereka tentang (kandungan) itupun pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah
setelah diberi pengetahuan (sebelumnya), yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa
(melakukan) penelitian dan percobaan yang ada dalam rahim.” (Q.S. Luqman: 34) 5
sebagian a’radh (teori-teori) dan Semoga shalawat tercurah kepada Nabi,
keadaan-keadaan. keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

5
Fatawa li Al Lajnah Da-imah I/70, pertanyaan keenam dari fatwa no. 2612; disusun oleh Syaikh
Ahmad Abdurrazzak Ad Duwaisy, Darul ’Asimah – Riyadh.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 5
4
Tauhid
 Mengapa Dinamai Islam?
Pertanyaan:
Mengapa agama yang kita anut ini
dinamakan Islam?
Jawab:
“(Ingatlah) tatkala Tuhannya berfirman
Karena siapa yang masuk ke dalamnya
kepadanya, “Tunduk patuhlah kamu!,”
harus menyerahkan diri kepada Allah
Ibrahim menjawab, “Aku hanya tunduk patuh
serta tunduk dan patuh dengan hukum-
kepada Tuhan semesta alam”.” (Q.S. Al-
hukum yang ditetapkan Allah dan
Baqarah: 131),
Rasulullah . Allah  berfirman:
dan berfirman :

“Dan tidak ada yang benci kepada agama


Ibrahim, melainkan orang yang memper-bodoh “(Tidak begitu,) bahkan barangsiapa
dirinya sendiri…” (Q.S. Al-Baqarah: 130) menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia
berbuat kebajikan, maka baginya pahala di
Firman-Nya : sisi Tuhannya.” (Q.S. Al Baqarah: 112)6

 Hakikat Islam
Pertanyaan: “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak
Apa sebenarnya hakikat islam? ada Tuhan yang berhak disembah kecuali
Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
Jawab:
berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji
Hakikat islam adalah sebagaimana
jika kamu mampu.”7
terdapat dalam jawaban Nabi  kepada
Jibril ketika ditanya tentang islam, di
mana beliau  berkata: Islam juga mencakup beriman kepada
Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan beriman
kepada takdir Allah yang baik maupun
buruk. Islam juga mencakup ihsan, yaitu
beribadah kepada Allah seakan-akan
kamu melihat-Nya; dan jika kamu tidak
bisa melihatnya (dan memang tidak akan
bisa, Pen) maka yakinlah bahwa Dia
6
Fatawa li Al Lajnah Da-imah I/70-71, pertanyaan pertama, kedua dan ketiga dari fatwa no.788;
disusun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad Duwaisy, Darul ’Asimah - Riyadh.
7
Bukhari hadits no. 50 dan 4499; Muslim hadits no.9 dan 10; Ibnu Majah hadits no. 64; dan Ahmad I/
27 dan 51.

6 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Tauhid
melihatmu. Jadi, dalam menjelaskan Dalam hadits tersebut Nabi mengabarkan
tentang islam kita merujuk firman Allah bahwa jibril bertanya tentang hal-hal
: tersebut adalah untuk mengajarkan
kepada manusia perkara agamanya.
Sehingga, tidak diragukan lagi jika dilihat
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah dari keterangan-keterangan diatas
Islam.” (Q.S. Ali Imran: 19), menunjukan bahwa hakekat Islam
adalah menjalankan perintah-perintah
dan keterangan itupun terdapat di dalam Allah dan meninggalkan larangan-
hadits yang menyebutkan pertanyaan larangan-Nya, baik dengan perbuatan
Jibril kepada Nabi  tentang islam, iman lahir maupun batin. Inilah yang dimaksud
dan ihsan, di mana beliau menjawab dengan islam.8
dengan jawaban sebagaimana Semoga shalawat tercurah kepada Nabi,
disebutkan di atas. keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

 Makna Kalimat Syahadat


Pertanyaan:
Apa makna kalimat La ilaha illallah?
Jawab:
Syahadat La ilaha illallah dan Muhammad rasulullah adalah rukun pertama dari rukun-
rukun Islam. La ilaha illallah maknanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain
Allah. Dalam kata la ilaha illallah terkandung penetapan dan peniadaan; la ilaha
meniadakan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah dan illallah menetapkan
bahwa semua peribadatan hanya untuk Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-
Nya. Silahkan Anda membaca kitab Fathul Majid Syarah Kitab At-Tauhid karya Syaikh
Abdurrahman bin Hasan. Di dalam kitab tersebut terdapat penjelasan tentang makna
la ilaha illallah.
Adapun kalimat Muhammad rasulullah, maknanya adalah menetapkan dan meyakini
kerasulan Muhammad ; mentaatinya; baik perkataan, perbuatan dan keyakinan.
Dengan kata lain, mentaati semua yang beliau perintahkan, membenarkan semua
yang beliau kabarkan dan menjauhi segala yang beliau larang (dicegah), serta tidak
beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau tuntunkan.9
Semoga shalawat tercurah kepada Nabi, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

8
Fatawa li Al Lajnah Da-imah 1/83, pertanyaan pertama dari fatwa no. 1988; disusun oleh Syaikh
Ahmad Abdurrazzak Ad Duwaisy, Darul ’Asimah – Riyadh.
9
Fatawa li Al Lajnah Da-imah I/81-82, pertanyaan ketiga dari fatwa no. 6149; disusun oleh Syaikh
Ahmad Abdurrazzak Ad Duwaisy, Darul ’Asimah – Riyadh.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 7
6
Tauhid
 Makna Penghambaan dalam Islam

Pertanyaan: hanya kepada Allah semata. Adapun


Telah jelas dan gamblang bahwa Islam perbudakan sebagaimana yang kita kenal
datang untuk membebaskan manusia (dalam sejarah islam) adalah perbudakan
dari penghambaan dan perbudakan. Para yang muncul karena sebab tertawannya
ulama sering mengungkapkan tujuan orang-orang kafir oleh kaum muslimin
datangnya Islam ini, yaitu menjadikan ketika terjadi perang yang memang
manusia sebagai hamba Allah yang disyariatkan, (yang ini tidak termasuk
merdeka dari selain-Nya. Kami berharap perbudakan yang sesungguhnya).
Anda mau menjelaskan kepada kami
Adapun bagaimana cara seorang budak
dengan singkat arti penghambaan di
membebaskan diri dari tuannya telah
dalam Islam, bagaimana pula cara
dijelaskan oleh para ulama dalam kitab
seorang budak dapat bebas dari tuannya
Al-Itqu. Di antaranya, seorang budak
dan hal-hal yang berhubungan
merdeka karena dimerdekakan oleh
dengannya. Sebagai tambahan, kami
tuannya sebagai bentuk taqarub
juga minta dijelaskan, apa hikmah
(mendekatkan diri) kepada Allah, atau
diangkatnya sahabat Anas sebagai
dibebaskan sebagai tebusan dari tindak
pembantu Nabi dan juga hikmah Umar
pembunuhan, zhihar 10 atau yang
mengangkat seorang anak sebagai
semisalnya.
pembantunya.
Adapun mengangkat pembantu, maka
Jawab: jelas dibolehkan sebagaimana diceritakan
Makna penghambaan atau perbudakan dalam hadits Anas dan hadits-hadits
dalam Islam ialah tunduk dan lainnya. Nabi mengangkat Anas sebagai
merendahkan diri serta patuh kepada pembantu adalah agar dia membantu
Allah, dengan mentaati perintah- menyelesaikan keperluan-keperluan
perintah-Nya, meninggalkan larangan- beliau dan urusan-urusan khusus, serta
larangan-Nya, selalu berada pada jalan- agar dia bisa mengetahui adab dan
Nya dalam rangka mendekatkan diri akhlak beliau (sehingga bisa meniru dan
kepada-Nya sekaligus mengharap pahala mencontohnya).
dan berhati-hati dari kemarahan serta Mengangkat pembantu jelas tidak
hukuman-Nya. bertentangan, karena bukan
penghambaan yang sesungguhnya yang
Perbudakan dan penghambaan yang
memang merupakan hak Allah semata.11
sesungguhnya (sebagaimana yang
dimaksud dalam makna yang dijelaskan Semoga shalawat tercurah kepada Nabi,
di atas) tidak boleh diberikan kecuali keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

10
Seorang suami mengatakan kepada isterinya, “Engkau seperti punggung ibuku (menyerupakan/
menganggap isterinya sebagai ibunya).
11
Fatawa li Al Lajnah Da-imah I/87, pertanyaan pertama dari fatwa no. 7150; disusun oleh Syaikh
Ahmad Abdurrazzak Ad Duwaisy, Darul ’Asimah-Riyadh.

8 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Tauhid
 Penulisan Lafal Allah dan Muhammad

Pertanyaan: berhak disembah selain Allah dan persaksian


Sebagian orang berselisih tentang lafal bahwa Muhammad rasulullah…” 13
Allah  dan Muhammad  yang ditulis
Seorang mukallaf 14 wajib mengimani dua
saling tumpang tindih di atas pintu salah
hal tersebut dan mengungkapkannya
satu masjid di Muhafazah al-Aslab.
sesuai dengan yang disebutkan dalam
Sebagian mengatakan, bahwa tulisan
keterangan-keterangan syar’i itu,
semacam itu tidak diperbolehkan, karena
misalnya dia mengatakan,
berarti telah menyamakan martabat Nabi
Muhammad  dengan Allah. Ini jelas hal
yang tidak akan mungkin. Sebagian yang
lain mengatakan, bahwa tulisan “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
semacam itu boleh-boleh saja, karena selain Allah dan Nabi Muhammad adalah
tidak ada ayat yang mengharamkan utusan Allah.”
disejajarkannya tulisan Allah  dengan Adapun menulis dua kalimat tersebut
tulisan Nabi  . Kami sangat dengan cara digabungkan secara
mengharapkan petunjuk dari Anda. tumpang tindih seperti itu tidak ada
Jazakumullah khairan katsiira. contohnya di dalam kitab Allah maupun
sunnah Nabi . Penulisan seperti itu akan
Jawab: membawa bahaya besar, karena
Dari keterangan-keterangan syar’i12 kita menyerupai aqidah sesat trinitas kaum
mengetahui mememang ada penyebutan nasrani, bahwa bapak, ibu dan roh kudus
syahadat pengesaan Allah dan syahadat adalah satu. Penulisan seperti itu juga
kerasulan Nabi Muhammad  . Di merupakan simbol dari aqidah sesat
antaranya di dalam lafazh adzan dan wihdatul wujud15, juga akan menyebabkan
iqamat dan terdapat pula di dalam hadits: munculnya sikap berlebihan kepada
Rasulullah  yaitu menyekutukan beliau
dengan Allah  . Oleh karena itu,
penulisan nama Allah dan Rasulullah
dengan cara seperti itu tidak diperbolehkan.
“Islam didirikan di atas lima perkara: Bahkan, tidak diperbolehkan menulis kata
persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang Allah dan Muhammad secara berjajar di
pintu masjid atau di bagian masjid yang
lain, karena hal itu menimbulkan
anggapan dan mengandung bahaya
12
seperti yang telah disebutkan di atas.16
Al Qur’an dan as-Sunnah
13
Bukhari hadits no.8 dan 4243; Muslim hadits no.16; Tirmidzi, hadits no.2609; dan Ahmad II/120.
14
Orang yang sudah terkena kewajiban menjalankan syariat. -Pen
15
Suatu paham bahwa Allah menyatu dengan makhluk. Pen
16
Fatawa li Al Lajnah Da-imah I/81, fatwa no.7377; disusun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad
Duwaisy, Darul ’Asimah – Riyadh.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 9
8
Diasuh oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin

 Mengqadha Puasa Ramadhan Setelah Puasa Syawwal


Pertanyaan: Jadilah puasa yang dialkukan itu seperti
Jika seorang pemudi mengerjakan puasa puasa satu tahun penuh. Dalam hadits
enam hari bulan Syawwal untuk yang lain:
mengqadha (mengganti) puasa
Ramadhan yang terluput, apakah puasa
enam hari itu hanya (sebagai ganti
puasanya yang terluput itu) saja, ataukah
sekaligus dihitung sebagai puasa “Puasa Ramadhan sama dengan berpuasa
syawwal ? sepuluh bulan dan puasa enam hari pada
Jawab: bulan Syawwal sama dengan berpuasa
Telah diriwayatkan dari Nabi  bahwa selama dua bulan”
beliau bersabda, Maksudnya, setiap satu kebaikan Allah
lipat gandakan menjadi sepuluh kali. Oleh
karena itu, barang siapa yang berpuasa
pada sebagian hari dan meninggalkan
sebagian hari yang lain karena sakit, safar
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan (bepergian), haid atau nifas, maka wajib
lalu berpuasa enam hari di bulan Syawwal, mengganti puasa yang tertinggal itu
maka dia seperti berpuasa selama setahun.” pada bulan Syawwal atau pada bulan-
Diriwayakan oleh imam Muslim di dalam bulan lain. Dalam penggantian puasa
kitab shahihnya. yang tertinggal tersebut, dia harus
Dalam hadits ini terdapat dalil yang mendahulukannya dari puasa sunnah,
apakah puasa enam hari pada bulan
menunjukkan wajibnya
Syawwal atau puasa sunnah lainnya. Jika
menyempurnakan puasa Ramadhan
telah mengganti puasa yang tertinggal,
terlebih dahulu, karena puasa Ramadhan
barulah dia mengerjakan puasa sunnah
ini hukumnya wajib. Setelah yang wajib
Syawwal untuk mendapatkan keutamaan
digenapkan, barulah ditambah puasa
dan pahala. Jadi, puasa yang dilakukan
sunnah enam hari pada bulan Syawwal.
untuk mengganti puasa Ramadhan yang
1
Fatawa as-Shiyam hal.107, dari fatwa Syaikh Ibnu Jibrin; penyusun Muhammah al-Musnid.

10 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Fatwa
terluput itu tidak sekaligus menjadi bahkan lebih besar dosanya di sisi Allah
puasa sunnah.1  dan lebih dibenci oleh-Nya daripada
memberi selamat kepada orang yang
 Hukum Ucapan Selamat minum minuman keras, menghilangkan
Hari Natal2 nyawa orang, berzina, dan sebagainya.
Pertanyaan: Banyak orang yang tidak memiliki
Syaikh Al-Utsaimain pernah ditanya pengetahuan agama yang baik jatuh ke
tentang hukum memberi ucapan selamat dalam kesalahan-kesalahan seperti itu
hari natal kepada orang kafir (Nasrani)? dan tidak menyadari kejelekan perbuatan-
Bagaimana membalas ucapan selamat nya itu. Barangsiapa memberi ucapan
mereka jika mereka memberi selamat? selamat kepada seseorang atas
Bolehkah kita pergi ke tempat-tempat kemaksiatan, bid‘ah, atau kekafiran yang
perayaan acara natal? Berdosakah jika dilakukannya, maka sungguh dia telah
seseorang melakukan hal-hal tadi tanpa (berani) menantang kemurkaan Allah.”
bermaksud (merayakannya), tetapi Keharaman memberi ucapan selamat
hanya sekadar basa-basi, malu atau kepada orang-orang kafir atas hari-hari
sungkan, atau karena sebab-sebab lain? besar keagamaan mereka seperti yang
Bolehkah menyerupai orang-orang kafir disebutkan Ibnul Qayyim di atas
dengan menyelenggarakan acara-acara disebabkan di dalam ucapan tersebut
seperti itu? terkandung pengakuan dan kerelaan atas
Jawab: syiar-syiar kekafiran yang mereka anut.
Memberi ucapan selamat kepada orang Kalaupun dia tidak merasa rela dengan
kafir pada hari natal atau hari-hari besar kekafiran tersebut untuk dirinya sendiri,
keagamaan mereka lainnya hukumnya namun tetap saja seorang muslim
haram menurut kesepakatan ulama diharamkan merasa rela dengan syiar-
sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim syiar kekafiran untuk orang lain atau
di dalam kitabnya Ahkam Ahli Adz- memberi ucapan selamat kepada orang
Dzimmah. Beliau menulis,“Adapun lain atas syiar-syiar kekafiran tersebut.
memberi ucapan selamat untuk syiar- Hal itu karena Allah  tidak rela dengan
syiar khusus orang kafir, maka haram tindakan seperti itu sebagaimana yang
hukumnya menurut kesepakatan Dia sebutkan dalam firman-Nya berikut:
(ulama). Misalnya memberi ucapan
selamat untuk hari-hari besar mereka
atau puasa-puasa mereka dengan
mengucapkan, Semoga hari raya
kalian diberkati atau Selamat hari
raya untuk kalian, dan ucapan “Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah
semisalnya. Sekalipun pengucapnya tidak memerlukan (iman) kalian dan Dia
bukan orang kafir, tetapi ucapan itu tidak rela kekafiran bagi hamba-hamba-Nya;
termasuk perkara-perkara yang diharam- dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia
kan. Hal itu sama saja dengan memberi meridhai kesyukuran kalian itu.” (Q.S. Az-
selamat atas sujud mereka kepada salib; Zumar:7)
2
Al-Majmu‘ Ats-Tsamin: Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin Jilid III. Diambil dari Al-Fatawa Asy-
Syar‘iyyah fi Al-Masa’il Al-‘Ashriyyah min Fatawa ‘Ulama’ Al-Balad Al-Haram bab Aqidah h. 96.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 11
10
Fatwa
berarti dia telah ikut serta dalam acara
tersebut.
Kaum muslimin diharamkan juga
tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk dengan mengadakan acara-acara
kalian agama kalian dan telah Kucukupkan perayaan hari natal, saling memberi hadiah
kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku atau parcel, meliburkan kerja, dan yang
ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Q.S. semisalnya berdasarkan sabda Nabi :
Al-Maidah:3)
Memberi ucapan selamat kepada orang-
orang kafir dalam hal-hal semacam itu “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka
adalah haram, baik mereka adalah dia termasuk golongan mereka.” 3
partnernya (rekannya) dalam suatu
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam
pekerjaan atau bukan.
kitabnya Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim
Kemudian, jika mereka memberi ucapan Mukhalafah Ash-hab al-Jahim menulis,
selamat kepada kita pada hari-hari raya “Tindakan menyerupai mereka (orang-
mereka, maka kita tidak boleh menjawab- orang kafir) dalam berhari raya
nya, karena hari-hari itu bukanlah hari- mengakibatkan mereka bangga dengan
hari raya agama kita. Juga, karena Allah kebatilan yang selama ini mereka
tidak rela dengan hari-hari raya itu. lakukan. Dan hal itu akan mendorong
Karena bisa jadi hari raya itu bid‘ah mereka lebih bersemangat memanfaat-
buatan mereka atau memang disyariat- kan segala kesempatan yang ada dan
kan dalam agama mereka, akan tetapi merendahkan orang-orang lemah.”
telah dihapus dengan datangnya agama Jadi, barangsiapa melakukan hal-hal
Islam yang diturunkan oleh Allah kepada tersebut berarti dia telah berdosa, baik
Muhammad untuk seluruh manusia. Allah kelakuannya itu dengan alasan basa-basi,
berfirman tentang agama Islam: tenggang rasa, sungkan, maupun karena
alasan-alasan lainnya. Karena semua itu
termasuk sikap mudahanah4 dalam agama
dan termasuk di antara sebab-sebab
yang menguatkan dan menumbuhkan
kebanggaan orang-orang kafir dengan
“Barangsiapa mencari agama selain Islam,
agama mereka.
maka sekali-kali tidak akan diterima darinya;
dan di akhirat kelak dia termasuk orang- Allah-lah yang kita mintai pertolongan-
orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran:85) Nya untuk memuliakan kaum muslimin,
menganugerahkan kekokohan dalam
Memenuhi undangan acara perayaan
beragama, dan menolong mereka
natal yang mereka selenggarakan adalah
menghadapi musuh. Sesungguhnya Dia
haram hukumnya karena hal itu lebih
Mahakuat lagi Mahaperkasa. Wallahu
parah daripada sekadar mengucapkan
a’lam bish shawab.
selamat natal kepada mereka, karena

3
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (II/50, 92)
4
mengorbankan agama untuk kepentingan dunia. -Pent

12 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Fatwa

 Hari Ulang Tahun


Pertanyaan: orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya
Apa hukum merayakan berlalunya masa mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak
hidup seseorang satu tahun, dua tahun dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah.
atau lebih dari hari kelahirannya yang Dan sesungguhnya orang-orang yang
sering disebut sebagai hari ulang tahun zzhalim itu sebagian mereka menjadi
atau hari tiup lilin? Apa hukum penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah
menghadiri acara-acara perayaan seperti adalah pelindung orang-orang yang
itu? Wajibkah menghadiri menghadiri bertaqwa.” (Q.S. Al-Jatsiyah:18-19)
undangan untuk acara seperti itu. Berilah
kami penjelasan! Semoga Allah memberi
Antum balasan yang setimpal.
Jawab:
Dalil-dalil syar‘i dari Al-Quran dan As- “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu
Sunnah menunjukkan bahwa perayaan dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti
hari kelahiran termasuk perbuatan- pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit
perbuatan bid‘ah yang tidak ada asalnya dari kamu yang mau mengambil pelajaran
sama sekali dalam syariat yang suci ini. (dari padanya).” (Q.S. Al-A’raf:3)
Tidak boleh seseorang menghadirinya
karena dengan menghadirinya berarti Dalam hadits shahih disebutkan bahwa
memberi dukungan dan dorongan Rasulullah  bersabda:
terhadap acara bid‘ah. Allah  berfirman:
“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan
yang tidak ada perintahnya dari kami, maka
amalan itu tertolak.”
“Apakah mereka mempunyai sembahan-
sembahan selain Allah yang mensyariatkan
untuk mereka agama yang tidak diizinkan
Allah.” (Q.S. Asy-Syura:21)

“Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah,


dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad  , sedang seburuk-buruk
perkara adalah yang dibuat-buat (tanpa
contoh dari Nabi), dan seluruh bid‘ah itu
sesat…” (H.R. Muslim no. 867)
Hadits-hadits yang semakna dengan
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di hadits di atas amatlah banyak.
atas suatu syariat (peraturan) dari urusan
Selanjutnya, perayaan-perayaan tersebut
agama itu. Maka, ikutilah syariat itu dan
di samping keberadaannya yang bid‘ah,
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 13
12
Fatwa

 Menggunakan Kalender Masehi5


Pertanyaan:
Apakah memakai kalender masehi untuk sistem penanggalan termasuk sikap loyalitas
(muwalah) kepada orang-orang Nasrani?
Jawab:
Menggunakan kalender masehi tidak terhitung sikap loyalitas, tetapi terhitung sikap
tasyabbuh (meniru-niru) mereka. Sistem penanggalan masehi sudah ada ketika
para sahabat Nabi hidup, namun mereka tidak memakainya. Mereka lebih memilih
sistem penanggalan hijriyah. Mereka membuat sistem penanggalan hijriyah dan
meninggalkan pemakaian sistem masehi sekalipun sistem itu telah ada pada saat
itu. Semua itu menunjukkan bahwa kaum muslimin wajib meminimalkan penggunaan
adat dan kebiasaan orang-orang kafir. Terlebih lagi bahwa penanggalan masehi
merupakan simbol keagamaan mereka; simbol pengagungan dan perayaan hari
kelahiran Isa al-Masih pada permulaan tahun. Dan itu merupakan suatu bentuk
kebid‘ahan yang dibuat-buat oleh orang-orang Nasrani. Maka, kita tidak boleh
mengikuti dan mendukung mereka menggunakannya. Jika memakai sistem
penanggalan mereka, berarti kita tasyabbuh (meniru-niru) mereka. Alhamdulillah
kita memiliki sistem penanggalan hijriyah yang telah dirintis oleh Amirul Mukminin
Umar bin al-Khaththab di masa sahabat dari Muhajirin dan Anshar; dan itu sudah
cukup untuk kita.
5
Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan (I/257).

mungkar, dan tidak ada asalnya dalam Maksud beliau dengan menanyakan siapa
syariat, di dalamnya juga terkandung (ketika menjawab pertanyaan sahabat di
sikap tasyabbuh dengan orang-orang atas) adalah bahwa memang merekalah
Yahudi dan Nashrani yang biasa yang dimaksud dalam peringatan beliau
merayakan hari ulang tahun mereka. itu.
Nabi  telah memperingat-kan Begitu pula sabda beliau :
(umatnya) untuk tidak mengikuti sunnah
dan kebiasaan mereka dengan bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka
“Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan dia termasuk golongan mereka.” (H.R.
orang-orang sebelum kalian sedikit demi Imam Ahmad)6
sedikit, sampai seandainya mereka masuk ke Dan hadits-hadits yang semakna dengan
dalam lubang Dhob (hewan sejenis biawak) hadits ini banyak jumlahnya.
niscaya kalian akan mengikutinya.” Para
sahabat bertanya, “Yang engkau maksud Semoga Allah memberi taufiq kepada
orang Yahudi dan Nasrani, wahai orang yang diridhainya.
Rasulullah?” Nabi bersabda, “(Kalau
bukan mereka, lalu) siapa lagi?!”

6
Musnad Ahmad (II/50, 92)

14 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Hadits

Dari Umar bin Al-Khatthab , bahwasanya Rasulullah  bersabda,


“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan
sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa
yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-
Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa
hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena
seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang
ditujunya.”

Bagian Kedua dari Dua Tulisan


Oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin
Pada bagian terdahulu telah dibahas tentang kedudukan hadits, makna, maksud
serta dua faedah dari hadits tentang niat. Pada bagian ini kita lanjutkan dengan
membahas faedah-faedah lainnya yang terkandung dalam hadits tersebut.
Pembicaraan dan pembahasan tetap merujuk kepada perkataan para ulama Ahlus
Sunnah.
3. Kebid’ahan melafazkan niat.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Dalam semua amalan, niat tempatnya di hati,
bukan di lidah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkan niat dengan lisan
ketika hendak shalat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yang lain, maka dia telah
melakukan bid’ah; mengamalkan sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama Allah.
Hal itu karena Nabi  ketika berwudhu, shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 15
14
Hadits
tidak pernah mengucapkan niat dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
lisan, karena niat memang tempatnya di “Kalau para hamba dibebani untuk
hati. Allah mengetahui apa yang ada mengerjakan suatu amalan tanpa niat,
dalam hati; tidak ada sesuatu pun yang berarti mereka dibebani dengan sesuatu
tersembunyi bagi-Nya,” sebagaimana yang tidak mereka sanggupi.”4
yang difirmankan oleh Allah  dalam ayat 4. Kewajiban Menghadirkan dan
yang dibawakan oleh pengarang (yakni Mengikhlaskan Niat, dan
Imam Nawawi): Tercelanya Riya’
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Dan
wajib atas seseorang mengikhlaskan niat
kepada Allah dalam seluruh ibadahnya
dan hendaklah meniatkan ibadahnya
“Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan
semata-mata untuk mengharap wajah
sesuatu yang ada dalam hatimu atau kamu
Allah dan negeri akhirat. Inilah yang
menampakkannya, pasti Allah mengetahui.’”
diperintahkan oleh Allah  dalam firman-
(Q.S. Ali Imran:29)1
Nya:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
berkata, “Sebagian pengikut Imam Syafi’i
telah salah memahami perkataan Imam “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
Syafi’i ketika beliau menyebutkan menyembah Allah dengan memurnikan
perbedaan antara Shalat dan Ihram. ketaatan kepada-Nya.” (Q.S. Al-Bayyinah:5)
Dalam penjelasannya itu Imam Syafi’i Yakni, mengikhlaskan niat setiap
mengatakan, “… Shalat permulaannya amalan hanya kepada-Nya. Dan hendaknya
adalah ucapan.” Sebagian pengikutnya kita menghadirkan niat dalam semua
itu memahami bahwa yang beliau ibadah, misalnya ketika wudhu kita
maksudkan adalah mengucapkan niat, niatkan berwudhu karena Allah  dan
padahal yang beliau maksudkan tidak lain untuk melaksanakan perintah Allah .
adalah takbiratul ihram.” 2 Tiga perkara berikut (yang harus
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Setiap dihadirkan dalam niat): (1) berniat untuk
amalan yang dikerjakan oleh seorang beribadah, (2) berniat beribadah tersebut
manusia yang berakal dan memiliki karena Allah semata, dan (3) berniat
kemampuan berikhtiar (memilih dan bahwa ia menunaikannya demi melaksana-
menentukan) amalannya mesti kan perintah Allah.” 5
bersumber dari niat; tidak mungkin orang Al-Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan
yang berakal lagi memiliki kemampuan firman Allah :
berikhtiar mengerjakan suatu amalan
tanpa niat.” 3
1
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/9-10.
2
Kitab Majmu’ Al-Fatawa XVIII/362.
3
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/12.
4
Kitab Majmu’ Al-Fatawa XVIII/262
5
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/10.

16 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Hadits
“…untuk menguji siapa di antara kamu yang “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang
paling baik amalnya.” (Q.S. Al-Mulk: 2) yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai
Beliau berkata, “Yakni, yang paling dari shalatnya; orang-orang yang berbuat
ikhlas dan paling benar. Sesungguhnya riya’.” (Q.S. Al-Ma’un:4-6)
amal itu apabila ikhlas tetapi tidak benar, Juga firman-Nya :
maka tidak akan diterima; dan apabila
benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak akan
diterima. Jadi, harus ikhlas dan benar.
Suatu amalan dikatakan ikhlas apabila
dilakukan karena Allah, dan yang benar “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat,
itu apabila sesuai sunnah Rasulullah.”6 mereka berdiri dengan malas. Mereka
Ibnu Rajab berkata, “Dan apa yang bermaksud riya’ (dengan shalat mereka) di
dikatakan oleh Al-Fudhail sesuai dengan hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
yang dijelaskan dalam firman Allah: menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S.
An-Nisa’:142)
Dan firman-Nya :

“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan “…seperti orang yang menafkahkan


dengan Rabbnya maka hendaklah ia hartanya karena riya’ kepada manusia.”
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia (Q.S. Al-Baqarah:264)
mempersekutukan seorangpun dalam beribadah Dan firman-Nya :
kepada Rabbnya.” (Q.S. Al-Kahfi:110).7
Syaikhul Islam berkata, “Dasar amal
“Dan juga orang-orang yang menafkahkan
shaleh seseorang adalah keikhlasan niat
harta-harta mereka karena riya’ kepada
semata-mata untuk Allah, karena Allah
manusia.” (Q.S. An-Nisa’:38).” 8
 tidaklah menurunkan kitab-kitab,
mengutus para rasul, dan menciptakan Ibrahim At-Taimi berkata, “Orang
makhluk melainkan agar mereka yang ikhlas niatnya adalah orang yang
beribadah kepada-Nya saja.” menyembunyikan kebaikannya
sebagaimana ia menyembunyikan
Beliau juga berkata, “Oleh karena itu
kejelekannya.” 9
Allah membenci riya’ sebagaimana
tersebut dalam firman-Nya : 5. Hijrah, Macam dan Hukumnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam
wajib hukumnya bagi siapa saja yang

6
Kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam I/36.
7
Kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam 1/36
8
Kitab Majmu’ Al-Fatawa XVIII/257.
9
Kitab Min Akhlaq As-Salaf karya Ahmad Farid, hal.9.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 17
16
Hadits
mampu. Dan suatu negeri dikatakan wajib bila seorang muslim tidak bisa
sebagai negeri kafir, negeri iman, atau secara leluasa mengamalkan agamanya.
negeri fasik bukanlah karena zat negeri Adapun apabila dia bisa secara leluasa
tersebut, namun bergantung kepada mengamalkan agamanya dan tidak ada
keadaan penduduknya. Suatu negeri yang menentang bila dia melaksanakan
yang pada waktu tertentu penduduknya syiar-syiar Islam, maka tidak wajib
orang-orang beriman dan bertakwa berhijrah baginya, tetapi hanya
berarti negeri tersebut adalah negeri dianjurkan saja.11
iman, negeri para kekasih Allah pada saat Kedua, hijrah atau meninggalkan
tersebut. Suatu negeri yang penduduk- perbuatan. Yaitu seseorang
nya orang-orang kafir berarti negeri meninggalkan kemaksiatan dan kefasikan
tersebut dinamakan negeri kafir pada yang dilarang oleh Allah, sebagaimana
saat itu. Begitu juga, suatu negeri yang yang disabdakan oleh Nabi :
penduduknya orang-orang fasik, maka
berarti negeri tersebut dinamakan negeri
fasik pada saat itu. Kemudian jika yang
menempati negeri tersebut adalah selain
yang kami sebutkan dan penduduknya “Muslim hakiki adalah yang orang-orang
berganti dengan selain mereka, maka muslim lainnya bisa selamat dari keburukan
negeri tersebut adalah negeri lidah dan tangannya. Muhajir (orang yang
(sebagaimana masyarakat yang berhijrah) hakiki adalah orang yang
menghuninya).”10 meninggalkan apa-apa yang Allah larang.”12
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, Ketiga, hijrah atau meninggalkan
“Berhijrah itu bisa terhadap perbuatan, pelaku perbuatan. Seseorang yang
pelaku suatu perbuatan, atau terhadap melakukan suatu perbuatan (yakni
tempat. kemaksiatan) terkadang wajib
Pertama, hijrah atau meninggalkan ditinggalkan. Kata para ulama, misalnya
tempat. Yaitu, seseorang berpindah dari seseorang yang suka berbuat maksiat;
suatu tempat yang banyak kemaksiatan bila kita pandang ada manfaat dan
dan kefasikan di dalamnya; bisa dari faedah maka kita disyari’atkan
negeri kafir menuju ke negeri (tempat) meninggalkannya. Faedah dan
yang tidak ada hal seperti itu, (meskipun kemaslahatan dimaksud adalah, setelah
bukan negeri Islam); namun yang paling kita tinggalkan kita perkirakan dia akan
utama adalah berhijrah dari negeri kafir tahu kondisi dirinya, lalu sadar terhadap
ke negeri Islam. Para ulama telah kemaksiatan yang selama ini
menyebutkan bahwa berhijrah dari dilakukannya, lalu meninggalkan
negeri kafir ke negeri Islam hukumnya kemaksiatan tersebut.” 13

10
Kitab Majmu’ Al-Fatawa XVIII/281-282.
11
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/15-16.
12
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/19-20.
13
idem 1/20.

18 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Hadits
6. Kedudukan Manusia dalam Kesimpulan
Berhijrah 1. Niat semakna dengan maksud dan
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, keinginan hati, yang menurut para
“Manusia berhijrah berbeda-beda ulama mengandung beberapa
niatnya. maksud yaitu:
Pertama, ada yang berhijrah i. Membedakan antara satu ibadah
meninggalkan negerinya menuju Allah dengan ibadah yang lain.
dan Rasul-Nya, yakni menuju syari’at ii. Membedakan antara ibadah
Allah yang Allah syari’atkan melalui lisan dengan adat kebiasaan.
Rasul-Nya. Hijrah seperti inilah yang akan
iii. Membedakan yang dituju dalam
memperoleh kebaikan dan pahala. Oleh
ibadah.
karena itu, Nabi mengatakan: “… maka
hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya,” Hakekat niat adalah menguasai diri
yakni dia memperoleh apa yang telah dalam beramal agar tidak mengharap
diniatkannya. pujian manusia.
Kedua, ada yang berhijrah karena 2. Niat adalah sumber semua amalan,
(harta perhiasan) dunia yang ingin dia dan setiap orang hanya akan memper-
dapatkan. Misalnya, ada seseorang oleh balasan dari apa yang telah
senang mengumpulkan harta; kemudia diniatkannya. Niat mempengaruhi
dia mendengar bahwa di negeri Islam besar kecilnya nilai suatu amal saleh.
ada lahan subur untuk dia olah; lalu dia Tempat niat adalah di hati.
berhijrah dari negeri kafir yang dia Barangsiapa melafazhkannya berarti
tempati ke negeri Islam tanpa ada niatan telah berbuat bid’ah.
sedikit pun agar di negeri Islam itu dia 3. Tiga hal yang harus dihadirkan dalam
bisa secara baik mengamalkan niat setiap kali kita hendak melakukan
agamanya; dan dia juga tidak memiliki perbuatan:
perhatian kecuali untuk kepentingan i. Berniat untuk berbuat.
harta semata. ii. Berniat karena Allah.
Ketiga, seseorang berhijrah dari iii. Berniat karena ingin melaksanakan
negeri kafir menuju negeri Islam karena perintah Allah.
ingin menikahi seorang wanita, karena 4. Seseorang yang meniatkan suatu
pihak wali (wanita tersebut) mengatakan amalan yang biasa dilakukan atau
kepadanya, “Kami tidak akan yang diusahakan lalu terhalang oleh
menikahkanmu kecuali di negeri Islam suatu udzur maka dinilai telah
dan kamu tidak boleh membawanya mengerjakannya. Adapun bila amalan
pergi ke negeri kafir.” Lalu, dia pun tersebut belum menjadi kebiasaan,
berhijrah dari negerinya ke negeri Islam maka ia hanya mendapatkan pahala
demi wanita tersebut.” 14 niatnya saja.

14
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/14-15.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 19
18
Hadits
5. Ikhlas dalam beribadah adalah wajib 3. Tahdzib Al Kamal Fi Asma’ Ar-Rijal, karya Al-
karena ia merupakan tujuan dicipta- Hafizh Al-Mizzi (654-742 H.), kopian
kannya manusia, diturunkannya manuskrip dari Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah,
kitab-kitab dan diutusnya para rasul. cet. Dar Al-Ma’mun Lit-Turats, Beirut.
Ibadah tidak akan diterima kecuali
4. Al-Ishabah Fi Tamyiz Ash-Shahabah, karya
bila dilakukan dengan ikhlas dan
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (773-652
sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
H.), Tahqiq Syaikh ‘Adil Ahmad Abdul Maujud
6. Riya’ termasuk salah satu pembatal dan Syaikh Ali Muhammad Mu’awwadh, Cet.
amalan seseorang. ke-1 Th. 1415 H./1995 M., Dar Al-Kutub Al-
7. Hijrah secara bahasa artinya ’Ilmiyyah, Beirut – Lebanon.
meninggalkan, adapun secara syar’i
5. Majmu’ Al-Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu
ada tiga macam:
Taimiyah (661-728 H.), dikumpulkan dan
i. Hijrah terhadap tempat, seperti disusun oleh Syaikh Abdurrahman bin
hijrah dari negeri kafir ke negeri Muhammad bin Qasim An-Najdi dibantu oleh
Islam, hukumnya wajib bagi yang anaknya, Muhammad.
mampu dan tidak bisa leluasa
melaksanakan agamanya, adapun 6. Jami’ Al ‘Ulum Wal Hikam, karya Al-Hafizh
selain itu hukumnya sunnah. Ibnu Rajab (736-395 H.), Tahqiq Syaikh Thariq
bin ‘Awadhullah bin Muhammad, cet. ke-1 Th.
ii. Hijrah terhadap amal, seperti hijrah
1415 H./1995 M., Dar Ibnul Jauzi, Dammam
dari kemaksiatan kepada ketaatan.
– KSA.
iii. Hijrah dari pelaku perbuatan,
seperti meninggalkan teman yang 7. Bahjah Qulub Al Abrar karya Syaikh
buruk lalu mendekati dan bergaul Abdurrahman Nashir As-Sa’di (1307-1376
dengan teman yang baik lagi saleh, H.), cet. ke-3 Th. 1408 H./1987 M., Maktabah
hukumnya bisa wajib atau sunnah As-Sundus, Kuwait.
sesuai kondisinya. 8. Syarah Riyadhus Shalihin, karya Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, cet. ke-1
Referensi Th. 1415 H./1995 M., Dar Al-Wathan, Riyadh
– KSA.
9. Ar-Rahiq Al Makhtum, karya Syaikh
1. Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari, karya
Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, cet. ke-6 Th.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773-852 H.),
1411 H./1991 M., Dar Al-Qiblah Lits-Tsaqafah
cet. ke-2 Th. 1407 H./1987 M., Dar Ar-Rayyan
Al-Islamiyyah, Jeddah – KSA.
Lit-Turats, Kairo.
10. Min Akhlaq As-Salaf, karya Ahmad Farid, cet.
2. Syarah Shahih Muslim, karya Imam An-
Th. 1412 H./1991 M., Dar Al-‘Aqidah Lit-
Nawawi (607 H.), cet. ke-1 Th. 1415 H./1995
Turats, Iskandariyyah.
M., Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut -
Lebanon.

20 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Fiqih

Oleh: Abu Mus’ab


Pada edisi kedua ini rubrik fiqih akan kami sajikan dalam bentuk soal jawab. Kajian
fiqih ini kami nukil dan terjemahkan dari kitab Al-As’ilah wa Al-Ajwibah Al-Fiqhiyyah
Al-Maqrunah bi Al-Adillah Asy-Syar’iyyah jilid I karya Abdul Azis Muhammad As-
Salman.
Dengan bentuk soal jawab ini, kami berharap kajian ini lebih mudah dipahami dan
lebih melekat dalam hati. Hal ini demi meneladani Rasulullah  yang dalam banyak
haditsnya sering memulai sabdanya dengan terlebih dahulu mengajukan pertanyaan
kepada para sahabat. Demikian pula meneladani apa yang pernah dilakukan oleh
malaikat Jibril ketika bertanya kepada baginda Rasul  tentang tiga perkara Islam,
Iman dan Ihsan. Kami memulai kajian fiqih ini dengan bab thaharah, sebagaimana
dilakukan oleh para ulama fiqih dalam memulai kitab-kitab fiqihnya.

BAB: THAHARAH (BERSUCI)

Soal: (sahnya shalat) tentu harus didahulukan


Apa definisi thaharah? Dan mengapa (pembahasannya) daripada yang
bab thaharah selalu didahulukan dalam disyaratkan (yaitu shalat).
pembahasan-pembahasan fiqih?
Jawab: Soal:
Thaharah secara bahasa artinya bersuci Apa dalil dari jawaban soal di atas?
atau menghilangkan kotoran. Adapun Jawab:
secara syar‘i yang dimaksud ialah Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan
menghilangkan najis atau kotoran oleh Ali bin Abu Thalib  dari Nabi 
dengan air dan debu (tanah) yang suci bahwa beliau telah bersabda:
lagi menyucikan dengan tata cara yang
telah ditentukan oleh syariat.
Bab thaharah selalu didahulukan dalam
pembahasan-pembahasan fiqih karena
thaharah (bersuci) merupakan salah satu
“Kunci shalat adalah bersuci. Shalat diawali
syarat sahnya shalat, padahal kita tahu
dengan membaca takbir dan diahiri dengan
shalat adalah rukun dari rukun Islam
membaca salam.” 1
setelah dua kalimat syahadat. Jadi, syarat

1
Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Lima periwayat’, kecuali An-Nasa’i.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 21
20
Fiqih
Soal: Umamah Al-Bahili  , dia berkata,
Apa yang dimaksud dengan air “Rasulullah  telah bersabda:
suci? Tolong jelaskan dengan
menyebutkan dalilnya!
Jawab:
Air suci adalah air yang suci zatnya dan
“Sesungguhnya air itu tidak bisa dinajiskan
bisa digunakan untuk menyucikan.
oleh apapun, kecuali oleh benda yang
Adapun dalilnya adalah firman Allah 
mengubah bau, rasa, dan warnanya.”3
dalam surat Al-Anfal ayat 11:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dan dinyatakan dha’if (lemah) oleh Abu
Hatim.
Al-Baihaqi meriwayatkan hadits ini
“… dan Allah menurunkan kepadamu hujan
dengan lafazh:
dari langit untuk menyucikan kamu …”
Begitu pula firman Allah  dalam surat
Al-Furqan ayat 48:

“Semua air itu suci, kecuali apabila telah


“… dan Kami turunkan dari langit air yang berubah bau, rasa, dan warnanya dengan
amat bersih (suci).” sebab kemasukan benda yang bernajis.”
Abu Hurairah  mengatakan bahwa
Para ulama sepakat bahwa air, banyak
Rasulullah  bersabda:
atau sedikit, apabila tercampur dengan
benda najis kemudian berubah warna,
“Air laut itu suci lagi halal bangkainya.”2 rasa, atau baunya, maka air itu menjadi
najis. Wallahu a‘lam; wa shallallahu ‘ala
Soal:
Muhammad.
Kapan air yang suci itu menjadi
tidak suci? Tolong jelaskan dengan
menyebutkan dalilnya! Soal:
Jawab: Bagaimana cara menyucikan air
Air yang suci menjadi air yang tidak suci yang telah menjadi air najis?
atau air najis apabila telah berubah Jawab:
warna, rasa, dan baunya dengan sebab Menyucikan air najis itu dengan tiga cara;
kemasukan benda yang bernajis. Dalil Pertama, air yang najis itu hilang sendiri
tentang hal ini adalah hadits dari Abu sifat-sifat kenajisannya.

2
Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Empat periwayat’, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan At-Tirmidzi.
Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad juga meriwayatkannya. Lafazh di atas adalah lafazh yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah.
3
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinyatakan dha’if (lemah) oleh Abu Hatim.

22 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Fiqih
Kedua, dengan cara menguras atau Ketiga, dengan cara menambahkan air
membuang semua air yang kena najis yang suci ke dalam air yang najis hingga
dan menyisakan air yang suci. hilang sifat-sifat air najis tersebut.

BAB: ANIYAH (BEJANA-BEJANA)


Soal: dibolehkannya memakai perak
Apa yang dimaksud dengan aniyah? sebagai penyambung!
Mengapa masalah aniyah dibahas Jawab:
langsung setelah membahas Dalilnya adalah hadits marfu‘ 4 dari
masalah thaharah? Bagaimana Hudzaifah Ibnul Yaman , bahwa Nabi
hukum menggunakan aniyah?  bersabda:
Jawab:
Aniyah artinya bejana-bejana. Masalah
aniyah atau bejana-bejana dibahas
langsung setelah membicarakan
masalah thaharah, karena air yang
merupakan salah satu benda yang
berfungsi sebagai penyuci mesti ada “Janganlah kalian minum dengan memakai
tempat penampung-nya. (Jadi, dari sini bejana emas atau perak dan janganlah kalian
nampak keterkaitan langsung antara makan dengan memakai piring emas atau
bersuci dengan bejana). perak, karena sesungguhnya (wadah-wadah
Kita dibolehkan menggunakan semua yang mengandung emas atau perak) itu milik
bentuk aniyah atau bejana-bejana mereka (orang-orang kafir) di dunia dan milik
tentu yang suci walaupun harganya kalian di akhirat nanti.” 5
mahal, kecuali bejana yang terbuat dari Juga hadits dari Ummu Salamah bahwa
emas atau perak, baik yang murni Rasulullah  bersabda:
maupun yang hanya sebagai campuran
saja. Akan tetapi kalau campuran emas
atau peraknya hanya sedikit saja, maka
itu dibolehkan.
“Sesungguhnya orang yang minum dengan
memakai bejana perak tidak lain hanyalah
Soal: menuangkan api neraka jahannam ke dalam
Tolong sebutkan dalil haramnya perutnya.” 6
menggunakan bejana yang terbuat Begitu pula hadits dari Anas bin Malik 
dari emas dan perak, serta dalil yang mengatakan bahwa teko milik Nabi

4
Hadits yang bersambung sanadnya sampai Nabi .
5
Hadits di atas muttafaqun ‘alaih.
6
Hadits di atas muttafaqun ‘alaih.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 23
22
Fiqih
Muhammad  telah retak, maka di Soal:
tempat retaknya itu beliau pasang Bagaimana hukum kulit bangkai
penyambung dari perak. 7 hewan -yang halal dimakan
dagingnya jika disembelih- setelah
Soal: disamak! Tolong jelaskan dengan
Bagaimana hukum menggunakan menyebutkan dalilnya!
bejana dan pakaian milik orang-
Jawab:
orang kafir? Sebutkan dalil tentang
Kulit bangkai dapat disucikan dengan
hal itu!
proses penyamakan berdasarkan hadits
Jawab: riwayat Ibnu Abbas , ia berkata:
Memakai bejana dan pakaian milik orang-
orang kafir dibolehkan, selama tidak
diketahui (bahwa bejana atau pakaian
tersebut mengandung najis atau
didapatkan dengan cara yang haram,
karena asal segala sesuatu itu suci). Allah
 telah berfirman:

“Suatu ketika Rasulullah  mendapatkan


bangkai kambing kepunyaan seorang
maulah10 Maimunah yang diperoleh dari
“Dan makanan ahli kitab itu halal untukmu sedekah. Rasulullah  bertanya, “Mengapa
dan makananmu halal untuk mereka.” (Q.S. kalian tidak memanfaatkan kulitnya?”
Al-Maidah: 5) Mereka berkata, “Kambing itu (telah jadi)
Rasulullah  dan para sahabatnya pernah bangkai.” Maka beliau bersabda,
berwudhu menggunakan mazadah “Sesungguhnya yang diharamkan itu
(tempat air) milik seorang wanita memakannya.” 11
musyrik.8 Dan juga berdasarkan hadits dari Saudah
Dalam sebuah hadits dari Jabir bin , salah seorang istri Rasulullah , dia
Abdullah  disebutkan bahwa ia berkata, berkata, “Kambing kami telah mati,
“Kami pernah berperang bersama kemudian kami samak kulitnya lalu kami
Rasulullah . (Dalam peeprangan tersebut) gunakan hingga rusak.” 12
kami mendapatkan bejana orang-orang
Dan dari Ibnu Abbas  berkata, “Aku
musyrik lalu kami gunakan bejana-bejana
telah mendengar Rasulullah  bersabda,
tersebut namun Rasulullah  tidak
mencelanya.” 9

7
Hadits di atas diriwayatkan oleh Al Bukhari.
8
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim.
9
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.
10
Bekas budak wanita yang mengabdi kepada tuannya setelah dibebaskan.
11
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i.
12
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, An Nasai, dan Al Bukhari.

24 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Fiqih
‘Kulit apa pun yang sudah disamak maka Hukum bolehnya bulu unggas dikiaskan
telah menjadi suci.’”13 dengan bulu-bulu dari hewan-hewan
Tirmidzi berkata, “Ishaq berkata dari yang disebutkan dalam ayat di atas.
Nadhru bin Syumail, ‘Sesungguhnya Al-Maimuni menukil perkataan Imam
dikatakan ihaab (kulit) di sini adalah Ahmad, beliau berkata, “Tentang bulu
khusus kulit (binatang) yang (halal) bangkai (binatang yang halal dimakan
dimakan dagingnya (bukan bangkai).” dagingnya) saya tidak mengetahui
seorangpun yang menganggap makruh
Soal:
menggunakannya.”
Bagaimana hukum potongan
Wallahu a’lam washallallahu a’la
daging bangkai? Jelaskan dengan
Muhammad.
menyebutkan dalilnya!
Jawab: Soal:
Bangkai ada dua macam, yaitu: Bagaimana hukum potongan
1. Bangkai yang suci. Seperti bangkai daging yang diambil dari binatang
ikan dan belalang atau jenis hewan yang yang masih hidup? Jelaskan dengan
tidak berdarah yang keluar dari sesuatu menyebutkan dalilnya!
yang suci14.
Jawab:
Potongan daging hewan-hewan tersebut
Potongan daging yang diambil dari
suci atau halal dimakan, baik terpotong
(tubuh) binatang yang masih hidup
ketika masih hidup maupun setelah
hukumnya sama dengan (hukum)
matinya.
bangkainya. Artinya, kalau bangkainya
2. Bangkai yang haram. Seperti bangkai15
suci atau halal, maka suci atau halal pula
binatang ternak, macam-macam unggas,
potongan daging itu; sedang kalau
dan hewan-hewan sejenisnya yang pada
bangkainya najis atau haram, maka najis
asalnya halal bila telah disembelih. Boleh
atau haram pula potongan daging itu.
digunakan bila telah disamak baik berupa
Hal itu berdasarkan sebuah hadits dari
kulit atau bulu dari bangkai tersebut.
Abu Waqidi Al-Laitsi , dia berkata,
Allah  berfirman:
“Rasulullah  bersabda:

‘Bagian mana saja yang dipotong dari


binatang yang masih hidup, maka itu sama
“… (dijadikan oleh-Nya pula) dari bulu domba,
dengan bangkai.’ 16
bulu onta dan bulu kambing itu alat-alat rumah
tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) Adapun binatang yang tidak ada
sampai waktu (tertentu).” (Q.S. An-Nahl: 80). faedahnya disembelih, seperti anjing,

13
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Ibnu Majah dan At Tirmidzi.
14
seperti ulat atau belatung yang keluar dari dalam buah
15
dikatakan bangkai karena hewan tersebut mati dalam keadaan belum disembelih sesuai syari’at.
16
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 25
24
Fiqih
babi dan sejenisnya, maka semua melepaskan ikatan tempat air, tidak mampu
potongannya adalah najis, baik matinya membuka pintu, dan tidak mampu membuka
karena disembelih ataupun tidak; tidak tutup bejana. Kalau salah seorang di antara
ada pengecualian sama sekali. Wallahu kamu tidak mendapatkan (sesuatu untuk
a’lam. Washallallahu a’la Muhammad. menutup bejana) kecuali hanya mendapatkan
sepotong lidi, maka tutupkanlah dan
Soal: hendaklah dengan menyebut nama Allah.
Jelaskan tentang hukum menutup Karena sesungguhnya tikus itu (bisa)
bejana, hukum mengikat wadah air membakar rumah (yang lampu lenteranya
yang terbuat dari kulit, dan hukum tidak dimatikan), yaitu dengan menabrak
mematikan api ketika menjelang lampu itu lalu menumpahkan minyak yang
tidur! Tolong sebutkan pula dalil- ada di dalamnya sehingga terbakarlah
dalilnya masing-masing! rumah itu.” 17
Jawab: Adapun dalil tentang perintah mematikan
Menutup bejana, mengikat wadah air api (lampu lentera) ketika akan tidur
yang terbuat dari kulit, dan mematikan terdapat dalam sebuah hadits yang
api ketika menjelang tidur hukumnya diriwayatkan dari Abdullah bin Umar 
mustahab (sunnah) berdasarkan hadits dari Nabi , beliau bersabda:
dari Jabir bin Abdullah  dari Rasulullah
, beliau bersabda:
“Janganlah kalian meninggalkan api di
dalam rumah kalian ketika kalian akan
tidur.”18
Dan hadits dari Abu Musa Al-Asy‘ari ,
dia berkata, “Pada suatu malam sebuah
rumah di Madinah terbakar yang
menimpa pemiliknya. Lalu ketika kabar
peristiwa tersebut sampai kepada
Rasulullah , beliau bersabda:

“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air yang “Sesungguhnya api ini adalah musuhmu.
terbuat dari kulit, kancinglah pintu-pintu, dan Maka apabila kalian akan tidur, matikanlah
matikanlah lampu lentera, karena terlebih dahulu api tersebut.” 19
sesungguhnya syetan tidak mampu <ed>

17
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
18
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
19
Hadits ini Muttafaqun ‘alaih.

26 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Keluarga

Bagian Kedua
Hak Suami Terhadap Istri
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Oleh: Abu Husam M. Nurhuda
Sungguh hak suami terhadap isteri sangatlah agung. Suami dan istri
Nabi  menjelaskan betapa besar keagungan hak adalah sepasang insan
tersebut dengan bersabda: yang pada masing-
masingnya telah
Allah tetapkan hak
dan kewajiban.
“Hak suami terhadap isteri adalah seandainya ada padanya Setelah jelas bagi
luka bernanah kemudian isteri menjilatinya, maka hal itu pembaca hak istri
belum cukup menunaikan hak suaminya.”1 dan kewajiban
suami, maka perlu
Seorang wanita yang berakal dan cerdas, akan selalu
pula diketahui “hak
mengagungkan apa yang diagungkan oleh Allah  dan
suami terhadap
Rasul-Nya, menghargai suaminya dengan sebenar-
isteri”, sehingga
benarnya, dan bersungguh-sungguh patuh kepadanya,
akan tumbuh
karena ketaatan kepada suami merupakan salah satu
hubungan timbal
penyebab seorang isteri masuk ke dalam surga.
balik yang akan
Rasulullah  bersabda:
menguatkan dan
mempererat tali
yang telah
terjalin,
berikutnya akan
membuahkan
“Jika seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan ketentraman dan
Ramadhan, dan menjaga kemaluannya, serta mentaati kebahagiaan (Red).
suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga
dari pintu mana saja yang engkau sukai.’”2
Maka renungkanlah wahai wanita muslimah,
bagaimana Rasulullah  memberitakan bahwa ketaatan

1
Hadits shahih riwayat Ahmad (XVI/227/247). Lihat Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 3148.
2
Hadits shahih riwayat Ahmad (XVI/228/250). Lihat Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 660.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 27
26
Keluarga
kepada suami menjadi penyebab keluar rumah, karena dia senang dan
masuknya kalian ke dalam surga, setara ingin membanggakan kecantikan Anda
shalat dan puasa. Oleh karenanya taatilah di hadapan orang lain. Sungguh
suamimu, dan jauhilah perbuatan Rasulullah  telah melarang dengan
durhaka kepada suami karena durhaka bersabda:
kepadanya menyebabkan kemurkaan
Allah . Nabi  bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya,


tidaklah seorang laki-laki mengajak isterinya
ke ranjangnya (jima’, -pent) lalu dia enggan,
maka Yang berada di langit –Allah ta’ala-
murka kepadanya sampai suaminya ridha
“Dua kelompok termasuk penghuni neraka,
terhadapnya.”3
aku belum pernah melihat mereka, yaitu
Maka wajib bagi kalian, wahai para kaum yang membawa cemeti seperti ekor
wanita muslimah, untuk mendengar dan sapi, dengan cemeti tersebut mereka
taat kepada suami Anda jika memerintah mencambuki manusia, dan para wanita yang
kalian, selama perintahnya tidak berpakaian (tetapi) telanjang, bergoyang-
menyelisihi syariat. Kalian juga harus goyang dan berlenggak-lenggok, kepala
senantiasa berhati-hati, jangan sampai mereka seperti punuk onta yang bergoyang-
terjerumus dalam perbuatan maksiat karena goyang. Mereka tidak masuk surga, bahkan
–membabi buta- dalam mentaatinya. Jika tidak akan mencium baunya. Padahal
sampai terjadi, niscaya kalian termasuk sesungguhnya bau surga itu tercium dari
orang-orang yang berdosa. jarak perjalanan sekian dan sekian.”4
Sebagai contoh, Anda mentaati suami Contoh lain, Anda mentaati suami
untuk mencabut bulu mata (alis) –karena untuk bersenggama pada waktu Anda
menghendaki Anda tampil cantik- sedang haidh atau di tempat yang tidak
padahal Rasulullah  telah melaknat diperbolehkan oleh Allah . Rasulullah
wanita yang mencabut bulu mata dan  telah melarangnya dengan bersabda:
yang meminta untuk dicabutkan bulu
matanya.3
Contoh lain, Anda mentaati suami
untuk menanggalkan kerudung tatkala

3
Hadist riwayat Bukhari (VIII/630/4886 ).
4
Hadist riwayat Muslim no. 2128.

28 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Keluarga
“Barangsiapa menggauli perempuan yang sangka sebagai kewajiban, padahal
sedang haidh atau (menggauli) di duburnya, kenyataannya kemaksiatan. Ketahuilah
atau mendatangi tukang ramal maka bahwa “ketaatan hanyalah kepada yang
sungguh dia telah kufur dengan apa yang ma’ruf”, dan “tidak ada ketaatan kepada
diturunkan kepada Muhammad .”5 seseorang dalam bermaksiat kepada
Demikian pula Anda menampakkan Allah ”.
diri di hadapan laki-laki yang bukan
mahram, bercampur-baur dengan Berikut ini beberapa kewajiban
mereka, dan berjabat tangan seorang isteri terhadap suaminya:
dengannya,, padahal Allah  telah 1. Menjaga kehormatan suaminya dan
melarang dalam firman-Nya: keluhuran (kesucian) dirinya, demikian
pula memelihara harta, anak-anak dan
seluruh urusan rumah tangganya. Hal itu
sebagaimana firman Allah :

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan)


kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka
mintalah dari belakang tabir. Cara yang
demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati “Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang
mereka.” (Q.S. Al-Ahzab:53) taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
Dan sabda Nabi : suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka).” (QS.An-Nisa’ : 34)
Dan sebagaimana sabda Nabi :

“Hindarkanlah dirimu dari masuk menemui “Dan wanita sebagai penanggung jawab
wanita -yang bukan mahramnya-.” Seorang rumah suaminya dan anaknya, dan dia akan
shahabat Anshar bertanya, “Wahai dimintai pertanggungjawaban tentangnya.”7
Rasulullah  , bagaimana kalau ipar?”
2. Kewajiban seorang isteri adalah
Rasulullah  menjawab, “Ipar itu kematian
berhias dan mempercantik dirinya di
-lebih mengkhawatirkan-.”6
hadapan suaminya, senantiasa
Oleh karenanya, kiaskanlah semua ini tersenyum, tidak cemberut, dan tidak
dengan segala apa yang menyelisihii menampakkan raut muka yang tidak
ketentuan Tuhanmu, dan jangan tertipu, disenangi oleh suaminya. Sebagaimana
karena terkadang, sesuatu itu engkau hadits Nabi :

5
Hadits shahih riwayat Tirmidzi (I/90/135). Lihat Kitab Adab Az-Zifaf h. 31 karya Syaikh al-Albany.
6
HR Bukhari dan Muslim.
7
Shahih, lihat Kitab Sahih Ibnu Maajah : 4534.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 29
28
Keluarga

Sungguh aneh sikap


wanita yang enggan –
cuek- untuk merawat
dirinya ketika
suaminya berada di
“Sebaik-baik wanita adalah yang jika engkau rumah, sementara
melihatnya menyenangkanmu dan jika
kalau ia keluar atau
engkau memerintahkannya mentaatimu, yang
senantiasa memelihara dirinya dan hartamu berada di luar rumah
ketika kamu tidak ada.”8 ia berusaha
Sungguh aneh sikap wanita yang menampakkan
enggan –cuek- untuk merawat dirinya perhiasannya (aurat)
ketika suaminya berada di rumah, dengan berlebih-
sementara kalau ia keluar atau berada di lebihan
luar rumah ia berusaha menampakkan
perhiasannya (aurat) dengan berlebih-
suaminya) kecuali dengan izin suami.
lebihan. Keadaannya seperti dalam
Sebagaimana sabda Nabi :
pepatah ‘Kera di rumah, Rusa di jalanan’.
Wahai hamba Allah , takutlah kepada
Allah  khawatirkanlah dirimu dan
suamimu. Sesungguhnya suamimu-lah
yang paling pantas dengan kecantikanmu
serta perhiasanmu. Janganlah engkau
tampakkan perhiasanmu kepada orang
yang memang tidak layak engkau “Hak kalian atas isteri-isteri kalian adalah
tampakkan, ini adalah sesuatu yang tidak menginjak tikar kalian orang yang
diharamkan. kalian benci, dan tidak mengizinkan masuk
ke rumah kalian orang yang kalian tidak
3. Kewajiban isteri adalah tinggal di senangi.” 10
rumah, dan tidak keluar rumah kecuali Dan merupakan kewajiban isteri
dengan izin suaminya. Sebagaimana menjaga harta suami dan tidak
Firman Allah : membelanjakannya kecuali dengan
izinnya. Sebagaimana dalam hadits Nabi
“…dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”9  yang diriwayatkan dari Abu Umamah
Al-Bahily, dia berkata, Aku mendengar
4. Kewajiban isteri untuk tidak Rasulullah  bersabda dalam khutbahnya
memasukkan (orang lain ke dalam rumah pada tahun Haji Perpisahan:

8
Sahih, lihat Kitab Sahih Ibni Maajah : 3299.
9
Al-Ahzab : 33.
10
H.R. Bukhari (4/218,217/1975).

30 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Keluarga
6. Seorang istri tidak boleh mengungkit-
ungkit pemberian, dan harta miliknya
yang dibelanjakan untuk rumah dan
keluarganya, karena mengungkit-ungkit
pemberian menjadi penyebab terhapus-
nya pahala. Firman Allah :
“Tidak boleh seorang isteri membelanjakan
(harta) dari rumah suaminya melainkan
harus seizinnya.” Kemudian beliau ditanya,
“Tidak juga makanan?” Nabi menjawab,
“Itu harta-harta kami yang utama.”11 “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
Bahkan menjadi hak suami untuk
menyebut-nyebutnya dan menyakiti
tidak membolehkan seorang isteri
(perasaan si penerima).”14
membelanjakan harta miliknya sendiri
kecuali dengan izin suami, sebagaimana 7. Selayaknya seorang isteri merasa
hadits Nabi : cukup dengan apa yang diberikan suami
walaupun sedikit, ridha dengan apa yang
ada, serta tidak membebani suami
sesuatu yang dia tidak mampu untuk
memenuhinya. Allah  telah berfirman:
“Tidaklah boleh bagi seorang isteri
membelanjakan sesuatu dari hartanya
kecuali dengan izin suaminya.” 12

5. Tidak boleh seorang isteri berpuasa


Sunnah sedang suaminya bersamanya,
melainkan harus dengan izin suaminya. “Hendaklah orang yang mampu, memberi
Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah nafkah menurut kemampuannya. Dan orang
, dia berkata, “Rasulullah  bersabda: yang disempitkan rezkinya hendaklah
memberi nafkah dari harta yang diberikan
Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan
beban kepada seseorang melainkan (sekedar)
“Seorang wanita tidak boleh berpuasa ketika apa yang Allah berikan kepadanya. Allah
suaminya ada bersamanya kecuali dengan kelak akan memberikan kelapangan sesudah
izin suaminya.” 13 kesempitan.” 15

11
Hasan, lihat lihat Kitab Sahih Ibni Maajah : 1859.
12
Hasan dengan beberapa jalan yang saling menguatkan, lihat Kitab As-Sahihah : 1859.
13
HR. Bukhari (9/295/5195).
14
Al-Baqarah : 263.
15
At-Talaq : 7.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 31
30
Keluarga
8. Kewajiban seorang isteri mendidik “Apabila seorang isteri tidur dengan
anak-anak suaminya dengan baik serta meninggalkan ranjang suaminya -karena
penuh kesabaran dan tidak memarahi tidak mau disetubuhi-, para Malaikat
mereka didepan suami, tidak mendo’akan melaknatinya sampai dia bangun dari
kejelekan atas mereka, dan tidak memaki tidurnya di waktu pagi.”17
mereka, karena semua itu menyakitkan
hati suami. Rasulullah  bersabda: 11. Kewajiban isteri menutupi rahasia
suami dan rumahnya dengan tidak
menyebarkannya kepada orang lain
sedikitpun. Dan rahasia yang paling vital
dan kebanyakan wanita terlalu
meremehkannya adalah rahasia yang
terkait dengan masalah ranjang yang
terjadi antara mereka berdua. Rasulullah
 telah melarang hal tersebut dengan
“Tidaklah seorang isteri menyakiti suaminya sabdanya:
di dunia, melainkan isterinya (yang Allah
persiapkan) di surga berupa Bidadari Surga
yang bermata jeli berkata, “ Jangan sakiti
dia, nanti Allah melaknatimu. Sesungguhnya
dia sementara bersamamu, sudah hampir
datang waktunya meninggalkanmu menuju
kami.”16
9. Kewajiban isteri berbuat baik kepada
kedua orang tua suami serta kerabat
dekatnya. Tidaklah seorang isteri
dikatakan telah berbuat baik kepada
suaminya bila hubungannya dengan
mertua atau keluarga dekat suaminya “Barangkali seorang laki-laki menceritakan
tidak baik. apa yang dilakukannya dengan isterinya, dan
wanita juga menceritakan apa yang
10. Kewajiban isteri untuk tidak menolak dilakukannya dengan suaminya.” maka
keinginan suami –sepanjang tidak ada orang-orangpun terdiam, kemudian aku
alasan syar’i-, jika suami hendak berkata, “benar, demi Allah, laki-laki berbuat
menggaulinya. Nabi Muhammad : seperti itu, demikian juga wanita.” maka
Rasulullah  bersabda, “janganlah kalian
berlaku seperti itu, yang demikian itu seperti
syaitan laki-laki bertemu dengan syaitan

16
Hasan H.R. Tirmidzi (2/320/1184)
17
H.R. Bukhari (9/294/5194), Muslim (2/1060/1436).

32 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Keluarga
perempuan dijalan, maka digaulinyalah,
sementara orang-orang melihatnya.”18

12. Seorang isteri yang baik selalu


berusaha untuk menjaga kebahagiaan
dan keharmonisan rumah tangganya
bersama sang suami, dan tidak akan
meminta talak tanpa sebab, karena hal
itu terlarang baginya sebagaimana sabda
Nabi :

Halaman Cover (warna)


“Wanita mana saja yang meminta talak
kepada suaminya tanpa sebab, maka haram - Depan dalam Rp. 1.000.000,-
atasnya bau surga (masuk syurga).”19 - Belakang dalam Rp. 700.000,-
Wahai sekalian wanita muslimah, ini
- Belakang luar Rp. 700.000,-
semua adalah hak-hak suami kalian atas
kalian, maka wajib bagi kalian untuk
bersungguh-sungguh dalam menunaikan-
Halaman Dalam (hitam putih)
nya, dan tutuplah mata kalian
(berusahalah untuk menerima) jika kalian - 1 halaman Rp. 500.000,-
melihat kekurangan suami kalian dalam
- 1/2 halaman Rp. 300.000,-
menunaikan hak-hak kalian, dengan
begitu, kekallah rasa cinta dan kasih- - 1/4 halaman Rp. 175.000,-
sayang di antara kalian, rumah-tangga
menjadi harmonis, dan masyarakat
menjadi baik dengan baiknya rumah
tangga.
ount
Ya, Tuhan kami, anugerahkanlah disc
kepada kami isteri-isteri kami dan
keturunan kami sebagai penyenang hati
(kami), dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertakwa.
Hubungi:
Bagian Pemasaran
Islamic Center Bin Baaz
-Wallahu A’lam bis Shawab. Jl. Wonosari km 10
Sitimulyo, Piyungan
Bantul-Yogyakarta
18
Sahih, lihat lihat Kitab Adabu-Zifaf : 72. Telp/Fax : (0274)522964
19
Sahih, lihat Kitab Irwa’ Ghalil (2035).

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 33
32
Manhaj
Manhaj

Oleh: Abu Isa


Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi , yaitu segala
sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad  berupa perkataan,
perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau
perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi
umat ini. Termasuk didalamnya ‘apa saja yang hukumnya wajib dan
sunnah’ sebagaimana yang menjadi pengertian umum menurut ahli
hadits. juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada
derajat wajib’ yang menjadi istilah ahli fikih1.

Pengertian As Sunnah Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah


As-Sunnah seperti diterangkan oleh
As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan
Imam As-Syafi‘i, “Setiap kata al-hikmah
wahyu kedua setelah Al-Qur’an
dalam Al-Qur‘an yang dimaksud adalah
sebagaimana disebutkan dalam sabda
As-Sunnah.” Demikian pula yang
Rasulullah :
ditafsirkan oleh para ulama yang lain.4

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-


As-Sunnah Terjaga Sampai Hari
Qur`an dan (sesuatu) yang serupa
Kiamat
dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Diantara pengetahuan yang sangat
Abu Dawud dan yang lainnya dengan penting, namun banyak orang
sanad yang shahih) 2. melalaikannya, yaitu bahwa As-Sunnah
termasuk dalam kata Adz-Dzikr yang
Para ulama juga menafsirkan firman
termaktub dalam firman Allah  Al-
Allah :
Qur`an surat al-Hijr ayat 9, yang terjaga
dari kepunahan dan ketercampuran
“…dan supaya mengajarkan kepada dengan selainnya, sehingga dapat
mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah”3 dibedakan mana yang benar-benar As-

1
Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani, hal. 11.
2
Abu Dawud (no.4604), juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130.
3
Surat Al-Baqarah ayat 129.
4
Lihat Al-Madkhal Li Dirasah Al Aqidah Al-Islamiyah hal. 24

34 Fatawa Vol. 01/


02/ I / Ramadhan
Syawwal 1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Manhaj
Sunnah dan mana yang bukan. Tidak
seperti yang di sangka oleh sebagian
kelompok sesat, seperti Qadianiyah5
dan Qur`aniyun6, yang hanya mengimani
(meyakini) Al-Qur`an namun menolak “Dan tiadalah yang diucapkannya
As-Sunnah. Mereka beranggapan salah7 (Muhammad) itu menurut kemauan hawa
tatkala mengatakan bahwa As-Sunnah nafsunya.” (Q.S. An-Najm:3)
telah tercampur dengan kedustaan
manusia; tidak lagi bisa dibedakan Tidak ada perselisihan sedikit pun di
mana yang benar-benar As-Sunnah dan kalangan para ahli bahasa atau ahli
mana yang bukan. Sehingga, mereka syariat bahwa setiap wahyu yang
menyangka, setelah wafatnya diturunkan oleh Allah merupakan Adz-
Rasulullah , kaum muslimin tidak Dzikr. Dengan demikian, sudah pasti
mungkin lagi mengambil faedah dan bahwa yang namanya wahyu
merujuk kepada as-Sunnah.8 seluruhnya berada dalam penjagaan
Allah; dan termasuk di dalamnya As-
Dalil-dalil yang Menunjukkan Sunnah.
Terpeliharanya As-Sunnah: Segala apa yang telah dijamin oleh
Pertama: Allah untuk dijaga, tidak akan punah
dan tidak akan terjadi penyelewengan
Firman Allah , sedikitpun. Bila ada sedikit saja
penyelewengan, niscaya akan
dijelaskan kebatilan penyelewengan
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan
tersebut sebagai konsekuensi dari
Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-
penjagaan Allah. Karena seandainya
benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr : 9)
penyelewengan itu terjadi sementara
Adz-Dzikr dalam ayat ini mencakup Al- tidak ada penjelasan akan kebatilannya,
Qur’an dan –bila diteliti dengan cermat- hal itu menunjukkan ketidak akuratan
mencakup pula As-Sunnah. firman Allah yang telah menyebutkan
jaminan penjagaan. Tentu saja yang
Sangat jelas dan tidak diragukan lagi
seperti ini tidak akan terbetik sedikitpun
bahwa seluruh sabda Rasulullah  yang
pada benak seorang muslim yang
berkaitan dengan agama adalah wahyu
berakal sehat.
dari Allah sebagaimana disebutkan
dalam firman-Nya:

5
Kelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi, yang muncul di
negeri India pada masa penjajahan Inggris.
6
Kelompok yang mengingkari As-Sunnah, dan hanya berpegang pada Al-Qur’an.
7
Dari sini nampak sekali kebodohan mereka akan Al Qur’an, seandainya mereka benar mengimani
Al Qur’an sudah pasti mereka akan mengimani As-Sunnah, karena betapa banyak ayat Al Qur’an
yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah e yang sudah barang tentu menunjukkan perintah
untuk mengikuti As-Sunnah.
8
Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi Al Aqaid wal Ahkam hal. 16.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 35
34
Manhaj
Jadi, kesimpulannya adalah bahwa menemukan bukti adanya penjagaan
agama yang dibawa oleh Muhammad As-Sunnah. Diantaranya sebagai
ini pasti terjaga. Allah sendirilah yang berikut11:
bertanggung jawab menjaganya; dan
a. Perintah Nabi  kepada para
itu akan terus berlangsung hingga akhir
sahabatnya agar menjalankan As-
kehidupan dunia ini.9
Sunnah.

Kedua: b. Semangat para sahabat dalam


menyampaikan As-Sunnah.
Allah menjadikan Muhammad sebagai
penutup para nabi dan rasul, serta c. Semangat para ulama di setiap
menjadikan syari’at yang dibawanya zaman dalam mengumpulkan As-
sebagai syari’at penutup. Allah Sunnah dan menelitinya sebelum
memerintahkan kepada seluruh mereka menerimanya.
manusia untuk beriman dan mengikuti d. Penelitian para ulama terhadap para
syari’at yang dibawa oleh Muhammad periwayat As-Sunnah.
 sampai Hari Kiamat, yang hal ini
secara otomatis menghapus seluruh e. Dibukukannya Ilmu Al Jarh wa At
syari’at selainnya. Dan adanya perintah Ta’dil. 12
Allah  untuk menyampaikannya f. Dikumpulkannya hadits–hadits yang
kepada seluruh manusia, menjadikan cacat, lalu dibahas sebab-sebab
syariat agama Muhammad  tetap cacatnya.
abadi dan terjaga. Adalah suatu
kemustahilan, Allah membebani g. Pembukuan hadits-hadits dan
hamba-hamba-Nya untuk mengikuti pemisahan antara yang diterima dan
sebuah syari’at yang bisa punah. Sudah yang ditolak.
kita maklumi bahwa dua sumber utama h. Pembukuan biografi para periwayat
syari’at Islam adalah Al-Qur‘an dan As- hadits secara lengkap.
Sunnah. Maka bila Al-Qur’an telah
dijamin keabadiannya, tentu As-Sunnah Wajib merujuk kepada As-Sunnah
pun demikian.10 dan haram menyelisihinya
Pembaca yang budiman, sudah menjadi
Ketiga:
kesepakatan seluruh kaum muslimin
Seorang yang memperhatikan pada generasi awal, bahwa As-Sunnah
perjalanan umat Islam, niscaya ia akan

9
Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-
Albani hal. 16-17.
10
Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-
Albani hal. 19-20.
11
Lihat Al Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah, hal. 25.
12
Ilmu yang membahas penilaian para ahli hadits terhadap para periwayat hadits, baik berkaitan
dengan pujian maupun celaan. (Pen.)

36
36 Fatawa Vol.
Fatawa Vol. 02/
01/ II // Syawwal
Ramadhan1423 HH
1423 - 2002 MM
- 2002
Manhaj
merupakan sumber kedua dalam Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah
syari’at Islam di semua sisi kehidupan nyata-nyata sesat.” (Q.S. Al Ahzab: 36)
manusia, baik dalam perkara ghaib
yang berupa aqidah dan keyakinan, 2. Firman Allah :
maupun dalam urusan hukum, politik,
pendidikan dan lainnya. Tidak boleh
seorang pun melawan As-Sunnah
dengan pendapat, ijtihad maupun
qiyas. Imam Syafi’i rahimahullah di akhir “Wahai orang-orang beriman, janganlah
kitabnya, Ar-Risalah berkata, “Tidak kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan
halal menggunakan qiyas tatkala ada bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
hadi ts (shahih).” Kaidah Ushul Allah Maha Mendengar lagi Maha
menyatakan, “Apabila ada hadits Mengetahui.” (Q.S. Hujurat:1)
(shahih) maka gugurlah pendapat”, dan
juga kaidah “Tidak ada ijtihad apabila 3. Firman Allah :
ada nash yang (shahih)”. Dan
perkataan-perkataan di atas jelas
bersandar kepada Al-Qur’an dan As-
Sunnah.
“Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-
Perintah Al-Qur‘an agar berhukum Nya! Jika kamu berpaling, maka
dengan As-Sunnah sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 32)
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat
yang memerintahkan kita untuk 4. Firman Allah :
berhukum dengan As-Sunnah,
diantaranya:
1. Firman Allah :

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya;


janganlah kamu berbantah-bantahan,
karena akan menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatanmu dan
bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfal:
perempuan mu’min, apabila Allah dan 46)
Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan
5. Firman Allah :
dalam urusan mereka, mereka memilih
pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai

Fatawa
Fatawa Vol.
Vol. 01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 36
37
Manhaj
yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab,
“Barangsiapa mentaatiku akan masuk
Surga dan barangsiapa yang
mendurhakaiku dialah yang enggan”.
(HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham)13.
2. Abu Rafi’  mengatakan bahwa
Rasulullah  bersabda :

“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-


Nya, niscaya Allah memasukkannya ke
dalam surga yang mengalir di dalamnya
sungai-sungai, sedang ia kekal di
dalamnya; dan itulah kemenangan yang
“Sungguh, akan aku dapati salah seorang
besar. Dan barangsiapa mendurhakai
dari kalian bertelekan di atas sofanya, yang
Allah dan rasul-Nya dan melanggar
apabila sampai kepadanya hal-hal yang
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah
aku perintahkan atau aku larang dia
memasukkannya ke dalam api neraka
berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada
sedang ia kekal di dalamnya dan
dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami
mendapatkan siksa yang menghinakan.”
ikuti” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud,
(Q.S. An Nisa’: 13-14)
at-Tirmidzi –dan ia menshahihkannya-,
Ibnu Majah, at-Thahawi dan lainnya
Hadits-hadits yang memerintahkan dengan sanad yang shahih)14.
agar mengikuti Nabi  dalam segala
hal, di antaranya: 3. Abu Hurairah  mengatakan bahwa
Rasulullah  bersabda:
1. Abu Hurairah  mengatakan bahwa
Rasulullah  bersabda:

“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian.


“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali Selama kalian berpegang teguh dengan
orang yang engan,” Para sahabat keduanya tidak akan tersesat selama-
bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.

13
Hadits no. 6851.
14
HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud (no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah (no. 12), At-Thahawi
IV/209.

38 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Manhaj
Dan tidak akan terpisah keduanya sampai sedangkan durhaka dan melanggar
keduanya mendatangiku di haudh 15 .” batasan-batasan (hukum) yang
(HR. Imam Malik secara mursal16 Al- ditetapkan oleh Nabi merupakan
Hakim secara musnad 17 –dan ia sebab yang memasukkan seseorang
menshahihkannya- )18 kedalam Neraka dan memperoleh
adzab yang menghinakan.
Kesimpulan 6. Sesungguhnya Al-Qur‘an membutuh-
1. Tidak ada perbedaan antara hukum kan As-Sunnah (karena ia sebagai
Allah  dan hukum Rasul-Nya , penjelas Al-Qur’an); bahkan As-
sehingga tidak diperbolehkan kaum Sunnah itu sama seperti Al-Qur‘an
muslimin menyelisihi salah satu dari sisi wajib ditaati dan diikuti.
dari keduanya. Durhaka kepada Barangsiapa tidak menjadikannya
Rasulullah  berarti durhaka pula sebagai sumber hukum berarti telah
kepada Allah  , dan hal itu menyimpang dari tuntunan
merupakan kesesatan yang nyata. Rasulullah .

2. Larangan mendahului (lancang) 7. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an


terhadap hukum Rasulullah  dan As-Sunnah akan menjaga kita
sebagaimana kerasnya larangan dari penyelewengan dan kesesatan.
mendahului (lancang) terhadap Karena, hukum-hukum yang ada di
hukum Allah . dalamnya berlaku sampai hari
kiamat. Maka tidak boleh
3. Sikap berpaling dari mentaati membedakan keduanya.19
Rasulullah  merupakan kebiasaan
orang-orang kafir.
Referensi:
4. Sikap rela/ridha terhadap perselisihan,
1. Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid
-dengan tidak mau mengembalikan
wa Al Ahkam, karya as-Syaikh
penyelesaiannya kepada As-
Muhammad Nashiruddin Al-Albani,
Sunnah- merupakan salah satu
cet. III/1400 H, Ad-Dar As-Salafiyah,
sebab utama yang meruntuhkan
Kuwait.
semangat juang kaum muslimin,
dan memusnahkan daya kekuatan 2. Al-Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah
mereka. Al Islamiyah ‘ala Madzhab Ahli As
Sunnah, karya Dr. Ibrahim bin
5. Taat kepada Nabi  merupakan
Muhammad Al-Buraikan, penerbit
sebab yang memasukkan
Dar As-Sunnah, cet. III.
seseorang ke dalam Surga;

15
Sebuah telaga di surga. (Pen.)
16
Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad.
17
Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah .
18
Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).
19
Lihat Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid wa Al Ahkam oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
hal. 21-30.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 39
38
Aktual

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan


bahwa ghuluw ialah melampaui batas dan
berlebih-lebihan dalam memuji atau mencela
yang tidak pada tempatnya.1
Sikap ghuluw pernah terjadi pada zaman
Rasulullah , tetapi karena beliau masih hidup,
para sahabat yang melakukannya langsung
Kata ghuluw secara mendapat teguran dari Nabi . Pernah tiga
orang laki-laki datang ke rumah isteri Rasulullah
bahasa artinya
 menanyakan tentang ibadah Rasulullah .
melampaui batas; Setelah mendengar jawaban dari istri
berlebih-lebihan yang Rasulullah , dan membandingkan dengan diri
tidak pada tempatnya. mereka, mereka merasa belum melakukan apa-
Adapun secara istilah apa. Lalu, masing-masing dari mereka berkata,
artinya tindakan “Saya akan shalat malam terus menerus.” Yang
lain mengatakan, “Saya akan puasa terus dan
melampaui (melanggar)
tidak berbuka.” Dan yang terakhir mengatakan,
batas yang telah “Saya akan menjauhi wanita (dengan tidak
ditetapkan oleh Allah , menikah).” Demi mendengar penuturan para
baik berupa perkataan, sahabatnya itu, Rasulullah  berkata, “Apakah
perbuatan ataupun kalian semua yang mengatakan ini dan itu? Demi
keyakinan. Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah
dan paling taqwa di antara kalian. Akan tetapi, aku
puasa dan berbuka, shalat dan juga tidur, dan aku
menikahi wanita. Barangsiapa benci dengan
sunnahku, maka bukan golonganku.”
Imam Bukhari berkata, “Ghuluw dalam
masalah aqidah pun pernah terjadi semasa
Rasulullah . Dalam satu riwayat sahabat
Oleh: Abu Nida Ch. Sofwan pernah melontarkan perkataan kepada Nabi:

1
Kitab Dzahir al-Ghuluww fi ad Dien, hal.76.

40 Fatawa Vol.
Vol. 01/
02/ I / Ramadhan
Syawwal 1423
1423H H- 2002
- 2002M M
Aktual
Dan akhirnya berkembang, orang
yang berbuat dosa besar dihukumi kafir
“Terserah Allah dan engkau.”
keluar dari agama Islam (murtad),
Rasulullah  memberi teguran keras boleh dibunuh dan di akhirat masuk
dengan mengatakan, “Apakah kamu nereka selama-lamanya.3
hendak menjadikan aku sebagai tandingan
Allah? Katakanlah: Al-Khawarij
Asy-Syahrastaniy berkata ketika
2
“Terserah Allah saja.” Dan masih menjelaskan pengertian Khawarij,
banyak lagi contoh yang lain. “Semua orang yang keluar dari hukum
yang benar yang telah disepakati oleh
jama’ah dinamakan Kharijiyan, baik
Ghuluw yang Terjadi pada keluarnya pada zaman sahabat atau
Zaman Sahabat (Khulafa ar- zaman tabi’in atau imam-imam
Rasyidin) setelahnya.”4

Bukti ghulu pada zaman Khulafa ar- Sifat-Sifat Khawarij


Rasyidin diantaranya: Keluar
1. Mencela, menganggap sesat,
sekelompok orang dari pengikut Ali .
dan mengkafirkan orang-orang
Mereka mengasingkan diri di suatu
yang menyelisihi mereka.
tempat yang disebut Harura, suatu desa
yang terletak di Kufah (Irak). Bukti dari hal tersebut misalnya
mereka mencela (mengkritik) Rasulullah
Mereka keluar disebabkan tidak
 dalam hal pembagian ghanimah (harta
puas terhadap apa yang dilakukan Ali
hasil rampasan perang) seperti apa yang
 tatkala berdamai dengan khalifah
dilakukan oleh Dzul Khuwaisirah terhadap
Mu’awiah t. Mereka menganggap Ali 
Rasulullah  dengan kata-kata, “Ya,
telah salah dan kafir. Berdalil dengan
Rasulullah, berbuat adillah”; mereka juga
firman Allah:
mengkafirkan khalifah Utsman , Ali 
dan yang lainnya.
2. Suka berburuk sangka
(su’uzhan).
“Barang siapa yang tidak berhukum
dengan hukum Allah maka merekalah Bukti dari hal tersebut misalnya
orang yang kafir.” (Q.S. Al-Maidah: 44) mereka menuduh Rasulullah  tidak
ikhlas dalam membagi ghanimah. Karena
Tapi bukan Ali  saja yang mereka tidak paham maksud syari’at dan
dikafirkan, termasuk Mu’wiah, Amr bin dalam hati mereka ada penyakit maka
al-Ash, Abu Musa al-Atsary . mereka pun suka berburuk sangka.
2
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Nasa’i. Lihat kitab Qaulul Mufid hal 126.
3
Lebih lengkapnya lihat Firaq wal Adyan al-Muatsirah.
4
Dzahiratu al-Ghuluw hal.100.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 41
40
Aktual

Apabila bertemu tiga unsur


dalam diri pemuda, yaitu
semangat tinggi, sedikit ilmu
dan pengalaman, kemudian
dia meninggalkan ulama,
akhirnya akan mengakibatkan
sikap ghuluw dan melampaui
batas
3. Berlebih-lebihan dalam
beribadah.
Bukti dari hal tersebut sebagaimana
Rasulullah  mensifati ibadah mereka:
“Mereka membinasakan orang-orang Islam
dan menyeru menyembah berhala.”
Maksudnya, mereka memerangi
orang-orang Islam dan mengajak
“Salah seorang di antara kalian merasa menyembah berhala.5
shalatnya tidak ada apa-apanya
5. Kurang matang pertimbangan
dibandingkan dengan shalat mereka,
dan dangkal akalnya.
demikian pula puasanya dengan puasa
mereka” Hal tersebut sebagaimana disebutkan
dalam hadits:
Maksudnya, shalat dan puasa yang
kamu kerjakan, secara dzahir tidak ada
apa-apanya jika dibandingkan dengan
shalat dan puasa kaum khawarij (saking
berlebih-lebihannya). “Akan muncul pada akhir zaman kaum yang
kurang matang pertimbangan dan cetek
4. Keras terhadap sesama kaum akalnya.”
muslimin, apalagi terhadap Imam Nawawi mengatakan,
yang lain. “Sesungguhnya kemantapan dan
Bukti dari hal tersebut sebagaimana kokohnya ilmu dikarenakan kesempurna-
disebutkan sabda : an umur dan banyaknya pengalaman
serta kuatnya akal”6

5
Dzahiratu al Ghuluw hal.112-119 Lebih lengkapnya lihat Firaq wal Adyan al-Muatsirah.
6
Fathu al-Bari XII/287.

42 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Aktual
Memang apabila bertemu tiga unsur bimbingan guru yang terpercaya
dalam diri pemuda, yaitu semangat (ulama).
tinggi, sedikit ilmu dan c. Pemahaman yang rancu terhadap
pengalaman, kemudian dia dalil agama, baik Al-Qur’an dan Al-
meninggalkan ulama, akhirnya akan Hadits. Sehingga salah dalam
mengakibatkan sikap ghuluw dan memahaminya.
melampaui batas; merasa dirinya sajalah
yang benar sementara yang lain salah. 4. Keadaan pribadi yang bersangkutan:
Perlu diketahui bahwa yang termasuk a. Al ‘Ajalah (sikap tergesa-gesa,
ulama Khawarij pada zaman dahulu tanpa dipikir masak-masak)
bukanlah orang-orang yang faham b. Merasa sombong dengan kebaikan
agama seperti Ibnu Mas’ud, Umar, Ali, yang dilakukan (ketaatan kepada
Aisyah, Abu Musa, Mu’az bin Jabal, Abu Allah.
Darda’, Salman Al Farisi, Zaid bin Tsabit, c. Mengikuti hawa nafsu
dan Ibnu Umar atau murid-murid
d. Berlebihan dalam membalas atau
mereka, melainkan orang-orang yang
menyikapi penekanan dan
tidak terkenal dalam dunia ilmiyah.
intimidasi pihak luar.7
Pemikiran Khawarij semacam itu
Sebab-sebab munculnya berjalan terus di segala zaman. Penyakit
sikap ghuluw ini banyak tersebar di kalangan umat
Sikap ghuluw bisa muncul kapan Islam seperti menyebarnya penyakit
saja dan di mana saja. Ada beberapa menular. Penyakit tersebut sudah
sebab munculnya sikap ghuluw pada demikian kronisnya. Dalam mengobati
masa sekarang ini. penyakit tersebut jelas diperlukan sikap
1. Situasi politik yang menekan Islam kehati-hatian dan kesungguhan. Karena
dan umatnya. sudah demikian kronisnya, maka penyakit
ini terkena angin sedikit saja bisa kambuh
2. Budaya yang berasal dari luar (baca: dan menjadi-jadi. Inilah perumpamaan
musuh-musuh Islam) yang diumpan- paham Khawarij di tengah-tengah umat
kan kepada keluarga muslim melalui Islam.
media cetak maupun elektronik yang Di zaman Nabi, munculnya perilaku
merusak tatanan masyarakat Islam, khawarij umumnya disebabkan dari
sehingga tersebarlah kemaksiatan. dalam diri sendiri (sebab no.3 dan 4),
3. Fiqrah (pemikiran) yang menyimpang, sedangkan untuk kondisi sekarang ini
tidak lurus, yang disebabkan oleh: disamping sebab dari dalam juga
a. Meninggalkan Ulama Salaf disebabkan dari luar (sebab no.1 dan 2).
Diantaranya adalah tekanan politik yang
b. Memperdalam agama melalui
tidak menguntungkan Islam dan
kitab-kitab atau buku-buku tanpa

7
idem hal.337.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 43
42
Aktual
muslimin, termasuk munculnya Begitulah penyakit Khawarij di
kemaksiatan-kemaksiatan yang seolah- masyarakat Islam.
olah dilegalkan oleh pemerintah.--dalam Pada kesempatan ini kami ingin
hal ini kami menghimbau kepada para mencoba meluruskan pemahaman dan
pejabat pemerintah diposnya masing- sikap mereka, tentu dengan merujuk
masing, agar memperhatikan Islam dan kepada pemahaman ulama salaf.
kaum muslimin karena mereka ini
Wahai para pemuda, mari kita lihat
mayoritas di negeri ini. Insya Allah kalau
bagaimana para ulama salaf menghadapi
itu dilakukan, penyakit ghuluw tersebut
masalah yang menimpa diri mereka. Mari
tidak akan muncul. Yang diharapkan
kita lihat perjalanan hidup Imam Ahlu
adalah kemaslahatan (kebaikan) bagi
Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal ,
semua. Semoga Allah membimbing kita,
yang pada waktu itu pemerintahan
amin.
didominasi oleh orang-orang Mu’tazilah-
Situasi seperti itulah salah satu Jahmiyah, yang meyakini bahwa Al-
penyebab munculnya perilaku Khawarij; Qur’an adalah makhluk dan berkeyakinan
apalagi bila orang yang terkena paham bahwa Allah tidak memiliki sifat.
Khawarij tersebut sempat ditangkap, di Bagaimana sikap Imam Ahmad dalam
penjara dengan disertai siksaan, kondisi yang semacam itu? Beliau tetap
intimidasi dan sebagainya. Mereka akan mengeluarkan fatwa, “Barangsiapa
trauma dan bila mereka ditanya, mengatakan Al-Qur’an adalah
“Bagaimana hukum orang-orang yang makhluk, maka ia kafir.” Apa reaksi
terlibat dalam pemerintahan yang tidak yang timbul dengan fatwanya itu? Para
berhukum dengan hukum Islam?” ulama salaf ditangkap, dibunuh,
Niscaya mereka akan menjawab: dipenjara, diusir, diberhentikan dari
Haram!!. Bahkan, mereka akan pekerjaannya; bahkan, siapa saja yang
mengatakan bahwa setiap pegawai atau tidak mengatakan Al-Qur’an adalah
orang-orang yang terlibat di dalam makhluk dihukumi kafir oleh pemerintah
pemerintahan tersebut adalah Thagut;8 pada saat itu. Memang hal itu sangatlah
dan melawan pemerintah yang semacam wajar, karena yang menjadi hakim dan
ini menurut anggapan mereka adalah qadhi pada waktu itu adalah orang
benar dan termasuk perjuangan suci Jahmiah-Mu’tazilah.
(jihad)” .
Sekalipun seperti itu keadaannya,
Sikap Khawarij yang menonjol adalah lihatlah bagaimana sikap Imam Ahmad
suka gegabah mengkafirkan orang lain  pada saat itu. Beliau tidak
dan suka berprasangka buruk terhadap mengkafirkan khalifah (penguasa) dan
sesama kaum muslimin. Hal itu biasanya orang-orang yang menjadi aparatnya.
terjadi apabila keyakinan mereka tidak Beliau tetap mendoakan khalifah dan
sejalan dengan keyakinan orang lain. aparat-aparatnya itu, sekalipun beliau
dipenjara bersama dengan para
sahabatnya demi mempertahankan
8
tandingan Allah. kebenaran, bahkan beliau hampir

44 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Aktual
dihukum mati. Beliau mendoakan dan
memintakan ampunan bagi mereka
kepada Allah dan tidak dendam. “Tidak ada hukum, melainkan hanya dari
Seandainya beliau mengkafirkan khalifah, Allah”
niscaya beliau tidak akan mendo’akan Ayat ini betul, tetapi mereka terapkan
dan memohonkan ampun, karena hal untuk mengkafirkan Amirul Mukminin Ali
tersebut dilarang oleh Islam.  pada saat itu.
Begitulah sikap yang ditunjukkan Mereka bermaksud ‘menghilangkan
Imam Ahlu Sunnah, perkataan maupun kemungkaran’. Itupun sesuatu yang
perbuatan. Beliau tidak serta merta benar, akan tetapi mereka melakukan
mengkafirkan orang tertentu, baik dengan cara yang salah; mereka tidak
terhadap orang Jahmiyah ataupun mengindahkan kaidah yang dibuat oleh
Mu’tazilah, sekalipun mereka ulama salaf. Walhasil, mereka
mengatakan Al Qur’an adalah makhluk. melakukannya dengan semena-mena,
Hal itu tidak lain karena untuk main pokrol saja, padahal itu wewenang
mengkafirkan orang tertentu harus pemerintah. Begitulah. Karena keluar dari
terpenuhi syarat-syarat serta cara-cara ulama salaf, akhirnya dampak
penghalang-penghalangnya; tidak negatifnya pun kembali kepada umat
sembarangan. Islam secara keseluruhan. Islam akhirnya
teropinikan menakutkan, anarkis, teroris,
kejam, tukang pembunuh dan
Nasihat untuk Para Pemuda sebagainya.
Wahai para pemuda yang mempunyai Yang terakhir, marilah kita
semangat tinggi, berhati-hatilah jangan memperdalam manhaj salaf, dalam
sampai kalian terpengaruh dengan masalah aqidah, dakwah, muamalah,
pemikiran Khawarij yang ghuluw akhlaq, dan semua aspek kehidupan.
(berlebih-lebihan) dalam beragama, Semoga Allah selalu memberi taufiq dan
sehingga berdampak buruk terhadap pertolongan-Nya kepada kita dan
Islam dan kaum muslimin. mematikan kita dalam keadaaan beriman
Ingatlah, perbuatan mereka itu dan senantiasa berada di atas jalan-Nya.
masuk dalam perkataan: Shalawat dan salam semoga Allah
curahkan kepada Rasulullah, keluarganya
dan sahabat-sahabatnya. Amin.
“Perkataan benar, tapi digunakan untuk
sesuatu yang batil”
Dalil dan istilah yang mereka gunakan
benar, tapi dalam praktek pelaksanaan-
nya salah. Lihat saja, pemahaman
mereka terhadap dalil:

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 45
44
Akhlaq

berada di sekitar rumah kita)


dari setiap penjuru mata angin.
Sehingga tidak diragukan lagi
bahwa yang berdekatan
dengan rumahmu adalah
tetangga. Apabila ada khabar
yang benar (tentang penafsiran
Oleh : Abu Husam M. Nurhuda tetangga) dari Rasulullah, maka itulah
yang kita pakai; namun apabila tidak,
Allah  berfirman: maka hal ini dikembalikan pada ‘urf
(adat kebiasaan), yaitu kebiasaan
orang-orang dalam menetapkan
seseorang sebagai tetangganya.’3

Ada tiga macam Tetangga:


Pertama, tetangga muslim yang masih
mempunyai hubungan kekeluargaan.
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu Tetangga semacam ini mempunyai tiga
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu hak, yakni hak sebagai tetangga, hak
pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua Islam dan hak kekerabatan;
orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat Kedua, tetangga muslim saja.
dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Tetangga semacam ini mempunyai dua
ibnu sabil1 dan hamba sahayamu.”2 hak, yaitu sebagai tetangga dan hak
Islam;
Syaikh Utsaimin berkata, ‘‘Tetangga
adalah orang yang tinggal berdekatan
Ketiga, tetangga kafir. Tetangga
dengan rumahmu atau jarak rumahnya
semacam ini hanya mempunyai satu
dekat dengan rumahmu. Ada atsar
hak, yaitu sebagai tetangga saja.
yang menunjukkan bahwa tetangga
adalah empat puluh rumah (yang Rasulullah  bersabda4:

1
Orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. -Pen
2
Q.S. An-Nisa’ : 36.
3
Kitab Syarah Riydhush Shalihin : V/204-205.
4
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim.

46 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Akhlaq
rumahnya, membuat sempit jalan
masuk ke rumahnya, suka mengetuk-
ngetuk pintunya, atau hal-hal lain yang
merugikannya. Demikian pula, apabila
kita mempunyai pohon kurma atau
pohon lainnya di samping dinding
“Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tetangga. Apabila kita siram pohon
tidaklah beriman!” Kemudian beliau tersebut membuat tetangga kita tidak
ditanya, ‘Siapa, wahai Rasulullah?’ Beliau berkenan karena menyakitinya, maka
menjawab, ‘Orang yang tetangganya tidak ini juga termasuk perbuatan jelek
aman dari kejelekannya (kejahatannya).”5 (mengganggu tetangga) yang tidak
Dalam riwayat lain Beliau  bersabda: boleh dilakukan.7
Rasulullah  pernah ditanya
tentang dosa-dosa besar di sisi Allah
“Tidak akan masuk surga orang yang
. Beliau menyebutkan tiga macam,
tetangganya tidak aman dari gangguannya
“Menjadikan Allah  sebagai tandingan
(kejelekannya).”6
padahal Dialah yang menciptakan kita,
Berkata Syaikh Utsaimin, “Hadits ini membunuh anak karena takut dia akan
menjadi dalil haramnya memusuhi makan harta kita dan menzinai istri
tetangga, apakah itu dengan perkataan tetangga.”
atau perbuatan. Bentuk gangguan
Dalam hadits lain disebutkan:
terhadap tetangga dengan perkataan
misalnya membuat suara gaduh atau
mengucapkan suatu perkataan yang
menyebabkan kesedihan hatinya,
membunyikan radio dan telivisi keras-
keras atau yang semisalnya. Semua itu “Barangsiapa beriman kepada Allah dan
tidak boleh. Bahkan, melantunkan ayat- hari akhir, maka janganlah menyakiti
ayat suci al-qur’an sekalipun (dengan tetangga.”
tape recorder atau membaca sendiri)
Berkata Syaikh Utsaimin, “Oleh
apabila menyebabkan tetangga
karena itu, haram seseorang menyakiti
terganggu, maka itu termasuk
tetangganya dengan bentuk apapun.
perbuatan menyakiti mereka. Maka, hal
Apabila dia melakukan hal itu, maka dia
itu tidak boleh kita lakukan.
tidak termasuk orang yang beriman.
Adapun bentuk mengganggu Artinya, dia tidak melakukan sikap
tetangga dengan perbuatan misalnya seorang mukmin dalam masalah ini,
membuang sampah di depan karena dia menyelisihi sikap yang benar.

5
Diriwayatkan oleh Al Bukhari no: 6016 dalam Kitab Al Adab.
6
Diriwayatkan oleh Muslim no: 47 dalam Kitab Al Iman
7
Kitab Syarah Riyadhush Shalihin : V/205-207.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 47
46
Akhlaq
Dalam hadits yang diriwayatkan Sikap Abu Hurairah di atas sama
oleh Abu Hurairah  disebutkan dengan sikap Amirul Mu’minin Umar bin
bahwasanya Nabi  bersabda: “Tidak Al-Khaththab  ketika terjadi
boleh seseorang melarang tetangganya persengketaan antara Muhammad bin
menancapkan kayu ke dinding rumahnya.” Maslamah  dan tetangganya.
Maksud hadits ini, apabila tetanggamu Persengketaan timbul tatkala
ingin mengatapi rumahnya dan Muhammad bin Maslamah  yang ingin
menumpangkan kayu pada dinding mengalirkan air ke kebunnya terhalang
(rumah kita), maka kita tidak boleh oleh kebun tetangganya. Tetangganya
melarangnya. Karena meletakkan kayu itu melarang Muhammad bin Maslamah
pada dinding tidak merugikan; bahkan mengalirkan air melalui kebunnya. Lalu
menambah kekuatan dinding tersebut keduanya melapor kepada Umar .
dan menghalangi tumpahan hujan; Umar  berkata: ‘Demi Allah, jika kamu
terlebih lagi jika dinding tersebut dari melarang dia mengalirkan air melalui
tanah, karena kayu (untuk atap) kebunmu, niscaya aku akan
tersebut menghalangi dan menjaga mengalirkan air tersebut melalui
curahan air hujan ke dinding kita, perutmu.’
sehingga dinding kita menjadi tetap
awet. Jadi dalam hal ini saling Pada kasus di atas, Umar
menguntungkan; tetangga untung dan memaksanya untuk mengalirkan air
kita juga diuntungkan. |Jadi, tidak tersebut, karena aliran air tersebut
boleh seseorang melarang tetangganya tidaklah merugikan. Kebun yang
untuk menancapkan kayu (untuk atap) ditanami tanaman apabila dilewati
pada dindingnya. Apabila dia aliran air tentu air tersebut akan
melarangnya, maka dipaksa untuk bermanfaat bagi tanah dan bagi
membolehkan peletakan kayu tersebut tanaman miliknya. Berbeda halnya bila
di atas dindingnya. tetangga itu ingin membangun sebuah
bangunan di kebunnya, lalu dia
Oleh karena itu, Abu Hurairah  berkata: ‘Aku tidak mau kebunku
pernah berkata, ‘Aku melihat kalian dilewati aliran air,’ maka kita tidak boleh
tidak mau mematuhi sunnah ini. Demi memaksanya. Namun apabila kebunnya
Allah, bila demikian, aku akan itu hendak dia tanami, maka aliran air
menancapkannya ke bahu kalian!’. yang lewat kebunnya itu tentu
Maksudnya, orang yang tidak menambah kebaikan baginya. Jadi,
membolehkan tetangganya meletakkan tidak ada alasan dia melarangnya.
kayu untuk atap di atas dinding
miliknya, maka kami akan Kita wajib menjaga hak-hak tetangga
menancapkan kayu tersebut di dan berbuat baik kepada mereka sesuai
bahunya. Ini adalah perkataan Abu dengan kemampuan; dan haram
Hurairah tatkala dia menjadi gubernur hukumnya memusuhi mereka dengan
di Madinah pada masa pemerintahan model dan bentuk apapun. Dalam
Marwan bin Al-Hakam. sebuah hadits Rasulullah  bersabda:

48 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Akhlaq

Tanyalah tetanggamu, jika mereka mengatakan kamu adalah orang


yang baik, maka kamu adalah orang yang baik; sebaliknya jika mereka
mengatakan engkau adalah orang yang jelek maka engkau adalah orang
yang jelek

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah mengetahui bahwa saya adalah orang
dan hari akhir, maka hendaknya dia muhsin (yang berbuat baik)?” Beliau 
berbuat baik pada tetangganya.”8 9 menjawab, “Tanyalah tetanggamu, jika
mereka mengatakan kamu adalah orang
Ibnu Umar  pernah mempunyai
yang baik, maka kamu adalah orang yang
tetangga seorang Yahudi. Apabila
baik; sebaliknya jika mereka mengatakan
menyembelih kambing beliau berkata,
engkau adalah orang yang jelek maka
“Berilah tetangga kita yang Yahudi itu
engkau adalah orang yang jelek.”10
dagingnya.”
Rasulul lah  pernah bersabda:
Diriwayatkan bahwa tetangga yang
“Barangsiapa yang terpaksa menutup pintu
miskin itu akan bertemu dengan
dari tetangganya khawatir akan
tetangganya yang kaya pada hari
keselamatan keluarga dan hartanya, maka
kiamat. Kelak tetangga yang miskin itu
tetangganya itu bukanlah orang yang
akan mengadu kepada Allah: ‘Wahai
beriman. Dan bukanlah orang yang
Allah, tanyalah tetanggaku ini kenapa dia
beriman orang yang tetangganya tidak
menolak berbuat baik kepadaku dan
merasa aman dari gangguannya.”
menutup pintunya untuk aku masuki.’
Diriwayatkan pula, “Seorang lelaki
Memang sudah selayaknya kita
berzina dengan sepuluh perempuan lebih
menahan diri dari perbuatan menyakiti
ringan daripada dia berzina dengan istri
tetangga. Tidak menyakiti tetangga
tetangganya; dan seorang lelaki mencuri
sudah termasuk berbuat baik
di sepuluh rumah lebih ringan daripada dia
kepadanya.
mencuri di rumah tetangganya.”
Pernah ada seorang lelaki datang
Abu Hurairah  berkata: “Pernah
menemui Rasulullah , lalu berkata,
ada seorang lelaki datang kepada
“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku
Rasulullah mengadukan perilaku
suatu amalan yang apabila aku
tetangganya. Maka, Rasulullah 
mengerjakannya akan memasukkanku
berkata, ‘Pulang dan bersabarlah!’
ke dalam surga.” Beliaupun berkata,
Orang itu mendatangi Rasulullah  dua
“Jadilah engkau orang yang muhsin (selalu
atau tiga kali. Pada kali berikutnya,
berbuat baik).” Dia bertanya, “Wahai
beliau berkata, ‘Pulang dan lemparkan
Rasulullah, bagaimana saya

8
Diriwayatkan oleh Imam Muslim no: 48 dalam Kitab Al Iman
9
Kitab Syarah Riyadhush Shalihin V/207-208.
10
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Abu Hurairah.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 49
48
Akhlaq
perabotanmu di jalan.’ Kemudian orang seketika itu dia berkata, “Hah, apa yang
itu melaksanakan nasehat Rasulullah , aku lihat ini?” Berkatalah Sahl, “Ini
sehingga orang-orang melewati sudah berlangsung sejak lama. Kotoran
ceceran perabotannya dan menanyakan ini jatuh dari rumahmu masuk ke
sebab-musababnya. Lalu, dia pun rumahku ini, dan aku menampungnya
menceritakan kelakuan tetangganya di siang hari kemudian aku buang di
terhadapnya kepada orang-orang yang waktu malam. Kalaulah bukan karena
lewat itu. Mereka melaknat sudah dekat kematianku, dan kalaulah
tetangganya itu dengan berkata, aku tidak takut sepeninggalku nanti
“Semoga Allah  memperlakukan dia orang-orang tidak bisa sabar dengan
setimpal dengan apa yang telah dia kejadian ini, niscaya tidak akan aku
perbuat!” Mereka pun mendo’akan jelek khabarkan hal ini kepadamu dan akan
kepadanya. Sejak kejadian itu, tetap aku biarkan hal ini terus terjadi.”
tetangga tadi datang kepadanya dan Berkatalah orang majusi itu, “Wahai
berkata: “Wahai saudaraku, kembalilah Syaikh, engkau bersikap kepadaku
ke rumahmu, karena engkau tidak akan semacam ini dalam waktu yang lama
lagi menemukan sesuatu yang engkau sementara aku tetap di atas
benci selamanya.” kekufuranku. Ulurkan tanganmu,
karena aku sekarang bersaksi bahwa
Hendaknya seorang muslim
tidak ada tuhan yang berhak disembah
bersabar dari gangguan tetangganya,
kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa
walaupun tetangganya itu nonmuslim.
Muhammad adalah utusan Allah.” Tidak
Diriwayatkan dari Sahl bin Abdullah At-
berselang lama setelah kejadian itu Sahl
Tastari bahwa dia mempunyai seorang
pun meninggal dunia.
tetangga nonmuslim. Tetangganya itu
mempunyai jamban yang telah penuh Kita berdoa kepada Allah semoga
sehingga kotorannya meluap ke Dia berkenan membimbing kita
rumahnya. Sedangkan Sahl setiap sehingga kita mempunyai akhlak yang
harus meletakkan bejana untuk baik, baik perkataan maupun
menampung luapan kotoran dari pebuatan; dan semoga membaguskan
jamban orang majusi itu. Dan di malam akhir kesudahan hidup kita.
harinya dia membuang kotoran Sesungguhnya Allah Mahamulia dan
tersebut agar tidak ada orang yang Mahapemurah.
melihatnya. Beliau hidup dalam
keadaan seperti ini dalam waktu yang
lama sampai menjelang kematiannya. Rujukan:
Suatu hari dia memanggil tetangganya
1. Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi
itu dan berkata, “Masuklah ke rumah
dan lihatlah apa yang ada di dalamnya!’ 2. Kitab Syarah Riyadhush Shalihin karya
Lalu, masuklah tetangganya dan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.
melihat tumpahan kotoran dari
rumahnya jatuh ke dalam bejana dan

50 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Firaq

Bagian kedua dari dua tulisan


oleh: Tri Madiyono
Pada edisi sebelumnya telah dibahas mengenai sejarah berdirinya ajaran
Sapto Darmo serta beberapa ajaran pokoknya, yaitu (1) Tujuh kewajiban
suci Sapto Darmo; (2) Panca sifat manusia; (3) Konsep kitab suci; dan (4)
Konsep tentang alam. Pada edisi kali ini kami mencoba mengupas lebih
jauh lagi tentang pokok-pokok ajaran Sapto Darmo, sehingga lebih jelas
lagi - Insya Allah- bahwa ajaran ini sangat bertentangan dengan Islam.

5. Konsep Peribadatan karena itu tidak perlu kaget kalau


Konsep ibadah dalam Sapto Darmo mendengar penganut aliran ini menolak
tercermin pada ajaran mereka tentang untuk melaksanakan shalat karena
“Sujud Dasar”. Sujud Dasar terdiri dari memang mereka mempunyai sistem
tiga kali sujud menghadap ke Timur. ibadah (shalat) tersendiri. Pada
Sikap duduk dengan kepala ditundukkan hakikatnya, penolakan mereka terhadap
sampai ke tanah, mengikuti gerak naik shalat sudah cukup untuk menggolong-
sperma yakni dari tulang tungging ke kan mereka ke dalam barisan orang-or-
ubun-ubun melalui tulang belakang, ang di luar Islam (kafir).
kemudian turun kembali. Amalan Dalil-dalil tentang kafirnya orang yang
seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. menolak shalat dapat kita temui di banyak
Dalam sehari semalam, pengikut Sapto perkataan dan tulisan para ulama di
antaranya dijelaskan oleh Sayid Sabiq1
Darmo diwajibkan melakukan Sujud
sebagai berikut, “Orang yang
Dasar sebanyak 1 kali, sedang
meninggalkan shalat karena menolak dan
selebihnya dinilai sebagai keutamaan.
mengingkari akan kewajibannya berarti
kufur dan keluar dari agama Islam
Telaah:
menurut ijma’ kaum muslimin.” Padahal,
Konsep peribadatan Sapto Darmo
orang yang meninggalkan shalat, tetapi
tercermin dalam ajaran ‘Sujud Dasar’
masih mengimani dan meyakini
yang pengikutnya diwajibkan satu kali
kewajibannya, karena malas, lalai atau
dalam sehari semalam. Dari konsep ini
alasan-alasan lain yang tidak syar‘i,
diketahui bahwa Sapto Darmo tidak
terdapat hadits-hadits yang menjelaskan
semata-mata berupa ajaran moral atau
akan perintah untuk membunuhnya (baik
etika, tetapi aliran ini di samping memiliki
karena anggapan kekafirannya atau
sistem aqidah; juga memiliki sistem
sebagai hukuman atas keengganannya
ibadah tersendiri yang semuanya
melaksanakan kewajiban). Hadits-hadits
bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh
yang menerangkan hal tersebut ialah:

1
Fiqih As Sunnah oleh Syaikh Sayid Sabiq, Jilid I, hal. 92-93, terbitan Dar Al-Kitab Al-‘Arabi.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 51
50
Firaq
Pertama, dari Jabir  bahwa Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (H.R.
Rasulullah  bersabda, Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban;
sanadnya Jayyid)
Ibnul Qayyim rahimahullah
“Pembatas seseorang dengan kekafiran berkata, “Orang yang tidak memelihara
adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Ahmad, shalat –umumnya- dilalaikan oleh harta,
Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan kekuasaan, jabatan, atau bisnis.
Ibnu Majah). Barangsiapa yang lalai karena harta maka
Kedua, dari Buraidah  bahwa ia akan bersama dengan Qarun;
Rasulullah  bersabda, barangsiapa yang lalai karena kekuasaan
maka ia akan bersama dengan Fir’aun;
barangsiapa yang lalai karena jabatan
maka ia akan bersama dengan Haman;
dan barangsiapa yang lalai karena bisnis
“Sesungguhnya pengikat antara kami dan
maka ia akan bersama dengan Ubay bin
mereka adalah shalat; maka barangsiapa
Khalaf. …”
meninggalkan shalat berarti telah kafir.”
(H.R. Ahmad dan Ashabus Sunan) Persoalan lain di samping menolak
shalat adalah mereka juga memiliki
Ketiga, dari Abdullah bin Amru bin al-
sistem peribadatan tersendiri. Dengan
Ash  dari Nabi , bahwa suatu hari ia
memiliki sistem peribadatan tersendiri,
berbicara tentang masalah shalat, maka
mereka itu selain telah merampas hak
Rasulullah  bersabda:
Allah, juga terjerumus ke dalam
perbuatan syirik, yaitu Syirik Uluhiyah.
Mengenai hal itu, terdapat riwayat dari
Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa
Muadz bin Jabal berkata, “Aku membonceng
Nabi mengendarai himar lalu Nabi bertanya
kepadaku, “Tahukah kamu apa hak Allah
atas hamba dan hak hamba atas Allah ?”
Saya jawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih
mengetahui.” Kemudian Rasulullah
menjelaskan, “Hak Allah atas hamba adalah
“Barangsiapa memelihara shalat maka mereka menyembah Allah dan tidak
baginya cahaya, petunjuk, dan keselamatan menyekutukan dengan sesuatupun,
di Hari Kiamat. Dan barangsiapa tidak sedangkan hak hamba atas Allah adalah
memelihara shalat maka tidak akan bahwa Allah tidak akan mengadzabnya
mendapatkan cahaya, petunjuk, dan sepanjang ia tidak menyekutukan Allah
keselamatan di Hari Kiamat; dan kelak dia dengan sesuatu…”.”2
akan dikumpulkan dengan Qarun, Fir’aun,

2
Fath Al Majid Syarah Kitab At-Tauhid, oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu As-Syaikh, hal.30,
Terbitan Darul Fikr.

52 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Firaq
6. Menyatu dengan Tuhan Telaah:
Sebagai hasil dari amalan Sujud Hasil dari ritual ‘hening’ seperti yang
Dasar, mereka meyakini dapat menyatu disebutkan di atas semuanya adalah
dengan Tuhan dan dapat menerima takhayul dan khurafat, bahkan
wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka sebagiannya termasuk syirik. Dapat
juga meyakini, orang yang sudah melihat keadaan keluarga yang jauh,
menyatu dengan Tuhan bisa memiliki mengirim telegram rasa, dan yang
kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sejenisnya merupakan hal-hal yang tidak
sebagai atom berjiwa, akal menjadi ada dasarnya baik dari dasar wahyu (dalil
cerdas, dan dapat menyembuhkan atau naqli) maupun dasar rasional (dalil aqli).
mengobati penyakit. Kemudian, hasil ‘hening’ yang berupa
Telaah: kemampuan menerima wahyu dan dapat
Ajaran ini secara prinsip sama dengan melihat arwah leluhur yang telah
ajaran hulul yang banyak dikembangkan meninggal, tidak diragukan merupakan
oleh orang-orang rusak dari kalangan suatu bentuk khurafat dan kesyirikan.
tasawuf seperti Al-Hallaj. Bedanya, kalau Termasuk hal yang sudah diketahui
kalangan tasawuf menganggap kondisi dengan pasti bahwa wahyu itu hanya
bersekutunya Tuhan dengan manusia diberikan oleh Allah kepada para nabi dan
merupakan buah dari dzikr yang rasul, tidak diberikan kepada sebarang
mencapai klimaks, sedangkan menurut orang, dan tidak bisa diusahakan dengan
Sapto Darmo kondisi itu merupakan buah amalan-amalan tertentu.
dari keberhasilan Sujud Dasar. 8. Racut
7. Hening Racut adalah ajaran dan praktek
Hening adalah salah satu ajaran dalam Sapto Darmo yang intinya adalah
Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara usaha untuk memisahkan rasa, fikiran,
menenangkan semua fikiran seraya atau ruh dari jasad tubuhnya untuk
mengucapkan, Allah Hyang Maha menghadap Allah, kemudian setelah
Agung, Allah Hyang Maha Rahim, tujuan yang diinginkan selesai lalu
Allah Hyang Maha Adil. Orang yang kembali ke tubuh asalnya.
berhasil dalam melakukan hening akan Caranya yaitu setelah melakukan
dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, sujud dasar, kemudian membungkukkan
antara lain: (1) dapat melihat dan badan dan tidur membujur Timur-Barat
mengetahui keluarga yang tempatnya dengan kepala di bagian timur, posisi
jauh, (2) dapat melihat arwah leluhur tangan dalam keadaan bersedekap di
yang sudah meninggal, (3) dapat atas dada (sedekap saluku tunggal) dan
mendeteksi suatu perbuatan, jadi harus mengosongkan pikiran. Kondisi
dikerjakan atau tidak, (4) dapat mengirim tubuh di mana akal dan fikirannya kosong
atau menerima telegram rasa, (5) dapat sementara ruh berjalan-jalan itulah yang
melihat tempat yang angker untuk dituju dalam racut, atau disebut juga
dihilangkan keangkerannya, (6) dapat kondisi mati sajroning urip.
menerima wahyu atau berita ghaib.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 53
52
Firaq
Telaah: bahwa al-Mi‘raj adalah hak, dan sungguh
Ajaran racut sebagaimana diajarkan Nabi telah di-isra’-kan dan di-mi‘raj-kan
oleh Sapto Darmo tidak dikenal dalam dengan jasadnya dalam keadaan sadar
Islam. Terpisahnya ruh dari jasad hanya (terjaga) ke langit, kemudian ke tempat
ada pada saat manusia meninggal dunia. yang dikehendaki oleh Allah.”4
Karena persoalan ruh adalah persoalan Dalam syarahnya, Al-Allamah Abil
ghaib, maka manusia tidak akan dapat Izziy mengatakan bahwa, “kata al-mi‘raj
mengetahuinya kecuali Allah dan orang- dari wazan mif’alun berasal dari kata al-
orang yang diberitahu oleh Allah lewat ‘uruj artinya alat untuk naik, yang berada
wahyu; itupun hanya sedikit. Allah  di suatu tempat yang aman, akan tetapi
berfirman, tidak diketahui tentang bagaimananya,
sedang hukumnya sama seperti hukum
perkara-perkara ghaib yang lain dimana
kita mengimani tanpa mempertanyakan
bagaimananya.”5 Terhadap pandangan
“Dan mereka bertanya tentang ruh 3 ; yang mengatakan bahwa Nabi isra’ dan
katakanlah, “Ruh itu urusan Tuhanku dan mi‘raj lewat mimpi atau hanya ruhnya
tidaklah kalian diberitahu akan hal itu kecuali saja, beliau menjelaskan, “Dari hadits
hanya sedikit” (Q.S. Al-Isra’:85) isra’ diketahui bahwa Nabi melakukan
Sebagian dari mereka berdalih bahwa isra’ dan mi‘raj dengan jasadnya dan
ajaran yang demikian ada dalam Islam dalam keadaan sadar (terjaga) dari
dan didasarkan dari peristiwa mi‘raj (naik) Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan
Nabi dalam peristiwa isra’ mi‘raj. Mereka mengendarai Buraq6 Lalu naik ke Langit
beranggapan Nabi dalam mi‘raj hanya kesatu sampai ke Langit ketujuh, lalu naik
ruh-nya saja, tidak disertai jasadnya. ke Sidratul Muntaha, kemudian naik lagi
Dalam hal ini Ahlus Sunnah meyakini ke Baitul Ma’mur. Kemudian naik
bahwa dalam peristiwa isra’ mi‘raj, Nabi menghadap Allah untuk menerima
melakukannya baik dengan ruh maupun perintah shalat 50 waktu yang akhirnya
jasadnya. Imam Thahawiy menjelaskan menjadi shalat lima waktu.”7

3
Yang mereka tanyakan adalah “asal, dzat dan hakekat ruh”. Lihat Zubdah At Tafsir min Fath al
Qadir, oleh Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, hal. 376.
4
Syarah Thahawiyah, idem, halaman 126.
5
Idem.
6
Buraq adalah kendaraan Nabi saat isra’ yang kecepatannya seperti kilat dan tidak diketahui tentang
bagaimananya. Orang yang suka klenik menggambarkan buraq itu semacam kuda berkepala wanita
cantik jelita. Gambaran itu jelas salah dan bertujuan jahat untuk menghina Nabi seolah-olah Nabi
Muhammad suka berkendaraan seperti itu di waktu malam. Di samping itu, gambaran seperti itu
terinspirasi dari cerita Hindu (pewayangan). Dikisahkan tatkala Resi Durna tidak mendapati
kendaraan untuk menyeberang lautan, datanglah Bethari (perempuan) menyamar seekor kuda
terbang lalu menawarkan jasa penyeberangan dengan imbalan “menaiki” selama perjalanan. Hasilnya
hamil lalu lahirlah ksatria jahat yang sakti bernama Bambang Haswotomo. (Pen.).
7
Syarah Thahawiyah, idem, halaman 127-128.

54 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Firaq
Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa Genggaman tangan kiri melambangkan
peristiwa isra’ mi‘raj merupakan mukjizat roh suci, pusaka semar melambangkan
dari Allah kepada Nabi Muhammad punya kekuatan sabda suci, dan kain
dengan tujuan untuk menunjukkan kampuh berlipat lima (wiron limo)
betapa dahsyatnya kebesaran Allah melambangkan taat pada Pancasila Allah.
sebagaimana disebutkan dalam Al- Telaah:
Qur’an:
Penggunaan simbol-simbol
khususnya vignette Semar oleh Sapto
Darmo menunjukkan bahwa ajaran ini
bersumber dari ajaran Hindu. Jadi
jelas batil, dan mana ada istilah dan tokoh
SEMAR dalam sejarah Islam ?! Mana pula
ada para rasul, shahabat Nabi atau tokoh
“Maha Suci Allah, yang telah Islam yang namanya Semar?? Tidak ada.
memperjalankan hamba-Nya pada suatu
Seorang muslim sejati tidak
malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
dibenarkan mengambil ajaran agama lain
Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya
sebagai pegangan walaupun sebagian.
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian
Hal demikian dilarang oleh Allah dan
dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
tertolak. Firman Allah :
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra’:1).
Mukjizat itu hanya diberikan kepada
para nabi atau rasul dan tidak diberikan
kepada semua orang. “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai
agama, maka tidak akan diterima agama
9. Simbol-Simbol tersebut dan di akhirat nanti dia tergolong
Ajaran Sapto Darmo juga banyak orang yang merugi”. (Q.S. Ali Imran:85)
menggunakan simbol-simbol. Ada empat
simbol pokok dalam Sapto Darmo, yaitu: D. Kesimpulan
(1) gambar segi empat, yang
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
menggambarkan manusia seutuhnya, (2)
bahwa kesesatan/kekufuran ajaran Sapto
warna dasar pada gambar segi empat,
Darmo sebagai berikut.
yaitu hijau muda yang melambangkan
sinar cahaya Allah, (3) empat sabuk 1. Mereka meyakini adanya sesuatu –
lingkaran dengan warna yang berbeda- yang mereka anggapTuhan- tetapi
beda, hitam melambangkan nafsu bukan Allah, walaupun mereka
lauwamah, merah melambangkan nafsu menggunakan sebutan Allah dalam
ammarah, kuning melambangkan nafsu Pancasila Allah.
sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu 2. Mereka tidak beriman kepada
muthmainnah; (4) Vignette Semar (gambar Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, Hari
arsir Semar) melambangkan budi luhur. Akhir, dan Takdir.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 55
54
Firaq
3. Mereka memiliki ‘kitab suci’ sendiri Katholik, Protestan, Hindu dan
dan tidak beriman kepada al-Qur’an. Budha. Aliran Kebatinan yang tidak
4. Mereka memiliki sistem peribadatan sedikit jumlahnya itu dalam sensus
sendiri. penduduk dan pembuatan KTP
dimasukkan ke dalam Islam. Baru setelah
5. Mereka tidak membedakan antara
ada TAP MPR yang memberikan legalitas
wahyu dengan bisikan syetan.
adanya wadah resmi bagi penganut aliran
6. Ajaran mereka banyak bersumber kepercayaan, sebagian mereka keluar
dari ajaran Hindu. dari kelompok Islam, sehingga penduduk
Anggapan masyarakat bahwa ajaran yang beragama Islam berkurang (tinggal
Kejawen Sapto Darmo merupakan sekte 90%).
atau bagian dari Islam dengan Kejawen Sapto Darmo adalah bukan
memberikan label Islam Kejawen ajaran Islam dan justru bertentangan
adalah anggapan yang sesat dan dengan ajaran Islam. Akan lebih tepat
menyesatkan. Anggapan tersebut banyak dikatakan bahwa Kejawen Sapto Darmo
didasarkan pada ‘klaim politik’ yang termasuk salah satu sekte dari ajaran
menyatakan bahwa agama penduduk Hindu, persisnya Hindu Jawa.
Indonesia itu adalah 98 % Islam. Islam
di sini maksudnya adalah selain Wallahu A’lam bis Shawab

56 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 57
56
Profil
1

tahun terakhir dari masa kekhalifahan


Umar bin al-Khathab, lahirlah seorang
bayi, yang kelak menjadi ulama besar
pada zamannya. Bayi yang Allah berkati
dengan do’a para sahabat Nabi , do’a
khalifah Umar bin al-Khathab, dengan
do’anya, “Ya Allah jadikan anak ini orang
yang faqih dalam urusan agama, dan
jadikan ia orang yang dicintai manusia.”
Ditambah regukkan susu dan asuhan
Isteri Baginda nabi yang mulia Ummu
Oleh: Abul Khoir Salamah , karena memang ibu al-Hasan
al-Bashri adalah pembantu isteri
Dia adalah al-Hasan Abu Sa’id putra Rasulullah  yang bertugas menyusukan
dari Abi al-Hasan yang bernama Yassar anaknya. Sehingga, tatkala ummul
yang merupakan budak (hasil rampasan Mu’minin menugaskannya untuk suatu
perang) dari daerah Maisan 2, yang keperluan, yang mengaharuskannya
terdampar dan tinggal di Madinah, lalu untuk keluar rumah, Ummul Mu’mininlah
dibeli oleh ar-Rubayyi’ binti an-Nadhar yang mengantikan pengasuhan al-Hasan
bibi dari Anas bin Malik , kemudian al-Bashri yang acap kali menangis
dimerdekakan.3 Adapun kata al-Bashri sepeninggal ibunya. Untuk meredakan
yang disandangnya adalah penisbatan tangis bayi al-hasan biasanya Umul
kepada kota dimana ia tinggal dan Mu’minin menyusukannya sambil
menghabiskan umurnya. membawanya berkeliling-keliling kepada
para sahabat nabi.
Ibu dari al-Hasan yang bernama
Khairah adalah maulah4 Ummu Salamah Al-Hasan al-Bashri tumbuh di tengah-
Ummul Mu’minin (isteri Rasulullah) al tengah lautan ilmu dan hadits, karena
Makhzumiyah5 Allah masih perkenankannya untuk
bertemu dengan banyak para sahabat
 Kelahiran dan Masa nabi, generasi yang langsung
Pertumbuhannya bersentuhan dengan cahaya wahyu serta
Singkat cerita, dari pernikahan Yassar kedalaman akhlak dan pribadi Rasulullah
Abu Sa’id dan Khairah, tepatnya dua . Beliau turut menyaksikan peristiwa

1
Siar A’lam an-Nubala al hasan al Basri IV/563.
2
Sebuah daerah yang luas antara kota Bashrah dan Wasith, yang dikenal subur dengan
pepohonan kurma dan memiliki banyak desa. (Lihat Mu’jam al-Buldan V/242).
3
Ada pula yang mengatakan maula Zaid bin Tsabit al-Anshari atau maula Abu al-Yasr Ka’ab bin
Amr as-Sulami.
4
Pembantu perempuan yang diambil dari budak yang telah ia bebaskan sendiri.
5
Sebagian yang lain mengatakan maulah dari Jamil bin Quthbah.

58 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Profil
besar yang terjadi dikalangan sahabat, Abu Huraiz Abdullah bin al-Husain Qadhi
ikut hadir dalam pelaksanaan shalat Sijistan, dan lainnya.
jum’at bersama Utsman , mendengar
langsung Utsman  berkhutbah; juga  Sifat
dan Keutamaan al-
turut menyaksikan peristiwa yang Hasan al Bashri
menjadi fitnah besar di kala itu,
pengepungan rumah khalifah Utsman  Beliau adalah salah satu Ulama
yang dikenal dengan Yaum ad-Dar. Tatkala Tabi’in7,.8 Beliau bukan hanya seorang
itu berusia empat belas tahun. ulama, guru dan mufti penduduk Bashrah
pada saat itu, akan tetapi juga seorang
 Guru-guru dan Murid- mujahid yang dikenal pemberani
muridnya pada zamannya. Sosok yang
berwibawa, sempurna fisiknya
Al-Hasan al-Bashri belajar Al-Hasan
dan dikenal sebagai orang
al-Quran dari Hitthan bin al-Bashri tumbuh
yang sangat mirip
Abdullah ar-Raqasy dan di tengah-tengah pendapatnya dengan
dari sejumlah tabi’in. lautan ilmu dan hadits,
Umar bin al-Khathab .
Sedangkan periwayatan karena Allah masih Sampai-sampai sahabat
hadits beliau banyak memperkenankannya Anas bin Malik
meriwayatkannya dari untuk bertemu dengan mensifatinya sebagai
sahabat nabi , baik banyak para sahabat orang yang sangat kuat
secara langsung nabi, generasi yang hapalannya. Dan
maupun tidak langsung langsung bersentuhan berkata, “Belum pernah
seperti Anas bin Malik, dengan cahaya wahyu kedua mataku melihat
Abdullah bin Mughaffal,
serta kedalaman orang yang paling faqih
Abdurrahman bin
akhlak dan pribadi daripada al-Hasan.”
Samurah, Amr bin Taghlib,
Rasulullah  Al-Hasan al-Bashri adalah
dan dari Ahmar (bin Juz’ as-
Sadusi).6 orang yang tampan, yang biasa
Karena al-Hasan adalah alim mewarnai lihyah (jenggot)nya
besar pada zamannya tidak sedikit dari dengan warna kuning. Sebagian
murid-muridnya dan para ulama sejaman muridnya sering membandingkan ilmu al-
dengannya yang meriwayatkan hadits Hasan al-Bashri dengan alim yang lain,
dari jalannya. Yang masyhur diantaranya: sebagaimana yang di katakan Qotadah
Ayub (As-Sikhtiyani), Syaiban bin (ulama tabi’in), “Tidaklah aku kumpulkan
Abdurrahman an-Nahwi, Yunus bin ilmu al-Hasan dengan ulama yang lain
Ubaid, Abdullah bin ‘Aun, Hisyam bin melainkan aku dapatkan ia (al-Hasan)
Hassan, Humaid at-Thawil, Tsabit al- memiliki keutamaan/kelebihan, kecuali
Bunani, Malik bin Dinar, Jarir bin Hazim, jika mendapatkan suatu permasalahan,

6
Adapun dari para sahabat yang lainnya beliau meriwayatkannya secara mursal.
7
Generasi setelah Rasulullah dan sahabat.
8
Tafsir Qurtuby I/36

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 59
58
Profil
maka ia menulisnya dan mengirimkannya Ketika kami singkap ternyata berisi roti
pada Sa’id bin Musayyib untuk dan buah-buahan. Kami memakan apa
menanyakannya; dan tidaklah aku duduk yang ada dari isi keranjang tersebut. Al-
di majelis orang yang faqih melainkan Hasan terjaga dan memandangi kami. Ia
aku dapatkan kelebihan dari al-Hasan.” tersenyum dan membaca ayat:
Sekalipun ia bukan seorang sahabat
tetapi dengan ketinggian ilmunya “Atau sahabat kalian maka tidak ada dosa
menjadikannya sebagai tempat bertanya atas kalian.”
dan belajar. Sampai-sampai dikatakan
salah seorang muridnya Auf, “Aku tidak Al-Hasan al-Bashri adalah ulama yang
melihat seorangpun yang lebih tahu jalan selalu mengisi hari harinya dengan
menuju syurga dari pada al Hasan.” ibadah, beliau biasa berpuasa baidh9,
puasa pada bulan-bulan haram dan
Al-Hasan al-Bashri dikenal sebagai berpuasa setiap hari senin dan kamis.
ulama yang tawadhu dan qana’ah Berkata Qotadah, mengomentari
sebagaimana yang nampak dari salah kefaqihan al-Hasan al-Bashri, “Ia adalah
satu perkataannya yang diriwayatkan termasuk orang yang paling mengerti
oleh Hausyab, “Wahai anak adam, jika masalah halal dan haram”
kalian membaca Al-Qur’an kemudian
kalian mengimani isinya, niscaya kalian
 Majelis al Hasan al Bashri
akan merasakan kesedihan yang
berkepanjangan di dunia; kalian akan Al-Hasan al-Bashri memiliki majelis
merasakan ketakutan yang sangat, serta ta’lim di rumahnya yang ia khususkan
akan banyak menangis.” untuk membicarakan permasalahan
zuhud10, akhlak dan ilmu kejiwaan, yang
Al-Hasan al-Bashri juga dikenal
hampir-hampir tidak membicarakan
dengan kedalaman ilmunya sehingga
masalah lainnya selain masalah tersebut.
salah satu muridnya Abu Salamah al-
Jika ada seseorang bertanya tentang
Tabuzaki mengatakan “Aku hafal dari al-
masalah lainnya, ia tidak akan
Hasan 8.000 masalah (agama).”
menjawabnya.
Ada sebuah kisah yang menunjukkan
Al Hasan Al Bashri juga memiliki
kebesaran hati dan kefaqihan al-Hasan
majelis ta’ lim di masjid yang
al-Bashri yang di sampaikan oleh Ibnu
membicarakan masalah hadits, fiqih, ilmu
al-Mubarak, dari Ma’mar, dari Qatadah,
Al Qur’an, bahasa dan ilmu-ilmu yang
ia berkata, “Kami pernah datang kepada
lain. Terkadang jika ia ditanya tentang
al-Hasan. Ketika itu ia sedang tidur. Dan
yang lain11, ia akan menjawabnya.
terdapat keranjang di dekat kepalanya.

9
Puasa tiga hari pada tiap pertengahan bulan.
10
Tidak tamak terhadap apa yang ada pada orang lain dari kelebihan harta dunia yang Allah
berikan untuknya. Tetapi bukan berarti tidak peduli dengan kebutuhan duniawi secara mutlak.
11
Maksudnya adalah hal-hal yang menyangkut perilaku akhlak dan kejiwaan, seperti zuhud, rendah
hati, sopan santun, murah hati dan semisalnya.

60 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Profil
Mereka yang hadir di majelis ta’lim berkabung, dengan perginya seorang
al-Hasan al-Bashri ada yang ingin ulama umat. Perginya seorang ulama
menimba ilmu hadits; ada pula yang ingin tempat bertanya dan meminta
menimba ilmu Al Qur’an, bayan, keputusan. Yang selalu dipetik mutiara-
balaghah, ada pula yang ingin belajar mutiara nasihatnya. Pergi untuk selama-
keikhlasan darinya serta ilmu-ilmu khusus lamanya. Beliau pergi dengan
yang lain. meninggalkan goresan tinta emas sejarah
ilmu dan hikmah. Allah berkenan
Sudah menjadi sunatullah sebagai
mengambilnya pada usianya yang lanjut
seorang ulama tentu ada saja yang
88 th. Semoga Allah melimpahkan
berusaha mencari-cari kesalahan serta
rahmat-Nya kepada beliau dan
mencela beliau, akan tetapi beliau selalu
membalasnya dengan kebaikan yang
mengetahui akan apa yang telah
berlimpah13
dikatakan tentangnya.12
Wajarlah jika seandainya Ayyub As-  Kedudukan Riwayat al-
Sikhtiyani berkata, “Seandainya engkau Hasan al-Bashri
mengikuti majelis ta’lim al-Hasan niscaya
engkau akan mengatakan kalau engkau Dinilai shahih riwayat hadits yang
tidak pernah ikut dalam majelis orang berasal dari Al-Hasan jika melalui sahabat
faqih (faham agama) sama sekali kecuali Anas bin Malik, Ibnu Umar, Abu Barzah,
al-Hasan al-Bashri. Abdullah bin Mughaffal, Abdurrahman bin
Samurah, Amr bin Ta’lab, Ahmar dan
Ucapan al-Hasan dikenal menyerupai Mu’aqqal bin Yassar. 14 Orang yang
perkataan para nabi  dikarenakan meriwayatkan hadits darinya adalah As
untaian-untaian hikmah yang selalu Sa’bi, Yunus, Ibnu Abdillah dan Syu’bah.
mengalir dari bibirnya.
Al-Hasan dikenal banyak mentadlis15
hadits, dan banyak periwayatannya yang
 Wafatnya
mursal16 meskipun demikian para ulama
Hari kamis ba’da ashar pada bulan memiliki penilaian khusus tentang hadits-
rajab tahun 110 H, kota Bashrah dan hadits yang diriwayatkan oleh beliau,
seluruh umat Islam pada saat itu sehingga walaupun ia dikenal sebagai

12
Yaitu bahwa beliau pernah terjatuh dalam satu kesalahan mengenai qadar (takdir), beliau pernah
mengatakan bahwa kebaikan itu ditakdirkan oleh Allah, dan keburukan (kejahatan) tidak. Namun al-
Hasan telah rujuk dari kesalahannya tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman at-Taimi.
Dan itu dibuktikan berdasarkan kabar dari Humaid yang mendengar bahwa al-Hasan mengatakan,
“Allah menciptakan syetan, menciptakan kebaikan, dan menciptakan keburukan (kejahatan).”
13
Disusul wafatnya Muhammad bin Sirrin yang juga merupakan ulama pada saat itu. setelah seratus
hari kamatiannya. Wafat menyusul kepergian al-Hasan al-Bashri.
14
Al-Jarh wa At-Ta’dil III/40 oleh Abu Abdurrahman Ar-Razi At-Taimi. Imam Ahmad bin Hanbal
berkata, “Riwayat ini tidak Mustafid.”
15
Yaitu tidak menyebutkan perantara dalam periwayatan hadits, padahal ada.
16
Jami’ at-Tahshil I/162. Nasa’i dan lainnya menisbatkan kepada Al-Hasan sifat Tadlis Isnad. Lihat
kitab Thabaqat al-Mudallis I/29 dan kitab Taqrib at-Tahdzib I/60.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 61
60
Profil
rawi yang banyak mentadlis dan Yahya bin Sa’id Al Qaththan berkata,
periwayatannya banyak yang mursal para “Hadits yang disampaikan oleh al-Hasan
ulama tetap menilai kehujahannya. adalah apa yang disabdakan Rasulullah
Sebagaimana yang dikatakan para , dan kita mendapatkan asalnya, selain
ulama, seperti Ibnu Hajar menilai al- satu atau dua hadits.”
Hasan al-Bashri sebagai seorang
Ibnu Taimiyah berkata, “Mungkin
periwayat yang tsiqah, faqih, fadhil, dan
yang dimaksud ketiga orang alim diatas
masyhur.17 Ia merupakan periwayat
adalah apa yang diriwayatkan oleh al-
terbaik di antara periwayat-periwayat
Hasan dengan ungkapan yang Jazm19.”
hadits pada Thabakhat (tingkatan) ketiga
dalam sanad. Sulaiman bin Musa berkata, “Jika ilmu
datang dari arah Jazirah (negeri Arab)
Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al Kasyif
yaitu dari Maimunah bin Mihran kami
mengatakan bahwa Al-Hasan meriwayatkan
menerimanya; jika datang dari arah
hadits dari Imran bin Husain, Abu Musa,
Bashrah yaitu dari al-Hasan al-Bashri kami
Ibnu Abbas, dan Jundub. Adapun yang
menerimanya; jika datang dari arah Hijaz
meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu
yaitu dari Az-Zuhri kami menerimanya;
Aun, Yunus dan lainnya. Beliau adalah
begitu juga jika datang dari arah Syam
orang besar, terkenal, dan yang menjadi
yaitu dari Mak-hul kami pun menerimanya.
ujung tombak ilmu dan amal pada
Mereka berempat adalah ulama pada
zamannya.
zaman Hisyam.20
Muhammad bin Sa’id berkata, “Setiap
hadits yang disandarkan kepadanya atau
diriwayatkan oleh orang yang mendengar  Sebagian Untaian Hikmah
darinya derajatnya adalah hasan dan Al-Hasan Al-Bashri
menjadi hujjah; sedang hadits yang Al-Hasan pernah berkata, “Wahai
diriwayatkan secara mursal darinya tidak anak Adam, sesungguhnya sebab
boleh dijadikan hujjah.18 lemahnya keyakinanmu adalah karena
Berkata Ibnul Madini, “Hadits-hadits engkau lebih percaya dengan yang ada
mursal yang diriwayatkan oleh Al-Hasan ditanganmu daripada apa yang ada di
al-Bashri berderajat tsiqah shahih; hanya tangan Allah.”
sedikit yang Yaskut (diabaikan). Bahwa al-Hasan pernah berkata,
Abu Zur’ah berkata, “Segala sesuatu “Demi Allah, sungguh ghibah
yang dikatakan oleh al-Hasan dengan (menggunjing) itu lebih cepat
ungkapan “Rasulullah  bersabda” aku (memakan) agama seorang mukmin
menemukan ada asal yang shahih, daripada ulat-ulat yang memakan
kecuali empat hadits.” tubuhnya.”

17
Taqrib at-Tahdzib I/60.
18
Tadrib ar-Rawi I/204,287.
19
Yaitu dengan menggunakan kata kerja aktif.
20
Tadrib ar-Rawi I/204,287.

62 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM
Profil

 Referensi:
1. Siyar A’lam an-Nubala, karya Imam ad-
Wahai anak Adam, Dzahabi (673-748 H), juz IV dari
hal.563, Muassat ar-Risalah, Beirut, cet.
sesungguhnya sebab IX/1413, tahkik Syu’aib al-Arna’uth.
lemahnya 2. At-Thabaqat al-Kubra, karya Ibnu Sa’ad
(168-230 H), juz VII dari hal. 156, Dar
keyakinanmu adalah Beirut, Beirut, th.1398 H.
karena engkau lebih 3. Al-Jarhu wa at-Ta’dil, karya Ibnu Abi
Hatim ar-Razi (327 H), juz 3 dari hal.
percaya dengan yang 40, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut,
ada ditanganmu cet. I/1271 H.
4. Jami’ at-Tahsil, karya Abu Sa’id al-‘Ala’i
daripada apa yang (694-761 H), juz I dari hal. 162, ‘Alam
ada di tangan Allah al-Kutub, Beirut, cet II/1407 H, tahkik
as-Syaikh Hamdi as-Salafi.
5. Tahdzib al-Kamal, karya al-Hafizh al-
Mizzi (654-742 H), juz VI dari hal. 95,
Beliau pernah berkata, “Wahai anak Muassat ar-Risalah, Beirut, cet. I/1400,
Adam, juallah duniamu dengan tahkik Dr. Basysyar ‘Awad Ma’ruf. Atau
akhiratmu niscaya kamu akan copian manuskrip Dar al-Kutub al-
memperoleh keduanya, dan jangan kamu Mishriyyah, cet. II/1413 H, Dar al-
jual akhiratmu dengan duniamu karena Ma’mun lit Turats, Damaskus – Beirut.
kamu akan kehilangan keduanya.”
6. Tahdzib at-Tahdzib, karya al-Hafizh Ibnu
Malik bin Dinar pernah bertanya Hajar (773-852 H), juz II dari hal. 231,
kepada al-Hasan, “Apa akibatnya bila Dar al-Fikr, Beirut, cet.I/1404 H.
seorang alim mencintai dunia?” Beliau 7. Al-Kasyif, karya Imam ad-Dzahabi (673-
menjawab, “Hatinya akan mati, karena 748 H), juz I dari hal. 322, Dar al-Qiblah,
bila dia mencintai dunia dia akan Jeddah, cet. I/1413 H, tahkik
mencarinya dengan (mengorbankan) Muhammad ‘Awwamah.
amal akhirat, disaat itulah berkah ilmunya
8. Tadzkiratul Huffazh, karya Ibnu Thahir
akan sirna, dan yang tertinggal hanyalah
al-Qaysarani (448-507 H), juz I dari hal.
bekasnya saja.”
71, Dar ash-Shumai’I, Riyadh, cet. I/
Masih banyak lagi untaian-untaian 1415 H, tahkik as-Syaikh Hamdi as-
hikmah al-Hasan yang tidak Salafi.
memungkinkan untuk menyampaikannya 9. al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu
disini. Semoga kita bisa mengambil Katsir (774 H), juz IX hal. 224 dan 226-
pelajaran darinya. 230, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut,
—Wallu a’lam bi as-Shawab— cet. I/1415 H.

Fatawa Vol.
Fatawa Vol.
01/02/
I / IRamadhan
/ Syawwal 1423 H - 2002 M 63
62
Islamic Center Bin Baaz  Pondok Pesantren Jamilurrahman  Balai Pengobatan dan Rumah
Sakit Bersalin  Pembinaan Dakwah di Kampus , Masjid-Masjid, Daerah Terpencil, dan lain-lain

Dana dapat Anda disalurkan ke:


Rek. Giro. No. 801.20173001
a.n. Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy Yogyakarta

Daftar Penyumbang s/d Syawwal 1423H


1. Saldo s/d 1 Ramadhan 1423 H Rp 1.648.000,-
2. Dr. Sagiran, M.Kes.(Jl. Imogiri) Rp 100.000,-
3. Hamba Allah (Kodya Jogja) Rp 50.000,-
4. Ir. Mukhlis Fajri (Banguntapan) Rp 200.000,-
5. Bapak Zaenal (Jakarta Utara) Rp 7.000.000,-
6. Muhsinin Surabaya Rp 19.700.000,-
7. Bapak Agus Santoso (Jakarta Timur) Rp 20.000.000,-
8. Hamba Allah (Kodya Jogja) Rp 10.000,-
9. Abu Faruq (Bojonegoro-Jatim) Rp 25.000,-
10. Irfal (ICBB) Rp 15.000,-
11. Wali santri (Jepang) Rp 2.000.000,-

Jumlah Rp 50.748.000,-

Realisasi bulan Ramadhan 1423 H/Nopember 2002


1. Dari Bapak Zaenal telah direalisasikan sesuai
dengan amanah beliau. Rp 7.000.000,-
2. Dari Bapak Agus Santoso telah direalisasikan
sesuai dengan amanah dan Rincian dari Beliau Rp 20.000.000,-
3. Dari Muhsinin Surabaya telah direalisasikan
untuk da’i dan dakwah daerah terpencil Rp 19.700.000,-

Jumlah realisasi Rp 46.700.000,-

Saldo s/d Syawal 1423 (1 Desember 2002) Rp 4.048.000,-

Atas amal jariyahnya, kami doakan


Administratur
Dana Peduli Dakwah Salafiyah

Ir. Tri Madiyono.

64 Fatawa Vol. 02/


01/ I / Syawwal
Ramadhan1423
1423
HH- 2002
- 2002
MM