Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

PEMELIHARAAN SERANGGA

Disusun Oleh :
Kelompok 1
1. Fitri Fatma Wardani A34080005
2. Agus Wahid Salim A34080012
3. Imam Khoiri A34080034
4. Musfirotun Oktafani A34080061
5. Gusto Simatupang A34080085

Dosen Pembimbing:
Dr.Ir. Nina Maryana, M.Sc.
\Dr.Ir.I Wayan Winasa, M.Sc.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Serangga adalah mahluk hidup unik yang mampu bertahan di dunia ini.
Selama hidupnya, serangga berubah bentuk beberapa kali. Perubahan ini disebut
metamorfosa. Ada empat macam metamorfosa, yakni ametabola, hemimetabola,
paurometabola dan holometabola. Beberapa jenis serangga mengalami
holometabola. Metamorfosa ini mempunyai empat bentuk: mulai dari telur,
menjadi larva (= ulat = tempayak = lundi), kemudian kepompong, baru dewasa.
Contohnya adalah ngengat: telur menetas menjadi ulat. Ulat berganti kulit
beberapa kali, kemudian membuat kepompong. Setelah beberapa waktu, ngengat
dewasa keluar dari kepompong. Hanya dewasa yang dapat terbang dan kawin.
Contoh lain adalah kumbang kubah serangga yang mengalami metamorfosa
sempurna mungkin tergolong hama (seperti penggerek buah kopi) atau mungkin
tergolong musuh alami (seperti semut rangrang).
(http://abahjack.com/tag/pengertian-daur-hidup-serangga)
Jika serangga tertentu tidak mengalami holometabola, berarti dia
mengalamipaurometabola. Paurometabola ini mempunyai tiga bentuk, mulai dari
telur, menjadi nimfa (serangga muda), kemudian dewasa. Dengan demikian
metamorfosa tidak sempurna, tidak terdapat bentuk kepompong. Contohnya
adalah kepik dan capung. Telur menetas menjadi nimfa, kemudian melepaskan
kulitnya beberapa kali bila sedang mengalami proses perkembangan. Pada saat
melepas kulit terakhir, nimfa berubah menjadi serangga dewasa.
(http://abahjack.com/tag/pengertian-daur-hidup-serangga)
Waktu yang diperlukan mulai dari telur diletakkan sampai telur menetas,
berkembang menjadi serangga dewasa (imago) dan sampai dapat meletakkan telur
pertamanya disebut dengan siklus hidup. Sedangkan waktu yang dibutuhkan
untuk berkembang pada tahap perkembangan tertentu disebut dengan stadia.
Dalam silkus hidup tersebut akan ditemui beberapa istilah, yaitu instar,
ganti kulit (ekdisis), eksuvium (eksuvia), dan praoviposisi. Instar adalah tahap
perkembangan pada serangga yang ditandai dengan adanya ganti kulit. Ganti kulit
(ekdisis) adalah pergantian eksoskeleton lama dengan eksoskeleton baru,

2
sedangkan eksuvia adalah eksoskeleton lama yang ditinggalkan serangga.
Praoviposisi adalah masa sebelum serangga dewasa (imagao) dapat meletakkan
telur pertamanya.

Tujuan
Tujuan dilakukanya praktiku ini adalah untuk mengetahui berapa lama
siklus hidup Spodoptera litura dan Riptortus linearis, agar dapat menentukan
teknik pengendalian yang tepat. Selain itu, untuk mengetahui bentuk morfologi
kedua serangga tersebut.

3
BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan dalam praktikum pemeliharaan serangga kali ini
adalah Imago serangg Riptortus linearis (Hemiptera:Alydidae) sebagai serangga
paurometabola dan Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) sebagai serangga
holometabola. Makanan kedua serangga tersebut yaitu kacang panjang untuk
Riptortus linearis dan daun kangkung atau daun talas untuk Spodoptera litura,
serta kertas saring untuk alas dan kertas label.
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah cawan Petri, wadah
plastic berkasa, gunting, kuas kecil dan termohigrometer.

Metode
Untuk mengawali pengamatan, imago kedua serangga harus dipelihara
sampai menghasilkan telur. Imago Riptortus linearis diperoleh dari lapang, dan
diperkirakan sudah kopulasi sehingga tinggal menunggu telur diletakkan. Imago
S.litura perlu dikawinkan terlebih dhulu karena serangga tersebut dipelihara di
laboratorium.
Setelah serangga bertelur, masing-masing telur dipindahkan ke dalam
cawan Petri yang dialasi kertas lembab. Telur diamati hingga menetas dan
stadium telur dihitung. Suhu dan kelembaban dicatat setiap hari pada waktu yang
sama. Cawan Petri disiapkan dengan cara memberi alas dengan kertas saring dan
dilembabkan dengan sedikit air. Kacang panjang 4 sampai 5 cm dimasukkan ke
dalam cawan Petri, salah satu ujungnya diberi kapas basah. Ke dalam cawan Petri
lain diberi satu lembar daun kangkung atau daun talas.
Nimfa atau larva yang baru keluar diletakkan ke dalam cawan Petri dengan
menggunkan kuas kecil. Setiap cawan petri diisi dengan satu individu.
Perkembangan serangga diamati setiap hari, dan dihitung jumlah ganti kulit dan
dihitung pula stadium setiap instar. Pengamatan ganti kulit pada instar-instar awal
dilakukan di bawah mikroskop karena instar awal relatif masih kecil. Makanan
dan kertas alas diganti dua hari sekali atau bila makanan sudah habis dan kering.

4
Untuk S.litura, menjelang berpupa larva dipindahkan ke wadah plastik
yang telah diberi media untuk berpupa (serbuk gergaji atau tanah kering).
Dihitung masa prapupa. Setelah serangga mulai berpupa, dihitung stadium pupa
(kokon boleh dibuka). Setelah keluar menjadi imago, media tanah dibuang, imago
diberi madu yang diserapkan ke bulatan kapas. Kemudian amati masa praoviposisi
dan hitung siklus hidupnya.

5
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1 Suhu dan Kelembabab
Kelompok Rata-Rata Suhu Rata-Rata Rata-rata Rata-rata
Per Kelompok Kelembaban Suhu Kelembaban
(0C) per Kelompok Kelompok(0C) Kelompok
1 26.57 78.26 26.83 77.80
2 27.32 78.82
3 26.52 78.00
4 26.63 78.00
5 26.40 78.00
6 27.00 76.87
7 27.40 76.70

Tabel 2 Tahap Perkembangan Spodoptera Litura


Fase Kelompok (hari) Rata-rata
Perkembangan 1 Perkemabangan
2 3 4 5 6 7 (hari)
Telur 3 3 4 4 3 3 3 3.29
Larva 1 4 3 3 3 3 4 3 3.29
2 4 3 3 3 4 3 4 3.43
3 5 4 4 4 4 5 4 4.29
4 7 4 4 4 5 4 4 4.57
Pupa 11 7 7 7 10 4 7 7.57
Imago 3 8 5 6 8 9 5 6.29
Siklus Hidup 37 32 30 31 37 32 30 32.71

Tabel 3 Tahap Perkembangan Riptortus Linearis


Fase Kelompok (hari) Rata-rata
Perkembangan 1 Perkemabangan
2 3 4 5 6 7 (hari)
Telur 8 8 8 8 8 8 7 7.86
Larva 1 3 3 4 4 9 2 3 4.00
2 4 4 3 3 7 3 4 4.00
3 3 4 3 4 5 3 4 3.71
4 3 4 5 4 5 5 5 4.43
5 3 4 4 4 6 4 4 4.14
Imago 5 6 7 4 5 7 5 5.57
Siklus Hidup 29 33 34 31 39 32 32 32.86

6
Pembahasan
Spodoptera litura merupakan salah satu jenis hama tanaman terpenting
yang menyerang palawija dan sayuran di Indonesia. Hama ini sering
mengakibatkan penuruan produktivitas bahkan kegagalan panen karena
menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpoyong-potong, dan
berlubang. Bila tidak segera diatasi maka daun atau buah di areal pertanian akan
habis.
Instar pertama tubuh larva berwarna hijau kuning, panjang 2 sampai 2,74
mm dan tubuh berbulu-bulu halus, kepala berwarna hitam dengan lebar 0,2
sampai 0,3 mm. Instar kedua, tubuh berwarna hijau dengan panjang 3,75 sampai
10 mm, bulu-bulunya tidak terlihat lagi, dan pada ruas abdomen pertama terdapat
garis hitam meningkat pada bagian dorsal terdapat garis putih memanjang dari
toraks hingga ujung abdomen. Pada toraks terdapat 4 buah titik yang berbaris dua-
dua. Larva instar ketiga memilki panjang tubuh 8 sampai 15 mm dengan lebar
kepala 0,5 sampai 0,6 mm. pada bagian kiri dan kanan abdomen terdapat garis
zigzag berwarna putih dan bulatan hitam sepanjang tubuh. Instar keempat, kelima,
dan keenam agak sulit dibedakan. Untuk panjang tubuh instar keempat 13 sampai
20 mm, instar kelima 25 sampai 35 mm, dan instar keenam 35 sampai 50 mm.
Mulai instar keempat warna bervariasi yaitu hitam, hijau keputihan, hijau
kekuningan atau hijau keunguan. Ulat berpupa dalam tanah, membentuk pupa
tanpa kokon berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 16 mm.
Imago berupa ngengat berwarna hitam kecoklatan. Pada sayap depan
ditemuka spond-spond berwarna hitam dengan strip-strip putih dan kuning. Sayap
belakang biasanya berwarna putih. (Ardiansyah, 2007)
Spodoptera litura merusak pada stadia larva, yaitu memakan daun,
sehingga menjadi berlubang-lubang. Biasanya dalam jumlah besar, hama ini
pindah dari tanaman yang telah habis dimakan daunnya ke tanman lainnya
(Pracaya, 1995).
Imago Spodoptera litura betina dapat meletakkan telur 2000 sampai 3000
telur. Siklus hidup berkisar antara 30 sampai 60 hari (lama stadium telur 2 sampai
4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar 20 sampai 46 hari, dan pupa 8 sampai 11
hari). (Ardiansyah, 2007).

7
Dari pengamatan dihasilkan bahwa rata-rata siklus hidup Spodoptera
litura yang dipelihara dalam laboratorium adalah 33 hari. Suhu rata-rata saat
pengamatan adalah 26,830C, sedangkan kelembaban rata-rata saat pengamatan
adalah 77,8.
Siklus hidup Riptortus linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri
atas 5 instar, dan stadium imago. Imago berbadab panjang dan berwarna kuning
kecoklatan dengan garis putih kekuningan di sepanjang sisi badannya. (Tengkano
dan Dunuyaali, 1976). Seekor imago betina ampu meletakkan telur hingga 70
butir selama 4 sampai 47 hari. Imago jantan dan betina dapat dibedakan dari
bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang 11 sampai 13 mm
dan betina agak gemuk dengan panjang 13 sampai 14 mm. Telur hama ini
berbentuk bulat dengan bagian tengah agak cekung, rata-rata berdiameter 1,2 mm.
Telur berwarna biru keabuan kemudian berubah menjadi coklat suram. Setelah
enam sampai tujuh hari, telur menetas dan membentuk nimfa instar satu selama
tiga hari. Pada stadium nimfa, hama ini berganti kulit sebanyak 5 kali .Setiap
berganti kulit terlihat perbedaan bentuk, warna, ukuran, dan umur. Rata-rata
panjang tubuh instar 1 adalah 2,6 mm, instar 2 adalah 4,2 mm, instar 3 adalah 6
mm, instar 4 adalah 7 mm, dan instar 5 adalah 9,9 mm. (Tengkano dan Dunuyaali,
1976).
Hama ini sangat mobil dan mempunyai daya terbang yang amat kuat,
mempunyai inang yang banyak dan daerah sebaran yang cukup luas. (Suharsono,
1997). Stadia hama yang merusak polong adalah nimfa dan imago. Stadia nimfa
instar 3 sampai 4 mempunyai kemampuan merusak polong paling tinggi
dibanding nimfa instar lainnya. (Tengkano dan Dunuyaali, 1976).
Berdasarkan pengamatan, siklus hidup Riptortus linearis adalah 33 hari.
Suhu rata-rata saat pengamatan adalah 26,830C, sedangkan kelembaban rata-rata
saat pengamatan adalah 77,8.

8
KESIMPULAN

Spodoptera litura adalah salah satu hama yang memiliki perkembangan


holometabola. Tahap perkembangannya yaitu dari telur, larva, pupa dan imago.
Berdasarkan pemeliharaan di laboratorium, siklus hidupnya adalah 33 hari.
Riptortus linearis adalah satu hama yang memiliki perkembangan paurometabola.
Tahap perkembangannya adalah telur, nimfa, dan imago. Sama halnya dengan
S.litura, R.linearis juga memiliki siklus hidup selama 33 hari. Hal ini dapat terjadi
karena dilakukan pada ruangan yang sama dengan suhu dan kelambaban yang
relatif sama, sehingga tidak menghambat hama untuk berkembang secara optimal.

9
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman Perkebunan. Yogyakarta:


Kanisius.[23 April 2010]
Pracaya. 1995. Biologi dan Ekologi Hama. Bandung: Unpad Press.[23 April
2010]
Suharsono. 1997. Antixenoxis pada Galur IAC 80-596-100 sebagai Salah Satu
Model Ketahanan Tanaman terhadap Hama Penghisap Polong. Makalah
Kongres V dan Simposium Entomologi. PEI. Bandung, 24-26 Juni 1997.
[23 April 2010]
Tengakano dan Dunuyaali. 1976. Tingkat Kerusakan Ekonomi Penghisap Polong
Riptortua Linearis pada Tanaman Kedelai Orba. Tesis Fakultas Pasca
Sarjana IPB. 105 halaman. [23 April 2010]
http://abahjack.com/tag/pengertian-daur-hidup-serangga. [23 April 2010]

10