Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN DAN TEKNIK LABORATORIUM

PENGENALAN ALAT DAN BAHAN PEMBUATAN MIKROSKOPIS

Oleh :

Nama : Wahyu Kurniawan

NIM : J1C107057

Kelompok: I (Satu)

Asisten : Rosmalida Noprianti

PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI


FAKLUTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBANG MANGKURAT
BANJARBARU
2010
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laboratorium merupakan wadah atau tempat riset ilmiah, eksperimen,

pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat

untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali.

Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya

laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium

komputer, dan laboratorium bahasa (Balbach, 1996).

Laboratorium biologi berisi berbagai macam alat dan bahan yang digunakan

untuk keperluan laboratorium. Khususnya pada pembuatan sediaan atau preparat

mikroskopis sangat diperlukan alat dan bahan yang khusus. Sebelummembuat

sediaan mikroskopis sebaiknya kita terlebih dahulu mengenal alat dan bahn yang

telah disediakan. Selain mengenal diharuskan juga mengetahui fungsi masing-

masing alat dan fungsi masing-masing bahan. Agar tidak terjadi kesalahn di lain

hari kalau tidak mengenal dan mengetahui fungsi alat dan bahan maka akan

berakibat fatal. Dengan mengenal alat dan bahan juga dapat melakukan tahapan

demi tahapan demi tahapan dapat berjalan lancar (Balbach, 1996).

Didalam kerja yang dilakukan di laboratorium, seringkali terjadi kesalahan

dilaboratorium seperti kesalahan dalam pewarnaan sediaan dan kesalahan

skrining serta kesalahan inter-pretasi juga dapat mengakibatkan hasil positif palsu

yang tinggi. Suatu laboratorium sitologi yang baik tidak akan memberikan hasil

negatif palsu lebih dari 10%, untuk laboratorium sitologi dalam kaitannya dengan

kesalahan-kesalahan tersebut, maka sebaiknya selalu memperhatikan pengawasan

kualitas antara lain dengan:


• Melakukan pemeriksaan ulang (review) dari 10% hasil sitologi normal,

baik diulang secara manual atau dengan bantuan komputer (Pap Net).

• Pendidikan untuk meningkatkan kualitas.

• Pemeriksaan sitologi sekaligus dengan pemeriksaan kolposkopi juga

merupakan suatu pengawasan kualitas dan pengenalan alat dan bahan yang

digunakan untuk pembuatan sediaan mikroskopis (Volk, 1993). Praktikum

ini dilakukan karena ingin mengenal alat dan bahan yang digunakan untuk

pembuatan sediaan mikroskopis beserta fungsinya

1.2 TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal alat dan bahan yang

digunakan untuk pembuatan sediaan mikroskopis beserta fungsinya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Mikroteknik adalah ilmu yang akan mempelajari metode/ prosedur

pembuatan preparat mikroskopik. Aspek yang dipelajari :

1. Pengamatan => Identifikasi => mikroskopis

2. Pengukuran => mikrometri

3. Penggambaran => Camera usida (=prisma dan mikroproyektor)

4. Pemotretan => mikrofotografi

5. Mengetahui komponen bahan => mikrokimia/ histokimia/ marserasi

Dalam mikroteknik diperlukan serangkaian larutan yang dapat membantu

proses pembuatan preparat, antara lain :

 Larutan pembius : eter, klorofom, prokain, aseton, morfin, metan.

 Larutan fiksasi : formalin, alcohol, asam asetat, asam fikrat, asam kromat,

merkuri klorida, osmium tetraoksida, bouin, zenker, helly, FAA.

 Reagensia untuk dehidrasi : alcohol, dioxin, N-butil alcohol, minyak

aniline, minyak bergamot, minyak kayu cedar.

 Reagensia untuk penjernihan : minyak aniline, benzene, karbon

tetraklorida, karbon bisulfida, minyak kayu cedar, kloroform, minyak

cengkeh, xylol, dan toluol(toluene).

 Media untuk penyelubungan : paraffin, celloidin, asam stearat, lilin lebah.

 Media untuk penutupan preparat : balsam dammar, balsam Canada,

euparal, styrax, minyak cedar, venetian turpentine, lactophenol, gliserin

jelly, albumin.
 Zat untuk pewarnaan : acid fuchsin, eosin, hematoksilin, carmine, basic

fuchsin, gentian vilet, methylen blue.

Mikroteknik adalah ilmu yang akan mempelajari metode atau prosedur

pembuatan preparat mikroskopik. Aspek yang dipejari yaitu

1.Pengamatan (identifikasi) : mikroskopik

Contoh: Pollen malvaceae

2. Pengukuran : mikrometri

EPM: Eye Piece Micrometer dipasang didekat lensa okuler mikroskop, SM:

Stage Micrometer dipasang di dekat lensa obyektif, digunakan untuk kalibrasi

EPM. Skala: 2 ml/ 200 skala; 1 mm: 1000 mikron.

3. Penggambaran : camera usida (+ prisma & mikroproyektor)

4. Pemotretan : mikrofotografi

5. Mengetahui komponen bahan :mikrokimia/histokimia/marserasi (Djukri, 2007).

Pada mikroteknik ada beberapa macam jenis preparat yang sering

digunakan meliputi :

1. Preparat sementara, preparat ini tidak tahan lama, mediumnya air atau bahan

kimia yang mudah menguap

2. Preparat semipermanen, medianya adalah gliserin (tahan 1 pekan)

3. Preparat Awetan, jika telah diproses secara histologis kemudian diawetkan

dengan Canada Balsam. Canada Balsam larut dalam xylol (Djukri, 2007).

Ada juga macam-macam preparat berdasar metode pembuatan:

1. Whole mount yaitu membuat sediaan utuh

Contoh: sel tumbuhan/ hewan

2. Smear (ulas) yaitu dengan mengulaskan/ menggoreskan di atas obyek glass

sehingga mendapatkan selaput tipis


Contoh: pollen, darah, ulas vagina (utk mengetahui hewan bunting atau

tidak), tumbuhan sekulen

3. Squash yaitu ditekan dengan gelas penutup

Contoh: mitosis ujung akar bawang merah

4. Section yaitu dengan fiksasi (tergantung bahan) tumbuhan lebih lama butuh

waktu efektif: ± 3 hari.

5. Marserasi yaitu memisahkan serat-serat dari pohon kayu yang keras (Djukri,

2007).

Bahan- bahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan mikroskopis

meliputi :

1. Larutan-larutan pembius : eter, kloroform, aseton, prokain, morfin, metan.

2. Larutan-larutan untuk fiksasi : formalin, alcohol, asam asetat, asam pikrat,

asam kromat, merkuri klorida, osmium tetroksida, bouin, zenker, helly, FAA.

3. Reagensia untuk dehidrasi : alcohol, dioxin, N-butil alcohol, minyak aniline,

minyak bergamot, minyak kayu cedar.

4. Reagensia untuk penjernihan : minyak aniline, benzene, karbon tetraklorida,

karbon bisulfida minyak kayu cedar, kloroform, minyak cengkeh, xylol,

toluene.

5. Media untuk penyelubungan : paraffin, celloidin, asam stearat, lilin lebah.

6. Media penutupan preparat : balsam dammar, balsam Canada, euparal, styrax,

minyak cedar, venetian turpentine, lactophenol, gliserin jelly, albumin.

7. Zat warna untuk pewarnaan : acid fuchsin, eosin, hematoksilin, carmine,

basic fichsin, giemsa, gentian violet, methyl blue (Parjatmo, 1993).

Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dalam tubuh

manusia, yaitu sekitar 55-60% dari protein serum yang terukur. Albumin terdiri
dari rantai polipeptida tunggal dengan berat molekul 66,4 kDa dan terdiri dari 585

asam amino. Pada molekul albumin terdapat 17 ikatan disulfida yang

menghubungkan asam-asam amino yang mengandung sulfur. Molekul albumin

berbentuk elips sehingga bentuk molekul seperti itu tidak akan meningkatkan

viskositas plasma dan terlarut sempurna. Kadar albumin serum ditentukan oleh

fungsi laju sintesis, laju degradasi dan distribusi antara kompartemen

intravaskular dan ektravaskular. Cadangan total albumin sehat 70 kg dimana 42%

berada di kompartemen plasma dan sisanya dalam kompartemen ektravaskular

(Pujawati, 1992).

Albumin merupakan protein plasma yang berfungsi sebagai berikut:

1. Mempertahankan tekanan onkotik plasma agar tidak terjadiasites

2. Membantu metabolisme dan tranportasi berbagai obat-obatan dan senyawa

endogen dalam tubuh terutama substansi lipofilik (fungsi metabolit,

pengikatan zat dan transport carrier)

3. Anti-inflamasi

4. Membantu keseimbangan asam basa karena banyak memiliki anoda

bermuatan listrik

5. Antioksidan dengan cara menghambat produksi radikal bebaseksogen oleh

leukosit polimorfonuklear

6. Mempertahankan integritas mikrovaskuler sehingga dapat mencegah

masuknya kuman-kuman usus ke dalam pembuluh darah, agar tidak terjadi

peritonitis bakterialis spontan

7. Memiliki efek antikoagulan dalam kapasitas kecil melalui banyak gugus

bermuatan negatif yang dapat mengikat gugus bermuatan positif pada


antitrombin III (heparin like effect). Hal ini terlihat pada korelasi negatif

antara kadar albumin dan kebutuhan heparin pada pasien heemodialisis.

8. Inhibisi agregrasi trombosit (Cambel, 2002).

Pengujian keteratogenikan suatu agensia melalui uji toksikologi

perkembangan semakin penting saat ini ketika lingkungan hidup kita sehari-hari

dimasuki oleh agensia-agensia baru berpotensi toksis yang jumlah dan macamnya

terus melimpah. Agensia baru itu dapat berupa obat-obatan, bahan-bahan aditif

untuk makanan, bahan pencemar di lingkungan industri, pestisida, logam-logam

berat, pelarutpelarut organik, gelombang elektromagnetik, bunyi, temperatur

ekstrim, dan lainlain. Apabila embrio yang sedang berkembang terpajan pada

agensia tadi ada peluang proses perkembangannya menjadi tergganggu (Parjatmo,

2002).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 22 April 2010

bertempat di Laboratorium Dasar Ruang Biologi I Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gelas benda (objek), gelas

penutup, gelas ukur, pipet kecil, pipet besar, skalpel, jarum preparat, kuas,

gunting, pinset, tempat-tempat untuk pewarnaan, botol-botol tempat bahan kimia,

botol/tabung untuk fiksasi, lampu spiritus, botol balsam dengan batang gelas,

gelas-gelas petri, pensil, mikroskop, loupe, mikrotom, paravin oven/thermostat,

meja pemanasan/hotplate, gelas benda berlekuk, tempat untuk menyimpan

preparat, lap biasa, lap planel, kertas penghisap.

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan-larutan pembius

(eter, kloroform, morfin prokain, aseton dan metan), larutan-larutan untuk fiksasi

(formalin, alkohol, asam asetat asam pikrat, asam kromat, merkuri klorida,

osmium tetroksida,bouin,zenker, helly dan FAA), reagensia untuk dehidrasi

(alkohol bertingkat), reagensia untuk penjernihan (Minyak anilin, benzene, karbon

tetraklorida, karbon tetraisulfida, minyak kayu cedar, kloroform dan minyak

cngkih), media untuk penyelubungan (parafin, asam stearat, celloidin dan lilin

lebah), media untuk penutupan preparat (balsam damar, balsam kanada minyak

cedar, styrak, lactophenol, gliserin jelly dan albumin ), zat warna untuk pewarnaan

(eosin, hematoksilin, methyl blue, giemsa dan gentian violet), dan aquadest.

3.3 Prosedur Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan

mikroskopis.

2. Digambar dan dicatat keterangan serta fungsi alat yang digunakan dalam

pembuatan sediaan mikroskopis.

3. Dicatat keterangan serta fungsi bahan yang digunakan dalam pembuatan

sediaan mikroskopis.

4. Dimasukkan hasil yang diperoleh dalam tabel.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Daftar Alat yang digunakan dalam pembuatan sediaan mikroskopis

No. Nama Alat Gambar Fungsi Keteranga


n
1. Gelas Digunakan Berukuran
Benda untuk standar
(gelas meletakkan yaitu
objek) preparat 25x75 mm
(1x3
inches)

2. Kacamata Untuk Hanya


Lab melindungi diperguna
mata dari kan saat
kontaminasi praktikum
bahan-bahan berlangsun
yang berbahaya g

3. Masker Untuk Berupa


melindungi dari penutup
bau-bau yang mulut
tidak sedap dan dengan
melindungi dari hidung
bau bahan- yang
bahan kimia dikaitkan
yang berbahaya dengan
karet

4. Mikroskop Untuk melihat Alat optik


mikroorganisme yang
yang tidak dapat terdiri dari
dilihat dengan satu atau
mata telanjang, lebih lensa
pemeriksaan
preparat,
mencari bahan
sediaan, dsb

5. Mikrotom Membuat irisan Tebal dan


sediaan tipis tipis irisan
yang melalui dapat
penyelubungan diatur

6. Paraffin Untuk Suatu alat


oven atau mencairkan dengan
thermostat parafin ruangan
sehingga tertutup
sempurna yang suhu
didalam
dapat
diatur

7. Kuas Untuk Tidak


memindahkan untuk
irisan halus, air, memindah
dsb kan bahan
kimia

8. Jarum Untuk mengatur Jarum


Preparat irisan-irisan di dengan
atas gelas ujung
benda, letak bengkok
gelas penutup, atau lurus
dsb

9. Skalpel Untuk mengiris Seperti


bahan preparat pisau dari
atau memotong logam atau
blok paraffin. ebonit

10. Jarum Untuk Berupa


Suntik pengambilan suntikan
(Spuit) bahan cairan yang
dalam jumlah dilengkapi
sedikit dengan
jarum

11. Hot Plate Untuk Suhu dapat


penghangatan diatur
perekatan gelas
benda

12. Lampu Untuk Cepat


Spritus merekatkan memanask
blok pada an larutan
holder,
memanaskan
larutan dalam
tabung reaksi,
dsb

13. Gelas Ukur Untuk Ukuran


mengukur volumenya
cairan–cairan bermacam
(bahan kimia) -macam
dalam mulai dari
pembuatan 10 cc,
larutan–larutan 25cc, 50
(campuran) cc, sampai
untuk fiksasi, 500 cc.
dehidrasi,
dealkoholisasi,
dsb
14. Botol Untuk Bervolume
Tempat menyimpan 100 cc
Bahan bahan-bahan maupun
Kimia kimia 500 cc

15. Pipet Kecil Untuk Terbuat


meneteskan dari plastik
cairan, dipakai atau kaca
dalam
pencucian,
pewarnaan, dsb

16. Pipet Besar Dipakai pada Umumnya


pembuatan memiliki
larutan–larutan karet
tertentu untuk
pengisap

17. Loupe Untuk Berupa


pemeriksaan kaca
pendahuluan silinder
terhadap irisan-
irisan yang
masih diliputi
paraffin

18. Gelas Sebagai Ukurannya


Penutup penutup lebih kecil
preparat di atas daripada
gelas benda gelas
benda

19. Pinset Untuk Ada yang


membawa gelas memiliki
benda dan ujung
dengan ujung besar dan
sempit runcing
(runcing)untuk
membawa gelas
penutup

20. Cawan Petri Tempat ini Terbuat


biasanya dari kaca
dipergunakan borosilikat
waktu fiksasi tahan
pada pembuatan panas
preparat geser

21. Gunting Untuk Gunting


menggunting ada yang
bahan yang berukuran
akan dijadikan besar atau
preparat, untuk kecil
difiksir

Tabel 2. Daftar bahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan mikroskopis

No. Nama bahan Keterangan Fungsi


1. Larutan pembius Eter Digunakan untuk
membius bahan yang
berupa hewan.
2. Larutan fiksasi Formalin Digunakan untuk proses
fiksasi dengan
membunuh sel tanpa
mengubah posisi organel
yang ada di dalamnya.
3. Reagensia dehidrasi Alkohol bertingkat Digunakan untuk
menghilangkan air yang
ada dalam sel dan
memperoleh hasil yang
sempurna pada proses
infiltrasi.
4. Reagensia Xylol Digunakan pada proses
penjernihan dealkoholisasi dengan
menghilangkan
kandungan alkohol yang
ada dalam sel.
5. Media Parafin Digunakan untuk
penyelubungan mempermudah dalam
pengirisan sediaan.
6. Media penutupan Entellan Digunakan sebagai
preparat. perekat sediaan pada
gelas objek dengan gelas
penutup.
7. Zat pewarna Eosin dan Larutan Digunakan untuk
Giemsa 10%, pewarnaan sediaan agar
hematoksilin terlihat jelas pada saat
pengamatan.

4.2 Pembahasan
Praktikum pengenalan alat dan bahan pembuatan mikroskopis ini

bertujuan untuk mengenal alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan

sediaan mikroskopis beserta fungsinya. Alat-alat yang digunakan meliputi water

bath, Tempat-tempat untuk pewarnaan, Tempat-tempat untuk bahan kimia, Spuit

(suntikan), Scalpel, Pipet kecil, Pinset, Oven, mikrotom, mikroskop, masker,

loupe, lampu spritus, kuas, kacamata, jarum preparat, hot plate, gunting, gelas

petri, gelas ukur, gelas penutup, gelas objek, botol untuk fiksasi.

Gelas objek, ukuran standar adalah 25x75 mm. Dipakai untuk tempat

meletakkan preparat, yang berupa tumbuhan kecil, bagian tumbuhan yang berupa

serbuk irisan-irisan dan sebagainya. Gelas penutup, tebal medium, ukurannya

bermacam-macam atau bentuk lingkaran dengan diameter 18 atau 22 mm.

Digunakan untuk menutupi gelas benda. Gelas ukur, dipakai untuk mengukur

cairan-cairan dalam pembuatan larutan-larutan untuk fiksasi, dehidrasi,

dealkoholisasi, infiltrasi, perekatan, pewarnaan.

Pipet kecil, pipet yang umum dengan karet untuk meneteskan cairan,

dipakai dalam pencucian dan pewarnaan. Skalpel, semacam pisau dengan

pegangan dari logam atau ebonit, berguna untuk mengiris bahan tumbuhan atau

memotong blok parafin, dapat diganti dengan pisau saku. Jarum preparat, jarum

yang ujungnya lurus dan runcing, berguna untuk mengatur letak irisan-irisan

diatas gelas benda, letak gelas penutup. Kuas, biasanya dipakai untuk

memindahkan irisan-irisan yang halus. Untuk bahan-bahan kimia tidak boleh

memakai alat ini. Gunting, untuk menggunting bahan tumbuhan yang akan

dijadikan preparat, untuk difiksir. Pinset, dengan ujung yang besar untuk

membawa gelas benda dan dengan ujung sempit untuk membawa gelas penutup.
Tempat untuk pewarnaan, dapat berupa coplin jars atau stender dishes,

berguna untuk tempat-tempat bahan-bahan kimia pada proses pewarnaan. Botol-

botol tempat bahan kimia, bervolume 100cc maupun 500cc. Untuk menyimpan

bahan-bahan kimia dimana gelas benda dicelupkan dengan baik kedalamnya.

Botol/tabung untuk fiksasi, biasanya kecil. Untuk tempat bahan tumbuhan pada

proses fiksasi, sampai dengan infiltrasi pada metode parafin. Lampu spritus,

dipakai untuk melekatkan blok pada holder, memanaskan larutan pada tabung

reaksi.

Gelas-gelas petri, tempat ini biasanya dipergunakan waktu fiksasi pada

pembuatan pada preparat geser. Juga dapat dipakai pada pembuatan blok parafin

pada metode parafi. Selain itu juga digunakan sebagai wadah menimbang serta

menyimpan bahan kimia, mikrobiologi.

Mikroskop (bahasa Yunani: micron = kecil dan scopos = tujuan) adalah

sebuah alat untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata

telanjang. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini

disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah

terlihat oleh mata.Jenis paling umum dari mikroskop, dan yang pertama

diciptakan, adalah mikroskop optikal. Dia merupakan alat optik yang terdiri dari

satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah

benda yang ditaruh di bidang fokus dari lensa tersebut. Loupe, loupe yang

sederhana dilakukan untuk pemeriksaan pendahuluan terhadap irisan-irisan yang

masih diliputi parafin.

Mikrotom adalah mesin untuk mengiris spesimen biologi menjadi bagian

yang sangat tipis untuk pemeriksaan mikroskop. Beberapa mikrotom

menggunakan pisau baja dan digunakan untuk mempersiapkan sayatan jaringan


hewan atau tumbuhan dalam histologi. Mikrotom tangan merupakan mikrotom

dengan bentuk paling sederhana. Alat ini biasa digunakan di laboratorium sekolah

untuk membuat sayatan spesimen yang tipis sekali (kurang lebih 20), supaya

dapat dilihat di bawah mikroskop. Misalnya sayatan daun, batang, akar, dan

sebagainya. Alat ini terbuat dari logam berbentuk seperti klos benang yang

berongga di tengah. Di dalam rongga terdapat sebuah bulir yang bagian atasnya

rata dan bagian bawahnya melekat atau bersatu dengan dasar alat itu. Bila dasar

alat itu diputar dari kiri atau ke kanan, maka bidang ulir bagian atas yang rata itu

akan bergerak ke atas atau ke bawah dengan interval 20 tiap putaran. Rongga

tersebut adalah tempat untuk meletakkan benda yang akan disayat tipis, biasanya

dibalut lilin atau gabus. Meja pemanasan/hot plate, suatu meja yang dapat

diberisuhu lebih tinggi dari pada suhu kamar karena adanya aliran listrik atau

lampu spritus. Berguna untuk penghangatan perekatan gelas benda.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan mikroskopis

meliputi : Larutan-larutan pembius : eter, kloroform, aseton, prokain, morfin,

metan. Larutan-larutan untuk fiksasi : formalin, alcohol, asam asetat, asam pikrat,

asam kromat, merkuri klorida, osmium tetroksida, bouin, zenker, helly, FAA.

Reagensia untuk dehidrasi : alcohol, dioxin, N-butil alcohol, minyak aniline,

minyak bergamot, minyak kayu cedar. Reagensia untuk penjernihan : minyak

aniline, benzene, karbon tetraklorida, karbon bisulfida minyak kayu cedar,

kloroform, minyak cengkeh, xylol, toluene. Media untuk penyelubungan :

paraffin, celloidin, asam stearat, lilin lebah. Media penutupan preparat : balsam

dammar, balsam Canada, euparal, styrax, minyak cedar, venetian turpentine,

lactophenol, gliserin jelly, albumin. Zat warna untuk pewarnaan : acid fuchsin,

eosin, hematoksilin, carmine, basic fuchsin, giemsa, gentian violet, methyl blue.
Dalam praktikum ini bahan yang digunakan adalah alcohol bertingkat, eosin,

hematoksilin, xylol, giemsa 10 %, paraffin, chloroform, formalin, aquades, eter,

entellan, NaCl fisiologis.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil praktikum ini adalah

1. Mikroteknik adalah ilmu yang akan mempelajari metode atau prosedur

pembuatan preparat mikroskopik.

2. Alat-alat yang digunakan meliputi water bath, Tempat-tempat untuk

pewarnaan.

3. Tempat-tempat untuk bahan kimia, Spuit (suntikan), Scalpel, Pipet kecil,

Pinset, Oven, mikrotom, mikroskop, masker, loupe, lampu spritus, kuas,

kacamata, jarum preparat, hot plate, gunting, gelas petri, gelas ukur, gelas

penutup, gelas objek, botol untuk fiksasi.

4. Bahan-bahan yang digunakan meliputi larutan-larutan pembius, larutan-

larutan untuk fiksasi, reagensia untuk dehidrasi, reagensia untuk

penjernihan, media untuk penyelubungan, media penutupan preparat, zat

warna untuk pewarnaan.

5.2 Saran

Para asisten diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih lanjut

mengenai Pengenalan alat dan bahan pembuatan sediaan mikroskopis.Sehingga

semua praktikan lebih mengerti lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Balbach,M & L.C.Bliss. 1996. A Laboratory manual For Botany. Saunders


collage publishing, New York.

Cambell. 2002. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Djukri, 2007. Pembekalan Berwirausaha Dalam Pembuatan Preparat Awetan


http://kuliahbiologi.wordpress.com/category/mikroteknik.
Diakses tanggal 26 April 2010

Parjatmo, W. 1993. Panduan Keterampilan Kerja laboratorium. Jurusan PMIPA


ITB. Bandung.

Pujawati, E D. 2002. Petunjuk Praktikum Mikroteknik Tumbuhan. Universitas


Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Volk and Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar, Edisi kelima. Erlangga, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai