Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK LABORATORIUM

PEMBUATAN SEDIAAN IRISAN JARINGAN TUMBUHAN DENGAN


METODE PARAFIN

Nama : Wahyu Kurniawan


NIM : J1C107057
Kelompok : I (Satu)
Asisten : Denny Gumilang

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S-1 BIOLOGI
BANJARBARU
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metode parafin adalah suatu cara pembutan sediaan baik itu tumbuhan

ataupun hewan dengan menggunakan parafin. Kebaikan-kebaikan metode ini ialah

irisan jauh lebih tipis dari pada menggunakan metoda beku atau metoda seloidin.

Dengan metoda beku, tebal irisan rata-rata diatas 10 mkron, tapi dengan metode

parafin tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron. Irisan-irisan yang bersifat

seri dapat dikerjakan dengan mudah bila menggunakan metode ini.

Kelemahan dari metode ini ialah jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah

patah. Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakaan, bila menggunakan

metode ini. Sebagian besar enzim-enzim yang terdapat pada jaringan akan larut

dengan menggunakan metode ini (Rina, 2010).

Metode ini sekarang banyak digunakan, karena hampir semua macam

jaringan dapat dipotong dengan baik dengan menggunakan metode ini. Metode

parafin adalah suatu metode pembuatan preparat dengan melakukan penanaman

jaringan di dalam blok parafin untuk menghasilkan preparat jaringan hewan

ataupun tumbuhan yang tipis. Preparat parafin ini dilakukan penyelubungan

karena jaringan merupakan bahan yang lunak. Metode pembuatan sediaan dengan

penyelubungan parafin disebut juga sebagai metode embedding. Pembuatan

sediaan dengan pemotongan jaringan menggunakan parafin dan mikrotom sebagai

alat pemotongnya. Kelebihan metode ini adalah irisannya jauh lebih tipis dan

prosedurnya juga lebih cepat jika dibandingkan dengan metode seloidin maupun

metode beku. Alat pemotong mikrotom yang digunakan bekerja berdasarkan suatu

ulir yang berfungsi untuk mendorong maju block preparat atau pisau (Santoso,

2002).
Prosedur pembuatan sediaan menggunakan metode parafin pada umumnya

sama baik pada jaringan hewan maupun tumbuhan yaitu fiksasi, pencucian dan

dehidrasi, dealkoholisasi, infiltrasi, penyelubungan, pengirisan, perekatan,

pewarnaan, penutupan dan pemberian nama atau pelabelan (Hasan, 2010).

Dilakukan infiltrasi agar parafin yang masuk berfungsi sebagai penyangga

jaringan saat diiris dengan mikrotom, lalu diembedding (proses penanaman) yaitu

merendam jaringan ke dalam parafin cair, dan parafin akan masuk ke seluruh

bagian jaringan, proses pemotongan dengan mikrotom, penempelan pada kaca

objek, pewarnaan dengan haematoksilin (pada umumnya bahan ini yang sering

digunakan untuk jaringan hewan) sedangkan jaringan tumbuhan seringkali

menggunakan safranin ataupun fast green. Setelah diwarnai lalu dimounting,

diberi perekat entellan, dan diberi label nama (Tjiptrosoepomo, 1993).

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal tahap-tahap pembuatan,

bahan dan alat untuk praktikum teknik pembuatan sediaan irisan jaringan

tumbuhan dengan metode parafin.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Metode parafin, pengirisan jaringan dengan menggunakan suatu alat yang

disebut mikrotom. Kelebihan dari adanya alat ini adalah bahwa tebal irisan dapat

diatur menurut tujuan dan kehendak peneliti. Pada mikrotom terdapat antara lain

yaitu skala yang dapat diatur sesuai dengan kehendak beik tebal sayatannya.

Pisau, ada jenis mikrotom dimana pisaunya yang bergerak sedangkan jaringan

tetap berada pada tempatnya. Tetapi ada pula jenis mikrotom yang pisaunya tetap

berada pada tempatnya, sedang jaringannya yang bergerak, pegangan/tempat

jaringan, pengatur jarak antara tempat jaringan dengan pisau mikrotom

(Sumarni, 2010).

Mikrotom ada beberapa macam yaitu :

1. Mikrotom geser (sliding mikrotome). Pada alat ini, jaringan tetap berada pada

tempatnya, sedang pisaunya yang bergerak. Pada umumnya jaringan yang

akan dipotong dengan mikrotom geser adalah jaringan yang tanpa penanaman

(embedding) terlebih dulu. Disini tidak akan terjadi pita irisan. Jaringan yang

akan diiris sebelumnya dapat diwarnai dengan pewarnaan tunggal, ataupun

tanpa pewarnaan terlebih dahulu. Metode ini banyak dikerjakan untuk

pengirisan jaringan tumbuh-tumbuhan.

2. Mikrotom beku (freezing microtome). Alat ini dihubungkan dengan tabung

berisi CO2 dingin, melalui suatu pipa karet. Mikrotom ini, keadaannya sama

dengan mikrotom geser yaitu jaringan tetap berada pada tempatnya sedang

pisau mikrotomnya yang bergerak ke muka dan ke belakang.

3. Mikrotom putar (rotary microtome). Berbeda dengan 2 jenis mikrotom diatas,

yaitu bahwa pada mikrotom ini, pisau tetap pada tempatnya sedang
jaringannya yang bergerak ke atas dan ke bawah. Jenis mikrotom ini yang

biasanya digunakan untuk pembuatan sediaan irisan dengan metode parafin

(Rina, 2010).

Mikrotom jenis ini lebih banyak digunakan daripada mikrotom-mikrotom

lainnya. Hal ini disebabkan karena irisan yang diperoleh lebih tipis dibandingkan

dengan metode lainnya (Rina, 2010).

Pengamatan secara seksama dan teliti terhadap sel atau jaringan akan

diperoleh jika irisan sangat tipis. Selain itu, hampir semua jaringan dapat diiris

dengan mikrotom ini. Berbeda dengan 2 jenis mikrotom yang telah diuraikan di

atas, di mana irisan yang diperoleh saling terpisah satu sama lain, maka pada

irisan yang diperoleh dengan mikrotom jenis ini ialah jaringan yang terjadi satu

sama lain saling bergandengan, sehingga terbentuk pita yang panjang (Santoso,

2002).

Preparat jaringan tumbuhan dapat diperiksa dibawah mikroskop apabila

sudah terlihat warna yang kontras baik maka diberi canada balsam lalu ditutup

dengan kaca penutup, dan terakhir diberi label preparat permanen tersebut.

Dikarenakan keterbatasan waktu dan tidak adanya mikrotom yang baik di

laboratorium maka pekerjaan tidak bisa sampai selesai. Hasil akhir dari pekerjaan

hanya sampai pada balok parafin keras. Hasil kerja hanya sampai pada

terbentuknya balok parafin. Untuk mendapatkan hal tersebut maka harus

menjalani beberapa prosedur dengan alat dan bahan tertentu (Hasan, 2010).

Kebaikan-kebaikan dari metode parafin ini adalah:

a) Irisan dapat jauh lebih tipis daripada menggunakan metode beku maupun

seloidin, dengan metode parafin tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6

mikron.
b) Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah.

c) Prosesnya lebih cepat dari metode lain.

Kelemahan dari metode ini adalah:

a. Jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah.

b. Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan, bila menggunakan

metode ini.

c. Sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan metode ini.

(Rina, 2010).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 12-21 Mei 2010

bertempat di Laboratorium Dasar Ruang Biologi I Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah gelas objek, gelas

penutup, jarum preparat, pinset, cawan petri, dan mikroskop.

Bahan yang dipergunan antara lain akar, umbi dan daun bawang dayak,

larutan FAA, bahan untuk dehidrasi : alcohol 70 %, 80%, 95%, 100% 1 dan 2, dan

xylol. Bahan untuk infiltrasi : xylol dan paraffin, larutan pewarna hematoksilin

ehrlich, entellan, label, kotak paraffin, pinset, scalpel, kapas, seperangkat wadah

untuk proses dehidrasi-clearing, seperangkat “jar” untuk staining, alat untuk

infiltrasi (oven/paraffin bath), mikrotom, hot plate, waterbath, kuas kecil, gelas

objek dan penutup.

3.3 Prosedur Kerja

1. Organ tumbuhan dipotong kemudian dicuci menggunakan alcohol 70%

2. Direndam kedalam larutan FAA dan safranin 1 % masing-masing selama

24 jam

3. Direndam kedalam larutan alkohol : 70%, 80%, 95%, 100% (1), 100% (2),

xilol : alkohol (3:1), xilol : alkohol ( 1:1), xilol : alkohol (1:3), xilol 1,

xilol 2; masing-masing 30 menit.

4. Direndam kedalam paraffin : xilol (9:1) selama 24 jam.


5. Dimasukkan kedalam paraffin murni, kemudian diblocking, dilakukan

pemotongan menggunakan mikrotom, dengan ukuran untuk daun dan

akar : 18 μm serta umbi : 20 μm.

6. Dilekatkan pada gelas objek menggunakan gliserin dan akuades.

7. Untuk pewarnaan, gelas objek yang berisi preparat dicelupkan kedalam

xilol 1 dan 2 selama 45 menit dan 3 menit.

8. Direndam kedalam alkohol 70%, 80%, 95%, 100% (1), dan 100% (2)

selama 3 menit.

9. Diwarnai dengan safranin 40 menit.

10. Direndam kedalam alkohol 100% (1), 100% (2), 95%, 80%, dan 70%

masing-masing selama 3 menit.

11. Direndam kembali pada larutan xilol 1 dan 2 selama 3 menit.

12. Direkatkan menggunakan entelan dan ditutup dengan cover glass.

13. Dilakukan pengamatan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil Pengamatan Sediaan Jaringan Tumbuhan


No. Gambar Keterangan
1. Akar bawang dayak
Perbesaran 100x

2. Daun bawang dayak


Perbesaran 100x

3. Umbi bawang dayak


Perbesaran 100x

4.2 Pembahasan
Pengamatan menunjukan bahwa hasil, yang didapatkan lebih bervariasi

daripada sediaan hewan tetapi teknik pembuatannya juga lebih rumit

dibandingkan dengan preparat hewan. Sediaan ini juga dalam prosesnya

membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Waktu yang dibutuhkan untuk

penyelesaiannya sangat lama bahkan hingga berhari-hari lebih.

Praktikum kali ini menggunakan tumbuhan bawang dayak. Bagian pada

tumbuhan yang digunakan untuk preparat pada praktikum kali ini adalah bagian

umbi, akar, dan daunnya. Tahapan yang dilakukan dalam pembuatan sediaan

cukup rumit, yaitu pertama dengan memasukkan semua bahan ke dalam larutan

fiksasi. Larutan tersebut bertujuan untuk menghentikan proses metabolisme atau

kegiatan sel tanpa mengubah bentuk atau strukturnya. Dilanjutkan dengan proses

pencucian dan dehidrasi yang berulang-ulang kali karena kandungan air yang ada

di dalam sel tumbuhan relatif banyak dan usaha untuk mengurangi kandungan air

di dalam sel dilakukan berkali-kali dengan menggunakan alkohol bertingkat

sampai alkohol absolute.

Dealkoholisasi menggunakan larutan campuran antara alkohol dan xilol

dengan perbandingan yang berbeda yaitu 3:1, 1:1, 1:3 dan dilanjutan dengan xilol.

Tahapan ini bertujuan untuk menghilangkan alkohol sisa dari dehidrasi. Proses

selanjutnya infiltrasi, tahapan ini bertujuan untuk memudahkan penyerapan

parafin agar saat bahan yang digunakan sudah berada dalam block parafin, akan

terbentuk potongan yang sempurna. Dilanjutkan dengan penyelubungan, proses

ini bertujuan untuk mengganti parafin dengan parafin yang baru. Setelah 1 jam,

dibuat block.

Beberapa kesukaran pada saat pemotongan sediaan parafin antara lain: pita

tidak terbentuk, hal ini kemungkinan karena pisaunya tumpul. Pita melengkung
atau bengkok, hal ini kemungkinan karena tepi pisaunya tidak rata. Sayatan

tertekan, mengerut atau berdempet, hal ini kemungkinan karena sudut pisau yang

terlalu kecil dan mata pisau yang berlapis dengan parafin. Sayatan remuk dan

cenderung lepas dari parafin, hal ini kemungkinan karena proses dehidrasi dan

clearing yang tidak sempurna. Pita belah, sayatan terangkat dari pisau saat block

parafin naik, dan permukaan sayatan yang bergelombang.

Adapun kelebihan-kelebihan dari metode parafin, antara lain : irisan dapat

jauh lebih tipis daripada menggunakan metode beku maupun seloidin, dengan

metode parafin tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron, irisan-irisan yang

bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah, dan prosesnya lebih cepat dari

metode lain. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah jaringan menjadi keras,

mengerut dan mudah patah, jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan,

bila menggunakan metode ini, dan sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan

metode ini.

Preparat bawang dayak yang diambil dari bagian akar, daun, dan umbi

memiliki perbedaan yang mencolok dari segi bentuk sel maupun dari penampang

jaringan yang terlihat. Beberapa literatur menyebutkan bahwa bawang dayak

memiliki banyak produk metabolis sekunder, produk metabolis sekunder ini dapat

bereaksi dengan bahan kimia dalam proses pembuatan preparat yang dapat

mengakibatkan kerusakan permanen pada sel, sehingga dapat kita lihat bahwa sel

yang dimiliki preparat dari bawang dayak ini sudah tidak utuh lagi. Penelitian

tentang sel meyebutkan bahwa sel bawang kebanyakan berbentik heksagonal

beraturan. Preparat yang dihasilkan tidak menunjukan bentuk yang disebutkan

dalam literatur namun hanya sebagian kecil saja.


Preparat pada bagian umbi memberikan bayangan berwarna merah muda

dengan bentuk sel yang tidak jelas dan terdapat gelembung udara. Bentuk sel yang

tidak jelas seperti ini dikarenakan oleh produk metabolis sekunder ini dapat

bereaksi dengan bahan kimia dalam proses pembuatan preparat yang dapat

mengakibatkan kerusakan permanen pada sel. Adanya gelembung udara ini

dikarenakan proses penempelan entellan yang kurang hati-hati sehingga

mengakibatkan masuknya udara kedalam gelas objek dan terperangkap

didalamnya.

Preparat pada bagian Daun bawang dayak memberikan bayangan berwarna

coklat muda dengan bentuk sel yang tidak jelas namun tidak terdapat gelembung

udara. Tidak adanya gelembung udara ini dikarenakan proses penempelan entellan

yang sempurna sehingga tidak mengakibatkan masuknya udara kedalam gelas

objek. Didalam preparat dapat kita lihat dengan jelas terdapat bintik-bintik hitam,

ini adalah proses pengeluaran kotoran yang belum begitu sempurna sehingga

memberikan bayangan yang berbintik-bintik hitam.

Preparat bagian umbi sel-selnya memberikan bayangan yang paling tidak

beraturan dan tidak jelas, ini dikarenakan bahwa Produk metabolis sekunder

banyak menumpuk di bagian umbi. Selnya yang tidak beraturan ini

mengindikasikan adanya perpindahan pada saat proses preparasi. Banyak terdapat

gelembung udara didalamnya yang berarti kurang sempurna dalam penempelan

kaca penutup.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :

1. Dalam pembuatan preparat tumbuhan hasil, yang didapatkan lebih bervariasi

daripada sediaan hewan tetapi teknik pembuatannya juga lebih rumit

dibandingkan dengan preparat hewan.

2. Hasil pengamatan yang didapatkan yaitu sulit dibedakan antara bagian umbi,

akar, dan daunnya. Selain itu juga sulit di amati jaringan apa yang digunakan

sebagai preparat karena warna dan bentuknya sama.

3. Kelebihan-kelebihan dari metode parafin, yaitu: irisan dapat jauh lebih tipis,

tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron, irisan-irisan yang bersifat seri

dapat dikerjakan dengan mudah, dan prosesnya lebih cepat dari metode lain.

4. Kelemahan dari metode ini adalah jaringan menjadi keras, mengerut dan

mudah patah, jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan, dan

sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan metode ini.

5.1 Saran

Sebaiknya untuk praktikum yang akan datang hendaknya praktikan harus

benar-benar menyiapkan bahan terlebih dahulu agar praktikum berjalan dengan

lancar. Selain itu kebersihan ruangan juga harus tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, W. 2010. Mikroteknik.


http://www.wikipedia.com//ensiklopedia-bebas-berbahasa-indonesia.html
Diakses pada tanggal 21 Mei 2010

Rina, A. 2010. Metode Parafin.


http://id.wikipedia.org/wiki/MetodeParafin
Diakses 21 Mei 2010

Santoso. H, B. 2002. Bahan Kuliah Teknik Laboratorium. FMIPA Unlam,


Banjarbaru.

Sumarni. 2010. Jaringan Penyusun Tumbuhan.


http://www.research.co.id//panduan-kerja-saat-berada-di-laboratorium-
dalam–pembuatan–preparat.html
Diakses tanggal 21 Mei 2010

Tjiptrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. UGM,


Yogyakarta.