Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seorang guru harus berfokus pada bagaimana cara belajar, bukan pada untuk apa
belajar. Para siswa mungkin tidak banyak tahu tentang segala hal tetapi mereka selalu
butuh tahu bagaimana cara belajar. Guru perlu mengajarkan cara membaca untuk
mendapatkan pemahaman, bagaimana menyusun gagasan, bagaimana cara mempelajari
mata pelajaran yang sulit, dan bagaimana cara menuangkan pemikian dalam bentuk
tulisan.
Guru diharapkan dapat melibatkan siswa dalam proses belajar dan mengajar.
Setiap hari siswa perlu diberi pertanyaan pendapat mereka tentang PR, apakah PR
membantu mereka dalam memahami materi, apakah tugas terlalu membebani,
bagaimana cara membuat tugas yang lebih menarik, dan kriteria yang dipakai dalam
penilaian. Siswa harus mampu berpikir secara mandiri. Tugas guru adalah mengajari
mereka cara berpikir dan memberi mereka alat yang dibutuhkan. Kelak siswa akan
kagum pada kecerdasan mereka sendiri sehingga guru tidak perlu menunjukkan pada
mereka bahwa mereka cerdas. Setiap guru berpotensi untuk menjadi guru yang hebat
asalkan paham bahwa mengajar adalah seni yang butuh kerja keras (Santrock, 2008).
Paul Ginnis yang menyusun buku Trik dan Taktik Mengajar akan menjadi awal
yang baik untuk mulai mengembangkan keterampilan guru dalam seni mengajar. Buku
tersebut mengupas perkembangan mutakhir tentang cara belajar, berbagai variasi teknik
mengajar, serta berbagai alat untuk memeriksa langkah yang telah dipraktikkan guru.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang di atas maka permasalahan yang diajukan
dirumusakan sebagai berikut.
1. Bagaimana cara mendesain alat untuk meningkatkan hasil belajar di kelas?
2. Alat apa sajakah yang digunakan untuk mengajar dan belajar?

1
C. Tujuan
Berdasarkan paparan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Memahami cara mendesain alat untuk meningkatkan hasil belajar di kelas.
2. Mengenal berbagai alat yang digunakan untuk mengajar dan belajar.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bagian 1: Mendesain Alat


Kebiasaan
Kebiasaan terbentuk saat seseorang tahu apa yang harus dilakukan, tahu
mengapa melakukannya dan memilih alasan bagus untuk melakukannya dengan kata
lain tahu mengapa. Menurut Covey kebiasaan adalah gabungan dari apa yang harus
dilakukan atau pengetahuan, bagaimana melakukannya atau kecakapan, dan mengapa
melakukannya atau sikap. Mereka yang bekerja dibidang pengenbangan profesional,
atau yang menangani perubahan, tahu kenyataan ini. selaul memaksa orang untuk
mengubah kebiasaan mereka dan tidak akan berhasil. Memberi tahu mereka apa yang
harus dilakukan dengan cara berbeda tidak akan berhasil memberi tahu mereka pa yang
harus dilakukan dengan cara yang berbeda tanpa memberi mereka kecakapanyang
diperlukan menyebabkan rasa frustasi dan gagal. Tidak juga berhasil dalam jangka
waktu yang panjang jika memberi orang teknik baru tanpa menyampaikan dasarnya.
Maka inovasi berumur pendek secara keseluruhan praktik baru tidak akan berkelanjutan
kecuali orang memiliki:
 motivasi untuk tetap melakukannya, yang berasal dari kepercayaan
 pemahaman tentang prinsip-prinsip yang nendasari praktik tersebut sehingga
metodologi baru tersebut dapat terus segar dan dapat dicipta ulang.
Banyak bagian dari buku ini mengenai bagaimana. Penulis mengharapkan buku
ini menarik bagi guru dan trainer yang selayaknya sangat menginginkan ide-ide praktis
yang baru. Tetapi kemungkinannya buku ini akan menyediakan sekedar “kotak coklat”.
Setelah coklatnya dinikmati, kotaknya mungkin dibuang dan kotak yang baru diminta.
Tujuan yang lebih menantang dan jauh lebih produktif dari trik dan taktik mengajar
adalah agar pembaca menguasai resepnya sehingga bisa membuat permen sendiri ketika
pilihan itu habis.
Jadi pada bagian pertama ini adalah tentang mengapa – rasionalnya. mengapa
bersenang-senang dan melakukan hal-hal dengan cara yang berbeda? Mengapa tidak
melakukannya secara biasa saja? Alasan dasarnya adalah bahwa belajar disekolah
kelihatan paling bagus ketika para guru mengikuti hukum alam tentang proses belajar.

3
Ide ini disampaikan oleh Scottish Consultatif Council on the Curiculum dalam
pendahuluan buku mereka Teching for Effective Learning yang sangat bagus
Beberapa akan berargumentasi bahwa mengajar merupakan pekerjaan yang
berbeda tergantung pada apa yang anda ajarkan dan siapa yang anda ajar. Jelas ada
perbedaan tetapi (kami) percaya bahwa prinsip –prinsip dasar dari belajar tetap berlaku.
Tidak peduli dimana anda mengajar dan tidak peduli apa kebutuhannya atau umur siswa
yang anda ajar.
Tugas dari guru dan manager sekolah yang peduli dan moderen adalah
membawa metode pembelajaran yang semakin sejalan dengan proses belajar. Di sini
ada solusi nyata terhadp underattainment (pencapaian rendah) yang terukur secara
sempit dan Underachievement secara lebih luas.
Perbedaan antara Attaintment (perolehan) dan Achievement (pencapaian
prestasi) lebih daripada semantik. Dalam Effective learning in Schools Christoper
Bowring Carr dan John West Burnham menegaskan bahwa belajar harus memiliki
konsekuensi bagi siswa. Dengan konsekuensi kita bermaksud bahwa dengan
mempelajari X, siswa akan melihat dunia dengan cara yang sedikit berbeda, akan
mengubah perilaku atau sikapnya dalam beberapa hal jika belajar yang telah
berlangsung hanya dapat dihasilkan ulang di saat nanti dalam jawaban terhadap
permintaan suatu bentuk penilaian yang meniru problem asli dan konteks untuk problem
tersebut maka yang dipelajari hanyalah belajar yang dangkal.
Belajar yang mendalam menuntut perkembangan realitas personal yang semakin
bagus dengan disiplin dan kompetensi yang sesuai. Trik dan Taktik Mengajar berusaha
memberikan beberapa cara untuk sampai belajar yang mendalam (Achievement) bahkan
dalam budaya yang terutama peduli pada belajar yang dangkal saja (Attainment).
Pemahaman baru mengenai otak tentang bagaimana orang belajar tentang
potensi dari teknologi informasi dan komunikasi tentang perubahan radikal dalam pola
kerja dan juga ketakutan mendalam akan pembagian sosial dalam masyarakat,
memerlukan pemikiran ulang yang mendalam mengenai struktur pendidikan. Education
Now (www.gn.apc.org/educationnow) memberikan pandangan yang tajam terhadap
kekurangan terhadap sistem pendidikan yang sekarang dan menawarkan alternatif
konstruktif dan radikal. Pemikiran semacam itu mengankat sejumlah pertanyaan besar.
Pada zaman ini apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan dan bagaimana

4
seharusnya pendidikan diorganisir. Di Inggris pendidikan itu ada terutama untuk
melayani ekonomi. Dasar pemikiran itu mendorong semua kebijaksanaan saat ini.
Kebutuhan sosial dan ekonomi saat ini mendukung model belajar yang baru
yang mencakup:
1. Penguasaan kecakapan kecakapan dasar
2. kemampuan uantuk bekerja dengan orang lain
3. dapat mengatasi gangguan yang konstan
4. bekerja diberbagai tingkatan dalam berbagai disiplin
5. menggunakan terutama kecakapan verbal
6. memecahkan masalah dan membuat keputusan

Biologi Dari Belajar


Pengalaman mentala atau motor yang baru memberikan stimulus yang di ubah
menjadi denyut saraf yang berjalan ke stasiun penyotir seperti thalamus (di dalam area
otak tengah). Dari sini sinyal-sinyal dikirim ke daerah khusus di otak. stimulus yang
berulang dari sekelompok neuron menyebabkan mereka mengembangkan lebih banyak
dendrit dan karenaya lebih banyak koneksi sehinga suatu jaringan yang mirip hutan di
bentuk sehingga menimbulkan pemahaman, pengertian dan penguasaan. Akhirnya
neuron-neuron ini belajar untuk menekan kondisi yang keliru dan memberi respon
positif terhadap sinyal yang lebih lemah. Dengan kata lain belajar untuk melakukan
proses mental atau motor yang sama dengan sedikit usaha. Dengan kata lain sel
mengubah daya terimanya terhadap pesan-pesan berdasar stimulus sebelumnya.
Tugas guru adalah mendukung para siswa dalam mewujudkan potensi biologi
luar biasa dari otak mereka menjadi terwujud. Hal ini tentu merupakan suatu mission
imposible kaena sebagian kekuatan total otak yang dapat dipergunakan selama hidup.
Diperkirakan kita menggunakan kurang dari 1% dari perkiraan kapasitas otak sekitar
1027bit data perdetik menurut psikiater dan ahli tidur Allan Hobson dari Harvard. Ketika
ilmuwan memotong otak Einstein setelah kematiannya mereka menemukan bahwa dia
tidak memiliki lebih banyak sel otak dari orang lain, hanya lebih banyak koneksi
diantara sel-sel tersebut, meskipun demikian masih banyak yang tersisa.
Dalam pencarian keunggulan belajar, nampaknya pendidik yang terampil
memiliki tiga tugas:

5
 Untuk mendorong koneksi saraf baru melalui tantangan yang menciptakan
tingkat stimulasi yang tinggi.
 Untuk memperkuat koneksi yang ada. semakin banyak jalur yang saraf yang
dipakai semakin efisien jadinya. Axon menjadi dilindungi oleh suatu zat lemak
putih yang disebut myelin, yang mempercepat proses pengiriman sinyal listrik-
kimia-listrik, dan neuron merespon dengan lebih sedikit usaha terhadap pemicu
awal. di sisi lain, koneksi yang tak terpakai akhirnya hiulang, mereka
terpangkas.
 Tugas pendidikan adalah meminta siswa untuk menata ulang jaringan koneksi
saraf yang telah ada dengan mengambil data dipapan yang akan meluruskan
kesalahpahaman, memperbaiki konsep, melengkapi pemahaman, atau mengasah
keterampilan.
Tugas terakhir tersebut terkadang terasa seperti usaha yang berat. Eric Jensen
merangkum tugas ini: Kunci menjadi lebih pintar adalah menumbuhkan lebih banyak
koneksi synapsis diantar sel sel otak dan tidak kehilangan koneksi yang telah ada.
Koneksilah yang memungkikan kita memecahkan masalah dan memahami sesuatu.
Untuk mencapai hasil yang terbaik, jelas penting untuk bekerjasama dalam proses alami
otak, untuk mengajar yang sesuai dengan cara belajar alami dari para siswa. Tetapi
biasanya belajar seharusnya menajdi awal yang sangat bagus karena nampaknya setiap
orang dilahirkan dengan beberapa kecenderungan antara lain:
1. Keinginan untuk bekerjasama dengan orang lain
2. Kecenderungan dan kemampuan belajar bahasa
3. Kemauan dan keterampilan membuat pola
4. Kecenderungan alami untuk belajar matematika.
Kita telah mengetahui sejak Pygmalion in the Classroom oleh Rosenthal dan
Jacobsen yang diterbitkan pada athun 1968, bahwa pandangan Guru secara internal
terhadap kemampuan siswa memiliki dampak langsung pada kinerja siswa yang
sebenarnya. Dalam penelitian itu siswa-siswa dikelompokkan secara acak, tetapi
gurunya diberi tahu bahwa mereka berbeda kemampuannya. Tebak hasil dari kelompok
yang secara salah di anggap siswa pintar naik dan hasil dari low achiever turun.
Rosenthal mengidentifikasi enam cara bagaimana guru menyampaikan harapan yang
tinggi:

6
• Guru mengekspresikan keyakinan akan kemampuannya dalam menolong siswa
• Guru mengekspresikan keyakinan akan kemampuan siswa
• Sinyal non-verbalnya konsisten dengan apa yang dikatakannya, nada bicara,
pandangan mata,tingkat energi.
• Guru memberi umpan balik yang spesifik, cukup dan menyebutkan kebaikan
dan kekurangan mereka
• Guru memberi masukan yang terinci pada siswa secara individu
• Guru mendorong peningkatan secara individual melalui tantangan
Untuk meningkatkan prestasi belajar supaya bisa lebih bagus pasti ada
tantangan. Khususnya dalam lingkungan sosio ekonomi dan sosiokultural yang sulit.
Tetapi guru dapat membuat perbedaan dan akan melakukannya jika mereka mengikuti
beberapa pedoman sederhana. Berikut empat kesamaan di antara siswa:
1. Tiap orang perlu menyelesaikan sesuatu untuk diri sendiri
Belajar adalah ekstraksi dari pola-pola bermakna dari kebingungan. Tidak ada
konsep, tidak ada fakta dalam pendidikan yang benar-benar lebih penting daripada hal
ini, otak oleh desain alam merupakan alat pendeteksi pola yang luar biasa sensitif dan
canggih. Pembuntukan konsep bergantung pada apa yang siswa lakukan dalam kepala
mereka bukan apa yang guru lakukan. Jadi jelas, buatlah belajar secara mental aktif dan
buat jenis kegiatan yang investigatif dan memecahkan masalah yang meminta otak
bekerja sesuia dengan kecenderungan alaminya- berperan detektif.
Jadi otak menjadi lebih berpengalaman saat siswa banyak mengambil data,
miskonsepsi disortir ide yang baru separuh dipahami diselesaikan dan pemahaman yang
salah di buang. Hal ini memberi kita petunjuk bagaimana mengajar dengan efektif
bekerja dari pengetahuan sebelumnya dari siswa, menerima salah pemahaman dan ide
setengah matang dari mereka, memulai keadaan siswa saat ini dan bukan dari keadaan
mereka yang seharusnya karena umurnya. Ciptakan iklim dan kesempatan bagi mereka
untuk jujur tentang pengakuan, frustasi, dan perjuangan mereka, beri waktu untuk
bercermin. Harapkan lompatan konseptual terjadi pada waktu yang berbeda bagi siswa
yang berbeda untuk alasan yang berbeda.
Konstruktivisme berpegang bahwa belajar pada dasarnya aktif. seseorang yang
mempelajari sesuatu yang baru membawa ke pengalaman itu semua pengalaman
sebelumnya dan memberikan pola mental. Tiap fakta atau pengalaman baru terintegrasi

7
kedalam jaring pemahaman yang aktif yang telah ada dalam otak orang tersebut. Belajar
oleh konstruktivis merupakan proses dan struktur yang sangat subjektif dan pribadi
yang secar terus menerus dan aktif di modifikasi dengan mempertimbangkan
pengalaman baru. Dengan belajar dari konstruktivistiap anak menata pengalamannya
sendiri tentang dunia kedalam pola unik yang menghubungkan tiap fakta pengalaman
atau pemahaman baru ke dalam cara subjektif yang mengikat anak itu kedalam
hubunganyang rasional dan bermakna ke dunia yang lebih luas.
Untuk mendukung pola mental individual dari siswa yang merupakan kunci
untuk pembentukan konsep dan pemahaman yang terinternalisasi pada enam pedoman
berikut.
Dorongan siswa untuk menemukan dan mengerjakan hal-hal untuk mereka
sendiri. Buatlah fungsi implisit dan alami dari neokorteks menjadi eksplisit manfaatkan
keingintahuan dan hasrat bawaan untuk membuat kaitan. Pada tingkat yang paling
sederhana baliklah proses yang biasa dan meminta siswa untuk mengajukan pertanyaan
kepada guru.
b) Dorong siswa untuk menyampaikan ide kasar. Mempelajari sesuatu, membahas
sesuatu, menyampaikannya, memahaminya di luar kepala ini semua memainkan
perananan penting dan alamiah dalam proses pembentukan konsep. Kita adalah
mahluk sosial otak kita berkembang dilingkungan sosial dan kita sering
memaknai sesuatu dari lingkungan sosial. Jadi diskusi. peer teaching, menulis
draft, presentasi ke orang lain, dan berpikir, berbicara, dan oleh karenanya
mempercepat proses sortir dan koneksi di kepala mereka. Dalam proses ini
bahasa bahasa sendiri itu diperjelas siswa tidak menggunakan bahasa hanya
untuk melakukan kegiatan mereka menggunakan kegiatan ini mengembangkan
bahasa.
c) Hanya ada sedikit nilai pada pemberian “makna siap saji” bagi siswa. Yang
dimaksud disini adalah benda-benda seperti catatan, cetakan, dikte, mengkopi,
mind map yang digambar sebelumnya, latihan berjenis mengisi celah yang
biasanya ubahan dari “cloze procedure” asli. materi ini mungkin tertata rapi
dalam map siswa dan memberi kesan yang menenangkan bagi semuanya bahwa
tugas telah dilaksanakan, tetapi hanya sedikit belajar mendalam yang terjadi.

8
Sebagai gantinya ajarkan siswa untuk sampai pada pola pemaknaan mereka
sendiri dan merekamnya.
d). Tiba pada konsep penting yang sama dari sudut yang berbeda dalam cara yang
berbeda. Membangun suatu rangkaian yang logis dan linier menuju sebuah
konsep, dan kemudian berpindah pada konsep selanjutnya, tidak akan berhasil
pada kebanyakan siswa. Mereka biasanya perlu banyak contohdan aplikasi
dengan sejumlah penjelasan dalam berbagai media jika mereka ingin
memahaminya mendalam bukan hanya belajar permukaaanya saja (dangkal)
secara kontinyu berpindah dari ide besar ke detail dan kembali lagi, mengbar,
menirukan, mengucapkan, memetakan, menyanyikan, mendemonstrasikan,
mencontoh, mengurutkan. Cara yang paling efisien bagi siswa untuk memahami
suatu konsepadalah melihat gambar dan mengerjakan ide bukan mendengar atau
membaca tentangnya.
e) Sediakan umpan balik interaktif yang spesifik dan langsung. Umpan balik
memiliki efek maksimum jika dkendalikan oleh siswa. Mereka menentukan
kapan menerima dan berapa banyak menerimanya. Hal ini menciptakan kegiatan
praktis untuk demokratis dan student centred.
f) Sela Pembelajarannya. Menurut Jensen ada tiga alasan untuk ini. Pertama,
banyak dari apa yang kita pelajari tidak dapat diproses dengan sadar karena
berlangsung terlalu cepat. Kita memerlukan waktu untuk meprosesnya. Kedua,
untuk menciptakan makna baru kita perlu waktu internal. Makna selalu
dihasilkan dari dalam. Ketiga, setelah mendapatkan pengalaman baru kita
selalu memerlukan waktu untuk belajar membekas.

2. Pengalaman yang multi indera, dramatis, aneh, dan emosional akan diingat lebih
lama dan lebih terinci dari pada pengalaman biasa dan rutin
Ada tiga poin mengenai hal ini. Pertama, otak memiliki kecondongan perhatian
untuk sesuatu yang baru. Otak jauh lebih tertarik pada yang baru daripada yang biasa.
Sylvester dan Cho menemukan bahwa otak memiliki kecondongan bawaan untuk jenis
stimulus tertentu. Otak tidak dapat memberi perhatian untuk semua jenis data yang
masuk, ia memisahkan hal-hal yang kurang penting untuk bertahan hidup stimulus
apapun yang dikenalkan ke dalam lingkungan langung kita baik yang baru (segar)

9
maupun agak berbedadalam intensitas emosionalnya (sangat kontras) segera mendapat
perhatian kita. Sebuah penelitian pada tahun 1980-an mendapati bahwa siswa
sebenarnya lebih memahami isi dalam suasana tegang, penuh kejutan, ketidak
seimbangan, ketikpastian, dan kekacauan. Ketidakstabilan memberikan arah yang
bermakana.otak suka memisahkan sesuatu untuk dirinya sendiri, dan menyukai variasi.
Pendekatan behavioristik yang sangat teratur sebenarnya kemungkinan tidak
memberikan hasil yang diinginkan. Kebanyakan belajar efektif adalah belajar yang real
life atau di desain seperti real life yang menyebabkan Scottish Consultative Council On
The Curiculum menyimpulkan bahwa belajar itu acak–acakan.
Poin kedua yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pengingatan (memori).
memori merupakan hasil perubahan cepat dalam kekuatan koneksi sinapsis, suatu
proses yang dikenal dengan potensiasi jangka panjang, yang diaktifasi oleh gen-gen
khusus dan sebuah molekul protein yang dikenal sebagai CREB (cyclic AMP-Response
elemen binding protein). Bukti fisik memori disimpan sebagi perubahan dala neuron
disepanjang jalur khusus. Kekuatan memori dan oleh karenanya kemudahan dalam
pengingatannya, nampakya bergantung pada penguatan dan pemrosesan input awal.
Sekarang pentingnya belajar multi indra menjadi jelas. Ketika beberapa indera secara
bersamaan terlibat, pesan diterima beberapa kanal yang berbeda dan kemungkinan
mempunyai lebih besar untuk tetap menonjol. Ekwal dan Shanker membuktikan bahwa
orang umumnya dapat mengingat:
 10% dari apa yang mereka baca
 20% dari apa yang mereka dengarkan
 30% dari apa yang mereka lihat
 50% dari apa yang mereka lihat dan dengarkan
 70% dari apa yang mereka ucapkan
 90% dari apa yang mereka ucapkan dan lakukan bersama-sama.
Poin ketiga adalah pentingnya gerakan. Aktifitas fisik meningkatkan aliran darah
ke otak. kadang –kadang memang ada manfaatnya untuk meminta siswa melakukan
sedikit kegiatan fisik di tengah pelajaran lari ditempat satu menit misalnya, meregang
atau melakukan satu atau dua gerakan menyamping hanya untuk menyegarkan segala
sesuatunya.

10
3. Tiap orang perlu merasa terjamin secara emosional dan aman secara psikologis
Apa yang kita ketahui tentang dominansi emosi membawa kita untuk menyelidiki tiga
aspek sebagai berikut.
a. Aturan ruang kelas. Belajar paling efisien ketika siswa sama sekali tidak takut
ditekan, diejek, dilecehkan, diacuhkan, ditinggal, diolok-olok, diremehkan, atau
dipermalukan. Aturan dasar kelas yang tegas, yang dibuat bersama siswa dapat
memperkuat norma-norma perilaku positif dalam mendengarkan dan
mengurangi peremehan. gagasan untuk menciptakan masyarkat yang beradab
dan harmonis seperti ini sangat berhubungan dengan kepedulian untuk
kewarganegaraan dan gerakan nasional untuk menerapkannya.
b. Perilaku dan sikap kita sendiri. Ini artinya kita berkomunikasi dengan siswa.
Peneliti R.C. Mills menemukan bahwa siswa merasakan suatu keadaan emosi
tertentu dari guru yang mempengaruhi kesadaran mereka. Guru yang humoris,
tersenyum hangat, memiliki sikap yang menyenangkan, dan sungguh-sungguh
gembira dalam pekerjaanya menyebabkan siswa bekerja lebih baik daripada
siswa dengan guru yang tidak menunjukkan karakteristik ini. Dorongan umpan
balik positif dan pengakuan semua tampak melepaskan serotin neurotransmiter
yang penting dalam membantu interkoneksi saraf.
c. Pengajaran kecerdasan emosional. Masih ada hal lain selain siswa dan guru
berperilaku baik, merupakan inti diskusi kita sejauh ini. Ada harapan bahwa
siswa mmpu mengidentifikasi, menyebutkan dan menjelaskan
perasaan.Kemudian ada kemampuan dalam menangani emosi mereka sendiri
dan merespon emosi orang lain dengan benar. lebih lanjut lagi ada
perkembangan kepribadian yang diharapkan, seperti pengendalian dorongan
hati, keteguhan, dan ketangkasan sosial, ditambah nilai-nilai yang diinginkan
seperti kejujuran dan komitmen terhadap keadilan. Untuk mendukung hal ini
adalah penerimaan tanggung jawab personal, kemauan untuk melihat kehidupan
sebagai serangkaian pilihan dari waktu ke waktu, dan kemauan untuk merubah
perilaku, perasaan dan keyakinan berdasarkan kesadaran akan potensi pribadi
dan keterbatasan yang self imposed.

11
4. Siswa lebih termotivasi, terlibat, dan terbuka ketika mereka dapat sedikit
mengendalikan belajar mereka.
System pengaktifan reticular atau Reticular Activating System (RAS) adalah
system komando di otak yang berperan sebagai pengendali input dari system indera dan
penentu pola perilaku manusia. Posisi RAS berada di dekat sumsum tulang belakang, di
mana RAS akan menerima informasi yang dikirim dari system indera sehingga menjadi
titik pertemuan berbagai sinyal eksternal dan internal manusia. RAS juga memiliki
pengaruh terhadap otak, terutama pada bagian korteks, lobus frontal, dan pusat
pengendali motorik. Oleh karena itu RAS menentukan kepribadian seseorang, apakah
dirinya impulsive, pasif, atau mudah bosan. Dalam keadaan normal, RAS akan menjadi
koneksi saraf untuk mempelajari berbagai informasi dan konsentrasi. Diagram struktur
RAS dicantumkan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Struktur RAS (sumber: www.iupucanatomy.com)

RAS juga berfungsi sebagai filter berbagai sinyal eksternal dan internal,
manakah sinyal yang diprioritaskan untuk dikirim menuju korteks. Dengan kata lain
RAS menentukan apa yang menarik perhatian manusia. RAS menerima informasi yang
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan fisik atau batin. Adanya RAS memiliki
implikasi terhadap proses belajar mengajar, yaitu sebagai berikut.

12
1. Sangat penting bagi guru untuk memberi kesegaran dan variasi untuk
mempertahankan perhatian selama pelajaran berlangsung.
2. Otak memberi prioritas utama pada kebutuhan pokok manusia seperti rasa lapar,
haus, atau keinginan ke kamar kecil, sehingga rasa ini akan mengesampingkan
informasi lainnya.
3. Untuk menstimulasi RAS pada siswa, maka sangat penting bagi guru untuk
menekankan tujuan pelajaran, apa yang terkandung, keterkaitan dengan materi
yang diajarkan sebelumnya, dan implikasi pelajaran di masa mendatang.
4. Pada umumnya guru tidak memiliki waktu untuk berdialog dengan siswa dan
membicarakan apa yang menjadi tujuan atau harapan mereka selama belajar.
Sesungguhnya hal ini penting untuk memacu siswa mencapai target belajar yang
lebih bermakna. Bila tujuan dan harapan siswa telah teridentifikasi, maka RAS
akan mengatur dirinya untuk menjelajahi berbagai kelebihan atau kekurangan
pada diri siswa, selanjutnya RAS akan membimbing siswa mencapai tujuannya
seolah seperti autopilot.
5. Menyusun perencanaan pembelajaran bersama siswa. Hal seperti ini akan
memotivasi siswa dan membuat mereka memiliki rasa saling memiliki. Dalam
hal ini guru dapat bernegosiasi secara demokratis dengan siswa tentang apa yang
akan dikerjakan, atau guru menyesuaikan dengan gaya belajar siswa, atau siswa
memilih sendiri cara yang mereka inginkan.
Oleh karena itu dengan memahami cara kerja RAS, maka cara yang paling
mudah untuk menarik perhatian siswa adalah dengan memberikan variasi dan pilihan
bagi mereka. Banyak penelitian yang membuktikan turunnya motivasi belajar siswa saat
mereka tidak memiliki pilihan cara belajar. Pada dasarnya kemampuan untuk mengatur
sendiri akan meningkatkan motivasi siswa.

Perbedaan di Antara Siswa


Setiap orang akan bereaksi secara berbeda terhadap kondisi yang sama. Setiap
manusia memiliki perilaku bawaan yang berbeda sehingga akan memproses
pengalaman yang didapat secara berbeda. Oleh karena itu gaya belajar adalah cara tiap
siswa secara pribadi untuk berkonsentrasi dan menyimpan informasi. Subuah metode
pengajaran tertentu akan berjalan efektif bagi sebagian, akan tetapi sebaliknya tidak

13
efektif bagi orang lain. Gaya belajar tiap orang sama uniknya dengan tanda tangan.
Meskipun seseorang mengembangkan gaya belajar mereka yang dominan dalam
hidupnya, akan tetapi gaya belajar juga dapat berubah sebagai hasil dari pengalaman.
Implikasi gaya belajar terhadap proses belajar mengajar adalah sebagai berikut.
1. Faktor gaya belajar guru. Gaya belajar seorang guru akan berpengaruh terhadap
rencana pembelajaran yang disusun. Hal ini akan menentukan metode, desain
tugas, alokasi waktu, artefak siswa, dan asesmen pembelajaran. Pola berpikir
guru juga berpengaruh terhadap penataan lingkungan kelas, cara memberi
penilaian, komunikasi non verbal, dan cara penyampaian instruksi. Oleh karena
itu guru perlu memahami dirinya dan mulai mencoba hal-hal baru di luar
kebiasaan untuk meraih simpati siswa.
2. Faktor gaya belajar siswa. Setiap siswa dapat belajar dengan model belajar
apapun. Akan tetapi tiap model pembelajaran menuntut derajat mental yang
khusus bagi guru yang akan menerapkan. Oleh karena itu karena keterbatasan
gaya belajar, terkadang seorang guru tidak dapat menerapkan suatu model
pembelajaran.
3. Mengakomodasi perbedaan. Ada saatnya guru perlu mencoba terobosan baru
yang unik dan belum dicoba oleh guru lain, misalnya seperti berkolaborasi
dengan guru yang memiliki gaya belajar yang berbeda atau guru bidang studi
lain untuk menyusun rencana pembelajaran. Dengan brainstorming
kemungkinan akan melahirkan ide-ide unik yang tidak terduga.

Tiga model gaya belajar yang paling populer saat ini terdapat 3 model, yaitu
model preferensi indera, model preferensi kognitif, dan model multiple intelligence
(MI). Selanjutnya ketiga model akan dipaparkan lebih lanjut.
1. Preferensi Indera: Visual, Auditori, dan Kinestetik
Pendapat ini bermula dari anggapan bahwa tiap menusia memiliki satu organ
indera yang paling dominan dan melalui indera dominan ini seseorang akan merasa
lebih nyaman dalam mengolah informasi. Setiap orang dengan kecenderungan visual,
auditori, dan kinestetik membutuhkan cara yang berbeda untuk belajar lebih efektif.
Implikasi hal ini bagi guru adalah bahwa guru harus peka dan mampu mengakomodasi

14
setiap kecenderungan siswanya dengan mempertimbangkan bahwa ada cara
multisensori yang dapat mengakomodasi berbagai perbedaan.
Siswa dengan kecenderungan visual memiliki kecenderungan lebih menyukai
materi visual, sedangkan siswa dengan kecenderungan auditori akan lebih menikmati
pelajaran melalui diskusi, presentasi, atau ceramah. Siswa dengan kecenderungan
kinestetik akan lebih menyukai aktivitas fisik seperti simulasi, bermain peran, dan studi
lapangan.
Apabila guru tidak mampu mengakomodasi perbedaan kecenderungan siswanya,
maka terdapat berbagai kemungkinan. Pertama, siswa akan mengoptimalkan indera
sekundernya; kedua, siswa memiliki kecenderungan yang merata sehingga masih dapat
menerima informasi bagaimanapun caranya untuk disampaikan; ketiga, siswa memiliki
indera dominan yang sangat kuat sehingga hanya dapat mengolah informasi sesuai
dengan gaya yang mereka sukai.

2. Preferensi Kognitif
Model preferensi kognitif adalah hasil telaah dari Dr. Anthony Gregorc yang
menyatakan bahwa manusia memiliki berbagai tipe (mind style) sebagai berikut.
• Tipe konkret. Manusia dengan tipe ini mengolah informasi yang diterima
dengan menggunakan indera seperti melihat, mendengarkan, merasa, mencium,
dan sentuhan. Oleh karena itu orang dengan tipe semacam ini hanya dapat
menerima informasi yang nyata secara fisik.
• Tipe abstrak. Manusia dengan tipe ini cenderung mengolah informasi dengan
cara berpikir, menyusun keterkaitan, dan berimajinasi. Oleh karena itu cara
berpikirnya cenderung subjektif.
• Tipe random. Manusia dengan tipe semacam ini mengolah dan menyimpan
informasi dengan seenaknya sendiri.
• Tipe sekuensial. Manusia dengan tipe semacam ini menyimpan ide dan fakta
secara sistematis. Cara berpikirnya logis, terstruktur, dan praktis.
Keempat tipe di atas dapat membentuk kombinasi yang dirumuskan oleh Dr. Gregorc
sebagai berikut.
• Konkret sekuensial. Orang dengan tipe ini menyukai aktivitas yang praktis dan
trstruktur.

15
• Abstrak sekuensial. Orang dengan tipe ini menyukai aktivitas menghubungkan
berbagai ide seperti riset akademis.
• Abstrak random. Orang dengan tipe ini menyukai diskusi bebas seperti
brainstorming, berimajinasi, berefleksi, dan mencari ide.
• Konkret random. Orang dengan tipe ini tidak suka dengan instruksi atau
deadline yang mengikat, sehingga suka bekerja dengan cara mereka sendiri.
Dalam mengolah infromasi mereka menyukai cara trial and error.
Melalui pemahaman akan preferensi kognitif Gregorc, guru diharapkan mampu
mengembangkan proses belajar mengajar yang dapat mengakomodasi berbagai tipe
yang telah dijelaskan. Namun menurut Gregorc hal semacam ini juga bukan perkara
mudah karena mind style yang dimiliki guru terkadang malah mempersulit guru untuk
memahami mind style siswanya. Berikut adalah sebagian contoh karakteristik proses
belajar dan mengajar yang disesuaikan dengan tipe siswa.
• Konkret sekuensial: tujuan jelas, terstruktur, memakai diagram, disediakan
manual, mengikuti aturan.
• Abstrak sekuensial: membaca, berargumen, berdebat, membuat hipotesis,
menyusun esai atau riset.
• Abstrak random: kerja kelompok, permainan, imajinasi, peer teaching.
• Konkret random: investigasi, menciptakan model, eksperimen, berhubungan
dengan dunia nyata.

3. Multiple Intelligence (MI)


Model yang sangat populer ini dirumuskan oleh Howard Gardner dan dirinya
membagi manusia dalam berbagai tipe kecerdasan sebagai berikut. Setelah mengenal
model MI ini guru diharapkan dapat meningkatkan pemahaman empatik terhadap siswa.
• Kecerdasan linguistik: orang dalam tipe ini suka membaca dan menulis,
menyukai cerita, menyukai permainan kata, dan memori yang bagus.
• Kecerdasan logika dan matematika: orang dalam tipe ini menyukai permainan
teka-teki dan strategi, serta mampu berhitung di luar kepala.
• Kecerdasan spasial: orang dalam tipe ini menyukai aktivitas menggambar,
merancang, dan membangun.

16
• Kecerdasan musikal: orang dalam tipe ini suka bernyanyi, memainkan alat
musik, dan butuh musik selama belajar.
• Kecerdasan fisik-kinestetik: orang dalam tipe ini tidak suka duduk dalam waktu
lama, mereka menyukai simulasi dan bermain peran.
• Kecerdasan interpersonal: orang dalam tipe ini suka belajar dengan cara bekerja
sama dan mampu mengenali perasaan orang lain.
• Kecerdasan intrapersonal: orang dalam tipe ini suka belajar dan bekerja
sendirian, mandiri, dan mampu mengenal dirinya.
• Kecerdasan naturalistik: orang dalam tipe ini sangat mengenal dunia flora dan
fauna sehingga terampil dalam hal melakukan klasifikasi.

Agenda Pendidikan Lain


Kurikulum pendidikan menuntut peserta didik untuk berpikir secara kreatif dan
kritis serta mampu memecahkan permasalahan. Oleh karena itu kurikulum juga harus
memberi siswa kesempatan untuk menjadi kreatif, inovatif, dan menjadi pemimpin
sebagai bekal kelak dalam kehidupan mereka sebagai warga negara. Dalam hal ini
terdapat 4 isu yang perlu diperhatikan
1. Belajar untuk belajar. Siswa dituntut untuk dapat belajar mandiri dan
kompetensi yang dibutuhkan dalam hal ini adalah kecakapan memproses
informasi (merencanakan, memproses, menyajikan) dan kecakapan inti
(manajemen waktu, sosial, refleksi, penilaian diri sendiri). Tentu bukan hanya
pikiran yang harus diurus, aspek lain yang harus dipertimbangkan adalah
metakognisi.
2. Pendidikan demokrasi dan kewarganegaraan di kelas. Banyak alasan yang
menuntut pendidik untuk mengembangkan demokrasi dan kewarganegaraan di
dalam kelas, salah satunya adalah faktor kriminalitas remaja. Hal ini dapat
diupayakan melalui pembelajaran kooperatif. Pengalaman belajar kooperatif
terbukti dapat meningkatkan prestasi dibandingkan dengan proses belajar yang
individual dan kompetitif. Manfaat pembelajaran kooperatif yang lebih jauh
daripada sekedar mengajarkan demokrasi adalah siswa dapat belajar bagaimana
cara belajar dan mengembangkan kecakapan kognitif dan metakognitif.

17
3. Menciptakan iklim belajar yang aman. Guru dituntut untuk menciptakan
komunitas belajar yang melindungi siswa dari cemoohan dan ejekan.
Lingkungan semacam ini akan menghasilkan partisipasi siswa sepenuhnya
dalam pelajaran. Siswa yang memiliki kelemahan dalam belajar sebenarnya
adalah siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda. Siswa yang tidak
berprestasi bisa jadi adalah siswa yang bosan di kelas karena tidak ada guru
yang mengenali dan menggunakan kemampuan khusus mereka. Sekali lagi guru
harus menjamin motivasi dan konsentrasi siswa dengan menggunakan
pendekatan yang tepat.

Resep/Panduan Penggunaan Buku Trik dan Taktik Mengajar


Pada dasarnya buku tersebut dirancang untuk memberi yang terbaik bagi seluruh
siswa dan diharapkan siswa mengembangkan kecakapan sosial, tanggung jawab
individu, dan pemikir mandiri. Paul Ginnis merumuskan tujuh tujuan perencanaan yang
menjadi prinsip penulisan bukunya dan ditambah dengan empat ciri kontekstual yang
harus diperhitungkan yang tertera sebagai berikut.
Tujuh tujuan perencanaan:
1. berpikir: siswa memproses data secara aktif
2. kecerdasan emosional: mengembangkan pengendalian diri
3. kemandirian: siswa mampu belajar tanpa kehadiran guru
4. ketergantungan: siswa mengembangkan interaksi mutualistik untuk
mengembangkan semangat demokrasi
5. sensasi ganda: siswa melibatkan sejumlah indera dalam belajar.
6. kesenangan dalam belajar
7. artikulasi: siswa mampu mengembangkan pemahaman dirinya
Empat ciri kontekstual:
1. komunikasi optimisme dan harapan yang tinggi yang dicapai dengan tugas-tugas
yang menantang
2. penciptaan lingkungan fisik yang kondusif
3. mengakomodasi berbagai gaya belajar yang berbeda yang dilakukan dengan
memberi variasi, menawarkan pilihan, dan bernegosiasi dengan siswa.

18
4. peningkatan harga diri siswa yang dilakukan dengan pemakaian bahasa yang
positif
Akan tetapi segalanya belum tentu berjalan mulus. Jelas ada banyak hal yang
menentukan keberhasilan implementasi ide dalam buku ini. Seringkali terdapat hal yang
pengaturannya membutuhkan ijin dari pihak lembaga seperti pengaturan fisik
lingkungan kelas. Hal lain yang berpengaruh adalah kebijakan pimpinan, kultur
lembaga, dan berbagai peraturan yang bisa jadi tidak selaras dengan keinginan guru.
Bagaimanapun juga guru tetap harus optimis, asalkan guru tersebut cekatan atau masih
berusaha mengembangkan keterampilannya, teknik yang disajikan Paul Ginnis akan
berhasil meski dalam kondisi yang janggal.

B. Bagian 2: Alat Untuk Mengajar dan Belajar


Pendidikan merupakan pondasi bagi sebuah negara. Melalui edukasi,
pencerdasan generasi penerus bangsa merupakan modal yang penting bagi
kekuatan sebuah negara. Maka tidak heran pada umumnya negara-negara di dunia
memperhatikan pendidikan negerinya dengan berbagai kebijakan, baik dalam hal
membentuk undang-undang, menyediakan prasarana dan sarana, hingga pengaturan
sistem pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan di dalam negerinya.
Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari
unsur: tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru. Semua unsur atau
komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya berfungsi
dengan berorientasi kepada tujuan. Kesediaan prasarana dan sarana pendukung kegiatan
belajar mengajar. memenuhi kebutuhan untuk membelajarkan siswa. Proses
pembelajaran memerlukan sarana dukung pendidikan yang kondusif. Untuk
memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu
sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya.
Berbagai cara bisa dilakukan guru untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran. Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan guru:
1. Duta Besar
Prosedur:
a. Siswa bekerja dalam kelompok berempat. Di tiap kelompok, satu siswa
dicalonkan sebagai duta besar.

19
b. Para duta besar meninggalkan ruang kelas bersama-sama untuk menyaksikan
pertunjukan di tempat lain. Ini bisa dilakukan di aula oleh seorang rekan yang
bersedia. Atau kelompok ini dapat diawasi oleh pustakawan di pusat sumber
belajar dan menyaksikan presentasi PowerPoint atau video tentang Anda yang
mendemonstrasikan teknik tersebut.
c. Sementara itu, siswa lainnya terus berkutat dengan teori yang terkait dengan
demonstrasi, diajar oleh guru di ruang kelas.
d. Ketika sedang menonton demonstrasi, para duta besar diharapkan membuat
catatan sehingga mereka dapat mengulang dan menjelaskan demo tersebut ke
kelompok mereka. Mereka mungkin perlu melihat demo tersebut lebih dari
sekali dan mungkin memerlukan beberapa waktu untuk menyiapkan alat bantu
belajar.
e. Para duta besar kembali ke ruang kelas, sebaiknya pada saat kerja teori telah
selesai. Mereka sekarang mengajarkan demonstrasi ke kelompoknya masing-
masing, menjelaskan, dan jika perlu mengulang, langkah-langkahnya.
f. Penerima mengajarkan teori yang baru saja mereka terima kepada duta besar
mereka.
g. Pembelajaran dari tiap orang kemudian dicek oleh guru. Ini dapat dilakukan
melalui tes formal, atau oleh guru yang secara spontan menunjuk individu untuk
menjelaskan atau mempertontonkan teknik tersebut.
Aplikasi
a. Ideal untuk seni, Pendidikan Jasmani (PJ) dan teknologi, di mana siswa harus
mempelajari teknik dan proses yang tepat.
b. Di sains, untuk memperkenalkan prosedur sebuah percobaan yang nanti harus
dilakukan tiap orang di lab.
c. Bagaimana menyusun esai dalam Bahasa Inggris.
d. Teknik lapangan dalam geografi, teknik riset dalam sosiologi.
e. Aturan dan prosedur dalam matematika, teknik perencanaan bisnis dalam ilmu
bisnis.
f. Sebagai alat untuk memperkenalkan kosakata dan struktur bahasa barn dalam
bahasa-bahasa modern, ideal digunakan oleh asisten bahasa.

20
Alasan melakukan:
a. Aktivitas ini memperkuat kebersamaan dan saling ketergantungan, yang
merupakan bagian dari batu pondasi kewarganegaraan.
b. Latihan ini menuntut siswa untuk menyerap, mengingat, dan mengungkapkan.
Ini adalah dasar dari proses belajar dan sengaja diajarkan di latihan ini. Jika
diadakan tanya jawab secukupnya, proses ini membantu siswa menjadi sedikit
lebih sadar diri dan mandiri.
c. Dengan meminta siswa untuk bertanggung jawab, kegiatan ini mengatasi
masalah yang dihadapi oleh banyak guru bahwa minat siswa cenderung tidak
bertahan lama ketika mereka secara pasif menonton sebuah demonstrasi.
d. Kegiatan ini membebaskan guru untuk lebih menjadi pengontrol kualitas, bukan
pemain.
Variasi
a. Selain demonstrasi praktis, pengajaran apapun dapat dipakai. Di dalam video
guru dapat memberikan informasi atau menjelaskan sebuah konsep
b. Gunakan video komersil - pilihan paling mudah.
c. Selain menonton guru atau video, para duta besar dapat melakukan riset
menggunakan Internet, kemudian kembali dan menyampaikan hasilnya.
d. Selain menggunakan video atau rekaman untuk melakukan demonstrasi,
gunakan siswa yang "bersinar" yang telah diajar oleh guru, atau yang dipimpin
oleh siswa yang lebih senior dengan pengetahuan dan pengalaman yang lebih
banyak di area tersebut
e. Buat kelompok bertiga, bukan berempat, agar tiap orang terlibat.

2. Majelis
Prosedur
a. Siswa bekerja sendiri atau berpasangan untuk menyusun potongan-potongan dari
materi-materi yang secara logis berkaitan. Pilih materi dan pemotongannya
dengan hati-hati.
b. Bentuk paling sederhana dari menyusun adalah mengurutkan. Harus ada cukup
petunjuk di tiap potongan agar dapat dihubungkan dalam urutan yang logis.
Pengurutan dapat diberikan berdasar kronologi (garis waktu, contohnya), atau

21
dapat dengan urutan langkah-langkah yang tepat dalam suatu percobaan, proses
teknologi, urutan kejadian dalam narasi sebuah cerita, logika sebuah perhitungan
matematis, rasionalitas dari argumen kumulatif.
c. Materi yang akan dikumpulkan bisa berupa teks, gambar, simbol, kombinasi.
d. Bentuk lain dari menyusun antara lain:
• Menggabungkan sebuah gambar, misalnya memilih dan menempatkan
potongan gambar dari peralatan ilmiah untuk sebuah percobaan sebelum
dilaksanakan menyusun potongan berdasarkan pemahaman dari suatu teks
atau deskripsi lisan dalam Bahasa Inggris atau bahasa lain, contohnya
menata perabot di sebuah denah ruang, orang-orang di suatu tempat, gedung
di denah jalan, pemukiman di peta.
• Geometri, misalnya membuat lima buah persegi empat yang sama
ukurannya dari suatu campuran bentuk.
• Sisipkan dengan benar label yang telah dipotong dari diagram.
• Tunjukkan kaitan antara sebab dan akibat dengan meletakkan kartu-kartu
yang diberi tulian kata-kata kunci, misalnya perang, krisis, dan revolusi
dalam sejarah atau karakter fiktif dan kegiatan mereka dalam sebuah novel
atau drama. Jarak antar kartu melambangkan kekuatan hubungan di antara
mereka - semakin jauh, semakin lemah hubungannya.
• Secara fisik petakan sebuah rencana kerja dengan tugas utama, langkah
kecil, tanggal dan nomor di kartu terpisah
Aplikasi
a. Gambar besar adalah cara yang sangat bagus untuk membantu siswa mengenal
skema kerja atau silabus ujian. Tulis ulang silabus dalam bahasa siswa,
pertahankan sebanyak mungkin istilah resmi. Potong menjadi bagian-bagian
login, hati-hati membagi elemen-elemen yang berkaitan, misalnya judul
kategori dan subdivisinya, petikan, dan referensinya. Siswa dengan bekerja
berpasangan mencocokkan dan mengurutkan potongan kertas agar semirip
mungkin dengan dokumen salinannya. Begitu dokumen asli dan hasil siswa
dibandingkan dan penyesuaian dilakukan, minta tiap pasangan untuk
menempelkan potongan-potongan silabus di atas kertas buram sedemikian rupa
sehingga masuk akal bagi mereka, menggunakan garis warna. Representasi

22
visual ini kemudian dapat ditampilkan di dinding ruang kelas atau disimpan
untuk referensi.
b. Teknologi, sains: memprediksi, atau mencatat, langkah-langkah dari suatu
proses atau percobaan, peristiwa tidak langsung dalam suatu reaksi berantai,
urutan perubahan atom dalam reaksi kimia.
Alasan melakukannya
a. Kegiatan ini melatih keterampilan berpikir utama seperti mengurutkan,
mengelompokkan, memilih, mencocokkan.
b. Kegiatan ini memuaskan keingintahuan manusia dan keinginan otak untuk
membuat koneksi, untuk melihat bagaimana hal-hal saling berkaitan.
c. Banyak siswa memperoleh manfaat dari kegiatan yang menarik ini, mereka lebih
termotivasi dan fokus dengan menggeser-geser potongan kertas di seluruh meja
dari pada memelototi kertas kosong dengan pena di tangan.
Variasi
a. Masukkan elemen kompetisi - saling berlomba atau berpacu dengan waktu.
b. Siswa dapat bekerja bertiga untuk beberapa tugas. Contohnya tugas yang
memungkinkan adanya perbedaan pendapat
c. Siswa diberi potongan tersusun yang ada kesalahannya dan mereka harus
menemukannya. Di tingkat tinggi, mungkin ada satu kesalahan kecil, memaksa
perhatian yang teliti pada detail.

3. Punggung dengan punggung


Prosedur
a . Siswa duduk berpasangan "punggung dengan punggung" -sandaran kursi
sebaiknya bersentuhan sehingga para siswa cukup dekat untuk saling
mendengarkan di antara keramaian yang ada. Mereka memutuskan siapa A dan
siapa B.
b . A diberi material visual, yang dia pegang dekat dadanya (sehingga pasangan
mata yang penasaran di sekeliling ruangan tidak dapat melihatnya). B diberi
selembar kertas polos dan pensil.
c . A menjelaskan visualnya kepada B, sedangkan B menggambarnya, dengan
tujuan membuat tiruan yang sempurna dalam ukuran, bentuk, dan detail,

23
lengkap dengan labelnya. Tidak boleh mengintip! Pemberi penjelasan tidak
boleh menggambar di udara dengan jari
d . Ini merupakan latihan kerja sama. B dapat bertanya sebanyak yang dia suka dan
tugas A menolong sebanyak mungkin.
e . Saat waktu habis, pasangan tersebut membandingkan yang asli dengan upaya
tiruannya.
f . Pasangan bertukar tugas dan mencobanya lagi dengan menggunakan materi lain,
dengan B menjelaskan dan A menggambar.
Aplikasi
a. Hampir setiap material visual, seperti foto pemandangan, pemukiman, monumen
bersejarah, karya seni, peta, baju mode, bangunan religius
b. Geografi, diagram dari berbagai jenis gunung
c. Geometri dan trigonometri, dengan memberikan detail tepat tentang sudut,
panjang garis, diameter.
d. Perangkat ilmiah, diagram sirkuit, sketsa peralatan.
e. Juga di sains, salah seorang menjelaskan ke pasangannya apa yang dapat mereka
lihat di bawah mikroskop.
f. Denah, peta, dan diagram alir.
Alasan melakukannya
a. Belajar yang bertahan lama muncul melalui perhatian yang fokus pada detail
dan melalui usaha untuk menggunakan bahasa yang tepat.
b. Kecakapan mendengarkan dan bertanya dikembangkan dengan sengaja - ini
adalah dua di antara bahan-bahan yang penting untuk belajar mandiri yang
efektif.
c. Intelegensi visual dan interpersonal diperlukan. Dengan meniadakan kebutuhan
akan membaca dan menulis, kegiatan ini memberi kesempatan bagi siswa
kurang berprestasi untuk sukses dan puas. Kegiatan ini komprehensif.
d. Mereka yang mempunyai cara belajar visual merasa puas.
e. Ini adalah latihan dalam kerja sama - tiap siswa bergantung pada lainnya untuk
sukses. Ini merupakan kesempatan yang bagus untuk meminta siswa bekerja
dalam kombinasi yang "tidak biasa" yang melintasi keterbatasan persahabatan
biasa dan jenis kelamin.

24
Variasi
a. Cobalah kegiatan ini dengan kertas grafik, sehingga mengundang siswa untuk
menggunakan koordinat untuk mencapai keakuratan.
b. Cobalah ini berhadapan bukan saling memunggungi dengan kertas
disembunyikan di belakang karton atau buku. Dengan ini siswa memperoleh
manfaat dari kontak mata, tetapi tidak diperbolehkan menggunakan isyarat atau
menggambar bentuk di udara. Pemberi penjelasan sebaiknya tidak dapat melihat
pekerjaan penggambar selama proses berlangsung.
c. Setelah beberapa lama, hentikan proses dan bahas dengan kelas istilah teknis
yang diperlukan oleh kegiatan ini. Para siswa kemudian kembali ke aktivitas dan
diharapkan menggunakan lebih banyak bahasa teknis. Berkelilinglah dan
pastikan mereka melakukannya!
d. Gunakan kegiatan ini untuk model tiga dimensi - misalnya papan sirkuit, model
plastik, patung kawat.
Prosedur
a. Jelaskan bahwa Anda akan menjelaskan suatu prosedur, membaca teks, menulis
bacaan di papan, mendemonstrasikan aktivitas praktis, menjelaskan konsep,
berhitung, menggambar diagram di OHP dan Anda mungkin membuat
kesalahan.
b. Tugas siswa, yang bekerja secara individu adalah menemukan dan membuat
catatan kesalahan.
c. Di akhir presentasi guru, para siswa berpasangan, membandingkan hasilnya dan
maju dengan daftar gabungan mereka.
d. Guru berkeliling kelas menanyakan tiap pasangan untuk mengusulkan
kesalahan.
Aplikasi
Sains: melakukan percobaan tanpa perahtian yang cukup terhadap aspek keamanan
dan kesehatan
Proses apapun yang dapat didemonstrasikan, lukisan, atau kalkulasi yang rumit,
penjelasan atau deskripsi penting
Alasan melakukannya
Semua siswa perlu waspada dan berpikir.

25
Menegaskan pemahaman di pikiran siswa saat otak secara otomatis membandingkan
apa yang dia kira diketahuinya dengan apa yang sedang dilihat dan didengar.
Nilai baru dari siswa yang mempertaruhkan kecerdasan melawan guru biasanya
memberi motivasi.
Kegiatan ini menciptakan hubungan yang lebih mulus antara kelas dan guru.
Variasi
a. Awalnya, siswa bekerja berpasangan. Kemudian, setelah presentasi guru,
pasangan bergabung menjadi berempat. Mereka membahas, mendebat, dan
memutuskan suatu daftar terbaik.
b. Siswa harus melakukan sesuatu lebih cepat daripada guru, misalnya
mengadakan percobaan, melakukan perhitungan, mengusulkan desain, menulis
jawaban contoh, menerjemahkan bacaan, membuat suatu catatan tentang suatu
bacaan.
c. Balik prosesnya. Siswa bekerja berpasangan merancang presentasi yang punya
kesalahan yang disengaja. Jika guru tidak melihat semuanya, gurunya
dikalahkan. Ideal untuk revisi.
d. Setelah periode awal riset secara individu, siswa berpasangan dan merancang
pertanyaan untuk membawa pengetahuan mereka lebih jauh. Mereka
mengajukannya kepada guru, yang memberi nilai satu poin untuk tiap
pertanyaan yang dapat dia jawab di luar kepala. Kelas memperoleh satu poin
untuk tiap jawaban yang harus dia cari di buku

4. Bingo
Prosedur
a. Minta semua orang menggambar dengan cepat, tanpa alat sembilan grid bingo
b. Di papan tulislah 12 istilah utama dari topik saat itu
c. Minnta tiap orang mengisi kesembilan kotak dengan menuliskan sembilan dari
dua belas istilah kunci tanpa urutan. Jika mereka pandai, mereka akan memilih
yang kemungkinan benar.
d. Ucapkan "eyes down." Baca definisi dari kedua belas istilahh itu, satu per satu,
secara acak. Salah satu cara lakukannya adalah menuliskan definisi tersebut

26
kartu kecil sebelumnya. Kartu-kartu itu dikocok dalam kantong, jadi tiap orang
mendapat bahwa urutannya acak seperti dalam bingo sebenarnya
e. Siswa menyilang istilah di kartu mereka jika dan ketika tersebut cocok dengan
definisi. Ketika seseorang membuat garis (horisontal, vertikal atau diagonal),
mereka membaca kembali istilah dan artinya. Kemudian terus hingga full house.
Lagi, pemenang membaca istilah dan artinya. Sisa kelas di minta untuk setuju
atau tidak dengan siswa tersebut.
Aplikasi
a. Untuk merevisi topik yang baru disampaikan.
b. Untuk mengevaluasi pengetahuan tentang topik yang siswa miliki sebelum
c. Sebagai cara yang menyenangkan untuk memberi "tes."
d. Akhir yang ideal dari pelajaran yang telah memperkenalkan beberapa istilah
teknis.
Alasan melakukan
a. Menarik, berbeda, mudah!
b. Mernberi tabu Anda dan siswa banyak hal tentang tingkat pemahaman dan
ingatan Diagnosis tersebut kemudian dapat memberitahu pilihan aktivitas untuk
penguatan (reinforcement) dan perluasan (extension).
c. Mendorong siswa memahami bahwa belajar dapat menyenangkan, dan juga
memberi mereka teknik revisi untuk digunakan di rumah.
Variasi
a. Gunakan enam belas kotak dengan dua puluh lima istilah.
b. Siswa dapat bekerja dalam pasangan, bukan individu, dengan bermacam
kemampuan.
c. Sebagai ganti membaca definisi, buat pertanyaan yang agak sulit yang
mencerminkan standar penilaian resmi.
d. Belajar bagaimana mengeja istilah teknis. Siswa diminta belajar dua belas kata
kemudian mereka memilih Sembilan yang mereka merasa yakin dan menuliskan
di kotak - dari ingatan. Guru kemudian mengeja kedua belas kata tersebut satu
per satu secara acak. Siswa kemudian menyilangnya hanya jika mereka telah
mengeja dengan benar.

27
5. Fungsi Fisik
Prosedur
Gunakan siswa di kelas untuk mewakili bagian komponen sebuah proses, dan minta
mereka memainkannya. Contohnya: reproduksi manusia.
a. Singkirkan perabot dari tengah ruang. Gunakan meja, kursi atau bangku
laboratorium untuk membuat jalan masuk (vagina) dari pintu ruang sampai ke
tengah ruang.
b. Mintalah separuh kelas untuk menunggu di luar di koridor - mereka akan
menjadi sperma
c. Sebagian besar lainnya berdiri dalam dua baris untuk membentuk saluran falopi
di ujung jalan masuk. Lima siswa yang saling memunggungi dan lengan
berkaitan kuat dalam lingkaran dan membentuk selaput sel telur wanita. Telur
tersebut bersarang di saluran Fallopian. ,
d. Pilih siswa terkecil dalam kelas sebagai nukleus - dia berdiri di tengah-tengah
sel, bergetar penuh antisipasi.
e. Sekarang minta sperma di koridor untuk berpasangan, kepala dan ekor. Ekor
bergoyang-goyang dan mendorong. Jelaskan bahwa jalan masuknya sempit, dan
ini adalah pacuan dan agar tidak begitu kacau, sperma hanya dapat berjalan
dengan menapak atau bergerak dengan pelan.
f. Sperma menekan pintu yang tertutup, yang kemudian terbuka dengan cepat dan
secara tiba-tiba siswa yang berpasangan berdesakan di jalan masuk menuju telur
yang menunggu. Jika kepala dan ekor terpisah, mereka mati.
g. Kepala sperma pertama yang tiba dipersilakan masuk, membran sel telur segera
menutup. Lengan berkaitan kuat lagi. Nukleus dibuahi dan sisa sperma berputar-
putar dan menyerah.

Plasenta. Bentangkan jaring badminton di tengah ruang sebagai dinding


plasenta. Bagi siswa menjadi dua kelompok besar - pasokan darah milik ibu dan janin.
Kelompok tersebut, di sisi-sisi lain dari jaring, bergerak dalam lingkaran besar. Saat
mereka berkeliling, siswa mengambil kartu. Siswa dari ibu mengambil kartu sel darah
merah besar dan kartu oksigen putih yang lebih kecil dan kartu gizi hijau, masing-
masing satu. Siswa janin mengambil kartu sel darah merah yang besar dan kartu karbon

28
dioksida abu-abu yang lebih kecil dan kartu kotoran coklat dan kuning. Saat siswa yang
berkeliling mendekati jaring, mereka mencoba memberikan kartu-kartunya ke siswa di
sisi lain. Kartu-kartu oksigen dan gizi diberikan ke janin, dan kartu kotoran coklat dan
kuning diberikan ke ibu. Kartu sel darah merah terlalu besar dan tidak akan. melewati
jaring, yang menunjukkan bahwa pasokan darah tidak pernah bercampur. Teruskan
proses, sampai tujuan pengajaran utama menjadi jelas.
Magnetisme. Singkirkan perabot dan buat lingkaran dari kursi. Letakkan meja
atau bangku di tengah-tengah lingkaran sebagai magnet batang, diberi label positif dan
negatif. Minta seorang siswa berdiri dan berjalan di jalur medan magnet. Kembangkan
rute dengan diskusi dan panduan dari guru. Secara bertahap undang lebih banyak siswa
untuk ikut serta sampai pola penuh dari medan magnet bergerak.
Aplikasi
a. Berbagai fungsi dalam sebuah proses, dikaitkan dengan siswa yang menunjuk
yang menggambarkan anak panah.
b. Sains: voltase. Buat sebuah "sirkuit listrik" menggunakan benang atau tali.
beberapa siswa menjadi bola lampu dan berdiri di atas benang, sedangkan
lainnya mewakili daya listrik. Awalnya hanya satu siswa merupakan "volt" clan
mendorong "siswa daya listrik" mengitari sirkuit. Saat "daya" melewati bola
lampu, lengan mereka naik. Kemudian dua "volt" mendorong "daya", yang
sekarang bergerak lebih kencang sehingga cahaya hidup lebih cepat. "Volt"
ketiga ditambahkan dan seterusnya sampai tujuan kegiatan terbentuk dengan
kuat.
Alasan melakukannya
a. Belajar dengan indera ganda (multisensory) lebih bertahan di otak dari pada
belajar tanpa indera ganda. Pengalaman tersebut masuk melalui lebih banyak
jalur indera.
b. Pengalaman yang memiliki keunggulan emosional, yang terasa berbahaya,
menarik atau menyenangkan, misalnya menyebabkan lepasnya zat kimia di otak,
yang berfungsi sebagai perekat memori.
c. "Fungsi Fisik" merupakan strategi menyeluruh - yang memuaskan siswa yang
tidak membaca atau menulis dengan baik, yang model belajarnya konkret, aktif
atau acak, atau yang intelegensinya sebagian besar kinestetik dan spasial.

29
d. Kegiatan ini dapat memecahkan kekakuan dan mengubah dinamika hubungan di
kelas. Guru sering dipandang dalam cara berbeda setelahnya dan siswa mungkin
lebih siap untuk bekerja dengan lainnya dalam berbagai kombinasi.
Variasi
a. Keluar ruang - gunakan tempat bermain untuk demonstrasi yang besar.
b. Undang sekelompok siswa tingkat lanjut yang sedang meriset topik dan
rencanakan bagaimana kelas dapat merepresentasikan secara fisik. Mereka
kemudian memimpin pelajaran dan mengorganisir semuanya, bukannya Anda!
Anda hanya membuat penyesuaian dan komentar.
c. Minta siswa untuk bekerja dalam kelompok. Beri mereka tantangan untuk
dikerjakan, dan secara fisik demonstrasikan proses untuk mereka sendiri dalam
kelompok mereka. Kelompok-kelompok tersebut kemudian melihat interpretasi
masing-masing.

6. Pecahan Potongan
Prosedur
a. Tiap siswa diberi sepotong informasi atau tanggung jawab yang diperlukan oleh
kelompok untuk menyelesaikan tugas bersama.
b. Jelaskan tugas yang harus diselesaikan kelompok - masalah yang harus
dipecahkan, kode yang harus dibuka, urutan yang harus ditentukan, kesimpulan
yang harus dibuat, keputusan yang harus diambil, pemecahan yang harus
ditemukan, produk yang harus diciptakan.
c. Jelaskan aturannya.
• Kamu tidak boleh menunjukkan atau secara fisik memberikan informasi
kepada siapapun juga. Kamu juga tidak boleh mengambil dari orang lain.
• Kamu bertukar kontribusimu hanya dari mulut ke mulut .
• Hanya satu orang yang boleh menulis.
• Kamu tidak boleh bergerak atau meninggalkan kursi, kecuali satu orang
yang mungkin diminta oleh kelompok untuk menulis catatan di papan
• Secara periodik guru akan memberi tabu waktu yang tersisa, dan
menegurmu jika aturan dilanggar. Selain ini, kamu harus mengatur diri
sendiri.

30
• Sesuaikan aturan menurut sifat aktivitas. Penting bahwa tiap siswa
memegang erat informasi atau tanggung jawab tertentu mereka di sepanjang
kegiatan.
• Umumkan deadline-nya, yang menciptakan perasaan terdesak, dan biarkan
mereka mulai
d. Peran guru. Aktivitas ini dirancang untuk melatih keterampilan pemecahan
masalah dari kelompok. Maka panting untuk membolehkan kelompok
mengambil alih proses tersebut. Jika Anda mundur, mengamati tetapi tidak ikut
campur, dinamika sebenarnya dari kelas akan dapat terlihat: dominasi, minder,
pendengaran kurang, meremehkan atau apapun. Mungkin sulit untuk
mengendalikan, tetapi ini adalah kegiatan belajar melalui pengalaman dan akan
ada hasilnya hanya jika keadaan sebenarnya dari kegiatan dapat disaksikan oleh
semua. Turut campur hanya jika gangguan fisik atau pelecehan emosi akan
terjadi. Membahas ape yang telah terjadi setelah itu sama pentingnya dengan
kegiatan ini sendiri.
Aplikasi
Sains: Siswa bekerja dalam kelompok berempat atau berlima. Tiap kelompok harus
merancang percobaan untuk memisahkan alkohol dan air. Petunjuknya antara lain:
alkohol tidak berwarna. Petunjuknya:
titik didih air adalah 100°C.
titik didih alkohol adalah 78°C.
penguapan berarti ....
pengembunan adalah ....
Alasan melakukannya
a. Kegiatan ini sesuai dengan keinginan alami dari otak untuk memecahkan teka-
teki, membuka misteri, menyelesaikan tantangan dan biasanya membuat arti
sendiri.
b. Memperkuat kemampuan linguistik, logis, dan interpersonal.
c. Membagi potongan memberi tiap orang kontribusi potensial, jadi tidak ada yang
tertinggal - bermanfaat ketika Anda ingin siswanya mempelajari seni partisipasi
dan keikutsertaan. Kegiatan ini melatih siswa dalam kerja kelompok yang
sebenarnya. Menarik perhatian tiap siswa terhadap perlunya keterampilan

31
mendengarkan dan aturan dasar. Ini, pada akhirnya, menciptakan konteks dan
motivasi untuk memperbaiki perilaku. Ini dapat mengarah ke penciptaan atau
penguatan aturan dasar ruang kelas untuk detail lebih lanjut.
d. Kegiatan ini mengungkapkan titik awal dari mana Anda dapat membahas
bagaimana kelas mengambil bertambahnya tanggung jawab untuk belajar.
e. Kegiatan ini memerlukan berbagai ketrampilan berpikir, termasuk membuat
hipotesis, mengurutkan informasi, mengacu silang, berpikir lateral, menunda
penilaian, memantau .
f. Dengan mendengar diskusi, guru dapat melakukan penilaian diagnostik
informal.
Variasi
a. Filmkan kegiatan ini dengan persetujuan kelompok. Tonton filmnya dengan
siswa, kemudian bahas peningkatan untuk perilaku dan teknik pemecahan
masalah. Raga minggu kemudian lakukan kegiatan yang sama, filmkan lagi,
tonton dan sampai di mana peningkatan telah dicapai. Lihat
b. Buat variasi dalam besarnya kelompok. Bahkan cobalah dengan seluruh kelas
duduk berkeliling dalam lingkaran.

7. Kartu Panggilan
Prosedur
a. Ide sederhana ini memungkinkan siswa untuk memberi respons dengan
mengangkat sebuah kartu, atau meletakkannya di atas meja.
b. Buat sejumlah kartu, ukuran A5 atau A6, dan bagikan kepada tiap siswa. Untuk
kebanyakan tujuan siswa bisa memiliki tiga kartu: merah, hijau, kuning, atau
simbol: centang, silang, tanda tanya.
c. Satu-satunya aturan adalah jujur.
Alasan melakukannya
a. Teknik ini mendorong partisipasi. Kartu menciptakan harapan bahwa setiap
orang akan ikut serta secara aktif. Kartu tersebut menuntut untuk dipergunakan.
b. Fakta bahwa tiap orang diberi kartu meratakan lapangan permainan. Strategi ini
terasa luas, khususnya karena kegiatan ini menyingkirkan hambatan dalam
berbicara, membaca dan menulis.

32
c. Kartu memberi kesan bahwa tidak masalah untuk tidak mengetahui segalanya,
bahwa kita di sini untuk belajar, bukan hanya mengekor dalam belajar. Kartu
menunjukkan bahwa dalam belajar ada kebingungan, salah paham dan
perjuangan mental, yang alamiah dan kita belajar secara efisien jika kita jujur
dan terbuka tentang keadaan pikiran kita!
d. Di atas segalanya, kartu tersebut menuntut agar siswa berpikir: mereka harus
mendengarkan, menyerap, menyatukan, menghubungkan, memeriksa. Alat ini
mendukung proses alami dari pembuatan pola, yang merupakan jalur untuk
pemahaman menyeluruh.
e. Kegiatan merupakan prosedur demokratis yang mendasar dan oleh karenanya
memberi kontribusi pada agenda kewarganegaraan.
Variasi
a. Jika Anda tidak memiliki cukup kartu, minta siswa menggunakan tiga isyarat
tangan yang berbeda.
b. Atau tiga ekpresi wajah yang berbeda.

8. Pusat Alam Semesta


Prosedur
a. Singkirkan meja dan buat lingkaran dari kursi-kursi.
b. Sediakan lingkaran sasaran dari karton bundar, atau lingkaran dari tali, dengan
diameter setengah meter, di mana siswa dapat berdiri. Lingkaran sasaran ini
sebaiknya diletakkan di tengah lingkaran dan. mewakili "pusat alam semesta".
c. Sukarelawan pertama berdiri di "pusat alam semesta" dan. membuat pernyataan
tentang topik yang dibahas. Semua siswa lain merespons. Semakin setuju
mereka dengan penyataannya, semakin dekat dengan tengah mereka berdiri. Jika
mereka sama sekah tidak setuju, mereka tetap duduk. Yang sangat setuju dengan
pernyataan tersebut berdiri berhimpitan di "pusat alam semesta". Kemudian
mereka semua duduk.
d. Siswa lain mengambil alih, berdiri di tengah dan membuat pernyataan baru.
Proses ini terus berlanjut dengan sukarelawan bergantian membuat pernyataan.

33
Aplikasi
a. Merevisi topik apapun. Siswa di tengah menyatakan fakta atau lebih baik lagi
menjelaskan konsep atau memberi pendapat, misalnya: "Secara keseluruhan,
kita harus mengatakan bahwa Churchill adalah perdana menteri terhebat sejak
Gladstone karena ..."
b. Menggali pengetahuan sebelumnya di awal topik baru: "Apa yang telah kita
ketahui, atau pikirkan apa yang kita ketahui, tentang ... ?"
c. Mengevaluasi belajar, misalnya: "Bagaimana kita memperbaiki percobaan yang
baru kita lakukan?"; "Lain kali kita melakukan kerja kelompok, apa yang harus
kita lakukan secara berbeda?"
d. Kumpulkan opini seluruh kelas dengan cepat mengenai isu-isu sensitif seperti
penggertakan (bullying), atau membuat keputusan tentang pergi ke mana untuk
class outing, ini cara yang ideal bagi wakil dewan sekolah untuk berkonsultasi
dengan kelas.
Alasan melakukannya
a. Kegiatan ini memaksimalkan partisipasi setiap orang terus menjadi bagian dari
proses.
b. Tidak ada tempat sembunyi, tidak ada penumpang. Tiap orang diminta untuk
berpikir dan merespons. Selalu ada prospek bahwa guru akan melihat dan
menegur mereka yang hanya ikut arus.
c. Aspek fisik dari kegiatan ini menarik bagi banyak siswa dan bisa melegakan
bagi tiap orang.
Variasi
a. Saat siswa berdiri sebagai respons terhadap sebuah pernyataan, mereka dapat
ditantang oleh guru atau siswa lain untuk memberi alasan posisi mereka. Ini
mencegah siswa yang hanya "ikut arus".
b. Kegiatan ini dapat digunakan untuk memulai debat resmi.
c. Buat sketsa cepat atau ambil foto digital untuk membuat catatan tiap pernyataan.
d. Guru dapat ikut bergabung juga, sebagai responsden, atau kadang-kadang
membuat pernyataannya sendiri, terutama jika dia merasa beberapa poin penting
terlewatkan

34
9. Saat Sirkus
Prosedur
Rencana dasarnya adalah siswa bekerja melalui serangkaian tugas dalam urutan apapun
dalam waktu tertentu.
a. Rancang sejumlah tugas yang sesuai dengan topik saat itu. Lebih disukai, yang
mencakup berbagai style belajar dan yang berbeda dalam kecanggihan
konseptual.
b. Tempatkan tugas di lokasi-lokasi yang berbeda di seluruh ruang. Jika
fasilitasnya memungkinkan, mereka dapat menonton video atau informasi
tertentu (dengan TV yang menghadap sudut ruangan), mendengarkan kaset
audio (dengan sebuah 'listening centre' dan banyak headphone), kegiatan dengan
internet atau CD-ROM (dengan PC di kelas atau di resource centre sekolah),
dan berbagai kegiatan membaca, menulis, grafik dan fisik diletakkan di atas
meja.
c. Jelaskan tujuan kegiatan, dan penilaian dilakukan di akhir rangkaian pelajaran.
Penting bagi siswa untuk dapat tetap fokus pada tujuan dan poin akhir selama
sirkus.
d. Tunjukkan chart dinding yang besar yang Anda buat sebelumnya di mana semua
tugas muncul sebagai kolom dalam urutan acak (penting bahwa tugas tertulis
acak dan tidak dalam urutan tingkatan kesulitan) dan nama semua siswa muncul
dalam baris. Siswa juga diberi lembar catatan individu dengan semua tugas
tertulis. Kemajuan (progress) dicatat di lembar publik dan juga pribadi. Tiap kali
seorang siswa menyelesaikan tugas yang memuaskan guru, kedua lembar catatan
ditandatangani dan diberi tanggal.
e. Kemudian tentukan tantangan: misalnya, "Mari kita lihat apakah semuanya
dapat berhasil dalam setidaknya lima dari delapan tugas dalam tiga pelajaran ke
depan". Penting untuk memberi kebebasan dalam jumlah tugas yang harus
diselesaikan untuk memungkinkan perbedaan. Maka minimum lima, maksimum
delapan (atau berapapun jumlah yang tepat untuk siswa Anda). Menakjubkan
bagaimana suatu insentif kecil dapat menstimulasi tekanan dan dukungan peer
group saat siswa saling mendorong untuk melengkapi jumlah minimum dari
tugas.

35
f. Siswa memulai mengerjakan tugas dalam urutan yang sesuai dengan
mereka.Guru berkeliling untuk memantau, berargumen dan mendukung. Dalam
beberapan kasus, siswa dapat diarahkan ke tugas tertentu: contohnya, siswa yang
lebih pintar akhirnya ditantang untuk tugas yang lebih sulit, dan sebaliknya.
Dengan caranya guru memastikan bahwa mereka masing-masing belajar dengan
tepat secara personal. Ketika seorang siswa selesai dengan tugasnya, guru harus
mengesahkan kinerjanya dan memeriksa pemahaman siswa sebelum mereka
diperbolehkan
g. Beberapa siswa mungkin merencanakan rute mereka, lainnya ikut arus. Tetapi
mereka boleh terlalu memadati lokasi kerja, jadi diperlukan sedikit negosiasi.
h. Diakhir waktu yang diberikan, guru mengkonsolidasi hasil belajar, dengan
memanfaatkan pengetahuan dan pemahaman yang dicapai siswa, dan penilaian
pulang dilakukan terhadap tujuan belajar sebenarnya.
Aplikasi
a. Subjek apa pun yang dapat dipelajari, atau digabung, melalui sejumlah tugas
.diri.
b. Tentukan pertanyaan ujian sebelumnya sebagai tugas -sangat bagus untuk revisi
melatih siswa dalam teknik ujian. Pertanyaannya bahkan dapat mempunyai nilai
"buruk" yang ditempel, yang menggunakan contoh anonim dari tiruan.
Tujuannya adalah membahas kembali jawaban sampai sempurna.
Alasan melakukannya
a. Ini merupakan contoh belajar mandiri terstruktur dan hal ini juga melatih siswa
disiplin tertentu: mengatur waktu; menggunakan berbagai sumber; bekerja
berbagai cara; berpindah tanpa rencana dari satu tugas ke tugas lainnya; tetap
akan tugas (bahkan ketika guru tidak sedang melihat); membuat pilihan.
b. Siswa melakukan sedikit kendali terhadap belajar mereka, menentukan urutan
dan kecepatan kerja mereka. Riset menyatakan bahwa motivasi, inisiatif dan
hasil meningkat ketika siswa memiliki kendali relatif.
c. Paling bagus, siswa akan memiliki pengalaman berbagai model belajar. Ini akan
memberi mereka dan guru pandangan terhadap preferensi alami mereka.
d. Metode ini sangat differentiated. Setiap orang diberi keberhasilan pada suatu
level yang memanjang, tetapi masih dalam jangkauan.

36
Variasi
a. Versi yang lebih terstruktur: masukkan siswa dalam kelompok dan minta mereka
bergerak berkeliling dalam jangka waktu yang ditentukan antara satu tugas dengan
lainnya. Kegiatan ini masih dapat dibedakan jika kelompok tersebut dibuat
berdasar "kemampuan". Tidak semua kelompok akan melakukan rangkaian tugas
yang sama. meskipun akan ada inti yang sama.
b. Buat siswa berkerja sama dalam kegiatan. Minta siswa bekerja berkolaborasi
berpasangan, buka secara individu dalam tugas.

37
DAFTAR RUJUKAN

Anonimus. 2009. Chapter 16: Pathways and Higher Order Function. (Online)
(http://www.iupucanatomy.com, diakses 29 Maret 2010)

Ginnis, Paul. 2008. Trik dan Taktik Mengajar. Terjemahan oleh Wasi Dewanto. Jakarta:
PT Indeks

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Terjemahan oleh Tri Wibowo. Jakarta:
Kencana

38
MENDESAIN ALAT MENGAJAR DAN BELAJAR
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DI KELAS

Makalah

Untuk memenuhi tugas matakuliah


Proses Belajar Mengajar Bidang Studi Biologi II
Yang dibina oleh Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc, Ph.D dan
Dr. Sri Endah Indriwati, M.Pd

Oleh:
Nurkhairo Hidayati 109661521362

Moch. Haikal 109661527719

Sulthon Taqdir Alfirdaus 109661527733

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Maret 2010

39