Anda di halaman 1dari 22

YAHUDI

DALAM WACANA SEJARAH


Zainal Arifin

Pendahuluan

Yahudi, Kristen dan Islam biasa disebut agama-agama Ibrahimi (abrahamic religions), karena pokok-
pokok ajarannya bernenek moyang kepada ajaran nabi Ibrahim (sekitar abad 18 SM), yaitu agama yang
menekankan keselamatan melalui iman, menekankan keterkaitan atau konsekuensi langsung antara iman
dan perbuatan nyata manusia. Menurut agama-agama samawi itu, Tuhan tidak dipahami sebagai yang
berlokus pada benda-benda (totemisme), atau upacara-upacara (sakramentalisme) seperti pada beberapa
agama lain, tetapi sebagai yang mengatasi alam dan sekaligus menuntut manusia untuk menjalani hidupnya
mengikuti jalan tertentu yang ukurannya ialah kebaikan seluruh anggota masyarakat manusia sendiri.
Dengan kata lain, selain bersifat serba transendental dan maha tinggi, Tuhan juga bersifat etikal, dalam arti
bahwa Ia menghendaki manusia untuk bertingkal laku yang etis dan bermoral.

Karena menekankan amal perbuatan yang baik dan benar itu , para ahli kajian ilmiah tentang agama-agama
menyatakan Islam dan Yahudi yang juga sering disebut agama semitik (semitic religion) ini, tergolong
agama etika (ethical religion), yakni agama yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia tergantung
pada perbuatan baik dan amal salehnya. Ini berbeda dari agama Kristen yang juga termasuk agama semitik,
disebabkan teologinya berdasarkan doktrin kejatuhan (fall) manusia (Adam) dari surga yang menyebabkan
kesengsaraan abadi hidupnya, mengajarkan bahwa manusia perlu penebusan oleh kemurahan (Grace)
Tuhan dengan mengorbankan putra tunggalnya ‘I<sa> al-Masi>h} untuk disalib menjadi "Sang
Penebus". Maka kajian ilmiah menggolongkan agama Kristen sebagai agama
sakramental (sacramen relegion) yaitu agama yang mengajarkan bahwa
keselamatan itu diperoleh melalui sang penebus dosa, dan penyatuan diri kepadanya
dengan memakan roti dan minum anggur yang telah ditransubstansiasikan menjadi
daging dan darah ‘I<sa> al-Masi>h} dalam upacara Sakramen Ekaritsi.

Menurut Artur Hyman semua agama yang bersumber pada kitab suci wahyu
mempunyai masalah yang sama menyangkut doktrin tentang penciptaan alam, tapi
agama-agama itu berbeda sampai batas bahwa yang lain mengalami persoalan
pemikiran atau filsafat. Umat Yahudi mempunyai masalah mengenai persoalan
tertentu seperti Israel sebagai bangsa pilihan dan keabadian hukum. Umat Islam
menghadapi persoalan apakah al-Qur’a>n sebagai firman Allah itu diciptakan atau
abadi. Umat Kristen sendiri menghadapi berbagai deretan persoalan yang serupa,
kelak yang dikatagorikan sebagai "misteri" antara lain doktrin Trinitas Suci (Holy
Trinity) dan Sakramen Ekaritsi yang merupakan sesuatu yang tipikal. Doktrin Trinitas
mengatakan bahwa Tuhan adalah Esa dengan tiga pribadi Bapak, Anak dan Roh Suci,
Tuhan adalah satu sekaligus tiga. Sakramen Ekaritsi mengisyaratkan perubahan roti
dan anggur ekaritsi menjadi daging dan darah Kristus, proses yang dikenal dengan
transubstansiasi. Jadi dapat dikatakan bahwa agama Kristen dalam sisi tertentu
mengalami tantangan yang lebih sulit diatasi daripada agama Islam atau Yahudi.

Lebih lanjut, karena alasan-alasan teologis dan historis atau doktrin etika dan politik,
Kristen berbeda dari agama Yahudi dan Islam. Salah satu perbedaannya adalah
konsep tentang manusia, manusia mengalami kejatuhan dari surga, sebab itu perlu
kemurahan Tuhan untuk penyelamatan. Meski para pemikir Kristen mengagumi hasil-
hasil temporal doktrin-doktrin etika dan politik, mereka menganggap bahwa doktrin
dan hasil itu masih belum cukup untuk keselamatan manusia. Sebaliknya, sejumlah
pemikir Muslim dan Yahudi, khususnya mereka yang berkecenderungan Aristotelian,
menggambarkan hidup yang baik berdasarkan pengembangan nilai-nilai utama
moral dan intelektual, lalu mengidentifikasi hidup sesudah mati dengan wujud bukan
jasmani dan intelek. Kitab suci diperlukan dan dipahami dalam berbagai cara guna
menetapkan aturan tertentu bagi kehidupan intelektual, membuat hukum yang
bersifat umum menjadi spesifik, menjadikan pendapat yang benar bisa digapai
semua orang, atau memberi ajaran tertentu secara mendalam yang tidak bisa
didapat dengan cara lain. Bagi kaum Yahudi dan Muslim, ajaran filsafat, moral dan
politik berada tidak terlalu jauh dari yang ada dalam agama.

Persoalan teologis yang dialami agama Kristen, terutama yang menyangkut doktrin
Trinitasnya membuat watak monotheismenya sudah tidak murni lagi. Malahan bapak
sosiologi modern, Max Weber, membenarkan tesis itu dengan mengatakan bahwa
hanya agama Yahudi dan Islam yang secara tegas bersifat monotheistis, meski pada
yang kedua (Islam) terjadi beberapa penyimpangan dengan adanya kultus kepada
orang yang dipandang suci (wali) yang muncul kemudian. Trinitarianisme Kristen
tampak memiliki kecenderungan monotheistis hanya bila dikontraskan dengan
bentuk-bentuk tri theistis (paham) tiga Tuhan, Hinduisme, Budisme dan Taoisme.
Tentunya tidak berlebihan jika Weber mencatat praktik-praktik yang menyimpang
dari monotheisme Islam yang murni dan radikal itu, yaitu berupa pemujaan kepada
para wali dan kuburannya hampir di seluruh dunia Islam. Kenyataan ini merupakan
sesuatu yang ironis, mengingat nabi Muhammad telah memperingatkan untuk tidak
mengagungkan keturunan apapun dan siapapun. Tesis Weber ini kiranya perlu
dijadikan bahan instrospeksi diri dan renungan kaum Muslimin sendiri.

Tentang determinisme sejarah orang Yahudi menjadi ras suatu dunia yang hebat,
atau masyarakat pilihan (a distinctive community), ini tidak bisa dipisahkan dari
partisipasi mereka dalam peradaban Islam masa lalu yang begitu jauh dan dalam.
Kosa kata keimanan Islam masuk kedalam buku-buku Yahudi, al-Qur’a>n menjadi
dalil mereka. Kebiasaan orang-orang Arab mengutip syair dalam banyak karyanya
ditiru oleh orang-orang Yahudi. Tulisan-tulisan mereka penuh dengan kalimat-kalimat
yang berasal dari para ilmuwan, filosof dan ahli kalam Arab/Islam. Sastra Arab yang
asli atau yang impor menjadi latar belakang umum apa saja yang ditulis orang-orang
Yahudi. Semua itu berlangsung begitu lama, tidak ada rasa permusuhan terhadap
ilmu asing, tanpa rasa curiga kepada dampak yang negatif atau berbahaya,
sebagaimana yang telah diingatkan oleh sumber-sumber kitab Talmud kepada
meraka untuk mempelajarinya. Karena itu sampai ada sebutan Yahudi Islam, orang-
orang Yahudi yang sudah sedemikian rupa terpengaruh oleh ajaran Islam mereka itu
sebenarnya adalah "orang-orang Yahudi jenis baru" (a new type of Jews).

Dengan pengalaman kaum Yahudi yang begitu indah dalam pangakuan Islam itu,
banyak dari mereka yang sadar bahwa berdirinya negara Israel merupakan suatu
malapetaka atau anakronistik. Malahan bisa dipandang sebagai hal yang tidak
relevan, baik secara historis, berkaitan dengan pengalaman indah umat Yahudi pada
masa Islam klasik, atau secara geografis, karena Palestina telah berabad-abad
berada ditangan orang-orang Arab, yang sebagian mereka itu termasuk Yahudi yang
sudah ter-Arabkan, berdirinya negara Israel merupakan kedzaliman diatas
kedzaliman, kedzaliman terhadap sejarah mereka sendiri dalam kaitannya dengan
peradaban Islam, dan kedzaliman terhadap bangsa Arab yang telah menjadi
pelindung mereka berabad-abad lamanya.

Masalah etika dan politik sangat dijunjung tinggi dan dihormati oleh agama Yahudi.
Prinsip-prinsip etika itu diformulasikan dalam kalimat-kalimat yang indah dan
menarik. Diawali dengan kata negasi (jangan) dan imprasi (kerjakan). Dikenal
dengan sepuluh perintah Tuhan, Ten Commandements atau "al-Was}a>ya al-`Ashar"
(sepuluh wasiat), yang isinya:
1. Akulah Tuhanmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari
tempat perbudakan. Jangan ada padamu Allah lain dihadapanKu.
2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di
langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam
air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau
beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhanmu, Tuhan yang pemerhati,
yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya, kepada
keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci
Aku, tapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu
mereka yang mengasihi Aku, dan yang berpegang pada perintah-
perintahKu.
3. Jangan menyebut nama Tuhanmu dengan sembarangan, sebab Tuhan
akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya secara
sembarangan.
4. Ingat dan sucikanlah hari Sabat; enam hari lamanya kamu bekerja dan
melakukan segala pekerjaanmu, tapi hari ketujuh adalah hari Sabat
Tuhanmu, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, kamu
atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, hambamu laki-laki,
hambamu perempuan, lawanmu, atau orang-orang asing yang ada di
tempat kediamanmu.
5. Hormatilah bapak dan ibumu agar umurmu lanjut di tanah yang
diberikan Tuhan Allah kepadamu.
6. Jangan membunuh.
7. Jangan berzina.
8. Jangan mencuri.
9. Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu.
10. Jangan menginginkan rumah sesamamu, istrinya, hambanya laki-laki,
hambanya perempuan, lembunya, keledainya atau apapun yang
menjadi miliknya.

Selain itu masih ada sejumlah kepercayaan mendasar yang ditulis oleh para pemikir
dan pemuka agama Yahudi, antara lain Musa bin Maimun atau Maimonides pada
akhir abad ke-12. Tulisan ini merupakan keterangan tambahan terhadap
komentarnya tentang Mishna karya Sanhedrin, yang kemudian dikenal dengan
Credo, terdiri atas 13 keyakinan, yaitu:

1. Percaya kepada Tuhan


2. Tuhan Yang Esa
3. Tuhan Yang Maha Kuasa
4. Tuhan Yang Maha Kekal
5. Semua ibadah untuk Tuhan
6. Percaya kepada Rasul Tuhan
7. Percaya terhadap Musa sebagai Rasul Tuhan
8. Dan Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa di Sinai
9. Kitab itu kekal
10. Tuhan Maha Tahu
11. Percaya tentang pahala dan dosa, baik di dunia dan akhirat
12. Percaya akan datangnya Massiah, juru selamat
13. Percaya adanya kehidupan sesudah mati.
A. Apa dan Siapa Yahudi Itu?

Judaism (agama Yahudi) adalah agama yang dianut oleh sekelompok kecil
masyarakat, yaitu masyarakat Yahudi. Berjumlah kurang lebih 16 juta jiwa pada
puncak pertumbuhannya sebelum Perang Dunia ke II. Sekarang berkurang sekitar
sepuluh atau sebelas juta jiwa, akibat kekejaman kelompok-kelompok yang berusaha
menghancurkan akar, cabang, etnis dan agama ini. Menurut catatan Psalma yang
ditulis oleh David, dan Epigram, yang disusun oleh Sulaiman, jumlah mereka kurang
dari satu juta jiwa pada hari nasionalnya, dan tidak lebih dari 4-5 juta ketika nasib
politik mereka sebagi bangsa tersumbat pada tahun 70-an, dan harus memasuki
panggung sejarah (Historic Career) sebagai masyarakat dunia yang religious dengan
tuntutan kitab sucinya, Bible akhir abad pertengahan abad 13, ketika agama Yahudi
mencapai puncak perkembangannya dan memberikan sumbangan besar terhadap
peradaban Eropa, jumlah populasi mereka di Eropa tidak lebih dari satu juta jiwa.

Berkurangnya populasi Yahudi ini disebabkan oleh persoalan seputar apakah Yahudi
itu ras atau bukan. Sementara orang berpendapat bahwa Yahudi itu ras, mengingat
banyak tulisan yang membenarkan pendapat diatas. Tapi kebenaran tesis ini
membawa ironi bagi umat Yahudi ketika Jerman dibawah rezim Nazi (Adolf Hitler)
tahun 1930, melakukan eksterminasi (pembantaian) terhadap orang-orang Yahudi
dengan alasan bahwa mereka itu ras yang hina (an inferior race). Menurut catatn
Holocaust, sekitar enam juta orang Yahudi, baik laki-laki, perempuan maupun anak-
anak mati terbunuh di kamp Konsentrasi Jerman dan Polandia selama perang dunia
kedua. Dari sini terlihat jelas bahwa orang-orang Yahudi kini bisa disebut sebagai ras,
hanya persoalannya ialah sulit untuk mengidentifikasikan mereka, karena banyaknya
ras Yahudi yang ada.

Mereka itu tersebar dimana-mana di banyak bagian belahan dunia ini, dikenal
dengan sebutan anak-anak Israel (The Children of Israel), Yahudi. Dimana ada
penduduk dunia baik Timur, Barat, Utara maupun Selatan disana bisa ditemukan
orang Yahudi. Di Abyssina misalnya, orang Yahudi berkulit hitam, persis seperti
penduduk aslinya. Ada sejumlah orang Yahudi di Negara Cina, juga mirip dengan
penduduk aslinya berkulit kuning dan bermata sipit. Di Italia, orang Yahudi berkulit
kehitam-hitaman dan bermata hitam. Di Rusia Utara, Kanada, Swedia dan Norwegia,
orang Yahudinya bisa ditengarai dengan rambut pirang, kulit putih dan mata biru.
Sedang di Denmark, Jerman dan Irlandia, golongan Yahudinya berambut merah dan
bermata biru. Di daerah yang beriklim panas, kaum Yahudinya berbadan pendek dan
berambut hitam. Sementara di negara-negara yang beriklim dingin mereka
umumnya bertubuh tinggi dan berkulit putih.

Hebatnya, semua orang Yahudi yang bertempat tinggal di negara-negara itu selalu
menggunakan bahasa nasional negara bersangkutan. Di Italia mereka berbahasa
Itali, di Inggris berbahasa Inggris, di Cina juga berbahasa Cina, dan seterusnya.
Meskipun tidak saling mengenal antara satu dengan lainnya, berbeda bentuk fisik
dan tutur bahasanya, tapi orang-orang Yahudi itu merasa akrab bila bertemu dan
berada di tengah-tengah saudara-saudara yang lain. Keakraban ini disebabkan oleh
banyak faktor, dan faktor pertama dan utama yang merajut keakraban itu tak lain
adalah ikatan keagamaan mereka yang kuat. Ikatan atau hubungan itu memang
terasa unik dalam agama Yahudi. Agama ini tidak bisa dipahami tanpa mengetahui
kehidupan orang Yahudi secara terus menerus. Dengan proses konversi agama yang
normal, agama ini dapat mengakomodasi dan mengasimilasi setiap individu, bahkan
semua bangsa, dan hal ini sudah dilakukan. Tapi bila orang Yahudi musnah dan
lenyap dari dunia ini, agama ini juga musnah bersama mereka. Sementara orang lain
yang tidak punya hubungan kesejarahan (historic connection) dengan masa lalu
orang Yahudi pada dasarnya bisa menjadi penerus tradisi ajaran Yahudi.

Namun pemahaman, upacara dan penghayatan, di mana prinsip-prinsip Yahudi ada


di dalamnya, dan menjadi bangunan agama ini (a body of Judaism), tidak akan
bermakna bagi mereka yang nenek moyangnya tidak pergi ke luar tanah Mesir, atau
siapa saja yang tidak lahir dalam tradisi, yang bapaknya pernah tinggal di kaki Sinai.
Juga mereka dan anak cucunya yang tidak selalu berada dalam kerajaan para
pendeta dan bangsa yang suci (a holy nation). Karena itu ikatan yang tak terpisahkan
antara orang Yahudi dan agamanya merupakan bagian dasar agama ini. Ia berbeda
dari agama Kristen yang selalu berharap belas kasihan dan kemurahan Tuhan. Bagi
para pemeluknya, agama Yahudi pada hakekatnya bukan ditilasi air mata dan duka
cita orang lain yang diberikan secara cuma-cuma oleh belas kasih tangan Tuhan,
atau didapat melalui misteri keimanan, tapi harus dengan kesabaran dan ketegaran
atas berbagai persoalan yang mereka alami berabad-abad lamanya, berupa
pengalaman bangsa yang bersejarah, yang disinari oleh ajaran para nabi dan orang-
orang bijak mereka.

Maka agama Yahudi bisa menampakkan jati dirinya dalam dua dimensi, universal
dan nasional. Sebagai sistem pemikiran keagamaan (a system of religious thought),
ia bersikap universal, prinsip-prinsip etikanya merangkul seluruh umat manusia.
Sebagai kultus keagamaan (a religious cult), ia bersifat nasional ditengarai oleh
ikatan kesejarahan dan warna kedaerahan, disiplin agamanya hanya mengikat para
pemeluknya saja. Sebagai contoh ialah keberadaan organisasi soaial elite seperti
Rotary Club, Lion Club dan lainnya yang berdiri di kota-kota besar di Indonesia, yang
berorientasi pada masalah kemanusiaan, pengobatan massal (operasi katarak dan
bibir sumbing), pembuatan patung polisi, MCK, pemberian bingkisan lebaran,
terkadang salat tarawih dan buka puasa bersama. Bila benar semua itu merupakan
jaringan (network) Yahudi internasional, maka hal itu harus dilihat dari kerangka pikir
"Sistem pemikiran keagamaan" Yahudi yang bersifat universal yang dapat
diartikulasikan oleh semua etnis dan ras dunia. Sebaliknya, jika orang Yahudi
merayakan hari Sabat pergi ke Sinagog atau kegiatan ibadah lainnya, hal ini harus
diletakkan dalam perspektif "kultus keagamaan" Yahudi yang bersifat nasional itu,
yang mengikat hanya para pemeluknya saja.

Menanggapi persoalan di atas, Ahmad Syalaby mengatakan karena belum merasa


puas terhadap organisasi Masonisme, orang-orang Yahudi lalu mendirikan organisasi
lain yang bertujuan menggalang solidaritas sosial kemanusiaan bernama Rotary
Club. Klub-klub ini terdapat di hampir seluruh kota-kota besar atau metropolitan
dunia dan bergerak pada masalah-masalah kemasyarakatan seperti Sarasehan,
Seminar, Pelayanan Kesehatan, Perbaikan Lingkungan, Upacara Keagamaan dan lain
sebagainya. Juga berupaya mempererat ikatan persaudaraan sesama anggotanya
yang berasal dari berbagai negara dengan latar belakang agama dan kepercayaan
yang berbeda-beda. Dengan demikian, orang-orang Yahudi bisa berinteraksi dengan
mereka atas dasar persaudaraan dan kasih sayang yang pada gilirannya dapat
merealisasikan keinginan dan cita-citanya baik dalam lapangan ekonomi, industri,
politik, media masa maupun lainnya.

Karena kegiatan klub-klub atau organisasi ini bisa menimbulkan bahaya, Vatikan
melalui Majelis Tertinggi Tahta Suci, pernah mengeluarkan satu dekrit pada tanggal
20 Desember 1950 yang isinya melarang para ahli dan pemuka agama Kristen
memasuki perkumpulan yang dikenal dengan nama Rotary Club ini, dan mengikuti
kegiatan-kegiatannya. Mereka juga diminta untuk mematuhi dekrit bulan 4 April
1964 nomor 684 yang berisi larangan melibatkan diri pada perkumpulan
"Masonisme" yang keberadaannya masih belum jelas (rahasia) dan kegiatannya
masih diragukan. Sekalipun disimbolkan dengan jargon-jargonnya yang menarik
seperti kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan, organisasi itu menurut Paus
tetap mengundang bahaya bagi umat Katholik

Mengenai masalah siapa itu Yahudi atau kapan seseorang bisa dikatakan Yahudi, hal
ini bisa dijelaskan dengan memahami tradisi yang menjadi wacana dasar agama
Yahudi. Agama ini mengajarkan bahwa bila anak lahir dari ibu yang Yahudi, maka ia
disebut Yahudi, tanpa memandang siapa yang mengasuh dan membesarkan anak
itu. Sebagai contoh, anak yang lahir dari bapak Yahudi dan ibu non Yahudi, ia tidak
bisa dikategorikan Yahudi, tapi yang bersangkutan bisa berbuat atau melakukan
sesuatu sebagai Yahudi, pergi ke Sinagog, merayakan Sabat atau hari-hari
keagamaan dan bergaul dengan sesama teman-temannya yang Yahudi. Di sisi lain,
anak dari bapak non Yahudi dan ibu Yahudi, tapi dibesarkan atau dididik sebagai
Kristen, ia masih disebut Yahudi menurut kacamata Yahudi, sekalipun asuhan itu
membuat ia buta sama sekali tentang agama Yahudi. Yang jelas, dalam perspektif
Yahudi, bukan asuhan, didikan atau pengetahuan yang menentukan status anak
menjadi Yahudi, tapi agama Ibu (the religion of the mother).

Persoalan lain yang sering menjadi wacana intelektual seputar Yahudi ialah masalah
apakah Yahudi itu bisa digolongkan sebagai masyarakat religius atau tidak. Memang
secara spintas dapat digambarkan bahwa Yahudi itu adalah masyarakat agamis, tapi
kenyataannya, banyak yang menganggap mereka bukan termasuk golongan itu.
Malahan mereka mengatakan sebagai penentang agama dan lebih bangga menyebut
dirinya orang Yahudi saja. Masalah lain, kita tidak bisa menyatakan bahwa Yahudi itu
merupakan "masyarakat bangsa", karena mayoritas umat Yahudi dunia tidak mesti
tinggal di negara Yahudi (Israel), tapi di banyak negara dunia ini. Barangkali istilah
yang tepat untuk mereka ialah kelompok etnis (ethnic group), dalam arti meliputi
seluruh orang Yahudi baik yang agamis, sekuler, nasional maupun zionis. Mereka itu
tidak harus berasal dari Israel, karena yang hidup di sana ada yang Muslim dan ada
juga yang Kristen. Dari mereka ada yang tidak makan daging babi sebagaimana
orang Islam dan ada pula yang tidak mengetahui sama sekali masalah agama. Satu
hal yang tidak bisa dibantah bahwa agama mereka mengakui Yahudi sebagai satu
masyarakat, meski sudah terjadi perubahan pada agama ini selama berabad-abad.
Yang jelas agama Yahudi saat ini berbeda dari agama Yahudi era Bibel, hanya pada
masa lalu saja bisa dijumpai kelompok-kelompok religius yang pluralistik. Karena
sekarang terdapat banyak institusi pemikiran yang mampu mempertemukan
berbagai ide dan hal-hal yang praktis, banyak orang Yahudi yang berbeda dari
lainnya.

B. Asal Usul Yahudi

Untuk mengetahu asal usul Yahudi tidak bisa terlepas dari keharusan untuk
mengetahui tokoh Ibrahim yang dalam hal ini dipandang sebagai nenek moyang tiga
agama monotheistik dan semitik, Yahudi, Kristen dan Islam. Sebagaimana telah
diketahui bahwa Ibrahim tampil dalam pentas sejarah sekitar 3.700 tahun yang lalu.
Ia berasal dari Babylonia, anak seorang pemahat patung istana yang bernama Azar
"atau Terach dalam Kitab Madrash yang ditulia para rab’ii pemula". Sejak usia bocah
Ibrahim sudah menampilkan cara berfikir tajam dan kritis. Suatu saat ia melihat hal
yang tidak sesuai dengan akal sehatnya, ayahnya memahat batu dan setelah selesai
menjadi patung sang ayah lalu menyembahnya. Ibrahim memberontak yang
berakibat ia harus dihukum bakar, tapi berhasil diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha
Kuasa. Ia kemudian lari atau hijrah ke arah Barat, tepatnya ke daerah Kanaan, yaitu
Palestina selatan. Karena wabah ini mengalami wabah paceklik, ia pergi ke Mesir
bersama istrinya, Sarah dan menetap di sana sementara waktu. Keberadaan Ibrahim
sangat mengesankan Firoun, raja Mesir, ia menerima hadiah seorang wanita budak
yang cantik yang bernama Hajar. Lalu ia pulang kembali ke Kanaan; sebab usianya
bertambah lanjut, ia sangat mendambakan seorang keturunan. Ia-pun berdo’a
memohon kepada Tuhan agar diberi keturunan untuk meneruskan misi kemanusiaan.
Istrinya, Sarah berbaik hati dan mengijinkan Ibrahim mengawini budak perempuan
mereka asal Mesir, Hajar. Dari Hajar ia dikaruniai seorang putra yang bernama Ismael
(Isma‘i>l), yang dalam bahasa Ibrani berarti Tuhan telah mendengar, yakni telah
mendengan do’a Ibrahim yang memohon keturunan.

Ibrahim sangat mencintai Ismail dan ibunya, Hajar, sehingga menimbulkan perasaan
tidak senang pada istri pertamanya, Sarah. Maka Sarah meminta Ibrahim untuk
membawa Ismail dan ibunya keluar dari rumah tangga mereka. Ibrahim diberi
petunjuk Tuhan dengan bimbingan malaikat-Nya agar membawa anak dan istrinya ke
arah selatan dari Kanaan, sampai ke suatu lembah yang tandus dan gersang, tiada
tumbuhan, Makkah. Setelah tiba di lembah tandus itu sesuai dengan petunjuk Tuhan
lagi, Ibrahim kembali ke Kanaan, tapi sekali waktu ia menyempatkan diri menjenguk
Ismail di Makkah sampai anaknya itu mencapai usia dewasa. Sementara Ibrahim
bersama Sarah tinggal di Kanaan, dan terkadang pergi ke Makkah untuk
melaksanakan perintah Tuhan (Haji). Dengan ijin dan kekuasaan Tuhan mereka
dikaruniai seorang putra, Ishaq, yang juga menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk
mengemban tugas mengajari umat tentang faham tauhid, dan mempertahankan
ajaran itu sampai akhir jaman. Malahan sebagai rahmat Allah kepada Ibrahim, dari
keturunan Ishaq banyak lahir para Nabi dan Rasul Allah. Ishaq dianugerahi Tuhan
seorang anak bernama Ya‘qu>b yang digelari Israel, yang dalam bahasa Ibrani
berarti "Hamba Allah" jadi identik dengan arti ‘Abd Alla>h dalam Bahasa Arab, konon
karena ia rajin beribadah menghambakan diri kepada Allah. Anak turun Nabi Ya‘qu>b
atau Israel ini berkembang biak, dan menjadi nenek moyang bangsa Yahudi, yang
juga disebut Bani Israel (anak turun Israel).

Anak-anak Ya‘qub berjumlah dua belas orang, sepuluh orang dari istri pertama, dua
orang lagi dari istri kedua, yaitu Yusuf dan Benyamin. Sepuluh anak Ya‘qu>b itu ialah
Rubin, Simon, Lewi, Yahuda, Zebulon, Isakhar Dan, Gad, Asyar dan Naftali. Karena
berbagai kelebihan Yusuf, Ya’qub sangat menyintai anaknya itu melebihi cintanya
kepada anak-anaknya yang lain, dan hal ini mengundang rasa tidak enak pasa
saudara-saudara tuanya dari istri pertama. Lalu mereka bersekongkol untuk
menyingkirkan Yusuf tapi berkat lindungan Tuhan Yusuf bisa selamat. Yusuflah yang
secara tidak langsung membawa Ya’qub beserta seluruh keluarganya pindah ke
Mesir, yang menjadi pusat peradaban dunia waktu itu. Di Mesir inilah sebenarnya
keturunan Ya’qub atau Israel itu berkembang biak melalui anak-anaknya yang dua
belas. Maka dari sinilah sebetulnya asal mula Bani Israel atau Bangsa Yahudi itu
terbagi menjadi dua belas suku. Tapi Fir’oun yang dzalim itu merasa tidak senang
terhadap keturunan Ya’qub. Apalagi sebagian dari keturunan Ya’qub itu menganut
agama Taurat atau Monotheisme yang berlawanan dengan agama Mesir yang
Mushrik atau Politheistik.

Nabi Dawud sebagai raja kerajaan Judea Samaria digantikan oleh anaknya, Nabi
Sulaiman. Di bawah pimpinan Sulaiman bangsa Yahudi, anak turun Israel atau Nabi
Ya’qub ini mengalami jaman keemasan. Yerussalem dibangun dan pada dataran di
atas bukit Zion yang menjadi pusat kota itu, didirikan pula tempat ibadah yang
megah. Orang Arab menyebutnya Haikal Sulaiman (Kuil Sulaiman, Solomon Temple),
yang juga disebut al-Masjid al-Aqs}a>, "Masjid yang jauh dari Makkah". Sebagaimana
kota Yerussalem, tempat masjid itu di kenal orang Arab sebagai al-Quds atau Bait al-
Maqdis, Baiot al-Muqoddas, yang semuanya berarti kota atau tempat suci. Sayang,
anak turun Nabi Ya’qub itu terkenal sombong dan suka memberontak. Ini
membangkitkan murka Tuhan yang pada gilirannya mereka harus menerima azab-
Nya. Al-Qur’an sendiri menggambarkan betapa Bani Israel itu membuat kerusakan di
bumi, berlaku angkuh, chauvinis, merasa paling unggul dan paling benar sendiri.

Peristiwa ini terjadi sekitar tujuh abad sebelum masehi, ketika bangsa Babilonia
dipimpin Nebukadnezar datang menyerbu Yerussalen dan menghancurkan kota itu
termasuk masjid Aqs}a>-nya. Berkat pertolongan dan kebesaran Tuhan, bangsa Bani
Israel bisa kembali lagi ke tanah Yerussalem. Tapi sekali lagi mereka bersikat
congkak dan membuat kerusakan di muka bumi, maka Allah-pun menurunkan siksa-
Nya untuk kedua kali pada tahun tujuh puluh masehi, karena dosa mereka menolak
kerasulan Nabi ‘I<sa> al-Masi>h dan menyiksa para pengikutnya. Ini bisa dibuktikan
ketika kaisar Titus dari Roma meratakan Yerussalem dengan tanah, dan
menghancurkan lagi masjid Aqs}a> yang mereka bangun. Dari bangunan itu tidak
ada yang tersisa kecuali Tembok Ratap (tempat orang-orang Yahudi meratapi nasib
mereka). Akibat dosa itu orang Yahudi mengalami diaspora, mengembara di bumi
terlunta-lunta sebab tidak bertanah air, dan hidup miskin di Geto-geto.

Bangunan yang hancur itu dibangun kembali oleh umat Islam dan diwarisinya sampai
sekarang. Yerussalem jatuh ke tangan Arab Muslim pada jaman ‘Umar bin
Khat}t}a>b. Ketika datang ke sana untuk menerima penyerahan kota itu, ia merasa
kecewa sekali melihat tempat masjid Aqs}a> telah dijadikan pembuangan sampah
oleh umat Nasrani yang ingin melecehkan agama Yahudi. ‘Umar beserta tentara
Islam membersihkan tempat itu, menjadikan tempat salat dan mendirikan masjid
sederhana. Masjid ‘Umar itu diperbaharui menjadi bangunan megah oleh khali>fah
‘Abd al-Ma>lik bin Marwa>n dari Bani> ‘Umayyah.

Kisah perjalanan Nabi Ibra>hi>m dan anak cucunya ini dikedepankan dengan
maksud untuk menyadarkan kita semua betapa tokoh yang disebut sebagai imam
umat manusia ini mempunyai kaitan erat dengan agama Islam. Dari ‘Isa> itu tampak
bahwa antara Makkah dan Yerussalem ada hubungan yang sangat erat terutama
hubungan antara agama Yahudi, Kristen dan Islam. Menurut Nabi Muh}ammad, ada
tiga kota suci yang dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk mengunjunginya yaitu
Makkah dengan masjid Hara>mnya, Madinah dengan masjid Nabawi>nya dan
Yerussalem dengan masjid Aqs}a>nya. Karena itu ketika Nabi melakukan s}ala>t
yang harus menghadap Yerussalem sewaktu masih di Makkah, ia memilih tempat di
sebelah selatan Ka’bah agar bisa menghadap ke Ka’bah sekaligus ke Sakhrah di
Yerussalem. Tetapi ketika pindak ke Madi>nah, ia tidak bisa melakukan hal itu sebab
Madi>nah terletak di sebelah utara Makkah. Maka Nabipun mohon perkenan Tuhan
untuk pindah kiblat dari Yerussalem ke Makkah. Perpindahan ini mengisyaratkan
makna yang amat dalam bahwa Nabi mengajarkan dan mengajak manusia kembali
ke agama Nabi Ibrahim yang asli, yang disimbulkan oleh Ka’bah sebagai
peninggalannya yang terpenting.

Agama Nabi Ibra>hi>m yang asli itu biasa disebut Agama H{anafi>yah, dan
Ibra>hi>m adalah seorang yang h}ani>f, yang artinya bersemangat kebenaran, dan
Muslim yang berarti bersemangat pasrah dan taat kepada Allah Tuhan Yang Maha
Esa. Maka ketika Rasu>l Alla>h terlibat polemik dengan para penganut Agama
Yahudi yang muncul melalui kerasulan Mu>sa> sekitar lima abad sesudah Nabi
Ibra>hi>m, dan penganut Agama Nasrani yang muncul sekitar tiga belas abad
setelah Nabi yang sama, wahyu Tuhan kepada Muh}ammad menegaskan bahwa
Ibra>hi>m bukanlah seorang Yahudi atau seorang Nasrani, melainkan seorang yang
h}ani>f dan muslim. Nabi dan para pengikutnya diperintahkan untuk mengikuti
agama Nabi Ibra>hi>m yang h}ani>f itu. Berkaitan dengan kesinambungan agam
Ibra>hi>m yang h}ani>f itu, Tuhan sudah wanti-wanti kepada Nabi untuk menjaga
keutuhan agama itu, tidak terpecah belah didalamnya, yaitu agama yang telah
diwahyukan kepada Nabi Ibra>hi>m, Mu>sa> dan ‘I<sa>.

http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-29.html

ABDURRAHMAN WAHID
TELAAH ATAS IDE NEO-MODERNISME
Abd. Haris
I

Dinamika dan adu kekuatan antara konservatisme (paham yang selalu menengok
Islam ke masa lalu) dan progresivisme (paham yang ingin merekonstruksi Islam
untuk masa depan) merupakan agenda laten umat Islam sepanjang sejarah. Oleh
karena itu, ketika istilah ‘pembaharuan’ Islam dikemukakan, sikap umat Islam sering
ragu-ragu dan ambivalen; antara setuju karena hal itu merupakan kebutuhan dan
ragu-ragu karena takut akan menggerogoti doktrin agama. Dalam konteks tersebut,
menarik untuk diamati gagasan pembaharuan Abdurrahman Wahid, atau yang
terkenal dengan Gus Dur, di Indonesia.

Konservatisme dan progresivisme di Indonesia mengakibatkan munculnya pola pikir


tradisionalisme dan modernisme yang masing-masing pola pikir tersebut bersikukuh
mempertahankannya. Dua pola pikir tersebut itulah yang mendominasi pemikiran
dan pemahaman terhadap Islam di Indonesia yang kemudian disusul pola pikir yang
berusaha menggabungkan dua pola pemikiran tersebut yang tampaknya ditransfer
dari pemikiran Fazlurahman. Pola pemikiran tersebut dikenal sebagai pola pemikiran
‘neomodernisme’. Pada pola pemikiran Islam yang terakhir inilah tampaknya
gagasan-gagasan Gus Dur dapat diletakkan

Neomodernisme sebagai pola pemikiran Islam yang dibangun oleh Fazlurrahman itu
mendapatkan sambutan di kalangan intelektual yang tumbuh dari kalangan
modernis karena ia mengandung agenda-agenda pemikiran yang progresif yang
merupakan tuntutan masyarakat modern. Akan tetapi, agenda-agenda ini dibangun
di atas tradisi keislaman sehingga pemikiran yang dikembangkan harus
mengapresiasi tradisi. Ini membuat gerakan pemikiran neomodernime tersebut
bersentuhan dengan kalangan intelektual yang hidup dan dibesarkan di dalam
lingkungan tradisionlis. Oleh karena itu, meski Gus Dur berasal dari lingkungan
tradisionalis, namun dapat mengakomodir pola pemikiran Islam neomodernisme ini.

Selain Gus Dur, beberapa intelektual yang dapat dimasukkan kelompok


neomodernisme adalah Nurcholis Majid, Djohan Efendi, dan A. Wahib. Meskipun
menggunakan ungkapan yang berbeda dalam menyebut pembaruannya, mereka
dalam konsepnya mengacu pada tujuan yang sama, yaitu tuntutan bagi perubahan
umat sebagai respon atau tantangan modernitas dengan tetap berpijak pada tradisi
Islam. Hubungannya dengan dunia Barat, neomodernisme harus mengembangkan
sikap kritis terhadapnya dan mengkaji gagasan-gagasannya secara obyektif,
demikian pula halnya dengan gagasan-gagasan dan ajaran-ajaran dalam sejarah
keagamaannya sendiri.

Dengan pola pemikiran neomodernisme sebagaimana telah diuraikan di atas, maka


gagasan-gagasan Gus Dur dalam masalah masalah keagamaan, kemasyarakatan,
kebudayaan, kebangsaan dan lain-lain terasa terlalu kritis, bahkan oleh sebagian
orang dianggap nyleneh. Oleh karena, itu gagasan-gagasannya menjadi
kontroversial, tetapi meski demikian gagasan-gagasannya itu dianggap discourse
atau wacana oleh pemerhati intelektualitas atau kecendikiaan di Indonesia sendiri
maupun di luar negeri sehingga gagasan-gagasannya selalu dibicarakan dan
pribadinya yang public figur selalu menjadi sumber berita bagi pers.

Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat dan mengkaji pemikiran Gus Dur sebagai
seorang pembaru yang banyak melontarkan ide-ide atau gagasan-gagasan terutama
yang menyangkut masalah-masalah keagamaan. Dengan demikian, yang menjadi
masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana ide-ide pembaruan Gus Dur. Selain ide-
idenya, biografi singkat perlu juga ditulis sehingga tokoh yang sedang dibicarakan
lebih bisa dikenal dengan sebaik-baiknya dan ide-ide yang dicetuskannya bisa lebih
mudah dipahami.

II

Abdurrahman Wahid dilahirkan di Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940.
Ayahnya adalah KH Wahid Hasyim, putra pendiri NU H{adratus Shaykh KH Hasyim
Asy’ari yang masa hidupnya pernah menjadi ketua PBNU, salah seorang penanda
tangan piagam Jakarta, serta Meteri Agama pada kabinet Hatta, Natsir, dan Sukiman.
Sedang ibunya adalah putri KH Bisri Syamsuri, seorang yang semasa hidupnya
pernah jadi Rais ‘Am PBNU. Dengan demikian, maka Abdurrahman Wahid dilahirkan
di tengah-tengah orbit tokoh santri sehingga dia mempunyai keunggulan komparatif
dan askriptif yang jarang dimiliki tokoh Islam lain.

Nama lengkap Gus Dur adalah Abdurrahman al-Dakhil. Al-Dakhil secara leksikal
berarti sang penakluk, sebuah nama yang diambil oleh ayahnya dari seorang perintis
dinasti Bani Umai>yah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol
berabad silam. Dalam nama al-Dakhil tersebut terkandung sebuah harapan (tafa>’ul)
dari ayahnya agar Gus Dur menjadi seorang penakluk. Tampaknya, harapan tidaklah
sia-sia, karena Gus Dur mampu merealisasikan harapan itu. Dia sekarang telah
menjadi penakluk, meski ayahnya tidak sempat melihatnya karena semasa Gus Dur
berusia 13 tahun ayahnya wafat.

Pendidikan Gus Dur dimulai di keluarganya sendiri, kemudian dia sekolah SMEP di
Yogyakarta. Ketika di SMEP tersebut Gus Dur banyak membaca buku-buku yang sulit
dipahami bahkan oleh orang-orang dewasa terpelajar sekalipun, seperti What is to be
done? karya Lenin yang diinggriskan, Captain’s Doughter, oleh Turgenev, atau karya
monumental Marx, Des Capital. Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di
pesantren Tegalrejo Magelang Jawa Tengah selama tiga tahun sejak tahun 1956
dengan asuhan langsung KH Chudlori. Dari Tegalrejo, dia pindah ke Tambakberas
Jombang selama empat tahun (1959-1963). Pada tahun 1964-1966, dia melanjutkan
studinya ke Universitas al-Azhar Kairo Mesir pada Department of Higher Islamic and
Arabic Studies. Selepas dari Mesir, dia sempat kuliah di Universitas Baghdad sampai
tahun 1970.

Pada tahun 1970, Gus Dur kembali ke Indonesia dan menetap di Jombang. Dari tahun
1973-1974, dia menjadi dosen sekaligus dekan fakultas Ushuludin Unhasy Jombang.
Kemudian, ia menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng Jombang. Pada tahun 1978, dia
pindah ke Jakarta. Dia mendirikan pesantren Ciganjur sekaligus menjadi pengasuh
pesantren itu. Pada tahun itu juga, Gus Dur menjadi ketua DKJ. Selain itu, dia pernah
menjabat sebagai ketua umum PBNU (1984-1999), ketua Forum Demokrasi, dan
ketua World Conference on Religion and Peace (WCRP). Kini, Gus Dur menjadi
presiden RI keempat (1999-2004).
Pergaulan yang sangat luas dan bacaan yang sangat banyak membuat Gus Dur
mempunyai wawasan intelektualitas sangat luas. Greg Berton menilai Gus Dur
sebagai salah seorang pemikir Islam liberal di Indonesia. Menurut Fachry Ali, Gus Dur
dalam batas-batas tertentu adalah agamawan dan pemikir yang paling liberal di
Indonesia yang menurutnya belum tertandingi oleh Nurcholis Majid sekalipun. Cara
berpikirnya yang sangat liberal itulah yang membuat Gus Dur kadang-kadang seperti
tidak terkendali dan bahkan bagi kalangan tertentu Gus Dur dinilai nyleneh.

Beberapa pemikiran Gus Dur dapat dilihat di beberapa buku yang merupakan
kumpulan makalah seminar dan ceramah-ceramahnya, misalnya; Muslim di tengah
Pergulatan yang diterbitkan oleh Leppenas tahun 1983, Bunga Rampai pesantren
yang diterbitkan CV Dharma Bhakti tahun 1979, dan masih banyak lagi yang berupa
kumpulan makalah bersama penulis lain. Bentuk yang terakhir ini misalnya; Islam
Indonesia Menatap Masa Depan yang diterbitkan oleh P3M tahun 1989. Dan masih
banyak lagi yang lain ditambah dengan tulisan-tulisannya yang tersebar diberbagai
mass media .

III

Pemikiran pembaruan Gus Dur terdiversifikasi dalam berbagai bidang, tetapi secara
sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut;

A. Pluralisme

Menurut Gus Dur berdirinya negara Indonesia ini, lebih disebabkan oleh
adanya kesadaran berbangsa daripada faktor ideologi Islam, dan inilah
kenyataan yang harus diterima secara obyektif. Pandangan ini dikemukakan
karena Gus Dur melihat bahwa kondisi obyektif ini belum dipahami secara
tuntas oleh sebagian kalangan pergerakan Islam di Indonesia. Karena itulah,
dia berpendapat bahwa ajaran Islam lebih baik ditempatkan sebagai
komponen yang membentuk dan mengisi kehidupan bermasyarakat warga
negara kita. Fungsi ini disebut dengan komplementer.

Gus Dur dalam hal ini tampaknya mencari jalan keluar dari pergumulan antara
doktrin-doktrin Islam dan umatnya. Dengan memakai pola pemikiran
neomodernisme, dia mencari penyelesaian dengan kembali pada jalan
pemikiran tradisionalis Islam yang lunak dan lentur sebagai basis usaha-usaha
penyelesaian di masa kini dan masa depan. Dari pendapat ini, maka jelas Gus
Dur menolak sifat mutlak-mutlakan. Dengan demikian, maka sesungguhnya
Gus Dur lebih mencari jalan tengah atau pola pemikiran wasat}an. Pemikiran
inilah yang sampai sekarang secara konsisten diperjuangkan.

Pendekatan yang digunakan Gus Dur dalam usaha menampilkan citra Islam
ke dalam kehidupan kemasyarakatan adalah pendekatan sosio-kultural.
Pendekatan ini mengutamakan sikap mengembangkan pandangan dan
perangkat kultural yang dilengkapi oleh upaya membangun sistem
kemasyarakatan yang sesuai dengan wawasan budaya yang ingin dicapai itu.
Pendekatan ini lebih mementingkan aktifitas budaya dalam konteks
pengembangan lembaga-lembaga yang dapat mendorong transformasi
sistem sosial secara evolutif dan gradual. Pendekatan seperti ini dapat
mempermudah masuknya ‘agenda Islam’ ke dalam ‘agenda nasional’ bangsa
secara inklusifistik .
Menurut Din Syamsudin, pemikiran Gus Dur sebagaimana diuraikan di atas
lebih tepat sebagai pemikiran yang bersifat substantivistik. Menurutnya,
dengan pendekatan substantivistik dalam islamisasi Indonesia membuka
ruang bagi terjadinya pribumisasi Islam (domestication of Islam), usaha
mewujudkan nilai-nilai universal Islam ke dalam kultur bangsa Indonesia yang
beragam. Dalam konteks ini pula kultur Islam harus dipandang hanya sebagai
salah satu dari sekian banyak kultur bangsa. Ia hanya bersifat komplementer
terhadap kultur Indonesia secara keseluruhan. Dengan pemikiran ini
diharapkan masyarakat muslim mempunyai kesadaran kebangsaan, termasuk
bahwa negara Indonesia harus dibangun atas dasar kesadaran ini. Implikasi
dari implementasi pemikiran Gus Dur ini adalah adanya pluralisme.

B. Universalisme dan Kosmopolitanisme Islam

Gus Dur, dalam salah satu ceramahnya di Yayasan Wakaf Paramadina menawarkan
ide tentang universalisme dan kosmopolitanisme peradaban Islam. Universalisme
Islam itu ditunjukkan dalam ajaran kepedulian kepada unsur-unsur utama
kemanusiaan yang diimbangi oleh kearifan yang muncul dari keterbukaan peradaban
Islam sendiri. Menurut dia, salah satu yang dengan sempurna menampilkan
universialisme Islam adalah lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam, baik
kepada perorangan maupun kelompok. Kelima jaminan dasar ialah (1) keselamatan
fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum; (2)
keselamatan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan untuk berpindah
agama; (3) keselamatan keluarga dan keturunan; (4) keselamatan harta benda dan
milik pribadi di luar prosedur hukum; dan (5) keselamatan profesi.

Kelima unsur hak-hak asasi manusia itu, menurut Abdurrahaman Wahid, tidak
otomatis menjamin keselamatan umat manusia kalau tidak didukung
kosmopolitanisme peradaban umat Islam. Kosmopolitanisme peradaban Islam itu
muncul dalam sejumlah unsur dominan, misalnya hilangnya batasan etnis, kuatnya
pluralitas budaya dan heterogenitas politik, bahkan kosmopolitanisme Islam
menampakkan diri dalam watak yang menakjubkan, yaitu kehidupan beragama yang
eklektis berabad-abad. Hal ini antara lain tercermin dalam perdebatan-perdebatan
sengit selama empat abad pertama sejarah Islam di bidang teologi dan hukum
agama yang di dalamnya perbedaan pendapat tetap memperoleh tempat yang
semestinya.

Gus Dur mengatakan, kosmopolitanisme peradaban Islam mencapai titik optimalnya


jika tercapai keseimbangan antara kecenderungan normatif kaum muslimin dan
kebebasan berpikir semua warga masyarakat, termasuk mereka yang non muslim.
Gus Dur menyebut situasi seperti itu sebagai kosmopolitanisme yang kreatif, yang
memungkinkan pencarian sisi-sisi paling tidak masuk akal dari kebenaran yang ingin
dicari dan ditemukan.

Menururt Gus Dur, universalisme ajaran Islam meliputi beberapa soal: toleransi,
keterbukaan sikap, kepedulian pada unsur-unsur utama kemanusiaan, dan
keprihatinan secara arif terhadap keterbelakangan kaum muslimin sehingga akan
muncul tenaga luar biasa untuk membuka belenggu kebodohan dan kemiskinan yang
mencekam kehidupan mayoritas kaum muslimin dewasa ini. Dari proses
universalisme Islam diharapkan akan muncul kosmopolitanisme baru yang bersama-
sama dengan paham dan ideologi lain membebaskan manusia dari ketidakadilan
struktur sosial ekonomi dan kebiadaban rezim-rezim politik yang lalim. Hanya dengan
menampilkan universalisme baru dalam ajaran Islam dan kosmopolitanisme baru
dalam sikap hidup para pemeluknya Islam mampu memberikan perangkat sumber
daya manusia. Mereka itu diperlukan oleh si miskin untuk memperbaiki nasib sendiri
secara berarti dan mendasar melalui penciptaan etika sosial baru yang penuh
dengan semangat solidaritas sosial dan jiwa transformatif yang prihatin dengan nasib
orang kecil.

Dengan gagasan universalisme Islam dan kosmopolitanisme Islam seperti yang


diuraikan di atas, maka Gus Dur menolak pendekatan yang bersifat legalistik-
formalistik, skripturalistik ataupun alternatif pandangan dunia (worldview) yang
serba apologis. Menurut Gus Dur, pendekatan seperti itu tidak dapat diharap banyak
untuk menyelesaikan masalah. Dalam memecahkan masalah kemiskinan misalnya,
pendekatan semacam itu tentu hanya akan bermuara pada upaya dakwah semata-
mata, dalam pengertian bagaimana memperkuat iman dan bukan sebaliknya
bagaimana mempersepsi iman yang dapat menggugah agar masalah kemiskinan
dapat dipecahkan secara adil. Gus Dur melihat bahwa masalah kemiskinan seperti di
Indonesia hanya dapat dipecahkan melalui upaya transformasitif secara makro, yakni
dengan menegakkan demokrasi yang murni, mengembangkan lembaga
kemasyarakatan yang adil di semua bidang, dan menolak ketidakadilan dalam segala
bentuknya. Islam tidak bisa memisahkan diri dari perjuangan makro itu, dan sikap
mengabaikan hal ini berarti menyimpang dari ajaran Islam sendiri dan mengkhianati
aspirasi Islam dalam arti penuh.

IV

Demikian beberapa pemikiran Gus Dur yang menurut penulis sangat penting dan
mempunyai nilai kontribusi pemikiran yang besar dalam memahami Islam dalam
kaitannya dengan masalah-masalah peradaban dan kemanusiaan. Dengan pemikiran
seperti yang dilontarkan oleh Gus Dur itu, maka Islam akan mampu memberikan
jawaban masalah-masalah yang dihadapi manusia sekarang ini terutama yang
dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini, antara lain kemiskinan, kebodohan, dan
keterbelakangan. Tampaknya, Gus Dur ingin dalam era pascaindustri nanti umat
Islam juga terlibat dalam membangun budaya dan peradaban bangsa ini khususnya
dan umat manusia umumnya. @

http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-30.html

REKONSTRUKSI EPISTEMOLOGI BURHANI


PENYELARASAN METODOLOGI
DALAM PERSPEKTIF AL-JABIRI

Wahib Wahab

Latar Belakang

Epistemologi (Filsafat Pengetahuan) Islam sebagai wilayah diskursus filsafat


mencakup dua pendekatan genetivus subyectivus (menempatkan Islam sebagai
subyek) bagi titik tolak berpikir (starting point) dan genetivus obyectivus
(menempatkan filsafat pengetahuan sebagai subyek yang membicarakan Islam
sebagai obyek kajian). Epistemologi Islam menelaah bagaimana pengetahuan itu
menurut pandangan Islam, bagaimana metodologinya, serta bagaimana kebenaran
dapat diperoleh dalam pandangan Islam atau proposisi yang telah terbukti
keabsahannya. Secara leteral, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme,
yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: pertama,
apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Manakah pengetahuan yang benar itu, dan
bagaimana kita mengetahuinya?; kedua, apakah sifat dasar pengetahuan itu?
Apakah ada dunia yang benar-benar berada di luar pikiran kita, dan kalau ada,
apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang apa yang kelihatan
(phenomenia/appearance) versus hakikat (noumena/essence); ketiga, apakah
pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita dapat membedakan yang
benar dari yang salah? Ini adalah persoalan mengkaji kebenaran atau verifikasi.

Di penghujung abad pertama Hijriyah, telah terjadi pemindahan ilmu-ilmu kuno dari
Iskandaria, pusat perkembangan filsafat Hermes ke dalam kebudayaan Islam Arab.
Kehadiran ilmu-ilmu nonArab Islam ini mengundang sikap anti pati ulama ahl al-
sunnah awal karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam. Ilmu-ilmu tersebut
memasuki wilayah kebudayaan Islam melalui penerjemahan.

Kemapanan Pemerintahan Islam, terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah,


memberi peluang yang luas bagi komunitas Muslim untuk berkenalan dengan
kebudayaan luar. Hal ini atas dukungan Khalifah al-Mansur yang sangat respek
terhadap ilmu pengetahuan. Ia merangsang kegiatan penerjemahan berbagai ilmu
pengetahuan ke dalam bahasa Arab, termasuk filsafat Yunani dan Logika Aristoteles.
Bila ditelusuri lebih jauh bahwa aktifitas kefilsafatan tersebut merupakan kebutuhan
niscaya bagi diskursus logika yang memperoleh tempat di kalangan komunitas
Muslim semenjak munculnya golongan Mu'tazilah ketika mereka harus
mempertahankan aqidah Islam terhadap serangan rivalnya, terutama umat Nasrani.
Golongan Mu'tazilah itulah yang mula-mula mengelaborasikan filsafat Yunani dengan
menggunakan Logika Aristoteles. Semangat pengadopsian filsafat ini muncul pada
awal pertumbuhan ilmu kalam yang sebelumnya didahului dengan semangat kajian
nahwu dan fikih, yaitu dengan pengalihbahasaan buku-buku filsafat, terutama filsafat
Aristoteles, sehingga tidak dapat dipungkiri adanya pertemuan kental dengan ke-
Tuhan-an Masehi. Sementara itu, Baghdad telah banyak bersinggungan dengan
filsafat Yunani. Ibnu Nadim dalam al-Fihrisat (pada masa kekuasaan al-Makmun; 811-
833.M) banyak sekali mengalihbahasakan tulisan Aristoteles. Ini merupakan awal
gerakan keilmuan yang menduduki posisi puncak dalam pengalihbahasaan filsafat
Yunani ke dalam bahasa Arab (al-ta'rib), bahkan di dalam kebudayaan Arab Islam
tulisan Aristoteles dianggap sebagai kitab induk sehingga dalam Da>r al-H{ikmah
banyak sekali terkumpul manuskrip (makht}u>t}a>t) di dalamnya.

Pada masa itu dibentuk tim khusus untuk melawat ke negeri-negeri sekitar untuk
mencari buku-buku ilmu pengetahuan apa saja yang pantas dikembangkan dan
diterjemahakan ke dalam bahasa Arab (al-ta'rib). Tokoh-tokoh logika yang kemudian
muncul antara lain al-Kindy (w. 252 H) sebagai pelopor penerjemahan logika
Aristoteles, dan diteruskan oleh al-Faraby (w. 339 H).

Menurut al-Ja>biri> bahwa gerakan penerjemahan yang diserukan oleh al-Makmun


merupakan tonggak sejarah pertemuan antara pemikiran keagamaan Arab dan
pemikiran rasional Yunani, pertemuan antara epistemologi bayani Arab dan
epistemologi burhani Yunani.

Ibnu Rusyd dalam karyanya, Tafsi>r ma> Ba`da al-Thabi>`ah, mengemukakan kritik
terhadap epistemologi pemikiran Arab Islam yang terwakili oleh sistem Arabisasi
(pembahasaan Arab) pemikiran-pemikiran Yunani melalui penerjemahan sebagai
nyaris miskin metode analisa. Sebagian ulama kalam menjelaskan diskursus
kalamiahnya dengan kaplingan kalamnya, akan tetapi mereka tidak mampu
melakukan pendekatan yang sarat dengan pergumulan logika; mereka melakukan
dengan epistemologinya sendiri karena mereka memang tidak mengetahui secara
utuh apa itu "Analitika" (al-tah}li>la>t). Karena itu, al-Ja>biri> mengajak para
pemikir Islam dewasa ini untuk mengetahui kelemahan pemikiran Arab Islam yang
masih terbuka terhadap kritik dalam rangka membahasakan ulang sesuai dengan
kepentingan Islam pada khususnya, dan umat manusia pada umumnya.

Proses penyelarasan dua metode yang berbeda ini akan menjadi mainstream kajian
ini dengan merujuk pada pemikiran al-Ja>biri> sebagai eksponen yang hidup di
dunia modern kontemporer yang menawarkan pendekatan epistemologi Islam, yaitu
epistemologi baya>ni>, `irfa>ni> dan burha>ni>. Artikel ini memfokus pada kajian
epistemologi burhani. Kajian ini meliputi apa sebenarnya epistemologi burha>ni>
dalam kebudayaan Arab Islam, penyelarasan metode, telaah lafal dan makna, logika
& nahwu, sillogisme, penerapannya pada epistemologi baya>ni>, dan kontribusi
burha>ni> bagi baya>ni> dan `irfa>ni>.

Sekilas Tentang Epistemologi Burha>ni>

Dalam pengertian sederhana (elementer), al-burha>n secara mantiqi> (logika)


berarti aktifitas pikir yang dapat menetapkan kebenaran proposisi (qad}i>yah)
melalui pendekatan deduktif (al-istinta>j) dengan cara mengaitkan proposisi satu
dengan yang lain yang telah terbukti secara aksiomatik (badi>hi>). Dalam arti
universal, al-burha>n berarti aktifitas intelektual untuk menetapkan suatu proposisi
tertentu.

Al-Ja>biri> mendekatinya melalui sistem epistemologi yang ia bangun dengan


metodologi berpikir yang khas, bukan menurut terminologi mantiqi> dan juga tidak
dalam pengertian umum, dan berbeda dari yang lain. Epistemologi tersebut pada
abad-abad pertengahan menempati wilayah pergumulan kebudayaan Arab Islam
yang mendampingi epistemologi baya>ni> dan `irfa>ni>.

Kehadiran epistemologi di atas, bila ditelusuri dalam wilayah kebudayaan Arab Islam
dengan pendekatan komparatif, baya>ni>, atau`irfa>ni>, maka dapat ditarik
benang merah bahwa epistemologi baya>ni> menekankan kajian dari teks (nas}s})
ijma' dengan ijtihad sebagai referensi dasarnya dalam rangka menjustifikasi aqidah
tertentu; sedangkan `irfa>ni> dibangun di atas semangat intuisi (kashshf) yang
banyak menekankan aspek kewalian (al-wila>yah) yang inheren dengan ajaran
monisme atau kesatuan dengan Tuhan dan epistemologi burha>ni> menekankan
visinya pada potensi bawaan manusia secara naluriyah, inderawi, eksperimentasi,
dan konspetualisasi (al-h}iss, al tajribah wa muh}a>kamah 'aqli>yah).

Adalah Aristoteles orang yang pertama membangun epistemologi burhani yang


populer dengan logika mantiq yang meliputi persoalan alam, manusia dan Tuhan.
Aristoteles sendiri menyebut logika itu dengan metode analitik. Analisis ilmu atas
prinsip dasarnya baik proporsi h}amli>yah (Categorical Proposition) maupun
shart}I>yah (Hypothetical Proposition) pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai
tujuan berupa aturan-aturan untuk menjaga kesalahan berpikir. Wilayah yang
menjadi obyeknya meliputi 10 persoalan substansi, yang pertama dan yang sembilan
adalah oksiden dengan segala derivasinya; kuantitas (panjang), kualitas, hubungan
(id}afah), tempat atau ruang, waktu, kepemilikan, fiil (pasi) infi'al (affectif) atau ilmu
pengetahuan. Adapun kecakapan untuk berpikir lurus dalam penalaran dibedakan
menjadi dua kegiatan: analitika dan dialektika. Analitika dipakai untuk menyebut
cara penalaran dan argumentasi yang berdasarkan pada pernyataan-pernyataan
yang benar, akan tetapi burha>ni> adalah aktifitas berpikir secara mantiqi yang
identik dengan silogisme atau al-qiya>s al-ja>mi` yang tersusun dari beberapa
anasir (proposisi). Dengan demikian, burha>ni> (al-qiya>s al-'ilmi>) menekankan
tiga syarat, pertama, mengetahui terma perantara yang 'illah (causa) bagi
kesimpulan (ma'rifat al-hadd al-ausat} wa al-nati>jah); kedua, keserasian hubungan
relasional antara terma-terma dan kesimpulan (tarti>b al-`ala>qah bayn al-illah wa
al-ma'lu>l), antara terma perantara dan kesimpulan-kesimpulan sebagai sistematika
qiyas; dan ketiga, nati>jah (kesimpulan) harus muncul secara otomatis dan tidak
mungkin muncul kesimpulan yang lain. Qiyas ketiga ini yang inheren dengan
epistemologi burha>ni>.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa logika Aristoteles lebih memperlihatkan


nilai epistemologi dari pada logika formal. Demikian pula halnya dengan diskursus
filsafat kita dewasa ini yang melihat persoalan alam (alam, Tuhan dan manusia)
bukan lagi persoalan proposisi metafisika karena epistemologi burha>ni>
dikedepankan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid dan bangunan
pengetahuan yang meyakinkan tentang persoalan duniawi dan alam. Dinamika
kehidupan kontemporer dewasa ini bisa memilah-milah masing-masing pendekatan
epistemologik: baya>ni> dan `irfa>ni> karena masing-masing memiliki tipikal satu
sama lain, dan epistemologi burha>ni> bisa menjadi pemoles keserasian hubungan
antara kedua epistemologi di atas.

Burha>ni> dalam Akselerasi Kebudayaan Islam

Proses Penyelarasan Metode

Dua epistemologi Islam, baya>ni> dan `irfa>ni>, adalah dua pendekatan yang
mendahului epistemologi burha>ni> dalam akselerasi kebudayaan Arab Islam. Bila
baya>ni> lebih menekankan metodologinya pada otoritas nas}s} dan dijustifikasi
oleh akal kebahasaan yang terwakili oleh fuqaha', dengan pembidikan wilayah
eksoteris, maka `irfa>ni> terkesan berseberangan dengan baya>ni>, karena
menonjolkan kajian pada garis distingtif antara realitas wujud dengan realitas mutlak
yang dapat didekap dengan metodologi kashshf, dhawq, intuisi dalam menangkap
apa yang ada di balik meta teks. Alasan mendasarnya, karena epistemologi `irfa>ni>
lebih menekankan pada direct experience (`al-`ilm al-h}ud}u>ri>) sehingga otoritas
akal menjadi tertepis karena lebih bersifat partisipatif. Wilayah cakupannya lebih
identik dengan perwalian (al-wilayah).

Kedua epistemologi di atas terkesan berseberangan dalam menangkap wacana


masing-masing karena perbedaan episteme. Namun demikian, episteme keduanya
masih dibangun di atas nilai al-Qur'a>n dan h}adi>th. Meskipun epistemologi Islam
di satu pihak membahas masalah-masalah epistemologi pada umumnya, tetapi di
lain pihak, dalam arti khusus filsafat Islam juga menyangkut pembicaraan mengenai
wahyu dan ilham sebagai sumber pengetahuan dalam Islam; wahyu sebagai sumber
primer, sedangkan ilham pengetahuan bagi epistemologi `irfa>ni>. Poeradi Sastra
--sebagaimana dikutip oleh M. Amin-- membagi tingkat epistemologi Islam antara
lain: (1) perenungan (contemplation) tentang sunnatullah sebagaimana dianjurkan di
dalam al-Qur'a>n al-Kari>m; (2) penginderaan (sensation); (3) pencerapan
(perception); (4) penyajian (representation); (5) konsep (concept); (6) timbangan
(judgement); dan (7) penalaran (reasoning).

Perbedaan epistemologi burha>ni> terletak pada :

1. Sistem berpikir yang konstruksi epistemologinya dibangun di atas


semangat akal dan logika dengan beberapa premis. Otoritas referensinya
adalah al-Qur'a>n, h}adi>terhadap, dan pengalaman salaf.
2. Metode yang dibangun sangat berbeda dengan epistemologi baya>ni> dan
`irfa>ni>.

Dengan demikian, maka epistemologi burha>ni> layak digarisbawahi sebagai


metodologi yang representatif dalam membidik ilmu pengetahuan dengan bersifat
demonstratif (burha>ni>). Maka, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa peletakan
dasar upaya burha>ni> dalam akselerasi kebudayaan Arab Islam merupakan upaya
penelusuran bentuk hubungan yang serasi antara burha>ni> dan baya>ni>.

Van Peursen mengatakan bahwa akal budi tidak dapat menyerap sesuatu, dan panca
indera tidak dapat memikirkan sesuatu. Namun, bila keduanya bergabung timbullah
pengetahuan, sebab menyerap sesuatu tanpa dibarengi akal budi sama dengan
kebutaan, dan pikiran tanpa isi sama dengan kehampaan.

Al-Kindy telah merintis upaya penyelarasan epistemologi burha>ni> dengan


epistemologi baya>ni>; sebuah upaya yang membutuhkan kesungguhan dan
kapasitas keilmuan yang memadai. Dia adalah seorang filosof pertama berbangsa
Arab yang berani menolak posisi para ulama yang menyatakan "Kemahiran
pengetahuan mengenai realitas adalah kufur." Dari sini kelihatan bahwa al-Kindy
adalah seorang rasionalis, ia mencoba menyelami kegiatan akal untuk memperoleh
kebenaran. Oleh karena itu, ia memiliki kapasitas untuk meletakkan dasar yang
diperlukan. Usahanya masih bersifat parsial, sebab pada masa hidupnya belum
semua keilmuan burha>ni> diadopsi ke dunia Arab. Beberapa jenis ilmu memang
sudah masuk, tetapi tulisan-tulisan tentang al-burha>n dalam logika Aristoteles
belum dialihbahasakan.

Karena al-Kindy tidak memiliki kekuatan logika yang memadai, maka tulisan-
tulisannya tidak mencerminkan sebagai karya yang dibangun di atas epistemologi
burhani. Maka, tidak heran jika al-Kindy terjebak dalam perdebatan yang akut ketika
filsafat mendapat serangan dari para fuqaha‘ pada masanya.

"Filsafat Pertama" adalah ilmu yang mendasari ilmu-ilmu lain. Manuskrip al-Kindi
tentang "Filsafat Pertama" ini berhasil dipersembahkan kepada khalifah al-Mu'tashim
(w. 227 H) dengan disertai catatan pengantar. Catatan pengantar ini antara lain
berisi penjelasan tentang obyek bahasan filasafat, kedudukannya, dan kutukan yang
dialamatkan kepada yang anti filsafat, yaitu para pendukung baya>ni>. Upaya ini
dilakukan al-Kindy sebagai imbangan bagi pendukung baya>ni> yang senantiasa
menggunakan kekuasaan sebagai justifikasinya kekuatannya.

Corak fondasi burha>ni> yang parsial di atas tentu tidak mencukupi sebab filsafat,
khususnya filsafat Aristoteles, merupakan kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi,
mencakup metode dan visi sekaligus. Maka, adalah naif sekali mengambil sebagian
visi atau keseluruhan visi itu tanpa disertai metodenya, sebab visi itu lahir dari
metode yang dibangun.

Dalam tradisi Arab Islam, logika bahasa atau logika baya>ni> sudah bukan lagi
sekedar kaidah bahasa, melainkan telah menjadi metode dalam berpikir. Karena itu,
kedatangan logika Aristoteles dianggap sebagai tandingan bagi logika bahasa dan
merupakan ancaman bagi ulama nahwu. Perdebatan sengit antara Abu> Sa'i>d al-
Si>rafi>, seorang ahli nahwu, dengan Abi> Bishr Matta>`, seorang ahli logika, yang
terjadi sesudah masa al-Kindy dapat dijadikan sampel bagi hilangnya keselarasan
kedua logika tersebut.
Al-Farabi mencoba membangun konsep yang menyeluruh dalam upayanya untuk
menyelaraskan hubungan antara baya>ni> sebagai motode dan visi di satu sisi,
dengan burha>ni> sebagai metode dan visi di sisi lain, yakni keselaran antara
Nahwu dengan logika dan antara filsafat dan agama.

Burha>ni>: Lafal dan makna

Al-Farabi terdesak untuk mengkaji problematika baya>ni>, terutama problematika


lafal dan makna. Al-Farabi muncul ketika terjadi perdebatan antara ahli mantiq
dengan ahli nahwu; ulama mantiq mencoba menyempurnakan kekurangan gurunya,
Abu> Bishr Matta>` ketika berdebat dengan Abu> Sa'I>d al-Si>ra>fi>. Al-Farabi
mengulangi upaya penyelarasan antara lafal dan makna di atas prinsip burha>ni>
dengan mengedepankan realitas faktual dan proses perkembangannya sebagai
otoritas referensial yang tinggi. Ditegaskannya bahwa makna lebih dulu dari pada
lafal. Proposisi ini berbeda dari tesis kaum baya>ni> yang menekankan lafal
daripada makna terlebih dahulu, atau paling tidak keduanya terjadi secara bersama-
sama.

Eksplanasi al-Farabi tentang proses munculnya bahasa dapat ditarik benang merah
bahwa huruf dan lafal merupakan simbol bagi benda-benda yang dapat dicerna
secara inderawi. Konsepsi intelektual diletakkan pada benda-benda eksternal yang
ditangkap melalui kinerja inderawi. Prinsipnya adalah (1) adanya benda yang
diindera; (2) terjadinya gambaran dalam pikiran; serta (3) pengungkapan terhadap
gambaran itu. Selanjutnya dijelaskan bahwa susunan lafal dan bahasa tidak lain
adalah copy dari susunan makna yang ada dalam pikiran, dan susunan makna yang
ada dalam pikiran tidak lain adalah copy dari susunan benda-benda yang ada di
alam. Meskipun lafal dari berbagai bangsa berbeda-beda, akan tetapi ultimate goal
yang terkandung di dalamnya adalah satu karena yang menjadi sumber bukanlah
lafal, akan tetapi benda-benda inderawi dan beberapa proses yang menjadi objek
pengetahuan.

Burha>ni>: Logika dan Nahwu

Dalam diskursus kebahasaan ditemukan dua persoalan yang berbeda, yaitu (1) lafal
dan cara penyusunannya dalam ungkapan dan ibarat, yang merupakan tiruan (copy)
dari makna dan cara penyusunannya dalam jiwa, dan (2) pikiran (baik tunggal
maupun tersusun), yang merupakan tiruan benda-benda inderawi dan hubungan
yang terjadi di antara benda-benda atau konsepsi-konsepsi yang dapat ditarik dari
benda tersebut. Selama dua pokok bahasan itu masih berbeda satu sama lain, maka
tidak ada salahnya bila kemudian muncul dua ilmu yang berbeda, yaitu ilmu nahwu
dengan mengambil pokok bahasan yang pertama dan ilmu Mantiq yang mengambil
pokok bahasan yang kedua. Tetapi, kedua ilmu ini mempunyai hubungan relasional.
Segala yang diberikan oleh nahwu kepada kita yang berupa gramatika lafal, maka
secara paralel Mantiq juga memberikan aturannya dalam pikiran.

Al-Farabi menjelaskan dari sudut pandang khusus dan umum. Nahwu bersifat khusus
karena berhubungan dengan bahasa, sementara bahasa manusia sangat beragam.
Hal ini didasarkan pada nilai bahasa memiliki tata atur yang partikulatif, sementara
mantiq bersifat umum sebab ia berhubungan dengan pikiran, sedang pikiran itu
hanya satu bagi seluruh manusia manusia. Kedua ilmu ini mempunyai titik singgung
pada obyeknya secara signifikan. Obyek pembahasan mantiq adalah pikiran-pikiran
ditinjau dari segi penunjukan lafal kepadanya dan lafal-lafal ditinjau dari segi
penunjukannya kepada pikiran. Nahwu memberikan aturan-aturan tentang lafal-lafal
itu. Tetapi kedua ilmu ini berpisah karena ilmu Nahwu hanya memberikan aturan
kepada bahasa kelompok manusia tertentu, sedang ilmu mantiq memberikan aturan
umum yang berlaku bagi semua bahasa (pembicaraan) manusia.

Burha>ni>: Silogisme

Apa yang diusahakan oleh al-Farabi diarahkan untuk menyejajarkan konsep-konsep


logika agar dapat diterima oleh kebudayaan Arab Islam yang masih berhadapan
dengan problematika lafal dan makna secara anomali.

Klasifikasi pengetahuan ke dalam dua bagian menurut logika, yakni tas}awwur dan
tas}di>q, tidak dikenal dalam tradisi berpikir baya>ni>. Baya>ni> mempunyai cara
pembagiannya sendiri, misalnya ilmu terbagi menjadi ilmu kuno (klasik) dan ilmu
baru, atau, ilmu d}aru>ri> (otoritatif) dan ilmu yang dicari (kasbi>) dan sebagainya.
Tentu ini merupakan persoalan awal yang merumitkan epistemologi baya>ni> dalam
menerima konsep-konsep logika. Karena itu, al-Farabi terdesak untuk menjelaskan
anasir yang membentuk konsep-konsep tersebut secara baya>ni> sehingga menjadi
jelas arti unsur-unsur itu dalam proses pembentukan konsep. Hal ini perlu dijelaskan
mengingat konsep merupakan bagian asasi dalam pembentukan silogisme.
Pembentukan silogisme didasarkan atas makna, bukan lafal.

Menurut al-Farabi, silogisme berada pada tataran pemikiran, bukan pada lafal. Bila
dalam pikiran seseorang telah terbentuk konsep-konsep kebenaran, maka secara
simultan akan muncul kebenaran yang lain yang sebelumnya tidak diketahui. Jadi,
sesuatu yang menggiring seseorang mengetahui sesuatu yang tadinya tidak
diketahui bukanlah lafal, tetapi konsep yang tersusun dalam pikiran, sedangkan lafal
tersusun dalam lisan. Seandainya lafal itu sendiri dapat disusun dalam pikiran
sedemikian rupa sehingga dapat melahirkan sesuatu yang lain, maka yang lahir
tentu saja bukan konsep atau kebenaran, tetapi lafal baru yang lain. Maka, jelas
bahwa yang tersusun dalam pikiran itu bukanlah lafal, akan tetapi makna konseptual.

Hal ini jelas berbeda dengan inferensi (istidla>l) dalam tradisi baya>ni>, yang cukup
didasarkan atas lafal, mengeluarkan makna dari lafal seperti orang mengeluarkan air
dari dalam sumur. Dikatakan oleh Aristoteles, burha>n itu tidak tersusun dari ucapan
eksternal tetapi dari ucapan internal.

Burha>ni>: Penerapannya pada Epistemologi Baya>ni>.

Meskipun al-Ghaza>li> yang karena dukungan penguasa menolak filsafat, tetapi


tidak segan-segan ia menunjukkan apresiasinya yang besar terhadap signifikansi
logika sebagai metodologi ilmu pengetahuan. Bisa dikatakan bahwa al-Ghaza>li>
adalah orang yang cukup berjasa dalam penerapan logika dalam bidang
pengetahuan bayani. Pada akhirnya ia lari dalam dunia sufi yang mampu mengakhiri
krisis pemikirannya yang akut (konversi), tetapi ia tetap membela logika sampai
akhir hayatnya. Al-Ghaza>li> bahkan sering mengutip ayat-ayat al-Qur'a>n dengan
penjelasan sedemikian logis (baca Mishka>t al-Anwa>r) sehingga seolah-olah al-
Qur'a>n juga menggunakan silogisme logika dalam berargumentasi. Ini dapat
dibuktikan dalam tulisannya tentang us}ul fikih al-Mustashfa>.

Ulama us}ul sebelum al-Ghaza>li> mengambil premis-premisnya dari ilmu kalam


dan membangun madzhab fiqihnya di atas premis-premis tersebut. Sementara itu,
al-Ghaza>li> ingin merubah tradisi berpikir tersebut. Dalam pendahuluan karyanya,
al-Mustashfa> fi> `Ulu>m Us}u>l Fiqh, ia menulis pokok-pokok pikirannya tentang
logika dengan menegaskan bahwa orang yang tidak menguasainya diragukan
kekokohan ilmunya. Al-Ghaza>li> ketika menulis buku Mi'ya>r al-'Ilm, al-Ghaza>li>
membidik duan tujuan pokok: menjelaskan metode berpikir dan menerangkan cara-
cara membuat analogi (qiya>s), di samping menjelaskan kepada para fuqaha' bahwa
cara berpikir dalam malsaah-masalah fiqih tidak berbeda dari cara berpikir dalam
ilmu-ilmu rasional yang lainnya. Bila ditelusuri bahwa masing-masing wilayah (tidak
hanya syari'ah, tetapi juga kalam dan tasawuf) memiliki mode penerapan qiyas Mode
of Analogy, namun demikian metodenya adalah sama meski wilayahnya berbeda
satu sama lain.

Bila diterapkan dalam wilayah ilmu Kalam, maka yang muncul adalah sosok ilmu
Kalam Asy'ari>yah dalam bentuk propaganda yang diformulasikan dalam bentuk
qiyas. Premis-premis diatur sedemikian rupa sehingga kesimpulan yang muncul
adalah meteri yang dipropagandakan itu sendiri. meski demikian al-Ghaza>li>
menyadari betul akan kesulitan dan kekurangan yang ada pada metode ahli Kalam
dalam berargumentasi. Salah satu diantara faktor mode of thought-nya. Menurut
asumsi mereka bahwa bahasa merupakan otoritas referensial dan lafal lebih utama
dari pada pengertian. Kata al-Ghaza>li> semestinya mereka tahu bahwa lafal-lafal
itu adalah istilah-istilah yang tidak bisa menyebabkan perubahan pada tingkat
pemikiran. Ketika ia menyinggung problem al-H{a>l dalam ilmu Kalam, ia
menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada artinya membedakan antara pengertian
eksistensi dzat yang mempunyai sifat ilm dan keberadaannya yang 'Alim. Tentu hal
ini sulit dijelaskan bagi orang yang memahaminya melalui makna yang harus
diturunkan dari lafal yang ada.

Al-Ghaza>li> memasukkan logika dalam ilmu Kalam sampai menyentuh aspek


metodenya yang sangat prinsipil di dalamnya, terutama masalah Qiya>s bi al-
Sha>hid 'ala al-Ghayb. Menurutnya, tidak tepat mengembalikan yang ghaib kepada
yang syahid kecuali dengan satu syarat, tetapi bila syarat itu terpenuhi maka
hilanglah fungsi yang syahid. Dengan arti kata beristidlal dengan yang syahid untuk
menangkap yang ghaib tidak absah kecuali jika dapat diketahui al-H{ad al-
awsat}nya atau 'illatnya. Jika 'lllat itu bisa ditemukan maka yang syahid itu sudah
tidak dibutuhkan lagi, sebaliknya jika tidak bisa ditemukan maka tidak ada jalan
untuk mempertemukan antara yang syahid dan yang ghaib secara bersamaan.

Tujuan Aristoteles dalam membangun epistemologinya yang kemudian dikenal


dengan istilah logika ini adalah agar ia dapat dijadikan sebagai metode dalam
mengembangkan Ilmu Pengetahuan. Metode ini diperlukan agar orang yang
melakukan penyelidikan terhadap gejala-gejala fenomenologis dapat memperoleh
pengetahuan yang benar. Dengan demikian, maka konstruksi pemikiran diatas tidak
dimaksudkan sekedar sebagai alat untuk mempertahankan aqidah-tertentu.
Pembicaraan Aristoteles tentang Filsafat Pertama (Penggerak Yang Tidak Bergerak),
merupakan konsekwensi logis dari keinginannya untuk menetapkan prinsip atau
landasan bagi gerak yang terjadi pada alam. Persoalan bagaimana cara Penggerak
itu menggerakkan, bagaimana watak-Nya, dan bagaimana pula sifat hubungan-Nya
dengan alam, merupakan bagian dari pembicaraan dalam Filsafat Pertama.

Maka tidaklah salah jika dikatakan bahwa hal itu merupakan pembicaraan tentang
ilmu ketuhanan, akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa ilmu tentang Tuhan tidak
harus dipahami sebagai aqidah agama. Alur pikir Aristoteles harus dipahami sebagai
suatu telaah tentang Eksistensi yang bebas dari materi. Menurutnya, setiap yang
bebas dari materi adalah Tuhan atau layak sekali menjadi Tuhan. Aristoteles
berbicara tentang wujud yang bebas dari materi ini bukan untuk membangun aqidah
agama, tetapi untuk menetapkan dasar bagi ilmu alamnya. Oleh karena itu, ketika
pembicaraan tentang kategori wujud baik dalam logika maupun dalam filsafat
pertama dibawa kepada pembahasan tentang alam ilahiyah, maka ia kehilangan nilai
signifikansinya. Karena alam ketuhanan bersifat transendental dan bebas dari
kategori-kategori wujud ciptaan Aristoteles itu, apalagi ketuhanan dalam diskursus
aqidah Islam.

Burha>ni>: Kontribusinya Terhadap Baya>ni> & `Irfa>ni>

Epistemologi burha>ni> sebagai sebuah pendekatan telah tertepis dari akselerasi


budaya Arab Islam karena pengaruh al-Ghaza>li> yang hanya menempatkan aspek
akal sebagai media untuk beristidla>l dengan yang sha>hid dengan yang ghayb.
Bahkan al-Ghaza>li> dalam pembahasannya banyak mensintesisikan dalam tiga
epstemologi (baya>ni>, `irfa>ni> dan burha>ni>). Epistemologi baya>ni> mampu
menjadi pembuka pintu bagi `irfa>ni> (menurut tasawuf sunni) dan membuka
epistemologi burha>ni> (metode muta'akhirin yang telah terasimilasi dan
terakulturasi dengan persoalan filsafat, dan kalam) sedangkan `irfa>ni> mampu
menjadi jembatan bagi baya>ni> dengan mengambil makna eksoteris dalam
bangunan syari'ah menurut Ibnu `Arabi yang ditekankan oleh kalangan sufi.

Sedangkan pada burha>ni> (fungsi Hermes yang merujuk pada sistem berpikir
Aristoteles) yaitu, aktifitas yang berjalan dalam epistemologi `irfa>ni> visi
Isma>'ili>yah kemudian diadopsi oleh Ibnu Arabi dalam `irfa>ni> sufi yang dijadikan
alas bangunan tasawuf batini seperti tokoh sezamannya (al-Suhrawardi, al-H{alabi>)
membentuk madhhab lain yang didasarkan pada filsafat illuminatif yang masih hidup
di Iran sampai sekarang. Maka, fungsi asimilasi antara sistem ketiga epistemologi
selalu disertai dengan aktifitas untuk mengembalikan dasar pijakan. Mengembalikan
dasar pijakan baya>ni> dan keserasian hubungannya dengan burha>ni> dari sini
dapat dipetakan menjadi dua: pertama, bentuk formal yang bersifat general tentang
yang disebut asimilasi seperti yang dikaji dalam diskursus kalam; kedua, upaya
mengembalikan bangunan pemikirannya menurut ruang lingkup yang meliputi
beberapa aspek kajian.

Ikhtita>m

Kehadliran epistemologi burha>ni> dalam kebudayaan Arab Islam dapat


disimpulkan, bahwa asal muasal kajian adalah pada seluruh realitas yang dapat
didekap secara ikhtiya>ri>, kasbi> dan husu>li> (diusahakan melalui pendekatan
verifikatif dan eksploratif), sedangkan peran akal lebih bersifat penulusuran dalil
secara logika, dan validitasnya bersifat diskursif-analitik (bah}thi>yah
tah}li>li>yah). Upaya penyelarasan metode burha>ni> dapat didekati melalui
sintesis dari berbagai ilmu: kalam, tasawuf, filsafat Aristoteles yang banyak
dikemukakan oleh al-Ja>biri>, filsafat Isma>'ili>yah Hermes. Penyelarasan metode
burha>ni> dengan tradisi kebudayaan Arab Islam cukup mendasar, karena wilayah
kebudayaannya ini telah memiliki metode sendiri yang telah lama berakar. Logika
Aristoteles yang semula dimaksudkan sebagai metode untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, dalam proses asimilasinya dengan lingkungan keilmuan bayani
mengalami pergeseran fungsi. Pada masa al-Ghaza>li> logika difungsikan sebagai
alat untuk mempertahankan aqidah madzhab ilmu kalam.

Namun sangat disayangkan karena logika semakin hilang keberadaanya ketika


premis-premis yang digunakan bukan lagi berupa aksioma atau postulat, tetapi
diambil dari hasil pemahaman teks dalam dirkursus ilmu kalam. Maka, menjadi
kenisayaan untuk mengembangkan epistemologi ini dalam hubungannya dengan
kepentingan keilmuan melalui epistemologi burha>ni> yang sarat dengan berbagai
pergumulan filsafat yang dapat dibumisasikan. Semoga.@

http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-27.html