Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI

DI PT PLN (persero)

Laporan ini saya susun sebagai syarat

untuk mendaptkan nilai Semester genap

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 GORONTALO

Tahun Pembelajaran 2009 / 2010

[Type text] Page I


Oleh :

Nama : TOMI TINTA

NIS : 13768

Kelas : II TITL

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

NEGERI 3 GORONTALO

TAHUN 2010

HALAMAN PENGESAHAN I

Judul : Pemerataan Beban Desa Tolongio Kec. Anggrek Di Gardu

NO : GK . 53

Nama : Tomi Tintia

NIS : 13768

Kelas : II Teknik Instalasi Tenaga Listrik

Laporan Praktik Kerja Industri ini disusun sebagai

Bentuk pertanggung jawaban pelaksanaan

Praktik Kerja Industri pada Bidang Keahlian

Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK N 3 Gorontalo.

[Type text] Page II


Kepala PT PLN (Persero) Gorontalo,…Juni 2010

RTG KWANDANG Pembimbing Prakerin,

ALFONS E. SALINDEHO NAZARUDIN JUNUS


Disahkan pada tanggal,…..Juni 2010

[Type text] Page III


HALAMAN PENGESAHAN II

Laporan ini telah diperiksa, disahkan dan disetujui untuk

memenuhi salah satu syarat menempuh Ujian Smester II SMK N

3 Gorontalo Tahun Pembelajaran 2009 / 2010 Pada :

Diperiksa : Gorontalo,…Juni 2010

Guru Pembimbing,

BURHAN LIPUTO S.T Dian tihastuti S.Pd

NIP. NIP.

Mengetahui,

Kepala SMK N 3 Gorontalo

Drs.AMIR KUNUTI

NIP. 19571101 198603 1 019

Hari :………….

Tanggal :....Juni 2010

[Type text] Page II


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa

yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya pada kita

semua, sehingga saya dapat melaksanakan Praktik Kerja Industri

(Prakerin) di PT PLN (Persero) Ranting Kwandang dan

menyelesaikan pembuatan laporan ini tanpa suatu halangan

apapun.

Laporan Praktek Kerja Industri ini saya susun sebagai syarat

untuk mengikuti Ujian Semester IV SMK Negeri 3 Gorontalo

pada tahun pembelajaran 2009 / 2010, untuk melanjutkan

kejenjang berikutnya yakni ke tingkat III.

Bahwasanya dalam mambuat Laporan Praktik Kerja Industri

ini tidak lepas dari beberapa pihak yang telah banyak membantu

saya dalam pembuatan laporan ini. Untuk itu saya menyampaikan

ucapan terima kasih saya kepada :

[Type text] Page III


1. Bapak Drs. Amir Kunuti, selaku Kepala SMK N 3

Gorontalo yang telah memberi kesempatan kepada saya

untuk melaksanakan Prakerin.

2. Bapak Alfons E. Salindeho, selaku Manager PT PLN

(persero) Ranting Kwandang yang telah mengijinkan saya

untuk melaksanakan Prakeri di PT PLN (persero) Ranting

Kwandang.

3. Bapak Arjan Masuara S.Pd, selaku Kepala Program

Keahlian (kaprodi) Jursan Teknik Instalasi Tenaga listrik

(TITL) di SMK N 3 Gorontalo.

4. Bapak Nazarudin Junus, selaku Pembimbing di Industri

yang telah membantu saya dalam melaksanakan Prakerin di

dunia industri.

5. Ibu Dian Tihastuty S.Pd selaku Pembimbing PRAKERIN

di Sekolah.

6.

Sebagai realisasi, saran dan anjuran beliau, saya dengan

segenap daya upaya, berusaha untuk menyusun laporan ini

[Type text] Page IV


dengan sebaik-baiknya. Semoga laporan ini dapat berguna bagi

saya dan para pembaca.

Gorontalo, …April 2010

Penyusun

[Type text] Page V


ABSTRAK
Sistem Distribusi Tenaga Listrik pada dasarnya adalah suatu proses
untuk menyalurkan tenaga listrik dari sistem transmisi tenaga listrik 150
kV ke pelanggan pelanggan listrik(konsumen) baik konsumen 20 kV
ataupun konsumen 380/220 V. Sistem distribusi yang lebih kompleks
jaringannya adalah sistem distribusi Tegangan Rendah (380/220V), karena
jaringan sistem distribusi tegangan rendah mempunyai cakupan jaringan
yang sangat luas.
Hal ini seringkali menyebabkan sistem Distribusi Tegangan Rendah
menjadi tidak seimbang/merata, karena pada umumnya pelanggan rumah
tangga memanfaatkan tenaga listrik satu phase. Apabila wiring /
penyambungan pelanggan ke sistem distribusi tegangan rendah tidak
memperhatikan beban di masing - masing phase, pada akhirnya sistem
distribusi tegangan rendah akan mengalami kepincangan dalam
pembebanan di hantaran phase.
Akibat dari sistem distribusi tegangan rendah yang tidak seimbang
tentunya akan berpengaruh terhadap banyak hal, seperti: kinerja trafo,
panas berlebih pada phase beban lebih, arus mengalir pada kawat netral,
drop tegangan ujung pada jaringan phase beban lebih. Dan pada akhirnya
kualitas tenaga listrik di tingkat konsumen menurun.
Arus netral yang berlebih yang timbul akibat pembebanan yang tidak
seimbang diantara hantaran phase, akan menyebabkan panas berlebih pada
hantaran netral. Panas ini tentunya merupakan suatu losses yang
seharusnya tidak perlu terjadi. Sehingga secara tidak langsung ikut
menyumbang losses, yang sedang gencar diminimalisir oleh PT PLN
Distribusi Ranting Kwandang.
Kata kunci: Beban Tak Seimbang, Jaringan Tegangan Rendah, Arus

Netral

[Type text] Page 6


BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

PT PLN ( persero ) merupakan perusahaan penyedia listrik untuk


umum satusatunya di Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi PLN
adalah mulai terjadinya krisis energi yang mengglobal. Harga bahan bakar
minyak di tingkat internasional terus meningkat. Hal ini menyebabkan PT
PLN ( persero ) harus melakukan efisiensi di segala sektor, dan yang
paling utama adalah di sektor penyediaan tenaga listrik.
Salah satu langkah efisiensi yang dilakukan PT PLN adalah
menekan losses seminimal mungkin, baik losses teknik maupun non
teknik. Penekanan losses teknik yang dilakukan oleh PT PLN Distribusi
Kwandang dan Sekitarnya salah satunya adalah dengan pemeliharaan
jaringan listrik semaksimal mungkin, sehingga losses teknik akibat
jaringan dapat diminimalisir.
Berdasarkan perhitungan dari kwh beli dari P3B dan kwh jual ke
pelanggan, di desa Ilangata Kec. Anggrek terjadi selisih antara energi yang
terjual dan energi digunakan pelanggan sebesar 12,1%. Hal ini
mengindikasikan losses yang terjadi di desa Ilangata Kec. Anggrek
sedemikian besar. Losses ini terdiri dari losses teknik dan non teknik.
Untuk memberikan kontribusi dalam hal efisiensi, dalam telaahan
staff ini mencoba mengevaluasi peran pemerataan beban dalam program
pengurangan losses teknik, dengan jalan mengurangi arus balikan yang
melalui hantaran netral.

1.2. BATASAN MASALAH

Penyusunan Laporan Telaahan Staff ini difokuskan pada analisis


beban tak seimbang pada sistem distribusi tegangan rendah. Program
meminimalisir arus yang melewati hantaran netral adalah arus yang timbul
karena beban tidak seimbang. Dalam beberapa perhitungan digunakan
beberapa asumsi, antara lain penggunaan arus oleh pelanggan diwakili
dengan daya kontrak pelanggan. penggunaan arus oleh pelanggan terus-
menerus 24 jam nonstop. Asumsi lain adalah pembagian arus netral yang
melalui suatu konduktor di sepanjang jaringan dilakukan secara
[Type text] Page 7
proporsional sesuai dengan besar daya kontrak dan pengukuran arus di
gardu.

1.3. Metodologi Penyusunan

Penyusunan Laporan ini, menggunanakan metode:


 Metode Pengumpulan data:
o Pengumpulan data dilakukan dengan jalan mengukur beban
gardu ke lapangan. Selain data beban juga diperlukan data
pencatatan kwh pantau dan kwh pelanggan, sebelum dan
sesudah kegiatan pemerataan beban.
 Studi Pustaka
o Mengumpulkan bahan-bahan literatur yang berkaitan dengan
beban tak seimbang dan losses akibat beban tak seimbang.
 Wawancara
o Konsultasi langsung dengan orang – orang terkait yang sudah
berpengalaman di jaringan tegangan rendah.

1.4. Profil Industri

A. Profil Industri PT PLN (persero)

Sejarah Singkat PLN Wilayah VII SULUTTENGGO

Berdirinya kantor PLN Wilayah VII Suluttenggo yaitu pada tanggal


27 Desember 1941,dimana perusahaan masih milik belanda dengan
KEPRES No.163/1953 yang terdiri dari :

A. ANIM

B. OEEM

C. EBALON

Khusus daerah gorontalo yaitu EBALON (ELETRIK BAT


LOMBOK) yang berdiri pada tahun 1930. dimana kantor PLN pada waktu
itu masih berbadan swasta,kemudian pada tanggal 10 Desember

[Type text] Page 8


1957,Kantor PLN dilakukan dengan Undang-Undang Nasionalisme
dengan No.1567/1958 dan PP No.18/1959 menjadi PLN yang berpusat di
Jakarta,yang terdiri dari :

a. Perusahaan milik Negara


b. Perusahaan yang dinasionalisasikan
PLN Wilayah VII Suluttenggo Cabang Gorontalo ini adalah salah satu
Unit dari PLN Exploitasi V manado,kemudian muncul lagi PP no.18/1972
tertanggal 3 juni 1972 ditangani oleh Departemen PUTC.

Pada tahun 1977 ditangani langsung oleh Departemen pertambangan


dan energi,pada waktu PLN dirubah menjadi PLN Wilayah VII Manado
dan PLN Wilayah VII Cabang Gorontalo adalah salah satu Unit PLN
Wilayah manado yang meliputi:

a. Wilayah VII meliputi sulawesi utara dan tengah


b. Cabang gorontalo meliputi wilayah kerja kota dan kab gorontalo.
Dilihat dari situasi dan kondisi kegiatan maka daerah gorontalo sudah
dapat memenuhi syarat untuk berdiri sendiri sebagai kantor pelayanan
kepentingan masyarakat yang bergerak di bidang jasa. Adapun PLN
wilayah VII Suluttenggo sudah 10 kali mengalami pergantian pimpinan.

[Type text] Page 9


B. PROFIL INDUSTRI PT PLN (persero) RANTING KWANDANG.

1. Sejarah Singkat PLN (persero) Ranting Kwandang

Kelistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke 19,pada saat


beberapa perusahaan Belanda, antara lain pabrik gula dan pabrik the
mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Kelistrikan
untuk kemanfaatan umum mulai pada saat perusahaan swasta Belanda
yaitu NV. NIGEM yang semula bergerak di bidang gas memperluas
usahanya di bidang listrik untuk kemanfaatan umum. Pada tahun 1927
pemerintah Belanda membentuk S’LANDS WATER KRACH
BEDRIJVEN(LWB )yaitu perusahaan listrik Negara yang mengelola
PLTA Plengan, PLTA Bengkok Dago,PLTA Ubrung dan kracak di jawa
barat, PLTA Giringan di madium, PLTA Tes diBengkulu, PLTA
Konsealama di sulawesi utara, dan PLTU di Jakarta. Selain itu,dibeberapa
kotapraja di bentuk perusahaan-perusahaan listrik kotopraja.

Dengan menyerahkan pemerintah Belanda kepada jepang dalam perang


dunia II maka Indonesia dikuasai jepang. Oleh karena itu, perusahaan
listrik dan gas yang diambil alih oleh jepang dan semua personil dalam
peusahaan listrik tersebut diambil alih oleh orang-orang jepang. Dengan
jatuhnya jepang ke tangan sekutu dan diproklamasikan kemerdekaan RI
pada tanggal 17 Agustus 1945,maka kesempatan yang baik ini di
manfaatkan oleh pemuda dan buruh listrik dan gas untuk mengambil alih
perusahaan- perusahaan listrik dan gas yang dikuasai jepang.

[Type text] Page 10


Setelah berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan
kekuasaan jepang kemudian pada September 1945 Delegasi dari buruh /
pegawai listrik dan gas yang diketuai oleh Kobarsjhi menghadap pimpinan
KNI Pusat yang pada waktu itu diketahui oleh Mr. Kasman Singodimedjo
untuk melaporkan hasil perjuangan mereka. Selanjutnya delegasi
Kobarsjhi bersama-sama dengan pimpinan KNI Pusat menghadap Presiden
Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik dan gas
kepada pemerintah RI. Penyerahan tersebut diterima oleh Presiden
Soekarno dan kemudian dengan penetapan pemerintah tahun 1945 No. 1
tertanggal 27 oktober 1945,maka dibentuklah jawatan listrik dan gas
dibawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.

Dengan adanya Agresi Belanda I dan II sebagian besar perusahaan-


perusahaan listrik dikuasai kembali oleh pemerintah Belanda. Pegawai-
pegawai yang tidak mau bekerjasama kemudian mengungsi dan
menggabungkan diri pada kantor-kantor jawatan lisrik dan gas di daerah-
daerah RI yang bukan daerah pendudukan Belanda untuk meneruskan
perjuangan. Para pemuda kemudian mengajukan Mosi yang dikenal
dengan Mosi Kobarsjih tentang Nasionalisasi perusahaan listrik dan gas
swasta kepada parlemen RI. Selanjutnya dikeluarkan keputusan presiden
RI No. 163 tanggal 3 Oktober 1953 tentang Nasionalisasi perusahaan
listrik milik bangsa asing di Indonesia jika waktu konsesinya habis.

Sejalan dengan meningkatnya perjuangan bangsa Indonesia untuk


membebaskan Irian jaya dari cengkeraman penjajahan Belanda, maka

[Type text] Page 11


dikeluarkan undang-undang No.86 tahun 1958 tanggal 27 desember 1958
tentang nasionalisasi disemua perusahaan Belanda, dan peraturan
pemerintah No. 86 tahun 1958 tanggal 27 desember 1958 tentang
nasionalisasi di semua perusahaan Belanda, dan peraturan pemerintah
No.18 tahun 1958 tentang Nasionalisasi perusahaan listrik dan gas milik
Belanda. Dengan adanya undang-undang tersebut, maka seluruh
perusahaan listrik Belanda berada di tangan bangsa Indonesia.

Sejarah ketenagalistrikan di Indonesia mengalami pasang surut


sejalan dengan pasang surutnya perjuaangan bangsa. Tanggal 27 Oktober
1945 kemudian dikenal sebagai Hari Listrik Dan Gas. Hari tersebut telah
diperingati untuk pertamakali pada tanggal 27 Oktober 1946 bertempat di
Gedung Badan Pekerja Komite Nasional Pusat ( BPKNIP ) Yogyakarta.
Penepatan secara resmi tanggal 27 Oktober 1945 sebagai Hari Listrik dan
Gas berdasarkan keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik
No. No.20 tahun 1960. Namun kemudian berdasarkan keputusan Menteri
Pekerjaan Umum dan Tenaga Listirk No. 235/KPTS/1975 TANGGAL 30
September 1975 peringatan hari listrik dan gas digabung dengan hari
kebaktian Pekerjaan Umum Tenaga Listrik yang jatuh pada tanggal 3
Desember. Mengingat pentingnya semangat dan nilai-nilai hari listrik.
Maka berdasarkan keputusan Menteri Pertambangan Dan Energi
No.1134.K/43.PE/1992 tanggal 31 Agustus 1992 ditetapkan tanggal 27
Oktober sebagai Hari Listrik Nasional.

kerjasama ini maka terjadi kekompakan antara pimpinan dan bawahan.


Dan hal demikian sering terjadi.

[Type text] Page 12


Dalam menjalankan tugasnya seorang karyawan tentu tidak dapat
menjalankan tugas tanpa adanya kerja sama atau kekompakan antara yang
satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu,setiap karyawan harus mampu
bekerja sama dengan yang lainnya. Dengan demikian walaupun masih
terdapat hal yang tidak di inginkan pada karyaawan seperti disiplin waktu
ataupun tanggung jawab akan tetapi antara pimpinan,karyawan dan
karyawati masih memiliki hubungan kerja sama atau kekompakan antara
satu dengan yang lainnya. Hubungan kerja sama adalah merupakan satu
hal yang sangat penting bagi mereka.

PT. PLN ( Persero ) Ranting Kwandang merupakan perusahaan


Negara yang bergerak dalam bidang kelistrikan. Perusahaan ini didirikan
guna demi kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia listrik merupakan suatu
kebutuhan yang amat penting untuk menunjang kelancaran di berbagai
bidang usaha. Hal ini dilihat dari segi dunia usaha yang ada di Indonesia.
Kita melihat semakin banyak orang menggunakan listrik bahkan disebuah
rumah tanggapun orang pasti menggunakan listrik. Oleh karena itu, listrik
boleh dikatakan sebagai kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan.
Perusahaan ini memberikan pelayanan listrik terhadap masyarakat yang
ada diwilayah limboto dan sekitarnya. Bagi rakyat, listrik itu sangat
penting demi menunjang kelangsungan hidup. Hal ini di sebabkan oleh
perubahan zaman. Di Negara – Negara kecil pun orang sering
menggunakan listrik. Biasanya orang menggunakan tenaga listrik untuk
keperluaan tertentu saja,sebagai contoh pada perusahaan-
perusahaan,mereka menggunakan untuk kelancaran usahanya. Pada
[Type text] Page 13
perusahaan industri misalnya mereka menggunakan listrik. Seperti
pemakaian alat-alat yang menggunakan tenaga listrik. Hal ini di gunakan
untuk mengolah bahan agar menjadi seperti yang diharapkan. Selain itu,
listrik juga digunakan sebagai penerang dan lain – lain.

Masyarakat menyadari berapa pentingnya listrik bagi kehidupan,


maka sudah tidak diragukan lagi mengapa Negara Indonesia menggunakan
listrik. Oleh karena itu kita diharapkan melakukan penghematan dalam
penggunaan listrik atau dengan kata lain hanya menggunakannya pada hal
– hal yang dianggap penting saja karena begitu banyak yang
memerlukannya. PLN ini sangat penting karena adanya listrik dan listrik
sangat penting dibutuhkan walaupun orang membayar listrik dangan biaya
yang terlalu besar dalam pemakaian penggunaan tenaga listrik, akan tetapi
menurut mereka itu adalah suatu kebutuhan dimana untukmenunjang
kelangsungan hidup. PLN ini pun masih menggunakan listrik kerena
usahanya pun memerlukan tenaga listrik demi kelancaran usahanya.
Misalnya,penggunaan computer,mesin Epson,air dan lain-lain. Itu semua
menggunakan listrik,tanpa adanya listrik tidak dapat digunakan.

Biasanya PLN ini sering kali melakukan pemadaman untuk setiap


daerah atau kawasan tertentu secara bergiliran. Hal ini disebabkan karena
mesin yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik dalam keadaan
rusak. Jadi PLN harus melakukan pemadaman.

[Type text] Page 14


VISI

 Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang


unggul dan terpercaya dengan bertumpuh pada potensi insani.

MISI

 Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang


terkait,berorientasi pada kepuasan pelanggan ,anggota
perusahaan,dan pemegang saham.
 Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat.
 Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan
ekonomi.
 Menjalankan kegiatan usahanya berwawasan lingkungan.

MOTO

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik (ELECTRICITY FOR A


BETTER LIFE

[Type text] Page 15


2. Struktur Organisasi PT PLN (persero) Ranting Kwandang

Manajer Ranting
Manajer Ranting
Alpons Salindeho
Alpons Salindeho

Supervisor Dist Suv Pelayanan Pelanggan


Supervisor Dist
Nazarudin Yunus Suv Pelayanan Pelanggan
YUNUS UMAR
Nazarudin Yunus YUNUS UMAR
Suv Administrasi/keungan
Suv Administrasi/keungan
Hj. Marta Buka
Hj. Marta Buka

Junior Oficel Loket Off Line


Junior Oficel
Jainudin Gusti Loket OffSusanti
Line Otoluwa
SATPAM
Jainudin Gusti SATPAM Susanti Otoluwa
Novie Bolongkod
HASAN BIMA
HASAN BIMA Novie Bolongkod
HAMSA BASIRU
HAMSA BASIRU

TEKNIK DISTRIBUSI Koordinator Cater


TEKNIK DISTRIBUSI
Suswitno Ardani Koordinator Noval
Cater Basiru
Suswitno Ardani
Kasmul Sunge Noval Basiru
Kasmul Sunge
Masdar Polohi
Masdar Mohamad
Polohi Pakaya
Mohamad Pakaya
Muhtar Uno CATER
Muhtar Uno
Ismail Paku’u Sunaryo Karim
Ismail Paku’u
Muis Buka Marten Negawa
Muis BukaErwin S Sano Erman Hiola
Erwin S Sano

[Type text] Page 16


BAB II

PRA ANGGAPAN
Pemerataan beban merupakan salah satu cara untuk menekan losses
teknik. Penekanan losses terjadi dengan prinsip mengurangi arus yang
mengalir di hantaran netral. Idealnya arus yang mengalir di sepanjang
hantaran netral adalah nol, tetapi karena pengaruh dari beban yang tidak
seimbang maka hantaran netral akan berarus. Sedangkan hantaran netral
merupakan konduktor yang memiliki nilai resistansi, sehingga arus yang
melalui hantaran ini sebagian berubah menjadi panas yang didisipasikan
ke lingkungan sekitar sebagai losses.
Meskipun di sepanjang jaringan tegangan rendah, pada beberapa
titik terdapat pentanahan netral. Tetapi hasil ukur arus netral di
gardu..................................desa Ilangata Kec. Anggrek menunjukkan suatu
nilai yang cukup signifikan. Hal ini terjadi karena pentanahan netral tidak
mampu membuang arus netral yang cukup besar akibat dari beban yang
tidak seimbang. Sehingga permasalahan ini harus dapat diselesaikan oleh
PT PLN (Persero) Ranting Kwandang.
Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan pemerataan beban
pada jaringan tegangan rendah. Pemerataan beban dilakukan dengan jalan,
memindah beban (sambungan rumah) dari phase yang berat(pada JTR) ke
phase yang lebuh ringan. Arus yang mengalir dari tiap phase akan melalui
hantaran netral dengan melalui peralatan pelanggan terlebih dahulu
(menjadi arus netral). Ketika beban menjadi lebih seimbang, maka arus
netral ini akan memiliki nilai yang relatif kecil, karena arus dari tiap phase
akan saling meniadakan. Proses saling meniadakan terjadi karena arus dari
tiap phase akan memiliki beda phase kurang lebih sebesar 120 (tergantung
dari besar faktor daya dari masing –masing beban).

[Type text] Page 17


BAB III

DASAR TEORI
A. SISTEM DISTRIBUSI

3.1.sistem distribusi pada umumnya


Awalnya tenaga listrik dihasilkan di pusat – pusat pembangkit listrik
seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTP dan PLTD dengan tegangan yang
biasanya merupakan tegangan menengah 20 kV. Pada umumnya pusat
pembangkit tenaga listrik berada jauh dari pengguna tenaga listrik, untuk
mentransmisikan tenaga listrik dari pembangkit ini, maka diperlukan
penggunaan tegangan tinggi 150/70 kV (TT), atau tegangan ekstra tinggi 500
kV (TET). Tegangan yang lebih tinggi ini diperoleh dengan transformator
penaik tegangan (step up transformator).

Pemakaian tegangan tinggi ini diperlukan untuk berbagai alasan efisiensi,


antara lain, penggunaan penampang penghantar menjadi efisien, karena arus
yang mengalir akan menjadi lebih kecil, ketika tegangan tinggi diterapkan.
Setelah saluran transmisi mendekati pusat pemakaian tenaga listrik, yang dapat
merupakan suatu daerah industri atau suatu kota, tegangan, melalui gardu induk
(GI) diturunkan menjadi tegangan menengah (TM) 20kV.

Setiap GI sesungguhnya merupakan Pusat Beban untuk suatu daerah


pelanggan tertentu, bebannya berubah-rubah sepanjang waktu sehingga daya
yang dibangkitkan dalam pusat-pusat Listrik harus selalu berubah. Perubahan
daya yang dilakukan di pusat pembangkit ini bertujuan untuk mempertahankan
tenaga listrik tetap pada frekuensi 50 Hz. Proses perubahan ini dikoordinasikan
dengan Pusat Pengaturan Beban (P3B). Tegangan menengah dari GI ini melalui
saluran distribusi primer, untuk disalurkan ke gardu - gardu distribusi(GD) atau
pemakai TM. Dari saluran distribusi primer, tegangan menengah (TM)
diturunkan menjadi tegangan rendah (TR) 220/380 V melalui gardu
distribusi (GD). Tegangan rendah dari gardu distribusi disalurkan melalui
saluran tegangan rendah ke konsumen tegangan.

[Type text] Page 18


G

Gambar 3.1. Gambaran Umum Distribusi Tenaga Listrik

[Type text] Page 19


3.2. JARINGAN TEGANGAN MENENGAH

Jaringan Tegangan Menengah adalah jaringan tenaga listrik yang


berfungsi untuk menghubungkan gardu induk sebagai suplay tenaga listrik
dengan gardugardu distribusi. Sistem tegangan menengah yang digunakan
di Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang pada umumnya adalah 20 kV.
Jaringan ini mempunyai struktur/pola sedemikian rupa, sehingga dalam
pengoperasiannya mudah dan handal.

3.2.1. Sistem / pola Radial

Pola ini merupakan pola yang paling sederhana dan umumnya


banyak digunakan di daerah pedesaan / sistem yang kecil. Umunya
menggunakan SUTM(Saluran Udara Tegangan Menengah), Sistem Radial
tidak terlalu rumit, tetapi memiliki tingkat keandalan yang rendah.

Gambar 3.2. Sistem Radial


3.2.2. Sistem / pola open loop

Merupakan pengembangan dari sistem radial, sebagai akibat dari


diperlukannya kehandalan yang lebih tinggi dan umumnya sistem ini dapat
dipasok dalam satu gardu induk. Dimungkinkan juga dari gardu induk lain
tetapi harus dalam satu sistem di sisi tegangan tinggi, karena hal ini
diperlukan untuk manuver beban pada saat terjadi gangguan.

[Type text] Page 20


Gambar 3.3. Sistem Open Loop

3.2.3. Sistem / pola Close Loop

Sistem close loop ini layak digunakan untuk jaringan yang dipasok
dari satu gardu induk, memerlukan sistem proteksi yang lebih rumit
biasanya menggunakan rele arah(bidirectional). Sistem ini mempunyai
kehandalan yang lebih tinggi dibanding sistem yang lain.

Gambar 3.4. Sistem Close Loop

3.2.4. Sistem / pola Spindel


Sistem ini pada umumnya banyak digunakan di Distribusi Jakarta
Raya dan Tangerang. Memiliki kehandalan yang relatif tinggi karena
disediakan satu expres feeder / penyulang tanpa beban dari gardu induk
sampai gardu hubung. Biasanya pada tiap penyulang terdapat gardu tengah
(middle point) yang berfungsi untuk titik manufer apabila terjadi gangguan
pada jaringan tersebut.

[Type text] Page 21


Gambar 3.5. Sistem Spindel

3.2.5. Sistem / pola Cluster

Sistem cluster sangat mirip dengan sistem spindel, juga disediakan


satu feeder khusus tanpa beban(feeder expres).

Gambar 3.6. Sistem Cluster

3.3. TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

Trafo distribusi yang umum digunakan adalah trafo step down


20/0,4 kV, tegangan fasa-fasa sistem JTR adalah 380 Volt, karena terjadi
drop tegangan maka tegangan pada rak TR dibuat diatas 380 Volt agar
tegangan pada ujung beban menjadi 380 Volt.

[Type text] Page 22


Pada kumparan primer akan mengalir arus jika kumparan primer
dihubungkan ke sumber listrik arus bolak-balik, sehingga pada inti
transformator yang terbuat dari bahan ferromagnet akan terbentuk
sejumlah garis-garis gaya magnet ( flux = ф ) Karena arus yang mengalir
merupakan arus bolak-balik maka flux yang terbentuk pada inti akan
mempunyai arah dan jumlah yang berubah-ubah. Jika arus yang mengalir
berbentuk sinus maka flux yang terjadi akan berbentuk sinus pula.
Karena flux tersebut mengalir melalui inti yang mana pada inti
tersebut terdapat lilitan primer dan lilitan sekunder maka pada lilitan
primer dan sekunder tersebut akan timbul ggl ( gaya gerak listrik ) induksi,
tetapi arah dari ggl induksi primer berlawanan dengan arah ggl induksi
sekunder sedangkan frekuensi masing-masing tegangan tersebut sama
dengan frekuensi sumbernya. Hubungan transformasi tegangan adalah
sebagai berikut :

E1 N1
= =a
E2 N2

atau E1 = a E2 E1 I1 = E2 I2
atau I1 N1 = I2N2

3.4. JARINGAN TEGANGAN RENDAH

Berdasarkan penempatan jaringan, jaringan tegangan rendah


dibedakan menjadi dua:

3.4.1. Saluran Udara Tegangan Rendah(SUTR)

Saluran ini merupakan penghantar yang ditempatkan di atas tiang(di


udara). Ada dua jenis penghantar yang digunakan, yaitu penghantar tak
berisolasi(kawat) dan penghantar berisolasi(kabel). Penghantar tak
berisolasi mempunyai berbagai kelemahan, seperti rawan pencurian dan
rawan terjadi gangguan phase-phase maupun phase-netral.
Tetapimemiliki keunggulan harga yang relatif murah dan mudah
dalam hal pengusutan gangguan. Sedang penghantar berisolasi memiliki
keuntungan dan kerugian yang saling berlawanan dengan penghantar tak
berisolasi.
Pada umumnya PT PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang,
menggunakan SUTR dengan isolasi(kabel pilin), dengan inti alumunium.

[Type text] Page 23


Standar ukuran kabel yang digunakan adalah 3x 70 + 50 mm2. Dengan
karakteristik elektris sebagai berikut:

Tabel 3.1. Karakteristik Twisted Kabel Alumunium (NFA 2x)


Phase Neutral Public Lighting
Size of Cable Resistance Max Current Resistance Resistance Max Current
ohm/km A ohm/km ohm/km A
2x10 3.08 54 3.08 - -
2x16 1.91 72 1.91 - -

2x25+1x25 1,2 130 1,38 - -


2x35+1x25 0,868 125 1,38 - -
2x50+1x70 0,641 154 0,986 - -

2x70+1x50 0,443 196 0,69 - -


2x95+1x70 32 242 0,45 - -
Phase Neutral Public Lighting
Size of Cable Resistance Max Current Resistance Resistance Max Current
ohm/km A ohm/km ohm/km A
3x25+1x25 1,2 130 1,38 - -
3x35+1x25 0,868 125 1,38 - -
3x50+1x35 0,641 154 0,986 - -

3x70+1x50 0,443 196 0,69 - -


3x95+1x70 0,32 242 0,45 - -

3x25+1x25+16 1,2 130 1.38 1,91 72


3x35+1x25+16 0,868 125 1.38 1,91 72
3x25+1x35+16 0,641 154 0,968 1,91 72

3x70+1x50+16 0.433 196 0,69 1.91 72


3x95+1x70+16 0.32 242 0,45 1,91 72

3x25+1x25+16 1,2 130 1.38 1,91 72


3x35+1x25+16 0,868 125 1.38 1,91 72
3x25+1x35+16 0,641 154 0,968 1,91 72

3x70+1x50+16 0.433 196 0,69 1.91 72


3x95+1x70+16 0.32 242 0,45 1,91 72

3.4.2. Saluran Kabel Tegangan Rendah (SKTR)

Saluran ini menempatkan kabel di bawah tanah. Tujuan utama


penempatan di bawah tanah pada umumnya karena alasan estetika,
sehingga penggunaan SKTR umumnya adalah kompleks perumahan dan
daerah perindustrian. Keuntungan penggunaan kabel ini adalah estetika

[Type text] Page 24


yang lebih indah, tidak terganggu oleh pengaruh-pengaruh cuaca.
Kelemahan kabel ini adalah jika terjadi gangguan sulit menemukan
lokasinya dan jika terjadi pencurian dengan suntikan di bawah tanah
petugas P2TL kesulitan mengungkapnya.

3.5. RAK TR

Merupakan Perangkat Hubung Bagi (PHB) tegangan rendah gardu


distribusi. Rak TR terpasang pada gardu distribusi pada sisi tegangan
rendah atau sisi hulu dari instalasi tenaga listrik. Fungsinya adalah sebagai
alat penghubung sekaligus sebagai pembagi tenaga listrik ke instalasi
pengguna tenaga listrik(konsumen). Kapasitas Rak TR yang digunakan
harus disesuaikan dengan besarnya trafo distribusi yang digunakan. Rak
TR terdiri dari beberapa jurusan yang akan dibagi-bagi ke pelanggan.
RAK TR terhubung dengan trafo pada sisi sekunder menggunakan kabel
single core TR dengan diameter 240 mm2.

3.6. BEBERAPA KOMPONEN JARINGAN TEGANGAN RENDAH

Adalah peralatan yang digunakan pada Jaringan Tegangan Rendah


(JTR), sehingga JTR dapat menjalankan fungsinya sebagai penyalur energi
listrik ke pelanggan. Komponen pada JTR antara lain:

 Kabel Schoen
Kabel Schoen digunakan untuk menghubungkan rel pada panel
hubung bagi dengan penghantar kabel tegangan rendah (kabel
obstyg). Kabel Schoen dipres pada kabel obstig dan dibaut di
rel panel hubung bagi.
 Konektor
Adalah peralatan yang digunakan untuk menghubungkan (meng-
connect) penghantar dengan pedengan SR(Sambungan Rumah).
Jenis konektor yang umum digunakan PT PLN(Persero) Distribusi
Jakarta Raya Dan Tangerang ada dua jenis:
 Konektor kedap air (piercing connector)
Konektor ini dapat dipasang dalam kondisi jaringan bertegangan dan
tanpa mengupas isolasinya. Konduktansi terjadi karena pada
konektor ini terdapat gigi penerus arus.Sehingga gigi penerus arus
ini harus tajam dan tegak untuk dapat menembus bagian isolasi
kabel, serta harus diberi gemuk untuk melindungi bagian kontak dari
korosi.
[Type text] Page 25
 Konektor Pres
Pemasangan konektor jenis ini, biasanya harus tanpa tegangan,
karena diperlukan pengupasan isolasi kabel untuk membentuk
konduktifitas. Konduktivitas yang dihasilkan konektor jenis ini lebih
baik, karena luas permukaan kontak lebih besar.

3.7. SISTEM TIGA FASE

Kebanyakan sistem listrik dibangun dengan sistem tiga fase. Hal


tersebut didasarkan pada alasan-alasan ekonomi dan kestabilan aliran daya
pada beban. Alasan ekonomi dikarenakan dengan sistem tiga fase,
penggunaan penghantar untuk transmisi menjadi lebih sedikit. Sedangkan
alasan kestabilan dikarenakan pada sistem tiga fase daya mengalir sebagai
layaknya tiga buah sistem fase tunggal, sehingga untuk peralatan dengan
catu tiga fase, daya sistem akan lebih stabil bila dibandingkan dengan
peralatan dengan sistem satu fase.
Sistem tiga fase atau sistem fase banyak lainnya, secara umum akan
memunculkan sistem yang lebih kompleks, akan tetapi secara prinsip
untuk analisa, sistem tetap mudah dilaksanakan. Sistem tiga fase dapat
digambarkan dengan suatu sistem yang terdiri dari tiga sistem fase
tunggal, sebagai berikut :nghantar. Misal antara kabel obstyg dan TIC-Al,
TIC-Al

π π

Gambar 3.7. Sistem tiga fase sebagai tiga sistem fase tunggal.

[Type text] Page 26


va = V cos@t

vb =V cos@t –
3


vb =V cos@t +
3

Sedangkan bentuk gelombang dari sistem tiga fase yang merupakan


fungsi waktu ditunjukkan pada gambar berikut

Gambar 3.8 Bentuk gelombang pada sistem tiga fase

Pada gambar nampak bahwa antara tegangan fase satu dengan yang
lainnya mempunyai perbedaan fase sebesar 120o atau 2 /3. Pada umumnya
fase dengan sudut fase 0o disebut dengan fase R, fase dengan sudut fase
120o disebut fase S dan fase dengan sudut fase 240o disebut dengan fase
T. Perbedaaan sudut fase tersebut pada pembangkit dimulai dari adanya
kumparan yang masingmasing tersebar secara terpisah dengan jarak 120o.

3.7.1. SISTEM Y DAN DELTA

Sistem Y merupakan sistem sambungan pada sistem tiga fase yang


menggunakan empat kawat, yaitu fase R, S, T dan N. Sistem sambungan
tersebut akan menyerupai huruf Y, yang memiliki empat titik sambungan
yaitu pada ujung-ujung huruf dan pada titik pertemuan antara tiga garis
pembentuk huruf. Sistem Y dapat digambarkan dengan skema berikut.

[Type text] Page 27


Gambar 3.9 Sistem Y dan Sistem Delta

Sistem hubungan atau sambungan Y, sering juga disebut sebagai


hubungan bintang. Sedangkan pada sistem yang lain yang disebut sebagai
sistem Delta, hanya menggunakan fase R, S dan T untuk hubungan dari
sumber ke beban, sebagaimana gambar diatas.Tegangan efektif antar fase
umumnya adalah 380 V dan tegangan efektif fase dengan netral adalah
220 V.

3.7.2. BEBAN SEIMBANG TERHUBUNG DELTA

Pada sitem delta, bila tiga buah beban dengan impedansi yang sama
disambungkan pada sumber tiga fase, maka arus di dalam ketiga
impedansai akan sama besar tetapi terpisah dengan sudut sebesar 120o,
dan dikenal dengan arus fase atau arus beban. Untuk keadaan yang
demikian, maka dalam rangkaian akan berlaku :

Vdelta = V line

Idelta = I line / √3

Zdelta = Vdelta / Idelta = √3 V line / I line

Sdelta = 3 x Vdelta x Ideltaa = √3 Vline x I line

= 3 x Vline² / Zdelta = Iline² x Zdelta

P = S cos φ
Q = S sin φ
[Type text] Page 28
3.7.3. BEBAN SEIMBANG TERHUBUNG Y

Untuk sumber dan beban yang tersambung bintang (star) atau Y,


hubungan antara besaran listriknya adalah sebagai berikut :

Vstar = V line / √3

Istar = Iline

Zstar = V line / Istar = V line / √3

Sstar = 3 x Vstar x Istar = √3 Vline x I line

= Vline² / Z star = 3 x Iline² x Z star

P = S cos φ

Q = S sin φ

3.7.4. BEBAN TAK SEIMBANG TERHUBUNG DELTA

Penyelesaian beban tak seimbang tidaklah dapat disamakan dengan beban


yang seimbang sebagaimana dijelaskan diatas. Penyelesaiannya akan
menyangkut perhitungan arus-arus fase dan selanjutnya dengan hukum
arus Kirchhoff akan didapatkan arus-arus saluran pada masing-masing
fase.

[Type text] Page 29


Gambar 3.10. Beban tak seimbang terhubung Delta
IRS = VRS/ ZRS
ITR = VTR/ ZTR
IST = VST/ ZST

IR = IRS - ITR
IT = IST - IRS
IS = ITR - IST

3.7.5. BEBAN TAK SEIMBANG TERHUBUNG Y


Pada sistem ini masing-masing fase akan mengalirkan arus yang tak
seimbang menuju Netral (pada sistem empat kawat). Sehingga arus netral
merupakan penjumlahan secara vector arsu yang mengalir dari masing-
masing fase.

[Type text] Page 30


Gambar 3.11. Beban tak seimbang terhubung bintang empat kawat

Pada sistem dengan empat kawat, akan berlaku :

IR = VRN/ ZR
IT = VTN/ ZT
IS = VSN/ ZS

Diagram fasor untuk beban tak seimbang dengan tiga kawat, salah satu
contohnya adalah sebagai berikut :

[Type text] Page 31


Gambar 3.12 Diagram Fasor Beban tak Seimbang

3.8. LOSSES PADA JARINGAN DISTRIBUSI

Yang dimaksud losses adalah perbedaan antara energi listrik yang


disalurkan ( Ns) dengan energi listrik yang terpakai (NI).

Ns - NI
Losses = x 100%
Ns

3.8.1. LOSSES PADA PENGHANTAR PHASE

Jika suatu arus mengalir pada suatu penghantar, maka pada penghantar
tersebut akan terjadi rugi-rugi energi menjadi energi panas karena pada
penghantar tersebut terdapat resistansi. Rugi-rugi dengan beban terpusat di
ujung dirumuskan:

∆V = I ( Rcos φ + X sin φ ) L
∆P = 3 . I² . R L

Sedangkan jika beban tersebar merata di sepanjang jaringan maka rugi


energi yang timbul adalah:
[Type text] Page 32
∆V = ( ½ )² . ( Rcos φ + X sin φ ) L
∆P = 3 . ( ½ )² . R L

Dengan:

I : Arus yang mengalir pada penghantar (Ampere)


R : Tahanan pada penghantar (Ohm / km)
X : Reaktansi pada penghantar (Ohm /km)
cos : Faktor daya beban
L : panjang penghantar (km)

3.8.2. LOSSES AKIBAT BEBAN TIDAK SEIMBANG

Akibat pembebanan di tiap phase yang tidak seimbang, maka akan


mengalir arus pada hantaran netral. Jika di hantaran pentanahan netral
terdapat nilai tahanan dan dialiri arus, maka kawat netral akan bertegangan
yang menyebabkan tegangan pada trafo tidak seimbang.

Arus yang mengalir di sepanjang kawat netral, akan menyebabkan


rugi daya di sepanjang kawat netral sebesar:

∆P = IN² .R

3.8.3. LOSSES PADA SAMBUNGAN TIDAK BAIK


(LOSS CONTACT)

Losses ini terjadi karena pada sepanjang JTR terdapat beberapa


sambungan, antara lain:

 Sambungan antara kabel obstyg dan kabel TIC-Al


 Sambungan saluran JTR, antar kabel TIC-Al
 Percabangan saluran JTR
 Percabangan Untuk Sambungan Pelayanan

[Type text] Page 33


Gambar 3.13. Sambungan Kabel

Besarnya rugi-rugi energi pada sambungan dirumuskan:

∆P = I² .R

P = Losses yang timbul pada konektor


I = Arus yang mengalir melalui konektor
R = Tahanan konektor.

[Type text] Page 34


BAB IV

PEMBAHASAN
Dalam penyusunan Laporan Telaahan Staff ini, diperlukan data – data
pendukung antara lain hasil ukur beban, peta topografi Jaringan Tegangan
Rendah, data konsumen gardu, data karakteristik kabel tembaga
(NYFGBY), data karakteristik kabel alumunium(NFA2X), dan data
pengukuran beban sebelum dan sesudah pemerataan beban. Data hasil
ukur beban dari bidang Operasi Distribusi, digunakan sebagai acuan untuk
mencari dan menentukan gardu yang memiliki beban tidak merata.

Pada umumnya beban yang tidak merata dapat diindikasikan dengan


mudah, dengan melihat hasil pengukuran arus netral. Apabila didapatkan
data arus netral yang lebih besar atau sama dengan arus pada phase, maka
jaringan tersebut patut dicurigai memiliki beban yang tidak seimbang.
Indikasi beban tidak seimbang dapat pula dilihat dari besar arus di masing
– masing phase (R-S-T) memiliki perbedaan yang besar.

4.1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan:

1. Mencari data ukur beban dari Unit Operasi Distribusi(posko


gangguan)
2. Melakukan survey dan pengukuran langsung di lapangan(pengukuran
beban dan cos ). Hasil pengukuran cos digunakan untuk analisa vektoris.
3. Melakukan pemerataan beban di gardu E 311P dan PM 213, dengan
jalan redistribusi beban.
4. Mencari data peta Jaringan Tegangan Menengah dari aplikasi
Mister2000, untuk mengetahui rute dan panjang jaringan.
5. Mencari data konsumen di gardu E 311P dan PM 213 dari aplikasi
TOAD(merupakan aplikasi untuk download database Mister 2000)
6. Mencari data karakteristik kabel dari unit Logistik.

4.2. Pembahasan Pemerataan Beban Di Gardu E 311 P

[Type text] Page 35


Hasil pengukuran beban gardu E 311 P dari unit Operasi Distribusi pada
bulan September 2007 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1. Pengukuran Gardu Oleh Petugas Posko Condet


KETERANGAN GARDU JR A R U S ( Amper ) TEGANGAN
S SEKUNDER
R S T N R+S+T TRAFO
(Volt)
Gardu : GK. 53 TRAFO A 40 17.8 10 62.8 R – S = 387
Type : RMU KVA : 100 kVA
Penyulang : PENA Merk : TRAFINDO B 20 5 7.6 8.8 66.6 S – T = 387
Jml Trap : No.Seri / Thn : 3 R – T = 387
60 9
Trap ke : Cubicle : SIEMENS
29.4 18.8 129.4
Tgl Ukur : 29/01/2010 RAK TR
Jam Ukur : 19:15 Jml Jurusan : 2 bh 4 R – N = 225
Jrsn Terpakai : 2 bh
4 S – N = 225
Alamat : JL. Trans Sulawesi DS. Ilangata T – N = 225
Kec. Anggrek

Data di atas digunakan untuk menentukan gardu mana yang layak


digunakan sebagai bahan penelitian pemerataan beban. Dari data
pengukuran beban ini terlihat, bahwa Jurusan A dan Jurusan B mempunyai
arus netral yang lebih besar daripada arus phasenya. Sehingga gardu GK.
53 layak untuk dilakukan penelitian evaluasi losses arus netral akibat
beban tidak seimbang.
Sebelum dilakukan pemerataan beban dilakukan pengukuran ulang,
didapat data yang ditampilkan dalam tabel 4.2. Pada tabel 4.2 ini terlihat
bahwa, beban di jurusan A dan B masih memiliki perbedaan yang sangat
besar dan memiliki arus netral yang sangat besar, bahkan melebihi arus
phase.
Tabel 4.1. Pengukuran Gardu Oleh Petugas Posko Condet
KETERANGAN GARDU JR A R U S ( Amper ) TEGANGAN
S SEKUNDER
R S T N R+S+T TRAFO
(Volt)
Gardu : GK. 53 TRAFO A 41 18.1 10.4 65.1 R – S = 387
Type : RMU KVA : 100 kVA
Penyulang : PENA Merk : TRAFINDO B 20 6 7.3 10.8 67.3 S – T = 387
Jml Trap : No.Seri / Thn : 4 R – T = 387
61 0
Trap ke : Cubicle : SIEMENS
29.4 21.2 132.4

[Type text] Page 36


Tgl Ukur : 29/02/2010 RAK TR R – N = 225
Jam Ukur : 19:00 Jml Jurusan : 2 bh
Jrsn Terpakai : 2 bh 4 S – N = 225
Alamat : JL. Trans Sulawesi DS. Ilangata
6 T – N = 225
Kec. Anggrek

4.2.1. Kegiatan Pemerataan Beban Jurusan A GK. 53 (SKTR)


Kegiatan pemerataan beban di jurusan A lebih mudah dan cepat, karena
semua pelanggan langsung tersambung ke panel pembagi melalui MCB-
MCB, sebagai pembatasnya. Wiring pada panel CDT 16409 sebelum
pemerataan beban dapat digambarkan dalam gambar 4.1.
Dari gambar terlihat bahwa phase T tidak mendapat beban sama sekali,
sehingga pada hasil pengukuran terbaca beban T di jurusan C adalah 0
(tabel 4.2), dan phase S mempunyai beban yang sangat besar, sehingga
beban terpusat di phase S. Hal inilah yang menyebabkan arus yang
mengalir di kawat netral menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada arus
yang mengalir di phase R(lihat tabel 4.2).
Pada jaringan SKTR, semua beban(pelanggan) langsung terhubung ke
panel, dan pada panel terdapat busbar kecil sesuai dengan urutan phase (R-
S-T). sehingga pemerataan beban pada jaringan ini lebih mudah, dan
pemindahan beban dilakukan dengan acuan beban yang sedang digunakan
pelanggan saat itu. Beban yang sedang digunakan pelanggan dapat dengan
mudah diukur dengan tang ampere. Hasil pengukuran beban pelanggan
adalah sebagai berikut:

BAB IV
[Type text] Page 37
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Setelah saya melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di

PT. PLN (persero) dan saya banyak memperoleh keterangan dan

pengetahuan yang berhubungan dengan kelistrikan. Pada PT. PLN

(persero) Ranting Kwandang saya mengambil kesimpulan sebagai

berikut :

1. PT. PLN (persero) adalah BUMN yang bergerak di bidang energi

Kelistrikan untuk umum dan negeri.

2. PT. PLN (persero) adalah sarana yang sangat membantu bagi

masyarakat terutama dibidang teknologi, karena suatu teknologi

identik dengan energi listrik.

3. Secara reorganisir PT. PLN (persero) Ranting Kwandang sudah

berjalan dengan baik dan pembagian wewenang sesuai dengan

tugas dan fungsi masing-masing bagian.

4. Pelakuan PT. PLN (persero) Ranting Kwandang sangat baik dan

memuaskan bagi para pengguna jasa, serta prasarana yang cukup

memadai.

[Type text] Page 38


5. Lokasi PT. PLN (persero) Ranting Kwandang Kebumen sangat

strategis karena letaknya sangat dekat dengan konsumen.

B. SARAN-SARAN

Setelah saya melaksanakan Prakerin di PT PLN (persero) Ranting

Kwandang, maka saya memberikan saran-saran, antara lain :

1. Tingkatkan pelayanan kepada masyarakat atau para pengguna jasa.

2. Usahakan tepat waktu dalam melakukan pekerjaan karena dengan

kedisiplinan akan memperoleh hasil yang lebih baik.

3. Sebaiknya dibuatkan gudang penyimpanan kabel-kabel bekas dan

kertas kerja yang sudah tidak dapat digunakan lagi.

C. PENUTUP

Setelah saya menguraikan hasil peninjauan dan penelitian PT. PLN

(persero) Ranting Kwandang secara sederhana maka saya hanya dapat

mengucapkan sykur Alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

terselesaikannya Laporan Prakerin ini dengan baik walaupun dalam

penyusunan masih banyak sekali kekurangan-kekurangan.

[Type text] Page 39


Bila dalam menyusun Laporan ini saya masih banyak kekurangan

maupun kesalahan-kesalahan tidak lupa saya minta maaf yang

sebesar-besarnya. Oleh karena itu, sudilah kiranya para pembaca

memberikan maaf pada saya dan saya bersedia menerima kritik dan

saran yang sifatnya membangun agar laporan yang saya susun lebih

sempurna.

Dan saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada

Pimpinan dan karyawan PT PLN (persero) Ranting Kwandang yang

telah membimbing saya di Dunia Industri, sehingga saya dapat

menyelesaikan Laporan ini dengan baik. Dan harapan saya semoga

laporan Prakerin ini dapat menambah pengetahuan bagi para

pembaca. Sekian dan terima kasih.

[Type text] Page 40


DAFTAR PUSTAKA

1. Artono Arismunandar, DR. M.A.Sc, DR. Susumu Kuwahara.


1975. Buku Pegangan Teknik Tenaga Listrik Jilid II. Jakarta: PT.
Pradnya Paramita.
2. APEI Pusat. 2004. Materi kursus/Pembekalan Uji Keahlian
bidang Teknik tenaga Listrik, Kualifikasi : AHLI MUDA. Jakarta:
APEI.
3. APEI Pusat. 2006. Materi kursus/Pembekalan Uji Keahlian
bidang Teknik tenaga Listrik, Kualifikasi : AHLI MADYA. Jakarta:
APEI.
4. Bambang Djaja. 1984. Distribution & Power Transformator.
Surabaya : B & D.
5. Bonggas L. Tobing. 2003. Dasar Teknik Pengujian Tegangan
Tinggi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
6. Bonggas L. Tobing. 2003. Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
7. Daryanto Drs. 2000. Teknik Pengerjaan Listrik. Jakarta: Bumi
Aksara.
8. Depdiknas. 2004. Kurikulum SMK 2004 Bidang Keahlian
Teknik Distribusi Tenaga Listrik. Dirjen Dikdasmen, Direktorat
Dikmenjur.
9. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2004.
Sosialisasi Standar Latih Kompetensi (SLK) Tenaga Teknik
Ketenagalistrikan Bidang Distribusi Tenaga Listrik. Jakarta: Pusat
Diklat Energi dan Ketenagalistrikan.
10. Imam Sugandi Ir, dkk. 2001. Panduan Instalasi Listrik untuk
Rumah berdasarkan PUIL 2000. Jakarta: Yarsa Printing.

[Type text] Page 41