Anda di halaman 1dari 40

publik, kami secara tangkas langsung

menariknya sebagai tema besar dari buletin


ilmiah ini. Kami mengambil tema besar
―Prediksi Hubungan RI-AS: Democracy and
Interfaith Dialogue?” Hubungan Indonesia-

P
uji Syukur pada Tuhan Yang Maha AS merupakan hubungan bilateral antara
Esa karena Bulimia (Buletin Ilmiah) dua negara demokrasi terbesar di dunia.
HMHI FISIP UI edisi 1 tahun 2010 Hubungan Indonesia-AS merupakan
ini dapat terbit kembali. Saya hubungan antara dua negara yang seringkali
sebagai Pemimpin Redaksi tentunya dikaitkan dengan representasi hubungan
berterima kasih sebanyak-banyaknya pada antar dua peradaban utama, antara dunia
para kontributor serta sesama kru
Bulimia sendiri! What a great work!
Terima kasih untuk para kontributor atas
segala sumbangan penulisan pada edisi
kali ini. Terima kasih untuk rekan
Bulimia semuanya atas pencarian,
pengeditan, dan desain yang
kesemuanya tak dapat diusahakan
sendiri. Terima kasih pula untuk semua
pihak yang telah mendukung penerbitan
buletin ini, baik dari Himpunan
Mahasiswa Hubungan Internasional
(HMHI) FISIP UI serta Departemen HI
UI.

Penggodokan edisi pertama ini


berlangsung ketika publik Indonesia
ramai-ramai berdebat mengenai
kedatangan Presiden AS, Barack
Obama, ke Indonesia. Lepas dari pro
dan kontra yang berkembang pada

Kepala Divisi Keilmuan Pemimpin Redaksi Bulimia

Halo semuanyaaa. Yeay, Bulimia edisi


pertama di tahun 2010 akhirnya terbit juga!!
Selamat dan terima kasih untuk para
kontributor yang sudah memberikan
tulisannya ke dalam buletin ini, dan tidak lupa
KETUA: untuk tim redaksi yang sudah sedemikian
Muti Dewitari (Muti) rupa menyusun buletin dengan sangat baik.
KEPALA DIVISI KEILMUAN:
You all have been so great!!!
Carolina D. Rainintha Siahaan (Rain)
ALAMAT:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, BULIMIA pada dasarnya dibuat dengan
kampus UI Depok 16424 harapan bahwa tulisan-tulisan mahasiswa HI
2
Salam Redaksi
Barat dan Timur. AS sebagai diharapkan oleh kedua negara dapat
representasi negara utama di dunia menjadi momentum balik serta
barat dan Indonesia sebagai negara optimisme untuk membuka hal-hal
berpenduduk muslim terbesar di baru serta memperdalam kerjasama
dunia mengarahkan hubungan erat yang telah terjalin sebelumnya.
kedua negara pada kaitannya
dengan relasi duna Barat dan Islam. Bulimia, Bisa!• (nindie)
Bagaimanapun, hubungan kedua
negara tidak hanya sebatas pada
hal tersebut. Perkembangan di awal
abad ke-21 dengan beragam isu
dan permasalahan kontemporer
membuat kedua negara harus
melihat kembali kerangka hubungan
kerjasama antara mereka untuk
menyesuaikan realita yang ada
dalam dunia
internasional. Adapun
kunjungan Obama ke
Indonesia yang
dijadwal ulang
sampai
Juni
nanti

Redaktur Desain Redaktur

UI tidak hanya mentok di nilai tapi bisa maksimalkan penggunaan buletin ini secara
diterbitkan secara resmi menjadi sebuah bijak yaaa. Say no to plagiarism, respect
karya yang menarik dan ilmiah. Selain itu, others!! J J J
buletin ini juga diharapkan bisa menjadi
manfaat bagi semua pihak yang terlibat, Best regards,
terutama bagi para pembacanya. Semoga Muti Dewitari
Bulimia bisa benar-benar mencapai tujuan ini
yaa, dan dengan kesuksesan edisi pertama
ini, Bulimia bisa menjadi sebuah Jurnal
Ilmiah yang lebih baik lagi ke depannya.
Last but not least, buat para pembaca,
3
▄ Pengantar ▄ Resensi
5 Rainintha Siahaan dan
Yohanes Nindito dan Review
Bentuk Hubungan Luar 17 Buku
Negeri Amerika Serikat- Amerika dan
Indonesia pada Masa Dunia
Pemerintahan Barack 30 Film
Obama The Hurt Locker

▄ Main Features ▄ Liputan


9 Rindo Saio 19 Niwa Rahmad
U.S.-Indonesia Shared Dwitama
Interests and Obstacles to LIMAS FISIP UI
Overcome (oleh Walter 2010
Lohman, The Heritage

21
Foundation)
Nico Deralima Novito
▄ Populars
Rules of Engagement: 32 Natalia Rialucky
Indonesia and U.S. Relation Participating In
in the Obama The Model of
Administration Era United Nations:
It’s Worth The
Cost!
▄ Tokoh
14 Menteri Pertahanan RI 2004-
2009
▄ Questionnaire
Prof. Dr. Juwono 35 Kuis
Sudarsono Cluster Manakah Kamu?
26 Pakar Pertahanan dan
Keamanan
Andi Widjajanto, Ph.D.

4
Pengantar
Rainintha Siahaan-Yohanes Nindito
Bentuk Hubungan Luar Negeri
Amerika Serikat-Indonesia pada Masa
Pemerintahan Barack Obama

Garis Besar bentuk Kemitraan AS


-Indonesia

Hilary Clinton, Menteri Luar Negeri


AS untuk pemerintahan Barack
Obama, memasukkan Indonesia
dalam daftar negara-negara
pertama dalam kunjungan resminya
sebagai Menlu AS. Presiden Barack
Obama sendiri telah beberapa kali
memberikan janji untuk mengunjungi
negara dimana Ia pernah
dibesarkan selama beberapa tahun.
Meskipun jadwal kunjungan
Presiden Obama harus ditunda
dahulu, namun kami yakin bahwa
penundaan itu tidak akan
mengurangi Kunjungan ini tentunya
bukan sekadar kunjungan. Para
petinggi negara adidaya ini datang
untuk membawa satu pesan:
rangkul Indonesia dan libatkan
Indonesia dalam lebih banyak
diskusi khususnya dalam rangka
mengembangkan sebuah hubungan ▲Presiden Indonesia, Susilo Bambang
kemitraan bilateral yang Yudhoyono, dan Presiden Amerika Serikat, Barack
komprehensif. Obama, pada summit APEC 2009. Sumber:
http://www.rovinginsight.org/library/images/
Sesungguhnya kebijakan Amerika apec2009outfit_webpics/H.E%20Susilo%
Serikat terhadap Indonesia pada 20Bambang%20Yudhoyono-President%20of%
masa pemerintahan Presiden 20Indonesia%20and%20H.E.%20Barak%
Obama masih belum berubah 20Obama-President%20of%20USA.jpg

5
Pengantar

daripada pendahulunya. Dalam kerjasama pertahanan keamanan di


kebijakan rasionalnya, Amerika antara kedua negara. Baik
Serikat (AS) menganggap Indonesia Indonesia dan A.S memiliki tujuan
sebagai pemangku kepentingan bersama untuk mempertahankan
dalam perihal ekonomi, keaman, perdamaian dan stabilitas
perdagangan dan kepentingan di wilayah Asia Tenggara.
keamanan, khususnya di wilayah Kerjasama pertahanan keamanan di
Asia Tenggara. Bagi AS, Indonesia antara keduanya mencapai sebuah
mengendalikan peran strategis, titik balik, khususnya setelah AS
khususnya dalam hal keamanan mendeklarasikan war on terrorism
pertahanan perairan, khususnya pada administrasi George W.Bush
dalam isu Selat Malaka. Hubungan dan Indonesia yang juga kebetulan
AS dan Indonesia senantiasa mengalami serangkaian serangan
berjalan dengan harmonis dan bom organisasi teroris (Ingat Bom
mencapai momentum intensitasnya Bali I pada Oktober 2002 dan Bom
sejak Presiden Yudhoyono menjabat Bali II pada Oktober 2005, begitu
dari tahun 2004. Selain itu Obama, pula dengan tragedy pengeboman
yang pada dasarnya ingin kedutaan besar di Jakarta pada
membangun kembali citra Agustus 2003 dan September
pemerintahan AS pasca Perang Irak 2004).
dan okupasi di Afghanistan, melihat
Indonesia sebagai negara dengan Kedua kebutuhan ini menjadikan
populasi muslim terbesar di dunia, kerjasama dalam upaya
sebagai mitra dialog penting dalam memberantas terorisme di kedua
perihal pengadaan kerjasama. negara tampak lebih erat daripada
sebelumnya. Maraknya serangan
Tidak dapat dipungkiri bahwa AS terorisme di negeri ini turut
cukup memiliki peran dalam menjadikan Indonesia sebagai
berbagai rangkaian momentum negara yang patut diawasi oleh AS,
politik Indonesia. Sejak era khususnya karena terdapat
Reformasi dan bahkan jauh sebelum kecurigaan terhadap eksistensi dan
reformasi dikumandangkan, Amerika perkembangan jaringan terorisme
Serikat telah menyatakan internasional yang berafiliasi dengan
komitmennya untuk mendukung Al Qaeda, Jamaah Islamiyah.
proses demokratisasi di Indonesia. Prestasi Indonesia juga tidak
Secara historis, AS turut membantu sembarangan terutama bila kita
kemerdekaan Republik Indonesia melihat kiprah Kepolisian RI dan
dan sangat menjunjung tinggi Datasemen 88 dalam memberikan
semangat bangsa Indonesia untuk keadilan terhadap korban kejahatan
memukul mundur pergerakan terorisme dan juga tekunnya polisi
komunisme khususnya pada masa Indonesia dalam mencari sisa-sisa
Perang Dingin. Hubungan yang buronan yang bekerja dalam sel-sel
kooperatif masih terus dibina hingga organisasi terorisme.
hari ini, meskipun AS dan Indonesia
tidak terikat pada sebuah traktat Bantuan Pembangunan dari
keamanan demi mewujudkan Amerika Serikat untuk Indonesia
6
Pengantar

Amerika Serikat menjalankan Sebelum kunjungan Presiden


pelayanan publiknya melalui sektor Barack Obama ke Indonesia yang
diplomasi bantuan oleh instansi tertunda sampai dengan Juni nanti,
bernama USAID (U.S Agency for Departemen Luar Negeri (Deplu) RI
International Development). Pada telah menyatakan beberapa aspek
awalnya, bantuan yang disalurkan penting yang akan diperhatikan dari
oleh USAID masih berkutat pada hubungan kemitraan RI-AS. Aspek-
bantuan pangan, rehabilitasi aspek penting dari kerangka
infrastruktur, pelayanan kesehatan kerjasama tersebut meliputi tiga
dan juga pelatihan pendidikan. Pada bidang utama, yaitu hubungan
dekade 1970 dan 1980-an, USAID ekonomi, politik, dan sosial budaya.
turut membantu perkembangan Adapun selain tiga bidang utama
perekonomian Indonesia khususnya tersebut, pembahasan kerjasama
dalam membantu Indonesia untuk kedua negara juga akan
mencapai target swasembada menekankan ranah people to people
pangannya. Hari ini, bantuan USAID contact, yang terkait dengan
terkonsentrasi pada pengembangan kerjasama pendidikan dan
sektor pendidikan, demokratisasi, perdagangan.
desentralisasi pemerintahan,
pelayanan kesehatan dan lain.kain. Pemerintah AS melalui Presiden
Obama serta Menlu Clinton telah
Amerika Serikat memang menjadi menekankan bahwa Indonesia
salah satu negara yang tidak pernah adalah salah satu negara penting
absen dalam penyaluran bantuan yang masuk dalam daftar kunjungan
ketika terjadi bencana alam di mereka. Menilik lebih jauh lagi, AS
negara manapun, tak terkecuali di memiliki keinginan untuk lebih
Indonesia. Bantuan tersebut dapat memperkuat kerjasama dalam
berbentuk baik bantuan bidang ekonomi dengan negara-
kemanusiaan maupun sokongan negara yang memiliki pangsa pasar
untuk pembangunan pasca- besar seperti Indonesia. Adapun AS
bencana. Amerika Serikat dan juga negara-negara pangsa
merupakan salah satu negara donor pasar besar telah terlibat dalam
terbesar bagi upaya rekonstruksi kerangka kerjasama ekonomi
pasca tsunami di Aceh pada tahun multilateral G-20. AS telah melihat
2005. Kebanyakan proyek sendiri ketahanan Indonesia dalam
pembangunan dan rekonstruksi menghadapi krisis keuangan global
yang dijalankan oleh AS dan tahun 2008. Kunjungan ke
agensinya di Aceh terbilang sukses. Indonesia kali ini rasanya tidak akan
Hal yang serupa juga terjadi pada disia-siakan Presiden Obama untuk
gempa Yogya, ketika AS juga memperluas kerjaama yang
menjadi salah satu negara terbesar strategis tersebut.
penyumbang bantuan.
Memang hubungan kemitraan kedua
Kunjungan Obama ke Indonesia: negara tidak selalu berjalan mulus.
Momentum Penguatan Kemitraan Ada beberapa masalah mengganjal
7
Pengantar

beberapa waktu sebelumnya seperti mencakup kerjasama teknologi,


soal NAMRU-2, sebuah riset, dan kesehatan
Laboratorium Angkatan Laut AS
yang meneliti virus-virus penyakit Kemitraan strategis RI-AS yang
menular di Indonesia, yang telah berjalan akan terus membahas
kemudian kini telah resmi ditutup. proyeksi dan visinya serta mencoba
Dalam kunjungannya yang menyatukannya. Penyatuan
mendahului Presiden Obama ke proyeksi dan visi tersebut akan
Indonesia, Hilary Clinton telah disepakati paling dekat pada
bertemu langsung dengan Presiden kunjungan bilateral yang terjadi
Susilo Bambang Yudhoyono. Menlu antara kedua negara. Presiden SBY
Hilary dan Presiden SBY telah telah menyampaikan harapannya
bersepakat untuk memperluas agar kemitraan strategis tersebut
kemitraan strategis yang lebih dapat lebih meluas lagi dan dapat
komprehensif antara Indonesia dan kompatibel dengan realita di awal
AS. Komprehensivitas kemitraan abad ke-21 ini. Kunjungan Obama
strategis kedua negara mencakup rasanya tidak akan disia-siakan juga
beragam isu dan permasalahan. oleh pemerintah Indonesia untuk
Kemitraan strategis tersebut tidak memperkuat hal tersebut. Tidaklah
hanya mencakup isu pokok yang salah kami mengulang slogan, Ya,
biasa mewarnai hubungan kedua kami bisa!
negara seperti Demokrasi dan Hak
Asasi Manusia (HAM), tetapi juga

8
▲Siswa-siswa Sekolah Dasar di Jakarta menanti kedatangan Obama. Sumber: http://
embassyofindonesia.it/u-s-president-to-visit-indonesia-on-20-22-march-2010/
Main Features
Rindo Saio
U.S.-Indonesia Shared
Interests and Obstacles to
Overcome
Source: Walter Lohman*, U.S.–Indonesia Relations: Build for Endurance,
Not Speed (Massachusets: The Heritage Foundation, Maret 2010),
accessed from
http://s3.amazonaws.com/thf_media/2010/pdf/bg2381.pdf

*Walter Lohman is Director of the Asian Studies Center at the Heritage


Foundation

The discourse upon Obama’s arrival substances delivered by Lohman.


on the next June to Indonesia has
surely ignited the political hypes as The very significance of Indonesia
well as pros and cons from many as the crucial target of U.S. foreign
parties. Yet aside from the growing policy is explained by Lohman
controversies, the vast expectations through the geographical details.
for the more comprehensive and Located at the southern entry points
engaging United States (U.S.) - to the strategically and economically
Indonesia partnership undoubtedly vital South China Sea, Indonesia is
still lives the hypes. Departing from by far the largest country in South-
the exact similar expectation, Walter east Asia by geography, population,
Lohman in his recent writing, U.S.– and economy. It is the indispensable
Indonesia Relations: Build for Endur- participant in Southeast Asian re-
ance, Not Speed, then propounds a gional diplomacy—thriving democ-
very critical analysis, latest predic- racy with strong constitutional under-
tion upon the future of US-Indonesia pinnings— the freest country in
partnership and the relevant policy Southeast Asia. It is also the world’s
recommendation suggested under largest Muslim-majority nation and
the Obama’s governance. This writ- has a tradition of constitutionalism
ing will then briefly outline the basic and pluralism that well complements

9
Main Features

American global interest in freedom.


Above all, the essential acknowl-
edgement is that, Indonesia is a
critical partner in the global war on
terrorism. Emphasizing this signifi-
cance, Lohman further asserts that,
to fully realize American interests,
the Obama Administration should
advance the relationship slowly,
keep expectations low, and focus on
broad areas of common interests,
ranging from counterterrorism, eco-
nomic freedom, democracy promo-
tion, up to the regional issues like
geopolitical shape of the Asia Pacific
and the efficacy of ASEAN.

Elaborating the first line, Lohman


states that Counterterrorism Coop-
eration Remains Most Critical
Shared Interest between the two
countries. U.S. and Indonesian pri-
orities intersect most closely in the
area of counterterrorism. Indonesia
is perceived as the home to the
Islamist terrorist group Jemaah
Islamiyah (JI). In the 1990s, JI was
responsible for stoking the horren-
dous conflicts in the Indonesian is-
lands of the Mulukus and Sulawesi.
JI perpetrated the spectacularly well-
coordinated Christmas Eve bomb-
ings of 2000 in multiple Indonesian
cities. JI (or elements of it) was re-
sponsible for the major attacks in
Indonesia between 2002 and 2005.
Those attacks on Bali, the Jakarta
Marriott, the Australian embassy,
and Bali (again) resulted in the
deaths of 250 innocent people. Indo-
nesia’s interest in combating terror-
ism on its soil is apparent. It is
hence also an interest that U.S.
shares for several reasons. First, the
U.S. government, from the President
on down, has as its first priority ―the
10
Main Features

protection of American citizens‖. previously. Because of its size, Indo-


Americans have been among the nesia is ASEAN’s indispensable
killed and injured in Indonesia’s at- power. Over the last several years, it
tacks and could be in the future. has gradually resumed a leadership
Second, the terrorists have regional role from which it had strayed after
connections and aspirations. A ma- President Suharto’s departure. Driv-
jor plot uncovered in Singapore in ing many of the most vocal critics of
2001, not in Indonesia, first brought ASEAN’s new charter is concern
JI to international attention. The U.S.over human rights violations in
cannot allow these groups to flourish Burma. The People’s Representa-
in one isolated corner of Southeast tive Council (DPR) called for ad-
Asia because that corner may have vancing and defending human rights
the potential to cause destruction with an effective human rights com-
and death thousands of miles away. mission, and penalties for serious
Third, the U.S. has an interest in violation and non-compliance with
Indonesian stability: Indonesia’s the charter, including suspension of
successful democracy is an example membership rights. Both countries
of Asian democracy as well as of the have a common interest in helping
compatibility of liberal democracy ASEAN live up to its charter’s stated
and Muslim majority polities. Indone- intention to ―promote and protect
sia’s political stability is also impor-
human rights and fundamental free-
tant to its role as keeper of the Ma- doms.‖ Americans have the same
lacca, Sunda, and Lombok Straits interest in upholding human rights.
through which more than half the But the U.S. also has another inter-
world’s annual merchant fleet ton- est. ASEAN is at a tipping point—
nage passes. half its members are ―free‖ politi-
cally; half are ―unfree.‖ The way
The second shared interest then ASEAN debates and decides issues
relates very closely with regional related to Burma will determine the
concern of improving the efficacy of resolution of the contradiction at the
ASEAN. ASEAN has played an in- heart of the charter: ―Respect for
dispensable role in facilitating peace human rights‖ versus ―non-
and dialogue on security issues that interference in internal affairs.‖ Deci-
are in the interest of both countries. sion in favor of the former means
For the Indonesians, an effective closer association with the United
ASEAN provides opportunity to com- States and its regional allies.
pete and build integrated supply
chains and new markets for their At last, the third shared interest es-
products. An integrated ASEAN is sentially lies on the economic signifi-
also a more attractive destination for cance. Lohman believes that closer
American investment and exports. trade and investment ties can under-
U.S. assistance to, and consistent pin U.S.-Indonesia partnership. The
engagement with, ASEAN is in Indo- basic fact of the U.S.–Indonesia
nesia’s interest. Indonesia’s leader- economic relationship is that the
ship in ASEAN may be in America’s U.S. exports approximately $6 billion
interest in a way it has never been in goods to Indonesia, making it
11
Main Features

America’s 37th-largest market; and rights, and inconsistent and corrup-


imports approximately $16 billion in tion-prone customs valuation are
goods from Indonesia. Indonesia among the prominent factors that
exports twice as much to Japan as it add to the cost of trade. All of these
does to the U.S., and exports about issues hinder the real degree to
the same amount to China as it does which the American private sector
to the U.S. U.S. private investment can become involved in the Indone-
in Indonesia is about $17 billion—of sian economy. Ultimately, the Yud-
$153 billion in total U.S. investment hoyono administration, like the
in Southeast Asia. Needless to say, Obama Administration, must deter-
a relationship between the third- mine where free commerce fits into
largest and fourth largest countries their national visions, and thereby
in the world should generate more their visions for the U.S.–Indonesia
economic activity. More economic relationship. Resolving this broad
activity could ultimately help form political issue is essential to expand-
the basis for real partnership. Where ing the economic relationship be-
are the bottlenecks in the economic yond its current state.
relationship? It has to start with the
state of economic freedom in Indo- With regard to the U.S.-Indonesia
nesia. Indonesia ranks 114th in the shared interests addressed and ob-
2010 Index of Economic Freedom stacles beneath, Lohman insists that
compiled by The Wall Street Journal the immediate priority of the
and The Heritage Foundation, with Obama’s visit to Indonesia is not to
an overall score that is below the secure concrete ―deliverables‖; it is
global average. It performs particu- to establish a framework that com-
larly poorly in investment freedom mits the U.S. and Indonesia publicly
because of ―corruption; unpredict- to developing the relationship, and
able, inconsistent, and non- promotes regular consultations and
transparent regulations; weak con- cooperation on the most important
tract enforcement; labor market ri- areas of that relationship: counter-
gidities; and inadequate infrastruc- terrorism, economic freedom, de-
ture.‖ When it comes to corruption, mocracy promotion, and the efficacy
Indonesia has improved from 143rd of ASEAN. The Administration
to 111th place in Transparency. In- should maintain a priority focus on
ternational’s annual Corruption Per- counterterrorism cooperation. To-
ceptions Index, but corruption is still day, that cooperation is robust.
pervasive, with Indonesia remaining Among other things, it includes U.S.
in the bottom half of the 180 coun- assistance for police emergency
tries surveyed. Import and export response and criminal investigation
bans and restrictions, services mar- skills; training in crisis response,
ket access barriers, non-transparent surveillance, and information- gath-
and arbitrary regulations, import and ering; training of prosecutors,
export licensing requirements, re- judges, and corrections officers; and
strictive sanitary and phytosanitary support for a task force in the Indo-
regulations, state trading, weak en- nesian Attorney General’s office,
forcement of intellectual property which is responsible for convicting
12
Main Features

more than 40 JI terrorists since can be taken for granted), a true


2006. The U.S.–Indonesia partner- partnership can develop that serves
ship should also address barriers to a range of common interests. Presi-
trade and investment with a focus on dent Obama’s overarching goal for
priority market access issues. Be- U.S. Indonesia relations should be
yond the benefit to the investor or to leave to his successor a relation-
exporter, resolutions of such issues ship that is an enduring fixture in
will send signals beyond the specific America’s network of Asian alli-
sector concerned and affect broader ances. With regard to profound
perceptions of the business climate. analysis of Lohman upon the U.S.-
A U.S.–Indonesia Bilateral Invest- Indonesia promising future, in time—
ment Treaty (BIT) should be negoti- longer than the term of one U.S. or
ated to provide access, consistency, Indonesian administration—
and transparency for American in- consistent cooperation on common
vestors, and to improve Indonesia’s interests and values ultimately has
attractiveness as an investment des- the potential to transform the U.S.–
tination. Moreover, the U.S. Agency Indonesian partnership into the more
for International Development comprehensive and integrated one.
(USAID) should continue its main Therefore, the upcoming June visit
focus on education. According to is indeed advantageous if the hype
USAID, its Indonesia Education Ini- itself can live up to the expected
tiative to improve the quality of edu- commitments from both countries.
cation in Indonesia has reached
more than 346,000 students, and
almost 24,000 administrators and
teachers from more than 1,470
schools. The key elements of that
$157 million program, announced in
2003, expire this year. They should
be continued. Providing a quality
education is vital for preparing Indo-
nesia’s workforce to meet the de-
mands of a modern economy— es-
sential to the country’s development
and political stability

Lohman eventually concludes that


the United States and Indonesia are
poised for a much closer relation-
ship. President George W. Bush and
successive Indonesian presidents
have labored through difficult condi-
tions to forge the basis of an endur-
ing partnership. If the U.S. plays its
hand well (nothing, not even Barack
Obama’s popularity in Indonesia,
13
Tokoh
Menteri Pertahanan RI 2004-2009
Prof. Dr. Juwono Sudarsono

Bulimia: Apa yang membuat Prof. kepada universitas yang


akhirnya memutuskan sudah mendidik saya,
untuk kembali mengajar di membentuk saya, bertahun
FISIP UI? -tahun waktu muda dulu
Prof. Juwono Sudarsono: hingga sekarang. Kembali
Tentunya saya merasa mengajar di Hubungan
memiliki tanggung jawab Internasional UI adalah
moral dan balas jasa bentuk pengabdian
14
Tokoh

tersebut.

B: Bagaimanakah kerjasama
pertahanan indonesia-AS
pada hari ini menurut
Prof.?
JS: Kerjasama Indonesia-AS
sepanjang 2004-2009
ditandai dua hal. Pertama,
embargo senjata dan
alutsista buatan AS yang
sejak 1999 dicabut. Kita
butuh pesawat Hercules
untuk pengangkutan.
Setelah lebih dari 12 tahun
embargo, kita
membutuhkan suku cadang
dan peralatan AS untuk
Hercules yang kita punya.
Selain itu, juga tentang
Kopassus (Komando
Pasukan Khusus, red.)
yang dulu sempat dituduh
sebagai pasukan pelanggar
HAM berat, bahkan sempat
mau diproses secara
internasional. Melalui
berbagai kunjungan, kami
mencoba menjelaskan
kepada mereka, bahwa hal
itu hanya dilaksanakan
beberapa oknum, tidak
serta merta seluruh
Kopassus juga demikian.
Dan kita meyakinkan AS,
bahwa hal ini akan kita
tangani dengan hukum dan
prosedur kita sendiri.

B: Jadi menurut Prof.,


hubungan Indonedia-AS ke
depannya akan
bagaimana?
JS: Kemitraan menyeluruh.
Sebuah comprehensive terutama di bidang
partnership yang strategis, pendidikan. Hubungan baik
15
Tokoh

dengan sasaran-sasaran B: Bagaimana suka duka


yang diusahakan tepat. menjadi Menteri
Pertahanan?
B: Beberapa waktu yang lalu JS: Tantangannya, terutama
Obama akan mengadakan dalam proses
lawatan ke Indonesia. Isu demokratisasi sifat
apa saja yang akan pertahanan indonesia. Kita
diangkat? perlu mengajarkan pada
JS: Yang paling penting adalah orang sipil keberadaan
kemitraan di bidang tentara itu perlu. Dan
pendidikan. Terutama tentara tidak serta merta
pendidikan tinggi, baik sipil selalu menjadi pelanggar
maupun militer. Dengan HAM berat. Tentara justru
demikian, para perwira juga menjadi pencegah
muda kedua negara bisa terjadinya pelanggaran
bertemu. Dengan demikian HAM berat. Terutama
saling pengertian bisa dalam mencegah dan
tercapai, terutama karena mengatasi konflik regional.
kita negara mayoritas Tentaralah yang selalu
Muslim, jangan terlihat mencoba
seolah kita menjadi suatu menghentikannya.
ancaman bagi Amerika.
B: Last but not least, Ada
B: Tanggal 12-13 April lalu di pesan buat anak-anak HI,
Washington diadakan Prof.?
Nuclear Security Summit di JS: Kalian semua, optimislah
mana Indonesia menjadi Indonesia bisa jadi negara
salah satu dari 43 peserta besar. Kapanpun dan di
konferensi. Menurut Prof. manapun, kalau sudah jadi
Juwono, peran signifikan orang besar nanti selalulah
apa yang Indonesia miliki? berbuat adil. Untuk
Bukankah Indonesia tidak sekarang, kalian
punya senjata nuklir dan tingkatkanlah peran
lainnya? mahasiswa, karena inilah
JS: Nuklir itu memengaruhi waktunya kalian beraksi.
seluruh dunia. Indonesia Terutama mahasiswa
sebagai negara yang hubungan internasional,
besar, penting di Asia karena dunia sekarang
Tenggara, sangat potensial memang terhubung 24 jam
terseret konflik nuklir sehari.•
negara-negara besar.
Karena itu, kita perlu ikut
memberikan suara atas
persoalan nuklir di dunia
internasional.

16
Review
Yohanes Nindito
Amerika dan Dunia

Buku ini merupakan teks terjemahan


dari sebuah masterpiece tulisan
yang membahas hubungan Amerika
(Serikat) dan dunia dalam politik
internasional. Buku ini memuat
tulisan-tulisan dari berbagai pakar
mengenai hubungan Amerika dan
dunia dalam politik internasional
kontemporer pasca-Perang Dingin.
Berakhirnya Perang Dingin telah
menjadi penanda penting yang
mengantar kita semua pada era
baru politik internasional. Era baru
tersebut banyak menimbulkan
pertanyaan dan perdebatan
mengenai quo vadis tatanan global
dengan Amerika yang dianggap
sebagai polar kekuatan utamanya.
Peristiwa 11 September 2001 (9/11)
yang terjadi kemudian kembali internasional yang
menjadi titik tolak baru tentang pernah dimuat di berbagai
bagaimana Amerika mengelola jurnal politik internasional ternama
hubungannya dengan dunia seperti Foreign Affairs, The National
internasional. Interest, sampai International
Security. Buku ini memuat tulisan
Buku ini memuat berbagai tulisan ternama mengenai questioning dan
dari berbagai pakar politik prediksi tatanan global pasca-

17
Review

Dingin.
Buku ini dapat
menjadi salah satu teks bacaan
terbaik dari berbagai teks bacaan
Perang Dingin yang sudah ada, yang membahasa
seperti ―Akhir Sejarah‖ (The mengenai Amerika dan politik
End of History) dari Francis internasional dalam bahasa
Fukuyama dan ―Benturan Indonesia. Tulisan-tulisan yang
Peradaban‖ (The Clash of dimuat di sini juga merupakan
Civilization) karya Samuel tulisan-tulisan yang telah diakui
Huntington. Selain itu, terdapat sebagai masterpiece dari para
beberapa tulisan ternama lainnya pengkaji politik internasional
seperti dari Robert D. Kaplan semacam Fukuyama dan
(“Anarki yang Mengancam”), G. Huntington. Namun, dalam
John Ikenberry (―Mitos Kekacauan membaca buku ini, kita harus tetap
Pasca-Perang Dingin‖), Fareed kritis dan membuka pikiran kita pada
Zakaria (―Bangkitnya Demokrasi pandangan yang lebih luas lagi.
yang Tidak Liberal‖), dan Charles Buku ini sangatlah kental dengan
Kupchan (―Kehidupan Setelah Pax perspektif dari pihak Amerika
Americana‖). Buku ini juga memuat sehingga dapat menjadi suatu yang
tulisan-tulisan yang bias atau timpang. Untuk itu, kita
menggambarkan pengelolaan dapat melengkapinya dengan
hubungan Amerika dengan dunia berbagai referensi dari perspektif
pasca-9/11, seperti ―Mengapa lain pada pembahasan yang serupa.
Mereka Membenci Kita‖ oleh Fareed Kita dapat melengkapinya dengan
Zakaria dan ―Keunggulan Amerika menelaah berbagai karya tulis dari
dalam Tinjauan‖ dari Stephen G. berbagai pakar beserta perspektif
Brooks dan William C. Wohlforth. regional lainnya seperti Asia dan
Eropa. Hal tersebut tentu dapat
Keunggulan buku ini adalah tentu membantu kita untuk mengetahui
saja penyajian bahasa Indonesianya gambaran yang lebih utuh mengenai
yang memudahkan pembaca untuk hubungan Amerika dan dunia di era
menelaah hubungan Amerika dan internasional kontemporer ini. •
dunia internasional pasca-Perang
18
Liputan
LIMAS FISIP UI 2010
Lomba Ilmiah Mahasiswa
Sosial Politik 2010
Niwa Rahmad Dwitama, ed. Aline

LIMAS atau Lomba Ilmiah ketua pelaksana, Annisa Nirbito.


Mahasiswa Sosial Politik adalah
program tahunan BEM FISIP UI Pada 2010 ini terdapat enam bidang
yang bertujuan untuk membangun yang dikompetisikan, di antaranya
budaya ilmiah bagi mahasiswa Lomba Debat Bahasa Indonesia,
FISIP UI, yang juga dijadikan Debat Bahasa Inggris, Fotografi,
sebagai sarana latihan dan Esai Ilmiah, LKTI (Lomba Karya
persiapan kontingen FISIP UI untuk Tulis Ilmiah), dan Lomba Trivia.
Olimpiade Ilmiah Mahasiswa 2010 di Dibandingkan dengan tahun
tingkat universitas. sebelumnya, terdapat terobosan
baru bidang lomba yaitu Lomba
Acara yang diselenggarakan pada 3 Trivia, di mana 15 orang utusan
-6 Mei 2010 ini bertajuk setiap departemen yang ada di
―Perdagangan Bebas dan Keadilan‖. FISIP diuji pengetahuan umum dan
Tema ini diusung dengan kekompakan anggotanya. Lomba
pertimbangan bahwa isu free Fotografi dan Esai Ilmiah
trade (perdagangan bebas) yang dilaksanakan dalam dua tingkat,
diimplementasikan dalam kerjasama yakni tingkat FISIP dan tingkat
ekonomi seperti ASEAN-China FTA nasional, yang diselenggarakan
(ACFTA) adalah isu global yang secara bersamaan. Hebatnya lagi,
menjadi topik hangat untuk ketiga hasil karya dari Lomba
diperbincangkan belakangan waktu Fotografi, Lomba Esai, dan LKTI
ini. ―Untuk itu, perlu kiranya akan direvisi dan dibukukan untuk
memberikan wadah bagi teman- dijadikan koleksi fakultas .
teman mahasiswa melakukan
kritisasi terhadap persoalan ini,‖ ujar Untuk rangkaian dalam lomba-

19
Liputan
▼Juara Umum Limas Ui2010 ,
lomba di LIMAS tahun ini, hadiah Hubungan Internasional
yang diterima peserta berupa uang
tunai dan buku-buku. Di hari terakhir
juga diadakan Seminar Nasional
yang bertajuk ―Menghimpun
Kekuatan Bangsa dalam
Menghadapi Perdagangan Bebas‖
dengan pembicara Dr. Syamsul
Hadi, dosen Ekonomi dan Politik
Internasional, dan master di
bidang free trade, Adi Tahir ,ketua
umum Kamar Dagang Indonesia
(Kadin).

Akhirnya, di penghujung acara,


jurusan Hubungan Internasional (HI)
diumumkan sebagai juara umum
LIMAS 2010, dengan perolehan dua
medali emas dan dua medali perak.
Menyusul HI, jurusan Sosiologi
dengan dua medali emas, satu
medali perak, dan satu medali
perunggu dan jurusan
Kesejahteraan Sosial dengan satu
emas dan dua perak. Akhir kata,
semoga acara ini dapat
dilaksanakan secara berkelanjutan
dan menggugah jiwa ilmiah serta
kepekaan sosial seluruh mahasiswa
FISIP.

“LIMAS 2010, Awali bangsa


dengan intelektualitas”

▼Suasana Lomba Trivia

20
Main Features
Nico Deralima Novito
Rules of Engagement:
Indonesia and U.S. Relation in
the Obama Administration Era

When you hear ―the United States of U.S. and worked his way up to the
America,‖ what comes first into your Commander-in-Chief chair.
mind? Probably, it’s the image of the
White House, the sprawling sky- You might still remember some sort
scrapers of New York, or Holly- of euphoria that Indonesians
wood’s glitz and glamour. Or, maybe showed when Obama was elected
you’ll instantly think of the wars in president in 2008, and more in-
Iraq and Afghanistan, while some tensely, when he announced that he
will refer to the financial crisis the will visit Indonesia in early 2010
country is facing. However, in recent (which now has been postponed,
years, it seems that there is one reportedly, until June). There is plan
person that inevitably—and sud- to create huge ―homecoming‖ party
denly—most Indonesians will iden- in his former school, and even an
tify U.S. with: Barack Obama. Obama statue was erected in a Ja-
karta park, which has since been
I believe that everyone reading this removed due to public protests.
will understand why so, but I’ll try to
recall again that classic storyline: But the big question is shadowing in
Obama, the 44th U.S. President— the background. Does Obama really
elected after eight tumultuous years care about Indonesia? Well, when
under Bush Administration—spent you take a look at the U.S. Embassy
several years as a child in Jakarta, website, they will say that Indonesia
when her mother got married to an is an important ally for the U.S. But
Indonesian. ―Barry‖—his childhood is it true or is it just some rhetorical
nickname—went to elementary statement? Obama is facing a lot of
school here before going back to the domestic difficulties right now, to put

21
Main Features

seas, and the economic challenge


from the fast-rising China. With all
these problems in his mind, does he
allocate a fraction of his time—if
any—to think about the his country’s
relation with ours?

The Partnership

Historically, our relation with the so-


called ―world hegemon‖ can be de-
scribed as lukewarm. There has not
been any real tension, except one or
two missteps along the way. In the
Cold War era, for example, we were
trying to please the U.S. by killing all
the alleged Communists—which
constituted one of the bloodiest
times in our history—for the sake of
aid, as some might argue. Now, the
U.S. praises Indonesia for its
counter-terrorism approach, where
the bombing suspects have been
detained—or shot dead. Meanwhile,
in economic terms, the U.S. is in-
creasingly left behind from China,
which gains its significance among
Southeast Asian nations, what with
the ASEAN-China Free Trade
Agreement (ACFTA). And not to
mention, China’s products are more
popular among Indonesians due to
its way cheaper price. As Fareed
Zakaria explains in his book, The
Post-American World, the U.S. su-
periority is now being challenged by
the ―rise of the rest,‖ especially by
the Great Wall nation.

Nevertheless, seeing the issue from


it mildly: economic crisis, terrorist a different—and rather, more opti-
threats, the recent healthcare de- mistic—point of view, there is a
bate, immigration issue, the oil spill chance for Indonesia to engage
in the Gulf of Mexico and so forth. more deeply with the U.S. and bene-
Besides, he is also confronted by fit even more from this relation. To
the seemingly endless wars over- borrow from our president, Susilo
22
Main Features

Bambang Yudhoyono, ―A U.S.- lim countries. As a country with the


Indonesia strategic partnership biggest Muslim population in the
would have to be based on equal world, this is surely an opportunity
partnership and common interests. It for Indonesia to take and utilize. The
has to bring about mutual and real anti-America sentiment was so per-
benefits for our peoples.‖ vasive among many Muslim groups
in this country during Bush Admini-
It has been reported that Indonesia stration, mainly because of the Iraqi
is looking forward to signing a com- war. But the feeling has hitherto
prehensive bilateral partnership with subsided since the election of
the U.S. during the American presi- Obama. On the issue of Palestine-
dent’s visit this year. This partner- Israel conflict, for instance, Obama
ship is expected to cover six areas is committed to the peace process
of cooperation: education, govern- and realizing the two-state solutions,
ance, climate change, regional secu- which many applaud. In Indonesia
rity and counterterrorism, trade, and itself, for example, the U.S. is giving
investment. It is such a wide range education aid to Muslim schools and
of issues, which decidedly are im- scholarship for Muslim students to
portant, yet also complicated at the become exchange students.
same time. Take trade as an exam-
ple: During the financial crisis of On hindsight, though, our country
2008, these two countries started to cannot just rely on this view of Indo-
implement protectionist policies in nesia as having the largest Muslim
their respective territories, not to population. The image kind of tries
mention the ever-influential China’s to homogenize our country into only
economic presence in many Asian one dimension—definitely not repre-
countries, resulting in the decreasing senting our ―unity in diversity‖ motto.
amount of goods export from Indo- Thus, there is another thing that
nesia. Indonesia can attempt to project to
the world, namely democracy.
Stepping Up to the Next Level Twelve years after reformation, the
democratic system in Indonesia has
But then, how can Indonesia man- significantly improved compared to
age to up the ante and gain more the Soeharto’s autocratic regime.
benefits from cooperation in many From elections to free press here,
fields? For starters, let’s take a look our country is being described as
at some of the fundamental reasons ―vibrant democracy,‖ although unfor-
that attract Obama to give his atten- tunately, corruption still becomes
tion to our country. Putting the factor stain in the fiber of our society.
of spending his childhood in Indone- Nonetheless, as America is proud to
sia aside, there is Obama’s dis- consider itself as the beacon of de-
course toward the Muslim world. His mocracy, Indonesia seems to share
renowned speech in Cairo last year this particular American value and is
has pretty much shown his commit- able to serve American interest to
ment to reach out and listen to opin- promote democracy, especially in
ions from Muslim-majority and Mus- the Southeast Asia region (such as
23
Main Features

in Myanmar). Again, as President more able to influence American


SBY frequently mentions, Indonesia foreign policy. If we want the U.S. to
is the place where Islam, democ- listen to our interests, sometimes we
racy, and modernity can go hand in have to play hard to get. Look at
hand. China, which is resistant to Amer-
ica’s plea to revalue its renminbi. We
Besides this, Indonesia and the U.S. might not have the same economic
are members of G-20, a forum in growth as China, but Indonesia
which Indonesia can express its should make clear what it really
concerns as a representative of de- wants and not become the ―slave‖ of
veloping countries and also calls for American interests.
the reformation of global financial
institutions. Furthermore, during her Building a Better Relation
visit to Jakarta earlier this year, U.S.
Secretary of State Hillary Clinton The subtitle above might sound cli-
stated that the U.S. will support In- ché, but it’s exactly what our govern-
donesia to restore economic growth ment must do. We cannot deny that
and prosperity. the U.S. is still the most powerful
and influential country in the world—
However, in my opinion, the support despite its waning power in some
could only go so far. Indonesia can- sectors—and we do need assis-
not solely depend on the ―kindness‖ tance and all. But we have to make
of Uncle Sam. Speaking of conspir- sure that our real needs and interest
acy, some will argue that there must are not forsaken in the name of
be hidden interests behind the pro- ―good‖ relation. Although our posi-
posed partnership. We can see how tion with the U.S. is quite asymmetri-
the presence of the NAMRU-2 pro- cal, power-wise, we can rely on
ject here has become controversial. common interest and value that both
Yes, economically, there must be countries have, especially democ-
some incentives that U.S. wants to racy.
gain from Indonesia and vice versa.
But, the problem that arises is, How Indonesia has shown to the world
can Indonesia increases its bargain- that it is quite successful in tackling
ing position toward this humongous important issues. The most obvious
country? Seeing the reality of our thing is counter-terrorism, which is
country right now, our military capa- certainly a big deal for the U.S. Indo-
bility is nothing if compared with nesia has also become one of the
U.S., and so is our economy condi- most noteworthy players in the
tion—although the U.S. does not global environmental diplomacy by
mind to keep exploiting our natural becoming the host of COP 13 in
resources. 2007. Through these actions, we
can show to the U.S. how our coun-
This is not to say that we cannot try is playing a major role in the in-
strive for a better relation. According ternational arena and cannot be
to Jusuf Wanandi of CSIS, if our messed around.
relations were stronger, we would be
24
Main Features

Meanwhile, regarding trade and References:


investment, I argue that we need to
introspect first. Our economic and Book
financial policies can sometimes Zakaria, Fareed. (2008). The Post-
take a clueless direction, and the American World. New York:
system itself is still flawed to some W.W. Norton & Company.
extent. As long as we can improve
our economic condition, it is easier Articles
to attract investments from the U.S. ___. ―Clinton: U.S.-Indonesia to
On the other hand, we can use the form Comprehensive Partner-
rise of China as a momentum to sort ship.‖ <http://
of ―threaten‖ the U.S. that if it does news.xinhuanet.com/
not want to cooperate well in eco- english/2009-02/18/
nomic field, Indonesia will look for content_10845298.htm>.
partnership from China instead. ___. ―Obama Eyes Indonesia as
Key U.S. Ally.‖ <http://
Change. Obama said this word, like, www.google.com/hostednews/
a thousand times in his campaign , afp/article/
and it is what we need to engage in ALeqM5jkP2kJ1U-
a better relation. The most important HYtK0K7Nf7aSnpalUAhA>.
thing here is that our country should Beech, Hannah. ―Why Obama is
change its meek and submissive Disappointing Asia—Even in
behavior toward other countries and Indonesia.‖ TIME, 29 March
become decisive; we have to know 2010.
what we want from our relation and Lohman, Walter. ―U.S. – Indonesia
fight for it. As long as our diplomats Relations: Build for Endurance,
can bring their best effort to the table Not Speed.‖ <http://
to bargain with the U.S., we can www.eurasiareview.com/2010/0
benefit from the planned bilateral 3/32207-us-indonesia-relations-
comprehensive partnership. The build-for.html>.
involvement of government and so- Wanandi, Jusuf. ―Obama and Indo-
ciety, of course, is also needed to nesia-US Relations.‖ <http://
ensure the realization of this partner- www.eastasiaforum.org/2009/01
ship. /24/obama-and-indonesia-us-
relations>.
Yes we can, indeed.•

25
Tokoh
Pakar Pertahanan dan Keamanan
Andi Widjajanto, Ph.D.

Bulimia: Dalam berbagai tantangan keamanan bagi


kesempatan, Anda Indonesia?
memprediksi bahwa China Andi Widjjanto: Dalam perspektif
akan menjadi hegemonik neorealis dan offensive
pada 2050. Dapatkah Anda realist, ada indikator satu
menjelaskan tentang arah negara ketika bangkit
kebangkitan China ini, dan hegemonik bisa jadi
bagaimana ia akan ancaman nyata kawasan,
26
Tokoh

yaitu upaya pencarian


energi alternatif untuk
kemandirian energi.
Dekade lalu, China
menghasilkan energi
alternatif untuk Timur
Tengah dan Afrika. Ini mirip
dengan apa yang dilakukan
mirip dengan Jepang
antara 1907-1931, yang
membuktikan negaranya
sebagai negara hegemonik
maritim pasca-perang
dengan Rusia. Prediksi
neorealis memandang
bahwa China dapat
menduplikasi Jepang dulu.

B: Bagaimana dengan potensi


ancaman dari negara besar
lain di kawasan Asia?
Bukankah Jepang tengah
melakukan normalisasi
militer dan India memiliki
persenjataan nuklir aktif?
AW: Jepang cenderung tidak
terlihat selayaknya
kekuatan baru selama
traktat dengan AS. Hanya
saat China bangkit maka
hegemoninya jadi
menurun. India memang
melakukan proyeksi
kekuatan laut masa
lampau, dan
mengembangkan kekuatan
maritim. Pada 2012 India
akan memiliki kapal induk
di Laut China Selatan.
Namun, India akan lebih kebangkitan China
disibukkan kompleksitas tersebut, mengapa Anda
persaingan India-Pakistan, mengusulkan strategi
seperti nuklir, jadi balancing?
konsentrasi tidak penuh. AW: Sebenarnya, usul saya
terdiri atas dua tahap.
B: Dalam menghadapi Tahap pertama, pada awal
27
Tokoh

China menjelma sebagai bargaining point tersendiri,


negara besar berevolusi dan strategi hedging dapat
jadi negara hegemonik, menjadi poin signifikan.
Indonesia harus menjaga Namun, perlu diingat,
balance of interest agar karena neorealis
tidak ganggu stabilitas memandang organisasi
melalui hedging, dan internasional sebagai
sembari itu, menjalin perpanjangan power, maka
kemitraan strategis dengan peran ASEAN hanyalah
negara lain, agar tidak peran sekunder, bahkan
terjebak ketegangan antar tersier, bukan tiang inti
hegemonik. Tahap kedua, kebijakan.
pada 2024, seluruh
peralatan TNI sudah B: Dalam strategi balancing
dibangun, dan pada 2025, ini, Anda mengusulkan
kebutuhan pertahanan Indonesia membentuk
sudah terpenuhi, sehingga aliansi dan kemitraan
Indonesia dapat ekspansi strategis, terutama dengan
dan proyeksi kekuatan ke AS, India, dan Rusia.
luar teritorinya. Antara Dapatkah Anda
2024-2050, Indonesia menjelaskan tentang
harus membangun peluang hal ini dan
kekuatan agar tak terjebak mekanisme yang dipakai?
balance of interest. Pada AW: Dalam teori Mandala*,
2050 dan seterusnya, negara-negara dengan
Indonesia akan telah perbatasan langsung
memiliki kekuatan yang adalah musuh. China
signifikan untuk balancing. merupakan daratan
panjang yang berbatasan
B: Bagaimana dengan strategi langsung dengan Rusia
-strategi lain, seperti dan India, serta
menggunakan ASEAN atau bersinggungan dengan AS
EAS untuk menciptakan di Laut China Selatan.
rezim keamanan dalam Maka, China akan sibuk
menghadapi berbagai untuk fokus memperhatikan
tantangan regional kekuatan besar di front
tersebut? utara (Rusia), barat (India),
AW: ASEAN dapat digunakan timur-selatan (AS), dan
dalam strategi hedging, ASEAN. China diharapkan
karena Indonesia akan sulit bisa jadi konstruktif.
melakukan strategi ini
sendirian. Kekompakan B: Indonesia bukan sekutu
dan solidaritas ASEAN utama Amerika Serikat, tak
akan menjadi daya tarik
pasar energi baru, * Baca kitab Arthaśāstra oleh
sehingga menjadi Chanakya (Kautilya).—red.

28
Tokoh

seperti Australia, Jepang,


atau Korea Selatan.
Bagaimana hal ini
memengaruhi peluang
kemitraan strategis yang Kebangkitan Maritim China:
ingin dibangun?
AW: Kepentingan AS dan
Indonesia cenderung
bertentangan, misalnya
terkait wawasan
archipelagic state
Indonesia, serta dominasi
militer AS terhadap
Indonesia. Yang bisa
dilakukan adalah selective
engangement (pelibatan
selektif), yaitu membina
hubungan dengan jarak.
Pada 2050 ke atas, setelah
China menjadi hegemonik,
baru Indonesia dapat ▲Angkatan Laut China menuju kapabilitas
menjadikan AS partner beroperasi di samudera lepas (blue water).
untuk balancing. Kalau Sumber: http://pacificfreeze.ips-dc.org/wp-
sekarang kekuatan tidak content/uploads/2009/11/chinNav.jpg
imbang, sama laksana
memberikan kedaulatan
Indonesia kepada AS.

B: Terakhir, bagaimana
potensi hubungan
Indonesia-AS ke
depannya?
AW: Diplomasi Indonesia-AS
terjaga baik, sehingga
dapat menjadi mitra
strategis menanggapi
kekuatan besar Asia Timur.
Di masa depan, kebutuhan
AS terhadap kemitraan ini
akan menjadi lebih besar
daripada kebutuhan ▲Destroyer kelas Luhu milik Angkatan Laut
Indonesia sendiri.• China, Qingdao, berangkat dari Pearl Harbor,
2006. Sumber: JFQ / issue 50, 3rd quarter 2008,
http://www.ndu.edu/inss/Press/jfq_pages/
editions/i50/10.pdf

29
Review
A Place of Ultimate Pain
The Hurt Locker
The Hurt Locker adalah potret para
teknisi skuad penjinak bom Amerika
di Irak. Tiga anggota skuad
Explosive Ordnance Disposal (EOD)
elit melawan para pengacau
keamanan di Irak seraya mencari
dan melucuti bom-bom di tepi jalan-
jalan Baghdad. Misi mereka jelas:
melindungi dan menyelamatkan.
Namun, hal tersebut tak mudah,
karena marjin kesalahan ketika
mendefusi bom di medan perang
adalah nol. Thriller yang
mendebarkan jantung ini melihat
psikologi para teknisi bom serta efek
risiko dan bahaya terhadap hati
Sutradara: Kathryn Bigelow manusia. Karya fiksi ini terinspirasi
Produser: Kathryn Bigelow, Mark peristiwa nyata oleh jurnalis dan
Boal, Nicholas Cartier, Greg screenwriter Mark Boal, yang
Shapiro bertugas bersama satu unit bom
Screenwriter: Mark Boal khusus di Irak, di
mana ledakan diiba-
▼Salah satu scene dalam The Hurt ratkan sebagai mengi-
Locker rimmu ke ―hurt locker‖.

Casting: Musik: Marco Beltrami, Al


Jourgensen
Jeremy Renner: Sersan Sinematografi: Barry Ackroyd
William James Editing: Chris Innis, Bob
Anthony Mackie: Sersan J.T. Murawski
Sanborn Distribusi: Summit
Brian Geraghty: Spesialis Entertainment
Owen Eldridge Rilis: 26 Juni 2009 (AS)
30
Review

Walaupun memperoleh berbagai


kritik dari para veteran dan reporter
Perang Irak atas potret kondisi
perang yang tak akurat, sejauh ini
The Hurt Locker adalah yang paling
akurat dari berbagai film perang
lainnya dan memperoleh titel "the
best Iraq movie to date".
Rottentomatoes.com melaporkan
bahwa 97% kritik memberikan film
tersebut review positif. The Chicago
Sun Times memasukkannya dalam
―the best films of the decade‖.
Majalah Time menyebutnya “a near-
perfect war film‖. Masih banyak lagi
review positif dari berbagai
sambutan kritis terhadap film ini.

The Hurt Locker menjadi potret


suatu pertempuran antara negara
adidaya Amerika Serikat yang
melakukan revolusi sistem
persenjataan (revolution in military
affairs/RMA) Informasi melawan
para gerilyawan Irak yang
melakukan RMA The Sling and the
Stone.* Potret aktual Perang
Generasi 4 ini memperlihatkan
dengan jelas kepada para Pengkaji
Keamanan Internasional,
bagaimana untuk melawan strategi
teror The Sling and the Stone,
diperlukan strategi ―win heart and
mind of the supporting mass‖. Akhir
Perang Irak sangat bergantung pada
bagaimana tentara Amerika dapat
membangun hubungan baik dengan
para warga Irak.• (tangguh)

*Untuk lebih mengerti konsep RMA The


Sling and the Stone, baca Thomas X.
Hammes (2006), The Sling and the
Stone: On War in the 21st Century
(Amerika Serikat: Zenith Press). ►

31
Populars
Natalia Rialucky*
Participating In The Model of
United Nations:
It’s Worth The Cost!

The year 2008 marked the first offi- than just fund that you have to care
cial Universitas Indonesia’s delega- about if you want to go to interna-
tion to a Model United Nations tional MUN. Then one might ques-
(MUN), with only four people accom- tion, is MUN really worth the effort,
panied by one faculty advisor flying or is it just simply over-rated?
from Jakarta to Boston and hardly
anyone ever heard of the word Based on my conversation with Car-
MUN. Today, more than 40 stu- los Bortoni, one of the Directors in
dents have flown back and forth, in the Harvard National Model United
and out of the country to join MUNs Nations 2010 and an expertise in
all over the world and more than 200 MUN himself, the original idea when
students in Universitas Indonesia Harvard firstly pioneered the MUN
has expressed their enthusiasm to back in 1952 is that they would cre-
learn more and participate to MUN. ate a media where students are able
However, on top of the drastic en- to do a role-play as nations dele-
thusiasm it is crucial to understand gates’ in the UN conference. Having
what is actually MUN so then we said that it is a model, not all the
wouldn’t be picking a cat in a rag. exact rules and procedures are
Substantially, there are important adopted. For example, the selection
points we have to be aware of if we of countries inside a committee in
are to assume that MUN is a com- MUN is based on the discretion of
plete replicate of the real UN confer- the directors who directs where the
ence and technically there are more conference is heading to, unlike the
*Natalia Rialucky Tampubolon
The author is the Secretary General for UI MUN CLUB
Contact us: uimunclub@gmail.com

32
Populars

real assembly with all countries par-


ticipating. The voting procedure has
also undergone several levels of
adjustment. These adjustments
were taken to fit the time constrains
of MUN, unlike the real conference
that might take the whole week. The
Harvard International Relations De-
partment has been acknowledged
as an observer at the UN General
Assembly thus making the adopted
procedure as much as possible simi-
lar to the real conference, but the
issue occurs in the other MUNs who
adopted the adjusted version and
doing another level of adjustment.
The deviation level might soar.

The second level is the technical-


hiccups that you might face in going
to MUN. First on the top list is: fund-
ing. It is common to face the dra-
matic amount of money that we
need to collect in order to go abroad,
for example, flights to areas like
Northern America and Europe will
reach more than $1,000 although
parts in Asia might have better deal.
Not to mention the exchange rate
that makes everything; food, accom-
modation and living cost triple or
quadruple expensive if we convert it
to Indonesian Rupiah. Next on the
agenda is: choosing the right travel
itineraries that include accommoda-
tion, transportation intra-destination
city, food and beverage. The right
accommodation would have to be
accessible and strategic to the con-
ference venue, comfortable and of
course, affordable. Choosing the hard for someone to go to MUN by
edible food and beverage can also him or herself (although there are
be a problem, as well as knowing people who go on their own) but
what means of transportation that most of the time students look for
can get you around the city. Last but other people who are also interested
not least is team-bonding. It is very to join in the same MUN and make a
33
Populars

team. Some people may disregard foreign policy but also reflects the
the significance of team-bonding attitude to be the bridge between
because we thought we were in the nations and taking the lead in
same boat when we first sign up to ASEAN. Accents and country’s
the conference, but the weigh of trademark outfit also helps students
personality sometimes outweighs to really feel as if they are the real
the common vision. It is important diplomats. This practice is really
for us to get to know our teammates crucial in order to prepare the stu-
and find out how to deal with them, dents to be a real diplomat after they
especially in hard times. Because as graduate. We have to know what it
you might have heard, MUN is not takes to be a good diplomat, practic-
as easy as how it sounds, it is a ing it from early years of tertiary
constant process of diplomacy; ne- studies, so then when we are going
gotiating, lobbying and public speak- to represent our own country in the
ing, so you have to be aware that real international forum we know
the pressure is high and might get what to do and we have what it
you down personally or as a team. takes. Not to mention the other
benefits that you can get from join-
Having being enlightened with all the ing MUNs, such as building interna-
fuzz about MUN both substantially tional networks and providing the
and technically, the bottom-line chance to visit places you have
question is, then why should we never been before. The lifetime ex-
bother to bear all the trouble if it is perience is the best achievement of
just a simulation after all? The most joining MUN.
important element of MUN is that it
is a try out, a simulation where stu- At the end of the day, all luscious
dents can experience themselves fruit does not come without months
the first hand practice of diplomacy. of planting and nurturing. The MUN
By experiencing meaning that stu- fever is undeniably on the air right
dents collaborate between the intel- now, and I can assure you it is not
lectual capacity of international is- just an over-exaggeration, it is real,
sues and the practice skill. Students it is worth it. Seize the opportunity
are encouraged to position them- and take the chance to be a part of
selves as if they are the real dele- any MUN! Because everyone can
gates, not only that they have to be a delegate!• (Ria)
understand the country’s position
inside and out, but also enacting the
manner of the country they are rep-
resenting For example Indonesian
delegates do not only understand
about Indonesian free and active ▼Logo of UI MUN CLUB

34
Questionnaire
Cluster Manakah Kamu?

1. Dari ketiga hal ini mana yang lo Troya, Napoleon, Perang


paling sreg di pikiran? Dunia I, dan sebagainya).
a. Bola biliar. d. Ilusi kemapanan, terlalu
b. Jaring laba-laba. sulit menjaga konsistensi
c. Piramida. keduabelah pihak
d. Candi Prambanan. (terutama pihak yang
lainnya).
2. Cinta menurut loe?
a. Proses konsensual dari 3. Ada banyak lalat
kedua pihak yang terlibat berterbangan...
melalui sebuah a. Ini bukti standard higienis
pembangunan belum tercapai, penting
kepercayaan (confidence banget bagi Human
building measure). Development Index, harus
b. Kostruksi sosial budaya ada advokasi segera.
patriarkal yang b. Awas, barangkali itu
memberatkan kaum hawa. senjata nano-bot terbaru
c. Elemen penting dalam buatan CIA! RMA woy!
epos peperangan- c. Wah, jangan-jangan ini
peperangan besar yang yang menghambat FDI
kurang terekspos (Perang masuk di Indonesia, bikin

35
Questionnaire

investor ilfil! d. Ayam itu berusaha


d. Lalat-lalat itu berdansa mendobrak dogma dan
menyampaikan pesan tradisi, berusaha memberi
implisit dunia ini busuk. contoh bagi ayam-ayam
muda lainnya dalam
4. Soekarno adalah… pergerakan pemberdayaan
a. Pemimpin irasional yang ayam.
menantang dominasi
kedua negara superpower, 7. Lo dikepung Zombie…
seharusnya memihak salah a. Cari AK-47 terdekat, wait!
satu. Ada FN Minimi? Bring it
b. Cassanova Indonesia, duh! ON!
c. Sukses mengooptasi b. Mencari GPS locator untuk
rakyat Indonesia untuk melakukan koordinasi
tetap lapar sementara ia dengan teman-teman lain.
membeli prestise. c. Mengingatkan zombie
d. Err...kebijakan bahwa lo berstatus sebagai
mercusuarnya membuat non-combatant dan
kita terjerat defisit 700%, dilindungi konvensi
hampir bangkrut! Jenewa.
d. Gak nyangka T-virus
5. Mana yang menurut lo beneran udah ada, gagal
terdengar lebih seksi? topik riset gue neh.
a. Dasar-dasar anatomi tubuh
manusia (ato binatang 8. Lo dapet tugas bikin esai
deh...) dengan topik STARBUCKS...
b. Bounded rationality a. Wah ini contoh free trade
c. Asymmetric warfare gagal, lebih baik fair trade!
d. Strategic advocation Kasian tuh petani di
Amerika Latin.
6. Ayam nyebrang jalan… b. Hmm...dikaitin sama level
a. Itu ayam merasa gak aman GDP dan integrasi suatu
di tempat sebelumnya, ia negara ke perekonomian
berusaha mencari posisi internasional neh, ah
yang lebih strategis bagi klasik.
kepentingan dirinya. c. Desain logonya provokatif,
b. Ayam itu melakukan dapat diliat merupakan
penyesuaian karena ia campuran impresionisme
merasa hidupnya akan dan surrealisme (sori kalo
lebih baik bila berada di ngaco).
seberang jalan, bersama d. Starbucks? Bukan
ayam-ayam lain. ancaman terhadap
c. Wajarlah, ayam merupakan kedaulatan ah. Dosennya
salah satu unggas yang gak penting.
tidak jago terbang, struktur
morfologinya berbeda. 9. Pajak rokok naik...
36
Questionnaire

a. Akhirnya, bukti Kunci jawaban akan dicocokan


kemenangan advokasi menjadi:
lawan corporate bastards!  P = pengstrat-oriented
b. Mereka mempersulit aku (pengkajian strategis);
bercengkrama dengan  E = ekopolin-oriented; (ekonomi
teman sejatiku. politik internasional)
c. Rokok...hmm, bisa jadi
moda persenjataan
 M = mastrans- oriented;
(masyarakat transnasional)
terselubung sepertinya.
Harus ada nasionalisasi  O = others, lo salah jurusan
rokok untuk menjaga rokok coy.
nasional tidak diracuni
pihak asing a b c d
d. Oke, dijual di luar harusnya
lebih murah dong. Ini 1 P E M O
komoditas unggulan kita, 2 E M O P
China rokoknya gak
seenak Indonesia. 3 M P E O

10. Lo mau punya anak yang… 4 P O M E


a. Kooperatif, kompromistis, 5 O E P M
dan berkontribusi dalam
menjaga kelanggengan 6 P E O M
institusi pernikahan.
b. Memiliki inisiatif sendiri, 7 P E M O
independen dan peduli 8 M E O P
nasib orang lain.
c. Beneran positif anak gue, 9 M O P E
cek DNA dulu!
d. Asertif, pintar menganalisa 10 E M O P
situasi, dan fleksibel dalam
berteman baik dengan
kalangan nerdy ataupun • (aNd)
popular jocks sesuai
kepentingannya.

37
Tanpa
kontribusi
mereka,
takkan ada
Bulimia
pertama ini.
▲Prof. Dr. Juwono Sudarsono
Seluruh
Menteri Pertahanan RI 2004-2009
jajaran kru
Bulimia
mengucap- ▲Nico Deralima Novito
kan terima Mahasiswa HI UI 2008; kontributor
kasih
kepada nama-
nama berikut:

▲Natalia Rialucky Tampubolon ▲Andi Widjajanto, Ph.D.


Mahasiswi HI UI 2008; kontributor Pakar Pertahanan dan Keamanan

▲Ahmad Naufal Da’i


Mahasiswa HI UI 2007; kontributor ▲Dian Aditya Ning Lestari
questionnaire Mahasiswi HI UI 2009; co-interviewer
dan ilustrator
38
Ilustrasi: Dian Aditya Ning Lestari

39
Bulimia is the courtesy of

HMHI FISIP UI 2010


Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Kampus UI Depok 16424
40

Anda mungkin juga menyukai