Anda di halaman 1dari 112

453"5&(*1&/"/((6-"/("/

,&.*4,*/"/%"&3"),"#61"5&/
4-&."/

,0.*5&
1&/"/((6-"/("/,&.*4,*/"/%"&3")
,"#61"5&/4-&."/

STRATEGI PENANGGULANGAN
KEMISKINAN DAERAH KABUPATEN
SLEMAN
2005
SAMBUTAN
BUPATI KEPALA DAERAH KABUPATEN SLEMAN
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga penyusunan
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) Kabupaten
Sleman dapat diselesaikan. Saya ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan SPKD ini.
Upaya penanggulangan kemiskinan merupakan upaya bersama,
bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah saja. Artinya,
penanggulangan kemiskinan adalah program seluruh masyarakat Kabupaten
Sleman, seluruh pelaku harus bersatu padu dan bersinergi menanggulangi
kemiskinan.
Upaya penanggulangan kemiskinan harus berani belajar dari pengalaman.
Banyak contoh pembelajaran yang diperoleh selama menjalankan program
penanggulangan kemiskinan, namun usaha untuk memanfaatkan bahan
pe- lajaran itu belum optimal. Hal ini ditunjukkan oleh masih tingginya
jumlah keluarga miskin di Sleman, walaupun berbagai upaya penanggulangan
kemiskinan telah dilakukan.
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) ini disusun melalui ber-
bagai proses agar program penanggulangan kemiskinan dilakukan pada arah
yang benar. Beberapa catatan yang harus diperhatikan :
1. Dalam penanggulangan kemiskinan tidak dapat dilakukan dengan acara-
acara seremonial saja. Prinsip yang dipakai adalah bertindak dan berbuat.
Program yang ada harus sesuai dengan kebijakan pemerintah dan harus lebih
luas spektrumnya.
2. Berbagai program penanggulangan kemiskinan yang tidak tepat hanya mem-
berikan bantuan konsumtif harus segera dikoreksi. Pemerintah Kabupaten
Sleman tidak setuju dengan pola tersebut karena akan menciptakan masyara-
kat yang krido lumahing asto. Oleh karena itu, cara yang dipakai seharusnya
adalah memberi pancing. Karena pancing merupakan aset fisik (tangible)
dan aset intagible (know-how), management, ketrampilan dan sebagainya.

SPKD Kabupaten Sleman iii


 'BLUBEBOEBUBIBSVTKFMBT%BMBNNFOFOUVLBOTBTBSBOIBSVTTFMFLUJG JOEF
QFOEFO CVLBOLBSFOBUFNBO QBSUBJ BHBNBBUBVHPMPOHBO5BSHFUOZBKVHB
IBSVTKFMBTEBOCFUVMCFUVMZBOHNFNCVUVILBO
 ,JUBIBSVTCFSBOJNFOHLBKJVMBOHQSPHSBNQSPHSBNMBJOKJLBNFNBOHUJEBL
TFTVBJEFOHBOQPMBZBOHEJLFNCBOHLBOPMFIEBFSBI
%PLVNFOBSBIBO41,%JOJEJIBSBQLBONFOKBEJBDVBOTFNVBQJIBLBHBSQSP
HSBNQFOBOHHVMBOHBOLFNJTLJOBOMFCJITJOFSHJT%FOHBOEFNJLJBOUJEBLUFSKBEJ
MBHJQSPHSBNZBOHTBMJOHUVNQBOHUJOEJI TFIJOHHBEBQBUEJDBQBJTBTBSBOZBOH
UFQBU QBTUJEBOUFSVLVS

4MFNBO "QSJM
#VQBUJ4MFNBO

%ST*COV4VCJZBOUP "LU

JW 41,%,BCVQBUFO4MFNBO
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rachmat dan hidayah Nya,
hingga dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten
Sleman dapat tersusun.
Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Sleman ini
merupakan salah satu hasil partisipasi semua partisipan Komite Penanggulangan
Kemiskinan Daerah. Proses panjang yang telah dilaksanakan dalam penyusunan
dokumen ini memberi bukti bahwa semangat kebersamaan semua pelaku telah
terbangun. Semoga semangat ini dapat dijaga secara konsisten dan berlanjut
dalam menjalankan program bersama.
Atas tersusunnya dokumen ini ijinkan kami menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Bupati Kepala Daerah Kabupaten Sleman Drs. Ibnu Subiyanto, Akt yang telah
memberikan perhatian dan dorongan yang sangat serius hingga dokumen ini
dapat disusun dengan baik dan penuh makna.
2. Direktorat Jendral Perumahan dan Permukiman Departemen Pekerjaan
Umum, yang telah memberikan fasilitas komunitas belajar perkotaan dan
pendampingan ahli yang mengawal proses penyusunan dokumen ini.
3. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman, khususnya
Bidang Sosial dan Ekonomi serta Bidang Sumber Daya Manusia yang telah
memberi fasilitas nara sumber dan Tim Penyusun serta proses partisipatif
dalam penyusunan dokumen ini
4. Pengurus Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah yang telah mengkri-
tisi substansi dan kerangka alur pikir yang logis dari dokumen ini.
5. Partisipan Kelompok Kerja yang telah memberikan sumbangan pemikiran
hingga memperkaya isi dan substansi dokumen ini.
6. Sekretariat Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah yang telah mem-
persiapkan bahan dan sarana lainnya dalam proses penyusunan dokumen
ini
7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberi-
kan sumbangsih terhadap penyusunan dokumen ini.

SPKD Kabupaten Sleman v


"UBT TVNCBOHBO QFNJLJSBO  GBTJMJUBT EBO QFSBOTFSUBOZB UFSIBEBQ QFOZVTVOBO
EPLVNFOJOJ TFIJOHHBNFNCFSJLBOTVNCBOHBOOZBUBUFSIBEBQVQBZBQFOBOH
HVMBOHBOLFNJTLJOBO,BCVQBUFO4MFNBO4FNPHBQBSUJTJQBTJOZBNFOKBEJBNBM
JCBEBI"NJFO

,PPSEJOBUPS,1,%

%ST%XJ4VQSJBUOP .4

WJ 41,%,BCVQBUFO4MFNBO
DAFTAR SINGKATAN
AKU Arah Kebijakan Umum
Amdal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
APBD Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
APBN Anggaran Pendapatan Belanja Negara
ATM Anjungan Tunai Mandiri, Automatic Teller Machine
Balita Bayi umur dibawah Lima Tahun
Bangda Pembangunan Daerah
BAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BAPPUK Berita Acara Penetapan Prioritas Usulan Kegiatan
BBM Bahan Bakar Minyak
BI Bank Indonesia
BKD Badan Kepegawaian Daerah
BKKBN Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
BPKKD Badan Pengelola Kekayaan Keuangan Daerah
BKM Badan Keswadayaan Masyarakat
BLK Balai Latihan Kerja
BLM Bantuan Langsung Masyarakat
BMT Bank Muamalat Ta’mil
BNI 46 Bank Negara Indonesia 46
BOP Biaya Operasional Proyek
BPD Bank Pembangunan Daerah
BPD Badan Perwakilan Desa
BPKB Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor
BPKP Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan
BPKD Badan Pemeriksa Keuangan Daerah
BPN Badan Pertanahan Nasional
BPPD Badan Pengendalian PertanahanDaerah
BPS Badan Pusat Statistik
BRI Bank Rakyat Indonesia
BTN Bank Tabungan Negara
Bukopin Bank Koperasi Indonesia
Bumil Ibu Hamil
CBD Community Based Development
CBO Community Based Organization
CLC City Learning Community
CRP Community Recovery Program
CSS Community Self Survey (Pemetaan Swadaya)
D II Diploma Dua

SPKD Kabupaten Sleman vii


DB Demam Berdarah
DIK Daftar Isian Kegiatan
Diklat Pendidikan dan Latihan
Diknas Pendidikan Nasional
Dinkes Dinas Kesehatan
DIY Daerah Istimewa Yogyakarta
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
FGD Focus Group Discussion/ Diskusi Kelompok Terarah
GAKIN Keluarga Miskin
GNOTA Gerakan Nasional Orang Tua Asuh
Ha Hektar
HAM Hak Azasi Manusia
HDI Human Development Index
IDT Instruksi presiden Desa Tertinggal
Inkesra Indikator Kesejahteraan Rakyat
IPM Indeks Pembangunan Manusia
JPS Jaring Pengaman Sosial
Kades Kepala Desa
Kadus Kepala Dusun
KB Keluarga Berencana
KBP Komunitas Belajar Perkotaan
KBU Kelompok Belajar Usaha
KIKM Kredit Investasi Kegiatan Mikro
Kimpraswilhub Permukiman, Prasarana Wilayah dan Perhubungan
KK Kepala Keluarga
KKN Kuliah Kerja Nyata
Km Kilometer
Km2 Kilometer persegi
KPDL Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan
KPK Komite Pemberantasan Korupsi
KPKD Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah
KS Keluarga Sejahtera
KSM Kelompok Swadaya Masyarakat
LPK Lembaga Pendidikan Kejuruan
MI Madrasah Ibtidakiyah
MLP Musyawarah Lintas Pelaku
mm Milimeter
MTA Makanan Tambahan Anak
Nakersos KB Tenaga Kerja Sosial Keluarga Berencana
Ormas Organisasi Masyarakat

viii SPKD Kabupaten Sleman


Orsospol Organisasi Sosial Politik
P2BA Pengairan, Pertambangan dan Penaggulangan Bencana Alam
P2KPM Perindustrian Perdagangan Koperasi Penanaman Modal
P2MPD Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah
PAD Pendapatan Asli Daerah
PBB Perserikatan Bangsa Bangsa
Pemda Pemerintah Daerah
Petahanan Pertanian dan Kehutanan
PJM Perencanaan Jangka Menengah
PJP Perencanaan Jangka Panjang
PKK Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
PKL Pedagang Kakilima
PKM Program Keberdayaan Masyarakat
PNS Pegawai Negeri Sipil
POKJA Kelompok Kerja
Posyandu Pos Pelayanan Terpadu
PPKP Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
Pronangkis Program Penanggulangan Kemiskinan
PT Perseroan Terbatas
PT Perguruan Tinggi
Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat
Renstrada Rencana Strategis Daerah
RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah
RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RS Rumah Sakit
RSKPD Rencana Startegis Satuan Kerja Pemerintah Daerah
RT Rukun Tetangga
RW Rukun Warga
S1 Sarjana tingkat satu
SAR Searc And Resque
SD Sekolah Dasar
SDA Sumber Daya Alam
SDM Sumber Daya Manusia
Sekda Sekretaris Daerah
SHU Sisa Hasil Usaha
SIM Surat Ijin Mengemudi
SMK Sekolah Menengah Kejuruan
SMP Sekolah Menengah Pertama
SMU Sekolah Menengah Umum
SPKD Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah
SPT Surat Pajak Tahunan

SPKD Kabupaten Sleman ix


SSN Social Safety Net
STNK Surat Tanda Nomor Kendaraan
TA Tenaga Ahli
Triple A Atlas Agenda Aturan main
TTG Teknologi Tepat Guna
UED-IRT Unit Ekonomi Desa Ibu Rumah Tangga
UED-SP Unit Ekonomi Desa Simpan Pinjam
UKM Unit Kegiatan Mikro
UUD Undang-Undang Dasar
WC Water Closed

x SPKD Kabupaten Sleman


DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Sambutan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Sleman iii
Kata Pengantar v
Daftar Singkatan vii
Daftar Isi xi
Daftar Tabel dan Diagram xiii
Daftar Lampiran xv
RINGKASAN EKSEKUTIF xvii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan 2
1.3. Metodologi 3
1.3.1. Kerangka Berpikir 3
1.3.1.1. Konsep Kemiskinan 4
1.3.1.2. Pemilihan Data 6
1.3.2. Proses Penyusunan 6
1.4. Ruang Lingkup 7
1.5. Sistematika 8
BAB II GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN 11
2.1. Geografi 11
2.2. Kependudukan 12
2.3. Indikator Kesejahteraan 15
2.3.1. Kesehatan 16
2.3.2. Pendidikan 17
2.3.3. Ketenagakerjaan 17
2.3.4. Perumahan dan Lingkungan 19
2.3.5. Fasilitas Sosial 20
BAB III KONDISI DAN PENYEBAB KEMISKINAN 21
3.1. Data Keluarga Miskin. 21
3.2. Kondisi Kemiskinan 25
3.2.1. Indikator Kemiskinan 25
3.2.2. Penyebab Kemiskinan 29
BAB IV KAJI ULANG KEBIJAKAN DAN PROGRAM 31
4.1. Kebijakan Pemerintah Pusat 31
4.2. Arah Kebijakan Umum Tahun 2004 33
4.3. Program Penanggulangan Kemiskinan Prakarsa Pemda 35
4.4 Insiatif Masyarakat dan Swasta 37
4. 5. Analisis Lingkungan Internal 38
4. 6. Analisis Lingkungan Eksternal 39

SPKD Kabupaten Sleman xi


4. 7. Analisis SWOT 41
4. 8. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan 45
BAB V STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN 47
5.1. Visi 47
5.2. Misi 47
5.3. Tujuan Strategi Penanggulangan Kemiskinan 47
5.4. Strategi dan Pendekatan 47
5.5. Kebijakan dan Program Perluasan Kesempatan 49
5.6. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Masyarakat 53
5.7. Kebijakan dan Program Peningkatan Kapasitas dan Sumberdaya Manusia 56
5.8. Kebijakan dan Program Perlindungan Sosial 60
5.9. Peran KPKD 62
BAB VI SISTEM PEMANTAUAN DAN PENILAIAN 65
6.1. Pemantauan 65
6.2. Penilaian 66
6.3. Peran KPKD 67
BAB VII PENUTUP 69

xii SPKD Kabupaten Sleman


DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM
Tabel 2.1. Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk, Kepadatan Penduduk dan Rasio jenis 13
Kelamin di Kabupaten Sleman Pertengahan Tahun 2004
Tabel 2.2. Banyaknya Rumah tangga, Penduduk dan Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga 13
menurut Kecamatan di Kabupaten Sleman Pertengahan Tahun 2004
Tabel 2.3. Banyaknya Kelahiran, Kematian dan Perpindahan Penduduk Kabupaten Sleman 14
pertengahan tahun 2004
Tabel 2.4. Jenis Pengobatan yang dilakukan Penduduk di Kabupaten Sleman tahun 2003 17
Tabel 2.5. Pendidikan yang ditamatkan Penduduk berusia 10 tahun keatas tahun 2003 17
Tabel 2.6. Status Ketenagakerjaan Penduduk Kabupaten Sleman tahun 2003 18
Tabel 2.7. Bidang Pekerjaan Penduduk KabupatenSleman tahun 2003 .. 18
Tabel 2.8. Pekerjaan Utama Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003 . 19
Tabel 2.9. Jumlah Fasilitas Sosial di Kabupaten Sleman 20
Tabel 3.1. Keluarga Miskin per Kecamatan di Kabupaten Sleman tahun 2003 .. 21
Tabel 3.2. Keluarga Miskin per Desa per Kecamatan di Kabupaten Sleman Tahun 2003 22
Tabel 3.3. Daftar Indikator Kemiskinan 26
Tabel 3.4. Pekerjaan Kepala Keluarga Miskin di 32 Desa 28
Tabel 4.1. Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pusat .. 32
Tabel 4.2. Rekapitulasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman 2004 34
Tabel 4.3. Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Daerah 35
Tabel 4.4. Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Daerah 36
Tabel 4.5. Program PenanggulanganKemskinan Atas Prakarsa Masyarakat, Perguruan Tinggi, 41
LSM dan Swasta
Tabel 4.6. Memperbaiki Kelemahan untuk menangkap Peluang 42
Tabel 4.7. Memanfaatkan kekuatan untuk menekan Ancaman 43
Tabel 5.1. Peran Unsur-unsur KPKD dalam Program Penanggulangan Kemiskinan 46
Tabel 5.2. Unsur Pemerintah Daerah 48
Tabel 5.3. Unsur Swasta 49
Tabel 5.4. Unsur Masyarakat 49
Tabel 5.5. Unsur Pemerintah Daerah 51
Tabel 5.6. Unsur Swasta 52
Tabel 5.7. Unsur Masyarakat 53
Tabel 5.8. Unsur Pemerintah daerah 55
Tabel 5.9. Unsur Swasta 56
Tabel 5.10. Unsur Masyarakat 56
Tabel 5.11. Unsur Pemerintah Daerah 58
Tabel 5.12. Unsur Swasta 59
Tabel 5.13. Unsur Masyarakat 59
Tabel 6.1. Peran Unsur-unsur KPKD dalam Program Penanggulangan Kemiskinan 67
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 1.1 Alur Perencanaan dan Anggaran Daerah 8

SPKD Kabupaten Sleman xiii


xiv SPKD Kabupaten Sleman
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kebijakan dan Program yang berpotensi mendukung upaya 71
penanggulangan kemiskinan
Lampiran 2 Indikator Tingkat kesejahteraan Keluarga 83

SPKD Kabupaten Sleman xv


xvi SPKD Kabupaten Sleman
RINGKASAN EKSEKUTIF
Upaya penanggulangan kemiskinan merupakan bagian tak terpisahkan dari
pelaksanaan pembangunan dan merupakan tanggung jawab semua pihak. Akan
tetapi kenyataan selama ini memperlihatkan bahwa upaya penanggulangan
kemiskinan masih dipandang merupakan urusan pemerintah saja. Akibatnya
keterlibatan masyarakat luas sangat kecil. Dengan dibentuknya Komite
Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) diharapkan terdapat koordinasi
kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan Kabupaten Sleman yang
melibatkan berbagai sektor dan pelaku pembangunan (stakeholders) lainnya.
Strategi Penanggulangan Kemiskinan (SPKD) merupakan instrumen yang
dikembangkan oleh KPKD dalam bentuk rekomendasi kebijakan dan program.
SPKD ini disusun dalam tujuh bab, dengan uraian sebagai berikut:
Bab pertama mengetengahkan pendahuluan yang berisi penjelasan tentang
latar belakang pemikiran beserta tujuan disusunnya SPKD, metodologi yang
digunakan, posisi SPKD serta jangkauan dokumen ini.
Bab dua menyajikan gambaran geografi dan kependudukan Kabupaten Sleman
secara umum. Selain itu disajikan pula Indikator Kesejahteraan Rakyat (Inkesra).
Sajian ini dimaksudkan untuk meletakkan masalah kemiskinan dalam konteks
kependudukan secara luas.
Bab tiga berisi data tentang kemiskinan penduduk disertai informasi tentang hal-
hal yang berkaitan dengannya, termasuk analisis tentang penyebab kemiskinan.
Bab empat membahas kajian ulang terhadap kebijakan dan program
penanggulangan kemiskinan yang pernah ada di Kabupaten Sleman. Kajian ini
meliputi apakah program tersebut berdampak perluasan kesempatan, peningkatan
partisipasi, perlindungan sosial dan apa pembelajaran yang diperoleh. Selain itu
ada pula analisis lingkungan eksternal serta analisis lingkungan internal pada
upaya penanggulangan kemiskinan di Sleman.
Bab lima mengetengahkan strategi dan pendekatan yang hendak digunakan
dalam menanggulangi kemiskinan. Strategi ini disusun berdasar hasil kaji
ulang kebijakan dan program sebagaimana disajikan pada bab sebelumnya.
Perumusan kebijakan dan program yang diperlukan untuk penanggulangan
kemiskinan tersebut berasal dari masing-masing pelaku, yang di kooordinasikan
dan dirumuskan bersama.
Selanjutnya bab enam berisi kegiatan pemantauan dan penilaian. Pemantauan
dilakukan oleh semua pelaku menggunakan metode dan sarana yang dimiliki

SPKD Kabupaten Sleman xvii


oleh masing-masing untuk kemudian dibahas melalui FGD dan MLP. Sedangkan
penilaian mencakup output, outcome dan impact.
Terakhir bab tujuh yaitu penutup, berisi penekanan tentang pentingnya suatu
sinergi program dan kepatuhan untuk mengacu pada kesepakatan yang sudah
menjadi komitmen bersama.
Upaya penanggulangan kemiskian di Kabupaten Sleman selama ini belum
sepenuhnya membuahkan hasil. Penyebabnya adalah tidak tersedianya data-
basis yang akurat serta metode penanggulanan kemiskinan oleh masing-masing
instansi tidak sama sehingga terjadi tumpang-tindih program dan sasaran
kegiatan. Selain itu, banyak dijumpai indikasi penyimpangan. Oleh karena itu
SPKD ini disusun dengan tujuan agar:
1. Terdapat data-basis yang akurat dan sistematis tentang penduduk miskin.
2. Tersedia arah dan pedoman upaya penanggulangan kemiskinan yang dapat
diakses oleh semua pemangku kepentingan.
3. Tercapai keselarasan, koordinasi, dan sinergi antar semua pelaku upaya
penanggulangan kemiskinan.
4. Terdapat pengarus-utamaan penanggulangan kemiskinan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJM Daerah), Rencana Strategis Satuan Kerja
Pemerintah Daerah (Renstra SKPD), RKP Daerah dan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (Renja KPD) Kabupaten Sleman.
Dokumen SPKD ini menggunakan konsep kemiskinan absolut, dalam hal ini
memakai ukuran yang biasa digunakan oleh Bidang Keluarga Berencana (KB).
Pertimbangannya adalah bahwa konsep tersebut bisa berlaku menyeluruh di
semua wilayah Kabupaten Sleman.
Sedangkan kedudukan SPKD dalam tata kebijakan pemerintah Kabupaten
Sleman adalah sebagai masukan untuk diarus-utamakan dalam RPJP Daerah
dan RPJM Daerah, dijabarkan dalam Renja SKPD, dijadikan pedoman dalam
penyusunan Renstra SKPD, serta dijalankan melalui Renja SKPD.
Data kependudukan dan indikator kesejahteraan rakyat (Inkesra) disajikan
dalam SPKD ini agar dapat menjadi petunjuk awal untuk mengetahui kemajuan
upaya penanggulangan kemiskinan. Isinya mencakup data tentang kesehatan,
pendidikan, tenaga kerja, perumahan dan lingkungan.
Jumlah keluarga miskin di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 sebanyak 53.875
atau 23,13% dari total 232.904 kepala keluarga (KK). Agar lebih dekat dengan
realita dan agar upaya penanggulangan kemiskinan menjadi lebih tepat sasaran
maka data kemiskinan di atas dilihat lebih mendalam yaitu per desa. Dengan

xviii SPKD Kabupaten Sleman


cara demikian bisa diketahui di mana letak kantung-kantung kemiskinan di
Kabupaten Sleman.
Kondisi kemiskinan dilihat setidaknya dari tiga dimensi, yaitu dimensi ekonomi,
sosial, dan fisik. Masing-masing dimensi terdiri atas beberapa aspek. Dari tiap-
tiap aspek tersebut didapat indikasi kemiskinannya.
Gambaran lain tentang kondisi keluarga miskin di Kabupaten Sleman dapat
dilihat dari pekerjaan kepala keluarga. Dari Kelompok Belajar Perkotaan(KBP)
di 32 desa diketahui bahwa yang terbanyak adalah bekerja sebagai buruh (11.172)
disusul pedagang (1.501) dan terkecil adalah petani (850).
Kebijakan nasional untuk penanggulangan kemiskinan terdiri atas banyak
jenis. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa upaya penanggulangan
kemiskinan pada masa lalu memperlihatkan ciri-ciri: (a) Kebijakan terpusat
dan seragam; (b) Lebih bersifat karitatif; (c) Memposisikan masyarakat sebagai
obyek, yaitu tidak melibatkan mereka dalam keseluruhan proses penanggulangan
kemiskinan; (d) Memandang masalah kemiskinan hanya dari segi ekonomi; (e)
Menganggap bahwa permasalahan dan penanggulangan kemiskinan bersifat
sama (one-fit-for-all); (f) Kurang memperhatikan keragaman budaya; (g)
Pendekatannya top down; (h) Terdapat tumpang-tindih (overlapping) kelompok
sasaran antara program yang satu dengan program lainnya; dan (i) Kebijakannya
bersifat sektoral.
Sementara itu, kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Sleman yang terkait
dengan upaya penanggulangan kemiskinan tercatat antara lain : bantuan
pelayanan kesehatan, beras miskin, gaduh ternak, bantuan susu untuk Ibu
hamil, bantuan susu untuk murid, dana gotong-royong, bantuan dana bergulir,
bantuan aspal, bantuan organisasi sosial, koperasi UKM, dan beasiswa. Sekalipun
demikian kenyataan menunjukkan bahwa setiap tahun jumlah KK miskin masih
terus bertambah. Dari kajian terhadap Arah Kebijakan Umum (AKU) Kabupaten
Sleman tahun 2004 diketahui bahwa secara umum kebijakan lembaga-lembaga
pemerintah belum mengarus-utamakan penanggulangan kemiskinan.
Adapun kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh kalangan
swasta dan masyarakat di Kabupaten Sleman baru dapat ditelaah secara sederhana
karena belum tersedia data secara menyeluruh. Hal ini tidak berarti bahwa
kalangan swasta dan masyarakat belum melakukan kegiatan penanggulangan
kemiskinan. Mereka melakukan kegiatan tersebut namun belum terkoordinasi
sehingga datanya disimpan oleh masing-masing pihak.
Agar penanggulangan kemiskinan dapat berhasil guna secara optimal dibutuhkan
strategi untuk menjalanan kebijakan dan program. Strategi yang diterapkan
adalah:

SPKD Kabupaten Sleman xix


1. Mengintregasikan program masyarakat, pemerintah, dan swasta
2. Mendudukkan keluarga miskin sebagai pelaku utama dalam program pe-
nanggulangan kemiskinan
3. Mensenyawakan SPKD dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah dan Ren-
cana Strategi Satuan Kerja Pemerintah Daerah (Renstra – SKPD).
Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan publik
yang berpihak kepada orang miskin (pro poor policy). Kebijakan ini harus
diterjemahkan dalam pembangunan yang berpihak kepada kaum miskin (pro
poor development) dan pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada orang
miskin (pro poor growth).
Secara operasional arah penanggulangan kemiskinan dapat dikelompokkan
dalam empat kebijakan dan program, yaitu perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, dan perlindungan
sosial. Keempat kebijakan dan program tersebut harus dilaksanakan secara
sinergis oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Sistem pemantauan dan penilaian (monitoring and evaluation system) dalam
program penanggulangan kemiskinan tidak lain merupakan kesepakatan
bersama untuk saling terbuka dan bersedia menerima masukan dari segenap
pemangku kepentingan. Hal ini karena: (a) Upaya penanggulangan kemiskinan
tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja, melainkan harus melibatkan
semua pemangku kepentingan. (b) Karena melibatkan banyak pihak maka
harus partisipatif. Untuk benar-benar partisipatif diperlukan transparansi.
(c) Meskipun semua pihak telah mengambil peran dalam penanggulangan
kemiskinan, mereka seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus
dalam koordinasi. Koordinasi dapat dicapai antara lain melalui pemantauan dan
keterbukaan semua pelaku.
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pemantuan dan penilaian ini meliputi:
Pelaporan kegiatan oleh masing-masing pelaku melalui; dialog dan diskusi
insidental antara Pengurus KPKD dengan para pelaku atau pemangku
kepentingan; Musyawarah Lintas Pelaku (MLP); dan Pemberitaan media
massa.
Upaya penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk mendidik masyarakat
miskin untuk terus-menerus menemukenali potensi yang dimiliki baik individu,
keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Material, sumberdaya dan
ketrampilan selalu diarahkan sebagai modal dasar untuk kesejahteraan hidup.
Oleh karena itu didorong tumbuhnya rasa percaya diri akan kemampuannya
untuk lepas dari belenggu kemiskinan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran

xx SPKD Kabupaten Sleman


bahwa tidak akan ada individu, kelompok yang dapat keluar dari belenggu
kemiskinan selain atas usaha individu, keluarga dan lingkungan itu sendiri.

SPKD Kabupaten Sleman xxi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Acuan dasar penanggulangan kemiskinan secara filosofi terkandung dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Negara Indonesia melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Batang
tubuh Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menegaskan bahwa negara
berkewajiban untuk mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh
rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai
dengan martabat kemanusiaan. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, serta setiap orang berhak atas
jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai
manusia yang bermartabat. Dengan demikian jelas bahwa negara, yang berarti
semua pelaku dan bukan hanya pemerintah, termasuk Kabupaten Sleman
mendapat mandat untuk menanggulangi kemiskinan.
Kenyataan selama ini memperlihatkan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan
masih dipandang merupakan urusan pemerintah saja. Pandangan demikian itu
bukan hanya datang dari masyarakat melainkan juga dari kalangan pemerintah
sendiri. Akibatnya keterlibatan masyarakat luas sangat kecil. Salah satunya
karena peluang partisipasi belum dibuka, sedangkan kenyataan menunjukkan
bahwa persoalan kemiskinan tak kunjung teratasi. Jumlah penduduk miskin
semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hasil pendataan Bidang KB selama
kurun waktu lima tahun 1998 – 2004 menunjukkan bahwa jumlah keluarga
miskin di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan cukup berarti. Pada tahun
1998 jumlahnya 8.294 KK. Tahun 1999 naik menjadi 33.157 KK, kemudian tahun
2000; 39.406 KK, tahun 2001; 46.619 KK, tahun 2002; 49.669 KK, tahun 2003;
53.567 KK dan terakhir tahun 2004 sebanyak 53.875 KK.
Bertambahnya penduduk miskin itu dapat terjadi karena setidaknya dua
masalah. Masalah pertama karena tidak tersedianya data-basis yang akurat
yang dapat dirujuk semua pihak. Padahal akurasi data basis sangat penting
untuk mengetahui secara pasti jumlah awal dan jumlah akhir sehingga dapat
diketahui pengurangan atau peningkatannya. Masalah kedua metode pendataan
yang digunakan oleh masing-masing instansi tidak sama. Akibatnya tidak ada
koordinasi antar pelaku sehingga terjadi tumpang-tindih program dan tumpang-
tindih sasaran kegiatan, bahkan dalam pelaksanaan di lapangan banyak dijumpai
indikasi penyimpangan.

SPKD Kabupaten Sleman 1


Untuk mengatasi permasalahan di atas dibutuhkan sebuah strategi
penanggulangan kemiskinan daerah (SPKD) yang handal yang bisa dijadikan
dasar dan rujukan semua pihak yang hendak melakukan upaya penanggulangan
kemiskinan di Kabupaten Sleman. SPKD dapat handal jika dibangun melalui
mekanisme penyusunan yang cermat, mendalam dan partisipatif.
Kebijakan tersebut diharapkan menjadi acuan penanggulangan kemiskinan yang
dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, swasta, organisasi non-pemerintah
dan komponen masyarakat lainnya. Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan
dalam SPKD ini berciri:
1.1.1. Mengutamakan kepentingan rakyat, memihak dan mendahulukan rakyat
miskin.
1.1.2. Menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, keadilan dan kemartabatan.
1.1.3. Menumbuh-kembangkan partisipasi masyarakat menuju keswadayaan
dan kemandirian.
1.1.4. Aspirasi masyarakat miskin disalurkan untuk ditransformasikan dalam
kebijakan sosial, ekonomi dan politik yang dilandasi semangat kemitraan
dan kesetaraan.
1.1.5. Menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM), demokratisasi, desentralisasi
dan good governance.
1.1.6. Penanggulangan kemiskinan sebagai arus utama pembangunan
berkelanjutan.
1.1.7. Transformasi masyarakat menuju masyarakat Kabupaten Sleman yang
sejahtera, adil dan makmur.
1.1.8. Pengembangan hubungan antara masyarakat dan pemerintah melalui
interaksi untuk menumbuhkan hubungan interdependensi antar pelaku
pembangunan.
Dengan keterlibatan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dalam
penyusunan SPKD diharapkan ada ketepatan dalam menangkap esensi persoalan,
perumusan target dan sasaran, serta dayaguna dan hasil guna yang optimal.

1.2. Tujuan
Dokumen SPKD ini disusun dengan tujuan agar:
1.2.1. Terdapat data-basis yang akurat dan sistematis tentang penduduk miskin
di Kabupaten Sleman.

2 SPKD Kabupaten Sleman


1.2.2. Tersedia arah dan pedoman upaya penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman yang dapat diakses oleh semua pemangku
kepentingan.
1.2.3. Tercapai keselarasan, koordinasi dan sinergi antar semua pelaku dalam
upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman.
1.2.4. Terdapat pengarus-utamaan penanggulangan kemiskinan dalam RPJP
Daerah, RPJM Daerah, Renstra SKPD, RKP Daerah dan Renja SKPD
Kabupaten Sleman.

1.3. Metodologi
Metodologi dalam SPKD ini mencakup dua pokok bahasan, yaitu kerangka
berfikir yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan; dan
proses penyusunannya. Kedua pokok bahasan tersebut dimaksudkan untuk
menunjukkan alur pikir yang runtut dalam dokumen ini.

1.3.1. Kerangka Berfikir


Menurut ahli, setidaknya ada tiga macam konsep kemiskinan yang sering
dipakai, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan subyektif.
Konsep kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu
yang konkret dan lazimnya berorientasi pada kebutuhan hidup dasar minimum
anggota masyarakat yaitu sandang, pangan dan papan. Konsep kemiskinan
relatif dirumuskan dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Dasar
asumsinya adalah kemiskinan di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya,
dan kemiskinan pada waktu tertentu berbeda dengan waktu yang lain. Tolok ukur
yang digunakan adalah berdasar pertimbangan anggota masyarakat tertentu,
dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup. Sedang konsep kemiskinan
subyektif dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin itu sendiri. Oleh
karena itu dimungkinkan bahwa kelompok yang menurut ukuran kita berada di
bawah garis kemiskinan, boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri miskin,
dan demikian pula sebaliknya. Sementara kelompok yang dalam penilaian kita
tergolong hidup layak, boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri semacam
itu, demikian pula sebaliknya.
Untuk mendekati masalah kemiskinan terdapat dua macam perspektif, yaitu
kultural dan struktural atau situasional. Perspektif kultural mendekati masalah
kemiskinan pada tiga tingkat analisis, yaitu individual, keluarga dan masyarakat.
Pada tingkat individual, kemiskinan ditandai sifat-sifat seperti: sikap parochial,
apatisme, fatalisme atau pasrah pada nasib, boros, tergantung dan inferior. Pada
tingkat keluarga, kemiskinan ditandai dengan jumlah keluarga yang besar.
Sedang pada tingkat masyarakat, kemiskinan terutama ditunjukkan oleh tidak

SPKD Kabupaten Sleman 3


terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-insttitusi masyarakat yang efektif.
Kaum miskin sering kali memperoleh perlakuan sebagai obyek yang perlu
digarap daripada sebagai subyek yang perlu diberi peluang untuk berkembang.
Sementara itu perspektif situasional melihat masalah kemiskinan sebagai dampak
dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk
teknologi modern. Penetrasi kapital antara lain terwujud dalam program-progam
pembangunan yang terlalu mengutamakan pertumbuhan ekonomi semata dan
kurang memperhatikan pemerataan. Program pembangunan semacam ini
hanya menguntungkan kelompok masyarakat yang kaya karena: (a) Terkait
dengan akumulasi modal, kelompok masyarakat kaya mendapat kesempatan
lebih banyak untuk mendapat aset-aset tambahan sehingga dapat lebih cepat
berkembang. (b) Terkait dengan fungsi lembaga khususnya lembaga ekonomi
yang memang sangat dibutuhkan dalam menghadapi kemajuan jaman, ternyata
juga hanya kelompok kaya yang dapat menikmatinya.

1.3.1. 1. Konsep Kemiskinan


Konsep kemiskinan yang digunakan dalam dokumen SPKD ini adalah konsep
kemiskinan absolut, yaitu dengan memakai ukuran yang biasa digunakan oleh
Bidang Keluarga Berencana (KB). Pertimbangannya adalah bahwa konsep tersebut
bisa berlaku menyeluruh di semua wilayah Kabupaten Sleman. Hal ini berbeda
dengan konsep kemiskinan subyektif sebagaimana diterapkan Komunitas Belajar
Perkotaan (KBP) yang difasilitasi oleh Proyek Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan (P2KP) yang hanya berlaku pada masing-masing wilayah setempat.
Namun data yang dikumpulkan KBP dengan konsep kemiskinan subyektif
tersebut tetap digunakan sebagai pembanding. Pertimbangan lainnya adalah
kenyataan bahwa data dari Bidang KB tersedia secara lengkap, menyeluruh dan
senantiasa diperbaharui setiap tahun. Sebaliknya data dari KBP sampai saat ini
hanya tersedia pada 32 desa, padahal jumlah desa di Kabupaten Sleman sebanyak
86 desa.
Uraian mengenai konsep kemiskinan diawali dengan memaparkan ide dasar
atau klasifikasi awal yang digunakan, disusul penjelasan tentang indikator
yang digunakan berikut argumentasinya, kemudian menunjukkan metode
penggolongan keluarga miskin.
Sudah sejak lama Bidang KB secara rutin melakukan pendataan untuk
mengetahui tingkat kesejahteraan (bahasa halus dari ”tingkat kemiskinan”)1
keluarga di Kabupaten Sleman. Dari hasil pendataan tersebut kemudian dibuat 5
kategori, yaitu: Keluarga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera I, Keluarga Sejahtera
II, Keluarga Sejahtera III, dan Keluarga Sejahtera III Plus.
1
Patut ditelusuri apakah frasa “tingkat kesejahteraan” hanya merupakan penghalusan dari frasa
“tingkat kemiskinan” berhubung pada esensinya ketidak-sejahteraan sama dengan kemiskinan.

4 SPKD Kabupaten Sleman


Terdapat 23 indikator yang digunakan dalam pendataan tersebut. Semakin
banyak indikator yang dapat dipenuhi oleh sebuah keluarga, semakin tinggi
tingkat kesejahteraan keluarga tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit indikator
yang dapat dipenuhi oleh sebuah keluarga, semakin rendah tingkat kesejahteraan
keluarga tersebut. Ke-23 indikator tersebut sebenarnya bersumber dari 5
(lima) variabel, yaitu: kerohanian, pangan, sandang, papan dan lingkungan
sosial. Masing-masing dari kelima variabel tersebut diberi nilai bertingkat atau
berjenjang dalam lima tingkat. Jumlah indikator tiap-tiap variabel pada tingkat
yang berbeda tidak selalu sama. Kombinasi dari semua itu menghasilkan lima
kategori keluarga mulai dari pra-sejahtera hingga keluarga sejahtera III plus.
Gambaran lebih rinci mengenai variabel dan indikator kesejahteraan keluarga
dapat diperiksa pada lampiran 1.
Terkait dengan variabel dan indikator-indikator tersebut terdapat beberapa hal
yang perlu dicatat. Pertama, selama ini terdapat penilaian oleh sebagian kalangan
bahwa indikator yang digunakan Bidang KB tidak tepat karena mengukur
kemiskinan hanya dari lantai rumah sebuah keluarga. Dalam kaitan ini yang
perlu diperhatikan adalah bahwa lantai rumah bukan merupakan satu-satunya
indikator yang digunakan. Letak kekeliruan utamanya adalah pada tindakan
intervensinya, bukan pada indikatornya. Maksudnya, lantai rumah yang masih
berupa tanah memang merupakan salah satu indikasi kemiskinan keluarga.
Tetapi upaya menanggulangi kemiskinan dengan cara menghilangkan indikator
jelas merupakan langkah yang tidak tepat apabila soal kemiskinannya sendiri
tidak ditangani. Contoh, proyek pemberian semen untuk membangun lantai
(lantainisasi) berasumsi bahwa jika indikatornya dihilangkan maka keluarga
tersebut tidak lagi disebut miskin.
Kedua, dalam perkembangan belakangan ini pendataan keluarga miskin sering
mendapat intervensi dari berbagai kepentingan lain sehingga data yang didapat
tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, perlu ada
pemeriksaan silang (crosscheck) dan kehati-hatian dalam menggunakan data.
Ketika fokus pendataan bergeser dari mengukur kesejahteraan menjadi
mengukur kemiskinan, metode yang ditempuh ialah dengan mengambil data
jumlah keluarga pra-sejahtera ditambah keluarga sejahtera I. Dari jumlah
tersebut kemudian diteliti ulang dengan memisahkan faktor ekonomi (pangan,
sandang, papan) dari faktor non-ekonomi (rohani & lingkungan sosial). Keluarga
yang masuk kategori pra-sejahtera karena alasan ekonomi, digolongkan sebagai
keluarga miskin sekali. Sedang keluarga yang masuk kategori sejahtera I karena
alasan ekonomi digolongkan sebagai keluarga miskin. Kriteria keluarga miskin
yang sekarang dipakai adalah hasil penggabungan keluarga miskin sekali (pra-
sejahtera karena alasan ekonomi) dan keluarga miskin (keluarga sejahtera I karena
alasan ekonomi). Dalam kaitan ini perlu dicatat bahwa, jika dirunut asal-muasal

SPKD Kabupaten Sleman 5


penetapannya, data dari Bidang KB merupakan ”angka-angka taksiran tinggi”.
Hal itu karena tidak semua keluarga yang selama ini digolongkan Pra Keluarga
Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I dengan sendirinya tergolong miskin.

1.3.1. 2. Pemilihan Data


Telah menjadi pengetahuan umum bahwa data kemiskinan tersedia dalam
berbagai versi, dengan dasar penghitungan berbeda dan jumlah akhir yang
beragam. Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, menggunakan individu sebagai
dasar penghitungan. Hal ini kurang-lebih sama dengan cara penghitungan
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sementara itu Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) menggunakan keluarga sebagai satuan
penghitungan. Ada pula lembaga lain yang menghitung kemiskinan dengan
satuan desa, dengan indikator berupa sarana dan prasarana yang terdapat di
tiap-tiap desa, seperti yang dilakukan dalam program Inpres Desa Tertinggal
(IDT) dan Program Pemberdayaan Masyarakat dan Prasarana Desa (P2MPD).
Karena satuan hitungan dan tolok ukurnya berbeda, maka berbeda pula hasil
penghitungan akhir. Sehingga banyak pihak kemudian menjumpai data
kemiskinan yang berlainan untuk satuan wilayah yang sama.
Dalam SPKD ini data kemiskinan yang digunakan adalah data Bidang KB yang
dilengkapi dengan data pembanding yaitu data KBP yang difasilitasi oleh P2KP.
Jadi dalam hal ini digunakan konsep kemiskinan absolut, didampingi konsep
kemiskinan relatif. Keduanya menggunakan unit analisis yang sama, yaitu
keluarga.
Adapun pertimbangannya adalah: (i) sesuai dengan nilai-nilai sosial pada
masyarakat kabupaten Sleman, kemiskinan atau kekayaan seseorang selalu
dikaitkan dengan keluarga. (ii) program-program pembangunan masyarakat
selama ini juga banyak yang menggunakan keluarga sebagai satuan hitungan.
(iii) data Bidang KB merupakan data yang rinci, yang mencakup nama orang
per orang (by name) berikut lokasi tempat tinggalnya. Selain itu, data Bidang
KB tersedia merata di semua desa dengan pola yang konsisten. Konsistensi pola
dan ketersediaan data secara merata merupakan hal yang penting untuk dapat
digunakan sebagai acuan. (iv) data KBP yang dilaksanakan di 32 desa di Sleman
juga menggunakan data Bidang KB pada awal penentuan lokasinya.

1.3.2. Proses Penyusunan


Proses penyusunan SPKD ini tidak semata-mata hanya mementingkan output
yaitu berupa sebuah dokumen, melainkan juga sangat mempertimbangkan proses
partisipatif, yaitu melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di
Kabupaten Sleman. Hal ini dimaksudkan agar terdapat kepedulian dan rasa

6 SPKD Kabupaten Sleman


tanggung jawab bersama untuk melaksanakan kesepakatan dalam dokumen
ini.
Proses penyusunan SPKD ini dimulai dengan rangkaian lokakarya pertama
yang menitikberatkan pada penyamaan persepsi terhadap kemiskinan dan
menciptakan wahana untuk saling mengenal antar pelaku. Dalam rangkaian
lokakarya itu dilakukan diskusi kelompok terarah di dalam Komunitas Belajar
Perkotaan (City Learning Community; CLC) yang dimaksudkan untuk merefleksi
kemiskinan dan memahami aspirasi masyarakat miskin. Simultan dengan
kegiatan tersebut mulai dapat diidentifikasi sosok-sosok yang diharapkan dapat
bertindak sebagai motor penggerak program penanggulangan kemiskinan
selanjutnya. Pada akhir tahapan inilah orang - orang pemeduli sebagai penggerak
dipilih sebagai pengurus KPKD.
Selanjutnya dilakukan diskusi tematik melalui kelompok-kelompok berdasarkan
minat (interes) masing-masing pelaku dalam sebuah Kelompok Kerja (Pokja).
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kegiatan yang selama ini di-
tekuni oleh para pelaku agar dapat diakomodasikan dalam dokumen startegi
penanggulangan kemiskinan sehingga tercipta program dan kegiatan yang sin-
ergis.
Kebijakan dan Program yang tersusun dalam SPKD merupakan kompilasi hasil
diskusi tematik yang dilakukan oleh masing-masing kelompok kerja secara
partisipatif. Metaplan disepakati sebagai proses partisipatif untuk menggali
permasalahan mendasar, kebutuhan dan potensi yag dimiliki oleh masyarakat
setempat. Metaplan merupakan metoda yang berciri:
1.3.2.1. Menekankan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan.
1.3.2.2. Menekankan pendekatan program yang berorientasi pada dampak.
1.3.2.3. Memperhatikan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam meny-
etujui sebuah rencana.
1.3.2.4. Menekankan identitas anonim dan teknik visualisasi dalam sebuah
diskusi secara berkelompok.

1.4. Ruang Lingkup


Sampai saat ini Kabupaten Sleman belum memiliki data yang pasti dan bersifat
resmi mengenai jumlah penduduk miskin. Di samping data khusus menyangkut
kemiskinan, data yang disajikan dalam SPKD adalah data umum dari BPS
dan Bappeda Kabupaten Sleman yang diolah sesuai kebutuhan. Mengenai
aktualitasnya, semua data yang digunakan di sini adalah data terakhir yang
tersedia yakni pada tahun 2002 – 2004.

SPKD Kabupaten Sleman 7


Terkait adanya rencana Pemerintah Kabupaten Sleman untuk melakukan
pendataan keluarga miskin pada tahun 2005, hasilnya kelak juga akan digunakan
untuk menyempurnakan SPKD ini.
Kedudukan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dalam tata
kebijakan pemerintah daerah diharapkan akan diserap dan diarus-utamakan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) daerah dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah), dijabarkan dalam
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dijadikan pedoman dalam
penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Pemerintah Daerah (Renstra SKPD),
serta dijalankan melalui Rencana Kerja pada tiap-tiap Satuan Kerja Pemerintah
Daerah (Renja – SKPD).
Undang-Undang nomor 25 Tahun 2004 menetapkan bahwa Rencana Jangka
Panjang Daerah (RPJP Daerah) harus mengacu pada RPJP Nasional, dan
memuat Visi, Misi, serta arah pembangunan daerah. Kemudian Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah merupakan penjabaran visi,
misi, dan program Kepala Daerah. RPJM Daerah berpedoman pada Rencana
Pembangunan jangka Panjang (RPJP) Daerah dan memperhatikan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional. Isi RPJM Daerah meliputi:
(i) Strategi Pembangunan Daerah; (ii) Kebijakan Umum; (iii) Arah Kebijakan
Keuangan Daerah; dan (iv) Program Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD),
program lintas SKPD, program kewilayahan, dan program lintas kewilayahan
yang memuat kegiatan dalam kerangka regulasi dan kerangka anggaran.

Diagram1.1. Kedudukan SPKD dalam tata kebijakan pemerintah Daerah.


ALUR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DAERAH

���� ���� ���


����� ����
������ ������ ������

����
������� ����� ��� �������
���� ���� ���� ����

Sumber: diolah dari UU 25/2004

8 SPKD Kabupaten Sleman


1.5. Sistematika
Dokumen SPKD ini disusun dalam tujuh bab yang terdiri:
Bab pertama mengetengahkan pendahuluan yang berisi penjelasan tentang
latar belakang pemikiran beserta tujuan disusunnya SPKD, metodologi yang
digunakan, posisi SPKD serta jangkauan dokumen ini.
Bab dua menyajikan gambaran geografi dan kependudukan Kabupaten Sleman
secara umum. Sajian ini dimaksudkan untuk meletakkan masalah kemiskinan
dalam konteks kependudukan secara luas.
Bab tiga berisi data tentang kemiskinan penduduk disertai informasi tentang hal-
hal yang berkaitan dengannya, termasuk analisis tentang penyebab kemiskinan.
Bab empat membahas kajian ulang terhadap kebijakan dan program
penanggulangan kemiskinan yang pernah ada di Kabupaten Sleman. Kajian ini
meliputi apakah program tersebut berdampak perluasan kesempatan, peningkatan
partisipasi, perlindungan sosial dan apa pembelajaran yang diperoleh. Disajikan
pula analisis lingkungan eksternal serta analisis lingkungan internal pada upaya
penanggulangan kemiskinan di Sleman.
Bab lima mengetengahkan strategi dan pendekatan yang hendak digunakan
dalam menanggulangi kemiskinan. Strategi ini disusun berdasar hasil kaji ulang
kebijakan dan program sebagaimana disajikan pada bab sebelumnya. Disajikan
pula perumusan kebijakan dan program yang diperlukan untuk penanggulangan
kemiskinan. Kebijakan dan program tersebut berasal dari masing-masing pelaku,
yang di koordinasikan dan dirumuskan bersama.
Selanjutnya bab enam berisi kegiatan pemantauan dan penilaian. Pemantauan
dilakukan oleh semua pelaku menggunakan metode dan sarana yang dimiliki
oleh masing-masing untuk kemudian dibahas melalui FGD dan MLP. Sedangkan
penilaian mencakup output, outcome dan impact.
Terakhir bab tujuh, yaitu penutup, berisi penekanan tentang pentingnya suatu
sinergi program dan kepatuhan untuk mengacu pada kesepakatan yang sudah
menjadi komitmen bersama.

SPKD Kabupaten Sleman 9


10 SPKD Kabupaten Sleman
BAB II
GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN

2.1. Geografi
Wilayah Kabupaten Sleman terbentang pada 107° 15’ 03’’ hingga 100° 29’ 30’’
Bujur Timur dan 7° 34’ 51’’ hingga 7° 47’ 03’’ Lintang Selatan, dengan ketinggian
100 – 2500 meter di atas permukaan laut. Jarak terjauh Utara – Selatan lebih-
kurang 32 km dan Timur – Barat lebih-kurang 35 km, dengan luas 574,82
km2 (= 57.482 ha). Secara administratif terdiri dari 17 kecamatan, 86 desa dan
1212 dusun. Bagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Boyolali Propinsi
Jawa Tengah, bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Propinsi
Jawa Tengah, bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Kota
Yogyakarta, Propinsi DIY dan bagian Barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon
Progo, Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Keadaan tanah di kabupaten Sleman di bagian selatan relatif datar kecuali di
sebagian wilayah kecamatan Prambanan dan kecamatan Gamping. Semakin ke
utara keadaan tanah relatif semakin miring dan menjadi terjal di sekitar Gunung
Merapi. Dapat dikatakan bahwa wilayah bagian Selatan merupakan dataran
rendah yang subur, sedang bagian utara umumnya merupakan tanah kering yang
berupa ladang dan pekarangan. Di lereng Selatan Gunung Merapi terdapat dua
buah bukit, yaitu Bukit Turgo dan Bukit Plawangan yang merupakan bagian dari
kawasan wisata Kaliurang. Beberapa sungai yang mengalir melalui Kabupaten
Sleman menuju Pantai Selatan antara lain Sungai Progo, Krasak, Sempor, Nyoho,
Kuning dan Boyong.
Ketinggian wilayah dapat dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu: (a)
wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 meter seluas 6.203 ha (10,79%);
(b) wilayah dengan ketinggian 100 – 499 meter seluas 43.246 ha (75,32%); (c)
wilayah dengan ketinggian 500 – 999 meter seluas 6.538 ha (11,38%); dan (d)
wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter seluas 1.495 ha (2,60%). Jadi,
sebagian terbesar wilayah Kabupaten Sleman berada pada ketinggian 100 – 500
meter di atas permukaan laut.
Kondisi iklim di sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman termasuk tropis
basah, dengan curah hujan rata-rata 2.206,6 mm/tahun, sedang jumlah hari
hujan pada tahun 2003 rata-rata 83 hari.
Dari segi tata guna tanah, hampir separo dari luas wilayah adalah tanah
pertanian yang subur dengan irigasi teknis di bagian barat dan selatan. Proporsi

SPKD Kabupaten Sleman 11


penggunaan lahan pada tahun 2003 meliputi: sawah (23.361 ha), tegalan (6.440
ha), pekarangan (18.832 ha), dan lain-lain (8.849 ha).

2.2. Kependudukan
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik bersama Bappeda
Kabupaten Sleman menyebutkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Sleman
pada pertengahan tahun 2004 berjumlah 889.639 jiwa, terdiri atas 440.466
laki-laki dan 449.173 perempuan. Rasio jenis kelamin (sex ratio) adalah 98,06,
yakni untuk setiap 100 orang perempuan terdapat penduduk laki-laki sebanyak
98 orang. Penyebarannya bervariasi antar kecamatan, dengan jumlah terbesar
di kecamatan Depok sebanyak 115.930 (13,03%), diikuti kecamatan Gamping,
Mlati, dan Ngaglik. Sedang kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil adalah
Cangkringan, yakni 27.310 jiwa.
Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Sleman pada pertengahan tahun 2003
adalah 1.547 jiwa per km2. Kecamatan-kecamatan yang kepadatannya di atas
rata-rata meliputi Depok (3.261 jiwa/km2), Mlati (2.485 jiwa/km2), dan Gam-
ping (2.426 jiwa/km2). Sedang kecamatan-kecamatan yang kepadatannya ren-
dah meliputi Cangkringan (569 jiwa/km2), Pakem (731 jiwa/km2), dan Turi (787
jiwa/km2). Data rinci mengenai hal tersebut dapat diperiksa pada tabel 2.1.

12 SPKD Kabupaten Sleman


Tabel 2.1 Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk, Kepadatan Penduduk, dan Rasio Jenis Kelamin di
Kabupaten Sleman, Pertengahan Tahun 2004
Jumlah Kepadatan per
No Kecamatan Luas km2 Sex ratio
Penduduk km2
1 Moyudan 27,62 34.277 1.241 95,87
2 Minggir 27,27 35.081 1.286 94,57
3 Seyegan 26,63 43.020 1.615 95,10
4 Godean 26,84 59.617 2.221 98,90
5 Gamping 29,25 70.970 2.426 99,39
6 Mlati 28,52 70.885 2.485 101,09
7 Depok 35,55 115.930 3.261 107,37
8 Berbah 22,99 41.778 1.817 95,12
9 Prambanan 41,35 45.008 1.088 91,49
10 Kalasan 35,84 56.360 1.572 94,41
11 Ngemplak 35,71 47.036 1.317 95,36
12 Ngaglik 38,52 70.687 1.835 97,78
13 Sleman 31,32 58.049 1.853 98,09
14 Tempel 32,49 47.643 1.466 98,03
15 Turi 43,09 33.925 787 97,07
16 Pakem 43,84 32.053 731 94,84
17 Cangkringan 47,99 27.310 569 93,54
Kabupaten 574,82 889.629 1.547 98,06
Sumber: BPS & Bappeda Kabupaten Sleman, Penduduk Kabupaten Sleman, Hasil Registrasi Penduduk
Pertengahan Tahun 2004. Sleman, BPS Kabupaten Sleman, 2004, hlm.7

Seluruh penduduk Kabupaten Sleman yang pada pertengahan tahun 2004


berjumlah 889.629 jiwa, berhimpun dalam keluarga (rumah tangga) yang
jumlahnya 232.519. Dengan demikian rata-rata jiwa per rumah tangga adalah
3,83, yang artinya setiap rumah tangga dihuni 4 orang. Data rinci mengenai hal
tersebut dapat diperiksa pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Banyaknya Rumahtangga, Penduduk, dan Rata-rata Jiwa per Rumah tangga Menurut
Kecamatan di Kabupaten Sleman, Pertengahan Tahun 2004
Rerata Jiwa
No Kecamatan Rumah tangga Penduduk
per Rumah tangga
1 Moyudan 8.590 34.277 3,99
2 Minggir 7.799 35.081 4,50
3 Seyegan 11.257 43.020 3,82
4 Godean 15.584 59.617 3,83
5 Gamping 14.006 70.970 5,07
6 Mlati 22.859 70.885 3,10
7 Depok 30.028 115.930 3,86

SPKD Kabupaten Sleman 13


8 Berbah 10.744 41.778 3,89
9 Prambanan 12.572 45.008 3,58
10 Kalasan 16.307 56.360 3,46
11 Ngemplak 11.303 47.036 4,16
12 Ngaglik 18.877 70.687 3,74
13 Sleman 15.367 58.049 3,78
14 Tempel 12.913 47.643 3,69
15 Turi 8.144 33.925 4,17
16 Pakem 8.516 32.053 3,76
17 Cangkringan 7.653 27.310 3,57
Kabupaten 232.519 889.629 3,83
Sumber: BPS & Bappeda Kabupaten Sleman, Penduduk Kabupaten Sleman, Hasil Registrasi Penduduk Per-
tengahan Tahun 2004. Sleman, BPS Kabupaten Sleman, 2004, hlm.19

Jumlah penduduk di Kabupaten Sleman dari tahun ke tahun cenderung


meningkat, seperti terlihat pada tabel 2.3. Kondisi demikian dapat menambah
kesulitan upaya penanggulangan kemiskinan karena: (a) Pertambahan penduduk
dengan sendirinya mengubah jumlah absolut maupun komposisi penduduk
sehingga menambah ketidakpastian jumlah sasaran program penanggulangan
kemiskinan. (b) Pertambahan yang drastis berpotensi menimbulkan penilaian
bahwa dari waktu ke waktu tidak ada perubahan yang signifikan atas hasil
penanggulangan kemiskinan. (c) Apabila pertambahan penduduk karena migrasi
didominasi oleh mereka yang berkategori miskin, maka dengan sendirinya angka
kemiskinan menjadi semakin bertambah dari waktu ke waktu.

Tabel 2.3 Banyaknya Kelahiran, Kematian, dan Perpindahan Penduduk Kabupaten Sleman, Keadaan
Pertengahan Tahun 2004
No Kecamatan Lahir Mati Datang Pergi Selisih
1 Moyudan 188 108 115 61 134
2 Minggir 168 103 99 73 91
3 Seyegan 203 88 122 78 159
4 Godean 311 147 340 207 297
5 Gamping 387 144 529 237 535
6 Mlati 435 127 542 368 482
7 Depok 567 279 1,276 743 821
8 Berbah 215 78 169 88 218
9 Prambanan 196 76 140 81 179
10 Kalasan 284 129 170 152 173
11 Ngemplak 256 97 320 104 375
12 Ngaglik 353 147 778 347 637
13 Sleman 461 164 292 192 397
14 Tempel 329 217 417 637 (108)

14 SPKD Kabupaten Sleman


15 Turi 253 85 63 48 183
16 Pakem 187 104 184 82 185
17 Cangkringan 159 70 85 35 139
Kabupaten 4,952 2,163 5,641 3,533 4,897
Sumber: Diolah dari BPS & Bappeda Kabupaten Sleman, Penduduk Kabupaten Sleman, Hasil Registrasi
Penduduk Pertengahan Tahun 2004. Sleman, BPS Kabupaten Sleman, 2004

Tabel di atas menunjukkan bahwa keadaan pada pertengahan tahun 2004 hanya
satu dari 17 kecamatan yang tidak mengalami pertambahan penduduk, yaitu
kecamatan Tempel. Di kecamatan Tempel justru terjadi pengurangan sebanyak
108 orang. Sementara itu kecamatan yang mengalami pertambahan terbanyak
adalah kecamatan Depok bertambah sebesar 821 orang, disusul kecamatan
Ngaglik dan Gamping, masing-masing dengan pertambahan 637 dan 535
orang.
Di samping daya dukung lingkungan tempat tinggal, struktur umur penduduk
juga berperan memberi corak pada pola kehidupan penduduk. Struktur umur
membagi penduduk menjadi dua kelompok besar, yaitu usia produktif dan
usia tidak produktif. Dengan membandingkan kedua kelompok tersebut dapat
diperoleh rasio ketergantungan (dependency ratio). Rasio ini menjelaskan
besarnya tanggungan yang menjadi beban bagi penduduk usia produktif.
Kelompok yang menjadi tanggungan (tertanggung) dapat dipilah dalam dua
sub-kelompok, yaitu penduduk usia muda (0 – 14 tahun) dan penduduk usia
lanjut (65 tahun ke atas). Dengan demikian didapat rasio ketergantungan anak
(child dependency ratio) dan rasio ketergantungan lanjut usia (old dependency
ratio).
Rasio ketergantungan anak di kabupaten Sleman pada tahun 2003 sebesar 29.
Artinya, setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung beban 29 orang
anak berusia 0 – 14 tahun. Sedang rasio ketergantungan lanjut usia adalah 11.
Dengan demikian total rasio ketergantungan di Kabupaten Sleman adalah 40,
yang berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung
beban 40 orang usia tidak produktif.

2.3. Indikator Kesejahteraan Rakyat


Gambaran tentang kesejahteraan rakyat dapat dipahami dari dua arah yang
berkebalikan, yaitu satu sisi gambaran kesejahteraan menunjukkan tingkat
kemajuan kehidupan rakyat dan di sisi lain dapat dilihat tingkat ketertinggalan
dari mereka yang tersisa, yaitu yang belum sejahtera, yang secara sederhana bisa
disebut dalam kondisi miskin. Makna kesejahteraan mengandung dua sisi, yakni
lahiriah dan spiritual, demikian pula dengan makna kemiskinan.

SPKD Kabupaten Sleman 15


Dengan pemahaman seperti di atas dapat dikatakan bahwa indikator
kesejahteraan rakyat dapat menjadi petunjuk awal untuk mengetahui kemajuan
upaya penanggulangan kemiskinan. Caranya ialah dengan membandingkan
kondisi kesejahteraan rakyat antara tahun lalu dengan tahun ini, dan antara
tahun ini dengan tahun mendatang, dan seterusnya. Beberapa contoh indikator
misalnya: apakah angka kesakitan naik atau turun; apakah prosentase penduduk
yang berpendidikan tertinggi SLTP berkurang; apakah jumlah penganggur
berkurang; apakah kondisi permukiman penduduk semakin baik; serta apakah
fasilitas umum semakin banyak dan merata.
Dengan demikian komponen-komponen yang perlu diperhatikan meliputi:
kependudukan secara umum, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, serta
perumahan dan lingkungan. Komponen kependudukan secara umum telah
dikupas relatif mendetail pada bagian sebelumnya, Pada bagian berikut akan
dibahas empat komponen lainnya.

2.3. 1. Kesehatan
Kesehatan adalah hak setiap orang dan merupakan aset yang amat penting
bagi masa depan bangsa. Salah satu cara untuk mengukur status kesehatan
masyarakat adalah mencermati angka kesakitan. Data Inkesra Kabupaten
Sleman tahun 2003 menunjukkan angka kesakitan yang relatif tinggi yang antara
lain disebabkan oleh pilek dan batuk dengan angka kesakitan masing-masing
155 dan 154, yang artinya dalam setiap 1000 penduduk terdapat 155 orang yang
mengeluh sakit pilek dan sebanyak 154 orang sakit batuk. Keluhan sakit lainnya
yang relatif besar adalah panas dan sakit kepala yang berulang-ulang dengan
angka kesakitan masing-masing 100 dan 43. Angka-angka tersebut menunjukkan
bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit
yang bersifat musiman. Umumnya penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh
perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat.
Fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Sleman meliputi: Rumah
Sakit (23 unit), Puskesma (24 unit), Puskesmas Pembantu (72 unit), serta
Posyandu sebanyak 1.344 yang tersebar di 17 kecamatan sampai dengan tahun
2003. Sekalipun telah tersedia fasilitas, masih banyak penduduk yang tidak
memanfaatkan, seperti terlihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4. Jenis Pengobatan yang dilakukan Penduduk Di Kabupaten Sleman, tahun 2003
Metode Pengobatan Jumlah
Diobati Sendiri 185.649
Berobat Jalan 125.192
Sumber: Inkesra Kabupaten Sleman 2003

16 SPKD Kabupaten Sleman


2.3. 2. Pendidikan
Salah satu cara mengukur kualitas sumber daya manusia ialah dengan
mengamati jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh penduduk berumur
10 tahun ke atas. Semakin besar proporsi penduduk yang dapat menamatkan
pendidikan menengah dan tinggi secara teoritis semakin baik kualitas sumber
daya manusianya.
Data dari BPS Kabupaten Sleman menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2003
sebagian besar penduduk Kabupaten Sleman (51,85%) menamatkan pendidikan
tertingginya setingkat SMP. Selanjutnya sebanyak 36,82% menamatkan SMA dan
SMK, dan selebihnya 11,34% penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi
dengan berbagai strata, mulai dari Diploma I hingga S-3. Data lengkapnya dapat
diperiksa pada tabel 2.5.

Tabel 2.5. Pendidikan yang Ditamatkan Penduduk Berusia 10 Tahun Keatas Tahun 2003
No Pendidikan Tertinggi Laki-laki Perempuan Total
yang Ditamatkan Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Tdk / belum pernah 27.032 3,61 40.344 5,39 67.376 9,01
sekolah
2 Tidak / belum tamat SD 17.875 2,39 16.741 2,24 34.616 4,63
3 SD / MI 73.441 9,82 73.431 9,82 146.872 19,64
4 SLTP 71.141 9,51 67.716 9,05 138.857 18,57
5 SMU / MA / sederajat 104.955 14,03 81.013 10,83 185.968 24,86
6 S M Kejuruan 48.694 6,51 40.720 5,44 89.414 11,96
7 Diploma I / II 2.284 0,31 9.894 1,32 12.178 1,63
8 Diploma III / Sarjana Muda 10.645 1,42 6.842 0,19 17.487 2,34
9 D IV / S1 / S2 / S3 33.846 4,53 21.297 2,85 55.143 7,37
Jumlah 389.913 52,13 357.998 47,87 747.911 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Sleman 2003

2.3. 3. Ketenagakerjaan
Di Kabupaten Sleman terdapat 808.015 penduduk usia kerja pada tahun 2003.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 486.995 merupakan angkatan kerja, yaitu
mereka yang siap masuk atau telah berkecimpung dalam kerja ditandai dengan
aktivitas mencari pekerjaan. Dengan kata lain, terdapat 321.020 penduduk yang
termasuk usia kerja namun bukan merupakan angkatan kerja, karena masih
sekolah, karena mengurus rumahtangga, atau karena hal-hal lainnya. Tabel 2.6.
menunjukkan rincian data tersebut.

SPKD Kabupaten Sleman 17


Tabel 2.6. Status Ketenagakerjaan Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003
Laki-laki Perempuan Total
Status Ketenagakerjaan
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Angkatan Kerja 266.691 33,01 220.304 27,26 486.995 60,27
a. Bekerja 245.394 30,37 189.096 23,40 434.490 53,77
b. Mencari Pekerjaan 21.297 2,64 31.208 3,86 52.505 6,50
Bukan Angkatan Kerja 139.579 17,27 181.441 22,46 321.020 39,73
a. Sekolah 110.287 13,65 87.098 10,78 197.385 24,43
b. Mengurus Rumah 7.611 0,94 81.030 10,03 88.641 10,97
Tangga
c. Lainnya 21.681 2,68 13.313 1,65 34.994 4,33
Total Usia Kerja 406.270 50,28 401.745 49,72 808.015 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Selman 2003

Selanjutnya, dari sejumlah 434.4990 penduduk yang bekerja sebagian besar


bekerja dalam bidang pertanian (28,99%), jasa (22,77%), dan perdagangan
(22,00%). Selebihnya tersebar dalam berbagai bidang seperti terlihat pada tabel
2.7.

Tabel 2.7. Bidang Pekerjaan Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003


Laki-laki Perempuan Total
No Bidang Pekerjaan
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Pertanian 70.408 16,20 55.568 12,79 125.976 28,99
2 Pertambangan & 5.335 1,23 3.052 0,70 8.387 1,93
Penggalian
3 Industri 27.773 6,39 23.583 5,43 51.356 11,82
4 Listrik, Gas, dan Air 761 0,18 380 0,09 1.141 0,20
5 Bangunan 18.641 4,29 380 0,09 19.021 4,38
6 Perdagangan 39.179 9,02 56.676 13,04 95.855 22,00
7 Angkutan dan Komunikasi 15.588 3,59 760 0,17 16.348 3,76
8 Keuangan 11.027 2,54 6.087 1,40 17.114 3,94
9 Jasa-jasa 56.302 12,96 42.610 9,81 98.912 22,77
10 Lainnya 380 0,09 - - 380 0,09
Jumlah 245.39 56,48 189.09 43,52 434.490 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Selman 2003

Dari jumlah 434.490 penduduk yang bekerja, apabila dirinci menurut jenis
pekerjaan utamanya dapat diketahui bahwa sebagian terbesar (82,50%) bekerja
sebagai tenaga (bukan menejer) dalam empat bidang pekerjaan, yaitu: tenaga
usaha pertanian (termasuk perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perburuan)
sebesar 28,56%, tenaga produksi, operator dan tenaga kasar lainnya sebesar

18 SPKD Kabupaten Sleman


23,02%, tenaga usaha penjualan sebesar 20,84%, serta tenaga usaha jasa sebesar
10,07%. Hanya sebesar 16,73% penduduk yang bekerja sebagai ahli dan tenaga
profesional (9,02%), tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan (1,23%), dan
pejabat pelaksana dan tenaga tata usaha (6,48%). Rincian mengenai hal tersebut
dapat diperiksa pada tabel 2.8.

Tabel 2.8. Pekerjaan Utama Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003


Laki-laki Perempuan Total
No Pekerjaan Utama
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Ahli & Tenaga Profesional 22.059 5,08 17.121 3,94 39.180 9,02
Tenaga Kepemimpinan dan
2 4.945 1,14 380 0,09 5.325 1,23
ketatalaksanaan
Pejabat Pelakasana dan Tata
3 20.929 4,82 7.231 1,66 28.160 6,48
Usaha
4 Tenaga Usaha Penjualan 34.235 7,88 56.294 12,9 90.529 20,84
5 Tenaga Usaha Jasa 20.535 4,73 23.199 5,34 43.734 10,07
Tenaga Usaha Pertanian
(juga perkebunan,
6 69.268 15,9 54.808 12,6 124.076 28,56
peternakan, kehutanan, &
perburuan)
Tenaga Produksi, operator
7 70.002 16,1 30.063 6,92 100.065 23,03
dan tenaga kasar lainnya
8 Lainnya 3.421 0,79 - - 3.421 0,79
Jumlah 245.394 56,4 189.096 43,5 434.490 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Sleman 2003

2.3.4. Perumahan dan Lingkungan


Data dari BPS Kabupaten Sleman menyatakan bahwa dilihat dari luas bangunan,
pada tahun 2003 sebagian (22,80%) rumah penduduk luasnya kurang dari 20
m2. Dilihat dari segi lain, hampir semua (91,96%) rumah berdinding tembok,
hanya 4,40% rumah berdinding bambu dan 3,38% berdinding kayu.
Terkait dengan ketersediaan air bersih, sebagian besar (59,64%) rumah tangga di
Kabupaten Sleman memanfaatkan sumur terlindung sebagai sumber air minum.
Selanjutnya sebesar 15,45% menggunakan sumur pompa, 9,97% menggunakan
ledeng, dan 9,90% menggunakan sumur tak terlindung.
Sarana untuk tempat buang air besar, sebagian besar (66,27%) rumah tangga
di Kabupaten Sleman menggunakan WC dengan tempat pembuangan berupa
tangki. Sebesar 8,52% rumahtangga membuat tempat buang air besar dengan
menggali lubang di tanah, sementara 4,27% memanfaatkan kolam/sawah. Sisanya
sebesar 20,69% rumahtangga masih memanfaatkan sungai sebagai tempat buang
air besar.

SPKD Kabupaten Sleman 19


2.3. 5. Fasilitas Sosial
Adapun fasilitas sosial yang tersedia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.9. Jumlah Fasilitas Sosial di Kabupaten Sleman


No Nama Fasilitas Jumlah
1 Tempat Penitipan Anak 10
2 Panti Asuhan Anak 20
3 Panti Sosial Bina Remaja 1
4 Panti Sosial Trens Werdha 1
5 Panti Sosial Bina Netra 1
6 Panti Sosial Bina Daksa 2
7 Panti Sosial Bina Grahita 4
8 Panti Sosial Bina Rungu Wicara 3
9 Panti Sosial Karya Wanita 1
Sumber: Disnakertrans Kabupaten Sleman 2003

20 SPKD Kabupaten Sleman


#"#***
,0/%*4*%"/1&/:&#"#,&.*4,*/"/

 %BUB,FMVBSHB.JTLJO
+VNMBILFMVBSHBNJTLJOEJ,BCVQBUFO4MFNBOQBEBUBIVOTFCBOZBL
BUBV TFCFTBS   EBSJ UPUBM  LFQBMB LFMVBSHB ,,
 +JLB EJMJIBU EBSJ
QSPTFOUBTF EJ NBTJOHNBTJOH LFDBNBUBO  UJOHLBU LFNJTLJOBO UFSUJOHHJ BEB EJ
,FDBNBUBO 1SBNCBOBO  EJTVTVM LFDBNBUBO 4MFNBO EBO LFDBNBUBO 5FNQFM
4FEBOH QSPTFOUBTF LFMVBSHB NJTLJO UFSLFDJM BEBMBI ,FDBNBUBO %FQPL  EJTVTVM
,FDBNBUBO(BNQJOHEBO,FDBNBUBO/HBHMJL%BUBTFMFOHLBQOZBEBQBUEJQFSJLTB
QBEB5BCFM

5BCFM,FMVBSHB.JTLJOQFS,FDBNBUBO%J,BCVQBUFO4MFNBO5BIVO 6SVU1SPTFOUBTF

/P
No ,FDBNBUBO
Kecamatan +VNMBI,,
Jumlah KK ,,.JTLJO
KK Miskin 
%
1 1SBNCBOBO
Prambanan 
12.538  
4.900 
39,08
2 4MFNBOTempel 
13.953  
5.294 
37,94
3 5FNQFMSleman 
16.673  
6.078 
36,45
4 Cangkringan
4FZFHBO 8,085
 2.862
  35,40

5 Seyegan
$BOHLSJOHBO 12.162
 4.270
  35,11

6 .MBUJ Minggir 8.775
 2.584
  29,45

7 Mlati
.JOHHJS 19.143
 4.709
  24,60

8 #FSCBIBerbah 11.526
 2.814
  24,41

9 Ngemplak
/HFNQMBL 13.239
 2.981
  22,52

10
 5VSJ Turi 8.787
 1.798
  20,46

11
 Moyudan
.PZVEBO 9.182
 1.669
  18,18

12
 1BLFNGodean 15.797
 2.598
  16,45

13
 Pakem
,BMBTBO 9.335
 1.509
  16,16

14
 (PEFBOKalasan 15.482
 2.399
  15,50

15
 Ngaglik
/HBHMJL 17.502
 2.404
  13,74

16
 Gamping
(BNQJOH 19.222
 2.491
  12,96

17 Depok 21.503 2.515 11,70
 %FQPL    
Total 232.904 53.875 23,13
5PUBM     
4VNCFS#JEBOH,#,BCVQBUFO4MFNBO EJPMBI

6OUVLMFCJIEFLBUEFOHBOSFBMJUBEBOBHBSVQBZBQFOBOHHVMBOHBOLFNJTLJOBO
NFOKBEJ MFCJI UFQBU TBTBSBO NBLB EBUB LFNJTLJOBO EJ BUBT QFSMV EJMJIBU MFCJI
NFOEBMBNZBJUVQFSEFTB)BMJUVEJTBKJLBOQBEBUBCFM%FOHBODBSBEFNJLJBO
CJTB EJLFUBIVJ EFTB NBOB ZBOH QBMJOH NJTLJO %BUB JOJ TFLBMJHVT NFSVQBLBO

41,%,BCVQBUFO4MFNBO 
jawaban atas pertanyaan di mana letak kantung-kantung kemiskinan di
Kabupaten Sleman.
Dengan dicermatinya data per desa selanjutnya dapat ditelusuri karakteristik
desa tersebut berikut keadaan penduduknya. Dari kajian itu kemudian dapat
dirumuskan strategi penanggulangan kemiskinan yang sesuai dengan penduduk
desa yang bersangkutan.

Tabel 3.2. Keluarga Miskin per Desa per Kecamatan Di Kabupaten Sleman Tahun 2004
Kecamatan
No Jumlah KK KK Miskin %
Desa
1 Prambanan 12.538 4,900 39.08
Wukirharjo 765 426 55.69
Sambirejo 1,480 696 47.03
Gayamharjo 1,260 524 41.59
Sumberharjo 3,486 1,430 41.02
Bokoharjo 2,560 883 34.49
Madurejo 2,987 941 31.50
2 Tempel 13.953 5,294 37.94
Sumberrejo 1,286 720 55.99
Mororejo 1,395 608 43.58
Pondokrejo 1,592 685 43.03
Banyurejo 2,175 890 40.92
Merdikorejo 1,732 686 39.61
Lumbungrejo 1,767 605 34.24
Tambakrejo 1,391 399 28.68
Margorejo 2,615 701 26.81
3 Sleman 16.673 6,078 36.45
Caturharjo 3,878 1,706 43.99
Trimulyo 2,455 907 36.95
Tridadi 3,338 1,218 36.49
Triharjo 4,244 1,392 32.80
Pandowoharjo 2,758 855 31.00
4 Cangkringan 8.085 2,862 35.40
Glagaharjo 1,052 547 52.00
Wukirsari 2,841 1,064 37.45
Umbulharjo 1,164 384 32.99
Kepuharjo 873 276 31.62
Argomulyo 2,155 591 27.42

22 SPKD Kabupaten Sleman


5 Seyegan 12.162 4,270 35.11
Margomulyo 3,084 1,547 50.16
Margoagung 2,532 1,084 42.81
Margodadi 2,264 652 28.80
Margokaton 1,936 477 24.64
Margoluwih 2,346 510 21.74
6 Minggir 8.775 2,584 29.45
Sendangagung 2,164 860 39.74
Sendangsari 1,395 549 39.35
Sendangrejo 2,288 588 25.70
Sendangarum 1,050 217 20.67
Sendangmulyo 1,878 370 19.70
7 Mlati 19.143 4,709 24.60
Tirtoadi 2,354 699 29.69
Sendangadi 3,603 1,068 29.64
Sumberadi 3,541 1,239 34.99
Tlogoadi 3,073 774 25.19
Sinduadi 6,572 929 14.14
8 Berbah 11.526 2,814 24.41
KalItirto 2,941 763 25.94
Tegaltirto 2,609 666 25.53
Sendangtirto 3,628 870 23.98
Jogotirto 2,348 515 21.93
9 Ngemplak 13.239 2,981 22.52
Widodomartani 2,034 639 31.42
Bimomartani 1,743 544 31.21
Sindumartani 1,972 492 24.95
Umbulmartani 2,016 479 23.76
Wedomartani 5,474 827 15.11
10 Turi 8.787 1,798 20.46
Girikerto 2,076 544 26.20
Donokerto 2,155 538 24.97
Wonokerto 2,405 488 20.29
Bangunkerto 2,151 228 10.60
11 Moyudan 9.182 1,669 18.18
Sumberarum 1,991 420 21.09
Sumbersari 2,232 403 18.06
Sumberahayu 1,853 331 17.86
Sumberagung 3,106 515 16.58

SPKD Kabupaten Sleman 23


12 Godean 15.797 2,598 16.45
Sidomulyo 1,607 421 26.20
Sidomoyo 1,987 406 20.43
Sidoagung 2,131 392 18.40
Sidokarto 2,477 399 16.11
Sidorejo 1,839 284 15.44
Sidoluhur 2,597 329 12.67
Sidoarum 3,159 367 11.62
13 Pakem 9.335 1,509 16.16
Harjobinangun 1,448 369 25.48
Candibinangun 1,568 306 19.52
Purwobinangun 2,404 420 17.47
Pakembinangun 1,571 235 14.96
Hargobinangun 2,344 179 7.64
14 Kalasan 15.482 2,399 15.50
Selomartani 2,788 811 29.09
Tamanmartani 3,375 624 18.49
Tirtomartani 3,541 391 11.04
Purwomartani 5,778 573 9.92
15 Ngaglik 17.502 2,404 13.74
Sukoharjo 2,673 529 19.79
Donoharjo 1,987 373 18.77
Sardonoharjo 3,448 573 16.62
Sariharjo 3,545 390 11.00
Sinduharjo 3,232 333 10.30
Minomartani 2,617 206 7.87
16 Gamping 19.222 2,491 12.96
Nogotirto 3,478 493 14.17
Banyuraden 3,317 455 13.72
Trihanggo 3,388 450 13.28
Ambarketawang 4,594 585 12.73
Balecatur 4,445 508 11.43
17 Depok 21.503 2,515 11.70
Maguwoharjo 6,016 899 14.94
Condongcatur 7,223 896 12.40
Caturtunggal 8,264 720 8.71
Kabupaten Sleman 232.904 53,875 23.13

Telah disebutkan di depan bahwa konsep kemiskinan yang digunakan dalam


menyusun SPKD ini adalah konsep kemiskinan absolut, yaitu menggunakan
data dari Bidang KB. Sebagai pembanding telah dikaji pula data dari KBP yang

24 SPKD Kabupaten Sleman


difasilitasi P2KP. Konsep kemiskinan yang digunakan KBP adalah konsep
kemiskinan subyektif dan hanya tersedia di 32 desa.
Untuk kepentingan uji petik, pembandingan data keluarga miskin dilakukan di
13 desa pada 13 kecamatan yang telah melaksanakan KBP. Beberapa hal yang
dapat dicatat dari pemeriksaan silang tersebut adalah : pertama, terdapat selisih
yang mencolok di antara kedua sumber data. Selisihnya ada yang lebih besar
pada data Bidang KB ada pula yang lebih besar pada data KBP. Kedua, terdapat
perbedaan penggunaan satuan wilayah. Bidang KB menggunakan satuan wilayah
dusun, sedang KBP satuan wilayahnya tidak konsisten. Ada data KBP yang
berdasar dusun, pedukuhan, ada pula yang per RT. Ketiga, terdapat perbedaan
dalam penyebutan nama dusun atau dukuh sehingga satuannya semakin sulit
disejajarkan. Keempat, baik data Bidang KB maupun data KBP masing-masing
terdapat ketidak-lengkapan sehingga tidak bisa diperiksa silang.
Catatan tambahan yang sangat penting terkait dengan pemeriksaan secara silang
terhadap kedua data adalah bahwa Bidang KB dan KBP menggunakan dasar
yang berbeda ketika menentukan jumlah keluarga. Bidang KB menggunakan
data perkawinan, yaitu setiap pasangan yang telah menikah dihitung sebagai
satu keluarga. Sementara itu KBP mendasarkan diri pada kartu keluarga (kartu
C-1) sehingga sangat mungkin dalam satu keluarga (kartu C-1) terdapat lebih
dari satu pasang suami-istri dan anak-anaknya.

3.2. Kondisi Kemiskinan


Di atas telah dipaparkan jumlah dan sebaran keluarga miskin di Kabupaten
Sleman. Pada bagian ini akan diuraikan gambaran kondisi keluarga miskin
tersebut. Gambaran ini belum mencakup seluruh desa yang berjumlah 86
melainkan baru dari 32 desa dari hasil analisis yang dilakukan oleh Komunitas
Balajar Perkotaan (KBP) yang difasilitasi P2KP. Sekalipun demikian, karena
sebaran ke-32 desa tersebut merata di hampir semua kecamatan maka diharapkan
dapat merepresentasikan seluruh wilayah di Kabupaten Sleman.
Gambaran kondisi kemiskinan tersebut berisi dua aspek, yaitu ciri-ciri atau
indikator kemiskinan dan penyebab kemiskinan. Ciri-ciri atau indikasi
kemiskinan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri melainkan harus dilihat secara
kumulatif.

3.2.1. Indikator Kemiskinan


Indikator kemiskinan dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu dimensi ekonomi,
sosial, dan fisik. Masing-masing dimensi terdiri atas beberapa aspek. Dari tiap-
tiap aspek tersebut terdapat indikator kemiskinan, seperti terlihat pada daftar
tabel 3.3. berikut ini.

SPKD Kabupaten Sleman 25


Table 3.3. Daftar Indikator Kemiskinan
No Dimensi Aspek Indikator
Penganggur
Buruh serabutan / tidak tetap (buruh tani, buruh
bangunan)
Buruh Gendong
Tukang becak
Kernet
Tukang cuci
Tukang sampah
Pekerjaan Pembantu Rumah Tangga
Penjaga / pelayan Toko
Pemulung
Petani Penggarap
Petani Gurem
Pedagang kecil-kecilan
1 Ekonomi
Pedagang asongan
Pensiunan Golongan I
Pegawai honorer
Penghasilan Kurang dari Rp. 500.000,- per bulan
Tanggungan Lebih dari 4 (empat) orang
Pendidikan tertinggi Kepala Keluarga SLTP
Pendidikan
Tidak ada anggota KK yang tamat SLTA
Kurang / Tidak memiliki ketrampilan kerja
Kompetensi
Tidak memiliki jiwa kewirausahaan
Tidak memiliki modal
Modal
Modal sangat kecil
Tidak bisa memperoleh informasi yang dibutuhkan
Akses Tidak mampu berurusan dengan birokrasi
Tidak ada tempat untuk ”mengadu”/ berbagi

26 SPKD Kabupaten Sleman


Jompo
Sakit menahun
Cacat
Tidak bisa dan tidak mampu memanfaatkan layanan
Kesehatan kesehatan modern
Pola makan tidak menentu
Kurang gizi
Tempat tinggal tidak higienis
2 Sosial
Lingkungan tidak higienis
Mudah putus asa (dalam mengahadapi masalah)
Mudah menyerah / Tidak ulet
Sikap hidup Boros
Suka jaga gengsi
Rendah diri / mider
Tradisi ”nyumbang”
Lingkungan
Banyak penjudi
Kontrak
Ngindung
Rumah Milik sendiri: tidak higienis
Milik sendiri: terbuat dari gedhek sederhana
3 Fisik
Milik sendiri: kualitas buruk
Beli baru sekali setahun
Pakaian Beli bekas
Tidak punya ganti untuk berbeda-beda kepentingan
Sumber : FGD Kelompok Belajar Perkotaan-P2KP

Gambaran lain tentang kondisi keluarga miskin di Kabupaten Sleman dapat


dilihat dari pekerjaan kepala keluarga seperti terlihat pada daftar pada halaman
berikut. Daftar tersebut memperlihatkan bahwa:
3.2.1.1. Pada tingkat kabupaten, yang terbanyak adalah bekerja sebagai buruh
(11.172), disusul pedagang (1.501), dan terkecil adalah petani (850).
Jumlah terbesar kedua sebenarnya adalah ”lain-lain” (11.058). Namun
belum diketahui secara pasti apakah ”lain-lain” itu berarti penganggur
atau setengah penganggur atau pekerja lain.
3.2.1.2. Pada masing-masing desa, jumlah terbesar adalah bekerja sebagai
buruh.
3.2.1.3. Terdapat 6 desa dimana KK miskinnya tidak satu pun bekerja di bidang
pertanian. Selanjutnya yang KK miskinnya bekerja di bidang pertanian
namun jumlahnya kurang dari 10 ada di 7 desa. Namun yang mencapai
angka di atas 50 juga hanya 4 desa.

SPKD Kabupaten Sleman 27


3.2.1.4 Gambaran di atas merupakan gambaran khas daerah perkotaan.

Tabel 3.4. Pekerjaan Kepala Keluarga Miskin di 32 Desa


PEKERJAAN
NO DESA
Lain-lain Pedagang Buruh Petani Pensiunan PNS
1 CATURHARJO 330 10 139 0 0 0
2 DONOKERTO 380 22 192 34 0 0
3 MARGOAGUNG 378 40 728 34 1 0
4 MARGODADI 362 50 603 104 0 0
5 SENDANGADI 330 9 504 0 0 0
6 SIDOARUM 332 18 398 3 0 0
7 SIDOLUHUR 350 41 230 18 1 0
8 SUMBERAGUNG 360 26 188 95 1 0
9 TIRTOADI 332 27 219 30 0 0
10 TRIDADI 395 73 376 46 19 1
11 TRIHARJO 330 9 526 0 0 0
12 BALECATUR 330 16 344 49 0 0
13 BANYURADEN 367 42 328 7 0 0
14 BOKOHARJO 365 31 240 8 1 0
15 CATURTUNGGAL 335 143 302 2 0 0
16 CONDONGCATUR 394 129 442 18 34 0
17 MINOMARTANI 345 30 165 0 4 0
18 NOGOTIRTO 336 13 557 0 0 0
19 SINDUHARJO 339 19 368 62 0 0
20 TAMANMARTANI 339 25 568 30 0 0
21 TIRTOMARTANI 330 15 206 4 0 0
22 TRIHANGGO 353 31 531 6 0 0
23 SINDUMARTANI 332 26 182 141 1 0
24 SINDUADI 350 149 394 20 13 0
25 SIDOMOYO 335 58 447 22 0 0
26 SIDOKARTO 331 53 206 40 1 0
27 SIDOAGUNG 333 73 271 24 0 0
28 LUMBUNGREJO 330 17 302 19 1 0
29 MARGOKATON 330 14 393 23 1 0
30 BANYUREJO 330 13 299 1 0 0
31 AMBARKETAWANG 344 112 354 10 22 1
32 SARIHARJO 331 167 170 0 3 3
JUMLAH 11058 1501 11172 850 103 5
Sumber: FGD Kelompok Belajar Perkotaan – P2KP

28 SPKD Kabupaten Sleman


3.2.2. Penyebab Kemiskinan
Analisis penyebab kemiskinan dalam dokumen SPKD ini menggunakan
pendekatan kombinasi kultural dan struktural. Untuk pendekatan kultural
digunakan tingkat analisis masyarakat, yakni dengan mengkaji integrasi
penduduk miskin dengan lembaga lokal masyarakat. Sedang untuk pendekatan
struktural dilihat dari proporsionalitas atau keberpihakan terhadap penduduk
miskin terkait kebijakan dan program pembangunan yang dijalankan selama
ini.
Dari pendataan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) dapat disimpulkan bahwa
terdapat 3 faktor penyebab timbulnya kemiskinan, yaitu faktor individu yang
bersangkutan, faktor kebijakan pemerintah, dan faktor alamiah. Masing-masing
adalah sebagai berikut :

3.2.2.1. Faktor Individu yang bersangkutan, mencakup:


3.2.2.1.1. Malas
3.2.2.1.2. Kurang Pergaulan
3.2.2.1.3. Tidak memiliki pengalaman
3.2.2.1.4. Minder
3.2.2.1.5. Tidak mempunyai modal
3.2.2.1.6. Ketrampilannya rendah
3.2.2.1.7. Boros

3.2.2.2. Faktor Kebijakan Pemerintah, meliputi:


3.2.2.2.1. Pendapatan rendah
3.2.2.2.2. Tidak ada lapangan kerja
3.2.2.2.3. Harga sembako tinggi
3.2.2.2.4. Pendidikan mahal
3.2.2.2.5. Sarana dasar kurang
3.2.2.2.6. Biaya jasa mahal

3.2.2.3.Faktor alamiah (perjalanan waktu), meliputi:


3.2.2.3.1. Bencana Keluarga
3.2.2.3.2. Jompo
3.2.2.3.3. Bencana Alam

SPKD Kabupaten Sleman 29


30 SPKD Kabupaten Sleman
BAB IV
KAJI ULANG KEBIJAKAN DAN PROGRAM
Kaji ulang terhadap kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang
telah ada dimaksudkan untuk mengambil pelajaran demi perbaikan penyusunan
SPKD ini. Lebih dari itu diharapkan bahwa pelaksanaan penanggulangan
kemiskinan di masa mendatang tidak mengulang kesalahan yang sama.
Dalam SPKD ini dikaji empat kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.
Kajian pertama dilakukan terhadap kebijakan dan program penanggulangan
kemiskinan yang diprakarsai pemerintah pusat. Kedua, kajian terhadap Arah
Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (AKU-APBD)
Kabupaten Sleman tahun 2004. Ketiga, kajian terhadap kebijakan dan program
penanggulangan kemiskinan yang diprakarsai Pemerintah Daerah Kabupaten
Sleman. Terakhir, kajian terhadap kegiatan penanggulangan kemiskinan yang
secara nyata dilakukan masyarakat maupun kalangan swasta.
Metode pengkajiannya ialah dengan cara menelaah berbagai dokumen apakah di
dalam kebijakan dan program-program tersebut terdapat pilar penanggulangan
kemiskinan. Pilar-pilar tersebut adalah: perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, serta perlindungan
sosial.
Semua kajian terhadap kebijakan dan program pemerintah pusat digunakan
dokumen ini sebagai dasar melakukan analisis lingkungan eksternal (ALE). Se-
dangkan kebijakan dan program yang ada pada pemerintah daerah, swasta dan
masyarakat digunakan sebagai dasar melakukan analisis lingkungan internal
(ALI).

4.1. Kebijakan dan Program Pemerintah Pusat


Beberapa kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang diprakarsai
pemerintah pusat yang dilaksanakan di kabupaten Sleman, masing-masing
memiliki sasaran dan metode yang beragam. Oleh karena itu ketika dikaji
menggunakan empat pilar sebagaimana disebut di atas terlihat bahwa belum
semua program mangandung keempat pilar sekaligus, kecuali JPS, PKM/CRP,
UED-SP, KBU dan P2KP. Gambaran lengkapnya disajikan dalam tabel 4.1.

SPKD Kabupaten Sleman 31


Tabel 4.1. Matriks Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Pusat
Pember-
Perluasan Peningk.
No Program dayaan Perlind. Sosial
Kesem-patan Kpasitas SDM
Masyarakat
1 IDT √ √
2 JPS √ √ √ √
3. PKM/CRP √ √ √ √
4. UED-SP √ √ √ √
5. UKM √ √
6. KBU (Klompok Belajar Usaha) √ √ √ √
7. P2MPD √ √
8. P2KP √ √ √ √
9. Subsidi BBM √ √ √ √
10 Sejuta Rumah √ √ √
11 P2LDT √ √

Secara umum dapat dikatakan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan yang


diprakarsai pemerintah pusat pada masa lalu memperlihatkan ciri-ciri: (a)
Kebijakan terpusat dan seragam; (b) Lebih bersifat karitatif; (c) Memposisikan
masyarakat sebagai obyek, yaitu tidak melibatkan mereka dalam keseluruhan
proses penanggulangan kemiskinan; (d) Memandang masalah kemiskinan hanya
dari segi ekonomi; (e) Menganggap bahwa permasalahan dan penanggulangan
kemiskinan bersifat sama (one-fit-for-all); (f) Kurang memperhatikan keragaman
budaya; (g) Pendekatannya top down; (h) Terdapat tumpang-tindih (overlapping)
kelompok sasaran antara program yang satu dan program lainnya; dan (i)
Kebijakannya bersifat sektoral.
Harus diakui bahwa kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan di
bidang ekonomi telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dalam upaya
mengembangkan usaha skala mikro, kecil, menengah dan koperasi telah
dilakukan agenda penyelesaian hutang UKM. Disamping itu, kapasitas perbankan
dalam penyaluran kredit kepada UKM dan fasilitasi pembiayaan dari pemerintah
dalam bentuk dana bergulir dan penjaminan kredit bagi UKM juga meningkat.
Sementara itu, perkembangan akses UKM terhadap sumberdaya produktif non
finansial ditandai dengan adanya peningkatan keberadaan penyedia jasa layanan
pengembangan usaha (business development services-BDS), dan berkembangnya
klaster / sentra UKM di berbagai daerah. Meskipun demikian, secara umum
pencapaian hasil keseluruhan belum maksimal.
Kebijakan perlindungan sosial khususnya bantuan sosial belum bersifat
menyeluruh dan berkelanjutan. Karena kurang koordinasi, kurang transparan,
diskriminatif serta kurang didukung akuntabilitas yang memadai maka kebijakan
tersebut belum sepenuhnya dapat menjawab kebutuhan sosial masyarakat.

32 SPKD Kabupaten Sleman


Pelaksanaan bantuan sosial (stimulan, JPS, dan PKPS-BBM) justru menimbulkan
ketergantungan masyarakat kepada bantuan tersebut. Kebijakan tersebut justru
melumpuhkan inisiatif lokal. Masalah lain terkait dengan kebijakan tersebut
adalah: kurang tepat sasaran, tidak tepat waktu, tidak tepat jumlah, serta tidak
memberdayakan masyarakat.

4.2. Arah Kebijakan Umum (AKU) Tahun 2004


Arah Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (AKU–
APBD) 2004 tertuang dalam Nota Kesepakatan Pemkab dengan DPRD nomor 7/
PK.KDH/A/2003 dan nomor 2/N.Kes DPRD/2003 tanggal 26 Juni 2003. Dalam
nota kesepakatan tersebut dinyatakan bahwa AKU-APBD 2004 dimaksudkan
sebagai pedoman dalam menyusun APBD 2004 dengan titik berat pembentukan
sistem, peningkatan sumberdaya manusia, peningkatan kelembagaan, dan
peningkatan prasarana dan sarana. AKU-APBD 2004 disusun dalam rangka
mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana
strategis. Arah kebijakan yang tercakup di dalamnya meliputi empat hal, yaitu:
(a) mewujudkan pemerintahan daerah yang baik; (b) meningkatkan kegiatan
ekonomi daerah; (c) meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan (d) meningkatkan
kapasitas pengembangan potensi wilayah.
AKU-APBD 2004 berisi 100 butir kebijakan yang dijabarkan ke dalam 221
butir program yang kemudian dirinci dalam 1008 butir rencana kegiatan. Dari
seluruh butir tersebut terdapat sejumlah butir yang mengandung potensi untuk
mendukung upaya penanggulangan kemiskinan (“nangkis”), dengan rincian:
59 butir (59%) kebijakan, 105 butir (47,5%) program, dan 254 butir (25,2%)
kegiatan. Dari total 254 butir rencana kegiatan yang berpotensi mendukung
program “nangkis”), 158 butir (15,7%) bersifat tidak langsung dan hanya 96 butir
(9,5%) bersifat langsung. seperti terlihat pada Tabel 4.2. dan lampiran 2.

SPKD Kabupaten Sleman 33


Tabel 4.2. Rekapitulasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman 2004
Berdasar AKU 2004 Berpotensi Pro-poor

Kebijak an

Kebijak an
Kegiatan

Kegiatan
Program

Program
No Bidang
Tidak Langsung
Langsung
1 Bidang Umum 12 90 384 8 36 65 33
Pemerintahan
2 Pertanian 5 7 52 5 7 13 1
3 Perikanan 4 6 14 2 2 4 2
4 Pertambangan 4 6 15 4 5 5 2
dan Energi
5 Kehutanan dan 7 8 35 6 6 6 4
Perkebunan
6 Perindustrian & 6 16 62 4 10 13 15
Perdagangan
7 Perkoperasian 3 4 14 3 4 9 4
8 Penanaman 4 6 10 1 1 2 0
Modal
9 Ketenagakerjaan 8 9 46 6 7 12 13
10 Kesehatan 3 7 92 3 5 4 6
11 Pendidikan dan 7 7 72 1 1 1 1
Kebudayaan
12 Sosial 5 8 30 4 6 8 4
13 Penataan Ruang 2 3 8 1 2 4 0
14 Permukiman 5 6 16 4 4 6 1
15 Pekerjaan Umum 4 7 24 2 2 1 2
16 Perhubungan 2 4 19 0 0 0 0
17 Lingkungan 4 8 31 1 2 2 0
Hidup
18 Kependudukan 4 7 40 2 3 3 8
19 Pemuda dan Olah 4 4 24 0 0 0 0
Raga
20 Kepariwisataan 3 4 14 2 2 2 0
21 Pertanahan 4 4 6 0 0 0 0
Total 100 221 1008 59 105 158 96

Data tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat kebijakan dan program telah
terdapat orientasi/kecenderungan yang besar untuk berpihak kepada kaum
miskin. Sedang pada tataran kegiatan, baru seperempat yang berorientasi pada
keberpihakan kepada kaum miskin.
Meskipun dari jumlah butir kebijakan, program dan kegiatan dalam AKU-
APBD 2004 telah terdapat kecenderungan berpihak kepada kaum miskin, belum
jelas apakah semua itu benar - benar diarahkan untuk menanggulangi masalah

34 SPKD Kabupaten Sleman


kemiskinan. Jumlah butir-butir di atas baru menunjukkan kebijakan, program
atau kegiatan yang bisa diarahkan untuk menanggulangi kemiskinan. Jadi sama
sekali belum menunjukkan bahwa pada kenyataannya telah dirancang untuk
menanggulangi kemiskinan.
Data tersebut masih sebatas kategorisasi di atas kertas pada tahap perencanaan.
Dengan demikian masih diperlukan setidaknya tiga langkah lanjut, yaitu:
4.2.1. Pemeriksaan laporan kegiatan,
4.2.2. Pemeriksaan bukti di lapangan, dan
4.2.3. Pengkajian terhadap kesesuaian kegiatan dengan tujuan penanggulangan
kemiskinan.
Pemeriksaan laporan kegiatan dilakukan untuk meneliti kesesuaian rencana
dengan realisasi. Pemeriksaan bukti di lapangan dimaksudkan untuk menilai
kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan daerah, khususnya daerah-daerah yang
memiliki tingkat kemiskinan tinggi; apakah kegiatan-kegiatan yang dilakukan
bisa mempercepat penanggulangan kemiskinan. Sedang pengkajian mengenai
kesesuaian kegiatan dengan upaya penanggulangan kemiskinan dimaksudkan
untuk menentukan apakah diperlukan perubahan, pengurangan atau
penambahan kegiatan (juga kebijakan dan program) agar dapat memperlancar
upaya penanggulangan kemiskinan.

4.3. Program Penanggulangan Kemiskinan Prakarsa Pemda


Pemerintah Kabupaten Sleman telah melaksanakan berbagai program yang pada
akhirnya mengarah pada penanggulangan kemiskinan sekalipun tidak secara
eksplisit dinyatakan sebagai program penanggulangan kemiskinan. Karena
pelaksanan program-program tersebut adalah dinas atau kantor yang berbeda-
beda sedang nama dan tujuan programnya tidak secara eksplisit dinyatakan
sebagai program penanggulangan kemiskinan, akibatnya arah program tidak
padu dan hasilnya belum optimal.
Tabel 4.3. Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Daerah
Perluasan Pemberdayaan Peningk. Perlind. Sosial
No Program
Kesempatan Masyarakat Kpasitas SDM
1. Gaduh Ternak √ √
2. Bantuan Susu Ibu Hamil √ √
3 Dana Gotong Royong √ √
4. Bantuan Dana Bergulir √ √
5. Bantuan Aspal √ √
6. Bantuan Organisasi Sosial √ √ √
7 Koperasi UKM √ √

SPKD Kabupaten Sleman 35


8. Beasiswa √ √
9 Bantuan Susu untuk Murid √ √
10 P2WKSS √ √

Dari delapan program yang dikaji pada tabel 4.3. ternyata tidak ada yang
mengandung sekaligus empat pilar penanggulangan kemiskinan seperti diuraikan
di depan. Oleh karena itu pada masa mendatang yang diperlukan adalah upaya
memadukan dan mensikronkan berbagai program tersebut sehingga arahnya
lebih fokus dan hasilnya lebih optimal.

4.4. Inisiatif Masyarakat dan Swasta


Inisiatif masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan di daerah masing-masing
telah lama ada. Sekalipun demikian kegiatan penanggulangan kemiskinan
tersebut tidak merata dan tidak sama intensitas serta kualitasnya. Karena
masing-masing berskala lokal/mikro maka belum terdapat kesatu-paduan arah
dan sasaran.
Inisiatif dan peran kalangan swasta untuk membantu penanggulangan
kemiskinan juga telah lama ada. Yang paling jelas adalah dalam penyediaan
lapangan kerja yang dengan sendirinya memberi pendapatan kepada para pekerja
yang direkrutnya. Disamping itu ada pula program dana hibah, sumbangan-
sumbangan, dan santunan sosial.
Masing-masing program baik dari masyarakat maupun dari kalangan swasta
dalam kaitan dengan empat pilar penanggulangan kemiskinan terlihat pada
tabel 4.4.

Tabel 4.4. Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Masyarakt


dan Swasta
Berdasar AKU 2004 Berpotensi Pro-poor
Kegiatan
Kebijakan

Kebijakan
Kegiatan
Program

Program

No Bidang
Langsung

Langsung
Tidak

1 Bidang Umum 12 90 384 8 36 65 33


Pemerintahan
2 Pertanian 5 7 52 5 7 13 1
3 Perikanan 4 6 14 2 2 4 2
4 Pertambangan 4 6 15 4 5 5 2
dan Energi

36 SPKD Kabupaten Sleman


5 Kehutanan dan 7 8 35 6 6 6 4
Perkebunan
6 Perindustrian & 6 16 62 4 10 13 15
Perdagangan
7 Perkoperasian 3 4 14 3 4 9 4
8 Penanaman 4 6 10 1 1 2 0
Modal
9 Ketenagakerjaan 8 9 46 6 7 12 13
10 Kesehatan 3 7 92 3 5 4 6
11 Pendidikan dan 7 7 72 1 1 1 1
Kebudayaan
12 Sosial 5 8 30 4 6 8 4
13 Penataan Ruang 2 3 8 1 2 4 0
14 Permukiman 5 6 16 4 4 6 1
15 Pekerjaan Umum 4 7 24 2 2 1 2
16 Perhubungan 2 4 19 0 0 0 0
17 Lingkungan 4 8 31 1 2 2 0
Hidup
18 Kependudukan 4 7 40 2 3 3 8
19 Pemuda dan 4 4 24 0 0 0 0
Olah Raga
20 Kepariwisataan 3 4 14 2 2 2 0
21 Pertanahan 4 4 6 0 0 0 0
Total 100 221 1008 59 105 158 96

Kelemahan utama dari kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan


oleh masyarakat maupun kalangan swasta secara umum antara lain:
4.4.1. Belum terdapat sinergi
4.4.2. Belum sepenuhnya dikelola oleh penduduk setempat dan menjadi milik
mereka.
4.4.3. Belum terdapat kesatuan arah dan tahapan.
4.4.4. Tidak berkelanjutan.
4.4.5. Kurang mendapat kemudahan pemerintah.

4.5. Analisis Lingkungan Internal (ALI)


4.5.1. Kekuatan
4.5.1.1. Kebijakan pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan
kemiskinan semakin mantap.
4.5.1.2. Dukungan politik menuju kepemerintahan yang baik telah berjalan

SPKD Kabupaten Sleman 37


4.5.1.3. Sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan merata. Budaya
gotong royong tinggi.
4.5.1.4. Pertumbuhan ekonomi daerah cukup tinggi.
4.5.1.5. Stabilitas keamanan daerah terkendali.
4.5.1.6. Masyarakat dapat mengikuti perkembangan teknologi.
4.5.1.7. Masyarakat dapat mengikuti perkembangan informasi.
4.5.1.8. Terdapat kesempatan kerja secara merata.
4.5.1.9. Adanya alokasi pendanaan untuk program penanggulangan
kemiskinan.
4.5.1.10. Potensi konstribusi peran serta LSM, Perguruan Tinggi dan Swasta di
Sleman cukup besar.
4.5.1.11. Kualitas SDM Kabupaten Sleman memiliki daya saing kuat.
4.5.1.12. Lokasi Kabupaten Sleman strategis, alam subur dan sumber daya alam
tersedia.

4.5.2. Kelemahan
4.5.1. Masih terdapat ego sektoral dalam pelaksanaan pembangunan.
4.5.2. Masih banyak peraturan daerah yang tidak mendukung program
“Nangkis”.
4.5.3. Kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan belum baik.
4.5.4. Distribusi pendapatan masyarakat timpang cukup tinggi.
4.5.5. Masih terjadi praktek kekerasan terhadap anak dan perempuan.
4.5.6. Perkembangan teknologi tidak belum dimanfaatkan bagi keluarga
miskin.
4.5.7. Keluarga miskin kesulitan mengakses perkembangan informasi
4.5.8. Keluarga miskin tidak mampu menangkap peluang kerja
4.5.9. Program penanggulangan kemiskinan tidak dipantau dan dinilai secara
konsisten
4.5.10. Kerjasama antar pelaku di Sleman belum terealisasi dengan baik.
4.5.11. Daya saing tenaga kerja bagi keluarga miskin untuk mengisi peluang
kerja rendah.

38 SPKD Kabupaten Sleman


4.5.12. Potensi sumberdaya alam tidak berpihak pada perluasan kesempatan
bagi keluarga miskin.

4.6. Analisis Lingkungan Eksternal (ALE)


4.6.1. Peluang
4.6.1.1. Pemerintah pusat secara konsisten memperkuat dan memperbaiki
kebijakan otonomi daerah.
4.6.1.2. Penegakan hukum, HAM dan pemberantasan korupsi diperkuat.
4.6.1.3. Gerakan kesetiakawan sosial nasional diperkuat, alokasi dana
pendidikan dan kesehatan diperbesar.
4.6.1.4. Pemerintah pusat mendorong pengembangan wilayah strategis dan
cepat tumbuh.
4.6.1.5. Keamanan nasional mantap dan terkendali.
4.6.1.6. Pemerintah pusat mendorong perkembangan teknologi dan inovasi.
4.6.1.7. Pemerintah pusat berperan dalam kesepakatan kerjasama global.
4.6.1.8. Peraturan investasi dipermudah dan penyaluran tenaga kerja keluar
negeri diperbaiki.
4.6.1.9. Alokasi pendanaan dari pusat untuk penanggulangan kemiskinan
tetap tinggi.
4.6.1.10. Adanya kerjasama dengan pihak asing secara langsung dalam
penanggulangan kemiskinan dan pelestarian lingkungan terbuka
luas.
4.6.1.11. Pemerintah pusat memperbaiki peraturan perlindungan tenaga kerja
di dalam dan luar negeri.
4.6.1.12. Pemerintah komitmen memerangi praktek eksploatasi sumberdaya
alam yang tidak ramah lingkungan.

4.6.2. Ancaman
4.6.2.1. Kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga BBM.
4.6.2.2. Penegakan hukum, HAM dan pemberantasan korupsi tidak kunjung
menampakkan hasil.
4.6.2.3. Terjadi bencana alam dan kekeringan di mana-mana.
4.6.2.4. Nilai tukar rupiah terhadap uang asing merosot tajam.

SPKD Kabupaten Sleman 39


4.6.2.5. Konflik antar suku dan golongan muncul di mana-mana.
4.6.2.6. Teknologi modern dikuasai pihak asing dan masyarakat hanya sebagai
penonton
4.6.2.7. Informasi dikuasai oleh swasta , hanya untuk tujuan komersial dan
tidak dapat diakses keluarga miskin
4.6.2.8. Banyak perusahaan tutup dan melakukan PHK
4.6.2.9. Terjadi penyimpangan penyaluran dana bagi keluarga miskin
4.6.2.10. Bantuan bersifat sedekah, tidak berkelanjutan dan tidak mendidik
4.6.2.11. Tenaga ahli asing mendominasi pasaran tenaga kerja nasional .
4.6.2.12. Pemerintah mencabut hak-hak perolehan masyarakat untuk meman-
faatkan sumberdaya alam.

40 SPKD Kabupaten Sleman


4.7. Analisis SWOT
Tabel 4.5. Pemanfaatan kekuatan untuk menangkap Peluang
Kekuatan Peluang S vs O
Kebijakan pemerintah daerah Pemerintah pusat secara Pemerintah daerah terus
dalam upaya penanggulangan konsisten memperkuat dan memperbaiki kinerja untuk
kemiskinan semakin mantap memperbaiki kebijakan otonomi pelayanan masyarakat
daerah
Dukungan politik menuju Penegakan hukum, HAM dan Pemerintah daerah konsisten
keperintahan yang baik telah pemberantasan korupsi diperkuat dalam menjalankan praktek tata
berjalan kepemerintahan yang baik
Sarana dan prasarana pendidikan Gerakan kesetiakawan sosial Pemerintah daerah
dan kesehatan merata nasional diperkuat, alokasi dana meningkatkan pelayanan
pendidikan dan kesehatan kesehatan dan pemerataan
diperbesar. kesempatan pendidikan
Pertumbuhan ekonomi daerah Pemerintah pusat mendorong Pemerintah daerah memperbaiki
cukup tinggi pengembangan wilayah strategis peraturan daerah untuk
dan cepat tumbuh penanaman investasi
Stabilitas keamanan daerah Keamanan nasional mantap dan Pemerintah daerah terus
terkendali terkendali mendorong partisipasi
masyarakat dalam menjaga
keamanan.
Masyarakat dapat mengikuti Pemerintah pusat mendorong Pemerintah daerah memfasilitasi
perkembangan teknologi perkembangan teknologi dan penelitian dan pengembangan
inovasi teknologi
Masyarakat dapat mengikuti Pemerintah pusat berperan Pemerintah daerah memfasilitasi
perkembangan informasi dalam kesepakatan kerjasama kemudahan akses informasi
global
Terdapat kesempatan kerja secara Peraturan investasi dipermudah Pemerintah daerah memberi
merata dan penyaluran tenaga kerja ke kemudahan dalam menangkap
luar negeri diperbaiki kesempatan kerja antar daerah
Adanya alokasi pendanaan Alokasi pendanaan dari pusat Pemerintah daerah dapat
untuk program penanggulangan untuk penanggulangan mengkoordinaskan pemanfaatan
kemiskinan kemiskinan tetap tinggi dana secara efektif dan tepat
sasaran
Potensi konstribusi peran serta Adanya kerjasama dengan pihak Pemerintah daerah dapat
LSM, Perguruan Tinggi dan asing secara langsung dalam memfasilitasi sinergi program
Swasta di Sleman cukup besar penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan kemiskinan
pelestarian lingkungan terbuka secara terpadu
luas
Kualitas SDM Kabupaten Sleman Pemerintah pusat memperbaiki Pemerintah memberi jaminan
memiliki daya saing kuat peraturan perlindungan tenaga keamanan terhadap tenaga kerja
kerja di luar negeri. di luar daerah
Lokasi Kabupaten Sleman Pemerintah komitmen Pemerintah membuka investasi
strategis, alam subur dan sumber memerangi praktek eksploatasi usaha eksploitasi sumberdaya
daya alam tersedia sumberdaya alam yang tidak alam secara ramah lingkungan
ramah lingkungan.

SPKD Kabupaten Sleman 41


Tabel 4.6. Memperbaiki Kelemahan untuk menangkap Peluang
Kelemahan Peluang W vs O
Masih terdapat ego Pemerintah pusat secara Pemerintah daerah memfasilitasi
sektoral dalam pelaksanaan konsisten memperkuat dan koordinasi lintas sektoral untuk
pembangunan memperbaiki kebijakan otonomi keterpaduan program
daerah
Masih banyak peraturan Penegakan hukum, HAM dan Langkah pemerintah daerah untuk
daerah yang tidak berpihak pemberantasan korupsi diperkuat membuat annual report dimantapkan
pada kemiskinan
Kualitas pelayanan Gerakan kesetiakawan sosial Pemerintah daerah memfokuskan
pendidikan dan kesehatan nasional diperkuat, alokasi dana pelayanan pendidikan dan kesehatan
belum baik pendidikan dan kesehatan bagi keluarga miskin dan keluarga
diperbesar. menengah.
Distribusi pendapatan Pemerintah pusat mendorong Pemerintah daerah menghimbau
masyarakat timpang cukup pengembangan wilayah strategis investor baru untuk mengutamakan
tinggi dan cepat tumbuh pemanfaatan tenaga kerja keluarga
miskin
Masih terjadi praktek Keamanan nasional mantap dan Pemerintah daerah melindungi dan
kekerasan terhadap anak dan terkendali memberi kesempatan luas bagi
perempuan perempuan dalam pembangunan
Perkembangan teknologi Pemerintah pusat mendorong Pemerintah daerah memfasilitasi
tidak dapat dimanfaatkan perkembangan teknologi dan pengembangan TTG untuk
bagi keluarga miskin inovasi mendorong produktifitas keluarga
miskin
Keluarga miskin kesulitan Pemerintah pusat berperan Pemerintah memfasilitasi keluarga
mengakses perkembangan dalam kesepakatan kerjasama miskin untuk dapat mengakses
informasi global perkembangan informasi
Keluarga miskin tidak Peraturan investasi dipermudah Pemerintah Daerah memberi
mampu menangkap peluang dan penyaluran tenaga kerja kemudahan dan membantu pinjaman
kerja keluar negeri diperbaiki dana murah untuk menangkap
peluang kerja di luar negeri
Program penanggulangan Alokasi pendanaan dari pusat Pemerintah Daerah memfasilitasi
kemiskinan tidak dipantau untuk penanggulangan Pemantauan dan penilaian program
dan dinilai secara konsisten kemiskinan tetap tinggi penanggulangan kemiskinan secara
konsisten
Kerjasama antar pelaku di Adanya kerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah memfasilitasi
Sleman belum terintegrasi asing secara langsung dalam Sinergi program antar pelaku
dengan baik penanggulangan kemiskinan dan
pelestarian lingkungan terbuka
luas
Daya saing tenaga kerja Pemerintah pusat memperbaiki Pemerintah daerah memberi
bagi keluarga miskin untuk peraturan perlindungan tenaga pelatihan dan peningkatan
mengisi peluang kerja kerja di luar negeri. ketrampilan tenaga kerja bagi
rendah. keluarga miskin
Potensi sumberdaya Pemerintah komitmen Pemerintah Daerah memberi
alam tidak berpihak bagi memerangi praktek eksploatasi kesempatan pertama bagi keluarga
kesempatan usaha keluarga sumberdaya alam yang tidak miskin untuk berusaha eksploitasi
miskin ramah lingkungan. sumberdaya alam

42 SPKD Kabupaten Sleman


Tabel 4.7. Memanfaatkan kekuatan untuk menekan Ancaman
Kekuatan Ancaman S vs T
Kebijakan pemerintah daerah Kebijakan pemerintah pusat Pemerintah Daerah mengambil
dalam upaya penanggulangan menaikkan harga BBM. inisiatif untuk memberi
kemiskinan semakin mantap perlindungan bagi keluarga
miskin
Dukungan politik menuju Penegakan hukum, HAM dan Partisipasi masyarakat
keperintahan yang baik telah pemberantasan korupsi tidak untuk berperan menuju tata
berjalan kunjung menampakkan hasil kepemerintahan yang baik terus
didorong
Sarana dan prasarana pendidikan Terjadi bencana alam dan Pemerintah daerah terus
dan kesehatan merata kekeringan dimana-mana. memfasilitasi peningkatan
peranserta masyarakat
Pertumbuhan ekonomi daerah Nilai tukar rupaih terhadap uang Pemerintah Daerah terus
cukup tinggi asing merosot tajam mendorong sector riil yang
bertumpu pada usaha kecil dan
menengah
Stabilitas keamanan daerah Konflik antar suku dan golongan Pemerintah daerah selalu
terkendali muncul dimana-mana berkoordinasi dengan TNI dan
Polri dalam menjaga keamanan
daerah
Masyarakat dapat mengikuti Teknologi modern yang dikuasai Pemerintah Daerah memfasilitasi
perkembangan teknologi pihak asing dan masyarakat penelitian dan pengembangan
hanya sebagai penonton teknologi bagi pelaku lokal
Masyarakat dapat mengikuti Informasi dikuasai oleh swasta , Pemerintah daerah memfasilitasi
perkembangan informasi hanya untuk tujuan komersialisasi sarana teknologi yang dapat
dan tidak dapat diakses keluarga dimanfaatkan bagi kelaurga
miskin miskin
Terdapat kesempatan kerja secara Banyak perusahaan tutup dan Pemerintah daerah memfasilitasi
merata melakukan PHK Usaha Kecil Menegah untuk
memperluas usaha
Adanya alokasi pendanaan Terjadi penyimpangan Pemerintah Daerah memfasilitasi
untuk program penanggulangan penyaluran dana bagi keluarga system pengawasan program
kemiskinan miskin secara partisipatif
Potensi konstribusi peranserta Bantuan bersifat sedekah, tidak Pemerintah memfasilitasi
LSM, Perguruan Tinggi dan berkelanjutan dan tidak mendidik koordinasi program antar pelaku
Swasta di Sleman cukup besar
Kualitas SDM Kabupaten Sleman Tenaga ahli asing mendominasi Pemerintah Daerah terus
memiliki daya saing kuat. pasaran tenaga kerja nasional . memfasilitasi peningkatan
kualitas tegana kerja melalui
pelatihan dan magang
Lokasi Kabupaten Sleman Pemerintah mencabut hak-hak Pemerintah Daerah memfasilitasi
strategis, alam subur dan sumber perolehan masyarakat untuk usaha kemitraan antara
daya alam tersedia memanfaatkan sumberdaya alam. masyarakat lokal dengan investor
luar

SPKD Kabupaten Sleman 43


4.8. Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor-faktor penentu keberhasilan dalam dokumen ini adalah pilihan strategis
yang diharapkan mendukung tercapainya visi dan misi penanggulangan
kemiskinan di Kabupaten Sleman, yaitu:
4.8.1. Adanya kesepakatan untuk penentuan data sasaran secara akurat dan
mutakir.
4.8.2. Anggaran yang disediakan untuk program penanggulangan kemiskinan
diperbesar.
4.8.3.. Kebijakan pusat dan daerah tidak tumpang tindih
4.8.4. Program penanggulangan kemiskinan antar sector dan antar pelaku
dapat terpadu.
4.8.5. Prosedur investasi jelas, sederhana dan tidak berbelit sehingga minat
investasi usaha meningkat
4.8.6. Terdapat kepastian hukum
4.8.7. Keamanan kondusif dan terjamin
4.8.8. Modal sosial dalam masyarakat dapat ditingkatkan.
4.8.9. Organisasi masyarakat warga di tingkat lokal dapat memperjuangkan
hak bagi keluarga miskin.
4.8.10. Program Penanggulangan kemiskinan dapat tepat sasaran dan dipantau
secara konsisten.

44 SPKD Kabupaten Sleman


BAB V
STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN

5.1. Visi
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Sleman menetapkan
visi, yang merupakan hasil perumusan bersama dalam Musyawarah Lintas
Pelaku (MLP), yaitu: Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sleman
melalui penanggulangan kemiskinan.

5.2. Misi
Misi yang akan dijalankan untuk mencapai visi tersebut di atas adalah:
1.1.1. Menyusun suatu tatanan penyelenggaraan penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman secara partisipatif, gotong royong, bertanggung
jawab dan berkelanjutan.
5.2.2. Melakukan artikulasi, agregasi dan evaluasi terhadap kebijakan dan
program penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman.
5.2.3. Melakukan sinergi program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman.
5.2.4. Memperkuat kemandirian masyarakat menuju masyarakat sejahtera.

5.3. Tujuan Startegi Penanggulangan Kemiskinan


Tujuan umum dari strategi penanggulangan kemiskinan daerah Kabupaten
Sleman ini adalah terjadinya sinergi program antar stakeholders sehingga tercapai
hasil berupa jumlah penduduk miskin berkurang dan tingkat kesejahteraan
masyarakat meningkat.

5.4. Strategi dan Pendekatan


5.4.1. Strategi
Strategi penanggulangan kemiskinan yang diterapkan dalam SPKD ini
meliputi:
5.4.1.1. Mengintregasikan program masyarakat, pemerintah, dan swasta
5.4.1.2. Mendudukkan keluarga miskin sebagai pelaku utama dalam
penanggulangan kemiskinan
5.4.1.3. Mensenyawakan SPKD dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah

SPKD Kabupaten Sleman 45


(RPJM) Daerah dan Rencana Strategi Satuan Kerja Pemerintah Daerah
(Renstra – SKPD).
5.4.1.4. Menyebarluaskan program penanggulangan kemiskinan secara
merata.

5.4.2. Pendekatan
Pendekatan yang diterapkan dalam SPKD ini meliputi dua hal, penting yaitu:
5.4..2. Meningkatkan pendapatan keluarga miskin; Pendapatan keluarga dapat
meningkat apabila keluarga miskin mendapat kesempatan yang luas
melakukan usaha produktif.
5.4..3. Menurunkan pengeluaran keluarga; Pengeluaran yang dapat ditekan
adalah biaya kesehatan, pendidikan dan pemenuhan kebutuhan makan
(beras).
Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan pada hakekatnya merupakan
kebijakan publik yang berpihak kepada orang miskin (pro poor policy). Oleh
karena itu kebijakan tersebut harus diterjemahkan dalam pembangunan yang
berpihak kepada kaum miskin (pro poor development) dan pertumbuhan
ekonomi yang berpihak kepada orang miskin (pro poor growth).
Secara operasional arah penanggulangan kemiskinan dapat dikelompokkan
dalam empat kebijakan dan program, yaitu: perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, serta perlindungan
sosial. Keempat kebijakan dan program tersebut dilaksanakan secara sinergis
oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Peran masing-masing unsur pelaku
dalam keempat kebijakan dan program yang merupakan pilar penanggulangan
kemiskinan tersebut ditampilkan dalam matriks berikut ini.
Tabel 5.1. Peran Unsur-unsur KPKD dalam Program Penanggulangan Kemiskinan
Pilar Pelaku Perluasan Pemberdayaan Peningkatan Perlindungan
kesempatan Masyarakat kapasitas & SDM sosial
SWASTA
Lembaga Menyediakan Menyediakan Melakukan Menyediakan
Keuangan layanan kredit cepat, pelatihan santunan
mudah, dan murah pengelolaan dana
mikro
Industri Menyediakan Mejalin kemitraan Menyediakan Menyediakan
fasilitas dengan keluarga tempat magang santunan
miskin
Asosiasi Memberi Memberi Mendorong Menyediakan
bimbingan perlindungan perkembangan dan santunan
usaha menyalurkan

46 SPKD Kabupaten Sleman


Pers Menjadi wahana Melakukan promosi Menyediakan Menumbuhkan
komunikasi pemberdayaan informasi yang solidaritas
relevan
MASYARAKAT
LSM Melakukan Melakukan Melakukan Melakukan
advokasi pendampingan pendampingan pendampingan
Perguruan Tinggi Menyediakan Melakukan Memberi pelatihan Melakukan
kajian dan pendampingan pemantauan
alternatif solusi
Ormas Mengorganisir Memperkuat Menghimpun Menampung dan
organisasi anggota memelihara
PEMDA
Eksekutif Menciptakan iklim Menciptakan good Melakukan Menyediakan
yang kondusif dan governance pembinaan dan layanan umum
bertidak sebagai berfungsi sebagai
dan membuat
Regulator dinamisator
budget
Legislatif Menyetujui aturan Melakukan Mendorong Menyetujui
dan mengawasi pengawasan eksekutif peraturan yang
mengusulkan
pro poor.
program

Dalam matriks tersebut terlihat bahwa pilar kegiatan penanggulangan


kemiskinan akan bersinergi (saling melengkapi dan menguatkan) antar pelaku.
Setiap baris menunjukkan kebijakan dan program sebuah unsur dalam kegiatan
penanggulangan kemiskinan.
Terkait dengan hal di atas perlu dicatat bahwa tidak semua pelaku bisa
mengisi semua pilar dengan kegiatan yang secara langsung membawa dampak
penanggulangan kemiskinan. Misalnya, perguruan tinggi akan sulit mengisi
pilar perlindungan sosial, sehingga dalam kegiatan ini perannya lebih pada
monitoring dan evaluasi. Sebaliknya organisasi kemasyarakatan justru sangat
potensial mengisi pilar tersebut. Demikian pula dengan pelaku-pelaku yang lain
untuk pilar-pilar yang lain. Sekalipun demikian, dengan sinergi semua pelaku
maka semua pilar akan dapat diisi.
Isi kebijakan dan program telah ditentukan oleh masing-masing pelaku dalam
MLP. Rangkuman isian tersebut disajikan pada sub-bab berikut.

5.5. Kebijakan dan Program Perluasan Kesempatan


Kebijakan dan program perluasan kesempatan dimaksudkan untuk memberi
peluang yang seluas-luasnya kepada kaum miskin agar dapat mengentaskan
diri dari kemiskinannya. Kesempatan tersebut dapat berupa kesempatan kerja,
menambah modal usaha, memasarkan hasil produksi, membangun jaringan

SPKD Kabupaten Sleman 47


kerja, dan seterusnya. Sumbangan tiap-tiap unsur pelaku penanggulangan
kemiskinan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.2. Unsur Pemerintah Daerah


No Nama Kebijakan Program
Lembaga
1. Dinas Tenaga Meningkatkan dan Menumbuhkan minat masyarakat untuk
Kerja, Sosial, menumbuhkembangkan minat mengikuti program transmigrasi
Transmigrasi bertransmigrasi
dan Keluarga Mengembangkan kompetensi Memperluas lapangan kerja dengan perluasan
Berencana dan profesionalisme tenaga dan pengembangan kesempatan kerja
kerja dan mendorong Pengembangan Kewirausahaan dan
terciptanya iklim berwira usaha
Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja
Perlindungan dan Pengembangan
Ketenagakerjaan
Memantapkan hubungan Pemantauan Hubungan Kerjasama dengan
kerjasama dengan dunia usaha Dunia Usaha
2 Dinas P3BA Mengembangkan Energi Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Alternatif selain BBM
3 Dinas Pertanian Mengembangkan diversifikasi Pengembangan Usaha Tani Non Padi
& Kehutanan pangan
4 Dinas P2KPM Mengembangkan Industri Kecil Peningkatan Pelayanan Perindustrian dan
dan Menengah terutama yang Perdagangan
ada di Sentra Rumah Tangga & Pengembangan SDM Perindustrian dan
Pedesaan Perdagangan
Meningkatkan Manajemen Pengembangan Kemampuan Usaha Industri
Usaha Perdagangan
Monitoring dan Evaluasi Perindustrian dan
Perdagangan
Mengembangkan Penanaman Promosi Investasi
Modal Pelayanan Penanaman Modal
Meningkatkan Penataan Penyediaan Data Koperasi & UKM
Kelembagan Koperasi UKM
Mengembangkan Penanaman Penciptaan Iklim dan Peluang Investasi yang
Modal kondusif
5 Bagian Penataan dan Pemberdayaan Pengkajian dan Penyiapan Rencana Kebijakan
Perekonomian Usaha Informal Daerah
Setda Mengembangkan Pengkoordinasian Kegiatan Bidang
Perekonomian Daerah Perekonomian
Pemberdayaan Usaha Kemitraan Usaha Koperasi dan UMKM
Masyarakat Khususnya UMKM
6. Dinas Meningkatkan upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan
Pendidikan Pemerataan Pendidikan
Nasional
7. Dinas Meningkatkan Derajat Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Kesehatan Kesehatan

48 SPKD Kabupaten Sleman


Tabel 5.3. Unsur Swasta
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. BPR Panca Arta Monjali Penyediaan Dana Murah Pengelolaan Dana untuk UKM
2. BKPK DIY Promosi Kesehatan Koordinasikan Promosi Kesehatan
3. PT Kepurun Meningkatkan Peningkatan Usaha Tani Non Padi
Penghasilan Petani
4. PT. Prambanan Boko Meningkatkan Membina Pengrajin Cindera Mata Berbasis
Penghasilan Pengrajin Usaha pariwisata
Cindera mata

Tabel 5.4. Unsur Masyarakat


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Yayasan PATRA-PALA Meningkatkan Sumberdaya Inventarisasi dan Klasifikasi
Kepariwisataan Usaha Jasa Pariwisata Berbasis
Masyarakat
Pengembangan Obyek dan
daya Tarik Wisata Berbasis
Masyarakat
Pengembangan Pariwisata Peningkatan dan
yang Bertumpu pada Pengembangan Sarana
Pemberdayaan Masyarakat dan Prasarana Pariwisata
serta Kemitraan Usaha dengan Berbasis Masyarakat lewat (a).
tetap memliharan nilai-nilai Pemeliharaan/ Penataan Sarana
budaya bangsa dan agama dan Prasaran Obyek Wisata, (b).
serta Kelestarian Lingkungan Peningkatan/ Pembangunan
Sarana dan Prasarana Obyek
Wisata (c). Penyusunan
Identifikasi Kebutuhan
Prasarana Pendukung bagi
Pemngembangan ODTW
dan Jaringan Wisata, (d).
Penyusunan Rencana Induk
Pengembangan Kawasan/
Karidor Wisata Berbasis
Masyarakat.
2. Yayasan SHOREA Pembuatan Pembibitan
Mengembangkan Hasil Hutan
Non-Kayu
3. Yayasan Forum Studi Penyediaan Dana Pinjaman Pengelolaan dana Bergulir
Transformasi (FOSTA) Pendampingan Usaha Keluarga
Pembinaan Ekonomi Rumah
Tangga
4. Yayasan Mitra Mandiri Peningkatan Penghasilan Pengembangan Usaha Kecil &
Masyarakat (Income Koperasi
Generating)
Peningkatan Penghasilan Pengembangan Koperasi
Keluarga Binaan Kredit

SPKD Kabupaten Sleman 49


5 Yayasan Dian Desa Menyediakan Block Dana Pengelolaan Pinjaman Dana
untuk pinjaman usaha kecil & Bergulir untuk usaha rumah
menengah tangga
Meningkatkan Pendapatan Usaha Agri Bisnis (Jamur,
Sampingan bagi Masyarakat Anggrek, Rempon-rempon)
Miskin dengan Pemanfaatan Lahan
Pekarangan
Mengelola Sampah Rumah Peningkatan Pendapatan
Tangga Berbasis Kelompok melalui Swadaya Pengelolaan
Masyarakat Sampah

Membuka Usaha Kerajinan Peningkatan Jaringan


Menengah dan Kecil Pemasaran Kerajinan Tangan
berbahan baku kayu,
kepompong liar dan kulir pari
6. Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Pendapatan Pembinaan Usaha
Keluarga bertumpu pada Kelompok.(khususnya bagi Ibu
Usaha Kelompok. Rumah Tangga)
Pelayanan Pengembangan
Usaha (Bussines Development
Services).
7 Yayasan GAIA Life Skill Pendampingan Pemuda Untuk
Kegiatan Produktif
8. Instiper Peningkatan Usaha Kecil Pengembangan Industri Kecil
Jamur dan Nata De Coco
9. Yayasan Kutilang Indonesia Penyelamatan Burung Promosi Hobi Birdwatching
Inventarisasi Kawasan Penting
untuk Birdwacting
Pengembangan Usaha Penanaman Pohon yang
Pembibitan Pohon digemari Burung
10. Lembaga Study Kesehatan Pengembangan Pengobatan Mengembangkan Pengobatan
(LESSAN) Alternatif Tradisional
11. Universitas Islam Indonesia Meningkatkan Peran Lembaga Mendorong Pendirian Bank
(UII) Keuangan Umat Muamalat
12 Forum Komunikasi Badan Menyediakan dana untuk Pengelolaan dana bergulir
Keswasdayaan Masyarakat (FK pinjaman usaha kecil untuk usaha kecil dan
BKM) menengah
Meningkatkan penghasilan Pengembangan kelompok
masyarakat usaha bersama
Membuka Peluang usaha bagi Pelatihan Motivasi
generasi muda kewirausahaan
Penumbuhan kerjasama antar
BKM se Kabupaten Sleman

50 SPKD Kabupaten Sleman


5.6. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Masyarakat
Kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk
membuat masyarakat, khususnya kaum miskin, mendapatkan kemampuan
untuk melakukan aktivitas sesuai kehendaknya dalam upaya mengentaskan diri
dari kemiskinan. Bentuknya antara lain berupa kemampuan membangun usaha
yang mandiri, mempu memperjuangkan hak-haknya (semisal buruh), mampu
menyelesaikan persoalan yang dihadapi, dan lain-lain. Sumbangan tiap-tiap
unsur pelaku penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.5. Unsur Pemerintah Daerah


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga Kerja, Sosial, Mengembangkan kopensi dan Meningkatkan kualitas Tenaga
Transmigrasi dan Keluarga Profesionalisme Tenaga Kerja Kerja dengan pendayagunaan
Berencana tenaga kerja
Meningkatkan Partisipasi Sosial Memberdayakan Potensi dan
Masyarakat Pengembangan Kesejahteraan
Sosial
Meningkatkan Pembinaan Memberdayakan Fungsi Keluarga
Ketahanan Keluarga
Meningkatkan dan menumbuh- Peningkatan Kemampuan
kembangkan minta Petugas Ketransmigrasian,
bertransmigrasi Penyuluh, Pendaftar dan Seleksi
Calon Transmigran
Meningkatkan Srana & Prasarana Peningkatan Sarana & Prasarana
Bertransmigrasi Transmigrasi
Kerjasama Mitra makarya
Muktitama
2 Dinas P3BA Melindungi Korban Bencana Alam Bantuan Korban Akibat Bencana
3 Dinas pertanian & Meningkat Usaha Tani Non Padi Penguatan Modal Usaha Tani
Kehutanan Sayuran
4 Dinas Kimpraswilhub Pemberdayaan masyarakat Pengembangan Perumahan dan
Permukiman
Pembangunan Lingkungan
Perumahan
Meningkatkan Pembangunan Peningkatan dan Pemeliharaan
Sarana dan Prasarana Kwalitas Jalan dan Jembatan
Perhubungan

SPKD Kabupaten Sleman 51


5 Bagian Perekonomian Mewujudkan Sistem Ketahana Peningkatan Ketahanan Pangan
Setda Pangan yang berbasis
pada Sumberdaya Pangan,
Kelembagaan dan Budaya Pangan
Lokal
Mengurangi Beban Pengeluaran Penanggulangan Kemiskinan
Masyarakat Miskin melalui Pendampingan
Disteribusi Beras Miskin
Meningkatkan Kualitas Sarana dan Pengkoordinasian Kegiatan
Prasarana Ekonomi Bidang Perekonomian
6. Dinas Pendidikan Nasional Memeratakan Pendidikan Pra Pemerataan Pendidikan
Sekolah, SD, Menengah dan PLS
Meningkatkan Kualitas Sarana dan Peningkatan Kualitas Sarana dan
Prasarana Pendidikan Prasarana Pendidikan

Tabel 5.6. Unsur Swasta


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1 AKPPI Cab. DIY Memperluas Jaringan Kerja Mendampingi Masyarakat Miskin
Pembangunan Perumahan dan dalam mengakses Sumberdaya
Permukiman Kunci Perumahan dan
Permukiman

2 PT Astra Honda Menyisihkan Sebagian Pemberian Santunan Beasiswa


Internasional Keuntungan Perusahaan
3. BPE Panca Arta Monjali Penguatan Pemanfaatan dana Pendampingan Lapangan
4. BKPK DIY Promosi Kesehatan Promosi Kesehatan Terpadu

52 SPKD Kabupaten Sleman


Tabel 5.7. Unsur Masyarakat
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1 Yayasan PATRA-PALA Peningkatan promosi dan Pengiriman Duta Seni ke
Pemasaran Produk Wisata Berbagai Event
Berbasis Masyarakat Pembuatan Film Pariwisata
Dokumenter Pesona Wisata
SEMBADA
Penyusunan Buku
Kepariwisataan dan Pembuatan
Paket Wisata Berbasis
Masyarakat
Kemitraan Usaha Pariwisata Pelaksanaan Event-event
Berbasis Masyarakat Kepariwisataan Berbasis
Masyarakat
Pemilihan Duta Wisata
SEMBADA
Pelatihan Usaha Jasa Pariwisata
Bertumpu pada Masyarakat
Peningkatan Peran dan fungsi
Anggota HPI, PHRI, ASITA dalam
pengembangan pariwisata
berbasis Masyarakat
2 Yayasan SHOREA Mengelola Hutan rakyat Peningkat Kapasitas Masyarakat
dengan Manajemen Kelompok untuk Mengelola Hutan
3. Yayasan Mitra Mandiri Pendampingan Desa Binaan Pembinaan Kegiatan Ekonomi
Keluarga
Kemandirian Ekonomi Rakyat Peningkatan Ketrampilan
Miskin Kewirausahaan
4 Yayasan Dian Desa Peningkatan pemasaran Membentuk Jaringan Kerja
Kerajinan tangan Pasar Kerajinan Tangan

Pengembangan TTG Bidang Penelitian dan Pengembangan


Pertanian (Perontok Padi & Tungku Hemat Energi & TTG
Pemipil Jagung). untuk peningkatan penghasilan
keluarga.
Meningkatkan Keberdayaan Survey pasar dan
Masyarakat melalui Pengembangan Desain/Model
Pendampingan Memberi Dana Talangan untuk
Penghematan Kayu Bakar usaha kerajinan rumah tangga

SPKD Kabupaten Sleman 53


5 Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Keberdayaan Penguatan Kelompok Swadaya
Masyarakat melalui Masyarakat (KSM)
Pendampingan

Mempercepat Perbaikan Membentuk Jaringan Kerja


Rumah Sehat Pembangunan Perumahan &
permukiman
Pengelolaan Dana Mikro untuk
Perbaikan Rumah
6 Yayasan GAIA Life Skill Pemberdayaan Organisasi
Masyarakat
7. UPN ”Veteran” Penguatan Pemberdayaan Desa Binaan
Masyarakat Stimulan Pengabdian Oleh
Dosen
KKN Tematik
8. INSTIPER Peningkatan Keberdayaan Pemberdayaan Kelompok Tani
masyarakat
9. Yayasan Kutilang Indonesia Penyelamatan Satwa Pengelolaan Habitat Satwa liar
di sekitar Permukiman
Penyelesaian Konflik antar stwa
liar dengan masyarakat
10. LESSAN Pemanfaatan Lahan Gerakan Advokasi Perlindungan
Pekarangan Tanaman Obat
11. UII Desa Binaan KKN Mandiri
12. FK BKM Peningkatan Keberdayaan Penguatan Kelembagaan
masyarakat untuk Kelompok usaha kecil
mengembangkan potensi Lokal Pembinaan kegiatan ekonomi
rumah tangga
Perubahan sikap mental dan Pendampingan manajemen
perilaku masyarakat terutama usaha kecil
masyarakat miskin Pendampingan menejemen
ekonomi rumah tangga

5.7. Kebijakan dan Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia


Kebijakan dan program peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dimaksudkan
untuk memperbesar kemampuan masyarakat, khususnya masyarakat miskin,
dalam menangani persoalan-perosalan yang dihadapinya. Di samping itu
kebijakan dan program tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
sumberdaya manusia, khususnya kaum miskin, agar dapat mengentaskan diri
mereka dari kemiskinan. Bentuknya antara lain berupa ketrampilan, pengetahuan,
wawasan, dan sebagainya. Sumbangan tiap-tiap unsur pelaku penanggulangan
kemiskinan adalah sebagai berikut:

54 SPKD Kabupaten Sleman


Tabel 5.8. Unsur Pemerintah daerah
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga Kerja, Sosial, Meningkatkan Kualitas hidup Penanggulangan Kemiskinan
Transmigrasi dan Keluarga Keluarga miskin
Berencana Meningkatkan Kualitas Meningkatkan Kesejahteraan
Keluarga dan Pelayanan KB dan Perlindungan Anak
Melaksanakan Program
Keluarga Berencana
Meningkatkan Peran dan
Perlindungan Perempuan
Meningkatkan kualitas data Menyelenggarakan
dan informasi Program KB Pendaftaran Penduduk dan
Pendataan Keluarga Miskin
Meningkatkan Pembinaan Peningkatan Pemberdayaan
Ketahanan Keluarga Keluarga
Meningkatkan Kualitas Peningkatan Kualitas Pelayanan
Pelayanan KB, Kesehatan KB dan Kesehatan Reproduksi
Reproduksi dan Jaminan Peningkatan Pengayoman
Perlindungan Pemakaian Peserta KB, Perlindungan Hak
Konstrasepsi dan Pengetahuan Kesehatan
Reproduksi Remaja
Meningkatkan Penyusunan Peningkatan Kualitas
Data dan Informasi Program KB Pencatatan, Pelaporan,
Pengolahan dan Analisis data
2. Dinas Pertanian & Kehutanan Meningkatkan Kualitas Petani Menyelenggarakan Kursus,
Latihan dan Magang bagi
Petani Agri Bisnis
3. Dinas P2KPM Meningkatkan Kemampuan Peningkatan Kualitas
SDM Bidang Koperasi dan UKM Kelembagaan Koperasi
Peningkatan Kualitas Pelayanan
Publik
Pemanfaatan Kualitas Data
Penguatan Modal Koperasi dan
UKM
Pengembangan Kemitraan
4. Dinas Kesehatan Peningkatan Kualitas SDM, Upaya Kesehatan
Lingkungan, Prasarana dan Perbaikan Gizi
Sarana Hidup Sehat
Peningkatan Pemahaman dan
Penerapan Perilaku Hidup
Sehat
5. Dinas Peternakan Meningkatkan Kwalitas SDM Peningkatan Kwalitas SDM
Bidang Tanaman Pangan dan
Peternakan

SPKD Kabupaten Sleman 55


6. Dinas Kimpraswil Hub Meningkatkan Peranserta Peningkatan Peranserta
Masyarakat dalam Masyarakat dalam
Pembangunan Bidang Pembangunan Bidang PU
Pekerjaan Umum

Tabel 5.9. Unsur Swasta


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. AKPPI Cab. DIY Meningkatkan Kapasitas Pelatihan untuk Pendamping
Pendamping Masyarakat Masyarakat (Pelatihan untuk
Pelatih
Memperbanyak Jumlah Pendampingan Masyarakat
Pendamping Masyarakat untuk Pemetaan Swadaya
2. Bank Rakyat Indonesia Meningkatkan Efektifitas Pelayanan Pelatihan Pengelolaan Dana
Cabang Sleman Dana Mikro KBP Mikro
3. BKPK DIY Promosi Kesehatan Monitoring dan Evaluasi
Promkes
4. PT Kepurun Mengoptimalkan Lahan Pertanian Pembinaan Petani Muda
berbasis Agro Bisnis

Tabel 5.10. Unsur Masyarakat


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Yayasan PATRA-PALA Peningkatan Sumberdaya Manusia Pendampingan, Penyuluhan
Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Pelatihan Kepariwisataan
Masyarakat sekitar Obyek
Wisata secara terintegritas
Pemagangan Masyarakat
ke tempat-tempat Potensi
pariwisata
Pengembangan Masyarakat Mobilisasi dan Perpaduan
menuju multiplier effect Sumberdaya melalui
Mekanisme Usaha Pariwisata
Tourism Impact Management
2 Yayasan SHOREA Pengembangan Kemampuan Pelatihan Organisasi
Masyarakat Pelatihan Pembuatan Kompos
Belajar Antar Petani
3. Yayasan Mitra Mandiri Perubahan Sikap Mental & Perilaku Pelatihan Menggali Potensi
Positif
Pemberdayaan Keluarga Binaan Pendampingan Intensif Desa
dalam Mengelola Usaha Kecil Binaan
sesuai Bakat Alam (Talenta)

56 SPKD Kabupaten Sleman


4 Yayasan Dian Desa Pengembangan Jasa berbasis Eko Pelatihan Bagi Pemandu untuk
Wisata tracking dan wisata alam
Meningkatkan Kapasitas Pelatihan untuk Pendamping
Pendamping Masyarakat Masyarakat (Pelatihan untuk
Pelatih)
Memperbanyak Jumlah Penerimaan Magang untuk
Pendamping Masyarakat Kerajinan Tangan dan
Penguasaan TTG Pengolahan
Limbah Cair

5. Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Kapasitas Pelatihan untuk Pendamping


Pendamping Masyarakat Masyarakat (Pelatihan untuk
Pelatih)
Memperbanyak Jumlah Pendampingan Masyarakat
Pendamping Masyarakat untuk Perencanaan Partisipatif
6. Yayasan GAIA Life Skill Training Kewirausahaan, Home
industry
7. UPN ”Veteran” Pendampingan KKN Pelatihan Kewirausahaan
Teknologi Tepat Guna
8. INSTIPER Penigkatan kapasitas Masyarakat Pelatihan Agroindustri di
pedesaan
Pelatihan Pemanfaatan Limbah
Pertanian
9. UNWAMA Pendampingan KKN Tematik Pelatihan untuk Tenaga
Pendamping Masyarakat
Penyediaan Tenaga Peneliti
Lapangan
10. UII Pendampingan KKN Pembangunan Bank Muamalat
11. Yayasan Kutilang Indonesia Pelatihan kepemanduan Wisata Pendampingan
Pengamat Burung
12. LESSAN Pendidikan dan Pelatihan bagi Pelatihan dg Pemagangan
Masyarakat (learning by doing)
13. Yayasan Ghifari Pemerataan Pendidikan Anak yatim Pendidikan dan pelatihan bagi
dan terlantar anak yatim dan terlantar
14. FK BKM Pemerataan kesempatan Basiswa
pendidikan
Perlindungan Keluarga Miskin Santunan warga miskin
Santunan Kesehatan untuk
warga miskin
15. PD Muhammadiyah Pembinaan Keluarga terutama Melatih Anak Yatim untuk usaha
Cabang Sleman Perempuan danAnak produktif
16. Fatayat NU Sleman Pembinaan dan Pelatihan Meningkatkan Penghasilan
Perempuan Perempuan lewat usaha
keluarga

SPKD Kabupaten Sleman 57


5.8. Kebijakan dan Program Perlindungan Sosial
Kebijakan dan program perlindungan sosial dimaksudkan untuk menjaga
kaum miskin dan kaum lemah pada umumnya dari dampak buruk kapitalisme,
liberalisme dan egoisme kehidupan. Kebijakan dan program tersebut dapat
berupa pertolongan sementara kepada kaum miskin agar mereka dapat tetap
bertahan hidup. Bentuk lainnya adalah pemberian berbagai jaminan dan
penetapan aturan yang memihak kepada mereka. Sumbangan tiap-tiap unsur
pelaku penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.11. Unsur Pemerintah Daerah


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga Kerja, Mengembangkan kompetensi dan Meningkatkan Perlindungan dan
Sosial, Transmigrasi Profesionalisme Tenaga Kerja Kesejahteraan Tenaga Kerja
dan Keluarga Mengembangkan koordinasi dan Meningkatkan Pembinaan
Berencana Jalinan kerja dengan Perusahaan dan Hubungan Industrial dan
Lembaga Terkait Perlindungan Tenaga Kerja
Menetapkan Standard Pelayanan Meningkatkan jaminan
Minimal Penanganan PMKS, Kesejahteraan Sosial
meningkatkan sarana dan Rehabilitasi dan Perlindungan
prasarana Pelayanan PMKS dan Sosial
Menyelenggarakan Bimbingan Teknis
Peningkatan Sarana & Prasarana
Pekerjaan Sosial
Pelayanan PMKS
Profesi Pekerja Sosial
Meningkatkan Partisipasi Sosial Peletakan dasar Kesetiakawanan
Masyarakat Sosial Masyarakat
Pembangunan Kesejahteraan
Sosial Berbasis Masyarakat
Mengembangkan Kegiatan USEP Kemitraan Relawan Sosial
Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga Penanggulangan Keluarga Miskin
Miskin
Mengintensifkan Bimbingan Sosial, Perlindungan Penyandang Cacat
Mental dan Ketrampilan bagi Pendampingan Korban Kekerasan,
Penyandang Masalah Ketunaan, Ketunaan, Keterlantaran dan
keterlantaran dan perilaku Perilaku Menyimpang
menyimpang
Penyantunan Penyandang
Ketunaan, Keterlantaran dan
Perilaku Menyimpang
Membangun Fasilitas pelayanan Pelayanan Bantuan Korban
korban bencana dan kedaruratan Bencana dan Kedaruratan
Meningkatkan Sosialisasi dan Motivasi Sosialisasi dan Motivasi Masalah
Masalah Bencana Bencana

58 SPKD Kabupaten Sleman


2. Dinas P3BA Melindungi Masyarakat dari Ancaman Penanggulangan Bencana
Bencana Alam Kekeringan
Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)
untuk Supply Air Pengairan
Rehabilitasi Bangunan Air Paska
Bencana
Penanganan Tanggap Darurat
Paska Bencana
3. Dinas Pertanian & Melindungi Ketersediaan Prasaran Monitoring Peredaran &
Kehutanan Usaha Tani Ketersediaan Pupuk dan Pestisida

Tabel 5.12. Unsur Swasta


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. AKPPI Cab. DIY Meningkatkan Peranserta Mendampingi Perbaikan
Masyarakat dalam Penyehatan Rumah Bagi Keluarga Miskin
Lingkungan Permukiman

2. PT Kepurun Menjalin Kerjasama Kemitraan Pemasaran Bersama Hasil


Agro Industri Pertanian Agro Industri
3. PT Candi Prambanan Boko Membina Pengrajin Cindera Penataan Pedagang Asongan Di
Mata Lokasi Wisata
4. PT. Honda Internasional TBK Membina Tenaga Kerja berbasis Memberi Jaminan Keselamatan
K3 Kesehatan Kerja

Tabel 5.13. Unsur Masyarakat


No Nama Lembaga Kebijakan Program
1 Yayasan PATRA-PALA Penggalian Sumber PAD sector Identifikasi peningkatan
pariwisata berbasis Masyarakat Pendapatan pariwisata berbasis
Masyarakat
Penyusunan Modul/buku
Peningkatan Pendapatan
pariwisata berbasis masyarakat
Pengembangan Produk melalui
modul/buku hasil identifikasi
2 Yayasan SHOREA Advokasi Pengelolaan Hutan Pendampingan Masyarakat
Berbasis Masyarakat
3. Yayasan Mitra Mandiri Memfasilitasi anggota Kop Memberdayakan anggota
Dit untuk terdaftar sebagai Kopdit
anggota DAPERMA
Peningkatan Solidaritas & Menghimpun dana
Kepedulian antar sesama Perlindungan Bersama
pelaku ekonomi terhadap (DAPERMA)
rakyat miskin

SPKD Kabupaten Sleman 59


4 Yayasan Dian Desa Meningkatkan Peranserta Penyediaan Air Bersih dan
Masyarakat dalam penyediaan Jamban Keluarga untuk
air bersih dan sanitasi masyarakat berpenghasilan
rendah (Water Supply &
Sanitation for Low Income
Community /WSS LIC)
Pengolahan Limbah Rumah Pengembangan TTG
Tangga & Industri Kecil Pengolahan Limbah Cair

5 Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Peranserta Perbaikan Rumah Bagi Keluarga


Masyarakat dalam Penyehatan Miskin
Lingkungan Permukiman
Penyediaan Air bersih
Promosi Kesehatan

Dapur Sehat
6. Yayasan GAIA Pemerataan Pendidikan dan Ayo Sekolah (Bantuan bagi anak
Perlindungan tak mampu)
Mobil Klinik untuk Pelayanan
Kesehatan dasar bagi anak-anak
jalanan dan urban poor
Promosi Kesehatan
7. Yayasan Kutilang Indonesia Advokasi Penerapan pajak
progresif bagi upaya konservasi
satwa liar
Kampanye Dampak Kesehatan
bagi Pemeliharaan Satwa Liar
8. LESSAN Adanya Legal Drafting
Participatory Public

5.9. Peran Pengurus KPKD


Pengurus KPKD bertugas membangun kemitraan antar-unsur pelaku
penanggulangan kemiskinan. Kemitraan antar-unsur dalam penanggulangan
kemiskinan dimaksudkan untuk membangun kesadaran dan sikap baru
dalam memandang masalah-masalah kemiskinan. Kemitraan diawali dengan
kesadaran bahwa penanggulangan kemiskinan tidak akan efektif dan efisien jika
hanya dikelola secara sendiri atau secara sektoral. Oleh karena itu diperlukan
kerjasama yang harmonis antar pihak dalam mensinergikan kegiatan secara
terpadu. Harmoni dapat tercipta apabila semua pihak bersedia saling belajar,
bekerjasama, memahami perbedaan dan saling percaya. Dengan demikian akan
terwujud suatu kemitraan yang setara, yang mengedepankan prinsip-prinsip
keadilan sosial, transparansi, partisipatif dan akuntabel.
Di samping itu, pengurus KPKD bertugas mengatasi persoalan-persoalan seperti:
(a) Belum memadainya jaringan kerjasama antara pemerintah, swasta dan

60 SPKD Kabupaten Sleman


masyarakat. (b) Terbatasnya kapasitas pemerintah dalam mobilisasi sumberdaya.
(c) Terbatasnya kemampuan masyarakat dalam menggali dan memanfaatkan
sumberdaya lokal. (d) Lemahnya jaringan kelembagaan dalam upaya akselerasi
pengembangan masyarakat pada tingkat lokal.

SPKD Kabupaten Sleman 61


62 SPKD Kabupaten Sleman
BAB VI
SISTEM PEMANTAUAN DAN PENILAIAN
Sistem pemantauan dan penilaian (monitoring and evaluation system) dalam
program penanggulangan kemiskinan tidak lain merupakan kesepakatan
bersama untuk saling terbuka dan bersedia menerima masukan dari segenap
pemangku kepentingan (stakeholders). Hal ini karena: (a) Upaya penanggulangan
kemiskinan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja, melainkan harus
melibatkan semua pemangku kepentingan. (b) Karena melibatkan banyak pihak
maka harus partisipatif. Untuk benar-benar partisipatif diperlukan transparansi.
(c) Meskipun semua pihak telah mengambil peran dalam penanggulangan
kemiskinan, mereka seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dalam
satu koordinasi. Koordinasi dapat dicapai antara lain melalui pemantauan dan
keterbukaan semua pelaku.

6.1. Pemantauan
Untuk mencapai maksud di atas, pemantauan kegiatan penanggulangan
kemiskinan di Kabupaten Sleman dilakukan dengan metode sebagai berikut.

6.1.1. Pelaku
Pelaku pengawasan adalah semua pemangku kepentingan (stakeholders)
dalam penanggulangan kemiskinan. Dengan kata lain, semua pelaku kegiatan
penanggulangan kemiskinan adalah pemantau bagi dirinya sendiri dan bagi
pelaku lain. Dengan demikian maka prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas,
dan partisipatif dapat diwujudkan.

6.1.2. Obyek
Obyek yang dipantau adalah semua kegiatan penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman. Dari segi tahapan, pemantauan dilakukan mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan. Dari sisi unsur pelaku, pemantauan
dilakukan terhadap kegiatan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. Sedang
dari segi kewilayahan, pemantauan dilakukan mulai dari tingkat dusun hingga
tingkat kabupaten.

6.1.3. Sarana
Sarana pemantuan kegiatan penanggulangan kemiskinan adalah sarana yang
dimiliki dan dioperasikan oleh masing-masing pelaku. Maksudnya, selaras
dengan semangat kerelawanan dan partisipatori maka masing-masing pelaku
pemantuan diharapkan menggunakan alat-alat mereka sendiri.

SPKD Kabupaten Sleman 63


6.1.4. Metode
Metode pemantuan, yaitu cara memantau kegiatan penanggulangan kemiskinan,
ditentukan oleh masing-masing pemantau sesuai dengan mekanisme kerja
lembaga pemantau tersebut. Misalnya kalangan jurnalis menggunakan metode
atau kaidah jurnalistik, kalangan perguruan tinggi menggunakan metode
penelitian, pihak pemerintah menggunakan mekanisme pelaporan, dan
seterusnya.

6.1.5. Pelaporan
Hasil pemantuan secara formal dilaporan pada pertemuan rutin pengurus
KPKD atau pada forum lintas pelaku, yakni dalam acara Musyawarah Lintas
Pelaku (MLP). Sedang secara informal dapat disampaikan langsung kepada
masing-masing pelaku atau disampaikan dalam kelompok diskusi (Focus Group
Discussion; FGD).

6.2. Penilaian
Penilaian ditujukan untuk mengetahui apakah program penanggulangan
kemiskinan mencapai sasaran yang diharapkan. Penilaian dapat dilakukan sejak
perencanaan, persiapan, pelaksanaan, hingga hasilnya. Sekalipun demikian,
secara umum dapat dikatakan bahwa penilaian terutama menekankan pada
aspek hasil. Oleh karena itu kegiatan penilaian baru dapat dilakukan jika program
penanggulangan kemiskinan sudah berjalan dalam kurun waktu tertentu.
Kata “hasil” mencakup setidaknya tiga pengertian, yaitu keluaran (output), hasil
(outcome), dan dampak (impact). Terkait dengan SPKD ini yang dimaksud
keluaran mencakup rumusan kebijakan dan program yang dimaksudkan untuk
menanggulangi kemiskinan atau mengarus-utamakan kemiskinan. Rumusan
kebijakan dan program tersebut berasal dari pemerintah, swasta, maupun
masyarakat. Tolok ukurnya adalah: perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas dan SDM, serta perlindungan sosial. Dengan
kata lain setiap rumusan kebijakan dan program dinilai kesesuaiannya dengan
salah satu dari empat tolok ukur tersebut.
Yang dimaksud dengan hasil (outcome) dalam SPKD ini adalah membaiknya
kondisi sebagai akibat langsung dari kebijakan dan program yang dikeluarkan.
Oleh karena itu yang dinilai adalah: apakah terdapat perluasan kesempatan,
apakah masyarakat semakin berdaya, apakah terdapat peningkatan kapasitas
dan SDM, dan apakah terdapat perlindungan sosial.
Adapun yang dimaksud dengan dampak (impact) dalam SPKD ini adalah
dampak positif, yaitu perbaikan keadaan, setelah terwujud hasil seperti tersebut

64 SPKD Kabupaten Sleman


di atas. Dengan demikian yang dinilai adalah: apakah terjadi pengurangan
jumlah keluarga miskin dan apakah terdapat peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Salah satu tolok ukur yang bisa digunakan dalam hal ini adalah
indeks pembangunan manusia (Human Development Index; HDI).
Secara ringkas metode penilaian seperti diuraikan di atas dapat dilihat pada
matrik di bawah ini.

Tabel 6.1. Matriks Metode Penilaian Kegiatan Pronangkis


Hasil Tolok Ukur Keluaran (Output) Hasil (Outcomes) Dampak (Impact)
Perluasan Kesempatan Terumuskannya
kebijakan dan program Kesempatan semakin
perluasan kesempatan luas
pada setiap pelaku 1.Jumlah keluarga
Pronangkis miskin berkurang.
Pemberdayaan Terumuskannya
Masyarakat kebijakan dan program Masyarakat semakin 2.Indeks Pembangunan
pemberdayaan berdaya Manusia (IPM (HDI)
masyarakat pada setiap meningkat
pelaku Pronangkis
Peningkatan Kapasitas Terumuskannya
SDM kebijakan dan program Kapasitas SDM
peningkatan kapasitas meningkat
SDM pada seatiap
pelaku Pronangkis
Perlindungan Sosial Terumuskannya
kebijakan dan program Masyarakat terlindungi
perlindungan sosial
pada setiap pelaku
Pronangkis

6.3. Peran Pengurus KPKD


Peran pengurus KPKD dalam pemantuan dan penilaian kegiatan penanggulangan
kemiskinan secara umum adalah sebagai fasilitator, mediator, dan pemberi
rekomendasi.
6.3.1. Sebagai fasilitator, pengurus KPKD menyediakan data dan informasi
kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh setiap
pemangku kepentingan sehingga dapat membukakan jalan bagi siapa
saja yang hendak melakukan pemantauan.
6.3.2. Sebagai mediator, pengurus KPKD dapat meneruskan temuan, masu-
kan, dan saran yang disampaikan oleh pemantau kepada pelaku terkait.
Pengurus KPKD juga dapat mempertemukan pemantau dengan pelaku

SPKD Kabupaten Sleman 65


penanggulangan kemiskinan untuk permintaan informasi lebih lanjut,
konfirmasi, diskusi, kerjasama, dan sejenisnya.
6.3.3. Sebagai pemberi rekomendasi, Pengurus KPKD dapat memberi saran
dan masukan kepada semua pelaku terkait dengan tindak lanjut penang-
gulangan kemiskinan.
Untuk mengoptimalkan peran tersebut masing-masing pengurus KPKD
dapat melakukan koordinasi dengan komunitas yang diwakilinya. Ada-
pun kegiatan yang dapat dilakukan pengurus KPKD antara lain meli-
puti:
1. Penyajian kegiatan penanggulangan kemiskinan melalui situs inter-
net.
2. Dialog dan diskusi insidental antara Pengurus KPKD dengan para
pelaku atau pemangku kepentingan.
3. Sosialisasi melalui media massa.

66 SPKD Kabupaten Sleman


BAB VII
PENUTUP
Pemerintah Pusat telah mencanangkan penanggulangan kemiskinan merupakan
prioritas utama seperti tertuang didalam UU 25/2000 tentang PROPENAS,
Oleh karena itu Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah daerah Kabupaten
Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta menindaklanjuti program tersebut dengan
menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD).
SPKD berisi : (1) Uraian tentang strategi penanggulangan kemiskinan jangka
Panjang yang bersifat holistic dan terintegrasi di semua sektor, (2) Upaya sinkronisasi
kebijakan-kebijakan daerah dalam penanggulangan kemiskinan baik secara
makro-mikro dan strategis, (3) Proses penyaringan stategi terpilih berdasarkan
kemampuan dan kompetensi daerah dalam tindak penanggulangan kemiskinan
oleh Komite Penangggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) Kabupaten Sleman,
(4) Proses penyusunan SPKD melalui Musyawarah Lintas Pelaku (MLP) yang
dilakukan beberapa tahap bersama stakeholders Kabupaten Sleman melalui
prinsip partisipatif, transparan dan dapat dipertanggunggugatkan.
Langkah kebijakan yang digunakan untuk Penanggulangan Kemiskinan Daerah
berasaskan pada: (1) Menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha
bagi masyarakat miskin, (2) Memberdayakan masyarakat miskin agar mampu
dan mau mengakses informasi, perekonomian, sosial dan politik , serta dapat
menyampaikan aspirasi dan kebutuhannya, (3) Meningkatkan kapasitas atau
kemampuan masyarakat miskin agar bekerja dan berusaha produktif, dan (4)
Memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.
Untuk mensinergikan ragam kebijakan, program atau aturan terhadap 4 asas
tersebut, maka dibutuhkan mainstreaming penanggulangan kemiskinan secara
konstruktif dan berkelanjutan.
Strategi penanggulangan kemiskinan yang menyeluruh sangat penting maknanya
bagi kabupaten Sleman. Strategi tersebut akan menjadi arahan bagi seluruh
pelaku pembangunan di kabupaten Sleman baik masyarakat luas, swasta dan
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam upaya menanggulangi
kemiskinan secara sistematik dan konsisten dalam jangka panjang.
Strategi Penanggulanagn Kemiskinan Daerah merupakan sebuah kebutuhan
sesuai dengan kondisi spesifik daerah Sleman dan semua pelaku diharapkan
menyepakati dan mematuhi. Sinergitas program dan kegiatan dalam
penanggulangan kemiskinan terus dijalin dan ditingkatkan melalui koordinasi
intensif. Koordinasi antar stakeholders dalam penanggulangan kemiskinan juga
perlu dijalin dan ditingkatkan melalui forum komunikasi dan jaringan kerja.

SPKD Kabupaten Sleman 67


Permasalahan kemiskinan merupakan persoalan holistik yang harus menjadi
tanggung jawab semua pihak.
Upaya penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk mendidik masyarakat
miskin untuk terus menerus menemukenali potensi yang dimiliki baik individu,
keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Material, sumberdaya dan
ketrampilan selalu diarahkan sebagai modal dasar untuk kesejahteraan hidup.
Oleh karena itu didorong tumbuhnya rasa percaya diri akan kemampuannya
untuk lepas dari belenggu kemiskinan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran
bahwa tidak akan ada individu, kelompok yang dapat keluar dari belenggu
kemiskinan selain atas usaha individu, keluarga dan lingkungan itu sendiri.
Dengan demikian, diharapkan SPKD ini dapat menjadi acuan awal sebuah
sistem penanggulangan kemiskinan jangka menengah hingga jangka panjang
yang efektif dan efisien bagi seluruh pelaku pembangunan di Kabupaten Sleman.
Semua stakeholders baik perangkat daerah, sektor bisnis, LSM, organisasi profesi,
perguruan tinggi, media massa, orsospol, dan komponen lainnya perlu bersama-
sama bertekat untuk menanggulangi kemiskinan dalam sebuah sistem yang
terpadu dan konsisten dalam jangka panjang.

68 SPKD Kabupaten Sleman


LAMPIRAN 1
SPKD Kabupaten Sleman

Rekapitulasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman 2004


Berdasar AKU 2004 Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
No Bidang Kegiatan
Kebijakan Program Kegiatan Kebijakan Program
Tdk Langsung Langsung
1 Bidang Umum Pemerintahan 12 90 384 8 36 65 33
2 Pertanian 5 7 52 5 7 13 1
3 Perikanan 4 6 14 2 2 4 2
4 Pertambangan dan Energi 4 6 15 4 5 5 2
5 Kehutanan dan Perkebunan 7 8 35 6 6 6 4
6 Perindustrian & Perdagangan 6 16 62 4 10 13 15
7 Perkoperasian 3 4 14 3 4 9 4
8 Penanaman Modal 4 6 10 1 1 2 0
9 Ketenagakerjaan 8 9 46 6 7 12 13
10 Kesehatan 3 7 92 3 5 4 6
11 Pendidikan dan Kebudayaan 7 7 72 1 1 1 1
12 Sosial 5 8 30 4 6 8 4
13 Penataan Ruang 2 3 8 1 2 4 0
14 Permukiman 5 6 16 4 4 6 1
15 Pekerjaan Umum 4 7 24 2 2 1 2
16 Perhubungan 2 4 19 0 0 0 0
17 Lingkungan Hidup 4 8 31 1 2 2 0
18 Kependudukan 4 7 40 2 3 3 8
19 Pemuda dan Olah Raga 4 4 24 0 0 0 0
20 Kepariwisataan 3 4 14 2 2 2 0
21 Pertanahan 4 4 6 0 0 0 0
Total 100 221 1008 59 105 158 96
69
01. BIDANG UMUM PEMERINTAHAN
70

Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Kebijakan
(sesuai nomor dlm Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
AKU)
a. Mengembangkan budaya hukum untuk 1. Penyusunan produk (1). Evaluasi & pengkajian Peraturan perundangan tentang
meningkatkan pemahaman, kesadaran & kepatuhan hukum daerah. peraturan ttg pemerintahan desa sebaiknya bersifat pro poor
hukum bagi masyarakat Desa…
(3). Penyusunan juklak 12
perda: Pemdes =7, perijinan bd
industri =1, dst.
b. Meningkatkan pendidikan politik, etika dan moral 1. Pengembangan etika (3). Monitoring kondisi sospol Didorong melakukan kegiatan
politik secara demokratis Moral & budaya politik (Kegiatan KKN, ….) yang ber-orientasi penang-
gulangan kemiskinan
2. Peningkatan orpol & (1) Pemberdayaan orkesmas,
ormas orsospol, & LSM.
e. Memantapkan kelembagaan dan tatalaksana 2. Pembinaan (1) RKTL pengaturan lbg-2 desa (2) Pemberdayaan RT, Ini merupakan inti kegiatan
organisasi Pemda pemerintah, RW, BPD pembangunan masyarakat,
kelembagaan, dan khususnya dlm penanggulangan
pendapatan desa kemiskinan karena langsung
terkait dg masy desa, tempat
mayoritas KK miskin berada.
(4) Penelitian siklus tahunan (3) Penataan adm-pem
desa desa
(7) Pembinaan pengelolaan (5) Pembekalan Pamong
kekayaan desa. Desa dan BPD, dst.
(8) Inventarisasi & (6) Pemb.monitoring &
pensertifikatan tanah kas desa pemberian bantuan ke
desa (DAD, TPAD, tunj.
desa minus, RT/RW, BPD,
& penyeimbang desa)
(9) Audit tanah kas desa (11) Pembinaan adm
pertnahan kas desa dan
pembinaan APB desa
SPKD Kabupaten Sleman
SPKD Kabupaten Sleman

f. Meningkatkan kapasitas birokrasi yang efektif, 1. Pembinaan (6) Pembinaan Kecamatan merupakan
efisien, responsive, transparan, dan akuntabel admministrasi penyelenggaraan pemerintah lingkungan penyangga /
pemerintah daerah Kecamatan fasilitator pembangunan
pedesaan.
(7) Koordinasi penyelenggaraan
Pememerintah daerah
(8) Evaluasi & pengemb.
Otonomi daerah
2. Pengembangan Peningkatan orientasi Diarahkan unt penang-gulangan
aparatur daerah menejemen pemerintah kemiskinan
Daerah
6. Pengembangan & Pengelolaan dokumen Penting untuk koordinasi dan
penyusunan kebijakan Kebijakan, kegiatan, & hasil perencanaan menyeluruh
daerah pemerintah, pembangunan, &
kemasyarakatan.
7. Peningkatan sistem (1) Penerbitan penghitungan & (4) Pendaftaran & Kalau bisa, masyarakat miskin
perpajakan penetapan pajak daerah; pendataan wajib pajak tidak wajib bayar pajak
(2) Fasilitasi pemungutan pajak
penerangan jalan

8. Swakelola penguatan Bantuan dana unt.ormas, Sebaiknya diutamakan bg yg


modal orpol & LSM bergerak dlm “pronangkis”
22. Penyelenggaraan (1) Pembinaan kelembagaan (2) Pemb. Penyelengg. Lbg & perangkat desa punya
pemerintahan desa yg desa Pem desa peran strategis dlm pronangkis,
makin baik, dinamis, & tp blm dioptimalkan / justru ada
bertanggung jawab yg menghambat
(5) Pemb. Administrasi pem (4) Pemb. sumber
desa pendapatan desa

g. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga 1. Pengkajian, (1) Peningkatan koord & (8) Identifikasi usaha Bisa diarahkan untuk memberi
pemerintah, swasta, Perguruan Tinggi, dan LSM pengembangan, dan fasilitasi perumusan kebijakan informal (PKL) di 5 kesempatan KK miskin untuk
penyusunan kebijakan pengembangan desa wisata & kecamatan medapat lapangan kerja atau
daerah agropolitan lapangan usaha
(2) Inventarisasi & identifikasi
lembaga keuangan di Sleman
(3) Inventarisasi & indentifikasi
potensi ekonomi di Sleman
71
72

(4)Peningk koord pengemb


ekonomi
(5) Penyiapan rumusan
kebijakan sarana ekonomi
(6) Penyusunan & pengelolaan
data investasi & non-fasilitas
invetasi
(7) Peningkatan koordinasi &
fasilitasi pengembangan bisnis
plan & terminal agribisnis
2. Pendayagunaan (1) Fasilitasi pengemb promosi (3) Fasilitasi pokja gardu Bisa diarahkan untuk memberi
potensi swasta & daerah (houseware, agro & taskin kesempatan KK miskin untuk
masyarakat food) medapat lapangan kerja atau
lapangan usaha
(2) Fasilitasi pola kemitraan (4) Peningk koord DKP
investasi bagi pemberdayaan & pendampingan DPM
ekonomi daerah LUEP
(6) Pengemb potensi usaha (5) Fasilitasi kemitraan
daerah usaha swasta &
masyarakat
(8) Fasilitasi peringatan (7) Pendampingan /
Harganas Pertasikencana monitoring BUKP
3. Kemitraan dengan (1) Peningkatan koord, fasilitasi (2) Pendampingan
swasta & Masyarakat penyelengaraan pasar lebaran distribusi Raskin
(3) Monitoring pemantauan
kelangkaan BBM
(4) Peningkatan koord
Panjatapda
4. Penguatan modal Penguatan modal DPM LUEP
masyarakat
5. Pengemb kerjasama Bantuan penunjang kgy KKN, Diselaraskan dg “pronangkis”
dg Perguruan Tinggi pemb KKN kec, & pemetaan
SPKD Kabupaten Sleman

lokasi KKN
6. Kemitraan dengan Bantuan kpd PCYL GN-OTA, dll GN-OTA diefektifkan untuk
organisasi masyarakat “nangkis”
SPKD Kabupaten Sleman

7. Pengembangan (1) Pembinaan program UKS, (2) Membantu


partisipasi masyarakat penanggulangan kanker & penyantunan sosial,
bantuan premi JPKM mengadakan kegiatan
sosial, forkom pekerja
sosial masyarakat
(9) Pemberian bantuan susu
siswa SD
h. Meningkatkan kualitas perencanaan, pengawasan, 1. Peningk kualitas (1,2,6) Penyusunan Poldas, (3) Penyusunan Program penanggulangan
pengendalian & evaluasi perencanaan pemba- Propeda, & Repetada Renstrada 2005 – 2009 kemisinan semestinya mendapat
ngunan daerah perhatian tersendiri
(7) Identifikasi &
klasifikasi arah kebijakan
umum, strategi prioritas,
program dan kegiatan
berdasar sumber dana
2005
2. Peningkatan kualitas (2) Menyusun rencana (4) Menyusun rencana Arus-utamakanlah
perencanaan bidang pengembangn investasi pengemb UMKM penanggulangan kemiskinan
ekonomi kabupaten Sleman berbasis kemitraan
(3) Studi potensi kesesuaian (7) Menyusun tripel A
lahan pertanian pedesaan
(8) Menyusun rencana
implementasi
pemberdayaan ekonomi
berbasis kerakyatan di 86
desa tahun 2005
3. Peningkatan kualitas (2) Perencanaan penataan SMK (4) Pemetaan kemiskinan SMK leboh pro-poor dibanding
perenc bidang sosbud SMA
(5) Perencanaan Sleman
Sehat ‘05
4. Peningkatan kualitas (4) Menyusun rencana jaringan Daerah-2 miskin perlu perluasan
perencanaan bidang trayek angkutan umum & akses ke luar daerah
fisik dan prasarana barang di kab Sleman
5. Peningkatan (7) Pendampingan Sangat jelas
koordinasi P2MPD
(8) Pendampingan P2KP
(9) Pendampingan PKPS-
BBM
73
74

9. Peningk monitoring (12) Monitoring & evaluasi Utamakan daerah-2 miskin


& evaluasi pembngunn sarana pend. (SD/MI, SLTP, &
SMU/K)
10. Penyusunan data & (1,2,3, 10, 11, 13) Menyusun (4,5) Menyusun Perlu dipikirkan sinkronisasi
analisis pembangunan buku: PDRB Kab & kec, Sleman buku: indicator kesra, antar-lbg agar “pronangkis” lebih
dlm angka, bk saku, statistik Penghitungan IPM terpadu
industri, kec dlm angka, & profil
daerah.
11. Peningk sistem (2) Pengembangan data Perenc Semestinya pro poor
perencanaan informasi & Pengendalian Pemb Daerah
pembangunan daerah (PDP3D)

12. Pemeriksaan (2) Pemeriksaan khusus (PAD, Perlu didalami apakah semua itu
reguler, khusus & kasus penguatan modal, pelayanan untuk “pronangkis” atau tidak
masyarakat, pengelolaan
barang, tanah kas desa,
kebijakan pemda)
13. Optimalisasi kode (3) Menyusus juknis Perlu dilihat apakah mereka
etik dan standar audit pemeriksaan 6 instansi sudah pro-poor
(Dinas Kesmas, RSUD, Trantib,
Perekonomian, Pertanian, dan
Setwan).
16. Pemerikasaan dan (1) Evaluasi tahunan Perlu dikaitkan dg naik-turunnya
pengawasan jalannya tugas lurah desa dan jumlah penduduk miskin
pemerintahan desa akhir masa jabatan lurah
desa.
18. Peningkatan (2) Koordinasi pelaksanaan (1) Pembinaan dan Jika lembaga desa berdaya,
partisipasi masy perencanaan wilayah pemberdayaan “pronangkis” pasti berhasil
dalam pengambilan kelembagaan masyarakat
keputusan publik desa
i. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam 1. Peningkatan (2) Penjaringan aspirasi Berikan kesempatan kpd rakyat
pengambilan keputusan yg menyangkut kepentingan pelayanan informasi masyarakat miskin, jangan cuma pejabat atau
publik dan pengembangan tokoh
SPKD Kabupaten Sleman

komunikasi
(3) Peningkatan komunikasi
dialogis dengan masyarakat
(4) Pelayanan informasi / data
kepada masyarakat
SPKD Kabupaten Sleman

2. Peningkatan (1) Operasional bantuan Perlu dilihat apakah sudah pro-


partisipasi masy gotong-royong poor?
dlm pengambilan
keputusan publik
(2) Transfer bantuan dana
gotong-royong
3. Fasilitasi komunikasi (1) Fasilitasi penjaringan Berikan kesempatan kpd rakyat
DPRD dengan masy. aspirasi masyarakat oleh DPRD miskin, jangan cuma pejabat atau
tokoh
(2) Fasilitasi pelaksanaan public
hearing
k. Mendukung pengembangan jaringan komunikasi 2. Peningkatan (1) Pembuatan dan penyusunan Beri perhatian untuk daeah
dan teknologi informasi pelayanan informasi data wilayah kecamatan miskin
3. Pengembangan (1) Penerangan melalui radio Selipkan pesan tentang upaya /
komunikasi organisasi cara penanggulangan kemiskinan
(6) Memperkuat jaringan
komunikasi antar pemerintah,
swasta & masy
(7) Fasilitasi pengembangan
KIKM
4. Peningkatan kualitas (1) Pembinaan & sosialisasi Buku-2 teknologi tepat guna &
pengelolaan informasi, perpustakaan Koran
arsip & perpustakaan
6. Peningkatan (1) Peningkatan minat baca (2) Menyelenggarakan Ini adalah perluasan
pelayanan informasi, masyarakat workshop dan dialog pengetahuan dan akses
arsip & perpustakaan interaktif masyarakat
dengan pejabat
75
02. BIDANG PERTANIAN
76

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Mengembangkan ketahanan 1. Peningkatan ketahanan (8) Pengamanan harga gabah Ini krusial / dilematis
pangan melalui penganeka- pangan
ragaman sumber daya pangan, 2. Peningkatan produksi (1) Pengembangan ternak besar, Potensial untuk “Pronangkis”
peningkatan produksi hasil peternakan kecil dan unggas
tanaman dan peternakan dengan
3. Diversifikasi usaha pangan dan (1) Pengambangan sayuran dan Bisa membuka lapangan kerja /
penerapan TTG
gizi tanaman hias menambah pendapatan
(8) Peningkatan pengembangan
tanaman pangan alternatif
2. Mengembangkan usaha Pengembangan agribisnis (2) Pengembangan forkom Berpotensi menyerap tenaga
agribisnis tanaman pangan & agribisnis kerja
peternakan di bidang perbenihan (3) Pengembangan kemitraan
produksi maupun pemasaran
(5) Penguatan modal tanaman
hasil
pangan dan peternakan.
(6) Penunjangan penguatan
modal tanaman pangan dan
peternakan
3. Meningkatkan kualitas SDM Peningkatan SDM (1) Magang dan kunjungan ke Pastikan bahwa tujuan
bidang tanaman pangan dan sumber teknologi akhirnya adalah peningkatan
peternakan (2) Kursus petani / klp tani & kesejahteraan petani
petugas
(3) Pelatihan petani/klp
tani&petugas
4. Memantapkan kelembagaan Pemantapan kelembagaan (1) Fasilitasi forum komunikasi (2) Pemberdayaan kelompok tani Berpotensi menyerap tenaga
petani yg kuat, dinamis&mandiri kelompok tani pertanian kerja
5. Meningkatkan prasarana & Peningkatan prasarana dan (5) Rehab Poskeswan (Sleman, Tingkatkan pemanfaatannya.
sarana sarana pertanian Prambanan, Ngemplak)

03. BIDANG PERIKANAN


SPKD Kabupaten Sleman

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Mengembangkan usaha 2. Pengembangan usaha (3) Penyusunan, analisis dan (1) Penguatan modal Prioritaskan masyarakan miskin
agribisnis perikanan… informasi data pertanian (2) Penunjangan penguatan
modal
SPKD Kabupaten Sleman

3. Memantapkan kelembagaan Pemantapan kelembagaan (1)Pemberdayaan kelembagaan Berpotensi menyerap tenaga


petani yg kuat, dinamis&mandiri kelompok tani perikanan dan pemantapan klp tani kerja
(2)Forkom klp tani
(3)Stimulan klp berprestasi

04. BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI


Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkn peman-faatan 1. Pengelolaan usaha (1) Pengelolaan perijinan bidang (4) Operasional dan inventarisasi Berpotensi menyerap tenaga
potensi energi & sumberdaya pertambangan dan energi pertambangan dan energi penambang bahan galian gol C kerja
mineral 1. Pengawasan dan pengendalian (1) Pengendalian dampak Berikan akses bagi penduduk
2. Meningkatkan peran masy dlm kegiatan penambangan lingkungan akibat penambangan miskin
pengelolaan pertambangan tanpa ijin
2. Peningkatan pemahaman thdp (2) Sosialisasi potensi usaha dan Menarik investor, ciptakan
aturan bd tamben peraturan bidang pertambangan lapangan kerja
dan energi
3. Memperluas pembangunan Perencanaan dan pembangunan (1) Pembuatan listrik pedesaan Pemerataan fasilitas bagi kaum
jaringan listrik pedesaan listrik pedesaan miskin
4. Meningkatkan peng- Penerapan terknologi baru dan (1) Inovasi teknologi Tujukan untuk penduduk miskin
anekaragaman pengelolaan hasil diversifikasi bahan olahan pendayagunaan bahan galian
pertambambangan (2) Diversifikasi hasil olahan
bahan galian
77
05. BIDANG KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
78

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan pemanfaatan Optimalisasi fungsi pemantaan (1) Pembinaan pengolahan pasca Bisa meningkatkan pendapatan
sumberdaya hutan kebun hutan dan kebun panen dan pemasaran kopi,
mendong, dan kakao
2. Meningkatkan perlin-dungan, 2. Peningkatan pengembangan (2) Pengembangan teknologi Bisa menciptakan lapangan kerja
pengamanan & konservasi hutan- tanaman perkebunan terapan
kebun
(2) Penumbuhan pasar produk Bisa menciptakan lapangan kerja
perkebunan dan meningkatkan pendapatan
3. Mengembangkan usaha
(3) Pengembangan usaha
agribisnis, agroindustri, dan Pengembangan usaha
perlebahan
agroforestry
(4) Penguatan modal & penun-
jangan kehutanan & perkebunan
4. Memberdayakan masy & Peningkatan peran masy & swasta (2) Pengembangan hutan Bisa menciptakan lapangan kerja
swasta dlm pelestarian SDA bamboo sbg hutan industri
(3) Pengembangan hutan rakyat
5. Meningkatkan kualitas (1) Magang petani, klp tani Berpotensi menyerap tenaga
SDM bidang kehutanan dan Peningkatan SDM &petugas kerja
perkebunan (2) Kursus petani lada, tebu, panili
6. Memantapkan kelembagaan Pemantapan kelembagaan petani (2) Pemberdayaan kelompok tani Bisa meningkatkan pendapatan
petani kehutanan dan perkebunan

06. BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN


Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Mengembangkan industri kecil 1. Peningkatan pelayanan (2) Sosialisasi dan penerapan Bisa meningkatkan pendapatan
dan menengah, serta industri perindustrian manajemen mutu bagi IKM
rumah tangga dan pedesaan
2. Penyediaan data perindustrian (1) Pembuatan data basis (2) Inventarisasi dan identifikasi Berpotensi menyerap tenaga
SPKD Kabupaten Sleman

perindustrian sentra industri kecil kerja


(2) Pemantauan perkembangan (1) Monitoring penguatan modal Berpotensi membuka lapangan
3. Evaluasi perindustrian usaha industri dan pengelolaan dana bergulir perindustrian kerja
limbah industri
SPKD Kabupaten Sleman

(1)Pinjaman modal dana bergulir


perindustrian
Berpotensi membuka lapangan
4. Penguatan modal perindustrian (2)Penunjangan penguatan
kerja
modal dana bergulir
perindustrian
2. Mengembangkan kemitraan Kemitraan usaha perindustrian (1) Temu pengusaha IKM dg (2) Temu pengusaha industri kecil, Bisa memperluas lapangan kerja
industri penyedia bahan baku menengah, dan besar
3. Meningkatkan SDM bidang (1) Pelatihan ketrampilan dan
Industri dan perdagangan teknologi bagi calon pengrajin
dengan peningkatan manajemen 100 orang, 5 angkatan
usaha yang memanfaatkan dan (4) Pelatihan pengembangan (2) Pelatihan ketrampilan produk
mengolah bahan baku lokal desain produk dari bamboo di aneka dr bahan serat & kain di
dengan rekayasa Teknologi Tepat Berpotensi membuka lapangan
kec.Mlati kecamatan Moyudan dan Minggir
Guna 1. Peningkatan SDM Perindustrian kerja dan meningkatkan
(6) Pelatihan total motivation (3) Pelatihan ketrampilan produk
pendapatan
training (TMT) bg pengusaha IKM kayu di kec. Mlati
(5) Pelatihan dan pendampingan
manajemen usaha bg IKM
(7) Pelatihan pengolahan limbah
plastik di kec.Gamping
(1) Pembinaan & Pelatihan
manajemen pemasaran sentra
industri
(2) Bimbingan teknis usaha Berpotensi menyerap tenaga
(3) Pembinaan pengusaha ekspor
3. Peningkatan SDM perdagangan perdagangan (pasca produk) kerja dan meningkatkan
pemula
(4) Bimbingan teknis pedagang pendapatan
makanan jajanan
(6) Pembinaan pedagang umum
(kelontong)
4. Meningkatkan Manajemen 4. Peningkatan SDM Pedagang (1)Pembinaan pedagang pasar (3) Pembinaan pengelola dan Membuka akses bagi kaum
usaha perdagangan pasar (2)Pembinaan petugas pasar pedagang pasar desa miskin
2. Peningkatn pela-yanan (3) Penataan pedagang pasar Membuka akses bagi kaum
pedagang pasar miskin
(1) Pembuatan database Berpotensi menyerap tenaga
perdagangan kerja
(2) Pendataan usaha
3. Penyediaan data perdagangan
perdagangan
(3) Pendataan potensi usaha dan
potensi komoditi perdagangan
79
07. BIDANG PERKOPERASIAN
80

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
(1)Pendataan dan klasifikasi Berpotensi menyerap tenaga
1. Meningkatkan penataan 1. Penyediaan data koperasi & koperasi & UKM kerja
kelembagaan koperasi & UKM UKM (2)Pembuatan data base koperasi
& UKM
(1)Monitoring penguatan modal Berpotensi: membuka akses,
dana bergulir koperasi membuka lapangan kerja, &
(2)Penilaian kesehatan koperasi meningkatkan pendapatan
2. Evaluasi koperasi simpan-pinjam
(3)Monitoring koperasi
(4)Penilaian koperasi dan
pengusaha kecil
(1) Pelatihan kewirausahaan, (5) Bimbingan teknis pra koperasi
pengelolaan, pembukuan, PKK desa
pengawas, kelambagaan koperasi
Berpotensi: membuka akses,
2. Meningkatkan kemampuan (3) Bimbingan teknis koperasi
Peningkatan SDM koperasi & UKM membuka lapangan kerja, &
SDM bidang koperasi & UKM pengusaha kecil
meningkatkan pendapatan
(4) Pemberdayaan Badan
Pembimbing dan Pelindung (BPP)
Koperasi
(1) Penunjangan pelaksanaan
penguatan modal koperasi
3. Mengembangkan kemitraan Berpotensi: membuka akses,
(2) Pinjaman modal dana bergulir
antara koperasi dan UKM dg Penguatan modal koperasi membuka lapangan kerja, &
koperasi (subsidi BBM)
swasta, BUMD&BUMN meningkatkan pendapatan
(3) Pinjaman modal dana bergulir
koperasi
08. BIDANG PENANAMAN MODAL
Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi Pro Poor
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
2. Mengemb penanaman modal (1)Penyusunan buku investor Berpotensi membuka lapangan
SPKD Kabupaten Sleman

guna menciptakan lapangan guide kerja baru


Penciptaan peluang investasi
kerja dan penyerapan tenaga (2)Penyusunan potensi investasi
kerja
09. BIDANG KETENAGA-KERJAAN
SPKD Kabupaten Sleman

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
(4) Workshop kurikulum LPK dan (1) Peningkatan pelatihan Berpotensi: membuka usaha, &
PT ketrampilan tenaga kerja (10 tenaga kerja cepat terserap di
1. Memperluas kesempatan kerja 1. Perluasan & pengembangan ketrampilan institusional, 10 non dunia kerja
dan pendayagunaan tenaga kerja kesempatan kerja institusional)
(5) Monitoring dan evaluasi
lulusan BLK
(1) Penempatan AKL, AKAD, dan (2) Penerapan Teknologi Tepat Berpotensi: membuka usaha,
AKAN Guna penyerapan tenaga kerja, dan
(3) Latihan usaha mandiri untuk (4) Investasi bantuan TKI ke luar peningkatan pelayanan (akses)
2. Penyebaran dan
karyawan ter-PHK negeri bagi tenaga kerja
pendayagunaan tenaga
(8) Pembinaan PJTKI/BPP (6) Membentuk jaringan informasi
penganggur
(9) Pembinaan & pembentukan ketenagakerjaan di 17 kecamatan
TKMT (7) Perluasan kerja sistem padat
karya
2. Meningkatkan perlindungan Perlindungan dan (5) Monitoring UMP / UMR Mencegah “pemiskinan” secara
terhadap lembaga tenaga kerja pengembangan lembaga tenaga terstruktur
kerja
4. Meningkatkan kualitas tenaga 1. Peningkatan kualitas dan (1) Pelatihan kewirausahaan, AMT, Berpotensi: membuka usaha, &
kerja produktifitas tenaga kerja dan produktivitas terpadu tenaga kerja cepat terserap di
calon tenaga kerja dunia kerja
5. Meningkatkan kualitas calon Peningkatan pelak-sanaan (4) Bantuan transmigran asal dan (1) Penyuluhan transmigrasi “Pengurangan” jumlah rakyat
transmigran transmigrasi penerima miskin
(3) Pembinaan usaha ekonomi (5) Stimulan lumbung pangan
produktif (UED-SP) masyarakat desa
(4) Bantuan P2LDT (6) Stimulan pasar desa
(7) Pembinaan dan bantuan (8) Penunjangan komite
7. Meningkatkan kelancaran P2WKSS penanggulangan kemiskinan
1. Pemberdayaan masyarakat dan
tugas-tugas kesejahteraan (9) Penerapan teknologi tepat /KPK Sangat jelas
lembaga
masyarakat guna (10) Evaluasi pembangunan desa
dan pemberdayaan masyarakat
desa
(12) Pemberdayaan masyarakat
pengguna air dan klp masy. IDT
8. Meningkatkan peran lembaga Peningkatan kerjasama antar Monitoring pelaksanaan UDKP Beri akses kaum miskin
sosial lembaga
81
10. BIDANG KESEHATAN
82

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Peningkatan pemahaman dan Perilaku sehat dan pemberdayaan (1) Pembinaan dan sosialisasi
penerapan perilaku hidup bersih masyarakat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Perlindungan kaum miskin
dan sehat
2. Meningkatkan kualitas SDM, (1) Pemutakhiran data kesehatan (2) Penyehatan perumahan dan
lingk, prasarana, & sarana unt lingkungan unt penyehatan lingkungan sehat
hidup sehat 1. Lingkungan sehat makanan Perlindungan kaum miskin
(3) Pelayanan pemeriksaan air
(4) Pengendalian kepadatan lalat
(14) Penerapan yanklinis dan
yankesmas di puskesmas
(16) Monev penerapan yanklinis
2. Upaya sehat Perlindungan kaum miskin
dan yankesmas
(26) Pembinaan TOGA, posyandu,
UKK, Battra, dan SBH
3. Perbaikan gizi masyarakat (6) Pemutakhiran dan pemetaan Perlindungan kaum miskin
gizi
3. Meningkatkan kualitas 2. Kebijk &Manajemen Pemb (9) Bantuan untuk keluarga Sangat jelas
lembaga dan pelayanan kesehatan miskin

11. BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Memeratakan pend. Pra- (3) Pembinaan & bantuan (2) Penyelenggaraan kejar paket Perluasan akses bagi kaum miskin
Pemerataan pendidikan
sekolah, SD, menengah & PLS pendidikan masyarakat A/B/C
SPKD Kabupaten Sleman
12. BIDANG SOSIAL
SPKD Kabupaten Sleman

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan iman dan taqwa 1. Peningkatan pelayanan (6) Pembinaan pondok pesantren
serta kerukunan antarumat kehidupan beragama (7) Pembinaan desa binaan Arus-utamakanlah kaum miskin
beragama keluarga sakinah
2. Meningkatakan ketahanan (1) Fasilitasi dan evaluasi forum (3) Updating data kesejahteraan
dan pember-dayaan thdp karang taruna, panti asuhan dan sosial
penyandang masalah sosial 1. Pemberdayaan potensi
pekerja sosial masyarakat. Arus-utamakanlah kaum miskin
kesejahteraan sosial
(4) Komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE) sosial
(1) Bimbingan sosial dan
pendampingan penyandang
2. Peningkatan kualitas pelayanan cacat mental dan cacat tubuh
Arus-utamakanlah kaum miskin
sosial (3) Peningkatan kualitas
pelayanan organisasi sosial
(4) Pembinaan lansia aktif
(1) Pendampingan klp
USEP/USEP LU/USEP KT dan
usaha Kesos dan USEP Anak
3. Pengentasan kemiskinan jalanan Sangat jelas
(2) Fasilitasi KPK dan
koordinasi pelaksanaan
penanggulangan kemiskinan
(2) Pemberdayaan tenaga kerja
3. Meningkatkan kepe-dulian penyandang cacat dan panti,
Peningkatan kepedulian
thdp penyandang masalah sosial orang tua anak jalanan Sangat jelas
penyandang masalah sosial
dan kesejahteraan sosial (3) Pelayanan adopsi anak
terlantar
5. Meningkatkan kesadaran (4) Pendataan keluarga Kaum miskin dari keluarga
Peningkatan wawasan nilai-nilai
masyarakat therhadap kesatuan pahlawan, sarasehan nilai-nilai pahlawan sepatutnya menerima
kepahlawanan
bangsa & nilai kepahlawanan kepahlawanan dan kepeloporan perhatian lebih
83
13. BIDANG PENATAAN RUANG
84

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan kualitas dan 1. Meningkatkan partisipasi (2) Perencanaan lokasi sector
Berikan akses kepada masyarakat
kuantitas rencana tata ruang masyarakat dlm perencanaan informal anglomerasi kota
miskin
secara partisipatif pengembangan wilayah Yogyakarta
(1) Review RDTR kawasan tumbuh
cepat Jombor-Pelemgurih
(2) Penyusunan RDTR kawasan
2. Penyusunan Rencana Tata
Ambarketawang dan Balecatur
Ruang
(3) Review RDTR kawasan
Monumen Yogya Kembali dan
sekitarnya

14. BIDANG PERMUKIMAN


Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Memfasilitasi pembangunan Pembangunan dan (1) Pengembangan perumahan
perumahan berstandar rumah pengembangan perumahan dan dan permukiman di perkotaan
Jangan sampai kaum miskin
sehat di daerah perdesaan dan permukiman di daerah dan desa (P4D)
“tersingkir” di wilayahnya sendiri
perkotaan (2) Perbaikan perumahan dan
permukiman (P2P)
2. Membangun rumah susun Fasilitasi pengembangan rumah (1) Pembangunan student (2) Pembangunan rumah susun
Sangat jelas
sederhana sewa susun sederhana sewa housing sederhana sewa
3. Meningkatkan kualitas Peningkatan kualitas lingkungan (1) Penyehatan lingkungan Arus-utamakanlah kaum miskin
prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan permukiman perumahan dan permukiman
permukiman (PLP)
(2) Peningkatan kualitas
lingkungan perumahan dan
permukiman
5. Meningkatkan kualitas 1. Penyediaan air bersih (1) Penyediaan air bersih Arus-utamakanlah kaum miskin
pelayanan prasarana dan sarana perdesaan
SPKD Kabupaten Sleman

umum
15. BIDANG PEKERJAAN UMUM
SPKD Kabupaten Sleman

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan peran serta 1. Peningkatan peran serta (1) Bantuan pemeliharaan Sebaiknya daerah-2 miskin diberi
masyarakat dlm pemb bidang masyarakat dlm pembangunan jaringan irigasi desa prioritas
pekerjaan umum bidang pekerjaan umum (2) Bantuan aspal
2. Meningkatkan pengetahuan & Peningkatan kualitas SDM (2) Sosialisasi pembangunan jalan Jangan abaikan daerah-2 miskin
kemampuan SDM swadaya

16. BIDANG PERHUBUNGAN

---kosong---

17. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP


Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Pengemb IPTEK dlm (2) Inventarisasi Teknologi Tepat Berikanlah kepada kaum miskin
3. Meningkatkan pelestarian
pengelolaan SDA & pe- lestarian Guna dan ramah lingkungan
fungsi lingkungan hidup
fungsi LH
2. Peningkatan efekti-fitas (3) Pembinaan kearifan lokal Kemiskinan bukan Cuma soal
pengelolaan & pelestarian SDA ekonomi
& LH
85
18. BIDANG KEPENDUDUKAN
86

Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis


Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan kualitas sistem Peningkatan sistem administrasi (1) Penyusunan data base Dapatkan data fix tentang
administrasi kependudukan kependudukan kependudukan penduduk miskin
2. Meningkatkan peran serta (6) Pencatatan, pelaporan, (5) Pendataan keluarga
masy dlm pemb kependudukan pengolahan dan analisa data (9) Penetapan profil keluarga
pengendalian lapangan KB miskin dan factor penyebabnya
(11) Penyiapan kader,
1. Penyelenggaraan pendaftaran pengadaan sarana dan
Amat sangat jelas
penduduk dan catatan sipil pelaksanaan pendataan
keluarga
(12) Analisa profil keluarga
dan sarasehn hasil pendataan
keluarga
(5) Dukungan operasional (1)Pembinaan ketahanan
Institusi Masyarakat Pedesaan keluarga sejahtera
(IMP) pelaksana KB (2)Pembinaan, pengembangan
dan pemantapan Pos Yandu Plus
2. Pemberdayaan keluarga (3)Peningkatan manajemen Amat sangat jelas
ketrampilan wirausaha keluarga
miskin
(4)Fasilitasi lelang kepedulian
mays miskin

19. BIDANG PEMUDA DAN OLAH RAGA

----kosong----
20. BIDANG KEPARIWISATAAN
Kebijakan Program Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
(sesuai nomor dlm AKU) (sesuai nomor dlm AKU) Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan sumberdaya 1. Pengembangan obyek dan (4) Inventarisasi dan klasifikasi Membuka peluang kerja bg
SPKD Kabupaten Sleman

kepariwisataan daya tarik wisata usaha jasa pariwisata penduduk miskin


(1) Pembinaan petugas di obyek Berpotensi membuka lapangan
3. Meningkatkan peran serta
Peningkatan SDM wisata, pokdarwis, pelaku wisata kerja atau menyerap tenaga kerja
masyarakat
dan masyarakat
21. BIDANG PERTANAHAN
SPKD Kabupaten Sleman

----kosong----
87
88 SPKD Kabupaten Sleman
LAMPIRAN 2
SPKD Kabupaten Sleman

Variabel dan Indikator Keluarga Sejahtera


Indikator
No Variabel
Pra Sejahtera Keluarga Sejahtera I Keluarga Sejahtera II Keluarga Sejahtera III Keluarga Sejahtera III Plus
1 Rohani Anggota keluarga Anggota kel Keluarga berupaya
melaksanakan ibadah melaksanakan ibadah meningkatkan pengetahuan
sesuai agamanya secara teratur agama
2 Pangan Pada umumnya anggota Paling kurang 1x Kebiasaan kelg makan
kel makan 2x sehari seminggu keluarga bersama paling kurang 1
makan daging/ikan/telur x sehari dan dimanfaatkan
untuk berkomunikasi
3 Sandang Anggota kel punya pakaian Setahun terakhir
yang berbeda untuk di anggota keluarga
rumah, bekerja/sekolah, memperoleh paling
dan bepergian kurang 1 stel pakaian
baru
4 Papan Bagian lantai yang terluas Luas lantai rumah paling
5 Sosial/ bukan dari tanah kurang 8 m persegi
Lingk untuk setiap penghuni
Anak askit dibawa ke Anggota kelg dalam 3 bln terakhir Sebagian penghasilan Keluarga secara teratur dg
sarana kesehatan modern dlm keadaan sehat & dpt melaks keluarga ditabung sukarela memberikan sumbangan
tugas / fungsi masing-2 materiil untuk kegiatan sosial
Ada anggota keluarga umur 15 Keluarga sering ikut dalam Ada anggota kelg yang aktif
tahun ke atas yang berpenghasilan kegiatan masyarakat di sebagai pengurus perkumpulan /
tetap lingkungan tempat tinggal majelis / institusi masyarakat
Anggota keluarga umur 10 – 60 Keluarga berekreasi di luar
tahun bisa membaca tulisan latin rumah paling kurang sekali
dalam 6 bulan
Anak umur 7 – 15 tahun Keluarga memperoleh berita
bersekolah dari surat kabar/radio/TV/
majalah
PUS dengan anak hidup 2 tahun Anggota keluarga mampu
atau lebih saat ini memakai menggunakan sarana
kontrasepsi transportasi setempat
89
Indikator Tingkat Kesejahteraan Keluarga
90

No Indikator PS KSI KS II KS III KS III+


1 Anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai √ √ √ √ √
agamanya
2 Pada umumnya anggota keluarga makan 2 kali sehari √ √ √ √ √
atau lebih
3 Anggota kelg memiliki pakaian yang berbeda untuk di √ √ √ √ √
rumah, bekerja/sekolah, dan bepergian
4 Baigan lantai rumah yang terluas bukan dari tanah √ √ √ √ √
5 Anak sakit atau PUS yang ingin ber-KB dibawa ke sarana √ √ √ √ √
kesehatan
6 Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur - √ √ √ √
7 Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/ - √ √ √ √
ikan/telur
8 Setahun terakhir anggota keluarga memperoleh paling - √ √ √ √
kurang 1 stel pakaian baru
9 Luas lantai rumah paling kurang 8 m persegi untuk - √ √ √ √
setiap penghuni
10 Anggota kelg dalam 3 bln terakhir dlm keadaan sehat & - - √ √ √
dpt melaks tugas / fungsi masing-2
11 Ada anggota keluarga umur 15 tahun ke atas yang - - √ √ √
berpenghasilan tetap
12 Anggota keluarga umur 10 – 60 tahun bisa membaca - - √ √ √
tulisan latin
13 Anak umur 7 – 15 tahun bersekolah - - √ √ √
14 PUS dengan anak hidup 2 tahun atau lebih saat ini - - √ √ √
memakai kontrasepsi
15 Keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan agama - - - √ √
16 Sebagian penghasilan keluarga ditabung - - - √ √
17 Kebiasaan kelg makan bersama paling kurang 1 x sehari - - - √ √
dan dimanfaatkan untuk berkomunikasi
SPKD Kabupaten Sleman

18 Keluarga sering ikut dalam kegiatan masyarakat di - - - √ √


lingkungan tempat tinggal
19 Keluarga berekreasi di luar rumah paling kurang sekali - - - √ √
dalam 6 bulan
SPKD Kabupaten Sleman

20 Keluarga memperoleh berita dari surat kabar/radio/TV/ - - - √ √


majalah
21 Anggota keluarga mampu menggunakan sarana - - - √ √
transportasi setempat
22 Keluarga secara teratur dg sukarela memberikan - - - - √
sumbangan materiil untuk kegiatan sosial
23 Ada anggota kelg yang aktif sebagai pengurus - - - - √
perkumpulan / majelis / institusi masyarakat
91