Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH

Fiber Optik (Serat Optik)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR..................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................... iii

I. PENDAHULUAN..................................................................................

Latar Belakang.......................................................................................

A. Tujuan.............................................................................................

II. PEMBAHASAN....................................................................................

A. Pengertian Fiber Optik.....................................................................

B. Sejarah Fiber Optik..........................................................................

C. Komunikasi Fiber Optik...................................................................

D. Keunggulan Dan Kelemahan Fiber Optik........................................

E. Karakteristik Komunikasi Fiber Optik

F. Aplikasi Fiber Optik

III. PENUTUP..............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME dan sebagai wakil Tuhan
di bumi yang menerima amanat-Nya untuk mengelola kekayaan alam. Sebagai
hamba Tuhan yang mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah
Tuhan Sang Pencipta dengan tulus.

Salain itu, dalam kehidupan sehari- hari manusia tidak dapat lepas dari
alat- alat teknologi yang pada setiap waktu teknologi- teknologi tersebut terus
bekembang. Serta umat manusia dituntut untuk mengembangkan dan mengikuti
perkembangan teknologi tersebut..

B. Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan


dan informasi bagi yang membacanya dan diharapkan dapat bermanfaat bagi kita
semua.
II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Fiber Optik

Fiber Optik (Serat optic) adalah saluran transmisi yang terbuat dari kaca atau
plastik yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat
ke tempat lain. Cahaya yang ada di dalam serat optik sulit keluar karena indeks
bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara. Sumber cahaya yang
digunakan adalah laser karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit.
Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan
sebagai saluran komunikasi.

Serat optik umumnya digunakan dalam sistem telekomunikasi serta dalam


pencahayaan, sensor, dan optik pencitraan.

Serat optik terdiri dari 2 bagian, yaitu cladding dan core. Cladding adalah
selubung dari core. Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core
akan memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core kembali
kedalam core lagi.

Efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas.
Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat
optik.

Pembagian Serat optik dapat dilihat dari 2 macam perbedaan :

1. Berdasarkan Mode yang dirambatkan :


• Single mode : serat optik dengan core yang sangat kecil, diameter
mendekati panjang gelombang sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya
tidak terpantul-pantul ke dinding cladding.
• Multi mode : serat optik dengan diameter core yang agak besar yang
membuat laser di dalamnya akan terpantul-pantul di dinding cladding
yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth dari serat optik jenis
ini.

2. Berdasarkan indeks bias core :

• Step indeks : pada serat optik step indeks, core memiliki indeks bias yang
homogen.
• Graded indeks : indeks bias core semakin mendekat ke arah cladding
semakin kecil. Jadi pada graded indeks, pusat core memiliki nilai indeks
bias yang paling besar. Serat graded indeks memungkinkan untuk
membawa bandwidth yang lebih besar, karena pelebaran pulsa yang
terjadi dapat diminimalkan.

Reliabilitas dari serat optik dapat ditentukan dengan satuan BER (Bit Error Rate).
Salah satu ujung serat optik diberi masukan data tertentu dan ujung yang lain
mengolah data itu. Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang serat
mencapai beberapa km, maka akan menghasilkan kesalahan. Jumlah kesalahan
persatuan waktu tersebut dinamakan BER. Dengan diketahuinya BER maka,
Jumlah kesalahan pada serat optik yang sama dengan panjang yang berbeda dapat
diperkirakan besarnya.
B. Sejarah Fiber Optic

Penggunaan cahaya sebagai pembawa informasi sebenarnya sudah banyak


digunakan sejak zaman dahulu, baru sekitar tahun 1930-an para ilmuwan Jerman
mengawali eksperimen untuk mentransmisikan cahaya melalui bahan yang
bernama serat optik. Percobaan ini juga masih tergolong cukup primitif karena
hasil yang dicapai tidak bisa langsung dimanfaatkan, namun harus melalui
perkembangan dan penyempurnaan lebih lanjut lagi. Perkembangan selanjutnya
adalah ketika para ilmuawan Inggris pada tahun 1958 mengusulkan prototipe
serat optik yang sampai sekarang dipakai yaitu yang terdiri atas gelas inti yang
dibungkus oleh gelas lainnya. Sekitar awal tahun 1960-an perubahan fantastis
terjadi di Asia yaitu ketika para ilmuwan Jepang berhasil membuat jenis serat
optik yang mampu mentransmisikan gambar.

Di lain pihak para ilmuwan selain mencoba untuk memandu cahaya melewati
gelas (serat optik) namun juga mencoba untuk ”menjinakkan” cahaya. Kerja
keras itupun berhasil ketika sekitar 1959 laser ditemukan. Laser beroperasi pada
daerah frekuensi tampak sekitar 1014 Hertz-15 Hertz atau ratusan ribu kali
frekuensi gelombang mikro.

Pada awalnya peralatan penghasil sinar laser masih serba besar dan merepotkan.
Selain tidak efisien, ia baru dapat berfungsi pada suhu sangat rendah. Laser juga
belum terpancar lurus. Pada kondisi cahaya sangat cerah pun, pancarannya
gampang meliuk-liuk mengikuti kepadatan atmosfer. Waktu itu, sebuah pancaran
laser dalam jarak 1 km, bisa tiba di tujuan akhir pada banyak titik dengan
simpangan jarak hingga hitungan meter.
Sekitar tahun 60-an ditemukan serat optik yang kemurniannya sangat tinggi,
kurang dari 1 bagian dalam sejuta. Dalam bahasa sehari-hari artinya serat yang
sangat bening dan tidak menghantar listrik ini sedemikian murninya, sehingga
konon, seandainya air laut itu semurni serat optik, dengan pencahayaan cukup
kita dapat menonton lalu-lalangnya penghuni dasar Samudera Pasifik.

Seperti halnya laser, serat optik pun harus melalui tahap-tahap pengembangan
awal. Sebagaimana medium transmisi cahaya, ia sangat tidak efisien. Hingga
tahun 1968 atau berselang dua tahun setelah serat optik pertama kali diramalkan
akan menjadi pemandu cahaya, tingkat atenuasi (kehilangan)-nya masih 20
dB/km. Melalui pengembangan dalam teknologi material, serat optik mengalami
pemurnian, dehidran dan lain-lain. Secara perlahan tapi pasti atenuasinya
mencapai tingkat di bawah 1 dB/km.

Tahun 80-an, bendera lomba industri serat optik benar-benar sudah berkibar.
Nama-nama besar di dunia pengembangan serat optik bermunculan. Charles K.
Kao diakui dunia sebagai salah seorang perintis utama. Dari Jepang muncul
Yasuharu Suematsu. Raksasa-raksasa elektronik macam ITT atau STL jelas
punya banyak sekali peranan dalam mendalami riset-riset serat optik.

2. Time Line Pengembangan Fiber Optik

1917 Theory of stimulated emission Albert Einstein mengajukanm sebuah teori


tentang emisi terangsang dimana jika ada atom dalam tingkatan energi tinggi
1954 "Maser" developed Charles Townes, James Gordon, dan Herbert Zeiger di
Columbia University mengembangkankan "maser" yaitu microwave
amplification by stimulated emission of radiation, dimana molekul dari gas
amonia memperkuat dan menghasilkan gelombang. . Pekerjaan ini menghabiskan
waktu tiga tahun sejak ide Townes pada tahun 1951 untuk mengambil manfaat
dari osilasi frekuensi tinggi molekular untuk membangkitkan gelombang dengan
penjang gelombang pendek pada gelombang radio. 1958 Pengenalan Konsep
Laser Townes dan ahli fisika Arthur Schawlow mempublikasikan paper yang
menunjukan bahwa maser dapat dibuat untuk dioperasikan pada daerah infra
merah dan optik. .Paper ini menjelaskan tentang konsep laser (light amplification
by stimulated emission of radiation)

1960 ditemukannya Continuously operating helium-neon gas laser Laboratorium


Riset Bell dan Ali Javan serta koleganya William Bennett, Jr., dan Donald
Herriott menemukan sebuah continuously operating helium-neon gas laser. 1960
Ditemukannya Operable laser Theodore Maiman, seorang fisikawan dan insinyur
elektro di Hughes Research Laboratories, menemukan operable laser dengan
menggunakan sebuah kristal batu rubi sintesis sebagai medium. 1961 Glass fiber
demonstration Peneliti industri Elias Snitzer dan Will Hicks mendemontrasikan
sinar laser yang diarahkan melalui serat gelas yang tipis. Inti serat gelas tersebut
cukup kecil yang membuat cahaya hanya dapat melewati satu bagian saja tetapi
banyak ilmuwan menyatakan bahwa serat tidak cocok untuk komunikasi karena
rugi rugi cahaya yang terjadi karena melewati jarak yang sangat jauh. 1961
Penggunaan ruby laser untuk keperluan medis Penggunaan laser yang dihasilkan
dari batu Rubi yang pertama, Charles Campbell of the Institute of Ophthalmology
at Columbia- Presbyterian Medical Center dan Charles Koester of the American
Optical Corporation menggunakan prototipe ruby laser photocoagulator untuk
menghancurkan tumor pada retina pasien. 1962 Pengembangan Gallium arsenide
laser Tiga group riset terkenal yaitu General Electric, IBM, dan MIT’s Lincoln
Laboratory secara simultan mengembangkan gallium arsenide laser yang
mengkonversikan energi listrk secara langsung ke dalam cahaya infra merah dan
perkembangan selanjutnya digunakan untuk pengembangan CD dan DVD player
serta penggunaan laser printer. 1963 Heterostructures Ahli fisika Herbert
Kroemer mengajukan ide yaitu heterostructures, kombinasi dari lebih dari satu
semikonduktor dalam layer-layer untuk mengurangi kebutuhan energi untuk laser
dan membantu untuk dapat bekerja lebih efisien. Heterostructures ini nantinya
akan digunakan pada telepon seluler dan peralatan elektronik lainnya.
1966 kertas Landmark pada optical fiber Charles Kao dan George Hockham yang
melakukan penelitian di Standard Telecommunications Laboratories Inggris
mempublikasikan landmark paper yang mendemontrasikan bahwa fiber optik
dapat mentransmisikan sinar laser yang sangat sedikit rugi-ruginya jika gelas
yang digunakan sangat murni. Dengan penemuan ini kemudian para peneliti lebih
fokus pada bagaimana cara memurnikan bahan gelas. 1970 Fiber Optik yang
memenuhi standar kemurnian. Ilmuwan Corning Glass Works yaitu Donald
Keck, Peter Schultz, dan Robert Maurer melaporkan penemuan fiber optik yang
memenuhi standar yang telah ditentukan oleh Kao dan Hockham. Gelas yang
paling murni yang dibuat terdiri atas gabungan silika dalam tahap uap dan
mampu mengurangi rugi-rugi cahaya kurang dari 20 decibels per kilometer. Pada
1972 tim ini menemukan gelas dengan rugi-rugi cahaya hanya 4 decibels per
kilometer. Juga pada tahun 1970, Morton Panish dan Izuo Hayashi dari Bell
Laboratories dengan tim Ioffe Physical Institute di Leningrad, mendemontrasikan
semiconductor laser yang dapat dioperasikan pada temperatur ruang. Kedua
penemuan tersebut merupakan terobosan dalam komersialisasi penggunaan fiber
optik. 1973 Proses Chemical vapor deposition John MacChesney dan Paul O.
Connor pada Bell Laboratories mengembangkan proses chemical vapor
deposition process yang memanaskan uap kimia dan oksigen ke bentuk
ultratransparent glass yang dapat diproduksi masal ke dalam fiber optik yang
mempunyai rugi-rugi sangat kecil. 1975 Komersialisasi Pertama dari
semiconductor laser Insinyur pada Laser Diode Labs mengembangkan
semiconductor laser komersial pertama yang dapat dioperasikan pada suhu
kamar. 1977 Perusahaan telepon menguji coba penggunaan fiber optic
Perusahaan telepon memulai penggunaan fiber optik yang membawa lalu lintas
telepon. GTE membuka jalur antara Long Beach dan Artesia, California, yang
menggunakan transmisi light-emitting diode. Bell Labs mendirikan sambungan
yang sama pada sistem telepon di Chicago dengan jarak 1,5 mil di bawah tanah
yang menghubungkan 2 s switching station.
1980 Sambungan Fiber-optic telah ada di Kota kota besar di Amerika AT&T
mengumumkan akan menginstal fiber-optic yang menghubungkan kota kota
antara Boston dan Washington D.C. kemudian dua tahun kemudian MCI
mengumumkan untuk melakukan hal yang sama. 1987 "Doped" fiber amplifiers
David Payne di University of Southampton memperkenalkan fiber amplifiers
yang dikotori oleh elemen erbium. optical amplifiers abru ini mampu menaikan
sinyal cahaya tanpa harus mengkonversikan terlebih dahulu ke dalam energi
listrik. 1988 Kabel Pertama Transatlantic Fiber-Optic Kabel Translantic yang
pertama menggunakan fiber glass yang sangat transparan sehingga repeater hanya
dibutuhkanb ketika sudah mencapai 40mil. 1991 Optical Amplifiers Emmanuel
Desurvire di Bell Laboratories serta David Payne dan P. J. Mears dari University
of Southampton mendemontrasikan optical amplifiers yang terintegrasi dengan
kabel fiber optic tersebut. Keuntungannya adalah dapat membawa informasi 100
kali lebih cepat dari pada kabel electronic amplifier. 1996 optic fiber cable yang
menggunakan optical amplifiers ditaruh di samudera pasifik TPC-5, sebuah optic
fiber merupakan fiber optic pertama yang menggunakan optical amplifiers. Kabel
ini melewati samudera pasifik mulai dari San Luis Obispo, California, ke Guam,
Hawaii, dan Miyazaki, Japan, dan kembali ke Oregon coast dan mampu untuk
menangani 320,000 panggilan telepon. 1997 Fiber Optic menghubungkan seluruh
dunia Fiber Optic Link Around the Globe (FLAG) menjadi jaringan abel
terpanjang di seluruh dunia yang menyediakan infrastruktur untuk generasi
internet terbaru.

2. Generasi Perkembangan Serat Optik

Berdasarkan penggunaannya maka sistem komunikasi serat optik (SKSO) dibagi


menjadi 4 tahap generasi yaitu :

1. Generasi pertama (mulai 1975) Sistem masih sederhana dan menjadi dasar
bagi sistem generasi berikutnya, terdiri dari : alat encoding : mengubah input
(misal suara) menjadi sinyal listrik transmitter : mengubah sinyal listrik menjadi
sinyal gelombang, berupa LED dengan panjang gelombang 0,87 mm. serat
silika : sebagai penghantar sinyal gelombang repeater : sebagai penguat
gelombang yang melemah di perjalanan receiver : mengubah sinyal gelombang
menjadi sinyal listrik, berupa fotodetektor alat decoding : mengubah sinyal listrik
menjadi output (misal suara) Repeater bekerja melalui beberapa tahap, mula-
mula ia mengubah sinyal gelombang yang sudah melemah menjadi sinyal listrik,
kemudian diperkuat dan diubah kembali menjadi sinyal gelombang. Generasi
pertama ini pada tahun 1978 dapat mencapai kapasitas transmisi sebesar 10
Gb.km/s.

2 Generasi kedua (mulai 1981)

Untuk mengurangi efek dispersi, ukuran teras serat diperkecil agar menjadi tipe
mode tunggal. Indeks bias kulit dibuat sedekat-dekatnya dengan indeks bias teras.
Dengan sendirinya transmitter juga diganti dengan diode laser, panjang
gelombang yang dipancarkannya 1,3 mm. Dengan modifikasi ini generasi kedua
mampu mencapai kapasitas transmisi 100 Gb.km/s, 10 kali lipat lebih besar
daripada generasi pertama.

3. Generasi ketiga (mulai 1982)

Terjadi penyempurnaan pembuatan serat silika dan pembuatan chip diode laser
berpanjang gelombang 1,55 mm. Kemurnian bahan silika ditingkatkan sehingga
transparansinya dapat dibuat untuk panjang gelombang sekitar 1,2 mm sampai
1,6 mm. Penyempurnaan ini meningkatkan kapasitas transmisi menjadi beberapa
ratus Gb.km/s.

4. Generasi keempat (mulai 1984)

Dimulainya riset dan pengembangan sistem koheren, modulasinya yang dipakai


bukan modulasi intensitas melainkan modulasi frekuensi, sehingga sinyal yang
sudah lemah intensitasnya masih dapat dideteksi. Maka jarak yang dapat
ditempuh, juga kapasitas transmisinya, ikut membesar. Pada tahun 1984
kapasitasnya sudah dapat menyamai kapasitas sistem deteksi langsung. Sayang,
generasi ini terhambat perkembangannya karena teknologi piranti sumber dan
deteksi modulasi frekuensi masih jauh tertinggal. Tetapi tidak dapat disangkal
bahwa sistem koheren ini punya potensi untuk maju pesat pada masa-masa yang
akan datang.

5. Generasi kelima (mulai 1989)

Pada generasi ini dikembangkan suatu penguat optik yang menggantikan fungsi
repeater pada generasi-generasi sebelumnya. Sebuah penguat optik terdiri dari
sebuah diode laser InGaAsP (panjang gelombang 1,48 mm) dan sejumlah serat
optik dengan doping erbium (Er) di terasnya. Pada saat serat ini disinari diode
lasernya, atom-atom erbium di dalamnya akan tereksitasi dan membuat inversi
populasi*, sehingga bila ada sinyal lemah masuk penguat dan lewat di dalam
serat, atom-atom itu akan serentak mengadakan deeksitasi yang disebut emisi
terangsang (stimulated emission) Einstein. Akibatnya sinyal yang sudah melemah
akan diperkuat kembali oleh emisi ini dan diteruskan keluar penguat. Keunggulan
penguat optik ini terhadap repeater adalah tidak terjadinya gangguan terhadap
perjalanan sinyal gelombang, sinyal gelombang tidak perlu diubah jadi listrik
dulu dan seterusnya seperti yang terjadi pada repeater. Dengan adanya penguat
optik ini kapasitas transmisi melonjak hebat sekali. Pada awal pengembangannya
hanya dicapai 400 Gb.km/s, tetapi setahun kemudian kapasitas transmisi sudah
menembus harga 50 ribu Gb.km/s.

6. Generasi keenam

Pada tahun 1988 Linn F. Mollenauer memelopori sistem komunikasi soliton.


Soliton adalah pulsa gelombang yang terdiri dari banyak komponen panjang
gelombang. Komponen-komponennya memiliki panjang gelombang yang
berbeda hanya sedikit, dan juga bervariasi dalam intensitasnya. Panjang soliton
hanya 10-12 detik dan dapat dibagi menjadi beberapa komponen yang saling
berdekatan, sehingga sinyal-sinyal yang berupa soliton merupakan informasi
yang terdiri dari beberapa saluran sekaligus (wavelength division multiplexing).
Eksperimen menunjukkan bahwa soliton minimal dapat membawa 5 saluran yang
masing-masing membawa informasi dengan laju 5 Gb/s. Cacah saluran dapat
dibuat menjadi dua kali lipat lebih banyak jika dibunakan multiplexing polarisasi,
karena setiap saluran memiliki dua polarisasi yang berbeda. Kapasitas transmisi
yang telah diuji mencapai 35 ribu Gb.km/s.

Cara kerja sistem soliton ini adalah efek Kerr, yaitu sinar-sinar yang panjang
gelombangnya sama akan merambat dengan laju yang berbeda di dalam suatu
bahan jika intensitasnya melebihi suatu harga batas. Efek ini kemudian digunakan
untuk menetralisir efek dispersi, sehingga soliton tidak akan melebar pada waktu
sampai di receiver. Hal ini sangat menguntungkan karena tingkat kesalahan yang
ditimbulkannya amat kecil bahkan dapat diabaikan. Tampak bahwa
penggabungan ciri beberapa generasi teknologi serat optik akan mampu
menghasilkan suatu sistem komunikasi yang mendekati ideal, yaitu yang
memiliki kapasitas transmisi yang sebesar-besarnya dengan tingkat kesalahan
yang sekecil-kecilnya yang jelas, dunia komunikasi abad 21 mendatang tidak
dapat dihindari lagi akan dirajai oleh teknologi serat optik.
C. Komunikasi Serat Optik

Media komunikasi digital pada dasarnya hanya ada tiga, tembaga, udara dan
kaca. Tembaga kita kenal sebagai media komunikasi sejak lama, telah berevolusi
dari hanya penghantar listrik menjadi penghantar elektromagnetik yang
membawa pesan, suara, gambar dan data digital. Berkembangnya teknologi
frekuensi radio menambah alternatif lain media komunikasi, kita sebut nirkabel
atau wireless, sebuah komunikasi dengan udara sebagai penghantar. Tahun 1980-
an kita mulai mengenal media komunikasi yang lain yang sekarang menjadi
tulang punggung komunikasi dunia, yaitu serat optik, sebuah media yang
memanfaatkan pulsa cahaya dalam sebuah ruang kaca berbentuk kabel, total
internal reflection.

Sebuah kabel serat optik dibuat sekecil-kecilnya (mikroskopis) agar tak mudah
patah/retak, tentunya dengan perlindungan khusus sehingga besaran wujud kabel
akhirnya tetap mudah dipasang. Satu kabel serat optik disebut sebagai core.
Untuk satu sambungan/link komunikasi serat optik dibutuhkan dua core, satu
sebagai transmitter dan satu lagi sebagai receiver. Variasi kabel yang dijual
sangat beragam sesuai kebutuhan, ada kabel 4 core, 6 core, 8 core, 12 core, 16
core, 24 core, 36 core hingga 48 core. Satu core serat optik yang terlihat oleh
mata kita adalah masih berupa lapisan pelindungnya (coated), sedangkan kacanya
sendiri yang menjadi inti transmisi data berukuran mikroskopis, tak terlihat oleh
mata.

Bentuk kabel dikenal dua macam, kabel udara (KU) dan kabel tanah (KT). Kabel
udara diperkuat oleh kabel baja untuk keperluan penarikan kabel di atas tiang.
Baik KU maupun KT pada lapisan intinya paling tengah diperkuat oleh kabel
khusus untuk menahan kabel tidak mudah bengkok (biasanya serat plastik yang
keras). Di sekeliling inti tersebut dipasang beberapa selubung yang isinya adalah
core serat optik, dilapisi gel (katanya berfungsi juga sebagai racun tikus) dan
serat nilon, dibungkus lagi dengan bahan metal tipis hingga ke lapisan terluar
kabel berupa plastik tebal. Dari berbagai jenis jumlah core, besaran wujud akhir
kabel tidaklah terlalu signifikan ukuran diameternya.

Memotong kabel serat optik sangat mudah, cukup menggunakan gergaji kecil.
Sering terjadi maling-maling tembaga salah mencuri, niatnya mencuri kabel
tembaga yang laku di pasar besi/loak malah menggergaji kabel serat optik. Yang
sulit adalah mengupasnya, namun hal ini dipermudah dengan pabrikan kabel
menyertakan serat nilon khusus di bawah lapisan terluar yang keras sehingga
cukup dikupas sedikit dan nilon tersebut berfungsi membelah lapisan terluar
hingga panjang yang diinginkan untuk dikupas.

Untuk apa dikupas? Tentunya untuk keperluan penyambungan atau terminasi.


Kita lihat dulu bagaimana pulsa cahaya bekerja di dalam serat kaca yang sangat
sempit ini. Kabel serat optik yang paling umum dikenal dua macam, multi-mode
dan single-mode. Transmitter cahaya berupa Light Emitting Diode (LED) atau
Injection Laser Diode (ILD) menembakkan pulsa cahaya ke dalam kabel serat
optik. Dalam kabel multi-mode pulsa cahaya selain lurus searah panjang kabel
juga berpantulan ke dinding core hingga sampai ke tujuan, sisi receiver. Pada
kabel single-mode pulsa cahaya ditembakkan hanya lurus searah panjang kabel.
Kabel single-mode memberi kelebihan kapasitas bandwidth dan jarak yang lebih
tinggi, hingga puluhan kilometer dengan skala bandwidth gigabit.
Inti kaca kabel single-mode umumnya berdiameter 8,3-10 mikron (jauh lebih
kecil dari diameter rambut), dan pada multi-mode berukuran 50-100 mikron.
Pulsa cahaya yang ditembakkan pada single mode adalah cahaya dengan panjang
gelombang 1310-1550nm, sedangkan pada multi-mode adalah 850-1300nm.
Ujung kabel serat optik berakhir di sebuah terminasi, untuk hal tersebut
dibutuhkan penyambungan kabel serat optik dengan pigtail serat optik di Optical
Termination Board (OTB), bisa wallmount atau 1U rackmount. Dari OTB kabel
serat optik tinggal disambung dengan patchcord serat optik ke perangkat
multiplexer, switch atau bridge (converter to ethernet UTP).

Penyambungan kabel serat optik disebut sebagai splicing. Splicing menggunakan


alat khusus yang memadukan dua ujung kabel seukuran rambut secara presisi,
dibakar pada suhu tertentu sehingga kaca meleleh tersambung tanpa bagian
coated-nya ikut meleleh. Setelah tersambung, bagian sambungan ditutup dengan
selubung yang dipanaskan. Alat ini mudah dioperasikan, namun sangat mahal
harganya. Inilah sebabnya meskipun harga kabel fiber optik sudah jauh lebih
murah namun alat dan biaya lainnya masih mahal, terutama pada biaya
pemasangan kabel, splicing dan terminasinya.

Pigtail yang disambungkan ke kabel optik bisa bermacam-macam konektornya,


yang paling umum adalah konektor FC. Dari konektor FC di OTB ini kita tinggal
menggunakan patchcord yang sesuai untuk disambungkan ke perangkat.
Umumnya perangkat optik seperti switch atau bridge menggunakan konektor SC
atau LC. Cukup menyulitkan ketika menyebut jenis konektor yang kita kehendaki
kepada penjual, FC, SC, ST, atau LC.

Setelah kabel optik terpasang di OTB dilakukan pengujian end-to-end dengan


menggunakan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). Dengan OTDR
akan didapatkan kualitas kabel, seberapa besar loss cahaya dan berapa panjang
kabel totalnya. Harga perangkat OTDR ini sangat mahal, meskipun
pengoperasiannya relatif mudah. OTDR ini digunakan pula pada saat terjadi
gangguan putusnya kabel laut atau terestrial antar kota, sehingga bisa ditentukan
di titik mana kabel harus diperbaiki dan disambung kembali.

Untuk keperluan sederhana misalnya sambungan fiber optik antar gedung pada
jarak ratusan meter (hingga 15km) kini teknologi bridge/converter-nya sudah
semakin murah dengan kapasitas 100Mbps, sedangkan untuk full gigabit harga
switch/module-switch-nya masih mahal. Jadi, meskipun harga kabel serat optik
sudah di kisaran Rp10.000/m namun total pemasangannya membengkak karena
ada biaya SDM yang menarik dan memasang kabel, biaya splicing setiap core-
nya, pemasangan OTB, pengujian OTDR, penyediaan patchcord dan perangkat
optiknya sendiri (switch/bridge).
D. Keunggulan & Kelemahan Serat Optik

Ada beberapa keunggulan serat optik di banding media transmisi lainnya, yaitu :

1)Lebar bidang yang luas, sehingga sanggup menampung informasi yang besar.
2)Bentuk yang sangat kecil dan murah.
3)Tidak terpengaruh oleh medan elektris dan medan magnetis.
4)Isyarat dalam kabel terjamin keamanannya.
5)Karena di dalam serat tidak terdapat tenaga listrik, maka tidak akan terjadi
ledakan maupun percikan api. Di samping itu serat tahan terhadap gas beracun,
bahan kimia dan air, sehingga cocok ditanam dalam tanah.
6)Substan sangat rendah, sehingga memperkecil jumlah sambungan dan jumlah
pengulang.

Teknologinya yang terbilang canggih dan mahal membuat media komunikasi


fiber optik menjadi pilihan utama bagi pengguna yang menginginkan kualitas
prima dalam berkomunikasi.

Media fiber optik, merupakan media yang memiliki banyak kelebihan, terutama
dari segi performa dan ketahanannya menghantarkan data. Media ini tampaknya
masih menjadi media yang terbaik saat ini dalam media komunikasi kabel.
Kelebihan yang dimiliki media ini memang membuat komunikasi data menjadi
lebih mudah dan cepat untuk dilakukan. Maka dari itulah, media ini menjadi
pilihan banyak orang untuk mendapatkan komunikasi yang berkualitas.

Media ini tidak cuma mampu menggelar komunikasi antargedung, antarblok,


antarkota, tetapi media ini juga sudah sejak lama dipercaya untuk
menghubungkan benua-benua dan pulau-pulau di dunia ini. Fiber optik juga telah
lama dipercaya untuk menjadi media komunikasi inti (backbone) dari Internet di
seluruh dunia. Untuk menghubungkan jaringan di negara satu dengan negara
seberangnya, atau benua satu dengan benua lainnya, fiber optic telah cukup lama
berperan dalam komunikasi dunia ini. Semua itu karena kualitas koneksinya, cara
kerjanya, dan kekebalan informasi yang dibawa dalam media inilah yang
membuatnya begitu dipercaya.

Kehebatan media ini akan coba dibahas satu per satu dalam artikel ini. Meskipun
tidak terlalu detail dan ilmiah, namun cukup untuk menunjukkan betapa hebatnya
teknologi ini hingga begitu dipercaya oleh masyarakat dunia.

Di samping kelebihan yang telah disebutkan di atas, serat optik juga mempunyai
beberapa kelemahan di antaranya, yaitu :
1)Sulit membuat terminal pada kabel serat
2)Penyambungan serat harus menggunakan teknik dan ketelitian yang tinggi.

Akan ada kemungkinan kehilangan sinyal, Pengiriman ke tujuan yang


berbeda-beda dapat mempengaruhi besarnya informasi yang dikirimkan, Fiber
masih sulit untuk disatukan dan ketika telah mencapai titik akhir maka fiber harus
diterima secara akurat untuk menghasilkan transmisi yang jernih, Komponen FO
masih sangat mahal.
E. Karakteristik Komunikasi Fiber Optik

Teknologi komunikasi fiber optik ternyata cukup banyak jenis dan


karakteristiknya. Jenis dan karakteristik ini akhirnya membuat jenis-jenis
konektor, jenis kabel, jenis perangkat yang bervariasi pula. Hal ini dikarenakan
perbadaan karakteristik yang juga membuat perbedaan cara kerja dan fitur-fitur
yang dihasilkannya.

Teknologi komunikasi fiber optik menjadi terbagi-bagi menjadi beberapa jenis


disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor struktural dari media pembawanya dan
faktor properti dari sistem transmisinya. Kedua faktor inilah yang menyebabkan
perbedaan kualitas dan harga pada komunikasi fiber optik secara garis besar.
Faktor struktural lebih banyak berkutat pada fisik dari media pembawanya, yaitu
serat kaca. Fisik dari serat tersebut cukup berpengaruh untuk kelangsungan
transmisi data. Sedangkan, faktor properti sistem transmisi akan lebih banyak
berkutat mengenai bagaimana sinar-sinar data tersebut diperlakukan di dalam
media pembawa. Modifikasi dari kedua faktor tersebut akan membuat teknologi
fiber optik menjadi bervariasi produknya.

Berdasarkan faktor struktur dan properti sistem transmisi yang sekarang banyak
diimplementasikan, teknologi fiber optik terbagi atas dua kategori umum, yaitu:

* Single mode fiber optic


Single mode fiber optic memiliki banyak arti dalam teknologi fiber optik. Dilihat
dari faktor properti sistem transmisinya, single mode adalah sebuah sistem
transmisi data berwujud cahaya yang didalamnya hanya terdapat satu buah indeks
sinar tanpa terpantul yang merambat sepanjang media tersebut dibentang. Satu
buah sinar yang tidak terpantul di dalam media optik tersebut membuat teknologi
fiber optik yang satu ini hanya sedikit mengalami gangguan dalam perjalanannya.
Itu pun lebih banyak gangguan yang berasal dari luar maupun gangguan fisik
saja.
Single mode dilihat dari segi strukturalnya merupakan teknologi fiber optik yang
bekerja menggunakan inti (core) serat fiber yang berukuran sangat kecil yang
diameternya berkisar 8 sampai 10 mikrometer. Dengan ukuran core fiber yang
sedemikian kecil, sinar yang mampu dilewatkannya hanyalah satu mode sinar
saja. Sinar yang dapat dilewatkan hanyalah sinar dengan panjang gelombang
1310 atau 1550 nanometer.

Single mode dapat membawa data dengan bandwidth yang lebih besar
dibandingkan dengan multi mode fiber optics, tetapi teknologi ini membutuhkan
sumber cahaya dengan lebar spektral yang sangat kecil pula dan ini berarti
sebuah sistem yang mahal. Single mode dapat membawa data dengan lebih cepat
dan 50 kali lebih jauh dibandingkan dengan multi mode. Tetapi harga yang harus
Anda keluarkan untuk penggunaannya juga lebih besar. Core yang digunakan
lebih kecil dari multi mode dengan demikian gangguan-gangguan di dalamnya
akibat distorsi dan overlapping pulsa sinar menjadi berkurang. Inilah yang
menyebabkan single mode fiber optic menjadi lebih reliabel, stabil, cepat, dan
jauh jangkauannya.

* Multi mode fiber optic


Sesuai dengan nama yang disandangnya, teknologi ini memiliki kelebihan dan
kekurangan yang diakibatkan dari banyaknya jumlah sinyal cahaya yang berada
di dalam media fiber optik-nya. Sinar yang berada di dalamnya sudah pasti lebih
dari satu buah. Dilihat dari faktor properti sistem transmisinya, multi mode fiber
optic merupakan teknologi transmisi data melalui media serat optik dengan
menggunakan beberapa buah indeks cahaya di dalamya. Cahaya yang dibawanya
tersebut akan mengalami pemantulan berkali-kali hingga sampai di tujuan
akhirnya.

Sinyal cahaya dalam teknologi Multi mode fiber optic dapat dihasilkan hingga
100 mode cahaya. Banyaknya mode yang dapat dihasilkan oleh teknologi ini
bergantung dari besar kecilnya ukuran core fiber-nya dan sebuah parameter yang
diberi nama Numerical Aperture (NA). Seiring dengan semakin besarnya ukuran
core dan membesarnya NA, maka jumlah mode di dalam komunikasi ini
juga bertambah.

Dilihat dari faktor strukturalnya, teknologi Multi mode ini merupakan teknologi
fiber optikyang menggunakan ukuran core yang cukup besar dibandingkan
dengan single mode. Ukuran core kabel Multi mode secara umum adalah berkisar
antara 50 sampai dengan 100 mikrometer. Biasanya ukuran NA yang terdapat di
dalam kabel Multi mode pada umumnya adalah berkisar antara 0,20 hingga 0,29.
Dengan ukuran yang besar dan NA yang tinggi, maka terciptalah teknologi fiber
optik Multi mode ini.

Ukuran core besar dan NA yang tinggi ini membawa beberapa keuntungan bagi
penggunanya. Yang pertama, sinar informasi akan bergerak dengan lebih leluasa
di dalam kabel fiber optik tersebut. Ukuran besar dan NA tinggi juga membuat
para penggunanya mudah dalam melakukan penyambungan core-core tersebut
jika perlu disambung. Di dalam penyambungan atau yang lebih dikenal dengan
istilah splicing, keakuratan dan ketepatan posisi antara kedua core yang ingin
disambung menjadi hal yang tidak begitu kritis terhadap lajunya cahaya data.

Keuntungan lainnya, teknologi ini memungkinkan Anda untuk menggunakan


LED sebagai sumber cahayanya, sedangkan single mode mengharuskan Anda
menggunakan laser sebagai sumber cahayanya. Yang perlu diketahui, LED
merupakan komponen yang cukup murah sehingga perangkat yang berperan
sebagai sumber cahayanya juga berharga murah. LED tidak kompleks dalam
penggunaan dan penanganan serta LED juga tahan lebih lama dibandingkan laser.
Jadi teknologi ini cukup berbeda jauh dari segi harga dibandingkan dengan single
mode.

Namun, teknologi ini juga membawa ketidaknyamanan bagi penggunanya.


Ketika jumlah dari mode tersebut bertambah, pengaruh dari efek Modal
dispersion juga meningkat. Modal dispersion (intermodal dispersion) adalah
sebuah efek di mana mode-mode cahaya yang berjumlah banyak tadi tiba di
ujung penerimanya dengan waktu yang tidak sinkron satu dengan yang lainnya.
Perbedaan waktu ini akan menyebabkan pulsa-pulsa cahaya menjadi tersebar
penerimaannya.

Pengaruh yang ditimbulkan dari efek ini adalah bandwidth yang dicapai tidak
dapat meningkat, sehingga komunikasi tersebut menjadi terbatas bandwidthnya.
Para pembuat kabel fiber optik memodifikasi sedemikian rupa kabel yang
dibuatnya sehingga bandwidth yang dihasilkan oleh Multi mode fiber optic ini
menjadi paling maksimal.
G. Apliksi Fiber Optik

Sebuah Fiber Optik line adalah media yang sangat atraktif untuk produksi video.
Karena sangat ringan maka bisa menjadi aset yang berharga dalam pembuatan
peralatannya. Kapasitasnya juga menjadi penarik perhatian dalam bidang TV
digital. Selain untuk TV optik fiber juga mampu untuk mendukung kinerja LAN.
Industri telepon dan kabel juga menaruh perhatian yang besar pada teknologi
ini. Underwater LinesAT&T telah mengepalai suatu konsorsium untuk
pengembangan jaringan fiber optik bawah laut, transatlantik, antara Amerika dan
Eropa. Fiber-Optic Lines and Satellites Sekarang sebuah FO line telah memiliki
kapasitas saluran yang besar dan tahan lama, dan akan sangat efektif untuk
aplikasi jarak jauh. Sebuah transmisi satelit sangat terpengaruh oleh keadaan
atmosfer dan traffic dari satelit itu sendiri, namun FO line tidak terpengaruh dua
hal ini. Fiber juga mempunyai segi keamanan yang jauh lebih baik. Aplikasi
Lainnya Dalam bidang kedokteran terdapat operasi tipe laser yang memanfaatkan
teknologi ini. Para ilmuwan juga telah mengaplikasikan teknologi ini dalam
beberapa material yang berguna unuk menciptakan sebuah pesawat terbang
hingga sebuah space station.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_optik

http://yulian.firdaus.or.id/fiber-optic/

http://www.pcmedia.co.id

http://www.waena.org/

ABSTRAK

Sistem komunikasi fiber optik telah berkembang pesat akhir-


akhir ini, berupa komunikasi suara, vidio dan data, sesuai dengan
perkembangan teknologi maju. Pemamfaatan fiber optik pada sistem
komunikasi data akan memberikan nilai tambah dari suatu teknologi
handal yang berkapasitas kanal yang besar, kecepatan tinggi,
penerimaan data yang lebih akurat, teliti dapat dipercaya dan terjamin
kerahasiaannya.

Sistem komunikasi data ini menggunakan laser LED sebagai


sumber pembawa gelombang optik, Fiber Optik Multimode Graded
Indeks sebagai media transmisi. Untuk modulasi dan demodulasi
digunakan modem ZAT-16 dengan interface RS-232-C V.24 / V.28 dan
protokol asinkronous sebagai penghubung antara komputer dan
piranti-pirantinya. Hasil yang diperoleh adalah jangkauan transmisi
data 16 km, 16 kanal data dengan kecepatan transmisi 300 baud, 600
baud, 1200 baud, 2400 baud, 4800 baud, 19600, 57600 baud dengan
kualitas 10 ≈ .

Prospek pemamfaatannya di Indonesia cukup cerah untuk memenuhi


kebutuhan masyarakat, pemerintah, bisnis akan komunikasi data yang
lebih canggih.
1. PENDAHULUAN

Komunikasi data yang berkembang dengan pesat dewasa ini. Hal ini sesuai dengan
kemajuan teknologi dalam bidang telekomunikasi dunia yang sedang maju dengan pesat serta
pengaruh era globasasi dan arus informasi yang sangat diperlukan oleh masyarakat modern.
Kemajuan perekonomian serta majunya teknologi telekomunikasi merupakan titik tolak dan
potensi besar untuk dapat meningkatkan dan mewujudkan berbagai jenis pelayanan komunikasi
yang lebih canggih untuk komunikasi suara, vidio dan data

Akhir-akhir ini permintaan masyarakat modern akan kebutuhan


komunikasi data dengan pesat. Untuk mentransfer data dalam jumlah
besar dan memerlukan keakuratan dan juga yang mampu menjaga
kerahasian data tersebut. Keunggulan fiber optik sebagai media
transmisi terutama mampu meningkatkan pelayanan sistem
komunikasi data, seperti peningkatan jumlah kanal yang tersedia,
kemampuan mentransfer data dengan kecepatan mega bit /second,
terjaminnya kerahasiaan data yang dikirimkan, sehingga pembicaraan
tidak dapat disadap, tidak terganggu oleh gelombang
elektromagnetik, petir atau cuaca.
Dalam sistem komunikasi data fiber optik digunakan modem “
16 Channel Data Multiplexer ZAT-16 “, merupakan modem khusus
yang dianggap sesuai. Interface RS-232-C V.24/V.28 yang berfungsi
untuk menghubungkan komputer dengan piranti-piranti peripheralnya.
Sistim ini mampu juga menggunakan kedua jenis protokol yaitu
protokol asinkronus dan sinkronus untuk menghasilkan transmisi
kecepatan tinggi.

Jenis fiber optik yang digunakan adalah fiber optik multi mode
graded indeks. Laser sumber gelombang optik dipilih LED.
Pemilihannya disesuaikan dengan kepentingan sistem yang dirancang,
agar dapat menghasilkan sistem yang lebih efektif dan optimal
ditinjau dari nilai ekeonomi dan teknologinya. Sistem ini mampu
memberikan transmisi data dengan jauh lintasan sejauh 16 km Jika
menggunakan modem ZAT-16, sedangkan menggunakan lainnya
hanya mampu menjangkau 15 meter saja.

Kecepatan transmisi yang mampu dicapai adalah bervariasi dari


300 baud, 600 baud, 1200 baud, 2400 baud, 4800 baud, 9600 baud
dan 19200 baud yang sudah direkomendasikan oleh CCITT.
Sedangkan kualitas transmisi dapat mencapai BER ( bit error ) 10.

TEKNOLOGI FIBER OPTIK

2.1. Perambatan cahaya pada fiber optik

Teknologi fiber optik maju pesat dan sedang berkembang


pemamfatannya untuk sistem teknologi telekomunikasi maju dan
handal. Penemuan fiber optik sebagai media transmisi pada suatu
sistem komunikasi didasarkan pada hukum Snellius untuk
perambatan cahaya pada media transparan seperti pada kaca
yang terbuat dari kuartz kualitas tinggi dan dibentuk dari dua
lapisan utama yaitu lapisan inti yang biasanya disebut core
terletak pada lapisan yang paling dalam dengan indeks bias n1
dan dilapisi oleh cladding dengan indeks bias n2 yang lebih kecil
dari n1.
Menurut hukum Snellius jika seberkas sinar masuk pada suatu ujung fiber optik ( media
yang transparan ) dengan sudut kritis dan sinar itu datang dari medium yang mempunyai
indeks bias lebih kecil dari udara menuju inti fiber optik ( kuartz murni ) yang mempunyai
indeks bias yang lebih besar maka seluruh sinar akan merambat sepanjang inti (core) fiber
optik menuju ujung yang satu.

Dewasa ini ada 3 jenis fiber optik yang populer pemamfatannya


pada sistem komunikasi Fiber Optik yaitu:

a. Fiber optik multimode step indek


b. Fiber optik multimode Graded
c. Fiber optik single mode

2 of 6

2.2. Konfigurasi Dasar Sistem Komunikasi Fiber Optik

Sistem Komunikasi Fiber optik terdiri dari 3 komponen utama


yaitu:

a. Transmitter berupa Laser Diode ( LD ) dan Light Emmiting


Diode (LED)
b. Media transmisi berupa fiber optik
c. Receiver yang merupakan detektor penerima digunakan PIN
dan APD. Konfigurasi dasar Sistem Komunikasi Fiber Optik
dapat dilihat pada gambar 2.2

2.2.1. Transmitter

Transmitter terdiri dari 2 bagian yaitu :

a. Rangkaian elektrik berfungsi untuk mengkonversi sinyal digital


menjadi sinyal analog, selanjutnya data tersebut ditumpangkan
kedalam sinyal gelombang optik yang telah termodulasi
b. Sumber gelombang optik berupa sinar Laser Diode (LD) dan LED
( light emmiting diode ) yang pemakaiannya disesuaikan dengan
sistem komunikasi yang diperlukan.
• Laser Diode dapat digunakan untuk sistem komunikasi
optik yang sangat jauh seperti Sistem Komunikasi Kabel Laut
(SKKL) dan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO), karena laser
LD mempunyai karakteristik yang handal yaitu dapat
memancarkan daya dengan intensitas yang tinggi, stabil,
hampir monokromatis, terfokus, dan merambat dengan
kecepatan sangat tinggi, sehingga dapat menempuh jarak
sangat jauh. Pembuatannya sangat sukar karena memerlukan
spesifikasi tertentu sehingga harganyapun mahal. Jadi LD tidak
ekonomis dan tidak efisien jika digunakan untuk sistem
komunikasi jarak dekat dan pada trafik kurang padat.
• LED digunakan untuk sistem komunikasi jarak sedang
dan dekat agar sistem dapat ekonomis dan efektif karena LED
lebih mudah pembuatanya, sehingga harganyapun lebih murah.
• Pada gambar 2.2.1 dapat diilustrasikan karakteristik
transfer dari LD dan LED dan menganalisanya bahwa setelah
suatu harga tertentu dilampaui, dengan input yang sama
ternyata daya output LD jauh lebih besar dari LED.

2.2.2. Receiver

Receiver atau bagian penerima terdiri dari 2 bagian yaitu detektor


penerima dan rangakaian elektrik

a. Detektor penerima berfungsi untuk mengkap cahaya yang berupa


gelombang optik pembawa informasi, dapat berupa PIN diode atau
APD (Avalance Photo Diode) pemilihannya tergantung keperluan
sistem komunikasinya.

• Untuk komunikasi jarak jauh digunakan detektor APD


yang dapat bekerja pada panjang gelombang 1300 nm, 1500
nm serta 1550 nm dengan kualitas yang baik. Artinya detektor
APD mempunyai sensitivitas dan response yang tinggi terhadap
sinar laser LD sebagai pembawa gelombang optik informasi.
• Untuk komunikasi jarak pendek lebih efisien jika
menggunakan ditektor PIN diode, karena PIN baik digunakan
untuk bit rate rendah dan sensitivitasnya tinggi untuk LED. Pada
gambar 2.2.2. dapat diilustrasikan daerah kerja dari laser LD
dan LED serta detektor APD dan PIN diode dan dapat dianalisis
sebagai berikut:
• Sumber cahaya LD terlihat memiliki daya lebih besar,
stabil, konstan pada bit rate berapapun, sedangkan sumber
cahaya LED mempunyai daya pancar yang lebih kecil dan pada
bit rate 100 Mbps dayanya mulai menurun.
• Detektor penerima PIN bereaksi baik pada bit rate rendah
tetapi kurang sensitif bila bit rate dinaikan.
• Detektor penerima APD lebih sensitif pada bit rate tinggi.
Untuk transmisi jarak jauh diperlukan daya pancar yang lebih
besar dan sensitifitas yang tinggi, sistem fiber optik akan
menggunakan laser LD sebagai sumber cahaya dan APD
sebagai detektor penerima. Sedangkan untuk transmisi jarak
dekat cukup digunakan LED sebagai sumber optik dan PIN
sebagai ditektor penerima.

3 of 6

• Rangkaian elektrik berfungsi untuk mengkonversi cahaya


pembawa informasi terhadap data informasi terhadap data
informasi yang dibawa dengan melakukan regenerasi timing,
regenerasi pulse serta konversi sinyal elektrik ke dalam
interface V.28 yang berupa sinyal digital dan sebaliknya

2.3. Atenuasi

Atenuasi adalah besaran pelemahan energi sinyal informasi dari


fiber optik yang dinyatakan dalam dB dan disebabkan oleh 3 faktor
utama yaitu absorpsi, hamburan (scattering) dan mikro-bending.
Gelas yang merupakan bahan pembuat fiber optik biasanya
terbentuk dari silicon-dioksida ( SiO2). Variasi indeks bias diperoleh
dengan menambahkan bahan lain seperti titanium, thallium,
germanium atau boron. Dengan susunan bahan yang tepat maka
akan didapatkan atenuasi yang sekecil mungkin. Atenuasi
menyebabkan pelemahan energi sehingga amplitudo gelombang
yang sampai pada penerima menjadi lebih kecil dari pada
amplitudo yang dikirimkan oleh pemancar.

a. Absorpsi.
Absorpsi merupakan sifat alami suatu gelas. Pada daerah-daerah tertentu gelas dapat
mengabsorpsi sebagian besar cahaya seperti pada daerah ultraviolet. Hal ini disebabkan
oleh adanya gerakan elektron yang kuat. Demikian pula untuk daerah inframerah, terjadi
absorpsi yang besar. Ini disebabkan adanya getaran ikatan kimia . Oleh karena itu
sebaiknya penggunaan fiber optik harus menjauhi daerah ultraviolet dan inframerah.
Penyebab absorpsi lain adanya transmisi ion-ion logam dan ion OH. Ion OH ini ternyata
memberikan sumbangan absorpsi yang cukup besar. Semakin lama usia suatu fiber maka
bisa diduga akan semakin banyak ion OH di dalamnya yang menyebabkan kualitas fiber
menurun.

b. Hamburan
Seberkas cahaya yang melalui suatu gelas dengan variasi indeks bias disepanjang gelas
tadi, sebagian energinya akan hilang dihamburkan oleh benda benda kecil yang ada di
dalam gelas. Hamburan yang disebabkan oleh tumbukan cahaya dengan partikel
tersebut dinamakan hamburan Rayleigh. Besarnya hamburan Rayleigh ini berbanding
terbalik dengan pangkat empat dari pangjang gelombang cahaya yaitu : 1/ λ . Sehingga
dapat disimpulkan untuk lamda kecil, hamburan Rayleigh besar dan sebaliknya.
Seberapa besar sumbangan hamburan Rayleigh ini terhadap atenuasi transmisi dapat
dilihat pada grafik gambar 2.3. yang sudah direkomendasi oleh CCITT. Ternyata pada
panjang gelombang sekitar 0,85 μm yaitu panjang gelombang sinar laser Ga A1 As,
Hamburan Rayleigh memberikan loss akibat hamburan sangat kecil dibandingkan
dengan loss fiber optik multimode. Karena itu fiber optik singlemode lebih baik mutunya
sebagai media transmisi dibandingkan dengan fiber optik multimode.

c. Mikro-bending
Atenuasi lainya adalah atenuasi yang disebabkan mikro-bending yaitu pembengkokan
fiber optik untuk memenuhi persyaratan ruangan. Namun pembengkokan dapat pula
terjadi secara tidak sengaja seperti misalnya fiber optik yang mendapat tekanan cukup
keras sehingga cahaya yang merambat di dalamnya akan berbelok dari arah transmisi
dan hilang. Hal ini tentu saja menyebabkan atenuasi.

2.4. Karakteristik Transmisi

Sifat transmisi informasi dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Informasi yang akan ditransmisikan berupa data dalam


bentuk digital sedangkan bentuk sinyal pembawa carrier yang
akan melewati media transmisi fiber optik berupa sinyal analog.
b. Untuk itu diperlukan proses modulasi dan demodulasi
yaitu proses yang mengubah data digital ke analog dan juga
proses sebaliknya dengan menggunakan sebuah Modem
dengan pirantinya.
c. Dalam hal ini jenis fiber optik yang digunakan sebagai
media transmisi adalah fiber optik multimode graded indeks.

4 of 6

3. PIRANTI INTERFACE / MODEM ZAT-16

Sistem Komunikasi data fiber optik yang dibahas dalam paper ini
menggunakan transmisi digital dan modem ZAT-16 yaitu modem yang
mempunyai 16 buah saluran transmisi digital dan dinamkan “ 16-
Channel Data Multiplexer ZAT 16 “

3.1. Modem dan Karakteristiknya

a. Piranti yang berfungsi sebagai Modem adalah Modem ZAT-16


berfungsi sebagai multiplexer untuk data sampai 16 kanal dengan
menggunakan interface RS-232-C V.24 / V.28 pada inputnya dan
sepasang fiber optik pada ouputnya. Panel muka modem Zat16
dapat dilihat pada gambar 3.1. Penggunaan modem ZAT 16 ini
akan mampu menghasilkan menghasilkan jangkauan transmisi
hingga 16 km dan dengan menggunakan protokol asinkronisasi
mampu mengirimkan data dengan kecepatan transmisi dar 300
bps sampai 24kbps. Jika menggunakan protokol sinkronisasi akan
mampu menghasilkan data dengan kecepatan transmisi dari 300
bps sampai dengan 57600 bps. Kemampuan ini telah
direkomendasi oleh CCITT9 Commite Consultatif Telegraphique et
Telephonique ).
b. Rangkaian electric dihubungkan empat buah interface RS-232-C
V.24/V.28 dengan konektor type 25-pin female subminiatur “ D “
seperti pada gambar 3.2. Pemamfaatan interface RS-232-C
V.24/V.28 telah direkomendasi oleh CCITT untuk dapakai pada
system komunikasi data. Tiap-tiap konektor mempunyai kanal
output 4 buah, sebuah output baud rate dan sebuah output +12V.
Berbagai kombinasi dapat dibuat dengan alat ini seprti kombinasi
data, sinyal clock dan sinyal kontrol (handshake). Kemapuan
jangkauan transmisi suatu RS-232-C V.24/V.28 dapat mencapai 6
km apabila terpasang pada ZAT16 dengan media transmisi fiber
optik akan tetapi hanya 15 meter jika dengan media lainnya.
c. Terminal data disebut DTE ( Data Terminal Equipment ) sedangkan
modem untuk menghubungkan antara DTE dengan media
transmisi disebut DCE ( Data Circuit-terminating Equipment ).
Apabila dikehendaki hubungan antara dua buah terminal yang lain,
begitu pula sebaliknya. Disini terjadi hubungan kabel silang.

3.2. Protokol Sinkronus

Pada modem ZAT16 protokol sinkronus dapat diperoleh dari tiga buah
sumber yaitu :

a. Sinkronisasi yang sudah ada pada sinyal data informasi


yang ditransmisikan
b. Sinkronisasi menggunakan clock yang sudah ada didalam
modem Zat16 sehingga baud rate yang terdapat didalam ZAT16
ada 8 tingkat yaitu 300 baud, 600 baud, 1200 baud, 2400 baud,
4400 baud, 4800 baud, 9600 baud, 19200 baud, 57600 baud.
Konfigurasi ini memungkinkan 8 buah DTE dihubungkan ke
Modem ZAT16 karena sinyal clock harus dikirimkan juga.
c. Sinkronisasi menggunakan clock dari DTE. Konfigurasi ini
memerlukan sebuah kanal untuk mentransmisikan sinyal clock
bersamaan dengan kanal data yang menjadikan modem ZAT 16
mampu menerima 8 DTE dengan clock masing-masing.

3.3. Protokol Asinkronus

a. Data asinkron tanpa sinyal kontrol/handshake. Dengan


cara ini tiap subminiatur “ D ” akan dapat memberikan 4 kanal
duplex. Hubungannya cukup menggunakan sebuah kabel saja.
b. Asinkron data dan handshake. Jika DTE memerlukan
sinyal kontrol, sembarang kanal pada modem dapat dipakai.
Dengan konfigurasi ini minimal 2 DTE dapat dihubungkan ke
sbuah subminiatur. Konfigurasi-konfigurasi di atas dapat dibuat
sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

5 of 6

4. KESIMPULAN

Sistem komunikasi data menggunakan fiber optik telah


berkembang dengan pesat yang merupakan teknologi maju. Apabila
dibandingkan dengan sistem kabel 2 kawat atau 4 kawat ataupun
sistem radio maka sistem komunikasi fiber optik menggunakan “
Modem ZAT 16 Data Multiplexer “ ternya mempunyai kelebihan
sebagai berikut:

a. Sistem fiber optik mampu menyediakan kapasitas sangat


besar karena mempunyai lebar pita yang sangat lebar sehingga
dapat digunakan untuk keperluan komunikasi data dengan
kecepatan yang sangat tinggi sampai Mbaud yang sangat
diperlukan dewasa ini.
b. Untuk komunikasi jarak jauh dan kecepatan tinggi 565
Mbps, media transmisi fiber optik memberikan solusi harga
yang ekonomis, sangat ringan, ukuran kecil, instalasi relatif
mudah dan murah jika dibandingkan terhadap misi sistem
komunikasi yang dirancang.
c. Fiber optik tahan terhadap interferensi yang ditimbulkan
oleh petir, motor listrik, dan gelombang elektro magnetik
karena itu Sistem Komunikasi Fiber Optik tidak mengenal
hubungan singkat.
d. Memamfaatkan Modem ZAT16 dapat menghasilkan bit
yang tinggi. Hal ini memberikan peluang pemamfaatan
komunikasi data melalui fiber optik lebih fleksibel karena
kecepatan transmisinya dapat bervariasi dari kecepatan
transmisi rendah sampai sangat tinggi sehingga prospek
pemamfaatannya menjadi cerah.
e. Di Indonesia Sistem Komunikasi Data melalui fiber optik
perlu dikembangkan. Untuk mengatisipasi kebutuhan
masyarakat modern akan komunikasi data yang lebih handal
pada akhir akhir ini sangat meninggkat.

Anda mungkin juga menyukai