Anda di halaman 1dari 19

PEMBELAJARAN 4

MEMIJAHKAN INDUK IKAN SECARA SEMI BUATAN


MENGGUNAKAN HORMON ARTIFICIAL

Tujuan Akhir pembelajaran / Terminal Performance Objective (TPO) setelah


mempelajari kompetensi ini peserta diklat mampu memijahkan induk ikan secara
semi buatan menggunakan hormon artificial sesuai persyaratan bila disediakan
induk ikan, ikan donor, alat bedah, peralatan pemijahan ikan secara semi
buatan, dan kolam pemijahan.
Sub. Kompetensi Pemijahan ikan
secara semi buatan menggunakan
hormon artificial

A. Tujuan Antara / Enabling Objective (EO)


Peserta mampu memijahkan ikan secara semi buatan menggunakan hormon
artificial

B. Materi Pemijahan Ikan secara Semi Buatan menggunakan Hormon


Artificial

Setiap spesies ikan mempunyai karakteristik tersendiri, termasuk tingkah laku


cara memijahnya. Banyak spesies ikan yang membutuhkan substrat dalam
pemijahannya dikarenakan sifat telurnya yang menempel, juga banyak spesies
ikan yang tidak membutuhkan substrat dikarenakan sifat telurnya melayang atau
akan berserakan di dasar perairan atau ikan akan membuat sarang sebagai
tempat peletakan telurnya. Atas dasar tingkah laku cara memijah ikan tersebut
maka petani ikan bisa memanipulasi lingkungan ikan memijah yang tentu saja
dibuat menyerupai lingkungan aslinya. Di bawah ini beberapa contoh ikan
dengan sifat telurnya:
Pemijahan ikan secara semi buatan merupakan salah satu cara pemijahan induk
ikan yang lazim dilakukan pembenih ikan. Pemijahan dengan cara ini dilakukan
untuk melengkapi teknik pemijahan ikan secara alami. Selain itu pemijahan ikan
secara semi buatan dilakukan terhadap beberapa jenis ikan yang sulit dilakukan
dengan cara alami dan buatan seperti pemijahan induk ikan bawal.
Hormon buatan pada pemijahan ini dapat digunakan seperti HCG, Ovaprim dan
sebagainya. Dosis hormon yang digunakan pada setiap jenis ikan berbeda
seperti ikan lele dengan ikan bawal atau ikan mas. Selain itu, setiap jenis hormon
berbeda dosis penggunaannya pada induk ikan.

1. Menyiapkan Alat, Bahan dan Media Pemijahan


Kegiatan pemijahan ikan secara semi buatan merupakan salah satu usaha
budidaya yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pembenih ikan.
Meningkatnya pendapatan petani ikan perlu dilakukan perbaikan teknik
pembenihan ikan. Setiap jenis ikan memiliki teknik pembenihan yang berbeda-
beda baik cara memijah, kebiasaan memijah dan sifat telur sehingga
penggunaan alat dan bahan juga berbeda-beda. Oleh sebab itu untuk
memperbaiki teknik pemijahan setiap jenis ikan membutuhkan penggunaan alat
dan bahan.
Secara umum pemijahan ikan secara semi buatan disesuaikan dengan
kebiasaan ikan memijah di alam. Pada pemijahan ikan secara semi buatan,
induk ikan dirangsang menggunakan hormon untuk mempercepat pemijahan
induk ikan. Sedangkan untuk kegiatan penetasan telur ikan, disesuaikan dengan
kebutuhan telur dan cara penetasan telur dialam. Setiap jenis telur ikan
membutuhkan kualitas dan kuantitas air yang optimal seperti suhu, oksigen
terlarut, debit air dan sebagainya untuk penetasan di alam. Kebutuhan kualitas
dan kuantitas air tersebut dipenuhi di wadah penetasan (bak, fiberglas ) sesuai
dengan kebiasaan di alam. Oleh sebab dibutuhkan beberapa alat dan bahan.
Alat dan bahan yang dibutuhkan secara garis besar adalah:
Termometer Substrat/kakaban
Do meter Hapa
pH meter Kakaban
Aerator Waring
Pompa submersible Induk ikan
Spuite Desinfektan
Sipon Sikat
Bak, fiberglas, akuarium Golok
Corong tetas

Sedangkan wadah yang diperlukan tentu saja menyesuaikan dengan komoditas


ikan yang akan dipijahkan. Wadah yang dibutuhkan yaitu untuk penanganan
induk ikan dan penetasan telur serta wadah pendederan larva. Wadah tersebut
bisa berupa kolam tanah, bak semen atau akuarium atau bahkan bak sementara
terbuat dari plastik. Ukuran wadah pemijahan ikan menyesuaikan dengan
pasangan induk ikan atau jumlah dan ukuran substrat, karena pasangan induk
ikan jantan dan betina tidak selamanya satu berbanding satu. Ikan nila
membutuhkan pasangan satu jantan dan tiga betina, sedangkan ikan mas
membutuhkan satu induk betina dan enam hingga delapan induk jantan. Ukuran
substrat (kakaban) biasanya adalah 1.25 m X 0.45 m sedangkan substrat untuk
pemijahan ikan koki adalah bisa 30 cm. Dengan demikian luasan wadah
penetasan telur harus mempertimbangkan panjang dan lebar substrat serta
jumlah kepadatan telur/larva. Berbeda kiranya apabila wadah penetasan telur
akan bergabung menjadi satu dengan kolam pendederan, jika demikian biasanya
ukuran wadah akan semakin luas bisa 300-1000 m2. Hal ini tergantung jumlah
kakaban berisi telur yang akan ditetaskan. Intinya tidak ada ukuran baku.
Wadah tersebut biasanya terdapat pada penetasan dan pendederan ikan mas.
Media pemijahan ikan perlu disesuaikan dengan kondisi alam dimana ikan
tersebut memijah. Jika membutuhkan suara gemericik maka perlu dibuat suara
gemericik air. Jika membutuhkan gerombolan dedaunan/enceng gondok maka
perlu dipasang gerombolan dedaunan/enceng gondok tersebut.Tetapi pada
intinya kualitas air media harus diperhatikan. Kualitas air terdiri dari beberapa
faktor yaitu:
Faktor fisika (Suhu, Kecerahan, Kekeruhan),
Faktor kimia ( O2 terlarut, pH, Alkalinitas, CO2),
Faktor Biologi (plankton atau tanaman air).
Faktor kualitas air yang penting pada pemijahan harus dipenuhi sesuai dengan
kebutuhan kualitas air media ikan tersebut. Kualitas air media sangat
mempengaruhi kecepatan pemijahan ikan, kadang-kadang apabila salah satu
parameter kulitas air tersebut diatas tidak terpenuhi, ikan terlambat bahkan tidak
mau memijah. Pada daerah tropika kualitas air media untuk pemijahan secara
umum yang dikehendaki adalah :
Kecerahan 40 – 45 cm
O2 terlarut 5 – 7 ppm
Suhu 27 – 30 0 C
pH 6.5 - 7.5

2. Memilih Induk Ikan Siap Memijah


Pada setiap pemijahan induk ikan digunakan induk yang telah matang gonad
dan sehat. Setiap jenis ikan memiliki ciri-ciri induk jantan dan betina yang
berbeda. Sedangkan induk yang matang gonad secara umum setiap jenis ikan
memiliki ciri-ciri morfologis yang relatif sama seperti alat kelamin memerah,
bagian perut mengembang (betina), bagian perut ramping (jantan) dan
sebagainya.
Pemilihan induk yang matang gonad harus melihat ciri-ciri primer dan sekunder.
Ciri ciri sex primer induk ikan matang gonad adalah alat kelamin, ukuran dan
warna telur. Sedangkan ciri-ciri sex sekunder adalah warna tubuh, bagian perut,
warna sirip, gerakan dan sebagainya. Tingkat kematangan gonad ikan sangat
mempengaruhi keberhasilan pemijahan ikan.
Untuk mendeteksi kematangan gonad ikan bisa dilihat dari tanda-tanda morfologi
dan fisiologi sel telur atau sel sperma. Tanda-tanda morfologis ikan matang
gonad untuk ikan betina adalah : Gerakannya lamban, Perut gembung, Perut bila
diraba terasa lunak, Kulit kadang kelihatan memerah, Kadang-kadang telur telah
keluar pada lubang genital, Lubang genital memerah dan menonjol. Dan tanda-
tanda sel telur matang secara fisiologis adalah: Polar Body I telah keluar,
Germinal Visicle (Inti sel) telah menepi berada di depan micropile, Warna telur
telah transparan, Ukuran telur mendekati 1 mm. Sejenak sebelum ovulasi GV
akan melebur sehingga disebut Germinal Vesicle Break Down (GVBD).
Sedangkan tanda-tanda ikan jantan matang gonad secara morfologis adalah :
Ikan lebih langsing dibanding ikan betina, Gerakannya lincah, Bila diurut kearah
lubang genital cairan seperti susu akan keluar. Dan tanda-tanda sel sperma
matang adalah : Warna kental seperti susu/santan, Organ sperma telah lengkap,
Motilitas tinggi, Kenormalan lebih dari 90% . Disamping kesehatan, kenormalan
ikan merupakan unsur yang penting juga, karena faktor ini akan diturunkan
kepada anaknya.
Pada saat pemilihan induk ikan matang gonad usahakan induk ikan tidak stress.
Jika induk ikan stress walaupun kematangan gonad nya sudah memenuhi, ikan
tersebut biasanya tidak akan memijah. Jika demikian keadaannya pemijahan
ikan bisa tertunda atau gagal memijah, yang pada akhirnya telur ikan akan
terserap kembali atau atresia.

3. Memberok Induk

Setelah induk ikan dipilih dilakukan pemberokan induk ikan. Memberok induk
berarti memisahkan tempat antara induk jantan dan betina dan memuasakan
induk tersebut sehari dua hari serta memberikan lingkungan yang lain. Tujuan
pemberokan induk adalah untuk mengurangi lemak yang terdapat pada saluran
pengeluaran telur, menambah rangsangan pada saat pemijahan. Lemak yang
terdapat pada saluran pengeluaran telur dapat mengganggu keluarnya sel telur
pada saat pemijahan. Ikan Mas, Nila, dan Lele berpengaruh positif pada proses
pemijahan jika dilakukan pemberokan. Tetapi untuk komoditas ikan kerapu dan
bandeng biasanya tidak dilakukan pemberokan terlebih dahulu.
Wadah yang seringkali dipergunakan pada saat pemberokon induk tidak baku
harus wadah tertentu. Tetapi wadah tersebut hendaknya memenuhi syarat
sebagai wadah pemberokan induk, diantaranya adalah luas wadah, kedalaman
wadah atau volume wadah. Wadah tersebut bisa berupa bak semen, bak
buatan/berdinding plastik, hapa, waring atau kolam-kolam kecil.
Jika pemberokan induk dilakukan pada air yang mengalir sebaiknya induk jantan
ditempatkan pada wadah bagian atas/hulu dan induk betina ditempatkan pada
wadah bagian bawah/hilir. Hal ini untuk menghindari adanya induksi yang
berasal dari induk jantan, sehingga mijah maling tidak terjadi. Jika pemberokan
induk ditempatkan pada wadah hapa atau waring sebaiknya induk ikan antara
jantan danbetina saling melihat, tempatkanlah tidak begitu berjauhan. Hal
tersebut disinyalir akan menambah daya rangsang terutama pada saat
pemijahan. Tetapi jika pemberokan dilakukan pada wadah berupa bak semen
dengan air tertutup maka wadah sebaiknya diberi aerasi secukupnya. Pastikan
bahwa induk yang diberok tidak loncat keluar wadah, sehingga wadah perlu
ditutup.
Kegiatan pemijahan ikan berkaitan dengan sistem reproduksi ikan. Sistem
reproduksi ikan terdiri dari alat kelamin, gonad, kelenjar hipofisa dan saraf–saraf
yang berhubungan dengan perkembangan alat reproduksi. Reproduksi ikan
dikendalikan oleh tiga sumber utama yaitu hipotalamus, hipofisa dan gonad.
Secara alami sistem kerja reproduksi ikan adalah dimulai dari keadaan
lingkungan seperti suhu, cahaya dan cuaca yang diterima oleh organ perasa
yang meneruskannya ke saraf. Selanjutnya hipotalamus melepaskan GnRH
yang bekerja merangsang kelenjar hipofisa untuk melepaskan GTH. Selanjutnya
gonadotropin akan berfungsi dalam perkembangan dan pematangan gonad serta
pemijahan (Sumantadinata, 1997).

Pemijahan adalah pertemuan induk jantan dan induk betina yang bertujuan untuk
pembuahan telur. Pemijahan terdiri dari tiga cara yaitu pemijahan secara alami,
semi buatan dan buatan. Pemijahan secara alami adalah pemijahan yang tidak
dilakukan penanganan khusus, pada pemijahan secara alami, pembuahan telur
oleh sperma terjadi di kolam pemijahan. Pemijahan secara semi buatan adalah
dimana induk ikan tersebut sebelum dipijahkan terlebih dahulu disuntik hormon,
selanjutnya kedua induk ikan tersebut memijah di kolam. Pemijahan secara
buatan adalah pemijahan yang terlebih dahulu menyuntikan hormon ke dalam
tubuh induk ikan, demikian juga halnya dengan ovulasi telur dan sperma
dilakukan dengan cara stripping atau pengurutan. Beberapa jenis ikan,
pemijahannya hanya dapat dilakukan secara buatan seperti halnya ikan patin.

4. Menyuntik Induk Ikan


Pemijahan induk ikan di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan
eksternal. Factor internal adalah factor yang berasal dari induk itu sendiri seperti
tingkat kematangan gonad, kesehatan induk dan sebagainya. Sedangkan factor
eksternal adalah factor yang berasal dari luar tubuh induk seperti kualitas dan
kuantiítas air, substrat, cuaca, intensitas cahaya dan hormon.
Penyuntikan induk adalah usaha memasukkan zat baik bentuk padat atau cair
kedalam tubuh ikan. Induk ikan yang telah matang gonad disuntik menggunakan
HCG (Human Chorionic Gonadotropin ), ovaprim atau hormon buatan lainnya.
Penyuntikan menggunakan setiap jenis hormon buatan (artificial hormone)
memiliki dosis yang berbeda menurut jenis ikannya. Penyuntikan induk ikan
menggunakan hormon HCG maka dosis yang digunakan adalah 500 IU/kg induk.
Sedangkan jika penyuntikan induk jenis ikan patin menggunakan hormon
ovaprim dosis yang digunakan sebanyak 0,5 cc/kg, sedangkan ikan lele dosis
hormon ovaprim yang disuntik sebanyak 0,2 ml/ekor induk. Penyuntikan induk
dilakukan dengan hati-hati agar induk tidak stres atau cairan hormon keluar
kembali.
Penyuntikan dapat dilakukan pada 3 tempat, yaitu pada otot punggung, batang
ekor dan sirip perut. Akan tetapi pada umumnya dilakukan pada otot punggung
dengan kemiringan alat suntik 45°. Penyuntikan pada bagian punggung
dilakukan dibawah sirip punggung. Kedalam jarum suntik yang masuk ke tubuh
induk ikan adalah 1 – 2 cm.
Human Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon gonadotropin yang
diskresi oleh wanita hamil dan disintesa oleh sel-sel sintitio tropoblas dari
placenta. HCG mempunyai dua rangkaian rantai peptida yaitu α yang
mengandung 92 asam amino dan β mengandung 145 asam amino. Pada
beberapa spesies menggunakan hCG sebagai pemacu merangsang
pematangan gonad sangat efektif, bisa sebagai pengganti ekstrak kelenjar
hipofisa tetapi pada beberapa spesies penggunaan hCG kurang efektif mesti
dikombinasikan dengan Pregnan Mare Serum Gonadotropin (PMSG) atau
ovaprim. HCG berperan dalam pemecahan dinding folikel saat akan terjadi
ovulasi. LH (Litunuising Hormon) adalah hormon perangsang ovulasi yang kuat,
hCG memiliki potensi LH. Fungsi LH dalam sel theca akan merangsang PGE
(prostaglandin) dan PGF2α dari asam arachidonad. PGF2α juga mempunyai
peran penting dalam pecahnya folikel dan pengeluaran oosit yang telah matang.
OVAPRIM adalah campuran analog salmon GnRH dan Anti dopamine
dinyatakan bahwa setiap 1 ml ovaprim mengandung 20 ug sGnRH-a(D-Arg6-
Trp7,Lcu8,Pro9-NET) – LHRH dan 10 mg anti dopamine. Ovaprim juga
berperan dalam memacu terjadinya ovulasi. Pada proses pematangan gonad
GnRH analog yang terkandung didalamnya berperan merangsang hipofisa untuk
melepaskan gonadotropin. Sedangkan skresi gonadotropin akan dihambat oleh
dopamine. Bila dopamine dihalangi dengan antagonisnya maka peran dopamine
akan terhenti, sehingga skresi gonadotropin akan meningkat.
Setelah ditentukan hormone dan ikan recipient maka dilakukan perhitungan
kebutuhan hormone sesuai dengan dosis. Disamping menentukan kebutuhan
hormone secara total juga dihitung kebutuihan hormone setiap penyuntikan.
Hormon yang akan disuntik ke dalam tubuh induk ikan sebaiknya dilakukan
pengenceran menggunakan aquades. Bahan pengencer hormone perlu melihat
bahan dasar hormone tersebut. Bagaimana hormon yang disuntikan itu
mencapai sel target. Hormon tersebut mencapai sel target melalui komunikasi
antar sel. Ada tiga cara sel-sel itu berkomunikasi yaitu :
1. Sel menskresikan senyawa kimia (chemical signaling) kepada sel lain
ditempat yang berjauhan.
2. Sel mengekspresikan molekul permukaan yang mempengaruhi sel lainnya
yang berkontak fisik dengan sel tersebut.
3. Sel membentuk ’gap juction’ yang menghubungkan masing-masing
sitoplasma sehingga dapat terjadi pertukaran molekul-molekul kecil.
Sedangkan komunikasi antar sel dengan cara skresi kimia dapat dibagi
berdasarkan jauhnya jarak yang dirempuh senyawa kimia tersebut yaitu:
1. Sinyal indokrin (Endocrine signaling), dimana sel kelenjar endokrin akan
menskresikan hormon yang akan dibawa aliran darah ke sel target yang
terdistribusi di bagian lain dari tubuh.
2. Sinyal parakrin (Paracrine signaling), dimana sel menskresikan senyawa
kimia (local chemical mediator) yang mempunyai efek terhadap sel yang
berdada disekelilingnya. Senyawa kimia yang diskresikan ini akan diserap
dan diserap dengan cepat.
3. Sinyal sinaptik (Sinaptic signaling), merupakan suatu urneotransmitter
dan bekerja khusus untuk sel syaraf pada suatu daerah khusus yang
disebut chemical synapses.
Sel sel target akan memberikan respon terhadap sinyal yang datang melalui
protein khusus yang disebut receptor.

5. Mengontrol Proses Pemijahan


Perilaku induk setelah disuntik hormon reproduksi akan nampak setelah tiga jam.
Perilaku tersebut dinampakkan adanya gejala kegelisahan, meningkatnya
kelembekan perut. Hal ini akibat adanya perubahan metabolisme, mekanisme
hormonal didalam tubuh induk ikan tersebut. Perubahan metabolisme,
mekanisme hormonal tersebut menyangkaut proses perkembangan dan
pematangan gonad.
Perkembangan telur dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar dari ikan (lingkungan
dan pakan). Pengaruh faktor lingkungan terhadap gametogenesis dibantu oleh
hubungan antara poros Hipotalamus-Pituitary-Gonad melalaui proses stimulisasi
atau rangsangan. Hormon-hormon yang ikut dalam proses ini adalah GnRH dan
Steroid. Keadaan ini memungkinkan untuk perlakuan pemberian hormone baik
melaui penyuntikan, implantasi dan pakan.
Hormon sangat penting dalam pengaturan reproduksi dan sistem endocrine yang
ada dalam tubuh, yang reaksinya lambat untuk menyesuaikan dengan keadaan
luar. Hasil kegiatan sistem endocrine adalah terjadinya keselarasan yang baik
antara kematangan gonad dengan kondisi di luar, yang cocok untuk
mengadakan perkawinan. Aktivitas gonadotropin terhadap perkembangan gonad
tidak langsung tetapi melalui biosintesis hormon steroid gonad pada media
stadia gametogenesis, termasuk perkembangan oosit (vitelogenesis),
pematangan oosit, spermatogenesis dan spermiasi.
Hormon gonadotropin dengan glicoprotein rendah dapat mengontrol
vitelogenesis, sedangkan yang tinggi mengakibatkan aksi ovulasi. Hormon tiroid
akan aktif bersinergi dengan gonadotropin untuk mempengaruhi perkembangan
ovari dan kemungkinan lain juga untuk meningkatkan sensitivitas pengaruh
gonadotropin. Sel target hormon gonadotropin adalah sel teka yang merupakan
bagian luar dari lapisan folikel. Pada ikan goldfish dan rainbowtrout dihasilkan
17α -hidrokxy-20β -dihidroxyprogresterone (17 α , 20β -Pg) oleh lapisan folikel
sebagai respon terhadap aktifitas gonadotropin untuk merangsang kematangan
telur. Teori yang lain control endokrin terhadap kematangan oosit dan ovulasi
pada teleostei adalah GTH merangsang (a) sintesa steroid pematangan pada
dinding folikel (ovari) dan (b) skresi mediator ovulasi.
Teori lain untuk pematangan sel telur adalah adanya hubungan erat antara
poros Hipotalamus-Pituitary-Gonad. Hipotalamus akan melepas GnRH jika
dopamin tidak aktif. Fungsi GnRH adalah merangsang keluarnya GtH
(Gondotropin) yang berada pada Hipofisa. Jika GtH keluar maka hormon
Testosteron yang berada pada sel theca keluar, sedangkan hormon Testosteron
akan merangsang dikeluarkannya hormon Estradiol-17β yang berada pada sel
granulose. Hormon Estradiol-17β ini akan menggertak kerja liver untuk
memproses precursor kuning telur (vitellogen) untuk dikirimkan ke sel telur
sebagai kuning telur. Dengan demikian pertumbuhan telur terjadi.
Sebagai pematang sel telur diperlukan media MIH (Maturtaion Inducing Hormon)
dan MPF (Maturation Promoting Factor) untuk hormon 17α ,20β -dyhidroxy-4-
pregnen-3-one yang bersumber dari sel granulose.
Proses pemijahan akan berlangsung setelah 9-11 jam dari penyuntikan
hormone. Pemijahan adalah proses terjadinya pelepasan sel telur dari induk
betina dan sel sperma dari induk jantan hingga proses pembuahan dan terjadi
zigot.
Tingkah laku pemijahan ikan bermacam-macam seperti total spawner dan ada
yang big bang. Total spawner adalah pengeluaran telur sekaligus habis dan
kemudian dibuahi, sedangkan partial spawner adalah pengeluaran telur bertahap
demikian juga pembuahannya juga bertahap. Sedangkan big bang adalah induk
setelah mengeluarkan telur secara keseluruhan terus mati kemudian dibuahi dan
diikuti oleh ikan jantan juga mati. Proses pemijahan sangat menentukan derajad
fertilisasi dari ikan tersebut, disamping kualitas sel telur dan sel sperma itu
sendiri.
Pemijahan induk ikan umumnya terjadi pada waktu subuh sampai pagi hari.
Pemijahan induk ikan diawali dengan pengeluaran telur oleh induk betina dan
diikuti oleh induk jantan mengeluarkan sperma. Induk ikan yang melekatkan telur
pada substrat, induk ikan akan mengeluarkan telur pada substrat dan diikuti oleh
induk jantan mengeluarkan sperma seperti ikan mas, lele dan sebagainya.
Sedangkan induk ikan yang tidak membutuhkan substrat untuk menempelkan
telurnya, induk jantan dan betina mengeluarkan telur di sarang atau tempat yang
telah disediakan induk seperti ikan nila, bawal dan gurame. Pembuahan telur
ikan oleh sperma terjadi di air ( diluar tubuh). Pelepasan sel telur oleh induk ikan
terjadi akibat:
a. Telur membesar.
b. Adanya konstraksi aktif dari folikel (bertindak sebagai otot halus) yang
menekan sel telur keluar.
c. Daerah tertentu pada folikel melemah, membentuk benjolan hingga pecah
dan terbentuk lubang pelepasan hingga telur keluar.
Fertilisasi mempunyai proses ganda yaitu :
a. Embriologik ialah pengaktifan ovum oleh sperma.
b. Genetik ialah pemasukan faktor heriditas jantan ke dalam ovum.
Macam fertilisasi
a. Fertilisasi internal
b. Fertilisasi external
Mengapa sel sperma bisa membuahi sel telur? Ada komunikasi antar sel melalui
beberapa agen aktif sehingga berjuta-juta sperma menempel pada sel telur,
tetapi hanya satu sperma yang akan masuk ke dalam sel telur emlalui mocropile.
Setelah sperma berhasil masuk ke dalam micropile kepala sperma putus
sehingga menyumbat lubang micropile dan sperma yang lain tidak mampu
masuk. Ekor sperma teetinggal di luar sel telur. Di bawah ini adalah agen aktif
sel telur dan sel sperma.
Meskipun pembuahan terjadi secara alami namun kegagalan pembuahan sering
terjadi. Tidak semua sel telur terbuahi oleh sperma. Hal ini disebabkan karena
tidak seimbangnya jumlah sperma dengan sel telur, kematangan sel telur atau
sperma dan kecocokan kualitas air sebagai media.
Telur yang terbuahi kelihatan berwarna jernih, transparan dan telur yang tidak
terbuahi berwarna putih susu. Atas dasar perbedaan tersebut penghitungan
derajat pembuahan bisa dihitung. Rumus yang sering dipergunakan adalah:
Derajat Pembuahan : Jumlah telur terbuahi/Jumlah telur keseluruhan
X 100%

Tingginya derajat pembuahan akan sangat mempengaruhi derajat penetasan.


Walaupun demikian kesempurnaan proses embriogenesis dan lingkungan media
sangat mempengaruhi derajat penetasan ini.
6. Memisahkan Induk Ikan dengan Telur

Setelah induk ikan selesai memijah, induk tersebut akan merasa lapar karena
kehabisan energi. Bahayanya induk ikan tersebut akan memakan telur yang
telah dikeluarkan. Sehingga secepatnya setelah induk ikan selesai memijah
segera telur dipisahkan dengan induk tersebut. Cara pemisahan telur dengan
induk ikan bisa telur ditebar ke dalam wadah penetasan telur. Atau induk
ditangkap dikembalikan ke dalam wadah induk ikan dan telur tetap didalam
wadah pemijahan.
Seluruh telur yang ditetaskan harus terendam air, tentunya proses ini
memerlukan kakaban. Kakaban yang penuh dengan telur diletakan terbalik
sehingga telur menghadap ke dasar bak. Dengan demikian telur akan terendam
air seluruhnya. Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan,
sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses
penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi
kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang
aerasi.
Gambar 1. Telur Menempel Pada Kakaban
Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak penetasan dan suhu udara.
Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga
sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. Telur ikan lele dumbo
akan menetas menjadi larva antara 18 –24 jam dari saat pemijahan.
7. Membuat Laporan Hasil Pemijahan

Data yang harus dicatat pada pemijahan adalah:

No Aspek Deskripsi

1 Kondisi Wadah Pemijahan • Panjang


• Lebar
• Kedalaman
• Sumber air
• Menggunakan/tidak menggunakan
substrat
2 Substrat • Bahan substrat
• Luas
3 Induk Ikan • Jumlah induk jantan
• Jumlah induk betina
• Umur induk
• Asal induk
• Bobot induk jantan
• Bobot induk betina
4 Kualitas air media • pH
• Suhu
• Kekeruhan
• Kelarutan Oksigen
5 Hormon • Nama hormone
• Dosis
• Jumlah penyuntikan
• Dosis penyuntikan (ke1,2,3)
6 Waktu penyuntikan • Ke 1, 2 dan 3

7 Induk Mijah • Gejala mijah jam ….


• Puncak mijah jam….
• Selesai mijah jam…..
8 Kondisi telur • Telur terbuahi …%
• Warna telur terbuahi
9 Pemisahan induk dengan • Induk dipindah ke…
telur • Telur dipindah ke…
• Pemindahan jam ……

Kaidah penyusunan laporan secara garis besar seperti di bawah ini, secara
detail ada pada petunjuk pemnyusunan laporan.

Aspek
No Deskripsi

1 Isi Laporan. 1.1 Pendahuluan:


a. Latar belakang;
b. Tujuan.

1.2 Proses pekerjaan


a. Waktu dan Tempat
b. Proses pelaksanaan pekerjaan;
c. Alat & bahan yang digunakan;
d. Hasil yang dicapai;
e. Analisis untung rugi.

1.3 Temuan/Pengembangan
a. Faktor Pendukung dan
Penghambat;
b. Rencana Tindak Lanjut.
1.4 Pengorganisasian Portfolio
bersifat:
a. Lengkap;
b. Autentik;
c. Relevan.

2. Teknik Pembuatan 2.1. Format penulisan laporan:


Dokumen a. Sistematika sesuai dengan yang
ditetapkan;
b. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
yang disempurnakan;
c. Diketik rapi;.
d. Dijilid rapi.
C. Tugas-Tugas
1). Penguasaan Konsep
• Anda akan melakukan pemijahan induk ikan secara semi buatan
menggunakan kelenjar artificial. Anda akan melakukan seleksi induk, dan
persiapan kolam pemijahan apa tidak, jelaskan alasannnya
• Apakah yang akan anda lakukan bila dalam pemijahan, induk ikan tidak
memijah ?
• Setelah disediakan substrate untuk menempelkan telur, ternyata masih
banyak telur menyebar didasar kolam, apa kira-kira yang menjadi
penyebabnya
• Prosedur apa yang yang harus diikuti dalam melaksanakan pemijahan
ikan secara alami
• Apakah yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan ikan hormon,
jelaskan
• Substrate jenis apakah yang baik digunakan dalam pemijahan induk ikan
secara semi buatan menggunakan hormone artificial , jelaskan.
• Bahan apa yang akan anda pilih sebagai substrate penempelkan telur
ikan, jelaskan alasannya.
2). Mengenal Fakta
• Melakukan observasi, peserta melakukan observasi dikoordinir oleh guru
kegiatan observasi ke masyarakat ( pengusaha perikanan / industri
perikanan) dalam pemijahan induk ikan secara semi buatan menggunakan
hormone artificial
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat berbeda
• Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana masyarakat
melakukan pemijahan induk ikan secara semi buatan menggunakan hormone
artificial. Dari hasil observasi ini selanjutnya merumuskan kegiatan apa yang
dilakukan masyarakat dan mampu memberi kontribusi secara positif tapi
belum ada pada konsep dasar, mengidentiikasi apa yang ada pada konsep
dasar tapi belum dilakukan oleh masyarakat, dan bila dilakukan akan mampu
memberikan kontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan produktifitas
pemijahan induk ikan secara semi buatan menggunakan hormone artificial.
Saran apa yang bisa diberikan untuk memperbaiki kegiatan persiapan wadah
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk sub
kompetensi/kompetensi penetasan telur, pemeliharaan larva di
kolam/bak/fiberglas, pemberian pakan larva, panen dan pasca panen benih
ikan
3. Mereleksikan, setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan
mengenal fakta, selanjutnya peserta diklat melakukan refleksi bagaimana
anda akan melakukan pemijahan induk ikan secara semi buatan
menggunakan hormone artificial berdasarkan konsep dasar dan hasil
observasi semi buatan menggunakan hormone artificial di masyarakat.
4. Melakuka analisis dan sintesis
• Analisis daya dukung peserta diklat melakukan kegiatan analisis
terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk mengetahui
tingkat kesesuaian dalam kegiatan semi buatan menggunakan hormone
artificial di masyarakat (lahan, iklim mikro, alat dan bahan). Kegiatan ini
dilakukan secara berkelompok.
• Sintesis, peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil
releksi pemijahan ikan secara alami dan hasil analisis terhadap tingkat
kesesuaian daya dukung, peserta diklat melakukan rekonstruksi/modifikasi
terhadap hasil refleksi dalam kegiatan semi buatan menggunakan hormone
artificial di masyarakat. Kegiatan rekonstruksi ini tetap memperhatikan
parameter semi buatan menggunakan hormone artificial di masyarakat
pemijahan ikan secara alami.
5. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja
• Peserta diklat secara berkelompok menyusun / membuat alternatif
rencana pemijahan ikan secara alami, rencana kerja / proposal memuat
metode semi buatan menggunakan hormone artificial yang akan
dilaksanakan, waktu pencapaian dan jadwal kegiatan serta pembagian tugas
kelompok
• Pengambilan keputusan / menetapkan rencana kerja
Secara berkelompok peserta diklat mengambil keputusan/menetapkan
alternatif rencana semi buatan menggunakan hormone artificial yang akan
dilaksanakan, dengan memperhatikan daya dukung dan persyaratan teknis
dalam semi buatan menggunakan hormone artificial. Apabila ada kesulitan
peserta dapat mendiskusikan dengan fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran setiap
anggota kelompok
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat melakukan kegiatan
persiapan wadah, mengacu pada rencana kerja semi buatan menggunakan
hormone artificial yang telah disepakati
• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakukan
pengamatan dan pencatatan data kegiatan persiapan wadah yang
dilaksanakan. Lembar pengamatan disiapkan peserta diklat setelah
mendapat persetujuan fasilitator
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan
Peserta diklat melaksnakan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan
pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan
• Peserta dilat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan hasilnya
dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep yang telah
dirumuskan sebelumnya
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik / rekomendasi terhadap
metode persiapan wadah untuk mendapatkan hasil yang optimal. Perumusan
umpan balik ini juga harus mempertimbangkan dasar teori, fakta dan kondisi
hasil kerja.
D. Tes

E. Daftar evidence of learning yang harus dikumpulkan


• Hasil perumusan penguasaan konsep dan tugas-tugas diskusi, presentasi
dan hasil perumusan tentang ikan donor, pembuatan kelenjar artificial
persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang gonad, penggunaan
dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas & kuantitas air untuk semi
buatan menggunakan hormone artificial serta perlakuan terhadap telur ikan.
• Hasil observasi mengenal fakta di masyarakat perikanan tentang
persiapan ikan donor, pembuatan kelenjar artificial persiapan kolam
pemijahan, seleksi induk ikan matang gonad, penggunaan dan pemasangan
substrate, pengelolaan kualitas & kuantitas air untuk semi buatan
menggunakan hormone artificial serta perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil refleksi tentang persiapan ikan donor, pembuatan kelenjar artificial
persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang gonad, penggunaan
dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas & kuantitas air untuk semi
buatan menggunakan hormone artificial serta perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil analisis tentang persiapan ikan donor, pembuatan kelenjar artificial
persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang gonad, penggunaan
dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas & kuantitas air untuk semi
buatan menggunakan hormone artificial serta perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil sintesis tentang persiapan ikan donor, pembuatan kelenjar artificial
persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang gonad, penggunaan
dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas & kuantitas air untuk semi
buatan menggunakan hormone artificial serta perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil penyusunan rencana kegiatan (berupa rencana / proposal
implementasi)tentang persiapan ikan donor, pembuatan kelenjar artificial
persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang gonad, penggunaan
dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas & kuantitas air untuk semi
buatan menggunakan hormone artificial serta perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil pengamatan/recording kegiatan tentang persiapan ikan donor,
pembuatan kelenjar artificial persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan
matang gonad, penggunaan dan pemasangan substrate, pengelolaan
kualitas & kuantitas air untuk semi buatan menggunakan hormone artificial
serta perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang persiapan ikan donor, pembuatan
kelenjar artificial persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang
gonad, penggunaan dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas &
kuantitas air untuk semi buatan menggunakan hormone artificial serta
perlakuan terhadap telur ikan
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang persiapan ikan donor, pembuatan
kelenjar artificial persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan matang
gonad, penggunaan dan pemasangan substrate, pengelolaan kualitas &
kuantitas air untuk semi buatan menggunakan hormone artificial serta
perlakuan terhadap telur ikan
• Kesimpulan dan rekomendasi / umpan balik tentang persiapan ikan donor,
pembuatan kelenjar artificial persiapan kolam pemijahan, seleksi induk ikan
matang gonad, penggunaan dan pemasangan substrate, pengelolaan
kualitas & kuantitas air untuk semi buatan menggunakan hormone artificial
serta perlakuan terhadap telur ikan