Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuhan menciptakan yang ada di muka bumi ini untuk manusia yang ada di
muka bumi untuk memenuhi hidupya. Manusia yang di beri akal dan piran
selalu berusaha untuk memperbaiki hidup agar melalui pendidikkan khusus
dalam bidang yang berkaitan dengan kemajuan Negara, Indonesia memiliki
laut yang sangat luas dan berpotensial tinggi begitupula di bidang perikanan
laut maupun perikanan darat .
Sumber daya alam di Indonesia cukup melimpah dan luas termasuk dalam
bidang kelautan dan perikanan, namun dalam pemanfaatan dan pengelolaan
yang kurang optimal mengakibatkan banyak penangkapan dan penjaraan
secara liar. Potensi perairan di Negara kita jika di ambil terus-manerus,maka
lama-kelamaan akan habis. Menanggulangi hak tersebut, sekarang lagi
diupayakan pembudidayaan perairan di Negara kita pemanfaatan sumber daya
perairan yang optimal sangat di perlukan
Selain itu untuk meninkatkan sumberdaya manusia agar lebih baik salah
satu upayah yang di lakukan adalah melalui pendidikan karena pendidikan
adalah factor utama yang mempengaruhi kemajuan Negara maupun secara
pribadi suatu Negara pada saat itu direktorat pendidikan dasar menegah
kejuruan (SMK) baik yang ada di pusat kota seperti di cidaun yang terlatak di
cianjur selatan setelah di buka sekolah menegah kejuruan yang berstatus
negeri 4 cajur
Dengan program studi kalautan dan perikanan yang bertujuan untuk
menvetak anak-anak lulusan dari sekolah ini untuk menjadi para pengusaha
khususnya di daerah masing-masing dan umumnya di Negara Indonesia.

1
1.2 Tujuan
1) Sebagai pusat pengembangan ikan air tawar dari seluruh propinsi
2) Sebagai tempat pelatihan-pelatihan guru-guru kejuruan atau dosen
3) Sebagai tempat penelitian atau tampat menhasilkan ikan-ikan
spesies baru atau perkawinan silan antara spesies yang lain.
4) Sebagai tempat mangan mahasiswa ataupun sekolah kejuruan
5) Agar mahasiswa tau tempat /pusat pengembangan ikan air tawar.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Budidaya ikan Gurami (Osphronemus gourami sp)


Ikan gurami merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar
ke seluruh wilayah asia tenggarah dan cina. Merupakan salah satu ikan
labyrinth dan secara toksonimi termasuk famili Osphronemidae. Ikan gurami
adalah salah satu komoditas yang banyak di kembangkan olah para petani hal
ini di karnakan permintaan pasar cukup tinggi, pemiliharaan murah dan harga
relative stabil.
A. Morfologi
Phylum : Cordata
Kelas : Pisces
Ordo : Labirinthici
Sup ordo : Anabantoidei
Famili : Anabantidae
Genus : Osphoronemus
Spesies :Osphronemus gourami sp
Secara morfologi ikan gurami memiliki garis leteral tunggal, lengkap dan
tidak berputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahan bawah. Sirip
ekor bulat. Jarih-jarih lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang
yang berfungsi sebagai alat perabah.
Tinggi badang 2,0 – 2,1 kali dari panjang standar. Pada ikan mudah
terdapat garis-garis tegak berwarna hitam berjumlah 9-10 buah pada daerah
pangkal ekor terdapat titik hitam bulat.
B. Habitat
Asli ikan gurami di rawa dan daratan rendah. Salah satu factor yang
membedakan daratan rendah dan daratan tinggi adalah suhu air dan mutu air.
Suhu di daratan rendah lebih panas dari pada di daratan tinggi. Berkaitan
dengan suhu ikan gurami hidup dengan sangat baik delam air dengan suhu

3
antara 25-28 oC . Ikan gurami sangat pekah terhadap suhu sehingga jika ikan
gurami di pelihara dalam air dengan suhu 15 oC ikan ini tidak dapat
berkembang biak. Kepekaan ikan gurami terhadap suhu yang rendah
sebenarnya dapat di tanggulangi dengan merekayasa lingkungan, misalnya
dengan memperdalam badan air sehingga terjadi kestabilan suhu . sementara
itu ikan gurami dapat hidup 800 m di atas permukaan air laut.
C. Ciri-ciri jantang dan betina
Ciri khas perbedaan yang paking menonjol antara induk jantang dan betina
adalah tonjolan di bagian kepala atau dahi,bibir bawah tebal dam memerah
pada saat birahi dan tidak memiliki warnah hitam pada ketiak sirip dada serta
bagian perit di urut kearah genital akan keluat cairan berwarna putih.
Sedankan cirri-ciri induk betina memilii cirri-ciri sebaliknya dari induk
jantang.
Ikan jantang yang siap menjadi induk memiliki cirri-ciri : panjang standar
30-35 cm, berumur 24-30 bulan dan bobot mencapai 1,5-2 kg. sedangkan
induk betina memiliki cirri-ciri : panjang standar 30-35 cm, dengan bobot
mencapai 30-36 kg. dan berumur kuran lebih 30-36 bulan. Dalam pemijahan
sebaiknya di gunakan induk yang mencapai berat sekitar 3 kg ( betina ) dan 4-
5 kg (jantan).

4
2.2 Budidaya ikan jambal siam (Pengasius Hiphpthalmus)
Ikan jambal siam merupakan salah satu jenis ikan sangat popular di
masyarakat. Ikan ini berasal dari Taiwan pertamakali di datangkan ke
Indonesia pada tahun 1972 oleh balai penelitian perikanan air tawar bongor.
Sebutan lain ikan jambal siam adalah ikan lele Bangkok atau pengasius dan di
Negara asalmnya di sebut dengan nama “ Pla sawai “.
Karena sudah cukup lama di Indonesia dan memiliki berbagai kelebihan di
bandingkan ikan lainnya. Merupakan ikan jambal siam merupakan ikan
mudah di terimah oleh masyarakat dan menyebar hamper ke seluruh pelosok
tanah air. Maka tak heran, di masa yng akan dating ikan ini menjadi salah satu
ikan komuditas andalan di Indonesia.
A) Klasifikasi ikan jambal siam (Pengasius Hiphpthalmus)
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Super class : Pisces
Class : Ostechtyes
Sub class : Actinopterygii
Bangsa : Ostariophysi
Marga : Pengasius
Jenis : Pengasius Hypopthalmus sp
B) Biologi ikan jambal siam (Pengasius Hiphpthalmus)
Ikan jambal siam memiliki tubuh memanjang, bentuk tubuh pipi, Tidak
bersisik, kepala kecil, mata kecil dan memiliki 2 pasang kumis.ikan jambal
siam banyak I temukan di sungai, di asia tenggara seperti di thailan, kamboja,
dll. Ikan jambal siam termasuk ikan Omnivora namun pada saat larva ikan
jambal siam bersifat karnifora.larva ikan jambal siam jika kantung kunung
telurnya udah habis dia bersifat kanibal.ikan jambal siam sudah apat di
pijahkan umur 4 tahun pada musi hujan.

5
C) Pengelolahan induk
Pengelolahan induk beryujuan untuk meningkatkan produktivitas dari
usaha pembenihan ikan, produksi benih secara kontinyu tergantung dari
ketersediaan induk dan vasilitas yang mendukung oleh sebab itu produksi
benih harus sesuai dengan fasilitas yang ada dan ketersediaan induk yang siap
di pijahkan
Usaha pemeliharan induk ikan jambal siam (Pengasius sutchi)
memerlukan regenerasa induk. Induk yang tersedia adalah induk yang
dewasah dan matang gonad. Induk ikan tersebut pada waktu tertentu akan tua
( afker ) sehingga induk yang afkir harus dig anti dengan induk yang udah
induk dewasah biasanya afkir setelah memijah 5-6 kali pemijahan maka induk
tersebut sudah tidak layak pake.
Ketersediaan induk di kolam berhububgan debungan dengan pengelolahan
induk. Induk dewasah di tempatkan pada kolam yang sama, sedankan induk
yang mudah di pijahkan di tempatkan di kolam yang berbeda dengan induk
dewasah.penempatan induk yang berbedah di kolam bertujuan untuk
mengoptimalalkan perkembangan induk tersebut
D) Pemeliharaan induk .
Induk yang telah di seleksi di tempatkan khusus kolam induk.Induk
jantang dan betina bias di pelihara secara bersamaan di dalam kolam padat
penebaran induk di dalam kolam adalah 4 kg/m2 .
Air kolam induk dapat berasal dari air sungai , waduk, danau dan air hujan
ataupun sumber air lain. Saumber air yang tercemar sebaiknya di hindarkan
masuk kedalam kolam karena dapat membuat ikan mati secara masal.salama
pemeliharaan induk ikan jambal siam sebainya di lakukan pengontrolang
setiap hari di lakukan pengontrolan pintu pemasukan dan pengeluaran .
Pemberian pakan pada induk ikan di lakukan 3 kali sehari. Jumlah pakan
yang di berikan adalah 3 % dari berat ikan di yang kita pelihara. / hari. Kadar
protein untuk induk jambal siam 30-35 %. Peninkatan pakan buatan paprika
dapat di lakukan dengan mencampur pakan buatan paprika dengan tepung
ikan atau yang lainya yang memiliki kadar protein yang lebih tinggi.
Pemberian pakan di lakukan sebulang sebelumn pematang gonad. Kadar

6
protein yang baik dapat mempengaruhi kualitas telur ikan. Telur ikan yang
berkualitas baik akan berpengaruh terhadap daya tetas telur. Sumantadinata
(1983) menjelaskan bahwah factor yang mempengaruhi daya tetas telur adalah
sebagai berikut :
1. Kualitas telur yang baik di pengaruhi oleh aspakan yang di
berikan peda induk dan tingkat kematangan telur.
2. kuaklitas telur di pengaruhi oleh lingkungan, antar lain kualitas
air yakni suhu air, O2 CO2 dan NH3 terlarut.
3. Gerakan air yang terlalu kuat dapat menyebaabkan terjadinya
benturan yang keras di antara telur itu sendiri.

7
2.3 Budidaya ikan nila (oreokromis nilotika )
Ikan nila bersal dari benua Afrika, namun sekarang telah tersebar dan
berkembang secara alami di berbagai belahan dunia. Ikan nila dapat
dipelihara di kolam, waduk keramba jaring apung, sawah, tambak, dan
perairan lainnya, ikan nila dapat dibudidayakan secara monokultur atau
polikultur dan terpadu dengan ternak.
Permintaan dan kebutuhan ikan dunia terus meningkat dari tahun ke tahun,
sebagai akibat pertambahan penduduk dan perubahan konsumi masyarakat ke
arah protein hewani yang lebih sehat. Sementara itu pasokan ikan dari hasil
penangkapan cenderung semakin berkurang.
Guna mengatasi keadaan ini, maka pengembangan budidaya perairan
merupakan alternatif yang cukup memberikan harapan. Hal ini didukung oleh
potensi alam Indonesia.Budidaya ikan berpeluang besar menjadi tumpuan
bagi sumber pangan hewani di masa depan.
A. Klasifikasi ikan nila (oreokromis nilotika)
Filum : Chordata
Sup filum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Sub kelas : Acanthopthrii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Jenis : Oreochromis niloticus
Setiap species memiliki ciri–ciri khas, pada ikan nila adalah garis
vertical yang bewarna gelap di sirip ekor sebanyak enam buah. Garis
vertical itu juga terdapat pada sirip punggung dan siri[ dubur. Sedangkan
ikan mujair tidak mempunyai garis-garis vertical di ekor, Sirip punggung
dan sirip dubur (Suyanto 1994)

8
B. Habitat ikan nila Gift
Seperti ikan air tawar pada umumnya, nila gift hidup di tempat–tempat
yang airnya agak dangkal, ikan nila termasuk ikan yang sangat tahan
terhadap perubahan lingkungan hidup. Nila dapat hidup di air tawar, air
payau dan di air sedikit asin. Ikan nila yang ukuran lebih kecil lebih tahan
terhadap perubahan suhu di bandingkan ikan yang ukuran besar.
o
Keadaan suhu optimal untuk ikan nila Gift 25-30 C, pH 7-8,
oksigen terlarut 3-5 ppt. Oleh karma itu ikan nila lebih cocok di pelihara
di dataran rendah sampai ketinggian 500 M dari permukan laut (Suyanto
1994)
C. Makan dan kebiasaan makan
Ikan nila memerlukan sumber energi yang berasal dari makanan
untuk pertumbuhan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Ikan nila
gift yang berkembang di perairan alami bersifat herbifora atau pemakan
tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi, ikan bila gift yang di pelihara di kolam
bersifat omnifora atau pemakan segala.

9
2.4 Budidaya Lopster capit merah
a) Anatomi dan Bialogi
Secara morfologi spesies-spesies lobster air tawar termasuk dalam
genus Cherrax, famili Parastacidae, Ordo Decapoda,kelas Malostrca, sub
filum Crusteacea dan filum Arthopoda. Umumnya lobster air tawar
memiliki ciri-ciri morfologi tubuh terbagi menjadi 2 bagian yakni kepala
(Chephalothorax) dan badan (Abdomen) Antara kepala bagian depan dan
bagian belakang di kenal dengan nama sub- Chephalothorax. Cangkang
yang menutupi kepala di sebut Karapak (Carapace) yang berperan
dalam melindungi organ tubuh seperti otak, insang, hati dan lambung.
Karapak berbahan zat tanduk atau Kitin yang tebal yang merupakan
nitrogen Polisakarida (C6 H13 O5 N) x yang di sekresikan oleh kulit
epidermis dan dapat mengupas saat terjadi pergantian cangkang tubuh
(Moulting). Di lihat dari organ tubuh luar lobster air tawar memiliki
beberapa alat pelengkap sebagai berikut :
a. Sepasang antena yang berperan sebagai perasa dan peraba
terhadap pakan dan kondisi lingkungan
b. Sepasang antena untuk mencium pakan dan satu mulut dan
sepasang capit (Celifed) yang lebar dengan bentuk ukuran lebih
panjang di bandingkan dengan luas dasar capitnya.
c. Enam Ruas badan (Abdoman) agak memipih dengan lebar
badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala
d. Satu ekor tengah dengan Telson memipih sedikit lebar, dan
di lengkapi duri-duri halus dan terletak di semua bagian tepih
ekor samping ( Uroppod) yang memipih.

10
e. Enam Kaki renang (Pleopod) yang berperan dalam
melakukan gerakkan renang. Di samping sebagai alat untuk
bernang, kaki renang pada induk betina yang sedang bertelur
memiliki karakteristik memberikan gerakkan renang dengan
tujuan meningkatkan kandungan oksigen terlarut dan larva
dapat terpenuhi. Kaki renang juga di gunakkan untuk
membersihkan telur atau larva dari tumpukan kotoran yang
vterendam.
f. Empat pasang kaki untuk berjalan
b) Habitat Dan Penyebarannya
Lobster air tawar sadalah ssalah satui genus yang termasuk dalam
kelompok udang (Crustacea) air tawar yang secara alami memiliki
ukuran tubuh relative besar dan memiliki siklus hidup yang hanya di
lingkukngan air tawar Beberapa nama Internasional Lobster air tawar
adalah Crayfish, Craw fish, dan Craw dad. Berdasarkan penyebarannya
di dunia ada 3 famili lobster air tawar yakni famili Astacidae,
Cambaridae Prastacidae.Lobster air tawar Astacidae dan Cambaridae
tersebar di belahan bumi utara.
air tawar capit merah (red claw), merupak salah satu species
endemic dari kelompok udang yang pada awalnya hidup di habitat alam
seperti sungai, rawa, yang ada dikawasan quensland, Australia secara
khusus, ciri-ciri morfologi lobster air tawar capit merah adalah warna
tubuihnya hijau kemerah-merahan, dengan warna dasar begian atas capit
berupa garis merah tajam, terutama induk jantan yang telah berumur
lebih dari 7 bulan
Selain itu, memiliki duri-duri kecil yang terletak di atas seluruh
permukaan capit yang dilengkapi duri berwarna putih di atas permukaan
setiap segment capit, telur berwarna kuning kemerahan yang memiliki
masa pengeraman telur 32-35 hari dengan suhu air 20-220C. lobster air
tawar capit merah dapat hidup dan tumbuh pada suhu 20-370C. meskipun
demikian suhu air optimum yang paling tepat kurang lebih untuk hidup

11
dan tumbuh adalah 23-310C. sementara itu toleransi terhadap kandungan
oksigen didalam air adalah 1 ppm, keasaman 6-9,5 dan amoniak 1 ppm.
c) Seleksi Berdasarkan Jenis Kelamin
Lobster air tawar merupak species dimopys yakni terdiri dari Janis
kelamin jantan dan betina. Jenis kelamin jantan lobster air tawar dapat
dibedakan secara pasti jika usianya telah mencapai 2-3 bulan dengan
panjang total rata-rata 4-6 cm. ciri-ciri primer pembeda Janis kelamin
calon induk lobster air tawar adalah bentuk yang terletak di tangkai jalan
dan ukuran capit. Sementara itu ciri-ciri sekunder yang dapat dilihat
secara visual adalah kecerahan warna tubuhnya calon induk jantan
memilki tonjolan didasar tangkai kaki jalan kelima jika penghitungan
dimulai dari kaki jalan dibawah mulut ciri lobster air tawar betina adalah
adanya lubang bulat yang terletak didasar kaki ketiga. Berdasarkan
capitnya, calon induk jantan memiliki ukuran capit 2-3 kali lebar buku
pertama (tangkai capit) dan calon induk betina memilki ukuran capit
yang sama atau 1,5 kali buku pertama.

12
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan tenpat


Tanggal :
Hari :
Tempat :
3.2 Sejarah singkat BBPBAT Sukabumi

Sejarah BBPAT dimulai sejak tahun 1920-1942 sebagai culture school


(sekolah perkebunan) tetapi sering pula disebut sebagai landbouw school
(sekolah pertanian). Pada tahun 1943-1945 berubah menjadi noogako, dan
tahun 1946-1953 berubah lagi menjadi sekolah pertanian menengah namanya
kemudian diganti menjadi pusat latihan perikanan pada tahun 1954-1967, dan
selanjutnya pada tahun 1968-1975 berfungsi sebagai training center perikanan.
Tahun 1976-1977 berkembang menjadi pangkalan pengembangan pola
keterampilan budidaya air tawar, dan akhirnya pada tahun 1978 sampai
sekarang menjadi balai budidaya air tawar, yang merupakan unit pelaksana
terkni (UPT) direktorat jendral perikanan.
3.3 keadaan umum

BBPBAT Sukabumi terletak di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Tepatnya


sekitar 3 km kearah obyek parawisata Selabintana atau 120 km dari Jakarta
menuju arah tenggara. Suhu udara berkisar 20-27 derajat celcius dengan
ketinggian + 700 meter diatas permukaan laut.

Luas Areal 25,6 Ha yang terdiri dari 12 Ha areal perkolaman 2 Ha areal


pesawahan dan sisanya dipergunakan untuk perkantoran, perumahan
karyawan serta sarana penunjang lainnya.

13
Sumber air untuk perkolaman berasal dari sungai Panjalu dan Cisarua
keduanya berasal dari kaki Gunung Gede.

3.4 kedudukan
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kelautan dan Perikanan
dibidang budidaya airtawar yang berada dan bertanggung jawab kepad
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya
3.5 Tugas dan Fungsi
Tugas :
Melaksanakan pengembangan dan penerapan teknik perbenihan,
pembudidayaan, pengelolaan kesehatan ikan dan pelestarian perlindungan
budidaya air tawar
Fungsi :

1. Identifikasi dan perumusan program pengembangan teknik


budidaya air tawar;
2. Pengujian standar perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar;
3. Pengujian alat, mesin dan teknik perbenihan serta pembudidayaan
ikan air tawar;
4. Melaksanaan bimbingan penerapan standar perbenihan dan
pembudidayaan ikan air tawar;
5. Melaksanaan sertifikasi mutu dan sertifikasi personil perbenihan
dan pembudidayaan ikan air tawar;
6. Melaksanaan produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk
dasar ikan air tawar;
7. Pengawasan perbenihan, pembudidayaan ikan serta pengendalian
hama dan penyakit ikan air tawar;
8. Pengembangan teknik dan pengujian standar pengendalian
lingkungan dan sumberdaya induk dan benih ikan air tawar;
9. Pengelolaan sistem jaringan laboratorium penguji dan pengawasan
perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar;

14
10. Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi dan publikasi
pembudidayaan ikan air tawar;
11. Pengelolaan keanekaragaman hayati;
12. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

3.6 Visi dan misi


Visi :
Mewujudkan Balai Besar Sebagai Institusi Pelayanan Prima dalam
Pembangunan dan Pengembangan Sistem Usaha Budidaya Air Tawar yang
Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Berkeadilan.
Misi :

1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan


2. Mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis akuabisnis
dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha
3. Mengembangkan sistem informasi iptek perikanan
4. Meningkatkan jasa pelayanan dan sertifikasi
5. Memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan

3.7 Tujuan dan sasaran


Tujuan :

1. Meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia Balai Besar;


2. Meningkatkan efektifitas dan produktifitas kinerja Balai Besar;
3. Menyediakan teknologi adaptif;
4. Menyediakan benih dan induk bermutu;
5. Mempercepat penyebarluasan iptek perikanan;
6. Memperkuat peran balai besar sebagai pusat iptek budidaya;
7. Meningkatkan keterampilan pembudidaya ikan dan pendamping
teknologi;
8. Meningkatkan kualitas produk perikanan budidaya;
9. Meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP);
10. Melestarikan sumberdaya perikanan budidaya;
11. Memelihara lingkungan budidaya perikanan

15
Sasaran

1. Tersedianya tenaga teknik, administrasi yang profesional;.


2. Tersedianya sarana dan prasarana kerja yang memadai;.
3. Tersedianya paket teknologi budidaya;.
4. Tersedianya induk, benih ikan yang unggul;.
5. Tersedianya informasi iptek perikanan;.
6. Tersedianya koleksi referensi yang lengkap dan terkini;.
7. Terwujudnya pembudidaya ikan dan tenaga pendamping yang
profesional;.
8. Tersedianya produk perikanan budidaya yang bersertifikat;.
9. Tersedianya jenis ikan lokal dari alam menjadi jenis ikan
kultur/dibudidayakan;.
10. Tercapainya usaha budidaya yang ramah lingkungan;.
11. Tercapainya target penerimaan negara bukan pajak..

16
BAB IV
HASIL DAN PENBAHASAN

Komoditas yang dibudidayakan di BBAT sukabumi meliputi ikan


nila,mas, lele, gurame, udang galah, kodok lembu, sidat, mola dan ikan hias yang
meliputi koi,arwana,super red dan mega red.
4.1 Teknologi pembenihan ikan gurami (Osphronemus gourami sp)
a) Pemijahan
Ikan gurami dapat memijah sepanjang tahun namun produktifitasnya
labih tinggi teruttama pada musim kemarau. Yang perlu di perhatikan
dalam melakukan pembenihan ikan gurami adalah padat tebar, panen
telur, tata latak sarang dan kualitas air pemijahan serta kualitas air
penetasan telur.Dalam melakukan pemijahan padat tebar yang di lakukan
adalah 1 : 3 ekor / m3 padat tebar induk ikan di kolam bias perpasangan
dengan cara penyekatan kolam dengan menggunakan bamboo atau bias
junga dengan 17arring ataupun dengan cara Komunal ( satu kolam di
tebar beberapa pasang induk ikan gurami ). Satu kilo indok dapat
memproduksi telur sebanyak 1500-2500 butir
Sarang di letakkan 1-2 m dari bahan sara. Sarang di pasang sejajar
dengan permukaan air dan menhadap kearah bahan saran.Biasanya
bahan saran dari ijuk ataupun sabuk kelapa agar induk ikan gurami
mudah mengambilnya. Bahan saran di letakkan di atas permukaan air
saperti gambar di bawah ini

17
Bahan sarang Sarang
Gambar 1. bahan sarang dan sarang
Pengecekan telur di lakukan setiap pagi dengan cara dengan
menggerakan saran dan jika pada saat di gerakan keluar semacam
minyak atau telur maka ikan gurami tersebut sudah memijah dan saran
sudah berisi telur yang siap di tetaskan. Sarang yang sudah berisi telur di
angkaat dengan perlahan untuk di teteskan di wadah penetasan.
b) Penetasan telur
Dalam proses penetasan telur gurami biasanya di gunakan wadah
baskom, bak beton. Penetasan telur ini di lakukan kurang lebih 18-24
jam dengan suhu 28-30 oC Dalam penetasan telur kondisi air harus di
perhatikan supaya kondisi telur tetap baik dan dalam penetasan tetap
berjalang dengan baik.
c) Pemeliharaan
Pemeliharaan di lakukan selama 2 minggu, Dalam pemeliharaan di
bak larva di beri pakan berupa kakan alami ataupun pakan buatan tetapi
di dalam bank sebaiknya paan yang di berikan adalah pakan alami
karena tidak mencemari wadah pemeliharaan
d) Pemanenan
Pemanenan larva di lakukan setelah 2 minggu lama pemeluiharaan
di dalam bak, pemanenan sebaiknya di lakukan di pagi hari atau soreh
hari. Setelah pemanenan benih ikan gurami siap di dederkan / di tebar ke
kolam pembesaran.
e) Penanggulangan penyakit
Tindakan pencegahan penyakit ikan adalah di lakukan dengan
pemberian garam dapur 400gr/m3 setiap bulan pada air pemeliharaan.

18
4.2 Teknologi pembenihan ikan jambal siam (Pengasius Hiphpthalmus)
a) Seleksi induk
Induk jambal siam dapat di pijahkan setelah berumur 2-3 tahun. Pada
umur tersebut induk jambal siam telah memiliki berat 2-5 kg/ekor. Ciri-ciri
ikan jaambal siam betina adalah memiliki bentuk urogenetal bulat dan perut
relative besar di bandingkan dengan induk jantan
Ciri-ciri induk yang matang gonad yaitu :
Jantan Betina
 Bagian kelamin kemera-  Bagian perut membesar ke
merahan bagian urogenetalia
 Jika perut di urut kebagian  Alat kelamin berwarna
genetalia kan keliar cairan putih kemera-merahan
kental  Jika perut di urut akan keluar
 Gerakan lincah telur
 Jika di raba terasa lembek
 Gerakan lambat

Induk yang telah di seleksi di berok selama 1-2 hari. Selama


pemberokan air di alirkan secara terus menerus tujuan pemberokan adalah
untuk mengurangi lemak yang ada di saluran pengeluaran telur sehingga pada
saat pemijahan proses pengeluaran telur lancer. Jika Bagian perut induk
setelah di berok masih besar, Induk tersebut di kanulasi untuk menentukan
apakah induk suah siap atau belum.
b) Penyuntikan
Penyuntikan induk bertujuan untuk merangsan induk ikan yang siap di
pijahkan dengan cara penyuntikan hormone kedalam tubuh ikan akhir-akhir
ini banyak di lakukan di Indonesia. Selain lebih praktis Pemijahan ikan
dengan penyuntikan hormone lebih efisien. Penyuntikan hormone ke dalam
tubuh induk adalah untuk meransang induk untuk mengeluarkan sel telur dari
ovarium dan sel sperma dari testis oleh karma itu binduk yang I suntik harus
sudah matang gonad. Dosis yang di gunakan untuk menyntik ikan jambal siam
biasanya dengan dosis 0,5 ml/kg. Hormon tersebut di suntikkan 2 kali dengan
interval penyuntikan pertama dengan dua adalah 6-8 jam. Hormon yang di

19
suntikkan pertama adalah 25% dan yang kedua 75% di suntik pada kedua sisi
punggun 2 cm dari sirip punggun.
Induk yang telah di suntik kemuian di simpan secara terpisah di di bak,
Fiber atau di hapa. Kualitas air yang I gunakan untuk penyimpanan adalah
oksingen 6-8 ppm, Suhu 26-30oC, pH air 6,5-8, untuk mempertahankan
kualitas air tetap baik maka di lakukan pengaliran air secara terus menerus.
c) Pembuahan telur
Pembuahan telur ikan jambal siam di lakukan secara kering artinya sperma
yang akan di aduk dengan telur tidak di tambahkan air. Setelah mengeluarkan
telur dari betina induk jantang di tangkap dan bagian tubuh induk di lap agar
kering. Setelah tubuh induk sudah kering maka sperma induk di keluarkan dan
di campur dengan telur.Pengurutan di awali dengan penekanan perut induk
bagian depan kearah lubang papela. Pada awal pengurutan inuk jantan
biasanya keluar cairan bening. Cairan tersebur harus dibuang karena
mengandung air. Cairan yang di masukkan kedalam wadah penampungan
telur yang berwarna putih susu.
d) Penetasan telur
Dalam penetasan, sebaiknya wadah penetasan di cuci dan I salinitasi
terlebih dahulu Demikian juga air yang di gunakan untuk penetasan telur
sebaiknya di saring terlebih dahulu selanjutnya aerator dan otomatik heater di
pasang didadam wadah penetasan. Suhu air dalam penetasan adalah 28-30oC.
Telur yang telah di campur dan di aduk secara merata di tebar ke dalam wadah
penetasan. Selanjutnya telur akan menetas setelah 18-20 jam kemudian.
e) Pemeliharaan larva
Larva yang baru menetas masih memiliki kantung kuning telur di
tubuhnya sebangai sumber makanan. Larva yang baru menetas dipindahkan ke
wadah pemeliharaan larva. Atau tetap pada wadah penetasan dan jika tempat
penetasan airnya keruh sebaiknya diganti karena jika tidak dig anti maka akan
mengakibatkan kematian secara masal.
Kantun kuning telur akan habia dalam waktu 2 hari setelah menetas oleh
karma itu larva jambal siam di beri pkan jika tidak di berikan pakan maka

20
larva tersebut akan bersifat kanibal. Suhu di dalam wadah pemeliharaan
sekitar 25-28 oC.
Pemberian pakan pada jambal siam di lakukan sebanyak 8-10 kali sehari.
Jumlah pakan ikan yang di berikan secukupnya. Larva ikan jambal siam yang
berumur di beri pakan berupa dapnia sp, tubifex sp. Dan artemia sp.
f) Penanggulangan penyakit
Penyakit yang biasanya menyerang jambal siam adalah parasit.
Pencegahan dapat di lakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak
200gram/m3 setiap 10 hari selama masa pemeliharaan.

21
4.3 Teknologi pembenihan ikan nila (Oreochromis niloticus )
Pembenihan di BBAT Suka bumi Di lakukan dengan cara alami yanitu
induk di tebar dengan perbandingan 1 : 3 ke dalam bak, selanjutnya
setelah memijah dan telurnya menetas maka larva ikan tersebut di serok
dan di tempatkan di wadah pemelihaaraan larva. Sebelum melakukan
pemijahan ada beberapa alat, bahan dan wadah yaitu sebagai berikut :
a) Seleksi induk
Ikan nila sudah bisa memijah dengan umur 7 bulan dengan perbandingan
1 : 3 yaitu satu jantang dan tiga betina. Ciri-ciri ikan jantang dan betina
yaitu :
Betina Jantang
 Terdapat 3 buah lubang pada  Pada alat urogenetial terdapat 2
urogenetial yaitu: dubur, lubang buah lubang yaitu: anus dan lubang
pengeluaran telur dan lubang urine. sperma merangkap lubang urine.
 Ujung sirip berwarna kemerah-  Ujung sirip berwarna kemerah-
merahan pucat tidak jelas. merahan terang dan jelas.
 Warna perut lebih putih  Warna perut lebih
 Warna dagu putih. gelap/kehitam-hitaman
 Warna dagu kehitam-hitaman
 Jika perut distriping tidak dan kemerah-merahan
mengeluarkan cairan.

b) Pedoman teknis
a. Persiapan wadah pemijahan
 Induk ikan nila yang selama pemeliharaan diberi pakan
bermutu tinggi dalam jumlah yang cukup dan sudah
didesinfeksi agar bebas hama dan penyakit
 Induk jantan yang telah matang gonad berwarna hitam
kelam, bagian dagu putih, alat kelamin meruncing dengan
warna putih bersih dan ujung sirip ekor dan sirip punggung
berwarna merah cerah. Induk betina yang telah matang gonad
mempunyai badan yang berwarna hitam kelam, bagian dagu
putih.
 Induk harus sudah memijah tidak lebih dari 6 kali
 Kolam hendaknya dengan dasar pasir.

22
b. Pemijahan
 Ikan nila dapat dipijahkan secara alamiah (tanpa
pemberian rangsangan hormon), semi buatan (dengan pemberian
rangsangan hormon dengan proses ovulasi secara alamiah), dan
buatan (dengan pemberian rangsangan hormon dengan proses
ovulasi dan pembuahan dilakukan secara butan)
 Rangsangan agar induk dapat memijah dapat
dilakukan dengan cara manipulasi lingkungan seperti pengeringan
kolam, pengaliran air baru dan pemberian lumpur pada dasar
kolam atau dengan cara hormonal/teknik hipofisasi.
 Setelah induk ikan betina memijah maka di dalam
kolam yang telah disterilisai, induk-induk ikan tersebut diberi
kejutan agar segera mengeluarkan telur yang dierami di dalam
mulutnya ke media wadah.
 Telur ditetaskan ditempatkan dalam media wadah dan
induk dikembalikan kedalam kolam pemijahan
.
c. Penetasan telur
 Penetasan sebaiknya dilakukan di dalam
akuarium/kontainer dengan kondisi lingkungan yang menyerupai
mulut ikan nila.
 Wadah penetasan telur harus bersih dan telah dikeringkan
1-2 hari, dan telah direndam dengan larutan KMnO4 dengan dosis
20 ppm atau Malachit 5-10 ppm selama 15-30 menit. Air yang
digunakan harus berkualitas baik dan baru seperti dari sumber air,
sumur, air irigasi yang telah difilter Aliran air dengan debit 10-15
l/menit. Pemeliharaan larva dan benih dipersiapkan secara cermat

23
4.4 Teknologi pembenihan lobster air tawar
Pembenihan lobster air tawar merupakan usaha untuk mendapatkan
benih atau anakan. Perameter kebersihan usaha pembenihan lobster air tawar
adalah dioperolehnya jumlah benih yang banyak dengan kualitas baik dan
tingkat kematian rendah
A. Pengadaan dan pemilihan calon induk
Anakan yang di hasillkan dari sepasang induk hanya sekitar 5% yang
sangat layak di jadikan indukan. Dengan jumlah yang sangat sedikit
tersebut berarti ketersedian induk berkualitas yang dijual di pasaran juga
sangat terbatas, di karenakan peternak penghasil indukan juga akan
menyimpan calon induk berkualiltas terbaik hasil budidaya dan hanya
sebangaian di lepas di pasaran.
Dengan terbatasnya ketersedia atau stok calon induk yang berkualitas
maka peternak harus mampu mendapatkan induk yang berkialitas. Untuk
mendapatkan calong indukan, peternakan harus melakukan seleksi atau
pemilihan calon induk.
Induk lobster akan mengalami matang gonad pada umur 6-7 bulan.
Oleh karena itu, jika ingin membeli calon induk, sebaiknya membeli calon
induk sebelum umur tersebut, atau memilih calon induk yang sudah
berumur 5 bulan. Ini dimaksud agar calon induk memiliki waktu yang
cukup, tetapi tidak terlalu lama baradaptasi dengan lingkungan barunya
sebelum melakukan perkawinan

B. Perawatan Calon Induk di Dalam Bak


Jika calon yang di pilih kurang dari lima bulan atau masih berumur 2-3
bulan, sebaiknya dimasukan terlebih dahulu ke dalam bak. Ini
dimaksudkan agar proses pertumbuhannya cepat. Selain itu, dengan
memelihara calon induk sejak umur tersebut hingga siap dikawinkan dapat
diketahui calon-calon induk berkualitas. Calon induk di pelihara di dalam
bak hingga umur lima bulan.

24
Calon-calon induk yang sudah di beli segera dimasukan dalam bak
pada dasarnya, proses pemasukan calon induk ke dalam bvak cukup
mudah, yaitu satu persatu calon induk yang sudah di beli dimasukan
kedalam bak dengan menggunakan tangan. Dalam memasukan induk ker
dalam bak atau aquarium harus di lakukan dengan hati–hati.agare calon
induk lobster tidak menjepit tangan maka jari-jari tangan memegang
abdomen bagian atas
Calon induk di besarkan di dalam bak harus di kontrol yang baik.
Pemberian pakan dengan jumlah dan frekuensi yang tepat akan
mendukung pertumbuhan calon induk. Selain itu, juga dapat menjegah
terjadinya saling memangsa di antara calon-calon induk. Pakan yang di
berikan berupa pelet udang galah atau cacing merah. Pakan tersebut di
berikan dua kali sehari, yaitu pukul 08.00-09.00 dan pukul 16.00-.17.00.
jumlah pakan yang diberikan di sesuaikan dengan kemampuan lobster.
Pakan di berikan dengan cara memasukan pakan ke dalam kolam sedikit
demi sedikit jika lobster terlihat sudah tidak mau makan, sebaiknya
pemberian pakan di hentikan
Selain pemberian pakan, kualitas air bak juga perlu diperhatikan
terutama kandungan oksigen dan amoniaknya. Kandungan oksigen di
dalam air harus cukup dan tidak boleh kurang. Jika kandungan oksigen
kurang, calon induk akan mengalami stres, bahkan mati. Untuk itu, bak
harus dilengkapi aerator atai pompa air. Alat pensuplai oksigen tersebut
harus dinyalakan terus menerus selama 24 jam
Untuk menjegah tingginya kandunhgan amoniak, sebaiknya bak
dikuras dan diganti airnya setiap tiga minggu sehari. Mengenai proses
pengurasan dan penggantian air bak akan dibahas di bab 5 tentang
pembesaran air tawar
C. Jenis kelamin
Membedakan jenis kelamin pada lobster sebenarnya cukup mudah,
yaitu dengan memperhatikan ada tidaknya warna merahpada ujung
capitnya. Namun, cirri tersebut baru bisa dilihat seperti anakan sudah
berumur 2-3 bulan. Jika dibagian ujung capit besar sebelah luar warna
merah, dapat dipastikan bahwa lobster red claw tersebut berjenis kelamin

25
jantan. Sementara red claw betina tidak ditemukan warna merah dicapit
sebela luar. Warna capit betina tetap sama dengan warna tubuhnya.
Namun, terkadang pada calon induk betina sering dijumpai warna orange
diujng capit bagian dalam
Sebenarnya penentuan jenis kelamin pada red claw sudah bisa
dilakukan pada umur 2-3 bulan.ciri fisik utama yang dapat dilihat
adalahjika pada bagian pangkal sepasang kaki paling belakang timbul
benjolan maka dipastikan lobster tersebut berkelamin jantan, sedangkan
pada betina benjolan muncul disepasang kaki ketiga dari belaka
Selain ciri tersebut,jenis kelamin pada lobster dapat diketahui
kecepatan pertumbuhannya. Anakan dengan ukuran tubuh dan capit yang
lebih besar dapat dipastikan berjenis kelamin jantan. Semtara betina
ukuran tubuh lebih kecil. Namun cirri yang terakhir ini hanyar bisa
diterapkan pada anakan dengan induk dan umur yang sama
D. Perkawinan induk
Calon induk yang sudah di masukan kedalam aquarium akan
mengalami proses adaptasi. Dalam jangka waktu sekitar satu bulan lebih
atau di perkirakan telah berumur 6-7 bulan, calon induk akan melakukan
perkawinan. Proses perkawinan calon induk bias anya te4rjadi pada malam
hari atau menjelang pagi. Induk betina yang siap memijah tampak
bergerak aktif mendekati jantan. Biasanya induk jantan dan betina yang
berjodoh akan selalu bersama sebelum kawin. Setelah beberapa saat, induk
betina akan membalikan tubuhnya denghanm poasisi terlentang. Pada saat
itu jantan akan segera mengawini dan berkopulasi dengan bentuk Y.
biasanya proses ini berlangsung sekitar 0.5-1 jam. Sekitar 10-15 hari
setelah perkawinan induk betina akan mengeluarkan telur
E. Pemindahan induk ke aquarium
Induk betina yang sudah mulai mengeluarkan telur di tandai dengan
seringnya berdiam diri dalam pipa paralon dan terlihat ekornya terlipat ke
dalam. Induk beti9na yang demikian sebaiknya segera di pindahkan ke
aquarium pengeraman dan penetasan. Namun, sebelum dipindahkan
siapkan aquarium dan isi air hingga ketinggian 25-30 cm.

26
Setelah semuanya siap, induk betina yang mulai mengeluarkan telur
dan mulai mengerami telurnya segera di pindahkan. Induk betina di
pindahkan bersama pipa paralon yang sedang di tempatinya berdiam diri.
Proses pemindahan harus harus dilakukan dengan hati-hati agar induk
tidak bergerak keluar dari pipa saat diangkat dari aquarium perkawinan.
Pemindahan induk bersamna pipa lebih menjamin keselamatan telur yang
ada di bawah tubuh induk. Jika dipindahkan menggunakan tangan,
dikawatirkan induk memberomntak. Apabila hal itu terjadi, kemungkinan
telur rontok atau lepas dari tubuh induk lebih besar.
Setiap aquarium pengeraman, sebaiknya ditempati satu ekor induk
betina yang sedang mengerami telur. Namun, jika terdapat induk betina
yang juga mengerami telur secara bersamaan atau umur telurnya sama
maka dapat di tempatkan di aquarium yang sama pula. Jumlah induk
betina yang vsedang mengerami telur dalam satu aquarium penetasan
maksimal dua ekor. Induk-ibnduk betina tersebut tidak akan saling
mengganggu dan tidak akan terjadi kanibalisme.
F. Pengeraman dan penetasan telur
Induk betina akan melindungi telurnya yang menempel di bagian
bawah tubuhnya dengan cara melipat ekornya ke dalam. Biasanya induk
yang mengeram lebih sering berdiam diri di dalam pipa paralon.
Sekitar 19 hari setelah kawin atau 4 hari setelah keluar telur yang
pertama, semua telur akan keluar dengan warna kuning. Sekitar dua
ninggu demikian, telur akan berubah warna dari kuning menjadi orange.
Memasuki minggu ke empat muncul bintik-bintik hitam. Bintik-bintik
tersebut menandakan bahwa dalam waktu beberapa hari lagi telur akan
menetas. Telur akan menetas diakhir minggu kelima.
Setelah telur menetas semuanya, benih masih tetap menempel di tubuh
induknya. Benih tidak langsung lepas dari tubuh induknya, karena masih
membutuhkan makanan berupa lender di tubuh induk. Benih baru mulai
leopas dari induknya setelah 4-5 hari setelah menetas. Benih tersebut
sudah berbentuk udang menyerupai induknya. Padasaat benih mulai ada
yang lepas, sebaiknya dimasukan pipa paralon berdiameter paling kecil.

27
G. Pelrawatan larva lobster
Benih atau anakan yang sudah di panen atau di rontokan dari induknya
tetap dipelihara di dalam aquarium penetasan hingga umur satu bulan.
Namun, aquarium harus di beri pipa paralon dengan jumlah mendekati
sama dangan banyaknya benih. Selain itu, ketinggian air di kurangi hingga
hanya sekitar 10-12 cm.
a. Pemberian Pakan
Benih lobster dapat di beri pakan D. nol, yaitu pellet udang galah.
Pemberian pakan tersebut di lakukan setiap sore hari sekitar pukul
16.00-17.00 dengan jumlah yang di perkirakan mampu di makan oleh
semua benih hingga habis pada keesokan harinya. Jika keesokan
harinya masih terdapat sisa pakan maka pada hari itu tidak perlu di beri
pakan lagi.
Selain pellet udang gala, benih juga bisa di berikan pakan
tambahan lain berupa cacing sutera sebenarnya lebih menguntungkan
di banding dengan pellet. Pakan cacing sutera tidak membuat air
aquarium cepat kotor seperti pakan pellet karma cacing sutera yang di
berikan dalam keadaan hidup. Selama beberapa hari pun cacing sutera
bisa bertahan hidup di dalam aquarium. Untuk itu, sebaiknya di dalam
aquarium selalu tersedia cacing sutera yang cukup. Ini juga di
maksudkan untuk mencegahan sifat kanibal antar benih.
b. Penyedotan Kotoran dan Pengurasan Air Aquarium
Perlu diketahui bahwa tingkat kematian benih lobster hingga umur
dua bulan setelah panen bisa mencapai 10-15%. Kematian benih
lobster umumnya disebabkan oleh kualitas air yang jelek, terutama
kandungan amoniak yang tinggi akibat kondisi air aquarium yang
kotor. Biasanyaair aquarium yang kotor disebabkan oleh sisa pakan
yang tidak termakan dan kotoran benih lobster. Oleh karnanya, air

28
aquarium harus di bersihkan agar kondisinya bersih sehingga jumlah
benih yang mati dapat ditekan
Setiap tiga hari sekali, kotoran yang mengendap di dasar aquarium
sebaiknya di sedot dengan menggunakan selang penyedot. Setelah
semua kotoran terbuang, air aquarium di tambah sesuai dengan
ketinggian air sebelum di sedot. Berkurangnya air aquarium
disebabkan oleh ikut terbuangnya air saat penyedotan kotoran
Pengurasan dan pergantian air di lakukan dua mionggu sekali.
Sebelum pengurasanm, terlebih dahula pipa paralon di pindahkan
kedalam wadah berisi air, seperti ember sebagian. Benih yang berada
di dalam p[ipa ikut dipindahkan. Sementara benih yang masih tersisa
di dalam aquarium dipindahkan dengan menggunakan seropkan yang
terbuat dari kain kasa atau disedot langsung dengan menggunakan
selang. Diameter selang yang digunakan harus bisa di lalui oleh benih
lobster, senakin besar ukuran selang semakin baik. Penyerdotan
dengan selang tidak akan mencederai benih. Setelah benih dipindahkan
ke dalam ember berisi air, air aquarium dikuras hingga habis.
Selanjutnya bagian dasar dan dinding aquarium dibersihkan dengan
menggunakan spon
Setelah bersih, aquarium di isi kembali dengan air bersih hingga
ketinggian sekitar 10-12 cm. sebelum benih di masukan, sebaiknya
kualitas air di cek terutama suhu dan pH-nya. Kisaran suhu air yang
ideal untuk pemeliharaan benih adalah 20-240C dan pH sekitar 7-8.
dan pH sesuai, benih lobster dapat di masukan kembali ke aquarium
dengan menggunakan serokan kain kasa.
c. Moulting Pada Benih
Benih lobster mulai molting pada umur 2-3 minggu setelah menetas
pada saat itu myuncul sifat0-sifat kanibal. Oleh karnanya, memasuki
umur tersebut benih harus dikontrol secara berkala agar dapat di
ketahui waktu terjadinya moulting. Benih akan moulting terlihat diam
dan lemah seperti mau mati. Agar benih tersebut tidak diserang oleh
lobster lain, sebaiknya didalam aquarium ditambahkan dengan pipa

29
paralon. Dengan demikian, benih yang sedang moulting dapat
bersembunyi didalam pipa sehingga dapat terhindar dari serangan
benih lobster lain.

H. Pengendalian penyakit
Sampai saat ini belum ditemukan satu pun jenis penyakit yang menyerang
lobster. Namun dengan demikian, peternak harus tetap waspada karena
kemungkinan suatu saat akan muncul penyakit baru. Saat ini yang patut
diwaspadai oleh peternak adalah serangan hama berupa tikus air, burung
laut dan kucing.. hewan-hewan tersebut dapat saja memansa lobster jika
peternak tidak mengontrolnya setiap saat.
I. Pemanenan
Pemanenan biasanya sama saja dengan komoditas air tawar lainnya,
pemanenan sebaiknya di lakukan pada pagi hari atau sore hari.

30
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
 Kesimpulan dari hasil outcourching, pembenihan ikan air tawar di
bbpat sukabumi sangat baik karena sangat terkontrol dan terjamin kualitas
induknya.
 BBPAT suka bumi jungan sangat baik dalam program yang di
jalankan karena dapat menerima generasi-generasi mudah dari smk untuk
mempelajari pemijahan atau ikut serta menangani komoditas yang di
pijahkan hingga sampai di jual atau sampei ukurang komsumsi.
 Komoditas di BBPAT sukabumi sangat banyak namun yang sempat di
terankan dan di musyawarakan dengan petugas hanya beberapa komoditas
saja.
5.2 Saran
 Dalam melakukan ourcourching sebaiknya di bangi beberapa
kelompok sehingga mahasiswa dalam bertanya menyeluruh. Karena pada
saat outcourching banyak yang hanya bermain di belakang sehingga tidak
semua yang memperhatikan metateri yang di jelaskan petugas tersebut.

31
DAFTAR PUSTAKA

, http://www.ristek.go.id

Suyanto. H. 1998. Budidaya ikan di pekarangan. Penerbit swadaya. Jakarta


Zulkifli jangkaru. 1994. Pembesaran ikan air tawar. Penebar swadaya 2004.
Jakarta.
Ir abbas siregar djarijah. 2002. Budidaya ikan nila Gift.Kanisius. Yogjakarta

32