Anda di halaman 1dari 17

EKOLOGI INDUSTRI : Pengertian, Konsep, Aplikasi dan

Ukuran Keberhasilan Penerapan

 
RATNA DIAN SUMINAR, S.T.
NIM : 09/290694/PTK/5928
Magister Teknik Pengendalian Pencemaran Lingkungan
S2 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada
Email : ratnadiansuminar@yahoo.com

Abstrak
 
EKOLOGI INDUSTRI : Pengertian, Konsep, Aplikasi, dan Ukuran Keberhasilan Penerapan.
Dilatarbelakangi dengan adanya peningkatan tingkat konsumsi masyarakat seiring perkembangan populasi dan
peningkatan kualitas hidup manusia, meningkatkan pertumbuhan sector industry baik dari segi kualitatif dan
kuantitatifnya. Fenomena tersebut berkebalikan dengan kemampuan alam untuk menyediakan bahan baku dan
kemampuan lingkungan untuk tetap berada dalam kondisi terbaiknya guna menghadapi aliran bahan dan
produk baru yang memiliki sifat yang tidak diinginkan yang dihasilkan dari multi tahap produksi dalam system
industry, seperti toksisitas dan non-biodegradable. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah
dengan peningkatan efisiensi proses produksi. Tujuannya adalah untuk mengurangi penggunaan material,
memaksimalkan produk dan meminimalisasi limbah yang dihasilkan. Ekologi industry merupakan bentuk
konsep efisiensi proses yang tidak hanya menitikberatkan pada salah satu unit dalam proses, namun
memperhatikan intergrasi antar proses-proses dalam industry. Hal itu dikarenakan limbah dari suatu proses
industri bisa jadi merupakan raw material dari proses industry yang lain. Langkah pertama yang harus
dilakukan dalam aplikasi pembuatan konsep ekologi industri adalah menganalisa aliran massa dan energy
untuk masing-masing proses (Material Flow Analysis), kemudian pembuatan design integrasi proses (Design
for Envyronment )yang disertai dengan Life-Cycle Analisis untuk menganalisa dampak yang ditimbulalkan
terhadap lingkungan sehingga dapat dipilih tahapan-tahapan proses yang berdampak paling minim terhadap
lingkungan.. Ukuran keberhasilan sebuah konsep ekologi industry dapat diukur dari segi minimisasi
penggunaan raw material, konsumsi energy, tingginya yield dan selektifitas,minimisasi limbah yang dihasilkan
dan segi ekonomi.

Keyword : ekologi industry, efisiensi proses, minimisasi limbah


 
 
 
PENDAHULUAN
 
Tingkat Konsumsi Masyarakat dan Pembangunan Berkelanjutan
Pada awal manusia diciptakan, yaitu pada jaman Manusia huntergatherer (berburu dan
meramu), seperti halnya spesies yang lain, manusia hanya mengambil apa yang telah
disediakan oleh alam. Mulai timbul masalah ketika sumber daya menjadi langka sedangkan
manusia terus berkembang. Timbul ide untuk mengatasi masalh tersebut dengan
memodifikasi lingkungan local mereka untuk meningkatkan produktifitas, yaitu melalui
transisi dari masyarakat pemburu-pengumpul menjadi masyarakat yang menetap dan bertani.
Bahkan sebelum munculnya pertanian, mereka memulai modifikasi melalui penggunaan api.
Pertanian dan penggembalaan makin memperluas modifikasi dan kontrol masyarakat
terhadap sistem alam untuk mengatasi keterbatasan pasokan alam dan bahkan menghasilkan
lebih banyak dari apa yang manusia dikehendaki, sehingga beberapa jenis produksi tersedia
untuk kapasitas perdagangan. Dengan perkembangan perdagangan dan pangsa pasar,
pertanian dan jenis output yang dihasilkan dikonversikan ke dalam produk barang (atau jasa)
lain sehingga mempunyai nilai lebih untuk dapat ditukar dengan sesuatu yang lain.

Dan kebutuhan manusia menjadi makin eksplosif seiring dengan pertumbuhan populasi
manusia. Permintaan konsumen masyarakat dipenuhi oleh serangkaian luas produk - barang
dan jasa yang harus dihasilkan oleh sistem industri. Sesuai dengan perkembangan jaman,
jenis dan volume kebutuhan tersebut menjadi makin bervariasi seiring persyaratan
kelangsungan hidup fisik yang juga makin bervariasi di masa modern ini, sehingga
memunculkan konsep rancangan proses industry yang berbeda-beda. Beberapa bahan
dirancang khusus untuk meningkatkan fungsi produk. Bahkan, dalam beberapa kasus,
pengembangan produk baru hanya dimungkinkan oleh pengembangan bahan-bahan baru
juga, yang pada gilirannya sering memerlukan pengembangan proses industry yang baru.

Sementara aliran massa dan energi dalam alam ini sebagian besar ditentukan oleh konsumsi
sumber daya untuk pasokan energi dan nutrisi, berbanding terbalik dengan kemampuan alam
untuk menyediakan bahan baku produksi. Selain karena volume produk-produk konsumen
memerlukan sumber daya yang beragam, juga, alam harus menghadapi aliran bahan dan
produk baru yang memiliki sifat yang tidak diinginkan seperti toksisitas atau non-
biodegradable yang menurunkan kualitas lingkungan. Bahan dan produk ini adalah keluaran
dari apa yang sering disebut sebagai multi-tahap produksi yang dilakukan dalam sistem
industry.

Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan satu cara pengontrolan yang lebih baik untuk
menjamin ketersediaan sumber daya alam sebagai bahan baku pemenuhan kebutuhan
manusia yang tidak akan pernah berhenti, dan juga untuk tetap mempertahankan daya dukung
lingkungan terhadap kehidupan manusia. Salah satunya adalah dengan pengembangan dan
penerapan konsep Ekologi Industri.

Konsep Ekologi Industri terutama berfokus pada masalah pengurangan dampak lingkungan
karena penggunaan energy dan material dalam proses produksi dengan cara meningkatkan
effisiensi proses produksi. Beberapa ahli kologi industry menyatakan bahwa input/aliran
material dapat dikurangi empat sampai sepuluh kali lipat tanpa mengurangi pertumbuhan
ekonomi.

PENGERTIAN EKOLOGI INDUSTRI

Frosh mendefinisikan ekologi industry sebagai jaringan dari keseluruhan proses industry
yang saling berinteraksi dan saling menghidupkan satu sama lain, bukan hanya dari segi
ekonomi melainkan juga dalam hal pemanfaatan limbah dari suatu proses sebagai energy dan
material dari proses yang lain.

Sedangkan menurut US EPA (Environmental Protection Agency), industrial ecology is a


systems approach to efficient resource use and protection of the environment. Instead of just
devising improved methods of waste treatment and disposal, we look for the best
opportunities to reduce waste throughout the total material cycle from virgin materials to
finished products to end of product life. Instead of controlling industrial pollutants from
different sources one by one at different times and with different technologies, we try to look
across whole facilities, regions, and even whole industries and make changes wherever in the
system it is most effective to do so.

Dari kedua definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa ekologi industry adalah sebuah
SISTEM, dimana didalamnya terdapat :
- Aliran energy
- Aliran massa
- Proses-proses
- Interaksi antar proses

Selain itu, penyusunan konsep ekologi industry harus didasari dengan ilmu dan teknologi
yang cukup untuk menjamin bahwa konsep ekologi industry dapat meningkatkan efisiensi
proses produksi dan mengurangi produksi limbah yang dilepas ke lingkungan.
DASAR-DASAR EKOLOGI INDUSTRI

1. PENGERTIAN EKOLOGI
Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan berdasarkan prakarsa biolog Jerman yaitu Ernest
Haeckel (1834 – 1919) pada tahun 1860. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “oikos”
yang berarti rumah, tempat tinggal, habitat dan “logos” yang berarti ilmu. Secara harfiah
ekologi adalah ilmu tentang mahkluk hidup dalam rumahnya, atau dapat diartikan juga
sebagai ilmu tentang rumah tangga mahluk hidup. Banyak yeng mendifinisikan ekologi,
menurut Kendeiihgh (1980) ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik
antara organisme yang satu dengan yang lainnya. Di dalam Webmaster Unabridged
Dictionary, ekologi disebut sebagai totalitas atau pola hubungan antara organisme-organisme
dengan lingkungannya. Lingkungan di sini adalah gabungan dari komponen fisik maupun
hayati yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme. Menurut Miller (1975), ekologi
adalah ilmu mengenai hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan
lingkungan tempat tinggalnya dan menurut Odum, (1971) ekologi adalah suatu studi yang
mempelajari struktur dan fungsi ekosistem. Struktur di sini menunjukan suatu keadaan atau
susunan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Keadaan itu termasuk
kepadatan/kerapatan, biomassa, penyebaran potensi unsur-unsur hara, energi, faktor-faktor
fisik dan kimia lainnya yang menberi karakteristik kondisi sistem tersebut yang kadang-
kadang mengalami perubahan. Sedangkan fungsinya menggambarkan peran setiap komponen
yang ada dalam sistem ekologi atau ekosistem. Jadi pokok utama ekologi adalah bagaimana
interaksi fungsi masing-masing organisme sesuai dengan kondisi yang ada di alam, dimana
kondisi tersebut selalu berubah/tidak pernah sama.

Kondisi alam/ekosistem yang selalu berubah tersebut disebabkan oleh adanya akumulasi
masalah yang memang telah lama ada sebagai efek dari peningkatan populasi manusia.
Manusia berkembang dengan sangat cepat dan kita sebagai manusia seharusnya menyadari
tentang dampak perkembangan populasi manusia terhadap organisme lain di alam ini.
Peningkatan populasi manusia berarti peningkatan kebutuhan hidup. Peningkatan kebutuhan
hidup berarti bahwa kita memerlukan peningkatan dan pertumbuhan industry untuk
mensuplay berbagai kebutuhan tersebut, sedangkan adanya masalah lingkungan berarti kita
membutuhkan suatu ilmu untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan tersebut. Paduan
antara ilmu dan industry tersebut tercermin dalam konsep ekologi industry. Konsep tersebut
mempelajari mengenai pengurangan emisi, polusi, dan pemanfaatan limbah suatu industry
sebagai bahan baku produksi produksi yang lain, serta mengendalikan tingkat konsumsi
sumber daya. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan manusia dan masalah-masalah
lingkungan dapat diperhatikan secara keseluruhan dan simultan.

2. MATERIAL FLOW ANALYSIS (MFA / Analisa Aliran Bahan)

Ekologi Industri terutama berkaitan dengan mengurangi dampak lingkungan dari


penggunaan energi dan bahan dalam proses produksi untuk meningkatkan efisiensi. Untuk
selanjutnya, ekologi industry ini dapat digunakan sebagai sumber masukan untuk
pengambilan keputusan tentang system industry oleh pihak-pihak yang berkepentingan
mengenai ekstraksi sumber daya, pabrikasi, dan distribusi produk. Konsep ekologi industry
dapat digunakan sebagai dasar pengambilan data mengenai perilaku system dan untuk
mengembangkan konsep dan metode analisis antar industry pada tingkat system.

Kegiatan paling mendasar dalam pembuatan konsep dan desain ekologi industry adalah
mengumpulkan data untuk menggambarkan aliran energi dan bahan-bahan di seluruh sistem
produksi, atau sering disebut sebagai Analisa Aliran Bahan, atau Material Flow Analysis.

Konvensi dan prosedur yang telah dikembangkan untuk melakukan MFA, mirip dengan
studi tentang siklus hara dalam ekologi. Tujuan dari studi MFA adalah untuk mengukur arus
materi yang mengalir dalam proses sehingga dapat digunakan sebagai langkah untuk
memberikan masukan atau saran untuk perbaikan model sistem industry. MFA dibuat
meliputi seluruh konteks siklus suatu produk, mulai dari ekstraksi sumber daya, pengolahan
sumber daya, fabrikasi produk, pemanfaatannya, penggunaan kembali, daur ulang dan
pembuangannya.
Contoh : MFA untuk tembaga.
Penggambaran siklus global tembaga yang ditunjukkan dalam gambar diatas mengingatkan
kita pada ilustrasi siklus karbon dalam sistem ekologi, tapi secara lebih dekat ditunjukkan
bahwa siklus tembaga tidak seefisien siklus karbon. Masih terdapat fraksi yang signifikan
dari tembaga yang tidak dapat di daur ulang, tetapi dibuang dalam reservoirs.

MFA dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengkuantifikasi arus-arus material dan
enery utama yang mengalir dalam proses. Identifikasi dan kuantifikasi arus-arus ini
merupakan dasar untuk melakukan perubahan terhadap system yang sudah ada. Perubahan
system tersebut dilakukan untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dengan
membuatnya lebih efisien dalam penggunaan sumber daya.

MFA dapat mengarahkan sistem untuk meningkatkan kinerjanya dengan penentuan


penghitungan limbah yang hilang dalam system.

Beragam studi menggarisbawahi, MFA akan semakin bervariasi dengan semakin banyaknya
bahan yang berbeda-beda, dengan sifatnya masing-masing, yang digunakan dalam sistem
industri kontemporer untuk mendukung besarnya jumlah produk yang diperlukan oleh
konsumen. Selain itu, juga karena sumber daya yang diperlukan oleh industri sistem sering
ditemukan di lokasi tertentu yang jauh dari tempat produksi, yang mungkin juga akan jauh
dari tempat konsumsi terjadi, banyak sekali transportasi yang mungkin diperlukan, sehingga
melibatkan lebih banyak energi dan bahan masukan.

3. DESIGN for ENVIRONMENTAL (DfE / Design Untuk Lingkungan Hidup) dan


Life Cycle Assessment (LCA)

Beralih dari sudut pandang sumber daya ke sudut pandang produk, dua konsep tambahan
dalam Ekologi Industri mempelajari mengenai daur hidup sebuah produk mulai dari proses
ekstraksi sumber daya, fabrikasi produk, penggunaannya, pemanfaatan kembali, dan
pembuangannya. Kedua konsep tersebut adalah Desain untuk Lingkungan Hidup (DfE/
Design for Environment) dan Life-Cycle Assessment (LCA). Kedua konsep ini
menitikberatkan pada besarnya dampak yang terkait dengan suatu produk terhadap
lingkungan.

DfE melibatkan desain proses dan produk industry untuk meminimalkan dampak buruknya
terhadap lingkungan. Seringkali itu merupakan desain ulang produk yang sudah ada atau
proses yang sudah dilakukan. Dapat difokuskan pada salah satu fase yang berbeda dari
sebuah daur hidup produk, seperti desain untuk waktu pemakaian produk . Aktual aplikasinya
bervariasi, termasuk di dalamnya adalah desain dari proses kimia, komponen elektronik,
komponen mekanis, isolasi pendingin, yang tidak kalah pentingnya dengan desain kemasan.

LCA melibatkan evaluasi dampak lingkungan dari suatu produk selama daur hidupnya
berdasarkan informasi teknis rinci yang tersedia. Setiap tahap , mulai dari ekstraksi sumber
daya dianalisa meliputi pembuangan residunya, ketersediaan sumber daya, emisi yang
dihasilkan, kerusakan yang ditimbulkan. LCA sering digunakan untuk membandingkan
dampak lingkungan antara suatu proses produksi / produk dengan suatu alternatif proses
produksi / produk. LCA telah diterapkan untuk zat-zat seperti klorin dan aluminium, industri
pertambangan, industri material seperti PVC, dan untuk alternatif penggunaan lahan
pertanian.
Studi LCA digunakan untuk mengukur emisi dan penggunaan sumber daya per kesatuan
output atau jasa yang dihasilkan, termasuk kuantifikasi jumlah masukan yang diperlukan dari
proses produksi yang berbeda, yang langsung didasarkan pada pengukuran atau teknik
analisis. Model inventori ini secara umum mengabaikan kontribusi input non-fisik, seperti
jasa akuntansi dan hukum atau grosir dan perdagangan ritel, dan tidak memperhitungkan
imput dalam jumlah yang kecil. Untuk itu, beberapa penelitian juga membuat LCA dengan
analisis input-output secara ekonomi untuk dapat menghitung beberapa hal yang diabaikan
tersebut.

LCA juga mencakup langkah penilaian dampak, di mana berbagai jenis emisi dikumpulkan
untuk dikelola terkait sejumlah indikator yang menimbulkan masalah tertentu dalam hal
pemanasan global atau toksisitas. Atau, penilaian dampak dapat didasarkan pada modeling
kerusakan, misalnya efek kesehatan manusia diukur dalam tahun kehidupan yang hilang
sebagai akibat dari keracunan dan perubahan iklim.

Dengan mengetahui aliran material dan analisis jenis proses dan produk yang mempunyai
dampak lebih kecil terhadap lingkungan, dapat disusun sebuah interaksi dari beberapa proses
produksi yang saling berhubungan.

PENERAPAN KONSEP EKOLOGI INDUSTRI

Aplikasi awal dalam konsep sistem ekologi industri adalah desain dan implementasi yang
disebut ekosistem industri. Ekosistem industri ditandai oleh adanya simbiosis antar industri,
yaitu suatu hubungan antara dua atau lebih perusahaan yang melibatkan pertukaran materi,
energi, atau informasi dalam suatu cara yang saling menguntungkan.
Model Ekologi industri mengarah pada pertukaran material antar sektor industri yang
berbeda, dimana limbah dari salah satu industri tersebut menjadi cadangan bahan baku (
feedstock ) untuk industri lainnya .

1. PENERAPAN EKOLOGI INDUSTRI DI LUAR NEGERI

Kerangka kerja Ekologi Industri ini telah berhasil diaplikasikan dalam suatu Proyek simbiosis
industri di Kalunborg (100 km sebelah barat Copenhagen), Denmark dan telah menarik
perhatian luas dunia internasional, proyek tersebut telah diberi penghargaan dari sejumlah
penghargaan lingkungan (Keolelan, 1995).
Perancangan ekosistem industry dapat dilakukan baik dari awal atau dari plant yang sudah
ada. Konsep ekologi industry di Kalundborg Denmark, muncul tanpa adanya perencanaan
khusus, awalnya hanya merupakan kesepakatan antara beberapa perusahaan. Pada awal
terbentuknya , eco-industrial park memiliki konsep seperti ini :

 
Novo Nordisk 
Delivery network 
Kemira  Pharmaceutical 
for NovoSlam
Sulfuric  Manufacturer
Acid 
Ecological 
Component 
Liquid  Tisso 
Sulfur  Agriculture Sludge 
Lake 
Fish Farming 
Statoll 
gas  Gyproc 
Refinery 
Plaster 
Treatment 
Fjord  Greenhouses  Board 
Plant 

steam steam Gypsum


Waste Heat
Asnaes 
gas
Cooling water 
Power  Fly Ash Clinker
Waste water
Plant 

Waste heat              Air Emissions
            Material Transfer 
Extraction and/or   
District Heating Discharge of Water 

Fig. Eco‐Industrial Parks‐Kalundborg, Denmark 

Eco-Industrial Park Kalundborg melibatkan beberapa industry yaitu oil refinery, power
plant, pharmaceutical manufacturer, industry gypsum, asam sulfat manufacturer, dan indsutri
perikanan. Inti dari Eco-Industrial ini adalah oil refinery plant dan power plant. Kedua plant
tersebut terlibat dalam transfer massa dan energy yang lebih banyak daripada industry yang
lain. Dari gambar tersebut, terlihat bahwa output dari suatu proses atau industry menjadi
input atau bahan baku dari proses atau industry yang lain. Dengan konsep ekologi industry
ini, diharapkan tidak ada material yang hilang ataupun emisi dan limbah yang release ke
lingkungan (closed loop system).
Namun, seperti halnya ekosistem yang terus bergerak dan mengalami perubahan, eko-industri
ini pun juga terus berubah. Perusahaan baru dapat muncul dan beberapa perusahaan yang
telah ada, melakukan peningkatan atau penurunan kapasitas, memodifikasi proses atau
menghilang sama sekali dengan tujuan tercapainya intergrasi massa dan energy yang lebih
sempurna.

Berikut adalah pengembangan konsep Eco-Industrial Parks, Denmark yang ada sekarang ini :

Pemanfaatan transfer massa dan energy menjadi lebih luas, yaitu : berdirinya pabrik baru,
ialah pabrik semen dan pemanfaatan yang lebih luas yaitu untuk pertanian, peternakan dan
road construction yang belum ada pada konsep sebelumnya.

Manfaat dari pelaksanaan konsep industrial ekologi ialah :

1) Mengurangi kebutuhan sumberdaya yang diperlukan oleh masing-masing industry


karena telah disuplay dari industry lain,
2) Meningkatkan efisiensi dari suatu proses.
3) Dampak buruk terhadap lingkungan seperti emisi dan limbah serta dampak terhadap
kesehatan manusia pun dapat diminimalkan.
Ketiga manfaat ini yang menjadi tolak ukur keberhasilan suatu konsep dan aplikasi ekologi
industry.

2. PENERAPAN EKOLOGI INDUSTRI DI INDONESIA

Melihat besarnya manfaat pelaksanaan konsep ekologi industry seperti yang telah dijabarkan
diatas, timbul pemikiran untuk menerapkan konsep tersebut di Indonesia. Apalagi jika
melihat besarnya potensi industry dan agriculture Indonesia sebagai salah satu sector
penyuplai bahan baku untuk beberapa industry, seharusnya konsep ekologi industry bisa
diintegrasikan secara sinergis. Dalam beberapa sector industry, ekologi industry sudah mulai
diterapkan, namun belum maksimal. Maksimal disini berarti bahwa penerapan konsep
ekologi industry belum sampai pada tahap 100% closed loop system.

Beberapa interaksi yang sederhana antar proses industry sudah mulai masuk ke dalam tahap
implementasi, seperti contohnya :

a. Pembuatan kompos dari kotoran sapi.

Dalam konsep ini terdapat simbiosis antara peternakan sapi yang menghasilkan kotoran sapi
dengan kompos plant yang mengkonversi kotoran sapi menjadi menjadi kompos. Untuk
selanjutnya, kompos dapat dimanfaatkan kembali untuk pemupukan lahan pertanian untuk
penyediaan pakan sapi. Dalam pembuatan kompos juga dihasilkan biogas yang seharusnya
dapat dimanfaatkan untuk penyedia energy bagi rumah tangga atau industry-industri lain di
sekitar peternakan sapu jika ada.

Hasil peternakan sapi yang berupa daging, kulit dan tulang sapi pun digunakan sebagai
sumber bahan baku industry-industri turunan yang potensial untuk dikembangkan. Secara
sistematis, konsep ekologi industry untuk peternakan sapi dapat digambarkan sebagai berikut
:
Daging  Industri Kornet 

Tulang  Industri Gelatin 

Industri Kerupuk
Kulit 
SAPI 
Industri Kulit 
Gas/ENergi  Rumah Tangga
Kotoran  Biogas 
Fedder Perikanan

Pertanian Pupuk
Tenaga 

Pakan

Untuk biasa diterapkan secara ideal, dibutuhkan beberapa modifikasi proses dalam konsep
ini. Antara lain, peternakan sapi yang saat ini lebih banyak dikembangkan dengan cara
tradisional, yaitu dilaksanakan per rumah tangga dan peggembalaan secara liar (sapi
dibiarkan merumput di lapangan atau padang rumput), harus dirubah menjadi konsep
peternakan terpusat, yaitu minimal 25 ekor sapi per peternakan.

Keuntungan yang diperoleh dalam aplikasi ini diantaranya:


¾ Material
Dengan dikembangkannya ekologi industri, hampir semua potensi/material dari hasil
peternakan sapi dapat dimanfaatkan untuk industri lain dan berpotensi ekonomi.
Energi
¾ Closing loop dalam pemanfaatan energi sangat optimal. Hasil kotoran ternak sapi
dapat dimanfaatkan untuk pembuatan biogas, yang kemudian digunakan untuk suplai
energi industri turunan. Selain itu, pengadaan pakan untuk budidaya ternak dapat
memanfaatkan pupuk organik dari sisa biogas.
¾ Lingkungan
Dari sisi lingkungan hidup konsep ekologi industri dapat meminimalisasi dampak
lingkungan berupa sisa pakan dan kotoran padat dan cair dari ternak sapi. Selain itu,
polusi udara dari peternakan khususnya metana yang berdampak pada green house effect
dapat diminimalisasi dengan pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas.

b. Pemanfaatan Lignosellulosa Limbah Bagasse Pabrik Gula untuk produksi


Ethanol.

Selain berbasis peternakan, sektor lain yang berpotensi untuk pengembangan konsep ekologi
industri di Indonesia adalah sektor pertanian. Dengan besarnya potensi pertanian, jumlah
biomass yang dimiliki Indonesia juga sangat besar. Dan biomass ini dapat digunakan
sebagai bahan baku industri yang berkonsep ekologi industri. Contoh biomass yang
potensial dikembangkan adalah bagasse.

Bagasse (ampas tebu) adalah adalah limbah padat industri gula tebu yang mengandung serat
selulosa. Potensi bagasse di Indonesia cukup besar. Menurut data statistik Indonesia tahun
2002, luas tanaman tebu di Indonesia 395.399,44 ha, yang tersebar di Pulau Sumatera seluas
99.383,8 ha, Pulau Jawa seluas 265.671,82 ha, Pulau Kalimantan seluas 13.970,42 ha, dan
Pulau Sulawesi seluas 16.373,4 ha. Diperkirakan setiap ha tanaman tebu mampu
menghasilkan 100 ton bagasse. Maka potensi bagasse nasional yang dapat tersedia dari total
luas tanaman tebu mencapai 39.539.944 ton per tahun . Selama ini ampas hanya digunakan
sebagai bahan bakar boiler. Apabila Pabrik gula dapat efisien dalam penggunaan bahan
bakar maka ada potensi ampas lebih. Potensi ampas yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk
diproses sebagai produk turunan. Ampas yang kaya akan lignocellulosa (+45%) dapat
diproses menjadi produk antara lain sebagai bahan baku ethanol melalui proses sakarifikasi
dan fermentasi.
Proses unit pembuatan ethanol dari bagasse :

Ethanol yield : 45-47%

Pengembangan bagasse untuk industri ethanol berbasis ekologi industri adalah sebagai
berikut :

Kawasan 
pertanian tebu
energi
energi

Tetes tebu Ind. Penyulingan  effluen


Industri gula  ethanol Ind. biogas 

gula  ethanol

bagasse  Effluen 

kompos 
Ind. pupuk 
kompos
Penataan kawasan ekologi industri dimulai dari kawasan pertanian tebu rakyat. Hasil tebu
diproses di industri gula menghasilkan produk gula dan produk samping tetes tebu serta
bagasse yang mempunyai komponen utama yaitu lignin, selulose, dan hemiselulose. Tetes
tebu digunakan sebagai bahan baku industri penyulingan etanol sedangkan serat selulosa
dihydrolisis dan digunakan pula sebagai bahan baku industri penyulingan etanol. Industri
penyulingan etanol dapat menghasilkan produk etanol dan efluen yang dapat dijadikan bahan
baku industri biogas. Effluen dari industri penyulingan etanol ini berupa sisa bagasse yang
kaya akan lignin. Effluen industri penyulingan etanol digunakan sebagai bahan baku industri
biogas yang menghasilkan energi yang dapat memasok kawasan tersebut dan menghasilkan
limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos, untuk
selanjutnya pupuk dapat dimanfaatkan sebagai penambah unsur hara pada pertanian tebu.

Perhitungan Profit Secara Ekonomis

Apabila digunakan sebagai bahan baku alternatif industry etanol, ada beberapa kendala yang
masih harus dihadapi yaitu karena selama ini ampas tebu digunakan sebagai energi utama
pabrik gula. Oleh karena itu, apabila seluruh bagasse yang ada dimanfaatkan untuk industry
etanol, maka perlu bahan bakar pengganti untuk pabrik gula, yaitu solar yang harganya saat
ini cukup mahal. Namun, dengan perhitungan ekonomis sederhana, pemanfaatan limbah
lignocelluloses menjadi ethanol lebih tetap menguntungkan daripada apabila hanya
digunakan sebagai bahan bakar boiler. Hal ini disebabkan karena penggunaan bio-ethanol
yang lebih luas. Etanol yang mempunyai rumus kimia C2H5OH adalah zat organik dalam
kelompok alkohol dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Bioethanol merupakan
satu diantara energi alternatif yang relative murah ditinjau aspek produksinya dan relatif
ramah lingkungan. Bioetanol dapat digunakan mensubstitusi langsung atau bahan campuran
premium. Selain itu, penggunaan bioethanol juga mempunyai manfaat lebih dari segi
lingkungan, yaitu substitusi premium dengan etanol sebagai bahan bakar transportasi secara
tidak langsung akan mengurangi emisi karbon dioksida, dan meningkatnya produksi
bioetanol akan mendorong penanaman tanaman sehingga emisi karbondioksida yang
dihasilkan akan terfiksasi melalui proses fotosintesis dari tanaman penghasil biomas (sejalan
dengan konsep Ekologi Industri).

Berikut adalah perhitungan analisisnya :


Basis : 1 ton bagasse.

Jika satu liter solar harganya Rp 4500,-, sedangkan nilai kalor 1 ton bagasse kering setara
dengan 598 liter solar, maka apabila dinilai dengan uang, 1 ton bagasse setara dengan Rp
2.691.000,- (untuk bahan bakar)

Jika setiap 1 ton bagasse menghasilkan + 47% bio-etanol dengan harga Rp 200000/20 liter,
maka ,1 ton bagasse menghasilkan + 587,5 liter etanol Æ Rp 200000 x (587,5 liter/20 liter) =
Rp 5.875.000,-(untuk bioethanol).

Sisa bagasse dari proses hidrolisis yang berbentuk padat sebesar + 53% (530 kg) masih dapat
digunakan kembali untuk bahan bakar boiler atau diolah menjadi biogas dan kompos. Jika
digunakan sebagai bahan bakar boiler, maka 530 kg bagasse setara dengan Æ (530kg/1ton) x
598 liter = 316 liter solar.

Kebutuhan solar yang harus dibeli untuk menggantikan massa bagasse yang hilang per ton
adalah (598 liter – 316 liter) = 282 liter solar = Rp. 1.269.000,-.

Dilihat secara ekonomis, pengolahan bagasse untuk bahan baku industry etanol lebih
menguntungkan daripada bagasse yang hanya langsung dipakai sebagai bahan bakar boiler.

Dan pertimbangan ekonomis, saat ini merupakan indicator tambahan keberhasilan


pelaksanaan ekologi industry, selain pertimbangan dari sisi environment dan efisiensi.
Ekonomi merupakan salah satu factor keberlangsungan / sustainability sebuah industry,
disamping factor ketersediaan sumber daya dan daya dukung lingkungan.

KESIMPULAN
1. Latar Belakang munculnya ekologi industry adalah efisiensi proses yang mutlak
diperlukan karena keterbatasan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus
meningkat dan mempertahankan daya dukung lingkungan terhadap manusia dan
segala aktifitas yang terdapat didalamnya untuk mencapai pembangunan yang
berkelanjutan (sustainability development)
2. Ekologi industry adalah sebuah SISTEM, dimana didalamnya terdapat : aliran energy,
aliran massa, proses-proses dan interaksi antar proses.
3. Untuk aplikasi ekologi industru diperlukan beberapa tools yaitu MFA, DfE dan LCA
4. Peluang aplikasi ekologi industri di Indonesia masih sangat besar untuk
dikembangkan untuk energy terutama yang berbasis pertanian.
5. Tolak ukur atau indicator keberhasilan penerapan konsep ekologi industry adalah :
minimisasi penggunaan raw material, konsumsi energy, tingginya yield dan
selektifitas, minimisasi limbah yang dihasilkan dan segi ekonomi.

Sumber :
1. Focusing on the Environment from the Point of View of Resources, Products,
Industrial Systems and Eco-efficiency, Briefing Paper On Industrial Ecology and
EPA. EPA Industrial Ecology Workgroup. March 2001.
2. Human Ecology : Industrial Ecology. Faye Duchin, Stephen H.Levine. Department of
Economic, Renselaer Polytechnic Institute. New York.
3. Industrial ecology : Reflections on a colloquium. Jesse H. Ausubel. Presented at a
colloquium entitled “Industrial Ecology”, organized by C. Kumar N.Patel, held May
20 and 21, 1991, at the National Academy of Science, Washington,DC.