Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

SISTEM REPRODUKSI

MODUL
KEPUTIHAN

OLEH :

KELOMPOK 14

C 111 06 093 PARAMITA


C 111 08 013 ABDUL RAJAB HASILI
C 111 08 117 MUH. AZHARY EKA PUTRA
C 111 08 136 STEFAN DANNY LISAL
C 111 08 156 ASRIANY PARANOAN
C 111 08 177 MUH. ZAINUL RAMADHAN
C 111 08 199 GOODWIN ANTHONY
C 111 08 222 MAHAFENDY S. TUKAN
C 111 08 257 RIZKA DIRGANTARI
C 111 08 275 DESI DWI RNS
C 111 08 293 DIMAS AGUNG
C 111 08 312 YAYAT HIDAYATULLAH
C 111 08 330 YUSUF MUCHTAR
C 111 08 348 HARDAWATI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2010
LAPORAN TUTORIAL MODUL KEPUTIHAN
Skenario I

Ny Ita 30 tahun, PIIA0 datang ke poliklinik dengan keluhan keputihan yang


sering dialami, kadang-kadang disertai rasa gatal. Saat ini ibu
menggunakan kontrasepsi ADR.

Klarifikasi Kata Sulit

Kontrasepsi ADR : dikenal juga dengan IUD atau spiral adalah alat
kontrasepsi yang diletakkan didalam rahim. Bekerja
dengan cara mencegah terjadinya implantasi embrio
didalam rahim.

Keputihan : atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal


pada wanitayang tidak berupa darah.

Kata Kunci

• Wanita 30 thn

• Riwayat PIIA0

• Keputihan yang kadang disertai rasa gatal

• Pengguna kontrasepsi IUD

Rumusan Masalah

1.Jelaskan anatomi alat genitalia wanita yang berkaitan dengan kasus di


atsa!

2.Sebutkan jenis-jenis keputihan dan ciri-cirinya!

3.Mikroorganisme apa saja yang dapat menyebabkan keputihan

4.Jelaskan mekanisme terjadinya keputihan!

5.Jelaskan mekanisme terjadinya rasa gatal yang hilang timbul pada


kasus ini!

6.Jelaskan mekanisme kerja ADR beserta keuntungan dan kerugiannya!

7.Apa-apa saja differential diagnosis untuk kasus ini?


Analisis Masalah

• Anatomi organ yang bermasalah dalam kasus ini adalah:

Keputihan adalah keluarnya sekret abnormal dari organ genitalia wanita.


Jadi, dalam hal ini organ spesifik yang terlibat dalam produksi sekret
adalah vagina, serviks, kelenjar bartholini, dan kelenjar skene.

Vagina

Organ vagina memiliki 3 lapisan yakni lapisan mukosa, muskularis dan


adventisia.Lapisan dalam vagina merupakan saluran yang berlipat-lipat
yang disebut rugae vaginae.

Epitel Yang terdapat pada vagina adalah epitel squamosa tidak


bertanduk. Setelah masa pubertas, epitel pada vagina mengalami
penebalan dan kaya akan glikogen. Tidak seperti mamalia lain, epitel
vagina pada manusia tidak mengalami perubahan secara signifikan
selama siklus menstruasi. Tapi yang mengalami perubahan hanyalah
kadar glikogen yang meningkat pada masa setelah ovulasi dan berkurang
pada saat akhir masa siklus.

Produksi glikogen pada epitel vagina dipengaruhi oleh estrogen. Hormon


ini menstimulasi epitel vagina sehingga dapat memproduksi dan
menyimpan glikogen dalam jumlah yang besar, yang kemudian
dilepaskan pada lumen vagina untuk membasahi daerah sekitarnya.
Secara alami, flora normal vagina akan memetabolisme glikogen
membentuk asam laktat yang bertanggung jawab dalam merendahkan
suasana pH vagina, terutama saat pertengahan siklus menstruasi.
Suasana asa ini sangat berperan dalam mencegah invasi bakteri
patologis.

Serviks
Cervix uterus merupakan bagian yang menghubungkan vagina dengan
tuba uterina melalui os external canalis cervicalis yang dilapisi oleh
membran mucosa yang disebut endocervix. Bagian ini mengandung
mucus yang disekresikan oleh kelenjar tubular yang dilapisi oleh epitel
kolumner dan dipenuhi oleh sel silia.

Aktivitas sekresi kelenjar pada endocervix diregulasi oleh estrogen dan


mencapai jumlah maximal pada masa ovulasi. Fungsi sekret
endocervicalis adalah memberi lubrikasi selama hubungan seksual terjadi
dan berperan sebagai sawar yang melindungi dari invasi bakteri.

Selama ovulasi, mukus pada cervix menjadi lebih encer, berair dan pHnya
lebih alkali dibanding sebelumnya, kondisi ini dibuat sedemikian rupa agar
dapat mendukung migrasi sperma. Selain itu terjadi pula peningkatan
jumlah ion dalam mukus sehingga terbentuk kristal – kristal yang
menyerupai pakis. Secara klinis, hal ini dapat digunakan sebagai
pendeteksi saat yang tepat untuk melakukan fertilisasi.Setelah masa
ovulasi, mukus cervix menjadi lebih kental dan asam.

Ada sejumlah flora normal pada vagina dan cervix, namun yang paling
sering ditemui adalah Lactobacillus acidophilus. Bakteri ini mampu
memproduksi asam laktat dengan jalan memecahkan glikogen yang
berasal dari sekret vagina dan cervix. Asam laktat ini membentuk
semacam lapisan asam (pH 3,0), yang dapat mencegah proliferasi bakteri
Patologis yang biasanya mudah hidup dan beerkembang di lingkungan
yang basa.

Kelenjar Bartholini dan kelenjar skene

Sekresi pada kelenjar ini bertambah pada perangsangan, misalnya


sewaktu coitus. Kelenjar – kelenjar tersebut di atas meradang misalnya
karenainfeksi dengan gonococcus, maka sekret berubah menjadi fluor.

• Rasa gatal yang timbul pada kasus ini disebabkan oleh reaksi
peradangan yang ditimbulkan sel-sel proinflamasi. Sel-sel tersebut
melepaskan berbagai macam sitokin serta histamin yang memicu
timbulnya pruritus pada kasus ini.

• Ciri-ciri keputihan fisiologis dan patologis adalah:


Leukore fisiologis : sekretnya bening, terkadang mucus, banyak epitel,
dan jarang ditemukan lekosit.
Leukore patologis : banyak ditemukan leukosit, berwarna kekuningan
hingga kehijauan, lebih kental.
Leukore yang bersifat nonpatologis biasanya terjadi saat menjelang
atau setelah menstruasi,rangsangan seksual, saat wanita hamil, serta
akibat stres baik yang bersifat fisik maupun psikologis.
Sedangkan leukore yang bersifat patologis lebih sering diakibatkan
oleh infeksi mikroorganisme.
• Kontrasepsi ADR atau yang dikenal pula dengan IUD adalah alat
pengontrol kehamilan yang melibatkan sebuah objek yang diletakkan
di dalam uterus untuk mencegah fertilisasi antara sperma dan ovum,
menghambat transpor tubuler, dan mencegah implantasi blastokist
pada endometrium.
Kontrasepsi ini terdiri dari dua jenis,yakni :
1. IUD dengan tembaga
2. IUD dengan hormon progesteron
Keuntungan dari penggunaan ADR adalah tidak menimbulkan efek
sistemik, efektifitasnya cukup tinggi, ekonomis, serta umumny
digunakan untuk jangka waktu lama.
Kerugiannya adalah menorrhagi, rasa nyeri dan kejang di perut,cairan
vagina bertambah.
Sedangkan komplikasi yang dapat timbul adalah infeksi jika
pemasangan tidak steril, perforasi, dan kadang tidak mampu
mencegah kehamilan.
Kemungkinan pemasangan IUD yang tidak steril inilah yang
menyebabkan terjadinya keputihan pada nyonya Ita.

• Mikroorganisme yang dapat menyebabkan keputihan sangat banyak


jenisnya. Namun mikroorganisme penyebabkan keputihan yang paling
banyak antara lain:
Bakteri : Gardnerella vaginalis
Parasit/protozoa : Trichomonas vaginalis
Jamur : Candida albicans

• Differential Diagnosis dari skenario ini adalah:


- Vaginosis Bakterial
- Trikomoniasis
- Candidiasis

Vaginosis Bakterial

Definisi : Vaginosis bakterial adalah suatu keadaan abnormal pada


ekosistem vagina yang disebabkan oleh bertambahnya pertumbuhan flora
vagina bakteri anaerob (terutama Bacteroides sp., Mobilincus sp., Gardnerella
vaginalis, dan Mycoplasma hominis) menggantikan Lactobacillus yang
mempunyai konsenterasi tinggi sebagai flora normal vagina.

Jadi vaginosis bakterial bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh satu
organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan
berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.

Perlu diketahui, pada vagina wanita sehat dapat ditemukan beberapa


jenis mikroorganisme antara lain: Mycoplasma hominis, Ureaplasma
urealyticum, Lactobacillus, Streptococcus agalactiae (Streptococcus grup
B), Bacteroides bivius, Peptostreptococcus, Mobilincus, Gardnerella
vaginalis, dan Fusobacterium nucleatum
Prevalensi : Menurut Amsel & Hoist BV banyak ditemukan pada wanita yang
memakai penggunaan alat intrauterin . Penyakit vaginosis bakterial sering juga
ditemukan pd wanita yang memeriksakan kesehatannya daripada vaginitis jenis
lainnya. Pada pasien hamil, prevalensi vaginosis bakterial mencapai 16%.

Patogenesis : Pada keadaan normal, cairan vagina bersifat asam (pH


<4,5), akibat peningkatan kolonisasi Lactobacillus (flora normal vagina)
yang memproduksi asam laktat . Keadaan asam yang berlebih ini
mencegah pertumbuhan berlebihan bakteri patogen. Keadaan ini tidak
selalu dapat dipertahankan, karena apabila jumlah bakteri Lactobacillus
menurun, maka keasaman cairan vagina berkurang dan akan
mengakibatkan pertambahan bakteri lain, yaitu antara lain Gardnerella
vaginalis, Mycoplasma hominis, dan Bacteroides sp. ; keadaan ini juga
dapat terjadi pada wanita dengan Lactobacillus yang tidak menghasilkan
H2O2. Terdapat hubungan timbal balik antara dihasilkannya H2O2 dengan
terjadinya vaginosis bakterial meskipun jumlah Lactobacillus tidak menurun.

Dapat terjadi simbiosis antara Gardnerella vaginalis sebagai pembentuk


asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina
yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan sekret
pH vagina sampai suasana yang menyenangkan bagi pertumbuhan
Gardnerella vaginalis. Setelah pengobatan efektif, pH cairan vagina
menjadi normal. Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan
menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh tubuh keluar dari
vagina berbau.

Skema patogenesis G. Vaginalis adalah sebagai berikut.


Kriteria Diagnostik : Diagnosis klinis vaginosis bakterial menurut Amsel
dkk adalah jika tiga dari empat kriteria berikut ditemukan , yaitu:

1. Adanya sel clue pada pemeriksaan mikroskopik sediaan basah;


2. Adanya bau amis setelah penetesan KOH 10% pada cairan vagina
(whiff test);
3. Duh yang homogen, kental, tipis, dan berwarna seperti susu;
4. pH vagina > 4.5 dengan menggunakan phenaphthazine paper
(nitrazine paper).

Gambaran Clue Cell

Sedangkan diagnosis klinis vaginosis bakterial menurut Spiegel dkk


dengan menggunakan pewarnaan gram adalah sebagai berikut:

1. Derajat 1: normal, didominasi oleh Lactobacillus;


2. Derajat 2 : intermediate, jumlah Lactobacillus berkurang;
3. Derajat 3: abnormal, tidak ditemukan Lactobacillus atau hanya
ditemukan beberapa kuman tersebut, disertai dengan
bertambahnya jumlah Gardnerella vaginalis atau lainnya.
Akhir-akhir ini tingkat kepercayaan dan reproducibility dalam mengenal
berbagai morfologi kuman dari pulasan vagina dievaluasi. Ternyata
diagnosis vaginosis bakterial menggunakan
kriteria Spiegel dkk. tingkat kepercayaannya tidak terlalu tinggi , karena
morfologi kuman berdasarkan pewarnaan Gram sangat variabel dan
sangat tergantung pada kemampuan interpretasi hasil pewarnaan Gram.

Sistem skoring yang digunakan untuk melihat flora vagina pada


pewarnaan Gram adalah berdasarkan pengenalan morfologi kuman yang
paling dapat dipercaya, yaitu: bentuk batang Gram positif ukuran besar
(Lactobacillus), Gram negatif halus/batang dengan ukuran bervariasi
(Bacteroides atau Gardnerella), dan Gram negatif bengkok/ batang
dengan
ukuran bervariasi (Mobilincus)

Meskipun demikian sistem skoring ini masih tetap mempunyai


keuntungan, yaitu dapat untuk menyingkirkan flora normal atau dengan
perkataan lain dapat untuk membantu menentukan apakah yang terlihat
dengan pewarnaan Gram merupakan gambaran flora normal atau
vaginosis bakterial

Manajemen Pengobatan : Regimen yg direkomendasikan oleh CDC


adalah:

• Metronidazole 500 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari, atau


• Metronidazole gel 0.75%, dosis tunggal (5 gr) intravaginal, sekali sehari
selama 5 hari atau Clindamycin cream 2%, dosis tunggal (5 gram)
intravaginal sebelum tidur selama 7 hari.

Regimen alternatif lain adalah :


• Clindamycin 300 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari, atau
• Clindamycin ovules 100 g intravaginal sebelum tidur selama 3 hari.

Untuk mencegah rekurens dari vaginosis bakterial dapat digunakan


metronidazole gel 2 kali seminggu selama 6 bulan.

Untuk wanita hamil dengan gejala vaginosis bakterial dapat diberikan:


• Metronidazole 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari, atau
• Metronidazole 250 mg 3 kali sehari peroral selama 7 hari, atau
• Clindamycin 300 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari

Komplikasi : Komplikasi yang timbul dari vaginosis bakterial adalah


endometritis, PID, KPD, serta dapat menyebabkan kelahiran prematur.

Trikomoniasis

Definisi : Trikomoniasis adalah peradangan akibat Trichomonas vaginalis


yang merupakan protozoa patogen pada saluran genito-urinaria manusia.

Faktor Predisposisi : pH vulva berkisar 4,9 – 7,5 seperti pada keadaan:

- Haid

- Hamil

- Pemakaian kontrasepsi oral

- Pencucian vagina

Epidemiologi : Prevalensi Trichomonas vaginalis sebesar 5-10% pada


populasi umum wanita , 50-60% pada wanita penghuni penjara dan
pekerja seks komersial. Pada wanita yang mempunyai keluhan pada
vagina, prevalensi Trichomonas vaginalis antara 18-50%; dan pada 30-
50% wanita dengan gonore juga ditemukan infeksi Trichomonas vaginalis.

Patogenesis : Prevalensi Trichomonas vaginalis sebesar 5-10% pada


populasi umum wanita , 50-60% pada wanita penghuni penjara dan
pekerja seks komersial. Pada wanita yang mempunyai keluhan pada
vagina, prevalensi Trichomonas vaginalis antara 18-50%; dan pada 30-
50% wanita dengan gonore juga ditemukan infeksi Trichomonas vaginalis.

Trichomonas vaginalis masuk ke vagina melalui hubungan seksual, yang


kemudian menyerang epitel squamosa vagina dan mulai bermultiplikasi
secara aktif. Hal ini menyebabkan suplai glikogen untuk lactobacillus
berkurang bahkan menjadi tidak ada sama sekali. Dan diketahui secara
invitro ternyata trichonomas ini memakan dan membunuh lactobacillus
dan bakteri lain. Akibatnya jumlah lactobacillus doderlein menjadi
berkurang dan dapat hilang sama sekali sehingga produksi asam laktat
akan semakin menurun. Akibat kondisi ini pH vagina akan meningkat
hingga 5,0-5,5. Pada suasana basa seperti ini selain Trichomonas semakin
cepat berkembang, akan memungkinkan untuk berkembangnya
mikroorganisme patogen lainnya seperti bakteri dan jamur. Sehingga
pada infeksi trichomoniasis sering dijumpai bersamaan dengan infeksi
nikroorganisme patogen lainnya pada vagina. Pada kebanyakan wanita
yang menderita thrichomoniasis sering dijumpai bersamaan dengan
infeksi oleh organisme yang juga patogen seperti Ureaplasma urealitikum
dan atau Mycoplasma homonis sekitar lebih dari 90%, Gardnerella
vaginalis sekitar 90%, Niessheria Gonorrheaea sekitar 30%, jamur sekitar
20%, dan Chlamydia trachomatis sekitar 15%.

Suatu penelitian in vitro terhadap Trichomonas vaginalis menunjukkan


bahwa organisme ini memiliki kemampuan untuk menghancurkan sel
target dengan kontak langsung tanpa harus melalui proses phagocytosis.
Organisme ini menghasilkan suatu faktor pendeteksi sel (Cell-detaching
factor) yang menyebabkan kehancuran sel sehingga mengelupas epitel
vagina.

Suatu penelitian juga menunjukkan bahwa gejala trichomoniasis


dipengaruhi oleh konsentrasi estrogen vagina, makin tinggi kadarnya
maka makin kurang gejala yang ditimbulkan. Β-estradiol diteliti dapat
mengurangi aktivitas cell-detaching factor dari trichomonas.

Gejala Klinis : Pasien-pasien dengan trichomoniasis dapat simptomatik


atau asimptomatik. Dan biasanya bakteri ini dijumpai secara tidak sengaja
pada pemeriksaan sekret vagina. Masa inkubasi berkisar antara 3 hingga
28 hari, rata-rata 7 hari.
Gejala klinis antara lain:

- Dijumpai cairan vagina berwarna kuning kehijauan hingga berbusa,


jika pada kasus berat.

- Cairan vagina berbau (fishy odor)

- Gatal

- Rasa panas

- Iritasi

- Dispareunia

- Disuria ringan

- Nyeri abdomen

Pemeriksaan Fisik : pemeriksaan dengan spikulum vagina kadang


tampak hiperemis dengan lesi berbintik merah yang sering disebut
dengan strawberry servix atau colpitis macularis. Pemeriksaan
mikroskopik pada cairan vagina dari colpitis macularis ternyata rata-rata
terdapat 18 Trichomonas vaginalis per lapangan pandang
besar,sedangkan pada yang tidak terdapat colpitis macularis hanya
terdapat 7 organisme.

Gambaran strawberry cervix

Diagnosis : Untuk menegakkan diagnosis penyakit ini dapat diperhatikan


dari hal-hal berikut.

- Gejala klinis

Diagnosis dapat ditegakkan melalui gejala klinis yang bersifat subjektif


maupun objekti. Namun, pada pasien pria hal ini sulit dilakukan karena
jumlah trichomonas jauh lebih sedikit dibandingkan dengan wanita
penderita trikomoniasis.

- Pemeriksaan mikroskopik

Dilakukan dengan cara membuat sediaan dari sekret vagina yang


kemudian ditetesi larutan garam fisiologis di atas gelas objek dan
dapat langsung dibaca di bawah mikroskop.

- Pewarnaan

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pewarnaan gram, untuk


melihat morfologi trichomonas. Pemeriksaan mikroskopik lain yang
dapat dilakukan adalah pemeriksaan acridine orange.

- Kultur

Pemeriksaan ini dilakukan bagi pasien dengan jumlah Trichomonas


vaginalis sedikit dan pada wanita penderita trikomoniasis kronik.

- Tes Serologi

Tes ini meliputi antara lain ELISA,Imunofluorecent antibody,latex


aglutination,PCR.

Manajemen Pengobatan : Pengobatan yang dianjurkan adalah :

• Metronidazole 2 gr oral dosis tunggal.

Alternatif pengobatan yang lain yang dianjurkan adalah :

• Metronidazole 500 mg 2X/hr selama 7 hari.

• Metronidazole 2 gr dosis tunggal selama 3-5 hari.

Apabila terjadi gagal pengobatan ulangan pada pria maka diberikan


Metronidazole multidosis selama 7 hari.

Pengobatan lokal:

• Klotrimazole krim 1 % selama 7 hari.

• Vaginal tablet 100 mg 1 tablet/hr selama 7 hari.

Komplikasi : Komplikasi yang dapat timbul oleh karena trikomoniasis


pada ibu hamil adalah kelahiran prematur dan endometritis post partum.

Candidiasis
Definisi : adalah suatu infeksi yg bersifat akut atau subakut yang
disebabkan oleh Candida albicans, atau kadang species Candida Iainnya
(Candida glabrata, Candida parapsilosis, Candida tropikalis)

Keputihan yang disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans umumnya


dipicu oleh faktor dari dalam maupun luar tubuh seperti :
- Kehamilan
- Obesitas / kegemukan
- Pemakaian pil KB
- Obat-obatan tertentu seperti steroid, antibiotik
- Riwayat diabetes / penyakit kencing manis
- Daya tahan tubuh rendah
- Iklim, panas, kelembaban

Prevalensi : Kandidiasis vulvovaginal menyerang kebanyakan wanita


setidaknya satu kali dalam periode kehidupannya dengan perkiraan nilai rata-
rata 70-75 % yang setidaknya 40-50% akan mengalami rekurensi.

Etiologi : jenis candida yang paling banyak menyebabkan candidiasis adalah


Candida albicans. Sebagian kecil lainnya disebabkan oleh Candida glabrata,
Candida tropicalis, Candida parapsilosis.

Patogenesis :

• Mencapai vagina terutama dari perianal

• Candida à organisme oportunis

• Candidaà bisa komensal atau patogen pada vaginaà perubahan


lingkungan vagina diperlukan sebelum organisme ini menimbulkan
efek patologis.

Gejala dan tanda : Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada pada
candidiasis adalah:

• Gejala Khas: Gatal dan vaginal discharge

• Gambaran khas àVaginal thrushà bercak putih terdiri dan gumpalan


jamur & jar. nekrosis sel epitel yang menempel pada dinding vagina

• Gejala lainnya: nyeri vagina, rasa panas pada vulva, dispareunia, dan
disuri eksterna

• Pruritus akut & keputihan (fluor albus) merupakan keluhan awal

• Gejala paling sering adalah pruritus vulva

• Mukosa vagina kemerahan, pembengkakan pada labia dan vulva.


Diagnosis : Anamnesis disertai temuan klinis dan pemeriksaan
mikroskopik sudah memedai untuk menegakkan diagnosis kandidiasis
pada sebagian besar pasien. Pemeriksaan mikroskopis sekret vagina
dengan larutan KOH 10% akan emperlihatkan hifa bercabang dan
pembentukan tunas (budding) khas kandidiasis. Pemeriksaan ini bersifat
diagnostik pada 65 % sampai 85% perempuan simtomatik. Selama infeksi
kandida, vagina mempertahankan pH normal 4.0 sampai 4,5. pada
perempuan simtomatik, dan pada semua perempuan dengan kandidas
rekuren, harus dilakukan biakan vagina apabila hasil pemeriksaan
mikroskopik negatif. Namun, hasil biakan yang positif pada perempuan
asimtomatik seyogyanya tidak menyebabkan pembarian terapi karena C.
Albicans adalah flora komensal di vagina sebagaian besar perempuan.

Manajemen pengobatan : Pengobatan candidiasis dilakukan secara


intravaginal dengan regimen sebagai berikut.

• Butoconazole 2% kream, 5 grà 3 hr

• Butoconazole 2% kream, 5 gr, aplikasi intravagina tunggal

• Clotrimazole 1% kream, 5 gr à 7-14 hr

• Clotrimazole 100 mg, vaginal tablet à 7 hr

• Clotrimazole 100 mg, vaginal tablet, 2 tablet à 3 hr

• Clotrimazole 500 mg, vaginal tablet, 1 tablet dalam aplikasi tunggal

• Miconazole 100 mg, vaginal suppositoria, 1 suppositoria à 7 hr

• Miconazole 200 mg, vaginal suppositoria, 1 suppositoria à 3 hr

• Nystatin 100,000 unit, vaginal tablet, 1 tablet à 14 hr

• Tioconazole 6,5% ointment, 5 gr, intravagina dalam aplikasi tunggal

• Terconazole 0,4% kream, 5 gr, intravaginal à 7 hr

• Terconazole 0,8% kream, 5 gr, intravaginal à 3 hr

• Terconazole 80 mg, vagina suppositoria, I suppositoria à 3 hr

Komplikasi : Pada penderita dengan imunokompeten jarang


mendapatkan komplikasi
Kesimpulan Pembahasan

Gambar tabel perbedaan karakteristik dari vaginitis

Kesimpulan Kasus

Nyonya Ita dalam kasus ini menderita suatu keadaan yang disebut
keputihan. Karena kurangnya informasi yang diberikan dalam rekam
medisnya, maka untuk menegakkan diagnosis diperlukan anamnesis,
pemfis dan pemeriksaan penunjang yang lebih banyak lagi. Mengingat
keputihan dapat disebabkan banyak hal, maka penanganan yang benar
akan mengurangi resiko timbulnya gejala berulang dan eradikasi patogen
menjadi lebih baik. Keputihan sangat mengganggu aktivitas penderitanya
sehingga pendeteksian dini dan upaya pencegahan sangat penting
dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Bahan kuliah reproduksi

Buku ajar kulit dan kelamin FK UI

Petrin D, Delgaty K, Bhatt R, and Garber G. Clinical and Microbiological


Aspects of Trichomonas vaginalis available in
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC106834/
IMS Health, Integrated Promotional Services, IMS Health Report, 1966–
2008 Hardcopy available in http://www.cdc.gov/std/stats08/figures/49.htm
Adriyani, Yunilda. Trikomoniasis. Dept. Parasitologi Fakultas Kedokteran
USU