Anda di halaman 1dari 21

ANESTESI DENGAN LMA

( LARYNGEAL MASK AIRWAY )

1. PENDAHULUAN
Tanggung jawab utama dari seorang ahli anestesi adalah menjamin respirasi
yang adekuat bagi pasien. Unsur vital dalam menyediakan fungsi respirasi adalah
jalan nafas. Tidak ada anestesi yang aman tanpa melakukan usaha keras untuk
memelihara jalan nafas yang lapang.

Pentingnya penatalaksanaan jalan nafas tidak dapat dipandang mudah.


Seorang dokter anestesi adalah orang yang paling mengerti dalam penatalaksanaan
jalan nafas. Kesulitan terbesar dari seorang dokter anestesi adalah bila jalan nafas
tidak dapat diamankan. Penatalaksanaan pasien dengan jalan nafas yang normal
adalah kunci penting dalam latihan penanganan pasien.

Efek dari kesulitan respirasi dapat berbagai macam bentuknya, dari kerusakan
otak sampai kematian. Resiko tersebut berhubungan dengan tidak adekuatnya
penatalaksanaan jalan nafas pasien. Tujuan dari referat ini adalah mendiskusikan
penatalaksanaan anestesi dengan LMA.

2. ANATOMI & FISIOLOGI JALAN NAFAS BAGIAN ATAS

2.1. Hidung
Jalan nafas yang normal secara fungsional dimulai dari hidung. Udara lewat
melalui hidung yang berfungsi sangat penting yaitu penghangatan dan melembabkan
(humidifikasi). Hidung adalah jalan utama pada pernafasan normal jika tidak ada
obstruksi oleh polip atau infeksi saluran nafas atas. Selama bernafas tenang , tahanan
aliran udara yang melewati hidung sejumlah hampir dua per tiga dari total tahanan
jalan nafas. Tahanan yang melalui hidung adalah hampir dua kali bila dibandingkan
melalui mulut. Ini menjelaskan mengapa pernafasan mulut digunakan ketika aliran
udara tinggi dibutuhkan seperti pada saat aktivitas berat. ( 1 )

Inervasi sensoris pada mukosa berasal dari dua divisi nervus trigeminal.
Nervus ethmoidalis anterior menginervasi pada septum anterior, dinding lateral,

1
sedangkan pada area posterior di inervasi oleh nervus nasopalatina dari ganglion
sphenopalatina. Anestesi lokal dengan topikal cukup efektif memblokade nervus
ethmoidalis anterior dan nervus maksila bilateral.

2.2. Faring
Faring meluas dari bagian belakang hidung turun ke kartilago krikoid berlanjut
sampai esofagus. Bagian atas atau nasofaring dipisahkan dengan orofaring
dibawahnya oleh jaringan palatum mole. Pinsip kesulitan udara melintas melalui
nasofaring kerena menonjolnya struktur jaringan limfoid tonsiler. Lidah adalah
sumber dari obstruksi pada orofaring, biasanya karena menurunnya tegangan
muskulus genioglosus, yang bila berkontraksi berfungsi menggerakkan lidah kedepan
selama inspirasi dan berfungsi sebagai dilatasi faring.

2.3. Laring
Laring terbentang pada level Servikal 3 sampai 6 vertebra servikalis, melayani
organ fonasi dan katup yang melindung jalan nafas bawah dari isi traktus digestifus.
Strukturnya terdiri dari otot, ligamen dan kartilago. Ini termasuk tiroid, krikoid,
aritenoid, kornikulata dan epiglotis. Epiglotis, sebuah kartilago fibrosa, memiliki
lapisan membran mukus, merupakan lipatan glosoepiglotis pada permukaan faring
dan lidah. Pada bagian yang tertekan disebut velecula. Velecula ini adalah tempat
diletakkannya ujung blade laringokop Macinthos. Epiglotis menggantung pada bagian
dalam laring dan tidak dapat melindungi jalan nafas selama udema.

Rongga laring meluas dari epiglotis ke kartilago krikoid dibagian bawah.


Bagian dalam dibentuk oleh epiglotis, gabungan apek kartilago arytnenoid, lipatan
aryepiglotis, Bagian dalam rongga laring adalah lipatan vestibuler cincin sempit dan
jaringan fibrus pada tiap sisinya. Ini perluasan dari permukaan anterolateral aritenoid,
sudut tiroid, dimana yang terakhir berikatan dengan epiglotis. Lipatan ini adalah
sebagai korda vokalis palsu, yang terpisah dari korda vokalis sesungguhnya oleh sinus
laringeal atau ventrikel. Korda vokalis yang sesungguhnya pucat, putih, struktur
ligamen melekat pada sudut tiroid bagian belakang. Celah triangular antara korda
vocalis saat glotis terbuka merupakan segmen tersempit pada orang dewasa. Pada
anak kurang dari 10 tahun, bagian tersempit adalah dibawah plika vocalis pada level
setinggi cincin krikoid.

2
Panjang rata-rata pembukaan glotis sekitar 23 mm pada laki-laki 17 mm pada
wanita. Lebar glotik adalah 6-9 mm tapi dapat direntangkan sampai 12 mm.
Penampang melintang glotis sekitar 60 – 100 mm2

Bidang pembahasan pada bab ini tidak memungkinkan membahas secara


mendetail aksi dari otot-otot laring, namun demikian otot-otot ini dapat
diklasifikasikan menjadi tiga group berdasarkan aksinya pada korda: abduktor,
adduktor, dan regulasi tegangan. Seluruh inervasi motorik dan sensorik pada otot-otot
laring berasal dari dua cabang nervus vagus yaitu nervus superior dan rekuren laring,
yang secara ringkas disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Inervasi Laryng

2.4. Trakea
Trakea adalah sebuah struktur berbentuk tubulus yang mulai setinggi Cervikal
6 columna vertebaralis pada level kartilago tiroid. Trakea mendatar pada bagian
posterior, panjang sekitar 10 – 15 cm, didukung oleh 16 – 20 tulang rawan yang
berbentuk tapal kuda sampai bercabang menjadi dua atau bifurkasio menjadi bronkus
kanan dan kiri pada thorakal 5 kolumna vertebaralis. Luas penampang melintang lebih
besar dari glotis, antara 150 – 300 mm2.

Beberapa tipe reseptor pada trakea, sensitif terhadap stimulus mekanik dan
kimia. Penyesuaian lambat reseptor regang yang berlokasi pada otot-otot dinding
posterior, membantu mengatur rate dan dalamnya pernafasan, tetapi juga

3
menimbulkan dilatasi pada bronkus melalui penurunan aktivitas afferen nervus vagus.
Respon cepat resptor iritan yang berada pada seluruh permukaan trakea berfungsi
sebagai reseptor batuk dan mengandung reflek bronkokontriksi.

3. LARINGEAL MASK AIRWAY


Hilangnya kesadaran karena induksi anestesi berhubungan dengan hilangnya
pengendalian jalan nafas dan reflex-reflex proteksi jalan nafas. Tanggung jawab
dokter anestesi adalah untuk menyediakan respirasi dan managemen jalan nafas yang
adekuat untuk pasien. LMA telah digunakan secara luas untuk mengisi celah antara
intubasi ET dan pemakaian face mask. LMA di insersi secara blind ke dalam pharing
dan membentuk suatu sekat bertekanan rendah sekeliling pintu masuk laring ( 2 )
Dibawah ini tabel 2 keuntungan dan kerugian pemakaian LMA jika
dibandingkan dengan ventilasi facemask atau intubasi ET ( 3 ) :

Tabel 2. Keuntungan dan kerugian LMA dibandingkan dengan ventilasi


facemask
atau intubasi trachea

3.1. Desain dan Fungsi


Laringeal mask airway ( LMA ) adalah alat supra glotis airway, didesain
untuk memberikan dan menjamin tertutupnya bagian dalam laring untuk ventilasi
spontan dan memungkinkan ventilasi kendali pada mode level (< 15 cm H2O)
tekanan positif. Alat ini tersedia dalam 7 ukuran untuk neonatus, infant, anak kecil,
anak besar, kecil, normal dan besar ( 1 ). Gambar 1

4
Gambar 1. Berbagai macam ukuran LMA

Dibawah ini tabel 3 dengan berbagai ukuran LMA dengan volume cuff yang berbeda
yang tersedia untuk pasien-pasien ukuran berbeda ( 3 )

Tabel 3. Berbagai ukuran LMA


dengan volume cuff yang berbeda
yang tersedia untuk pasien-pasien
ukuran berbeda

5
3.2. Macam-macam LMA

LMA dapat dibagi menjadi 3 ( 4 ) :

1. Clasic LMA

2. Fastrach LMA

3. Proseal LMA

4. Flexible LMA

3.2.1. Clasic LMA

Merupakan suatu peralatan yang digunakan pada airway management yang


dapat digunakan ulang dan digunakan sebagai alternatif baik itu untuk ventilasi
facemask maupun intubasi ET. LMA juga memegang peranan penting dalam
penatalaksanaan difficult airway. Jika LMA dimasukkan dengan tepat maka tip LMA
berada diatas sfingter esofagus, cuff samping berada di fossa pyriformis, dan cuff
bagian atas berlawanan dengan dasar lidah. Dengan posisi seperti ini akan
menyebabkan ventilasi yang efektif dengan inflasi yang minimal dari lambung ( 5 )

6
3.2.2. LMA Fastrach ( Intubating LMA )

LMA Fastrach terdiri dari sutu tube stainless steel yang melengkung
( diameter internal 13 mm ) yang dilapisi dengan silicone, connector 15 mm, handle,
cuff, dan suatu batang pengangkat epiglotis. Perbedaan utama antara LMA clasic dan
LMA Fastrach yaitu pada tube baja, handle dan batang pengangkat epiglottic ( 4 )

Nama lain dari Intubating LMA : Fastrach. Laryngeal mask yang dirancang
khusus untuk dapat pula melakukan intubasi tracheal. Sifat ILMA : airway tube-nya
kaku, lebih pendek dan diameternya lebih lebar dibandingkan cLMA. Ujung proximal
ILMA terdapat metal handle yang berfungsi membantu insersi dan membantu
intubasi, yang memungkinkan insersi dan manipulasi alat ini. Di ujung mask terdapat
”pengangkat epiglotis”, yang merupakan batang semi rigid yang menempel pada
mask. ILMA didesign untuk insersi dengan posisi kepala dan leher yang netral ( 5 )
Ukuran ILMA : 3 – 5, dengan tracheal tube yang terbuat dari silicone yang
dapat dipakai ulang, dikenal : ILMA tube dengan ukuran : 6,0 – 8,0 mm internal
diameter.
ILMA tidak boleh dilakukan pada pasien-pasien dengan patologi esofagus
bagian atas karena pernah dilaporkan kejadian perforasi esofagus. Intubasi pada
ILMA bersifat ”blind intubation technique”. Setelah intubasi direkomendasikan untuk
memindahkan ILMA. Nyeri tenggorok dan suara serak biasanya ringan, namun lebih
sering terjadi pada pemakaian ILMA dibandingkan cLMA. ILMA memegang peranan
penting dalam managemen kesulitan intubasi yang tidak terduga. Juga cocok untuk
pasien dengan cedera tulang belakang bagian cervical. Dan dapat dipakai selama
resusitasi cardiopulmonal. ( 5 )

7
Respon hemodinamik terhadap intubasi dengan ILMA mirip dengan intubasi
konvensional dengan menggunakan laryngoscope. Kemampuan untuk insersi ILMA
dari belakang, depan atau dari samping pasien dan dengan posisi pasien supine, lateral
atau bahkan prone, yang berarti bahwa ILMA merupakan jalan nafas yang cocok
untuk insersi selama mengeluarkan pasien yang terjebak ( 5 )
ILMA merupakan alat yang mahal dengan harga kira-kira 500 dollar America
dan dapat digunakan sampai 40 kali.

Gambar 2. Intubating LMA ( 1 )

3.2.3. LMA Proseal

8
LMA Proseal mempunyai 2 gambaran design yang menawarkan keuntungan
lebih dibandingkan LMA standar selama melakukan ventilasi tekanan positif.
Pertama, tekanan seal jalan nafas yang lebih baik yang berhubungan dengan
rendahnya tekanan pada mukosa. Kedua, LMA Proseal terdapat pemisahan antara
saluran pernafasan dengan saluran gastrointestinal, dengan penyatuan drainage tube
yang dapat mengalirkan gas-gas esofagus atau memfasilitasi suatu jalur tube
orogastric untuk dekompresi lambung ( 4 )

PLMA diperkenalkan tahun 2000. PLMA mempunyai “mangkuk” yang lebih


lunak dan lebih lebar dan lebih dalam dibandingkan cLMA. Terdapat drainage tube
yang melintas dari ujung mask, melewati “mangkuk” untuk berjalan paralel dengan
airway tube. Ketika posisinya tepat, drain tube terletak dipuncak esofagus yang
mengelilingi cricopharyngeal, dan “mangkuk” berada diatas jalan nafas. Lebih jauh
lagi, traktus GI dan traktus respirasi secara fungsi terpisah ( 5 )
PLMA di insersi secara manual seperti cLMA. Akhirnya saat insersi sulit
dapat melalui suatu jalur rel melalui suatu bougie yang dimasukkan kedalam
esofagus. Tehnik ini paling invasif tetapi paling berhasil dengan misplacement yang
kecil.
Terdapat suatu teori yang baik dan bukti performa untuk mendukung
gambaran perbandingan antara cLMA dengan PLMA, berkurangnya kebocoran gas,
berkurangnya inflasi lambung, dan meningkatnya proteksi dari regurgitasi isi
lambung. Akan tetapi, semua ini sepenuhnya tergantung pada ketepatan posisi alat
tersebut ( 5 )
Harga PLMA kira-kira 10 % lebih mahal dari cLMA dan direkomendasikan
untuk 40 kali pemakaian.
Pada pasien dengan keterbatasan komplian paru atau peningkatan tahanan
jalan nafas, ventilasi yang adekuat tidak mungkin karena dibutuhkan tekanan inflasi
yang tinggi dan mengakibatkan kebocoran. Modifikasi baru, Proseal LMA telah
dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan ini dengan cuf yang lebih besar dan tube
drain yang memungkinkan insersi gastric tube. Versi ini sering lebih sulit untuk
insersinya dan pabrik merekomendasikan dengan bantuan introduser kaku. ( Gambar
3)

9
Gambar 3. Proseal LMA ( 1 )

Pada suatu penelitian, ProSeal LMA juga dapat digunakan dalam jangka waktu
panjang ( 40 jam ) tanpa menyebabkan tekanan yang berlebihan dan kerusakan
mukosa hypopharing. Laporan terakhir, satu kasus injury nervus lingual telah
( 6 )
dilaporkan saat pemakaian ProSeal LMA . Sementara juga dilaporkan terjadi
( 6,7 )
hypoglossal palsies oleh karena pemakaian clasic LMA . Meskipun begitu
komplikasi tadi sangat jarang terjadi, frekwensi injury pada nervus cranialis dapat
dikurangi dengan cara menghindari trauma saat dilakukan insersi, menggunakan
(6)
ukuran yang sesuai dan meminimalisir volume cuff . Disarankan untuk membatasi
tekanan jalan nafas kurang dari 20 cmH2O selama inflasi paru dan untuk
menggunakan volume tidal yang kecil ( 6 – 10 ml/kgBB ).

Ketika ProSeal LMA digunakan untuk periode memanjang, fungsi respirasi


harus dimonitor secara ketat dan tekanan intracuff harus diperiksa secara periodik dan
dipertahankan lebih rendah dari 60 cmH2O. Akhirnya resiko terjadinya inflasi
lambung harus secara aktif disingkirkan dengan mendengarkan daerah leher dan
abdomen dengan menggunakan stetoskop ( 8 )

10
3.2.4. Flexible LMA

Bentuk dan ukuran mask nya hampir menyerupai cLMA, dengan airway tube
terdapat gulungan kawat yang menyebabkan fleksibilitasnya meningkat yang
memungkinkan posisi proximal end menjauhi lapang bedah tanpa menyebabkan
pergeseran mask. Berguna pada pembedahan kepala dan leher, maxillo facial dan
THT. fLMA memberikan perlindungan yang baik terhadap laryng dari sekresi dan
darah yang ada diatas fLMA. Populer digunakan untuk pembedahan nasal dan
pembedahan intraoral, termasuk tonsilektomy. Airway tube fLMA lebih panjang dan
lebih sempit, yang akan menaikkan resistensi tube dan work of breathing. Ukuran
fLMA : 2 – 5. Insersi fLMA dapat lebih sulit dari cLMA karena flexibilitas airway
tube. Mask dapat ber rotasi 180 pada sumbu panjangnya sehingga masknya mengarah
ke belakang. Harga fLMA kira-kira 30 % lebih mahal dari cLMA dan
direkomendasikan untuk digunakan 40 kali.

4. TEHNIK ANESTESI LMA

4.1. Indikasi ( 4 ) :

a. Sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi ET untuk airway
management. LMA bukanlah suatu penggantian ET, ketika pemakaian ET
menjadi suatu indikasi.

b. Pada penatalaksanaan dificult airway yang diketahui atau yang tidak


diperkirakan.

c. Pada airway management selama resusitasi pada pasien yang tidak sadarkan
diri.

4.2. Kontraindikasi ( 4 ) :

a. Pasien-pasien dengan resiko aspirasi isi lambung ( penggunaan pada


emergency adalah pengecualian ).

b. Pasien-pasien dengan penurunan compliance sistem pernafasan, karena seal


yang bertekanan rendah pada cuff LMA akan mengalami kebocoran pada
tekanan inspirasi tinggi dan akan terjadi pengembangan lambung. Tekanan

11
inspirasi puncak harus dijaga kurang dari 20 cm H2O untuk meminimalisir
kebocoron cuff dan pengembangan lambung.

c. Pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi mekanik jangka waktu


lama.

d. Pasien-pasien dengan reflex jalan nafas atas yang intack karena insersi dapat
memicu terjadinya laryngospasme.

4.3. Efek Samping ( 4 ) :

Efek samping yang paling sering ditemukan adalah nyeri tenggorok, dengan
insidensi 10 % dan sering berhubungan dengan over inflasi cuff LMA. Efek samping
yang utama adalah aspirasi.

4.4. Tehnik Induksi dan Insersi

Untuk melakukan insersi cLMA membutuhkan kedalaman anestesi yang lebih


besar. Kedalaman anestesi merupakan suatu hal yang penting untuk keberhasilan
selama pergerakan insersi cLMA dimana jika kurang dalam sering membuat posisi
mask yang tidak sempurna ( 5 )

Sebelum insersi, kondisi pasien harus sudah tidak ber respon dengan
mandibula yang relaksasi dan tidak ber-respon terhadap tindakan jaw thrust. Tetapi,
insersi cLMA tidak membutuhkan pelumpuh otot.

Hal lain yang dapat mengurangi tahanan yaitu pemakaian pelumpuh otot.
Meskipun pemakaian pelumpuh otot bukan standar praktek di klinik, dan pemakaian
pelumpuh otot akan mengurangi trauma oleh karena reflex proteksi yang di
tumpulkan, atau mungkin malah akan meningkatkan trauma yang berhubungan
dengan jalan nafas yang relax/menyempit jika manuver jaw thrust tidak dilakukan ( 9 )

Propofol merupakan agen induksi yang paling tepat karena propofol dapat
menekan refleks jalan nafas dan mampu melakukan insersi cLMA tanpa batuk atau
terjadinya gerakan.

Introduksi LMA ke supraglotis dan inflasi the cuff akan menstimulasi dinding
pharing akan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan nadi. Perubahan

12
kardiovaskuler setelah insersi LMA dapat ditumpulkan dengan menggunakan dosis
besar propofol yang berpengaruh pada tonus simpatis jantung ( 9 )

Jika propofol tidak tersedia, insersi dapat dilakukan setelah pemberian induksi
thiopental yang ditambahkan agen volatil untuk mendalamkan anestesi atau dengan
penambahan anestesi lokal bersifat topikal ke oropharing. Untuk memperbaiki insersi
mask, sebelum induksi dapat diberikan opioid beronset cepat ( seperti fentanyl atau
alfentanyl ). Jika diperlukan, cLMA dapat di insersi dibawah anestesi topikal.

Insersi dilakukan dengan posisi seperti akan dilakukan laryngoscopy ( Sniffing


Position ) dan akan lebih mudah jika dilakukan jaw thrust oleh asisten selama
dilakukan insersi. Cuff cLMA harus secara penuh di deflasi dan permukaan posterior
diberikan lubrikasi dengan lubrikasi berbasis air sebelum dilakukan insersi.

Meskipun metode standar meliputi deflasi total cuff, beberapa klinisi lebih
menyukai insersi LMA dengan cuff setengah mengembang. Tehnik ini akan
menurunkan resiko terjadinya nyeri tenggorokan dan perdarahan mukosa pharing ( 9 )

Dokter anestesi berdiri dibelakang pasien yang berbaring supine dengan satu
tangan men-stabilisasi kepala dan leher pasien, sementara tangan yang lain memegang
cLMA. Tindakan ini terbaik dilakukan dengan cara menaruh tangan dibawah occiput
pasien dan dilakukan ekstensi ringan pada tulang belakang leher bagian atas. cLMA
dipegang seperti memegang pensil pada perbatasan mask dan tube. Rute insersi
cLMA harus menyerupai rute masuknya makanan. Selama insersi, cLMA dimajukan
ke arah posterior sepanjang palatum durum kemudian dilanjutkan mengikuti aspek
posterior-superior dari jalan nafas. Saat cLMA ”berhenti” selama insersi, ujungnya
telah mencapai cricopharyngeus ( sfingter esofagus bagian atas ) dan harusnya sudah
berada pada posisi yang tepat. Insersi harus dilakukan dengan satu gerakan yang
lembut untuk meyakinkan ”titik akhir” ter-identifikasi ( 5 )

13
Gambar 4. Insersi LMA ( 1 )

Cuff harus di inflasi sebelum dilakukan koneksi dengan sirkuit pernafasan. Lima tes
sederhana dapat dilakukan untuk meyakinkan ketepatan posisi cLMA ( 5 ):

1. ”End point” yang jelas dirasakan selama insersi.

2. Posisi cLMA menjadi naik keluar sedikit dari mulut saat cuff di inflasi.

3. Leher bagian depan tampak mengelembung sedikit selama cuff di


inflasi.

4. Garis hitam di belakang cLMA tetap digaris tengah.

5. Cuff cLMA tidak tampak dimulut.

Jumlah udara yang direkomendasikan untuk inflasi cuff tergantung dari


pembuat LMA yang bervariasi sesuai dengan ukuran cLMA. Penting untuk dicatat
bahwa volume yang direkomendasikan adalah volume yang maksimum.Biasanya
tidak lebih dari setengah volume ini yang dibutuhkan. Volume ini dibutuhkan untuk
mencapai sekat bertekanan rendah dengan jalan nafas. Tekanan didalam cuff tidak
boleh melebihi 60 cmH2O. Inflasi yang berlebihan akan meningkatkan resiko
komplikasi pharyngolaryngeal, termasuk cedera syaraf ( glossopharyngeal,
hypoglossal, lingual dan laryngeal recuren ) dan biasanya menyebabkan obstruksi
jalan nafas ( 5 )

14
Setelah cLMA di insersikan, pergerakan kepala dan leher akan membuat
perbedaan kecil terhadap posisi cLMA dan dapat menyebabkan perubahan pada
tekanan intra cuff dan sekat jalan nafas. N2O jika digunakan akan berdifusi kedalam
cuff cLMA sampai tekanan partial intracuff sama dengan tekanan campuran gas
anestesi. Hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan didalam cuff pada 30 menit
pertama sejak pemberian N2O. Tekanan cuff yang berlebihan dapat dihindari dengan
mem-palpasi secara intermiten pada pilot ballon ( 5 )

Setelah insersi, patensi jalan nafas harus di test dengan cara mem-bagging
dengan lembut. Yang perlu diingat, cuff cLMA menghasilkan sekat bertekanan
rendah sekitar laryng dan tekanan jalan nafas diatas sekat ini akan menyebabkan
kebocoran gas anestesi dari jalan nafas. Dengan lembut, ventilasi tangan akan
menyebabkan naiknya dinding dada tanpa adanya suara ribut pada jalan nafas atau
kebocoran udara yang dapat terdengar. Saturasi oksigen harus stabil. Jika kantung
reservoir tidak terisi ulang kembali seperti normalnya, ini mengindikasikan adanya
kebocoran yang besar atau obstruksi jalan nafas yang partial, jika kedua hal tadi
terjadi maka cLMA harus dipindahkan dan di insersi ulang.
( 10 )
Pemakaian LMA sendiri dapat juga menimbulkan obstruksi . Untuk itu
diperlukan suatu algoritme untuk memfasilitasi diagnosis dan penatalaksanaan
obstruksi jalan nafas dengan LMA :

Gambar 5. Algoritma LMA

15
cLMA harus diamankan dengan pita perekat untuk mencegah terjadinya
migrasi keluar. Saat dihubungkan dengan sirkuit anestesi, yakinkan berat sirkuit tadi
tidak menarik cLMA yang dapat menyebabkan pergeseran.

Sebelum LMA difiksasi dengan plaster, sangat penting mengecek dengan


capnograf, auskultasi, dan melihat gerakan udara bahwa cuf telah pada posisi yang
tepat dan tidak menimbulkan obstruksi dari kesalahan tempat menurun pada epiglotis.
Karena keterbatasan kemampuan LMA untuk menutupi laring dan penggunaan elektif
alat ini di kontraindikasikan dengan beberapa kondisi dengan peningkatan resiko
aspirasi. Pada pasien tanpa faktor predisposisi, resiko regurgitasi faring rendah.

4.5. Maintenance ( Pemeliharaan )

Saat ventilasi kendali digunakan, puncak tekanan jalan nafas pada orang
dewasa sedang dan juga pada anak-anak biasanya tidak lebih dari 10 -14 cmH2O.
Tekanan diatas 20 cmH2O harus dihindari karena tidak hanya menyebabkan
kebocoran gas dari cLMA tetapi juga melebihi tekanan sfingter esofagus. Pada
tekanan jalan nafas yang rendah, tekanan gas keluar lewat mulut, tetapi pada tekanan
yang lebih tinggi, gas akan masuk ke esofagus dan lambung yang akan meningkatkan
resiko regurgitasi dan aspirasi ( 5 )

Untuk anak kecil dan bayi, nafas spontan lewat cLMA untuk periode yang
lama kemungkinan tidak dianjurkan. cLMA meningkatkan resistensi jalan nafas dan
akses ke jalan nafas untuk membersihkan sekret, tidak sebaik lewat tube trakea.
Untungnya ventilasi kendali pada grup ini sering lebih mudah sebagaimana anak-anak
secara umum mempunyai paru-paru dengan compliance yang tinggi dan sekat jalan
nafas dengan cLMA secara umum sedikit lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan
pada orang dewasa.

Selama fase maintenance anestesi, cLMA biasanya menyediakan jalan nafas


yang bebas dan penyesuaian posisi jarang diperlukan. Biasanya pergeseran dapat
terjadi jika anestesi kurang dalam atau pasien bergerak. Kantung reservoir sirkuit
anestesi harus tampak dan di monitoring dengan alarm yang tepat harus digunakan
selama tindakan anestesi untuk meyakinkan kejadian-kejadian ini terdeteksi. Jika
posisi pasien butuh untuk di ubah, akan bijaksana untuk melepas jalan nafas selama

16
pergerakan. Saat pengembalian posisi telah dilakukan, sambungkan kembali ke sirkuit
anestesi dan periksa ulang jalan nafas ( 5 )

4.6. Tehnik Extubasi

Pada akhir pembedahan, cLMA tetap pada posisinya sampai pasien bangun
dan mampu untuk membuka mulut sesuai perintah, dimana reflex proteksi jalan nafas
telah normal pulih kembali. Melakukan penghisapan pada pahryng secara umum tidak
diperlukan dan malah dapat men-stimuli dan meningkatkan komplikasi jalan nafas
seperti laryngospasme. Saat pasien dapat membuka mulut mereka, cLMA dapat
ditarik. Kebanyakan sekresi akan terjadi pada saat-saat ini dan adanya sekresi
tambahan atau darah dapat dihisap saat cLMA ditarik jika pasien tidak dapat menelan
sekret tersebut. Beberapa kajian menyebutkan tingkat komplikasi akan lebih tinggi
jika cLMA ditarik saat sadar, dan beberapa saat ditarik ”dalam”. Jika cLMA ditarik
dalam kondisi masih ”dalam”, perhatikan mengenai obstruksi jalan nafas dan
hypoksia. Jika ditarik dalam keadaan sadar, bersiap untuk batuk dan terjadinya
laryngospasme ( 5 )

4.7. Komplikasi Pemakaian LMA

cLMA tidak menyediakan perlindungan terhadap aspirasi paru karena


regurgitasi isi lambung dan juga tidak bijaksana untuk menggunakan cLMA pada
pasien-pasien yang punya resiko meningkatnya regurgitasi, seperti : pasien yang tidak
puasa, emergensi, pada hernia hiatus simtomatik atau refluks gastro-esofageal dan
pada pasien obese.

Pada penelitian Turan et all, LMA dibandingkan dengan beberapa alat yang
juga digunakan untuk menjaga patensi jalan nafas ( laryngeal tube dan perilaryngeal
airway ) dan dihasilkan ( Tabel 4 )

17
Tabel 4. Perbandingan efek samping antara
LMA, LT, PLA

13
Insidensi nyeri tenggorokan dengan menggunakan LMA sekitar 28 %
dimana insidensi ini mirip dengan kisaran yang pernah dilaporkan yaitu antara 21,4 %
- 30 % ( Wakeling et al ), 28,5 % ( Dingley et al ) dan sampai 42 % ( 10 )

Clasic LMA mempunyai insidensi kejadian batuk dan komplikasi jalan nafas
( 10)
yang lebih kecil dibandingkan dengan ET . Namun clasic LMA mempunyai
kerugian. LMA jenis ini hanya menyediakan sekat tekanan rendah ( rata-rata 18 – 20
( 11,12 )
cmH2O ) , sehingga jika dilakukan ventilasi kendali pada paru, akan
menimbulkan masalah. Peningkatan tekanan pada jalan nafas akan berhubungan
dengan meningkatnya kebocoran gas dan inflasi lambung ( 11 ). Lebih lanjut lagi, clasic
LMA tidak memberikan perlindungan pada kasus regurgitasi isi lambung. Proseal
LMA berhubungan dengan kurangnya stimulasi respirasi dibandingkan ET selama
situasi emergensi pembiusan ( 12,13 )
ProSeal LMA juga mempunyai keuntungan dibandingkan clasic LMA selama
ventilasi kendali ; sekat pada ProSeal LMA meningkat sampai dengan 50 %
dibandingkan clasic LMA sehingga memperbaiki ventilasi dengan mengurangi
kebocoran dari jalan nafas ( 10 ). Sebagai tambahan drain tube pada ProSeal LMA akan
meminimalisir inflasi lambung dan dapat menjadi rute untuk regurgitasi isi lambung
jika hal ini terjadi ( 10 )

18
Kesimpulan :

1. Seorang dokter anestesi adalah orang yang paling mengerti dalam


penatalaksanaan jalan nafas. Kesulitan terbesar dari seorang dokter anestesi
adalah bila jalan nafas tidak dapat diamankan.

2. Laringeal mask airway ( LMA ) adalah alat supra glotis airway, didesain
untuk memberikan dan menjamin tertutupnya bagian dalam laring untuk
ventilasi spontan dan memungkinkan ventilasi kendali pada mode level (< 15
cm H2O) tekanan positif

3. LMA dapat dibagi menjadi 3 : Clasic LMA, Fastrach LMA, Proseal LMA,
Flexible LMA dengan spesifikasinya masing-masing.

4. Pemasangan LMA tetap membutuhkan pemilihan kasus yang selektif. Dengan


memperhatikan indikasi dan kontraindikasi.

5. Untuk insersi LMA membutuhkan kedalaman anestesi yang adekuat

6. Diperlukan suatu optimalisasi dalam hal ketepatan penempatan.

7. Digunakan ventilasi bertekanan rendah setelah dilakukan insersi dan pasien


dapat di ektubasi dalam keadaan sadar penuh.

-oOo-

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Thomas J Gal. Airway Management in Miller’s Anesthesia, Chapter 42, .


Elsivier : 2005 : page 1617.

2. Verghese C, Brimacombe JR. Survey of Laryngeal mask airway usage in


11910 patients : safety and efficacy for conventional and nonconventional
usage. Anesth Analg 1996 ; 82 : 129 – 133

3. Edward Morgan et al. Clinical Anesthesiology. Fourth Edition. McGraw-Hill


Companies. 2006 : 98.
4. Peter F Dunn. Clinical Anesthesia Procedures of the Massachusetts General
Hospital. Lippincot Williams & Wilkins. 2007 : 213 -217
5. Tim Cook, Ben Walton. The Laryngeal Mask Airway. In : Update in
Anaesthesia : 32 - 42

6. Cook TM, Lee G, Nolan JP. The ProSeal laryngeal mask airway ; a review of
the literature. Can j Anesth 2005 ; 52 : 739 – 760
7. Brimacombe J, Clarke G, Keller C. Lingual nerve injury associated with the
ProSeal laryngeal mask airway : a case report and review of the literature. Br
J Anaesth 2005 ; 95 : 420 – 423
8. Brimacombe J, Keller C, Kurian S, Myles J. Reliability of epigastric
auscultation to detect gastric insufflation. Br J Anaesth 2002 ; 88 ( 1 ) : 127 –
129
9. Turan et al. Comparison of the laryngeal mask ( LMA ) and laryngeal tube
( LT ) with the new perilaryngeal airway ( CobraPLA ) in short surgical
procedures. EJA 2006 ; 23 : 234 – 238
10. Brimacombe J. The advantage of the LMA over the tracheal tube or face mask
: a meta analysis. Can J Anaest 1995 ; 42 : 1017 – 1023

11. Devitt JH, Wenstone R, Noel AG, O’Donnell MP. The laryngeal mask airway
and positive-pressure ventilation. Anesthesiology 1994 ; 80 : 550 – 555

12. El-Ganzouri A, Avramov MN, Budac S, Moric M, Tuman KJ. Proseal


laryngeal mask airway versus endotracheal tube : ease of insertion,
hemodynamic response and emergence characteristic. Anesthesiology 2003 ;
99 : A571

20
13. Laxton CH, Kipling R. Lingual nerve paralysis following the use of the
laryngeal mask airway. Anaesthesia 1996 ; 51 ( 9 ) : 869 – 870

21