P. 1
ACEHKINI 08

ACEHKINI 08

|Views: 418|Likes:
Dipublikasikan oleh Khairul Umami
Majalah ACEHKINI, November 2008
Majalah ACEHKINI, November 2008

More info:

Published by: Khairul Umami on Jun 09, 2010
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2013

NOVEMBER, 2008

Rp 16.000,-

ACEHKINI November 2008

www. acehkini.co.id 1

2

No. 03/II/November 2008

06
Wali Nanggroe di Simpang Jalan Akhir Diari Sang ‘Wali’ Cerita dari Dua Masa Reuni Kapten dan Penyerang Pesta Kecil MEnyambut Cut Abang Berbagi Anggur Pengawal ‘Wali’ Galeri Foto
Ekonomi & Bisnis
Foto Sampul; Fauzan Ijazah

Surat Saleuem

Kolom | Azhari

08 12 15 18 20 22 23 24 26 29 39 41 45 47 49

Kolom | Aboeprijadi Santoso

Bagai Ayam Menemukan Induk Pedang di Jalan Berlubang Lompat Pagar Para Aktivis Sauna di Kaki Bukit Kisah Usang Rompak Tanggung Demam Juan Carlos di Seutui Pengakuan bandit Figura

Hukum & Politik

Penerbit PT. ACEHKINI Dewan Redaksi Yuswardi AS, Nurdin Hasan, Irfan Sofni, Adi Warsidi Redaktur Fakhrurradzie Gade Redaktur Foto Fauzan Ijazah Koordinator Liputan Maimun Saleh Wartawan Mismail Laweueng, Dedek Parta, Daspriani Y Zamzami, Riza Oz, Jamaluddin (Banda Aceh), Imran MA (Lhokseumawe), Halim Mubary (Bireuen), Fotografer Hasbi Azhar, Chaideer Mahyuddin Keuangan Abdul Munar Penata Letak Khairul Umami Ombudsman Stanley Kolumnis Azhari Distribusi Muhammad Yusuf, Alamat Jl. Angsa No 23 Batoh, Banda Aceh Telepon 0651.7458793 website www.acehkini.co.id e-mail redaksi@acehkini.co.id

Pelesir Nanggroe Gaya Hidup Sains_Buku

Surat

Orangutan
Dua pegawai Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA-NAD) mengobati anak Orangutan sitaan di kandang penampungan kantor BKSDA NAD Banda Aceh. Perburuan liar dan kerusakan hutan menjadi ancaman utama populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang diperkirakan kurang dari 6000 ekor yang masih tersisa di habitat aslinya. [Hasbi Azhar]

Menyelamatkan Hutan Aceh

Menyimak berbagai informasi tentang perkembangan hutan di Aceh, hati saya jadi trenyuh. Bagaimana tidak, Aceh yang dikatakan oleh pakar kehutanan masih memiliki hutan terbaik di pulau Sumatera, ternyata dari hari ke hari nasib hutan Aceh semakin menghilang dan luasnyapun terus berkurang. Padahal kita belum tahu seutuhnya potensi hutan yang kita miliki. Hal ini mengacu pada data yang ada, yakni tentang luasan hutan Aceh tahun 2007 seluas 5. 356. 557 Ha. Dari luas itu, 1. 526. 800 Ha, teridentifikasi kritis dengan rincian dalam kawasan hutan 788.600 Ha, dan di luar kawasan 738.200 Ha. Dari data itu, jelas terlihat kerusakan dalam hutan jauh lebih besar dibanding kawasan luar kawasan hutan. Dapat dibayangkan apa yang terjadi kalau penyusutan demi penyusutan terus terjadi. Lihatlah air bah yang menghantam kawasan Samahani dan Leupung, hari Minggu, 19 Oktober 2008. Dan yang paling hangat lagi, peristiwa banjir yang melanda tiga kabupaten di Aceh, yakni Aceh Jaya, Aceh Barat dan Nagan Raya. Bencana yang terjadi hampir sepekan lamanya membuat ribuan warga harus mengungsi, meninggalkan rumahnya ke tempat lain yang lebih aman, karena ketinggian air mencapai satu meter lebih. 4

Banjir tentu tak datang andaikan bumi Aceh masih tertutup hutan, karena salah satu fungsi hutan adalah sebagai pengendalian banjir kala musim penghujan tiba. Akibat banjir, masyarakat yang tidak berdosa ikut merasakan dampaknya, padahal mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kerusakan hutan. Kerugian moril dan materil tak terelakkan. Itu baru satu dampak yang muncul, belum lagi dampak lain, seperti kemarau panjang. Itu pula alasan mengapa hutan harus tetap dilestarikan. Kita tahu gubernur Aceh sudah mengeluarkan moratorium logging, tapi aturan hanya tinggal aturan, pekerjaan ilegal menebang hutan tetap berjalan. Saya bukan pesimis, hanya saja khawatir karena sampai sekarang belum ada satu lembagapun yang mampu menyelamatkan hutan Aceh. Saya malah jadi bertanya siapa sebenarnya yang mampu menyelamatkan hutan Aceh? Dinas Kehutanankah yang merupakan lembaga pemerintah di bidang hutan, polisikah, LSMkah atau masyarakat biasa yang bermukim di sekitar kawasan hutan. Wassalam. Ruskhanidar, Staf pengajar di STIK Pante Kulu, Banda Aceh

Genangan air di mana-mana jika musim hujan tiba, seperti di Jln Pante Kulu, yang berdampingan dengan Masjid Raya Baiturrahman. Itu ialah salah satu jalan yang sangat jorok dengan tumpukan sampah dan genangan air. Saluran yang ada tak berfungsi dan banyak tersumbat sampah. Kesadaran masyarakat sendiri masih kurang terhadap kebersihan. Padahal, pasar Aceh berdampingan dengan Masjid Raya Baiturrahman yang banyak dikunjungi oleh tamu-tamu dari luar Aceh dan wisatawan asing. Kenyamanan berbelanja di pasar Aceh sangat tidak ada dengan kondisi jorok dan genangan air di mana-mana. Bagaimana kita mau menciptakan kota yang “beriman” (bersih, indah dan nyaman jika) Pasar Aceh yang merupakan pasar terbesar di Banda Aceh dan terletak di jantung kota tidak bisa kita jaga kebersihannya. Kepada pihak terkait, tolong memperhatikan masalah ini agar Pasar Aceh bebas dari sampah dan genangan air. Terimakasih. Munandar, Banda Aceh

Jangan Berjanji

Pasar Aceh Jorok

Saat kita melintasi dan singgah di pasar Aceh, kesan pertama terekam adalah jorok.

Menanggapi pihak-pihak yang secara tegas menyatakan menolak keberadaan UU Pornografi, Wapres Jusuf Kalla mempersilakan mereka melakukan uji materi terhadap undang-undang yang telah disahkan DPR itu, ke Mahkamah Konstitusi.

Saleuem

Wali
Jusuf Kalla menilai, sebagian besar masyarakat tidak melihat UU Pornografi secara utuh. Akibatnya, UU itu sering kali dikaitkan dengan masalah agama. Padahal UU Pornografi sangat dibutuhkan untuk melindungi generasi muda. Bahkan, Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai negara yang paling bebas masih menjunjung tinggi masalah moral. Hal ini terbukti, 48 dari 50 negara bagian di AS memiliki UU Pornografi. Selama ini, peraturan perundangan yang ada di Indonesia, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), UU Penyiaran, dan UU Pers, belum bisa menjadi payung hukum yang memadai dalam upaya pemberantasan pornografi karena terlalu umum dan sumir. Demikian juga dengan undang-undang lain. Aturan perundangan yang ada juga belum memuat ketentuan tentang tindak pidana bagi korporasi yang memproduksi dan menyebarluaskan materi pornografi. Oleh karena itu, seyogyanya pihak-pihak yang menolak UU Pornografi betul-betul memahami tujuan dibuatnya UU tersebut. Jangan terlalu mendramatisasi UU Pornografi seolah-olah keberadaannya akan mengakibatkan disintegrasi bangsa. Sebab UU Pornografi sama sekali tak bermaksud memasung keragaman suku bangsa, budaya dan agama. Juga tidak untuk mematikan kreativitas para seniman selama karya-karyanya tak dimaksudkan untuk merusak moral bangsa. Pandanglah UU Pornografi dengan pandangan lebih luas. Jangan melihatnya memakai kacamata kuda. Kita butuh UU ini untuk melindungi generasi muda dari upaya pihak-pihak tertentu yang ingin merusak moral bangsa. Rendy Kameswara, Perum Pojok Salak Blok 18/27, Jonggol-Bogor “APA LAGI yANG HARUS KITA TULIS? Semua angle telah ditulis koran,” celetuk yuswardi, sambil menyeruput kopi. Empat hari menjelang deadline, dia masih uringuringan memilih arah laporannya. “Tak mungkin habis. Tak terbatas sudut pandang sebuah peristiwa,” ujar koordinator liputan memberi semangat, sambil menyalakan rokok. Dialog itu berlangsung di warung kopi, bukan forum rapat. yuswardi wajar pusing, dia satusatunya jurnalis ACEHKINI yang memiliki press card bertulis “Delegasi Wali”. Kartu identitas jurnalis itu, dikeluarkan panitia penyambutan Hasan Tiro, khusus bagi jurnalis yang meliput sejak dari Malaysia. Selain majalah ini, hanya dua media lokal lain yang memiliki kesempatan serupa, satu pesawat dengan Hasan Tiro. Sebagai majalah yang terbit bulanan, tentulah koran lebih cepat menyajikan informasi ke hadapan anda. Bagi ACEHKINI itulah tantangannya, mengendus informasi menarik, komplit dan tentunya tak ‘tercium’ media lain. Sudah menjadi komitmen kami, kepuasan pembaca tetap nomor satu. Ihwal kunjungan sumber paling diburu kuli tinta itu di negeri jiran, silakan anda baca: A khir Diari Sang Wali. Tulisan itu menemani tulisan utama bertajuk: Wali Nanggroe di Simpang Jalan. Bak menyusun ‘angkatan perang’, rapat edisi ini sengit. Pembagian pos liputan, terasa sulit dengan jumlah jurnalis terbatas. Setelah sukses ‘menembus’ Malaysia, tibalah saat mengejar ‘wali’ ke Pidie. Sehari sebelum Hasan Tiro ke Cot Mali, Dusun Tanjung Bungong, Kecamatan Bakti, Pidie, tiga jurnalis dan seorang fotografer majalah ini sudah patroli keliling kampung melihat persiapan warga. Tim yang dipimpin Fakhrurradzie ini sukses. ‘Sagoe Pidie’ menurunkan laporan sisi lain tingkah polah mantan pasukan elit GAM saat bertugas, ditulis dalam laporan: Berbagi Anggur Pengawal ‘Wali’. Ada pula keharuan pertemuan Hasan Tiro dengan kapten tim sepakbolanya di tulisan: Reuni Kapten dan Penyerang. Malam deadline tiba. “Innalillahi wainnailaihi rajiun, ayahanda Radzie meninggal,” ujar Nurdin Hasan, anggota dewan redaksi, usai menerima telepon dari jurnalis ACEHKINI yang baru beberapa menit meninggalkan markas redaksi. Radzie yang dimaksud, Fakhrurradzie Gade, redaktur senior. Kabar itu masuk, hanya sekitar 15 menit menjelang rencana besuk awak redaksi ke Rumah Sakit Fakinah, Banda Aceh. Semua awak ikut mengantarkan jenazah almarhum ke Keumala, Pidie. Dini hari, usai mengirim doa dan mengaji untuk ayahanda, Radzie mendatangi awak redaksi di perkarangan rumah. “Maaf saya tak bisa melanjutkan tugas,” ujarnya dengan mata masih berkaca. Esoknya, usai pemakaman, Radzie memberi flashdisk ke salah seorang awak redaksi. Isinya laporan setengah jadi soal kunjungan Hasan Tiro ke Pidie. Jatah Radzie diselesaikan awak redaksi lain. Di luar laporan utama, ada kisah sepak terjang “pasukan pedang” yang penuh sensasi di Aceh Utara. Lewat dua tulisan, kami kisahkan pada anda riwayat lahirnya kelompok yang terkenal dengan berbagai aksi kriminal ini. Selain itu, kondisi terakhir Sawang dan usaha yang dilakukan pihak kepolisian membangun rasa aman. Sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi nelayan, sebuah potret kehidupan pemburu hiu kami sajikan. Simaklah likaliku nelayan Aceh dari lautan hingga jeruji besi di negeri jiran. Miris. Demi sirip hiu, nanggroe ini dikenal rumah para rompak. Di rubrik politik dan hukum, kami perlihatkan fakta hiruk-pikuk politik di Aceh, ternyata seram juga. Sesama bangsa Aceh, saling ancam terjadi. Di lain sisi, Aceh bertarung dengan Jakarta berebut kuasa merekrut Panwas. Apa jadinya Pemilu di Aceh bila wasitnya hadir di saat waktu hendak berakhir. Politik memang rumit. Sebab itu, ACEHKINI menurunkan laporan pemandian panas Weh Pesam di Bener Meriah, agar anda tidak lupa berwisata itu penting. Di rubrik lifestyle ada kabar gembira, kebiasaan Juan Carlos, pelatih sepak bola asal Argentina itu, kini bisa dinikmati di Banda Aceh. Selamat membaca! [a] 5

surat/foto untuk redaksi harap dialamatkan ke:

Jl. Angsa No. 23, Batoh Lueng Bata, Banda Aceh redaksi@acehkini.co.id
atau

ACEHKINI November 2008

Kolom

azhari.aiyub@ymail.com

A Z H A R I

Warisan Kehampaan
BAGAI SEORANG TUKANG SULAP DIA TELAH melenyapkan hasil karya lebih dari seorang tukang sulap yang lain – mereka yang menebarkan ilusi untuk meyakinkan warga negara-bangsa bekas koloni Hindia Belanda ini bahwa keindonesian bukanlah sebuah kebetulan sejarah melainkan sesuatu yang tumbuh dari akar yang sama. Dalam pernyataan-pernyataan politiknya kemudian baik untuk menemukan dasar bagi gerakan perlawanan yang dia letupkan maupun untuk mempertebal keyakinan di tengah-tengah massa yang mendukung gagasannya, kita lihat dia telah menempatkan Aceh jauh di seberang cakrawala keindonesian yang hiruk-pikuk, membuat Aceh kian sepi dan terasing – bagaikan bayangan dirinya sendiri. Tapi adakah yang cacat dengan sepi dan keterasingan? Sama sekali tidak, karena lebih baik menerima takdir sebagai terasing dan sepi daripada mengikuti satu karnaval yang hiruk-pikuk tapi tak kurang menyedihkan. Dan bukankah oleh sepi dan pengasingan yang tak terpermanai ini pula, Aceh bertemu kembali dengan sebuah identitas (saya tak suka istilah ini, tapi apakah yang lebih tepat dari itu?) lama yang datang dari masasilam dan terkubur ke dalam masasilam pula. Cerita-cerita tentang kejayaan unifikasi Aceh yang terbentang dari pantai barat Sumatera hingga ke semenanjung Malaya; kisah-kisah penaklukan yang gemilang; lasykar gajah dan kiriman upeti; berkelindan bersama kisah yang datangnya pada abad lain yang lebih baru, ketika Aceh menolak takluk kepada Hindia Belanda, sementara di saat yang sama mungkin orang Aceh melihat cacat yang lain, yakni ketika negeri koloni itu bukan hanya sudah menjinakkan tapi sekaligus membuat birokrasi kolonial dapat berjalan dengan rapi atas hampir seluruh kepulauan di Nusantara. Masasilam itu bagai mesin waktu yang canggih dan hadir dalam imajinasi orang Aceh masakini, dan pengaruhnya mungkin bagai kafein dalam segelas kopi yang pekat, yang menggetarkan saraf tidur yang hendak tunduk karena kantuk. Itu sebabnya, di tengah keterasingan dan kesepian itu, masalalu cenderung lebih dekat dengan
MIFTA SUGESTI @ MIRAS CREATIvE

kita tidak pernah tahu apakah tujuan kepulangannya untuk mengubur imajinasi yang pernah dia kreasikan itu, atau justru untuk kian mengukuhkannya.

6

masadepan dalam kepala hampir sebagian besar orang Aceh. Bagi orang Aceh tak ada yang lebih akbar selain kisah kemuliaan dan kegemilangan Iskandar Muda. Tapi kita juga tahu, masa kegemilangan itu bukan tak penuh dengan aib dan cela di tengah-tengah legenda keadilannya yang terpuji itu. Marcel Proust, seorang penulis Perancis, yang meminati tema seberang-ruang dan lintas-waktu, mungkin akan terpana tapi mungkin juga sekaligus takjub, oleh karena dia percaya bahwa mencari masasilam itu sungguhlah sebuah kerja yang sia-sia, tapi lihatlah di Aceh, orang bahkan sudah menemukan waktu-balik atau masasilamnya dan sudah pada tahap untuk memutuskan, kalau boleh memilih, bahwa masadepan sekurang-kurangnya haruslah tak jauh berbeda dengan masalalunya. Datang dari manakah citra yang demikian hampa seperti itu? Kalau bukan atas sebuah waktu yang berhenti pada lintasannya, waktu yang menolak untuk bergerak, masalalu yang berkilau dan punya harga seperti permata. Sebelum dia menghembuskan imajinasi itu dari kejauhan, warisan masasilam itu berada pada sebuah ruang hampa, di mana orang Aceh akan terus hidup dalam cangkang masalalunya, sebab

hal itu ternyata lebih baik daripada eksis dalam sebuah masadepan yang menyedihkan seperti apa yang terhampar atau tersedia dalam horison keindonesian. Atau sebuah kemungkinan lain yang sama tragisnya: pada akhirnya atas kuasa waktu pula, kepercayaan itu juga takluk pada keterbatasan imajinasi sendiri dan menerima segenap hal yang menyedihkan itu dengan hati yang ikhlas. Di sinilah saya kira pada saat yang sama dia datang dengan gagasannya, yaitu Nasionalisme Aceh, dan berjumpa dengan kenyataan tersebut – sebuah waktu-lampau yang tak mau bergerak. Perpaduan ini, telah memungkinkan masasilam yang penuh kegemilangan itu, yang selama ini hanya citra yang buram, untuk dapat diraba dan dilihat, sehingga masadepan terpampang dengan lebih jelas. Dia kini pulang, dia yang telah sekian lama dari kejauhan dan ketaktersentuhan mengirimkan badai imajinasi dalam pikiran orang Aceh. Dan terhadap Aceh siapakah kiranya yang dapat membantah bahwa imajinasi yang dia kirimkan itu tidak memporak-porandakan sebuah pangkalan kesadaran lama hasil khayalan Soekarno dan teman-temannya tiga perempat abad silam. Dengan imajinasi baru yang dia kirimkan itulah, dari kejauhan dan ketaktersentuhan, dia bukan hanya dapat menjaga sebuah jarak dengan kampung halamannya tapi sekaligus menghidupkan sebuah masa lampau. Kini dia pulang, demikian dekat, berhadaphadapan, dia bahkan dapat disentuh oleh massa yang tersihir oleh imajinasinya. Dia disambut oleh rakyatnya dalam kelimun imajinasi yang dia ciptakan sendiri. Tapi kita tidak pernah tahu apakah tujuan kepulangannya untuk mengubur imajinasi yang pernah dia kreasikan itu, atau justru untuk kian mengukuhkannya. Di sini kita bertanya akan bernasib seperti apakah imajinasi yang telah dihembuskannya itu? Saya tidak yakin, walaupun dia menginginkannya, bahwa imajinasi itu akan bisa tercerabut begitu saja dalam kesadaran massa, oleh karena dia sendiri telah meletakkan dasar yang teramat kokoh atas hal itu. Imajinasi memang akan terpelihara dengan lebih baik dalam asuhan orang yang melahirkannya, tapi bukan berarti tanpa ibu-kandungnya imajinasi itu tidak dapat mempertahankan dirinya. Kita sekarang sedang menanti masa depan dari imajinasi itu, apakah waktu akan melenyapkannya bagai dulu dia melenyapkan sebuah imajinasi yang lain, atau terus tumbuh tanpa bisa dicegah. Tapi benarkah bahwa warisan masasilam itu akan bebas dari kehampaannya dan tetap berada pada sentrum gravitasinya? Oleh karena Nasionalisme Aceh adalah sebuah temuan baru, nasionalisme yang mungkin masih samar-samar, bentuknya belum tercetak jelas hingga hari ini. Perang memang telah usai, tapi apakah imajinasi telah selesai? [a] 7

ACEHKINI November 2008

MAGRIB HAMPIR MENJELANG SAAT telepon genggam Mukhlis Mukhtar berdering, Rabu, 22 Oktober lalu. Di ujung telepon, yahya Muaz, sekretaris Partai Aceh, mengabarkan berita gembira, ”Wali bersedia bertemu.” yang dimaksud wali adalah Tengku Hasan Muhammad di Tiro yang di kalangan aktifis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dinobatkan sebagai wali nanggroe. Mukhlis girang tak kepalang. Sebab, dua jam sebelumnya, Ibrahim Syamsuddin, juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) — organisasi yang memayungi bekas tentara GAM — mengatakan, Hasan Tiro tak punya waktu untuk membahas qanun. Bahkan, kepada ACEHKINI yang menghubunginya sebelum pertemuan itu, dengan nada murung Mukhlis berucap, ”pintu untuk kami sudah tertutup.” Padahal, sebelumnya Ibrahim berjanji akan mengusahakan. Mukhlis pun patah arang. September lalu, jauh-jauh terbang ke Swedia, dia dan timnya tak berhasil menemui Hasan Tiro. Saat Hasan Tiro pulang ke Aceh, eh, nasib apes belum beranjak. Mereka gagal bertemu deklarator Aceh merdeka itu. Padahal, itu adalah hari ke-11 Hasan Tiro berada di Aceh. Sebenarnya, aksi lobi sudah dilancarkan jauh-jauh hari. Selain lewat jalur GAM, beberapa hari sebelum Hasan Tiro tiba di Aceh, Mukhlis mengunjungi Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar di kediamannya. Tujuannya, ya itu tadi, merintis jalan supaya menggenggam ‘tiket’ bertemu Hasan Tiro. “Apalagi eksekutif juga punya kepentingan di sini,” ujar Mukhlis. Nazar berjanji akan berusaha memfasilitasi. Ketika pintu dibuka kembali oleh yahya Muaz, kesempatan itu tak disia-siakan. Kabar itu ibarat tiupan angin sejuk. Bersama sejumlah koleganya, ketua tim penyusun qanun wali nanggroe itu meluncur ke sebuah rumah di kawasan Geuceu, Banda Aceh, tempat Hasan Tiro diinapkan sepulang melawat ke pesisir timur Aceh. Ketua DPR Aceh, Sayed Fuad Zakaria ikut serta. Sepanjang jalan, Mukhlis telah membayangkan akan berdiskusi dengan Hasan Tiro. Tiga pertanyaan sudah dikantongi, siap diajukan pada ‘sang wali.’ Singkat kata, rombongan tiba di rumah Hasan Tiro diinapkan. Di sana, telah berkumpul banyak orang. Sebagian besar adalah pengurus Partai Aceh. Orang-orang silih berganti menyalami atau sekedar foto bersama Hasan Tiro. Giliran rombongan dewan akhirnya datang juga. Satu persatu, mereka menyalami Hasan Tiro. Mukhlis Muhktar sempat berbisik ke telinga pria 83 tahun, yang telah menjadi warga negara Swedia itu, dalam bahasa Aceh, ”Wali, kamoe dari parlemen Aceh, meuneuk musyawarah.” Menurut Mukhlis, sambil tersenyum, Hasan Tiro menjawab, ”jeuet, jeuet, bah seu8

Wali Nanggroe
Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh tak memberi solusi bagi qanun wali nanggroe. Tarik menarik kepentingan kian kentara.
oleh

yUSWARDI ALI SUUD

FOTO: YUSWARDI ALI SUUD

di Simpang Jalan

ACEHKINI November 2008

9

leusoe nyoe dilee.” Maksudnya, diskusi bisa dilakukan kalau sudah ada waktu luang. Klop, janji temu sudah dikantongi, langsung dari mulut Hasan Tiro. Pertemuan itu tak lebih dari lima menit. Sembari menunggu waktu luang, rombongan dewan membunuh waktu dengan ngopi bareng di sebuah kios kecil, tak jauh dari rumah itu. Oh ya, sebelum pamitan, mereka tak lupa jepret sana, jepret sini: foto bareng sang calon wali nanggroe pertama. Lama dinanti, kabar itu datang juga. Namun, kali ini bukan lagi angin sejuk, melainkan, ”mohon maaf, wali tak ada waktu.” Mukhlis Mukhtar tak lupa menyeruput kopi terakhir sebelum akhirnya angkat kaki dari warung kecil itu. Walhasil, pertanyaan yang sudah dipersiapkan, terpaksa disimpan rapat-rapat. Padahal dia optimis, jika tiga pertanyaan itu terjawab, lempanglah jalan merumuskan qanun. Simaklah pertanyaan yang disiapkan. Pertama, apa pendapat Hasan Tiro soal permintaan GAM agar kedudukan wali nanggroe di atas gubernur dan berwenang memberhentikan gubernur serta membubarkan parlemen. Kedua, bersediakah Hasan Tiro menjadi wali nanggroe pertama. Terakhir, kapan waktu paling tepat menyelesaikan qanun itu: sekarang, atau menunggu setelah pemilu 2009. “Kami ingin mendengar langsung jawaban dari mulut beliau,” ujar Mukhlis. Sebab, kata dia, secara etika politik tak elok menunjuk seseorang menduduki sebuah jabatan, tanpa menanyai kesediaan yang bersangkutan. “Jika itu tidak terjawab, kami tak mungkin bisa menuntaskan qanun,” ujarnya. Tiga pertanyaan itu berdasarkan tuntutan pihak GAM. Namun, Mukhlis tampaknya ragu keinginan GAM adalah representasi keinginan Hasan Tiro. Juru bicara KPA Ibrahim Syamsuddin pernah berkata, pihaknya mengharapkan qanun wali nanggroe mengadopsi sistem yang ada di negeri jiran Malaysia, yakni yang Dipertuan Negeri – yang bisa memposisikan diri sebagai pemersatu berbagai kepentingan etnis. “Kalau sultan, kan tak cocok lagi kalau kita buat di Aceh, karena sudah lama tidak ada sultan. Makanya kita sarankan menganut seperti yang Dipertuan Negeri,” ujar Ibrahim KBS. (baca ACEHKINI, edisi Oktober 2008). Permintaan GAM itu menggelitik Mukhlis dan kawan-kawannya di gedung parlemen. Baginya, itu tak masuk akal karena tidak sesuai dengan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki dan Undang-undang Nomor 11 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Mukhlis mencontohkan soal kedudukan dan kewenangan. Dalam MoU, kata dia, pemerintah Indonesia dan GAM telah bersepakat adanya pemisahan eksekutif dan 10

legislatif sebagai wujud pembagian kekuasaan. ”Kok sekarang diminta wali bisa membubarkan parlemen. Itu tidak masuk akal. Bagaimana wali bisa memecat gubernur, sementara peresiden saja tidak berwenang,” ujar Mukhlis. Soal wali nanggroe, dalam MoU Helsinki disebut pada poin 1.1.7. Bunyinya, ”Lembaga wali nanggroe akan dibentuk dengan segala perangkat upacara dan gelarnya.” Tidak ada penjelasan lebih detil tentang keberadaan wali nanggroe, selain hanya satu kalimat itu. Informasi lebih detil terdapat di UUPA pasal 1 ayat 17 yang berbunyi, ”Lembaga wali nanggroe adalah lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dan pelestarian kehidupan adat dan budaya.” Dalam UUPA, bab XII yang berisi pasal 96 dan 97, khusus mengupas tentang lembaga wali nanggroe. Pasal 96 berbunyi, ”(1) Lembaga wali nanggroe merupakan kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat yang independen, berwibawa, dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat istiadat, dan pemberian gelar/derajat dan upacara-upacara adat lainnya. (2) Lembaga wali nanggroe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan merupakan lembaga politik dan lembaga pemerintahan di Aceh. (3) Lembaga wali nanggroe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang wali nanggroe yang bersifat personal dan independen. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat-syarat calon, tata cara pemilihan, peserta pemilihan, masa jabatan, kedudukan protokoler, keuangan, dan ketentuan lain yang menyangkut wali nanggroe diatur dengan qanun Aceh.” Sementara pasal 97 bunyinya, “Wali nanggroe berhak memberikan gelar kehormatan atau derajat adat kepada perseorangan atau lembaga, baik dalam maupun luar negeri yang kriteria dan tatacaranya diatur dengan qanun Aceh.” Dalam keterangan sebelumnya, Ibrahim KBS juga menyatakan, bahwa pihak KPA ingin agar qanun wali nanggroe dibahas setelah parlemen baru terbentuk. Kenapa harus menunggu usai Pemilu 2009? “Masa kerja DPR sekarang hanya tinggal sebentar lagi,” sambung Ibrahim KBS. Begitukah? Sumber ACEHKINI di parlemen punya pendapat lain. Kata dia, itu lebih kepada hitung-hitungan politis. “Pada 2009, diperkirakan anggota GAM yang naik lewat Partai Aceh akan mendominasi parlemen. Jadi mereka punya kewenangan untuk menentukan hitam putihnya qanun itu,” ujar sumber yang menolak namanya ditulis itu. Wakil Gubernur Muhammad Nazar tak sepakat jika penyelesaian qanun wali nanggroe harus menunggu usai pemilu. Sebab,

secara legal sistem, eksekutif dan legislatif harus menindaklanjuti qanun tersebut. ”Mau tidak mau eksekutif harus menindaklanjuti. Masalah ada kontroversi atau tidak itu soal lain,” ujar Nazar. Nazar mengaku sudah memberi masukan kepada GAM lewat juru bicara KPA, Ibrahim KBS. Berkali-kali ia coba berkomunikasi dengan Malik Mahmud lewat telepon genggam, namun tak nyambung. Menurut Nazar, Hasan Tiro perlu dipertemukan dengan DPRA. Apalagi, kata dia, istilah wali nanggroe cuma dikenal di kalangan GAM. Itu sebabnya, perlu konfirmasi eksekutif dan legislatif Aceh secara langsung. ”Memang perlu bertemu, meskipun wali tidak bisa merincikan langsung tapi bisa diwakili oleh orang dekat wali,” ujarnya kepada ACEHKINI. Nazar setuju DPR jalan terus meski tak bertemu Hasan Tiro. ”Saya kira pimpinan GAM mengerti dan tidak memperlakukan wali secara eksklusif karena akan mengecilkan peran wali sendiri. Itu tidak mantap, ” ujarnya. Nazar sendiri sempat merasakan sulitnya mendekati Hasan Tiro. Di bandara Sultan Iskandar Muda, saat Hasan Tiro tiba di Aceh, Nazar sempat dihadang pengawal. Padahal, dari tangga pesawat, Gubernur Irwandi yusuf, yang ikut rombongan Hasan Tiro, sudah melambaikan tangannya agar Nazar diizinkan merapat. Namun, teriakan

Gubernur Irwandi Yusuf menunjuk tangan ke arah penjemput Hasan Tiro.
FOTO: YO FAUZAN—ACEHKINI

Irwandi tak digubris. Walhasil, wakil gubernur hanya bisa menatap dari jarak empat meter. Ditanya soal ini, Nazar memilih bungkam. Namun, sumber ACEHKINI di Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA) menyebut, insiden itu kemungkinan terkait ”luka lama” saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Desember 2006 lalu. Pasangan Irwandi-Nazar dianggap mbalelo karena bersaing dengan pasangan Humam Hamid-Hasbi Abdullah yang mendapat restu pimpinan GAM Swedia. Saat dikonfirmasi, Nazar berujar, ”Itu biasa dalam kompetisi demokrasi. Aroma kalah menang sudah tidak perlu lagi. Sekarang perlu disusun kesadaran bersama untuk mengejar target bersama, untuk melakukan perubahan fundamental di Aceh,” ujar Ketua Majelis Tinggi Partai SIRA itu. *** BAGI MUKHLIS MUKHTAR, qANUN wali nanggroe itu harus secepatnya diselesaikan. Sebab, mengacu pada UndangUndang Pemerintahan Aceh, qanun itu harusnya selesai paling telat dua tahun, sejak undang-undang itu disahkan. Dari sisi politik, kata dia, Aceh saat ini butuh tokoh
ACEHKINI November 2008

sentral yang bisa mempersatukan semua elemen, dan tidak hanya mementingkan kelompok sendiri. ”Kalau ego sektoral ini semakin besar, ke depan kita akan berkelahi sesama kita lagi,” ujar Mukhlis. Menurut dia, pihaknya tetap menghormati MoU Helsinki untuk menjadikan Hasan Tiro sebagai wali nanggroe pertama. ”Kami tunduk dan menghormati itu, tapi kalau GAM tidak menghormati kami mau bagaimana lagi,” ujarnya. Meski Hasan Tiro masih warga negara Swedia, bukan batu sandungan untuk menjadi wali nanggroe. Sebab, kata Mukhlis, MoU Helsinki memberi ruang pada Hasan Tiro. “Tapi, bagaimana kita bisa menjadikan beliau wali nanggroe yang pertama sedangkan kita tidak pernah mendengar persetujuan beliau,” ujarnya. Ruang yang dimaksud Mukhlis adalah poin 3.2.2 MoU Helsinki. Bunyinya, ”Orangorang yang selama konflik telah menanggalkan kewarganegaraan Republik Indonesia berhak untuk mendapatkan kembali kewarganegaraan mereka.” Pemerhati hukum Universitas Syiah Kuala, Mawardi Ismail membenarkan langkah yang ditempuh DPR Aceh. Dia bahkan mendesak tim panitia khusus DPRA menyelesaikan qanun wali nanggroe.

Menurutnya, tak bertemu Hasan Tiro tidak bisa dijadikan alasan menunda penyelesaian qanun. ”Kalau sudah diusahakan dengan berbagai jalan, tapi tidak bertemu, ya harus diselesaikan,” ujar Dekan Fakultas Hukum, Unsyiah, ini. Apalagi, kata dia, secara hukum, kewenangan wali nanggroe seperti dituntut pihak GAM tidak mungkin diatur dalam qanun. Sebab, kata dia, UUPA hanya menyebut wali nanggroe adalah lembaga kepemimpinan adat, bukan lembaga politik. ”Kalau keinginan itu mau diwujudkan, harus mengajukan revisi UU Nomor 11 Tahun 2006,” ujarnya. Mawardi meminta, meski DPRA harus menampung aspirasi, tapi jangan dikendalikan orang luar. ”DPR harus punya keputusan sendiri. Dengan kata lain, mendengar aspirasi, tapi tidak dikendalikan,” ujarnya. Itu sebabnya, Mawardi meminta DPRA tak menunda pembahasan qanun wali nanggroe. Kalangan aktivis masyarakat sipil pun sepakat, DPR Aceh harus segera merampungkan qanun wali nanggroe. TAF Haikal, mantan direktur eksekutif Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh khawatir, jika dibahas oleh parlemen hasil pemilihan umum 2009, maka qanun itu akan kehilangan rohnya. Apalagi, qanun wali nanggroe sudah masuk dalam program legislasi Aceh (Prolega) 2008. ”Anggota dewan hari ini adalah mereka yang terlibat langsung dalam penyusunan Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Jangan sampai qanun itu kehilangan rohnya,” ujar calon anggota legislatif yang membidik Senayan dalam pemilu tahun depan ini. Menurut Haikal, qanun itu sarat nuansa politis karena dilahirkan untuk mengakomodir komponen yang sudah turun gunung dan sepakat menerima perjanjian damai. Itu sebabnya, dia menilai, qanun wali nanggroe adalah salah satu cara menjaga perdamaian Aceh. Terkait kegundahan DPR Aceh karena tak bertemu Hasan Tiro, Haikal menyarankan parlemen untuk jalan terus. ”yang penting komunikasi telah dibangun. Kalau ada pihak yang menutup diri, secara prosedur formal, DPR sudah menjalankan hal itu.” Tampaknya, langkah inilah yang akan ditempuh parlemen. “Kalau tetap tidak bertemu, kami akan terus jalan. Menurut draf yang telah disusun, wali nanggroe akan dipilih oleh sebuah majelis. Kita sudah sepakat bahwa ke depan harus demokratis, bukan monarki,” ujar Mukhlis. Mukhlis boleh tak puas. Apalagi 26 Oktober lalu, Hasan Tiro telah terbang kembali ke Swedia. Sementara tim penyusun qanun harus berpuas diri bisa foto bareng calon wali. Kalau di Swedia, mereka foto di depan apartemen, maka di Aceh dapat foto bersama. [a] 11

Akhir Diari Sang ‘Wali’
Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh masih menyimpan tanya. Berikut catatan wartawan ACEHKINI, Yuswardi Ali Suud, yang menyertainya dari Malaysia hingga Banda Aceh.
GENGGAMAN TANGANNyA TERASA menyengat. Setidaknya, itulah yang terjadi saat kami bersalaman pada sebuah sore awal Oktober lalu. Mendung yang menggayut di langit Selangor, Shah Alam, Malaysia, sama sekali tak berpengaruh pada suasana pertemuan. Senyum tak henti mengembang dari bibirnya. Sesekali ia tertawa lepas. Mata tua itu berbinar-binar. ”Hari ini saya sangat senang. Keinginan saya untuk bertemu akhirnya terwujud,” ujarku dalam bahasa Inggris saat tangan kami masih saling menggenggam. Hasan Tiro, lelaki tua itu, tertawa lebar. Saking lebarnya, kedua sudut matanya menyipit. Di kamar tempat ia menginap, di lantai 15 Hotel Concorde Selangor, sekitar 45 kilometer dari Kuala Lumpur, ia menerima setiap tamu yang mengunjunginya. Kamar itu cukup luas. Maklum, ini kamar kelas atas: president suite. Di dalamnya, ada ruang tamu dengan empat sofa warna coklat. Di atas meja, tergeletak dua buku tebal tentang sejarah Aceh. Di luar, menara mesjid biru Selangor menjulang menusuk langit. Kamar tidur yang berhadapan dengan ruang tamu masih tertutup dan baru terbuka semenit kemudian. Dari dalam, lelaki itu keluar dengan senyum mengembang. Di usia senja, ia masih tampil necis: mengenakan jas, kemeja putih dan dasi merah marun. “Anybody here from Aceh?” Ia bertanya kepada tujuh orang yang berbaris menyamping, memberi jalan menuju sofa. yang ditanya hanya tersenyum. Ketujuh orang itu adalah anggota GAM alumni Libya yang mengawalnya selama di Malaysia. “ya, semua orang Aceh, Pak Cik,” sahut Muzakir Abdul Hamid, lelaki yang mendampinginya dalam bahasa Aceh. “Good, very good.” Hasan Tiro, lantas menyalami mereka. 12 Semua mencium tangannya penuh takzim. Kepada setiap orang yang disalaminya, Tiro selalu berujar, “Thank you, thank you very much.” Muzakir Hamid yang duduk diapit Zaini Abdullah dan Ibrahim KBS memperkenalkan kami satu per satu. Tiro kembali mengangguk sembari mengucap, “thank you.” Kata itu pula yang terlontar berkalikali ketika Muzakir menunjukkan majalah ACEHKINI edisi Oktober yang bersampul dirinya. Usai perkenalan, giliran Zaini angkat bicara. Menteri Luar Negeri GAM itu mewanti-wanti orang Aceh agar merawat perdamaian yang telah dirajut. Ia mengibaratkan perdamaian adalah seperti bunga yang harus senantiasa disiram. “Tapi jangan sampai melewati batas sehingga menjadi takabur,” ujarnya. Zaini juga menyentil mantan anggota GAM yang terlibat tindak kriminal. Ia tampaknya resah dengan masih adanya bekas petempur GAM yang berbuat onar. “Kita semua harus bisa menjaga diri dan memelihara perdamaian agar abadi, sehingga citacita kita tercapai,” serunya. Hasan Tiro tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk-angguk mendengar Zaini bicara. Satu jam sebelum bertemu, kami sudah diwanti-wanti untuk tidak bertanya. “Mau diterima saja sudah syukur,” ujar seorang pengawal Hasan Tiro. Untungnya, di akhir pertemuan selama 24 menit itu, Zaini membuka peluang bertanya. “Apa pesan wali (Hasan Tiro) untuk masyarakat Aceh?” seorang rekan menyambar kesempatan itu. Ditanya begitu, Tiro mengernyitkan dahi. Zaini yang duduk di sofa sebelah kirinya menerjemahkan pertanyaan itu dalam bahasa Inggris. Hening. Sesaat kemudian, barulah Ha-

DEDEK PARTA-ACEHKINI

san Tiro buka suara. Dengan suara serak dan terputus-putus ia meminta rakyat Aceh melek sejarah. Suaranya tak lagi segarang dulu. “Rakyat Aceh mesti tahu sejarah, sebab tanpa itu tidak mungkin membina hubungan dengan negara-negara lain seperti yang terjadi sekarang ini,” ujarnya dalam bahasa gado-gado, Aceh bercampur Inggris. Saat berbicara, matanya menatap tajam lawan bicara. “He had done anything that happened. People ini Papua..lebih banyak yang mereka usaha sekarang bahwa ber..berju..ang.. itu penting sekali. Saya dengar orang Aceh banyak sekali di Jakarta sekarang berjuang untuk Aceh. Dan semua orang, semuanya mau seperti..” Suaranya terhenti. Muzakir Hamid menimpali,”semuanya ingin seperti Aceh.” Hasan Tiro mengiyakan. Melihat Hasan Tiro mulai susah bicara, Syarif Usman yang duduk di kursi belakang menghentikan perbincangan. “Sudah cukup, wali masih kelelahan,” ujarnya. Syarif adalah salah satu anggota GAM yang kini bermukim di Swedia. Walhasil, hanya satu pernyataan yang terlontar. Tampaknya, stroke yang pernah mendera membuatnya tak lagi bisa bicara panjang lebar. Apalagi, usianya kian senja. Pada 4 September lalu, ia genap 83 tahun. Ditanya soal ini, Muzakir Hamid yang juga adik ipar Zaini Abdullah hanya menjawab singkat: faktor usia. Saat kami berlalu, sempat kulirik ia melambaikan tangannya. Kami menemuinya pada hari kedua ia di

Malaysia. Sebelumnya, kami sempat pesimis. Bayangkan, dua hari di sana, jangankan bertemu, bayangannya pun tak terlihat. Zaini Abdullah, menteri luar negeri GAM yang kami temui saat sarapan di restoran hotel mengatakan Hasan Tiro tak menginap di hotel itu. “Wali menginap di rumah kerabat dekatnya,” ujarnya. Selain Zaini, di sudut lain duduk Amir Rasyid Mahmud, Menteri Perdagangan GAM. Meski jalannya sudah membungkuk, di usia 84 tahun, abang Malik Mahmud yang menetap di Singapura itu tak henti menyemburkan asap rokok. Di depannya, duduk Syarif Usman. Dialah yang mengurus semua keperluan Tiro di Swedia bersama Muzakir Hamid. Semua tutup mulut. Di tengah ketidakpastian itu, di ujung telepon, juru bicara Komite Peralihan Aceh Ibrahim KBS membawa kabar gembira: kami akan dipertemukan dengan Hasan Tiro pukul lima sore. Kabar itu datang saat matahari baru saja melewati melewati ubunubun. Tempatnya? ”Siap-siap saja, lokasi diberitahukan kemudian,” ujar Ibrahim. Ketika waktu yang dijanjikan tiba, dari lobi hotel, kami dibawa ke lantai 15. ya, Hasan Tiro menginap di kamar 1504. Di pintu kamar, dua pengawal berjaga-jaga. Mengenakan jas lengkap, mereka bertugas mengawasi setiap tamu yang datang. *** HASAN TIRO BAGAI MAGNET yANG menyedot orang berdatangan ke Concorde.
ACEHKINI November 2008

Di lobi hotel, kesibukan sangat kentara. Selama sepekan, lobi hotel bintang empat yang memiliki 381 kamar dan empat kamar suite dipenuhi lalu lalang orang Aceh. Sembilan sofa warna coklat hampir tak pernah kosong. Orang-orang datang silih berganti. yang satu pulang, datang rombongan lain. Sejumlah bekas tentara GAM silih berganti mengamati setiap tamu yang datang. Di Malaysia, penyambutan dipersiapkan oleh Majelis Nasional Aceh se-Malaysia. Ini adalah istilah untuk anggota GAM di Malaysia. Di bawah koordinator Saaduddin bin Abdullah yang mengetuai kawasan Rantau Panjang-Klang, mereka juga mengurus segala tetek bengek administrasi hingga urusan sewa menyewa pesawat yang dipakai untuk menerbangkan Tiro ke Aceh. Kamar 910 disulap menjadi semacam kantor kecil. “Kepulangan bersejarah ini harus dipersiapkan sebaik mungkin,” ujar Saaduddin. Tak semua mendapat ‘tiket’ bertemu Hasan Tiro. Apalagi, siang hari tamu tak diperkenankan meluncur ke lantai 15. Saat itu dimanfaatkan Hasan Tiro untuk beristirahat. Pintu baru dibuka kembali pukul 17.00. Muzakir Hamid bolak-balik turun naik dari lantai 15 ke lobi hotel. Pria berkulit putih yang akrab disapa ustad itu bertugas menyusun jadwal pertemuan. Hari ketiga gelombang tamu kian deras. Ada yang dari Aceh, ada pula yang mewakili pemerintah Indonesia seperti Zainal Arifin dari Forum Komunikasi dan Koordinasi (FKK) Desk Aceh. Mantan Menteri Hukum dan HAM yang juga juru runding pemerin-

tah Indonesia Hamid Awaluddin datang keesokan harinya. Rombongan ulama Aceh yang dipimpin Profesor Teungku Muhibudin Waly tiba hari yang sama bersama Gubernur Irwandi yusuf. Kehadiran Irwandi seolah membantah selentingan hubungannya dengan petinggi GAM tak lagi mesra. Sudah menjadi rahasia umum, petinggi GAM sempat murka ketika Irwandi maju sebagai kandidat gubernur dan mengalahkan pasangan Human Hamid-Hasbi Abdullah yang disokong petinggi GAM. ”Itu sudah tak ada lagi. Hari pertama setelah pengumuman, Mentroe Malek langsung menelpon saya mengucapkan selamat,” ujar Irwandi. Namun, bagi mantan Menteri Pertahanan GAM Zakaria Saman, ”Irwandi itu ibarat seorang anak nakal. Kita maki pun dia tetap cari kita,”ujarnya ketika kami bertemu di lobi hotel. Dua tahun memerintah Aceh, kata Zakaria, Irwandi belum menunjukkan prestasi menonjol. Hari itu, di hadapan Hasan Tiro dan Malik Mahmud, Irwandi menjelaskan sejumlah program yang sedang dilaksanakan. Tiro tak banyak bicara. Tiba-tiba ia mengambil sebuah buku. ”Aceh harus dibangun seperti ini,” ujarnya sambil menunjuk ke foto-foto bangunan yang pernah dikerjakannya ketika menjadi pengusaha di Amerika lewat perusahaannya Doral International Ltd. Irwandi manggut-manggut. Hasan Tiro laksana legenda hidup yang menyihir. Lantang menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia, lelaki yang pernah 25 tahun menetap di Amerika itu menggagas ide nasionalisme Aceh. Untuk mewujudkan ide itu Hasan Tiro meninggalkan istrinya Dora, anak semata wayangnya Karim Tiro, dan perusahaannya di New york. Ia memilih naik gunung dan mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 1976. Keluar masuk hutan sejak kurun 4 September 1976, ia memilih hengkang ke Malaysia pada 29 Maret 1979. Sempat singgah di sejumlah negara, ia mendapat suaka politik di Swedia. Pengalaman tiga tahun di belantara Aceh dituangkannya dalam buku catatan harian berjudul The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Hasan Tiro. Sejak itu, Hasan Tiro menjalankan ’pemerintahan’ di pengasingan. Mengangkat diri sebagai Presiden ASNLF (Aceh Sumatra National Liberation Front), ia melanjutkan ’remote control’ dari luar negeri. Sayangnya, tak ada lagi catatannya yang dipublikasi setelah The Price of Freedom. Kegiatannya yang paling menonjol setelah itu: mengirim generasi penerus GAM latihan militer di Libya. Alumni Libya ini sebagian pulang ke Aceh, sebagian lain menetap di Malaysia. Teungku Abdurrahman masuk dalam barisan kedua. Lelaki berkepala plontos ini kini berusia 58 tahun. Berangkat dari Malaysia 13

tahun 1988, ia satu angkatan dengan Muzakir Manaf. Setahun ditempa pendidikan militer ala gurun pasir, ia balik kanan, kembali ke Malaysia yang sudah ditempatinya sejak 1984. Mendengar kabar Hasan Tiro singgah di Malaysia, ia girang bukan kepalang. Maklum, sepulang dari Libya, mereka tak pernah lagi bersua. Walhasil, hotel Concorde menjadi ajang reuni. Saat bertemu Hasan Tiro, Abdurrahman berusaha keras mendongkrak ingatan sang wali. Tak sia-sia, Hasan Tiro masih mengenalnya. ”Elite, elite. Good, very good,” ujar Hasan Tiro. Elite adalah julukan yang ditabalkan Tiro untuk alumni Libya sebagai pasukan elite. Pada pertemuan 10 menit itu, tak ada petuah bijak atau nasehat Hasan Tiro seperti ketika berlatih di Libya 20 tahun silam. Tak ada pula pidato berapi-api yang mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. ”Kami hanya bersalaman dan foto bersama,” ujar Abdurrahman. Lupakah Hasan Tiro akan cita-citanya menuntut kemerdekaan Aceh? Entahlah. Setelah pertemuan di kamar 1504, praktis tak ada lagi waktu untuk bertanya. Sepekan di Concorde, Tiro praktis hanya menghabiskan waktu di kamar hotel. Bila jam makan tiba, ada saja yang mengantar makanan dalam rantang. Sehari menjelang terbang ke Aceh, ia dibawa jalan-jalan ke Putra Jaya, kota pusat pemerintahan Malaysia yang berjarak 30 kilometer dari Selangor. Seperti biasa, ia tampil dengan setelan jas hitam dan kemeja putih. Di dasinya, bertengger sebuah pin bendera GAM. Sesekali ia tersenyum saat kamera mengarah ke wajahnya. Di luar, mobil BMW biru tua bernomor plat WMT 5901 milik Sulaiman Aziz telah siaga menunggu. Sulaiman adalah salah satu anggota GAM Malaysia yang memiliki enam gerai toko swalayan di sana.

Berhenti di depan masjid Putra Jaya, seorang pengawal memegang tangan Hasan Tiro saat turun dari mobil. Puas melihatlihat gedung-gedung jangkung yang dibangun pemerintah Malaysia, rombongan menuruni dua eskalator, menuju Selera Putra, sebuah food court di sisi kanan masjid. Di luar, terhampar Tasik Putra Jaya, danau buatan yang membelah kota itu. Di atas danau, melintang jembatan raksasa berbentuk menyerupai kerucut. Di kiri kanan jembatan, tiang-tiang penyangga yang melebar ke bawah terpacak ke bumi. Hasan Tiro mengagumi jembatan itu. Dalam perjalanan pulang, ia sempat meminta mobil dihentikan saat melintas jembatan. Hasan Tiro duduk menghadap ke danau yang dibatasi dinding kaca. Di sisi kirinya, Muzakir Manaf membisikkan sesuatu. Di kanan, Zakaria Saman, sang mantan Menteri Pertahanan GAM duduk tenang. Di depannya, duduk Ridwan Abubakar alias Nek Tu, Muzakir Hamid dan Zaini Abdullah. Tiro lantas memesan sekaleng Coca Cola. yang lain, minum teh tarik dan kopi. Kepada Hasan Tiro, pelayan menyodorkan empat potong kue: dua kue lapis ketan warna hijau dan dua kue coklat bertabur kelapa yang disebut kue kasui. Muzakir Hamid menuang Coca Cola ke gelas, lalu menyodorkan sendok dan garpu. Hasan Tiro tampak menikmati kue dan minuman yang disajikan. Di sampingnya, Muzakir Manaf mencomot sepotong black forest. Saat Hasan Tiro makan, Muzakir Hamid melarang wartawan memotret. “Kasep, kasep. Lon peugah kaseb, kasep (cukup, cukup. Saya bilang cukup, cukup),” ujar pria yang bertindak sebagai ajudan Hasan Tiro itu dengan nada tinggi. Jarum jam sudah bergeser ke angka 16.26 ketika Hasan Tiro dan rombongan beranjak dari Selera Putra. Di luar, hujan mulai turun. Namun, bermodal sebuah payung, Hasan Tiro diapit dua pengawal

menerobos hujan menuju mobil BMW yang menunggunya. Ia memegang sendiri gagang payung. Di meja tempat ia duduk, di tepian Tasik Putra Jaya, setengah gelas Coca cola dan sebiji kue kasui masih tersisa. *** HARI yANG DINANTI DATANG JUGA, 11 Oktober. Pagi-pagi, orang-orang bergegas, berkejaran dengan waktu. Pukul 07.30, lebih seratus orang meninggalkan Concorde menuju bandara Subang Jaya. Dengan badge bertuliskan ”Delegasi Wali” melingkar di leher, mereka mengenakan jas lengkap dengan dasinya. ’Delegasi Wali’ dibagi dua pesawat yang dicarter khusus. Saya bersama lima wartawan lain satu pesawat dengan Hasan Tiro. Meski wartawan, kami diwajibkan berjas ria. Untunglah, bersama kedua rekan, saya sempat membeli jas seharga 60 ringgit atau sekitar 180 ribu rupiah di pasar murah dua hari sebelumnya. Di ruang VIP bandara Subang, Hasan Tiro terlihat tak sabar. Berkali-kali ia melirik jam Rolex yang melingkar di lengan kirinya. Waktu keberangkatan memang bergeser. Dari rencana bertolak pukul 09.30, pesawat baru terbang satu jam kemudian. Di atas pesawat, Tiro memangku sebuah koper hitam. Kata Muzakir Hamid, tas itu berisi dokumen-dokumen keluarga dan buku-buku perjuangan Aceh. Tas itulah yang sering diperlihatkan Tiro jika ada yang menemuinya. Saat pesawat Firefly ATR 72-500 menjejakkan roda di Bandara Sultan Iskandar Muda, darahku berdesir. Di landasan pacu, di atas truk-truk yang parkir di luar pagar bandara, orang-orang melambaikan tangan. Dari tempatku duduk di bangku 8A, kulihat Tiro membalas lambaian dari jendala tempat duduknya di kursi 1A. Saat hendak meninggalkan pesawat, sempat kulirik ia menyusupkan jari ke balik kacamatanya. Entah apa yang berkelindan di kepalanya. yang jelas, lima belas menit sebelum pesawat mendarat, ia sempat bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Amir Mahmud, yang duduk di kursi 8D. “Lon meusyen. Aku rindu,” bisiknya di telinga Amir. Bisa jadi ia terkenang pada sebaris kata yang ditulisnya di The Price of Freedom,”hanya orang gila dan dungu yang percaya aku tak akan kembali lagi” Hari itu, Tiro membuktikan janjinya. Setelah kembali ke apartemennya di Norsborg, dalam balutan salju yang menggigilkan tulang, siapa tahu ia menuntaskan buku catatan harian yang belum selesai itu. Jika dulu bercerita tentang harga sebuah kemerdekaan, mungkin ia akan berkisah ihwal harga perdamaian. ya, siapa tahu…[a]

DEDEK PARTA-ACEHKINI

14

Cerita dari Dua Masa
32 tahun silam, dia pulang mengobarkan api perang. Setelah hampir tiga dekade di pengasingan, ia kembali untuk memupuk benih perdamaian.

oleh

NURDIN HASAN

FOTO: YO FAUZAN-ACEHKINI

LANGKAH LELAKI TUA ITU TERHENTI sejenak di pintu pesawat. Dua bola mata dari balik kacamata tebal menatap tajam, menyapu sekeliling. Antara bahagia dan sedih yang menggelayut di rona berkerut, memancarkan keharuan mendalam, melambaikan tangan kanannya sejenak. Dialah Tengku Hasan Muhammad di Tiro atau biasa dipanggil Hasan Tiro, 83 tahun. Siang itu, 11 Oktober lalu, sang deklarator Aceh merdeka mengunjungi tanah kelahirannya, setelah hampir 30 tahun ditinggalkan. Satu per satu anak tangga pesawat komersil milik maskapai penerbangan Firefly ATR 72-500, yang khusus dicarter di Malaysia dituruninya,
ACEHKINI November 2008

15

dengan iringan lantunan suara azan. Jumlah anak tangga pesawat itu, hanya lima. Tapi, tiga orang tetap memapah tubuh renta yang dibalut jas hitam itu, hingga ia menginjak tanah, bersamaan dengan berakhirnya lantunan azan. Suasana tenang, tiba-tiba berubah gaduh. Orangorang merangsek, coba mendekat. Dua lembar sajadah telah disiapkan dekat tangga pesawat. Dibantu seseorang, yang memegang bagian belakang bawah ketiaknya, Hasan Tiro bersimpuh di atas sajadah, melaksanakan sujud syukur. Jidatnya menyentuh ujung sajadah warna merah marun. Ratusan pengikut setianya serta sejumlah pejabat dari berbagai daerah Aceh, sejak pagi mulai berdatangan ke Bandara Sultan Iskandar Muda di kawasan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Di seputar pagar bandara yang sedang dibangun itu, ribuan warga rela berdiri dalam terik mentari, yang membakar kulit. Sekitar 80 menit sebelumnya, satu pesawat sejenis mendarat. Para wartawan bersiap-siap, mengabadikan momen yang sekian jam ditunggu. Tapi jurnalis kecele, karena turun dari pesawat bukan orang yang dinanti. Mereka hanyalah bagian dari delegasi Hasan Tiro. Beberapa di antaranya menenteng spanduk, isinya tentang ucapan selamat datang atas kepulangan Hasan Tiro, yang telah menjadi warga negara Swedia. Usai sujud syukur, dua perempuan dituntun merapat ke hadapan Hasan Tiro. yang satu adalah Siti Aisyah, adik tiri Hasan Tiro, dan seorang lagi Pocut Sari, istri almarhum Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe –mantan menteri keuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Aisyah memeluk tubuh Hasan Tiro. Airmata bening membasahi kelopak mata kedua kakak beradik itu. Sementara Pocut Sari mengalungkan bunga ke leher Hasan Tiro. Bersamaan dengan “momen reuni keluarga” itu, saling dorong antara sesama penjemput tak terelakkan lagi. Mereka ingin bersalaman dengan tokoh, yang oleh gerilyawan GAM disapa wali nanggroe itu. Terdengar teriakan entah dari mulut siapa, “Hoi! bek meutulak-tulak. Malee teuh geukalon le wali.” Ada juga teriakan, “Bek ilee salaman ngon wali, buka jalan keu wali nak geujak.” Keadaan tetap gaduh, seperti tak terkendali. Para pengawal khusus bersafari hitam dipadu selempang warna merah, putih, hitam, yang sebelumnya sigap mengatur keamanan, terkesan tak berdaya. Aisyah yang renta sempat terjepit. Untung, ada seorang pemuda berbadan tegap mengangkat tubuh ringkihnya, membawa keluar dari kerumunan massa. Dewi Mutia – istri wakil gubernur Muhammad Nazar, sigap menuntun tubuh Aisyah, 81 tahun, yang limbung. Hasan Tiro segera dimasukkan ke mobil 16

YO FAUZAN-ACEHKINI

mewah Land Rover, seri Free Lander 2, bernomor polisi BK 20 SD. Suara rapa’i Pase yang ditabuh puluhan orang di atas dua truk interkuler, memeriahkan iring-iringan perjalanan rombongan dari bandara menuju pusat kota Banda Aceh. *** DI PENDOPO GUBERNUR ACEH, seratusan orang menanti. Gubernur Irwandi yusuf dan wakilnya Muhammad Nazar, berbaur bersama pejabat pemerintah Aceh, bekas gerilyawan GAM, dan jurnalis. Sedangkan, warga bergerombol di luar pagar. Menurut jadwal, Hasan Tiro dan rombongan langsung ke tempat itu, untuk dipeusijuek. Beberapa mantan tokoh GAM, seperti halnya Irwandi, yang satu pesawat dengan Hasan Tiro, telah lebih dulu tiba di bangunan bekas istana kerajaan Aceh masa silam. Namun yang ditunggu tak juga muncul. Ternyata di tengah perjalanan, mobil yang membawa Hasan Tiro memutuskan belok arah, langsung menuju Masjid Raya Baiturrahman, tempat ratusan ribu massa telah membludak, sejak pagi. Ribuan bendera Partai Aceh berkibar di antara massa. Ada juga bendera besar ditancap pada tembok tengah halaman masjid dan crane di jalan luar masjid. Mobil Land Rover masuk ke halaman masjid, dan parkir dekat panggung yang telah disiapkan. Kursi plastik terjejer di atas panggung. Hasan Tiro dan para bekas petinggi GAM duduk di situ. Beda dengan tempat lain yang dikunjungi, terkesan panggung itu tak ditata dengan baik dan rapi. Massa bersorak-sorai, mengacungkan tangan ke angkasa. Usai mengucap salam, dengan suara

serak, Hasan Tiro berujar, “Lon katrok teuka u Aceh.” Ia hanya melambaikan tangan ke arah massa, yang menyemut di halaman masjid. Hanya itu kalimat keluar dari mulutnya. Kalimat serupa juga diucapnya ketika bertandang ke beberapa daerah di Aceh. Selain faktor usia yang telah memasuki senja, Hasan Tiro pernah diserang penyakit stroke, sehingga sulit berkomunikasi dengan lancar dan jelas. Selanjutnya mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, membaca amanat Hasan Tiro, dalam bahasa Indonesia. Isinya, perdamaian yang telah dirasakan selama tiga tahun lebih merupakan rahmat dari Allah. “Belum pernah terjadi dalam sejarah Aceh selama berada dalam penjajahan dan pendudukan bangsa asing, rakyat mendapatkan kebebasan dan perdamaian menyeluruh seperti sekarang,” ujarnya. Dia juga menyeru semua komponen masyarakat, untuk menjaga perdamaian, yang disepakati dengan Pemerintah Indonesia, di Helsinki, tiga tahun silam. Memelihara perdamaian, kata dia, jauh lebih mahal daripada biaya perang. “Peliharalah kedamaian ini untuk kesejahteraan kita semua,” kata Hasan Tiro, dalam pidato yang dibacakan Malik Mahmud. Beberapa pria bertengger di jendela masjid, untuk sekadar bisa melihat Hasan Tiro. Menjelang pidato usai, dalam masjid ada kesibukan. Sejumlah panitia membentang hamdal dari pintu depan hingga dekat mimbar, karena menurut informasi yang mereka dapat, Hasan Tiro akan masuk ke dalam masjid. Tapi hingga acara usai, dia tak masuk ke masjid, tapi langsung dibawa ke pendopo. Pesan damai juga diucap saat Hasan Tiro berkunjung ke Pidie, Lhokseumawe, Peureulak, dan Meulaboh, bahkan Jakarta

NURDIN HASAN-ACEHKINI

saat bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selama 15 hari Hasan Tiro berada di Aceh, tak ada insiden kekerasan terjadi. Massa yang sempat tumpah ke Banda Aceh, sejak dua hari sebelum Hasan Tiro tiba, kembali pulang begitu acara di masjid bubar. *** SABTU PAGI, 30 OKTOBER 1976, SEBUAH boat merapat di pantai desa nelayan Pasi Lhok, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Satu di antara 28 orang di atas geladak boat itu adalah Hasan Tiro, yang pulang ke Aceh untuk mengobarkan api perlawanan terhadap pemerintah Jakarta. Dalam buku “The Price of Freedom”, cacatan hariannya selama hampir 3,5 tahun bergerilya di Aceh, Hasan Tiro menulis, karena orang yang dicari tidak berada di tempat, dia memerintahkan kapten boat, menjauh dari bibir pantai. Orang yang dicarinya itu adalah Muhammad Daud Husin alias Daud Paneuk, panglima perang GAM pertama. Ia telah meninggal dunia di Swedia, 26 Maret 2003. Di tengah laut Selat Malaka, menjelang senja, Hasan Tiro naik ke sebuah boat nelayan berukuran kecil. Akhirnya dia berlabuh di Kuala Tari, tidak jauh dari Pasi Lhok. Di bibir pantai telah menunggu Daud Paneuk, bersama sejumlah anak buahnya. “Inilah malam pertama aku berada di tanah leluhur setelah 25 tahun mengasingkan diri di Amerika Serikat,” tulis Hasan Tiro. Februari 2006, jurnalis ACEHKINI yuswardi A Suud pernah menelusuri jejak
ACEHKINI November 2008

sejarah di Kuala Tari. Kala itu, dia bertemu Muhammad Amin, seorang lelaki renta, yang tak ingat persis usianya. Tapi warga setempat memperkirakan, dia telah berumur 90 tahun. Nama Amin tidak tercatat dalam buku harian Hasan Tiro. “Tak disebut pun tidak apa. Saya memang sudah tua, tapi saya tak bisa melupakan peristiwa itu,” kata Amin. Kepada yuswardi, dia lalu memutar kembali kisah silam. Amin bercerita: pagi itu di jalanan, ia bertemu sekelompok pemuda yang mengabarkan kedatangan Hasan Tiro. Mereka mengaku diutus untuk menjemputnya. Terang saja, Amin kaget mendengar kabar itu. Setelah menggantikan celana, ia mengajak empat rekannya, lalu menuju ke tengah laut, memakai boat ikan milik menantunya. Satu jam perjalanan, tiga mil dari daratan, Amin melihat sebuah boat besar di tengah laut. Di kapal, kata Amin, ia lihat delapan pria bermata sipit: sebagian berjaga-jaga, sebagian lagi sedang memasak. Salah satu dari mereka berlari ke dalam memanggil Hasan Tiro. ”Mereka orang Muangthai,” terang Amin. Ia ingat benar, Hasan Tiro muncul memakai jas dan sebuah koper di tangan. Hasan juga membawa senjata: dua senjata panjang dan tiga pistol. Mereka berjabat tangan dan berbasa-basi sejenak. Hari masih pukul 10.00 pagi. Saat itu, Hasan Tiro ingin secepatnya mendarat. Namun, Amin mencegah. ”Saya bilang, kalau mau mendarat harus sabar dulu. Siang, keamanan tak terjamin,” kata Amin.

Hasan Tiro setuju. Mereka baru berangkat menjelang senja. Boat berisi orang-orang bermata sipit, langsung putar haluan begitu Hasan Tiro meloncat ke boat kecil milik menantu Amin. Pukul enam sore, boat berlabuh di Kuala Tari. Dia lalu mengirim utusan untuk mencari Daud Paneuk dan Imum Wahab, dua orang kepercayaan Hasan Tiro. Tugas Amin hari itu selesai. Pertemuan Amin dan Hasan Tiro tak berhenti di situ. Dia mengaku pernah beberapa kali dipanggil ke Tiro. Ada pengalaman lucu yang masih dikenang Amin. Suatu hari, ketika sedang makan nasi memakai tangan, nasi itu tidak masuk ke mulut Hasan Tiro, melainkan berlumuran di wajahnya. ”Mungkin karena beliau sudah terbiasa makan roti di Amerika sana,” ujar Amin sambil terkekeh, menampakkan gusi tak bergigi. Amin bukan pemain baru dalam perang gerilya. Sejak melawan Jepang, dia mengaku pernah berhasil merebut senjata tentara Nippon. Masa DI/TII, ia ikut berjibaku di medan laga. Saat GAM muncul, ia beberapa kali harus keluar masuk penjara, ditangkap tentara pemerintah. Di usia senja, Amin tak lagi bergerilya. Sehari-hari, ia menghabiskan waktu di bawah rumah panggungnya yang reot di Pasi Lhok. ”Pahit atau manis, sejarah tetap sejarah,” ujar Amin. Ketika pemerintah dan GAM sepakat berdamai, dia menyambut dingin. Amin tak bisa reuni dengan Hasan Tiro, karena ajal telah lebih dulu datang menjemputnya. [a] 17

Reuni Kapten dan Penyerang
Hasan Tiro mahir menggiring si kulit bundar. Tendangannya kerap membobol gawang lawan.
oleh

UTAMA | WALI NANGROE

FAKHRURRADZIE GADE dan JAMALUDDIN ( pidie )
di Blang Paseh, kedua sahabat karib itu tak pernah lagi bertemu. Tapi, jarak yang memisahkan keduanya tak lantas membuat mereka saling melupakan. Azhari selalu mengikuti perkembangan Hasan Tiro melalui surat kabar. Begitu pula, saat kabar Hasan Tiro pulang kampung, 11 Oktober silam. “Saya selalu berdoa agar Allah memanjangkan umur saya dan bisa bertemu Hasan Tiro,” kata Azhari. Doa itu dilafalkannya setiap usai menunaikan salat lima waktu. Doa itu pula yang disampaikan Azhari saat bersua dengan Hasan Tiro, di rumah adiknya di Dusun Tanjong Bungong, Desa Mali Cot, Kecamatan Sakti, Pidie, 14 Oktober silam. “Sekarang, doa saya terkabulkan. Kita telah bertemu sekarang,” kata Azhari. Hasan Tiro hanya mengangguk. Keduanya terdiam. Tak berapa lama, reuni dua sahabat itu berakhir karena Hasan Tiro harus bersantap makan siang. *** PERTEMUAN LIMA BELAS MENIT ITU sangat berarti bagi Azhari. Ini merupakan pertemuan yang dinanti semasa hayatnya. Begitu koran-koran mengabarkan Hasan Tiro yang di kalangan aktifis GAM dikenal sebagai wali nanggroe akan pulang ke Aceh, Azhari telah mempersiapkan diri. Kabar itu ditulisnya di secarik kertas dan ditempel di pintu rumah, dekat ranjangnya. Saban hari, dia membaca kabar itu, menanti hari kepulangan Hasan Tiro tiba. Ahad, 12 Oktober, sehari setelah Hasan Tiro menjejakkan kakinya kembali di Aceh, Azhari bersiap diri. Pagi-pagi sekali, saat matahari masih belia, dia telah datang di rumah Siti Aisyah, adik tiri Hasan Tiro. Pagi itu, Azhari mengenakan jas tua, yang dibelinya bersama Hasan Tiro dulu. Jas hitam itu lusuh sudah. Warnanya telah pudar. Lama sekali jas itu disimpan di lemarinya. “Saya tidak pernah memakainya lagi,” kata Azhari. Pagi itu, jas tua sengaja dipakainya, dipadu kemeja tua berwarna merah. “Saya pakai jas, biar sama dengan Hasan Tiro. Apalagi saya lihat dia memakai dasi merah. Saya pikir itu warna bajunya,” kata Azhari, tersenyum memperlihatkan gusi yang tak bergigi. Namun, penantian itu tak membuahkan hasil. Hasan Tiro yang ditunggui, tak kunjung datang. Jelang siang, dengan sepeda mininya, dia kembali ke rumah. Jas yang dipakainya, dilipat dan kembali

FOTO: JAMALUDDIN—ACEHKINI

“I CAN’T SPEAK ENGLISH,” KATA AZHARI saat Hasan Muhammad di Tiro menanyakan namanya. Pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu lantas bertanya dalam bahasa Arab. “Man ismuka?” “Ismi Azhari,” jawabnya. “Azhari...?” Raut wajah Hasan Tiro berubah. Ia terlihat menebar senyum. Azhari lalu dipersilakan duduk di sisi kirinya. Keduanya lantas melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam. Azhari berkali-kali meraba tangan kiri Hasan Tiro, mencubit kecil tangan kerutnya yang sudah renta. “Kita sudah tua,” katanya, masih dalam bahasa Arab. Hasan Tiro mengangguk. Azhari dan Hasan Tiro berteman sejak kecil. Dulu, mereka satu sekolah di Madrasah Diniyah Islamiyah Blang Paseh, Sigli. Hasan Tiro merupakan adik kelas Azhari. Tapi, “dia terlalu pandai,” kenang pria berusia 85 tahun itu. “Dia sering loncat kelas, sehingga saya tertinggal di belakang.” Tak mengherankan, Hasan Tiro dengan mudah bisa merampungkan pendidikan di sekolah yang diasuh Teungku Muhammad Daud Beureu-eh itu. Dia lantas bersekolah di Al Muslim Peusangan, Matang Geulumpang Dua, Bireuen. Sejak menamatkan sekolah 18

Tgk Azhari sahabat masa kecil Hasan Tiro d antara kerumunan massa di Pidie.
FOTO ATAS: JAMALUDDIN—ACEHKINI

disimpan di lemari. Besoknya, Azhari kembali mendatangi rumah Aisyah, yang berjarak sekitar 400 meter dari rumahnya. Azhari lagi-lagi harus memendam kecewa. Hasan Tiro yang ditungguinya tak jua datang. Sialnya, ban sepeda bututnya bocor saat pulang dari rumah adik Hasan Tiro. Baru pada Rabu, penantian itu membuahkan hasil. Itu pun, setelah bersusah payah menunggu sejak pagi. Hampir saja Azhari tak bisa bertemu dengan teman sekaligus idolanya. Pasalnya, pengawalan Hasan Tiro sangat ketat. Azhari yang semula hanya mau bersalaman saja, tidak bisa. Hasan Tiro keburu digiring ke rumah sang adik. “Saya didorong-dorong tidak boleh bertemu. Padahal saya hanya ingin salaman saja,” kata dia. Untung saja, beberapa pengawal Hasan Tiro dikabari bahwa Azhari merupakan teman sepermainan bos mereka sewaktu kecil. Tak berapa lama, Azhari pun digiring ke dalam rumah dan dipertemukan dengan Hasan Tiro. “Saya senang bisa bertemu Tengku Hasan Tiro. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa,” kata Azhari pada ACEHKINI usai melepas kerinduannya.
ACEHKINI November 2008

Rindu Azhari benar-benar tertunaikan, meski ia harus rela sandal kesayangannya raib entah kemana. Memang, usai bertemu teman masa kecilnya itu, dia harus rela sandal Mirado coklat miliknya hilang. “Tapi tidak apa-apa, saya senang bisa bertemu teman saya,” ujarnya. Azhari lega. Usai duduk bersanding dengan Hasan Tiro, dengan sepeda bututnya, Azhari kembali ke rumah. Kemeja hitam bermotif bunga dilepasnya. Dia langsung merebahkan diri di peraduan. “Saya senang sekali. Makanya, begitu pulang saya langsung tidur,” ujarnya. “Njoe teungeutteungeut ka mangat.” *** AZHARI INGAT BETUL MASA KECILNyA bersama Hasan Tiro. Di mata Azhari, Hasan Tiro kecil, sosok yang cerdas. Saat bersekolah di Blang Paseh dulu, Hasan Tiro sangat menyukai pelajaran berhitung dan mengaji. Tak mengherankan jika kemudian Teungku Daud Beureu-eh, pejuang Darul Islam, merekomendasikan Hasan Tiro melanjutkan pendidikan di Al Muslim Bireuen. Usai di Al Muslim, Hasan Tiro mengambil jurusan Hukum Internasional di Universitas Islam Indonesia, yogyakarta.

Menurut Azhari, saat masih di Blang Paseh, Hasan Tiro nyambi sebagai tenaga pengajar di balai pengajian yang didirikan ayahnya, Muhammad di Tiro, di Tanjong Bungong. Di balai itu, Hasan Tiro berduet dengan Azhari mengajar anak-anak sekampungnya belajar ilmu agama dan umum. Balai pengajian itu kemudian jadi cikal-bakal lahirnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Tanjong Bungong, Desa Mali Cot. “Di sana, saya dan Hasan Tiro mengajar, ganti-gantian. Ada dua guru lagi, tapi saya tidak ingat lagi nama mereka,” kata Azhari. Tak hanya pandai di bangku sekolah, Hasan Tiro kecil juga menjadi bintang di lapangan hijau. Dia pandai mengolah si kulit bundar. Azhari bilang, hampir saban hari usai sekolah atau mengaji, mereka menjejal kemampuan sepak bola. Tapi jangan membayangkan si kulit bundar yang mereka mainkan itu terbuat dari bahan kulit atau plastik. “Kami main bola boh giri,” kenang Azhari. Boh giri adalah jeruk bali. Saban hendak main bola, Hasan Tiro memetik jeruk bali di kebun neneknya. Tak jarang, Hasan Tiro harus main kucing-kucingan dengan sang nenek. “Dia dilarang main bola, karena tidak baik kata neneknya,” ujar Azhari. Karena Hasan Tiro sangat kepingin main bola, larangan itu tak dihiraukan. Dia rela saat harus “mencuri” jeruk bali di kebun neneknya untuk bisa menggiring si bundar di lapangan hijau. Azhari dan Hasan Tiro selalu berduet. Hasan Tiro sering bertindak sebagai penyerang kanan. Sedangkan Azhari di posisi kapten. “Kalau bola sudah di kaki Hasan Tiro, pasti masuk. Tendangannya keras sekali,” kenang Azhari. Mereka kerap memenangkan permainan. Bahkan, saat berlaga di kampung tetangga, duet Hasan Tiro-Azhari selalu membuat kesebelasan Tanjong Bungong keluar sebagai pemenang. Tarkam alias permainan sepak bola antarkampung menjadi favorit mereka. Jika sudah berlaga di arena tarkam, Tanjong Bungong selalu unggul. Azhari masih ingat saat mereka mengalahkan kesebelasan Titeue, Beureunuen, dan Lamlo. Dalam ajang tarkam itu, Hasan Tiro selalu berhasil menjaring boh giri ke jaring lawan. Tentu, reuni singkat antara kapten dan penyerang itu tak hendak menjejal lagi kemampuan mengolah si kulit bundar. Keduanya, kini telah renta dimakan usia. [a] 19

Menjelang Cut Bang Pulang
Sang adik mempersiapkan segalanya, demi menyambut kepulangan Hasan Tiro. Bersama warga desa pedalaman itu, dia menata semuanya, bagaikan pesta, hingga makanan kesukaan cut abang disiapkan.
FAKHRURRADZIE GADE dan JAMALUDDIN ( pidie )

oleh

MATAHARI BARU SEPENGGALAH, SAAT Siti Aisyah keluar dari rumahnya. Dia bergegas menuju kios yang ada di depan rumah. Di sana, dia bertemu sejumlah warga yang menunggu kepulangan Hasan Tiro, abang kandungnya dari ibu yang berbeda. “Nyak Liah, tolong petik kelapa beberapa butir, ya,” kata Aisyah kepada Ilyas, yang berdiri di sampingnya. Ilyas mengangguk. “Bereh njan. Buet peue yang hana bereh meunye ngon lon (Beres, pekerjaan apa yang tidak beres kalau saya yang kerjakan),” timpal Ilyas, setengah bercanda. Aisyah tersenyum. “Teungku, kapan Cut Abang pulang?” tanya Ilyas. Teungku adalah panggilan masyarakat setempat pada Aisyah. Dia hanya menggeleng. “Tidak tahu. Kita hanya menunggu, saya tidak berani tanya,” jawabnya. Aisyah meninggalkan kios. Ilyas menyusulnya. Tiba-tiba, di bawah pohon sawo, kaki Aisyah berhenti. Matanya melihat ke bawah. “Nyak Liah, nyoe pat mantong cot anoe jih, teusireuk watei tagidong (Ilyas, ini masih ada gundukan pasir. Tolong ratakan),” ujar Aisyah. Ilyas manggut-manggut. Di depan Aisyah, dua perempuan terlihat sibuk 20

menyapu daun sawo yang berguguran. Seketika, tanah kosong itu bersih. Kesibukan tak hanya di luar pagar rumah. Di pekarangan, tiga helai daun pisang muda dijemur. “Nyan on keu timphan,” kata Aisyah, sembari mempersilakan ACEHKINI duduk di bangku yang ada di sisi kanan tangga rumah Aceh. Rumah Aisyah berada di Desa Mali Cot, Dusun Tanjong Bungong, Kecamatan Kota Bakti, Pidie. Dua puluh lima meter sebelah kanan rumah, sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Desa Pande dan Tanjong Bungong, berdiri tegak. Air sungai Tiro mengalir jernih di bawahnya. Beberapa pria berkumpul. Sebagian sibuk menimbun pasir pada setiap lubang becek di halaman rumah. Ada juga yang sibuk memasang kain berwarna merah bergaris hitam di sepanjang jalan menuju rumah. Banyak pula yang hanya duduk di depan sebuah kios, tak jauh dari jembatan. Rumah Aisyah seketika berganti rupa. Di dalam rumah, para wanita berkumpul. Seperti ada pesta besar. Mereka sibuk mempersiapkan makanan khas Aceh, seperti timphan, ketan, dan kuah pliek u. Nyak Aisyah juga tak mau ketinggalan. Dia ikut memasak bersama puluhan perempuan

Persiapan menyambut Hasan Tiro di Tanjong
FOTO: JAMALUDDIN dan FAKHRURRADZIE GADE—ACEHKINI

Bungong, Pidie (atas); Siti Aisyah melepas rindu dengan Cut Bang (bawah).

di dapur rumahnya. Meski usianya sudah mencapai 81 tahun, namun Aisyah masih gesit. Ia ingin menyajikan masakan khusus untuk Cut Bang Hasan Tiro, langsung dari tangannya sendiri. “Gobnyan deumpeue makanan galak, hana meuceh-meuceh, kuah pliek gobnyan pih galak syit (Abang suka makan apa saja, tak pilih-pilih, tapi yang paling digemari adalah kuah pliek)”, ujar Aisyah dalam bahasa Aceh, sembari memanggil keponakan agar menyediakan minuman bagi tamu yang datang. Kisahnya, semenjak kepergian Hasan Tiro menuntut ilmu ke Bireuen dan kemudian ke luar negeri, dia nyaris tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah tempatnya dilahirkan dulu. “Cut bang pernah pulang sekali tahun 1971, namun hanya sebentar,” lanjut Aisyah. Dia bercerita, Hasan Tiro muda pernah mengajar pendidikan agama pada sejumlah anak-anak desa, di balai belakang rumah. Kini, tempat itu telah menjadi sebuah dayah.
ACEHKINI November 2008

Menjelang kepulangan Hasan Tiro, dayah tempat pengajian inipun turut dipermak. Halamannya ditaburi pasir, tempat wudhuk yang dulunya bocor sudah ditambal. Selang beberapa meter dari dayah, ada tempat pemakamam. Makam itu juga telah bersih dari rumput dan daun-daun yang berguguran. “Di sini kuburan orang tua dan abang kandungnya ‘wali’, sejak seminggu lalu sudah dibersihkan,” ungkap Waled, seorang warga sekitar. Dia juga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua hari menjelang Tiro pulang kampung, Wakil Bupati Pidie, Nazir Adam, sempat mengunjungi rumah Aisyah, melihat persiapan. Dia menyumbangkan sejumlah pasir untuk ditimbun di halaman balai. Sedangkan camat setempat juga ikut membantu pompa air untuk dayah. Urusan kebersihan bagian warga, yang bergotong royong mengecat dayah, menimbun jalan sampai memasang pompa air. Dua hari kemudian, penantian Aisyah dan warga untuk melihat raut muka Hasan Tiro terwujud. Dari sebuah mobil mewah bernomor polisi BK 20 SD, kaki deklarator GAM, kembali manapaki menginjak rumah tempat ia dibesarkan. Aisyah tak mampu berkata-kata. Dari matanya yang penuh kedutan, bulir air mulai mengalir. Sesekali pandangannya dikaburkan oleh ramainya warga yang saling berebutan menyapa, “wali”. Di pelukan sang abang, prosesi sipreuk breuh pade dilakukan, pertanda permohonan berkah dari yang Maha Kuasa. Ucapan syukur terus meluncur dari bibir tua Asiyah yang tak pernah tersentuh lipstik itu. “Alhamdulillah…” ucapnya bergetar. Beberapa pria renta berjejer di bawah tangga rumah. Mereka kawan sepermainan Hasan Tiro kecil. Sama seperti warga Tanjong Bungong lain, mereka mencuri mata untuk melihat sosok yang selama ini jauh dan hanya didengar nama. Pandangan mereka kerap terusik dengan tubuh kekar para pasukan pengawal. Mereka hanya melihat ‘wali’ dari celah sempit tubuh tim apet yang menjaganya masuk ke rumah. Di dalam rumah, dia disanding di kasur pelaminan yang telah dipersiapkan. Hasan Tiro tersenyum dan selalu bertanya nama kepada setiap kerabat yang menyalaminya, termasuk pada adiknya Nyak Aisyah. Padahal saat penjemputan di bandara, Aisyah pernah bertemu muka dan berangkulan. Malik Mahmud, setia menyegarkan ingatan Hasan Tiro. “Thank you, thank you…” Kata itu tak pernah lupa dia ucapkan. Pada kerumunan keluarga di dalam rumah, seorang cicitnya membalas, “I miss you, Abu chik”. [a] 21

Kolom

“Jalan Apa Saja...”
Aboeprijadi Santoso
koresponden Radio Nederland di Jakarta.
MASIH SEGAR DALAM INGATAN SAyA, April 1989, dengan rasa pingin tahu, saya bergegas naik kereta api dari Amsterdam menuju Den Haag, Belanda. Di sana, di sebuah rumah di lantai II, Bazaarstraat no. 50, yang menjadi kantor Republik Maluku Selatan, telah menanti Presiden RMS (alm) Ir. Johannes Manusama dan tamunya, Teungku Chik Hasan Muhammad di Tiro. Aha, ini dia Teungku Hasan yang namanya tenar di mata pers asing dan cemar di mata Jakarta. Pak Manusama saya kenal, banyak senyum. Sementara Teungku Hasan berwajah serius, tapi santai. Suasana itu cukup cairlah buat seorang wartawan Indonesia - asal Jawa pula - untuk bertemu dua tokoh separatis yang beranggapan bahwa negeri mereka sedang dijajah oleh sebuah negara yang dikuasai orang Jawa. Percakapan dalam bahasa Inggris segera meluncur tentang Gerakan Aceh Merdeka, GAM. Teungku Hasan dengan bangga memperlihatkan sebuah majalah Arab berbahasa Inggris yang memuat foto-foto sejumlah pemuda Asia berlatih perang di Libya. Inti ceritanya: GAM tetap berjuang menyiapkan Aceh merdeka. Celakanya, mingguan berita yang menerima usulku dan menugasi mewawancarai bos GAM ini, melakukan sensor berat, bahkan memutarbalikkan cerita (majalah itu kini sudah tiada). Enam tahun kemudian, 1995, saya temui lagi Teungku Hasan di sela sela sebuah konperensi internasional di Den Haag. Saya minta maaf atas publikasi 1989 yang memalukan tadi. Toh Teungku Hasan bersedia diwawancarai, bahkan dalam bahasa Indonesia, namun kali ini untuk Radio Nederland. Wajahnya angker, tegar, tapi berbicara jelas. Bagi Teungku Hasan, setiap perjuangan harus bertumpu pada kekuatan sendiri. Aceh adalah korban agresi Jawa yang 22 “berkedok Indonesia”, katanya bernada marah. “Kemerdekaan harus kita pertahankan sendiri, atau rebut sendiri ... Untuk perkara ini, saya mengharapkan banyak dari saya sendiri, dari bangsa Aceh sendiri, dan dari bangsa bangsa lain. ... Tiap tiap perjuangan mengharapkan kemenangan, lekas atau tidak”. Melalui cara apa, Teungku, tanyaku. Jawabnya: “Dengan jalan apa saja.” Kita tahu, Jakarta, dalam hal ini tentara, juga memilih jalan yang sama “jalan apa saja” - menuju kemenangan. Juga dengan kekejaman. Dan, kita pun tahu, dua dasawarsa kemudian, akibatnya menyengsarakan semua pihak, terutama derita nestapa masyarakat setempat.
FOTO: CHAIDEER MAHYUDDIN—ACEHKINI

Teungku Hasan di Tiro berupaya mengembalikan sejarah Aceh kepada Aceh dengan meredefinisikan perjuangan Aceh dari jalur politik-religius (Darul Islam Abu Daud Beureu’eh) ke jalur kebangsaan. (Wawancara mantan kurir Daud Beureu’eh Suheluddin Sanusi Juangga Batubara, Radio Nederland 19 Des. 2003; Lihat juga studi Nezar Patria 2006). Kita boleh setuju atau pun tidak, tapi di situ redefinisi Aceh berimplikasi menuntut redefinisi Indonesia. Tapi kita juga tahu, pendiri GAM itu tidak mendapatkan faktor ketiga yang disebutnya tadi, yaitu dukungan dunia. Kita pun tahu, Jakarta tidak memperoleh semua hal, misalnya parpol yang serba nasional dan terpusat. Tapi meja runding Helsinki 2005 itu menghasilkan apa yang paling diinginkan rakyat Aceh: perdamaian. Sejarah Aceh menunjukkan, bangsa Aceh tak hanya mampu berperang, tapi juga mampu berdamai di kala sudah terikat perjanjian damai, begitu cerita pengamat sejarah Pak Ramli Daly. Dan perdamaian itulah yang diserukan Teungku Hasan sepanjang muhibah saweue gampongnya pertengahan Oktober lalu. Pantas, rakyat Aceh menyambut Teungku Hasan di Tiro dengan hangat dan meriah. Di situ tersirat bahwa dinamika sejarah mutakhir Aceh telah mengubah peran dan citranya, dari sekadar pemberontak dan deklarator “Aceh Merdeka”, menjadi pemersatu. Dengan begitu, gelar Wali Nanggroe yang disandangnya seharusnya menjadi simbol Aceh yang bersatu. Apa pun, penderitaan rakyat berkat konflik dan tsunami itu pada dasarnya telah melandasi tuntutan perdamaian, sekaligus memungkinkannya. Karena itu, perdamaian harus terjaga. Dengan jalan apa saja.

Berbagi Anggur Pengawal ‘Wali’

Di balik wajah beringas pengawal Hasan Tiro, tersimpan cerita menggelitik.
oleh

DASPRIANI y ZAMZAMI
Sultan Iskandar Muda, Paswalwal sudah unjuk gigi. Ketika Hasan Tiro sudah masuk ke mobil Land Rover BK 20 SD, mereka berlarian di sisi mobil sampai keluar landasan pacu. Inilah tim yang dipilih karena dinilai punya ketajaman dan kewaspadaan khusus. Diseleksi dari bekas tentara GAM. Konon, mereka pernah mendapat pelatihan perang di Libya. Dari 360 personil pasukan dikerahkan, 30 di antaranya

FOTO: YO FAUZAN—ACEHKINI

BERPAKAIAN SERBA HITAM, DENGAN selempang kain merah-putih-hitam, keenam pria itu selalu menempel di sisi Hasan Tiro. ya, mereka adalah pengawal khusus ‘sang wali.’ Jika Presiden Susilo Bambang yudhoyono punya Paspampres atau pasukan pengamanan presiden, maka Hasan Tiro punya pasukan pengawal wali. Di kalangan beberapa wartawan, mereka disebut Paswalwal. Saat Hasan Tiro mendarat di Bandara
ACEHKINI November 2008

adalah pengawal inti yang selalu berada di sisi Hasan Tiro. Mereka menempel ketat kemanapun Hasan Tiro bergerak, walau ke kamar tidur sekalipun. Mungkin karena punya latar belakang militer, raut wajah mereka terlihat keras, berkulit hitam, dan ogah senyum. Tak jarang mereka harus berteriak menghalau massa yang ingin mendekati Hasan Tiro. ya, namanya juga pengawal khusus. Meski begitu, kadang mereka kecolongan. Seperti terjadi di rumah adik Hasan Tiro di Tanjong Bungong, Pidie. Meski Paswalwal sudah membuat pagar betis untuk menghalangi kerumunan orang yang berniat menyalami Hasan Tiro, tapi warga terus mendesak, merangsek, mendekat tokoh yang di kalangan GAM dipanggil wali nanggroe itu. Seorang lelaki tua yang berhasil mendekat, langsung mendaratkan dua kecupan di kedua pipi Hasan Tiro, persis seorang pria sedang kasmaran mencium wajah kekasihnya. Walhasil, wajah pengawal merah padam, sembari berteriak dengan bahasa Aceh yang kental, ”Jangan ada lagi yang mendekat, tak boleh ada yang bersalaman.” Sang kakek yang kabarnya sahabat kecil Hasan Tiro tersenyum puas dan berlalu dari kerumunan, tanpa memperdulikan kemarahan pengawal. Kali lain, saat Hasan Tiro hendak berziarah ke makam keluarganya, pengawal malah menghilang. Usut punya usut, ternyata para pengawal sedang menyantap makanan yang disediakan di halaman rumah. “Ayo kita makan dulu, soalnya dari tadi belum makan nasi,” ujar seorang pengawal. Rekannya menghampiri, lalu menawarkan tiga butir anggur yang ada di genggaman. “Ayo makanlah, anggur ini enak kok rasanya,” ujarnya, sambil menyerahkan tiga butir anggur kepada temannya. Tapi tiba-tiba si pengawal mengambil lagi sebutir anggur itu, sambil berkata, “Eh, yang satu buat aku saja, aku juga ingin makan anggur.” Sedang asyik-asyiknya berbagi anggur, eh, tiba-tiba ada teriakan, ”Pengawal! mana pengawal, ayo mana pengawal!” Teriakan itu ternyata datang dari seorang pengawal lain yang sudah berada di halaman rumah bersama Hasan Tiro. Sontak kegaduhan pun terjadi. Mereka berlarian menuju arah Hasan Tiro, bersiap bertugas lagi, meski makanan di piring belum habis. Mereka pun berlari kecil di samping mobil menuju areal pemakaman. Cerita lain adalah seorang pengawal tanpa uniform hitam-hitam. Dia bertugas menjaga makanan. Setiap makanan yang disaji buat Hasan Tiro, pasti dicicipinya terlebih dulu. “Nyoe kuah, jeut wali,” ucap sang pengawal setiap waktu makan tiba. Setelah memastikan makanan aman, barulah ‘sang wali’ makan. yah, pengawal juga manusia. [a] 23

Galeri Foto

DEDEK PARTA—ACEHKINI

CHAIDEER MAHYUDDIN—ACEHKINI FAKHRURRADZIE GADE—ACEHKINI

24

DEDEK PARTA—ACEHKINI

CHAIDEER MAHYUDDIN—ACEHKINI

YUSWARDI ALI SUUD—ACEHKINI

DEDEK PARTA—ACEHKINI

ACEHKINI November 2008

DEDEK PARTA—ACEHKINI

25

Bisnis

Ekonomi &

MICROFINANCE

Bagai Ayam Menemukan Induk
oleh

DASPRIANI Y ZAMZAMI

FOTO: HASBI AZHAR—ACEHKINI

DI ANTARA BAU REMPAH-REMPAH menyengat, Ilhamnir, 42 tahun, menyeka keringat sambil menghitung karung yang ‘hilir mudik’ di tokonya, di kawasan jalan T Cut Ali, Banda Aceh. Hari itu, dia memuat sejumlah barang ke mobil pick up untuk dikirim ke Medan. Ilhamnir bukan pedagang besar. Dia hanya penjual rempah. Itupun dilakoninya usai gelombang raya melanda Aceh. Sebelumnya, dia hanya seorang kuli angkut barang di toko 26

rempah milik pamannya sendiri. Toko itu pula yang dikelolanya sekarang. Empat tahun silam, air laut sempat melumat segala isi toko, tanpa sisa. Ilhamnir mulai menghidupi kembali usaha peninggalan pamannya itu dari nol. “Modal awal saya hanya dua setengah juta,” jelasnya. Dana itu dipinjamnya dari Baitul qiradh Bina Insan Madani (BIMA). Dia mengembalikan pinjamannya tepat waktu. Walhasil, lembaga perkreditan itu memercayainya untuk meminjam modal lebih besar, bahkan hingga tiga kali. “Al-

hamdulillah, nilai terakhir 10 juta,” katanya. Kini semua dana bergulir itu sudah dilunasinya. Kisah berbeda dialami T Ismail, 73 tahun. Mantan karyawan perusahaan raksasa minyak, Mobil Oil di Lhokseumawe, ini justru sempat menikmati masa jaya. Sambil bekerja, dia meluangkan waktu mengembangkan usaha angkutan umum L 300. “Tapi semuanya ludes, karena kami bangkrut, pas ketika saya pensiun dari pekerjaan saya di Mobil Oil,” kenang Ismail. Frustasi sempat mencekik, bahkan

stroke mengerogoti tubuhnya. Walau begitu, semangat untuk bangkit belum padam. Sembuh sakit, ia beranikan diri mengadu nasib di Banda Aceh. “Kami menumpang sama anak. Tapi tidak mungkin selamanya,” kata Cut Aisyah, sang istri. “Kami memutuskan untuk berjualan pecal.” Kini, Ismail dan istrinya melabuh hidup puluhan meter dari kantor lurah Peuniti, Kecamatan Baiturahman. Harapan Aisyah tercapai. Pasangan ini akhirnya berjualan pecal untuk memenuhi kebutuhan seharihari. ”Usaha kami ini kecil saja, alhamdulillah modal awalnya kami dapat dari Baitul qiradh BIMA,” jelasnya. Keluarga ini juga tak sekali menerima asupan modal. BIMA sudah mengucurkan dana hingga tiga kali. Menurut Mufti AlMahfudz, manager pembiayaan BIMA, nasabahnya ini selalu menepati janji melunasi kredit. Jadi saban dibutuhkan, pinjaman modal pasti turun kembali. Tak semua nasabah BIMA mengembalikan uang tepat waktu. Bahkan ada yang mangkir. Mufti menilai, masyarakat masih menganggap pinjaman baitul qiradh adalah dana dari pemerintah. Padahal, dana bergulir. ”Prinsip dana pemerintah tidak perlu dikembalikan, masih kuat mengalir di masyarakat,” kata Mufti. Padahal, jelasnya, untuk mendapatkan pinjaman cukup mudah; hanya ajukan permohonan dan bukti calon nasabah punya

usaha. Batas tertinggi mencapai Rp 10 juta. Tak ada bantuan bagi yang tidak punya usaha. Mufti pantas cemas, sebab umur baitul qiradh sangat bergantung pada pengembalian modal dari nasabah. Riwayat kritis pernah dialami Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Banda Aceh, selepas dilumat gelombang raya. Dana yang telah beredar di masyarakat, sulit dijaring kembali. Baitul qiradh Baiturrahman, salah satu yang megap-megap di masa sulit itu. Bahkan nyaris tinggal nama. Untunglah, kedeputian ekonomi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, punya siasat jitu memperpanjang nafas LKM di Aceh. Caranya, membentuk Aceh Micro Finance (AMF), lembaga payung yang menyuplai dana dan membimbing LKM. BIMA dan Baiturrahman mendapat nikmat kehadiran AMF. Kedua lembaga ini masing-masing meraup pinjaman Rp 900 juta. Sekarang dana itu telah dilunasi. Kelak setelah BRR tamat, konon AMF ini akan dikelola 11 LKM yang ada saat ini. Bagi Nora Faulina, direkur Baitul qiradh Baiturrahman, AMF adalah kerinduan lamanya. ”Dari dulu kita tidak ada wadah yang memantau dan membina,” katanya. Tanpa AMF, menurut Nora, tak ada rasa peduli sesama baitul qiradh. Semuanya bergerak sendiri-sendiri. Kondisi ini pula yang dimanfaatkan ‘nasabah nakal’. Sehabis

pinjam di baitul qiradh satu, lalu sedot lagi di lembaga lain. Kondisi ini membuat perputaran uang tak meluas. “Jadi seperti anak ayam kehilangan induk, yang besar ya tumbuh besar, yang kolaps ya kolaps ndak ada yang bantu,” jelas Nora. “Tidak ada pengawasan eksternal kontrol, dan kondisi ini sungguh disayangkan.” Sewaktu AMF diluncurkan, pengelola LKM berharap AMF benar-benar menjadi lembaga sekundernya koperasi. Namun di tengah jalan, harapan itu mulai pudar. Lembaga itu, kini jarang memantau operasinal baitul qiradh. Mufti berharap, tak hanya dana yang disuplai AMF, tapi juga memberdayakan kinerja. “Peran AMF terasa makin kendur, saya tak tahu pasti apa alasannya, seharusnya ini perlu terus ditingkatkan,” jelas Mufti. “Akibatnya banyak LKM, yang awalnya segar, tapi kemudian kembali loyo karena kehabisan dana.” Nora juga berpendapat demikian. Harapannya bisa menyampaikan uneg-uneg, menimba ilmu dan mencari solusi untuk mengembangkan baitul qiradh pupus. Menurutnya, tak adanya lembaga payung membuat baitul qiradh seakan melata. ”Sudah 20 tahun keberadaan LKM, tapi belum ada prestasi,” keluh Nora. [a]

Baitul Qiradh Bina Insan Mandiri.
FOTO: DEDEK PARTA—ACEHKINI

ACEHKINI November 2008

27

MICROFINANCE

Carut Marut Kredit Nanggroe.

Kredit peumakmu nanggroe, mengancam nanggroe tak jadi makmur.

oleh

MISMAIL LAWEUENG

FOTO: DEDEK PARTA—ACEHKINI

GARA-GARA KREDIT PEUMAKMU nanggroe, Aminullah Usman, nyaris tak lelap tidur. Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh itu, bingung bagaimana cara menagih utang pada 2.180 orang. Tak sedikit pundi-pundi rupiah brankas bank yang belum kembali, jumlahnya mencapai Rp 8,8 miliar. Sebenarnya, kredit yang diluncurkan Mei tahun lalu itu, bertujuan mempercepat program pemberdayaan ekonomi bagi pengusaha kecil ekonomi lemah. Hingga akhir Agustus lalu, nasabah yang menerima kredit tersebut tercatat 16.857 orang. Untuk perorangan batas pinjaman mencapai Rp 15 juta. Sementara untuk kelompok dengan jumlah lima hingga sepuluh orang, BPD memberi dana maksimal Rp 100 juta. Tenggat pelunasan juga terbilang longgar. Nasabah yang meminjam untuk modal usaha, batas akhir pelunasan dua tahun. Sedangkan, untuk kredit investasi tiga tahun. Selain waktu pengembalian yang menguntungkan, bunga tak mencekik, hanya lima persen dari pinjaman. Terang saja jumlah peminatnya ramai. "Uang yang tersalur sampai sekarang mencapai Rp 44,6 miliar," ujar Aminullah, akhir bulan lalu. Kemudahan lain, bagi pengusaha “kelas jelata” yang memohon kredit di bawah Rp 5 juta, BPD membebaskan agunan. Syaratnya hanya surat keterangan tempat usaha dari kepala desa. “yang lima juta lebih baru dikenakan agunan,” jelasnya. Soal prosedur penyaluran, BPD menjamin itu sudah sesuai mekanisme. Bahkan agar akurat, data pemohon dicek ke 28

lapangan secara perorangan. Hasilnya, kata dia, nasabah yang memperoleh bantuan telah memenuhi syarat perbankan. Kemudahan itulah yang dimanfaatkan ‘nasabah nakal’. Menurut Aminullah, kredit macet mencapai 9,5 persen dari total yang tersalur sudah melampaui batas toleransi. Apalagi Bank Indonesia menetapkan batas kemacetan kredit hanya lima persen. Tak mau pusing terus berlanjut, akhirnya ia putuskan menghentikan peumakmu nanggroe. "Karena macet, kita stop salurkan kredit ini," tukasnya. Dalam kalut, Aminullah berharap nasabah segera melunasi cicilannya. Jika tidak, program ‘dana bergulir’ – yang diluncurkan Gubernur Irwandi yusuf ini— akan tamat di tengah jalan. Dampak lain, jadi beban bagi peforma BPD Aceh tahun 2008. "Jadi ini penting, semua tergantung dari kejujuran penerima kredit," katanya. Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Hamdani Hamid, juga berharap nasabah penerima kredit segera melunasi tunggakan. "Jika kondisinya seperti ini, penyaluran kredit selanjutnya pasti akan ditunda. Jadi, masyarakat juga yang rugi," ujarnya. Teuku Surya Darma, anggota Komisi C DPRA, khawatir peumakmu nanggroe

Suasana transaksi dan pelayanan di kantor pusat Bank BPD Aceh. Kredit peumakmu nanggroe yang diluncurkan pertengahan tahun lalu disalurkan melalui bank ini.
FOTO: DEDEK PARTA—ACEHKINI

karena macet, kita stop salurkan kredit ini.
— AMINULLAH USMAN Dirut PT BANK BPD Aceh

gagal. Alasannya, pengalaman silam, kredit-kredit sejenis yang disalurkan BPD Aceh hanya bisa dikutip kembali 12 persen. Lagi pula kesalahan serupa pernah terjadi saat penyaluran Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (PER) saat era Gubernur Abdullah Puteh. "Sejauh mana antisipasi BPD perlu di cek," katanya. Surya menilai kredit konsumtif justru lebih menguntungkan daripada modal kerja dan investasi, seperti peumakmu nanggroe. Ia memberi contoh kredit yang dikucurkan untuk pegawai negeri sipil. Periode 20062007, 86 persen kredit di BPD Aceh diberikan untuk pegawai negeri. Surya tak menyalahkan BPD soal kemacetan itu. Semua berjalan sesuai prosedur. Sebagai pemegang utama saham, Pemerintah Aceh berhak memerintahkan bank yang sudah berusia 35 tahun itu. Namun ada mekanisme perbankan yang sedikit rapuh dalam proses penyaluran. “Kalau tidak dilakukan secara profesional, ini akan hancur dan otomatis merugikan bank itu sendiri,” katanya. Menurut dia, BPD harus menanggung resiko akibat macetnya kredit peumakmu nanggroe tersebut. "BPD harus mampu meminimalisir kemacetan. Bagaimana caranya, ini harus koordinasi dengan pemerintah Aceh," saran Surya. Sesuai nama, kredit ini patut diacungi jempol. Tapi seiring berjalannya program, alamat rakyat tak bisa makmur karena kredit distop di tengah jalan. [a]

Politik
HUKUM POLITIK KRIMINAL

Hukum &

Para aktivis lompat pagar jadi Caleg... hal. 35

Jalan Menuju 2009

IMRAN MA—ACEHKINI

KRIMINAL

Pedang di Jalan Berlubang. Gesekan dua kelompok
bekas pejuang meruncing, ‘Pentagon Sawang’ terbelah. Kala konflik berstatus zona hitam, kini jadi ‘daerah yang perlu diperhatikan’.
ACEHKINI November 2008

29

oleh

IMRAN MA dan MAIMUN SALEH

MASJID KRUENG HAJI, KECAMATAN Sawang, Aceh Utara, tampak meriah. Di gerbang, bendera warna hijau bergambar bulan bintang dengan tulisan, “Allahu Akbar” di bawahnya, dan diapit sebilah pedang, berkibar sejak malam. “Nggak ada yang berani turunkan!” kata seorang warga, bulan lalu. Jalan penuh lubang dan kerikil di kawasan Sawang, Agustus silam, juga sempat hijau. Di antara barisan bendera merah putih, ada sebuah spanduk bertuliskan, “Wajib Berbusana Muslim” disanding dua bendera hijau di kiri dan kanan, turut meramaikan bulan kelahiran republik ini. Polisi tak ambil pusing keberadaan bendera-bendera itu. Sama sekali tak ada larangan. Menurut Kepala Polisi Resort (Kapolres) Lhokseumawe, Ajun Komisaris Besar Polisi Zulkifli, tak ada alasan hukum bagi polisi menurunkan. “Biar saja bendera itu berkibar. Anggap saja bendera bola,

karena tidak ada undang-undang yang melarang,” kata Zulkifli. “Yang dilarang itu kan bendera GAM dan bendera Bintang Kejora.” Walau mengaku tak tahu siapa yang mengibarkan, Zulkifli menduga itu milik ‘pasukan pedang’, kelompok yang kesohor dengan berbagai aksi kriminal. Tapi, polisi tak akan tinggal diam bila kelompok itu kemudian mendeklarasikan ingin memisahkan Aceh dari Indonesia. “Kami pasukan pedang, kami mau merdeka, itu baru dilarang,” jelas Kapolres memberi contoh. Bendera memang tak dilarang. Tapi polisi cukup awas dengan pasukan pedang. Sejak tiga bulan lalu, aparat polisi sektor (Polsek) Sawang sering patroli pakai mobil panser Angkutan Personil Ringan (APR). Mobil perang buatan Pindad ini, diharapkan mampu melindungi polisi dari amuk pasukan pedang. “Berfungsi untuk kendaraan evakuasi dan patroli, karena Sawang berada jauh dari pusat kota,” kata Zulkifli.

Biar saja bendera itu berkibar. Anggap saja bendera bola...
— AKBP ZULKIFLI Kapolres Lhokseumawe

These Ogoni (a Nigerian minority group) protesters marched in Washington, DC on November 10, 2006, the anniversary of the hanging of Ken Saro-Wiwa.
FOTO: GRUNDLEPUCK/FLICKER.COM/PEACECOUNCIL.NET

Zulkifli merasa tak cukup satu APR untuk menghalau pasukan pedang. Ia bahkan berharap pemerintah setempat membangun asrama polisi di Sawang. Dengan 18 personil polisi saat ini dinilainya masih kurang. ”Anggota setelah tugas, pulang. yang jaga tiga orang. Kasihan anggota di sana, kalau diserang, korban anggota,” urai Zulkifli. Polisi pantas cemas. Apalagi kecamatan yang berada di perbukitan sekitar 43 kilometer selatan Lhokseumawe itu, di zaman perang merupakan daerah basis gerilyawan, bahkan sempat dijuluki “Pentagon GAM Sawang.” Saat dalam status darurat militer diberlakukan di Aceh, camatnya harus diganti dengan perwira angkatan laut berpangkat letnan satu. Bila di era konflik status wilayah penghasil coklat, pinang dan durian ini ‘daerah hitam’, kini polisi menyebutnya; ‘daerah yang perlu diperhatikan.’ Selain daerah yang perbatasan dengan kabupaten Aceh Tengah itu, Nisam dan Meurah Mulia di Aceh Utara juga termasuk kecamatan yang berstatus sama. *** RIWAyAT PASUKAN PEDANG SENDIRI tak bisa lepas dari gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tengku Badruddin alias Gondrong atau Baron, mantan tentara GAM. Ia pernah menjabat kadi, tugasnya melantik anggota yang baru bergabung. Warga Pante Jaloeh, Sawang, itu berseberang pendapat dengan Komite Peralihan Aceh (KPA), organisasi tempat bernaung mantan tentara GAM setelah perjanjian damai ditoreh. Bagi Badruddin, perdamaian cacat sumpah saat masuk GAM yang bertujuan merdeka. Seorang sumber ACEHKINI menyatakan, Badruddin juga kesal dengan pengurus KPA, yang dianggap leluasa dan mudah mendapat proyek setelah Memorandum of Understanding Helsinki diteken. Sementara ia dan pengikutnya, diacuhkan. Dongkol Badruddin kian menjadi-jadi ke pengurus KPA, karena memasukkan namanya dalam daftar korban konflik untuk mendapat dana integrasi dari Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA). Sebenarnya dia berharap, dimasukkan

Bendera Pasukan peudeueng berkibar
kecamatan Sawang.
FOTO: IMRAN MA—ACEHKINI

30

sebagai mantan kombatan. Sebab jumlah bantuannya mencapai Rp 25 juta, lebih besar dari jatah korban konflik. Amarah Badruddin kian meluap, ia mengobrak-abrik kantor KPA dan menghancurkan komputer. “Sejak itu dia (Badruddin-red) menyatakan dirinya bukan KPA,” ujar sumber itu. Lalu, Badruddin mengobarkan perlawanan pada KPA. Ia mengorganisir mantan kombatan yang senasib dengannya. “GAM telah melanggar sumpah, menerima status masih dalam NKRI!” kata Badruddin, seperti diulang sumber yang tak ingin disebut namanya. Propaganda itu, berhasil menarik simpati 50-an mantan gerilyawan, mayoritas berpangkat rendah, mantan simpatisan dan pengangguran dari beberapa desa di Sawang. Gondrong juga menentang mantan gerilyawan yang menceburkan diri dalam politik. Ketika pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2006 lalu, dimana Ilyas Pasee dan Syarifuddin mencalonkan diri menjadi bupati dan wakil bupati Aceh Utara, Badruddin justru mengimbau warga untuk tidak mendukung pasangan dari jalur independen itu. Lamat-lamat kelompok Badruddin yang tak kebagian proyek ini, memilih jalan pintas. Aksi pertama mereka, merampas sepeda motor GL Pro milik pengelola Program Pengembangan Kecamatan (PPK) awal tahun lalu. Alasannya, pengurus lembaga itu melakukan korupsi. Waktu itu, PPK menyalurkan dana konflik dari BRA sejumlah Rp 170 juta untuk Sawang. Saat bersamaan, Husaini dan Muktaruddin, anggota KPA Sawang, dikabarkan kebanjiran proyek, termasuk ekplorasi batu koral dan batu mangga di Krueng Sawang. Mobil dan sepeda motor baru yang sering parkir di pekarangan KPA, membuat cemburu Badruddin memuncah, sebab kelompoknya membeli rokok saja sulit. “Sandal swallow saja ada yang putus dan terpaksa mereka sambung. Kek gitulah kondisi mereka,” ujar sumber itu. Gesekan kedua kelompok kian meruncing. ‘Pentagon Sawang’ akhirnya terbelah. Masyarakat yang dekat dengan KPA mendukung organisasi pimpinan Muzakkir Manaf, mantan panglima GAM itu. Sementara dukungan terhadap Badruddin juga terus mengalir. Namun, istilah pasukan pedang belum muncul waktu itu. Dalam kondisi yang tak harmonis antarbekas kombatan itu, Badruddin terus melancarkan aksinya. 13 Mei tahun lalu, di Desa Alue Garut, Sawang, sales rokok dirampok kelompok bersenjata. Peristiwa yang merugikan sales Rp 15 juta itu, diduga dilakukan “pasukan” Badruddin. Aksi berlanjut, sepuluh hari kemudian. Giliran mobil Cardi, sebuah NGO asing, disandera. Lembaga itu, sebelumnya menolak memberikan permintaan kelompok Badruddin
ACEHKINI November 2008

senilai Rp 60 juta. Langkah pria berusia 34 tahun itu terhenti sejenak, awal Juni tahun lalu, ketika timah panas bersarang di pahanya. Peluru yang disinyalir banyak pihak dari senjata kelompok ‘musuhnya’ itu merenggut nyawa Alfianurrahmah, empat tahun, anak Badruddin. Serangan sporadis di Desa Paya Leubu, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen itu, juga mencederai Ainul Mardhiah, 25 tahun, istrinya. Peluru menyambar dagu Ainul hingga tembus leher. Ia kritis. Suami istri ini sempat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) dr Fauziah, Bireuen. Lalu, menjalankan operasi di RSU Cut Meutia, Lhokseumawe, dengan pengawalan ketat belasan anak buahnya. Jurnalis hanya diizinkan mendekat, namun haram wawancara. Tak sampai sehari pria yang juga dijuluki Baron itu inap di RSU Cut Meutia, ‘pasukannya’ membawa lari kembali ke RSU dr Fauziah. Tiga hari berselang, polisi menetapkan Badrudddin sebagai buron atas aksi penyanderaan mobil Cardi dan perampokan sales rokok. Sehari berselang, polisi menangkapnya saat dalam perawatan. 18 warga yang sedang membesuk juga digelandang ke markas polisi. Dari dalam jeruji, keberadaan mobil double cabin Cardi ketahuan rimbanya, semak-semak di kawasan Buket Kubang Ngom, Desa Punteut, Sawang. Saat menjemput mobil, polisi juga menemukan lubang baru bekas penyembunyian senjata. Sepekan kemudian, setelah sempat ditahan, 12 pembesuk Badruddin dibebaskan. Sementara enam lainnya, tinggal di sel. Aparat keamanan juga memindahkan ‘si Gondrong’ ke Klinik Polisi di Lhokseumawe. Empat hari menjelang perayaan HUT kemerdekaan RI tahun lalu, Kejaksaan Negeri Lhoksukon, menyatakan berkas acara pemeriksaan Badruddin komplit. Awal September tahun lalu, dia disidangkan. Minggu pertama November tahun lalu, majelis hakim yang dipimpin Mina Nurahman menjatuhkan hukuman tujuh bulan 15 hari potong masa tahanan. Sebulan kemudian, pihak Lembaga Pemasyarakatan Lhoksukon memberikannya “dispensasi cuti bersyarat.” Hari gembira itu hanya berlangsung sekejab. Malam Jumat, 27 Desember lalu, delapan pria bersenjata mengepung rumahnya di Desa Pante Jaloh, Sawang. “Hai Gondrong, keluar!” teriak para penyerang, sebelum timah panas berhamburan dan merenggut nyawa Badruddin. Sekian bulan berlalu. Anak buah Badruddin bagai kehilangan sang induk. Tetapi, mereka tetap melancarkan aksinya, sambil terus memburu penyerang Gondrong. Namun hingga akhir hayatnya, bendera pedang tak berkibar di jalan berlubang. [a]

KRIMINAL

Kepak Sayap Kumbang Sawang.

Dalam perawatan medis, ia sempat membisik siapa penembaknya. Para pengikut berang, dendam membuncah. Polisi tak henti memburu, satu per satu kelompok pasukan pedang dicokok.
oleh

IMRAN MA dan MAIMUN SALEH

PAGI ITU, CUT MEUTIA KEDATANGAN tamu ‘kelas berat’, pria bersimbah darah dengan peluru bersarang di paha. Di sekitar ruang perawatannya, belasan pria kumal menatap awas setiap pengunjung rumah sakit umum Lhokseumawe itu. Pria-pria bersandal jepit ini, melarang wartawan bertanya apapun pada atasannya yang baru saja ditembak sekelompok orang di Desa Paya Leubu, Kecamatan Makmur, Bireuen. Pria cedera itu, Badruddin, 34 tahun, buronan polisi atas kasus penyanderaan mobil Cardi, satu LSM asing yang menjalankan misi kemanusian di Aceh. Selain itu, ia diburu polisi juga sebab merampok sales rokok, Mei tahun lalu. Pada salah seorang pengikut, dia beberkan yang menembak dirinya kelompok Husaini dan Muktaruddin. Kedua pria dimaksud, mantan ulee sagoe Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah bergabung ke Komite Peralihan Aceh (KPA) di Sawang setelah perjanjian damai. Pengikut Badruddin lalu menyimpan kedua nama itu dalam target balas dendam. Namun sebelum berhasil mencari ‘musuhnya’ itu, polisi lebih dahulu mencekok Badruddin saat dirawat di rumah 31

Ramadhan alias Madan yang diduga anggota pasukan pedang ditembak polisi.
FOTO: IMRAN MA—ACEHKINI

sakit. Dendam kesumat para pengikutnya memuncah, setelah Badruddin, untuk kedua kalinya mendapat serangan. Kali terakhir, akhir Desember tahun lalu, peluru mengambil nyawanya. (baca: Pedang di Jalan Berlubang) Beberapa hari berselang, pengikut Badruddin menemukan Muktaruddin, 35 tahun, di Meunasah Pulo, Kecamatan Sawang, sedang melayat di rumah seorang warga yang meninggal. Mantan kombatan itu disiksa, hingga luka gores di sekujur tubuhnya. Hafid, anggota KPA, juga mendapat siksa serupa. KPA tak tinggal diam. Sejumlah pengikut Badruddin ditangkap dan diserahkan ke polisi. Tuduhannya, mereka terlibat penganiayaan Muktaruddin. Tapi, polisi melepaskan kembali. Dalih polisi, mereka yang diserahkan, tak cukup bukti. Berbekal keterangan Badruddin sebelum ajal menjemputnya, polisi menangkap Husaini di Geurugok, Kecamatan Gandapura, Bireuen. Zikri, pemilik rumah, saat penggerebekan juga digelandang ke Polres Lhokseumawe malam itu. Dugaannya, Husaini yang menembak Badruddin. Hanya tiga hari berada di sel polisi, Husaini menghembus nafas terakhir. Polisi sebelumnya, sempat membawa tahanan ke rumah sakit TNI AD Lhokseumawe. Alasannya, Husaini menderita sakit paru32

paru. Tapi keluarga, tak sepenuhnya percaya, sebab, ada sejumlah bekas penganiayaan di tubuh korban. Sementara para pengikut Badruddin, tak luruh dendamnya walau polisi telah menetapkan Husaini tersangka. “Itulah anehnya, mereka tak yakin kalau Husaini yang membunuh,” ujar seorang staf lembaga pemantau perdamaian yang tidak mau

disebutkan namanya. Sumber itu juga menyebutkan, kelompok ini mulanya hanya beranggotakan 50 orang. Anggotanya, tak hanya warga Sawang, tapi berbagai kecamatan di Timur Aceh. Namun mereka tak solid. Setelah meninggalnya Badruddin, jumlahnya menciut. “Ada yang pulang ke kampung, ada yang pergi merantau dan banyak yang memilih tidak peduli,” kata sumber yang terus mengamati kelompok ini. Begitupun, kelompok ini masih eksis. Sejumlah warga menyebut, pemimpinnya sudah berganti. Saat ini, dipimpin trio berinisial Brimob, Zack dan Kumbang. Di Sawang, nama-nama ini tak asing. Mereka kerap berkumpul dan mondar-mandir di kedai-kedai desa. Tak jarang juga membekali diri dengan senjata parang. ”Berani–berani orang itu,” ujar seorang warga Punteut, Sawang. Di bawah kendali trio ini, tiga bulan lalu, sejumlah bendera hijau berlambang bintang bulan diapit pedang di bawahnya bertuliskan, “Allahu Akbar” berkibar di beberapa tempat di Sawang. Pengikut Badruddin, kini sering terlihat membawa parang hilir-mudik di kampung. “Karena itulah warga menyebutnya pasukan pedang,” ujar seorang warga. Brimob, seorang pentolan ‘pasukan pedang’ ini telah dicokok polisi. Dia terlibat penculikan seorang pengusaha di Juli, Bireuen. Dia ditangkap polisi Bireuen. Darinya, ditemukan sepucuk senjata laras pendek. Sementara Zack dan Kumbang, yang diduga terlibat penculikan Andrian Moreer, warga Perancis, September lalu, masih

buron. Konsultan World Bank itu, diculik tujuh anggota pasukan pedang di Desa Punteut, Kecamatan Sawang. Andrian dan supirnya sempat disekap semalam di semak pedalaman Sawang. Selain menguras seluruh barang berharga milik korban, pelaku minta tebusan Rp 5 miliar. Permintaan tebusan tidak dilayani korban. Singkat cerita, mereka dibebaskan setelah uang tunai U$ 3.300, satu unit laptop, dua handphone, satu jam tangan, dan ATM Bank BCA milik Andrian, serta mobil Innova BK 1920 HN yang digunakan korban, digasak pelaku. Polisi menemukan mobil korban di kawasan Lhoksukon, Aceh Utara, Oktober lalu. Saat ditemukan, nomor polisinya mobil silver itu sudah diganti menjadi B 1720 HS. Selain itu, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) juga dipalsukan. Edy Sofyan, 18 tahun, seorang pelaku juga ditangkap polisi. Ramadhan alias Madan, yang bertugas menyembunyikan mobil pun telah diringkus. Tertangkapnya Madan membuat Kumbang mengamuk. Ia meminta polisi untuk membebaskan anak buahnya. Bila tidak, pasukan pedang akan menyerang. “Ancaman ini membuat kami semakin melancarkan upaya memburu komplotan itu,” kata Kapolres Lhokseumawe, AKBP Zulkifli. Sebelumnya, kata dia, melalui sambungan telepon Si Kubang telah menyatakan akan menyerahkan diri bila semua media massa mau meliput. “Setelah kita tunggutunggu, ternyata mereka tidak menyerahkan diri,” katanya. Jelas bukan karena gentar, kini pihak polisi menambah kekuatan. “Kita diback up Brimob Ki-4 dan Densus 88 Polda Aceh terus memburu kelompok itu. Sampai kapanpun dan kemanapun akan kami kejar,” kata AKBP Zulkifli. Seorang warga di Sawang menyatakan, mulanya Badruddin memprogandakan pengikutnya untuk tak mengikuti jejak KPA yang menguasai basis ekonomi secara masif. Namun secara perlahan kelompok itu sudah mengarah ke pelaku kriminal. “Mereka ini tidak jelas lagi, maksud dan tujuannya,” ujar sumber itu. Soal tak menguasai ekonomi secara masif, warga setuju saja. Namun, mereka enggan bergabung dengan pasukan pedang, apalagi setuju aksi kriminal yang dilakukan selama ini. Warga juga mengaku takut dengan kelompok yang dihuni mantan GAM ini. Juru bicara KPA, Ibrahim Syamsuddin tidak mau berkomentar panjang tentang ini. “Semuanya, kalau kegiatannya sudah melanggar hukum, itu tugasnya polisi. KPA tidak punya kapasitas apa-apa untuk itu,” ujarnya. Kalau menertibkan bekas kombatan, tugas siapa? Tentu bukan Kumbang. [a]
ACEHKINI November 2008

HUKUM

Sengketa Antara Dua Kitab.

Delapan caleg dari tiga partai nasional mengugat KIP ke pengadilan. Ricuh politik, setelah qanun dan undang-undang tabrakan.
oleh

NURDIN HASAN

DELAPAN POLITISI REMBUK SERIUS, sambil menikmati kopi dan pisang goreng. Peserta pertemuan selain tiga orang dari Partai Patriot, juga dua politisi Partai Demokrat dan tiga dari PDIP. Saifuddin Gani, seorang advokat senior di Banda Aceh, turut serta dalam pertemuan itu. Rapat di kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Patriot, pada suatu sore pertengahan Oktober lalu itu, tidak membahas cara mendulang suara dalam pemilu tahun depan. Melainkan perkara tak masuknya petinggi-petinggi partai itu dalam daftar calon legislatif sementara (DCS), yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Independen (KIP) Aceh. Akhir September silam, KIP juga mengumumkan 139 calon anggota legislatif (caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, gugur uji baca quran, karena tak hadir. Delapan politisi itu, masuk dalam kelompok 83 caleg yang tidak lulus tes membaca kitab suci umat Islam. Politisi Patriot pantas jengkel. T.M. Roem, sang ketua DPD partai, dinyatakan tak lulus tes baca al-quran. Selain caleg nomor urut satu dari Daerah Pemilihan I itu, Swandris Zetha dan Fauzan Ridha, yang sama-sama bernomor urut dua Partai Patriot

dari Daerah Pemilihan IV dan I, bernasib sama pula. KIP juga memvonis Miryadi Amir, caleg nomor urut satu Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan I, tidak bisa mengaji. Selain politisi yang kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) itu, caleg nomor urut dua Partai Demorakrat dari Daerah Pemilihan VII, Faisal Mukti, juga tak lulus. Naas juga melanda partai pimpinan Megawati Sukarnoputri di Aceh. Dua Wakil Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Azfilli Ishak dan Rizal Fahlefi, dari Daerah Pemilihan IV dan VII, dinyatakan tak bisa baca kitab suci. Salmi HC Banta dari Daerah Pilihan III, juga dinyatakan gugur. Ketiga caleg PDIP itu, menempati nomor urut satu. “Jalan masih terbuka,” kata Saifuddin, memberi semangat pada para bakal calon wakil rakyat provinsi Aceh itu. “Gugat ke PTUN dengan acara cepat.” Pernyataan advokat yang sering disapa Acun itu, disambut riang para politisi. Pembenaran hukumnya, KIP dianggap telah melampaui kewenangannya selaku penyelenggara pemilu. Lembaga itu dinilai

Tes Al-Quran, salah satu syarat menjadi anggota
Calon Anggota Legislatif.
FOTO: CHAIDEER MAHYUDDIN—ACEHKINI

33

kelewatan, menambah dua syarat yang tak diatur dalam undang-undang, yakni pernyataan sanggup menjalankan syariat Islam secara kaffah dan mampu membaca al-quran. “Kita jelaskan posisi hukum. Memang KIP melakukan kesalahan,” ujar Saifuddin pada ACEHKINI akhir bulan lalu. Saifuddin dan timnya kerja ekstra selama sepekan, menyiapkan gugatan. Mereka putar otak, mencari dalil-dalil hukum dan segepok bukti untuk menguatkan argumentasi di pengadilan. Hasilnya, materi gugatan setebal enam halaman. Isinya, minta pengadilan menangguhkan berlakunya pengumuman KIP tentang DCS. Selain itu, materi gugatan juga menegaskan ketiga partai penggugat merupakan partai politik peserta pemilu 2009 yang berbasis nasional, seperti diatur Undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang partai politik serta Undang-undang nomor 10 tahun 2008 tentang pemilu DPR, DPD dan DPRD. Penggugat juga memperjelas, pasal 13 ayat 1 qanun nomor 3 tahun 2008 tentang partai politik lokal, hanya mengatur soal persyaratan bakal calon anggota DPRA dan DPRK dari partai lokal. Sementara caleg dari partai nasional tak terkait aturan sanggup menjalankan syariat Islam secara kaffah dan dapat membaca al-qur’an, seperti tertera pada poin c pasal tersebut. Tepat 20 Oktober, berkas gugatan diserahkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Banda Aceh, untuk pemeriksaan acara cepat. Pengadilan menetapkan sidang perdana pada 27 Oktober. Sidang digelar dengan hakim tunggal, Indra Kesuma Nusantara. Dia menjelaskan bahwa proses jawaban KIP sampai masa pembuktian harus dituntaskan selama 14 hari. Tak seorang pun politisi yang menggugat dan anggota KIP muncul saat sidang digelar. Mereka hanya diwakili pengacara masing-masing. Kedelapan politisi diwakil-

kan Saifuddin dan Syamsul Rizal dari konsultan hukum SSBS & Partners. Sedangkan pengacara KIP: Afridar Darmi, Ratna Dewi dan Kamaruddin dari ARK Lawfirm. Ketiganya selama ini dikenal aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh. Pada pengadilan pertama, sidang terpaksa diundurkan hingga tiga hari, sebab para penasihat hukum KIP tidak menyelesaikan berkas jawaban. Sidang kedua pada 29 Oktober, para pihak hanya diwakili masing-masing seorang pengacara. Kamaruddin membaca jawaban KIP yang intinya menolak seluruh dalil yang diajukan pengugat. Dalam jawaban setebal sembilan halaman itu, ia menyatakan, PTUN tak berwenang mengadili perkara, karena gugatan itu belum menempuh upaya admistratif dan condong sebagai judicial review terhadap pasal 36 qanun nomor 3 tahun 2008, menyangkut syarat baca quran bagi caleg partai politik berbasis nasional. Menyangkut permintaan penangguhan keputusan KIP soal DCS ditanggapi sebagai permohonan yang absurd. Alasannya, keputusan itu dikeluarkan pada 29 September dan sudah berjalan sebulan. “Bahkan keputusan itu akan segera berganti keputusan baru,” ujar Kamaruddin. KIP juga menolak menunda pengumuman daftar calon tetap seperti diminta para penggugat. Alasannya, melawan kepentingan umum dan dapat merusak jadwal pemilu di Aceh. Juga terbuka peluang terjadinya kecurangan dalam pemilu. Lagi pula, menurut Kamaruddin, jika ditunda, merugikan hak 1.073 caleg DPRA lain dan pemilih di Aceh yang mencapai lebih dari 3,1 juta orang. Abdul Salam Poroh, ketua KIP Aceh, bersikukuh mengumumkan daftar calon tetap pada tanggal 31 Oktober sesuai jadwal tahapan pemilu. Walau dalam posisi tergugat, dia mengaku gembira kedelapan

caleg itu menempuh jalur hukum daripada melancarkan demo. “Sebagai penyelenggara pemilu, kami tentu merasa apa yang kami lakukan sudah benar,” katanya, saat di wawancarai ACEHKINI akhir Oktober silam. Bila kelak PTUN memutuskan KIP bersalah, Salam akan menyatakan banding ke Mahkamah Agung. Tapi itupun tak membuat KIP menunda pengumuman DCT. Lagi pula, tambahnya, pengumuman itu agenda nasional yang berlaku di seluruh Indonesia. Salam Poroh mengaku pihaknya menambah dua syarat seleksi. Namun, katanya, itu tak melanggar hukum. KIP melakukan tindakan itu, sesuai qanun nomor 3 tahun 2008 tentang partai politik lokal. “Itu ada pasal-pasal di sana yang mewajibkan untuk menambah syarat membaca al-quran,” tegasnya. “Dasar hukum yang kami pegang kuat.” Dia menambahkan, dua syarat tambahan telah dikabarkan kepada partai masing-masing penggugat. KIP juga telah memanggil pimpinan partai untuk membahas ketentuan. Bahkan, saat disahkan, sebagian anggota DPRA memilih walk out. KIP juga, katanya, berhak menaikkan caleg nomor urut dua ke nomor urut satu, bila caleg pertama tak lolos. Itu dilakukan bila partai bersangkutan tetap memilih mengusulkan caleg yang gagal di nomor satu. “Ada ketentuan seperti itu. Tidak mungkin nomor urut satu kosong,” tegas mantan sekretaris DPRD provinsi Aceh ini. Tetapi, Saifuddin membantah semua penjelasan hukum ketua KIP. Kedua syarat yang ditambah KIP itu, tegasnya, tidak ada dalam undang-undang. Menurutnya, bila tahapan pengumuman DCT tidak diundurkan, maka konsekwensinya adalah hasil akhir pemilu di Aceh, batal. Sebab KIP dianggap telah melanggar hukum, dan bisa jadi komisi akan mendulang gugatan. Tindakan KIP mengganti nomor urut caleg, dinilai pengacara delapan penggugat, juga melanggar hukum. Saifuddin berpendapat, yang berhak mengotak-atik nomor urut hanya partai, dan KIP sama sekali tak berwenang. Bila gugatan kliennya menang, Saifuddin berharap KIP mengulangi tahapan seleksi. Dan tentunya, nama delapan caleg penggugat harus dicantumkan dalam DCT. Apalagi, masih banyak yang meradang pada tindakan KIP karena menambah syarat baca al-quran. “Mungkin akan kita buat gugatan intervensi,” katanya. Terlepas dari silang pendapat dan berbagai argumen pembenaran hukum, KIP dan para caleg tentu paham: hanya waktu yang tak bisa dihentikan. [a]

Saifuddin dan Syamsul Rizal mewakili delapan
politisi yang menggugat KIP Aceh.
FOTO: CHAIDEER MAHYUDDIN—ACEHKINI

34

JALAN MENUJU 2009

Lompat Pagar Para Aktivis. Di musim pinang caleg,
oleh

partai nasional ikut melirik aktivis. ’Jualan’ untuk menjegal partai lokal?
MAIMUN SALEH
Presiden Indonesia juga menjadi alasannya. Kalla dinilai ‘pahlawan perdamaian’ Aceh. Saking terkagumnya, ia bahkan menghafal ucapan Kalla di sebuah kesempatan, “saya pilih jalan damai untuk Aceh.’ Lain dari itu, Golkar menganut suara terbanyak. Bagi Risman, bekalnya ke DPRA hanya pengalaman selama delapan tahun di dunia LSM. Di sana ia belajar memahami masyarakat. Untuk urusan birokrasi, dia belajar di BRR. “Itukan universitas juga. Pengetahuan yang cukup berharga untuk diabadikan,” jelas Risman. Sebenarnya, Golkar bagi Risman bukan partai pertama. Sebelumnya ia sempat menduduki posisi penting di Partai Rakyat Aceh (PRA), jabatannya anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP). Namun ia tidak aktif. Ia terlibat saat masih cikal bakal. Status PRA waktu itu masih komite persiapan pembentukan partai. “Waktu itu ramai aktivis yang menjadi inisiator PRA,” kata Risman. Thamrin Ananda, Sekretaris jendral PRA, membenarkan Risman sempat di PRA. Bahkan, ia pernah dijagokan partai anak muda itu menjadi caleg bernomor tinggi. Syarat menjadi caleg dari partai no 38 itu juga telah disampaikan. “Tidak boleh poligami dan bila telah menjadi anggota dewan 50 persen gaji harus setor ke partai,” kata Nanda. Itulah akhir, pembicaraan serius Nanda dan Risman tentang PRA. Menurut Nanda, PRA tak goyah walau Risman telah memadu keyakinan. Mantan aktivis Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) angkatan 1998 ini, juga mengakui bahwa beberapa kadernya telah berseberang jalan, bahkan masuk partai lain. *** MENJELANG PEMILU 2009, RAMAI aktivis geser haluan ke parlemen. Partai politik lokal menjadi rumah baru bagi kaum kritis itu. Partai nasional juga melirik aktivis,namun, sedikit yang terangkul. Azwar Abubakar, Ketua Partai Amanat Nasional Aceh, membantah partainya berusaha merangkul aktivis. “Kita terbuka saja. Ada tokoh pemuda, tokoh masyarakat, bekas pejabat, artis juga ada. ya sama saja, tidak ada itu perhatian khusus terhadap aktivis,” ujar mantan gubernur Aceh itu. TAF Haikal, mantan Direktur Forum LSM Aceh, aktivis yang dilirik partai nasional selain Risman. Tak hanya satu partai yang mengincarnya, yang pertama meminang Partai Bulan Bintang (PBB), selanjutnya Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bahkan Golkar juga menawarinya masuk bursa Caleg. Walau sudah berniat turut menambat nama di daftar calon legislatif, Haikal menanggapi dingin tawaran-tawaran petinggi partai itu. Namun berbeda saat Azwar Abubakar melamarnya empat bulan lalu, ia menyatakan bersedia bergabung dengan partai berlambang matahari itu. “Juga dorongan kerabat yang sudah lebih dulu menjadi kader PAN,” jelas Jubir Kaukus Pantai Barat-Selatan (KPBS) itu. Bukan itu saja yang membuatnya jatuh hati pada partai biru. Alasan lain, sosok

TELEPON ITU MENJERIT DI TENGAH kegaduhan Pasar Aceh. Risman A. Rahman, sang pemilik telepon, sedang berbelanja kebutuhan lebaran, pengujung September lalu. “Man, kemari dulu. Hasil rapat semalam, anda diputuskan jadi caleg!” kata Taufik, tim perekrutan caleg Golkar, di ujung telpon. Sepulang dari pasar, Risman langsung meminta pendapat istrinya. Restupun didapat. Kabar gembira itu langsung dikirim ke sejumlah petinggi partai. ”Bismillah. Saya masuk Golkar. Soal nomor urut itu kebijakan partai,” begitu bunyi SMS Risman yang dikirim ke sejumlah kolega sebelum Idul Fitri lalu. Malamnya, ia langsung bertandang ke kantor Golkar Aceh. Sebulan sebelumnya, mantan Deputi Direktur Walhi Aceh itu memang sudah ber teduh di partai pohon beringin itu. Ia ditempatkan di unit advokasi dalam badan pemenangan pemilu. Namun saat dilantik, Risman tak hadir. Pekerjaannya di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh menyita waktu. Seperti dugaannya, rekannya sesama aktivis pasti ada yang tak merestui dirinya ke partai kuning, bahkan mencemoohnya. Ada pula yang meminta Risman menarik berkas caleg. “Saya menganggap itu canda politik,” jelasnya. Lagi pula, itu usulan aktivis yang sudah menjadi caleg dari partai lain. Menurut Risman, aktivis yang tidak berpartai, justru menyatakan mendukungnya di Golkar. Golkar bukan satu-satunya partai yang meminang Risman, sebelumnya, Partai Bintang Reformasi (PBR) lebih dulu mendekatinya. yusuf Lakaseng, Ketua DPP PBR yang langsung meminangnya. “Posisi yang ditawarkan wakil ketua DPW Aceh. Setelah berpikir-pikir, lalu saya jawab ini bukan tempat saya,” kisah Risman ihwal ajakan yusuf usai menjadi pemateri di salah satu LSM di Banda Aceh. “Memang di Golkar akan dihadapkan dengan tantangantantangan, misalnya soal citra masa lalu.” Caleg bernomor urut delapan untuk daerah pemilihan tiga ini punya banyak alasan memilih Golkar. Salah satunya, agar kepentingan Aceh di nasional ada yang memperjuangkan. Menurutnya partai lokal bakal menyedot banyak orang. “Agar ada keseimbangan parlemen dan demokrasi tidak terancam,” kata Risman. Bukan hanya itu, yusuf Kalla, Wakil
ACEHKINI November 2008

Risman A Rahman FOTO: NURDIN HASAN—ACEHKINI
35

JALAN MENUJU 2009

Petaka Usai Rebutan Merekrut.

TAF Haikal FOTO: NURDIN HASAN—ACEHKINI
Amin Rais masih bersinar di hatinya. Maklum, jamaknya aktivis reformasi, Amin dinobatkan sebagai ‘bapak’. “Hari ini saya simpati karena dia getol memperjuangkan revisi Undang-undang tambang dan migas Indonesia.” Menurutnya, Azwar tak menjanjikan apapun saat meminang. Metode suara terbanyak di PAN juga membuatnya kepincut. Terakhir yang membuat Haikal terkesima, metode partai merekrut calon wakil rakyat secara terbuka. “Selain PRA (Partai Rakyat Aceh-red), setahu saya yang berani mengajak masyarakat mengajukan calonnya, ya PAN,” kata aktivis yang sempat ditangkap aparat keamanan di salah satu kamp pengungsian di Aceh Selatan pada tahun 1999. Sebagai ‘anak baru’, tentu Haikal tak punya kuasa atas keputusan partai. Termasuk soal nomor urut, ia hanya bisa pasrah. Apalagi ia telah setuju ‘suara terbanyak’. Tapi ia gregetan juga begitu tahu namanya ada di urutan ke lima daftar Caleg PAN ke DPRI,”Saya sempat usul agar nama saya di nomor urut dua,”jelasnya. Walau tak mengabulkan, Azwar sedikit lunak. Nama Haikal memang tak menanjak ke urutan dua. Alasannya, itu nomor urut untuk calon yang pada pemilu lalu berada di nomor urut tiga. “Kayaknya berat!” kata Azwar seperti diulang Haikal. “Saya bilang secara psikologis nomor itu penting,” timpalnya mengenang percakapan dengan Azwar. Tapi kini, Haikal bisa menghela nafas lega. Ia mendengar kabar dirinya bertengger di urutan tiga. Ada beberapa alasan usul Haikal diperhatikan partai, salah satunya jaringan pergaulannya yang luas. Menurutnya, itu juga alasan kenapa ia dipinang selain gaung kaukus yang meluas. Soal bidak yang dipilih untuk ke gedung dewan, Haikal menutup rapat. Ia hanya me36 nyatakan tak akan pernah membentuk tim sukses, “tapi saya akan buat tim cs-cs (teman-red) saja,” jelas mantan anggota PRA selama tiga bulan itu. Haikal sadar, 13 tahun menjadi aktivis tidak cukup melapangkan jalannya menuju senayan. Isi saku turut menunjang. Ia memperkirakan, setidaknya ‘harga tiket’ ke gedung dewan Rp 200 juta. Itupun, termurah dan hanya cukup untuk belanja keperluan kampanye. Untungnya, sudah ada rekan yang menyatakan akan bersedekah. “Ada yang bilang mau cetak baju tiga lembar, ada yang komit mau sumbang spanduk tiga lembar juga ada yang bantu baliho lima lembar,” kata aktifis LSM angkatan 1997 ini. “Pokoknya bantuan dari teman-temanlah.” katanya. Amannya lagi, PAN juga tidak mewajibkan dirinya setor uang untuk biaya kampanye. Bahkan, ia sama sekali tak pernah diberitahukan para elit partai soal setor menyetor. Di DPP juga ia tak dimintai dana kampanye. Andai itu terjadi barulah ia pusing. Pasalnya, Haikal mengklaim dirinya Caleg berkocek tipis. Tak ada yang bisa dijualnya untuk modal. “Ada tanah sepetak di daerah tsunami, sampai sekarang belum dibangun BRR. Apanya mau dijual? Saya tinggal di rumah kredit yang belum lunas,” paparnya. Ia membidik senayan bukan tanpa alasan. Menurutnya, kinerja 13 anggota legislatif Aceh yang serius memperjuangkan kepentingan rakyat bisa dihitung jari. Lain itu, ia menduga gelanggang politik lokal kian sempit. “Persaingan di lokal justru ketat, apalagi bersaing dengan teman dan saudara. Itu pertimbangannya.” Haikal bukannya tak sadar ihwal buruknya citra politikus di negeri ini. Namun, tekad sudah bulat. ”Selama ini saya berada di posisi yang mengkritik, ingin juga merasakan dikritik.” [a]

Pemilu hanya tinggal lima bulan, laga undang-undang masih berlangsung antara Aceh dan Jakarta. Di lapangan, daftar pelanggaran kian panjang.

oleh

FOTO: DEDEK PARTA—ACEHKINI

MAIMUN SALEH dan MISMAIL LAWEUENG

DERU SEPEDA MOTOR yA NG dikendarai dua pemuda, memecahkan sepinya jalan Banda Aceh-Medan, menjelang shalat Jum’at, 24 Oktober silam. Matahari tepat berada di atas kepala, ketika Erna, 21 tahun, warga desa Geulanggang Rayek, Kecamatan Kutablang, Bireuen, berteduh di halte sambil menunggu angkutan umum sepulang kuliah. Sebelum dihampiri, ia tak curiga gelagat kedua pemuda itu. Apalagi seorang di antaranya cukup dikenal. “Si Dan, namanya warga kampung Dayah Masjid,” jelas Erna. “yakin 100 persen dia KPA, Erna kenal dia dari dulu.” KPA adalah Komite Peralihan Aceh –organisasi tempat bernaung para mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bekas kombatan itu, tiba-tiba mengancam Erna agar menurunkan bendera Partai Keadilan Sejatera (PKS), yang dikibarkan di perkarangan rumahnya, sejak bulan Ramadhan lalu. Bila tidak, caleg nomor tujuh untuk Daerah Pemilihan IV Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen itu, akan diceburkan ke sungai. Peristiwa terjadi memang tak jauh dari jembatan. Mahasiswi Al-Muslim itu tak ciut nyali. “Kampanye hak semua orang, kalau kalian mau protes, silakan ke KIP (Komisi Independen Pemilihan, red), jangan dengan

saya,” jawab Erna dengan nada tinggi, sambil berlalu menuju angkutan yang mengantarnya pulang. Ancaman berlanjut keesokan hari. Sepulang dari pengajian, ia berpas-pasan dengan seorang pria yang kemudian berbalik arah membututinya. Di lorong menuju rumahnya, pria yang kemudian diketahui Erna sebagai anggota Partai Aceh, menggertaknya. “Kenapa kamu pasang bendera partai Indonesia itu di rumahmu?” tiru Erna. Selanjutnya, pria itu mengintimidasi akan menghabisi Erna, keluarga serta membakar rumahnya. “Sudah dua kali wali pulang, kamu masih tidak tahu diri,” hardik pria itu, saat azan Magrib sedang berkumandang dari masjid. “Saya tak takut dengan ancaman kamu, yang saya takut hanyalah Allah,” sahut Erna. Amarah pria itu mendidih. Spontan ia menarik pin PKS di jilbab mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Matematika, Al-Muslim itu. Dia menghalau hingga rambutnya tersingkap. “Bang saya mau shalat Magrib,” ujar Erna tenang. Tiga hari berselang, Erna didampingi sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Bireuen melaporkan peristiwa itu ke polisi resort setempat. Selain sebagai upaya penegakan hukum, Nasrul Wahdi, Wakil Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Aceh, menyatakan agar peristiwa serupa tidak lagi terjadi. Terlepas siapapun pelakunya. Tak hanya itu ancaman mendera PKS. Di Pidie dan Lhokseumawe, beberapa waktu lalu, sejumlah calon anggota legislatif (caleg) PKS diperintahkan anggota salah satu partai lokal untuk membatalkan niat
ACEHKINI November 2008

ikut pemilu. Belum lagi sejumlah bendera partai ini hilang di berbagai kota. “Kami harap, semua partai bisa fair play,” keluh Nasrul. Sebenarnya, PKS tak puas sekadar melapor polisi. Sebab pihak kepolisian memasukkan ancaman itu sebagai tindak kriminal, bukan ‘kejahatan pemilu.’ Menurut Nasrul, tak ada pilihan lain. KIP tak punya kuasa untuk mengawasi kecurangankecurangan pemilu. “Minimal kita telah menempuh jalur hukum,” jelasnya. Ia berharap Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) segera bisa bekerja di Aceh. Perkaranya, persaingan tak sehat mulai mekar di Aceh. Tanpa juri dari Panwas, “amburadul begini, pemilu serba tak jelas. Ini mengancam deklarasi pemilu damai,” keluh Nasrul. *** SEBENARNyA PADA 5 JUNI LALU, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) telah mengukuhkan lima anggota panitia Panwas yakni Nyak Arief Fadhillah, Rasyidin Hamin, Radhiana, yusra Jamali dan Asqalani. Daftar nama tersebut telah pula dikirim ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta. Tujuannya agar segera dilantik. Namun, Bawaslu menolak. Alasannya, seharusnya jumlah anggota Panwas tiga orang, baik di propinsi maupun kabupaten/ kota. Lalu, usianya minimal harus 35 tahun. Terakhir, yang berhak menyeleksi KIP Aceh, bukan DPRA. Bawaslu tak asal tolak, alasannya sesuai Undang-undang nomor 22 tahun 2007 tentang penyelenggaraan pemilu dan peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) nomor 14 tahun 2008 tentang

pedoman seleksi calon anggota Panwaslu. Tapi, DPRA juga tak sembarang kirim nama. Para politisi Aceh berpedoman pada Undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), serta qanun nomor 7 tahun 2007 tentang penyelenggaraan pemilu di Aceh. Dalam kitab itu memang disebutkan jumlah anggota Panwas lima orang, berusia 30 tahun dan legislatif berwenang melakukan seleksi. Mawardi Ismail, Dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, tak habis pikir melihat kenyataan ini. Untuk meluruskan perkara, DPRA dan Bawaslu justru saling menyurati, bukan melalui aturan hukum. Surat menyurat dimaksud, surat penolakan yang dikirim Bawaslu ke DPR Aceh. Kemudian giliran legislatif Aceh membalas. KPU juga melayangkan surat bernomor 2620/15/IX/2008 ke KIP Aceh, awal September lalu. Isinya, perintah segera membentuk Panwaslu. Ilham Syahputra, Wakil Ketua KIP Aceh, punya cerita menarik. Menurutnya, DPRA dan KIP sempat duduk semeja dengan Bawaslu. Mulanya, DPRA tetap kukuh yang harus dijalankan UUPA dan qanun. Sementara Bawaslu kukuh hanya undangundang pemilu dan peraturan KPU yang harus ditaati. Untuk melerai silang pendapat, KIP tak hilang akal. Lembaga yang dipimpin Abdul Salam Poroh itu, berkoordinasi dengan Muhammad Nazar, wakil gubernur Aceh. Lembaga ini mengusulkan anggota Panwaslu tetap tiga orang, sesuai Undangundang pemilu. Apalagi, dua anggota Panwas hasil seleksi DPRA di bawah 35 tahun. Juga telah disepakati, KIP akan mengirim enam nama ke Bawaslu untuk fit and proper test, selanjutnya dipilih tiga orang. “Tapi tiba-tiba ada surat dari gubernur ke Wapres minta agar Bawaslu melantik anggota Panwas,” jelas Ilham. Kesal tingkah gubernur, membuat Bawaslu kembali bersikeras bahwa mereka tidak mau melantik pilihan DPRA. KIP Aceh juga akan memilih berpaling dari DPRA. “Kalau sampai awal November ngak ada kepastian soal itu, kami akan melaksanakan aturan KPU,” tegas Ilham. “Dengan aturan KPU, kami akan rekrut ulang.” *** BE R L A RU T N yA PE M BE N T U K A N Panwaslu di Aceh akibat adanya penafsiran yang berbeda antara pusat dan daerah. “Daerah menafsirkan Panwaslu termasuk melaksanakan pemilu legislatif dan presiden. Sedangkan pusat, berpikir Panwas yang diatur dalam Undang-undang pemerintahan Aceh tidak ikut mengawasi ini,” jelas Mawardi. 37

Menurut dia, KPU dan Bawaslu menganggap isi qanun yang diatur daerah tidak benar, maka untuk mengoreksinya harus ditempuh sesuai mekanisme. Caranya desak presiden untuk membatalkan qanun itu. “Kalau tidak bisa lewat Perpres karena sudah lewat 60 hari, maka bisa ditempuh lewat yudicial review,” sebut ahli hukum tata negara ini. Nah dengan demikian, ada kepastian hukum terhadap setiap produk hukum. Tapi, hal itu tidak dilakukan. “Perbaikan atau koreksi terhadap putusan daerah tak ditunjukkan dengan bentuk surat menyurat (seperti dilakukan oleh Bawaslu, KPU dan DPRA selama ini, red),” ujar Mawardi. Ia juga menilai ketidaksetujuan KPU dan Bawaslu tak subtansial, melainkan pada mekanisme. Sebab persoalan jumlah anggota Panwas, kedua lembaga itu bisa melunak. Kesimpulan itu dilihat dari surat Bawaslu ke DPRA dan Pemerintah Aceh, mereka tidak menyebutkan tak boleh lima orang. yang disampaikan justru tiga diangkat Bawaslu, sisanya diangkat daerah. “Kalau soal anggaran itu bisa dinegosiasikan," kata Mawardi menafsir isi surat. Sebagai pengamat, dia mengaku setuju Panwaslu Aceh dihuni lima personel. Karena beban yang ditanggung KIP dan Panwaslu di Aceh sangat berat, selain ada partai nasional, juga ada partai lokal yang akan ikut mengutip suara dalam Pemilu 2009 nanti. Tanpa Panwas, peran itu bisa diganti polisi dan jaksa. “Kalau sudah masuk wilayah pidana, itu urusan polisi dan jaksa,” kata Mawardi. Tapi tetap saja, seperti kata Nasrul, pengurus DPW PKS, “tak memuaskan!” Saleh Sjafei, Manager Aceh Justice Resource Center (AJRC), justru mencemaskan kedamaian Aceh. Para pihak diseru agar arif dan segera bisa membentuk Panwas. “Panwaslu harus segera dibentuk untuk mengurangi ancaman keutuhan perdamaian Aceh," katanya singkat. Kerikil-kerikil yang dikhawatirkan Sjafei itu, mulai terbukti saat Kasibun Daulay, Komandan Lapangan Brigade 8 PKS Aceh, melihat bendera partainya dicomot simpatisan partai lain. Kasibun dan petinggi PKS pun mencak-mencak, tak tahu harus menyeret kemana si pelaku. Dia berharap, seluruh partai politik peserta pemilu yang sudah mendeklarasikan pemilu damai, dapat mengimplementasikan hingga ke tingkat bawah. Karena tak ada Panwaslu, ia hanya bisa berharap pihak keamanan dapat bertindak lebih tegas dalam mengamankan pemilu di Aceh ke depan. Taqwadddin, dosen Fakultas Hukum Unsyiah, mendesak Bawaslu tidak perlu menunda pelantikan Panwaslu. Pasalnya, kampanye terbatas telah dimulai sejak 12 38

Juli 2008. Kandidat doktor Ilmu Hukum ini menambahkan, Bawaslu perlu memahami bahwa Aceh sebagai daerah "khusus" dengan otonomi luas, berhak mengadopsi peraturan secara nasional seperti undangundang pemerintahan di Aceh. “Begitu juga dalam hal pembentukan Panwaslu, harus dicarikan solusi secara arif agar pelaksanaan kampanye Pemilu 2009 berjalan secara adil, jujur, demokratis dan tanpa cacat," jelasnya. Ia sependapat dengan Mawardi. Bahkan, menurutnya, perbedaan tafsir antara DPRA dan Bawaslu sudah bisa diakhiri. "Undang undang Pemerintahan Aceh itu harus dipandang sebagai lex superior dan sekaligus lex spesialis untuk Aceh. Ini ketentuan khusus yang harus dijadikan acuan Bawaslu," paparnya lagi. TAF Haikal, aktifis masyarakat sipil di Aceh, menilai seharusnya Panwaslu sudah bekerja di Aceh, seperti daerah lain. "Harus segera ada kebaikan yang dilakukan karena eskalasi konflik pemilu akan terbuka lebar dengan adanya partai lokal di Aceh," sebut Haikal, yang jadi caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional ini. Jika Panwas tak ada, menurut dia, akan membuat KIP tidak punya mitra dalam melakukan tahapan-tahapan pemilu di Aceh. "Juga dapat merugikan partai-partai, serta pengawasan sengketa pengawasan pemilu menjadi lebih rumit," tukas Haikal. *** TARIK-MENARIK MASALAH PANWAS ini mencuatkan ide lain. Untuk menghindari mandeknya polemik tersebut, Taqwaddin menawarkan solusi lain: membentuk Panwaslu independen. Ini terpaksa dilakukan jika Panwaslu Aceh tak dilantik. "Ini

Pembakaran kantor partai digolongkan dalam kasus kriminal atau pelanggaran pemilu?
FOTO: DOK—PARTAI SIRA

menjadi sejarah baru di Aceh," katanya. Sejarah baru yang dimaksud Taqwaddin ialah membentuk Panwas Independen, tanpa campur tangan Jakarta. "Aceh sudah biasa membuat sejarah, sehingga tak masalah jika pemerintah pusat tidak berkenan melantik Panwaslu yang direkrut DPR Aceh," urai dia lagi. Anggotanya, tentu saja calon anggota Panwaslu Aceh hasil rekrut DPRA yang hingga kini belum dilantik. Mereka dialihkan menjadi Panwaslu Independen yang tidak tunduk kepada Bawaslu dan KPU atau KIP. "Kalau tidak ada aturan hukumnya, tinggal kita formulasikan kemudian, yang penting bentuk dulu," ujar Taqwaddin. Tapi soal Panwas Independen itu, Mawardi kurang sepakat. Sebab ia menilai tak ada aturan hukum yang mengakomodir aspirasi itu. Sedangkan Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry, A. Hamid Sarong, mengatakan, pusat hendaknya menerima apa yang disodorkan Aceh, apalagi sesuai dengan undangundang. Kata dia, jika yang diajukan Aceh tak diakomodir, maka Bawaslu atau KPU harus memberi solusi. "Kalau tak ada, maka yang diajukan orang Aceh harus ditoleransi," katanya. Akhir cerita, kapan Panwas terbentuk? Berapa lama anggaran akan cair? Kapan lembaga itu akan mulai bekerja? Bagaimana dengan perangkat kantor dan segala macam urusan administrasi? Jawabannya, waktu kian sempit. Akankah Pemilu di Aceh sukses, tanpa petaka seperti dialami Erna? [a]

Pelesir
WISATA PERJALANAN ANGIN SEGAR

Sauna di Kaki Bukit.

WISATA

Ada pijat berjamaah dalam dekapan perbukitan Bener Meriah.

oleh dan

DASPRIANI Y ZAMZAMI CHAIDEER MAHYUDDIN

FOTO: CHAIDEER MAHYUDDIN—ACEHKINI

KAKI BUKIT GADUH JELANG SENJA. Puluhan perempuan berkemben bercengkarama dalam kolam yang terus mengepul asap. Di pinggir, sebagian memercikkan air hangat ke tubuhnya, bersiap turut menceburkan diri ke dalam kolam seluas 10 x 10 meter. Gelak tawa deras terdengar dari balik tembok pembatas setinggi dua meter. Di sana, bak gerbong kereta, puluhan pria berbaris sambil memegang bahu. Saling pijat
ACEHKINI November 2008

menjadi ‘tradisi’ di kolam khusus buat kaum adam itu. “Selain menyembuhkan rasa letih, juga memberi kesegaran bagi tubuh,” ungkap Tarmizi, 45 tahun, seorang supir angkutan umum antarkota. Dia rajin singgah ke kolam air panas Weh Pesam Atas ini. Kolam di Desa Simpang Balik, Kecamatan Weh Pesam, sekitar delapan kilometer dari Redelong, ibukota Kabupaten Bener Meriah, diserbu pengunjung saban senja. Maklum, itulah saat dingin mulai menembus kulit di dataran tinggi tersebut. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah memang menjadikan sumber air panas ini

tempat pemandian umum, sekaligus objek wisata andalan. Tak hanya itu, pemandian air panas di Desa Simpang Balik, 300 ratus meter dari Weh Pesam Atas juga ada sebuah kolam air panas. Warga menyebutnya Weh Pesam, tanpa embel-embel Atas. Kolam yang tak jauh dari pasar itu, tak layak disebut lokasi wisata. Selain tidak terawat, airnya juga jorok. Wisatawan lokal lebih memilih lokasi Weh Pesam Atas. Selain nyaman, airnya juga bening. Manda, 19 tahun, warga Darussalam, Banda Aceh, mengaku setahun sekali pasti berkunjung ke Weh Pesam Atas. Ia memang 39

40

YO FAUZAN —ACEHKINI

punya kerabat di Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Selain berwisata, Manda sangat menikmati hangatnya air kolam sebagai ajang terapi. “Kalau berkunjung ke tempat saudara di Takengon, saya pasti datang ke sini untuk mandi. Mandi di sini bisa menghilangkan pegal di badan,” ujarnya. Satu lagi rahasia Manda, mengapa ia selalu tertarik mandi dan berendam di Weh Pesam. “Ini sekaligus sebagai tempat sauna dan spa tradisional, yang sangat baik untuk kebugaran tubuh,” sebut Manda setengah berbisik. Ternyata tubuh molek Manda punya rahasia di Weh Pesam. Tak jauh beda dengan Manda, para supir angkutan umum juga bertujuan memanjakan tubuh ke Weh Pesam. Apalagi ada acara ‘mijit berjamaah’. Tak repot bagi para supir, lokasinya terletak di bagian bawah areal terminal antarkota di Simpang Balek. Tinggal parkir kendaraan di terminal, selanjutnya mandi ria untuk menghilangkan rasa penat, sambil menikmati pijit. Jika anda melakukan perjalanan ke Takengon, maka lokasi pemandian ini tepat berada di bagian bawah terminal Simpang Balek. Dengan menuruni puluhan anak tangga, anda akan sampai ke pinggir kolam. Untuk masuk ke kolam, cukup merogoh kocek sebesar Rp 2000. Puas mandi dan berendam air hangat, jajanan gorengan menanti di sepanjang tangga menuju kolam. Dinas Budaya dan Pariwisata Bener Meriah telah membuat ‘jambo-jambo’ jajanan gorengan yang bisa dimanfaatkan para pedagang kecil. “Pondok-pondok ini baru setahun dibangun. Sebelumnya kondisinya tak sebagus ini, sekarang sudah dibangun lebih baik oleh Pemda,” ujar Inen Suni, seorang penjaja gorengan. Kata Inem, sejak lokasi ini direhab, warga yang berkunjung lebih ramai. Inen menjajakan pisang goreng, kopi, serta jagung bakar. “Biasanya orang habis mandi lapar, jadi bisa makan di sini,” katanya sambil menawarkan dagangannya. Selain kolam pemandian Weh Pesam Atas yang dikelola Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, ada juga kolam pemandian air panas milik perorangan. Kolam ini terletak tepat di lokasi persinggahan para awak angkutan umum di tikungan Desa Simpang Balek. Meski milik seorang warga Simpang Balek, namun bisa dimanfaatkan oleh seluruh warga desa sebagai tempat pemandian mereka. Tapi sayang, kolam itu terlihat kurang terawat. Bener Meriah memang menawarkan tempat wisata yang belum tergarap dengan baik. Siapa sangka dalam dekapan perbukitan, ternyata menyimpan sumber air panas yang bisa dinikmati layaknya mandi sauna. [a]

Nanggroë

FEATURE

hiu, kerap menembus tapal batas perairan asing. Perjanjian bilateral ditawar sebagai solusi agar mereka tak ragu melaut.
oleh

Kisah Usang Rompak Tanggung. Nelayan pemburu
adI WaRSIdI dan JAMALUDDIN
FOTO: HASBI AZHAR—ACEHKINI

SERATUSAN KAPAL NELAyAN MANGKAL di dermaga Lampulo, Banda Aceh, Jumat pagi penghujung Oktober lalu. Beberapa nelayan mempersiapkan keperluan; jaring, pancing sampai persediaan air bersih, selama melaut. Sudah tradisi nelayan Aceh, Jumat adalah hari cuti. Aturan itu masuk dalam amarACEHKINI November 2008

an panglima laot, organisasi tertinggi yang mengatur nelayan. Mereka patuh larangan turun temurun. Tiada heran, segala aktivitas di laut berhenti dan semua merapat ke dermaga. Tak terkecuali Syukur, 36 tahun, nelayan yang kerap melanglang di samudera. Saat ACEHKINI menyapa, ia dan dua kawannya sedang santai, dalam sebuah kapal ukuran sedang, sepanjang 10 meter. Bercelana

jeans tanpa baju, dia hendak mempersiapkan keperluan melaut, keesokan harinya. “Besok, kami akan ke laut lagi,” ujarnya. Ikan hiu, target utama mereka. Siripnya bernilai jual tinggi. Menangkap satu hiu, akan mendapatkan delapan hingga sepuluh kilogram sirip. Sekilogram dihargai sekitar Rp 500 ribu. “Bayangkan jika sekali berlayar bisa dapat 50 ekor hiu,” kata Syukur. Karena itu, sejumlah nelayan Aceh lebih 41

memilih memburu hiu ketimbang ikan lain. Masalahnya, di perairan Indonesia, jumlah hiu sangat sedikit. Lalu, mereka nekat memburu sampai perairan negara tetangga, seperti Myanmar, India dan Thailand. Ada dua jenis hiu yang sering didapat di wilayah negara lain; hiu beton dan hiu nawan. Hiu beton warnanya agak putih dan harga siripnya mahal, sementara hiu nawan warnanya agak hitam dan siripnya sedikit lebih murah. “Bila dibandingkan dengan perairan Indonesia, di perairan Myanmar lebih banyak hiunya, kadang sekali pulang bisa mendapatkan uang dari dua puluh lima juta sampai empat puluh juta. Makanya kami nekat ke sana,” ujarnya. Ini juga yang membuat Syukur pernah ditangkap polisi laut negeri Bollywood. Kendati tak ditahan, dia takut dan trauma. Jera membuatnya berhati-hati bila melaut, menjaga agar tak melanggar batas negara. Usai tsunami Desember 2004 lalu, dia hanya memburu hiu dan ikan-ikan lain di perairan Indonesia. “Dipenjara di negara sendiri aja nggak tahan, apalagi di negara orang.” Syukur telah mulai memburu hiu, sejak 1997. Trauma itu datang lima tahun lalu. Peristiwa naas itu, ia bersama empat kawannya berangkat siang hari dari Lampulo. Esok siangnya, mereka sudah mengintip hiu di perairan India. Belum sempat menebar pancing, dari kejauhan mereka melihat titik putih terapung. “Kami pikir busa yang dibawa air, ternyata makin lama kelihatannya makin besar, rupanya kapal patroli India,” sebutnya mengumbar senyum. Spontan, mereka balik arah. Kapal dipacu maksimal, namun kalah cepat laju kapal patroli. Mereka ditangkap dan diangkut ke kapal polisi India. “Tangan

kami diikat ke belakang, tapi kami tidak dipukul,” kenangnya. Menjelang dini hari, mereka dibangunkan pasukan patroli India. Di dekat kapal itu, sebuah kapal lain nangkring. Gelap masih membuat pandangan mereka kabur untuk tahu identitas kapal yang baru tiba. “Kami disuruh ke kapal yang berhenti itu, mulanya saya menolak dan minta dilepaskan saja, karena kita curiga pasti masuk penjara,” kisah Syukur. Dia lalu coba bertanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah bercampur isyarat. “Indo, Andaman?” Lalu mereka menjawab, “no... no.... no, indo go.” Syukur ketakutan, berpikir mereka akan dibawa ke India. Awak patroli terus mendesak agar mereka meninggalkan kapal. Syukur terkejut dan akhirnya merasa beruntung, kapal yang menunggu itu berbendera Indonesia. “Rupanya kapal Angkatan Laut dari Sabang, kami lalu dibawa ke Sabang. Di sana saya dan kawan-kawan ditahan satu bulan untuk proses penyelidikan.” Sebelum tsunami menghancurkan kapalnya, dalam satu bulan sebanyak tiga kali, Syukur mencari hiu. Lokasinya sering di perairan India, Myanmar dan Thailand. Pernah juga suatu hari pada medio 2004 dia hampir tertangkap lagi. “Tanpa sadar kami sudah memasuki 100 mil ke perairan India.” Tapi kemudian, dia berhasil mengelabui patroli dengan mengganti bendera yang sudah disiapkan sejak awal. Dia lolos. “Sekarang hal itu sudah tidak mungkin lagi. Patroli laut negara lain sudah menggunakan pesawat udara untuk mengawasi perairan mereka.” Memburu hiu memang menggiurkan, tapi trauma tertangkap lagi membuatnya berhenti

mencari hiu di luar Indonesia. *** ADLI ABDULLAH, SEKRETARIS panglima laot Aceh, mengacungkan tangannya di depan forum Global Conference on Securing Rights of Small Scale Fisheries, yang diadakan di Bangkok, medio Oktober lalu. Dia hadir sebagai anggota badan kehormatan International Collective Support of Fishworkers (ICSF) yang berpusat di Brussel, Belgia. Menggebu ia bicara nasib nelayan kecil Aceh yang kadung dianggap rompak, saat tertangkap di perairan negara tetangga. “Bagaimana supaya diusahakan adanya perlindungan hukum bagi nelayan kecil di bagian negara manapun,” ujarnya, di hadapan 323 peserta negara maju dan berkembang, organisasi nelayan seluruh dunia, serta badan internasional lain yang menangani bidang perikanan. Konferensi tiga hari itu membahas pengakuan dan perlindungan terhadap hak nelayan kecil di seluruh dunia. “Perlindungan nelayan selama ini belum ada di Aceh,” kata Adli. Masalah nelayan Aceh sering tidak muncul di forum internasional. “Pemerintah Indonesia sendiri lebih fokus pada nelayan di wilayah timur,” ujarnya pada ACEHKINI. Adli lebih banyak bicara Aceh di sana yang kerap bernasib sial di perairan India, Myanmar dan Thailand. Hasilnya, konferensi merekomendasi nelayan kecil dari belahan dunia manapun harus diberi pengecualian, ada keringanan. Tak boleh disamakan dengan tahanan perang. Dalam kesempatan itu, Presiden World Fishers Forum People, Saseegh Jaffer menyerukan, agar digagas perjanjian baik bilateral maupun multilateral guna melindungi para nelayan kecil pelintas batas di dunia. “Nelayan kecil harus mendapat perlindungan dan lebih diutamakan dalam pengelolaan sumber daya perikanan, karena mereka melaut bukan untuk memperkaya diri tetapi mencari sesuap nasi untuk memberi makan keluarga.” Soal perjanjian bilateral tentang nelayan antarnegara, Adli menyebut, terus memperjuangkan nasib nelayan Aceh. Sekretariat panglima laot juga telah meminta Pemerintah Aceh menginisiasi perjanjian bilateral antara Indonesia dengan India. Tujuannya, melindungi nelayan kecil yang kerap terdampar di Kepulauan Andaman dan Nicobar yang berbatas langsung dengan Aceh. “Jika ini terwujud, maka nelayan Aceh yang terdampar di Kepulauan Andaman dan Nicobar tidak dihukum lagi,” sebutnya. Ide itu berawal dari Andi Ghalib, duta besar Indonesia untuk India yang pernah minta Adli, agar mengusahakan pemerintah daerah dapat mendorong pusat mengada-

42

kan perjanjian dengan India. “Pemerintah Aceh harus proaktif mendorong pemerintah pusat untuk membangun hubungan bilateral ini,” kata Andi Ghalib suatu ketika pada Adli. Hal itu sangat dimungkinkan, karena tak ada sejarah konflik selama ini antara Aceh atau Indonesia dan India. Lembagalembaga yang bergerak di bidang kelautan di India sudah memberi sinyal membantu mendorong pemerintah mereka, untuk kerjasama tersebut. Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar memberi perhatian kepada nelayan dan usulan panglima laot itu. Pihaknya telah diperjuangkan sejak akhir tahun lalu ke pemerintah pusat. Harapannya, nelayan Aceh yang tertangkap di luar wilayah Indonesia, tak lagi dipenjara. Tapi bisa dipulangkan secepatnya ke Aceh. *** DI INDIA, ANDI GHALIB JUGA TERUS mencari jalan. Ia banyak membantu nelayan Aceh yang terperangkap di sana. Salah satunya, ikut menfasilitasi saat 10 nelayan Aceh dibebaskan India akhir Agustus 2008. “Kami juga diberi uang saku untuk beli baju, celana dan sepatu oleh Pak Andi. Jika tidak ada, maka dengan celana pendeklah kami pulang,” sebut Fadhila Murpi, nelayan Aceh yang bebas kala itu. “Ketika akan terbang ke Malaysia, Andi M Ghalib sengaja terbang dari New Delhi ke Chennal untuk menjamu kami di sebuah restoran.” Mulyadi, 24 tahun, warga Kampong Jawa, salah seorang nelayan Aceh yang bebas bersama Fadila mengisahkan awal penangkapannya, 20 Agustus 2006 silam, saat memutuskan melaut mencari hiu. Esok harinya, awak Boat Hakiki itu terus berputar-putar mengintip ikan, menebar jaring. Pulau Sabang, paling barat Indonesia,

sekilas tampak, lalu semakin jauh. Mulyadi, pawang (nakhoda) boat tak menyangka, itu adalah awal buruk baginya dan awak kapal. Mereka tak tahu lagi arah sebenarnya, dengan hanya bermodal kompas. Sekitar pukul 17.30 Wib, tiba-tiba sebuah kapal patroli milik polisi Port Blair, India, mendekat. Mulyadi dan anak buahnya; Suryadi, Adiyus, Supriadi dan Mul, memacu boat untuk menjauh. Mereka kalah cepat dan tertangkap. Lalu tertuduhlah mereka sebagai rompak ikan di wilayah India, nelayan itu telah berada di sekitar Kepulauan Andaman. Pasukan bersenjata mengiring mereka ke pulau, dalam boat ada 18 ekor hiu. Mulyadi dan rekan tak berkutik. “Saat ditangkap, kami tidak dipukuli, kami diperiksa dan mereka meminta paspor dan surat izin. Tapi kami tidak punya semua itu, sehingga kami ditangkap,” Mulyadi bercerita. Tiga hari diperiksa di kantor imigrasi Andaman, mereka dinyatakan bersalah. Ikan dan boat menjadi barang bukti dan disita aparat India. Enam bulan prose’s di pengadilan, mereka kemudian divonis. Mulyadi sebagai komandan boat diganjar dua tahun. “Empat kawan saya hanya dihukum satu tahun,” ujar Mulyadi, yang bebas tepat 21 Agustus 2008. Mulyadi, sampai saat ini, belum lagi memulai aktivitas sebagai nelayan. “Saya masih trauma kalau mengingat bagaimana kami kehilangan arah di lautan. Ini harus jadi pengalaman bagi kawan-kawan nelayan lain.” Ia dan kawan-kawan, terus berharap sebuah perjanjian bilateral antarnegara. Agar yang terjebak laut, tak lagi dicap sebagai rompak tanggung yang berakhir dalam penjara. [a]

FEATURE

Kabar Ayah dari Laut.

Dalam gendongan, Rafi merengek pada ibu yang merindukan sang suami. Laut membawa pesan, Faisal yang berprofesi sebagai pemburu hiu, ditahan di Myanmar.

Hiu tangkapan para nelayan Acehdi TPI Lampulo.
FOTO KIRI YO FAUZAN—ACEHKINI; BAWAH: HASBI AZHAR—ACEHKINI

oleh

adI WaRSIdI dan JAMALUDDIN

FOTO: JAMALUDDIN—ACEHKINI

PANDANGANNyA LURUS KE DEPAN, menembus jendela rumah. Sesekali ia berpaling, mengayunkan badan, menina-bobokan bayi dalam gendongannya, menangis dan diam terbuai hembusan angin laut Lampulo, Banda Aceh. Pada kapal-kapal yang pulang, pernah ia menaruh harapan, melihat suaminya membawa hasil tangkapan. Tapi tiada yang dirindukannya, sang suami hilang bagai ditelan ombak dan sempat tak berkabar. Rifa Dewi, perempuan itu. Umurnya masih 18 tahun. Seorang bayi di gendongannya masih 2,5 bulan, diberi nama Rafi Maulana. Suaminya adalah Faisal, 24 tahun, atau sering disapa ‘gawat’ oleh rekan-rekannya. Dia berjodoh dengan pemuda sekampung dan menikah awal November tahun lalu. Syahdan, 15 hari setelah pesta sederhana di Lampulo, 19 November 2007. Saat itulah kisah sedih Rifa bermula. Sang suami
ACEHKINI November 2008

43

yang nelayan, izin melabuh harapan di laut lepas. Rifa berat, karena masih dalam hitungan bulan madu. “Tapi karena menjelang lebaran haji, perlu kebutuhan uang banyak, saya izinkan dia melaut,” kisah Rifa pada ACEHKINI, akhir bulan lalu. Berangkatlah Faisal memburu hiu yang bersirip mahal, bersama Zakaria, Irwanto, Mansur dan Hendra. Kapal Motor (KM) Family yang membawa mereka perlahan jauh dari pandangan. Rifa melambaikan tangan, berharap suaminya kembali dengan nafkah untuk melengkapi Hari Raya Idul Adha. Biasanya, Faisal dan kawan-kawan hanya delapan sampai sepuluh hari di laut lepas. Setelah itu sudah di kampung. Sampai tenggat waktu, yang diharapkan kosong. Faisal dan kawannya tiada merapat ke dermaga. Senang bercampur duka dirasakan Rifa, saat ia tahu telah mengandung. “Saya tanya selalu kepada nelayan lain, tidak ada yang tahu pasti, ada yang bilang ditangkap di India, ada yang bilang di Myanmar,” sebutnya. Hari berbilang minggu dan bulan, kabar tiada datang. Dalam kegalauannya, Rifa selalu berdoa, agar orang yang dicintainya masih ada. Awal Januari 2008, sebuah kabar datang dari kawannya, Nini Afriana, pacar Zakaria. Nini mendapat telepon dari seseorang di seberang. Pesannya, awak KM Family selamat, tapi ditahan polisi Myanmar. Mereka bersalah, melewati batas negara saat berlayar. Pelan, hatinya tenang. “Dari pacar Zakaria itu saya tahu, kalau suami saya ditahan, saya lega karena suami saya masih selamat,” kata Rifa. Keyakinan Rifa makin kuat setelah beberapa media terbitan Aceh memuat foto suaminya yang ditahan di Myanmar, Agustus lalu. Bulan itu juga dia melahirkan anaknya. “Saya sangat sedih, semenjak saya hamil hingga sudah melahirkan, belum sempat melihatnya (suami).” Nini Afriana pada ACEHKINI menyebutkan, dia juga resah karena kekasihnya tak ada kabar sejak pergi melaut bersama Faisal. Dua bulan kemudian, dia menerima telepon dari luar negeri, meminta agar Nini mengabarkan kepada keluarga Zakaria, bahwa mereka ditahan di Myanmar karena melewati batas perairan. “Ketika saya tanya kapan dibebaskan, mereka bilang akan ditahan dan diperiksa dulu di sana,” ujar Nini menirukan penelepon. Kabar nelayan-nelayan itu sampai juga ke meja Sekretariat Panglima Laot Aceh, di Banda Aceh. Panglima Laot adalah lembaga adat yang mengurusi para nelayan Aceh. Adli Abdullah, sekretaris jenderal lembaga itu mengakui keberadaan mereka di Myanmar. Berita itu sampai ke telinganya 44

Juni 2008, saat para nelayan yang ditahan mengirim surat untuk keluarganya di Lampulo. “Lalu kita selidiki keberadaan mereka dengan meminta bantuan KBRI di yangon, Myanmar,” ujarnya. Kabar didapat. Ada sepuluh nelayan Aceh yang ditahan di Penjara Kota Myeik Tanintharyi Division, Uni Myanmar atau sekitar satu jam penerbangan ke arah tenggara dari kota yangon. Lima di antaranya adalah awak KM Family. Mereka ditangkap Angkatan Laut Myanmar, sekitar 50 mil dari pulau terluar Myanmar pada 22 November 2007, setelah terombang-ambing di laut karena kerusakan mesin. Mereka kemudian ditahan selama 3 malam di kantor polisi terdekat sebelum akhirnya dijebloskan ke penjara Myeik, pada 28 November 2007. Semua nelayan itu beralamat di Lorong Beringin, Desa Lampulo, Banda Aceh. Sementara lima lainnya adalah mereka yang terjerat belakangan, para awak KM Rahmat yang terdiri dari Rasmal, Sukardi, Hermansyah, Musliadi dan Defi Joni. Mereka berlayar pada 1 Februari 2008. Dalam perjalanan pulang pada 8 Februari 2008 atau sekitar 70 mil dari pantai Myanmar, mereka ditangkap Angkatan Laut Myanmar. Kemudian dibawa ke kantor polisi dan akhirnya ditahan di Penjara Myeik sejak 13 Februari 2008. Konon, kesepuluh nelayan itu telah divonis pengadilan setempat masing-masing lima tahun penjara. Panglima Laot Aceh terus berusaha mengupayakan pembebasan mereka dengan meminta bantuan sepenuhnya dari KBRI. Awal September silam, kata Adli, pihak KBRI di yangon, mengirimkan kabar terbaru, sepuluh nelayan Aceh itu dalam keadaan sehat. “Sekretaris Ketiga Protokol

Kehidupan Nelayan di TPI Lampulo (atas) dan M Adli Abdullah (bawah).
FOTO ATAS: YO FAUZAN—ACEHKINI; BAWAH: DOK-PRIBADI

dan Konselor dan seorang staf lokal KBRI yangon telah bertemu dengan kesepuluh nelayan Aceh itu,” kata Adli. Kabarnya, mereka sedang diusahakan pengampunan agar tak lama lagi harus mendekam di penjara negeri junta militer itu. KBRI di yangon terus melobi pihak berwenang Myanmar, agar para nelayan itu, dapat secepatnya kembali berkumpul bersama keluarganya di Aceh. Di Lampulo, Rifa dan anaknya terus menunggu pulangnya sang belahan jiwa. Dia berharap pemerintah mau membantunya, agar Faisal pulang secepatnya. “Kami was-was, takut akan ditahan lama di sana,” kata Rifa, sambil berusaha mendiamkan Rafi yang merengek dalam ayunan. [a]

Hidup
MODE KULINER HOBI KESEHATAN

Gaya

KECANTIKAN

OLAHRAGA

Amerika Latin hadir di Aceh. Diminati belia, mahasiswa hingga kalangan eksekutif muda.
oleh

Demam Juan Carlos di Seutui. Sepakbola ala
RIZa oZ
FOTO: YO FAUZAN—ACEHKINI

MALAM KIAN USANG, GERAI makanan khas ala Italia di kawasan Setui telah tutup. Namun riuh masih terdengar persis di belakang gerai. Di sana, puluhan
ACEHKINI November 2008

pemuda larut bermain futsal. Sejak sebulan silam, bekas terminal L-300 jurusan barat dan selatan Aceh itu di sulap Dedi Sartika, warga Geuce Komplek, Banda Aceh, menjadi lapangan sepak bola ala Amerika Latin. Jauh beda dengan sepak

bola biasa, luasnya hanya 15 x 25 meter. Berat bolanya hanya 400 gram. Permainan juga tidak dilangsungkan di lapangan berumput, melainkan karpet sintetis dari tali rapia. Lebar gawang hanya tiga meter dan tinggi dua meter. Sekeliling la45

pangan dibatasi jaring. Jumlah pemainpun hanya lima orang. Walau arena bermain kecil, jangan kira futsal tidak bisa memeras keringat. Anda tak akan sempat berdiri seperti bermain sepak bola. Futsal memaksa pemain terus bergerak. ”Pertama mikirnya nggak terlalu capek karena lapangannya kecil, ternyata lumayan capek main futsal,” kata Ronny Chandra, salah seorang eksekutif muda. Tapi jangan khawatir, pergantian pemain dalam futsal tak terbatas. Kapan saja pemain dapat masuk dan meninggalkan lapangan. Khusus penjaga gawang, hanya boleh diganti bila bola sedang tidak digiring, itupun atas persetujuan wasit. Hendri, salah seorang mahasiswa di Banda Aceh, hafal benar peraturan permainan ini. Menurutnya, jika bolanya keluar lapangan, maka bola itu harus ditendang, bukan malah dilempar. Selain itu, pemain tak boleh membawa bola lebih dari empat detik tanpa dioper ke pemain lain. ”Bila tidak, maka si pemain akan dikenakan hukuman pelanggaran,” jelas Hendri. Waktu permainan dibagi dua babak, masing-masing 25 menit. Masalah perlengkapan, selain kaos seragam agar dapat membedakan kawan dan lawan, futsal juga membutuhkan sepatu khusus. Tidak seperti sepatu bola biasa yang memiliki grip, sepatu futsal terbuat dari karet. ”Harganya mulai 200 ribu sampai ada yang satu juta, tapi banyak juga yang pakai sepatu biasa, asal nyaman aja di kaki,” ungkap Hendri. Melihat permainan itu mulai digandrungi, setelah menamatkan pendidikan di Universitas Trisakti, Jakarta, Dedi Sartika kembali ke Aceh. Pemuda 26 tahun inilah yang memperkenalkan futsal pertama di Aceh. Ia membangun dua lapangan. Modalnya,mencapai lima milyar. Gedung

futsal miliknya sudah kategori standar. Selain lapangan, lokasi itu juga dilengkapi kafetaria dan kamar mandi khusus untuk para pemain. Ada juga loker, untuk para anggota. ”Saya ingin membuat arena ini menjadi sangat nyaman,” ungkapnya. Dedi serius menggarap usahanya. Ia merekrut sembilan karyawan untuk mengelola usaha yang dibuka dari pukul 10.00 sampai 12.00 malam. Omsetnya pun tak tanggungtanggung: Rp 3 juta saban hari. ”Kebanyakan mereka mainnya malam, apalagi kalau sabtu dan minggu, lumayanlah omsetnya” katanya. Walau Dedi telah membuat dua lapangan, namun peminat tak langsung dapat main. Tak cukup sehari menunggu nama tim bisa tercantum di papan jadwal yang ditempel dekat ruang ganti. ”Saya pesan lapangan jauh-jauh hari, sebab peminatnya banyak,” kata Ronny. Ronny memilih bermain futsal di malam hari, karena jadwal kerjanya yang padat. Apalagi setelah main futsal dia mengaku bisa tidur pulas dan menghilangkan semua beban kerja selama sepekan. ”Setiap akhir pekan kami selalu datang dan main futsal bersama di sini, habis main kan capek tapi besok badan udah enakan, karena semua keringat keluar, Senin bisa kerja lagi” akunya. Tak hanya para eksekutif muda yang mengandrungi permainan ini. Para remaja usia sekolah maupun mahasiswa juga banyak yang antri mencoba kepiawaiannya mengolah bola. Maklum, di Banda Aceh sendiri baru di tempat ini sajalah permaian itu ditemukan. ”Untuk sewa lapangan kami biasanya kumpul duit, karena harga sewa lapangannya 150 ribu per jam. Tapi kalau malam susah bisa main karena udah banyak grup yang boking duluan, jadi kadang kami main-

nya sore,” ungkap Hendri salah seorang mahasiswa di Banda Aceh. Dedi berencana mengelar turnamen untuk menambah peminat olahraga ini. Meski baru mulai dibuka secara resmi pada akhir Oktober, klub yang mengantri sudah menjamur. Futsal sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yaitu Futbol (sepak bola) dan Sala (ruangan), yang jika digabung artinya menjadi Sepak Bola dalam Ruangan. Futsal mulai dikenal sejak tahun 1930 di Montevideo, Uruguay. Permainan ini diperkenalkan Juan Carlos Ceriani, seorang pelatih sepak bola asal Argentina. Hujan yang sering mengguyur Montevideo membuatnya kesal. Tak jarang, rencana yang ia susun jadi berantakan karena lapangan tergenang air. Lalu Ceriani memindahkan latihan ke dalam ruangan. Pertama ia tetap menggunakan pemain 11 orang, layaknya sepakbola biasa. Namun karena lapangan yang sempit, dia memutuskan mengurangi jumlah pemain menjadi 5 orang tiap tim, termasuk penjaga gawang. Ternyata latihan di dalam ruangan itu sangatlah efektif dan atraktif. Minat masyarakat Montevideo pun tumbuh. Lalu banyak penggemar bola di kota itu yang mencoba permainan baru ini. Jadilah Futsal olahraga yang diminati masyarakat luas. Di Indonesia, permainan ini baru menjamur sekitar tahun 1998 di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung. kalangan artislah yang lebih intens memperkenalkan olahraga itu. Bahkan Luna Maya aktris kawakan Indonesia itu, juga kepincut dengan olahraga ini. Tak heran, Dedi pun mulai berpikir melebarkan sayap. ”Rencananya saya akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan sepatu untuk memasok sepatu futsal,” ujarnya. [a]

46

Sains
PENDIDIKAN INOVASI BUKU BUKU

Pengakuan Bandit
ADI WARSIDI
STRATEGI yANG DIBUATNyA JITU, tujuannya hanya satu; menghancurkan ekonomi dunia ketiga yang kaya sumber alam. Lalu menundukkannya secara ekonomi. John Perkins muda bekerja pada perusahaan konsultan MAIN bermarkas di Boston, Amerika Serikat. Tugas pertamanya ialah membuat laporan-laporan fiktif untuk International Monetery Fund (IMF) dan Bank Dunia, agar mengucurkan utang luar negeri ke negaranegara sedang berkembang. Selanjutnya, Perkins yang menyebut dirinya sebagai economic hit man (bandit ekonomi), membangkrutkan negeri penerima utang. Semua itu dilakukan demi korporatokrasi – jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dari negara-negara dunia ketiga. Mereka memaksa negeri pengutang menjual ladang-ladang minyaknya pada multinational coorporation milik kaum konglomerat Amerika. Tak terkecuali, Indonesia juga ikut dijarah. Perkins langsung terjun sendiri bersama timnya, para bandit ekonomi, untuk

oleh

John Perkins ACEHKINI November 2008

FOTO: FREEWEBS.COM

Judul asli: The Secret History of the American Empire Penulis: John Perkins Penerbit: Ufuk Press, Agustus 2008 xxviii + 465 halaman
47

menganalisa guna menemukan titik lemah. Perkins menulisnya di halaman awal: “1971, aku sudah siap memerkosa dan menjarah Asia.” Petualangannya laksana pahlawan. Di mana pun ia menjual “kecap” untuk penyelamatan ekonomi, padahal itu hanya perangkap. Perkins memotret dan memetakan sumber daya, sampai memengaruhi petinggi negara. Simaklah satu kutipan dalam bukunya: “suatu hari pada 1995, seorang petinggi Stone and Webster Engineering Company (SWEC) menelepon untuk bertemu denganku. Sambil makan siang, ia membahas proyek pembangunan komplek pemrosesan bahan kimia di Indonesia...” Nilainya tak kurang dari US$1 miliar. Petinggi SWEC bertekad mewujudkan proyek ini. Tapi dia tak bisa melakukannya sebelum menemukan cara membayar seorang anggota keluarga Soeharto sebesar US$150 juta. Begitulah suap dilakukan, dan Perkins ikut memainkan keahliannya. Pada sisi lain contohnya, tentang tsunami Aceh yang dilirik para punggawa di negara maju. Perkins menulisnya dalam satu judul tersendiri: ‘Mendulang Emas dari Tsunami.’ Itu berkah tersendiri bagi Amerika. Pemerintahan Bush tak sia-siakan waktu. Sebulan setelah tsunami, Januari 2005, Washington membalik kebijakan Pemerintahan Clinton pada 1999 yang memutuskan hubungan militer dengan Indonesia karena dianggap represif. Gedung Putih mengirim peralatan militer senilai US1 juta ke Jakarta. Pada 7 Februari 2005, koran The New York Times menulis, “Washingtom menyabet kesempatan yang muncul pascatsunami.” Belakangan, tulis Perkins, segera setelah tsunami menghancurkan wilayah pesisir Aceh, sejumlah perusahaan konstruksi dan permesinan Amerika melobi Bank Dunia dan lembaga bantuan lain untuk membangun jalan raya, yang utamanya akan menguntungkan industri minyak dan kayu. Tak hanya Indonesia. Pada belahan Asia lain, Perkins juga memainkan peran dalam menghancurkan ekonomi negara dunia ketiga. Sebut saja Nepal, Tibet, Thailand dan Filipina yang dikunjunginya dengan kedok pahlawan ekonomi. Di luar Asia, dia mengembara ke bagian benua lain. Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika. Semua sepak terjangnya diceritakan dengan gamblang dibuku yang dalam bahasa Indonesia berjudul: Pengakuan Bandit Ekonomi ini, mulai dari membajak pesawat sampai membunuh seorang presiden. Bandit ekonomi ini, menggambarkan bagaimana ia menghalalkan segala cara untuk tujuan dan kepentingan korporatokrasi. Bahkan pembunuhan menjadi ‘legal’ dalam misinya. Di Afrika, kegagalan para bandit ini banyak terjadi. Alhasil, pembunuhan memainkan peran penting dalam politik 48

di benua hitam itu. Meski sebagian besar dilakukan diam-diam, beberapa memakai samaran eksekusi legal. Mungkin yang paling terkenal di antara beberapa pembunuhan ‘legal’ adalah terbunuhnya Ken Saro-Wiwa, pejuang lingkungan Nigeria dan warga suku Ogoni. Dia dianggap berbahaya bagi misi korporatokrasi karena memimpin gerakan perlawanan terhadap eksploitasi tanah airnya oleh beberapa perusahaan minyak. Ken sempat ditahan dan diadili oleh pemerintahan Jenderal Sani Abacha, diktator di Nigeria yang pro-korporatokrasi, seperti Soeharto di Indonesia. Pada November 1995, Ken Saro-Wiwa digantung bersama delapan rekannya. Begitulah sekilas bandit ekonomi memainkan peran. Kejadian demi kejadian yang dialami dan dipraktikkan langsung oleh Perkins membuatnya merenung. Kemiskinan disaksikannya dan dia pun “tobat”, sampai akhirnya berhenti sebagai bandit ekonomi. Menyadarkan dunia dan mengubahnya, dia menulis buku. The Secret History of The American Empire adalah kelanjutan petualangannya di Indonesia dan negara dunia ketiga. Buku pertamanya berjudul: Confessions of An Economic Hit Man masuk best seller dan telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa. Buku ini bukan fiksi, tapi kenyataan karena Perkins menulis petualangannya membangkrutkan ekonomi negara-negara berkembang di balik dalih bantuan. Bekas

bandit itu menulis dengan baik, lengkap detail sampai hal-hal kecil. Alur ceritanya pas dan tak bertele-tele. Perkins juga menyuguhkan dialog-dialog yang membongkar berbagai sisi terkait usahanya dalam melumpuhkan ekonomi negara dunia ketiga. Inilah kisah dari balik layar yang dipaparkan secara memikat, bergulir laksana sebuah film sukses, dituturkan lewat mata seorang pria yang pernah membantu membentuk imperium itu. Buku ini tak hanya membeberkan konspirasi korupsi yang telah mengobarkan ketidakstabilan dan sikap anti-Amerika di seluruh muka bumi, tetapi juga menawarkan berbagai solusi dan petunjuk praktis yang mudah dipahami untuk menghadapi kejahatan korporatokrasi. Perkins mengajak warga dunia memerangi kejahatan korporatokrasi dengan berbagai jenis senjata ampuh, menyodorkan sebuah rencana simpatik untuk mencitrakan kembali dunia kita. Buku ini memang bukan ditulis untuk semua golongan. Ini adalah buku bagi para pemimpin, pemikir dan pelaku ekonomi serta negarawan dan mahasiswa yang sedang belajar. Membacanya seperti membaca imperium Amerika dalam karakter tipu muslihat. [a]

Pemrotes dari Ogoni (kelompok minoritas di

Nigeria) berunjukrasa di Washington, 10 November 2006, memperingati hukuman gantunf terhadap Ken Saro-Wiwa.

FOTO: GRUNDLEPUCK/FLICKER.COM/PEACECOUNCIL.NET

Figura
oleh

TEUKU WISNU

Antara Jakarta - Sigli
MISMAIL LAWEUENG FOTO: MISMAIL LAWEUENG—ACEHKINI

KESOHOR SEBAGAI PESINETRON, TAK MEMBUAT TEUKU WISNU melupakan kampung halamannya. Buktinya, cuti empat hari dari pabrik sinetron MD Entertainment saat lebaran kemarin, dimanfaatkan untuk saweu gampong di Blok Bengkel, Kabupaten Pidie. “Senang banget bisa lebaran di kampung, silaturrahmi dengan keluarga dan teman-teman lama,” ujar pria kelahiran Jakarta, 4 Maret 1985, pada ACEHKINI baru-baru ini. Selama ini, hati Wisnu terpaut antara Jakarta – Sigli. Maklum, meski Wisnu tinggal di Jakarta, orang tuanya masih menetap di Blok Bengkel, Sigli. Ayahnya, Teuku yusar, adalah pegawai negeri di Pidie Jaya. Sebenarnya, bintang iklan rokok Djarum 76 ini ingin membujuk kedua orang tuanya ikut menetap di Jakarta. Sayangnya, Wisnu terpaksa harus menunggu sang ayah pensiun. “Kalau sekarang, papa sama mama ngak mau. Masih dinas di Pidie Jaya,” sebut pemeran Erwin dalam sinetron ‘Zahra’ ini. Di kampungnya, pemeran Farrel dalam sinetron ‘Cinta Fitri’ ini, berziarah dan bersilaturrahmi dengan kerabat. Aktor yang beken lewat sinetron ‘Culunnya Pacarku’ itu juga mengadakan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman dekat ketika SMP. “Wisnu dulu sekolah di SMP 1 Sigli, makanya nyempatin diri ketemu teman-teman dekat SMP dulu,” tutur aktor film ‘Gue Kapok Jatuh Cinta’ ini. Mumpung di Aceh, penyuka timphan dan mie caluek ini, juga sempat nongkrong di warung kopi Solong, Ulee Kareng. Tapi, dia lebih suka makan timphan asoe kaya ketimbang menyeruput kopi sambil silaturrahmi. “Apalagi pada momen lebaran,” timpal mahasiswa Fakultas Ilmu Politik Universitas Moestopo, Jakarta ini. Seusai melihat Aceh, Wisnu berharap Serambi Mekkah bisa lebih baik lagi. “Saya mau yang terbaik untuk Aceh, jangan ada konflik lagi, baik dengan pemerintah maupun sesama orang Aceh,” ujar lajang yang enggan bicara soal politik itu. [a]

ACEHKINI November 2008

49

Melahirkan Anak Pertama
oleh

THE VIRTUO

MAIMUN SALEH FOTO: YO FAUZAN—ACEHKINI

FERA AMELIA

Tersandung Usia
oleh

RIZA OZ FOTO: YO FAUZAN—ACEHKINI

MULANyA HANyA PERCAKAPAN BIASA, lamat-lamat Fera Amalia terpincut politik juga. Telah menjadi tabiatnya, kalau ia tak pernah mau berhenti mencoba. Meski merasa ragu, berkat dorongan orang terdekat, Fera akhirnya setuju dilamar satu partai nasional. “Fera sebenarnya nggak punya niatan buat jadi caleg, apalagi pengetahuan Fera tentang politik juga masih cetek,” akunya. Tidak tanggung-tanggung, gadis kelahiran Banda Aceh, 21 November 1987 silam, ditempatkan di nomor urut kedua daftar calon anggota legislatif (caleg) Kota Banda Aceh dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tak hanya karena alasan parasnya yang cantik, Fera juga punya segudang pengalaman berhadapan dengan publik. Berbekal suara renyahnya, Fera mengudara di gelombang radio 105,2 FM Flamboyant Banda Aceh. Profesi itu telah digelutinya sejak setahun lalu. Dia juga dipercaya menjadi produser berbagai acara khusus, di radio gaminong itu. Selain sebagai pramunada, Fera juga sering wara-wiri di berbagai ajang pencari bakat untuk jadi selebriti. Mulai finalis model majalah remaja sampai peserta lomba menyanyi yang digawangi sebuah televisi swasta. Terakhir pertengahan Juli lalu, Fera ikut casting film layar lebar yang diangkat dari sebuah novel karya Habiburrahman El ShiRadzie bertajuk ‘Ketika Cinta Bertasbih’. Tapi, tak beruntung. Keinginan untuk menjadi caleg masih harus disimpannya. Sebab saat didaftar ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, umur Fera belum cukup menjadi calon wakil rakyat. Dia tak kecewa. Malahan, dia mengaku masih perlu banyak belajar untuk menambah wawasan mengenai politik. “Umur Fera belum genap 21 tahun, jadi belum bisa mendaftar. Tapi syukurlah karena Fera belum siap menggeluti dunia politik,” ungkap mahasiswi jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (SEP), Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. “Lagi pula, orang tua berharap supaya Fera bisa menyelesaikan pendidikan.” [a] 50

USIANyA BARU ENAM BULAN. WALAU BEGITU, VIRTUO TELAH ‘melahirkan anak pertama’. VCD-nya beredar di pasar, September lalu. Jangan salah, isinya bukan proses persalinan, melainkan clip musik. “Judul albumnya primigravida, artinya melahirkan anak pertama. Karena ini album pertama. Itu bahasa medis diambil dari bahasa yunani,” jelas TM Fajri, manajer Virtuo. Maklum, Nadisyah --vokalis band ini-seorang dokter di Rumah Sakit Harapan Bunda, Banda Aceh. Walau terbilang band pendatang baru, tapi musisi di dalamnya ‘muka lama’. Selain Nadisyah, juga ada Deni Syukur pemetik gitar. Sementara Ulis memainkan bass dan Eko penabuh drum. Mereka dikenal alot memainkan musik jazz. Tak ayal, primigravida bercitarasa jazz. “Ini bisa disebut fusion,” ujar Deni Syukur. Namun tak seluruhnya, sebagian lain musik pop. Khususnya, untuk tembang-tembang cinta. Uniknya, walau bertema cinta dengan iringan pop, lagu-lagunya Virtuo justru mengangkat keagungan perempuan. Namun, instrumen lebih dominan. Dari 11 lagu, enam di antaranya instrumen. Bahkan diawali dan ditutup dengan musik tak berlirik. “Instrumen dan liriknya gampang dipahami dan nyaman di kuping kok,” kata Ulis. Selain itu, ada pula lagu yang akrab di kuping pendengar musik etnik Aceh. Virtuo merilis Beusare-sare, Huzat dan Bungong Jeumpa. Di lagu ini, mereka tak hanya unjuk kebolehan meracik nada tapi juga kekuatan lirik. Huzat misalnya, disadur dari lafal para pemain debus. “Musiknya etnik tapi alatnya modern,” jelas Deni. Bagi Virtuo, merilis album taklah sulit. Mereka mengerjakannya di studio sendiri. Selain hemat biaya juga ringkas waktu, primigravida sendiri diselesaikan dalam waktu dua bulan. Kalau begitu, di nanti kelahiran selanjutnya! [a]

COMMERCIAL

Space for R ent

Pemasangan iklan, hubungi: PT. ACEHKINI Jl. Angsa No 23, Batoh Lueng Bata, Banda Aceh. Telp. 0651.7458793 atau Abdul Munar [081360039003]
ACEHKINI November 2008

51

52

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->