Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

“ UJI KUALITATIF LIPID “

Disusun oleh:

Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)

Amelia Felicia Cornelius Putri (098114005)

Kenny Ryan Limanto (098114006)

LABORATORIUM BIOKIMIA
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010
PERCOBAAN II
UJI KUALITATIF LIPID

A. TUJUAN
Dapat membuktikan beberapa sifat lipid

B. DASAR TEORI
Suatu lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tak larut
dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non polar seperti suatu hidrokarbon seperti dietil eter.
Contoh senyawa golongan lipid adalah lemak dan minyak, terpena, steroid, dan beberapa senyawa
lain yang penting, contohnya

(Fessenden, 1982)
Kelompok lipid memiliki sifat umum yaitu:
1. Relatif tidak larut dalam air.
2. Larut dalam pelarut non polar sepeti eter, kloroform serta benzena.
Jadi lipid mencakup lemak, minyak, malam dan senyawa-senyawa lain yang ada
hubungannya (Murray, 1995).
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi menjadi beberapa golongan. Bloor
membagi lipid menjadi 3 golongan besar, yakni:
1. Lipid sederhana yaitu, senyawa ester dalam lemak dengan berbagai alkohol. Contoh:
lemak dan lilin (waxes).
2. Lipid kompleks yaitu senyawa ester asam lemak yang mengandung gugus lain
disamping alkohol dan asam lemak. Contoh: fosfolipid, glikolipid, dan bentuk
kompleks lainnya.
3. Prekusor dan derivat lipid merupakan hasil hidrolisis kelompok lipid di atas.
Contoh: asam lemak, gliserol, alkohol, aldehid, dll
(Murray, 1995).
Asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu lemak atau minyak, yang disebut asam
lemak, umumnya mempunyai rantai hidrokarbon panjang dan tidak bercabang. Lemak dan
minyak sering kali diberi nama sebagai derivat asam lemak ini. Misalnya, tristearat jadi gliserol
diberi nama tristearin, dan tripalmitat dari gliserol disebut tripalmitin. Minyak dan lemak dapat
juga diberi nama dengan cara yang biasa untuk penamaan suatu ester. Sebagai contoh, gliseril
tristearat dan gliseril tripalmitat.
CH2OH
CH2O2C(CH2)16CH3
CHOH 3CH3(CH2)16COOH
CHO2C(CH2)16CH3 3H2O
H+
CH2OH
CH2O2C(CH2)16CH3

(Fessenden, 1982).
Asam lemak adalah asam karboksilat yang mempunyai rantai karbon panjang. Rumus :
O

R C OH
Dimana R adalah rantai karbon yang jenuh/ tidak jenuh terdiri dari 4-24 atom karbon (Poedjiadi,
1994).
Sifat kimia lipid yaitu lipid mudah larut dalam pelarut lipofil dan tidak larut dalam pelarut
hidrofil lemak yang mengandung asam lemak jenuh berwujud padat. Lemak yang mengandung
asam lemak tidak jenuh berwujud cair dan disebut minyak. Lemak karena merupakan senyawa
ester, maka mudah dihidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak dan bila dihidrolisis dengan basa
akan menghasilkan gliserol dan garam Na /K asam lemak (sabun) (Mayes, 1995).
Terpenoid merupakan senyawa yang diturunkan dari kombinasi 2 atau lebih satuan isoprene.
Isoprene merupakan satuan 5 karbon, yang secara kimiawi dikenal sebagai 2 metil 1,3 butadiena
(Sarker, 2009).
Steroid merupakan messenger kimia atau juga dikenal sebagai hormone.steroid disintesis
oleh kelenjar dan dihantarkan oleh aliran darah ke jaringan target untuk merangsang atau
menghambat suatu proses. Steroid bersifat non polar, karena steroid merupakan suatu lipid.
Karakter non polarnya memungkinkannya untuk melewati membran sel, dalam mana steroid-
steroid tersebut disintesis dan memasuki sel-sel targetnya (Sarker, 2009).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. tabung reaksi
2. penangas air
3. bunsen
4. vortex
Bahan:
1. minyak kelapa 9. KMNO4 0,1%
2. NaOH 0,9 N 10. Na2CO3 1%
3. aquadest 11. kuning telur
4. alkohol 96% 12. asam asetat anhidrida
5. NaCl jenuh 13. H2SO4 pekat
6. kristal KHSO4 14. reagen folin (mengandung ammonium
7. kloroform molibdat / tungstanat)
8. JKJ 15. kristal vitamin C

D. SKEMA KERJA
1. Penyabunan
Mengambil 2 tabung reaksi, masing-masing diisi 1 mL minyak kelapa

Menambahkan 1 mL NaOH 0,5 N pada tabung I dan 1 mL aquadest pada tabung II

Menambahkan 1 mL alkohol 96% dalam kedua tabung

Memanaskan di penangas air mendidih selama 15 menit

Mengeluarkan kedua tabung dan menambahkan NaCl jenuh, terjadi sabun

2. Menunjukkan adanya gliserol


Memasukkan minyak kelapa ke dalam tabung reaksi

Menambahkan sedikit kristal KHSO4

Memanaskan di atas lampu spiritus hingga terjadi uap putih

3. Menunjukkan adanya ikatan rangkap dalam asam lemak


Mengambil 4 tabung reaksi, mengisi tabung 1 dan 2 dengan 0,5 mL minyak kelapa, mengisi tabung 3
dan 4 dengan 0,5 mL aquadest.

Menambahkan 1 mL kloroform dan 5 tetes JKJ pada tabung 1 dan 3, menambahkan 1 mL NaOH 0,5N
dan 5 tetes KMnO4 10%
Mengamati perubahan warna yang terjadi

4. Sifat sabun sebagai emulgator


Mengambil 2 tabung reaksi,masing-masing diisi 1 mL minyak kelapa

Menambahkan 0,5 mL aquadest pada tabung I dan 0,5 mL Na2CO3 1% pada tabung 2.

Vortex, mengamati apa yang terjadi

5. Reaksi Liebermann – Burchard


Melarutkan 0,5 mL kuning telur dalam 1 mL kloroform kemudian di-vortex

Menambahkan asam asetat anhidrida, H2SO4 pekat


(dengan perbandingan 1 : 1)

Mengamati warnanya

6. Reaksi Salkowski
Melarutkan 0,5 mL kuning telur dalam 1 mL kloroform kemudian di-vortex.

Menambahkan 1mL H2SO4 pekat sebanyak 1 mL.

Mengamati warnanya.

7. Menunjukkan adanya ion fosfat dalam asam lemak


Menambahkan 1 mL H2SO4 pekat dalam 0,5 mL kuning telur

Menambahkan 1 mL reagen folin

Memanaskannya di atas api spiritus, menambahkan sedikit kristal vitamin C

Mengamati warnanya
E. DATA DAN ANALISA

1. Penyabunan
Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Tabung I
Minyak kelapa + NaOH + +
alkohol + NaCl jenuh
Atas kuning keruh, Atas kuning muda keruh,
bawah kuning jernih bawah kuning bening

Tabung II
Minyak kelapa + aquades + -
alkohol + NaCl jenuh
Atas putih bening,
Atas kuning muda keruh,
bawah kuning tua
bawah putih keruh

2. Menunjukan adanya gliserol


Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Minyak kelapa + KHSO4 +

Kuning muda + Kuning jernih, bau


gelembung, tidak berbau menyengat
3. Menunjukan adanya ikatan rangkap dalam asam lemak
Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Tabung I
+
Minyak kelapa + kloroform + JKJ

Kuning bening
Warna merah oranye (JKJ)
berubah menjadi bening

Tabung II
+
Minyak kelapa + NaOH + KMnO4

Kuning bening Atas hijau keruh, tengah


hijau, bawah bening

Tabung III
-
Aquades + kloroform + JKJ

Bening Atas kuning bening,


bawah putih bening

Tabung IV
-
Aquades + NaOH + KMnO4

bening Ungu tua


4. Sifat sabun sebagai emulgator
Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Tabung I
-
Minyak kelapa + aquades

Kuning bening Atas buih-buih

Tabung II
+
Minyak kelapa + Na2CO3

Kuning bening Putih susu

5. Reaksi Liebermann-Burchard
Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Kuning telur + di-vortex


kemudian + asetat anhidrida +
dan H2SO4 pekat (1:1)

Kuning keruh Merah kecoklatan

6. Reaksi Salkowski
Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Kuning telur + kloroform,


di-vortex, kemudian +
ditambahkan H2SO4 pekat.

Putih susu merah


7. Menunjukan adanya ion fosfst dalam asam lemak
Perlakuan pada tabung Sebelum Sesudah Hasil

Kuning telur + H2SO4 pekat


+ reagen folin + Kristal +
vitamin C

Biru tua, bau


Merah kecoklatan
menyengat

F. PEMBAHASAN
1. Penyabunan
Percobaan bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi suatu reaksi penyabunan
(saponifikasi) atau tidak pada minyak yang ditambahkan air atau NaOH. Terjadinya reaksi
penyabunan dapat ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung sabun, yang berupa
buih-buih.
Reaksi antara minyak, NaOH, dan alkohol 96% akan menghasilkan sabun karena terjadi
reaksi hidrolisis menggunakan NaOH. NaOH pada percobaan ini berfungsi sebagai penyedia
suasana basa pada reaksi hidrolisis minyak kelapa. Minyak kelapa merupakan tripalmitin yang
tersusun dari asam oleat, linoleat, linolenat, dan palmitat. Hidrolisis lemak pada suasana basa
akan menghasilkan gliserol dan garam dari asam lemak atau sabun. Fungsi dari penambahan
alkohol 96% pada percobaan ini adalah sebagai kosolven yang berfungsi melarutkan minyak
kelapa dan NaOH. Hal ini dikarena gugus alkohol yang bersifat semi polar sehingga dapat
larut pada air dan pada senyawa non-polar. Pemanasan diatas waterbath dimaksudkan agar
reaksi hidrolisis dapat berjalan semakin cepat. Sedangkan penambahan NaCl jenuh di akhir
percobaan dimaksudkan untuk mengapungkan sabun yang terbentuk. Ion Na+ dari NaCl, akan
bertemu dengan ion Na+ dari sabun. Ion bermuatan positif bertemu dengan ion bermuatan
positif, maka akan terjadi tolak-menolak yang dapat membuat sabun yang terbentuk
mengapung di permukaan.
Reaksi saponifikasi :

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan oleh praktikan, tabung I memberikan hasil
positif (+). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi reaksi penyabunan pada tabung I. Sedangkan
pada tabung II yang terdiri dari minyak kelapa, aquades, alkohol, yang kemudian ditambah
dengan NaCl jenuh, memberikan hasil negatif (-) yang berarti tidak terjadi reaksi penyabunan.

2. Menunjukkan adanya gliserol/ uji akrolein


Percobaan ini bertujuan untuk menunjukkan adanya gliserol dalam suatu sampel.. Dalam
uji ini, terjadi dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan
aldehid akrilat atau akrolein. Uji akrolein digunakan untuk menguji keberadaan gliserin atau
lemak. Ketika lemak dipanaskan setelah ditambahkan agen pendehidrasi, KHSO4 yang akan
menarik air, maka bagian gliserol akan terdehidrasi ke dalam bentuk aldehid tidak jenuh atau
dikenal sebagai akrolein (CH2=CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan
ditandai dengan asap putih.
Dalam hasil percobaan, didapatkan hasil positif dimana ketika minyak kelapa
ditambahkan KHSO4 dan dipanaskan yang ditandai dengan timbulnya bau yang menyengat.
Reaksi Uji Akrolein :

3. Menunjukkan adanya ikatan rangkap pada asam lemak/ uji ketidakjenuhan


Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk
asam lemak jenuh atau tidak jenuh. Asam lemak jenuh dapat dibedakan dari asam lemak
tidak jenuh dengan cara melihat strukturnya. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan ganda
pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan
timbulnya warna merah ketika JKJ diteteskan ke asam lemak, lalu warna kembali lagi ke
warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat
ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon asam lemak.
Sedangkan dengan mengggunakan KMnO4, reaksi positif akan ditunjukkan dengan
terbentuknya warna hijau ketika ditetesi dengan KMnO4. Penggunaan kloroform dalam
percobaan ini adalah sebagai pelarut dari lipid yang bersifat non polar, NaOH yang digunakan
berguna sebagai agen hidrolisis yang dapat menghidrolisis minyak kelapa menjadi gliserol dan
asam lemaknya. Penggunaan JKJ sebagai agen peng-adisi yang dapat mengadisi ikatan
rangkap yang terdapat pada minyak tak jenuh (ikatan rangkap) menjadi minyak jenuh (ikatan
tunggal) dan KMnO4 merupakan agen oksidator yang dapat mengoksidasi rantai hidrokarbon
asam lemak yang mengandung ikatan rangkap menjadi senyawa diol.
Reaksi dengan menggunakan JKJ :

Reaksi dengan menggunakan KmnO4

Dari hasil percobaan yang dilakukan, didapatkan hasil positif pada tabung I (minyak
kelapa + kloroform + JKJ) dan pada tabung II (minyak kelapa + NaOH + KMnO4). Hal ini
menunjukkan bahwa pada minyak kelapa yang diuji oleh praktikan, terdapat ikatan rangkap.

4. Sifat sabun sebagai emulgator


Tujuan dari percobaan ini adalah menguji sifat sabun sebagai emulgator. Sabun
merupakan garam logam alkali dari asam-asam lemak. Proses pembentukan sabun dari asam
lemak dan minyak oleh NaOH atau KOH disebut penyabunan (saponifikasi). Contohnya
reaksi penyabunan pada reaksi berikut.

Molekul sabun berupa rantai


hidrokarbon panjang dengan ujung
ionik. Bagian hidrokarbon bersifat
hidrofobik dan larut dalam pelarut
nonpolar, sedangkan bagian kepala
ionik bersifat hidrofilik dan larut
dalam pelarut polar. Senyawa yang

struktur misel
memiliki sifat seperti ini disebut senyawa ampifatik. Karena sifat ini, sabun cenderung tidak
larut dalam air. Namun, sabun akan terdispersi membentuk misel, yaitu gumpalan molekul
sabun yang ujung hidrofobiknya tesembunyi di bagian dalam, sedangkan bagian hidrofiliknya
berinteraksi dengan air.

5. Reaksi Liebermann-Burchard
Uji Liebermann-Buchard merupakan salah satu uji untuk mengidentifikasi adanya
kolesterol dalam lipid. Sebanyak 0,5 mL kuning telur dilarutkan di dalam 1 mL kloroform,
kemudian di-vortex. Setelah itu, asam sulfat pekat dan asam asetat anhihdrida ditambahkan ke
dalamnya. Tabung dikocok perlahan dan dibiarkan beberapa menit. Mekanisme yang terjadi
dalam uji ini adalah ketika asam sulfat ditambahkan ke dalam campuran yang berisi kolesterol,
maka gugus hidroksil pada gugus C-3 kolesterol akan dilepaskan dan teroksidasi membentuk
3,5-kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang mengandung kromofor yang
menghasilkan warna hijau. Warna hijau ini menandakan hasil yang positif. Reaksi positif uji
ini ditandai dengan adanya perubahan warna dari terbentuknya warna merah tua yang
kemudian berubah menjadi hijau tua. Timbulnya warna ini, disebabkan adanya gugusan
kromofor. Gugusan kromofor adalah gugusan atom C yang terkonjugasi (contoh : rangkap-
tunggal-rangkap) yang dapat menyerap panjang gelombang tertentu, sehingga menghasilkan
warna tertentu.
Penggunaan kloroform adalah sebagai pelarut non-polar yang dapat melarutkan lipida,
H2SO4(p) sebagai agen oksidator, asam asetat anhidrida sebagai pemindah ikatan rangkap dari
C6-C5 ke C5-C4.

Dari percobaan yang telah dilakukan, perubahan yang diamati hanya hingga berwarna
merah kecoklatan. Seharusnya dilakukan pengamatan lebih lanjut. Hal ini dikarenakan pada
kuning telur terdapat kandungan kolesterol yang dapat memberikan hasil positif jika diuji
dengan reaksi Liebermann-Burchard.

6. Percobaan Salkowski
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi adanya kolesterol. Sebanyak 0,5
mL kuning telur dilarutkan di dalam 1 mL kloroform, kemudian di-vortex. Setelah itu, asam
sulfat pekat ditambahkan ke dalamnya. Kemudian tabung dikocok perlahan dan dibiarkan
beberapa menit. Mekanisme yang terjadi dalam uji ini adalah ketika asam sulfat ditambahkan
ke dalam campuran yang berisi kolesterol, maka gugus hidroksil pada gugus C-3 kolesterol
akan dilepaskan dan teroksidasi membentuk 3,5-kolestadiena yang akan memberikan warna
merah karena adanya gugus kromofor. Gugusan kromofor adalah gugusan atom C yang
terkonjugasi (contoh : rangkap-tunggal-rangkap) yang dapat menyerap panjang gelombang
tertentu, sehingga menghasilkan warna tertentu.
Penggunaan kloroform adalah sebagai pelarut non-polar yang dapat melarutkan lipida dan
H2SO4(p) sebagai agen oksidator yang akan mengoksidasi kolesterol menjadi 3,5 kolestadiena.

7. Menunjukkan ion fosfat dalam asam lemak


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui adanya ion fosfat dalam lemak yang
berupa sefalin dan lesitin pada kuning telur. Hasil positif pada percobaan ini ditandai dengan
terbentuknya warna biru keunguan keruh yang menandakan adanya ion fosfat pada lipid yang
diuji.
Pada percobaan ini, digunakan H2SO4(p) yang berfungsi sebagai pemutus ikatan fosfat
pada lipid dan pemberi suasana asam ketika reaksi redoks yang menghasilkan molibdat blue,
vitamin C/ asam askorbat digunakan sebagai sebagai reduktor kuat, reagen follin digunakan
sebagai reagen untuk mendeteksi keberadaan ion fosfat.
Pertama-tama, sampel yang mengandung ion fosfat (dalam percobaan ini, kuning telur),
dicampur dengan reagen follin yang mengandung ammonium molibdat, (NH4)MoO4 pada
suasana asam yang kemudian akan menghasilkan PMo12O403-. Kemudian anion ini akan
direduksi oleh asam askorbat (vitamin C) sehingga menghasilkan PMo 12O407- yang akan
memberikan warna biru.
Reaksi yang terjadi adalah :
O O
H2C C O R1 H2C C O R1
O O
H2SO4
HC C O R2 HC C O R2 + H3PO4
O
H2C O P O R3 H2C R3

O
H+
H3PO4 + 12 (NH4)2MoO4 H3PMo12O40

HO
OH O
O
+ H3PMo12O40 H+
+ H7PMo12O40
O molybdenum blue
O O kompleks berwarna biru
OH
vitamin C O OH
asam dehidroaskorbat
OH
OH

oksidasi

reduksi

Pada percobaan yang telah dilakukan oleh praktikan, kuning telur memberikan warna
biru tua yang memberikan hasil positif. Hal ini menunjukkan adanya ion fosfat pada kuning
telur yang diuji.

G. KESIMPULAN
Hasil yang diperoleh dari praktikum, antara lain :
1. Percobaan “penyabunan”, diperoleh hasil positif pada tabung I (minyak kelapa + NaOH +
alkohol + NaCl jenuh), ditunjukkan dengan warna kuning muda keruh dan terbentuk
buih-buih sabun.
2. Percobaan “menunjukkan adanya gliserol”, diperoleh hasil positif ditunjukkan dengan
perubahan warna kuning jernih yang disertai dengan bau menyengat.
3. Percobaan “menunjukkan adanya ikatan rangkap dalam asam lemak”, diperoleh hasil
positif pada tabung I (minyak kelapa + kloroform + JKJ) yang ditandai dengan perubahan
warna merah oranye yang berubah menjadi bening ketika ditetesi JKJ dan tabung II
(minyak kelapa + NaOH+ KMnO4) yang ditandai dengan perubahan warna kuning bening
menjadi hijau keruh (lapisan atas), hijau tua (lapisan tengah), dan bening (lapisan bawah).
4. Percobaan “sifat sabun sebagai emulgator”, diperoleh hasil positif pada tabung II (minyak
kelapa + Na2CO3) dimana terjadi perubahan warna dari kuning bening menjadi putih
susu.
5. Percobaan “Liebermann-Burchard”, diperoleh hasil positif ditunjukkan dengan perubahan
warna kuning keruh menjadi merah kecoklatan.
6. Percobaan “Salkowski”, diperoleh hasil positif ditunjukkan dengan perubahan warna
putih susu menjadi warna merah.
7. Percobaan “menunjukkan adanya ion fosfat dalam asam lemak”, diperoleh hasil positif
yang ditunjukkan dengan perubahan warna merah kecoklatan menjadi biru tua yang
disertai dengan bau menyengat.

H. DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, R. J., 1982, Kimia Organik edisi III jilid 2, 407, 488, Erlangga, Jakarta
Mayes, A. Peter, 1995, Biokimia Harper edisi 22, 163-165, EGC, Jakarta
Murray, R. K., 1995, Biokimia Harper edisi 27, 152, EGC, Jakarta
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, 25-39, UI Press, Jakarta
Sarker, S., 2009, Kimia untuk Mahasiswa Farmasi, 456, 501, 502, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta

Yogyakarta, 26 Mei 2010


Praktikan,
1. Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)

2. Amelia Felicia Cornelia Putri (098114005)

3. Kenny Ryan Limanto (098114006)