Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Takhrijul Hadis


1. Pengertian Menurut Bahasa

Kata takhrij dari kata kharraja, yukhariju, yang secara bahasa mempunyai
bermacam-macam arti. Menurut mahmud ath-Thahhan, asal kata Takhrij, ialah :
‫حد‬
ِ ‫ي ٍء َو ا‬
ْ ‫ش‬
َ ‫ن ِفي‬
ِ ‫ضا َدْي‬
َ ‫ن ُمَت‬
ِ ‫ع َأ َْمَر ْي‬
ُ ‫جتَما‬
ِْ ‫َِإ‬

”Berkumpulnya dua hal yang bertentangan dalam satu persoalan”

Dalam arti lain tajrih/takhrij atau jarah dalam pengertian bahasa : melukai tubuh
ataupun yang lain dengan menggunakan benda tajam, pisau, pedang dasn
sebagainya, luka yang disebabkan oleh kena pisau dan sebagainya dinamakan
jurh. Dan di artikan pula jarah dengan memawkai dan menistai, baik dimuka
ataupun dibelakang.
Dari sudut pendekatan kebahasaan ini, kata takhrij juga memiliki beberapa arti,
yaitu pertama, berarti al-istinbath ( mengeluarkan dari sumbernya ). Kedua berarti
at-tadrib (latihan ) ketiga berarti at-taujih (pengarahan, menjelaskan duduk
persoalan)

2. Pengertian Secara Terminologis


Para ulama ahli hadis dalam hal ini mengemukakan beberapa definisi, seperti di
bawah ini :
Menurut satu definisi, arti takhrij sama dengan Al-ikhraj yaitu Ibraz Al-Hadits li
an-nas bidzikri mahrajih (mengumgkapkan atau mengeluarkan hadits kepada
orang lain dengan menyebutkan para perawi yang berada dalam rangkaian
sanadnya sebagai yang mengelaurkan hadits). Misalnya dikatakan : hadza hadits
akhrajahu al-bukhari atau kharrajahu al-bukhari ( hadist ini dikeluarkan oleh al-
bukhari). Arti takhrij menurut definisi ini banyak dipakai oleh para ulama dalam
mengutip atau menyebutkan suatu hadis.

Menurut definisi berikutnya, di sebutkan bahwa kata takhrij berarti ikhraj al-
ahadits min buthuni al-kutub wa riwayatuh ( mengeluarkan sejumlah hadis dari
kandungan kitab-kitabnya dan meriwayatkannya kembali ). Pengertian ini
diantaranya dikemukakan oleh as-sakhawi, ia menambahkan bahwa orang yang
mengeluarkan hadis tersebut kemudian meriwayatkannya atas namanya sendiri
atau atas nama guru-gurunya, serta menyandarkannya kepada penulis kitab yang
dikutipnya.

Menurut definisi lainnya, kata takhrij berarti ad-dalalah ala mashadir al-hadits al-
ashliyah wa azzuhu ilaihi ( petunjuk yang menjelaskan kepada sumber-sumber
asal hadis ). Di sini dijelaskan siapa-siapa yang menjadi para perawi dan
mudawwin yang menyusun hadis tersebut dalam suatu kitab.
Menurut mahmud ath-thahhan, definisi yang disebut ketiga ini yang banyak
dipakai dan terkenal pada kalangan ulama ahli hadis.
Berdasarkan definisi ini, ia menyabutkan pengertian takhrij sebagai berikut:

‫جِة‬
َ ‫حا‬
َ ‫عْنَد ْال‬
ِ ‫ن َمْرَتَبِتِه‬
ِ ‫سَنِدِه ُثّم َبَيا‬
َ ‫جِتِه ِب‬
َ ‫خَر‬
ْ ‫ي َأ‬
ْ ‫صِلَيِتِه اّلِت‬
ْ ‫ل‬
َ ‫صا ِدِرِه ْا‬
َ ‫ي َم‬
ْ ‫ث ِف‬
ِ ‫حِد ْي‬
َ ‫ضِع ْا ل‬
ِ ‫عَلى َمْو‬
َ ‫ل َلُة‬
َ ‫ا لّد‬
“petunjuk tentang tempat atau letak hadis pada sumber aslinya, yang
diriwayatkan dengan menyebutkan sanadnya, kemudian dijelaskan martabat atau
kedudukannya manakala diperlukan ".
Berdasarkan definisi di atas, maka me-ntakhrij, berarti melakukan dua hal, yaitu
yang pertama berusaha menemukan para penulis hadis itu sendiri dengan
rangkaian silsilah sanad-nya dan menunjukannya pada karya-karya mereka,
seperti kata-kata akhrajahuh al-baihaqi, akhrajahu al-thabrani fi mu’jamih atau
akhrajahu ahmad fi musnadih.
Penyebutan sumber-sumber hadis dalam definisi di atas, bisa dengan
menyebutkan sumber utama atau kitab-kitab induknya, seperti kitab-kitab yang
termasuk pada kutub as-sittah; atau sunber-sumber yang telah di olah oleh para
pengarang berikutnya yang berusaha menyusun dan menggabungkan antara kitab-
kitab utama tersebut, seperti kitab al-jami’baina as-shahihain oleh al-humaidi;
atau sumber-sumber yang berusaha menghimpun kitab-kitab hadis dalam
masalah-masalah atau pembahasan khusus, seperti masalah fiqih, tafsir atau
tarikh.
Kedua, memnberikan penilaian kualitas hadis apakah hadis itu sahih atau tidak.
Penilaian ini dilakukan andai kata diperlukan. Artinya, bahwa penilaian kualitas
suatu hadis dalam men-takhrij tidak selalu harus dilakukan. Kegaitan ini hanya
melengkapi kegiatan takhrij tersebut sebab, dengan diketahui dari mana hadis itu
diperoleh sepintas dapat dilihat sejauh mana kaulitasnya.

B. Tujuan Dan Kegunaan Men-Takhrij Hadis


Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang perlu dipelajari dan
dikuasai. Sebab di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui dari
mana sumber hadis itu berasal. Selain itu, di dalamnya ditemukan banyak
kegunaan dan hasil yang diperoleh, khususnya dalam menentukan kualitas sanad
hadis.
Tujuan pokok men-tahrij hadis adalah untuk mengetahui sumber asal hadis yang
ditakhrij. Tujuan lainnya, untuk mengetahui keadaan hadis tersebut yang
berkaitan dengan maqbul dan mardud-nya.

Sedang kegunaan takhrij ini, antara lain :

1. Dapat mengetahui keadaan hadis sebagai mana yang dikehendaki atau


yang ingin di capai pada tujuan pokok di atas;
2. Dapat mengetahui keadaan sanad hadis dan silsilahnya berapapun
banyaknya, apakah sanad-sanad itu bersambung atau tidak;
3. Dapat meningkatkan kualitas suatu hadis dari Dha’if menjadi Hasan,
karena ditemukannya Syahid atau Mu’tabi;
4. Dapat mengetahui bagaimana pandangan para ulama terhadaf keshahihan
suatu hadis;
5. Dapat membedakan mana para perawi yang ditinggalkan atau yang
dipakai;
6. Dapat menetapkan sesuatu hadis yang dipandang Mubham menjadi tidak
Mubham karena ditemukannya beberapa jalan Sanad, atau sebaliknya;
7. Dapat menetapkan Muttashil kepada hadis yang diriwayatkan dengan
menggunakan Adat At-Tahammul Wa Al-a-da’ (kata-kata yang dipakai
dalam penerimaan dan periayatan hadis) dengan an’anah (kata-kata
an/dari);
8. Dapat memastikan identitas para perawi, baik berkaitan dengan kun-yah
(julukan), laqab (gelar), atau nasab (keturunan), dengan nama yang jelas.

C. Sepintas Tentang Sejarah Takhrij

Kegiatan men-takhrij hadis muncul dan diperlukan pada masa ulama Mutaakhirin.
Sedang sebelumnya, hala ini tidak pernah dibicarakan dan diperlukan. Kebiasaan
ulama Mutaqaddimin menurut Al Iraqi, dalam mengutip hadis-hadisnya tidak
pernah membicarakan dan menjelaskan darimana hadis itu dikeluarkan, serta
bagaimana kualitas hadis-hadis tersebut, sampai kemudian datang An-nawawi
yang melakukan hal itu.

Ulama yang pertama kali melakukan takhrij menurut Mahmud Ath-thahhan ini,
ialah Al-khatib Al-bagdadi (463 H). kemidian dilakukan pula oleh Muhammad
bin musa al-hazimi (W.584 H) dengan karyanya Takhrij Ahadits Al-Muhadzdzab.
Ia mentakhrij kitab fiqih syafi’iyah karya Abu Ishaq Asy-Syirazi. Ada juga ulama
lainnya, seperti Abu Al-Qasim Al-Husaini dan Abu Al-Qasim Al-Mahrawani.
Karya kedua ulama ini hanya berupa Mahthuthah (manuskrip) saja. Pada
perkembangan selanjutnya, cukup banyak bermunculan kitab-kitab tersebut yang
berupaya men-takhrij kitab-kiatab dalam berbagai disiplin ilmu agama.

Yang termasyhur di antara kitab-kitab tersebut, selain karya Muhammad bin Musa
Al-Hazimi di atas, ialah kitab takhrij Ahadts Al-Mukhtashar Al-Kabir karya
Muhammad bin Ahmad Abd Al-Hadi Al-Maqdisi (w. 744 H), Nashb ar-rayah li
ahadits al-hidayah dan takhrij ahadits al-kasysyaf, keduanya karya Abdullah bin
yusuf Al-Zaila’i(w. 762 H), dan Al-Badr Al-Munir fi Takhrij Al-Ahadits wa Al-
Atsaral-Waqi’ah fi Syarh Al-Kabir karya Ibn Al-Mulaqqin (w. 804 H)

D. Cara Mentakhrij Hadis

Pada garis besarnya ada lima cara atau jalan untuk mentakhrij hadis, yaitu:
1. Melalui pengenalan nama sahabat perawi hadis

2. Melalui pengenalan awal lafaz atau matan suatu hadis

3. Melalui pengenalan kata-kata yang tidak banyak beredar atau dikenal dalam
pembicaraan, tetapi merupakan bagian dari matan hadis (letak kata-kata tersebut
bisa dimana saja, di awal, di tengah atau di akhir matan

4. Melalui pengenalan topic yang terkandung dalam matan hadis

5. Melalui pengamatan tertentu terhadap apa yang terdapat dalam suatu hadis,
baik matan atau sanadnya.

1. Mentakhrij Melalui Pengenalan Nama Sahabat Perawi


Cara men-takhrij seperti ini hanya bisa dilakukan apabila telah diketahui nama
sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut. Apabila nama sahabat diketahui maka
pentakhrij –an dapat dilakukan dengan bantuan tiga macam kitab hadis, yaitu al-
masanid (kitab musnad), al-ma’ajim (kitab-kitab mu’jam), dan kutub al-athraf.

a. Al-Masanid (kitab-kitab musnad)


Al-masanid adalah jamak dari al-musnad yaitu semacam kitab yang disusun
berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya. Susunan nama-nama
sahabat dalam kitab-kitab musnad tidaklah sama ada yang disusun secara
alfabetis,dan ada yang disusun berdasarkan kelompok urutan waktu masuk islam
atau keutamaan sahabat, di samping ada pula yang disusun berdasarkan
keutamaan kabilah atau kota.
Hasil karya berupa kitab musnad ini cukup banyak. Ath-thahhan menyebutkan
sebanyak sepuluh kitab yang diantaranya ialah musnad karya ahmad bin hanbal,
musnad karya abu bakr Abdullah bin az-zubair al-humaidi, dan musnad karya abu
daud sulaiman bin daud ath-thayalisi. Dari kitab-kitab yang disebutkannya dua di
antaranya dibicarakan ath-thahhan lebih lanjut yaitu musnad ahmad bin hanbal
dan musnad abu bakr al-humaidi.

b.Al-Ma’ajim (kitab-kitab Al-Mu’jam)


Al-ma’ajim atau kitab-kitab Al-Mu’jam menurut istilah ulama ahli hadis adalah
kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan musnad sahabat, guru (suyukh), atau
negeri-negeri tertentu. Diantara kitab Mu’jam yang terkenal ialah al-Mu’jam al-
Kabi’r oleh abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani (w. 360 H) yang
memuat sekitar 60,000 buah hadis. Selain itu, al-Mu’jam al-Ausath, yang berisi
sekitar 30,000 buah hadis, dengan nama guru-gurunya sebanayak 2000 orang, al-
Mu’jam as-Shagir, yang memuat 1000 buah hadis, dan al-Mu’jam Ash-Shahabah
karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali al-Maushuli (w.307 H).

c. Kitab-Kitab Al-Athraf
Kata al-athraf jamak dari ath-tharf (sisi atau bagian). Maka kata tharf al-hadits,
berarti bagian dari matan yang menunjukan sisanya. Seperti kata kullukum ra’in,
atau kata bunia al-islam ‘ala khamsin. Kalimat yang pertama merupakan bagian
atau potongan dari hadis yang menjelaskan tentang kepemimpinan seseorang,
seorang imam, atau seorang wanita. Kalimat yang kedua, merupakan potongan
dari hadis tentang dasar-dasar islam.
Pada kitab-kitab seperti ini, penyusun menyebutkan sebagian dari matan hadis
dengan menyebutkan sanad-nya, baik secara lengkap atau tidak. Kitab-kitab athraf
pada umumnya disusun berdasarkan nama-nama sahabat secara alfabetis, di
samping ada juga yang menyusunnya berdasarkan urutan alfabetis berdasarkan
kata-kata awal dari matan hadisnya.
Di antara kitab-kitab athraf ialah:
- Athraf as-shahihain karya abu mas’ud ibrahim bin Muhammad ad-dimasqi (w.
401 H).
- Al-asyraf ‘ala ma’rifat al-athraf karya ibn ‘Asakir (w. 571 H)
- Tuhfah al-Asyraf bi ‘Ma’rifat al-Athraf karya abu al-Hajjaj Yusuf Adurrahman
al-Mizzi (w.742 H).
- Dzakhair Mawarits fi ad-Dalalah ‘ala Mawadhi’I al-hadits karya Abd al-Mugni
an-Nablusi (1050-1143).
Pada kitab-kitab yang terakhir ini menjadikan kutub as-sittah (dua kitab al-jami
‘ash-shahih dan empat kitab as-sunan) dan al-muwaththa’ sebagai sumbernya.

2. Men-Takhrij Melalui Pengenalan Awal Lafazh Pada Matan


Dengan mengenal awal matan suatu hadis, maka hadis dapat di takhrij dengan
menggunakan bantuan beberapa kitab hadis yang dapat menunjuk kepada sumber
utamanya. Kitab-kitab dimaksud, ialah kitab-kitab yang memuat tentang hadis-
hadis yang terkenal (al-musytaharah)nya disusun secara alfabetis,dan kitab-kitab
kunci serta daftar isi kitab-kitab hadis tesebut.

a. Kitab-Kitab Yang Memuat Hadis-Hadis Yang Banyak Dikenal Orang


yang dimaksud dengan hadis-hadis yang banyak dikenal orang atau al-
musytaharah dalam pembicaraan orang banyak, ialah hadis-hadis yang banyak
beredar di masyarakat. Hadis-hadis tersebut adakalanya shahih, hasan,atau dha’if,
bahkan Maudhu. Untuk itu, para ulama telah menyusun kitab-kitab penunjuk yang
menunjukan hadis-hadis yang beredar kepada sumber asalnya. Dengan
demikian,akan menjadi jelas nama yang harus menjadi pegangan umat dan mana
yang harus ditinggalkan. Kitab-kitab seperti ini banyak disusun oleh para ulama
antara abad 10 sampai 13 hijriah. Di antara kitab-kitab tersebut adalah:

- At-Tadzkirah fi al-Ahadits al-Musytaharah, karya Badr ad-Din Muhammad bin


Abdullah az-Zarkyasi (w. 974 H);

- Ad-Durar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytaharah, karya as-suyuti (w. 911


H).

- Al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir min al-Ahadits al-musyhurah ‘ala al-


Alsinah, karya Muhammad bin Abdurrahman as-sakhawi (w.902 H); dan

- Tashil as-Sabil ila Kasyf al-Iltibas ‘amma dara min al-Ahadits baina an-Nas,
karya Muhammad bin Ahmad al-Khalili (w. 1057 H).

b. Kitab Hadis Yang Matan-nya Disusun Secara Alfabetis


Kitab yang demikian berisi hadis-hadis yang diambil dari beberapa kitab dan
disusun secara alfabetis, dengan membuang sanadnya. Akan tetapi ditunjukan
juga sunber utamanya, yang memuat sanad-sanadnya secara lengkap. Pada kitab-
kitab ini identitas sanad hanya dalam wujud huruf-huruf singkatan. Untuk lebih
memudahkan dalam mempergunakan kitab-kitab ini, harus diketahui lebih dahulu
awal matan dari hadis-hadisnya. Sebab, penyusunan hadis dilakukan berdasarkan
huruf pada awal matannya.
Di antara kitab-kitab yang termasuk kelompok ini, ialah al-ja’mi ash-Shagir min
Hadits al-Basyir an-Nadzir dan al-jami ‘al-kabir, yang keduanya karya as-Suyuthi.
Kitab hadis yang disebut pertama meuat sekitar 10.031 buah Hadis, yang dinukil
dari kitab karyanya sendiri, Jam’u al-Jawami.
c. Kitab-Kitab Kunci dan Daftar Isi Kitab Hadis Tertentu
di antara para ulama, khususnya ulama mutaakhirin, ada juga yang berusaha
membuat kitab kunci (al-miftah) dan kitab yang memuat daftar isi (al-fihris). Di
antara kitab tersebut ialah miftah ash-shahihain karya Muhammad as-syarif bin
Musthafa at-Tauqidi (1312 H). Sistem penyusunannya secara alfabetis, yakni
potongan hadis dari shahih al-Bukhari dan Muslim disusun dan diberi keterangan
sperlunya saja tentang isi kitab/bab, nomor urut bab, jilid, dan halamannya.

3. Men-takhrij melalui Pengenalan Kata-kata yang tidak banyak Beredar


dalam Pembicaraan
Untuk bagian ini, alat yang dipakai ialah al-mu’jam al-mufahras li alfazh al-hadits
an-nabawi oleh A.J. Wensink, yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab oleh
Muhammad fuad Abd al-baqi. Kitab ini disusun dengan merujuk kepada sembilan
kitab hadis induk, yaitu dua kitab al-jami ‘ash-shahih, empat kitab as-sunan, al-
muwaththa’ Malik bin Anas, musnad Ahmad bin Hanbal, dan musnad ad-darimi.

4. Men-Takhrij Melalui Pengenalan Topic yang Terkandung Dalam Matan


Hadis
Cara mentakhrij melalui pengenalan topic ini dapat dipakai oleh mereka yang
banyak mengasai matan hadis dan kandungannya. Terdapat banyak kitab yang
mentakhrij hadis dengan cara ini, yang pada garis besarnya terdapat pada tiga
bagian

• akitab-kitab yang memuat selurh bab dan topic ilmu agama. Kitab seperti ini
banyak sekali, di antaranya kitab al-jawami, al-mustakhrajah, al-mustadrakah ‘ala
al-jawami’, al-majami’, az-zawaid, dan miftah kunuz as-sunnah.

• Kitab-kitab yang memuat banyak bab atau topic, akan tetapi tidak mencakup
seluruh bab secara lengkap, seperti kitab-kitab as-sunan al-muwaththa’ah, dan al-
mustakhrajah ‘ala as-sunan.

• kitab-kitab yang hanya membahas bab atau topic-topik khusus, seperti kitab at-
tarhib, at-targip, al-akhlak, dan al-ahkam.
Kitab miftah kunuz as-sunnah yang disusun oleh Muhammad fuad Abd al-baqi
merujuk kepada 14 kitab, yaitu : shahih al-bukhari, shahih muslim, sunan abu
daud., jami’at-turmudzi, sunan an-nasa’I, sunan Ibn Majah, sunan Ibn Malik,
musnad Ahmad, musnad Abu Daud ath-thayalisi, sunan ad-Darimi, musnad Zaid
bin Ali, sirah Ibn hisyam, Magazi al-waqidi, dan thabaqah Ibn Sa’ad.

5. Mentakhrij Melalui Pengamatan Terhadap Ciri-ciri Tertentu pada Matan


atau Sanad
Dengan mengenal ciri-ciri tertentu pada suatu hadis dapat menemukan dari mana
hadis itu terdapat. Cirri-ciri dimaksud seperti cirri-ciri maudhu’, cirri-ciri hadits
qudsi, cirri-ciri dalam periwayatan dengan silsilah sanad tertentu, serta cirri-ciri
yang lain.
Suatu contoh, jika diketahui ada matan hadis yang janggal (syadz), maka hadis
tersebut dapat dilihat lebih lanjut pada kumpulan hadis-hadis yang dha’if atau
maudhu’, seperti kitab al-maudhu’ah al-kubra’, begitu juga jika diketahui pada
hadis tersebut ada cirri-ciri hadis qudsi, dapat dilihat lebih lanjut pada kitab-kitab,
seperti pada misykah al-anwar fi’ma’ruwiya’an illahi subhanahu wa ta’ala min al-
akhbar. Begitu juga halnya dengan cirri-ciri yang ditemukan pada sanadnya.

E. Ringkasan
Takhrij adalah mengumgkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain
dengan menyebutkan para perawi yang berada dalam rangkaian sanadnya sebagai
yang mengelaurkan hadits). Misalnya dikatakan : hadza hadits akhrajahu al-
bukhari atau kharrajahu al-bukhari ( hadist ini dikeluarkan oleh al-bukhari
Me-ntakhrij, berarti melakukan dua hal, yaitu yang pertama berusaha menemukan
para penulis hadis itu sendiri dengan rangkaian silsilah sanad-nya dan
menunjukannya pada karya-karya mereka, seperti kata-kata akhrajahuh al-baihaqi,
akhrajahu al-thabrani fi mu’jamih atau akhrajahu ahmad fi musnadih.

Ada beberapa manfaat dari takhrijul hadis antara lain sebagai berikut :

1. memberikan informasi bahwa suatu hadis termasuk hadis shahih, hasan,


ataupun dha’if, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun
sanadnya;
2. memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu
bahwa suatu hadis adalah hadis makbul (dapat diterima). Dan sebaliknya
tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadis adalah
mardud (tertolak)
3. menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari
rasulullah SAW. Yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang
kuat tentang kebenaran hadis tersebut,baik dan segi sanad maupun matan.

DAFTAR PUSTAKA

Utang Ranuwijaya, Dr., M.A. Ilmu Hadis, Gaya Media Pratama, Jakarta, 2001.
Hasbi Ash-Shiddieqy, prof., Dr., Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Bulan
Bintang, Jakarta, 1954.
H. Muhammad Ahmad, Drs., M.Mudzakir., Drs, Ulumul Hadis, Pustaka Setia,
Bandung, 2004.