Anda di halaman 1dari 4

KECENDERUNGAN PENDIDIKAN

MEMASUKI ABAD KE-21


Drs. Muhammad Yaumi, M. Hum., M.A.

Meskipun pemanfaatan media, metode, strategi, sumber belajar, dan sistem

evaluasi pembelajaran telah menunjukkan adanya perubahan, tetapi sistem dan setting

tradisional masih mewarnai setiap penyelenggaraan pendidikan. Sering sekolah masih

menggunakan format ruang kelas yang sama dengan yang digunakan pada puluhan

dan bahkan ratusan tahun lampau dan buku-buku masih merupakan bagian penting

dari sistem pendidikan berdasarkan kurikulum yang kaku. Memasuki abad ke-21

sekarang ini, berbagai cara tradisional memperlihatkan pergeseran yang hebat, di mana

pendidikan online telah membawa dampak pada perubahan-perubahan yang

menantang cara tradisional itu. Perubahan yang dimaksud paling sedikit dapat dilihat

dari tiga kecenderungan saat ini, yakni home schooling, self-study, dan kegagalan

pendidikan tradisional.

Homeschooling

Kecenderungan orang untuk mengakses berbagai sumber secara online telah

menyebabkan struktur kerja dan pandangan tentang dunia berubah. Media facebook,

twitter, blog, youtube, dan berbagai fasilitas permainan (game) seolah menjadi tradisi

baru dalam dunia anak-anak usia sekolah saat ini. Booming di bidang pendidikan

online telah dimulai, yang tentu saja menantang cara pandang terhadap pendidikan

tradisional selama ini. Rumah yang berfungsi sebagai sekolah menjadi tren baru pada

kebanyakan Negara dan bahkan sudah terasa di beberapa kota di Indonesia saat ini.

Pembiayaan pendidikan seperti buku dan peralatan lain, pakaian seragam, biaya

transportasi, biaya kursus atau les privat yang semakin tinggi serta politisasi pendidikan
yang kurang berpihak pada masyarakat plus beban tugas seperti pekerjaan rumah,

ujian lokal dan nasional, ketidakadilan penilaian dan berbagai permasalahan pendidikan

lainnya membawa kejenuhan tersendiri bagi masyarakat. Di sisi lain, fasilitas Internet

seperti tumbuhnya warnet, café net, dan bahkan RT-net telah memberi kemudahan

tersendiri bagi masyarakat, di mana pembiayaan amat sangat terjangkau bagi semua

kalangan. Di sini homeschooling menjadi pilihan tepat bagi sebagian masyarakat saat

ini.

Di samping itu, kurikulum, materi ajar, dan ujian berstandar internasional yang

didesain khusus bagi anak yang memilih bersekolah di rumah telah tersedia di berbagai

situs Internet dan bahkan untuk mendapatkan pengakuan internasional pun menjadi

lebih mudah. Persoalan yang kemudian muncul adalah sejauh mana pengakuan

pemerintah dalam negeri terhadap kecenderungan baru dalam pendidikan saat ini.

Self-study

Salah satu keterampilan dominan bagi generasi pengguna jasa Internet adalah

belajar dengan pendekatan self-study (belajar mandiri). Pendekatan ini menjadi

tantangan tersendiri bagi guru yang selama ini memilih buku paket sebagai provider

tunggal alias satu-satunya sumber belajar. Para pengguna jasa Internet juga bahkan

cenderung lebih menguasai hal-hal yang bersifat umum dan khusus yang up to date

sehingga lebih inovatif, kreatif, dan akomodatif. Sedangkan guru belum memperlihatkan

kepedulian signifikan terhadap berbagai sumber belajar melalui pendekatan self-study.

Mengidentifikasi keberhasilan orang melalui pendekatan self-study dan

pendekatan formal-edukatif memang tidak mudah, tetapi paling tidak secara umum

dapat diamati dari perspektif realitas. Di lingkungan dunia usaha, kebanyakan


pengusaha dan interpreneur sukses dewasa ini berlatar belakang pendidikan formal

rendah atau paling tinggi bergelar S1. Bahkan, tidak sedikit pengusaha paling berhasil

di Indonesia kebetulan berlatar belakang keturunan hanya menduduki pendidikan

formal mulai dari SD sampai SMA saja dan bukan lulusan dari fakultas ekonomi atau

jurusan manajemen perusahaan dari suatu universitas. Artinya, pendekatan self-study

melalui pengalaman langsung jauh lebih efektif dari pada pendekatan formal melalui

pendidikan tradisional.

Kegagalan Pendidikan Tradisional

Sekolah atau lembaga pendidikan tinggi sering mengelaim diri bahwa mereka

menghasilkan lulusan yang handal dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan

sekitar. Bahkan alumni yang telah terserap di berbagai dunia usaha, lembaga Negara,

dan di berbagai instansi terkait adalah upaya maksimal suatu perguruan tinggi yang

bersangkutan.

Kenyataannya justru berbanding terbalik dengan klaim tersebut. Lebih dari 70%

lulusan institusi pendidikan tidak bekerja dalam bidang studi mereka, dan seringkali

memerlukan pelatihan kembali di dunia nyata. kenyataan lain bahwa kebanyakan orang

tidak bahagia dalam pekerjaan mereka.

Suatu sistem pendidikan yang berhasil adalah apabila lulusannya mampu

bekerja pada bidang keahlian yang selama ini dibentuk dan digenjot melalui pendidikan

formal dan membuktikan keunggulan dengan pencapaian hasil kerja yang dapat

menggerakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Namun justru hal sebaliknya terjadi

bahwa hanya 30% dari lulusan lembaga pendidikan tinggi bekerja sesuai bidang
keahlian mereka hanya 20% mereka yang bekerja saat ini merasa bahagia dengan

pekerjaan mereka (Medley, 2010).

Hal ini merupakan kegagalan utama sistem pendidikan tradisional yang

menghasilkan lulusan yang tidak senang pada pekerjaan mereka, diperlukan pelatihan

ulang, dan karyawan yang tidak menyukai pekerjaan mereka. Kenyataan bahwa

monopoli sistem pendidikan tradisional yang tidak menghasilkan lulusan sesuai yang

diharapkan menyebabkan lahirnya kecenderungan baru untuk menekuni pendidikan

online. Gerakan tak terelakkan dari ujian berdasarkan kegiatan pembelajaran berbasis

praktis, dapat membuat siswa yang masuk ke dunia nyata, dilengkapi dengan

keterampilan untuk bertahan hidup betul-betul berubah pada masa depan dalam abad

ke-21.