Anda di halaman 1dari 15

BAB I

Pendahuluan

Al Quran diyakini sebagai kitab suci, yang mampu untuk menjawab segenap problematika kehidupan umat manusia, dalam penjelasannya masih bersifat global. Lain dari itu, al Quran lahir di kultur Arab, yang notabene bagi orang-orang yang berada di luar wilayah dan komunitas tersebut memerlukan seperangkat metodologi tertentu untuk dapat memahami apa yang dimaksud dari teks-teks suci tersebut. Dalam peradaban Islam, setidaknya telah dikenal metodologi penafsiran yang diakui keabsahannya. Petama tafsir Quran bil Quran. Yaitu suatu metode menafsirkan teks-teks suci tersebut dengan mendialogkannya antar teks suci Quran sendiri yang memiliki kesemiripan makna. Kedua tafsir bil ma’tsur, yaitu suatu pendekatan dalam penafsiran Quran yang dilakukan oleh Rasul. Tafsir model ini merupakan penjelasan rasul atas teks-teks suci melalui hadits-haditsnya atas beberapa teks suci yang dimungkinkan sulit dipahami umat Islam dewasa itu. Kemudian pasca wafatnya rasul, maka umat Islam dituntut untuk mencurahkan segenap kemampuannya baik dengan mencontoh tradisi rasul maupun berijtihad dengan penalaran logis dalam menafsirkan teks-teks tersebut yang disebut dengan tafsir bil ra’yu. Dengan berangkat dari prinsip dasar universalitas Islam yang berarti juga universalitas rujukan otentik umat Islam yakni al Quran, maka

Quran harus mampu diterima disetiap tempat dan kurun waktu. Dalam praktiknya, Quran bukan hanya mendatangi umat manusia untuk memberikan petunjuk, melainkan juga mengundang umat manusia untuk berdialog agar memperoleh legitimasi atas segenap tindakannya baik yang beraspek ritual formal maupun aspek sosial. Ketika Quran mendatangi umat manusia untuk menjadikan dirinya sebagai pedoman hidup maka ada tuntutan di dalamnya agar yang didatangi menyesuaikan diri dengan tuntutannya itu. Namun sebaliknya ketika ia mengundang umat manusia untuk berkonsultasi atas persoalan hidupnya terutama dalam bidang sosial, maka ada peluang disitu terdapatnya akselerasi antara peradaban dan kebudayaan umat manusia dibelahan bumi manapun,dengan prinsip-prinsip dasar yang ia bawa, yakni kebenaran yang universal. Upaya-upaya untuk memahami Quran ini telah dimulai sejak ia diturunkan. Setidaknya, jika diurut, maka telah beberapa kali ia mengalami interpretasi makna, pertama ruh qudus (jibril) yang membahasakannya dari Allah kepada Muhammad. Kedua Muhammad sendiri sebagai penyampai dengan lisan Arab. Sampai akhirnya kita yang hidup di masa sekarang, sudah tentu perlu memahami Quran sedemikian rupa sehingga kita tidak pernah kehilangan relevensi kebenaran dari dulu hingga sekarang, dimana problematika hidup semakin kompleks seiring meningkatnya peradaban umat manusia. Salah satu metodologi yang saat ini dicoba kembangkan adalah hermeneutika sebagai upaya

pembenaran tradisi masa lampau untuk memperoleh kesejatian kebenaran dimasa kini dan mendatang, hal inilah yang kemudian dibahasakan sebagai upaya pemahaman atas teks, konteks dan kontekstualisasi. Hermeneutika dianggap cukup refresentatif sebagi metodologi interpretasi makna agar diperoleh suatu pemahaman yang holistik dan komprehensif atas suatu teks atau simbol. Hal ini berangkat dari tiga aktivitas dasar dalam proses hermeneutika yakni tanda atau pesan, perantara dan penyampaian pesan itu oleh perantara yang diolah dalam dataran pilsafat. Dilihat dari aktivitasnya ini maka dapat dipahami bahwa proses penafsiran ini dilakukan atas teks-teks atau pesan yang memang masih memerlukan suatu penjelasan, bukan mengenai simbol-simbol yang dianggap sudah lazim. Interpretasi Quran tidak pernah kering dari alasan. Selain karena dia dilahirkan di Arab dengan suasana, kultur, bahasa dan lain sebagainya yang membawa identitas Arab, juga karena kurun waktunya yang cukup jauh untuk sampai ke saat ini di mana tingkat persoalan hidup umat manusia semakin kompleks, belum lagi ditambah dengan perbedaan kultur umat Islam di beberapa belahan dunia dengan kultur Arab. Dalam pendekatan hermeneutka, kita akan mendapati pada umumnya dua model pemikiran. Pertama, hermeneutika transendental, yakni hermeneutika yang menilai dan menganggap bahwa teks suatu simbol itu bediri sendiri atau otonom,. Dengan pemikiran ini maka penafsir tidak memiliki

peluang untuk mendapat tambahan informasi dari situasi dan kondisi historis maupun psikologis pengarang dan lingkungan ketika teks ini diungkapkan. Dan sebaliknya hermeneutika historis psikologis, menggunakan tambahan informasi tersebut sebagai upaya untuk memperoleh akurasi dan validitas pemahaman atas teks. Dengan menggunakan metode hermeneutika, dalam makalah sederhana ini dicoba untuk menguraikan interpretasi makna dari QS. 33: 59 tentang etika berpakaian bagi perempuan beriman, yang dewasa ini telah melahirkan polemik seputar wajib tidaknya menggunakan jilbab, atau melihat hal tersebut dari segi substansi belaka. Bahwa ayat ini sesngguhnya berupa semangat untuk menjadi pemicu lahirnya era baru dalam peradaban manusia yakni pakaian sebagai bentuk perwujudan masyarakat yang beradab dan beretik.

BAB II QS. 33: 59 dalam Timbangan Hermenutis

tûüÏZÏB÷sßJø9$#

Ïä!$|¡ÎSur

y7Ï?$uZt/ur

y7Å_ºurøX{

@è%

ÓÉ<¨Z9$#

$pkšr'¯»tƒ

Ÿxsù z`øùt÷èムbr& #oT÷Šr& y7ÏsŒ 4 £`ÎgÎ6Î6»n=y_ `ÏB £`ÍköŽn=tã šúüÏRôãƒ

ÇÎÒÈ $VÏm§‘ #Yqàÿxî ª!$# šc%x.ur 3 tûøïsŒ÷sãƒ

Secara literal ayat ini dapat diterjemahkan demikian :

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang beriman,’hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” Ayat ini, pada umumnya diklasifikasikan ke dalam tuntunan etika berpakaian. Quraish Shihab, misalnya, memunculkan ayat ini dalam pembahasannya mengenai pakaian dalam tafsir tematisnya (wawasan al Quran). Dari terjemahan ini untuk sementara dapat dipahami bahwa ayat ini merupakan perintah Allah—hai nabi--kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan—katakanlah-- suatu etika berpakaian bagi wanita beriman, untuk menjulurkan jilbabnya sehingga menutupi tubuh mereka. Pemahaman ini berangkat dari kenyataan

bahwa yang berbicara sehingga terwujudnya Quran adalah Allah sendiri, dan lawan bicaranya ialah Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Sedangkan yang dikenai teks ini sebagai objek adalah wanita beriman, baik itu keluarga nabi (istri-istri dan anak-anak perempuannya) maupun wanita yang beriman pada umumnya. Hal ini terindikasikan dari teks itu sendiri, bahwa nabi adalah seorang yang pertama kali mengimani ke Esa-an Allah dan tentu mengimani atas segala perintahnya. Kemudian istri-istri nabi dapat dipastikan sebagai wanita pilihan yang memiliki keimanan yang kuat pula, demikian pula anak-anak perempuannya merupakan pengikutnya yang setia dalam keimanan, sehingga terekam dalam sejarah, Rukayah, putri nabi yang menikah dengan anaknya Abu Lahab, harus berpisah karena perbedaan keyakinan. Selanjutnya istri-istri orang beriman, adalah keniscayaan bahwa mereka sebagai bagian dari orang beriman pula. Dan muatan dari teks ini ialah anjuran untuk mengulurkan jibabnya sehingga menutupi tubuh. Jilbab pada umumnya, seperti yang diungkapkan Isfahani, Zamakhsyari, dan al Asmawi, dipahami sebagai pakaian luar atau mantel yang menutupi tubuh, bukan sekedar penutup kepala atau penutup muka.

Analisis sosio histrris teks

Pada dasarnya, ketika teks ini terlahir yaitu sebagai antitesis atas situasi dan kondisi umat Islam Arab dewasa itu. Di mana sebetulnya pemakaian

jilbab adalah merupakan tradisi Arab yang lebih tua dari ajaran rasul itu sendiri. Namun kemudian ketika terjadi penegasan dari Allah untuk mengulurkan jilbabnya tersebut merupakan upaya penegasan etika sebagai pembeda antara perempuan beriman dan di luar itu. Maka pemahaman yang mendasarkan bahwa terlahirnya ayat ini sebagai pembeda antara wanita merdeka dengan budak untuk saat ini menjadi tidak relevan, di mana situasi tersebut sebetulnya dengan kembali diembannya risalah keislaman oleh nabi Allah merupakan upaya pembebasan itu sendiri dari dehumanisasi. Selanjutnya dijelaskan dengan pemakaian jilbab sedemikian rupa akan terhindar dari gangguan. Pada umumnya para mufasir melandasi terlahirnya ayat ini atas peristiwa dan situasi di mana pada saat itu di Arab, rumah-rumah begitu sempit sehingga untuk urusan ‘hajat’ harus ke luar dari lingkungan rumah. Dan saat itu, terdapat suatu kebiasaan buruk di mana masih adanya status wanita sebagai sahaya yang dianggap ‘boleh’ untuk di ganggu. Sebelum adanya ayat ini, cara berpakaian wanita Arab antara wanita merdeka dengan sahaya adalah sama maka merekapun berpeluang untuk mendapat gangguan. Persis seperti peristiwa penghinaan yang dilakukan Yahudi Bani Qainuqa terhadap wanita beriman dengan menarik pakaiannya. Kemudian ungkapan terakhir yang di dahulukan dengan pernyataan bahwa Allah maha pengampun baru kemudian maha penyayang, memperlihatkan bahwa Allah mengampuni perilaku

sebelumnya sebelum ayat ini diturunkan dan karena kemurahan dan sifatnya yang penyayang maka pengampunan itu diperoleh. Secara keseluruhan ayat ini mengikat wanita yang beriman, dan karena universalitasnya maka juga berlaku untuk wanita beriman dewasa ini, di manapun ia berada. Jika kita berangkat dari pemikiran bahwa al Quran yang datang kepada kita agar kita mengikutinya, maka penafsiran yang terjadi adalah secara literal tadi. Di mana setiap wanita beriman di manapun mesti mengikuti apa yang digambarkan dalam teks tersebut. Namun hal ini mengabaikan satu hal, bahwasannya peradaban dan kultur setiap bangsa adalah berbeda. Dan perbedaan ini bukanlah suatu hal yang buruk sebagai mana direkam dalam al Quran sendiri sebagai peluang untuk saling mengenal. Setiap suku bangsa yang berperadaban maju pada prinsipnya memiliki standar nilai sendiri dalam mengukur norma dan etika kesopanan, termasuk etika berpakaian. Bagi mereka yang berperadaban maju yang harus dilakukan ialah pemahaman atas ayat ini sebagai landasan etika global yang menjamin terwujudnya tatanan hidup yang satu sama lain saling merasa aman. Dan hal tersebut merupakan wujud dari keimanannya dalam kehidupan bersosial.

Konstekstualisasi teks

Saat ini dimana peran seseorang sebagai budak secara nyata sudahlah hilang. Maka keharusan pemakaian jilbab sebagai pembeda antara wanita

merdeka yang bererajat tinggi dengan wanita sahaya adalah tidak benar. Melainkan harus dibaca sebagai pembeda antar mereka yang beriman dan berperadaban tinggi yang menjunjung tinggi nilai- nilai kesopanan sehingga tidak menerbitkan perasaan negatif dari orang lain, dengan wanita yang belum memiliki kesadaran atas pentingnya berpakain sopan sebagai wujud dari iman dan peradabannya itu. Seiring tergesernya pemaknaan terhadap kelas sosial antara budak dan tuan, maka untuk era sekarang tuntutan dari situasi menghendaki adanya peran-peran wanita dalam kelas pekerjaan tertentu yang dulu dianggap tabu atau lebih maskulin. Dengan demikian maka pembacaan atas kemestian untuk membungkus seluruh tubuhnya dengan kain tersebut menjadi tidak pas. Melainkan mesti dipahami dengan memberikan peluang untuk wanita karir agar ia tidak meninggalkan tuntutan iman untuk berpakaian yang sopan dan tuntutan karir. Maka pemahaman sebagai keharusan berpakaian yang layak dan sopan menjadi lebih universal dibandingkan dengan pemahaman yang literer. Di Indonesia misalnya, memiliki standar nasional mengenai busana wanita nasional yang memenuhi standar kesopanan, yang tentu saja berbeda dengan gaya Arab yang berbeda pula kultur dan wataknya atau suku bangsa lainnya. Dalam hal ini penyusun--dengan megharap ampunan dan rahmat Allah--menilai bahwa busana nsional tersebut baik dan sopan. Tentu saja bagi beberapa suku pedalaman yang masih belum mengenal pakaian secara lengkap,

harus memahami makna dasar dari Islam, dan isi pesan ini terdahulu sebagi landasan etika berpakaian. Mereka nantinya akan diarahkan untuk memenuhi panggilan quran ini sedemikian rupa sehingga mereka dibawa ke alam peradaban sebagaimana peran Islam itu sendiri dan akhirnya mereka berpakaian tidak menimbulkan kejengahan dari publik mapun lawan bicaranya. Prinsip inilah yang disebut dengan manusia mendatangi al Quran untuk beronsultasi. Demikianlah, maka bagi beberapa wanita yang menghindarkan diri dari berpakaian yang sopan dan menimbulkan perasaan hormat akan mendapat celaan (gangguan), dimanapun ia berada, baik orang Indonesia, Arab maupun Eropa. Termasuk mengenakan pakaian yang bukan pada tempatnya, karena di era sekarang pada umumnya manusia membagi peran dirinya dalam ruang-ruang tertentu dengan kemestian tertentu pula yang sudah dianggap lazim keberadaannya. Dan yang lebih penting ialah pemahaman atas penghargaan Allah kepada hambanya yang beriman agar ia menunjukan kesejatiannya dengan berbeda dengan mereka yang di luar sistem keimanan. Bukan sekedar tradisi lokal Arab dewasa itu. Maka dengan demikian kita patut menghargai pula dan bangga atas panggilannya untuk menjadi bagian dari mereka yang mendapat anugerah peradaban yang tinggi dan menciptakan tatanan kehidupan yang saling menghargai sehingga bentuk gangguan yang dikhawatirkan timbul sebagaimana teks ini berbicara menjadi tidak lagi berarti.

Dalam dialog tentu saja bersifat dua arah. Dan satu sama lain saling mempengaruhi. Ketika al Quran mendatangi umat manusia, maka perannya dominan sebagai penentu perubahan. Berbeda ketika manusia yang datang kepadanya untuk berdialog maka peran al Quran adalah memberikan legalitas kepada manusia. Dalam hal ini tidaklah ada satu pihak pun yang berada dalam posisi salah sebab dua prinsip tadi tidaklah dapat kita pilih salah satu melainkan akan terjadi keduanya dalam situasi yang berbeda. Persis seperti memahami ayat tadi secara tekstual, maka akan terasa betapa al Quran bersikap kaku dan tidak mudah dicerna bagi umat manusia secara menyeluruh karena perbedaan kultur, wilayah dan lain sebagainya. Namun ketika kita berada dalam ruang konteks dan kontekstualisai ayat tersebut, maka kita umat Islam yang berada jauh dari Arab, memiliki peluang pembenaran atas model dan perilaku kagamaan kita yang lebih mempribumi, selama menjunjung tinggi prinsip etika kesopanan bersama. Al Quran memang diyakini sebagai kitab rujukan, dan karenanya memiliki muatan dalam dimensi hukum, sehingga lahirlah ayat-ayat ahkam, yang maksudnya ayat-ayat yang memiliki muatan tuntutan hukum. Dalam hal ini terdapat juga ayat-ayat yang sifatnya tuntunan yang bukan berarti di dalamnya ada muatan kewajiban. Dalam filsafat hukum Islam (Ushl Fiqh) al Quran merupakan sumber otentik pertama dalam pengambilan hukum bagi mukallaf.

Dengan pemahaman demikian, maka pemakalah menilai bahwa dalam ayat ini tidak terdapat muatan hukum yang mewajibkan bagi wanita beriman untuk selalu mengenakan jilbab yang menutupi tubuhnya dengan tidak mempertimbangkan tempat waktu dan karir wanita tersebut. Hal yang nampak adalah anjuran atau tuntunan untuk melakukan suatu tindakan prepentif agar terhindar dari gangguan maupun sebagai identitas dirinya sebagai wanita yang beriman, berperadaban dan yang beretika tinggi.

BAB II

Penutup

Sebagai kesimpulan dari pembahasan ini, maka dapat disimpulkan bahwa ayat ini berbicara tentang etika berpakaian bagi wanita beriman. Yang jika dipahami dengan prinsip kontekstualisasi dari teks tersebut maka setiap wanita beriman dengan latar belakang budaya dan wilayah yang berbeda dengan kultur Arab tidak kehilangan akselerasinya dengan semangat al Quran yang universal. Selanjutnya dipahami bahwa, dari ayat tersebut secara langsung tidak terdapat efek hukum yang mewajibkan wanita beriman di wilayah dan kultur berbeda untuk selalu mengenakan pakaian sebagaimana wanita beriman Arab.

Sumber Bacaan

Abdul Muktasim-Sahiron Syamsudin (Ed).

2002 Studi Al Quran Kontemporer, Yogyakarta:

Tiara Wacana.

Abul A’la Al Maududi

1993 Al Hijab. Bandung: Gema Risalah Press

Fakhrudin Faiz.

2003 Hermeneutika Qurani. Yogyakarta: Qalam.

Farid Esack.

1997 Al Quran, Liberalisme, Pluralisme :

Membebaskan yang Tertindas.

Bandung : Mizan. Harun Nasution.

2000 Islam Rasional. Bandung: Mizan.

Hasan Hanafi

Tafsir:

Hermeneutik. Yogyakarta: Prisma Sophie.

2003 Bongkar

Liberalisasi,

Revolusi,

Husein Shahab 2002 JILBAB Menurut Al Quran dan As Sunah. Bandung : Mizan. Josef Bleicher

2003 Hermeneutika Kontemporer: Hermeneutika sebagai metode Filsafat dan Kritik. Yogyakarta: Pajar Pustaka.

Komarudin Hidayat

2004 Menafsirkan

Bahasa

Tuhan.

Teraju Mizan. Muhammad Said Al Asmawi

Bandung

:

2003 Kritik Atas Jilbab. Jakarta: JIL.

Quraish Shihab

2000

Wawasan Al Quran. Bandung: Mizan.

2005

Jilbab. Jakarta: Lentera Hati