Anda di halaman 1dari 3

Debat Publik dan Politik Abaikan Epidemi HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap

Sejak angin reformasi bertiup di negeri ini tidak ada lagi batasan untuk membicara
politik secara terbuka. Apalagi menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) dan
pemilihan umum (pemilu) legislatif semua stasiun televisi nasional berlomba-lomba
menyelenggarakan debat publik dan politik.

Debat calon pasangan gubernur, bupati, dan walikota di dua stasiun televisi nasional
(MetroTV dan TVOne) dengan pendudukung yang ’fanatik’ berapi-api membicarakan
soal politik dan ekonomi. Begitu pula dengan debat antar kandidiat anggota legislatif dan
partai terus digelar di stasiun-stasiun televisi nasional.

Tapi, ada satu persoalan besar yang mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara
ini yang luput dari debat calon pemimpin dan partai-partai itu. Fakta yang luput dari
materi perdebatan adalah epidemi HIV/AIDS sebagai realias sosial yang sudah menjadi
masalah kesehatan masyarakat.

Peringatan Dini

Data yang dipublikasikan oleh Ditjen PPM&PL, Depkes RI, sampai 31 Desember 2008,
misalnya, kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia sudah mencapai 22.664 yang terdiri
atas 6.554 HIV dan 16.110 AIDS dengan 3.362 kematian. Angka ini merupakan puncak
dari ‘fenomena gunung es’ sehingga tidak menggambarkan kasus yang sebenarnya di
masyarakat. Kalangan ahli memperkirakan kasus HIV/AIDS di Indonesia antara 90.000-
130.000.

Pada April 2008 tercatat 8.145 Odha (Orang dengan HIV/AIDS) yang sudah memakai
obat antiretroviral (ARV). Angka ini juga tidak nyata karena banyak orang yang tidak
menyadari penyakit yang dideritanya terkait dengan HIV/AIDS. Celakanya, ada pula
kemungkinan diagnosis medis tidak mendeteksi HIV sebagai pemicu penyakit yang
diderita pasien. Yang lain memilih pengobatan alternatif.

Jika kelak penduduk di daerah calon gubernur, bupati atau walikota yang berdebat itu
sudah banyak tertular HIV, yang pada gilirannya akan mencapai masa AIDS dan
kemudian meninggal, lalu siapa yang akan mereka pimpin? Atau, mereka akan
memimpin daerah yang sebagian besar penduduknya tidak berdaya lagi karena harus
dirawat di rumah sakit akibat infeksi-infeksi oportunistik.

Jika hal itu terjadi maka roda perekonomian pun akan lumpuh. Bahkan, akan ada desa
yang hilang karena penduduknya meninggal karena penyakit terkait HIV/AIDS. Ini sudah
terjadi di Afrika. Tahun 2001 Dr Peter Piot, waktu itu Direktur Eksekutif UNAIDS
(badan PBB yang khusus menangani HIV/AIDS), sudah mengingatkan Indonesia agar
serius menangani epidemi HIV, terutama di kalangan penyalahguna narkoba dengan
suntikan (Syaiful W. Harahap: AIDS di Indonesia Menjadi Sorotan, Suara Pembaruan, 6
Oktober 2001).

Tapi, peringatan itu bak ‘anjing menggonggong kafilah berlalu’. Tidak ada upaya nyata
menanggapi peringatan Peter Piot itu. Akibatnya, kasus HIV/AIDS di kalangan
penyalahguna narkoba dengan suntikan meroket. Kalau di tahun 2001 dilaporkan 415
kasus HIV/AIDS di kalangan penyalahguna narkoba, pada 31 Desember 2008 kasus
AIDS dilaporkan sudah mencapai 6.811.

Jauh sebelum peringatan Dr Peter Piot seorang psikolog, David Gordon, konsultan
penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) di Yakita, Bogor,
mengatakan “Penyalahguna zat dengan memakai jarum suntik akan menjadi bom waktu
(ledakan kasus HIV/AIDS-pen.) bagi Indonesia.” (Syaiful W. Harahap: IDU Bom Waktu
bagi Indoensia, Newsletter “HindarAIDS”, Nomor 8/ 2 November 1998).

Selama ini pemeritah pusat dan pemerintah daerah bisa bernapas lega karena dana
penanggulangan HIV/AIDS didukung oleh donor asing. Sekitar 70 persen dana itu
berasal dari donor. Tahun 2007 dana yang tersedia hanya 50 juta dolar AS. Jumlah ini
sangat rendah sehingga penanggulangan HIV/AIDS di negeri pun hanya bisa ‘jalan di
tempat’, bahkan mundur.

Bahasa Dewa

Apakah calon gubernur, bupati dan walikota serta caleg DPR, DPRD, dan DPD melihat
epidemi HIV dengan nalar? Ternyata tidak! Buktinya, dalam berbagai debat dan diskusi
publik masalah HIV/AIDS tidak pernah disinggung.

Rupanya, mereka tidak membayangkan kalau kelak dana APBN atau APBD akan
terkuras habis untuk mengobati penduduk yang mengidap infeksi-infeksi oportunistik
ketika infeksi HIV sudah mencapai masa AIDS. Penduduk yang anggota keluarganya
Odha (orang dengan HIV/AIDS) pun tidak lagi produktif bekerja. Sawah dan ladang
ditinggalkan karena mengurus anggota keluarga yang sakit. Tabungan terkuras habis.
Jumlah penerima BLT membengkak karena kian banyak penduduk yang miskin.

Sedangkan pendapatan, terutama dari pajak, akan merosot tajam karena banyak penduduk
sebagai subjek pajak tidak bekerja lagi sehingga penghasilannya tidak memenuhi objek
pajak. Begitu pula dengan pajak perusahaan juga akan menurun karena (akan) banyak
perusahaan yang tutup. Zakat harta pun tentu akan berkurang karena pemilihan harga
kian menciut sehingga tidak memenuhi nisab (jumlah yang diwajibkan untuk membayar
zakat).

Akankah kondisi seperti itu, yang sekarang sudah terjadi di Afrika, terjadi dulu di
Indonesia baru debat politik dan publik membicarakan soal cara dan langkah konkret
yang akan diambil calon menanggulangi HIV/AIDS jika mereka menang? Ya, kalau ini
yang terjadi terlambat sudah, Tuan-tuan!
Calon Presiden dan Wakil Presiden, caleg DPRD, DPR dan DPD pun perlu diuji
wawasannya tentang cara-cara konkret yang realistif untuk menanggulangi HIV/AIDS.
Soalnya, selama ini langkah yang ditempuh lebih banyak bersifat moral sehingga tidak
menyentuh akar persoalan penyebaran HIV yang merupakan fakta medis.

Hal itu tampak jelas dalam peraturan daerah (perda) penanggulangan HIV/AIDS yang
sudah ditelurkan 18 derah mulai dari provinsi, kabupaten dan kota. Perda ini hasil kerja
eksekutif (pemerintah daerah) dan legislatif (DPRD). Tak satu pun pasal dalam perda-
perda itu yang mengatur upaya konkret pencegahan HIV. Semua bahasa pada pasal-pasal
pencegahan merupakan ‘bahasa dewa’ dengan baluatan moral.

Padahal, HIV/AIDS adalah fakta medis sehingga upaya penanggulangannya dapat


dilakukan dengan teknologi kedokteran yang realistis.

[Sumber: Newsletter ”infoAIDS” edisi No. 4/Februari 2009]