Anda di halaman 1dari 9

KONDISI PERBANKAN 2009 DAN PROSPEK 2010

1
Oleh: Adhy Basar P dan Ihsan Ismady P

Pendahuluan

Pada 2010 perbankan Indonesia diharapkan dapat kembali meningkatkan


perannya sebagai lembaga intermediasi secara optimal dengan momentum recovery
dari krisis finansial. Banyak kalangan, khususnya kalangan dunia usaha dan
pemerintah mengharapkan kontribusi perbankan yang lebih besar dalam
menggerakkan perekonomian. Sepanjang tahun 2009, banyak kalangan menilai
perbankan kurang optimal dalam menjalankan fungsi intermediasi, hal tersebut
berdasarkan penilaian dari berbagai pihak bahwa perbankan menerapkan strategi
suku bunga yang tinggi untuk dapat mempertahankan tingkat keuntungan. Sebelum
menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap sektor perbankan, ada baiknya kita melihat
kondisi perbankan di tahun 2009 dan ekspektasi perbaikan perekonomian di tahun
2010.

Kinerja Perbankan 2009

Perkembangan perbankan sepanjang tahun 2009 menunjukkan adanya


recovery setelah krisis global yang berlangsung pada medio 2008. Hal tersebut
tercermin dengan adanya pertumbuhan aset, kredit dan dana pihak ketiga (DPK)
perbankan pada periode Juni hingga Desember 2009 yang relatif lebih tinggi
dibanding semester pertama 2009.

Grafik 1 : Pertumbuhan Aset, Kredit & Dana Perbankan


Rp. T %
3 ,0 0 0 80
70
2 ,5 0 0
60
2 ,0 0 0
50
1 ,5 0 0 40
30
1 ,0 0 0
20
500
10
- -
2004 2005 2006 2007 2008 Ju n 2 0 0 9 * De s 2 0 0 9
K r e d it ( R p . T ) D PK ( R p . T ) A s e t (Rp . T)
G r o w t h K r e d it ( % ) G r o w t h D PK ( % ) G r o w th L D R ( % )
* J u n 2 0 0 9 , g r o w th y e a r - to - d a te

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI), BI

1
Pengamat perbankanI

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 1


Sepanjang 2009, pertumbuhan aset perbankan mencapai Rp 223 T atau
bertumbuh hampir sebesar 10% yang didorong oleh pertumbuhan kredit yang juga
mencapai 10% atau sebesar Rp 130 T. Pertumbuhan kredit tersebut masih belum
menunjukkan meningkatnya fungsi intermediasi perbankan yang optimal. Rendahnya
pertumbuhan kredit di satu sisi disebabkan persepsi perbankan terhadap tingginya
risiko sektor riil yang masih terimbas krisis keuangan global. Sebaliknya di sisi lain
juga disebabkan aktivitas ekonomi yang melambat serta tingginya suku bunga. Loan
to Deposit Ratio (LDR) yang merupakan salah satu indikator intermediasi perbankan,
pada 2009 menunjukkan peningkatan rasio yang melambat setelah pada tiga tahun
sebelumnya menunjukkan peningkatan yang relatif baik. LDR sepanjang 2005-2008
terus mengalami peningkatan, namun pada 2009 LDR mengalami penurunan dari
74,6% pada 2008 menjadi 72,9% pada Desember 2009.

Tabel 2. Grafik Perkembangan Suku Bunga Kredit Perbankan

% %
20 20

16 16

12 12

8 8

4 4

0 0
kt2008

kt2009
Jan2008

Feb2008

ar2008

ei2008

Juni2008

Juli 2008

ov2008

es2008

Jan2009

Feb2009

ar2009

ei2009

Juni2009

Juli 2009

ov2009

es2009
2005

2006

2007

ept2008

ept2009
pr2008

gs2008

pr2009

gs2009
M

M
O

O
M

M
N

D
A

A
A

A
S

S
SBI (1 bulan) Modal Kerja Investasi Konsumsi

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI), BI

Walaupun penyaluran kredit tetap mengalami peningkatan pada 2009, akan


tetapi kredit modal kerja mengalami penurunan jika dibandingkan 2008. Kondisi
tersebut antara lain dapat disebabkan penerapan suku bunga perbankan yang tetap
tinggi (suku bunga kredit rata-rata hanya turun sebesar kurang dari 100 basis poin)
walaupun Bank Indonesia telah menurunkan BI rate sepanjang tahun 2009 sebesar
275 basis poin.

Tabel 3. Grafik Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan, 2004 - 2009


Rp. T %
1,400 Kredit (Rp. T) 23
Undisbursed Loan (Rp. T)
1,200 UL/Kredit (%)
22
1,000

800 21

600 20
400
19
200

- 18
2004 2005 2006 2007 2008 Jun 2009 Des 2009

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI), BI

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 2


Kondisi tersebut dikhawatirkan akan membuat terjadinya keengganan sektor
riil dalam menggunakan fasilitas kredit untuk mendukung pengembangan
perusahaannya. Keengganan penggunaan kredit tersebut juga tercermin dari
undisbursed loan perbankan yang menunjukkan peningkatan sepanjang tahun 2008
hingga 2009. Porsi perbandingan undisbursed loan dengan kredit pada 2009
mencapai 22,5% yang merupakan rasio tertinggi sejak 2005.

Dari sisi DPK, pertumbuhan dana masyarakat sepanjang 2009 juga kurang
menunjukkan peningkatan yang tinggi jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sepanjang tahun 2009, peningkatan DPK hanya sebesar Rp 220 triliun atau rata-rata
meningkat sebesar Rp 18 triliun per bulan. Kondisi tersebut menurun jika
dibandingkan rata-rata peningkatan DPK per bulan di tahun 2008 sebesar Rp 20
triliun dan Rp 19 triliun di tahun 2007. Ke depan, dengan membaiknya kondisi pasar
finansial di luar perbankan, diperkirakan akan berat bagi perbankan untuk
meningkatkan kepercayaan masyarakat agar tetap menyimpan dananya di bank.
Diperlukan strategi yang inovatif bagi perbankan dalam usahanya meningkatkan DPK
khususnya dana yang memiliki biaya yang rendah (dana tabungan dan giro).

Dilihat dari komposisi DPK yang ada, dimana porsi deposito masih memiliki
share yang cukup besar (pada 2008 share deposito mencapai 47% dan pada 2009
sebesar 46%) membuat kemampuan perbankan untuk menekan biaya dana menjadi
terbatas, yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan suku bunga kredit
menjadi kurang optimal. Kondisi tersebut yang antara lain dapat melemahkan fungsi
intermediasi perbankan terhadap sektor riil.

Tabel 1. Beberapa Rasio Perbankan Nasional 2005-2009

Rasio (%) 2005 2006 2007 2008 Nov 2009 Des 2009
BOPO 89.50 86.98 84.05 88.59 86.55 86.63
ROA 2.55 2.64 2.78 2.33 2.61 2.60
NIM 5.63 5.80 5.70 5.66 5.54 5.56
NPL 7.56 6.07 4.07 3.20 3.82 3.31
LDR 59.64 61.56 66.32 74.58 73.67 72.88
CAR 19.30 21.27 19.30 16.78 17.08 17.42
SBI/Kredit 7.80 22.60 20.35 12.73 14.27 14.75

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI), BI

Walaupun demikian, beberapa rasio kinerja perbankan mengalami


peningkatan. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang
merupakan salah satu indikator efisiensi menunjukkan perbaikan dan Return On
Asset (ROA) juga mengalami peningkatan yang menunjukkan perbaikan kinerja
perbankan yang relatif meningkat. Permodalan perbankan juga menunjukkan

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 3


perbaikan yaitu dengan meningkatnya Capital Adequacy Ratio (CAR) menjadi 17,4%
walaupun belum dapat menyamai pencapaian di tahun 2006 sebesar 21,3%.

Di samping rasio yang membaik, beberapa indikator menunjukkan adanya


penurunan kinerja, diantaranya adalah LDR yang menurun dan Non Performing Loan
(NPL) yang relatif mengalami kenaikan. Penurunan kualitas kredit tersebut
mempengaruhi perbankan dalam penempatan dana yang dimilikinya. Hal tersebut
dapat tercermin dari rasio penempatan SBI dibandingkan penyaluran kredit yang
mengalami peningkatan pada 2009 menjadi sebesar 14,75%, dibandingkan 12,73%
pada akhir 2008.

Ekspektasi Perekonomian dan Perbankan 2010

Pulihnya ekonomi global yang ditunjukkan oleh mulai membaiknya ekonomi


AS dan Jepang serta terus menguatnya ekonomi negara-negara emerging market
seperti China dan India, akan berdampak pada terus membaiknya perekonomian
Indonesia. Kinerja ekspor impor diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan
peningkatan permintaan global. Konsumsi rumah tangga akan meningkat seiring
dengan membaiknya daya beli masyarakat dan tetap menjadi menjadi motor
pertumbuhan ekonomi. Kegiatan investasi akan meningkat terutama di sektor
infrastruktur.

Tabel 2. Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi 2010


APBN-P R-APBN APBN APBN-P
Indikator
2009 2010 2010 2010
Pert Ekonomi (%) 4.3 5.0 5.5 5.5
Laju Inflasi (%) 5.0 5.0 5.0 5.0
Rata-rata SBI 3 bl (%) 7.5 6.5 6.5 6.8
Nilai Tukar (Rp/US$) 10,600 10,000 10,000 9,200-9,300
Harga Minyak ICP (US$/barel) 61 60 65 80
Lifting Minyak (MBCD) 0.960 0.965 0.965 0.965
PDB (Rp T) 6,050.1 5,981.4 5,981.4

Sumber : Depkeu APBN 2010, Publikasi berbagai Media

Laju inflasi diperkirakan juga akan meningkat (mencapai 6%) sejalan dengan
meningkatnya permintaan global dan domestik serta naiknya harga minyak dan
komoditas global. Sementara itu, nilai tukar Rupiah diperkirakan akan terus
terapresiasi seiring dengan masih tingginya spread yield investasi rupiah serta
cadangan devisa yang terus menguat. Perkiraan kenaikan laju inflasi domestik serta
kenaikan suku bunga global (diperkirakan The Fed meningkatkan Fed Rate di
semester I 2010) akan menyebabkan BI mengambil kebijakan peningkatan BI rate
sepanjang 2010.

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 4


Di tahun 2010, prospek ekonomi makro Indonesia yang menguat tentu saja
akan membawa kinerja perbankan secara keseluruhan membaik. Selain itu ruang
untuk bertumbuh bagi perbankan Indonesia masih besar. Peran perbankan Indonesia
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah hanya sekitar 26%. Angka yang
sangat rendah bila dibandingkan China dan India yang lebih dari 60% atau Singapura
dan Malaysia yang 99%.

Meningkatnya ekspansi usaha sektor riil seiring dengan membaiknya


perekonomian, akan membuat meningkatnya permintaan kredit. Namun demikian
pertumbuhan kredit diperkirakan sekitar 13-16% walaupun telah meningkat di
bandingkan tahun sebelumnya (pertumbuhan kredit tahun 2009 hanya 10%).

Pertumbuhan kredit di tahun 2010 diperkirakan akan dimotori sektor


infrastruktur (kelistrikan, jalan tol, pelabuhan) terkait dengan kebijakan pemerintah
untuk fokus perbaikan infrastruktur dalam 5 tahun ke depan. Selain kredit sektor
infrastruktur, kredit sektor konsumsi yang ditopang kredit otomotif dan KPR juga
akan terus meningkat. Sektor lain yang diperkirakan juga akan tumbuh kreditnya
adalah sektor perdagangan dan industri makanan minuman terkait dengan
meningkatnya aktivitas ekonomi. Sektor agribisnis (CPO, karet dan pulp) serta
industri semen merupakan sektor/industri yang prospektif untuk dibiayai perbankan
terutama terkait dengan dimulainya penerapan ASEAN-China Free Trade Agreement
(ACFTA) di tahun 2010. Ke empat sektor/industri tersebut dianggap sektor yang
paling diuntungkan dengan pemberlakuan ACFTA karena memiliki competitive
advantage yang tinggi di ASEAN dan China.

Pembiayaan di sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) masih


menjadi konsentrasi perbankan. Diperkirakan kredit ke sektor ini terus meningkat
seiring dengan masih besarnya pasar yang belum digarap. Tingginya Nett Interest
Margin (NIM) beberapa bank yang telah lama berkecimpung dalam sektor ini,
membuat bank lain mencoba untuk masuk dan bermain di UMKM. Selain itu
rendahnya NPL sektor UMKM (2009 1,7%, dibandingkan dengan total NPL perbankan
sebesar 3,3%) membuatnya semakin menarik bagi perbankan. Bahkan Bank Mandiri
mentargetkan untuk menjadi pemain di sektor UMKM nomor dua setelah BRI di
tahun 2010, mengalahkan Danamon.

Sementara itu, pertumbuhan DPK diperkirakan akan meningkat namun tetap


lebih rendah dari pertumbuhan kredit, sekitar 10-15%, seiring dengan makin
maraknya produk investasi yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi di luar
produk perbankan. Dengan demikian LDR diperkirakan akan meningkat menjadi
sekitar 78-81%.

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 5


Rendahnya pertumbuhan dana di tengah lebih tingginya pertumbuhan kredit
menyebabkan likuiditas perbankan akan ketat. Ketatnya likuiditas perbankan
mengakibatkan tergerusnya pendapatan bunga perbankan. Hal ini disebabkan suku
bunga dana yang sulit meningkat terkait dengan kesepakatan dengan BI (14 bank
besar sepakat untuk mematok suku bunga deposito sama dengan suku bunga LPS),
sebaliknya suku bunga kredit diharapkan oleh regulator untuk bisa turun.

Rasio NPL perbankan diperkirakan akan relatif stagnan sekitar 3,5-4,5%


(namun masih di bawah batas ketentuan 5%). Peluang terjadinya peningkatan NPL
relatif rendah selain disebabkan masih rendahnya pertumbuhan kredit juga prospek
ekonomi yang menguat sehingga terjadinya default pada pelaku usaha juga rendah.
Hal yang perlu diwaspadai adalah sektor-sektor yang secara langsung akan
berkompetisi dengan produk Cina, terkait dengan pemberlakuan ACFTA mengingat
kemampuan kompetisi produk Indonesia yang masih rendah dibandingkan Cina.

Grafik 4. Perkembangan NPL Perbankan 2004-2009

Rp. T %
8
80
7

60 6

5
40
4

20 3
2004 2005 2006 2007 2008 Jun 2009 Des2009
NPL (Rp. T) PPAP YWD (Rp. T) PPAP YD (Rp. T) NPL (%)

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI), BI

Tantangan Perbankan 2010

Tantangan perbankan yang paling utama di tahun 2010 adalah efisiensi


perbankan. Banyak kalangan menilai akibat belum efisiennya perbankan, suku bunga
kredit belum bisa turun. Pjs Gubernur BI Darmin Nasution dalam Pertemuan Tahunan
Perbankan di Januari 2010 mengemukakan bahwa keywords dari perbankan masa
depan adalah efisiensi, selain dua kata yang lain yaitu intermediasi dan kesehatan
bank. Rasio BOPO walaupun telah menunjukkan perbaikan namun masih berada pada
level yang tinggi (di atas level ideal 60 – 70%).

Tingginya BOPO terkait dengan masih tingginya beban bunga dana serta
biaya overhead. Untuk itu, tahun ini BI akan melakukan benchmarking terhadap biaya
dana, biaya overhead, premi risiko serta margin keuntungan, sehingga perbankan
dapat mencari area yang dapat ditingkatkan efisiensinya guna menetapkan suku

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 6


bunga kredit yang lebih wajar. Di sisi lain, BI juga mendorong adanya instrumen
pasar uang jangka pendek yang menjadi kompetitor kredit perbankan.

Grafik 5. Perkembangan BOPO Perbankan 2004-2009

Rp. T %
350 100

300 95
250 90

200 85
150 80

100 75
2004 2005 2006 2007 2008 Jun 2009 Des 2009
Pendapatan Opr Biaya Opr BOPO

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI), BI

Ekspansi kredit yang meningkat disertai dengan mulai diperhitungkannya


risiko operasional di 2010 dipastikan menyebabkan turunnya CAR perbankan. Untuk
itu sepanjang tahun ini banyak bank yang melakukan corporate action guna
mengantisipasi hal tersebut melalui right issue, penerbitan obligasi dan subdebt.
Selain itu peningkatan modal juga diperlukan untuk memberi sokongan yang cukup
jika terjadi kondisi peningkatan risiko ekonomi.

Persaingan perbankan khususnya dalam penyaluran kredit semakin ketat,


karena tekanan terutama dari pemerintah dan BI terkait dengan belum bergeraknya
sektor riil, mendorong terjadinya penurunan suku bunga kredit yang menyebabkan
pendapatan perbankan akan turun. Pendapatan perbankan yang diperkirakan turun
memaksa perbankan untuk meningkatkan dana murah dengan cara meningkatkan
sistem layanan perbankan berbasis teknologi. Sistem tersebut terbukti memberikan
manfaat selain untuk memuaskan nasabah, juga mengkonsolidasikan data secara
cepat dan tepat, memperbesar perolehan fee based oncome (FBI), dan mengurangi
dan mencegah fraud yang juga berujung pada peningkatan efisiensi perbankan.

Agresivitas investor bank asing dalam melakukan akuisisi bank lokal makin
terasa. Hal tersebut antara lain dipicu oleh menariknya bisnis perbankan Indonesia.
Selain pasar yang luas, margin bunga yang tinggi (NIM) dan aturan kepemilikan yang
liberal hingga 99%, membuat investor asing tergiur. Di tahun 2010, bank-bank dari
India dan Korea Selatan memiliki niat untuk membeli bank di Indonesia. Langkah
tersebut dinilai tertinggal dibanding investor dari Malaysia dan Singapura yang telah
terlebih dulu menikmati manisnya bisnis perbankan. Selain hal-hal yang disebutkan di
atas, akuisisi bank asing terhadap bank kecil juga bertujuan mendukung perdagangan
negara tersebut di Indonesia terkait dengan diberlakukannya liberalisasi
perdagangan. Pelaku usaha yang melakukan perdagangan dari dan ke negara
tersebut merupakan target utama bank-bank asing ke depan. Hal ini menyebabkan

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 7


persaingan perbankan makin ketat terutama pada bank menengah kecil. Bank asing
dengan modal besar dapat memenuhi ketentuan Basel II, sementara bank kecil
sangat kesulitan.

Selain tantangan dari sisi perbankan sendiri, tantangan dari eksternal juga
masih menghadang di tahun 2010. Walaupun masa-masa terburuk ekonomi global
sudah terlampaui, namun krisis global tampaknya belum seratus persen hilang. Ada
beberapa perkembangan terakhir harus dicermati, krisis Dubai World dan mulai
bangkrutnya perbankan di Austria dan Yunani dikhawatirkan akan memicu efek yang
lebih besar bagi ekonomi global yang ujungnya akan berimbas pada ekonomi
domestik. Hal tersebut menyebabkan perbankan belum dapat menurunkan premi
risikonya sehingga bersikap risk averse. Sementara di sisi lain, sektor riil juga belum
berani untuk bergerak atau cenderung bersikap wait and see yang biasanya ditandai
dengan masih terbatasnya permintaan kredit.

Kesimpulan

Pada 2010, tantangan yang dihadapi perbankan nasional cukup berat.


Perbaikan kondisi ekonomi pasca krisis finansial mendapat tantangan yang besar dari
pemberlakuan ACFTA yang akan memberikan tekanan terhadap sektor riil khususnya
manufaktur yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja perbankan khususnya
risiko penurunan kualitas kredit dari debitur.

Persaingan yang tinggi yang terjadi di perbankan pada 2009 akan berlanjut di
2010 khususnya dengan tren penurunan suku bunga kredit maka perbankan akan
semakin agresif dalam persaingan suku bunga kredit Kondisi tersebut juga akan
terjadi dalam perebutan dana murah yang mengedepankan teknologi dan layanan
yang akan menguntungkan nasabah dalam kemudahan bertransaksi. Pemanfaatan
teknologi juga sebagai salah satu strategi perbankan untuk meningkatkan efisiensi
dalam kegiatan operasionalnya, yang pada akhirnya akan mengoptimalkan kinerja
bank.

Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 8


Economic Review ● No. 218 ● Desember 2009 9